PARASITOLOGI by dwinurmijayanto

VIEWS: 6,854 PAGES: 80

									                                   BAB I
                               PARASITOLOGI

Parasitologi : adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang parasit.

Parasit     : adalah organisme yang hidup di dalam organisme lain dan menjadi beban
            organisme yang ditumpanginya. Organisme yang ditumpanginya dikenal
            sebagai inang atau hospes,

Hubungan antara inang/hospes dengan parasit diklasifikasikan menjadi beberapa jenis
hubungan, antara lain :
   1. Parasitosis : adalah hubungan antara 2 organisme dimana satu organisme merusak
      yang lain dan menyebabkan kerusakan-kerusakan serta menimbulkan gejala
      klinis.
   2. Parasitiasis : adalah hubungan antara 2 organisme dimana organisme yang satu
      merusak dan menimbulkan keadaan patologik tetapi tidak menimbulkan gejala
      klinis.
   3. Komensalisme : adalah hubungan sepadan dimana satu pihak (parasit) mendapat
      keuntungan dan pihak lain (inang) tidak dirugikan.
   4. Simbiosis : adalah hubungan antara inang dan parasit yang diperlukan oleh
      keduanya dan keduanya memperoleh keuntungan.
   5. Mutualisme : serupa dengan simbiosis tetapi hubungan antara parasit dan inang
      tidak memerlukan keharusan dan inang dapat hidup sempurna tanpa parasit.

Inang/hospes ada 2 macam :
   1. Inang definitive : adalah inang tempat hidup tingkatan parasit dewasa, kehidupan
       seksual parasit.
   2. Inang perantara : adalah inang tempat hidup tingkatan parasit belum dewasa atau
       kehidupan aseksual parasit.

Vektor parasit : adalah arthropoda atau invertebrate lainnya yang memindahkan parasit
dari satu inang vertebrata ke vertebrata lainnya.

Ada 2 macam vector :
   1. Vektor mekanis : adalah suatu agen pemindah tanpa adanya perubahan
      perkembangan parasit.
   2. Vektor biologis : adalah suatu agen pemindah dimana dalam agen pemindah
      tersebut terjadi perkembangan parasit.

Berdasarkan habitatnya,parasit diklasifikasikan menjadi :
   1. Ektoparasit : adalah parasit yang hidup pada bagian luar induk semang
   2. Endoparasit : adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inang.

Berdasarkan keeratan ikatan parasit dengan inang/hospesnya serta sifat parasit, maka
dikenal :



                                                                                    1
   1. Parasit obligat : adalah parasit yang memerlukan paling sedikit satu inang untuk
      menyempurnakan siklus hidupnya.
   2. Parasit fakultatif : adalah organisme yang mampu hidup baik sebagai parasit
      maupun hidup bebas
   3. Parasit permanen : adalah parasit yang ada didalam atau pada satu inang selama
      hidupnya.
   4. Parasit temporer : adalah parasit yang sebagian siklus hidupnya hidup bebas
   5. Parasit periodik : adalah parasit yang menyerang inang untuk waktu yang pendek
      atau secara periodik untuk mendapatkan makanan.
   6. Hiper parasit : adalah parasit yang hidup pada parasit lain.

HELMINTHOLOGI
Berasal dari bahasa Yunani, dari asal kata Helminthos yang berarti cacing.
Helmint dibagi menjadi 4 filum :
   Platyhelminthes
   Nematelminthes
   Acantocephala
   Annelida

FILUM PLATYHELMINTHES
Ciri-ciri :
     Pipih dorso ventral dan simetris bilateral
     Biasanya merupakan cacing hermaphrodit
     Tidak mempunyai rongga badan
     Alat ekskresi berupa flame cell
     Tidak mempunyai sistem respirasi dan sistem peredaran darah
     Siklus hidupnya indirect
     Filum ini terbagi menjadi 2 kelas yaitu Cestoda dan Trematoda

Kelas Trematoda
Morfologi umum:
    Berbentuk oval atau seperti daun tidak bersegmen
    Biasanya mempunyai saluran pencernaan yang buntu
    Memiliki sistem reproduksi hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae

Kelas Cestoda (cacing pita)
Morfologi umum :
     Bersifat hermaprodit dan merupakan endoparasit.
     Badannya terdiri dari kepala yang disebut skoleks, leher disebut neck, tubuh
       disebut strobila, strobila terdiri dari segmen yang disebut juga proglotid
     Bentuk pipih dan panjang seperti pita

Skoleks biasanya dilengkapi dengan :
    Rostelum dan kait-kait (hooks)
    Sucker (alat pengisap) dan kait-kait



                                                                                    2
      Rostelum biasanya terdapat di bagian anterior skoleks
      Sucker terdapat dibagian kaudal skoleks berfungsi sebagai alat pengisap
      Rostelum mempunyai kait yang terdiri dari 1-2 baris kait yang digunakan untuk
       menempel pada dinding usus
      Strobila terdiri dari proglotid yang masing-masing mempunyai alat kelamin jantan
       dan betina
      Proglotid tumbuh di bagian posterior skoleks, makin ke posterior makin
       dewasa/masak, sehingga proglotid yang paling ujung/posterior mengandung
       uterus yang didalamnya terdapat telur-telur yang masak
      Telur dikeluarkan bersama proglotid dalam feses inang/hospes
      Didalam proglotid terdapat pengelompokan telur di dalam kantong-kantong
       jaringan.
      Proglotid yang terdapat di luar tubuh akan hancur oleh keadaan sekitarnya dan
       telur akan keluar.
      Telur cacing Cestoda berbentuk kompleks, pada kotoran telur terlihat sebagai
       suatu bahan yang kompak disebut embriofor dan didalam embriofor terdapat
       embrio yang disebut onkosfer. Didalam onkosfer terdiri dari 6 kait dan telur yang
       demikian disebut Hexacanth
      Onkosfer tidak dapat terlepas selama belum mencapai saluran cerna inang antara.
      Embriofor terdiri atas 2 lapisan yaitu, lapian vitelin dan lapisan kitin.
      Ditempat predileksi , onkosfer akan berkembang dan masing-masing genus
       mempunyai perkembangan yang berbeda. Ada 6 cara yang dialami oleh telur
       selama perkembangannya menjadi larva, antara lain :
           1. Cysticercus
           2. Coenurus
           3. Strobilacercus
           4. Hydatid
           5. Cysticercoid
           6. Plerocercoid

FILUM NEMATHELMINTHES
Morfologi:
    Bentuk silindrik memanjang dan meruncing pada kedua ujungnya, kecuali
      Tetrameres betina yang menggelembung setelah kopulasi menjadi bulat pipih
    Badannya tidak bersegmen, biasanya kutikula dilengkapi dengan gelang-gelang
    Saluran pencernaan dimulai dari mulut, esofagus, intestin dan berakhir pada anus
    Mempunyai ekor pendek
    Terdiri dari cacing jantan dan betina
    Siklus hidupnya secara direct dan indirect
    Terbagi menjadi 2 kelas yaitu Nematoda dan Nematomorpha

FILUM ACANTHOCEPHALA
Merupakan cacing parasitik yang biasanya dikenal sebagai ”thorny headed worms”
(cacing yang bagian kepalanya berduri)
Ciri-ciri :


                                                                                      3
   Tubuhnya silindris dan diapisi dengan kutikula yang tebal
   Tidak mempunyai saluran pencernaan dan makanan di absorbsi melalui dinding
    tubuh
   Bagian anterior tubuh terdapat probosis yang bentuknya silindrik atau oval
   Siklus hidupnya secara indirect




                                                                            4
                                      BAB II

KELAS TREMATODA
FAMILI DICROCOELIIDAE
Genus : Eurytrema
Spesies : E. Pancreaticum

Habitat : Saluran pankreas dan kadang-kadang saluran empedu dan duodenum
Inang definitif : Kambing, domba, sapi, kerbau dan manusia
Morfologi :
    Tubuhnya tebal dan berduri\suckernya besar, oral sucker lebih besar dari ventral
       sucker
    Faring kecil dan esofagus pendek\

Siklus hidup
Siklus hidupnya memerlukan 2 inang perantara siput tanah Bradybaena similaris dan
Cathaica ravida siboldtiana. Sporokista terjadi didalam tubuh siput, serkaria dihasilkan
setelah 5 bulan terinfeksi. Serkaria menempel pada rumput kemudian termakan oleh
belalang. Metaserkaria terjadi di dalam hemocoele dan menjadi infektif setelah 3 minggu
didalam tubuh belalang. Inang definitif terinfeksi karena memakan belalang yang
biasanya bersama-sama rumput dimana belalang tersebut mengandung metaserkaria .
Cacing muda migrasi melalui saluran pankreas.

Genus : Fasciola
Species : F. Hepatica
Habitat : Saluran empedu
Inang definitif : kambing, domba, sapi dan ruminansia lain, babi, kuda, kelinci, anjing,
kucing., kanguru gajah dan manuia. Biasanya pada manusia dan kuda, cacing dewasa
dapat ditemukan pada paru-paru, dibawah kulit dan tempat lain.
Morfologi :
    Bentuk seperti daun dengan bagian anterior lebih lebar daripada posterior
    Ventral sucker terletak sejajar dengan bahu dn besarnya sama dengan oral sucker
    Kutikula berduri

Siklus hidup Fasciola spp :
     Telur yang dihasilkan masuk duodenum bersama-sama cairan empedu dan keluar
       bersama feses penderita (inang definitif).
     Telur menetas dan menghasilkan larva stadium I (mirasidium). Mirasidium akan
       berenang mencari siput dan menembus tubuh siput, perkembangan selanjutnya
       terjadi didalam tubuh siput. Bila mirasidium tidak dapat masuk kedalam tubuh
       siput, mirasidium akan mati setelah beberapa jam. Inang perantara cacing F.
       Gigantica di Indonesia adalah Lymnea Javanica (L.rubigenosa), karena di
       Indonesia tidak ditemukan siput yang cocok sebagai hospes perantara F.hepatica,
       maka trematoda tersebut tidak ditemukan di Indonesia, kecuali pada sapi impor.




                                                                                        5
      Mirasidium biasanya mencari siput muda, kemudian dengan menggunakan enzim
       proteolitik yang dikeluarkan untuk menembus jaringan tubuh siput, kemudian
       mirasidium melepaskan silia dan berkembang menjadi sporokista. Tiap-tiap
       sporokista akan membentuk 5-8 redia dan berkembang maksimum.
      Redia keluar dari sporokista menjadi redia I, didalam redia terdapat redia anak
       yang mempunyai bentuk yang sama dengan redia I.
      Redia anak berkembang selanjutnya menjadi serkaria. Bentuk serkaria
       menyerupai bentuk cacing dewasa dan serkaria akan keluar dari tubuh siput bila
       ada rangsangan sinar.
      Kemudian serkaria akan berenang dalam air, bila serkaria tidak segera termakan
       oleh     inang definitif, maka serkaria akan menempel pada rumput tepi
       kolam/sungai. Infeksi akan terjadi apabila inang definitif memakan rumput atau
       minum air yang terkontaminasi oleh serkaria/ metaserkaria.
      Didalam duodenum, serkaria keluar dari kistanya, menembus dinding usus masuk
       rongga peritoneum kemudian menembus kapsula hati. Dapat pula melalui ductus
       choleducus lalu menembus kapsula hati ke parenkim hati kemudian kesaluran
       empedu untuk berkembang menjadi cacing dewasa.
      Masa prepaten (mulai masuknya metaserkaria sampai terdapatnya telur didalam
       feses penderita) kurang lebih 2-3 bulan.

Spesies : Fasciola gigantica
Merupakan parasit asli Indonesia, sedangkan F. Hepatica masuk ke Indonesia
kemungkinan bersama-sama sapi perah Frissian Holland yang diimpor dari Belanda
Morfologi:
    Berwarna lebih terang (transparan)
    Bahu tidak begitu nyata
    Habitat, inang definitif dan siklus hidup sama dengan F. Hepatica

FAMILI PARAMPHISTOMATIDAE
Genus : Paramphistomun
Spesies : P. cervi
Habitat cacing dewasa : rumen dan retikulum kambing, domba dan sapi
Morfologi :
    Warna merah muda pada waktu masih hidup
    Merupakan conical fluke cacing mengerucut yang bentuknya seperti buah pear
    Mempunyai sucker yang besar dibagian subterminal posterior

Genus : Cotylophoron
Spesies : C. Cotylophorum
Habitat : rumen, retikulum kambing, domba, sapi, ruminansia lain
Morfologi :
    Mirip dengan P.cervi

Genus : Gastrothylax
Spesies : G. Crumenifer
Habitat : rumen domba, sapi zebu, kerbau di India, Srilangka dan China


                                                                                    6
Morfologi : Cacing dewasa berwarna merah muda pada waktu masih hidup

Genus : Gigantocotyle
Spesies : G. Explanatum
Habitat : saluran empedu, kandung empedu dan duodenum sapi dan kerbau
Morfologi : bentuk seperti kerucut dengan salah satu ujung lancip dan ujung lainnya
melebar

Genus :Gastrodiscus
Spesies : G. Aegyptiacus
Habitat : usus halus dan usus besar bangsa kuda, babi di Africa dan India
Morfologi :
    Warna merah muda
    Bentuk tubuhnya seperti mangkok

Siklus Hidup Famili Paramphistomatidae
     Mirasidium yang bebas akan berenang di air dan akan masuk ke dalam siput air.
     Perkembangan didalam tubuh siput, mirasidium pada saat penetrasi melepaskan
       silia kemudian membentuk sporokista.
     Sporokista matur mengandung 8 redia pada tiap sporokista.
     Redia dibebaskan 11 hari setelah infeksi dan pada hari ke 21 redia mengandung
       15-30 serkaria.
     Serkaria akan keluar apabila terkena sinar matahari, serkaria yang keluar
       mempunyai ekor pedek dan 2 pasang eye spots.
     Serkaria menjadi metaserkaria. Infeksi inang definitif karena memakan
       metaserkaria bersama rumput/tanaman air.

FAMILI : PARAGONIMIDAE
Genus : Paragonimus
Spesies : P. Westermanii
Merupakan cacing paru-paru (Lung Fluke)
Habitat : paru-paru kadang-kadang pada otak, spinal cord dan organ-organ lain
Inang definitif : babi, anjing, kucing, kambing, sapi, carnivora liar, bangsa musang dan
juga manusia.
Morfologi :
     Cacing dewasa berwarna merah kecoklatan, ukuran dan bentuknya seperti biji
       kopi
     Kutikulanya berduri
     Vittelaria berlimpah-limpah berwarna kecoklatan, uterus berkelok-kelok diisi oleh
       telur-telur berwarna coklat.

Siklus Hidup
     Cacing dewasa hidup didalam kista pulmonalis pada dinding fibrosa. Didalam
       rongga kista terdapat 1 atau 2 caing dewasa bahkan 6 cacing dewasa. Telur
       dikeluarkan oleh cacing dewasa didalam kista. Telur kemudian keluar melalui
       bronki pada waktu kista pecah.


                                                                                      7
      Biasanya telur keluar bersama mukus atau sputum yang mempunyai batuk yang
       khas seperti karat besi, tetapi apabila telur-telur tersebut tertelan kembali, dapat
       dikeluarkan bersama feses penderita.
      Telur yang berada di air berkembang menjadi embrio.
      Mirasidium yang menetas berenang di dalam air dan mencari inang perantara I ,
       siput air.
      Di dalam tubuh siput, mirasidium mengadakan penetrasi secara aktif kemudian
       migrasi kedalam jaringan limfatik atau didalam otot dan organ respirasi (bronki)
      Mirasidium menjadi sporokista yang masing-masing redia berkembang menjadi
       serkaria.
      Serkaria dilengkapi dua ekor pendek kemudian mencari inang perantara II jenis
       kepiting dan bangsa udang
      Pada inang perantara II serkaria mengadakan penetrasi secara aktf. Metaserkaria
       kemudian terbentuk dan membentuk kista pada jantung, otot, organ-organ
       respirasi dan hati.
      Inang definitif terinfeksi karena memakan bangsa crustacea yang mengandung
       parasit yang dimakan mentah atau kurang masak.

FAMILI SCHISTOSOMATIDAE
Genus Schistosoma
Spesies : S. Japonicum
Habitat : cacing dewasa didalam vena porta dan vena mesenterica
Inang definitif : manusia, sapi, kuda, domba, kambing, anjing, kucing
Inang perantara : Oncomelania nosophora di Jepang dan China, O. Formosa di pulau
Formosa (Taiwan), O.hupensis di China dan O.hupensis lindoensis di sulawesi
Morfologi :
    Cacing jantan mempunyai kurang lebih 10 testis.
    Cacing betina berwarna lebih tua
    Bentuk telurnya oval/ovoid, mempunyai tonjolan seperti kait/duri pada salah satu
       ujungnya . Telur dikeluarkan bersama tinja/feses penderita.

Siklus Hidup
     Mirasidium mencari inang perantara yang cocok untuk berkembang menjadi
       sporokista I dan II. Sporokista II membentuk banyak serkaria berekor cabang
       yang keluar dari tubuh siput dan berenang didalam air.
     Infeksi pada inang definitif terjadi karena adanya kontak dengan air yang
       terkontaminasi oleh serkaria dan serkaria dapat melakukan penetrasi melalui kulit,
       kemudian mencapai pembuluh darah dan mencapai organ yang disukai.

Spesies : S. Bovis
Habitat : vena porta dan vena meseterica
Inang definitif :sapi, kambing, domba dan kadang-kadang kuda
Morfologi:k
     Permukaan tubuh cacing jantan terdapat tuberkel kecil pada kutikulanya
     Cacing jantan mempunyai testis 3-6 buah terletak longitudinal,sejajar dibagian
        belakang ventral sucker


                                                                                         8
       Tubuhnya berbentuk memanjang dan terdapat spina dibagian terminalnya
       Inang perantaranya siput dari famili Bulinidae

Spesies : S. Spindale
Habitat : vena mesenterica
Inang definitif : sapi, kambing, domba, anjing dan zebu
Inang perantara : siput dari famili planorbidae dan Lymnaeidae : Planorbis spp,
indoplanorbis exustus, lymnea acuminata dan L. Luteola

Morfologi”
   Cacing jantan mempunyai testis 3-7 buah
   Telur berbentuk memanjang dan mempunyai spina dibagian lateral

Pesies : S. Incognitum sama dengan S.suis
Habitat : vena mesenterica
Inang definitif : babi ,anjing dan bangsa tikus
Inang perantara : L.luteola dan L.rubigenosa
Morfologi :
    Telurnya berwarna kuning kecoklatan,berbentuk subovoid dengan salah satu sisi
        datar , kecil, dengan dilengkapi spina dibagian lateral.

Spesies : S.mekongi
Habitat : v.mesenterica dan v.porta
Inang definitif : anjing, kadang-kadang manusia
Inang perantara : famili Triculinae, genus tricula (Lytoglyphosis dan genus Robertsiella)

Spesies : S.nasale
Habitat : v. Mukosa nasalis sapi, kambing, domba dan kuda
Inang perantara : L.exuxtus dan L.luteola

Spesies : S. Indicum
Habitat : v. Porto mesenterica sapi, kambing, kuda, rusa
Inang perantara : L.exustus




                                                                                            9
                                     BAB III
                                    CESTODA

FAMILI ANOPLOCEPHALIDAE
Ciri-ciri :
     Tidak mempunyai rostellum dan hooks
     Proglotid biasanya lebih lebar dari pada panjang
     Masing-masing proglotid mempunyai 1 atau 2 pasang alat kelamin
     Genital pore terletak ditepi
     Testis terdapat dalam jumlah banyak
     Pada uterus terdapat kumpulan telur didalam kantong dan telur dikeluarkan satu
        persatu atau lebih
     Masing-masing telur dikelilingi oleh 3 lapisan, yang yang paling luar adalah
        vittelin membran, lapisan tengah albuminous membrane, lapisan dalam chitine
        membrane.
     Bentuk telur mirip buah pear yang dilengkapi sepasang hooks /kait yang bersilang
        satu dengan lainnya dan struktur ini disebut piriform apparatus.
     Inang perantara : mites dari famili Oribatidae.

Genus: Moniezia
Spesies : M. Expansa
Habitat : usus halus domba, kambing, sapi dan bangsa ruminansia lain
Morfologi:
    Segmen lebih lebar dari panjang dan tiap-tiap segmen mengandung 2 genital
       organ
    Ovarium dan vittelin gland berbentuk cincin pada kedua sisi, di sebelah medial ke
       arah longitudinal terletak excretory canals
    Testis tersebar dibagian sentral atau berkumpul dikedua sisi
    Ditepi posterior tiap-tiap proglotid terdapat 1 deret interglottidal gland tersusun
       seperti cincin-cincin kecil
    Telur berentuk segitiga mengandung pyriform apparatus

Spesies : Moniezia benedini
Habitat : usus halus ruminansia terutama pada sapi
Perbedaannya dengan M.expanza terletak pada ”
   1. M.benedini lebih esar dari pada M.expanza (lebarnya dapat mencapai 2,6 cm)
   2. Interproglottidal glands tersusun pendek da berderet rapat pada bagian tengah
       segmen

Siklus Hidup Moniezia:
           Telur cacing dikeluarkan bersama feses penderita (host) satu persatu atau
              dalam keadaan berkelompok dalam segmen yang terlihat sebagai butiran-
              butiran beras.



                                                                                     10
             Bila segmen dimakan oleh famili Oribatidae maka dindingnya akan sobek
              dan seluruh telur termakan oleh mites tersebut.
             Dalam mite oncosphere akan tumbuh membesar dan mencapai jumlah 14
              sel. Setelah 8 minggu oncosphere mempunyai 12 kait.
             Pada minggu ke 15 akan menjadi sistiserkoid.

FAMILI DAVAINEIDAE

Genus : Davainea
Spesies : D. Proglotina
Habitat : wilayah duodenum dari usus halus
Inang definitif : ayam, burung merpati dan burung lainnya
Morfologi :
    Terdiri dari 4-9 proglotid
    Pada rostellum terdapat 80-94 kait
    Sucker mempunyai berapa kait kecil berderet dan mudah lepas
    Genital pore teletak selang-seling secara teratur
    Telur terletak satu persatu dalam parenkim segmen yang mature

Siklus Hidup
     Segmen yang matur dikeluarkan dalam feses induk semang dan telur yang
       menetas termakan oleh siput dari genus Limax, Arion, Cepoa dan Agriolimax.
     Setelah telur atau segmen tercerna didalam saluran pencernaan intermediate host,
       larva cacing menembus dinding usus masuk rongga perut dan setelah 3 minggu
       akan berubah bentuk menyerupai kantong disebut sistiserkoid dan skolek
       mengalami invaginasi.
     Unggas terinfeksi karena memakan siput yang terinfeksi, setelah sistiserkoid
       tercerna didalam saluran pencernaan unggas, skolek segera keluar dari dalam
       kista lalu menempel pada dinding saluran usus
     Kemudian mulai membentuk leher dan segmen yang memerlukan waktu kurang
       lebih 14 hari untuk menjadi dewasa.

