Embed
Email

modul filsafat pendidikan islam

Document Sample
modul filsafat pendidikan islam
FILSAFAT PENDIDIKAN

ISLAM

1









H. MARAGUSTAM SIREGAR,

PROF. DR. M.A.

MENCETAK PEMBELAJAR MENJADI INSAN

PARIPURNA

(FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAM)

BAB I PENDAHULUAN

(Permasalahan Pendidikan)

2



 Perkembangan Ilmu pengetahuan dan

teknologi yang dikuasai oleh Barat

 Globalisasi Informasi yang membawa

visi dan misi

 Sekularisme: Suatu paham yang

memisahkan dunia dan akhirat,

memisahkan kehidupan dunia dan

kehidupan agama. Pengamalan agama

adalah masalah pribadi

BAB I PENDAHULUAN

(Permasalahan Pendidikan)

3



 Liberalisme: faham freedom of choice

(kebebasan memilih) yang meliputi freedom

of worship (kebebasan dalam hal

peribadatan), ownership (kepemilikan),

politics (politik), and ekspression

(berekspresi). Liberalisme ini juga melanda

kepada keluarga, sehingga sangat sulit

anggota keluarga diatur, dibimbing, disuruh

beribadah dan lain-lain demi atas nama

liberalisme

BAB I PENDAHULUAN

(Permasalahan Pendidikan)

4





 Hedonisme: kebahagiaan adalah

kesenangan. Kesenangan itu berkat

gerakan yang lemah gemulai,

sedangkan rasa sakit berkat gerakan

kasar. Kesenangan sesaat yang

dinikmati itulah yang dihargai. Suatu

perbuatan disebut baik sejauh dapat

menyebabkan kesenangan dan

memberi kenikmatan.

BAB I PENDAHULUAN

(Permasalahan Pendidikan)

5



 Krisis etika dan moral sebagai akibat dari kurang

efektifnya proses sosialisasi atau internalisasi

sikap-sikap dan nilai-nilai Islam dalam proses

pembelajaran atau akibat dipisahkannya urusan

agama dan dunia.

 Terjadinya inefisiensi eksternal berupa tidak

dipakainya keluaran pendidikan Islam pada pasar

tenaga kerja. Kalaupun dipakai, pekerjaan itu

berbeda dengan pendidikan yang diperoleh di

bangku kuliah (missmatch).

BAB I PENDAHULUAN

(Permasalahan Pendidikan)

6



 Nilai-nilai Islam yang diberikan dalam

lembaga pendidikan tidak sesuai dengan

realitas sosial yang ada. Pembelajar menjadi

bingung ketika nilai dan norma yang

diterima di lembaga pendidikan sangat jauh

berbeda dengan prilaku masyarakat.

 Krisis keteladanan dari pemegang kendali

dalam masyarakat, seperti orang tua, tokoh

masyarakat, pemerintah, dan para guru.

BAB I PENDAHULUAN

(Permasalahan Pendidikan)

7





 Kurang sepadannya sistem

penghargaan (reward system)

masyarakat terhadap orang-orang

yang mengamalkan ajaran

agamanya.

PENDIDIK









SUMBER PESERTA

BELAJAR DIDIK





8

VISI PENDIDIKAN NASIONAL

9









Visi Pendidikan Nasional menurut UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas

adalah:

Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan

berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia

berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan

proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah .



Sejalan dengan Visi Pendidikan Nasional tersebut,

Depdiknas berhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan:

INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF

(Insan Kamil / Insan Paripurna)

INSAN INDONESIA CERDAS KOMPREHENSIF

DAN KOMPETITIF



Cerdas • Beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan

10

memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti

Spiritual luhur dan kepribadian unggul.

• Beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan

apresiasivitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta

kompetensi untuk mengekspresikannya.

• Beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang:

– membina dan memupuk hubungan timbal balik;

Cerdas – demokratis;

Emosional

– empatik dan simpatik;

dan Sosial

– menjunjung tinggi hak asasi manusia;

– ceria dan percaya diri;

– menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara; serta

– berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban

warga negara.



• Beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan

Cerdas kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi;

Intelektual

• Aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif dan imajinatif;



• Beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat,

Cerdas bugar, berdaya-tahan, sigap, terampil, dan trengginas;

Kinestetik

INSAN INDONESIA CERDAS

DAN KOMPETITIF

KOMPREHENSIF 11



• Berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan

• Bersemangat juang tinggi

• Mandiri

• Pantang menyerah

• Pembangun dan pembina jejaring

Kompetitif • Bersahabat dengan perubahan

• Inovatif dan menjadi agen perubahan

• Produktif

• Sadar mutu

• Berorientasi global

• Pembelajar sepanjang hayat

PENGERTIAN FILSAFAT

12



 Pengertian Filsafat : (1) berpikir bebas, (2) radikal,

(3) sistimatis dan (4) menyeluruh tentang sesuatu

termasuk pendidikan Islam.

PENGERTIAN TARBIYAH

13



• Kata tarbiyah berasal dari tiga kata yaitu :(1) raba;

(2) rabiya; dan (3) rabba. Kata raba - yarbu,

dengan arti nama- yanmu, yang berarti bertambah;

tumbuh menjadi besar. Kata rabiya – yarba,

dengan wazan khafia-yakhfa, artinya naik, menjadi

besar/dewasa, tumbuh, berkembang. Kata rabba-

yarubbu, dengan arti: aslahahu (memperbaikinya),

tawalla amrahu (mengurusi perkaranya,

bertanggung jawab atasnya), sasahu (melatih;

mengatur; memerintah), qama ’alaihi (menjaga,

mengamati, membantu), ra’ahu (memelihara,

memimpin).

TARBIYAH DARI SEGI ETIMOLOGIS

14



• Tiga asal kata tarbiyah yakni raba; rabiya; dan rabba.

• Kata tarbiyah mencakup makna yang sangat luas yakni:

1. al-nama: bertambah, berkembang dan tumbuh menjadi

besar sedikit demi sedikit,

2. Aslahahu: memperbaiki pembelajar jika proses

perkembangan menyimpang dari nilai-nilai Islam,

3. tawalla amrahu yang berarti mengurusi perkara

pembelajar, bertanggung jawab atasnya dan melatihnya,

4. ra’ahu : memelihara dan memimpin sesuai dengan potensi

yang dimiliki dan tabiatnya,

5. al-tansyi’ah :mendidik, mengasuh, dalam arti materi

(fisiknya) dan immateri (kalbu, akal, jiwa, dan

perasaannya).

TARBIYAH DARI ISTILAH

15



1. Murabbi (pendidik) yang sebenarnya hanyalah

Allah, karena Dialah Pencipta fitrah, potensi

kekuatan dan kelemahan, dan Paling Tahu tentang

hakikat manusia itu sendiri, karenanya perlu

dipelajari terus menerus siapa sebenarnya manusia

itu sesuai dengan cetakan Tuhan.

TARBIYAH DARI ISTILAH

16



2. Penumbuhan dan pengembangan secara sempurna

semua dimensi manusia baik materi, seperti

fisiknya, maupun immateri seperti akal, hati,

kehendak, kemauan adalah tanggung jawab

manusia sebagai fungsi hamba Tuhan (QS. al-

Dzariyat [51]:56) dan fungsi khalifah (QS. al-

Baqarah, [2]:30).

TARBIYAH DARI ISTILAH

17



3. Proses tarbiyah seharusnya mengambil nilai dan

dasarnya dari Alquran-Sunnah dan berjalan sesuai

dengan sunnatullah yang digariskan-Nya.

4. Setiap aktivitas tarbiyah mengarah kepada

penumbuhan, pengembangan, perbaikan,

kepemimpinan, atau penjagaan setiap dimensi

dalam diri manusia, baik aktivitas itu direkayasa

atau secara natural.

TARBIYAH DARI ISTILAH

18



5. Tarbiyah yang disengaja mengharuskan adanya

rencana yang teratur, sistimatis, bertahap,

berkelanjutan dan fleksibel.

6. Yang menjadi subjek sekaligus objek dalam

aktivitas tarbiyah adalah manusia. Untuk itu

semua aktivitas tarbiyah harus mengikuti fitrahnya

tanpa merampas hak-haknya sebagai manusia dan

hamba.

TARBIYAH DARI ISTILAH

19





7. Kata tarbiyah tidak terbatas

pengertiannya sebagai sekedar

transfer ilmu, budaya, tradisi,

dan nilai tetapi juga

pembentukan kepribadian

(transformatif) yang dilakukan

secara bertahap.

KATA TAKLIM LEBIH LUAS

PENGERTIANNYA DRPD TARIYAH

20



• Pertama, ketika mengajarkan membaca Alquran

kepada kaum muslimin, Rasulullah SAW tidak

terbatas pada membuat mereka sekedar dapat

membaca, melainkan membaca dengan perenungan

yang berisikan pemahaman, pengertian, tanggung

jawab, penanaman amanah sehingga terjadi

pembersihan diri (tazkiyah) dari segala kotoran,

menjadikan dirinya dalam kondisi siap menerima

hikmah, dan mempelajari segala sesuatu yang belum

diketahuinya dan yang tidak diketahuinya serta

berguna bagi dirinya.

KATA TAKLIM LEBIH LUAS

PENGERTIANNYA DRPD TARIYAH

21



• Kedua, kata taklim tidak berhenti hanya kepada

pencapaian pengetahuan berdasarkan prasangka

atau yang lahir dari taklid semata-mata, ataupun

pengetahuan yang lahir dari dongengan khayali dan

syahwat atau cerita-cerita dusta (QS. Al-Baqarah,

[2]:78):

ُْ ‫َ َ نز ى ِ َ ِ ْ ُ ى ي‬ ‫ٍ ٖ أٍّي‬

ُُ٘ ‫• َٗ ِ ْ ٌُْ ُ ِ َُُ٘ ىَب يَعْيَ ُُ٘ اىْ ِ َبةَ إَِب أٍََبّّي َٗإُ ٌْٕ إَِب َظ‬

• (Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak

mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan

bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga).

KATA TAKLIM LEBIH LUAS PENGERTIANNYA DRPD

TARIYAH

22



 Ketiga, kata taklim mencakup aspek-aspek

pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan

seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku

yang baik. Hal tersebut pada QS. Yunus, [10]:5):

 …َ ُ٘ َْ‫َب ََ َ اىي ُ َى َ َِب ِبى َ ِ يف ِو اىْآ َبد ىقًْ٘ َع‬

ُ َ‫ٍ خيق َٔ رِل إى ث ْحق ُ َّص ُ ي ِ ِ َ ٍ ي ي‬

 (...Allah tidak menciptakan yang demikian itu

melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-

tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang

mengetahui).

KATA TAKLIM LEBIH LUAS PENGERTIANNYA DRPD

TARIYAH

23



 Dalam ayat ini mencakup berbagai aspek antara lain

: ilmu falak yang di dalamnya mencakup teoritis dan

praktik. Mencakup juga aspek pembuktian bahwa

Allah SWT adalah Pencipta. Dengan demikian kata

taklim menurut Jalal mencakup ranah kognitif,

afektif dan psikomotorik dan berlangsung sepanjang

hayat serta tidak terbatas pada masa bayi dan

kanak-kanak, tetapi juga orang dewasa.

ISTILAH TAKDIB

24



• Istilah ini mencakup unsur-unsur pengetahuan

(‘ilm), pengajaran (taklim) dan pengasuhan yang

baik (tarbiyah). Istilah takdib dapat mencakup

beberapa aspek yang menjadi hakikat pendidikan

yang saling berkait, seperti ‘ilm (ilmu), ‘adl

(keadilan), hikmah (kebajikan), ‘aml (tindakan),

haqq (kebenaran), natq (nalar) nafs (jiwa), qalb

(hati), ‘aql (akal), maratib dan derajat (tatanan

hirarkis), ayah (simbol), dan adb (adab).

SEBAB PEMILIHAN KATA TARBIYAH UNTUK

PENDIDIKAN ISLAM:

25



1. tarbiyah ternyata dapat diperluas dari makna

semantiknya,

2. tarbiyah lebih umum dapat di terima oleh

masyarakat terutama masyarakat muslim di

Indonesia,

3. nilai sosial atau istilah tarbiyah lebih umum

diterima dalam situasi lokal tertentu daripada

terma taklim dan takdib.

HAKIKAT PENGERTIAN ISLAM

26



 Islam: penyerahan diri kpd Allah, dan dengan (1)

menyerahkan diri kepadaNya maka ia memperoleh

(2) keselamatan dan (3) kedamaian

PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

27



 Pemikiran filosufis yang diambil dari (1) sistem

filsafat/aliran-aliran filsafat atau (2) jawaban

filosufis terhadap masalah pendidikan yg tidak

bertentangan dengan Islam untuk dijadikan

pedoman dalam lapangan pendidikan.

FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (1)

28



1. Teori umum bagi pendidikan, sepanjang filsafat

pendidikan Islam tersebut mengarah pada apa dan

bagai-mana seharusnya pendidikan itu baik dari

segi teoritik maupun dari segi pelaksanaannya.

PENGOLAHAN SUMBER FPI (1)

29



1. Alquran

2. Sunnah

3. Hasil Ijtihad

PENGOLAHAN SUMBER FPI (2)

30



 Khusus mengenai Ijtihad ini:

1. Hasil kajian ilmiah yang betul mengenai watak

manusia, pertumbuhan jasmani, intelektual, emosi,

spritual, kebutuhan-kebutuhan dan proses

pertumbuhannya.

2. Nilai-nilai dan tradisi-tradisi sosial yang baik dan

yang islami, yang tidak menghalangi kemajuan

mengikuti semangat zaman dan keperluan-

keperluan peradaban, sosial, ekonomi dan politik.

PENGOLAHAN SUMBER FPI (3)

31



3. Hasil-hasil penyelidikan dan kajian-kajian

pendi-dikan dan psikologi yang berkaitan dengan

sifat-sifat, proses pendidikan, dan tujuan-tujuan

pendidikan dan fung-si-fungsinya sangat penting.

4. Prinsip-prinsip yang menjadi dasar filsafat politik,

ekonomi dan sosial yang dilaksanakan oleh negara,

perjanjian-perjanjian, prinsip-prinsip organisasi

regional dan internasional kemana bergabung

negara Islam itu, selama perjanjian dan prinsip itu

sesuai dengan prinsip--prinsip Islam.

FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (2)

32



2. Kritik terhadap asumsi-asumsi yang dipegangi oleh

para pendidik dan tenaga kependidikan, jika

pegangan filsafat pendidikannya tidak menjiwai

nilai-nilai Islam baik dalam pembentukan teori,

konsep maupun dalam proses praktiknya. Sangat

tidak benar kalau pendidik tidak mempunyai filsafat

pendidikan Islam sewaktu dia menjalankan tugas

profesionalnya.

FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (3)

33



3. Evaluasi terhadap kesenjangan-kesenjangan,

pertentangan-pertentangan, antara teori dan

praktiknya, antara satu teori dengan teori lainnya,

antara satu metode dengan metode lainnya sehingga

bila dapat ketidak cocokan, atau tidak sinkrun, maka

dengan segera dapat diperbaiki.

FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (4)

34



4. Analisis terhadap konsep-konsep dan istilah-

istilah pendidikan. Banyak istilah dalam lapangan

pendidikan yang harus didefinisikan dan

dikembangkan, ditafsirkan dan dianalisis. Agar

istilah-istilah, konsep-konsep dan ide-ide yang

berkembang itu sinkrun, dan menjadi kesamaan

persepsi di kalangan pendidikan dan tenaga

kependidikan, maka perlu dianalisis, diselaraskan,

dikaitkan satu dengan yang lain menjadi jalinan

yang harmonis dan teratur.

FUNGSI FPI THD PENDD ISLAM (5)

35



5. Normatif. Filsafat pendidi-kan dijadikan sebagai

penentu arah, pedoman, petunjuk, pembimbing

asas-asas, prinsip-prinsip, teori dan praktik

pendidikan.

RUANG LINGKUP FPI

1. Ontologi (Metafisika) (1)

36



FPI berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar,

sistematik, logis, dan menyeluruh tentang pendidikan.

Maka Masalah-masalah dalam ruang lingkup FPI adalah:

Metafisika (Ontologi): cabang filsafat yg ingin mencari

dan menemukan hakikat dari sesuatu yang ada (being).

Dalam Islam hal ini dibicarakan dalam Ilmu Tauhid.

Dasar-dasar pembahasan metafisika ialah (1) Tuhan,

manusia dan alam dilihat dari pendidikan Islam.

Being ada dua: menciptakan dan diciptakan, ada yg

menyebabkan dan ada yang diakibatkan.

Metafisika (2):

37



 Setiap proses penciptaan, selalu ada beberapa

factor yg menentukan adanya penciptaan; 1)

adanya pencipta (subyek), 2) adanya ciptaan

(obyek), 3) adanya bahan yg dipakai, 4) adanya

tujuan, 5) adanya proses (ruang dan waktu).

 Tahapan ada, yaitu ada yang konkrit dan ada

abstrak (ghaib). Ada konkrit dapat dilihat, diraba,

dirasa, diukur dlsb. Sedangkan ada abstrak hanya

dapat dilihat dg penglihatan ghaib antara lain

melalui konsep.

Metafisika (3):

38



 Ada yg ada dapat disandarkan kepada eksistensi

Tuhan dan ada disandarkan kepada eksistensi

manusia. Jika terjadi konflik antara ada

disandarkan kpd Tuhan dan ada disandarkan kpd

manusia, dalam konsep Islam harus dimenangkan

oleh Eksistensi Tuhan.

 Jika terjadi konflik antara otoritas manusia

(kultur) terhadap alam (nature) maka seharusnya

manusia tidak harus mempunyai otoritas mutlak

terhadapnya. Karena manusia tidak terlibat

mengadakan alam itu sendiri.

Metafisika (4):

39



 Yang Nyata (realitas) : sesuatu yang berada pada

sesuatu yg merupakan bagian dari yg ada itu

sendiri. Realitas selalu berdimensi ruang dan

waktu, karenanya selalu mengandung pluralitas

dan relativitas. Filsafat Islam memandang realitas

pada hakikatnya adalah spiritual. Hakikat spritual

dari relitas terdapat pada adanya dinamika dan

perubahan, yang secara kodrati selalu terjadi dan

akan terus terjadi, dan merupakan suatu

sunnatullah.

2. Epistemologi (1):

40



 Metode memperoleh Ilmu secara umum: (1) melalui

Kasbi/Khushuli dan (2) Ladunni/Khudhori.

 Kasbi: cara berpikir metodik, konsisten dan bertahap

melalui proses observasi, research, eksprimen dan

penemuan.

 Ladunni: proses pencerahan ruhaniyah manusia dan

karenanya kehadiran cahaya Ilahi dalam qalbu manusia.

Dengan sinaran Ilahiy, qalbu manusia dapat membaca

dg jelas dan terserap dalam kesadaran intelek, seakan-

akan orang memperoleh ilmu dari Tuhan langsung.

Epistemologi (2):

41



 Kebenaran Ilmu: ilmu yg kasbi relatif

kebenarannya sedangkan ilmu Allah pasti

kebenarannya.

 Tujuan memperoleh Ilmu: 1) ilmu untuk

kenikmatan 2) ilmu untuk ilmu, 3) ilmu

mengembangkan peradaban 4) ilmu untuk sarana

mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Islam

sebagai central poin ialah yang keempat untuk

memayungi tujuan 1,2 dan 3.

 Sarana Peroleh Ilmu: melalui inderawi dan

potensi-potensi internal manusia (nafs, akal, qalb,

dan lain-lain).

3. Aksiologi (1) :

42



Ialah: cabang filsafat mencari hakikat nilai-nilai (value).

Nilai bisa baik dan bisa pula jahat yang berkaitan

dengan perbuatan manusia dan tindakan seseorang

(dataran aplikatif). Yang baik itu ialah ma’ruf dan yang

jahat itu al-munkar.

 Axiologi (Brameld) ada tiga sasaran yakni: moral

conduct (tindak moral) melahirkan Ethica; Esthetic

expression (ekspresi keindahan) melahirkan Esthetika;

dan Socio-political life, (kehidupan sosia-politik),

melahirkan ilmu filsafat sosio-politik.

Aksiologi (2) :

43



 Hakikat baik dan jahat itu bersifat universal dan

absolute. Etika social misalnya harus berprinsip

persamaan dan kebersamaan; keadilan social;

keterbukaan dan musyawarah.

 Etika agama membicarakan hubungan manusia

dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia

dengan alam, dan manusia dengan kebudayaan.

Aksiologi (3):

44



 Tiga Nilai Fundamental dalam FPI:

 Nilai Sentral: ialah berada pada wilayah titik pusat

nilai yang menjadi sumber pengambilan keputusan

politik, hukum dan lainnya;

 Nilai Sekuler: Sebagai penafsiran dan penerapan

nilai sentral;

 Nilai Operasional yakni lahir dari tindakan sehari-

hari yang merupakan pengewajanthan dari nilai

sekuler

Aksiologi (4):

45



 Nilai sentral (inti) dalam Islam ialah ma‟rifatullah berupa iman

dan tauhid dan mardatillah. Ada tiga tauhid menurut Ibnu

Taimiyah:

 (1) tauhid Ulu>hiyah ialah bahwa Allah Maha Tunggal yang

paling berhak di sembah, ditaati, dan dipatuhi;

 (2) tauhid Rububiyah, ialah Allah yang Maha Esa itu yang

menciptakan, mengatur perkara-perkaranya dan yang

mendidiknya, dan

 (3) tauhid al-Asma>’ wa al-Sifah ialah bahwa tiap-tiap yang

berlaku di alam ini bersumber dari perbuatan dan pengaturan

Allah, dan kepada-Nya setiap kesudahan akhir, dan daripada-Nya

pula bermula setiap sesuatu

Aksiologi (5):

46



 Nilai sekuler terdiri dari enam hubungan:

1. Dengan Allah: ubudiyah dan istikhlaf;

2. Dengan Masyarakat: ta’a>wun, ‘ada>lah dan ihsa>n;

3. Kehidupan dunia: ibtila>’

4. Dengan Ilmu: hubungan fard} ‘ain dan kifa>yah

5. Kehidupan akhirat: mas’u>liyah dan jaza>’

6. Dg Alam: hubungan taskhi>r dan pembelajaran

Aksiologi (6)

47



 Hubungan manusia dengan Tuhan adalah hubungan

antara hamba dengan Majikan, makhluk dan Khaliq,

ciptaan dan Pencipta. Hubungan manusia dengan

sesamanya hubungan adalah dan ihsan. Yakni hubungan

patner yang mengemban amanah khalifah dari Tuhan;

sederajat, sama-sama ciptaan dan karenanya sama

dihadapan Tuhan kecuali tindak amal perbuatannya

(taqwanya). Perbedaan hak dan kewajiban adalah

karena perbedaan tugas dan profesinya sehingga

melahirkan taklif (pembebanan) yang lebih. Maka

dalam agama dikenal ada Wajib „ain dan wajib kifayah.

Aksiologi (7):

48



 Hubungan manusia dengan alam adalah hubungan

pengelola (pemimpin) dan yang dikelola (dipimpin). Alam

merupakan medan emperik bagi manusia untuk

kemakmuran manusia dan alam bagian dari dirinya.

Kesalahan pengelolaan akan berakibat fatal bagi kehidupan

manusia.

 Hubungan manusia dengan ciptaannya (kebudayaan)

adalah manusia pada dasarnya memegang otiritas dan

kekuasaan yang penuh, artinya manusia bertanggungjawab

untuk apa semua ciptaannya itu akan diperbuat, dan

ciptaannya sepenuhnya bergantung pada

manusia.Kebudayaan sebagai alat bukan sebagai yang

dipertuhankan.

Aksiologi (8):

49



Nilai Operasional diwujudkan dalam:

1. al-wajiba>t (hal-hal yang diwajibkan);

2. al-manduba>t (hal-hal yang disunatkan);

3. Al-mahruma>t (hal-hal yang diharamkan);

4. Al-makruha>t (hal-hal yang dimakruhkan);

5. Al-jaiza>t (hal-hal yang diperbolehkan).

STRUKTUR IDE DASAR FPI (buku: hal 48)



50



Pertama: Akidah tentang Alam (cosmocentris)

Yang dimaksud dengan nilai-nilai

(struktur) ide dasar pendidikan Islam ialah

ide dasar yang menjadi titik tolak dalam

membangun isi dan substansi persoalan-

persoalan pendidikan Islam.

Struktur ide itu ialah kepercayaan thd

alam, kehidupan dan manusia

STRUKTUR IDE DASAR FPI

51



Alam ialah seluruh makhluk ini baik alam fisik

maupun alam sosial. Dengan kata lain, alam ialah

selain Allah.

1. Alam ini diciptakan Allah sebagai satu-satunya

penciptanya, Pencipta seluruh isi kandungannya

dan Pencipta sistemnya.

STRUKTUR IDE DASAR FPI

52





2. Alam ini diciptakan dengan penuh

keteraturan dan sifatnya pasti

(exact).

3. Sifat alam (sunnatullah) ini

adalah tetap, tidak pernah

berubah (immutable)

STRUKTUR IDE DASAR FPI

53



4. Alam ini dengan segala sunnatullahnya

diciptakan Allah untuk dipelajari dan

diteliti baik secara individu maupun

kerjasama kolektif melalui berbagai

kemampuan yang dimiliki manusia dan

rekayasanya

5. Eksistensi alam ini berdasar pada

undang-undang kausaliltas (sebab

akibat).

