Docstoc

jurnalistik dasar bagi pemula

Document Sample
jurnalistik dasar bagi pemula Powered By Docstoc
					                  Jurnalistik Dasar Bagi Wartawan Pemula:
                  Bagaimana Cara Menulis Berita Yang Baik

Menulis dengan jujur
     Fakta tidak boleh dipelintir. Opini dan penafsiran harus ditulis dalam alinea yang
berbeda. Boleh tidak netral, tapi harus independen.
     Reporter yang meliput berita di lapangan harus bersikap independen terhadap
semua pihak yang terkait dengan topik tulisannya. Berikan kesempatan yang sama bagi
semua narasumber untuk menjelaskan versi mereka, jangan memvonis kebenaran.
Wartawan boleh tidak netral, misalnya kalau harus memihak pada rakyat yang jadi
korban penindasan penguasa, namun harus selalu independen dengan memberikan
kesempatan pada penguasa untuk berbicara.

Perhatikan Tanda baca koma dan pola piramida terbalik
      Berhati-hatilah menggunakan tanda baca koma. Bila salah penempatan, maka
redaktur di kantor redaksi bisa salah memahami laporan anda. “Amir memukul, Budi
ditangkap polisi” (yang memukul ialah si Amir, kok malah Budi yang ditangkap) adalah
berbeda maknanya dengan “Amir memukul Budi, ditangkap polisi” (ini benar, yang
ditangkap adalah Amir).
      Menulis berita biasa haruslah dalam format piramida terbalik. Yang paling penting
di bagian paling atas; alinea-alinea di bawahnya semakin kurang penting. Saya sering
membaca berita koran daerah yang memuat nama-nama pejabat yang menghadiri sebuah
acara seremonial pada alinea kedua atau ketiga, padahal inti beritanya justru di alinea
kelima atau bahkan menjelang akhir.

Catat dengan detail. Dengarkan dengan cermat. Rekam, jangan andalkan ingatan
      Saya sering melihat reporter koran yang baru beberapa tahun bekerja melakukan
wawancara atau liputan berita di lapangan dengan tidak mencatat sama sekali! Manusia
dengan otak super! Bahkan hanya duduk di warung kopi dengan jarak seratusan meter
dari lokasi demo atau acara seremonial yang akan jadi topik beritanya. Tapi sepulang
meliput, dia bisa dengan santai menulis berita di komputer warnet, tanpa takut sedikit
pun bahwa kemungkinan ada data dan fakta yang salah-tulis.
      Wartawan pemula sering malu untuk bertanya, “Pak Kadis, ejaan nama Bapak
yang benar Jhonny atau Joni atau bagaimana?”
      Kalau narasumber mengucapkan kalimat dengan makna ganda atau kurang jelas,
tanyakan kembali dan tegaskan. Jangan sampai yang dia maksud adalah “Polisi belum
akan memeriksa dia” tapi anda tulis dalam berita sebagai “Polisi tidak akan memeriksa
dia”.

Tulis dalam kalimat yang jelas, lengkap, dan jernih
      Redaktur koran harian akan membiarkan naskah berita reporter yang ditulis dengan
kalimat yang membingungkan, karena dia dikejar tenggat menyelesaikan halamannya.
Kalau anda menulis berita kriminal tentang mencuri, maka sebutkan sejelas-jelasnya
SIAPA yang mencuri, SIAPA yang menjadi korban, dan APA yang dicuri. Jangan anda
malah asyik menulis BAGAIMANA pencurian itu terjadi, atau ajakan kapolsek agar
warga melakukan ronda malam.
     Yang paling mendasar dalam sebuah berita biasa ialah APA dan SIAPA, baru
kemudian DI MANA, KAPAN dan yang lainnya. Jangan tulis “Menurut Amir, bla-bla-
bla…” tanpa anda jelaskan siapa itu si Amir; apakah dia demonstran, penonton aksi
demo, atau pendukung pihak yang didemo.

