Docstoc

Filsafat Ilmu Pengetahuan

Document Sample
Filsafat Ilmu Pengetahuan Powered By Docstoc
					FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
PENDAHULUAN

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa
Arab , yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini,
kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta
dsb.) dan (sophia = ―kebijaksanaan‖). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang ―pencinta
kebijaksanaan‖ atau ―ilmu‖. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal
di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia
seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut ―filsuf‖. Definisi kata filsafat bisa
dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan
bahwa ―filsafat‖ adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis. ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-
eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara
persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk
solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses
dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog.
Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.Dewasa ini, kita
dapat melihat akan adanya dominasi ‖cara berpikir‖yang dilakukan oleh para pemikir
barat. Penguasaan tersebut telah menguasai hampir seluruh dunia; karena barat telah
berhasil mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus peradabanya. Bagi negara
berkembang ketergantungan akan dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihatdari
kacamata filsafa, barat berhasil dalam mengembangkan dan menanamkan ‖cara
berpikirnya‖. Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada hakekatnya berupa tradisi
pemikiran yang diambil dan dilahirkan dizaman Yunani kuno. Dengan kata lain, bahwa
filsafat Yunani Kuno dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat (pemikiran) Barat. Para
ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep tentang asal muasal alam. Corak dan sifat
dari pemikiranya bersifat mitologik (keteranganya didasarkan atas mitos dan kepercayaan
saja). Namun setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir alam seperti Thales (624-
548 SM), Anaximenes (590-528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475 SM),
Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi pemikir lainya, maka pemikiran filsafat
berkembang secara cepat kearah kemegahanya.Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat
beralih kearah manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini dikenal dengan masa
antropologis. Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates, Plato, Aristoteles.
Pada Ahirnya Filsafat membentuk ruang lingkup yang semakin luas serta dengan
beraneka ragam permasalahan. Pemikiran filsafati pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dibuktikan dengan apa yang
dikemukakan oleh Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang dapat
dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran, dan membagi filsafat menjadi ilmu
pengetahuan, poetis, ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang tersebut cinta dan ingin selalu
berteman dengan kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)Perkembangan filsafat hingga
zaman Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai mengarah pada Tuhan (Teosentris)
dan Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya. Tuhan dan segala sesuatu menjadi
hakekat yang sama, lebih dikenal dengan ajaran Phanteisme (serba Tuhan).Mulai abad
permulaan masehi, perkembangan filsafat beralih ke Eropa. Hal ini disebabkan kekuasaan
kerajaan Roma yang luas sekali. Pemikiran filsafat di Eropa diwarnai dengan unsur-unsur
baru (Agama katholik). Unsur baru tersebut mendominasi pemikiran filsafat pada masa
itu. Dengan kata lain pemikiran filsafat didasarkan pada firman Tuhan, hal ini disebabkan
karena satu-satunya kebenaran dan kebijaksanaan ada pada firman Tuhan.Pada abad 12
dimana perkembangan filsafat mengalami peningkatan yang luar biasa, hal ini ditandai
dengan adanya Universitas-universitas, disamping ordo-ordo. Ordo semacam sekumpulan
orang dibawah seorang imam guna hendak mencapai kesempurnaan hidup, dengan
meninggalkan masyarakat ramai dan duniawi. Perkembangan ini ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti:Anselmus, Alberadus, Albertus Manfus. Pemikiran
filsafatnya berkisar tentang penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu dan juga
tentang universalia.Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan munculnya aliran-
aliran filsafat. Ini adalah masa dimana menuju pada filsafat modern. Yang menjadi dasar
timbulnya pemikiran kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang kongkrit. Pada masa
inipula di Eropa terjadi minat orang terhadap filsafat Yunani senakin besar dan berusaha
mengembalikan pemikiran tersebut. Masa ini dikelan dengan masa Renaisance.Pada
masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada individu yang konkrit sekaligus menjadi
subjek dan objeknya .masing-masing manusia menjadi barometer dalam menetapkan
sebuah dan menentukan akan kebenaran dan kenyataan. Dalam situasi macam ini
hubungan antara agama dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama ditinggalkan oleh
filsafat (Koentowibisono; 182;4). Masing masing kembali pada dasarnya sendiri, artinya
agama mendasarkan dir pada imam dan kepercayaan pada firman Tuhan dalam
menghadapi pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat mendasarkan diri pada akal dan
pengalaman. Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan pada abad ke 18, dikatakan
demikian karena adanya Tasionalisme, semakin lama kemampuan manusia akan menjadi
tumpahan harapan; pada ahirnya perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang mengarah
pada filsafat ilmu pengetahuan, dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha manusia
mengenai cara bagaimana caranya dan apa sarana yang dipakai untuk mencari kebenaran
dan kenyataan.Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai penyempurna pencerahan
sebab pemikiran filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan memberikan kepada
segala arah dikemudian hari.Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat terpecah belah,
ada filsafat Amerika, filsafat Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis dan lain lain. Pada
masa ini pemikiran filsafat mampu membentuk kepribadian terhadap masing-masing
bangsa dengan pemikiran dan cranya sendiri. Dengan demikian perlahan-lahan filsafat
kontemporer mulai tumbuh. Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun tokoh yang
mendominasi filsafat.Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul karena meragukan
kemampuan akal dan ilmu pengetahuan positif. Filsafat hidup yang berkembang di
seluruh eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya sendiri di pelbagai negara. Pada
ahirnya sebagian besar aliran filsafat menunjukan perbadeaan yang sangat tajam, akan
tetapi adanya kesamaan juga yaitu, reaksi terhadap pemikiran yang substansional-
metafisik. Kecenderungan kearah secara praktis terhadap filsafat dalam kaitanya dengan
manusia secara individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah dikatakan Van Peursen sebagai
pemikiran filsafat secara Fungsional (Koentowibisono, 1982;4).

