Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik

Document Sample
Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik Powered By Docstoc
					                                      BAB I
                                PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang
          Kehidupan seseorang ada 2 proses yang beroperasi secara kontinue yaitu
   pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara
   interdependensi atau saling bergantung satu sama lain. Pertumbuhan digunakan
   untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau
   biologis, sedangkan perkembangan digunakan untuk perubahan-perubahan
   kualitatif mengenai aspek psikis / rohani dan aspek sosial (Prof. Dr. H. Sukarto,
   1995: 35). Oleh karena itu, manusia dipandang sebagai satu kebulatan yang
   berkembang dan tumbuh secara integralistik serentak dalam fungsi rohaniah
   dan jasmaniah.
          Perkembangan dalam diri indiidu memiliki berbagai macam faktor yang
   dapat mendukung dan dapat menghambat sehingga diperlukan adanya bantuan
   yng dapat memperlancar perubahan pada perkembangan diri individu. Selain itu
   pertumbuhan juga memerlukan berbagai faktor dimana faktor yang dapat
   membentuk mempercepat pertumbuhan pada diri individu. Pertumbuhan dan
   perkembangan sangat berperan penting dan berpengaruh terhadap diri individu
   tersebut.
          Pertumbuhan dan perkembangan dalam anak meliputi sejak ia lahir,
   tahun pertama, kedua dan seterusnya yang mana dalam usia tersebut terjadi
   pertumbuhan      maupun     perkembangan.     Sedangkan     pertumbuhan      dan
   perkembangan pada usia sekolah yaitu masa kanak-kanak yang terjadi lebih
   banyak mempengaruhi pada perubahan psikis karena pada fase tersebut anak
   lebih sensitif dalam hal apapun.
          Ada fase-fase tertentu dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan, dan
   semuanya mempunyai ciri khas. Bila dilihat dalam hubungannya dengan proses



                                         1
   pendidikan, terdapat beberapa fase; masa usia prasekolah, fase usia sekolah
   dasar, sekolah menengah, sampai fase usia mahasiswa. Pada fase usia sekolah
   dasar, merupakan fase yang menarik. Disini anak mulai banyak belajar tentang
   pemahaman diri mereka. Mereka mulai banyak bertanya tentang segala sesuatu
   (sebab akibat) seperti, mengapa, dimana, kapan dan sebagainya. Ini dikarenakan
   tingkat berpikir merek yang semakin meningkat. Sehingga sebagai calon
   pendidik sekaligus orang tua, kita harus bisa menyikapi keingintahuan mereka
   secara benar dn bijaksana.
          Berdasarkan uraian di atas, menjadi motivasi kelompok kami untuk
   memilih topik ini dalam tugas penyusunan makalah tentang perkembangan
   peserta didik, yaitu dengan judul “Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
   Sekolah Dasar”


1.2 Rumusan Masalah
          Adapun rumusan masalah yang ada dalam pembahasan ini antara lain :
   1. Apa pengertian pertumbuhan dan perkembangan, khususnya pada usia anak
      sekolah dasar ?
   2. Apa dan bagaimana aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan dan
      perkembangan pada usia anak sekolah dasar.


1.3 Tujuan Penulisan Makalah
          Adapun tujuannya adalah :
   1. Untuk mengetahui pengertian pertumbuhan dan perkembangan khususnya
      pada usia anak sekolah dasar.
   2. Untuk mengetahui apa dan bagaimana aspek-aspek yang mempengruhi
      pertumbuhan dan perkembangan pada usia anak sekolah dasar.




                                       2
                                  BAB II
                                  DATA




Data Umum
Identitas Diri
Nama             : M. Al.Hafis
TTL              : Jombang, 28 Oktober 1997
Alamat           : Jl. Sentot Prawirodirjo Pulo Gg. IV Jombang
Agama            : Islam
Jenis kelamin    : Laki-laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Tinggi badan     : 142 cm
Berat badan      : 32 kg
Hobby            : Main bola
Cita-cita        : Pemain sepak bola terkenal
Alamat sekolah   : SDN Pulo Lor II jmbang
Kelas            : IV
Prestasi         : Sepak Bola


Identitas Orang tua
Nama Ayah        : Budi Santoso
Pekerjaan        : Jual Daging sapi
Alamat           : Jl. Teuku Umar Gg. II
Nama Ibu         : Yayuk Mulyaningsih
Pekerjaan        : Jual Daging Sapi
Alamat           : Jl. Teuku Umar Gg. II




                                      3
    Kesehatan
        Berkacamata            :        ya                   tidak
        Penykit yang pernah diderita : types + demam berdarah
        Pernah masuk RS        :       ya                    tidak


