Embed
Email

PARASITOLOGI

Document Sample

Shared by: dwi nur mijayanto
Categories
Tags
Stats
views:
2383
posted:
11/3/2011
language:
Indonesian
pages:
80
BAB I

PARASITOLOGI



Parasitologi : adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang parasit.



Parasit : adalah organisme yang hidup di dalam organisme lain dan menjadi beban

organisme yang ditumpanginya. Organisme yang ditumpanginya dikenal

sebagai inang atau hospes,



Hubungan antara inang/hospes dengan parasit diklasifikasikan menjadi beberapa jenis

hubungan, antara lain :

1. Parasitosis : adalah hubungan antara 2 organisme dimana satu organisme merusak

yang lain dan menyebabkan kerusakan-kerusakan serta menimbulkan gejala

klinis.

2. Parasitiasis : adalah hubungan antara 2 organisme dimana organisme yang satu

merusak dan menimbulkan keadaan patologik tetapi tidak menimbulkan gejala

klinis.

3. Komensalisme : adalah hubungan sepadan dimana satu pihak (parasit) mendapat

keuntungan dan pihak lain (inang) tidak dirugikan.

4. Simbiosis : adalah hubungan antara inang dan parasit yang diperlukan oleh

keduanya dan keduanya memperoleh keuntungan.

5. Mutualisme : serupa dengan simbiosis tetapi hubungan antara parasit dan inang

tidak memerlukan keharusan dan inang dapat hidup sempurna tanpa parasit.



Inang/hospes ada 2 macam :

1. Inang definitive : adalah inang tempat hidup tingkatan parasit dewasa, kehidupan

seksual parasit.

2. Inang perantara : adalah inang tempat hidup tingkatan parasit belum dewasa atau

kehidupan aseksual parasit.



Vektor parasit : adalah arthropoda atau invertebrate lainnya yang memindahkan parasit

dari satu inang vertebrata ke vertebrata lainnya.



Ada 2 macam vector :

1. Vektor mekanis : adalah suatu agen pemindah tanpa adanya perubahan

perkembangan parasit.

2. Vektor biologis : adalah suatu agen pemindah dimana dalam agen pemindah

tersebut terjadi perkembangan parasit.



Berdasarkan habitatnya,parasit diklasifikasikan menjadi :

1. Ektoparasit : adalah parasit yang hidup pada bagian luar induk semang

2. Endoparasit : adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inang.



Berdasarkan keeratan ikatan parasit dengan inang/hospesnya serta sifat parasit, maka

dikenal :







1

1. Parasit obligat : adalah parasit yang memerlukan paling sedikit satu inang untuk

menyempurnakan siklus hidupnya.

2. Parasit fakultatif : adalah organisme yang mampu hidup baik sebagai parasit

maupun hidup bebas

3. Parasit permanen : adalah parasit yang ada didalam atau pada satu inang selama

hidupnya.

4. Parasit temporer : adalah parasit yang sebagian siklus hidupnya hidup bebas

5. Parasit periodik : adalah parasit yang menyerang inang untuk waktu yang pendek

atau secara periodik untuk mendapatkan makanan.

6. Hiper parasit : adalah parasit yang hidup pada parasit lain.



HELMINTHOLOGI

Berasal dari bahasa Yunani, dari asal kata Helminthos yang berarti cacing.

Helmint dibagi menjadi 4 filum :

Platyhelminthes

Nematelminthes

Acantocephala

Annelida



FILUM PLATYHELMINTHES

Ciri-ciri :

 Pipih dorso ventral dan simetris bilateral

 Biasanya merupakan cacing hermaphrodit

 Tidak mempunyai rongga badan

 Alat ekskresi berupa flame cell

 Tidak mempunyai sistem respirasi dan sistem peredaran darah

 Siklus hidupnya indirect

 Filum ini terbagi menjadi 2 kelas yaitu Cestoda dan Trematoda



Kelas Trematoda

Morfologi umum:

 Berbentuk oval atau seperti daun tidak bersegmen

 Biasanya mempunyai saluran pencernaan yang buntu

 Memiliki sistem reproduksi hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae



Kelas Cestoda (cacing pita)

Morfologi umum :

 Bersifat hermaprodit dan merupakan endoparasit.