PEMBAHASAN
Pemikiran Pemikiran Filsafat

   1. Humanisme, Humanisme berasal dari Barat dan mengalami perkembangan
      dalam lingkungan pemikiran filsafat Barat. Karena itu, untuk mengkaji dan
      menganalisis gerakan humanisme beserta pengaruhnya pada dasar-dasar
      epistemologi Barat sudah seharusnya merujuk ke berbagai ensiklopedia Barat
      yang akurat agar kajian bisa dilakukan secara ilmiah dan bebas dari berbagai
      kecenderungan subyektif. Dalam rangka ini, kita mengutip berbagai ensiklopedia
      yang tersedia, antara lain Encyclopedia of Philoshopy karya Paul Edward yang
      menjelaskan tentang humanisme sebagai berikut:Humanisme adalah sebuah
      gerakan filsafat dan literatur yang bermula dari Italia pada paruh kedua abad ke-
      14 kemudian menjalar ke negara-negara Eropa lainnya. Gerakan ini menjadi
      salah satu faktor munculnya peradaban baru. Humanisme adalah paham filsafat
      yang menjunjung tinggi nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya
      sebagai kriteria segala sesuatu. Dengan kata lain, humanisme menjadikan tabiat
      manusia beserta batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia sebagai
      obyek. Pada arti awalnya, humanisme merupakan sebuah konsep monumental
      yang menjadi aspek fundamental bagi Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan
      para pemikir sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan manusia di
      alam natural dan di dalam sejarah sekaligus meriset interpretasi manusia tentang
      ini. Istilah humanisme dalam pengertian ini adalah derivat dari kata-kata
      humanitas yang pada zaman Cicero dan Varro berarti pengajaran masalah-
      masalah yang oleh orang-orang Yunani disebut paidea yang berarti kebudayaan.
      Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan sebagai seni-seni bebas, dan
      ketentuan ini dipandang layak hanya untuk manusia karena manusia berbeda
      dengan semua binatang. Di bawah komando keluarga Medici atau setidaknya
      pada zaman merekalah para humanis mulai menarik perhatian dan mewarnai opini
      masyarakat Italia. Kaum humanis menggiring perhatian rakyat dari agama ke
      filsafat dan dari langit ke bumi. Kekayaan pikiran dan seni masa-masa kesyirikan
      dikembalikan kepada sebuah generasi yang terpukau. Sejak zaman Ariosto
      Ludovico, orang-orang yang gila ilmu pengetahuan ini mulai tenar dengan nama
      kaum humanis, sebab mereka membaca telaah kebudayaan klasik tentang
      humanitas (berkaitan dengan dunia manusia) atau humanuras (kesusasteraan yang
      lebih manusiawi, dan bukan berarti kesusasteraan yang lebih berprikemanusiaan,
      melainkan berarti kesusasteraan yang lebih banyak berkaitan dengan dunia
      manusia). Jadi, tema kajian yang paling tepat ialah manusia itu sendiri dengan
      kemampuan yang terpendam di dalam dirinya, dan keindahan jasmani dengan
      segala kesenangan dan penderitaan panca indera dan perasaannya dan dengan
      segala kekuatan akalnya yang menakjubkan. Poin-poin inilah yang mendapat
      perhatian penuh seperti yang pernah terjadi dalam kesusasteraan dan seni Yunani
      dan Romawi kuno.Ideologi-ideologi dibawah ini adalah ajaran-ajaran yang
      terbentuk berdasarkan paham humanisme:1. Komunisme, karena di dalam
      ideologi ini humanisme bisa menghapus keterasingan manusia dari dirinya akibat
      kepemilikan swasta dan sistem masyarakat kapitalisme. 2. Pragmatisme, karena
      pandangan yang menjadikan manusia sebagai orientasi, sebagaimana pandangan
      Protagoras, telah menjadikan manusia sebagai kriteria segala sesuatu.3.
   Eksistensialisme yang telah memberikan argumentasi bahwa tidak ada satupun
   alam yang sebanding dengan alam subyektivitas manusia. Dengan demikian,
   sebagian besar ajaran filsafat panca Renaisans secara mendasar telah dipengaruhi
   pikiran humanistik. Contohnya, komunisme yang sebagian besar pandangannya
   tertuangkan kepada masalah kerakyatan, pragmatisme yang ajarannya
   bersandarkan kepada esensi perbuatan manusia, personalisme yang meyakini
   spirit manusia memiliki daya pengaruh yang terbesar, dan eksistensialisme yang
   banyak memberikan penekanan kepada wujud aktual manusia, semuanya
   memandang manusia sebagai satu wujud yang bertumpu pada esensinya sendiri
   serta wujud dimana dirinya adalah pelaku dan tujuannya sendiri. Prinsip-prinsip
   pemikiran humanisme dimana yang terpenting ialah poin-poin sebagai berikut:
   1. Manusia adalah standar dan kriteria segala sesuatu. 2. Penekanan terhadap
   urgensi kembali kepada peradaban era klasik untuk menghidupkan kembali dan
   mengembangkan potensi dan kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu. 3.
   Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan dan ikhtiar manusia akibat
   kebencian kepada intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad pertengahan.
   4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan sebagai perantara antara Tuhan
   dan manusia. 5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan penentuan nasib, dan
   kekuasaan despotisme harus ditolak mentah-mentah. 6. Manusia adalah sentral
   alam semesta. . Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan. 8. Penolakan sistem-
   sistem tertutup filsafat, prinsip dan keyakinan-keyakinan agama, serta
   argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilai-nilai kemanusiaan.9.
   Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan perhatian mesti dipusatkan
   kepada faktor jasmani dan kenikmatan-kenikmatan fisik.10. Akal manusia adalah
   pimpinan manusia, dan status agama sebagai komando harus ditiadakan.11.
   Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan final segala aktivitas manusia.12.
   Manusia adalah binatang politik.13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
   pandangan metafisik atau agama, dan manusia adalah aktor yang memiliki
   wewenang mutlak dalam dunia politik.14. Dalam psikologi, setiap manusia
   diteliti sebagai satu spesis tunggal, dan bukan sebagai satu individu yang
   merupakan bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar ini, manusia berwenang
   untuk semata-mata mengikuti tatanan nilainya sendiri.15. Aktualisasi diri,
   pemeliharan diri dan peningkatan diri mesti dipelajari dalam setiap individu.16.
   Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah hasil lingkungannya.17.
   Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada dirinya.18. Kelayakan
   kepribadian setiap individu bisa terbentuk tanpa keimanan kepada Tuhan. 19.
   Keberadaan agama dipandang sebagai faktor superfisial yang diperlukan demi
   popularitas nilai-nilai kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun agama ini
   bisa jadi merupakan agama produk manusia ala August Comte.20. Penekanan
   terhadap persatuan antar segenap agama, baik agama yang berpangkal dari Nabi
   Ibrahim maupun agama khurafat.
2. Rasionalisme, Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650
   M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya
   ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
   menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap
   ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi
   landasan bagi seluruh pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis
   ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu ―saya ragu-
   ragu‖. Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa ―aku ragu-ragu‖. Jika aku
   menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan
   lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah ―cogito ergo
   sum‖, aku berpikir (= menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak
   dapat disangkal lagi. — Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu
   dengan ―jelas, dan terpilah-pilah‖ — ―clearly and distinctly‖, ―clara et distincta‖.
   Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar.
   Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran. Descartes
   menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu
   (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan (res extensa, ―extention‖)
   atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab
   sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
   mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil.
   Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak
   memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan
   sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang
   dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang
   meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas
   keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran
   sebagaimana malaikat. Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang
   manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki
   kecerdasan. (Mesin otomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti
   memiliki kecerdasan buatan). Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
   mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.
3. Positifisme, Aliran filsafat yang lain adalah Positivisme. Dasar-dasar filsafat ini
   dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte (1798-1857).
   Ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia berkembang secara evolusi dalam
   tiga tahap, yaitu teologis, metafisik, dan positif. Pengetahuan positif merupakan
   puncak pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah.
   Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam
   metafisika     ditolak,    karena     kebenarannya      sulit    dibuktikan    dalam
   kenyataan.Auguste Comte mencoba mengembangkan Positivisme ke dalam
   agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini terbukti dengan didirikannya
   Positive Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti
   memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang
   bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan
   Materialisme.
4. Empirisme, Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776),
   yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu
   dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah
   (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi
   merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Dua hal dicermati
   oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab
   yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada
       bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan
       langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal
       kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat
       disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang
       memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume.
       Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya?
       Bagi Hume, ―aku‖ tidak lain hanyalah ―a bundle or collection of perceptions (=
       kesadaran tertentu)‖. Kausalitas. Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya,
       misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak
       berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi
       tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian
       hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari
       ―probable‖ (berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa
       sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya
       dalam gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita bicara tentang
       ―hukum alam‖ atau ―sebab-akibat‖, sebenarnya kita membicarakan apa yang kita
       harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan
       atau perasaan kita saja. Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya
       bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada
       batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui
       persepsi indera kita.