STRUKTUR IDE DASAR FPI

54





6. Karena alam ini sifatnya pasti, tidak

pernah berubah, dan teratur, maka sifat

alam ini objektif. Artinya, sunnatullah ini

berlaku sama bagi semua individu dan

kelompok, tidak peduli apakah ia muslim

atau non muslim, asalkan menjalankan

sesuai dengan sunnatullah, maka pasti

akan terjadi atau tidak terjadi.

STRUKTUR IDE DASAR FPI

55





7. Bahwa dalam mempelajari,

memanfaatkan, mengolah alam ini

haruslah dengan ilmu yang benar

disertai dengan iman. Tanpa ilmu dan

iman yang benar, maka pemanfaatan

alam ini akan tidak sesuai dengan

ekosistem dan hukum kausalitas.

Karenanya berakibat negatif kepada

manusia.

STRUKTUR IDE DASAR FPI

56





Kedua: Akidahterhadap kehidupan:

1. Hakikat kehidupan dunia ini adalah sarana

mencari bekal menuju akhirat dan tempat

tinggal sementara (terminal), bukan tempat

yang abadi/tujuan akhir.

2. Kehidupan ini sebagai ujian dan labolatorium

serta pendidikan bagi manusia.

3. Ujian bertujuan meningkatkan kualitas

keimanan seseorang.

STRUKTUR IDE DASAR FPI

57





4. Kehidupan manusia seperti gelombang

laut dan dalam bahasa agama disebut

al-iman yazid wa yanqus

5. Setiap prilaku manusia pasti

dipertanggungjawabkan di hadapan

Tuhan.

STRUKTUR IDE DASAR FPI

58





6. Tujuan ujian adalah untuk

mengetahui tingkat kualitas manusia

sebagai hamba dan sekaligus sebagai

khalifah.

7. Setiap perilaku manusia menghadapi

gelombang ujian ini akan

dipertanggung jawabkannya.

STRUKTUR IDE DASAR FPI

59





8. Hasil akhir dari perjalanan hidup

manusia menghadapi ujian sangat

bervariasi dan hasil konkretnya ada

di hari pembalasan segala amal. Jika

amal seseorang baik, maka pasti

balasannyapun baik pula. Sebaliknya

jika amalnya jelek, maka balasannya

akan jelek pula.

E. HAKIKAT MANUSIA (1) Proses Kejadian :

60



Asal kejadian manusia pertama ialah persenyawaan

antara Tin (QS. Sajadah (32:7; Al-Mu‟minun

(23):12); Turab (QS. Al-Hajj (22):5; Ali Imran

(3):59; Shal-shal dan Fakhhar (Ar-Rahman

(55):14; dan Hamain Masnun (QS. Al-Hijr

(15):26); dan al-Ruh.

 Asal kejadian manusia pasca Adam melalui proses

biologik melalui pasangan laki-laki dan

perempuan (QS. Al-Mu‟minun (23): 12-14).

HAKIKAT MANUSIA (2)

Perangkat Jati Diri MANUSIA

61



 Hakikat Insan dilihat dari dua kata kunci dalam

Al-Qur‟an yakni Al-Insan dan Al-Basyar.

 Al-Insan yg btk jamaknya al-nas dpt dilihat dari

segi akar katanya dari anasa (melihat, mengetahui

dan minta izin). Dari sini manusia dapat

mengambil pelajaran dari apa yg ia lihat,

mengetahui apa yang benar dan apa yang salah,

dan terdorong untuk meminta izin menggunakan

sesuatu yg bukan miliknya.

 Al-Insan dari akar kata : “nasiya” (lupa)

menunjukkan adanya kaitan yg erat antara

manusia dg kesadaran dirinya. Manusia lupa thd

susuatu hal, disebabkan ia kehilangan kesadaran

thd sesuatu.

HAKIKAT MANUSIA (3)

PENGERTIAN MANUSIA

62



 Al-Insan dari akar kata : “Al-Uns atau anisa” (jinak),

menunjukkan pada dasarnya manusia itu jinak, dapat

menyesuaikan diri dg realitas hidup dan lingkungannya.

 Al-Basyar disebut untuk semua makhluk baik laki-laki maupun

perempuan, baik secara individual maupun kolektif. Kata basyar

adalah jamak dari kata basyarah yang artinya permukaan kulit

kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya

rambut. Untuk itu kata basyar mengacu kepada manusia dari

aspek lahiriyahnya dan mempunyai bentuk tubuh yg sama.

 Manusia dilihat dari insan maka perkembangan dan

pertumbuhannya sangat tergantung pengembangan diri,

lingkungan termasuk pendidikan dan kebudayaan. Sedangkan

manusia dari kata basyar sangat tergantung pada alam (apa yg

dimakan dan diminumnya).

HAKIKAT MANUSIA (4):

POTENSI MANUSIA

63



 Nafs sinonimnya insan atau al-fard mengacu kpd dzat

manusiawi secara keseluruhan QS. Al-Baqarah (2): 48;

Ali Imran (3): 185, Al-Maidah (5): 45).

 Al-Jism (QS. Al-Baqarah (2): 247; Al-Munafiqun (63):

4). Al-Jism mengacu kepada persyaratan imamah atau

menjadi penguasa pemerintahan ialah ilmu dan

kekuatan fisik.

 Akal disebutkan dalam bentuk kata kerja yang mengacu

kepada unsur pemikiran manusia dan akal sebagai

penopang agama dan tiang agama. Menurut al-Aqqad

bhw al-lubbu adalah akal yang mampu mengetahui dan

memahami; akal merupakan sumber pengetahuan dan

pemahaman yg terdapat di dalam otak manusia. (QS. Al-

Baqarah (2): 73, 163-164).

HAKIKAT MANUSIA (5)

POTENSI MANUSIA

64



 Al-Qolb (Al-Fuad, Shadr dan Shudur) yang juga

menunjuk kpd al-qalb (Al-Hajj (22): 32; Al-Maidah

(5):41). Iman bersemayan di Qalbu. Kata ini digunakan

berkaitan dengan emosi dan akal, tidak menunjuk kpd

unsur-unsur biologis. Ia merupakan dasar bagi fitrah yg

sehat, perasaan, iman, kemauan, kontrol, pemahaman

dan alat ma‟rifah ke ilmu.

 Ruh : tidak didapat batasannya dalam al-Qur‟an. Ruh

dikaitkan dl arti pembawa wahyu yakni Jibril, rahasia

Ilahi yg dengannya tanah liat kering menjadi manusia,

pemberi hidup, dan Al-Qur‟an. (QS. Al-Hajj (22): 29; As-

Sajadah (32):7-9; As-Syura (42):52; As-Syu‟ara (26):193;

An-Nahl (16):102, Al-Hijr (15): 28-29; Al-Isra (17):85).

HAKIKAT MANUSIA (6)

Potensi Manusia

65



 Fitrah:

 Kata fitrah dan segala bentuk kata jadiannya dalam

Alquran tertera pada 19 ayat dalam 17 surat. Dari

segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-

fathr yang bentuk pluralnya fithar yang dapat

berarti cara penciptaan, sifat pembawaan sejak lahir,

sifat watak manusia, agama dan sunnah.

HAKIKAT MANUSIA (7)

Potensi Manusia

66



 Pengertian Fitrah dari segi istilah: sistem aturan

atau potensi yang diciptakan kepada setiap makhluk

sejak keberadaannya baik ia makhluk manusia

ataupun yang lainnya. Seperti bawaan dasar

manusia cenderung kepada agama tauhid,

kebenaran, keadilan, wanita, harta benda, anak dan

lain-lain.

F. PERPORMANCE MANUSIA (1)

67



Rasional: Berangkat dari keragaman potensi

manusia yang misteri; fungsi manusia; pengaruh

lingkungan maka tampilannya menjadi Makhluk

paradoksal: Ia bukan malaikat, bukan iblis dan

bukan pula hewan apalagi syetan. Tetapi manusia

mencakup semua itu. Artinya, manusia itu

memiliki sifat-sifat kehewanan, keiblisan, dan

kemalaikatan. Menurut Murtadha Muthahari

perbedaan mendasar antara manusia dan hewan

terletak pada iman dan ilmu.

PERPORMANCE (2)

68



 Dr. Alexis Carrel: manusia adalah makhluk yang

misterius, karena derajat keterpisahan manusia dari

dirinya berbanding terbalik dengan perhatiannya yg

demikian tinggi terhadap dunia yang ada di luar

dirinya. Implikasi dari padadoksal tersebut manusia

menampakkan sifat-sifat positif dan sifat-sifat

negatif. Sifat-sifat positif itu ditunjukkan dengan

tugas-tugas manusia di bumi dan sifat-sifat negatif

tersebut antara lain:

PERPORMANCE (3)

69



 Putus asa (Hud:9)

 Tidak berterima kasih (Ibrahim:34)

 Berkeluh kesah (Al-Ma‟arij:19)

 Amat kikir (Al-Ma‟arij:22)

 Membantah (Al-Kahfi:54)

 Melampaui batas (Al-Alaq:6-7)

 Purbasangka (al-Najm:23) dan lain-lain

H. KEDUDUKAN MANUSIA

70



 Sebagai pemanfaat dan penjaga kelestarian

alam(Al-Jum‟at:10; Al-Baqarah: 60).

 Sebagai Peneliti alam (Al-Baqarah: 163, Al-

An‟am:168).

 Sebagai makhluk yg paling tinggi dan paling

mulia (At-Tin:4, Al-Isra:70).

 Sebagai hamba Allah (Adz-Dzariyat: 56, Ali

Imran:83).

 Sebagai Khalifah di bumi (Al-Baqarah: 30, Al-

An‟am: 165).

 Sebagai Makhluk educandum dan educandus

(Al-Baqarah:31, Al-Alaq:1-5 dan Luqman: 13).

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (1)

SEBAGAI HAMBA DAN KHALIFAH

71



 Menurut Ibnu Qayyim bahwa ibadah menuntut

dua dasar utama: (1) kecintaan dan kerendahan

hati dan (2) ketundukan. Manusia sebagai abdi

Tuhan tidaklah cukup hanya menunjukkan

ketundukan dan kepasrahan tanpa disertai dengan

rasa cinta. Sebaliknya siapa saja yang betul-betul

mencinta-Nya tanpa disertai dengan kepasrahan

dan ketundukan, maka dia bukanlah seorang abdi

Tuhan. Seseorang akan benar-benar menjadi

hamba Allah jika dia telah mengintegrasikan

dalam dirinya dua sisi yakni kecintaan dan

ketundukan kepada-Nya.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (2)

HAMBA DAN KHALIFAH

72



 Menurut Syekh Nawawi bahwa manusia sebagai abdi

Tuhan diaktualisasikan dalam tiga bentuk yaitu pertama,

menunjukkan kerendahan diri atas Kemaha Esaan Tuhan,

kesendirian-Nya dalam menciptakan makhluk dan yang

berhak dijadikan tempat beribadah hanya kepada-Nya

bukan kepada yang lain. Kedua, manusia sebagai hamba

Tuhan selalu mengagungkan perintah-Nya dan

menunjukkan kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Ketiga

manusia sebagai abdi Tuhan diberikan potensi-potensi

berpengetahuan, dan karenanya ia disuruh beribadah

kepada-Nya.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (3)

HAMBA DAN KHALIFAH

73



 Khalifah: Atas fenomena simbolik (Al-Baqarah: 30-34)

dapat ditarik suatu gambaran bahwa (1) posisi manusia

lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk-

makhluk-Nya yang lain termasuk malaikat, (2) keunggulan

Adam bukan terletak pada prestasi yang bersifat material

seperti fisik, asal usul kejadian dan lain-lain, tetapi yang

bersifat immaterial yakni berupa kapabilitas pengetahuan

yan ditampilkan Adam. Jika fungsi-fungsi kemanusiaannya

tidak dijalankan maka derajat ketinggian itu akan turun

menjadi kehinaan dan kenistaan.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (4)

HAMBA DAN KHALIFAH

74



1. Pengertian Khalifah

 Dalam Kamus Al-Munjid Fi al-Lughah wa al-A‟lam

disebutkan bahwa khalifah merupakan bentuk mufrad

(tunggal), yang jama‟taksirnya ialah „khulafa‟ dan

khalaaif. Maknanya ialah seseorang yang menggantikan

orang lain dan menempati tempat orang lain tersebut.

