Askep anak typoid

Document Sample
Askep anak typoid Powered By Docstoc
					                                                                                                     1
                              LAPORAN PENDAHULUAN

       KONSEP PENYAKIT DAN ASUHAN KEPERAWATAN
    PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN:
                 THYPUS ABDOMINALIS


A. KONSEP PENYAKIT
   1. PENGERTIAN
      Penyakit infeksi akut pada saluran cerna (usus halus) dengan gejala demam > 1 minggu,
      gangguan saluran cera dan gangguan kesadaran.
      Thypoid adalah penyakit infeksi akut dengan demam yang disebabkan oleh kuman salmonella
      typi (Pedoman Diagnosis dan Therapi Lab /UPF Ilmu penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo
      Surabaya)

   2. PENYEBAB
      Basil/kuman salmonella Typhosa, Salmonela paratyphosa.

   3. PATOFISIOLOGI

                                  Infeksi oleh S. Typhi per oral

                Pada epitel bagian proksimal usus halus  sel lekosit mononuklear

         Dalam limfokel pada lamina propria usus halus, plaque peyer  Pembuluh limfe

                Peredaran darah  dalam waktu 24 – 72 jam  bakterimia pertama

Zat pirogen          Organ – organ (hati, limpha, sumsum tulang)               Hypertermia
(panas meningkat)
             Berkembang biak dalam retikuloendotelial  endotoksin  bakterimia kedua

                                 Peredaran darah/bakterimia          Ggn pemenuhan nutrisi


 Lidah kotor                    Kelenjar limphoid usus halus
 Diare                          (tukak pd mukosa usus/plak)
 Bibir kering
 Mual/muntah                                                           Ggn kebutuhan cairan

                            Endotoksin  bahan prokoagulan

Bedrest                      Perdarahan (perforasi peritonitis)                 Ggn ADL, ketakutan
Kelemahan

  Sumber: Depkes RI, 1993

   4. PATOGENESIS:
       Penularan s. Typhy terjadi melalui mulut oleh makanan yang tercemar. Sebagian kuman
       akan di musnahkan dalam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus, mencapai
       aringan limpoid dan ber kembang biak.
        Proses penyakit di bagi dalam 3 fase :
       Salmonela typhi melalui air dan makanan yang terkontaminasi masuk keadalam tubuh
       dengan mekanisme penyakitnya sebagai berikut:
       1. Infasi terhadap jaringan limpoid intestinal dan proliferasi bacteri. Fase ini berlangsung 2
           minggu; asimpthomatis.\
       2. Infasi aliran darah bacteraemia menyebabkan meningkatnya suhu tubuh. Terjadi reaksi
           imunologi sampai fase berikutnya dalam 10 hari. Kultur darah dan urine positif selama
           periode febris. Antibodi S.Typhy tampak dalam darah. Test widal positif pada akhir fase ini.

       3. Lokalisasi bacteri dalam jaringan limfoid intestinal nodus masenterik gall bladder, hati,
          limpa. Terjadi nekrosis lokal reaksi hipersentifitas antigen antibodi.

   5. TANDA DAN GEJALA
      a. Minggu I : infeksi akut (demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, mual, diare)
                                                                                                    2
       b. Minggu II   : Gejala lebih jelas (demam, bradikardia relatif, lidah kotor, nafsu makan
           menurun, hepatomegali, ggn kesadaran).

       Lesi pada usus halus
       Kelainan patologic utama terjadi di usus halus terutama ileum bagian distal tetapi dapat i
       temukan pada jejunu dan colon.

       Seguelae
       Lesi sembuh dengan scaring yang minimal ulcerasi yang dalam pada usus halus.
       Persisten cronic infeksi pada gall bladder atau ginjal “carries”.

   6. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
      1) Peningaktan titer uji widal 4x selama 2-3 minggu  demam typhoid.
      2) Reaksi widal dengan titer 0  1: 320, reaksi widal dengan titer H  1: 640
      3) Jumlah leukosit normal / Leukopenia / Leukositisis.
      4) Anemia ringan, LED meningkat, SGOT, SGPT dan Fosfatase alkali meningkat
      5) Dalam minggu pertama biakan darah Salmonella typhi positif 75 – 85 %\
      6) Biakan Tinja dalam minggu kedua dan ke tiga
      7) Reaksi widal Titer O dan H meningkat sejak minggu kedua dan tetap posisitf selama
          beberapa bulan atau tahun
      8) Biakan darah positif terhadap S. Typhi pada minggu pertama
      9) Reaksi widal
              Aglutinin O
              Aglutinin H        Diagnosis
              Aglutinin Vi
      Makin tinggi titernya makin besar kemungkinan klien menderita tyfoid. Pada infeksi aktf, titer
      reaksi widal akan meningkat pada pemeriksaan ulang.