    Data Khusus
   Aspek                  Umum                           Fakta pada Objek                      Hasil
Fisik         Usia SD yaitu dimana anak              Ia tumbuh dan berkembang        Positif       karena
              mengalami pertumbuhan dan              secara normal karena gizi       dengan            itu
              perkembangan baik fisik atau           yang diberikan seimbang,        meningkatkan mutu
              hal lainnya dalam hal fisik            mengalami     pertumbuhan       dan kualitas generasi
              biasanya     anak     cenderung        dalam hal tinggi badan dan      muda
              mengalami peningkatan dalam            berat    badannya      pun
              tinggi badan ataupun hal lainnya       seimbang
              berkembang dengan normal
Intelektual   Usia SD sudah siap menerima            Dia siswa yang memiliki         Positif   meskipun
              pelajaran dan dapat mengalami          kemampuan standar, tidak        kemampuan      yang
              kemajuan secara teratur tugas          dapat dikatakan pandai          dimiliki    standar
              sekolah                                tetapi tidak dapat dikatakan    karena adanya faktor
                                                     bodoh.             Meskipun     pendukung      maka
                                                     kemampuan intelek yang          antara aspek umum
                                                     dimiliki sedang-sedang saja     dan khusus sudah
                                                     tetapi bagi dia salah satu      sesuai
                                                     hal yang dapat membantu
                                                     memperoleh prestasi yaitu
                                                     dengan usaha. Oleh karena
                                                     itu         dia        selalu
                                                     mengutamakan       pelajaran
                                                     untuk membantu hal itu dia
                                                     memilih memanggil guru
                                                     privat yang belajar di
                                                     rumah



   Aspek                  Umum                           Fakta pada Objek                      Hasil
Emosi         Pada usia memasuki dunia               Dari hasil observasi dia        Positif atau negatif
              sekolah, emosi yang ada pada           cenderung     pada    sikap
              diri anak cenderung masih labil,       agresif dalam tindakan jika
              bahkan cenderung lebih agresif         ia      tidak     terpenuhi
              atau pun sebaliknya                    kebutuhannya karena tidak
                                                     tinggal dengan orangtua
                                                     sehingga       menciptakan
                                                     pribadi yang sedikit manja
Sosial        Perkembangan sosial pada anak          Sosial cukup baik, selain       Positif




                                                 4
               SD ditandai dengan perluasan           berhubungan          dengan
               hubungan disamping dengan              keluarga      dia    mampu
               hubungan keluarga, dia juga            bersosialisasi dengan teman
               membentuk iklan baru dengan            sebaya melalui proses yang
               teman sebaya                           ada
Bahasa         Usia SD merupakan masa                 Mampu berbahasa dengan          Positif
               berkembang          pesatnya           baik dan benar baik lisan
               kemampuan     perbendaharaan           maupun               tulisan.
               kata                                   Perkembangan bahasa anak
                                                      ini normal bisa dilihat dari
                                                      kemampuannya          dalam
                                                      berbahasa      baik   dalam
                                                      lingkungan keluarga dan
                                                      masyarakat meskipun anak
                                                      ini pendiam tapi dia
                                                      mempunyai banyak teman
Bakat khusus   Setiap individu memiliki bakat         Dari dalam lingkungan           Positif
               atau kemampuan khusus sejak ia         keluarga tidak mendukung
               lahir,    tinggal     bagaimana        bakat sehingga ia memiliki
               pengasahan yang dilakukan oleh         kesempatan dan didukung
               lingkungan atau dari individu          oleh lingkungan sekolah
               sendiri. Usia SD cenderung             sehingga        ia     dapat
               lebih pada lingkungan disekitar        mengembangkan dan sering
               yang mampu merangsang anak             mendapatkan juara pada
               tersebut     sehingga    mampu         pertandingan-pertandingan
               mengetahui        dan      dapat       yang ada
               mengembangkan bakatnya
Sikap nilai    Dalam masa anak memasuki               Emosinya      masih    labil    Negatif
dan moral      dunia sekolah yatu anak mulai          sehingga kadang nilai sikap
               dalam tahap tumbuh dan                 dan     moralnya     sedikit
               berkembangan fisik maupun              berkurang nilainya karena
               psikis, dan anak mulai dikenal         pada fakta dan hasil
               pada sikap, nilai dan moral dan        observasi yang dilakukan
               dalam hal ini anak usia SD pada        dan ditanyakan pada orang
               umumnya          masih       ada       sekitar seperti kakek dan
               pelanggaran ataupun tentangan          nenek yang mengasuhnya
               atau bahkan pemberantasan pada         ia cenderung tidak patuh
               aturan yang ada tetapi jika dari       atau menentang perintah
               lingkungan        ada      yang        orangtuanya             dan
               mengharuskan dan benar-benar           menghindar dengan ibu
               kuat dalam menegakkan maka             karena dari kecil yang
               hal itu akan menipis dan akan          mengasuh kakek dan nenek
               berubah ke arah positif seiring        sehingga      ia     kurang
               waktu                                  mengenal figur ibu tetapi
                                                      dengan kakek dan nenek ia
                                                      mencerminkan sikap sopan
                                                      santun dan lain-lain




                                                  5
                                     BAB III
                                PEMBAHASAN




3.1 Perkembangan dan Pertumbuhan
3.1.1 Pengertian perkembangan dan Pertumbuhan
        Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan
kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati”
(The progressive and continous change in organism from birth to death). Pengertian
lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang dialami individu atau
organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) yang
berlangsung secara sitematis, progresif, dan berkesinambungan baik menyangkut
fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah).
        Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku
kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan
masyarakat lebih luas dan kompleks. Menurut Havighurst perkembangan tersebut
dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani dan dikuasai oleh setiap
individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan manusia
ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang harus ditempuh. Tugas-tugas
perkembangan tersebut oleh Havingurst dikaitkan dengan fungsi belajar, karena
pada hakikatnya perkembangan kehidupan manusia dipandang sebagai upaya
mempelajari norma kehidupan dan budaya masyarakat agar ia (mereka mampu)
melakukan penyesuaian diri dengan baik di dalam kehidupan nyata.
        Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses
pematangan fungsi-fugsi fisik yang berlangsung sera normal pada anak yang sehat,
dalam perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses
transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang
herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Pertumbuhan
berkaitan dengan perubahan kuantitatif badan anak, seperti panjang, berat, dan