 Badannya terdiri dari kepala yang disebut skoleks, leher disebut neck, tubuh

disebut strobila, strobila terdiri dari segmen yang disebut juga proglotid

 Bentuk pipih dan panjang seperti pita



Skoleks biasanya dilengkapi dengan :

 Rostelum dan kait-kait (hooks)

 Sucker (alat pengisap) dan kait-kait







2

 Rostelum biasanya terdapat di bagian anterior skoleks

 Sucker terdapat dibagian kaudal skoleks berfungsi sebagai alat pengisap

 Rostelum mempunyai kait yang terdiri dari 1-2 baris kait yang digunakan untuk

menempel pada dinding usus

 Strobila terdiri dari proglotid yang masing-masing mempunyai alat kelamin jantan

dan betina

 Proglotid tumbuh di bagian posterior skoleks, makin ke posterior makin

dewasa/masak, sehingga proglotid yang paling ujung/posterior mengandung

uterus yang didalamnya terdapat telur-telur yang masak

 Telur dikeluarkan bersama proglotid dalam feses inang/hospes

 Didalam proglotid terdapat pengelompokan telur di dalam kantong-kantong

jaringan.

 Proglotid yang terdapat di luar tubuh akan hancur oleh keadaan sekitarnya dan

telur akan keluar.

 Telur cacing Cestoda berbentuk kompleks, pada kotoran telur terlihat sebagai

suatu bahan yang kompak disebut embriofor dan didalam embriofor terdapat

embrio yang disebut onkosfer. Didalam onkosfer terdiri dari 6 kait dan telur yang

demikian disebut Hexacanth

 Onkosfer tidak dapat terlepas selama belum mencapai saluran cerna inang antara.

 Embriofor terdiri atas 2 lapisan yaitu, lapian vitelin dan lapisan kitin.

 Ditempat predileksi , onkosfer akan berkembang dan masing-masing genus

mempunyai perkembangan yang berbeda. Ada 6 cara yang dialami oleh telur

selama perkembangannya menjadi larva, antara lain :

1. Cysticercus

2. Coenurus

3. Strobilacercus

4. Hydatid

5. Cysticercoid

6. Plerocercoid



FILUM NEMATHELMINTHES

Morfologi:

 Bentuk silindrik memanjang dan meruncing pada kedua ujungnya, kecuali

Tetrameres betina yang menggelembung setelah kopulasi menjadi bulat pipih

 Badannya tidak bersegmen, biasanya kutikula dilengkapi dengan gelang-gelang

 Saluran pencernaan dimulai dari mulut, esofagus, intestin dan berakhir pada anus

 Mempunyai ekor pendek

 Terdiri dari cacing jantan dan betina

 Siklus hidupnya secara direct dan indirect

 Terbagi menjadi 2 kelas yaitu Nematoda dan Nematomorpha



FILUM ACANTHOCEPHALA

Merupakan cacing parasitik yang biasanya dikenal sebagai ”thorny headed worms”

(cacing yang bagian kepalanya berduri)

Ciri-ciri :





3

 Tubuhnya silindris dan diapisi dengan kutikula yang tebal

 Tidak mempunyai saluran pencernaan dan makanan di absorbsi melalui dinding

tubuh

 Bagian anterior tubuh terdapat probosis yang bentuknya silindrik atau oval

 Siklus hidupnya secara indirect









4

BAB II



KELAS TREMATODA

FAMILI DICROCOELIIDAE

Genus : Eurytrema

Spesies : E. Pancreaticum



Habitat : Saluran pankreas dan kadang-kadang saluran empedu dan duodenum

Inang definitif : Kambing, domba, sapi, kerbau dan manusia

Morfologi :

 Tubuhnya tebal dan berduri\suckernya besar, oral sucker lebih besar dari ventral

sucker

 Faring kecil dan esofagus pendek\



Siklus hidup

Siklus hidupnya memerlukan 2 inang perantara siput tanah Bradybaena similaris dan

Cathaica ravida siboldtiana. Sporokista terjadi didalam tubuh siput, serkaria dihasilkan

setelah 5 bulan terinfeksi. Serkaria menempel pada rumput kemudian termakan oleh

belalang. Metaserkaria terjadi di dalam hemocoele dan menjadi infektif setelah 3 minggu

didalam tubuh belalang. Inang definitif terinfeksi karena memakan belalang yang

biasanya bersama-sama rumput dimana belalang tersebut mengandung metaserkaria .

Cacing muda migrasi melalui saluran pankreas.



Genus : Fasciola

Species : F. Hepatica

Habitat : Saluran empedu

Inang definitif : kambing, domba, sapi dan ruminansia lain, babi, kuda, kelinci, anjing,

kucing., kanguru gajah dan manuia. Biasanya pada manusia dan kuda, cacing dewasa

dapat ditemukan pada paru-paru, dibawah kulit dan tempat lain.

Morfologi :

 Bentuk seperti daun dengan bagian anterior lebih lebar daripada posterior

 Ventral sucker terletak sejajar dengan bahu dn besarnya sama dengan oral sucker

 Kutikula berduri



Siklus hidup Fasciola spp :

 Telur yang dihasilkan masuk duodenum bersama-sama cairan empedu dan keluar

bersama feses penderita (inang definitif).