Genus : Railiettina
Spesies : R.tetragona
Morfologi :
    R.tetragona merupakan cacing pita ayam.
    Lehernya tipis dan skolek kecil yang dilengkapi dengan 100 kait kecil terdapat
       dalam 1 deret rostellum
    Bentuk sucker oval dilengkapi dengan 8-10 deret kait kecil yang mudah terlepas
    Setiap kantong telur mengandung 6-11 telur
    Kantong telur meluas kebagian lateral sampai saluran pengeluaran
    Inang perantara : Musca domestica dan bangsa semut dari genus Tetramorium dan
       Pheidole




                                                                                   11
Siklus Hidup
     Mirip Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan berbeda.
     Larva dalambentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang
       perantara yang mengandung sistiserkoid

Spesies : R. Echinobothrida
Habitat : usus halus bangsa unggas
Morfologi :
    Bentuk dan ukuran mirip R.tetragona
    Rostellum dilengkapi 200 kait pada 2 deret dan sucker dilengkapi dengan 8-10
       deret kait
    Skolek mempunyai lengan yang kuat dan sucker berbentuk sirkular
    Genital pore unilateral, tetapi kadang-kadang selang-seling
    Segmen yang gravid sering terrpisah ditengah
    Inang perantara : Tetramorium caespitum

Siklus Hidup
     Mirip dengan Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan berbeda.
     Larva dalam bentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang
       perantara yang mengandung sistiserkoid

Spesies : R. Cesticillus
Habitat : usus halus ayam, burung mutiara, kalkun
Cacing dari spesies ini sering ditemukan pada peternakan ayam
Morfologi :
    Panjang cacing 13 cm dan lebar 2mm, namun biasanya tak lebih dari 4 cm
    Cacing mudah dibedakan dengan spesies lain karena tidak mempunyai leher dan
       skoleknya besar yang dilengkapi dengan rostellum yang lebar dan terdapat 400-
       500 kait
    Telur berkapsul dan tiap-tiap kapsul mengandung 1 telur.
    Inang perantara : M.domestica dan kumbang

Siklus Hidup
     Mirip dengan Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan bereda
     Larva dalam bentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang
       perantara yang mengandung sistiserkoid

FAMILI DILEPIDIDAE
Genus Dypilidium
Spesies : D.caninum
Habitat : usus halus anjing, kucing, srigala dan kadang-kadang manusia
Inang perantara : pinjal anjing, kucing, manusia dan kutu anjing.
Morfologi :




                                                                                 12
      Panjang mencapai 50 cm dan biasanya berwarna merah muda atau ekuning-
       kuninagan
      Proglotid yang matur dan gravid mempunyai bentuk khas oval seperti biji
       mentimun
      Rostellum dilengkapi dengan 3-4 baris kait kecil yang bentuknya seperti mawar
       (Rose thorn)
      Tiap segmen mempunyai 2 pasang organ genital. Testisnnya banyak yang tersebar
       diseluruh parenkim dari segmen.
      \Ovari dan vitelin gland menggerombol pada dua sisi seperti buah anggur
      Pada segmen gravid terletak telur-telur dalam kapsul, tiap kapsul mengandung 20
       telur

Siklus Hidup
     Segmen masak dikeluakan bersama feses atau mungkin keluar secara spontan.
       Kadang-kadang segmen yang masak merayap secara aktif dan meletakkan
       telurnya disekitar anus atau perineal.
     Inang perantara terinfeksi karena tertelannya telur oleh larva pinjal dan
       sistiserkoid berkembang didalam tubuh pinjal sampai pinjal dewasa.
     Inang definitif tertular karena termakannya pinjal yang mengandung sistiserkoid,
       sedangkan pada manusia biasanya menyerang anak-anak, kemungkinan secara
       accidental terjadi karena anak-anak bermain terlalu erat dengan anjing dan kucing

FAMILI TAENIIDAE
Ciri-ciri :
     Merupakan cacing pita berukuran besar
     Segmen gravid lebih panjang daripada lebarnya
     Rostellum dilengkapi dengan 2 deret kait besar dan kecil yang bentuknya khas
     Terdapat genital pore yang terletak selang-seling tak teratur
     Testis terdapat dalam jumlah banyak
     Stadim larva berupa sistiserkus, coenurus dan hydatid cyst.

Genus : Taenia
Species : T. Solium
Parasit ini penting dalam dunia kedokteran hewan karena stadium larva terdapat pada
anjing dan babi
Habitat : usus halus manusia
Morfologi :
 Panjang cacing 3-5 m kadang-kadang mencapai 8 m
 Rostellum dilengkapi dengan 22-32 kait pada 2 deret, besar dan kecil
 Telur bulat dengan dinding kasar
 Segmen gravd maing-masing mengandung 40.000 telur yang seing terlepas bersama-
    sama dengan feses penderita
 Cacing dapat hidup pada manusia selama 25 tahun atau lebih

Siklus Hidup


                                                                                     13
      Pada waktu telur termakan oleh babi maka hexacanth embryo keluar dari telur
       setelah sampai di usus halus , permulaan mekanismenya adalah oncosphere yang
       dibebaskan sebagai akibat dari proses pencernaan. Setelah onkosfer dpnenaskan ,
       kemudian bergerak kebebrapa tempat.
      Selanjutnya embrio keluar dari membra onkosfer dan mengadakan penetrasi pada
       dinding usus, akhirnya onkosfer masuk ke pembuluh darah subnukosal dan
       dibawa aliran darah ke liver dan tersebar ke seluruh tubuh.
      Pada T.solium predileksi sistiserkus pada otot bergaris, tetapi dapat juga
       berkembang pada organ-organ lain seperti paru-paru, liver, ginjal atau otak.
       Bentuk sistiserkus ini disebut cysticercus cellulosae.
      Manusia dapat terinfeksi karena memakan daging kurang masak yang
       mengandung sistiserkus. Disamping babi,hewan lain yang dapat bertindak sebagai
       inang perantara adalah domba, kambing, sapi dan bermacam-macam ruminansia
       lain , kuda, anjing, beruang dan kera. Tetapi sistiserkus dapat juga dijumpai pada
       manusia, karena tertelannya telur bersama makanan yang terkontaminasi karena
       kebiasaan tanpa mencuci tangan sebelum makan.
      Sistiserkus pada manusia dapat dijumpai pada pelbagai organ tubuh manusia,
       tetapi umumnya ditemukan pada jaringan subkutan, mata dan otak. Sehingga
       manusia dapat bertindak sebagai inang definitif dan inang perantara
      Pada babi sistiserkus berkembang lengkap selama 10 minggu, setelah 2 bulan
       cacing gelembung aktif, ditandai dengan sucker dan kait berkebang baik.
       Perkembangan optimal sistiserkus yaitu memiliki skolek mirip dengan cacing
       dewasa .
      Pemeriksaan daging, kista berumur lebih dari 6 minggu sudah dapat terlihat jelas.
       Sistiserkus dtemukan pada otot-otot jantung, otot lidah, lengan, bawah paha dan
       leher. Lama hidupC. Cellulosae diperkirakan dapat bertahan 1 tahun atau lebih.

Genus Taenia
Species : T. Saginata
Sinonim : Beef tape worm
Indk semang definitive : manusia
Induk semang antara : sapi, kerbau, jerpah dan llama
Habitat : usus halus manusia, sapi merupakan inang antara sebagai tempat hidup cacing
gelembungnya (sistiserkus)
Morfologi :
     Panjang cacing 4-8 m
     Skoleks tidak dilengkapi dengan rostellum dan kait tetapi dilengkapi 4 buah
       hemispherical suckers yang terletak pada tiap sudut skoleks. Tiap cacing terdiri
       dari 1000-2000 segmen
     Uterus garavid mempunyai cabang antara 15-3 pada tiap sisinya dan cabang-
       cabang itu ada pula yang bercabang lagi
     Segmen gravid masing-masing mengandung 100.000 telur yang sering terlepas
       bersama-sama feses penderita
     Cacing dapat hidup pada manusia selama 5-7 tahun




                                                                                      14
Siklus Hidup
     Bila manusia penderita yang dalam fesesnya mangandung T.saginata di tempat
       terbuka, segmen cacing yang keluar bersama feses akan merayap ke rumput
       disekitarnya, sehingga dapat tertelan oleh sapi.
     Selanjutnya telur yang matur tertelan oleh sapi sebagai inang antara, maka dalam
       duodenum telur menetas menjadi onkosfer, yang selanjutnya mengadakan
       penetrasi ke dinding usus, mencapai vena mesenterica atau saluran limfe dan ikut
       aliran darah sampai ke jaringan otot bergaris terutama m. Masseter.
       M.pterygoideus, myocardium dan diafragma.
     Cacing gelembung (cysticercus inermis=c.bovis=bladder worm) yang matang
       dicapai dalam waktu 18 minggu pasca infeksi, berbentuk lonjong atau bulat,
       berwarna putih susu, ada dalam jaringan ikat intermuskuler, dibungkus oleh
       selaput dari jaringan ikat.
     Daging sapi yang mengandung c.bovis merupakan sumber infeksi T.saginata

FAMILI DIPHYLLOBOTRIIDAE
Genus : Diphyllobothrium
Spesies: D.latum
Habitat : usus halus manusia, anjing, babi, kucing dan hewan lain pemakan ikan
Morfologi :
    Panjang 2->10m
    Terdiri dari >3000segmen
    Pada waktu fresh berwarna kuning abu-abu dan ditengahnya berwarna gelap
       disebabkan danya uterus dan telur
    Bentuk skolek memanjang dilengkapi bothria disebelah dorsal dan ventral
    Lehernya bisa memanjang dan memendek bila kontraksi.
    Telur berwarna coklat muda, mempunyai operkulum didapatkan pada feses induk
       semang

Siklus Hidup
     Telur berkembang selama beberapa minggusetelah keluar dari tubuh induk
       semang. Coracidium siap menetas didalam air. Coracidium mengandung onkosfer
       yang mengandung 6 kait yang ditutup oleh embriofor yang bersilia. Corasidium
       yang berenang dalam air akan termakan oleh bangsa krustacea/copepod.
     Didalam air tubuh larva stadium I yang disebut procercoid tumbuh dalam waktu
       2-3 minggu. Jika Copepod termakan oleh ikan air tawar (salmon fish) sebagai
       inang perantara II, maka procercoid mengadakan penetrasi melalui inding usus
       halus menuju otot atau organ lain dan akan berkembang menjadi plerocercoid.
       Plerocercoid ini bentukya memanjang berisi larva dengan kepala menyarupai
       cacing dewasa.
     Inang definitif terinfeksi karena memakan ikan mentah/kurang masak.

Spesies : D.mansoni
    Ditemukan pada usus anjing dan kucing
    Telur ditemukan dari proglotid yang masak, akan berkembang jika diletakkan di
       air yang bersih dan tidak mengalir. Telur akan menetas dalam waktu 10-28 hari


                                                                                    15
   Saat embrio tertelan bangsa Cyclops, secara cepat akan penetrasi pada rongga
    tubuh dan berkembang menjadi procercoid pada waktu 3 minggu
   Sewaktu stadia tersebut termakan dan masuk kedalam rongga peritoneum tikus,
    mencit, kera dan katak bentuknya akan berubah menjadi masak dan bentuknya
    menjadi spargana. Apabila hewan-hewan tersebut termakan oleh anjing dan
    kucing, stadiumnya akan berkembang menjadi cacing dewasa.




                                                                             16
                                  BAB IV
                                NEMATODA

Ciri-ciri:
        Pada umumya cacing jantan mempunyai caudal alae atau copulatory bursa

ORDO                                                                    ASCARIDIA
SUPERFAMILI : ASCARIDOIDEA
Ciri-ciri :
     Merupakan nematoda besar
     Mulut dikelilingi oleh 3 bibir besar
     Tidak mempunyai bukal kapsul
     Esofagus biasanya tidak mempunyai posterior bulb
     Ekor cacing betina tumpul dan cacing jantan ekornya berbelok-belok
     Terdapat 2 spikula pada cacing jantan
     Intestin mempunyai sekum
     Siklus hidup direct dan indirect

FAMILI                                                                ASCARIDIDAE
Genus : Ascaris
Species : A. Suum, A. Lumbricoides varietas suum
Habitat : usus halus
Host definitive :Babi,kadang-kadang ditemukan pada domba, sapi, anjing dan manusia
Morfologi :
    Cacing jantan panjang 15-25 cm, etina 41 cm
    Kutikula relatif tebal
    Cacing jantan dilengkapi spikula panjangnya 2 mm

Siklus Hidup
     Cacing betina menghasilkan kurang lebih 200.000 telur perhari
     Telur keluar bersama tinja, kemudian berkembang menjadi larva stadium II tanpa
       menetas. Larva stadium II ini adalah stadium infektif.
     Infeksi terjadi karena babi makan makanan yang mengandung telur infektif atau
       telur infektif yang melekat pada puting susu induknya tertelan anak babi,
     Setelah telur termakan kemudian menetas didalam usus halus dan larva
       menembus dinding usus. Larva kemudian ke liver/ , kemudian ke jantung, paru-
       paru, limpa dan ginjal.
     Sebagian besar larva moulting menjadi larva stadium III , pada saat ini larva
       banyak tinggal didalam liver dan ada yang didalam paru-paru
     Larva yang terdapat pada paru-paru akan keluar dari kapiler menuju alveoli
       kemudian menuju bronkioli, bronkus dan trakea. Kemudian ke faring dan
       tertelan. Larva stadium III akhirnya sampai ke usus.




                                                                                 17
      Di usus larva moulting menjadi larva stadium IV, kemudian moulting menjadi
       larva stadium V atau cacing muda, setelah itu berubah menjadi cacing dewasa
       pada hari ke 50-55 setelah infeksi
      Telur ditemukan pada feses pada hari ke 60-62 setelah infeksi.

Genus: Parascaris
Species : P.equorum=Ascaris megalocephala=Ascaris equorum
Habitat : usus halus bangsa kuda, termasuk zebra dan terdapat pada sapi
Morfologi :
    Panjang cacing jantan15-28 cm, cacing betina 50 cm
    Cacing kaku, kuat dan kepalanya besar. Mempunyai tiga bibir yang dipisahkan
       oleh tiga bibir intermediate kecil.
    Ekor jantan mempunyai lateral alae yang kecil

Siklus hidup mirip dengan A.suum

Genus :Toxocaris
Species : Toxocaris leonine=Toxocaris limbata
Habitat : usus halus anjing, kucing, bangsa canidae dan felidae liar
Morfologi :
    Panjang cacing jantan 7 cm, panjang cacing etina 10 cm
    Bagian anterior tubuh dilengkapi dengan cervical alae(pelebaran kutikula) yang
       besar dan bengkok

Siklus Hidup :
     Telur infektif mengandung larva stadium II. Pada kondisi optimal di luar tubuh
       host stadium infektif dapat dicapai 3-6 hari.
     Bila telur infektif termakan bersama makanan/minuman, setelah sampai di usus
       larva stadium II masuk dinding usus dan tinggal di usus sampai menjadi larva
       stadium IV, kemudian menuju mukosa dan lumen usus.
     Larva stadium V dicapai pada minggu keenam kemudian akan menjadi cacing
       dewasa dan menghasilkan telur setelah 74 hari infeksi
     Larva tidak mengalami migrasi, hal ini yang membedakan dengan Toxocara
       canis.

Genus: Toxocara
Species : Toxocara canis
Habitat : usus halus anjing dan srigala
Morfologi :
    Panjang cacing jantan 10 cm, betina 18 cm
    Mempunyai cervical alae (pelebaran kutikula)besar
    Tubuh bagian anterior membengkok ke ventral
    Cacing jantan mempunyai terminal tail, caudal alae dan spikula




                                                                                 18
Siklus Hidup
       Siklus hidup T. Canis kompleks, tergantung umur induk semang, kemungkinan
meliputi prenatal transmission (trans uterin), lactogenic transmission (colostral), direct
transmission dan bisa paratenic host transmission
    1. Pada anjing umur beberapa minggu sampai menjelang 3 bulan umumnya terjadi
       tracheal migration. Bila telur tertelan oleh anjing, telur akan menetas pada usus.
       Kemudian larva stadium II menembus dinding usus melali pembuluh limfe,
       akhirnya sampai ke liver, jantung, paru-paru, alveoli, brinkioli, sampai ke trakea,
       kemudian tertelan dan sampai pada lambung. Larva stadium III terjadi di paru-
       paru, trakea dan esofagus. Sedangkan larva stadium IV terjadi di usus halus,
       selanjutnya menjadi larva stadium V dan stadium dewasa dicapai 3-4 minggu
       setelah infeksi. Bila telur infektif ditelan oleh anjing jantan dari segala umur
       perkembangan akan berlangsung seperti diatas.
    2. Tipe siklus hidup lainnya yang sering te rjadi adalah somatic migration. Tipe ini
       ditunjukkan ketika telur infektif T.canis tertelan oleh anjing betina dewasa. Disini
       larva tidak kembali ke usus untuk menjadi dewasa melainkan tetap tinggal di otot
       atau jaringan lain tanpa berkembang lebih lanjut sampai anjing betina bunting.
       Bila anjing dewasa tersebut bunting, larva-larva tersebut migrasi ke uterus
       kemudian masuk fetus, sehingga terjadi prenatal infection. Pada prenatal infection
       setelah larva sampai pada liver fetus terjadi moulting menjadi larva stadium III,
       kemudian moulting lagi menjadi larva stadium IV pada minggu pertama setelah
       fetus lahir dan larva terdapat pada paru-paru dan lambung fetus. Pada minggu
       kedua setelah lahir terjadi moulting menjadi larva stadium V dan cacing dewasa
       ditemukan pada minggu ketiga setelah lahir.
    3. Pada anjing bunting sebagian larva migrasi ke ambing dan keluar melalui air susu,
       sehingga terjadi penularan pada anak anjing melalui air susu (colostral
       infection/transmammary infection). Larva yang keluar bersama-sama kolostrum
       akan berkembang langsung menjadi cacing dewasa pada usus anak anjing dalam
       waktu seminggu setelah lahir.
    4. Pada waktu menyusui induk anjing suka menjilat-jilat. Bila kebetulan cacing
       belum dewasa keluar bersama tinja anak anjig lalu tejilat dan tertelan induknya
       maka cacing tersebut langsung menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu.
    5. Telur yang tertelan oleh induk semang paraternis,seperti tikus dan mencit, maka
       larva akan tinggal di otot. Bila tikus tersebut termakan oleh anjing maka larva aka
       langsung menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu, tanpa migrasi lagi.
    6. Dalam induk semang paraternis beberapa larva menyelesaikan migrasi
       trakhealnya dan kembali ke usus untuk dikeluarkan bersama tinja. Bila larva ini
       tertelan oleh anjing maka menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu tanpa migrasi
       lagi. Larva dalam jaringan somatic tahan hidup lebih dari setahundan tidak
       dimobilisir sekaligus dalam satu kali kebuntingan.

Spesies : Toxocara cati=Toxocara mystax
Habitat : usus halus kucing dan bangsa kucing liar
Morfologi :
    Cervical alae sangat lebar dan bergaris
    Panjang cacing jantan 3-6 cm dan cacing betina 4-10 cm



                                                                                        19
Siklus Hidup
     Infeksi terjadi karena termakannya telur infektif (mengandung larva stadium II)
     Dua hari pertama larva ditemukan pada dinding lambung, hari ketiga pada paru-
       paru dan liver, hari kelima ditrakea, pada hari ke 10 sudahdi lambun kembali.
       Sebagian larva tertinggal di paru-paru.
     Larva stadium III terjadi pada dinding lambung, stadium IV pada lumen lambung,
       dinding usus dan lumen usus. Selanjutnya menjadi cacing dewasa.
     Larva stadium II juga dapat ditemukan pada otot tikus, cacing tanah, kecoak,
       ayam, domba yang memakan telur infektif

Spesies : Toxocara vitulorum
Habitat : usus halus sapi, zebra dan kerbau
Morfologi :
    Pajang cacing jantan sampai25 cm, diameter 5 mm
    Panjang cacing betina 30 cm, diameter 6 mm
    Kutikula tipis dan terlihat transparan
    Terdapat 3 bibir

Siklus Hidup
         Mirip denhan Toxocara canis . Terjadi somatic migration pada jaringan. Bisa
terjadi tracheal migration, prenatal migration dan lactogenic infection.

SUPERFAMILI OXYUROIDEA
FAMILI OXYURIDAE
Genus : Oxyuris
Spesies : Oxyuris equi=o.curvula=O.mastigodes
Habitat :usus besar
Induk semang : kuda

Siklus Hidup
     Panjang cacing jantan antara 9-12 mm dan panjang cacing betina 150 mm
     Cacing jantan mempunyai satu spikula yang menyerupai jarum, sedangkan pada
       ekornya terdapat dua pasang papil yang besar dan beberapa papil kecil
     Cacing betina muda berwarna putih tampak melengkung dan relatif pendek
       ekornya
     Pada cacing betina dewasa berwarna abu-abu sampai kecoklat-coklatan, ekor
       sempit dan panjang 3x tubuh

Siklus Hidup
     Caing betina dan jantan muda berhabitat di sekum dan colon crassum, setelah
       fertilisasi cacing betina dewasa menuju rektum dan merangkak ke anus dengan
       bagian anterior tubuh mengarah ke anus. Telur diletakkan dalam bentuk kluster
       didaerah perineal.
     Infeksi terjadi karena menelan telur infektif pada rumput, pakan dan
       dikandanynya. Larva infekti terbebas dalam usus halus dan stadium III terbentuk
       didalam kripta dari ukosa kolon bagian ventral dan sekum.


                                                                                   20
      Larva stadim IV mempunyai bukal kapsul dan terbenam didalam mukosa.
      Alat-alat sexnya masak pada stadium dewasa yang dicapai antara 4-5 bulan
       setelah infeksi.

SUPERFAMILI SUBULUROIDEA
FAMILI: HETERAKIDAE
Genus : Hterakis
Spesies : Heterakis gallinarum=Heterakis papillosa=Heterakis vesicularis=Heterakis
gallinae
Habitat : sekum ayam kalkun, itik, angsa, dan sejumlah burung lainnya
Morfologi :
     Terdapat lateral alae yang besar disamping tubuhnya yang meluas ke posterior
     Esofagus bagian posterior membentuk bukbus
     Ekor cacing jantan dilengkapi alae yang besar, menonjol dan sirkuler, terdapat
        precloacal succer dan 12 pasang papillae
     Spikula tidak sama, sebelah kanan langsing, sedangkan yang kiri mempunyai alae
        yang lebar

Siklus Hidup :
     Telur berkembang diluar tubuh dan mencapai stadium infektif
     Apabila induk semang menelan telur infektif, telur akan menetas di intestin.
       Dalam waktu 4 hari cacing muda berada dekat dengan sekum dan beberapa luka
       terjadi di epithel glandula.
     Setelah itu moulting menjadi larva stadium III, kemudian stadium IV sepuluh
       hari sesudah infeksi, 15 hari sesudah infeksi menjadi stadium V.
     Cacing tanah mungkin dapat bertindak sebagai vektor larva stadium II ditemukan
       didalam tubuh cacing tanah, infeksi terjadi apabila unggas menelan cacing tanah
       yang mengandung larva.

Genus : Ascaridia
Spesies : Ascaridia galli=Ascaridia lineata=Ascaridia perspicillum
Habitat : usus halus unggas, ayam belanda, angsa dan berbagai burung liar
Morfologi :
    Terdapat 3 bibir besar dan esofagus tidak mempunyai posterior bulb
    Ekor cacing jantan mempunyai alae kecil

Siklus Hidup
     Telur berkembang di luar tubuh host dan mencapai stadium infektif kurang lebih
       10 hari
     Cacing tanah dapat memakan telur cacing kenudian cacing tanah termakan unggas
       (transmitter mekanis).
     Telur menetas dalam usus halus hospes, larva tinggal 8 hari dalam mukosa usus
       halus, kemudian ke lumen dan mencapai dewasa.




                                                                                   21
ORDO RHABDITIDA
FAMILI STRONGYLOIDIDAE
Genus Strongyloides
    Genus ini merupakan parasit pada hewan ternak
    Bentuk parasitik ada yang mampu parthenogeneti dan telurnya bisa tumbuh di
      luar induk semang,langsung menjadi larva yang infektif dari seagian generasi
      parasit atau menjadi generasi hidup bebas baik jantan maupun betina
    Esofagus pada free living generation berbentuk rhabditiformes
    Esofagus dari parasitic generation tidak Rhabditiform tetapi berbentuk cylindrical,
      tanpa posterior bulb, atau dengan perkataan lain filariformes
    Larva infektif dari generasi parasitic dapat menembus langsung kulit induk
      semang dan melalui aliran darah menuju paru-paru dari sana menuju trakea
      menuju faring dan usus halus
    Bentuk parasitic cacing dewasa ditandai dengan genital organ pada betina dan
      esophagus relative panjang

Spesies : Strongyloides papillosus
Habitat : usus halus domba, kambing, sapi, kelinci dan ruminansia liar
Morfologi :
        Telur mempunyai ujung yang tumpul dan berdinding tipis, sudah mengandung
larva yang telah berkembang sewaktu dikeluarkan bersama feses induk semang.