Menurut Jumhur Ulama dan para ahli tafsir, baik dari

kalangan ulama salaf maupun khalaf mengatakan bahwa

Allah menjadikan Adam sebagai pengganti dari orang

yang sebelumnya yang lebih dulu menempati bumi

sebelum Adam, yaitu jin. Ada juga yang mengatakan

mereka adalah para malaikat yang lebih dahulu

menempati bumi sebelum jin dan Adam.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (5)

HAMBA DAN KHALIFAH

75



 Mengesampingkan perbedaan pendapat : khalifah

ialah pengganti yang sebelumnya. Dengan

demikian kurang tepat apabila penyandaran

khalifah kepada Allah (khalifah Alah) jika

dimaknai bahwa manusia menggantikan Tuhan

karena Tuhan kekal selamanya dan karena posisi

Tuhan berbeda dengan manusia, Tuhan punya

eksistensi absolut dan sementara manusia

eksistensinya relatif. Namun jika yang

dimaksudkan sebagai pengganti (khalifah) bagi

makhluk lainnya yang hidup sebelumnya, tentu

tidak ada persoalan.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (6)

HAMBA DAN KHALIFAH

76



2. Tugas-tugas khalifah

 Ketinggian derajat manusia dibanding dengan makhluk

lainnya menjadikan dirinya mempunyai tanggung jawab

yang lebih berat. Amanah tanggung jawab untuk menjadi

khalifah di bumi telah ditawarkan kepada langit, bumi

dan gunung-gunung, namun mereka menolaknya.

Kemudian manusia menerima amanah tersebut. Ini

menunjukkan bahwa manusia secara potensial dan

keilmuan mampu melaksanakan tugas-tugas

kekhalifahan tersebut. Pemberian amanat ini kepada

manusia, menurut al-Ainain, menjadikan manusia

terangkat kedudukannya menjadi lebih tinggi

dibandingkan dengan malaikat.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (7)

HAMBA DAN KHALIFAH

77



 Untuk memakmurkan alam dan mengembangkan amanat

risalah serta menegakkan segala amal yang mengandung

kemaslahatan, kebaikan dan kebenaran. Sumbu

kekhalifahan: penggunaan akal, pemikulan tugas-tugas

samawi, pelaksanaan amanah melalui jalur ilmu

pengetahuan yang dipelajari seseorang, realisasi

pemahaman dan kemampuan membedakan antara yang

buruk dan yang baik. Dalam bahasa Ibnu Qayyim tugas

kekhalifahan manusia ialah untuk memakmurkan bumi ini

dengan amal dan aktivitas yang berdasarkan manhaj

(kurikulum) Allah. Karenanya diberi potensi.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (8)

HAMBA DAN KHALIFAH

78



 Mengesampingkan perbedaan pendapat : khalifah

ialah pengganti yang sebelumnya. Dengan

demikian kurang tepat apabila penyandaran

khalifah kepada Allah (khalifah Alah) jika

dimaknai bahwa manusia menggantikan Tuhan

karena Tuhan kekal selamanya dan karena posisi

Tuhan berbeda dengan manusia, Tuhan punya

eksistensi absolut dan sementara manusia

eksistensinya relatif. Namun jika yang

dimaksudkan sebagai pengganti (khalifah) bagi

makhluk lainnya yang hidup sebelumnya, tentu

tidak ada persoalan.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (9)

HAMBA DAN KHALIFAH

79



2. Tugas-tugas khalifah

Ketinggian derajat manusia dibanding dengan makhluk

lainnya menjadikan dirinya mempunyai tanggung jawab

yang lebih berat. Amanah tanggung jawab untuk menjadi

khalifah di bumi telah ditawarkan kepada langit, bumi

dan gunung-gunung, namun mereka menolaknya.

Kemudian manusia menerima amanah tersebut. Ini

menunjukkan bahwa manusia secara potensial dan

keilmuan mampu melaksanakan tugas-tugas

kekhalifahan tersebut. Pemberian amanat ini kepada

manusia, menurut al-Ainain, menjadikan manusia

terangkat kedudukannya menjadi lebih tinggi

dibandingkan dengan malaikat.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (10)

HAMBA DAN KHALIFAH

80



 Untuk memakmurkan alam dan mengembangkan amanat

risalah serta menegakkan segala amal yang mengandung

kemaslahatan, kebaikan dan kebenaran. Sumbu

kekhalifahan: penggunaan akal, pemikulan tugas-tugas

samawi, pelaksanaan amanah melalui jalur ilmu

pengetahuan yang dipelajari seseorang, realisasi

pemahaman dan kemampuan membedakan antara yang

buruk dan yang baik. Dalam bahasa Ibnu Qayyim tugas

kekhalifahan manusia ialah untuk memakmurkan bumi ini

dengan amal dan aktivitas yang berdasarkan manhaj

(kurikulum) Allah. Karenanya diberi potensi.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (11)

HAMBA DAN KHALIFAH

81



 Syarat adanya Pertanggung jawaban:

 (1) dibebani hukum (mukallaf),

 (2) mengetahui,

 (3) kemampuan

 (4) dalam keadaan sadar.

KEDUDUKAN UTAMA MANUSIA (12)

HAMBA DAN KHALIFAH

82



Ada dua kaidah yang berkaitan dengan tanggung

jawab:

1. Tidak diminta untuk mempertanggungjawabkan

apa yang tidak diketahui atau tidak mampu

melakukannya;

2. tidak dituntut mempertanggungjawabkan apa

yang tidak dilakukuannya dan dikatakannya,

sekalipun hal tersebut diketahuinya.

NILAI FUNDAMENTAL HUBUNGAN

MANUSIA DG KHALIQ DAN LAINNYA

83



1. Hubungan manusia dg Khaliq adalah hubungan

ubudiah dan istikhlaf

2. Hubungan manusia dg manusia: hubungan

ta‟awaun, „adalah, dan ihsan

3. Hubungan manusia dg akhirat: hubungan

mas‟uliyah dan jaza‟;

4. Hubungan manusia dg alam: hubungan taskhir;

5. Hubungan manusia dg kehidupan : hubungan

Ibtila‟

HAKIKAT HERIDITAS, LINGKUNGAN DAN

PENGEMBANGAN SDM (1)

84



 Hereditas merupakan kecenderungan alami cabang-

cabang untuk meniru sumber mulanya dalam

komposisi fisik dan psikologi. Ahli hereditas lainnya

menggambarkan sebagai penyalinan cabang-cabang

dari sumbernya.

 Lingkungan ialah lingkungan alam dan lingkungan

sosial.

 Pengembangan SDM dl pendidikan ialah usaha sadar

agar sdm atau potensi-potensi manusia tumbuh dan

berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan

kapasitasnya tujuan pendidikan Islam.

HAKIKAT HERDITAS, LINGKUNGAN DAN

PENGEMBANGAN SDM (2)

85



 Kehidupan sosial ialah kehidupan saling pengaruh.

Setiap individu mempengaruhi dan dipengaruhi

lingkungan sekitar terutama lingkungan pergaulan.

Hubungan-hubungan antarmanusia, baik individu

maupun antarkelompok, tingkat keharmonisan yang

dirasakan oleh masyarakat, serta tingkat kemampuan

lingkungan untuk merealisasikan berbagai kebutuhan

individu, semuanya bisa mempermudah atau

mempersulit proses pendidikan dalam rangka

pembentukan kepribadian.

 Hubungan antara manusia mengandung: kedalaman

emosi dan kedalaman pikiran

HAKIKAT HERDITAS, LINGKUNGAN DAN

PENGEMBANGAN SDM (4)

86





 Menurut Morris L.Bigge (Learning

Theories for Teachers) ada empat sifat

dasar moral manusia dan hubungannya

dengan alam sekitar yaitu bad-active,

good-active, neutral-passif dan

neutral interactif

HAKIKAT HERDITAS, LINGKUNGAN DAN

PENGEMBANGAN SDM (5)

87





 Teori bad-active ialah bawaan dasar

manusia itu jelek, yang tidak ada

harapan baik dari mereka. Sekiranya

manusia dibiarkan berkembang maka

yang tampil adalah kejelekannya saja.

Maka fungsi pendidikan adalah

mengusahakan pengekangan terhadap

sifat dasar ini dan melatih bagian-

bagian jiwa ke arah yang baik.

HAKIKAT HERDITAS, LINGKUNGAN DAN

PENGEMBANGAN SDM (6)

88





 Teori good-active :dasarnya bawaan

manusia itu baik yang sekiranya

dibiarkan tumbuh tanpa dipengaruhi,

maka akan tampil sifat-sifat baiknya.

Sehingga implikasinya dalam

pendidikan ialah penyiapan sumber-

sumber belajar sedemikian rupa agar

perkembangan bawaan itu optimal.

HAKIKAT HERDITAS, LINGKUNGAN DAN

PENGEMBANGAN SDM (7)

89





Teori neutral-passive : pada

dasarnya manusia itu bersifat

netral, yang potensial untuk tidak

baik dan tidak pula buruk, dan

menerima pengaruh luar apa

adanya. Karakter seseorang

apakah baik atau jelek, sangat

tergantung pada polesan alam

lingkungannya.

HAKIKAT HERDITAS, LINGKUNGAN

DAN PENGEMBANGAN SDM (8)

90



 Teori neutral-interactive, adalah hampir

sama dengan neutral-passive, hanya saja

pengaruh dunia luar terhadapnya ada proses

kerjasama atau interaktif. Berarti

pendidikan, tidak akan dapat seratus persen

mencetak anak didik sesuai dengan yang

dikehendaki, karena peserta didik dapat

memberi respon atau dialektis terhadap

pengaruh luar. Keempat teori pendidikan ini

bersifat antropocentris.

HAKIKAT HERDITAS, LINGKUNGAN DAN

PENGEMBANGAN SDM (9)

91





 Sebagai kelanjutan dari teori-teori

ini memunculkan tiga teori dasar

dari Barat yaitu teori emperisme,

nativisme dan konvergensi.

HAKIKAT HERDITAS, LINGKUNGAN DAN

PENGEMBANGAN SDM DL TEORI FITRAH (10)

92



DIBICARAKAN SECARA TERSENDIRI

1. fatalis-pasif

2. netral-pasif

3. positif-aktif

4. dualis-aktif

FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM

PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN DALAM ISLAM (11)

93



1. Faktor heriditas: mewarisi sifat-sifat dari

kedua orang tuanya, baik moral (al-

khalqiyah), fisik (al-jismiyah) maupun

intelektual (al-’aqliyah), sejak masa

kelahirannya;

2. Lingkungan terutama lingkungan sosial;

3. kehendak bebas manusia, akan mampu

mengalahkan pengaruh faktor al-warisah

dan lingkungan;

4. Bi Aunillah (atas pertolongan Allah).

BAB IV: ALIRAN FPI: KESADARAN MANUSIA DAN PARADIGMA

PENDIDIKAN (1) hal. 87

94



1. Kesadaran magis :

 terbentuk pada masyarakat yang masih mempercayai

hal-hal yang supranatural.

 meyakini bahwa kekuatan terbesar yang mempengaruhi

kehidupan mereka adalah hal-hal yang gaib, mistis,

supranatural (luar alam).

 Untuk itu hal-hal gaib ini harus di-“tundukkan” dengan

sesajen dan do‟a-do‟a/mantra/jampi-jampi/komat-

kamit.

KESADARAN MANUSIA DAN PARADIGMA

PENDIDIKAN (2)

95



2. Kesadaran naif.

 masyarakat yang memandang bahwa setiap

ketidakadilan sosial berakar dari kelemahan

manusia.

 masyarakat dengan kesadaran naif terbentuk

pada masyarakat yang percaya bahwa kekuatan

natural (alam) adalah kekuatan terbesar yang

mempengaruhi segala masalah di dunia ini.

 Untuk itu kekuatan alam harus ditundukkan oleh

tangan manusia.

KESADARAN MANUSIA DAN PARADIGMA

PENDIDIKAN (3)

96



3. Kesadaran kritis.

 masyarakat yang menyadari bahwa kekacauan di

dunia ini diciptakan oleh sistem yang dibuat oleh

manusia itu sendiri.

 masyarakat kritis adalah masyarakat yang

keyakinannya telah bergeser dari kepercayaan

kekuatan terbesarnya kepada alam menuju

kekuatan manusia.

 Untuk itu kekuatan manusia yang menjelma

pada sistem ini harus ditundukkan dengan

“ilmu” dan kesadaran kritis.

PARADIGMA PENDIDIKAN (1)

97



1. Sistem pendidikan:

 yang memandang realitas luar sebagai sesuatu

yang given, telah berlaku dari sononya, tidak

bisa/perlu dirubah, bahkan perlu dilestarikan.

 Inilah sistem pendidikan yang pro status quo.

 Para ahli filsafat pendidikan mengistilahkannya

dengan Pendidikan Konservatif.

 Pendidikan konsevatif ini lazim diberlakukan

pada negara-negara dengan rezim yang otoriter.

PARADIGMA PENDIDIKAN (2)

98



2. Paradigma liberal.

 memandang bahwa ketidakadilan sosial terjadi

karena kelalaian manusia itu sendiri.

 Kalau ada pengangguran maka itu adalah

kesalahan manusianya yang kurang kreatif, tidak

berjiwa wirausaha dan malas.

 Kalau ada kemiskinan kota (poor urban) itu

disebabkan karena manusianya yang malas

berusaha di desa dan maunya hidup enak saja di

kota

PARADIGMA PENDIDIKAN (3)

99



3. Paradigma pendidikan kritis.

 pendidikan harus secara utuh meresapi dan menyatu di

tengah-tengah masyarakatnya.