                                         6
kekuatannya. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang makin
sempuna tentang sistem jaringan saraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani
lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses
perubahan dan proses pematangan fisik.
3.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan
         Setiap individu dilahirkan ke dunia dengan membawa hereditas tertentu. Ini
berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari pihak orang
tuanya. Karakteristik tersebut menyangkut fisik (seperti struktur tubuh, warna kulit
dan bentuk rambut) dan psikis atau sifat-sifat mental (seperti emosi, kecerdasan dan
bakat)
         Hereditas atau keturunan merupakan aspek individu yang bersifat bawaan
dan memiliki potensi untuk berkembang. Seberapa jauh perkembangan individu itu
terjadi dan bagaimana kualitas perkembangannya, bergantung pada kualitas
hereditas dan lingkungan yang mempengaruhinya. Lingkungan merupakan faktor
penting disamping hereditas yang menentukan perkembangan individu. Lingkungan
itu meliputi fisik, psikis, sosial dan religius.
         Faktor-faktor tersebut antara lain :
A. Hereditas (Keturunan / Pembawaan)
         Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan
individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai “totalitas karakteristik individu
yang diwariskan orangtua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun
psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan oval oleh sperma)
sebagai pewaris dari pihak orang tua melalui gen-gen.


B. Lingkungan Perkembangan
         Lingkungan perkembangan merupakan “berbagai peristiwa”, situasi atau
kondisi di luar organisme yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh
perkembangan individu. Lingkungan ini terdiri atas:




                                             7
a. Fisik yaitu meliputi segala sesuatu dari molekul yang ada di sekitar janin
   sebelum lahir sampai kepada rancangan arsitektur suatu rumah.
b. Sosial yaitu meliputi seluruh manusia secara potensial mempengaruhi dan
   dipengaruhi oleh perkembangan individu.
        Sekarang   dipahami    bahwa    manusia   disamping   dipengaruhi,   juga
mempengaruhi lingkungan fisik dan sosialnya. Dengan kata lain, dapat
dikemukakan bahwa hubungan antara manusia dengan lingkungan itu bersifat saling
mempengaruhi. Lingkungan merupakan sumber seluruh informasi yang diterima
individu melalui alat inderanya. Lingkungan juga menyangkut pada lingkungan
keluarga, sekolah, kelompok sebaya (peer group), dan masyarakat.


3.2 Analisa Ketujuh Aspek
3.2.1 Segi Fisik Anak
        Kita semua tahu bahwa setiap diri individu itu mempunyai perbedaan
masing-masing, terutama dalam segi fisik ini. Jika kondisi fisiknya bagus, maka
tingkat kematangan dan kesiapan anak tersebut akan memungkinkan dia dapat
dididik dengan baik dan dengan mudah dia akan lebih siap dalam belajarnya.
        Kondisi fisik yang sehat, dalam kaitannya dengan kesehatan dan
penyesuaian diri yang memuaskan akan tercapainya proses pematangan dalam diri
anak.
        Oleh karena itu, penulis mencoba untuk menganalisa proses perkembangan
fisik “MUHAMMAD AL-HAFIS” yang berumur 11 tahun, yang mempunyai berat
badan 30 kg, dan tinggi badan 120 cm.
        Pertumbuhan fisik, baik secara langsung maupun tidak langsung akan
mempengaruhi perilaku anak sehari-hari. Secara langsung pertumbuhan fisik
seorang anak akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Secara tidak
langsung, pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisik akan mempengaruhi
bagaimana anak itu memandang dirinya sendiri dan bagaimana ia memandang
orang lain.



                                        8
        Menurut data-data di atas, anak ini sudah termasuk dalam tahapan remaja
karena umumnya sudah mencapai 11 tahun karena bila anak umur 8 – 12 tahun,
merupakan tahapan kematangan dalam kehidupan seksualnya. Dan bila sampai ia
berumur 15 atau 16 tahun, pertumbuhan fisiknya akan cepat kembali dan masa ini
disebut ledakan pertumbuhan pubertas.
        Dari data tersebut, penulis bisa menyimpulkan bahwa kesehatan fisiknya
sudah berjalan dengan normal dan seimbang, karena pola makan dan pemberian gizi
setiap hari sudah tercukupi.
        Tetapi, karena dia diasuh oleh neneknya, sehingga dia akan kekurangan
kasih sayang orang tuanya. Jika dibiarkan terus menerus, maka anak tersebut akan
mengalami tekanan, sehingga akan mengakibatkan pertumbuhan fisiknya akan
menjadi terhambat.