Science / Ilmu Pengetahuan

‗Science‘ merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan
ilmiah, dan berisikan informasi yang memberikan gambaran tentang struktur dari sistem-
sistem serta penjelasan tentang pola-laku sistem-sistem tersebut. Sistem yang dimaksud
dapat berupa sistem alami, maupun sistem yang merupakan rekaan pemikiran manusia
mengenai pola laku hubungan dalamtatanan kehidupan masyarakat yang
diinstitusionalisasikan. Dalam bahasa Inggris dapat dirumuskan sebagai berikut: ‗Science
is a sub-set of the information set on [human] scientific knowledge that describes the
structure of systems and provides explanation on their behavioural patterns, wether
natural or human institutionalized ones’. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan
sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu
pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science
atau sains) dapat dibangun. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu
merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu
pengetahuan (Ash-Shadr 1995). Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan
beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang
mengandung makna universalitas. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu
pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi, epistemologi dan
aksiologi (Jujun 1990: 2). Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan
alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat
diterima sebagai pembenaran secara umum. Sampai sejauh ini, didunia akademik anutan
pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. Oleh
karena itu, proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai cara-cara tersendiri sehingga dapat
dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Dengan alasan
itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan
atau epistemologi, sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses
kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu (Didi 1997: 3).

Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan

Menurut Didi (1997) ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus
diperoleh dengan cara sadar, melakukan sesuatu tehadap objek, didasarkan pada suatu
sistem, prosesnya menggunakan cara yang lazim, mengikuti metode serta melakukannya
dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan
tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu
mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur,
harus memenuhi aspek metodologi, bersifat teknis dan normatif akademik. Pada
kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu,
perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Oleh karena
itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat
ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Filsafat ilmu dalam
perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu
pengetahuan, tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran
sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) (Herman 1999) dan John Locke
(aliran empirikal) (Ash-Shadr 1995) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan
empirisme pada proses berpikir. Kemampuan rasional dalam proses berpikir
dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses ―create‖ ilmu
pengetahuan (Hidajat 1984a). Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan
rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan
memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. Akan tetapi, salah satu
kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir
ilmiah sebagai cara berpikir rasional, sehingga dalam pandangan yang dangkal akan
mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang
rasional. Oleh sebab itu, hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari
berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan
ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan
melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Kalau
sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional, maka dengan meningkatnya
intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada
kecenderungan berpikir secara empiris. Dengan demikian penggabungan cara berpikir
rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah
hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah (Jujun 1990). Berdasarkan
terminologi, empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau
eksperimen, bukan teori (Kamus Dewan 1994: 336) atau sesuatu yang berdasarkan
pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah
dilakukan) (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 1995:262). Dengan demikian sesuatu yang
empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan),
hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta
yang sudah sempurna telah diamati, melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan.
Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang
tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung
penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan (Khan 1983).
Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan, menurut
pertimbangan atau pikiran yang wajar, waras (Kamus Dewan 1994: 1107) atau sesuatu
yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis, menurut pikiran yang sehat,
cocok dengan akal, menurut rasio, menurut nisbah (patut) (Kamus Besar Bahasa
Indonesia: 1995:820). Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan,
yaitu; pertama, penginderaan (sensasi) dan kedua, sifat alami (fitrah) (Ash-Shadr 1995:
29). Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman
rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan
dari proses penginderaan saja, karena proses penginderaan hanya merupakan upaya
memahami empirikal. Sementara, pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal
manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak
muncul dari hasil penginderaan saja. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh
kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif),
karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Sehingga
jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme, empirisme dan objektivitas maka
berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. Karena itu sesuatu yang
memiliki citra rasional, empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang
menjamin kebenarannya, dengan demikian rasionalisme, empirisme dan objektivitas
merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan (Hidajat 1984b). Dogma yaitu kepercayaan
atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang
ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang
benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan. Paradigma ialah lingkungan atau
batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan,
kemahiran, dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan, kerangka
berpikir (Kamus Dewan 1994: 311 & 978) dan (Kamus Umum Bahasa Indonesia 1995:
239 & 729). Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai
kaitan makna, karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer.
Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah
tidak dipertanyakan lagi, karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya (Hidajat
1984a). Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu
pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme, empirisme
dan objektivitas. Artinya, apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak
memenuhi aspek rasional, empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu
dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. Oleh karena itu membangun ilmu
pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang
membentuknya. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat
diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman, karena ilmu
pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri, tetapi harus mempunyai manfaat kepada
kehidupan dunia. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat
berkembang oleh dirinya sendiri, jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya
kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab
permasalahan kehidupan. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan
kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis, yaitu krisis yang
kompleks dan multidimensi (intlektual, moral dan spiritual) yang berdampak pada
seluruh aspek kehidupan (Capra 1999). Dengan demikian jika kita mempertanyakan
penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan
(realitas), maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk
mengatasi krisis yang cukup serius (Kuhn 1970).

Nilai Nilai Yang Ditimbulkan Science

   1. Teknologi, Teknologi merupakan bagian dari himpunan informasi yang termasuk
      dalampengetahuan ilmiah yang berisikan informasi preskriptif mengenai
      penciptaansistem-sistem dan pengoperasian sistem-sistem ciptaan tersebut.
      Pengertian yangdirumuskan ini tidak membatasi bahwa sistem yang dimaksud
      hanyalah sistem-sistem fisik (physical systems). Bila dinyatakan dalam bahasa
      Inggris, maka rumusan tentang teknologi terdahulu dapat dinyatakan sebagai
      berikut: ‗Technology is a sub-set of the information set on [human] scientific
      knowledge thatprovides prescriptive information on (a) the creation of systems
      and (b) the operation ofthose systems’. Bila informasi yang bersifat teknologis
      dioperasionalisasikan (operationalized), artinya petunjuk-petunjuk yang
      terkandung di dalam informasi tersebut diikuti dan dilaksanakan, terbentuklah
      sistem-sistem baru hasil ciptaan orang ataumasyarakat yang mengoperasikan
      teknologi tersebut. Orang sering memandang sistem-sistem yang terciptakan
      tersebut sebagai teknologi juga, dan pandangan demikian sebaiknya tak diikuti,
      karena menimbulkan kerancuan dalam pengembangan pemikiran selanjutnya.
      Lebih tepat bila sistem yang tercipta itu dinyatakan sebagai fenomena teknolgis
      atau technological phenomena. Teknologi yang berkorespondensi dengan suatu
      fenomena teknologis bukanlah yang tampak atau dirasakan sebagai fenomena
      teknologis tersebut, melainkan informasi preskriptif yang memungkinkan
      dilaksanakannya tindakan-tindakan hingga suatu sistem yang berupa fenomena
      teknologis tersebut terbentuk, atau teroperasikan. Teknologi merupakan bagian
      dari ilmu pengetahuan yang terkait dengan penciptaan sistem-sistem,
      sedangkan‗science‘ merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang terkait dengan
      penggambaran dan penjelasan mengenai sistem-sistem yang telah ada.
   2. Materialis, Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa
      hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal
      terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi
      adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham
      ontologi monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan
      pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang
      realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme adalah
      ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual
      dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada
      beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial,
      materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme
      historis.Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-
      satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi.
      Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas
   di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme
   dialektika Karl Marx.
3. Refleksi/reifikasi, Reifikasi adalah kecenderungan untuk mewujudkan segala
   kebudayaan dalam bentuk-bentuk, angka-angka atau kuantitas dan bentuk
   lahiriah. Kepuasan pekerjaan diukur dari segi material, tingkah laku lahiriah, rupa,
   suara dan bahasa yang bisa ditangkap oleh pancaindera. Hal ini tampak pada
   laporan pembangunan yang memperlihatkan keberhasilan-keberhasilan dengan
   angka, dalam kuantitas dan statistik perkembangan (time-series). Kecenderungan
   ini seringkali berlebihan misalnya dengan mengukur perasaan cinta, kesenangan,
   keindahan atau kebahagiaan. Karena itu yang bersifat mental atau rohaniah tidak
   tampak dan dirasakan. Di sinilah terjadinya pendangkalan pemaknaan
   kebudayaan. Sukses kesenian umpamanya, diukur dengan nilai komersial suatu
   pertunjukan. Ekses yang tampak adalah produksi massal dan komersialisasi
   barang-barang kesenian, yang menjadikan manusia sebagai alat produksi dan
   objek pemerasan, atau ritualisasi kegiatan ibadah atau bahkan komersialisasi
   agama.
4. Manipulasi, Manipulasi adalah kegiatan yang menyalahgunakan proses dan
   barang kebudayaan untuk kepentingan yang rendah, misalnya demi keuntungan.
   Manipulasi ini tampak dalam iklan yang mengelabui orang tentang suatu produk,
   misalnya melebih-lebihkan khasiat suatu obat atau mengubah informasi dampak
   negatif suatu barang konsumsi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Misalnya
   memperagakan rokok yang sebenarnya menggangu dan merusak kesehatan
   menjadi simbol kejantanan atau gaya hidup pria yang terhormat. Maksudnya
   adalah supaya barang itu laku dijual, padahal pengonsumsian atau penggunaannya
   akan merugikan, tetapi hal itu disembunyikan dengan mengelabui orang dengan
   video klip atau film-iklan. Manipulasi itu sering terkesan merupakan
   pembohongan publik, namun merupakan informasi yang efektif dan mengandung
   nilai komersial yang tinggi. Di sini yang banyak dimanipulasi adalah hasil karya
   kesenian atau dakwah keagamaan.
5. Pragmatisme, Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa
   benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada
   berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk
   bertindak dalam kehidupannya. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir
   Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya
   intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini.
   Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang
   kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey
   (1859-1952). Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan
   perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa, sebagaimana tak bisa diingkari pula
   adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih
   lanjut di Eropa. William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang
   diajarkannya, merupakan ―nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama‖. Dan dia
   sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme
   Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (1561-1626), yang kemudian
   dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704).
   Pragmatisme, di samping itu, telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai
      bentuknya, baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan
      Neopositivisme. Pragmatisme, tak diingkari telah menjadi semacam ruh yang
      menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme, yang telah disebarkan
      Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. Dalam
      konteks inilah, Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah
      mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia–yakni standar kebenaran
      pemikiran dan standar perbuatan manusia– sebagaimana akan diterangkan
      nanti. Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada
      Empirisme, kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman (Hegel) pada John
      Dewey, seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh
      pada zamannya. Selain John Dewey, tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles
      Pierce dan William James.