 Telur menetas dan menghasilkan larva stadium I (mirasidium). Mirasidium akan

berenang mencari siput dan menembus tubuh siput, perkembangan selanjutnya

terjadi didalam tubuh siput. Bila mirasidium tidak dapat masuk kedalam tubuh

siput, mirasidium akan mati setelah beberapa jam. Inang perantara cacing F.

Gigantica di Indonesia adalah Lymnea Javanica (L.rubigenosa), karena di

Indonesia tidak ditemukan siput yang cocok sebagai hospes perantara F.hepatica,

maka trematoda tersebut tidak ditemukan di Indonesia, kecuali pada sapi impor.









5

 Mirasidium biasanya mencari siput muda, kemudian dengan menggunakan enzim

proteolitik yang dikeluarkan untuk menembus jaringan tubuh siput, kemudian

mirasidium melepaskan silia dan berkembang menjadi sporokista. Tiap-tiap

sporokista akan membentuk 5-8 redia dan berkembang maksimum.

 Redia keluar dari sporokista menjadi redia I, didalam redia terdapat redia anak

yang mempunyai bentuk yang sama dengan redia I.

 Redia anak berkembang selanjutnya menjadi serkaria. Bentuk serkaria

menyerupai bentuk cacing dewasa dan serkaria akan keluar dari tubuh siput bila

ada rangsangan sinar.

 Kemudian serkaria akan berenang dalam air, bila serkaria tidak segera termakan

oleh inang definitif, maka serkaria akan menempel pada rumput tepi

kolam/sungai. Infeksi akan terjadi apabila inang definitif memakan rumput atau

minum air yang terkontaminasi oleh serkaria/ metaserkaria.

 Didalam duodenum, serkaria keluar dari kistanya, menembus dinding usus masuk

rongga peritoneum kemudian menembus kapsula hati. Dapat pula melalui ductus

choleducus lalu menembus kapsula hati ke parenkim hati kemudian kesaluran

empedu untuk berkembang menjadi cacing dewasa.

 Masa prepaten (mulai masuknya metaserkaria sampai terdapatnya telur didalam

feses penderita) kurang lebih 2-3 bulan.



Spesies : Fasciola gigantica

Merupakan parasit asli Indonesia, sedangkan F. Hepatica masuk ke Indonesia

kemungkinan bersama-sama sapi perah Frissian Holland yang diimpor dari Belanda

Morfologi:

 Berwarna lebih terang (transparan)

 Bahu tidak begitu nyata

 Habitat, inang definitif dan siklus hidup sama dengan F. Hepatica



FAMILI PARAMPHISTOMATIDAE

Genus : Paramphistomun

Spesies : P. cervi

Habitat cacing dewasa : rumen dan retikulum kambing, domba dan sapi

Morfologi :

 Warna merah muda pada waktu masih hidup

 Merupakan conical fluke cacing mengerucut yang bentuknya seperti buah pear

 Mempunyai sucker yang besar dibagian subterminal posterior



Genus : Cotylophoron

Spesies : C. Cotylophorum

Habitat : rumen, retikulum kambing, domba, sapi, ruminansia lain

Morfologi :

 Mirip dengan P.cervi



Genus : Gastrothylax

Spesies : G. Crumenifer

Habitat : rumen domba, sapi zebu, kerbau di India, Srilangka dan China





6

Morfologi : Cacing dewasa berwarna merah muda pada waktu masih hidup



Genus : Gigantocotyle

Spesies : G. Explanatum

Habitat : saluran empedu, kandung empedu dan duodenum sapi dan kerbau

Morfologi : bentuk seperti kerucut dengan salah satu ujung lancip dan ujung lainnya

melebar



Genus :Gastrodiscus

Spesies : G. Aegyptiacus

Habitat : usus halus dan usus besar bangsa kuda, babi di Africa dan India

Morfologi :

 Warna merah muda

 Bentuk tubuhnya seperti mangkok



Siklus Hidup Famili Paramphistomatidae

 Mirasidium yang bebas akan berenang di air dan akan masuk ke dalam siput air.

 Perkembangan didalam tubuh siput, mirasidium pada saat penetrasi melepaskan

silia kemudian membentuk sporokista.

 Sporokista matur mengandung 8 redia pada tiap sporokista.

 Redia dibebaskan 11 hari setelah infeksi dan pada hari ke 21 redia mengandung

15-30 serkaria.

 Serkaria akan keluar apabila terkena sinar matahari, serkaria yang keluar

mempunyai ekor pedek dan 2 pasang eye spots.

 Serkaria menjadi metaserkaria. Infeksi inang definitif karena memakan

metaserkaria bersama rumput/tanaman air.