       Faktor – faktor Yang mempengaruhi reaksi widal:
       1. Keadaan umum
          Gisi buruk menyumbat pembentukan antibodi
       2. Pemeriksaan terlalu awal
          Aglutinin baru di jumpai dalam darah setelah 1 minggu dan mencapai puncaknya minggu
          ke 6.
       3. Penyakit tertentu (leukimia, ca)
       4. Obat – obat immunosuppresif atau kortikosteroid
       5. Vaksinasi dengan hotipa / tipa
       6. Infeksi klinis atau sub klinis oleh sallmonela.
          Reaksi widal positif dengan titer rendah.

   7. KOMPLIKASI
      a. Perdarahan usus
      b. Perforasi usus
      c. Ileus paralitik

   8. PENATALAKSANAAN
      a. Perawatan  bedrest
      b. Diet (pemberian makanan padat dini dengan lauk pauk rendah selulosa).
      c. Obat/terapi

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
   1. PENGKAJIAN
      a. Identitas:
         1) Umur: Typhoid Abdominalis adalah penyakit tropik yang sering menimbulkan kematian
             pada anak akibat terlambatnya prilaku mencari pengobatan karena kecenderungan
             gejala awalnya hampir sama dengan gejala flu.
         2) Jenis kelamin: secara spesifik tidak terdapat perbedaan tingkat kejadian pada anak
             perempuan atau anak laki-laki.
         3) Tempat tinggal: tidak terdapat pengaruh yang bermakna antara kejadian typhoid
             dengan keadaan tempat tinggal mengingat proses penularan penyakit ini adalah fekal
             oral.
      b. Keluhan utama: pasien biasanya datang dengan keluhan suhu badan naik turun disertai
         gejala mual muntah.

       c.   Riwayat penyakit sekarang: Pasien juga sering menunjukkan keluhan kepala pusing,
            badan dirasa lemah, nafsu makan menurun, mengeluh ngilu dan nyeri pada otot. Pada
            pengamatan ditemukan: Lidah kotor (kotor di tengah tepi dan ujung merah dan tremor), BB
            menurun, porsi makan tidak habis, ggn sensasi pengecapan, Gelisah, terdapat penurunan
            kesadaran: Somnolen stupor, koma, delirium atau psikosis, Immobilisasi, Pembesaran
            hepar (hepatomegali), Diare, kadang disertai konstipasi.
                                                                                        3
                          0
   S: hypertermia (> 37,5 C), bradikardia relatif, Hepatomegali, splenomegali, meteorismus
   (akumulasi udara dalam intestinal), 8) Roseola (bintik merah pada leher, punggung dan
   paha)

d. Riwayat penyakit dahulu: Mungkin pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya
   serta pernah tidaknya memperoleh pengobatan antimikroba sebelumnya serta riwayat
   vaksinasi sebelumnya.
e. Riwayat penyakit keluarga: Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga minimal 6 bulan
   terakhir.
f. Riwayat kesehatan lingkungan: Kaji klien tentang penyediaan air bersih, kebersihan
   individu dalam kebiasaan makan, minum. Sanitasi lingkungan.

g. Riwayat tumbuh kembang:
   1) Tahap pertumbuhan dan perkembangan anak usia pra sekolah.
       a) Bayi baru lahir – 1 tahun.
       Perkembangan bayi 0-3 bulan:
       - Dapat menggerakkan kedua lengan dan kaki sama mudahnya (motorik kasar = MK).
       - bereaksi dengan melihat ke arah sumber cahaya (motorik halus=MH).
       - Mengoceh dan bereaksi terhadap suara (bicara, bahasa, kecerdasan = BBK).
       - Bereaksi terhadap senyum terhadap ajakan (Bergaul dan mandiri = BM).

