Refleksi 10 Tahun Konflik Poso

Reviews
Shared by: Ahdari Dj. Supu
Categories
Tags
Stats
views:
149
rating:
not rated
reviews:
0
posted:
8/20/2009
language:
English
pages:
0
10 Tahun Merajut Cabikan Satu Poso Kita Oleh : Akhdary Dj. Supu EUFORIA reformasi! Mei 2008, masyarakat di seluruh tanah air menyambutnya gembira. Rezim Soeharto tumbang. Wajah riang. Bahagia. Namun, pesta belum usai, sekonyong-konyong darah tumpah ke bumi pertiwi. Beberapa daerah yang sejak lama dikenal hidup damai dan mampu berdampingan antar pemeluk agama, suku, ras, dan antargolongan, tercabik. Berdarah! Penuh amuk. Dan, nyawa beterbangan. Tersebutlah Ambon, tersebutlah Poso, tersebutlah Sambas, Timor Timur, Sampit, NTT, dan beberapa tempat yang sangat cepat kehilangan jati diri sebagai bangsa beradab, dan dipenuhi perilaku anarki. Chaos. Mati! Pun kita tersentak dan terhenyak. Kita tidak tahu akan ke mana bangsa dan negeri kita yang tiba-tiba carut-marut. Rasa satu kita kemudian hilang. Kita tercabik menjadi banyak bagian. Kita tidak lagi tahu tentang cinta sesama. Kita saling membunuh. Kita menjadi manusia lain, yang pantas terlabeli bukan manusia. Kita larut dalam kebencian yang tak jelas. Tenggelam dalam kemarahan yang tidak jelas. Semua tidak berbentuk. Ada apa dengan negeri kita ini? Dan, parahnya kita terhisap ke dalamnya tanpa pernah diminta, tanpa pernah disuruh, tanpa pernah diajak. Kita terjebak dalam situasi yang membingungkan. Dan hal itulah yang kita rasakan di Poso, sebagai tempat yang kita kenal sejak kecil. Karena, Poso adalah satu, menyatu dengan diri kita semua, Poso adalah jiwa kita, Poso adalah kehidupan bersama. Tapi, mengapa kemudian Poso berdarah? Mengapa mesti Poso? Ada apa sehingga Poso chaos? Tidak terasa, 10 tahun berlalu. Poso bukan lagi Poso yang kita kenal sejak lama. Bukan lagi Poso yang satu, bukan satu Poso kita yang menyatukan kita dalam keberagaman. Poso telah tercabik-cabik. Pun ribuan pertanyaan tak dapat terjawab tentang akar masalah dan segala insiden. Malah, banyak orang menginterpretasi menurut pikirannya masing-masing. Saling tuding. Saling menyalahkan. Sementara, kita yang tertinggal di Poso, hanya dapat meratapi puing, menyesali segala kebringasan kita yang mencabik diri sendiri. Satu dasawarsa berlalu. Namun, kita masih diliputi bimbang: apakah kita akan selalu bertanya tentang mengapa, ataukah malah kita mendiamkannya saja tanpa perlu lagi mengusik lalu diam-diam merajut kembali ketercabikan satu Poso kita? Ataukah kita memilih bertanya mengenai bagaimana? Dua tahun silam, tepatnya 27 Januari 2007, Wapres Jusuf Kalla saat memberi penjelasan mengenai konflik di Poso dalam pertemuan dengan tokoh ulama dan parpol Islam di Kediaman Wapres, Jl Diponegoro, menegaskan: ”Konflik yang terjadi di Poso, bukan konflik agama, namun merupakan konflik perebutan jabatan!” Kita memang sangat bijak jika tidak lagi bertanya tentang mengapa, apa, maupun bagaimana, terlebih mengais-ngais luka lama yang memborok yang kini mulai kering. Walau, kita tetap saja tidak mendapatkan jawaban atas konflik di Poso sejak tahun 1999 hingga peristiwa terakhir 20 Januari 2007. Lalu lagi-lagi saling menyalahkan. Sementara kita, rakyat Poso hanya bisa meratapi dalam sesal atas nasib yang menimpa. *** MENCERMATI