Fokus pada topik berita. Jangan melebar ke sana-sini
       Sejak meliput dan wawancara di lapangan, reporter koran sudah harus tahu apa
topik atau sudut pandang laporannya. Bila memilih “nasib guru honorer berupah kecil”,
maka temuilah pihak-pihak yang terkait dengan isu tersebut. Selain wawancara dengan
guru, tanyai juga kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan, anggota DPRD dari komisi
yang membidangi pendidikan, pensiunan guru, dll. Jangan malah anda hanya mengutip
komentar aktivis LSM karena dia punya saudara yang baru diputus-kontrak sebagai guru
honorer.
       Kalau misalnya anda kesal melihat seorang pejabat yang suka berindehoi di kafe-
kafe malam, maka liputlah itu secara khusus dan jangan selipkan pada berita bertopik
lain, “Ditanya mengenai dugaan korupsi stafnya, Kepala Dinas yang sering berdisko di
Tenda Biru ini mengatakan….” Terlalu nampak „kali tak dikasih amplop. Malu kita
sebagai wartawan.

Tulis dengan proporsional, jangan berlebihan
       Ini kelemahan banyak reporter koran di daerah. Fakta yang diaperoleh dari
narasumbernya, katakanlah kejaksaan, adalah bahwa Kabag Umum sedang diselidiki
terkait kasus dugaan penggelembungan dana pembelian seprai dan gorden rumah dinas
bupati. Tapi kemudian ditulisnya dalam berita “Tapanuli Utara sarang korupsi”. Jika anda
ingin menulis berita Tapanuli Utara sebagai sarang korupsi, maka beberkanlah sekian
banyak data kasus korupsi di daerah itu.
       Ada wartawan koran menulis berita “Dengan arogannya Camat menjawab via
telepon bahwa…” hanya karena si narasumber berbicara ketus-ketus.
       Sebaliknya reporter lain yang baru mendapat amplop tebal dari pejabat mengirim
naskah berita ke redaksinya “Bupati yang sangat dicintai rakyatnya ini mengatakan…,”
padahal si bupati baru saja ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan beberapa kali
didemo warga.
       Periksa kalimat kutipan, pernyataan off the record, konfirmasi, dan “ucapan di
kedai kopi”.
       Jangan biarkan beritamu memiliki celah untuk digugat ke pengadilan. Jika harus
menulis kalimat langsung, maka tulislah seperti apa adanya diucapkan oleh narasumber.
Bila dia mengucapkan kalimat dalam bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, telitilah saat
menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
       Saat melihat catatan atau mendengar rekaman wawancara, jika anda bingung atau
lupa mana bagian informasi yang merupakan pernyataan off the record (tidak untuk
ditulis) dan mana yang bukan, tunda dulu menuliskan bagian itu sebelum berhasil
mempertanyakan kembali pada narasumber berita.
       Si A menuding si B. Apakah anda sudah melakukan konfirmasi pada si B? Jika
belum, jangan dulu menulis berita itu. Kalaupun harus, karena alasan-alasan tertentu,
seperti deadline atau faktor kemenarikan topik berita, maka samarkanlah secara total
identitas si B. Kalau si A menuding si B dalam tiga hal, maka konfirmasinya tidak boleh
hanya menyangkut satu hal.
      Wartawan koran duduk-duduk santai bersama pejabat dan politikus di kedai kopi,
lalu ada seorang pejabat yang melontarkan pernyataan menarik, kemudian si reporter
mengutip kalimat tadi dalam beritanya dengan menuliskan nama si pejabat. Jangan
lakukan yang begini. Anda harus kembali menemui si pejabat untuk meminta izin apakah
kalimatnya itu boleh anda kutipkan ke dalam berita.
      Yang terakhir, dan ini sangat mendasar: Patuhilah kode etik jurnalistik yang
melarang wartawan melakukan plagiat atau menjiplak.
      Jangan kira jika anda mengutip beberapa kalimat berita dari koran lain, atau
menyadur bahan dari Internet, maka hal itu tidak akan ketahuan. Percayalah, cepat atau
lambat akan ada pembaca yang komplain dan menyampaikannya kepada redaksi anda di
kantor. Jika begitu, karir kewartawanan anda sudah sedang di ujung tanduk. Redaktur
anda akan wanti-wanti untuk menerbitkan berita yang anda laporkan, dan koran lain pun
akan berpikir keras untuk menerima lamaran dari wartawan tukang jiplak.