       Perkembangan bayi 3 – 6 bulan:
       - Menegakkan kepala pada saat telungkup (MK)
       - Meraih benda yang terjangau (MH)
       - Menengok ke arah sumber suara (BBK).
       - Mencari benda yang dipindahkan (BM).

       Perkembangan bayi 6 – 9 bulan:
       - Ketika didudukkan dapat bertahan dengan kepala tegak (MK).
       - Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain (MH).
       - Tertawa/berteriak melihat benda menarik (BBK).
       - Makan biskuit tanpa dibantu (BM).

       Perkembangan bayi 9 – 12 bulan:
       - Berjalan dnegan berpegangan (MK).
       - Dapat meraup benda – benda kecil (MH).
       - Mengatakan 2 suku kata yang sama (BBK).
       - Bereaksi terhadap permainan cilukba (BM).

       Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
       Fase oral (0-1 tahun):
       - Fokus primer dari existensi bayi adalah pada mulutnya.
       - Bayi memperoleh kesenangan, kepuasan dan kenikmatan dari menghisap,
         menggigit, mengunyah serta bersuara.
       - Bayi sangat etrgantung dan tidak berdaya.
       - Bayi perlu dilindungi agar mendapat rasa aman.
       - Dasar perkembangan mental yang sehat sangat bergantung dari hubungan ibu dan
         bayi.

       Tahap perkembangan manusia ditinjau dari aspek psikososial oleh Eric Ericsson:
       Masa bayi 0 – 1 tahun: Trust vs mistrust.
       Bayi belajar untuk percaya pada orang yang merawatnya, untuk memenuhi kebutuhan
       dasarnya seperti: kehangatan, amkanan dan kenyamanan sehingga kepercayaan
       pada orang lain terbentuk ketidakpercayaan adalah akibat dari perawatan yang tidak
       konsisten, tidak cukup dan tidak aman.

       b) 1 – 3,5 tahun (toddler)
       perkembangan bayi 12 – 18 bulan:
       - Berjalan sendiri, tidak jatuh (MK).
       - Mnegambil benda kecil dnegan ibu jari dan telunjuk (MH).
       - Mnegungkapkan keinginan secara sederhana (BBK).
       - Minum sendiri dari gelas tidak tumpah (BM).


       Perkembangan bayi 18 – 24 bulan:
       - Berjalan mundur sedikitnya 5 langkah (MK).
       - Mencoret – coret dnegan alat tulis (MH).
       - Menunjuk bagian tubuh dan menyebut namanya (BBK).
       - Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga (BM).
                                                                                    4
   Perkembangan bayi 2 – 3 tahun:
   - Berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan sedikitnya 2 hitungan (MK).
   - Meniru membuat garis lurus (MH).
   - Menyatakan keinginan sedikitnya dengan 2 kata (BBK).
   - Melepas pakaian sendiri (BM).

   Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
   Fase anal (1 – 3 tahun):
   - Daerah anal merupakan aktifitas yang elingkupi pengeluaran tinja menjadi sumber
     kepuasan libido yang penting selama tahun kedua kehidupan.
   - Anak mulai menunjukkan keakuannya.
   - Sikapnya sangat narsisistik (cinta terhadap dirinya sendiri) dan egoistik.
   - Mulai belajar kenal dnegan tubuhnya sendiri dan mendapatkan pengalaman
     autoerotik (merasa lega/nikmat dari dirinya).
   - Tugas utama anak pada fase ini adalah latihankebersihan.
   - Sisa – sisa konflik fase ini menimbulkan kepribadian anal yaitu:
          Anal retentif (menyimpan/menahan):
               Bersifat obsesif (gangguan pikiran).
               Pandangan sempit.
               Introvert
               Pelit.
          Anal eksklusif:
               Ekstrovert impulsif (dorongan membuka diri).
               Tidak rapi.
               Kurang pengendalian diri.
   - Tugas penting fase ini adalah: perkembangan bicara dan bahasa.