FAMILI : PARAGONIMIDAE

Genus : Paragonimus

Spesies : P. Westermanii

Merupakan cacing paru-paru (Lung Fluke)

Habitat : paru-paru kadang-kadang pada otak, spinal cord dan organ-organ lain

Inang definitif : babi, anjing, kucing, kambing, sapi, carnivora liar, bangsa musang dan

juga manusia.

Morfologi :

 Cacing dewasa berwarna merah kecoklatan, ukuran dan bentuknya seperti biji

kopi

 Kutikulanya berduri

 Vittelaria berlimpah-limpah berwarna kecoklatan, uterus berkelok-kelok diisi oleh

telur-telur berwarna coklat.



Siklus Hidup

 Cacing dewasa hidup didalam kista pulmonalis pada dinding fibrosa. Didalam

rongga kista terdapat 1 atau 2 caing dewasa bahkan 6 cacing dewasa. Telur

dikeluarkan oleh cacing dewasa didalam kista. Telur kemudian keluar melalui

bronki pada waktu kista pecah.





7

 Biasanya telur keluar bersama mukus atau sputum yang mempunyai batuk yang

khas seperti karat besi, tetapi apabila telur-telur tersebut tertelan kembali, dapat

dikeluarkan bersama feses penderita.

 Telur yang berada di air berkembang menjadi embrio.

 Mirasidium yang menetas berenang di dalam air dan mencari inang perantara I ,

siput air.

 Di dalam tubuh siput, mirasidium mengadakan penetrasi secara aktif kemudian

migrasi kedalam jaringan limfatik atau didalam otot dan organ respirasi (bronki)

 Mirasidium menjadi sporokista yang masing-masing redia berkembang menjadi

serkaria.

 Serkaria dilengkapi dua ekor pendek kemudian mencari inang perantara II jenis

kepiting dan bangsa udang

 Pada inang perantara II serkaria mengadakan penetrasi secara aktf. Metaserkaria

kemudian terbentuk dan membentuk kista pada jantung, otot, organ-organ

respirasi dan hati.

 Inang definitif terinfeksi karena memakan bangsa crustacea yang mengandung

parasit yang dimakan mentah atau kurang masak.



FAMILI SCHISTOSOMATIDAE

Genus Schistosoma

Spesies : S. Japonicum

Habitat : cacing dewasa didalam vena porta dan vena mesenterica

Inang definitif : manusia, sapi, kuda, domba, kambing, anjing, kucing

Inang perantara : Oncomelania nosophora di Jepang dan China, O. Formosa di pulau

Formosa (Taiwan), O.hupensis di China dan O.hupensis lindoensis di sulawesi

Morfologi :

 Cacing jantan mempunyai kurang lebih 10 testis.

 Cacing betina berwarna lebih tua

 Bentuk telurnya oval/ovoid, mempunyai tonjolan seperti kait/duri pada salah satu

ujungnya . Telur dikeluarkan bersama tinja/feses penderita.



Siklus Hidup

 Mirasidium mencari inang perantara yang cocok untuk berkembang menjadi

sporokista I dan II. Sporokista II membentuk banyak serkaria berekor cabang

yang keluar dari tubuh siput dan berenang didalam air.

 Infeksi pada inang definitif terjadi karena adanya kontak dengan air yang

terkontaminasi oleh serkaria dan serkaria dapat melakukan penetrasi melalui kulit,

kemudian mencapai pembuluh darah dan mencapai organ yang disukai.



Spesies : S. Bovis

Habitat : vena porta dan vena meseterica

Inang definitif :sapi, kambing, domba dan kadang-kadang kuda

Morfologi:k

 Permukaan tubuh cacing jantan terdapat tuberkel kecil pada kutikulanya

 Cacing jantan mempunyai testis 3-6 buah terletak longitudinal,sejajar dibagian

belakang ventral sucker





8

 Tubuhnya berbentuk memanjang dan terdapat spina dibagian terminalnya

 Inang perantaranya siput dari famili Bulinidae



Spesies : S. Spindale

Habitat : vena mesenterica

Inang definitif : sapi, kambing, domba, anjing dan zebu

Inang perantara : siput dari famili planorbidae dan Lymnaeidae : Planorbis spp,

indoplanorbis exustus, lymnea acuminata dan L. Luteola



Morfologi”

 Cacing jantan mempunyai testis 3-7 buah

 Telur berbentuk memanjang dan mempunyai spina dibagian lateral



Pesies : S. Incognitum sama dengan S.suis

Habitat : vena mesenterica

Inang definitif : babi ,anjing dan bangsa tikus

Inang perantara : L.luteola dan L.rubigenosa

Morfologi :

 Telurnya berwarna kuning kecoklatan,berbentuk subovoid dengan salah satu sisi

datar , kecil, dengan dilengkapi spina dibagian lateral.