3.2.2 Intelektual
        Pada dasarnya, tiap anak pastilah mempunyai kemampuan-kemampuan
atau yang sering dissebut dengan kemampuan intelektual. Yang mana secara
psikologis berbeda dengan pengaturan kegiatan yang kognitif. Dan prinsip
mengendalikan kemampuan yaitu anak untuk menggabungkan beberapa kaidah
sehingga tercipta pemhaman yang lebih tinggi, yang membantu memecahkan
problem atau masalah.
        Intelek atau daya pikir berembang sejalan dengan pertumbuhan saraf otak,
karena pikiran pada dasarnya menunjukkan fungsi otak, maka kemampuan
intelektual yang lazim disebut dengn istilah lain kemampuan berfikir dipengaruhi
oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik, Oki
seorang individu juga akan mengalami perkembangan kemampuan berpikirnya
manakala pertumbuhan saraf pusat atau otaknya telah mencapai matang.
        Perkembangan kognitif seseorang menurut Piaget (dalam Sarlito, 1991 :
81) mengikuti tahap-tahap sebagai berikut :
1. Tahap Pertama      : Masa sensori motor      (0,0 – 2,5 tahun)



                                         9
2. tahap kedua        : Masa pra operasional       (2,0 – 7,0 tahun)
3. Tahap Ketiga       : Masa konkreto prerasional (7,0 – 11,0 tahun)
   Pada tahap ketiga ini anak sudah dapat melakukan berbagai macam tugas yang
   konkret. Anak mulai mengembangkan tiga macam operasi berfikir yaitu :
   a. Identifikasi    : mengenali sesuatu
   b. Negesi          : mengingkari sesuatu dan
   c. Reprokasi       : mencari hubungan timbal balik antara beberapa hal
4. Tahap Keempat      : Masa operasional
   Penjelasan keempat tahap bisa dicari dalam (PPD oleh Prof. Dr. H. Sunarto dan
   Dra. Ny. B. Agung Hartono, 2002, Rineka Cipta)


3.2.3 Emosi
        Menurut Sarlito (1982 : 59), menjelaskan bahwa perbuatan atau prilaku
kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti
perasaan senang atau tidak senang yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita
sehari-hari disebut warna efektif. Warna efektif ini kadang-kadang kuat, kadang-
kadang lemah atau kadang-kadang tidak jelas atau samar-samar. Dalam hal warna
efektif tersebut kuat, maka perasaan-perassan menjadi lebih mendalam, lebih luas
dm terarah dan perasaan-perasaan tersebut disebut emosi. Disamping perassan
senang atau tidak senang contoh lain dari macam-macam emosi adalah gembira,
cinta, marah, takut, cemas dan benci.
        Emosi dan perasaan adalah 2 hal yang berbeda. Tetapi perbedaan diantara
keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas. Emosi dan perasaan merupakan
suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan. Akan tetapi tidak jelas
batasnya pada suatu saat uatu warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi
juga dapat dikatakan sebagai emosi. Contoh : marah ditunjukkan dalam bentuk dim
jadi sukar sekali kita mendefinisikan emosi.
        Menurut Crow dan Crow 91959) pengertian emosi sebagai berikut :




                                           10
“Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri
individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang
tampak”
A. Karakteristik Perkembangan Emosi
          Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “Badai
   Tekanan” dimana suatu ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari
   perubahan fisik dan kelenjar.
          Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-
   kanak, jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta atau kasih sayang
   gembira, takut dan cemas.
   a. Cinta atau Kasih Sayang
      Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk
      mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang
      lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan
      kemampuan untuk memberinya.
   b. Gembira
      Pada umumnya individu dapat mengingat kembali pengalaman-pengalaman
      yang menyenangkan yang dialami, baik masa kanak-kanak ataupun
      sebelumnya dan karena adanya kenangan ataupun pengalaman tersebut dapat
      dipastikan munculnya reaksi senang atau gembira bahkan sebaliknya.
   c. Kemarahan dan Permusuhan
      Pada perkembangan atau pertumbuhan kanak-kanak, rasa marah telah
      dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan
      sebagai seorang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan gejala yang
      penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjol
      dalam perkembangan kepribadian.




                                      11
d. Ketakutan dan Kecemasan
   Menjelang anak mencapai masa remaja, dia telah mengalami serangkaian
   perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut bersamaan dengan
   rasa ketakutannya.
   Remaja seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha
   untuk mengatasi ketakutan-ketakutan yang timbul dan persoalan-persoalan
   kehidupan. Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua
   rentang usia, yaitu usia 12 – 1 5 tahun dan usia 15 – 18 tahun.
   Karena dalam pembahasan ini mengedepankan anak usia sekolah dasar,
   maka ciri-ciri emosional remaja berusia 12 – 15 thun, diantaranya :
   1) Pada usia ini seorang anak cenderung murung dan tidak dapat diterka.
      Sebagian kemurungan sebagai akibat dari perubahan-perubahan biologis
      dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian karena
      kebingungannya dalam menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak
      orang dewasa.
   2) Siswa mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam
      hal rasa percaya diri.
   3) Ledakan-ledakan kemarahan mungkin biasa terjadi, hal ini seringkali
      terjadi    sebagai       akibat    dikombinasi   ketegangan    psikologis.
      Ketidakstabilan biologis dan kelelahan karena bekerja terlalu keras atu
      pola makanan yang tidak tepat atau tidur yang tidak cukup.
   4) Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan
      membenarkan pendapatnya sendiri dan disebabkan kurangnya rasa
      percaya diri
   Dalam perkembangan emosi menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari
   bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat.
   Oleh karena itu, dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol
   ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui
   peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan kemampuan



                                        12
          orangtua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila
          anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang suasana emosionalnya
          stabil maka perkembangan emosi anak cenderung stabil. Akan tetapi, apabila
          kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil dan
          kurang kontrol maka perkembangan anak pun kurang stabil.