   6. individualisme, Individualisasi adalah kecenderungan memecah masyarakat
      menjadi individu-individu yang dikemudikan oleh kepentingan pribadi (self-
      interest) yang sempit. Sebenarnya dampak individualisasi itu perlu dibedakan
      antara individualisme dan egoisme. Individualisme adalah paham yang
      menghargai individu dan menghormati diri pribadi seseorang yang otonom yang
      memiliki hak-hak asasi dalam suatu negara atau masyarakat. Individualisme itu
      melahirkan penghargaan pada diri sendiri, tetapi harus juga menghargai individu
      yang lain. Individualisme adalah juga penghargaan pada hak-hak pribadi,
      misalnya hak milik dan kebebasan. Tetapi hak milik dan kebebasan seseorang itu
      dibatasi oleh hak milik dan kebebasan orang lain. Karena itu, maka
      individualisme menghasilkan kebebasan dan otonomi individu tetapi juga
      sekaligus kewajiban-kewajiban asasi individu terhadap masyarakat. Dampak lain
      individualisasi adalah egoisme, yaitu sikap yang mementingkan diri sendiri
      dengan mengabaikan kepentingan orang lain. Egoisme ini adalah penyimpangan
      dari tujuan kebudayaan, sedangkan individualisme, jika dipahami dan
      dipraktekkan secara benar, masih berada dalam ruang lingkup kebudayaan, karena
      individualisme memberikan penghargaan dan pemuliaan kepada manusia sebagai
      individu. Namun individualisme ini bisa kebablasan menjadi egoisme karena
      melepaskan dirinya dari masyarakat. Karena itu maka individualisme harus
      diimbangi dengan prinsip-prinsip komunitarian karena individu itu tidak mungkin
      ada atau berfungsi tanpa komunitas. Kombinasi antara individualisme dan
      komunitarianisme, yang merupakan harmonisasi, jalan tengah dan moderasi itulah
      yang membentuk kebudayaan.

Krisis Abad 20

Dengan terbitnya buku Newton (pada tahun 1686) yang berjudul ―Philosophiae Naturalis
Principia Mathematica‖ maka muncullah suatu babak baru dalam dunia sains modern.
Teori gravitasi Newton telah mendorong ilmu pengetahuan berkembang pesat di dunia
Barat. Perkembangan IPTEK tersebut ditandai oleh adanya rentetan temuan-temuan baru
seperti temuan tentang listrik (Michael Faraday), gaya elektromagnetik (James Clerk
Maxwell, 1870) dalil temuan Sinar-X (Henry Bacquerel). Dengan adanya penemuan
tersebut maka banyak masalah praktis dalam kehidupan manusia yang dapat diselesaikan
dengan cepat dan tepat. Manusia mulai menikmati dan mendapatkan kemudahan-
kemudahan dalam perkembangan teknologi pangan/pertanian, transportasi, genetika,
industri dan komunikasi. Dampak dari kemajuan IPTEK tersebut adalah terjadinya
akselerasi pertumbuhan penduduk dan peningkatan kemakmuran yang sangat pesat.
 Puncak perkembangan IPTEK terjadi mulai awal abad 20 yang ditandai dengan
munculnya Tcori RelatiFitas Einstein (1905). Teori ini menyatakan bahwa empat
komponen mekanistis yakni zat, gerak, ruang dan waktu (yang diasumsikan bersifat
absolut oleh Newton) merupakan sesuatu yang bersifat relatif. Zat pada prinsipnya hanya
merupakan bentuk lain dari energi, dengan rumus yang termasyur E = mc2. Dengan kata
lain, munculnya teori ini sekaligus mengakhiri era kejayaan Newtonian. Teori Relativitas
tersebut ternyata dalam waktu relatif singkat mendorong terjadinya revolusi besar di
bidang pemanfaatan energi atom, komunikasi persenjataan dan bahkan sampai ke
penjelajahan ruang angkasa. Sekali lagi, seolah-olah manusia dilecut untuk melihat
kenyataan bahwa rasio atau akal telah ‗memandu‘ dunia ke era yang spektakuler. Rasio
seolah-olah menjadi tumpuan dan harapan utama dalam pengembangan kehidupan
manusia di dunia Barat maupun di kalangan masyarakat lain yang berkiblat ke dunia
Barat. Tahta‘ kejayaan rasio Barat mulai tergetar saat born atom yang dianggap
merupakan salah satu ―produk gemilang‖ IPTEK, menelan korban ratusan ribu jiwa
manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Manusia mulai tergelitik untuk
berpikir ―apakah rasio manusia boleh tetap dibiarkan terus menjelajah bebas tanpa
kendali?‖. Sampai di penghujung abad 20, kemajuan IPTEK masih terus berjalan pesat,
bahkan temuan temuan terkini di bidang telekomunikasi, komputerisasi dan keruang-
angkasaan telah membuat seolah-olah bumi menjadi sebuah titik kecil di tengah
belantara rasio‖. Namun demikian kegelisahan semakin terasa mengingat manusia
semakin diperhadapkan pada kenyataan yang bersifat kontroversial dengan ‗apa yang
diharapkan orang dari penjelajahan rasionya .Kemajuan pesat IPTEK Barat telah
menunjukan bukti munculnya kehancuran.