Spesies : S.mekongi

Habitat : v.mesenterica dan v.porta

Inang definitif : anjing, kadang-kadang manusia

Inang perantara : famili Triculinae, genus tricula (Lytoglyphosis dan genus Robertsiella)



Spesies : S.nasale

Habitat : v. Mukosa nasalis sapi, kambing, domba dan kuda

Inang perantara : L.exuxtus dan L.luteola



Spesies : S. Indicum

Habitat : v. Porto mesenterica sapi, kambing, kuda, rusa

Inang perantara : L.exustus









9

BAB III

CESTODA



FAMILI ANOPLOCEPHALIDAE

Ciri-ciri :

 Tidak mempunyai rostellum dan hooks

 Proglotid biasanya lebih lebar dari pada panjang

 Masing-masing proglotid mempunyai 1 atau 2 pasang alat kelamin

 Genital pore terletak ditepi

 Testis terdapat dalam jumlah banyak

 Pada uterus terdapat kumpulan telur didalam kantong dan telur dikeluarkan satu

persatu atau lebih

 Masing-masing telur dikelilingi oleh 3 lapisan, yang yang paling luar adalah

vittelin membran, lapisan tengah albuminous membrane, lapisan dalam chitine

membrane.

 Bentuk telur mirip buah pear yang dilengkapi sepasang hooks /kait yang bersilang

satu dengan lainnya dan struktur ini disebut piriform apparatus.

 Inang perantara : mites dari famili Oribatidae.



Genus: Moniezia

Spesies : M. Expansa

Habitat : usus halus domba, kambing, sapi dan bangsa ruminansia lain

Morfologi:

 Segmen lebih lebar dari panjang dan tiap-tiap segmen mengandung 2 genital

organ

 Ovarium dan vittelin gland berbentuk cincin pada kedua sisi, di sebelah medial ke

arah longitudinal terletak excretory canals

 Testis tersebar dibagian sentral atau berkumpul dikedua sisi

 Ditepi posterior tiap-tiap proglotid terdapat 1 deret interglottidal gland tersusun

seperti cincin-cincin kecil

 Telur berentuk segitiga mengandung pyriform apparatus



Spesies : Moniezia benedini

Habitat : usus halus ruminansia terutama pada sapi

Perbedaannya dengan M.expanza terletak pada ”

1. M.benedini lebih esar dari pada M.expanza (lebarnya dapat mencapai 2,6 cm)

2. Interproglottidal glands tersusun pendek da berderet rapat pada bagian tengah

segmen



Siklus Hidup Moniezia:

 Telur cacing dikeluarkan bersama feses penderita (host) satu persatu atau

dalam keadaan berkelompok dalam segmen yang terlihat sebagai butiran-

butiran beras.







10

 Bila segmen dimakan oleh famili Oribatidae maka dindingnya akan sobek

dan seluruh telur termakan oleh mites tersebut.

 Dalam mite oncosphere akan tumbuh membesar dan mencapai jumlah 14

sel. Setelah 8 minggu oncosphere mempunyai 12 kait.

 Pada minggu ke 15 akan menjadi sistiserkoid.



FAMILI DAVAINEIDAE



Genus : Davainea

Spesies : D. Proglotina

Habitat : wilayah duodenum dari usus halus

Inang definitif : ayam, burung merpati dan burung lainnya

Morfologi :

 Terdiri dari 4-9 proglotid

 Pada rostellum terdapat 80-94 kait

 Sucker mempunyai berapa kait kecil berderet dan mudah lepas

 Genital pore teletak selang-seling secara teratur

 Telur terletak satu persatu dalam parenkim segmen yang mature



Siklus Hidup

 Segmen yang matur dikeluarkan dalam feses induk semang dan telur yang

menetas termakan oleh siput dari genus Limax, Arion, Cepoa dan Agriolimax.

 Setelah telur atau segmen tercerna didalam saluran pencernaan intermediate host,

larva cacing menembus dinding usus masuk rongga perut dan setelah 3 minggu

akan berubah bentuk menyerupai kantong disebut sistiserkoid dan skolek

mengalami invaginasi.

 Unggas terinfeksi karena memakan siput yang terinfeksi, setelah sistiserkoid

tercerna didalam saluran pencernaan unggas, skolek segera keluar dari dalam

kista lalu menempel pada dinding saluran usus

 Kemudian mulai membentuk leher dan segmen yang memerlukan waktu kurang

lebih 14 hari untuk menjadi dewasa.



Genus : Railiettina

Spesies : R.tetragona

Morfologi :

 R.tetragona merupakan cacing pita ayam.