3.2.4 Sosial
           Perkembangan sosial merupakan pencapaian kemtangan dalam hubungan
sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri
terhadap norma-norma kelompok, moral maupun tradisi (meleburkan diri menjadi
suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerjasama. Anak dilahirkan belum
bersifat sosial. Artinya dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang
lain. Untuk itu anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang
lain. Dengan cara melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan
orang-orang di lingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya atau orang
dewasa lainnya.
           Perkembangan sosial anak dipengaruhi oleh proses bimbingan orang tua
tentang     berbagai   aspek   kehidupan    sosial,   atau   norma-norma   kehidupan
bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh penerapan norma-norma
tersebut dalam sehari-hari. Proses ini disebut dengan sosialisasi.
           Sueann Robinson Ambron (1981) mengartikan sosialisasi itu sebagai
proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial
sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif.
Bentuk-bentuk tingkah laku pada usia anak :
a. pembangkangan (negativisme) / suka melawan. Terjadi karena reaksi terhadap
   penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai
   dengan kehendak anak
b. agresi (agression) maupun kata-kata (verbal). Tindakan ini merupakan salah
   satu bentuk reaksi terhadap frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi



                                           13
   kebutuhan/keinginannya). Tindakan ini berwujud seperti memukul, mencubit,
   menendang, menggigit, marah-marah dan mencaci maki.
c. Berselisih atau bertengkar (quarreling). Hal ini terjadi karena seorang anak
   merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan merupakan serangan mental
   terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan)
d. Menggoda (teasing). Hal ini merupakan serangan mental terhadap orang lain
   dalam bentuk vrbal (kata-kata ejekan tau cemoohan)
e. Kerjasama (cooperation), yaitu sikap mau bekerja sama dengan kelompok
f. Tingkah laku berkuasa (accendant behavior), yaitu sejenis tingkah laku untuk
   menguasai situasi sosial, bersikap “bosiness”. Wujud dari tingkah laku ini
   seperti meminta, menyuruh, dan mengancam atau memaksa orang lain untuk
   memenuhi kebutuhan dirinya.
g. Mementingkan diri sendiri (slefishness), yaitu sikap egosentris dalam memenuhi
   interest atau keinginannya
h. Simpati (symphaty), yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk
   menaruh perhatian terhadp orang lain, mau mendekati atau bekerjasama
   dengannya.
        Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dan mengacu pada hasil
observasi yang kami lakukan pada seorang anak SD yang bernama “Havis”. Maka
kami dapat menerangkan bahwa :
1. Anak ini termasuk anak pendiam dan patuh kepada neneknya
2. Dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang disekitarnya, dia tidak canggung.
   Sehingga mempunyai banyak teman
3. Anak ini termasuk anak yang agresif. Dia mempunyai sifat pembalas dendam.
   (Jika temannya pelit terhadap dia maka ia akan pelit juga terhadap temannya)
4. Pendidikan yang didapat dari kedua orangtuanya tentang kehidupan bersosial
   kurang ini terjadi karena kesibukan orangtuanya.
        Jadi setelah analisis di atas maka kami dapat menyimpulkan bahwa dalam
kehidupan sehari-hari anak sulit bersosilisasi dengan tetngga di rumahnya ini



                                       14
disebabkan kurangnya bimbingan orangtuanya. Tetapi tingkat, kerjasama anak ini
cukup baik, karena ia sudah terbiasa melakukan kerjasama ketika ia bermain sepak
bola.


3.2.5 Kemampuan Bahasa
        Aspek lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang
anak adalah aspek perkembangan bahasanya. Sesuai dengan fungsinya bahasa
merupakan sarana atau alat komunikasi dengan orang lain. Dalam hal ini mencakup
semua cara untuk berkomunikasi, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan,
isyarat, bilangan, lukisan dan mimik muka. Dengan bahasa setiap orang dapat
mengenal dirinya, orang lain, alam dan nilai-nilai serta norma yang berlaku.
        Pada anak usia sekolah dasar (SD), merupakan masa berkembang pesatnya
kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Pada masa ini tingkat
berpikir anak sudah lebih maju. Dia banyak menanyakan soal waktu dan sebab
akibat. Oleh sebab itu, kata tanya yang dipergunakannya pun yang semula hanya
“apa”, sekarang udah diikuti dengn pertanyaan seperti “mengapa”, “darimana”,
“bagaimana”.
        Dalam berbahasa, pada dasarnya anak dituntut untuk menuntaskan atau
menguasai 4 pokok hal yang saling berkaitan. Atau yang bisa disebut tugas-tugas
perkembangan bahasa, antara lain :
1. Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain.
2. Pengembangan perbendaharaan kata
   Perbendaharaan kata akan terus berkembang pada tiap tahun perkembangannya
   pada usia sekolah perkembangan itu akan mengalami tempo yang sangat cepat
3. Penyusunan kata-kata menjadi kalimat
   Kemampuan menyusun kata-kata menjadi kalimat umumnya berkembang pada
   usia 2 tahun seiring dengan menngkatnya usia anak dan keleluasaan bergaulnya,
   tipe kalimat yang diucapkan pun semakin kompleks.




                                        15
4. Ucapan, kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui
   peniruan terhadap apa yang didengar dan dilihat.
Apabila anak berhasil menuntaskan tugas yang satu, maka berarti ia juga dapat
menuntaskan tugas-tugas yang lainnya.


        Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor kesehatan
          Kesehtan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan
   bahasa anak. Secara fisik bila kondisi anak terganggu maka otomatis
   perkembangan anak pun terganggu / terhambat.
2. Intelegensi
          Anak yang perkembangn bahasa cepat, pada umumnya mempunyai
   intelegensi yang normal atau diatas normal
3. Status sosial ekonomi
          Menurut Hetzer dan Reindorf (dalam E. Hurlock, 1956), mengatakan
   bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam
   perkembangan bahasanya dibandingkan dari keluarga yang lebih baik. Hal ini
   mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan atau kesempatan belajar
   (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa anak)
4. Jenis kelamin (sex)
          Mulai usia dua tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang
   lelah cepat dari anak pria
5. Hubungan keluarga
          Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan
   berkelompok dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua mengajar,
   melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Dalam bidang belajar
   mengajar guru juga dapat mengembangkan kemampuan bahasa, yaitu dengan
   membiasakan anak untuk aktif berbicara atau dalam mengutarakan pendapat.
   Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dan mengacu pada hasil observasi



                                        16
yang kami lakukan pada “havis”. Perkembangan bahasa anak ini bisa dikatakan
normal. Ini bisa dilihat dari kemampuan dia dalam berbahasa baru dalam
lingkungan keluarga dan masyarakat. Meskipun anak ini termasuk anak yang
pendiaman tapi dia mempunyai banyak teman. Ini mungkin dikarenakan anak
belum mengenal teman barunya tersebut. Jadi, dia cenderung pendiam, lain
halnya bila Havis sudah mengenal anak tersebut, dia akan lebih mudah berteman
bahkan menjadikannya teman dekat. Salah satu teman dekatnya adalah Yoshua
dan Ikang. Dalam kegiatan lainnya seperti belajar kelompok dan bermain di
selalu aktif.
        Bila dilihat dari pelaksanaan tugas-tugas perkembangan bahasa,
semuanya udah berjalan dengan baik mulai dari pemahaman, pengembangn
perbendaharaan kata, penyusunan kata menjadi kalimat, sampai ucapan dan bila
diteliti dari faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa adalah
sebagai berikut :
1. Faktor kesehatan
    Secara fisik Havis tidak mempunyai gangguan kesehatan yang bisa
    menghambat perkembangan bahasanya seperti gagap atau bibir sumbing.
2. Intelegensi
    Dalam hal intelegensi, anak ini termasuk anak yang cukup pintar. Ini bisa
    dilihat dari nilai-nilai pelajaran yang didapatnya. Nilai pelajaran bahasa pun
    lumayan bagus yaitu antara 60 – 80. Dia juga termasuk anak aktif di dalam
    kelas. Dia sering bertnya bila ada yang tidak dimengerti. Dia juga sering
    melakukan kerja kelompok.
3. Status sosial ekonomi
    Ditinjau dari status sosial ekonominya, anak dimasukkan pada taraf ekonomi
    menengah ke bawah. Meskipun begitu, pendidikan dalam mengembangkan
    kemampuan bahasapun selalu diperhatikan. Dia tetap diajarkan tentang
    sopan santun dalam berperilaku.




                                      17
    4. Jenis kelamin
           Sesuai dengan penjelasan di atas, bahwa perkembangan bahasa anak laki-
           laki lebih lambat dari anak perempuan.
    5. Hubungan keluarga
           Hubungan keluarga anak ini bisa dikatakan baik. Havis merupakan anak
           yang penurut. Dia juga mendapatkan kasih sayang yang lebih, karena dia
           tinggal dengan neneknya. Dalam keluarga pun ada sebuah aturan-aturan
           yang harus dipenuhi atau dipatuhi oleh anak ini. Seperti harus tidur siang,
           harus berbicara yang sopan dengan orang, harus selalu mengucapkan terima
           kasih bila diberi sesuatu oleh. Dan disini orangtuapun aktif memberi contoh


3.2.6 Bakat Khusus
      Bakat biasanya terjadi dari warisan atau keturunan yang lebih bersift
kejiawaan yang mempunyai kelebihan, kecakapan bawaan (aptitude). Kecakapan
lebih ini (potensial) dalam perkembangannya dapat menjadi kenyataan (actual
ability)
      Potensi lebih ini sulit diamati sekilas saja, harus mendapat perhatian serius,
watak, perilaku yang tampil, baru dapat mengambil kesimpulan. Jika ia memiliki
prestasi lebih (actual ability) dibandingkan dengan yang lain kondisi yang sama.
      Bakat (aptitude) atau kecakapan bawaan ini tidak semuanya berkembang
menunjukkan prestasinya (actualita), ada yang tetap terpendam. Bakat yang dapat
berkembang menjadi prestasi (actuality) jika mendapat dukungan dari luar
(pendidikan dan latihan) dan faktor dari dalam (kemauan dan organ tubuh yang
normal dan sehat)
      Bakat pada awalnya merupakan hal yang amat penting sehubungan dengan
bidang pekerjaan/tugas kemudian dalam bidang pendidikan juga diperhatikan
masalah bakat tersebut. Mengingat            fungsi pendidikan itu adalah untuk
mempersiapkan peserta didik dalam memasuki dunia kerja. Dalam proses