Filsafat Pancasila

Sebagai filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila telah menjadi obyek
aneka kajian filsafat. Antara lain terkenalah temuan Notonagoro dalam kajian filsafat
hukum, bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.
Sekalipun nyata bobot dan latar belakang yang bersifat politis, Pancasila telah dinyatakan
dalam GBHN 1983 sebagai ―satu-satunya azas‖ dalam hidup bermasyarakat dan
bernegara. Tercatat ada pula sejumlah naskah tentang Pancasila dalam perspektif suatu
agama karena selain unsur-unsur lokal (―milik dan ciri khas bangsa Indonesia‖) diakui
adanya unsur universal yang biasanya diklaim ada dalam setiap agama. Namun rasanya
lebih tepat untuk melihat Pancasila sebagai obyek kajian filsafat politik, yang berbicara
mengenai kehidupan bersama manusia menurut pertimbangan epistemologis yang
bertolak dari urut-urutan pemahaman (―ordo cognoscendi―), dan bukan bertolak dari
urut-urutan logis (―ordo essendi―) yang menempatkan Allah sebagai prioritas
utama. Menurut Hardono Hadi, jika Pancasila menjadi obyek kajian filsafat, maka harus
ditegaskan lebih dahulu apakah dalam filsafat Pancasila itu dibicarakan filsafat tentang
Pancasila (yaitu hakekat Pancasila) atau filsafat yang terdapat dalam Pancasila (yaitu
muatan filsafatnya). Mengenai hal ini evidensi atau isyarat yang tak dapat diragukan
mengenai Pancasila terdapat naskah Pembukaan UUD 1945 dan dalam kata ―Bhinneka
Tunggal Ika‖ dalam lambang negara Republik Indonesia. Dalam naskah Pembukaan
UUD 1945 itu, Pancasila menjadi ―defining characteristics” = pernyataan jatidiri bangsa
= cita-cita atau tantangan yang ingin diwujudkan = hakekat berdalam dari bangsa
Indonesia. Dalam jatidiri ada unsur kepribadian, unsur keunikan dan unsur identitas diri.
Namun dengan menjadikan Pancasila jatidiri bangsa tidak dengan sendirinya jelas apakah
nilai-nilai yang termuat di dalamnya sudah terumus jelas dan terpilah-
pilah. Sesungguhnya dalam kata ―Bhinneka Tunggal Ika‖ terdapat isyarat utama untuk
mendapatkan informasi tentang arti Pancasila, dan kunci bagi kegiatan merumuskan
muatan filsafat yang terdapat dalam Pancasila. Dalam konteks itu dapatlah
diidentifikasikan mana yang bernilai universifal dan mana yang bersifat lokal = ciri khas
bangsa Indonesia. ‖Bhinneka Tunggal Ika‖ secara harafiah identik dengan ―E Pluribus
Unum‖ pada lambang negara Amerika Serikat. Demikian pula dokumen Pembukaan
UUD 1945 memiliki bobot sama dengan ―Declaration of Independence‖ negara tersebut.
Suatu kajian atas Pancasila dalam kacamata filsafat tentang manusia menurut aliran
eksistensialisme disumbangkan oleh N Driyarkara. Menurut Driyarkara, keberadaan
manusia senantiasa bersifat ada-bersama manusia lain. Oleh karena itu rumusan filsafat
dari Pancasila adalah sebagai berikut: Aku manusia mengakui bahwa adaku itu
merupakan ada-bersama-dalam-ikatan-cintakasih (―liebendes Miteinadersein―) dengan
sesamaku. Perwudjudan sikap cintakasih dengan sesama manusia itu disebut
―Perikemanusiaan yang adil dan beradab‖. Perikemanusiaan itu harus kujalankan dalam
bersama-sama menciptakan, memiliki dan menggunakan barang-barang yang berguna
sebagai syarat-syarat, alat-alat dan perlengkapan hidup. Penjelmaan dari
perikemanusiaan ini disebut ―keadilan sosial‖. Perikemanusiaan itu harus kulakukan juga
dalam memasyarakat. Memasyarakat berarti mengadakan kesatuan karya dan agar
kesatuan karya itu betul-betul merupakan pelaksanaan dari perikemanusiaan, setiap
anggauta harus dihormati dan diterima sebagai pribadi yang sama haknya. Itulah
demokrasi = ―kerakyatan yang dipimpin …‖. Perikemanusiaan itu harus juga kulakukan
dalam hubunganku dengan sesamaku yang oleh perjalanan sejarah, keadaan tempat,
keturunan, kebudayaan dan adat istiadat, telah menjadikan aku manusia konkrit dalam
perasaan, semangat dan cara berfikir. Itulah sila kebangsaan atau ―persatuan
Indonesia‖. Selanjutnya aku meyakini bahwa adaku itu ada-bersama, ada-terhubung,
serba-tersokong, serba tergantung. Adaku tidak sempurna, tidak atas kekuatanku sendiri.
Adaku bukan sumber dari adaku. Yang menjadi sumber adaku hanyalah Ada-Yang-
Mutlak, Sang Maha Ada, Pribadi (Dhat) yang mahasempurna, Tuhan yang mahaesa.
Itulah dasar bagi sila pertama: ―Ketuhanan yang mahaesa‖. Profesor Kartohadiprodjo
menjadi pelopor penelitian filsafat Pancasila dengan metode genetivus subjektivus.
 Pangkal filsafat Pancasila menurutnya ialah pemikiran pemikiran kekeluargaan yang lain
samasekali dengan individualisme. Salah satu analisis yang menarik adalah berkenaan
dengan proklamasi 1945 yang menurut sudut ketatanegaraan merupakan suatu
pemberontakan atu revolusi. Revolusi yang dimaksud adalah sebagai revolusi enuju jiwa
yang baru sebagai impersif yang radikal agar bangsa Indonesia kembali ke jiwa bangsa
yakni Pancasila. Dalam analisis filsafatnya Kartohadiprojo menjelaskan bahwa Pancasila
dasarnya bukan individu bebas melainkan individu terikat dalam artian kekeluargaan.
Teorema ini di jelaskan dengan sekaligus membangun basis Pancasila, yakni:a.
Pancasila adalah Filsafat bangsa Indonesia dalam arti pandang dunia. Sebagai pandangan
dunia, dengan kata lain filsafat, ia bersistem, dan sila-sila Pancasila saling kait mengkait
secara bulat. Kebulatan itu menunjukan hakekat maknanya sedemikian rupa sehingga
memenuhkan bangun filsafat Pncasila itu jika substansinya memang sesuai dengan isi
jiwa bangsa Indonesia turun temurun. Isi jiwa inilah yang merupakan alat pengukur benar
tidaknya isi yang diberikan itu benar-benar filsafat Pancasila.b. Pancaran jiwa suatu
bangsa adalah dalam kebudayaanya dan didalamnya salah satu subsistem normatifnya
adalah suatu sistem hukum adat sebagai tipe hukum tersendiri dalam kebudayaan
Indonesia. Azaz hukum adat dapat dipakai sebagai tolok ukur isi jiwa bangsa
Indonesia.c. Pangkal filsafat Pancasila adalah kekeluargaan, artinya adalah menyati
yang terbangun dari perbedaan. Prinsip dasar keeluargaan adalah kesatuan dalam
perbedaan dan perbedaan dalam kesatuan. Oleh sebab itu yang menjadi substansi hakiki
filsafat pancasila tercermin dalam hukum adat.d. Adapun cara berpikir filsafat yang
dilakukan Kartohadiprodjo guna menunjukan saling kait antara kelima sila dalam
pancasila adalah sebagai berikut: Bangsa Indonesia percaya pada Tuhan, yang
menciptakan manusia dalam satu umat, yang dalam kenyataanya tersebar di seluruh muka
bumi dalam kelompok-kelompok bangsa untuk menemukan kebahagiaan dalam
hidupnya, yang harus dicapai dengan cara mufakat. Dalam azas kekeluargaan itu berakar
pada dalil filosofis: Kesatuan dalam perbedaan, perbedaan dalam kesatuan.e. Pancasila
sebagai filsafat negara mengandung makna derivatif dan pengkhususan dari Pncasila
sebagai sistem filsafat atau pandangan dunia. Garis besar pemikiran Soekarno tentang
Pancasila diantaranya adalah: a. Wawasan kebangsaan, yang teristimewa dalam
pengkhususan sebagai filsafat persatuan. Obsesi Soekarno untuk persatuan bangsa amat
mencolok sampai mencanangkan Nasakom dalam rezim orde lama.b. Nasionalisme,
filsafat nasionalisme sukarno bukanlah chauvimisme, melainkan nasionalisme yang lebar
yang timbul daripada pengetahuan atas susunan dunia dan riwayat; nasionalisme yang
menjalankan rasa hidupnya sebagai sebuah bakti; yang memberikan tempat pada bangsa
lain; yang menjadi kita hidup dalam roh.c. Pancasila berpangkal pada pikiran
kekeluargaan dan kegotongroyongan yang membuang pemikiran individualisme.
Keadilan sosial menurut Soekarno merupakan protes yang maha hebat terhadap
individualisme.d. Sosialisme dan sosio demokrasi, sosialisme adalah nasionalisme yang
berperikemanusiaan, keberesan negeri dan keberesan reeki. Sosiodemokrasi adalah
demokrasi sejati yang menimbulkan keberesan politik dan keberesan ekonomi.
Sosiodemokrasi        adalah    demokrasi       politik     dan    demokrasi       ekonomi.