Spesies : Strongyloides westeri
Habitat : usus halus kuda, babi dan zebra

Spesies : Strongyloides stercorales
Habitat : usus halus anjing, manusia, srigala, kucing

Spesies : Strongyloides cati= S.planiceps
Habitat : usus halus kucing

Spesies : Strongyloides ransomi
Habitat : usus halus babi

Spesies : Strongyloides avium
Habitat : usus halus dan sekum ayam, kalkun dan beberapa burung liar

Siklus Hidup genus Strongyloides
     Cacing betina yang parthenogenetic menyelipkan diri pada mukosa usus halus.
       Larva stadium I dapat berkembang langsung menjadi larva stadium III yang
       infektif (Homogonic cycle) atau mereka berkembang menjadi bentuk free living
       jantan dan betina, kemudian menghasilkan larva infektif (Heterogonic cycle).
     Pada siklus heterogonic, larva stadium I cepat sekali berubah dalam waktu 48 jam
       menjadi free living jantan dan free liing betina dewasa kelamin. Diikuti dengan
       kopulasi maka free living betina memproduksi telur yang akan menetas dalam
       beberapa jam dan larva mengalami perkembangan menjadi larva infektif.


                                                                                     22
      Pada homogenic cycle, larva stadium I dengan cepat mengalami perkembangan
       menjadi larva infektif. Infeksi pada vertebrata dengan jalan menembus kulit dan
       juga bias terjadi secara per oral.
      Siklus hidup ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
           1. Siklus hidup yang bebas (free living). Pada siklus hidup ini sesudah larva
               keluar dari telur mula-ula larva tidak infektif, yaitu berbentuk
               Rhabditiform larva, yang akan berkembang menjadi cacing jantan dan
               cacing betina
           2. Siklus hidup yang parasitic (parasitic life cycle). Pada siklus ini sebagian
               dari larva yang tidak infektif berkembang menjadi larva infektif yang
               disebut filarifom larva, dimana filariform ini akan menginfeksi induk
               semang baru dan akan terbentuk cacing jantan dan betina. Pada siklus
               hidup parasitic, larva akan mengalami lung igrationterutama jika
               filariformis larva menginfeksi inangnya dengan jalan menembus kulit.

ORDO STRONGYLIDA
SUPERFAMILI : STRONGYLOIDEA
   Cacing ini mempunyai mulut yang terbuka dan terdapat corona radiate (leaf
     crown)
   Gigi atau alat pemotong lain melengkapi buccal cavity yang kecil
   Cacing jantan mempunyai Bursa copulatrix dibagian ujung posterior yang
     berfungsi sebagai pembantu kopulasi. Bursa terdiri dari 3 lobus, yaitu : 1 lobus
     dorsal dan 2 lobus lateral. Diperkuat dengan adanya jari-jari atau bursal rays. Jari-
     jari mengandung serabut otot (muscle fiber). Pada akhir ekor cacing ini terdapat
     semacam bentukan dalam bursa disebut genital core, biasanya terdapat 2 spikula
     yang sama besar dan dilengkapi sebuah gubernakulun (otot-otot)

FAMILI STRONGYLOIDAE
Genus : Strongylus
Species : S. Equinus
Habitat : sekum dan kolon bangsa kuda dan zebra
Morfologi :
    Cacing ini kaku dan berwarn aabu-abu gelap, kadang tampak garis merah karena
       ada darah dalam ususnya
    Buccal capsul bulat lonjong dan terdapat eksternal dan internal leaf crown
    Pada dasar atau basic buccal capsul terdapat gigi dorsal yang besar bercabang di
       bagian ujungnya dan 2 gigi kecil subventral
    Dibagian dorsal esofagus banyak kelenjar-kelenjar (esofagus gland)
    Cacing jantan mempunyai 2 spikula sederhana berbentuk silinder

Spesies : Strongylus edentatus
Habitat : usus besar da kolon bangsa kuda
Morfologi :
    Mirip dengan S.equinus secara makroskopis, tetapi kepalanya lebih lebar
       dibanding bagian tubuh lainnya



                                                                                         23
      Bukal kapsul lebih lebar dibagian anterior dibanding bagian tengah dan tidak
       terdapat gigi

Spesies : Strongylus vulgaris
Habitat : usus besar bangsa kuda
Morfologi :
    Hampir menyerupai S.edentatus dan S.equinus
    Bukal kapsul berbentuk oval dan terdapat dua gigi dorsal dibagian basis/dasar
       yang berbentuk kuping (ear shaped dorsal teeth)
    External leaf crowns menyerupai rumbai-rumbai dibagian distal

Siklus Hidup S. equines
     Larva infektif menembus mukosa sekum dan kolon dan masuk sampai subserosa
       menyebabkan bentukan seperti nodul.
     Sebelas hari setelah infeksi larva stadium IV, terdapat didalam nodul dan migrasi
       ke rongga peritoneum, selanjutnya menuju hati dan moulting menjadi larva
       stadium V dan mulai membentuk bukal kapsul.
     Dari hati kembali ke usus besar, didalam lumen kolon larva berkembang menjadi
       cacing dewasa dan memproduksi telur.

Siklus hidup S.edentatus
     Larva infektif masuk dinding usus melalui vena porta menuju kehati. Didalam
       hati membentuk larva stadium IV. Larva stadum IV dan V dijumpai disini dan
       bercampur dengan berbagai ukuran nodul hemoragi.
     Larva bermigrasi diantara lapisan mesokolon ke dindig sekum dan kolon, disini
       juga menimbulkan nodul hemoragi.
     Cacing muda migrasi menuju lumen da menjadi dewasa kelamin

Siklus Hidup S.vulgaris
     Larva menyebabkan lesi pada arteri dan beberapa kasus, alrvanya tedapat
       dibagiananterior sistem srteri yaitu aorta.
     Larva infektif mengadakan penetrasi kedalam dinding usus, 8 harisetelah infeksi
       terbentuk larva stadium IV penetrasi kedalam intima arteriola, sub mukosa dan
       migrasi melalui vena menuju a mesenterica cranialis dan membentuk thrombi
       yang disebut aneurysma.
     Larva stadium IV migrasi kembali melalui sistem arteri menuju sub mukosa kolon
       dan sekum, disini terbentuk larva stadium V. Kemudian larva menuju lumen usus
       dan menjadi cacing dewasa.

FAMILI TRICHONEMATIDAE
Genus : Chabertia
Spesies : C. Ovina
Habitat : kolon domba, kambing, sapi dan ruminansia lain
Morfologi :
     Ujung anterior melengkung kebagian ventral
     Bukal kapsulnya besar terbuka antero ventral


                                                                                      24
       Mulut diklilingi 2 baris kutikula kecil-kecil seperti leaf crown
       Bursa kopulatrik sempurna dan mempunyai gubernakulum

Siklus Hidup
     Infeksi terjadi secara peroral, melalui makanan atau minuman yang
       terkontaminasi larva infektif. Selaput larva infektif mempunyai ujungekor yang
       pajang.
     Larva menyusup kedalam mukosa kolon bagian atas . 6 hari kemudian larva
       mempunyai bukal kapsul. Pada hari ke 80 larva sudah bisa dibedakan antara
       jantan dan betina, bukal kapsul yang permanen sudah terbentuk, juga kedua alat
       sexnya. Kemudian larva berkembang menjadi larva stadium 4 dan kemudian
       menjadi cacing dewasa.

Genus : Oesophagostomum
Spesies : O.columbianum
Disebut juga nodular worm
Habitat : kolon
Induk semang : kambing, domba dan bangsa kijang liar
Morfologi :
    Mempunyai cervical alae yang lebar, mempunyai external leaf crown kurang
       lebih 20 elemen dan internal leaf crown kurang lebih 40 elemen. Di ujung anterior
       terdapat cervical grove yang melebar bagian ventral sampai lateral. Dibelakang
       cervical groove terdapat cervical papillae yang merupakan tanda khas dari spesies
       ini
    Bursa kopulatrik cacing jantan tumbuh sempurna, mempunyai 2 spikula
    Ekor cacing betina meruncing

Siklus Hidup :
     Telur dikeluarkan bersama feses mencapai stadium infektif 6-7 hari.
     Setelah larva termakan induk semang akan menembus dinding usus bagian
       muskularis dan membentuk kista, disini larva mencapai stadium 3, 5 hari
       kemudian menjadi larva stadium 4 dan kembali ke lumen usus menuju kolon dan
       berkembang menjadi cacing dewasa.

Spesies : O. venulosum
Habitat : kolon domba, kambing, rusa dan unta.
Morfologi :
    Tidak mempunyai lateral cervical alae, bagian posteriornya tidak melengkung.
       Cervicalpapillae terletak dibelakang esophagus.
    Eksternal leaf crown terdapat 18 elemen dan internal leaf crown 36 elemen

Spesies : O radiatum
Habitat : kolon sapi
Morfologi :
    Mulut berbentuk bulat
    Eksterbal leaf crown tidak ada


                                                                                        25
      Internal leaf crown 38-41 elemen

Spesies : O. Dentatum
Induk semang : babi
Morfologi :
    Cephalic vesikelnya menonjol tetapi cervical alae tidak ada
Spesies lain pada babi : O. longicaudum, O. Brevicaudum dan O.georgianum

FAMILI : STEPHANURIDAE
Genus : Stephanurus
Spesies : S.dentatus
Merupakan kidney worm pada babi
Habitat : jaringan perirenal, pelvis renalis, dinding ureter dan kadang-kadang mencapai
organ dalam torak dan bahkan sampai spinal cord
Morfologi :
    Bursa kopulatrik cacing jantan kecil terdapat 2 spikula.
    Bukal kapsul berbentuk seperti cangkir dengan dinding tebal yang berisi 6 gigi
       pada dasarnya, dipinggirnya terdapat leaf crown dengan elemen kecil dan 6
       eksternal kutikula yang tebal
    Vulva tertutup anus

Siklus Hidup
     Cacing dewasa saat akan bertelur berada pada suatu kista yang berhubungan
       dengan ureter, sehingga telur dukeluarkan dalam urin induk semang.
     Cacing tanah dapat menjadi transmitter. Larva infektif bergerak bergerombol di
       dalam tubuh cacing tanah.
     Selubung larva infektif segera mengelupas setelah infeksi terjadi, baik dalam
       dinding perut setelah infeksi lewat mulut atau didalam kulit dan otot perut stelah
       infeksi lewat kulit.
     Pada infeksi lewat mulut mencapai hati, pada infeksi melalui kulit menuju paru-
       paru kemudian menuju hati. Kemudian dari hati menuju rongga peritoneu
       kemudian ke perirenal tissue membentuk kista dan menjadi cacing dewasa.
       Cacing dewasa menembus ureter dan bertelur.

FAMILI SYNGAMIDAE
Genus : Syngamus
Spesies : S. Trachea
Ccaing ini disebut Gip worm
Habitat : trakea
Induk semang : kalkun, ayam.
Morfologi :
    Cacing ini berwarna merah terang dalam keadaan segar dan selalu dalam keadaan
       kopulasi.
    Mulut terbuka luas tanpa leaf crowns
    Bukal kapsulnya berbentuk seperti cangkir/piala dan terdapat 6 atau 10 gigi kecil
       didasarnya.


                                                                                        26
      Bursa kopulatrik pendek dengan rays yang kuat.

Siklus Hidup
     Telur biasanya dibatukkan oleh inang dan ditelan serta dikeluarka oleh feses.
     Infeksi terjadi per oral. Larva infektif termakan oleh cacing tanah, snail, flies dan
       arthropoda lain kemudian menjadi kista
     Cacing tanah, snail dan flies termakan bangsa burung/unggas yang merupakan
       inang definitif.

FAMILI ANCYLOSTOMATIDAE
SUB FAMILI ANCYLOSTOMINE
SUB FAMILI NECATORINAE
Ciri-ciri :
     Tepi ventral bukal kapsul, gigi dan cutting plates tidak ada pada globocephalus
     Bagian dalam bukal terdapat gigi subventral
     Gigi dorsal tidak ada, tetapi gigi sub dorsal (lateral), kadang-kadang terdapat gigi
        kecil

Yang termasuk sub famili ini :
    Genus Necator
    Genus Bunostomum
    Genus Globocephalus
    Genus Uncinaria
    Genus Gaigeria

SUB FAMILI ANCYLOSTOMINAE
Genus : Ancylostoma
Spesies : A. Caninum
Habitat : usus halus anjing, srigala, kucing, manusia
Morfologi :
    Cacing ini tampak kaku dan berwarna abu-abu atau keerahan karena usus berisi
       darah dari induk semang
    Oral apertura membuka ke arah antero dorsal dan dilengkapi dengan bagian
       ventral 3 buah gigi pada tiap sisi
    Bukal kapsul terletak dalam. Pada dasar bukal kapsul terdapat sepasang gigi
       dorsal yang berbentuk segitiga dan sepasang gigi ventrolateral
    Tidak terdapat dorsal cone
    Bursa kopulatrik mempunyai 2 spikula

Spesies : A. Tubaeforme
Habitat : usus halus kucing
Morfologi :
    Bukal kapsul mirip A.caninum tetapi gigi pada tepi ventral sedikit lebih besar
    Spikula lebih besar daripada A.caninum




                                                                                         27
Spesies : A.braziliense=A.ceylanicum
Habitat : usus halus anjing, kucing, srigala, manusia
Morfologi :
    Ukuran sedikit lebih kecil dari A.caninum

Siklus Hidup Ancylostoma spp
     Masuk kedalam tubuh induk semang melalui kulit atau peroral, kemudian larva
       mencari pembuluh darah dan mengikuti aliran darah melalui jantung menuju
       paru-paru menju alveoli lalu laring, faring kemudian dibatukkan dan kembali ke
       usus halus.
     Beerapa larva yang dapat melalui kapiler paru mencapai peredaran darah sistemik
       menuju bermacam-macam organ yang menyebabkan perdarahan kecil-kecil dan
       kemudian mati atau pada hewan bunting dapat mencapai fetus (prenatal
       infection). Pada anak anjing, larva diam tidak berkembang sampai lahir dan
       berkembang sampai stadium dewasa.

Genus: Necator
Spesies : N.americanus
       Cacing ini merupakan hook worm pada manusia kadang-kadang pada anjing dan
babi.

Genus : Bunostomum=Monodontus
Spesies : B.trigonocephalum
Habitat : usus halus (ileum dan jejunum)
Induk semang : domba, kambing, sapi
Morfologi :
    Bukal kapsul elatif besar dan dilengkapi pada tepi vetral sepasang chitine plate
       (sepasang lempengan chitin) didekatnya terdapat sepasang lanset kecil (sub
       vental)
    Dorsal gutter membawa kelenjar oesophageal dan berakhir pada dorsal cone yang
       besar yang mengarah pada buccal cavity
    Pada buccal capsule tidak terdapat gigi dorsal
    Jari-jari (rays) eksterno dorsal kanan muncul lebih tinggi pada tangkai jari dorsal
       yang terbagi dalam 2 cabang dan lebih panjang daripada jari-jari eksterno dorsal
       kiri
    Spikula gemuk

Siklus Hidup
     Infeksi pada hospes terjadi secara per oral atau melalui penetrasi kulit. Dengan
       kedua cara tersebut larva mengadakan lung migration.
     Didalam jaringan paru-paru terjadi moulting menjadi stadium 3.
     Larva stadium 4 mempuntai bukal kapsul mencapai intestin dan tumbuh menjadi
       cacing dewasa.




                                                                                      28
Spesies : B. Phlebotomum
Habitat : usus halus (duodenum) sapi, zebra, domba

Genus : Gaigeria
Spesies : G. pachyscelis
Habitat dan hospes : duodenum kambing dan domba
Morologi :
    Mirip dengan Bunostomum sp, tetapi tidak mempunyai gigi dorsal\
    Anterolateral rays pendek dan tumpul terpisah sama sekali dengan lateral rays

Siklus Hidup
        Penularan terjadi hanya melalui kulit, selanjutnya larva mencapai paru-paru, larva
stadium 4 mempunyai bukal kapsul dengan dorsal cone dan sepasang lanset subventral
selanjutnya migrasi ke bronki, trakea, faring lalu ditelan mencapai intestin dan
berkembang menjadi cacing dewasa.

FAMILI TRICHOSTRONGYLIDAE
Genus : Trichostrongylus
Morfologi :
    Berukuran kecil, langsing, berwarna coklat kemerahan
    Tidak mempunyai bukal kapsul
    Bursa kopulatrik mempunyai lateral rays yang panjang, sedangkan dorsal rays
       tidak begitu nyata, entro lateral rays leih kecil daripada ventral rays
    Spikula kokoh, kaku dan berwarna coklat
    Mempunyai gubernakulum
    Uterusnya bercabang (amphidelp)

Spesies : T. Colubriformis=T.instabilis
Habitat : bagian atas usus halus dan kadang-kadang pada abomasum
Induk semang : domba, kambing, sapi, unta, kelinci, babi dan manusia

Spesies : T.falculatus
Habitat : usus halus
Induk semang : kambing, domba dan rusa

Spesies : T.vitrinus
Habitat : usus halus
Induk semang : kambing, domba, unta, kelinci dan manusia

Spesies : T.capricola
Habitat : usus halus
Induk semang : kambing dan domba

Spesies : T probolurus
Habitat : usus halus
Induk semang : domba, unta, manusia


                                                                                        29
Spesies : T.axei=T.extenuatus
Habitat : abomasum
Induk semang : kambing, domba, sapi, menjangan, babi, kuda, keledai dan manusia

Spesies : T.rugatus
Habitat : usus halus kambing, domba

Spesies : T. longispicularis
Habitat : usus halus kambing, domba, sapi

Siklus Hidup Trichostrongylus spp
     Telur dikeluarkan bersama feses induk semang kemudian berkembang menjadi
       larva stadium 1 dan akan menjadi larva infektif, larva-larvanya berada di rumput
       pada awal pagi dan awal petang.
     Larva infektif yang termakan hospes mengalamai eksidid kedua secara lengkap
       siklus parasitic dimulai

Genus : Cooperia
Habitat : pada usus halus dan kadang-kadang di dalam abomasums dari ruminansia

Spesies : C. curticei
Induk semang : domba dan kambing

Spesies : C.pectinata
Induk semang : sapi dan domba

Spesies : C. Oncophora
Induk semang : sapi, domba, kadang-kadang kuda

Siklus Hidup
        Secara umum menyerupai siklus hidup Trichostrongylus. Infeksi terjadi secara per
oral. Larva yang infektif mempunyai bintik pada ekor dan dikelilingi oleh selubung


Genus : Nematodirus
Ciri-ciri
     Spesies dari genus ini termasuk cacing berukuran pajang dan bagian posterior
        berbentuk langsing
     Mempunyai kutikula yang rata dan terdapat 14-18 garis-garis longitudinal pada
        lapisan kutikulanya
     Bagian anterior tubuh lebih tipis daripada posterior tubuh
     Spikula langsing, panjang dan ujungnya bertemu menjadi satu
     Ekor cacing betina spesifik pendek dan menyempit dengan ujung terdapat
        penonjolan seperti jarum




                                                                                      30
Spesies : N. Spathiger
Habitat : usus halus domba, sapi dan ruminansia lain
Siklus Hidup
     Telur berkembang diluar tubuh induk semang, larva menetas hanya bila tercapai
       stadium infektif yang mengalami 2x ekdisis.
     Infeksi terjadi secara per oral dan menjadi cacing dewasa di dalam usus halus 3
       minggu setelah infeksi.

Spesies : N. Battus
Habitat : usus halus domba

Spesies : N. filicollis
Habitat : usus halus kambing, domba dan rusa


Genus : Haemonchus
Spesies : H.contortus
Spesies ini disebut Stomach worm atau Wire worm dari ruminansia yang paling ganas
Habitat : abomasums kambing, domba, sapid an ruminansia lain
Morfologi :
    Cacing jantan berwarna merah, sedang cacing betina berwarna belang merah
       putih dimana warna tersebut dihasilkan oleh selang-seling antara ovari berwarna
       putih dan usus berwarna merah karena menghisap darah induk semangnya
    Kutikulanya ada yang transversal dan beberapa longitudinal
    Cervical papil menonjol seperti spina
    Buccal cavity kecil dan terdapat dorsal lancet

Spesies : H. placei
Disebut Haemonchus sapi karena menyerang sapi

Spesies : H.similis
Menyerang sapi dan rusa

Spesies : H.longistipes
Habitat : abomasum

Siklus Hidup
     Siklus hidupnya menyerupai Trichostrongylus, telur akan keluar bersama feses
       dan akan menjadi larva infektif di alam
     Infeksi terjadi per oral ketika merumput dan akan menjadi cacing dewasa dalam
       waktu 18 hari di lambung

Genus : Mecisticirrus
Spesies : M.digitatus
Habitat : abomasum domba, sapi, zebra, kerbau dan lambung babi
Siklus Hidup


                                                                                      31
      Telur keluar bersama feses, menetas dan berkembang menjadi larva infektif
      Infeksi terjadi pada saat induk semang merumput yang terkontaminasi larva
       infektif.
      Cacing ini cukup pathogen pada kerbau, sapi dan kambing dan mempunyai efek
       seperti H.contortus

FAMILI DICTYOCAULIDAE
Genus : Dictyocaulus
Spesies : D.filaria
Habitat : bronki kambing, domba dan ruminasia lain
Morfologi :
    Cacing dewasa mempunyai warna putih susu, saluran pencernaan gelap sehingga
       terlihat dari luar
    Buccal capsul dilengkapi 4 bibir, tidak terdapat papil di bagian anterior dan
       posterior

Siklus Hidup
     Telur akan menetas didalam paru-paru tetapi biasanya dibatukkan dan ditelan
       kembali dan larva stadium 1 menetas ketika melalui saluran pencernaan.
       Beberapa telur mungkin dapat dikeluarkan melalui sekreta hidung atau bersama
       sputum.
     Larva stadium 1 dikeluarkan bersama feses, mudah dikenali karena adanya
       bonggol kutikula yang kecil pada ujung anterior, dan terdapat sejumlah granule
       makanan berwarna kecoklatan pada sel-sel intestin. Stadium bebas ini tidak
       makan , tetapi tetap hidup karena persediaan granula-granula makanan.
     Setelah stadium 2 larva berubah menjadi stadium 3 yang merupakan stadium
       infektif, infeksi disebabkan karena tertelannya larva stadium 3 yang merupakan
       larva infektif oleh hospes, setelah itu larva penetrasi ke dinding usus kemudian
       bermigrasi melalui saluran limfe.
     Pada larva stadium 4, jantan dan betina dapat dibedakan, kemudian larva menuju
       paru-paru melalui aliran darah dan tertahan dalam kapiler paru-paru.
       Perkembangan menjadi dewasa terjadi dalam bronki.

Spesies : D. Viviparus
Habitat : bronki sapi, rusa, kerbau dan unta

FAMILI METASTRONGYLIDAE
Genus : Metastrongylus
Spesies : M. apri
Habitat : bronki dan bronkioli babi, babi hutan, kambing, rusa dan ruminansia lain
Morfologi :
    Cacing dewasa berwarna putih dan mempunyai bibir kecil mengelilingi bagian
       mulutnya.
    Bursa kopulatrik relatif kecil dan spikula berbentuk filiformis




                                                                                      32
Spesies : M.pudendotectus
Habitat : bronki dan bronkioli babi dan beruang

Spesies : M.salmi
Habitat : bronki dan bronkioli babi dan ruminansia

Siklus Hidup
     Telur yang berisi penuh dengan larva stadium 1 akan menetas setelah keluar
       bersama dengan feses atau setelah termakan oleh inang perantara yaitu beberapa
       jenis cacing tanah.
     Pada cacing tanah larva mengalami perkembangan dalam esofagus,
       proventrikulus dan ventrikulus dan usus, selanjutnya larva masuk aliran darah dan
       berkumpul dalam jantung, stadium infektif terdapat dalam pembuluh darah cacing
       tanah.
     Inang definitif terinfeksi karena memakan cacing tanah yang mengandug larva
       infektif.

ORDO SPIRURIDA
SUPER FAMILI SPIRUROIDEA
FAMILI SPIRURIDAE
Genus : Habronema
Spesies : H. Muscae
Habitat dan host : lambung kuda
Morfologi :
    Terdapat 2 bibir lateral masing-masing 3 lobi
    Cacing jantan mempunyai caudal alae, 4 pasang prekloaka papillae dibelakang
       kloaka

Spesies : H.microstoma
Habitat : lambung bangsa kuda

Spesies : H.megastoma
Habitat dan host : terdapat dalam nodule pada dinding lambung kadang-kadang bebas
dalam lambung bangsa kuda

Siklus Hidup
     Larva/telur dikeluarkan bersama feses dan dimakan oleh larva lalat yang
       berkembang pada feses, cacing mencapai stadium infektif pada larva lalat
     Pada lalat dewasa larva bebas pada haemocoele dan menuju proboscis. Larva
       diletakkan pada bibir, lubang hidung dan pada luka dari kuda pada waktu lalat
       makan. Yang sering terjadi ialah lalat yang mengandung larva cacing termakan
       bersama ransom/air. Larva dibebaskan didalam lambung kemudian tumbuh
       menjadi dewasa.