konflik di Poso yang selalu disebut melibatkan antarpemeluk agama, terasa tepat jika diberi definisi sesuai pandangan Dean G Pruitt dan Jeffrey Z Rubin (Teori Konflik Sosial, 2004) yakni konflik adalah persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest). Sebab, ”kepentingan” adalah perasaan orang mengenai apa yang sesungguhnya ia inginkan. Perasaan itu cenderung bersifat sentral dalam pikiran dan tindakan orang yang membentuk inti dari banyak sikap, tujuan dan niat (intensi)-nya. Ada beberapa dimensi yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan kepentingan bersifat universal seperti kebutuhan akan rasa aman, identitas, ”restu sosial” (special approval), kebahagiaan, kejelasan tentang dunianya, dan beberapa harkat kemanusiaan yang bersifat fisik. Beberapa kepentingan bersifat spesifik bagi pelaku-pelaku tertentu, misalnya kekuasaan, juga kepentingan lainnya, terjadi di Poso. Lantas apa yang menjadi ”kepentingan” di Poso sehingga konflik sempat makin besar dan bereskalasi? Yang pasti, ketika konflik bereskalasi maka akan melewati sejumlah tambahan transformasi tertentu. Meskipun transformasitransformasi pada masing-masing pihak terjadi secara terpisah, tetapi memengaruhi konflik secara keseluruhan, karena biasanya dicerminkan pada pihak yang lainnya. Sebagai hasil transformasi-transformasi ini, konflik terintensifikasi secara terus-menerus dan sering kali menjadi semakin sulit untuk diatasi. Begitu konflik mengalami eskalasi seperti di Poso, maka akan terus cenderung bereskalasi, paling tidak untuk sementara. Masalah yang ditimbulkan terhadap pihak-pihak yang berkonflik maupun hubungan-hubungan yang tidak ditandai oleh terjadinya eskalasi, bukan berarti bahwa konflik terletak pada titik nol. Di dalam hubungan-hubungan seperti dimaksud, melainkan mengalami naik-turun sepanjang waktu seperti sebuah gelombang sinus. Hal itu pula sempat terjadi pada perilaku yang terlibat, melibatkan diri, terjebak, terpaksa terlibat, di Poso. Mengingat rusuh Poso yang panjang dan kerap naik-turun itu, memang mestilah tetap selalu diwaspadai, karena kita tidak ingin mengulang kesalahan yang membuat kita berada dalam konflik. Pada dasarnya, ada lima strategi untuk mengatasi konflik yang dapat diterapkan yakni “contending” (bertanding) yang mencoba menerapkan solusi yang lebih disukai oleh salah satu pihak atas pihak lain; “yielding” (mengalah) yaitu menurunkan aspirasi sendiri dan bersedia menerima kurang dari yang sebetulnya diinginkan; strategi ketiga “problem solving” (pemecahan masalah) yaitu mencari alternatif yang memuaskan aspirasi kedua belah pihak; “with drawing” (menarik diri) yaitu memilih meninggalkan situasi konflik, baik secara fisik maupun psikologi; dan “inaction” (diam), tidak melakukan apa pun. Sejauh ini, orang yang terlibat di dalam konflik yang bereskalasi – seperti di Poso – pada akhirnya sering jatuh ke dalam kemandekan. Kemandekan ditandai oleh pendiskreditan terhadap alternatif strategi yang ada. Jika hal ini terjadi, maka tentulah sangat sulit melakukan dialog untuk mengakhiri konflik. Akibatnya, Poso tidak menjadi aman, tidak kondusif, dan akan terus menjadi ancaman bagi siapa saja. Poso lumpuh 10 tahun silam. Konflik horizontal berkepanjangan terjadi. Segala strategi tentang