KESIMPULAN

Hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan
filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu
digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah
kehidupan.
HUBUNGAN AGAMA DAN FILSAFAT DI BARAT
                                       Oleh: Biyanto

Pendahuluan

Menurut catatan sejarah, filsafat Barat bermula di Yunani. Bangsa Yunani mulai
mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar
abad VI SM. Perkembangan pemikiran ini menandai usaha manusia untuk mempergunakan akal
dalam memahami segala sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio filsafat Barat berkembang
menjadi titik tolak pemikiran Barat abad pertengahan, modern dan masa berikutnya. Disamping
menempatkan filsafat sebagai sumber pengetahuan, Barat juga menjadikan agama sebagai
pedoman hidup, meskipun memang harus diakui bahwa hubungan filsafat dan agama
mengalami pasang surut. Pada abad pertengahan misalnya dunia Barat didominasi oleh
dogmatisme gereja (agama), tetapi abad modern seakan terjadi pembalasan terhadap agama.
Peran agama di masa modern digantikan ilmu-ilmu positif. Akibatnya, Barat mengalami
kekeringan spiritualisme. Namun selanjutnya, Barat kembali melirik kepada peranan agama agar
kehidupan mereka kembali memiliki makna.Makalah ini akan mendiskripsikan hubungan
filsafat dan agama di Barat sebagai sebuah survei sejarah lintas periode.

Pengertian Agama

 Agama memang tidak mudah diberi definisi, karena agama mengambil berbagai bentuk sesuai
dengan pengalaman pribadi masing-masing. Meskipun tidak terdapat definisi yang universal,
namun dapat disimpulkan bahwa sepanjang sejarah manusia telah menunjukkan rasa “suci”,
dan agama termasuk dalam kategori “hal yang suci”. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur
dengan tingginya nilai yang tidak terbatas yang diberikan kepada obyek yang disembah.
Hubungan manusia dengan “yang suci” menimbulkan kewajiban, baik untuk melaksanakan
maupun meninggalkan sesuatu.Di dalam setiap agama, paling tidak ditemukan empat ciri khas.
Pertama, adanya sikap percaya kepada Yang Suci. Kedua, adanya ritualitas yang menunjukkan
hubungan dengan Yang Suci. Ketiga, adanya doktrin tentang Yang Suci dan tentang hubungan
tersebut. Keempat, adanya sikap yang ditimbulkan oleh ketiga hal tersebut.Agama-agama yang
tumbuh dan berkembang di muka bumi, sesuai dengan asalnya, dapat dikelompokkan menjadi
dua. Pertama, agama samawi (agama langit), yaitu agama yang dibangun berdasarkan wahyu
Allah. Kedua, agama ardli (agama bumi), yaitu agama yang dibangun berdasarkan kreasi
manusia.

Agama Universal di Barat

 Sebelum dijelaskan tentang agama universal di Barat, perlu diketahui agama bangsa Yunani
secara garis besar. Bangsa Yunani sebelum mengenal dewa-dewa, mereka memuja dan
menyembah daya-daya alam, roh nenek moyang dan pimpinan tertinggi dari anggota
keturunan. Kemudian, mereka melakukan pemujaan terhadap para dewa yang dipusatkan di
gunung Olympia, sebagaimana diceritakan Homerus dan Hesiodes dalam syair-syair mereka.
Hal ini terjadi berabad-abad lamanya hingga datangnya agama Yahudi dan Nashara. Sementara
itu, agama universal adalah agama yang kepercayaannya disajikan untuk semua umat manusia.
Agama ini menganggap dirinya punya kebenaran penuh tentang realitas, pengetahuan, dan
nilai, sehingga pemeluknya merasa berkewajiban menyampaikan kepada semua umat manusia.
Agama universal yang dimaksud di sini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam.
Agama dan Filsafat Barat Klasik

Masa Pra-Sokrates

Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk
berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya
tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani. Menurut Barthelemy, kebebasan berpikir
bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan
pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan
Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan
kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan.Pada masa Yunani kuno, filsafat
secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan
peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM), yang
menyatakan bahwa esensi segala sesuatu adalah air, belum murni bersifat rasional. Argumen
Thales masih dipengaruhi kepercayaan pada mitos Yunani. Demikian juga Phitagoras (572-500
SM) belum murni rasional. Ordonya yang mengharamkan makan biji kacang menunjukkan
bahwa ia masih dipengaruhi mitos. Jadi, dapat dikatakan bahwa agama alam bangsa Yunani
masih dipengaruhi misteri yang membujuk pengikutnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa
mitos bangsa Yunani bukanlah agama yang berkualitas tinggi.Secara umum dapat dikatakan,
para filosof pra-Socrates berusaha membebaskan diri dari belenggu mitos dan agama asalnya.
Mereka mampu melebur nilai-nilai agama dan moral tradisional tanpa menggantikannya dengan
sesuatu yang substansial.