FAMILI THELAZIIDAE
Genus : Thelazia


                                                                                       33
Spesies : T.rhodesii
Ditemukan pada sapi, kambing, domba, kerbau
Morfologi:
    Warna putih susu
    Kutikula terdiri garis-garis transversal prominent

Spesies : T.callipaeda
Habitat : dibawah membrana nictitans anjing dan pernah dilaporkan pada kelinci dan
manusia

Siklus Hidup
     Larva stadium 1 didalam usus lalat yang berasal dari sekresi mata inang definitif
       kemudian mengadakan penetrasi pada folikel ovari lalat, selanjutnya berkembang
       menjadi larva stadium 2 dan kemudian berkembang menjadi larva stadium 3.
     Larva stadium 3 meninggalkan folikel ovari dan migrasi ke mulut lalat, kemudian
       dapat dipindahkan ke sapi.

Spesies : Oxyspirura mansoni\
Habitat : membrana nictitans ayam dan kalkun
Morfologi :
Kutikula halus dan faring bentuknya seperti jam pasir
Siklus Hidup
     Telur melalui ductus lacrimalis akan dikeluarkan keluar bersama feses. Inang
       perantara lipas. Unggas terinfeksi karena memakan lipas yang terinfeksi
     Larva terlepas dari inang antara setelah termakan, kemudian merangkak ke atas
       yaitu esofagus, faring dan ductus lacrimalis menuju ke mata. Biasanya larva
       terlihat 20 menit setelah lipas termakan oleh unggas

Spesies : Oxyspirura parvorum
Ditemukan pada unggas di Australia

Genus : Gongylonema
Spesies : Gongylonema pulchrum
Host : domba, kambing, sapi, babi, zebu, kerbau, kuda, onta, keledai, babi hutan
Habitat : esofagus baik bagian mukosa atau submukosa, cacing terbenam dengan
membentuk pola zik-zak. Pada ruminansia kadang ditemukan juga di rumen,
Siklus Hidup
     Inang perantara adalah kumbang tinja, kecoak (Blatella germanica) dapat juga
        terinfeksi oleh cacing ini secara eksperimen
     Host definitive terinfeksi bila memakan inang peratara yang mengadung larva
        infektif. Pada kecoak larva infektif dapat keluar secara spontan yang akan jatuh ke
        air.

Spesies : Gongylonema ingluvicola dan G.crami
Habitat : tembolok ayam



                                                                                        34
FAMILI : ACUARIIDAE
Genus : Cheilospirura
Spesies : C.hamulosa=Acuaria hamulosa
Habitat : gizzard unggas dan kalkun
Morfologi :
     Dua cordonnya menjulur hampir sepanjang tubuh dan garis luar tidak teratur
     Cacing jantan mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil.
       Spikula kiri lebih langsing dan spikula kanan pipih
Siklus Hidup
       Telur keluar bersama feses inang definitif dan menetas setelah tertelan inang
perantara (belalang, kumbang, bangsa rayap). Larva infektif berkembang pada inang
perantara dan inang definitif terinfeksi karena memakan sejenis insect tersebut.

Genus : Dispharynx
Spesies : D.spiralis = Acuaria spiralis
Habitat dan hospes : dinding proventrikulus, esofagus kadang-kadang pada usus unggas,
kalkun, burung merpati, burung mutiara dan bangsa burung lain
Morfologi :
     Cordon mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil
     Cacing jantan mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil
     Spikula kiri gemuk dan spikula kanan berbentuk seperti perahu
Siklus Hidup
       Telur menetas setelah tertelan inang perantara, isopod. Larva berkembang pada
rongga tubuh isopod kemudian termakan oleh burung dan berkembang menjadi dewasa.

Genus : Echinuria
Spesies : Echinuria uncinata =Acuaria uncinata
Habitat : esofagus, proventrikulus, gizzard dan usus halus
Induk semang : itik, angsa dan bangsa burung liar
Morfologi :
     Cordon tidak berbalik dan beranastomose dan kutikula dilengkapi 4 deret
       longitudinal duri
Siklus Hidup
       Telur dikeluarkan bersama feses dan tertelan pleh water fleas, kemudian menetas
dan berkembang menjadi larva infektif. Burung terinfeksi karena memakan inang
perantara, kemudian larva berkembang menjadi dewasa.

FAMILI TETRAMERIDAE
Genus : Tetrameres
Spesies : Tetrameres americana
Habitat dan hospes : proventrikulus ayam, kalkun
Morfologi “
    Cacing betina berbentuk agak bulat (subspherical) dan mempunyai 4 lekukan
       yang dalam di bagian garis longitudinal, sedangkan bagian anterior dan
       posteriornya menonjol sebagai bagian yang lancip



                                                                                       35
Siklus Hidup
     Telur dikeluarkan bersama feses, akan menetas bila tertelan oleh inang antara
       yang sesuai berupa serangga Othoptera seperti Melanoplus femurrubrum, M.
       Differentialis dan Blatella germanica. Infeksi pada hospes dapat terjadi bila
       memakan inang antara yang mengandung larva infektif T.americana.
     Cacing jantan dan betina migrasi menuju kelenjar provetrikulus untuk
       berkopulasi, kemudian cacing jantan meninggalkan kelenjar dan mati.

Spesies lainnya yaitu :
T.fissispina
Habitat :proventrikulus bebek, ayam, kalkun dan burung liar
Inang antara : krustasea air

 T.crami
Habitat :provetrikulus bebek
Inang antara : amphipods

T.mohtedai
Habitat :proventrikulus ayam
Inang antara : kecoak, belalang dan moth (kupu malam)

SUPERFAMILI FILARIOIDEA
FAMILI FILARIIDAE
Genus : Dirofilaria
Spesies : D. Immitis
Habitat : ventrikel kanan, arteri pulmonalis dan organ lain
Induk semang : anjing, kucing dan srigala
Inang perantara : nyamuk dari genus Culex, aedes, anopheles dan Myzorhynchus
Morfologi :
     Ujung posterior cacing jantan berupa coil spiral dan ekor terdapat lateral alae
     Cacing ini gemuk dan berwarna putih
     Mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah setiap waktu, tatapi tendensi
       periodicity
     Mikrofilaria terlihat bermacam-macam pada negara yang berbeda, tetapi
       prinsipnya pada sore hari mikrofilaria dijumpai dalam jumlah maksimum dan
       minimum ditemukan pada pagi hari
Siklus Hidup
     Cacing betina menghasilkan mikrofilaria, mikrofilaria dapat ditemukan dengan
       mudah dalam darah perifer di malam hari, siang hari sulit
     Dalam 24 jam pertama mikrofilaria tinggal dalam lambung nyamuk, 24 jam
       berikutnya migrasi keseluruh malphigi. Pada hari ke 9-10 larva memakan sel
       saluran malphigi serta masuk ke rongga badan. Selanjutnya migrasi ke daerah
       dada dan kepala kemudian masuk labium. Mikrofilaria mencapai stadium infektif
       dalam labium.
     Infeksi berlangsung pada waktu nyamuk yang mengandung mikrofilaria
       menghisap darah anjing. Selama 3-4 bulan mikrofilaria mengembara dalam darah


                                                                                       36
       anjing kemudian menetap dalam ventrikel kanan. Dua bulan berikutnya dicapai
       tahap dewasa dan menghasilkan mikrofilaria.
      Parasit ini dipindahkan oleh lalat semak Stomoxys calcitrans tetapi kadang-
       kadang oleh nyamuk Culicine


FAMILI SETARIIDAE
Genus : Stephanofilaria
Spesies : S.dedoesi
Habitat dan hospes : kulit sapi
Morfologi :
     Oral apertura dikelilingi oleh protruding cuticular rim yang tepinya melengkung
     Dekat bagian anterior terdapat penebalan sirkuler yang dilengkapi dengan duri-
       duri kecil sirkuler
     Spikula unequal
     Cacing betina tidak mempunyai anus
Spesies-spesies lain :
     S.stilesi, penyebab luka-luka yang besar pada kulit samping bawah dari abdomen
       sapi
     S.kaeli, penyebab luka-luka pada kaki dari sapi
     S.assamensis, penyebab hump sore dermatitis konis pada sapi
     S.okinawaensis, terdapat pada sapi di Jepang, penyebab luka-luka pada mulut dan
       puting susu
     S.zaheeri, terdapat pada kerbau, menyebabkan luka-luka pada telinga
Siklus Hidup
       Lalat menghisap mikrofilaria pada luka yang disebabkan oleh Stephanofilaria,
kemudian berkembang menjadi infektif dan berada di probosis lalat. Mikrofilaria infektif
akan menginfeksi induk semang bila lalat menghisap darah induk semang.

SUPER FAMILI TRICHUROIDEA
FAMILI TRICHURIDAE
Genus : Trichuris
Ciri-ciri:
     Cacing ini disebut whip worm (cacing cambuk), karena bagian anterior tubuh
        panjang dan ramping, sedang bagian posterior gemuk.
     Bagian posterior cacing jantan melingkar, terdapat satu spikula yang dikelilingi
        oleh selubung yang protusible dan dilengkapi dengan duri-duri kutikuler yang
        bagus

Spesies : T.ovis
Habitat dan hospes : sekum domba, kambing, sapi
Spesies : T. Globulosa
Habitat dan hospes : sekum rusa, domba, kambing, sapi
Spesies : T. Vulpis
Habitat dan hospes : sekum dan usus halus anjing dan srigala



                                                                                         37
Spesies : T.suis
Habitat dan hospes : sekum babi, babi liar dan babi hutan
Siklus Hidup
       Induk semang terinfeksi karena memakan telur yang mengadung larva infektif
kemudia larva menuju sekum, tinggal dalam kelenjar Lieberkuhn, selanjutnya ke lumen
sekum dan akan tumbuh menjadi cacing dewasa

FAMILI CAPILLARIIDAE
Genus : Capillaria
Spesies : Capillaria caudinflata=c.caudinflatum=c.longicollis
Habitat : usus halus uggas, burung merpati
Siklus hidup
        Indirect. Telur termakan cacing tanah, burung terinfeksi karena memakan cacing
tanah tersebut. Larva infektif dicapai dalam waktu 14-21 hari dalam cacing tanah

Spesies : Capillaria obsignata dan capillaria columbae
Habitat dan host : usus halus ayam, burung merpati, kalkun dan beberapa burung liar

Spesies : C.anatis, C.retusa, C.collaris, C.anseris, C.mergi
Habitat dan host : sekum unggas, burung, itik

Spesies : C.annulata
Habitat : crop dan esofagus ayam, kalkun dan bangsa burung

Spesies : C.contorta
Habitat : crop, esofagus, mulut dari kalkun, angsa

Spesies : C.entomelas
Habitat : usus halus musang, kuskus. Menyebabkan haemorrhagic enteritis terutama pada
musang

Spesies : C.fellis cati
Habitat : vesica urinaria kucing

Spesies : C.mucronata
Habitat : vesica urinaria musang

Spesies: C. Cutanea
Habitat : cacing ini menyebabkan nodule subcutaneus, oedema, lepuh pada kera.
Menyebabkan cutaneus creeping eruption pada jari dan pergelangan kaki.

Spesies : C.hepatica\
Habitat : liver bangsa tikus

Spesies : C.bovis=C.longipes
Habitat : usus halus sapi, domba dan kambing



                                                                                      38
Spessies : C.aerophila
Habitat : pada trakhea, bronkhi, cavum nasal dan sinus frontalis anjing, srigala da rubah

FILUM ACANTHOCEPHALA
Cacing ini disebut sebagai Thorny headed worm (cacing kepala berduri)
Morfologi :
    Tubuhnys silindris, terbungkus segmen (kulit) yang terdiri lima lapisan dan
       permukaannya yang bersifat absorptive cukup luas, mempunyai 20-62 lipatan
    Tidak mempunyai saluran pencernaan, makanan diabsorbsi melalui dinding tubuh
    Bagian anterior terdapat evaginable proboscis (proboscis yang bersifat retractile/
       bias ditarik masuk)
    Dekat kantong proboscis terdapat organ yang berupa rongga memanjang disebut
       Lemnisci, yang berhubungan dengan proboscis dan kemungkinan mensekresi
       cairan proboscis.
    System ekskretori tidak ada atau hanya berupa sepasang nephridia yang
       mengalirkan ekskret kedalam saluran genital
    Jenis kelamin sudah terpisah terdiri cacing jantan dan betina
    Telur berisi acathor larva
    Telur dilengkapi anterior circlet (hooks=duri)
    Telur mempunyai 3 atau 4 lapis kulit

Siklus Hidup
     Indirect, inang perantaranya biasanya arthropoda. Untuk acanthocephala yang
       parasitic pada hewan darat dan burung, inang perantaranya biasanya larva insect,
       kumbang, kecoa atau lipas.Yang parasitic pada vertebrata air, inang perantaranya
       crustacean atau molusca.
     Telur akan menetas dan menghasilkan larva acanthor didalam tubuh inang
       perantara, kemudian membentuk kista disebut cystacanth didalam haemocoel
       arthropoda.
     Cystacanth kemudian berkembang menjadi stadium inektif. Host definitive
       tertular apabila menelan arthropoda yang terinfeksi.
     Cystachant mungkin membentuk kista kembali dalam vertebrata yang lain dan
       induk semang tertular dengan jalan menelan/memakan vertebrata tersebut. Cacing
       dewasa banyak ditemukan terutama pada vertebrata yang hidupnya di air, ikan
       dan burung-burung.




                                                                                        39
PROTOZOOLOGI
Adalah ilmu yang mempelajari mengenai protozoa. Protozoa mrupakan hewan bersel satu
, pertama kali ditemukan oleh Antony van Leewenhoek (1632-1723)

Protozoa termasuk eukariotik, dimana inti mempunyai membrane atau selaput yang
memisahkan dari sitoplasmanya. Hal ini berbeda dengan prokariotik (bakteri) dimana
intibakteri tidak terpisah dari sitoplasmanya.

Inti protozoa dibedakan atas 2 tipe utama
    1. Inti vesikuler (bulat, kecil). Kebanyakan protozoa mempunyai inti vesikuler dan
        semua inti terlihat sama. Setiap inti mepunyai kromosom, atau sekurang-
        kurangnya bahan pembentuk kromosom
    2. Inti non vesikuler (makronukleus). Inti mikronukleus berbentuk vesikuler yang
        bertanggung jawab engendalikan fungsi reproduksi dan inti makronukleus
        bertanggung jawab mengendalikan fungsi vegetatif.

Protozoa bergerak menggunakan alat gerak berupa flagella, cilia, pseudopodia (kaki
palsu), membrane undulant (undulating membrane) atau dengan cara menggelinding

Berdasrkan tipe makanan protozoa dibedakan menjadi 4 tipe :
   1. Tipe autotropik, tipe ini hidup pada bahan anorganik, megubah bahan tersebut
       menjadi protein, karbohidrat dan lemak
   2. tipe holofitik (menyerupai tanaman) organisme ini mensistesa karbohidrat
       didalam klorofil yang terdapat dalam kromatofora
   3. tipe holozoik, organisme ini memiliki tipe, memakan makanan tertentu dengan
       cara menelan melalui mulut sementara atau permanen. Makanan dapat pula
       dimasukkan ke dalam tubuh melalui dinding sel. Makanan yang diperoleh ditahan
       di dalam vakuola makanan
   4. Tipe saprozoik, makanan masuk melalui osmose atau difusi menembus dinding
       sel. Ekskresi atau pengaturan osmose berlangsung secara difusi melalui dinding
       sel atau melalui vakuola kontraktil.

Pembelahan inti vesikuler (mikronukleus) biasanya secara mitosis, sedangkan
makronukleus pembelahannya secara amitosis

Perkembangbiakan atau reproduksi protozoa dapat berlangsung secara seksual dan
aseksual
Reproduksi Aseksual
   1. Pembelahan ganda (binary fission), yaitu pembelahan sel yang menghasilkan 2 sel
       anak yang identik. Pembelahan cara ini biasanya terjadi pada flagelata, amoeba,
       ciliate.
   2. Pembelahan banyak (skizogoni), inti membelah berulang-ulang. Sel yang sedang
       membelah disebut skizon, meron, dan gamon
   3. Endodiogeny, merupakan pembelahan sel yang menghasilkan dua anak yang
       terbentuk dalam sel induk, contohnya pada Toxoplasma gondii stadium takizoit
       dan bradizoit



                                                                                     40
   4. Endopoligeni, yaitu pembelahan yang menghasilkan banyak sel anak dalam sel
      induk

Reproduksi seksual dikenal dua cara
   1. Konjugasi, umumnya terjadi pada ciliata, dua individu melekat satu sama lain dan
      bergabung sepanjang bagian tubuh. Mikronukleus berdegenerasi dan membelah
      beberapa kali, setiap hasil pembelahan adalah haploid yang kan menjadi bakal
      inti, kemudian berpindah dari konjugan satu ke lainnya dan diikuti dengan
      memisahnya konjugan. Didalam tiap konjugan bakal inti beregenerasi
   2. Syngami, 2 gamet haploid bergabung membentuk zygot. Bergabungnya 2 gamet
      yang sama disebut isogami dan bergabungnya 2 gamet yang tidak sama disebut
      anisogami. Pada anisogami gamet yang kecil disebut mikrogamet atau gamet
      jantan dan yang besar disebut makrogamet atau gamet betina. Gamet-gamet
      tersebut dihasilkan oleh sel yang disebut gamon atau gametosit. Mikrogamet
      dihasilkan oleh mikrogametosit dan makrogamet dihasilkan oleh makrogametosit.
      Proses terbentuknya gamet disebut gametogoni. Zigot hasil pembuahan
      makrogamet oleh mikrogamet ada yang disebut ookinet yaitu zigot yang bergerak
      (motil). Zigot ada pula yang disebut dengan ookista yaitu kista dari koksidia.
      Zigot ada yang dapat mengadakan pembelahan banyak (ganda) membentuk
      sporozoit

Beberapa protozoa membentuk kista atau spora
    Pada stadium ini protozoa tahan terhadap pengaruh lingkungan. Kista adalah
      stadium dalam satu siklus hidup protozoa, dimana parasit pada stadium ini
      dikelilingi oleh membran yang jelas dan biasanya pada stadium ini merupakan
      stadium istirahat.
    Stadium spora (sporokista) dibentuk didalam organisme dengan membentuk
      dinding tebal mengelilingi satu atau lebih individu. Individu ini disebut sporozoit.
      Proses pembentukan spora ini disebut sporulasi atau sporogoni

Dalam siklus hidupnya protozoa mengalami perkembangan dimana sel-selnya
membutuhkan makanan. Stadium ini disebut stadium vegettif atau tropozoit

Untuk kelangsungan hidupnya kadang potozoa memerlukan apayang disebut vektor.
Vektor adalah organisme pembewa parasit (protozoa) atau agen penyakit dimana
organisme tersebut berperanan menularkan parasit dari induk semang satu ke induk
semang lainnya. Apabila protozoa dalam tubuh vektor mengalami perkembangbiakan,
maka vektornya disebut vektor biologis, tetapi apabila protozoa dalam tubuh vektor tidak
mengalami perkembangan vektornya disebut vektor mekanis

Protozoa dibagi menjadi 6 kelompok utama : Flagellata, apicomplexa, Sarcodina, Ciliata,
Microspora dan Myxozoa




                                                                                       41
BAB I
FLAGELLATA

      Semua anggota subfilum ini memiliki satu atau lebih flagela untuk alat gerak
      Berdasarkan habitatnya dalam tubuh induk semang, parasit ini dibagi menjadi dua
       kelompok besar : Hemoflagellata (parasit ini hidup didalam darah) dan
       Mucosoflagellata (parasit yang hidup didalam saluran pencernaan)
      Perkembangbiakan terjadi secara aseksual dengan cara pembelahan ganda (binary
       fission)
      Anggota protozoa yang penting adalah Trypanosoma, Leishmania, Trichomonas
       dan Histomonas

Genus : Trypanosoma
    Habitat parasit dalam tubuh induk semang vertebrata di darah (plasma darah),
       cairan jaringan (cairan limfe) dan beerapa jaringan tubuh
    Dalam siklus hidupnya mempunyai bentuk atau stadium amastigote,
       promastigote, epimastigote dan trypomastigote.
    Kebanyakan tidak bersifat patogenik dan hidup dalam induk semangnya tanpa
       menimbulkan masalah, tetapi beberapa bersifat patogenik dan merupakan parasit
       penting pada ternak dan manusia. Penyakit yang ditimbulkan disebut
       trypanosomiasis. Penyebaran yang bersifat patogen memerlukan vektor atau
       induk semang antara (biasanya insekta penghisap darah)
    Berdasarkan cara penularan oleh vektor typanosoma dibagi dalam 2 kelompok
       yaitu stercoraria atau posterior station dan salivaria atau anterior station, Pada
       kelompok stercoraria, trypanosoma mengalami perkembangbiakan di usus vektor
       dan belntuk infektifnya berada dalam salura pencernaan bagian posterior dan
       keluar bersama feses vektor. Penularan tejadi melalui membrana mukosa atau
       kulit yang luka dari induk semang yang terinfeksi feses vektor, sebagian besar
       kelompok stercoraria bersifat tidak patogen, kecuali Trypanosoma cruzi.
       Penularan Trypanosoma kelompok salivaria melalui gigitan vektor karena bentuk
       infektif parasit berada di kelenjar saliva vektor, kebanyakan kelompok salivaria
       bersifat patogen

Spesies : Trypanosoma brucei
    Penyakit yang ditimbulkan disebut NAGANA
    Hewan yang dapat terseraang antara lain : kuda, sapi, domba, kambing, unta, babi,
       anjing
    Habitat atau predileksi T.brucei dalam tubuh induk semang adalah di peredaran
       darah (plasma darah), cairan limfe dan cairan serebrospinal
    Daerah penyebaran di daerah tropis Afrika
    Dalam penyebarannya memerlukan vektor lalat tsetse (Glossina sp)
    Struktur parasit polimorfik diantaranya langsing, sedang, gemuk

Siklus Hidup
     Hewan terinfeksi karena tergigit oleh lalat yang diglandula salivanya mengandung
       Trypanosoma


                                                                                       42
      Pertama kali masuk tubuh induk semang, protozoa membelah diri secara
       pembelahan ganda longitudinal di dalam darah dan getah bening dalam bentuk
       trypomastigote. Selanjutnya melewati blood brain barrier masuk cairan
       serebrospinal an berkembang biak dan berhabitat diantara sel syaraf.
      Sewaktu terhisap oleh vektor (lalat Glossina sp) T. Brucei berada pada bagian
       posterior usus vektor, berkembangbiak sebagai bentuk trypomastigote,
       selanjutnya ke esofagus dan faring dan akhirnya ke glandula salivaria
      Didalam glandula salivaria berbentuk epimastigote kemudian menjadi bentuk
       metasiklik trypomastigote dan bentuk inilah yang merupakan stadium infektif
       bagi induk semang

Spesies : Trypanosoma evanzi
     Parasit menyerang unta, kuda, keledai, sapi, kambing, babi, anjing, kerbau air,
       gajah, tapir, rusa dan hewan liar lain
     Penyakit yang disebabkan disebut berbagai nama tergantung daerah penyebara di
       Indonesia disebut SURRA, di Aljazair disebut EL DEBAB, di Sudan disebut
       MBORI dan di Venezuela disebut DERRENGADERA, di Amerika Selatan
       disebut MAL DE CADERAS
     Perkembangbiakan dengan cara pembelahan ganda longitudinal
Siklus Hidup
     Ditularkan secara mekanis oleh lalat penghisap darah antara lain : Tabanus,
       Stomoxys, Haematopota dan Lyperosia.
     Didalam tubuh insekta (vektor) parasit tidak mengalami perkembangan, setelah
       menghisap darah penderita T.evanzi tetap berada pada probosis vektor dan
       langsung ditularkan ke induk semang lain. Vektor semacam ini disebut vektor
       mekanis/
     Didalam tubuh induk ssemag T. evansi berbentuk trypomastigote dengan habitat
       di plasma darah dan limfe.