 Lehernya tipis dan skolek kecil yang dilengkapi dengan 100 kait kecil terdapat

dalam 1 deret rostellum

 Bentuk sucker oval dilengkapi dengan 8-10 deret kait kecil yang mudah terlepas

 Setiap kantong telur mengandung 6-11 telur

 Kantong telur meluas kebagian lateral sampai saluran pengeluaran

 Inang perantara : Musca domestica dan bangsa semut dari genus Tetramorium dan

Pheidole









11

Siklus Hidup

 Mirip Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan berbeda.

 Larva dalambentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang

perantara yang mengandung sistiserkoid



Spesies : R. Echinobothrida

Habitat : usus halus bangsa unggas

Morfologi :

 Bentuk dan ukuran mirip R.tetragona

 Rostellum dilengkapi 200 kait pada 2 deret dan sucker dilengkapi dengan 8-10

deret kait

 Skolek mempunyai lengan yang kuat dan sucker berbentuk sirkular

 Genital pore unilateral, tetapi kadang-kadang selang-seling

 Segmen yang gravid sering terrpisah ditengah

 Inang perantara : Tetramorium caespitum



Siklus Hidup

 Mirip dengan Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan berbeda.

 Larva dalam bentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang

perantara yang mengandung sistiserkoid



Spesies : R. Cesticillus

Habitat : usus halus ayam, burung mutiara, kalkun

Cacing dari spesies ini sering ditemukan pada peternakan ayam

Morfologi :

 Panjang cacing 13 cm dan lebar 2mm, namun biasanya tak lebih dari 4 cm

 Cacing mudah dibedakan dengan spesies lain karena tidak mempunyai leher dan

skoleknya besar yang dilengkapi dengan rostellum yang lebar dan terdapat 400-

500 kait

 Telur berkapsul dan tiap-tiap kapsul mengandung 1 telur.

 Inang perantara : M.domestica dan kumbang



Siklus Hidup

 Mirip dengan Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan bereda

 Larva dalam bentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang

perantara yang mengandung sistiserkoid



FAMILI DILEPIDIDAE

Genus Dypilidium

Spesies : D.caninum

Habitat : usus halus anjing, kucing, srigala dan kadang-kadang manusia

Inang perantara : pinjal anjing, kucing, manusia dan kutu anjing.

Morfologi :









12

 Panjang mencapai 50 cm dan biasanya berwarna merah muda atau ekuning-

kuninagan

 Proglotid yang matur dan gravid mempunyai bentuk khas oval seperti biji

mentimun

 Rostellum dilengkapi dengan 3-4 baris kait kecil yang bentuknya seperti mawar

(Rose thorn)

 Tiap segmen mempunyai 2 pasang organ genital. Testisnnya banyak yang tersebar

diseluruh parenkim dari segmen.

 \Ovari dan vitelin gland menggerombol pada dua sisi seperti buah anggur

 Pada segmen gravid terletak telur-telur dalam kapsul, tiap kapsul mengandung 20

telur



Siklus Hidup

 Segmen masak dikeluakan bersama feses atau mungkin keluar secara spontan.

Kadang-kadang segmen yang masak merayap secara aktif dan meletakkan

telurnya disekitar anus atau perineal.

 Inang perantara terinfeksi karena tertelannya telur oleh larva pinjal dan

sistiserkoid berkembang didalam tubuh pinjal sampai pinjal dewasa.

 Inang definitif tertular karena termakannya pinjal yang mengandung sistiserkoid,

sedangkan pada manusia biasanya menyerang anak-anak, kemungkinan secara

accidental terjadi karena anak-anak bermain terlalu erat dengan anjing dan kucing



FAMILI TAENIIDAE

Ciri-ciri :

 Merupakan cacing pita berukuran besar

 Segmen gravid lebih panjang daripada lebarnya

 Rostellum dilengkapi dengan 2 deret kait besar dan kecil yang bentuknya khas

 Terdapat genital pore yang terletak selang-seling tak teratur

 Testis terdapat dalam jumlah banyak

 Stadim larva berupa sistiserkus, coenurus dan hydatid cyst.



Genus : Taenia

Species : T. Solium

Parasit ini penting dalam dunia kedokteran hewan karena stadium larva terdapat pada

anjing dan babi

Habitat : usus halus manusia

Morfologi :

 Panjang cacing 3-5 m kadang-kadang mencapai 8 m

 Rostellum dilengkapi dengan 22-32 kait pada 2 deret, besar dan kecil

 Telur bulat dengan dinding kasar

 Segmen gravd maing-masing mengandung 40.000 telur yang seing terlepas bersama-

sama dengan feses penderita

 Cacing dapat hidup pada manusia selama 25 tahun atau lebih



Siklus Hidup





13

 Pada waktu telur termakan oleh babi maka hexacanth embryo keluar dari telur

setelah sampai di usus halus , permulaan mekanismenya adalah oncosphere yang

dibebaskan sebagai akibat dari proses pencernaan. Setelah onkosfer dpnenaskan ,

kemudian bergerak kebebrapa tempat.