Periode Athena

Hampir bersamaan dengan filsafat atomis, muncul para filosof yang mengalihkan obyek
pemikiran manusia dari alam ke arah pemikiran tentang manusia sendiri. Filosof-filosof ini
disebut dengan kaum sophis yang dipelopori oleh Protagoras (485-420 SM). Menurutnya, segala
fenomena menjadi relatif bagi subyektifitas manusia. Ia mengklaim manusia sebagai ukuran
kebenaran dengan istilah “homo mensura”. Kaum sophis berpendapat bahwa manusia menjadi
ukuran kebenaran. Tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal, kebenaran hanya berlaku
secara individual. Mereka menggunakan retorika sebagai alat utama untuk mempertahankan
kebenaran. Tidak adanya ukuran kebenaran yang bersifat umum berdampak negatif, yaitu
terciptanya kekacauan tentang kebenaran, semua teori pengetahuan diragukan, serta
kepercayaan dan doktrin agama diabaikan.Kaum sophis mendapat imbangannya dalam diri
seorang alim yang merupakan guru teladan sepanjang jaman (the greatest teacher of all time) yang
bernama Socrates (470-399 SM). Ia tidak menerima kepercayaan yang diabdikan pada sejumlah
berhala, sebab baginya Tuhan adalah tunggal. Menurutnya, kebenaran umum itu ada, yaitu
kebenaran yang diterima setiap orang. Pemikiran tersebut dilanjutkan oleh Plato (429-348 SM).
Bagi Plato, kebenaran umum itu memang ada; namanya adalah ide. Idealisme metafisiknya,
Tuhan adalah realitas yang tertinggi dan paling sempurna. Tuhan tidak mencipta sesuatu dari
yang tidak ada, tetapi dari sesuatu yang disebut “Dzat Primordial” yang berisikan seluruh unsur
asli alam. Selanjutnya, muncul Aristoteles (384-322 SM) yang meyakini Tuhan yang monoteistik
dan kekekalan jiwa manusia. Sampai periode ini, agama dan filsafat sama-sama dominan.
Sebelum perjalanan survei tentang agama dan filsafat Barat klasik diakhiri, perlu dikemukakan
pemikiran seorang filosof yang merumuskan kembali pemikiran Plato, terutama dalam
menjawab persoalan agama. Aliran ini dikenal dengan Neo-Platonisme yang dirintis oleh
Plotinus (205-70 SM). Doktrin pokok Plotinus adalah tiga realitas, yaitu jiwa (soul), akal (nous),
dan Yang baik (The Good). Hubungan ketiga unsur tersebut dikenal dengan Plotinus Trinity.
Menurut Plotinus, Tuhan bukan untuk dipahami, tetapi untuk dirasakan. Tujuan berfilsafat
(tujuan hidup secara umum) adalah bersatu dengan Tuhan. Rasa inilah satu-satunya yang
dituntun kitab suci. Filsafat rasional dan sains tidak penting, bahkan salah seorang murid
Plotinus, Simplicus, menutup sama sekali ruang gerak filsafat rasional. Filsafat Plotinus tumbuh
bersamaan dengan munculnya agama Kristen, dan dijadikan dasar oleh para pemuka agama
Kristen untuk mempertahankan ajaran-ajaran mereka.Akibatnya, orang-orang yang
menghidupkan filsafat dimusuhi dan dibunuh. Di antara korban kefanatikan agama Kristen
adalah Hypatia (370-415). Pada saat itu, gereja sedang mengadakan konsolidasi diri dan mencoba
untuk mengikis habis paganisme, dan filsafat dianggap sama dengan paganisme. Tidak lama
kemudian, gereja membakar habis perpustakaan Iskandaria bersama seluruh isinya. Puncaknya
pada tahun 529 M, Kaisar Justianus mengeluarkan undang-undang yang melarang filsafat di
Athena. Yang menarik dari pemikiran Plotinus dan Neo-Platonisme adalah pengalihan arah
pemikiran dari alam (kosmo sentris) dan manusia (antroposentris) kepada pemikiran tentang
Tuhan (theosentris), sehingga Tuhan dijadikan dasar segala sesuatu.

Agama dan Filsafat Barat Skolastik

Puncak terakhir filsafat Yunani adalah ajaran yang disebut Neo-Platonisme, yang ajarannya
banyak bernuansa nilai-nilai spiritual yang transenden. Pemikiran Neo-Platonisme sangat
berpengaruh terhadap perkembangan filsafat Kristen pada masa berikutnya.Sejak gereja (agama)
mendominasi, peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Karena, gereja telah membelokkan
kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada
tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan “The Scholastics”, sehingga periode ini disebut dengan
masa skolastik. Para filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan
filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja
secara rasional. Diantara filosof skolastik yang terkenal adalah Augustinus (354-430).
Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan,
yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma
bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dari yang tidak ada (creatio ex nihilo). Kehidupan
yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan.Ciri khas
filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (1033-1109), yaitu credo ut
intelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional
yang lebih mendahulukan pengertian dari pada iman.Menghadapi abad XII, Eropa membuka
kembali kebebasan berpikir yang dipelopori oleh Peter Abelardus (1079-1142). Ia menginginkan
kebebasan berpikir dengan membalik diktum Augustinus-Anselmus credo ut intelligam dan
merumuskan pandangannya sendiri menjadi intelligo ut credom (saya paham supaya saya
percaya). Peter Abelardus memberikan status yang lebih tinggi kepada penalaran dari pada
iman.Puncak kejayaan masa skolastik dicapai melalui pemikiran Thomas Aquinas (1225-1274). Ia
mendapat gelar “The Angelic Doctor”, karena banyak pikirannya, terutama dalam “Summa
Theologia” menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gereja. Menurutnya, pengetahuan berbeda
dengan kepercayaan. Pengetahuan didapat melalui indera dan diolah akal. Namun, akal tidak
mampu mencapai realitas tertinggi yang ada pada daerah adikodrati. Ini merupakan masalah
keagamaan yang harus diselesaikan dengan kepercayaan. Dalil-dalil akal atau filsafat harus
dikembangkan dalam upaya memperkuat dalil-dali agama dan mengabdi kepada Tuhan.Pada
tahap akhir masa skolastik terdapat filosof yang berbeda pandangan dengan Thomas Aquinas,
yaitu William Occam (1285-1349). Tulisan-tulisannya menyerang kekuasaan gereja dan teologi
Kristen. Karenanya, ia tidak begitu disukai dan kemudian dipenjarakan oleh Paus. Namun, ia
berhasil meloloskan diri dan meminta suaka politik kepada Kaisar Louis IV, sehingga ia terlibat
konflik berkepanjangan dengan gereja dan negara. William Occam merasa membela agama
dengan menceraikan ilmu dari teologi. Tuhan harus diterima atas dasar keimanan, bukan
dengan pembuktian, karena kepercayaan teologis tidak dapat didemonstrasikan.Pada abad
pertengahan, perkembangan alam pikiran di Barat amat terkekang oleh keharusan untuk
disesuaikan dengan ajaran agama (doktrin gereja). Perkembangan penalaran tidak dilarang,
tetapi harus disesuaikan dan diabdikan pada keyakinan agama.