Spesies : Trypanosoma equiperdum
    Secara morfologis hampir sama dengan T.brucei
    Dalam siklus hidupnya tidak memerlukan vektor
    Penyebaran parasit terjadi pada saat hewan melakukan perkawinan alami,
       kopulasi.
    Parasit lebih sering menyerang kuda, keledai dapat bertindak sebagai carier.
    Penyakit yang ditimbulkan disebut DOURINE

Genus : Leishmania
    Parasit dalam genus ini tidak mempunyai undulating membrane.
    Dalam siklus hidupnya mengalami 2 perkembangan 2 bentuk (stadium):
       amastigot dan promastigot. Dalam tubuh vertebrata dapat berbentuk amastigot
       biasanya ditemukan dalam sel-sel endothel dan makrofag, sedangkan dalam
       invertebrata berbentuk amastigot dan promastigot

Siklus Hidup



                                                                                       43
      Induk semang tergigit vektor. Pada mamalia (vertebrata) parasit ditemukan dalam
       makrofag, leukosit tertentu, limfa, hati, sumsum tulang, limfoglandula, mukosa
       intestinaldan sel-sel tertentu, perkembangbiakan dalam sel-sel tersebut dengan
       cara pembelahan ganda (binary fission)
    Apabila lalat pasir yaitu Plebotomus sp sebagai vektor menggigit penderita
       misalnya manusia dan anjing maka parasit bersama aliran darah atau yang berada
       di kulit akan ikut terisap lalat masuk dan berkembang di dalam usus lalat.
    Didalam usus lalat parasit berubah bentuk memanjang dan flagelanya
       berkembang membentuk flagela bebas, stadium parasit menjadi promastigot.
       Bentuk ini berkembang biak dengan cepat dengan cara pembelahan ganda dan
       selanjutnya bermigrasi ke usus bagian depan akhirnya mencapai probosis.
    Bila lalat ini menggigit induk semang baru, parasit akan keluar dari probosis lalat
       dan masuk ke induk semang, bersama aliran darah induk semang tersebut menuju
       organ-organ limfatik
Spesies-spesies yang penting antara lain :
           1. Leishmania donovani, merupakan penyebab penyakit KALA AZAR atau
                DUMDUM FEVER atau Visceral Leishmaniasis pada manusia. Anjing,
                srigala danrubah dapat bertindak sebagai karier
           2. Leishmania tropica, merupakan penyabab penyakit cutaneus
                leishmaniasis. Dapat menyerang manusia, anjing, rodensia. Organisme ini
                dapat diteukan didalam sel makrofag, sel-sel endothel dari pembuluh
                kapiler dan dalam limfoglandula
           3. Leishmania braziliense, penyebab mucocutaneus leishmaniasis.
                Ditemukan dalam sel endothel dan sel mononuclear pada hidung, mulut an
                faring. Terutama menyerang manusia, anjing, kucing, tikus.

Genus : Trichomonas
    Protozoa pada umumnya berada di dalam saluran pencernaan, beberapa
       ditemukan di saluran reproduksi
    Parasit berbentuk seperti buah peer (pyriform)
    Terdapat organel yang disebut blepharoplast atau disebut pula badan parabasal
       (parabasal body)
    Dari blepharoplast timbul flagella anterior dan posterior. Flagela posterior
       mengitari tubuh membentuk undulating membran dan flagela ini kadang
       memanjang sampai keluar dari tubuh bagian posterior membentuk flagela bebas
    Pengelompokan ke dalam genus tergantung dari julah flagela anterior diantaranya
       Tritrichomonas, trichomonas, tetratrichomonas dan pentotrichomonas

Genus : Trichomonas gallinae
    Sering menyebabkan trichomoniasis pada unggas terutama merpati, kalkun dan
       anak ayam
    Habitat dalam tubuh induk semang yaitu pada saluran pencernaan bagian atas
       (depan) termasuk pula hati
    Parasit berbentuk seprti buah peer
    Mempunyai 4 flagella anterior dan 1 flagella posterior yang membentuk
       undulating membran


                                                                                     44
Spesies : Trichomonas foetus
    Menyerang saluran reproduksi sapi, babi, kuda
    Menyebabkan bovine trichomoniasis
    T.foetus tersebar di seluruh dunia dan sewaktu waktu dapat menyebabkan
       kerugian ekonomi yang besar terutama pada sapi perah
    Penularan parasit ini melalui perkawinan atau inseminasi buatan
    Organisme berbentuk seperti buah peer. Mempunyai 3 flagela anterior dan satu
       flagela posterior yang memanjang kebelakang membentuk undulating membrane
    Perkembangbiakan secara pembelahan ganda, tidak terjadi perkembangan secara
       seksual maupun pembentukan kista

Genus Histomonas
    Parasit berbentuk pleomorfik tegantung dari organ sebagai organ lokasi parasit
      dan stadiumnya.
    Perkembangbiakan parasit secara aseksual yaitu dengan mengadakan pembelahan
      ganda
    Stadium-stadium dari histomonas adalah :
          1. Stadium invasif, terutama pada luka baru, berbentuk amuboid,
             ekstraseluler
          2. Stadium vegetatif, biasanya pada luka lama, ukuran lebih besar, kurang
             aktif, sitoplasma basofilik, transparan, berkelompok
          3. Stadium resisten, kompak, terbungkus membran padat, tunggal atau
             berkelompok di luar sel hati atau sekum
          4. Stadium berflagela, terdapat di lumen sekum, tunggal atau berkelompo,
             amuboid, jumlah flagela bisa sampai empat, sitoplasma berisi butiran
             makanan (bakteri, eritrosit dll)
    Induk semang parasit adalah bangsa unggas, terutama kalkun dan ayam. Pada
      kalkun parasit ini menyebabkan parasit black head atau enterohepatitis.
    Habitatnya pada sekum dan hati
    Sebagai vektor adalah cacing Heterakis gallinarum

Siklus Hidup
     Dimulainya dengan tertelannya Histomonas bentuk flagela (tropozoit) yang
       berada pada lumen sekum kalkun oleh cacing Heterakis betina.
     Dari dalam usus cacing, Histomonas mengadakan penetrasi ke ovarium dan
       mengadakan perbanyakan diri di dalam ovarium cacing. Dari ovarium protozoa
       keluar dari tubuh cacing brsama ovum cacing yang keluar bersama feses induk
       semang
     Induk semang baru (kalkun) tertular karena memakan telur cacing yang berisi
       Histomonas in. Didalam usus kalkun Histomonas keluar bersamaan dengan
       pecahnya telur cacing menuju ke lumen sekum dan menembus dinding sekum dan
       berkembangbiak di sekum sebagian ada yang ikut aliran darah menyebar ke hati




                                                                                 45
BAB II
SARCODINA, CILIATA DAN APICOMPLEXA SALURAN PENCERNAAN

Genus: Entamoeba
Spesies : E. Histolytica
    Induk semangnya adalah manusia dan primata lain
    Menyebabkan desentri pada manusia, anjing dan kucing
    Habitat pada usus halus dan besar, khususnya pada kolon dan rektum
    Kista dewasa berinti 4, mempunyai badan kromatin yang panjang seperti cambuk
    Gerakan cepat, pseudopodia membentuk jari tangan
    Tidak semua spesies ini patogen, strain yang patogen bentuk tropozoitnya
       mempunyai kemampuan menembus jaringan

Spesies : E.coli
    Merupakan spesies yang tidak patogen.
    Induk semang manusia dan hewan lain
    Habitat pada sekum dan kolon
    Gerakan lamban. Pseudopodia tidak membentuk jari tangan.
    Kista dewasa berinti 8, badan kromatin berujung agak bulat

Siklus Hidup
     Induk semang tertular parasit karena menelan bentuk kista dewasa, kista dalam
       lumen usus mengalami ekskistsi, setiap inti mengadakan pembelahan ganda
       sehingga jumlah inti menjadi 8, pembelahan inti diikuti sitoplasma. Bentuk ini
       disebut stadium metakista. Metakista berkembang menjadi lebih besar yang
       disebut stadium tropozoit. Bentuk tropozoit selanjutnya tetap tinggal di lumen
       usus atau menembus mukosa usus. Kemampuan menembus (berinvasi) jaringan
       ini yang membedakan strain yang patogen dan yang tidak patogen.
     Tropozoit bergerak mencari makan, tumbuh dan memperbanyak diri secara
       pembelahan ganda
     Stadium tropozoit selanjutnya berkembang menjadi stadium prekista, bentuk
       tubuhnya membulat dan ukurannya mengecil. Bentuk prekista berinti satu.
     Dari prekista organisme membulat membentuk kista. Mula-mula kista berinti satu
       selanjutnya inti megadakan pembelahan ganda dari satu inti menjadi dua
       membelah lagi menjadi empat kemudian delapan atau lebih tergantung
       spesiesnya. Kista akan keluar bersama feses penderita
     Beberapa tropozoit dari strain yang patogen selain menembus mukosa usus,
       bersama aliran darah mampu mencapai organ lain, seperti hati, paru-paru, otak
       dan organ lain. Di organ tersebut mengadakan invasi, menginfeksi sel-sel organ
       serta membentuk abses

Genus : Balantidium
    Anggota dari genus Balantidium bantuk vegetatifnya (tropozoitnya) mempunyai
        bentuk oval sampai elips.




                                                                                   46
       Seluruh permukaan tubuh tertutup silia yang tersusun seperti deretan
        longitudinal, dimana silia merupakan alat gerak (lokomosi)
       Mempunyai 2 inti, yaitu : makronukleus yang berbentuk halter dan mikronukleus
        yang berbentuk bulat, bertanggung jawab dalam proses reproduksi
       Reproduksi (perkembangbiakan) dengan cara pembelahan ganda atau dengan
        konjugasi
       Stadium vegetatif mempunyai peristom(mulut) terletak di ujung anterior
       Biasanya merupakan parasit pada usus besar manusia, babi dan kera, serta
        bersifat pathogen
       Selain mempunyai tropozoit, parasit juga mampu membentuk kista

Spesies : Balantidium coli
    Mempunyai 2 stadium perkembangan , yaitu tropozoit dan kista. Pada stadium
       tropozoit (vegetatif) makronukleus berbentuk halter, sitoplasma berisi beberapa
       vakuola makanan da 2 vakuola kontraktil. Stadium kista berbentuk ovoid sampai
       sperikal, di dalam kista masih telihat makronukleus, mikronukleus dan vakuola
       kontraktil. Silia tidak terlihat, tertutup dindig kista, dinding kista terdiri dari 2
       membran
    Parasit mnyerang babi dan golongan primata tinggi termasuk manuasia
    Habitat parasit dalam induk semang di lumen kolon, induk semang tertular parasit
       karena menelan bentuk kista yang mencemari makanan dan minuman.

Famili Eimeriidae
    Organisme dari parasit ini sebagian besar adalah parasit intraseluler dari sel
       epithel usus, beberapa pada sel lain seperti epithel saluran empedu dan ginjal
    Parasit bersifat single host (hospes tunggal) artinya satu spesies dari parasit ini
       dalam satu siklus hidupnya hanya memerlukan satu induk semang
    Perkembangan aseksual (secara skizogoni) dan seksual (gametogoni) yang
       ditandai dengan terbentuknya makrogamet dan mikrogamet serta bergabungnya
       kedua gamet tersebut menjadi zigot (ookista), terjadi di dalam sel epithel usus.
       Proses sporulasi (sporogoni) yang ditandai dengan terbentuknya spora (sporokista
       dan sporozoit) di dalam ookista terjadi di luar induk semang.
    Famili Eimeriidae beranggotakan beberapa genus. Pengelompokan ke dala genus
       ini terutama berdasarkan pembentukan spora dalam stadium ookista, jumlah
       sporokista dengan masing-masing sporokista berisi satu atau lebih sporozoit.
       Genus-genus yang penting antara lain :
            1. Eimeria, ookista yang berspora mempunyai 4 sporokista dan tiap-tiap
                sporokista mengandung 2 sporozoit
            2. Isospora, stadium ookista bersporanya mempunyai 2 sporokista, masing-
                masing sporokista berisi 4 sporozoit
            3. Tyzeria, ookistanya tidak mempunyai sporokista tetapi terdapat 8
                sporozoit
    Berikut ini adalah ciri-ciri morfologis dari stadium ookista:
       1. Ookista mengandung satu zigot. Ookista keluar dari sel epithel usus induk
            semang dan dipasasekan keluar bersama feses induk semang dalam keadaan
            belum berspora


                                                                                         47
       2. Pada umumnya berbentuk bulat, subsperikal, ovoid atau elipsoid dengan
          ukuran yang beragam sesuai dengan spesiesnya
       3. Dinding kista terdiri dari 2 lapis yang berbatas jelas. Pada beberapa spesies
          dinding luar berwarna kekuningan atau kehijauaan dan beberapa ada yang
          mempunyai jalur-jalur atau titik-titik. Lapisan luar dari dinding ookista terdiri
          dari protein dan lapisan dalamnya tersususn oleh lemak
       4. beberapa spesies mempunyai mikrofil. Mikrofil tertutup pleh tutup mikrofil,
          mempunyai bentukan garis lengkung pada dinding kista ke arah luar yang
          disebut polar cup
       5. Dalam ookista kadang terdapat organela bahan residu (residual body) dan juga
          polar granule tergantung jenis spesiesnya
       6. Pada ookista yang berspora terbentuk sporozoit yang terbungkus dalam
          sporokista. Sporokista pada umumnyaberbentuk oval memanjang yang
          mempunyai satu atau lebih titik ujung sporokista yang disebut badan stieda
          (stieda body). Tiap sporokista mengandung sporozoit, jumlahnya tergantung
          dari genus parasit
       7. Sporozoit bentuknya bengkok seperti koma atau pisang. Sporozit mempunyai
          vakuola yang bulat dan granular cytoplasma yang berbeda dengan inti. Inti
          terletak di tengah (sentral)

Siklus Hidup
     Siklus hidup dimulai dr tertelannya ookista infektif (ookista berspora) oleh induk
       semang yang sesuai. Di dalam usus induk semang dinding ookista pecah oleh
       tekanan dinding usus atau tembolok ayam dan oleh enzim tripsin yang dibebaskan
       ke dalam usus.
     Pecahnya dinding ookista menyebabkn tebebasnya sporokista dan membebaskan
       sporozoit. Sporozoit selanjutnya menembus sel epithel usus pada vili-vili usus. Di
       dalam epithel usus parasit mengadakan perkembangan secara aseksual (skizogoni)
       dan seksual (gametogoni)
     Perkembangan skizogoni.
       o Sporozoit yang masuk ke dalam epithel usus bentuknya berubah menjadi
           bulat. Bentukan ini disebut tropozoit. Di dalam epithel usus kebanyakan
           terletak di atas inti sel, beberapa di bawah inti sel
       o Dalam beberapa jam sporozoit akan membelah secara skizogoni membentuk
           skizon (meron). Skizon pada tahap ini disebut skizon generasi pertama.
           Pembelahan inti tropozoit pada fase skizogoni terjadi secara mitosis, mula-
           mula sitoplasma tidak ikut membelah baru setelah dihasilkan banyak anak inti
           dikelilingi oleh zone yang jelas yaitu sitoplasma. Sel-sel anak dari hasil
           pembelahan secara skizogoni disebut merozoit. Merozoit dalam skizon
           generasi pertama disebut merozoit generasi pertama.
       o Dalam sel epithel usus induk semang, skizon dikelilingi oleh dinding yang
           berbatas jelas dengan organela sel dan sel yang terinfeksi membesar dan
           mengalami distorsi serta menonjol ke lumen usus. Skizon yang sudah dewasa
           dindingnya akan pecah bersamaan pecahnya sel epithel usus induk semang.
       o Pecahnya skizon akan membebaskan merozoit, merozoit yang terbebas akan
           menginfeksi sel epithel baru dan terjadilah siklus aseksual yang sama,


                                                                                        48
          membentuk skizon generasi kedua yang nantinya menghasilkan merozoit
          generasi kedua. Skizon generasi kedua ini dapat meluas ke sel jaringan lain.
          Pada spesies tertentu skizon generasi lebih besar ukurannya dari generasi
          pertama. Beberapa merozoit dari generasi kedua akan berkembang menjadi
          bentuk gametosit
      Perkembangan Gametogoni (perkembangan seksual)
       o Diperkirakan merozoit yang berkembang menjadi gametosit berasal dari
          skizon yang berbeda yaitu tipe skizon A dan B. Skizon tipe A, mempunyai
          ukuran yang lebih kecil, mengandung sedikit merozoit yang nantinya akan
          berkembang menjadi mikrogamet (gamet jantan). Skizon tipe B merupakan
          skizon yang berukuran besar yang nantinya akan menghasilkan merozoit yang
          akan berkembang menjadi makrogametosit yaitu sel yang menghasilkan
          makrogamet (gamet betina). Jumlah mikrogamet umumnya lebih banyak
          daripada makrogamet
       o Makrogamet ukurannya lebih besa dan sama besarnya dengan ukuran ookista
          yang nantinya akan dihasilkan.
       o Fertilisasi makrogamet oleh mikrogamet menghasilkan zigot yang disebut
          ookista, dalam perkembangannya zigot dikelilingi oleh dinding. Jika
          pembentukan dinding ookista sudah cukup, ookista akan keluar dari sel
          jaringan dan dipasasekan keluar tubuh induk semang bersama feses. Di luar
          tubuh induk semang (di alam bebas) ookista mengalami perkembangan secara
          sporulasi.
      Perkembangan Sporogoni (sporulasi)
       o Sporulasi adalah proses terbentuknya spora dalam ookista. Ookista yang
          berspora merupakan ookista yang infektif.
       o Protoplasma dari zigot dalam ookista akan memendek dari dinding ookista
          menjadi bentuk sporont.
       o Sporont membagi dalam beberapa sporoblast. Tahap awal sporoblast
          berbentuk agak bulat kemudian memanjang menjadi bentuk oval (elips) dan
          selanjutnya berkembang menjadi sporokista.
       o Protoplasma dalam masing-masing sporokista menjadi 2 untuk Eimeria dan 4
          untuk Isospora menjadi sporozoit. Protoplasma dari pembelahan ini beberapa
          tersisa dan tetaptinggal dalam sporokista yang disebut dengan sporocystic
          residual body

Berikut ini adalah beberapa spesies Eimeria dan Isospora yang penting pada hewan
ternak :
    1. Eimeria ninakholyakimovae
             Menyerang ternak kambing dan domba. Habitat di usus posterior, sekum
               dan kolon
             Waktu sporulasi 1-2 hari
    2. Eimeria arloingi
         Sering menyerang usus halus kambing
         Waktu sporulasi ookista antara 48-72 jam
    3. Isospora suis



                                                                                    49
         Menyerang babi. Habitatnya dalam usus halus
         Waktu sporulasi 4 hari
   4.   Eimeria bovis
         Menyerang anak sapi
         Waktu sporulasi 48-72 jam pada temperatur kamar
   5.   Eimeria zuernii
         Sering menyerang usus halus dan usus besar sapi, zebra dan kerbau air
         Waktu sporulasi 3 hari
   6.   Isospora bigemina
        Parasit ini menyerang kucing, anjing juga dapat terserang
        Stadium perkembangan terjadi di usus halus
        Waktu sporulasi 4 hari
   7.   Isospora felis
         Menyerang kucing, harimau dan bangsa kucing lainnya
         Stadium perkembangan terjadi pada usus halus dan kadang-kadang pada usus
            besar
         Waktu sporulasi 4 hari
   8.   Eimeria tenella\\
         Merupakan koksidia yang paling sering dan patogen pada ayam
         Stadium perkembangan terjadi di sekum
         Waktu sporulasi 18 jam
   9.   Eimeria necatrix
         Menyerang ayam
         Pertumbuhan aseksual (skizogoni) terjadi didalam usus halus, sedangkan
            gametogoni di dalam sekum
         Waktu sporulasi 2 hari




BAB III


                                                                                50
APICOMPLEXA
SARCOCYSTIDAE DAN PLASMODIIDAE

Genus : Toxoplasma
    Spesies Toxoplasma gondii merupakan satu-satunya spesies dari genus ini,
       pertama kali ditemukan pada binatang mengerat di Afrika, parasit ini ditemukan
       sebagai penyebab kongenital pada anak yang baru dilahirkan
    Protozoa ini termasuk parasit intraseluler obligat. Habitat di semua tipe sel induk
       semang dan dapat menyerang semua bangsa mamalia termasuk pula manusia dan
       semua bangsa burung. Kucing dan bangsa feline merupakan induk semang utama
       sedangkan induk semang lain merupakan induk semang antara.
    Toksoplasma dimasukkan dalam golongan koksidia karena di dalam siklus
       hidupnya mengalami perkemangan secara skizogoni, gametogoni dan sporogoni
       layaknya koksidia yang lain dan perkembangan tersebut terjadi di usus cacing
       (induk semang utama)
    Dalam satu siklus hidupnya ada lima stadium perkembangan, yaitu : skizon,
       gamon, takizoit, bradizoit dan ookista. Stadium takizoit/tropozoit berbentuk
       pisang atau bulan sabit. Stadium ini merupakan stadium multiplikasi,
       perkembangannya sangat cepat dan biasanya diteukan pada stadium penyakit
       yang akut.
    Perkembangbiakan secara endodiogeni. Habitat di semua tipe sel jaringan. Di
       dalam sel induk semang parasit berada dalam vakuola parasitoforosa dan
       membentuk akumulasi yang disebut dengan group atau kelompok atau Rosset.
       Satu grup berisi antara 8-16 takizoit dan setelah mencapai jumlah tersebut
       kelompok akan pecah bersamaan dengan pecahnya sel induk semang. Takizoit
       yang terbebas akan menginfeksi sel baru
    Stadium bradizoit atau sistozoit. Secara morfologis hampir sama dengan takizoit.
       Berada dalam semua tipe sel. Merupakan stadium istirahat, karena
       perkembangbiakan stadium ini sangat lamban dan biasanya ditemukan pada
       keadaan penyakit yang sudah kronis. Perkembangbiakan secara endodiogeni. Di
       dalam sel induk semang berakumulasi dalam vakuola parasitoforosa dan
       kumpulan bradizoit ini dalam jumlah yang banyak. Kumpulan bradizoit tersebut
       dikelilingi dengan masa yang memisahkan parasit dengan organela sel-sel induk
       semang dan membentuk suatu kista yang selanjutnya disebut dengan kista
       jaringan. Dalam satu kista jaringan berisi beberapa ratus sampai beberapa ribu
       bradizoit. Masa pembungkus kumpulan bradizoit tersebut disebut dinding kista.
       Dinding ini halus tanpa sekat dan tidak tertembus antibodi yang dibentuk induk
       semang. Stadium kista lebih tahan terhadap faktor lingkungan dibanding dengan
       bentuk takizoit
    Bentuk stadium ookista. Dietmukan pada feses kucing penderita. Berbentuk
       spiral. Waktu sporulasi 2-5 hari tergantung faktor lingkungan. Ookista berspora
       mempunyai 2 sporokista, masing-masing sporokista berisi 4 sporozoit



Siklus Hidup


                                                                                      51
      Induk semang terinfeksi karena menelan ookista berspora atau memakan daging
       yang berisi kista jaringan (berisi bradizoit) maupu takizoit.
      Siklus hidup parasit dalam tubuh induk semang terjadi di enteroepithelial
       (intraintestinal) dan ekstraintestinal
      Perkembangan intraintestinal
       Perkembangan ini hanya terjadi pada induk semang utama, yaitu kucing dan
       sebangsanya. Takizoit dan bradizoit dalam jaringan (kista jaringan) atau ookista
       infektif (berspora) yang tertelan oleh kucing akan masuk usus. Oleh adanya enzim
       proteolotik dalam usus dan lambung kucing dinding kista dan ookista akan hancur
       dan membebaskan sporozoit dari ookista serta bradizoit dari kista. Zoit yang
       terbebas (bradizoit, sporozoit) akan menembus lamina propria usus halus kucing
       dan berubah bentuk menjadi tropozoit/takizoit. Inti tropozoit berkembangbiak
       secara skizogoni yang menghasilkan skizon. Skizon yang pecah akan
       membebaskan merozoit, merozoit akan menginfeksi sel-sel baru. Ada 5 tipe
       merozoit yang menginfeksi sel usus (A-E). Tipe D dan E memproduksi gamet,
       pada umumya ditemukan pada villi usus terutama ileum. Gamet jantan
       (mikrogamet) akan membuahi gamet betina (makrogamet). Pembuahan
       meghasilkan zigot dan selanjutnya disebut ookista. Ookista dilepas ke lumen usus
       dan keluar bersama feses kucing. Di luar tubuh kucing pada kondisi yang
       optimal, ookista bersporulasi menjadi ookista infektif. Dalam lingkungan yang
       sesuai ookista ini dapat bertahan sampai 1 tahun
      Perkembangan ini terjadi baik pada kucing maupun hewan lain, termasuk
       manusia. Sporozoit yang dilepas dari ookista dan bradizoit yang dilepas dari kista
       jaringan yang tertelan menembus dinding usus dan membelah secara endodiogeni
       dalam lamina propria sebagai takizoit. Takizoit membelah secara cepat. Takizoit
       ikut bersama aliran peredaran darah dan cairan limfe dan menginfeksi semua
       organ. Organ yang pertama kali terinfeksi yaitu limfonodus mesenterika diikuti
       organ-organ lain seperti hati, paru-paru, lien, otak dan jaringan lainnya.
       Bersamaan dengan perkembangan kekebalan (imunitas) induk semang, bentuk
       takizoit berubah menjadi bentuk bradizoit yang berkelompok membentuk kista
       jaringan.