penyelesaian konflik dilakukan, termasuk upaya pusat mendamaikan. Namun, tetap saja ada letupan, ada teror, ada provokasi, dan banyak hal yang seakan tidak menginginkan Poso damai. Padahal, masyarakat Poso yang dasarnya cinta damai, sudah sangat muak dengan konflik yang tetap saja bereskalasi. *** KINI, Poso kembali tenang. Akan tetapi, kita tidak lagi menemukan Poso yang dulu, Poso yang satu, Poso kita! Padahal, kerinduan itu selalu ada. Kalau pun dua tahun terakhir ini, Poso mulai indah, nyaman, damai, tetapi tetap saja ada pertanyaan ”akankah Poso makin baik dan kembali semula di era sebelum chaos?” Pun saya selalu teringat cerita ayahku mengenai Poso yang sangat damai! Ia menjadikan pengalaman hidupnya di Poso sebagai pengajaran bagaimana manusia saling menghargai, saling menghormati, saling memuliakan. Ayah saya, menyelesaikan pendidikan SGB di Tentena tahun 1950-an. Ia satu-satunya siswa muslim ketika beliau kelas IV, tetapi ia begitu dihormati dalam hubungan dengan ibadahnya sebagai muslim dan disayangi oleh orang sekitarnya karena prestasi di kelas. Ia disayang di tengah kaum Nasrani. Hidup begitu damai dan indah! Kehidupan yang dikecap ayah itulah yang kini saya, kita, rindukan. Dan, kini tentulah kita tidak ingin lagi Poso terkotori oleh teror, bom, pembunuhan, kerusuhan, yang dulu hanya kita lihat di filn-film, yang dulu kita tak pernah bayangkan akan menjadi bagian dari konflik berdarah. Apalagi, kita masuk dalam area Poso yang rusuh berjilid-jilid, yang mengakibatkan banyak istri kehilangan suami, suami kehilangan istri, anak kehilangan orang tua, ada yang gila, miskin, ketakutan, dan ekses negatif lainnya. Poso dipenuhi awan legam! Di kekinian, awan legam itu berangsur hilang. Pun kita berharap, tidak ada lagi awan hitam, tak ada lagi tangis duka, tak ada marah, tak ada tumpahan darah, tak ada penghilangan jiwa, tak ada provokasi, tak ada kehancuran, tak ada anarki. Sebab, seperti puisi yang saya coret ”Damai Itu Indah”, maka itulah obsesi kita bersama – begitu mestinya. Tepat di jantung Sulawesi/ Tempat berkumpulnya banyak suku bangsa se nusantara/ Pernah terjadi perang saudara/ Meminta korban nyawa, harta benda/ Tanpa terasa 10 tahun usai sudah saling curiga/ Kini berganti saling menyapa/ Alangkah indah hidup saling berbaik sangka/ Sesama basudara bakujaga untuk selama-lamanya! Kini, kita memang mesti merajut kembali segala cabikan. Kalau pun tidak seutuh yang silam, tapi kita tetap saja dalam satu Poso! Kita membangun image sebagai daerah dan locus yang damai. Kita saling mengingatkan akan pentingnya hidup bersama. Kita berikan pendidikan perdamaian melalui sekolahsekolah. Kita berusaha membuat birokrasi menjadi kondusif dengan menerapkan sistem kompetensi jabatan. Kita harus mengakui semua kesalahan dan kebodohan yang pernah kita lakukan. Dan kita berupaya dengan segala cara memperbaiki agar kita menemukan Poso yang damai karena itulah harapan semua orang! *

Related docs
Refleksi Penanggulangan Kemiskinan
Views: 3  |  Downloads: 1
MATEMATIKA EBTANAS TAHUN 2005
Views: 10  |  Downloads: 0
Permen No. 16 Tahun 2007 [lampiran]
Views: 1975  |  Downloads: 44
4.PERMENDIKNAS 16 TAHUN 2007_18022008
Views: 238  |  Downloads: 6
4.PERMENDIKNAS 16 TAHUN 2007_18022008
Views: 1123  |  Downloads: 19