Agama dan Filsafat Barat Modern

Di abad pertengahan, filsafat mencurahkan perhatian terhadap masalah metafisik. Saat itu sulit
membedakan mana yang filsafat dan mana yang gereja. Sedangkan periode sejarah yang
umumnya disebut modern memiliki sudut pandang mental yang berbeda dalam banyak hal,
terutama kewibawaan gereja semakin memudar, sementara otoritas ilmu pengetahuan semakin
kuat.Masa filsafat modern diawali dengan munculnya renaissance sekitar abad XV dan XVI M,
yang bermaksud melahirkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. Problem utama masa
renaissance, sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang
berbeda. Era renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang
kemanusiaan, baik sebagai individu maupun sosial.Di antara filosof masa renaissance adalah
Francis Bacon (1561-1626). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipisahkan dari teologi.
Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan, tetapi ia menganggap
bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu,
sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon
termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal
dan wahyu. Puncak masa renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang
dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme. Argumentasi yang
dimajukan bertujuan untuk melepaskan diri dari kungkungan gereja. Hal ini tampak dalam
semboyannya “cogito ergo sum” (saya berpikir maka saya ada). Pernyataan ini sangat terkenal
dalam perkembangan pemikiran modern, karena mengangkat kembali derajat rasio dan
pemikiran sebagai indikasi eksistensi setiap individu. Dalam hal ini, filsafat kembali
mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio manusia dapat
memperoleh kebenaran.Kemudian muncul aliran Empirisme, dengan pelopor utamanya,
Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran Empirisme berpendapat bahwa
pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun
lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk pengenalan yang
sempurna.Di tengah gegap gempitanya pemikiran rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan
baru di Inggris, yang kemudian berkembang ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini
dikenal dengan Aufklarung atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M.Pada
abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan
gereja, sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran).
Sebagai salah satu konsekwensinya adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada
gilirannya mendorong berkembangnya filsafat dan sains.Meskipun demikian, di antara pemikir
zaman aufklarung ada yang memperhatikan masalah agama, yaitu David Hume (1711-1776).
Menurutnya, agama lahir dari hopes and fears (harapan dan penderitaan manusia). Agama
berkembang melalui proses dari yang asli, yang bersifat politeis, kepada agama yang bersifat
monoteis. Kemudian Jean Jacques Rousseau (1712-1778) berjuang melawan dominasi abad
pencerahan yang materialistis dan atheis. Ia menentang rasionalisme yang membuat kehidupan
menjadi gersang. Ia dikenal dengan semboyannya retournous a la nature (kembali ke keadaan
asal), yakni kembali menjalin keakraban dengan alam.Tokoh lainnya adalah Imanuel Kant (1724-
1804). Filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau Filsafat Kritisisme. Menurutnya,
pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam
kesadaran dan pikiran dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman (aposteriori). Ia
berusaha meneliti kemampuan dan batas-batas rasio. Ia memposisikan akal dan rasa pada
tempatnya, menyelamatkan sains dan agama dari gangguan skeptisisme.Tokoh idealisme
lainnya adalah George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Filsafatnya dikenal dengan
idealisme absolut yang bersifat monistik, yaitu seluruh yang ada merupakan bentuk dari akal
yang satu, yakni akal yang absolut (absolut mind). Ia memandang agama Kristen yang
dipahaminya secara panteistik sebagai bentuk terindah dan tertinggi dari segala
agama.Sementara di Inggris, Jeremy Benthem (1748-1832) dengan pemikiran-pemikirannya
mengawali tumbuhnya aliran Utilitarianisme. Utility dalam bahasa Inggris berarti kegunaan dan
manfaat. Makna semacam inilah yang menjadi dasar aliran Utilitarianisme. Tokoh lain aliran ini
adalah John Stuart Mill (1806-1873) dan Henry Sidgwick (1838-1900). Menurut aliran utilitarianis
bahwa pilihan terbaik dari berbagai kemungkinan tindakan perorangan maupun kolektif adalah
yang paling banyak memberikan kebahagiaan pada banyak orang. Kebahagiaan diartikan
sebagai terwujudnya rasa senang dan selamat atau hilangnya rasa sakit dan was-was. Hal ini
bukan saja menjadi ukuran moral dan kebenaran, tetapi juga menjadi tujuan individu,
masyarakat, dan negara.Aliran filsafat yang lain adalah Positivisme. Dasar-dasar filsafat ini
dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Ia menyatakan
bahwa pengetahuan manusia berkembang secara evolusi dalam tiga tahap, yaitu teologis,
metafisik, dan positif. Pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia yang
disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik
yang diperoleh dalam metafisika ditolak, karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam
kenyataan.Auguste Comte mencoba mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai
pengganti agama. Hal ini terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang
memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini
melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal
dengan Materialisme.Tokoh aliran Materialisme adalah Feurbach (1804-1872). Ia menyatakan
bahwa kepercayaan manusia kepada Allah sebenarnya berasal dari keinginan manusia yang
merasa tidak bahagia. Lalu, manusia mencipta Wujud yang dapat dijadikan tumpuan harapan
yaitu Tuhan, sehingga Feurbach menyatakan teologi harus diganti dengan antropologi. Tokoh
lain aliran Materialisme adalah Karl Marx (1820-1883) yang menentang segala bentuk
spiritualisme. Ia bersama Friederich Engels (1820-1895) membangun pemikiran komunisme pada
tahun 1848 dengan manifesto komunisme. Karl Marx memandang bahwa manusia itu bebas,
tidak terikat dengan yang transendental. Kehidupan manusia ditentukan oleh materi. Agama
sebagai proyeksi kehendak manusia, bukan berasal dari dunia ghaib.Periode filsafat modern di
Barat menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan
anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan diporak-porandakan.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern merupakan era pembalasan terhadap
zaman skolastik yang didominasi gereja.Agama dan Filsafat Barat KontemporerPada awal abad
XX, di Inggris dan Amerika muncul aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William James
(1842-1910). Sebenarnya, Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. Pierce (1839-1914).
Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan, dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan
dengan membandingkan kebiasaan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah aturan
bertindak.William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan masalah
dalam pengalaman hidup manusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika teori berfungsi bagi
kehidupan manusia. Sedangkan agama, menurutnya, mempunyai arti sebagai perasaan (feelings),
tindakan (acts) dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan dan
posisinya di hadapan apa yang mereka anggap suci. Dengan demikian, keagamaan bersifat unik
dan membuat individu menyadari bahwa dunia merupakan bagian dari sistem spiritual yang
dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya.Agak berbeda dengan William James,
tokoh Pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas filsafat yang
terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan manusia dalam praktek hidup yang
harus berpijak pada pengalaman.Pada saat yang bersamaan, juga berkembang aliran
Fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Menurutnya, untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar ialah dengan menggunakan intuisi langsung, karena
dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. Baginya, Fenomenologi sebenarnya merupakan
teori tentang fenomena; ia mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri.Pada
abad tersebut juga lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855).
Tokoh terpenting dalam aliran ini adalah Jean Paul Sartre (1905-1980) yang berpandangan
atheistik. Menurutnya, Tuhan tidak ada, atau sekurang-kurangnya manusia bukan ciptaan
Tuhan. Eksistensi manusia mendahului esensinya; manusia bebas menentukan semuanya untuk
dirinya dan untuk seluruh manusia.Walaupun rasionalisme Eropa memperoleh kemenangan,
ternyata menyimpan beberapa keretakan yang pada gilirannya menimbulkan reaksi, seperti
lahirnya anti rasionalisme, humanisme, dan lain-lain. Periode kontemporer di Barat juga ditandai
dengan adanya keinginan yang demikian kuat untuk kembali kepada ajaran agama. Filosof di
Barat mulai menyadari bahwa era modern telah melahirkan kehidupan yang kering spiritual dan
tidak bermakna. KesimpulanDari uraian terdahulu, maka dapat ditarik dua kesimpulan.
Pertama, hubungan filsafat dan agama di Barat telah terjadi sejak periode Yunani Klasik,
pertengahan, modern, dan kontemporer, meskipun harus diakui bahwa hubungan keduanya
mengalami pasang surut.Kedua, dewasa ini di Barat terdapat kecenderungan yang demikian
kuat terhadap peranan agama. Masyarakat modern yang rasionalistik, vitalistik, dan
materialistik, ternyata hampa spiritual, sehingga mulai menengok dunia Timur yang kaya nilai-
nilai spiritual. @

http://syiena.wordpress.com/2008/03/21/filsafat-ilmu-pengetahuan/
http://syiena.wordpress.com/2008/04/02/hubungan-agama-dan-filsafat-di-barat/#more-18

				
DOCUMENT INFO