FAMILI PLASMODIIDAE
Genus : Plasmodium
    Menyebabkan malaria termasuk pada manusia, pada ayam menyebabkan
       penyakit malaria juga.
    Skizogoni terjadi pada sel darah merah bangsa burung sedang gametogoni serta
       sporogoni terjadi di dalam saluran pencernaan invertebrata penghisap darah
       (Nyamuk Aedes)
    Bentuk gametosit bundar, mempunyai pigmen granul yang relatif besar
    Bentuk skizon bundar atau tidak beraturan dan menghasilkan 8-3 merozoit. Siklus
       skizogoni 36 jam
    Stadium eksoeritrosit terjadi pada sel endothel dan sel RES pada lien, otak dan
       liver

Siklus Hidup


                                                                                      52
      Sporozoit yang infektif tidak langsung masuk ke dalam eritrosit, tetapi
       berkembang di luar eritrosit (bentuk eksoeritrositik) yaitu di dalam sel endothel
       berkembang secara skizogoni membentuk skizon. Skizon yang pecah akan
       membebaskan merozoit, bersamaan pecahnya sel induk semang.
      Merozoit yang berasal dari bentuk pre eritrosit skizon generasi pertama disebut
       metakriptozoit, kemudian merozoit yang berasal dari metakriptozoit masuk ke
       dalam eritrosit dan sel lain dan selanjutnya menjadi bentuk skizon eksoeritrositik .
      Siklus eritrositik terjadi 7-10 hari setelah infeksi oleh merozoit dari
       metakriptozoit, tetapi waktu tersebut berbeda apabila infeksi oleh merozoit dari
       skizon eksoeritrosit dari sel endothel maupun sel hematopoetik. Di dalam eritrosit
       bentuk merozoit berubah menjadi bentuk tropozoit, yang mempunyai bentuk
       bundar berisi vakuola yang besar mendesak sitoplasma daripada parasit.nti
       terletak pada salah satu ujungnya dan disebut signetring, terlihat dengan
       pewarnaan Romanowsky.
      Bentuk tropozoit mengalami proses skizogoni menghasilkan merozoit. Selama
       proses skizogoni parasit berada di dalam sitoplasma sel induk semang oleh proses
       invaginasi. Hemoglobin dicerna dan residual hematin pigmen akan terkumpul di
       dalam granula daripada vakuola makanan.
      Setelah generasi aseksual, maka merozoit mengalami perkembangan seksual
       dengan pembentukan mikrogametosit dan makrogametosit, kedua gamet
       mengadakan fertilisasi menjadi bentuk zigot. Perkembangan gametosit terjadi bila
       darah termakan oleh nyamuk. Perkembangan di dalam tubuh nyamuk berlangsung
       cepat, dalam waktu 10-15 menit, inti dari mikrogamet sudah membelah dan
       mengalami proses eksflagellasi, bentuknya panjang dan tebal, kemudian
       membuahi makrogamet. Hasil pembuahan mikrogamet oleh makrogamet berupa
       zigot.
      Zigot yang terbentuk disebut ookinet. Ookinet selanjutnya mengaakan penetrasi
       ke mukosa midgut (saluran pencernaan bagian tengah) kemudian tinggal di
       permukaan stomach, dalam bentuk ookinet dengan diameter 50-60 mikron. Inti
       ookinet akan membelah dan menghasilkan sejumlah besar sporozoit, yang
       mempunyai panjang 15 mikron dan inti terletak di tengah. Pendewasaan dari
       ookinet tergantung dari spesies parasit, temperatur dan spesies nyamuk, pada
       umumnya ke glandula salivaria (di dalam sel atau pada ductus glandula salivaria)
       bentuk ini infektif pada induk semang yang baru.

Genus : Haemoproteus
        Haemoproteus menyerang burung dan reptilia. Genuss ini menyerupai
Plasmodium. Berbeda dengan Plasmodium, skizogoni dari genus Haemoproteus tidak
terjadi di sel-sel darah perifer, tetapi pada sel endotel dari organ dalam. Di darah perifer
hanya bentuk gametosit. Gametosit terjadi pada eritrosit, terbentuk seperti halter dan
tampak mengelilingi inti sel induk semang. Adanya granula berpeigmen. Skizogoni
terjadi pada sel endothel dari pembuluh darah khususnya paru-paru.
        Perkembangan seksual dan sporogoni juga terjadi pada insekta penghisap darah.
Prasit ditularkan melalui lalat Hippobosca, Pseudolyncia canariensis.




                                                                                         53
      Spesies anggota dari genus ini diantaranya adalah H. Colimbae, H. Lophotyx, H.
Meleagridis, H.nettianis, H. Sacharovi. Spesies yang terpenting adalah H.columbae, yang
menyerang burung peliharaan dan merpati, distribusinya diseluruh dunia.

Siklus Hidup
        Dimulai dengan tergigitnya induk semang (burung) oleh vektor yang terinfeksi.
Sporozoit dalam tubuh vektor lalat (lalat Hippobosca) yang terinfeksi maka sporozoit
masuk ke dalam aliran darah dan bersama aliran darah masuk sel-sel endothel, terutama
paru-paru (juga organ lain). Di dalam sel endothel berkembang menjadi bentuk skizont.
Dalam beberapa menit sudah terbentuk sitoplasma dan satu nukleus. Pertumbuhan
selanjutnya nukleus tumbuh menjadi 15 atau lebih yang berbentuk kecil dan mempunyai
masa yang tidak berpigmen yang disebut sitomer dengan satu nukleus. Tiap-tiap satu
sitomer secara kontinyu berkembang menghasilkan merozoit. Merozoit yang terbebas
karena pecahnya sel induk semnag akan menginfeksi sel baru dan berkembang terus
secara skizogoni atau sebagian merozoit masuk ke dalam eritrosit. Di dalam eritrosit
merozoit berkembang menjadi berbentuk gametosit (makrogametosit dan
mikrogametosit). Gametosit yang muda tampak pertama kali dalam darah 30 hari setelah
infeksi. Gametosit terhisap oleh vektor yang menggigit induk semang dan gametosit ini
mengalami pendewasaan di dalam usus vektor. Zigot hasil pembuahan makrogamet oleh
mikrogamet dewasa, masuk ke dalam sel endothel usus vektor membentuk ookista
(ookinet). Dalam ookista terbentuk sporozoit dan ookista dewasa akan pecah
membebaskan sporozoit. Sporozoit masuk ke haemocoel dan akhirnya mencapai ke
glandula salivaria.

Genus Leucocytozoon
        Sama seperti Haemoproteus, skizogoni tidak terjadi di darah perifer, tetapi hanya
bentuk gametositnya saja yang terlihat di perifer, perbedaannya bentuk gametosit selain
terlihat di eritrosit juga terlihat di leukosit, gametosit bulat atau memanjang dan tidak
begranula. Genus ini meyerang unggas terutama burung, kalkun, angsa dan bebek.
Bentuk merozoit dan skizon berada di sel parenkim dari hepar, jantug, ginjal dan organ
lain. Penularan melalui lalat Simulium atau Culicoides, Leucocytozoon penyebab
penyakit Malaria like disease (Leucocytozoonosis) yang berakibat fatal pada burung.
        Spesies dari anggota ini antara lain : L.simondi, Lcaulleryi, L.sabrozesi dan
L.smithi.




                                                                                      54
BAB IV
APICOMPLEXA (BABESIIDAE DAN THEILERIIDAE) DAN ANAPLASMA

       Protozoa dari kelompok ini berbentuk seperti buah peer (piriform), cincin atau
amoeboid, tidak mempunyai konoid tetapi mempunyai cincin polar atau roptri.
Merupakan heteroseknosa dan dalam vertebrata habitatnya di eritrosit dan sel lain.
Skizogoni terjadi di vertebrata sedangkan sporogoni di invertebrata dalam hal ini caplak
(sebagai vektor biologis)

FAMILY : BABASIDAE
       Organisme dari famili Babasidae berbentuk bulat pyriform (seperti buah peer)
atau amoeboid. Terdapat dalam sel darah merah induk semang. Perkembangbiakan terjadi
di dalam sel darah merah (eritrosit) secara pembelahan ganda atau secara skizogoni.
Penularan parasit melalui vektor caplak Ixodidae atau Argasidae.

Morfologi
       Anggota famili Babasidae merupakan satu kelas (sporozoa) dengan parasit darah
yang lain.Mempunyai ukuran yang lebih kecil dari famili Plasmodiidae. Bentuknya
bervariasi tergantung spesiesnya, bentuk-bentuk tersebut antara lain: tidak beraturan
(amuboid), bulat lonjong, oval, seperti buah peer atau kadang seperti batang. Tidak
membentuk spora dan tidak berflagela. Dengan pewarnaan Giemsa, inti terlihat berwarna
biru dan sitoplasma berwarna merah.

Siklus Hidup
        Induk semang tertular karena tergigit vektor (caplak) yang terinfeksi. Caplak yang
terinfeksi parasit, didalam kelenjar ludahnya mengandung sporozoit. Pada saat capak
menghisap darah induk semang, sporozoit dalam ludah ikut masuk dalam aliran darah
induk semang dan selanjutnya masuk ke dalam eritrosit. Dalam eritrosit, parasit semula
berentuk cincin dan berkembang menjadi bentuk amuboid yang disebut tropozoit.
Tropozoit berkembang biak dengan jalan bertunas meghasilkan 2 sel anak yang
berbentuk tidak beraturan dan menyerupai buah peer, di mana pertama-tama salah satu
ujungnya berhubungan, tapi akhirnya saling melepaskan diri dan berpisah. Tiap indivisu
yang berpisah disebut merozoit. Parasit memecah eritrosit, merozoit yang terbebas
meembus sel darah merah yang baru. Hal ini merupakan awal dari siklus aseksual dari
skizogoni.
        Fase gametogoni terjadi di dalam tubuh caplak. Apabila caplak menghisap darah
induk semang terinfeksi, eritrosit yang berisi parasit akan ikut menghisap darah induk
semang terinfeksi, eritrosit yang berisi parasit akan ikut terhisap dan masuk dalam usus
caplak. Dari sini dimulai awal dari fase gametogoni. Setelah terlepas dari eritrosit (karena
proses pencernaan), merozoit (bentuk buah peer) menembus sel-sel epithel usus caplak.
Di dalam sel epithel usus caplak parasit berkembang menjadi stadium gametosit dan
menghasilkan makrogamet serta mikrogamet. Dua gamet mngadakan pembuahan
menghasilkan zigot yang berbentuk seperti bola. Zigot berkembang dan berubah menjadi
ookinet. Ookinet mengadakan migrasi melalui dinding usus kemudian masuk ke dalam
uterus dan akhirnya masuk ke dalam sel telur caplak. Dari sini dimulai fase sporogoni
yang akan menghasilkan sporoblas yang disebut sporokinet. Sementara caplak muda



                                                                                         55
mengalami perkembangan dalam telur, sporoblas bertumbuh terus dengan inti membelah
berkali-kali membentuk vermukula yang berinti banyak, keadaan ini menghasilkan
sporozoit. Sporozoit selanjutnya bermigrasi ke kelenjar ludah. Bila caplak telah menetas
dan menghisap darah untuk yang pertama kalinya maka sebagian besar sporozoit akan
masuk ke dalam aliran darah dari induk semang.

Genus : Babesia

       Organisme ini mengalami perbanyakan diri di dalam eritrosit, pembelahan secara
aseksual menghasilkan 2, 4 atau lebih sel anak yang tidak berpigmen. Vektornya adalah
caplak Ixodidae.
       Babesia yang menyerang sapi antara lain B. bigemina, B.bovis, B. divergens, B.
Argentina, B.mayor. Pada kambing dan domba terdapat 4 spesies babesia, 1 spesies
ukurannya besar sedang 3 lainnya kecil yaitu B.motasi, B.ovis, B.foliata dan B.taylori.
Pada kuda hanya ada 2 spesies yaitu B.caballi dan B.equi. Pada babi ada 2 spesies B.
Trautmani dan B.perrocacitai. Pada anjing dan kucing antara lain B. Canis, B.gibsoni,
B.vigoli da B.felis

FAMILY : THEILERIDAE
Genus : Theileria

        Anggota dari famili Theileridae merupakan parasit darah pada mamalia. Parasit
ini ditularkan oleh caplak keras dari famili Ixodidae. Bentuk parasit bundar (bulat),
ovoid, seperti tongkat atau tidak beraturan. Habitat (predileksi) dalam induk semang yaitu
pada eritrosit, leukosit dan histiosit. Hewan yang biasa diserang yaitu sapi, kambing dan
domba.

Siklus Hidup
        Induk semang tertular karena digigit caplak yang di dalam kelenjarnya terdapat
porozoit theileria. Bersama aliran darah, sporozoit menuju ke jaringan (organ) limfoid
khususnya kelenjar limfa dan lien, berkembang secara skizogoni membentuk skizon yang
sering disebut dengan badan biru Koch (Koch blue bodies). Badan tersebut dapat terlihat
dalam limfosit dalam sirkulasi darah 3 hari setelah infeksi. Ada 2 tipe skizon,
makroskizon dan mikroskizon. Makroskizon hanya terjadi di sel-sel limfoid. Tiap
makroskizon dapat menghasilkan sekitar 90 makromerozoit. Beberapa dari merozoit
menginfeksi sel-sel limfoid yang baru, terutama yang terdapat dalam jaringan dan
membentuk mikroskizon lagi. Sebagian merozoit yang lain masuk dalam limfosit dan
berdiferensiasi menjadi tropozoit (atau disebut juga piroplasma). Di dalam eritrosit
tropozoit tidak mengalami perbanyakan. Apabila ada caplak yang menghisap darah
induk semang terinfeksi, di dalam saluran usus caplak, tropozoit terbebas (karena eritrosit
tercerna) dan berkembang secara gametogoni. Menghasilkan ookinet sama seperti
Haemosporina. Untuk sementara waktu ookinet berkembang dalam sel-sel usus caplak,
selanjutnya bermigrasi dan mengadakan penetrasi ke kelenjar ludah caplak di mana
proses sporogoni terjadi. Sporogoni menghasilkan sporozoit yang siap menginfeksi induk
semang baru bersama gigitan caplak.
        Spesies dari Theileria yaitu T.parva, T.annulata dan T.mutans.



                                                                                        56
Genus : Anaplasma
        Ada 3 spesies penting yaitu A. marginale, A.centrale dan A.ovis.
Parasit berbentuk bulat, mempunyai sitoplasma tapi tampak adanya hal yang
melingkarinya. Dengan pewarnaan Giemsa terlihat seperti titik warna merah sampai
merah gelap. Habitat parasit dalam eritrosit (a.centrale di sentral eritrosit, A.marginale
dan A.ovis di tepi eritrosit). Ternak yang terserang antara lain sapi, kambing, domba dan
rusa. Perkembangbiakan parasit dalam sel darah merah terjadi secara pembelahan ganda
atau kadang-kadang multiple fission.
        Daerah penyebaran meliputi semua daerah tropis dan subtropis. Penularan parasit
melalui caplak Ixididae (Boophilus sp, Dermacentor sp, Hyaloma sp, Riphicephalus ap,
Ixodes sp). Dapat pula ditularkan secara mekanik yaitu oleh lalat Tabanus, Stomoxys dan
lalat penghisap darah lain, dan hal ini biasanya terjadi pada saat kastrasi, pemotongan
tanduk (dehorning), vaksinasi atau pengambilan darah.




,




                                                                                       57
ENTOMOLOGI

Adalah ilmu yang mempelajari tentang filum Arthropoda (Arthros berarti persendian,
podos berarti kaki)

Morfologi
  o Kaki arthropoda biramous (protopodite)
  o Arthropoda mempunyai penutup luar dari chitin yang membentuk eksoskeleton
      yang menutupi seluruh tubuhnya.
  o Penutup yang dihasilkan oleh sel chitogenous masuk ke dalam mulut di saluran
      pencernaan disebut stomodaeum, kemudian ke belakang saluran pencernaan
      (proctodaeum)
  o Eksoskeleton berbentuk lempengan-lempengan chitin yang disebut dengan
      sclerites. Segmen tipis bagian dorsal disebut tergum, sclerite ventral disebut
      sternum, sclerite lateral antara sternum dan tergum disebut pleura. Ekdisis adalah
      pelepasan eksoskeleton yang dipengaruhi oleh hormon ekdison.
  o Arthropoda mempunyai banyak segmen pada bagian antrior membentuk kepala,
      bagian tengah membentuk thorax, pada bagian posterior membentuk abdomen.
      Pada kepala terdapat antenna dan alat makan, pada thorax terdapat alat jalan dan
      pada abdomen terdapat alat untuk berenang.
  o Terdapat haemocoele yaitu rongga berisi darah yang merendam organ-organ
      didalamnya.
  o Terdapat organ respirasi
              1. Gills, pada arthropoda akuatik stadium larva, nimfa dan dewasa.
              2. Trachea, untuk mengambil udara yang masuk dari stigmata
              3. Lung book dan gills book (insang buku) pada laba-laba dan kepiting
              4. kutikula, pada tungau
  o Saluran cerna (stomodaeum, proctodaeum, mesenteron)
  o Alat ekskresi. Pada crustacea terdapat sepasang nefridia. Pada insecta terdapat
      tubulus malphigi yang bermuara pada anterior proctodaeum
  o Jenis kelamin terpisah

Filum Arthropoda memiliki 5 kelas
Kelas I: Crustacea, yang terbagi atas sub kelas Entomostraca (crustacea kecil) dan sub
kelas Malacostraca (rajungan, udang dan kepiting)
Kelas II : Myriapoda (kelabang dan lipan)
Kelas III : Insecta (lalat dan nyamuk)
Kelas IV : Arachnida (caplak, tungau)
Kelas V : Pentastomida (lintah)




                                                                                         58
INSECTA

Anatomi :
1. Kepala
    o Terdiri dari sejumlah lempengan sklerit pada bagian depan tubuh
    o Letak mata diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pertama, mata majemuk yang
        terletak ditengah-tengah (holoptik) dan yang terpisah jauh (dichoptic). Yang
        kedua adalah mata sederhana (ocelli) yang terletak pada sudut.
2. Antenna
    o Diantara/didepan mata majemuk
    o Kadang terdapat bulu aristae
3. Mulut, terdiri atas beberapa bagian, antara lain”
    o Labrum (bibir atas) atau maksilla
    o Labium (bibir bawah) atau mandibulla
    o Di bawah labrum terdapat membran yaitu epipharing sebagai alat pengecap
    o Di atas labium terdapat membran yaitu hipopharing sebagai saluran kelenjar ludah
    o Gabungan maksilla dan labium terdapat palpi sebagai alat pengecap.
4. Thorax
    o Terdapat 3 segmen pada thorax yaitu, prothorax, mesothorax, dan metathorax.
    o Pada tiap segmen terdapat sepasang kaki
    o Pada mesothorax dan metathorax terdapat sepasang sayap
5. Kaki
    o Terdiri atas tulang trochanter, femur, tibia, tarsus.
    o Tarsus mempunyai 5 persendian, pada segmen terakhir terdapat kuku, dimana
        diantara kuku terdapat bantalan duri atau bulu.
6. Sayap
    Ditunjang oleh vena yang merupakan trachea (saluran nafas insecta).
7. Abdomen
8. Sistem respirasi
     Trachea yang berhuungan dengan udara luar melalui stigmata atau spirakel pada tiap
segmen
9. Saluran pencernaan terdiri atas
    o Stomodaeum (rongga mulut, kelenjar saliva, epipharing dan hipopharing, pharing,
        proventrikulus, tembolok)
    o Mesenteron (usus tengah, ujung posteriornya terdapat cincin saluran malphigi
        untuk alat ekskresi)
    o Proctodaeum (usus belakang dan rectum)
10. saluran vascularisasi
     Terdapat jantung di dorsal tubuhnya
11. Sistem syaraf
     Terdapat rantai ganglia ventral dan disini menyebar syaraf ganglia thorax dan
abdomen berfusi.
12. Sistem reproduksi
      o Pada jantan terdapat 2 buah testis, masing-masing dengan vas deferens, vesicula
          seminalis dan penis
      o Pada betina terdapat 2 buah ovarium menuju ovipositor



                                                                                    59
     o Sebagian insekta ovariparus dan sebagian pupiparus (megeluarkan larva dan
       segera menjadi pupa. Larva dipelihara di oviduk. Uterus menghasilkan air susu
       dimana larva menyusu.

Metamorfosis dibagi menjadi dua :
             5. Lengkap. Bentuk yang menetas dari telur disebut larva, larva
                 kemudian tumbuh menjadi bentuk diam (pupa), selanjutnya di dalam
                 pupa terbentuk imago (dewasa).
             6. Sederhana. Bentuk yang menetas dari telur meyerupai bentuk dewasa
                 disebut nimfa yang selanjutnya berganti kulit menjadi imago.