 Paradigma ini memandang akar ketidakadilan sosial

adalah sistem yang berlaku pada masyarakat itu.

 Sistem itu dapat berupa sistem politik (yang otoriter dan

anti demokrasi), sistem sosial (yang melestarikan kasta-

kasta dan menghambat laju mobilitas sosial), sistem

ekonomi (yang kapitalistik, dan anti kerakyatan) sistem

budaya (yang patriaki dan anti egaliter), bahkan sistem

pendidikan itu sendiri (yang menjadi alat pengukuh

kekuasaan dan pro status quo).

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (1)

100



1. Fatalis-pasif yang direfresentasikan oleh Ibn Mubarak

(wafat 181 H), Syekh Abdul Qadir Jailani (wafat 561 H),

dan Al-Azhari;

2. Netral-pasif yang diwakili oleh Ibnu Abd al-Barr (wafat

362 H);

3. Positif-aktif yang direpresentasikan oleh Ibnu Taimiyah,

Ibnu Qayyim al-Jauziyah (klasik), Muhammad Ali al-

Shobuni, Mufti Muhammad Syafi‟i, Ismail Raji al-Faruqi,

Mohammad Asad, Syah Waliyullah (kontemporer); dan

4. Dualis-aktif yang tokohnya ialah Sayyid Qutub dan Ali

Shari‟ati.

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (2)

101



Fatalis-pasif: setiap individu, melalui ketetapan Allah SWT adalah

baik atau jahat secara asal, baik ketetapan semacam ini terjadi

secara semuanya atau sebagian sesuai dengan rencana Tuhan.

Faktor-faktor eksternal tidak begitu berpengaruh terhadap

penentuan nasib seseorang karena setiap individu terikat dengan

ketetapan yang telah ditentukan sebelumnya oleh Allah SWT.

 Dasarnya: hadis Nabi SAW dari Abdullah Ibnu Mas‟ud berkata,

Rasulullah SAW bersabda (mengomentari) firman Allah SWT,

”Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam

dari sulbi mereka” (QS. Al-A‟ra>f [7]: 172).

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (3)

102



‫ ٗإر أخز سثل ٍِ ثّْي آدً ٍِ ظٖ٘سٌٕ رسيزٌٖ ٗأشٖذٌٕ عيٚ أّفسٌٖ أىسذ ثشثنٌ قبى٘ا‬

ِ‫ثيٚ شٖذّب أُ رق٘ى٘ا يً٘ اىقّيبٍخ إّب مْب عِ ٕزا غبفيّي‬

 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam

dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka

(seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul

(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu)

agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam)

adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (4)

103



Netral-pasif: anak lahir dalam keadaan suci, utuh dan

sempurna, suatu keadaan kosong sebagaimana adanya,

tanpa kesadaran akan iman atau kufur, baik atau jahat. Ini

sama dengan teori ‟tabularasa‟ dari John Lock.

 Manusia lahir seperti kertas putih tanpa ada sesuatu

goresan apa pun. Pengetahuan manusia berbagai hal

termasuk kebaikan, keburukan, benar-salah, baik-buruk

dan indah-tidak indah dan lain-lain diperolehnya dari

polesan lingkungan. Manusia berpotensi menjadi baik bila

pengaruh luar terutama orang tuanya mengajarkan

demikian.

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (5)

104



 Sebaliknya berpotensi menjadi buruk bila

lingkungan terutama orang tuanya mengabaikan

nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keadilan

terhadap anak atau justru mengajarkan keburukan

dan kejahatan terhadap anak. Prinsipnya ialah

bahwa mana yang lebih dominan dan intensif

mempengaruhi manusia (peserta didik), hal itulah

yang menentukan kepribadiannya, apakah ia

cerdas atau bodoh, kreatif atau jumud.

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (6)

105



 Pandangan ini mengambil argumen dari QS. Al-Nah}l

(16): 78.

‫َ ُ ش ئ َ عو َن س ْ َ ٗ ؤ ْ س‬ ‫َٔ َ َ ن ِ ْ ثط أٍ ن‬

َ ‫ َٗاىي ُ أخْشجَ ٌُْ ٍِ ُ ُُِ٘ ُ ََٖبرِ ٌُْ ىَب رَعْيَ ُ٘ َ َّيْ ًب ٗجَ َ َ ى ٌُْ اى ََع َاىَْثّصَب‬

ُ ‫ين ْ َ نش‬ َ ٗ

. َ ُٗ ُ ْ‫َاىْؤفْئِذَحَ ىَعََ ٌُ رش‬

 Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak

mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran,

penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (7)

106



Positif-aktif yakni bawaan dasar atau sifat manusia sejak

lahir adalah baik, sedangkan kejahatan bersifat aksidental.

Para ahli yang berpandangan positif membangun dasar

argumennya dari:

1. QS. al-A‟ra>f (7):172:

ُ ٖ ُ ‫َ َ س ُ َ ِ ْ ثْ دً ظٖ ِٕ رسي ٖ ْ َ ٖ َٕ ي أ‬

‫ َٗإِرْ أخَز َثل ٍِ َ ِّي آ َ َ ٍِِْ ُ ُ٘س ٌِْ ُ ِ َزَ ٌُ َٗأشْ َذ ٌُْ عََٚ َّفسِ ٌِْ أَىَسْذ‬

ِ ‫َ رق ى َ َ ْقّي َ إّ مْ َ ْ ٕز غ ي‬ ‫ثشثن ْ ق ى ثي‬

. َ ‫ِ َ ِ ٌُ َبُ٘ا ََٚ شَِٖذَّْب أُْ َ ُُ٘٘ا يًْ٘ اى ِ َبٍخِ ِ َب ُ َب عِ َ َا َبفِِّي‬

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (8)

107



 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan

anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil

kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):

"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul

(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan

yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak

mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah

orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (9)

108



2. Hadis Nabi SAW:

ْ ٌ‫َ أ ٕش أ َٔ َ َق ُ َ َس ه َ ِ ي ي عي ْ ِ َ ي‬

ٍِِ ‫ عِْ َثِّي ُ َيْشَحَ َّ ُ مَبُ ي ُ٘ه قَبه س ُ٘ ُ اىئ صََٚ اىَٔ ََّئ ٗسََ َ ٍَب‬

‫َ ى ى ي ُ ي ف ِ فؤ َ٘ ُ ي َ٘ ِ ِ ٗي َّصش ِ ِ ٗيَ ِ ٔ َ ر ج‬

ُ َ‫ٍُْ٘٘دٍ إَِب ُ٘ىَذ عََٚ اىْ ِطْشَح َ َث َآ ُٖ ِدَأّ َ ُْ ِ َأّ َ ُ َّجسَبِّ ِ مَ َب ُ ْز‬

‫ْ َ ُ َ َق أث ٕش َ ٗ شء‬ َ ‫َ ْ ُ ِس‬ ًَ َُ

‫اىْجَِّٖيَخ ثَِّٖيَخ جََْعَبء َٕو رح ُُ٘ فِّيَٖب ٍِِْ جَذعَبء ثٌ ي ُ٘ه َ ُ٘ ُ َيْشَح َاقْ َ ُٗا‬

ٌ‫َ ِ ىز فط َ ْ َ ي ٖ ر و ِ ق َٔ ِ َ ذ ِ ْقّي‬ ‫ِ ش زْ ف‬

ُ ِ َ ‫إُْ ِئْ ٌُ ) ِطْشَحَ اىئ اَ ِّي َ َش اى َبس عََّيْ َب ىَب َجْذِي َ ىخَيْ ِ اىي ِ رَىل اى ِي ُ اى‬

‫خ‬

َ َ‫( اىْآي‬

 Tidak dilahirkan seseorang kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah.

Maka orangtuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi,

Nasrani dan Majusi. Sebagaimana binatang ternak melahirkan

binatang ternak dengan sempurna. Apakah anda melihat sesuatu yang

kurang?

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF FITRAH (10)

109



Dualis-aktif: manusia sejak awalnya membawa sifat ganda.

Di satu sisi cenderung kepada kebaikan, dan di sisi lain

cenderung kepada kejahatan.

 Menurut Qutub, dua unsur pembentuk esensial dari

struktur manusia secara menyeluruh, yaitu ruh dan tanah,

mengakibatkan kebaikan dan kejahatan sebagai suatu

kecenderungan yang setara pada manusia, yaitu

kecenderungan untuk mengikuti Tuhan dan

kecenderungan untuk tersesat.

 Kebaikan yang ada dalam diri manusia dilengkapi dengan

pengaruh-pengaruh eksternal seperti kenabian dan wahyu

Tuhan sementara kejahatan yang ada dalam diri manusia

dilengkapi faktor eksternal seperti godaan dan kesesatan.

ALIRAN FPI DL PERSPEKTIF

ILMU PENDIDIKAN :

110



Berdasar pada ruang lingkup pembagian ilmu dan tujuan

memperoleh ilmu, Ridla membagi aliran-aliran utama

pemikiran pendidikan Islam kepada tiga:

1. aliran al-muha>fiz (religius konservatif),

2. aliran al-diniy al-‘aqlaniy (religius rasional),

3. aliran al-z\arai’iy (pragmatis instrumental).

RELIGIUS KONSERVATIF (1)

111



 Konservatif: penafsiran terhadap realitas dunia

berpangkal dari ajaran agama sehingga semua yang

menyangkut tujuan belajar, pembagian ilmu yang

dicari oleh pembelajar, etika mu’allim dan

muta’allim dan lain sebagainya harus dibingkai

dengan ajaran agama.

 Persoalan pendidikan cenderung bersikap murni

keagamaan. Memaknai ilmu dengan pengertian yang

lebih sempit, yakni hanya mencakup ilmu-ilmu yang

dibutuhkan saat sekarang (hidup di dunia) yang

jelas-jelas akan membawa manfaat kelak di akhirat.

RELIGIUS KONSERVATIF (2)

112



 Aliran ini (konservatif) diwakili oleh Imam al Gazali,

Syekh al-Thusi, Ibnu Jama‟ah, Sahnun, Ibnu al-

Haitami dan al-Qabisi.

RELIGIUS KONSERVATIF (3)

113



 Sikap dan kecenderungan agamis ini menimbulkan

implikasi-implikasi negatif terhadap pendidikan:

 term ilmu yang dalam al-Qur‟an dan Sunnah bersifat

mutlak (cakupan yang luas) menjadi muqayyad

(terbatas/sempit) yakni terbatas pada ilmu tentang Tuhan

(‘ilm billah).

RELIGIUS KONSERVATIF (4)

114



 Adanya antusiasme pendakian spiritual mendorong

pemikiran pendidikan Islam konservatif ke arah

pengabaian urusan dunia dan dengan segala kemanfaatan

dan kenikmatannya dan mengabaikan bekerja dan usaha-

usaha memperoleh kemanfaatan urusan dunia tersebut.

RELIGIUS KONSERVATIF (5)

115



 Keterpakuan para ahli pendidikan muslim pada ungkapan ilmu

sebagai tujuan akhir pada zat ilmu itu sendiri atau ilmu

untuk ilmu (al-‘ilm ga>yah fi z\a>tih) sehingga sebagian mereka

menjadikan ilmu eksklusif dari kemungkinan untuk pelayanan

bagi kehidupan kemanusiaan, memperbaiki kehidupan manusia

dan menambah kebahagian masing-masing individu.

RELIGIUS KONSERVATIF (6)

116



 Di sisisi lain dari aliran keagamaan konservatif ini

adalah rasa tanggung jawab keagamaan yang kuat

yang belum pernah ditemukan adanya rasa tanggung

jawab moral serupa pada generasi berikutnya.

Mereka sangat menjunjung tinggi persoalan belajar,

bahkan mereka menilainya sebagai wujud tanggung

jawab moral yang sangat luhur.

 Tugas-tugas mengajar untuk mencari rida (rela)

Allah SWT dan mendekatkan mu’allim

(guru/pendidik) kepada-Nya karena kebajikan-

kebajikannya.

RELIGIUS KONSERVATIF (7)

117



 Dengan aktivitas mengajar bukan sekedar tanggung

jawab kemanusiaan tetapi merupakan tangggung

jawab keagamaan yang sangat penting.

RELIGIUS RASIONAL (1)

118



 Rasional sebenarnya tidak jauh berbeda dengan

aliran al-muhafiz dl hal kaitan antara pendidikan

dan tujuan akhir agamawi. Di antara tokoh aliran ini

antara lain kelompok Ikhwan al-Safa, al-Farabi, Ibnu

Sina dan Ibnu Miskawaih.