                                            18
pendidikan bakat merupakan faktor penting untuk mendapatkan perhatian cara
mendidik.
        Bakat merupakan kemampuan tertentu atau khusus yang dimiliki oleh
seorang individu yang hanya dengan rangsangan atau sedikit latihan, kemampuan
itu dapat berkembang dengan baik.
        (Sumardi Suryabrata) menyimpulkan bahwa pengertian tentang bakat yang
dikemukakan oleh para ahli memang belum seragam. Diakui bahwa adanya
perbedaan dalam tiap-tiap definisi bersifat saling melengkapi. Diantara berbagai
definisi tentang bakat.
        Dari analisis data yang kita bahas mengenai bakat anak, bahwa anak
tersebut yang bernama Al-Hafiz mempunyai bakat dibidang non akademis yaitu
bermain olah rag sepak bola. Anak tersebut memang mempunyai hobi bermain bola
dan sering melakukan hobinya tersebut minimal 3 kali dalam 1 minggu dan dia
selalu menyempatkan diri untuk melakukan latihan sepak bola. Biasanya anak
tersebut bermain dengan teman-temannya.
        Dalam hal ini sekolahnya SDN Pulo Lor II Jombang, telah menyediakan
fasilitas bagi para peserta didiknya untuk bisa mengembangkan bakat mereka di
bidang non akademis, terutama sepak bola. Sekolah menyediakan fasilitas berupa
lapangan sepak bola dan alat berupa. Dan sekolah juga menyumbangkan dara untuk
mengikutsertakan ank didiknya untuk kompetensi sepakbola sekabupaten. Sekolah
juga sangat mendukung anak didiknya terutama Hafiz yang terus mengembangkan
dan mengasah bakatnya dibidang tersebut, bahkan sekolah berani mengirim para
peserta didik terutama Hafis untuk mengikuti kompetisi sepak bola sekecamatan.
        Orang tua tahu akan bakat yang dimiliki oleh anak tersebut, tetapi orang
tua tidak terlalu mendukung anak tersebut, dan orang tua tidak berperan penting
terhadap bakat anak tersebut. Karena orangtua tersebut terlalu sibuk dengan
pekerjaannya sehingga kurang memperhatikan bakat anak tersebut. Anak tersebut
mengembangkan bakatnya sendiri, dengan sering berlatih sendiri ataupun dengan
teman-temannya. Orang tua memang mengetahui bakat anaknya mereka hanya



                                       19
mendukung tetapi tidak melakukan apa-apa, yang mendukung hanya saudara dan
neneknya yang merawat anak tersebut.
3.2.7 Sikap, nilai dan moral
       Bloom ( Woolfolk dan Nicolich, 1984 : 390 ) mengemukakan bahwa tujuan
akhir dari proses belajar di kelompokkan menjadi 3 sasaran, yaitu menguasai
pengetahuan ( kognitif). Penguasaan nilai dan sikap ( afektif) dan usaha
psikomotorik. Masa bayi masih belum mempermasalahkan masalah moral dan
motorik. Masa bayi belum mempersoalkan masalah moral, karena dalam kehidupan
bayi belum dikenal hierarki nilai dan suara hati. Perilakunya belum dibimbing oleh
norma – norma moral. pada masa kanak-kanak telah terjadi perkembangan moral
yang relatif rendah (terbatas). Anak belum menguasai nilai- nilai abstrak yang
berkaitan dengan yang benatr salah dan baik daan buruk. Hal ini dikenakan oleh
pengaruh perkembangan intelek yang masih terbatas. Anak belum mengetahui
manfaat suatu ketentuan atau perraturan dan belum memiliki dorongan untuk
mengerti peraturan-peraturan dalam kehidupan.
       semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikisnya, anak mulai dikenalkan
terhadap nilai-nilai ditunjukkan yang boleh dan yang tidak boleh, yang harus
dilaakukan dan yang dilarang. Menurut Piaget, pada awal pengenalan nilai dan
perilaku serta tindakan itu masih bersifat “ paksaan “ dan anak belum mengetahui
maknanya. Akan tetapi secara berangsur anak akan mengikuti berbagai ketentuan
yang ada dalam keluarga dan semakin lama semakin luas dengan ketentuan yang
berlaku dalam masyarakat maupun negara.




                                       20
                                     BAB IV
                                   PENUTUP


4.1 Kesimpulan
Deskripsi Umum Perkembangan Fase SD
Di bawah ini beberapa kerakteristik perkembangan fase anak sekolah dasar (SD)
a) Aspek Fisik
   1. Anak perempuan rata-rata lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan dengan
       anak laki-laki.
   2. Pertumbuhan fisik maju pesat
b) Aspek Psikis
1. Perkembangan intelektual
   Anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-
   tugas belajar menurut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitifnya.
2. Perkembangan Bahasa
   Usia SD merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan
   menguasai perbendaharaan kata (vocabulary).
3. Perkembangan Sosial
   Anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri (egosentris) kepada yang
   kooperatif (bekerja sama) atau sosientris (mau memperhatikan kepentingan
   orang lain sehingga diterima menjadi anggota kelompok).
4. Emosi
   Anak mulai sadar bahwa pengungkapkan kata-kata kasar tidak diterima di
   masyarakat. Jadi dia mulai belajar untuk mengontrol emosinya dalam bergaul.
5. Moral
   Anak mulai mengenal konsep moral (mengenaai benar dan salah atau baik
   buruk) pertama kali dari dalam keluarga.




                                       21
6. Perkembangan Penghayatan Keagamaan
   Usia SD merupakan masa pembetukan nilai-nilai agama sebagai kelanjutan dari
   periode sebelumnya. Kualitas keagamaan sangat dipengaruhi oleh proses
   pembentukan atau pendidikan yang diterimanya.
7. Perkembangan Motorik
   Perkembangan motorik anak SD sudah dapat terkoordinasi dengan baik. hal ini
   ditandai dengan kelebihan gerak aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu
   usia ini merupakan masa ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan
   dengan motorik. Contohnya : menggambar, melukis, mengetik ( komputer ) dan
   lain-lain.