 Selanjutnya embrio keluar dari membra onkosfer dan mengadakan penetrasi pada

dinding usus, akhirnya onkosfer masuk ke pembuluh darah subnukosal dan

dibawa aliran darah ke liver dan tersebar ke seluruh tubuh.

 Pada T.solium predileksi sistiserkus pada otot bergaris, tetapi dapat juga

berkembang pada organ-organ lain seperti paru-paru, liver, ginjal atau otak.

Bentuk sistiserkus ini disebut cysticercus cellulosae.

 Manusia dapat terinfeksi karena memakan daging kurang masak yang

mengandung sistiserkus. Disamping babi,hewan lain yang dapat bertindak sebagai

inang perantara adalah domba, kambing, sapi dan bermacam-macam ruminansia

lain , kuda, anjing, beruang dan kera. Tetapi sistiserkus dapat juga dijumpai pada

manusia, karena tertelannya telur bersama makanan yang terkontaminasi karena

kebiasaan tanpa mencuci tangan sebelum makan.

 Sistiserkus pada manusia dapat dijumpai pada pelbagai organ tubuh manusia,

tetapi umumnya ditemukan pada jaringan subkutan, mata dan otak. Sehingga

manusia dapat bertindak sebagai inang definitif dan inang perantara

 Pada babi sistiserkus berkembang lengkap selama 10 minggu, setelah 2 bulan

cacing gelembung aktif, ditandai dengan sucker dan kait berkebang baik.

Perkembangan optimal sistiserkus yaitu memiliki skolek mirip dengan cacing

dewasa .

 Pemeriksaan daging, kista berumur lebih dari 6 minggu sudah dapat terlihat jelas.

Sistiserkus dtemukan pada otot-otot jantung, otot lidah, lengan, bawah paha dan

leher. Lama hidupC. Cellulosae diperkirakan dapat bertahan 1 tahun atau lebih.



Genus Taenia

Species : T. Saginata

Sinonim : Beef tape worm

Indk semang definitive : manusia

Induk semang antara : sapi, kerbau, jerpah dan llama

Habitat : usus halus manusia, sapi merupakan inang antara sebagai tempat hidup cacing

gelembungnya (sistiserkus)

Morfologi :

 Panjang cacing 4-8 m

 Skoleks tidak dilengkapi dengan rostellum dan kait tetapi dilengkapi 4 buah

hemispherical suckers yang terletak pada tiap sudut skoleks. Tiap cacing terdiri

dari 1000-2000 segmen

 Uterus garavid mempunyai cabang antara 15-3 pada tiap sisinya dan cabang-

cabang itu ada pula yang bercabang lagi

 Segmen gravid masing-masing mengandung 100.000 telur yang sering terlepas

bersama-sama feses penderita

 Cacing dapat hidup pada manusia selama 5-7 tahun









14

Siklus Hidup

 Bila manusia penderita yang dalam fesesnya mangandung T.saginata di tempat

terbuka, segmen cacing yang keluar bersama feses akan merayap ke rumput

disekitarnya, sehingga dapat tertelan oleh sapi.

 Selanjutnya telur yang matur tertelan oleh sapi sebagai inang antara, maka dalam

duodenum telur menetas menjadi onkosfer, yang selanjutnya mengadakan

penetrasi ke dinding usus, mencapai vena mesenterica atau saluran limfe dan ikut

aliran darah sampai ke jaringan otot bergaris terutama m. Masseter.

M.pterygoideus, myocardium dan diafragma.

 Cacing gelembung (cysticercus inermis=c.bovis=bladder worm) yang matang

dicapai dalam waktu 18 minggu pasca infeksi, berbentuk lonjong atau bulat,

berwarna putih susu, ada dalam jaringan ikat intermuskuler, dibungkus oleh

selaput dari jaringan ikat.

 Daging sapi yang mengandung c.bovis merupakan sumber infeksi T.saginata



FAMILI DIPHYLLOBOTRIIDAE

Genus : Diphyllobothrium

Spesies: D.latum

Habitat : usus halus manusia, anjing, babi, kucing dan hewan lain pemakan ikan

Morfologi :

 Panjang 2->10m

 Terdiri dari >3000segmen

 Pada waktu fresh berwarna kuning abu-abu dan ditengahnya berwarna gelap

disebabkan danya uterus dan telur

 Bentuk skolek memanjang dilengkapi bothria disebelah dorsal dan ventral

 Lehernya bisa memanjang dan memendek bila kontraksi.