RELIGIUS RASIONAL (2)

119



 Ikhwan al-Safa mengakui bahwa semua ilmu dan

sastra yang tidak mengantarkan pemiliknya

menuju tuntutan akhirat dan tidak memberikan

makna sebagai bekal di sana, maka ilmu yang

demikian hanya menjadi bencana dan bukti

kesusahan bagi pemiliknya di akhirat. Namun

ketika aliran ini membicarakan persoalan

pendidikan seperti masalah ilmu dan belajar,

cenderung lebih rasional dan filosufis.

RELIGIUS RASIONAL (3)

120



 Mereka membangun prinsip-prisip dasar pemikiran

kependidikan dari pemikiran tentang manusia,

pengetahuan dan pendidikan. Dipandang

pendidikan dari sudut pandangan akal bukan dari

segi amal. Pengetahuan semua dipelajari, bukan

secara naluri, dan semua pengetahuan melalui

pancaindera.

PRAGMATIS INSTRUMENTAL (1)

121



 Pragmatis instrumenatal, yang tokoh satu-satunya ialah Ibnu

Khaldun. Pandangannya tentang tujuan pendidikan lebih banyak

sisi pragmatis dan lebih berorientasi pada tataran aplikatif-praktis.

PRAGMATIS INSTRUMENTAL (2)

122



 Dia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasar tujuan

fungsionalnya, bukan berdasar nilai substansialnya

semata.

 Ia membagi ragam ilmu yang perlu dimasukkan ke dalam

kurikulum pendidikan menjadi dua yakni (1) jenis ilmu-

ilmu yang bersifat instrinsik (ilmu-ilmu syariah), seperti

tafsir, hadis, fikih, kalam, ontologi dan teologi dari cabang

filsafat. (2) jenis ilmu-ilmu yang bernilai ekstrinsik

instrumental bagi ilmu jenis pertama, seperti bahasa Arab,

ilmu hitung dan sejenisnya.

PRAGMATIS INSTRUMENTAL (3)

123



 Merupakan ilmu naqliy dari orang yang

menghasilkannya. Jenis ilmu ini bersandar pada

warta otoritatif Syar’i (Tuhan dan Rasul-Nya).

Sedangkan akal pikiran manusia tidak mempunyai

peluang untuk mengintervensinya kecuali dalam

ruang lingkup cabang-cabangnya. Itupun masih

harus berada dalam kerangka dasar Pembuat Syar‟i.

 Bersifat alami bagi manusia, yaitu ilmu-ilmu yang

diperoleh manusia lewat bimbingan penalaran akal

pikirnya.

PRAGMATIS INSTRUMENTAL (4)

124



 Ruang lingkup persoalannya, prinsip-prinsip dan

metode pengembangannya sepenuhnya berdasar

pada daya penjelajahan akal manusia.

PRAGMATIS INSTRUMENTAL (5)

125



 Ibnu Khaldun membagi kemampuan berpikir ini

menjadi tiga tingkatan yaitu (1) al-‘aql al-tamyiz

(akal pemisah); (2) al-‘aql al-tarbiyyi (akal

eksprimental); dan (3) al-‘aql al-nazariy (akal

kritis).

PRAGMATIS INSTRUMENTAL (6)

126



 Tingkatan akal terbawah, karena kemampuannya

hanya terbatas pada mengetahui hal-hal yang

bersifat emperis inderawi. Konsep-konsep yang

dihasilkan taraf berpikir tingkat ini adalah deskripsi

atau penggambaran (al-tasawwurat). Tujuannnya

adalah menghasilkan kemanfaatan bagi manusia dan

menolak bahaya.

PRAGMATIS INSTRUMENTAL (7)

127



 Kemampuan berpikir yang menghasilkan berbagai

gagasan pemikiran dan berbagai etika dalam tatanan

pergaulan bersama dan hal ihwal mereka. Banyak

dari olah pikir pada tingkat menghasilkan kebenaran

(tasdiqat) yang disimpulkan dari eksprimen sedikit

demi sedikit secara berkelanjutan hingga mencapai

kesempurnaan hasil atau kegunaan.

PRAGMATIS INSTRUMENTAL (8)

128



 Suatu proses berpikir yang menghasilkan ilmu atau asumsi

kuat akan hal meta empiris (abstrak-filosufis) yang

merupakan kompleksitas hubungan dari berbagai

tasawwur (penggambaran) dan tasdiq (pembenaran)

hingga membangun disiplin keilmuan tertentu. Yang

terpenting dari tingkat akal kritis ini ialah penggambaran

realitas (al-wujud) sebagaimana hakikatnya, jenis-jenisnya,

detailnya, sebab-sebabnya, dan ilat-ilatnya, dan daya

berpikir berkembang sempurna menjadi akal murni dan

jiwa yang tercerahkan. Di sinilah hakikat kemanusiaan.

ALIRAN FILSAFAT PEND. BARAT

129



1. Progresivisme

2. Esensialisme

3. Perenialisme

4. Rekonstruksionisme

BAB IV: PEMIKIRAN PENDIDIKAN KALBU

130





 Rasional (1) : Kenapa harus dibahas:

1. Kalbu/nurani yang tercerahkan selalu

mengarah kpd yang baik. Nabi SAW bersabda:

‫َ ي س َش د ِش ٍ ََ َ إى ٔ ْ ْس‬ ْ َ َ ‫زْ ق‬

ُ ‫ اسْ َفذِ َيْجل َٗاسْزَفذِ َّفْسلَ ثََب َ ٍ َا ٍ اىْج ُ َب اطَْؤّذْ َِّيْ ِ اى َف‬

‫َ ْ ِ أ ز ك ْ س أ َ ْك‬ َ َ َ ٗ ِ ْ ‫ْئ ٌْ ٍ ح ف‬

َ ٘‫َٗاىِث ُ َب َبكَ ِّي اى َفْس َرشددَ فِّي اىّصذسِ َٗإُْ َفْ َب َ اى َب ُ ََٗفْز‬

 (Minta fatwalah kepada kedalaman kalbumu/jiwamu, Nabi

mengucapkannya tiga kali. Kebaikan itu ialah yang menenteramkan

jiwa/kalbu dan dosa itu ialah sesuatu yang menyusahkan jiwa/kalbu dan

kebimbangan di kalbu. Jika manusia meminta fatwa kepadamu, mintalah

fatwa kepada ke kedalaman kalbu/jiwamu).”

RASIONAL (2)

131





2. Berpengaruh secara signifikan dalam

pembentukan perilaku. Nabi SAW bersabda:

‫ اال اُ ىيّجسذ ٍضغخ ارا صيحذ صيح اىّجسذ مئ ٗارا فسذد فسذ‬

(ٌ‫اىّجسذ مئ اال ٕٗٚ اىقيت )سٗآ اىجخبسٙ ٍٗسي‬

 Ingatlah! Bahwa dalam tubuh itu ada segumpal daging, bila ia baik,

akan baiklah seluruh tubuh itu, dan bila ia rusak, rusaklah ia

seluruhnya. Itulah dia kalbu. (HR. Bukhari dan Muslim).

RASIONAL (3)

132





3. Jika ingin mempelajari tingkah laku

seseorang atau mengubahnya maka kita

harus memahami presepsinya dan

mengubah pandangan atau keyakinannya.

Demikian juga bila ingin melihat perbedaan

seseorang dengan yang lainnya maka harus

dilihat perilaku internalnya, karena

perbedaan individu satu dengan yang

lainnya adalah faktor internalnya (kalbu).

RASIONAL (4)

133





4. Hakikat muslim itu didahului dengan iman.

Iman letaknya di kalbu. Iman merupakan

cahaya yang menerangi jalan seseorang agar

berprilaku lurus di jalan kebajikan serta

mendapat nikmat di hari kemudian.

5. Yang diminta pertanggungjawaban ialah isi

kalbu bukan nafsu.

6. Niat itu letaknya di kalbu.

PENGERTIAN KALBU (1)

134





 Pengertian:

 Menurut bahasa: Kalbu berasal dari bahasa

Arab yakni qalaba (membalik).

Membalikkan yang atas di bawah, atau

menjadikan yang dalam di luar atau

membalikkan senang menjadi susah, cinta

menjadi benci, yang semuanya itu

merupakan pengertian kalbu.

PENGERTIAN KALBU (2):

135





 Imam al-Ghazali:

 Spiritualitas kalbu ia berupa sesuatu yang

lathifah (halus), bersifat Robbaniyah

(Ketuhanan) dan kerohanian yang ada

hubungannya dengan jasmani. Kalbu yang

halus itulah hakikat manusia yang dapat

menangkap segala rasa, mengetahui dan

mengenal segala sesuatu.

PENGERTIAN KALBU (3):

136





 Kalbu adalah salah satu gejala dari

perangkat hakikat manusia yang asasi,

karena iman bersemayam di dalam

kalbu (QS. Al-Hajj [22]:32) dan sebagai

alat untuk memperoleh ilmu (QS. Al-

Hajj [22]:46 dan al-An‟am [6]:25).

KARAKTERISTIK KALBU (1)

137





 Pertama: Kalbu berfungsi sebagai alat

ma‟rifah, memiliki pemahaman dalam diri

manusia dan akal. Pengertian ini

ditunjukkan oleh firman Allah QS. Qaf

(50):37: Sesungguhnya pada yang demikian

itu benar-benar terdapat peringatan bagi

orang-orang yang mempunyai kalbu atau

yang menggunakan pendengarannya,

sedang dia menyaksikannya.

KARAKTERISTIK KALBU (2)

138





 Kedua: Penyebab kalbu seseorang

tenteram ialah dengan berdzikir.

Dalam QS. ar Ra‟ad (13):28 disebutkan:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan

kalbu mereka menjadi tenteram

dengan dzikrullah. Ingatlah hanya

dengan dzikrullah kalbu menjadi

tenteram.”

KARAKTERISTIK KALBU (3)

139



 Ketiga: Penyebab kalbu seseorang

tertutup/dikunci mati atau berpenyakit

atau keras adalah karena kedengkian,

kesombongan dan menentang kebenaran.

Hal tersebut tersirat dalam Alquran. ”Allah

telah mengunci mati kalbu (qulubihim)

dan pendengaran mereka, dan penglihatan

mereka ditutup” (QS.al-Baqarah [2]: 7 ).

KARAKTERISTIK KALBU (4)

140



 Dalam kalbu mereka (qulubihim) ada

penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya

(QS.al-Baqarah [2]: 7 dan 10). Dan diantara

mereka ada orang yang mendengarkan

(bacaan)mu, padahal Kami telah

meletakkan tutupan di atas kalbu mereka

(qulubihim) sehingga mereka tidak

memahaminya dan (Kami letakkan)

sumbatan di telinganya. (QS. Al-An‟am

[6]:25).

KARAKTERISTIK KALBU (5)

141



 Keempat: Dalam kalbu ada macam-macam

lammah (lintasan/bisikan); yang

menyuruh kepada yang baik (lammah

malakiyyah)/lammah muthmainnah;

bisikan maksiat (lammah syaithaniyyah

atau lammah ammarah bissu’); dan bisikan

yang labil (lammah lawwamah); yang

terkadang ingin berbuat baik dan disaat lain

senang berbuat mungkar. Ini sesuai dengan

isyarat QS. Al-Hajj (22): 53-54.

KARAKTERISTIK KALBU (6)

142



 Kelima: Kalbu merupakan salah satu gejala dari

perangkat hakikat manusia yang asasi, karena

iman (QS.al-Maidah [5]:41), ra’fah wa rahmah

(rasa santun dan kasih sayang) (QS. [al-Hadid

[57]:27), hidayah (QS. al-Tagabun [64]:11) dan

takwa (QS. Al-Hajj [22]: 32) bersemayam dalam

kalbu.

‫ اال اُ ىيّجسذ ٍضغخ ارا صيحذ صيح اىّجسذ مئ ٗارا فسذد فسذ اىّجسذ‬

(ٌ‫مئ اال ٕٗٚ اىقيت )سٗآ اىجخبسٙ ٍٗسي‬

KARAKTERISTIK KALBU (7)

143



 Keenam; Kalbu secara etimologi pada dasarnya

bersifat labil dan suka bolak balik kecuali yang

dapat bimbingan Ilahi. Seperti keterusikan kalbu

Nabi Ibrahim, tentang bagaimana cara Tuhan

menghidupkan yang telah mati.

 Peristiwa ini bukanlah keraguan Nabi Ibrahim

tentang hari kiamat. Karena ketidak tahuannya,

maka ia ingin melihat dengan mata telanjang

bagaimana cara Tuhan menghidupkan yang mati,

sekalipun hal itu rahasia Ilahi, demi

menenteramkan kalbunya.

METODE PENDIDIKAN KALBU (1)

144



 Metode dzikrullah (berdzikir kepada Allah) secara

terus menerus. Dzikir dapat berupa dalam kalbu

dan lisan; kalbu saja, dan lisan saja.