4.2 Analisis kasus
        Hafis adalah anak yang sangat berkompeten untuk mengembangkan bakat
yang dimilikinya, meskipun dia kurang mendapatkan dukungan dari orang tuanya.
Namun orang – orang yang ada didekatnya seperti kakek dan neneknya, saudara,
teman-temannya bahkan gurunya sangat mendukung bakat anak tersebut. Hafis juga
mendapat prestasi ekstra kurikuler sepakbola di sekolahnya. Bahkan dia mampu
menjunjung nama baik sekolahnya dan keluarganya untuk berkompetisi antar
sekolah dan antar kabupaten.
        Oleh karena itu, meskipun orang tua Hafis kurang memperhatikaan dan
mendukung bakat anaknya. Hafis masih mampu untuk meraih prestasi kompetensi
sepakbola sekabupaten.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi
       Dalam kasus ini, faktor lingkungan maupun heriditas saling mempengaruhi
dan memiliki peran yang positif sehingga hasilnya positif pula.
Dampak hasil perkembangan
        Individu tersebut sudah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan
dengan baik. misalnya : berkat menekuni hobinya dan mengikuti ekstra kulikuler




                                         22
sepakbola Hafis berkesempatan mengikuti kompetisi sepakbola antar sekolah
hingga antar kabupaten.


4.3 Saran
1. Perlunya dukungan supaya anak tersebut menjadi lebih baik guna meluaskan
   dan mengembangkan bakatnya sehingga potensinya semakin terlihat dan
   meningkat.
2. Adanya dukungan keluargaa, pihak sekolah, dan teman- teman untuk kemajuan
   dirinya.
3. Selalu mengikuti berbagai lomba agar apa yang dimiliki (bakat) semakin
   berkembang dan semakin terasah bakat yang dimilikinya.
4. Selalu memberi motivasi supaya lebih bersemangat dalam segala hal yang
   tentunya positif.




                                      23
                               DAFTAR PUSTAKA




-   Sunarto, dkk (1995) Perkembangan Peserta Didik : Rineka Cipta
-   Yusuf, H.Syamsu (2006) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
    Bandung : Remaja Rosda Karya
-   Saswono, Sarlifo Wirawan (2001) Teori- teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT.
    Raja Grafindo Persada
-   Mussen, Paul Henry. Dkk (1994) Perkembangan Dan Kepribadian Anak.
    Jakarta : PT. Arean
-   Sunarto, Hartono Agung (2002) PPD : Rineka Cipta. Jakarta




                                       24
                 MAKALAH
         PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
                  TENTANG

“FASE PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
“FASE PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
             S E K O L A H D AS AR ”
             S E K O L A H D AS AR ”

             DOSEN PEMBIMBING :




                Disusun Oleh :
                            KATA PENGANTAR




Assalamu’alaikum Wr. Wb.
        Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul : FASE PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
ANAK SEKOLAH DASAR dengan sebaik-baiknya, sebagaimana yang penulis
harapkan.
        Walaupun dalam penyusunan makalah ini penulis telah berusaha
semaksimal mungkin. Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dalam
penyempurnaan makalah ini selalu penulis harapkan.
        Dengan terselesaikannya pembuatan makalah ini tentu tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak dan berbagai literature. Untuk itu penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Hj. Agung KM., M.Kes. selaku
Dosen Pembimbing dan pengajar, serta semua pihak yang telah memberi bantuan
kepada penulis, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga
bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan dari Allah SWT.
Amin …
        Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi diri penulis
semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi dia penulis maupun pembaca dan
semua pihak yang bersangkutan. Amin…
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


                                               Jombang, 2 Juli 2008


                                                     Tim Penulis




                                       ii
                                                  DAFTAR ISI




HALAMAN JUDUL ........................................................................................               i
KATA PENGANTAR .......................................................................................               ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................      iii


BAB I           : PENDAHULUAN
                    1.1 Latar Belakang ....................................................................          1
                    1.2 Rumusan Masalah ...............................................................              2
                    1.3 Tujuan Penulisan Makalah ..................................................                  2


BAB II          : DATA
                    2.1 Data Umum .........................................................................          3
                    2.2 Data Khusus ........................................................................         4


BAB III         : PEMBAHASAN
                    3.1 Perkembangan dan Pertumbuhan .........................................                       7
                    3.1.1 Pengertian Perkembangan dan Pertumbuhan .....................                              7
                    3.1.2 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perkembangan dan
                           Pertumbuhan ......................................................................        8
                    3.2 Analisa Ketujuh Aspek ........................................................               9
                    3.2.1 Segi Fisik Anak ................................................................           9
                    3.2.2 Intelektual .........................................................................     10
                    3.2.3 Emosi ................................................................................    11
                    3.2.4 Sosial ................................................................................   14
                    3.2.5 Kemampuan Bahasa .........................................................                16
                    3.2.6 Bakat Khusus ....................................................................         19
                    3.2.7 Sikap Nilai dan Moral .......................................................             21



                                                          iii
BAB IV   PENUTUP
         4.1 Kesimpulan ..........................................................................        22
         4.2 Analisis Kasus .....................................................................         23
         4.3 Saran ....................................................................................   24


DAFTAR PUSTAKA




                                                iv

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2641
posted:11/7/2011
language:Indonesian
pages:28