   Tahap perkembangan manusia ditinjau dari aspek psikososial menurut Eric Ericsson:
   Usia 1 – 3 tahun (Toddler): Autonomy vs Shame.
   Perkembangan keterampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari
   lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh dari kemampuannya untuk amndiri (tidak
   tergantung), melalui dorongan orangtua untuk amkan, berpakaian, BAB sendiri. Jika
   orangtua terlalu over protectif (terlalu melindungi), menuntut harapan yang terlalu
   tinggi, maka anka akan merasa malu dan ragu – ragu seperti juga perasaan tidak
   mampu yang dapat berkembang pada diri anak.

     c) 3,5 – 5 tahun (pre sekolah)
   perkembangan bayi usia 3 – 4 tahun:
   - Berjalan menjijit (MK).
   - Membuat gambar lingkaran (MH).
   - Mengenal sedikitnya 1 warna (BBK).
   - Mematuhi cara permainan sederhana (BM).

   Perkembangan anak usia 4 – 5 tahun:
   - Melompat dengan 1 kaki (MK).
   - Dapat menagncingkan baju (MH).
   - Dapat bercerita sederhana (BBK).
   - Dapat mencuci tangan sendiri (BM).

   Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
   Fase oedipal/falik ( 3 – 5 tahun):
   - Usia 3 tahun anak mulai melakukan rangsangan auto erotic (meraba – raba dan
   merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya).
   - Biasanya senang bermain dnegan anak berjenis kelamin beda.
   - Anak pasca oedipal berkelompok dengan sejenis.

    Perkebangan psikososial menurut Eric Ericsson.
    Anak pre school (4 – 6 tahun), Initiative vs guilt:
    Kepercayaan yang diperoleh anak toddler diartikan bahwa ia diperbolehkan memiliki
    inisiatif dalam belajar mencari pengalaman – penagalaman baru secara aktif seperti
    bagaimana dan mengapa tentang sesuatu sehingga anak dapat memperluas
    aktifitasnya, jika anak dilaranag/diomeli/dicela untuk usahanya itu yaitu mencari
    pengalaman baru, anak akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk
    melakukan sesuatu percobaan yang menantang keterampilan motorik dan bahasanya.
2) Tahap pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah.
    a) Anak usia 5 – 11 tahun.
        Perkembangan anak usia 5 – 6 tahun:
        - Menangkap bola kasti pada jarak 1 meter (MK).
       - membuat gambar segiempat (MH).
       - Mengenal angka dan huruf serta berhitung (BBK).
                                                                                          5
           - Berpakaian sendiri tanpa dibantu (BM).

           Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
           Fase latent 9 5 – 12 tahun).
           - Anak masuk ke permulaan fase pubertas.
           - Periode integrasi, dimana anak harus berhadapan dnegan berbagai tuntutan
             sosial, contoh: hubungan kelompok, pelajaran sekolah dll.
           - Fase tenang.
           - Dorongan ibido mereda sementara.
           - Zona erotik berkurang.
           - Anak tertarik dnegan kelompok sebaya.

           Tahap perkembangan psikososial menurut Eric Ericsson.
           Anak usia 6 – 12 tahun: Industry vs inferioritas.
           Berfokus pada hasil akhir suatu pencapaian (prestasi=achievement), anak
           memperoleh kesenangan dari penyelesaian tugas/pekerjaannya dan menerima
           penghargaan untuk usaha/kepadaiannya. Jika anak tidak mendapat penerimaan
           dari teman sebayanya atau tidak dapat memenuhi harapan oarngtuanya ia merasa
           rendah diri, kurang menghargai dirinya untuk dapat berkembang. Jadi fokus pada
           anak sekolah adalah pada hasil prestasinya, pengakuan dan pujian dari
           keluarganya, guru dan teman sebaya. Perkembangan adalah pengertian dari
           persaingan/kompetisi dan kerajinannya.

         b) Anak usia 11 – 15 tahun
           Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud.
           Fase genital ( > 1 2tahun):
           - Fase akhir perkembangan anak.
           - Anak harus menghadapi berbagai perkembangan yang kompleks.
           - Anak diharapkan dapat bereaksi sebagai orang dewasa, sedangkan sebenarnya
             ia masih dalam masa transisi.
           - Kesulitan yang timbul sering disebabkan si anak belum dapat menyelesaikan fase
             sebelumnya dengan tuntas (segala tugas dan persoalan pada fase sebelumnya
             belum terselesaikan degan baik).
           - Kebutuhan seksual dibangkitkan kembali yang mengarah pada perasaan cinta
             yang matang terhadap lawan jenis.