 Istighfar dan bertobat . Hakikat tobat ialah secara

totalitas kembali kepada Allah. Nabi istighfar dan

tobat minimal 70 kali setiap hari sekalipun beliau

ma‟shum (terpelihara) dari dosa. Sebelum bertobat

dimulai dengan istighfar. Para pendosa jika ingin

istighfar dan tobat harus memenuhi 3 syarat jika

dosa itu berhubungan dengan Allah. Jika dosa

berkaitan dengan manusia ada 4 syarat.

METODE PENDIDIKAN KALBU (2)

145



 Berdoa (memohon sesuatu kepada Tuhan).

Seseorang berdoa pada hakikatnya penyerahan diri

kepada Sang Pencipta tentang permohonannya;

dan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa

mengabulkan doa. Doa dapat merubah nasib.

 Semua doa pasti dikabulkan dalam arti; (1) apa

yang diminta diberikan langsung; (2) apa yang

diminta tidak diberikan tapi diberikan dalam

bentuk lain, seperti ketenangan hidup, jauh dari

keburukan dan lain-lain; (3) ditangguhkan dengan

memberi ganjaran kepada yang berdoa.

METODE PENDIDIKAN KALBU (3)

146



 Melatih diri selalu husnudzdzan (berpikir positif),

dan menghindari suu’dzdzan (prasangka buruk

atau berpikir negatif).

 Berpikir positif perlu latihan dengan cara (1)

mempertimbangkan baik dan buruk setiap

perilaku, (2) berpikir positif menyehatkan

jiwa/mental dan raga; (3) berpikir positif akan

membuka diri dengan realitas; (4) berpikir positif

memperbanyak teman dan karib; (5) berpikir

positif meringankan langkah dalam setiap

aktivitas.

KALBU DAN TANGGUNGJAWAB

147





 Bertanggung jawab adalah beban

(taklif) yang dipikul oleh seseorang,

atau kelompok mengenai akibat

sesuatu yang dilakukannya, baik karena

konsep atau gagasan, perkataaan dan

perbuatannya ataupun karena tidak

berbuat apa-apa yang dibebankan

kepadanya

TINGKAH LAKU MANUSIA ADA DUA (1)

148



1. manusiawi ialah perbuatan yang dikuasai oleh

manusia, yang secara sadar di bawah kontrolnya,

dan dengan sengaja dikehendakinya baik

perkataan maupun perbuatannya. Maka si pelaku

bertanggungjawab atas perbuatan dan perkataan

tersebut. Dan prilaku macam inilah yang

dibicarakan oleh agama.

TINGKAH LAKU MANUSIA ADA DUA (2)

149



2. Perbuatan manusia ialah aktivitas yang dilakukan

manusia secara kebetulan baik perkataan maupun

perbuatan, tetapi ia tidak menguasainya karena

tidak mengontrolnya dengan sadar, tidak

menghendekainya dengan sengaja. Dan atas

perbuatan dan perkataan semacam ini, manusia

tidak perlu bertanggung jawab atau dimaafkan.

Begitu seseorang ingat kembali, maka waktu itu

pula dia memikul tanggungjawab atas perkataan

dan perbuatannya.

PRASYARAT TANGGUNGJAWAB

150



 Manusia diberi potensi-potensi sebagai pra syarat

memikul tanggung jawab

 Disamping manusia diberikan berbagai potensi, juga

diberikan wewenang

 Diberi kebebasan dl hal ghairu mahdhah;

 Diberi sarana dan norma-norma (ayat-ayat Ilahiyah,

ayat-ayat Insaniyah dan ayat-ayat kauniyah)

sehingga layak memikul tanggung jawab;

LAYAK MEMIKUL TANGGUNG JAWAB (1)

151



1. mencapai batas taklif (dewasa) baik laki-laki

maupun perempuan;

2. berakal, maksudnya mengetahui dan menyadari

alias tidak lupa apa yang diperbuat dan dikatakan

serta mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh

perbuatan dan perkataan tersebut baik bagi dirinya

sendiri maupun bagi orang lain;

LAYAK MEMIKUL TANGGUNG JAWAB (2)

152



3. mempunyai kebebasan dan tidak mendapat

paksaan ketika melakukan perbuatannya atau

ketika mengucapkan perkataannya;

4. mempunyai kemampuan untuk mengutarakan

perkataannya atau melakukan perbuatannya.

PERBEDAANKALBU YG TERCERAHKAN DAN KALBU YANG GELAP YG BLM

TERCERAHKAN DL TINDAK KEJAHATAN

153



Kalbu yg belum tercerahkan:

1. Belum ada celah untuk itu,

2. Takut diketahui dan malu;

3. Takut sanksi hukum dunia;

4. Merusak karier;

5. Belum ada peluang.

KALBU YG TERCERAHKAN

154



 Kalbu yg tercerahkan:

1. Mensyukuri nikmat Tuhan utk memayungi ya lain;

2. Takut siksa api neraka;

3. Tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatan di

akhirat;

4. Malu terhadap Tuhan dan manusia;

5. Takut sanksi hukum dunia;

6. Merusak karier.

SEBAB-SEBAB NORMA DITAATI

155



1. hukum atau aturan itu memerintahkan sesuatu

yang secara pribadi menguntungkan;

2. ada ancaman hukuman menyebabkan sebaiknya

menaati dan dipertanggung jawabkan;

3. subjek merasakan suatu perasaan wajib atau

kewajiban moral.

Kedua alasan pertama tidak dapat menjamin ketaatan

pada hukum/aturan karena hukum hanya ditaati selama

menguntungkan atau selama kewaspadaaan pemberi

sanksi tidak dapat dihindari. Kecuali yang spiritualitas

kalbunya baik.

BAB V: FILSAFAT PENDIDIKAN KELUARGA DAN KOMPONEN PENDIDIKAN

ISLAMKOMPONEN PENDIDIKAN ISLAM :





156



 Pengertian Pendidikan Keluarga: Pendidikan yang

dilaksanakan dalam keluarga (terdiri dari bapak,

ibu, anak-anak dan anggota keluarga lainnya yang

menjadi tanggung jawab kedua orang tua).

 Pendidikan keluarga sebagai pendidikan utama

dan pertama sesuai dengan QS. A-Tahrim: 6 dan

hadis Nabi tentang fitrah serta Sisdiknas

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan

keluarga dan lingkungan (pasal 1 poin 13 UU No

20 Tahun 2003).

‫‪DASAR PENDIDIKAN KELUARA‬‬

‫751‬





‫‪ ‬يب أيٖب اىزيِ آٍْ٘ا ق٘ا أّفسنٌ ٗإٔيّينٌ ّبسا ٗق٘دٕب اىْبس‬

‫ٗاىحّجبسح عيّيٖب ٍالئنخ غالظ شذاد ال يعّصُ٘ اهلل ٍب‬

‫أٍشٌٕ ٗيفعيُ٘ ٍب يؤٍشُٗ‬

KENAPA PENTING PENDD KELUARGA

158









1. Dalam keluarga hubungan antara anak dan orang

tua bersifat hubungan langsung, alami tidak

dibuat-buat;

2. Dalam keluarga pertama-tama anak memperoleh

terbentuknya tahap-tahap awal proses sosialisasi;

KENAPA PENTING PENDD KELUARGA

159



3. Melalui interaksi dalam keluarga, anak

memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, emosi, sikap,

dan keterampilan.

4. Dasar-dasar kelakuan dan kebiasaaan tertanam

sejak dini di dalam keluarga;

5. Sikap hidup serta kebiasaan-kebiasaan anak

tertanam dalam keluarga;

6. Anak menyerap adat istiadat dan prilaku kedua

orangtuanya dengan cara bertaklid dengan cara

meniru atau mengikuti dengan tidak tahu apa

dasar, bukti dan alasannya, disertai rasa puas.

TUGAS KELUARGA DL PEND KLRG

160



1. bertanggung jawab menyelamatkan faktor-faktor

ketenangan, cinta kasih, serta kedamaian dalam

rumah, dan menghilangkan segala macam

kekerasan, kebencian, serta antagonisme;

2. keluarga harus mengawasi proses-proses

pendidikan;

3. para orang tua harus menerapkan langkah-langkah

sebagai tugas mereka, seperti kriteria tingkah laku,

kewajiban berkumpul, memberikan kepahaman

kepada anak-anak bahwa ayah mereka mempunyai

aktivitas pribadi, kelemah lembutan.

KRITERIA ORANG TUA YG EDUCATOR

161



1. memiliki wawasan pengetahuan yang luas baik

pengetahuan umum maupun pengetahuan agama yang

mencukupi untuk menghindari kesalahan strategi

dalam mendidik anak;

2. mengalokasikan waktu yang cukup bersama keluarga

dalam penanaman pembentukan kepribadian muslim,

memberikan teladan sikap dan prilaku sehari-hari;

3. mendampingi dan memonitoring anak dalam

berintekrasi dengan lingkungan sosial budaya,

terutama pergaulan sosial anak dalam rangka

internalisasi nilai-nilai spiritual keagamaan;

KRITERIA ORANG TUA YG EDUCATOR

162



4. menciptakan suasana terbuka, musyawarah, diskusi

dan dialog dalam keluarga tentang berbagai segi

kehidupan aktual, termasuk tayangan berbagai

media, seperti televisi, intenet sehingga terhindar

dari sikap-sikap kemunafikan.

JIKA KRITERIA TSB SULIT DICAPAI, MAKA SOLUSINYA:

163



1. mendatangkan guru privat agama pada waktu usia

anak di bawah dua belas tahun untuk mengajarkan

nilai-nilai dasar Islam, termasuk cara membaca

Alquran dan Hadis;

2. menyekolahkan anak sejak dari SMP sampai SMU di

lembaga-lembaga Islam semacam pesantren modern

yang saat ini sudah banyak memiliki sekolah-sekolah

umum yang berkualitas;

3. memasukkan anak sejak pendidikan anak dini sampai

sekolah menengah atas di lembaga-lembaga

pendidikan yang memakai lebel Islam;

JIKA KRITERIA TSB SULIT DICAPAI, MAKA SOLUSINYA:

164



4. Orang tua harus melakukan jaringan komunikasi

intensif dengan pihak sekolah dimana putra-

putrinya sekolah;

5. Mengikutkan anak dalam kegiatan keagamaan atau

majelis taklim atau group seni Islami, yang di

adakan di kampung atau di masjid-masjid.

AHDAP (TUJUAN)

TARBIYAH AL-ISLAMIYAH (1)

165



Fungsi Tupen menurut Ahmad D. Marimba:

1. Mengakhiri Usaha

2. Mengarahkan usaha. Tanpa tujuan kegiatan

pendidikan tdk akan efisien

3. Sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-

tujuan lain (berikutnya)

4. Memberi nilai (sifat) pada usaha itu.

AHDAP TARBIYAH AL-ISLAMIYAH (2)

2. Hasan Langgulung

166





Tujuan Pendidikan Islam harus

mengakomodasikan tiga fungsi utama

dari agama:

1. fungsi spiritual (akidah dan iman);

2. fungsi psikologis (tingkah laku/tindak

moral);

3. fungsi sosial (aturan hubungan

kemanusiaan).

AHDAP TARBIYAH AL-ISLAMIYAH (3)

CIRI-CIRI AHDAP TARBIYAH AL-ISLAMIYAH

167



1. Khalifah :memakmurkan dan mengolah

bumi sesuai dengan amanah Tuhan;

2. Pelaksanaan khalifah dl rangka ibadah;

3. Berakhlak mulia;

4. Membina, mengarahkan,

menumbuhkembangkan dan mengolah

seluruh potensi manusia shg ia memiliki

ilmu, keterampilan dan akhlak

mahmudah;

5. Kebahagiaan hidup di dunia akhirat secara

seimbang.