Macam-macam larva
1. Larva polipod (contohnya ulat dan kupu-kupu)
    o Mempunyai kepala yang jelas
    o Thorax terdapat 3 segmen, masing-masing terdapat kaki
    o Abdomen 10 segmen terdapat 5 pasang kaki kait berotot (proleg)
2. Larva oligopod (contonya kumbang)
    o Kepala jelas
    o Thorax terdapat 3 pasang kaki
    o Tidak terdapat kaki pada abdomen
3. Larva apodus (contohnya lalat rumah dan semua diptera)
    o Tidak terdapat kaki pada thorax dan abdomen
    o Kepala rudimenter
    o Sering disebut maggot

Macam-macam pupa
1. Pupa exarate (contohnya kumbang)
    o Pupa aktif
    o Sayap dan kaki insekta dewasa dapat dilihat dari luar
2. Pupa obtactat (contohnya kupu-kupu)
    Kaki dan sayap terikat pada tubuh dan mengalami moulting tetapi biasanya dapat
    dilihat dari luar
3. Pupa coarctate (contohnyaa famili Cyclorrapha)
    Pupa terbungkus kulit larva terakhir yang disebut puparium
    Kulitnya mengeras, insekta didalamnya tidak dapat terlihat

Kelas Insecta terbagi menjadi Sub kelas Apterygota (tidak bersayap) dan sub kelas
Pterygota (bersayap)

Sub kelas Pterygota dibagi menjadi 2 klasifikasi:
1. Exopterygota
    o Sayap berkembang di luar
    o Metamorfosis sederhana
    o Jarang pada tingkat pupa
    o Contohnya kutu buku, kutu busuk dan rayap




                                                                                     60
2. Endopterygota
    o Sayap berkembang di dalam
    o Metamorfosis lengkap
    o Mengalami tingkat pupa
    o Contohnya insecta ordo Diptera

Ordo :
              1.   Coleoptera (contohnya kumbang)
              2.   Hymenoptera (contohnya tawon)
              3.   Lepidoptera (contohnya kupu-kupu)
              4.   Neuroptera (contohnya lace wings)
              5.   Siphonaptera (contohnya pinjal)
              6.   Diptera (contohnya lalat)

Ordo : Diptera
   I.      Sub Ordo : Nematocera
           1. Famili : Culicidae
           Genus : Culex, Anopheles, Aedes, Mansonia, Armigeres
           2. Famili : Ceratopogonidae
           Genus : Culicoides
           3. Famili : Psychodidae
           Genus : Phlebotomus
           4. Famili : Simuliidae
           Genus : Simulium
   II.     Sub Ordo : Brachycera
           1. Famili : Tabanidae
           Genus : Tabanus, Haematopota, Chrysops
   III.    Sub Ordo : Cyclorrapha
           1. Famili : Muscidae
           Genus : Musca, Stomoxys, Haematobia
           2. Famili : Glossinidae
           Genus : Glossina
           3. Famili : Calliphoridae
           Genus : Lucillia, Phormia, Chrysomia, Sarchopaga
           4. Famili : Oestridae
           Genus : Oestrus, Hypoderma, Cephalopsis, Pharyngobolus
           5. Famili : Cuterebridae
           Genus : Dermatobia, Cuterebra
           6. Famili : Hypoboscidae
           Genus : Hippobosca, Malophagus

Sub Ordo Nematocera
1. Famili Culicidae
    o Antenna terdiri atas 14-15 segmen, berbulu pada yang jantan
    o Probosis panjang
    o Sayapnya terdapat sisik



                                                                    61
   o Siklus hidup : telur ditetaskan di atas air dan di atas tanaman yang mengapung
     setelah telur menetas kemudian menjadi larva. Larvanya telah memiliki kepala,
     thorax dan abdomen yang jelas. Pada kepala terdapat mata, antenna dan beberapa
     rambut. Bagian mulut merupakan alat pengunyah. Thorax tidak bersegmen dan
     memiliki bulu-bulu. Terdapat stigmata yang berhubungan dengan trachea. Larva
     mengalami pergantian kulit sampai dengan 4 kali, kemudian berubah menjadi
     pupa. Pupa tidak aktif seperti pada saat menjadi larva. Pada bagian apeks dorsal
     pupa bertaut dengan bagian lateral stigmata mencuatlah sepasang lubang atau
     terowongan pernafasan, pupa bernafas melalui lubang tersebut. Perkembangan
     selanjutnya adalah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk dewasa betina perlu
     menghisap darah untuk pematangan telur. Nyamuk betina dewasa tertarik oleh
     radiasi panas kulit induk semang.

2. Famili Ceratopogonidae
    o Mempunyai ukuran kecil
    o Pada nyamuk jantan disebut juga dengan nyamuk penggigit, disebut juga dengan
       lalat pasir bersama dengan Simuliidae
    o Probosis pendek digunakan untuk menghisap darah
    o Mandibula sebagai penggunting
    o Sayapnya tidak bersisik tetapi berbulu
    o Siklus hidup : telur diletakkan berkelompok pada pasir yang basah, lumpur,
       kolam, aliran sungai atau kotoran ternak. Telur kemudian berkembang menjadi
       larva. Larva menyerupai cacing, berwarna putih, thoraxnya terdiri atas 3 segmen,
       abdomen 11 segmen, segmen terakhir terdapat spina sebagai alat pergerakan,
       larva bernafas melalui kulit. Selanjutnya larva berubah menjadi pupa. Pada pupa
       terdapat terompet respirasi, keseluruhan pupa ditutupi oleh spina. Perkembangan
       selanjutnya menjadi dewasa, dimana setelah menjadi dewasa banyak berperan
       dalam penyebaran berbagai penyakit.

3. Famili Simuliidae
    o Disebut juga dengan lalat hitam (black flies) atau disebut juga dengan nyamuk
       kerbau.
    o Probosis pendek
    o Antenna pendek
    o Sayap tidak bersisik dan tidak berbulu
    o Tubuh ditutupi dengan bulu berwarna perak
    o Siklus hidup: telur diletakkan pada batu atau tanaman yang dekat dengan
       permukaan air . Telur berkembang menjadi larva. Larva bersifat carnivora.
       Bagian anterior larva terdapat mulut yang dilengkapi organ yang menyerupai
       sikat. Pada bagian ventral larva terdapat proleg yang mempunyai kait sebagai alat
       pergerakan. Larva mengalami pergantian kulit sampai dengan 6 kali. Larva
       selanjutnya berubah menjadi pupa obtacte. Pupa memiliki saluran pernafasan
       dorsal dan ventral. Pupa selanjutnya menjadi lalat dewasa.
    o Lalat dewasa berpotensi mengakibatkan penyakit akut pada sapi yag ditandai
       dengan ptechiae hemoragica, karena terdapat toxin Simulium. Penyakit tersebut
       mengakibatkan kematian ternak. Lalat dapat juga menyerang rongga hidung



                                                                                      62
     sampai dengan paru-paru. Pada lalat betina lalat dapat juga menyerang puting
     susu. Pada unggas dapat menimbulkan anemia.
   o Lalat aktif pada pagi dan sore hari, pada siang hari lalat beristirahat di bawah
     pohon.

4. Famili Psycodidae
    o Disebut juga denga lalat pasir atau juga disebut dengan nyamuk burung hantu
    o Ukurannya kecil
    o Tubuh dan sayapnya berbulu
    o Memiliki kaki panjang
    o Antenna panjang dan tebal tertutup bulu
    o Siklus hidup : telur dapat ditemukan pada tempat yang lembab. Telur kemudian
       berkembang menjadi larva. Larva menyerupai ulat, dimana larva memakan
       kotoran hewan lain atau daun-daun kering. Larva berubah menjadi pupa
       kemudian menjadi bentuk dewasa.
    o Lalat ini merupakan penerbang yang lemah
    o Aktif pada malam hari. Pada siang hari bersembunyi.

Sub Ordo : Brachycera
Famili Tabanidae
   o Disebut dengan lalat kuda atau breeze fly
   o Memiliki ukuran yang besar
   o Mata pada lalat jantan berdekatan (holoptik) sedangkan pada yang betina
       berjauhan (dichoptik)
   o Sayap kuat dan gesit
   o Pada genus Chrysop sayap mempunyai pita gelap, mata berwarna metalik. Genus
       Haematopota pada sayapnya terdapat bercak-bercak halus. Genus Tabanus
       memiliki sayap yang terang dan tembus, serta terdapat garis longitudinal coklat di
       abdomen.
   o Siklus hidup : telur diletakkan di bawah daun di dekat air. Telur menetas menjadi
       larva yang jatuh ke air atau lumpur. Larva bersifat carnivora, yang memakan
       crustacea kecil, bahkan memakan sesama larva. Larva mengalami pergantian kulit
       beberapa kali, selanjutnya menjadi pupa, lalu menjadi dewasa.
   o Lalat jantan menghisap madu sedangkan lalat betina menghisap darah.

Sub Ordo : Cyclorrapha
1. Famili Muscidae
1.1Genus Musca
Spesies Musca domestica
    o Lalat rumah biasa
    o Thorax abu-abu kekuningan sampai dengan abu-abu gelap. Mempunyai 4 garis
       longitudinal yang lebarnya sama
    o Abdomen warna dasarnya kekuningan dan garis hitam di median. Pada yang
       betina garis hitam di kedua sisinya difus.




                                                                                        63
   o Mulut sebagai alat penyerap cairan makanan. Sebelum menghisap lalat
     mengeluarkan saliva dan cairan tembolok pada makanan tersebut (vomit drop)
     sehingga dapat menularkan penyakit.
   o Siklus hidup: telur diletakkan pada kotoran hewan atau manusia atau bahan-bahan
     organik yang membusuk. Telur berkembang menjadi larva. Larva memiliki
     stigmata, mengalami 3 kali pergantian kulit. Larva selanjutnya berubah menjadi
     pupa kemudian menjadi lalat dewasa.
   o Musca domestica bukan merupakan lalat penghisap darah tetapi mengikuti lalat
     penghisap darah untuk memakan darah yang busuk dan cairan jaringan.

1.2 Genus Stomoxys
Spesies: Stomoxys calcitrans
    o Dikenal sebagai lalat kandang
    o Thorax berwarna abu-abu mempunyai 4 garis longitudinal yang gelap
    o Pada abdomen terdapat 3 bintik hitam pada segmen kedua dan ketiga
    o Siklus hidup: Stomoxys meletakkan telurnya pada kotoran kuda tetapi lalat lebih
       suka menaruh pada tanaman membusuk terutama bila terkontaminasi urin. Telur
       berkembang menjadi larva. Pada larva stigmata terpisah jauh. Larva berkembang
       menjadi pupa kemudian menjadi lalat dewasa.
    o Lalat jantan dan betina adalah lalat penghisap darah.

1.3 Genus Haematobia
    o Merupakan lalat muscidae penghisap darah paling kecil
    o Mukanya perak abu-abu.
    o Thorax perak abu-abu. Pada bagian median dan lateral terdapat 2 garis gelap yang
       jelas.
    o Arista berbulu hanya pada bidang dorsalnya
    o Haematobia exigua disebut juga lalat kerbau. Lalat ini mampu memindahkan
       T.evansi penyebab penyakit Surra
    o Haematobia irritan disebut juga lalat tanduk karena terdapat pada pangkal tanduk
       atau punggung, bahu dan perut sapi.
    o Lalat ini merupakan lalat penghisap darah dan menyebabkan iritasi karena
       sobekan yang terus menerus pada kulit
    o Siklus hidup: telur diletakkan pada kotoran sapi atau kerbau. Telur kemudian
       berkembang menjadi larva. Larva membenamkan diri kedalam kotoran dan
       makan di dalamnya. Larva berkembang menjadi pupa, kemudian menjadi dewasa.

2. Famili Oestridae
    o Lalat dewasa berambut
    o Bagian mulut rudimenter dan tidak makan
    o Larva bersifat parasitik, biasanya mempunyai kait di mulutnya, tetapi larva tidak
       memiliki kepala. Larva memakan cairan tubuh dari inang atau eksudat
       disekitarnya, mengalami 2 kali moulting selanjutnya menjadi pupa kemudian
       menjadi dewasa.

2.1 Genus Oestrus



                                                                                      64
Spesies : Oestrus ovis (sheep nasal fly)
   o Warna abu-abu dengan bintik-bintik hitam kecil yang terutama menonjol di
       bagian thorax dan tertutup rambut coklat muda
   o Larva terjadi pada rongga hidung, kadang-kadang larva diletakkan pada mata,
       nostril dan pada bibir manusia.

2.2 Genus Hypoderma
Spesies: Hypoderma bovis dan Hypoderma lineate
    o Kedua lalat ini berambut dan mempunyai mulut yang tidak berfungsi
    o Rambut-rambut pada bagian kepala dan bagian anterior thorax berwarna putih
       kekuningan pada H. Lineata dan kehijauan pada H.bovis
    o Bagian perutnya tertutup rambut kuning muda di bagian anterior kemudian bagian
       posterior memiliki rambut kuning oranye

3. Famili Caliphoridae
    o Larvanya merupakan pemakan daging atau parasit pada arthropoda lain. Larva
       biasanya berbulu kasar dan ditandai dengan adanya sebaris bulu kasar pada
       hypopleuron
    o Famili ini dibagi menjadi 2 sub famili yaitu Calliphorinae dan Sarcophaginae.
    o Calliphorinae disebut juga dengan blow fly, berwarna biru metalik atau hijau.
       Sarcophaginae meliputi lalat daging yang mempunyai garis abu-abu longitudinal
       pada thorax dengan hiasan papan catur pada abdomen.

Sub Famili Calliphorinae
3.1 Genus Lucillia
    o Nama lainnya adalah Phoenicia atau lalat hijau botol atau lalat botol tembaga
    o Spesies: L.cuprina, L.sericata
    o Lalat ini berwarna metalik cerah atau hijau metalik
    o Warna mata coklat kemerahan

3.2 Genus Calliphora
    o Spesies: C. Erythrocephala
    o Disebut lalat botol biru karena tubuhnya biru metalik
    o Tubuh besar bila terbang, dengungannya keras
    o Mata merah, genae merah, bulu hitam

3.3 Genus Phormia
    o Spesies: P.regina
    o Phormia meletakkan telurnya pada wool domba
    o Thorax berwarna hitam dengan cahaya hijau kebiruan metalik
    o Abdomen hijau atau biru

3.4 Genus Chrysomia
    o Myasis pada domba sering disebabkan oleh serangan gabungan dari beberapa
       spesies seperti Lucillia, Calliphora, Phormia dan Chrysomia
    o Muka berwarna kuning oranye



                                                                                      65
   o Lalat berwarna hijau kebiruan dengan 4 garis pada prescutum
   o Siklus hidup: lalat meletakkan telurnya pada karkas, luka dan bahan makanan
     yang membusuk. Telur berkembang menjadi larva. Larva memiliki 2 kait mulut
     pada bagian anteriornya. Pada bagian posterior terdapat lempeng stigmata. Larva
     mengalami ekdisis 2 kali. Terdapat 2 macam larva, pertama adalah larva berbulu
     dimana larva dilengkapi dengan penonjolan seperti duri atau spina. Yang
     termasuk larva berbulu adalah C.rufifacies dan C.albiceps. Yang kedua adalah
     jenis larva halus, karena tidak memiliki spina. Yang termasuk larva halus adalah
     C. microphogon. Sebelum menjadi pupa, larva berjalan jauh masuk ke dalam
     tanah sehingga menjadi pupa di bawah tanah. Setelah menjadi pupa,
     perkembangan selanjutnya menjadi lalat dewasa.

Sub Famili Sarcophaginae
   o Dikenal sebagai lalat daging (flesh fly)
   o Warna abu-abu terang/gelap
   o Thorax terdapat 3 garis gelap longitudinal
   o Dorsal abdomen terdapat bercak gelap/kotak catur hitam abu-abu
   o Maeletakkan larvanya pada luka/lecet-lecet atau pada daging busuk

Ordo Phthiraptera
          1. Sub Ordo Mallophaga
           Super Famili Ischnocera
           Super Famili Amblycera

          2. Sub Ordo Anoplura
          2.1 Famili Pediculidae
          2.2 Famili Haematopinidae
          2.3 Famili Linognatidae

          3. Sub Ordo Ryncoptirina

Ordo Phtiraptera (Lice)
   o Tidak mempunyai sayap
   o Tubuh pipih dorsoventral
   o Antena pendek terdiri dari 3-5 segmen
   o Tidak didapatkan mata, kecuali pada Pediculus humanus dan Phtirus pubis
   o Segmentasi thorax tidak begitu jelas
   o Pada bagian abdomen terdapat penebalan dari lapisan chitin yang disebut dengan
      paratergal plate
   o Siklus hidupnya termasuk simple metamorfosis
   o Telurnya berbentuk oval dan mempunyai operculum yang dapat melekat pada
      bagian bulu/rambut




                                                                                    66
Perbedaan Anoplura, Mallophaga dan Rynchopthirina

                    Anoplura              Mallophaga         Rynchopthirina
        Mulut       menghisap             menggigit          peralihan
                                                             menggigit dan
                                                             menghisap
        Host        terutama              burung             gajah
                    mamalia
        Sex         jantan dan            sulit dibedakan    dapat dibedakan
                    betina mudah
                    dibedakan


Sub Ordo Mallophaga (biting lice)
   o Spesies ini memakan runtuhan epitel kulit inangnya/ pada bulu inangnya
   o Mulut digunakan untuk mengunyah makanan dan juga untuk menghisap cairan
      tubuh inang
   o Terjadi fusi antara mesothorax dengan metathoraxnya, prothoraxnya sangat jelas
      dapat dipisahkan
   o Spirakel terdapat pada ventral mesothorax
   o Pada tarsusnya terdapat 2 kuku terutama pada yang menyerang burung, sedang
      yang menyerang mamalia terdapat 1 kuku

Super Famili Ischnocera
Perbedaan antara Ischnocera dan Amblycera

    Ischnocera                             Amblycera
    Antena filiformis, terdiri dari 3-5    Antenna kecil, tersembunyi dan
    segmen                                 sukar didapat
    Tidak didapatkan palpus                Terdapat palpus maksilaris
    maksilaris
    Segmen abdomen ke-1 dan 2              Dari 11 segmen abdomen, hanya
    berfusi,, juga segmen 9 dan 10         9 segmen yang tampak

Contoh Ischnocera pada unggas
   a. Lipeurus heterographus
          o Menyerang bagian kepala unggas sehingga disebut kutu kepala unggas
          o Habitatnya pada kulit dan bulu di daerah kepala dan leher
          o Telur diletakkan satu-satu pada bulu
   b. Lipeurus caponis
      o Disebut kutu sayap unggas
   c. Goniocotes gigas
   d. Goniocotes gallinae
   e. Columbicola columbae
   f. Anaticola anseris
   g. Chelopistes anseris


                                                                                  67
Contoh Ischnocera pada mamalia
   a. Damalinia bovis, menyerang sapi
   b. Damalinia equi, menyerang kuda
   c. Damalinia ovis, menyerang domba
   d. Damalinia caprae, menyerang kambing
   e. Bovicola painei, menyerang kambing
   f. Trichodectes canis, menyerang anjing
   g. Felicola subrostratus, menyerang kucing

Super Famili Amblycera
          o Antenna tidak tampak jelas
          o Palpus maksillarisnya ada tetapi mungkin membingungkan atau sukar
              dibedakan dengan antenna
          o Antenna terdiri dari 4 segmen, segmen ke-3 tampak seperti batang keras.
              Antena juga digunakan untuk membedakan jantan dan betina. Antena
              jantan bulat panjang dengan pembesaran pada segmen pertama

Amblycera pada unggas
  1. Menopon gallinae
         o Menyerang ayam, bebek dan burung dara
         o Telurnya diletakkan bergerombol pada bulu induk semang
         o Berwarna kuning pucat
  2. Menopon phaestomum
      o Menyerang burung merak
  3. Menacanthus stramineus
      o Menyerang unggas, kalkun, burung merak
      o Berwarna kuning
      o Kutu ini berbahaya pada anak ayam
      o Merupakan kutu badan, menyukai kulit yang tidak berbulu seperti daerah
         sekitar anus
  4. Trinoton anserium
      o Menyerang bebek dan angsa

Contoh Amblycera pada mamalia
   1. Gyropus ovalis, terutama menyerang marmut dan rodent
   2. Gliricola porcelli, terutama menyerang marmut dan rodent
   3. Trimenopus hispidum, terutama menyerang marmut dan rodent
   4. Heterodoxus spineger, menyerang anjing
   5. Heterodoxus longitorsus
   6. Heterodoxus macropus, menyerang wallabies dan kanguru

Sub Ordo Anoplura
   o Bentuk mulutnya disesuaikan dengan fungsinya untuk menghisap cairan tubuh
      dan menghisap darah inang
   o Terdapat 2 antenna yang terdiri dari 5 segmen
   o Tidak terdapat perbedaan yang nyata jenis kelamin jantan dan betina



                                                                                  68
o Thorax kecil terdiri dari 3 segmen dan menyatu menjadi satu, sedang abdomennya
   besar terdiri dari 7-9 segmen. Pada segmen abdomen tampak penebalan chitin
   disisi kanan kirinya yang berwarna coklat tua sampai hitam disebut paratergal
   plate
o Mata sangat kecil sampai tidak ada. Pada Pediculus humanus dan Phtirus pubis
   terdapat mata yang jelas
o Pada pasangan kaki pertama lebih kecil dari yang lain, terdapat kuku yang lemah,
   pada pasangan kaki ke-3 merupakan kaki terbesar dan 2 tarsusnya sulit dibedakan.
   Tiap tarsus mempunyai 1 kuku
o Pada golongan Haematopinidae terdapat spiracle pada sisi dorsal dari mesothorax
   dan 6 pasang spirakel pada abdominal
o Dalam Sub Ordo Anoplura terdapat 3 famili penting yaitu : Haematopinidae,
   Linognatidae dan Pediculidae. Perbedaan diantara ketiganya adalah
                    Pediculidae           Haematopinidae        Linognatidae
 Mata               Ada                   Tidak ada             Tidak ada
 Paratergal plate Ada                     Ada                   Tidak ada

o Yang termasuk Famili Pediculidae adalah:
1. Pediculus humanus pada manusia. Berdasarkan lokasinya dapat dibedakan
   Pediculus humanus capitis pada kepala dan Pediculus humanus corporis pada
   badan
2. Phtirus pubis, pada rambut sekitar pubis manusia

o Morfologi Famili Haematopinidae:
1. Tanda umum, tidak mempunyai mata dan tidak didapatkan sisa mata
2. Dibelakang antenna didapatkan penonjolan yang khas untuk mendiagnosa famili
   ini
3. Terdapat deretan spina/duri pada setiap segmen dari abdomen dan tampak jelas
   adanya paratergal plate
4. Kuku hanya didapatkan pada kaki pertama
5. Contoh:
a. Haematopinus asini, menyerang kuda dan merupakan kutu penghisap
b. Haematopinus suis pada babi
c. Haematopinus eurysternus pada sapi
d. Haematopinus quadripertusus pada sapi di Queensland

o    Morfologi Famili Linognatidae:
1.   Tidak didapatkan adanya mata
2.   Bagian abdomennya membranous dengan banyak rambut pada segmennya
3.   Kuku hanya terdapat pada kaki yang terkecil/pasangan kaki pertama
4.   Merupakan parasit ungulata dan kambing
5.   Contoh :
a.   Linognatus ovillus, menyerang domba, disebut kutu badan atau kutu biru
b.   Linognatus vitulli pada sapi
c.   Linognatus africanus pada domba
d.   Linognatus pedalis pada domba


                                                                                69
   e. Linognatus stenopsis pada kambing
   f. Linognatus sitosus pada anjing dan srigala
   g. Solenoptes capillatus pada sapi di USA, Eropa dan Australia

Sub Ordo Rhyncopthirina
   o Hanya terdapat 1 famili yaitu Haematomyzidae, terdiri dari 2 spesies yaitu
      Haematomyzus elephantis pada gajah dan Haematomyzus hopkinsi pada babi
   o Kepala memanjang ke depan membentuk rostrum/probosis di bagian ujung
      terdapat mandibula
   o Dianggap sebagai bentuk peralihan Anoplura dan Mallophaga

Ordo Siphonaptera/pinjal (fleas)
   o Tidak mempunyai sayap, bentuknya sangat pipih, mempunyai kulit dengan
       lapisan chitin yang tebal berwarna coklat tua. Terdapat simple eyes yang terdiri
       dari satu lensa, tidak mempunyai compound eyes
   o Mulutnya untuk menyobek dan menghisap. Kakinya sangat kuat sehingga dapat
       melompat jauh. Abdomen terdiri dari 10 segmen. Pada segmen ke-9 pada jantan
       ataupun betina didapatkan dorsal plate yang mempunyai rambut-rambut sensoris
       (alat peraba) yang disebut dengan sensillum/pygidium
   o Pada pinjal jantan penisnya aedeagus, berbentuk lingkaran yang terdiri dari bahan
       chitin. Pada yang etina terdapat spermateca yang bentuknya spesifik. Pada
       beberapa spesies seperti pada anjing (Ctenocephalides canis) dan pada kucing
       (Ctenocephalides felis) terdapat spina/duri yang banyak didapatkan pada daerah
       kepala dan thorax yang dikenal sebagai comb/ctenidia
   o Pada gena/cheek/pipi, terdapat genal comb dan pada posterior segmen thorax
       pertama terdapat pronotal comb. Antenna yang pendek tersembunyi di lekukan
       daerah kepala. Siklus hidupnya termasuk complete metamorfosis/holometabolous
   o Siklus hidup: telur diletakkan pada debu atau tempat kotor. Telur berwarna putih
       mutiara. Telur berkembang menjadi larva. Pada larva terdapat 3 segmen thorax,
       10 segmen abdominal yang terakhir tedapat 2 kait yang disebut dengan anal struts
       untuk bergantung atau lokomosi. Warna larva kekuningan. Larva takut pada sinar.
       Larva memiliki mulut tipe pengunyah, memakan darah kering, tinja/bahan
       organik lain tetapi butuh sedikit darah segar. Larva dapat ditemukan pada celah-
       celah lantai serta dibawah karpet. Perkembangan setelah larva adalah menjadi
       kepompong (coccon), selanjutnya pupa keluar, kemudian menjadi dewasa
   o Ordo Siphonaptera terdapat 3 famili
   1. Ceratophyllidae (pada rodensia)
   Spesies: -Ceratophyllus fasciatus (pinjal tikus)
             - Ceratophyllus gallinae (pinjal ayam)
   2. Pulicidae
   Spesies: - Pulex irritans (pinjal manusia)
           - Xenopsylla cheopis (pinjal tikus)
           - Ctenocephalides felis (pinjal kucing)
           - Ctenocephalides canis (pinjal anjing)
           - Leptopsylla musculi (pinjal tikus)
           - Ceratophyllus gallinae (pinjal ayam)