           Tahap perkembangan psikososial menurut Eric Ericsson.
           Adolescence: Identity vs Role confusion:
           Merupakan masa transisi dari masa kanak – kanak ke masa dewasa/kedewasaan,
           dimana terjadi banyak perubahan pada fisik.
            Hormonal: growth of secondary yang menyebabkan perubahan skunder pada
              ciri – ciri seksualnya.
            Suasana hati: iarama suasana hati mudah berubah, ia mencoba peran dan
              memberontak tanpa pertimbangan perilaku yang normal dipelajari.
            Arah apa yang akan diambil dalam kehidupan ini merupakan peran yang
              membingungkan, terjadi ketika remaja tidak dapat menetapkan identitas dan
              arah pengertiannya.

  h. Pengkajian per sistem:
     1) sistem pernafasan: pada keadaan yang lanjut dapat ditemukan respirasi meningkat
        akibat peningkatan suhu tubuh.
     2) Sistem kardiovaskuler: sering pasien timbul keluhan dada berdebar, bradikardia,
        tremor, akral dingin.
     3) Sistem persarafan: sering timbul keluhan kepala pusing, kadang pada keadaan lanjut
        ditemukan pasien dnegan suhu tubuh tinggi disertai gelisah, penurunan kesadran:
        somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis.
     4) Sistem perkemihan – eleminasi urine: akibat suhu tubuh meningkat terjadi
        peningkatan kebutuhan cairan dalam tubu sehingga terjadi penurunan produksi urine,
        urine berwarna pekat.
     5) Sistem pencernaan – eleminasi alvi: lidah berwarna putih kotor (kotor di tengah tepi
        dan ujung merah), mukosa bibir kering akibat peningkatan suhu tubuh, nafsu makan
        menurun, mual, muntah, badan dirasa lemah, BB menurun, porsi makan tidak habis,
        gangguan sensai pengecapan, terdapat pembesaran hepar, pembesaran spleno,
        meteorismus (akumulasi udara dalam intestinal), diare bahkan kadang-kadang
        konstipasi.
     6) Sistem Tulang – otot – integumen: pasien mengeluh nyeri otot, badan terasa ngilu,
        roseola (bintik merah pada punggung, leher dan paha), akibat immobilisasi dapat
        timbul keluhan merah tertekan pada bokong dan punggung.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
                                                                                                 6
    a. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
    b. Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehlangan cairan berlebihan
       melalui muntah dan diare.
    c. Resiko tinggi ggn pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake
       yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
    d. Gan pemenuhan kebutuhan sehari – hari (ADL) b/d kelemahan, immobilisasi.
    e. Ketakutan b/d hospitalisasi, tidak mengenal sumber ketakutan, krisis lingkungan.


3. RENCANA TINDAKAN/RASIONAL
   a. Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
      Tujuan: Klien mendemonstrasikan bebas dari panas.
      Kriteria hasil: Vital sign dalam batas normal, anak tenang, tidak rewel.
                      Intervensi                                       Rasional
   Mandiri:
   1) Observasi suhu, N, TD, RR tiap 2-3 jam         Sebagai pengawasan terhadap adanya
                                                     perubahan keadaan umum pasien sehingga
                                                     dapat diakukan penanganan dan perawatan
                                                     secara cepat dan tepat.
   2) Catat intake dan output cairan dlm 24 Mengetahui keseimbangan cairan dalam
      jam                                             tubuh pasien untuk membuat perencanaan
                                                      kebutuhan cairan yang masuk.
   3) Kaji sejauhmana pengetahuan keluarga Mengetahui kebutuhan infomasi dari pasien
      dan pasien tentang hypertermia                 dan keluarga mengenai perawatan pasien
                                                     dengan hypertemia.
   4) Jelaskan upaya           – upaya       untuk Upaya – upaya tersebut dapat membantu
      mengatasi hypertermia dan bantu menurunkan suhu tubuh pasien serta
      klien/keluarga dlm upaya tersebut:              meningkatkan kenyamanan pasien.
      - Tirah baring dan kurangi aktifitas
      - Banyak minum
      - Beri kompres hangat
      - Pakaian tipis dan menyerap keringat
      - Ganti pakaian, seprei bila basah
      - Lingkungan tenang, sirkulasi cukup.
   5) Anjurkan klien/klg untuk melaporkan bila Penanganan perawatan dan pengobatan
      tubuh terasa panas dan keluhan lain.            yang tepat diperlukan untuk megurangi
                                                      keluhan dan gejala penyakit pasien sehingga
                                                      kebutuhan    pasien    akan    kenyamanan
                                                      terpenuhi.
   Kolaborasi:
   6) Kolaborasi       pengobatan:      antipiretik, Antipiretik    dan      pemberian      cairan
      cairan dan pemeriksaan kultur darah.            menurunkan suhu tubuh pasien serta
                                                      pemeirksaan    kultur    darah   membantu
                                                      penegakan diagnosis typhoid.