L. HAKIKAT PENDIDIK (1)

1. S. Nasution

168



Tugas pendidik ada tiga bagian:

1. mengkomunikasikan pengetahuan

(memiliki pengetahuan yang

mendalam);transfer of knowledge

2. sebagai model dl bid. studi yg

diajarkannya;

3. menjadi model sebagai pribadi, apakah ia

berdisiplin, cermat berpikir, mencintai

pelajarannya.(transformatif)

HAKIKAT PENDIDIK (2)

2. Athiyah al-Abrasyi

169



Tujuh sifat pendidik:

1. Zuhud

2. Memiliki jiwa bersih ( tubuhnya, jauh dari dosa,

bersih jiwa, terhindar dari dosa besar, pamer,

dengki, permusuhan, dll

3. Ikhlas dalam melaksanakan tugasnya, sama kata

dan prilaku, dan jujur

4. Pemaaf;

HAKIKAT PENDIDIK (3)

2. Athiyah al-Abrasyi

170



5. Dpt menempatkan diri sebagai bapak/ibu

sebelum ia menjadi seorang guru (mencintai

murid sebagaimana ia mencintai anaknya,

memikirkan keadaan muridnya sebagaimana ia

memikirkan anaknya sendiri)

6. Mengetahui bakat, minat, tabiat dan watak

murid-muridnya;

7. Menguasai bidang studi yg akan diajarkannya;

HAKIKAT PENDIDIK (4)

3. Syekh Nawawi:

171



Akhlak/sifat Mu‟allim menurut Syaikh Nawawi al-

Bantani ada 17 :

1. Menerima pertanyaan-pertanyaan murid dengan

penuh kesabaran;

2. Selalu bermurah hati dalam berbagai hal;

3. Merendahkan diri di depan teman duduknya;

4. Tidak sombong, kecuali kepada orang yang

terang-terangan zalim untuk memperingatkan

kezalimannya, karena sombong kepada orang

yang sombong itu adalah shadaqah sebagaimana

tawadhu (merendah diri) kepada orang yang

tawadhu;

HAKIKAT PENDIDIK (5)

3. SYEKH NAWAWI

172



5. Bersikap tawadhu ketika berada di tengah-

tengah acara pertemuan;

6. Mencegah dari bercanda dan senda gurau;

7. Ramah kepada murid ketika mengajar dan tidak

menyuruh tergesa-gesa kepada murid yang tidak

pandai bertanya;

8. Memperbaiki anak yang tidak cerdas dengan

pengajaran yang baik;

9. Tidak marah dan tidak menyindir murid yang

bodoh;

HAKIKAT PENDIDIK (6)

3. SYEKH NAWAWI

173



10. Tidak merasa segan untuk berkata “tidak tahu” atau

“Allah Yang Maha Tahu”, jika suatu masalah belum

dikuasainya;

11. Mendorong semangat kepada yang bertanya agar

pertanyaannya dapat dipahami dan persoalannya

dapat dijawab dengan baik;

12. Dapat menerima alasan orang lain dan

mendengarkan, walaupun alasan itu berasal dari

musuh/tidak sepaham;

13. Mengikuti haq (kebenaran), dan kembali kepada

haq ketika melakukan kesalahan dalam berbicara

atau keyakinan, walaupun haq itu berasal dari orang

yang lebih rendah;

14. Mencegah murid dari setiap ilmu yang

membahayakan agama seperti ilmu sihir dan

astrologi;

HAKIKAT PENDIDIK (7)

3. SYEKH NAWAWI

174



15. Mencegah murid dari keinginan untuk

menggunakan ilmu yang bermanfaat bukan

karena Allah;

16. Mencegah murid dari kesibukan dengan

fardhu kifayah sebelum menyelesaikan fardhu

ain;

17. Menginstrosfeksi diri sendiri lebih dahulu,

sebelum memerintahkan orang lain

mengerjakan kebaikan, dan sebelum

melarang orang lain agar menjauhi

keburukan dengan melaksanakan perintah

syara‟ dan menjauhi larangannya, agar murid

mengambil teladan darinya.

HAKIKAT PESERTA DIDIK

Etika Peserta Didik menurut Imam al-Ghazali (1)

175



1. Memprioritaskan penyucian diri dari akhlak tercela

dan sifat buruk, sebab, ilmu itu bentuk peribadatan

hati, shalat rohani (sirr), dan pendekatan batin

kepada Allah.

2. Menjaga diri dari kesibukan-kesibukan duniawi

dan sebaiknya jauh dari kampung halaman. Sebab,

bergelut dengan kesibukan-kesibukan duniawi

dapat memalingkan konsentrasi belajarnya,

sehingga kemampuan menguasai ilmu yang

dipelajari menjadi tumpul.

Etika Peserta Didik menurut Imam al-Ghazali (2)

176



3. Tidak membusungkan dada (takabbur) terhadap orang

alim (ahli ilmu termasuk guru), melainkan bersedia patuh

dalam segala urusan dan bersedia mendengarkan

nasihatnya. Sebab, pasien (dalam hal ini peserta didik)

sudah seharusnya mematuhi apa yang menjadi nasihat

dokter (analogi guru).

4. Bagi pembelajar pemula dalam menuntut ilmu hendaknya

menghindarkan diri dari mengkaji berbagai macam

pemikiran dan tokoh, baik menyangkut ilmu-ilmu

duniawi maupun ilmu-ilmu ukhrawi. Sebab, hal ini dapat

mengacaukan pikiran, membuat bingung dan memecah

konsentrasinya dalam belajar.

Etika Peserta Didik menurut Imam al-Ghazali (3)

177



5. Tidak mengabaikan suatu disiplin ilmu apapun yang

terpuji, selain bersedia mempelajarinya hingga tahu apa

orientasi dari disiplin ilmu tersebut.

6. Dalam mendalami suatu disiplin ilmu, peserta didik tidak

melakukannya sekaligus, akan tetapi perlu bertahap dan

memprioritaskan yang terpenting.

7. Pembelajar tidak beranjak mendalami tahap ilmu

berikutnya hingga ia benar-benar menguasai tahap ilmu

sebelumnya. Sebab, ilmu-ilmu itu bersinambung secara

linier, atau sama lain saling terkait.

Etika Peserta Didik menurut Imam al-Ghazali (4)

178



8. Pembelajar hendaknya mengetahui faktor-faktor yang

menyebabkan ia dapat memperoleh ilmu yang paling

mulia. Kemuliaan itu dapat di lihat dari dua sisi yakni (a)

keutamaan hasil dan (b) terpercaya landasan

argumennya.

9. Tujuan menuntut ilmu ialah pembersihan batin dan

menghiasinya dengan keutamaan serta mendekatkan diri

kepada Allah serta meningkatkan spiritualnya ke posisi

yang tinggi yakni posisi para malaikat dan orang-orang

yang dekat kepada-Nya. Bukan bertujuan untuk mencari

kedudukan, kekayaan, dan popularitas.

Etika Peserta Didik menurut Imam al-Ghazali (5)

179



9. Pembelajar harus mengetahui hubungan ilmu-ilmu

yang dikajinya dengan orientasi yang dituju,

sehingga dapat memilah dan memilih ilmu mana

yang harus diprioritaskan dalam hubungannya

dengan urusan dunia dan akhirat.

M. KOMPETENSI PENDIDIK(1)

180









 Definisi: seperangkat pengetahuan, keterampilan,

dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan

dikuasai oleh pendidik/guru atau dosen dalam

melakukan tugas keprofesionalan.

KOMPETENSI PENDIDIK (2)

181



 Paedagogik: kemampuan mengelola pembelajaran peserta

didik;

 Kepribadian: kemampuan kepribadian yang mantap,

berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan

bagi peserta didiknya;

 Profesional: kemampuan penguasaan materi pelajaran

secara luas dan mendalam;

 Sosial: kemampuan berkomunikasi dan berintekrasi secara

efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang

tua/wali, dan masyarakat sekitar.

HAKIKAT METODE PEND. ISLAM (1)

DEFINISI:

182





Cara yg terencana dan tepat guna untuk

menyampaikan materi pendidikan kepada

peserta didik agar mampu memberi kesan

mendalam kpd mereka, sehingga terlihat

dalam pribadi mereka.

Fungsinya mengantarkan suatu tujuan

kepada obyek sasaran dengan cara yg sesuai

dg perkembangan obyek tersebut.

METODE PEND. ISLAM (2)

183



 Al-Syaibani: Ada empat menjadi dasar pertimbangan dl

penggunaan metode pendidikan Islam:

 Agama: sesuai dg Al-Qur‟an, Sunnah Nabawi, sahabat

dan tabi‟in dan Salaf al-Shalih.

 Biologis: kebutuhan jasmani dan perkembangan usia

anak.

 Psikologis: motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap,

keinginan, kesediaan, bakat dan intelektual peserta didik.

 Sosial: kebutuhan sosial di lingkungan peserta didik.

PERTIMBANGAN DL MENGGUNAKAN METODE

184



1. Tujuan yang hendak dicapai

2. Kapabilitas pendidik;

3. Keadaan peserta didik;

4. Sarana pembelajaran yang tersedia;

5. Materi pembelajaran

METODE PEND. ISLAM (3)

185



 Paling tidak, pendidikan Islam merangkum

empat tujuan pokok dalam memberikan metode:

 menolong peserta didik mengembangkan

kemampuan individualnya dl mencapai ilmu

kasbi dan ilmu ladunni, learning how to learn

(proses belajar bagaimana belajar):aspek

kognitif dan afektif

 membiasakan belajar melakukan (learning how

to do) menjadi prilakunya efektif dan efisien:

aspek psikomotorik

METODE PEND. ISLAM (4)

186



 bertanggung jawab untuk belajar menjadi (learning to

be), siap menjadi dirinya sendiri, membentuk sikap diri

bukan bayang-bayang orang lain. Aspek kognitif, afektif

dan psikomotorik.

 belajar bagaimana berurusan dengan luar dirinya,

menjalin hubungan antar subyek (learning how to live

together). Aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

MACAM-MACAM METODE

PEND. ISLAM (5)

187



1. Uswatun Hasanah/teladan (QS. Al-Ahzab, 33:21).

2. Qashash

3. Nasihat

4. Pembiasaan

5. Targhib (ganjaran) dan Tarhib (hukuman)

6. Ceramah (khutbah/kuliah)

7. Diskusi dan dialog

8. Berdebat

9. Induksi dan Deduksi dan lain-lain

P. HAKIKAT EVALUASI

188



Definisi: kegiatan menilai yang terjadi dalam

kegiatan pendidikan baik secara kuantitatif

(mengukur) maupun kualitatif (evaluasi)

 Dalam pendidikan pasti terjadi:

1. Input (bahan mentah)

2. Transfer dan Transformatif (memindahkan,

mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi)

3. Output (bahan jadi yang dihasilkan oleh transfer

dan transformasi)

4. Umpan balik (feed back)

KURIKULUM (1)

PENGERTIAN

189



 Crow and Crow : kurikulum ialah rancangan pengajaran

yang isinya sejumlah mata pelajaran yg disusun secara

sistimatis yg diperlukan sebagai syarat untuk

menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu (Crow

and Crow: Pengantar Ilmu Pendidikan).

 Cakupan kkm :

 ada bagian yg berkenaan dg tujuan yg ingin dicapai oleh

pbm

 ada berisi pengetahuan, informasi-informasi, data,

aktivitas-aktivitas dan pengalaman-pengalaman yg merup

bahan bagi penyusunan kkm yg isinya berupa mata

pelajaran yg kmd dimasukkan dl silabus.

KURIKULUM (2)

PENGERTIAN

190



 bagian yg berisi metode atau cara menyampaikan mata

pelajaran tsb.

 bagian yg berisi metode atau cara melakukan penilaian dan

pengukuran atas hasil pengajaran mata pelajaran tertentu.

KURIKULUM (3)

ASAS-ASAS

191



 S. Nasution (Pengembangan Kurikulum):

 Filosufis:berperan sbg penentu tujuan umum pend

 Sosiologis (berperan memberikan dasar utk

menentukan apa saja yg akan dipelajari sesuai dg

kebutuhan masyakat, kebudayaan, perkemb. Ilmu

penget, dan teknologi)

 Organisatoris (dasar dl bentuk bahan pelajaran itu

disusun, dan penentuan luas dan urutan mata

pelajaran)

 Psikologis (memberikan berbagai prinsip ttg

perkem. peserta didik dl berbagai aspeknya, serta

cara menyampaikan pelajaran agar dapat dicerna

dan dikuasai sesuai dg tahap perkembangannya.

KURIKULUM (4)

PRINSIP KURIKULUM PEND. ISLAM

192



As-Syabani, prinsip kurikulum pend. Islam:

1. pertautan yg sempurna dg agama, termasuk

ajarannya dan nilai-nilainya.

2. Menyeluruh pada tujuan-tujuan dan kandungan

kkm.

3. keseimbangan yg relatif antara tujuan-tujuan

dan kandungan kurikulum

4. prinsip perkaitan antara bakat, minat,

kemampuan, dan kebutuhan peserta didik serta

alam sekitar baik fisik maupun social budaya

5. pemeliharaan perbedaan individual baik dari

segi minat maupun bakatnya

KURIKULUM (5)

PRINSIP KURIKULUM PEND. ISLAM

193



1. menerima perkembangan dan perubuhan sesuai dg

perkembangan zaman dan tempat

2. keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dg

pengalaman dan aktivitas yg terkandung dl kkm.

KOMPETENSI PENDIDIK

194

Profesional









Kepribadian

Paedagogik









Sosial



Related docs
Other docs by Amang Fathurro...
nahw
Views: 96  |  Downloads: 0
bagan-t-test
Views: 483  |  Downloads: 1
konsep pengambilan keputusan
Views: 82  |  Downloads: 0
media
Views: 24  |  Downloads: 0
Konsep Dasar Evaluasi Diri di PT
Views: 37  |  Downloads: 4
bahan-ajar-micro-teaching
Views: 786  |  Downloads: 24
strategi pembelajaran
Views: 111  |  Downloads: 4
MENGEMBANGKAN INNER BEAUTY
Views: 188  |  Downloads: 0
leadhership
Views: 8  |  Downloads: 0
Skripsi komunikasi
Views: 2688  |  Downloads: 30
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!