       Lead ringkasan
       Lead ini sama dengan yang dipakai dalam penulisan "berita keras". Yang
ditulis hanya inti ceritanya, dan kemudian terserah pembaca apakah masih
cukup berminat untuk mengikuti kelanjutannya.
       Lead yang bercerita.
       Lead ini, yang digemari penulis fiksi (novel atau cerita pendek), menarik
pembaca dan membenamkannya. Tekniknya adalah menciptakan satu suasana
dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat
kekosongan yang kemudian secara mental akan diisi oleh pembaca, atau dengan
membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengah-tengah kejadian yang
berlangsung.
* Kami makan anggur kematian, dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan
asam. Mereka menggantungkan setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik
muslim yang istrinya belum lama tewas oleh bom orang Serbia. Ini senja di Bosnia, langit
sama biru tuanya dengan anggur-anggur itu. (TEMPO, 27 Maret 1993, "Potret Berdarah
dari Dalam").
       Lead deskriptif.
       Lead deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca
tentang suatu tokoh atau tempat kejadian. Lead ini cocok untuk menulis profil
pribadi.
       lead deskriptif menempatkan pembaca beberapa meter di luarnya, dalam
posisi menonton, mendengar, dan mencium baunya.
       Bola mata Juani berkaca-kaca ketika mengintip kemenakannya, Soleka, yang sedang
mandi sore itu. Dari balik pagar sumur yang jarang, ia melihat kain basahan Soleka sering
tersibak (TEMPO, 2 Januari 1993, "Kasmaran Maut di Sarang Elang").
       Lead kutipan.
      Kutipan yang dalam dan ringkas bisa membuat lead menarik, terutama bila
yang dikutip orang yang terkenal. Kutipan harus bisa memberikan tinjauan ke
dalam watak si pembicara.
      * "Tangkap hidup atau mati." (TEMPO, 29 Januari 1994, "Hidup atau Mati:
Gendut Dicari").
      Lead pertanyaan.
      Lead ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu
pembaca. Dalam banyak hal, lead ini cuma taktik. Penulis yang menggunakan
lead ini tahu bahwa ada pembaca yang sudah tahu jawabannya, ada yang belum.
Yang ingin ditimbulkan oleh lead ini rasa ingin tahu pembaca: yang belum tahu,
mestinya terus ingin membacanya; sedangkan yang sudah tahu dibuat ragu-ragu
apakah pengetahuannya cocok dengan informasi penulis.
Berapa gaji Presiden Soeharto sekarang? (TEMPO, 23 Januari 1993, Presiden Naik,
DPR Naik).
      Lead menuding langsung.
      Bila penulis berkomunikasi langsung dengan pembaca, ini disebut lead
menunjuk langsung. Ciri-ciri lead ini adalah ditemukannya kata "Anda" yang
disisipkan pada paragraf pertama atau di tempat lain.
      Keuntungannya jelas. Pembaca -- kadang-kadang tidak secara sukarela --
menjadi bagian cerita. Penyusunan kata-katanya melibatkan Anda secara pribadi
dalam cerita itu.
      * Bila Anda punya nama "kodian", harap hati-hati. Salah-salah Anda kena cekal,
tak boleh ke luar negeri (TEMPO, 30 Januari 1993, "Gara-gara Nama Sama".)
      Lead penggoda.
      Lead penggoda ini adalah cara untuk "mengelabui" pembaca dengan cara
bergurau. Tujuan utamanya menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya
supaya membaca seluruh cerita.
      Lead jenis ini biasanya pendek dan ringan. Umumnya dipakai teka-teki,
dan biasanya hanya memberikan sedikit, atau sama sekali tidak, tanda-tanda
bagaimana cerita selanjutnya.
      * Angka yang ditunggu-tunggu itu keluar juga: sekitar 50. (TEMPO, 4 Januari
1992, "Angka Misterius Santa Cruz".)
      Lead nyentrik.
      Hijau sayuran
      Putihlah susu
      Naik harga makanan
      Ke langit biru
      Reporter yang imajinatif -- meskipun tidak puitis

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:104
posted:11/3/2011
language:Indonesian
pages:4