                                                                                    70
          - Echidnophaga gallinae (stick-fast unggas)
          - Spilopsyllus cuniculi (pinjal kelinci)
          - Tunga penetrans (pinjal manusia)
   3. Leptopsyllidae
   Spesies: Leptopsylla segni (pinjal rodensia)

KELAS ARACHNIDA
Sub Kelas Acari/Acarina

   I.     Ordo Opilioacariformes
   II.    Ordo Parasitiformes
          1. Sub Ordo Tetrastigmata
          2. Sub Ordo Mesostigmata
          3. Sub Ordo Metastigmata
             Super Famili Ixodidae
          1. Famili Ixodidae
          a. Genus: Ixodes Spesies: Ixodes ricinus
          b. Genus: Hyalomma Spesies: H.exosuatum
          c. Genus: Haemaphysalis Spesies: H.bancrofti
          d. Genus: Dermacentor Spesies: D.andersoni
          e. Genus: Amblyomma Spesies:A. Variegatum
          f. Genus: Ripicephalus Spesies: R.sanguineus
          g. Genus: Boophilus Spesies: B.annulatus
          2. Famili : Argasidae
          Genus : Argas Spesies: A.persicus; Otobius megnini; Ornithodoros moubata
          3. Famili: Dermanyssidae
          Genus: Dermanyssus (tungau merah ayam) Spesies: D.gallinae; Ornithossus
                                                                         bacoti
   III.   Ordo: Acariformes
          1. Sub Ordo: Prostigmata
          Super Famili : - Trombidioidea
                         - Demodicidae
          2. Sub Ordo: Astigmata
          3. Sub Ordo: Cryptostigmata

Siklus Hidup : Telur-larva-nimfa-dewasa
    1. Berinang satu: larva sampai dewasa pada satu inang (Boophilus microplus)
    2. Berinang dua: Larva-nimfa pada satu inang, nimfa jatuh-dewasa pada inang yang
       lain (Ripicephalus evertsi, Ripicephalus bursa, Hyalomma excavatum)
    3. Berinang tiga: Larva pada inang I, jatuh menjadi nimfa mencari inang II, jatuh
       menjadi dewasa mencari inang III (Ripicephalus sanguineus, Haemaphyssalis
       bancrofti)
    4. Berinang banyak: misalnya Ornithodorus moubata

KELAS ARACHNIDA
       o Contohnya adalah kalajengking, caplak dan tungau



                                                                                   71
o Berbeda dengan insecta dalam struktur dan fungsinya. Antenna, sayap dan
   mata majemuk tidak ada, seperti juga halnya pembagian kepala, dada dan
   abdomen.
o Mata Arachnida kecil dan terutama makan cairan jaringan hewan yang
   dihisapnya dengan menggunakan faring penghisap
o Arachnida bersifat carnivora dan banyak diantaranya mempunyai kelenjar
   racun dan kuku beracun sehingga mampu melumpuhkan mangsanya
   sebelum dihisap cairan jaringannya
o Pasangan pertama dan kedua dari segmen tambahannya bermodifikasi
   untuk membantu saat makan, pasangan pertama disebut chelicera dan
   pasangan kedua pedipalpus, kedua alat bantu ini tajam dan kelenjar racun
   berkaitan dengan alat ini. Kelenjar racun dari kalajengking berkaitan
   berada pada ujung dari segmen tubuhnya
o Persendian basal dari pedipalpus pada Arachnida dan juga kaki untuk jalan
   dibelakangnya dapat mengandung gigi-gigi yang menolongnya dalam
   merobek mangsanya. Persendian basal ini disebut gnathobases
o Thorax dan abdomen bersatu. Nama prosoma diberikan pada segmen
   pertama. Nama ophistosoma diberikan pada sisa segmen yang lainnya.
   Prosoma mengandung chelicera, pedipalpus dan 4 pasang kaki
   (podosoma)untuk jalan. Ophistosoma berhubungan dengan abdomen.
   Podosoma dan ophistosoma kadang-kadang keduanya disebut dengan
   Idiosoma. Pembagian ini tidak sesuai dengan keadaan tubuh tungau dan
   caplak karena tubuh spesies ini sudah kehilangan tanda-tanda segmentasi
   dari luar.
o Sebagian besar menunjukkan pembagian ke dalam dua bagian yaitu,
   gantosoma anterior yang mengandung chelicera, pedipalpus dan hipostom
   yang hanya berkembang pada spesies ini saja. Gnatosoma caplak dan
   tungau disebut capitulum. Bagian posterior yang tunggal yang mewakili
   fusi podosoma dan ophistosoma sehigga disebut idiosoma.
o Mulut caplak dan tungau simodifikasi untuk menghisap darah dan cairan
   tubuh serta untuk memegang inang.
o Arachnida bernafas dengan menggunakan insang buku dan trachea.
   Beberapa spesies tidak mempunyai organ pernafasan khusus tetapi
   menyerap oksigen dari kutikula
o Kelas Arachnida meliputi:
1. Scorpionidea
2. Pedipalpea
3. Araneidea
4. Palpigradea
5. Cheliferae
6. Podogonea
7. Phalanginea
8. Acarina




                                                                        72
ACARINA
  o Spesies yang dijumpai dari kelas ini dikenal ada yang berkulit keras dan lunak
     dan ada yang bertubuh kecil bahkan sangat kecil yang lazim disebut tungau
  o Bagian mulutnya terdapat sepasang chelicera, sepasang pedipalpus dan
     diantaranya terdapat struktur yang menyerupai gigi yang disebut hypostom.
     Bagian kepala secara keseluruhan disebut dengan gnathosoma dilengkapi dengan
     bentukan yang disebut dengan capitulum. Segmentasi dibagian tubuh tidak
     dijumpai.
  o Siklus hidup: Telur menjadi larva yang dilengkapi denga 3 pasang kaki. Larva
     mengalami moulting kemudian menjadi nimfa yang dilengkapi dengan 4 pasang
     kaki tetapi belum dilengkapi dengan organ reproduksi, setelah itu menjadi dewasa
     yang dilengkapi dengan 4 pasang kaki dan organ reproduksi.

Ordo Parasitiformes
Sub Ordo Mesostigmata
   o Nama Sub Ordo berkenaan dengan pada kenyataan bahwa sepasang stigma
      tunggal ada di lateral dan ada disebelah luar coxae kaki. Seperti pada caplak,
      stigma ini mungkin berasal dari plat peritoneal
   o Tidak ada alat penghisap genital
   o Dari sekian banyak spesies dari Ordo Mesostigmata, hanya ada satu kelompk dari
      sub ordo ini yang disebut Gamasida atau tungau Gamasid. Sebagian dari tungau
      Gamasid tidak parasitic dan hidup didalam tanah, kebanyaka pada kayu yang
      busuk/litter , yang lain berparasit pada kumbang, insek lain, burung, kelelawar,
      dan mamalia lain.

Famili: Dermanyssidae
Genus:Dermanyssus
Spesies: Dermanyssus gallinae
   o Menyerang ayam, merpati, dan burung liar mungkin juga manusia.
   o Tungau ini disebut juga tungau merah ayam, tetapi seperti tungau yang lainnya
       hanya berwarna merah bila menghisap darah, bila tidak warnanya keputihan agak
       abu-abu hitam
   o Siklus hidup: telur diletakkan biasa setelah menghisap darah dalam dinding
       kandang ayam. Tlur kemudian berubah menjadi larva, selanjutnya berubah
       menjadi nimfa. Protonimfa yang akan menghisap darah inang kemudian berganti
       kulit. Deutonimfa lalu menghisap darah inang, kemudian menjadi dewasa.

Genus: Ornithossus
   o Spesies ini sering disebut tungau tikus daerah tropis dan sebagai parasit pada tikus
       dan manusia di seluruh dunia
   o Chelicera tanpa gigi dan ada taji pada segmen distal dari pedipalpus
   o Siklus hidup: Telur diletakkan pada persembunyian tikus. Telur menetas setelah
       1x menghisap darah inang. Larva mempunyai 6 buah kaki dan tidak makan,
       kemudian berganti kulit, kemudian berubah mnejadi protonimfa, setelah
       protonimfa menghisap darah kemudian akan mengalami pergantian kulit lalu
       menjadi dewasa.



                                                                                      73
Sub Ordo Mesostigmata
   o Terdiri dari caplak keras dan caplak lunak
   o Terbagi menjadi 2 famili yaitu Argasidae termasuk didalamnya caplak ayam dan
      Ixodidae atau caplak sebenarnya

Famili Argasidae
   o Kulitnya tidak ditutupi oleh lapisan yang keras
   o Bagian capitulum dan mulutnya terletak pada permukaan bawah anterior
   o Tidak dijumpai adanya mata, jika ada terdapat pada bagian lateral supracoxal
   o Terdapat sepasang spirakel
   o Tidak dijumpai adanya perbedaan jenis kelamin

Genus: Argas
Spesies: Argas persicus
   o Dikenal sebagai fowl tick
   o Dewasa yang siap bertelur berwarna kebiruan
   o Siklus hidup: Telur diletakkan pada sangkar burung, kandang ayam. Telur
       berkembang menjadi larva. Larva mempunyai 6 kaki, menuju ke inang di bagian
       sayap, dapat hidup selama 3 bulan tanpa makan. Larva jatuh ketanah kemudian
       berganti kulit. Stadium selanjutnya adalah nimfa yang mempunyai 2 stadium.
       Nimfa akan makan selama 2 jam. Kemudian menjadi dewasa, dimana pada saat
       ini caplak akan makan selama 1 bulan. Betina akan melatakkan telurnya setiap
       selesai makan

Genus: Otobius
Spesies: Otobius megnini
   o Disebut dengan spinose ear tick
   o Bentuk larva dan nimfa sering dijumpai dalam daun telinga
   o Warna dan bentuk nimfa keabu-abuan
   o Bentuk dewasa tidak bersifat parasit
   o Bentuk telurnya mirip biola
   o Siklus hidup: telur diletakkan dibawah tempat makanan, di bawah batu atau pada
       sela-sela dinding. Telur berkembang menjadi larva dimana larva dapat hidup
       tanpa makan selama 2-4 bulan. Berjalan menuju kedua telinga, larva menghisap
       cairan limfe, warnanya putih kekuningan/pink. Larva berganti kulit menjadi nimfa
       yang tetap makan di dalam saluran telinga, larva kemudian menjatuhkan diri dari
       inang kemudian bersembunyi di celah-celah dinding lalu menjadi dewasa.

Genus: Ornithodorus
Spesies: Ornithodorus moubata
   o Hidupnya pada gubuk pasir di bawah pohon
   o Tidak memiliki mata
   o Merupakan multiple host tick sehingga memudahkan penyebaran penyakit
   o Siklus hidup: caplak betina bertelur pada pasir kemudian menetas dan berganti
       kulit menjadi nimfa. Kemudian berkembang menjadi dewasa




                                                                                     74
Famili Ixodidae
   o Scutum didapatkan pada seluruh permukaan tubuh bagian dorsal dari yang jantan
   o Pada bentuk larva dan dewasa betina, skutum didapatkan sedikit saja
   o Pada tepi posterior tubuh terdapat lekukan-lekukan yang disebut feston. Feston
       berjumlah 11 buah

Genus: Ixodes
Spesies: Ixodes ricinus
   o Di bagian anterior terdapat lekukan yang disebut anal groove, palpusnya panjang,
       tidak mempunyai mata, tidak terdapat feston
   o Inangnya yang dewasa adalah anjing dan mamalia. Pada larva dan nimfa dijumpai
       pada burung, reptilia dan mamalia
   o Siklus hidup: Telur menjadi larva dimana larva dapat bertahan tanpa makan
       selama 19 bulan, setelah itu berkembang menjadi ninfa kemudian dewasa

Genus : Hyalomma
Spesies: Hyalomma marginatum
   o Terdapat mata, feston kadang-kadang dijumpai
   o Palpus dan hipostom panjang
   o Inangnya pada yang dewasa terdapat pada sapi, mamalia dan burung. Larva pada
       burung dan rodensia
   o Caplak ini termasuk two host tick
   o Predileksinya pada perineum, perianal dan organ genetalia

Genus: Haemaphyssalis
Spesies: H. Parmata, H. bancrofti
   o Caplak yang berbentuk kecil
   o Tidak mempunyai mata
   o Bentuk palpus pendek dan tidak dijumpai feston
   o Inangnya pada anjing dan mamalia yang mengalami domestikasi
   o Termasuk 3 host tick

Genus: Dermacentor
Spesies: D. Variabilis, D.reticulatus
   o Tubuhnya biasanya berwarna-warni, karena itu disebut ornate tick
   o Dijumpai mata dan festoon
   o Bentuk hipostom dan palpusnya pendek
   o Inangnya adalah rodensia dan mamalia kecil

Genus: Amblyomma
Spesies: A. variegatum
   o Ornate tick
   o Dijumpai mata dan festoon
   o Palpus dan hipostom panjang
   o 3 host tick
   o Bertubuh bulat besar dan agak lebar



                                                                                  75
Genus: Aponomma
   o Ornate tick
   o Ukuran tubuhnya hampir sama denga caplak Amblyomma tetapi tidak
       mempunyai mata
   o Dijumpai feston
   o Palpus dan hipostom panjang
   o Inang: reptil

Genus: Ripicephalus
Spesies: R.sanguineus
   o Brown dog tick
   o Ektoparasit pada sapi, kambing, domba dan anjing
   o Bentuk umum caplak dari famili Ixodidae umumnya memiliki tanda-tanda
       sebagai berikut:
                  1. Cephalothorax (bagian kepala dan thorax bersatu)
                  2. Capitulum bagian kepala terdapat pada bagian anterior tubuhnya
                  3. Scutum: sejenis pelindung keras, yang tedapat pada again dorsal
                      tubuh caplak , terbuat dari bahan chitin. Caplak betina dewasa
                      memiliki scutum yang lebih kecil dari caplak jantan dan terdapat di
                      sepertiga bagian anterior tubuhnya
                  4. Festoon: merupakan bentuk persegi/bujur sangkar sepanjang tepi
                      caudal dari tubuh caplak

Anatomi tubuh caplak
   o Bagian kepala: terdapat mata di sebelah lateral. Pada jantan mata diatas dari coxa
      I, pada betina di bagian atas dari lebarnya scutum
   o Terdapat mulut yang dilengkapi dengan palpus dan hipostom, juga terdapat
      sejenis gigi (chelicera)
   o Bagian kaki: pada bentuk larva, mempunyai 3 pasang kuku. Pada bentuk nimfa
      mempunyai 4 pasang kaki.
   o Ujung segmen yang bulat panjang disebut petiole dan mengandung kait, pulvilli
   o Siklus hidup: berdasarkan siklus hidupnya dibedakan menjadi 3 yaitu:
   1. Berinang satu: larva-dewasa pada satu inang
   2. Berinang dua: larva-dewasa pada 2 inang
   3. Berinang tiga: larva pada inang I, nimfa pada inang II, dewasa pada inang III
   o Ripicephalus sp pada umumya 3 host tick. R.evertsi dan R.bursa 2 host tick
   o Siklus hidup: Telur menjadi larva. Larva bersembunyi dan menunggu untuk
      mendapatkan inangnya. Jika mendapatkan makanan yang cukup maka akan
      berganti kulit. Larva berubah menjadi nimfa. Nimfa mencari inang dan akan
      menghisap darah. Bentuk larva dan nimfa banyak terdapat pada daun telinga,
      lipatan kaki depan, belakang, pangkal ekor bagian bawah dan sela-sela jari inang.
      Nimfa berganti kulit, kemudian mejadi dewasa. Pada saat dewasa baru dapat
      dibedakan jenis kelaminnya. Betina mencari inang kemudian merayap pada
      tempat terlindung dari tubuh hewan dan menghisap darah sehingga tubuh caplak
      membesar dan siap untuk bertelur.




                                                                                      76
Genus: Boophilus
Spesies: B.microplus (B.australis); B.calcaratus; B.kohlsi; B.decoloratus disebut blue tick
karena mempunyai bagian seperti batu berwarna biru dan kaki kuning; B.annulatus
menyerang ternak di Amerika Utara
    o Mempunyai 4 pasang kaki pada yang dewasa, sedangkan larva mempunyai 3
       pasang kaki
    o Tubuh bagian dorsal dilindungi lapisan chitin/scutum. Pada yang jantan scutum
       meliputi permukaan dorsal tubuhnya, sedangkan pada yang betina scutum pada
       larva dan nimfa separuh tubuhnya
    o Memiliki sepasang mata
    o Mulut pada bagian anterior yang dilengkapi hipostom dan palpus. Hipostom
       sebagai alat penusuk dan palpus sebagai alat peraba
    o Spirakel sebagai alat pernafasan
    o Kaki memiliki 6 ruas, pada ujung kaki terdapat kuku (sebagai alat pengait)
    o Keistimewaan pada coxal I yaitu membelah menjadi dua dan berbentuk seperti
       taji yang disebut dengan internal spur dan external spur
    o Pada jantan memiliki prosesus caudatus
    o Mempunyai genital orifisium
    o Mempunyai anus
    o Pada jantan mempunyai anal plate dan ventral plate disekitar anus
    o Mempunyai cervical groove (saluran) pada bagian scutum
    o Sebelum menghisap darah, caplak berwarna coklat kekuningan kalau sudah
       menghisap darah berwarna kebiruan
    o Di Indonesia disebut caplak sapi
    o Caplak ini termasuk 1 host tick

Ordo Acariformes
   o Dalam istilah sehari-hari disebut tungau
   o Tidak dijumpai adanya segmentasi
   o Mempunyai 3 pasang kaki pada larva dan 4 pasang kaki pada nimfa dan dewasa
   o Tidak terdapat mata
   o Tidak terdapat rahang bawah (hipostom)
   o Hampir semua ovipar
   o Metamorfosis lengkap
   o Dapat menimbulkan iritasi pada inang dan menghisap darah

Ordo Acariformes terdiri dari 3 subordo yaitu: Prostigmata, astigmata dan
Cryptostigmata

Sub Ordo Prostigmata
Famili Trombiculidae
Genus Trombicula
Spesies Trombicula autumnalis
   o Yang bersifat parasitik adalah bentuk larvanya (chigger) bentuk nimfa dan dewasa
       hidup di alam
   o Bentuk yang dewasa ditutupi oleh bulu panjang dan warnanya merah kekuningan



                                                                                        77
   o Larvanya menghisap darah inangnya melalui alat yang disebut stylostome
   o Sering dijumpai pada bagian kepala dan leher inang. Bentuk larva sering
     menyebabkan gatal hebat pada inang. Bentuk dewasa sering dijumpai pada tanah
     berkapur dan rumput-rumputan

Famili Demodicidae
Genus Demodex
Spesies demodex canis; D.bovis; D.ovis; D.caprae
   o Hidup pada folikel rambut dan kelenjar sebasea
   o Bentuknya panjang seperti wortel
   o Batas thorax dan abdomen masih nyata, juga masih dijumpai 4 pasang kaki
       pendek dan tumpul. Abdomen bergaris-garis transversal pada bidang dorsal dan
       ventralnya
   o Bagian mulut terdiri dari sepasang palpi dan chelicera serta hipostom
   o Dapat dibedakan jenis kelaminnya
   o Seluruh siklus hidupnya berlangsung pada tubuh inangnya, terdiri dari telur, larva,
       deutonimfa, dewasa, di dalam kelenjar folikel rambut atau kelenjar keringat.
   o Tungau jantan terdapat pada permukaan kulit, dimana yang betina meletakkan
       telur di dalam folikel rambut. Larva dan nimfa terbawa oleh aliran cairan kelenjar
       ke muara folikel. Di tempat ini yang dewasa mulai kawin
   o Infeksi terjadi karena kontak langsung antara penderita dan hewan sehat
   o Inangnya: anjing, kucing, sapi, babi dan manusia


Sub Ordo Astigmata
   o Spesies yang termasuk dalam sub ordo ini menimbulkan gangguan pada kulit
   o Inang: mamalia dan burung
   o Terdapat dua famili penting yaitu
                 Sarcoptidae                   Psoroptidae
    Inang        Mamalia dan burung            mamalia
    Sifat        Menembus kulit inang dan      Pada permukaan kulit dan
                 menetap di bawah jaringan     menghisap makanan dengan
                 kulit                         menusukkan mulut ke dalam
                                               kulit
    Bentuk       globusa                       oval
    Dorsal       Didapatkan banyak spina       Tidak dijumpai
    Kaki         Pendek, pedikelnya tidak      Panjang, pada pedikelnya
                 bersegmen                     terdapat sucker
    Genital      Tidak ada                     ada
    Sucker       Tidak berlobus                Mempunyai lobus

Famili Psoroptidae
Terdapat tiga genus pada famili ini, diantaranya:
   1. Genus Psoroptes
           o Pada yang jantan terdapat copulatory sucker, betina mempunyai
               copulatory tuberkel


                                                                                      78
          o Mempunyai lapisan kutikula yang bergaris halus yang meliputi seluruh
            bagian tubuhnya
          o Inang: hewan berbulu banyak (kambing dan domba)
          o Spesies: Psoroptes ovis
          o Siklus hidup: telur-larva-nimfa kecil menjadi betina dewasa, nimfa besar
            menjadi jantan dewasa

   2. Genus Chorioptes
      Spesies: C.equi; C.bovis; C.ovis; C.texanus; C.caprae; C.cuniculi
         o Tungau mirip Psoroptes, namun keduanya dapat dibedakan dari leg
             suckernya
         o Predileksi terutama pada kaki. C.cuniculi pada telinga kelinci
         o Disebut sebagai tungau kaki

   3. Genus Otodectes
      Spesies: Otodectes cynotis
      Inang: anjing, kucing, anjing hutan dan kucing liar
      Predileksi: di dalam telinga

Famili Sarcoptidae
Genus: Sarcoptes
Spesies:          - Sarcoptes scabiei var ovis
                  - Sarcoptes scabiei var equi
                  - Sarcoptes sacbiei var suis
                  - Sarcoptes scabiei var bovis
                  - Sarcoptes sacbiei var canis
                  - Sarcoptes scabiei var humanis

      o Tubuh bulat seperti lingkaran
      o Banyak dijumpai kutikula pada permukaan luar tubuhnya dan ditemukan
        tonjolan dan bulu yang keras (bristle)
      o Tidak mempunyai mata dan trachea
      o Pada bagian mulut ditemukan padipalp dan alat penjepit kecil
      o Capitulum pendek dan kecil
      o Kakinya pendek dan dilengkapi sucker yang panjang tetapi tidak melekat pada
        pedikel serta sucker ini dapat membedakan tungau jantan dan betina, tungau
        jantan pada pasangan kaki I,II dan III, betina pada pasangan kaki I dan II
      o Anus di bagian terminal
      o Siklus Hidup: Telur diletakkan dalam kelompok, dua-dua atau empat-empat
        pada lubang. Tungau betina mati, telur berkembang menjadi larva yang
        dilengkapi 3 pasang kaki. Larva berubah menjadi nimfa. Nimfa membuat
        terowongan kemudian berganti kulit. Nimfa kemudian berunah menjadi
        dewasa yang dilengkapi dengan 4 pasang kaki




                                                                                   79
Genus: Notoedres
Spesies: Notoedres cati
   o Pada bagian dorsal ditemukan spina kecil dan tajam
   o Pedikelnya panjang
   o Pada yang jantan sucker tidak didapatkan pada kaki ke-3. Pada betina sucker tidak
       ddapatkan pada kaki ke-4

Famili Knemidocoptidae
Genus:Knemidocoptes
Spesies: K.mutans; K.gallinae; K.pilae
Inang: unggas
   o Tidak dijumpai spinal sucker pada bagian dorsal
   o Pada bagian dorso posterior dijumpai dua rambut panjang
   o Pada jantan pedikel pendek
   o Tidak dijumpai sucker kaki pada yang jantan. Pada betina mengalami rudimenter.




                                                                                   80

								
To top