   b. Resiko tinggi kurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan berlebihan melalui
       muntah dan diare.
       Tujuan: Pasien mendemonstrasikan kebutuhan cairan trepenuhi secara adekuat.
       Kriteria hasil: Tidak ada manifestasi dehidrasi, input output balance.
                       Intervensi                                       Rasional
   Mandiri:
   1) Awasi       masukan        dan     keluaran, Memberikan informasi tentang kebutuhan
       bandingkan dengan BB harian. Catat cairan/elektrolit yang hilang.
       kehilangan melalui usus, contoh muntah
       dan diare.
   2) Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian Indikator volume sirkulasi/perfusi.
       kapiler, turgor kulit dan membran
       mukosa.
   Kolaborasi:
   3) Awasi nilai laboratorium: HB, HT, Na Menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi
       albumin.                                     retensi natrium/kadar protein akibat muntah
                                                    dan diare berlebihan.
   4) Berikan cairan         seperti glukosa dan Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.
       Ringer laktat.


    c.   Resiko tinggi ggn pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake
         yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
         Tujuan: Pasien menunjukkan pemenuhan nutrisi adekuat.
                                                                                                 7
        Kriteria hasil: Pasien menunjukkan peningkatan berat badan, tidak ada mual dan muntah.
                      Intervensi                                      Rasional
     Mandiri:
     1) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien
        Berikan porsi kecil tapi sering dan anoreksi, anoreksi juga paling buruk selama
        awarkan makan pagi dengan porsi siang hari, membuat masukan makanan yang
        paling besar.                            sulit pada sore hari.
     2) Berikan perawatan mulut sebelum Menghilangkan                rasa   tak    enak    dapat
        makan.                                   meningkatkan nafsu makan.
     3) Anjurkan makan dlm posisi duduk Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan
        tegak.                                   dapat meningkatkan pemasukan.
     4) Dorong      pemasukan      sari   jeruk, Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat
        minuman karbonat dan permen lebih mudah dicerna/ditoleran bila makanan lain
        sepanjang hari.                          tidak.
     Kolaborasi:
     5) Konsul ahli diet, dukungan tim nutrisi Berguna dalam membuat program diet untuk
        untuk     memberikan      diet   sesuai memenuhi kebutuhan klien.
        kebutuhan klien.
     6) Awasi glukosa darah.                     Hiperglikemia/hipoglikemia dapat terjadi pada
                                                 klien dengan anoreksi.
     7) Berikan obat sesuai indikasi: antasida, Antiemetik diberikan ½ jam sebelum makan
        antiemetik, vitamin B kompleks.          dapat menurunkan mual dan meningkatkan
                                                 toleransi pada makanan.
                                                 Antasida bekerja pada asam gaster dapat
                                                 menurunkan iritasi/resiko perdarahan. Vitamin B
                                                 kompleks     memperbaiki      kekurangan   dan
                                                 membantu proses penyembuhan.

      d. Ggn pemenuhan kebutuhan sehari – hari (ADL) b/d kelemahan, immobilisasi.
         Tujuan: kebutuhan Adl anak terpenuhi secara adekuat sesuai tugas perkembangannya.
         Kriteria hasil: Anak menunjukkan ADL terpenuhi secara adekuat, personal hygiene baik,
                         anak menunjukkan peningkatan dalam beraktifitas.
                      Intervensi                                       Rasional
     Mandiri:
     1) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan Meningkatkan         istirahat    dan    ketenangan.
         lingkungan tenang, batasi pengunjung Menyediakan energi yang digunakan untuk
         sesuai keperluan.                       penyembuhan. Aktifitas dan posisi duduk tegak
                                                 diyakini meurunkan aliran darah ke kaki, yang
                                                 mencegah       sirkulasi     optimal    ke   organ
                                                 pencernaan.
     2) Ubah posisi dengan sering. Berikan Meningkatkan              fungsi      pernafasan     dan
         perawatan kulit yang baik.              meminimalkan tekanan pada area tertentu
                                                 untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
     3) Lakukan tugas dengan cepat dan Memungkinkan perode tambahan istirahat
         sesuai toleransi.                       tanpa gangguan.
     4) Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi, Tirah      baring     lama      dapat    menurunkan
         bantu melakukan latihan rentang gerak kemampuan.          Ini    dapat    terjadi   karena
         sendi pasif/aktif.                      keterbatasan aktifitas yang mengganggu
                                                 periode istirahat.
     5) Dorong           penggunaan      teknik Meningkatkan relaksasi dan penghematan
         manajemen stres. Berikan aktifitas energi, memusatkan kembali perhatian dan
         hiburan yang tepat contoh: menonton dapat meningkatkan koping.
         TV, radio, membaca, bermain.
     6) Awasi terulangnya anoreksia.             Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi
                                                 penyakit, memerlukan istirahat lanjut dan
                                                 memerlukan penggantian program terapi.




e. Ketakutan b/d hospitalisasi, tidak mengenal sumber ketakutan, krisis lingkungan.
   Tujuan: Anak menunjukkan tidak adanya ketakutan.
   Kriteria hasil: Anak bersikap kooperatif dengan pengobatan dan perawatan yang dilakukan, anak
                   tenang, anak bermain tanpa rasa takut.
                      Intervensi                                      Rasional
     1) lakukan pendekatan pada anak Menciptakan hubungan saling percaya dengan
          dengan ramah atau menggunakan anak.
                                                                                                       8
            media     mainan,      permen,     kue.
            Tunjukkan sikap ramah dan banyak
            senyum kepada anak.
       2)   Jelaskan setiap tindakan perawatan        Menciptakan kerjasama anak dalam perawatan
            yang akan dilakukan (pada anak yang       yang diberikan.
            lebih dewasa).
       3)   Berikan contoh tindakan perawatan         Menghindarkan anak dari ketakutan tanpa objek.
            yang     akan     dilakukan     dengan
            menggunakan media lain.
       4)   Libatkan keluarga terutama orangtua       Meningkatkan rasa percaya diri anak sehingga
            terdekat dalam setiap prosedur            anak lebih kooperatif.
            tindakan yang akan dilakukan.
       5)   Hentikan     intervensi    bila   anak    Menghindarkan    anak   dari   ketakutan   yang
            menangis atau ketakutan. Jangan           berlebih.
            memaksa melakukan intervensi bila
            anak menolak.
       6)   Desain ruangan anak dengan warna          Menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak.
            yang cerah (hijau, merah muda,
            kuning, biru) dan beri gambar-gambar
            yang menarik.Beri hiburan musik
            yang ceria di ruangan anak bila perlu.
       7)   Sediakan waktu bermain bagi anak          Memberikan kesempatan anak beraktifitas sesuai
            usia preschool atau kesempatan            masa perkembangannya.
            belajar bagi anak usia sekolah.




DAFTAR PUSTAKA

1. Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku
    Kedokteran EGC, Jakarta
2. Carolyn M. Hudak, Barbara M. Gallo (1996), Keperawatan Kritis; Pedekatan Holistik Volume II,
    Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
3. Donna D. Igatavicius, Kathy A. Hausman ( 1995), Medical Surgical Nursing: Pocket Companoin
         nd
    For 2 Edition, W. B. Saunders Company, Philadelphia
4. Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak FK Unud (1997), Buku Standar Diagnosis dan Terapi Ilmu
    Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unud, Denpasar.
5. Lynda Juall Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis edisi 6,
    Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
6. Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan
    Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3,
    Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
7. Ngastiyah (1997), Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
8. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI (1993), Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks
    Keluarga Cetakan II, Depkes RI, Jakarta
9. Soetjiningsih (2000), Tumbuh Kembang Anak, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
10. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI (1995), Buku Kuliah Jilid 2: Ilmu Kesehatan Anak,
    Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:787
posted:11/5/2011
language:Indonesian
pages:8