 Telur berwarna coklat muda, mempunyai operkulum didapatkan pada feses induk

semang



Siklus Hidup

 Telur berkembang selama beberapa minggusetelah keluar dari tubuh induk

semang. Coracidium siap menetas didalam air. Coracidium mengandung onkosfer

yang mengandung 6 kait yang ditutup oleh embriofor yang bersilia. Corasidium

yang berenang dalam air akan termakan oleh bangsa krustacea/copepod.

 Didalam air tubuh larva stadium I yang disebut procercoid tumbuh dalam waktu

2-3 minggu. Jika Copepod termakan oleh ikan air tawar (salmon fish) sebagai

inang perantara II, maka procercoid mengadakan penetrasi melalui inding usus

halus menuju otot atau organ lain dan akan berkembang menjadi plerocercoid.

Plerocercoid ini bentukya memanjang berisi larva dengan kepala menyarupai

cacing dewasa.

 Inang definitif terinfeksi karena memakan ikan mentah/kurang masak.



Spesies : D.mansoni

 Ditemukan pada usus anjing dan kucing

 Telur ditemukan dari proglotid yang masak, akan berkembang jika diletakkan di

air yang bersih dan tidak mengalir. Telur akan menetas dalam waktu 10-28 hari





15

 Saat embrio tertelan bangsa Cyclops, secara cepat akan penetrasi pada rongga

tubuh dan berkembang menjadi procercoid pada waktu 3 minggu

 Sewaktu stadia tersebut termakan dan masuk kedalam rongga peritoneum tikus,

mencit, kera dan katak bentuknya akan berubah menjadi masak dan bentuknya

menjadi spargana. Apabila hewan-hewan tersebut termakan oleh anjing dan

kucing, stadiumnya akan berkembang menjadi cacing dewasa.









16

BAB IV

NEMATODA



Ciri-ciri:

Pada umumya cacing jantan mempunyai caudal alae atau copulatory bursa



ORDO ASCARIDIA

SUPERFAMILI : ASCARIDOIDEA

Ciri-ciri :

 Merupakan nematoda besar

 Mulut dikelilingi oleh 3 bibir besar

 Tidak mempunyai bukal kapsul

 Esofagus biasanya tidak mempunyai posterior bulb

 Ekor cacing betina tumpul dan cacing jantan ekornya berbelok-belok

 Terdapat 2 spikula pada cacing jantan

 Intestin mempunyai sekum

 Siklus hidup direct dan indirect



FAMILI ASCARIDIDAE

Genus : Ascaris

Species : A. Suum, A. Lumbricoides varietas suum

Habitat : usus halus

Host definitive :Babi,kadang-kadang ditemukan pada domba, sapi, anjing dan manusia

Morfologi :

 Cacing jantan panjang 15-25 cm, etina 41 cm

 Kutikula relatif tebal

 Cacing jantan dilengkapi spikula panjangnya 2 mm



Siklus Hidup

 Cacing betina menghasilkan kurang lebih 200.000 telur perhari

 Telur keluar bersama tinja, kemudian berkembang menjadi larva stadium II tanpa

menetas. Larva stadium II ini adalah stadium infektif.

 Infeksi terjadi karena babi makan makanan yang mengandung telur infektif atau

telur infektif yang melekat pada puting susu induknya tertelan anak babi,

 Setelah telur termakan kemudian menetas didalam usus halus dan larva

menembus dinding usus. Larva kemudian ke liver/ , kemudian ke jantung, paru-

paru, limpa dan ginjal.

 Sebagian besar larva moulting menjadi larva stadium III , pada saat ini larva

banyak tinggal didalam liver dan ada yang didalam paru-paru

 Larva yang terdapat pada paru-paru akan keluar dari kapiler menuju alveoli

kemudian menuju bronkioli, bronkus dan trakea. Kemudian ke faring dan

tertelan. Larva stadium III akhirnya sampai ke usus.









17

 Di usus larva moulting menjadi larva stadium IV, kemudian moulting menjadi

larva stadium V atau cacing muda, setelah itu berubah menjadi cacing dewasa

pada hari ke 50-55 setelah infeksi

 Telur ditemukan pada feses pada hari ke 60-62 setelah infeksi.



Genus: Parascaris

Species : P.equorum=Ascaris megalocephala=Ascaris equorum

Habitat : usus halus bangsa kuda, termasuk zebra dan terdapat pada sapi

Morfologi :

 Panjang cacing jantan15-28 cm, cacing betina 50 cm

 Cacing kaku, kuat dan kepalanya besar. Mempunyai tiga bibir yang dipisahkan

oleh tiga bibir intermediate kecil.

 Ekor jantan mempunyai lateral alae yang kecil



Siklus hidup mirip dengan A.suum



Genus :Toxocaris

Species : Toxocaris leonine=Toxocaris limbata

Habitat : usus halus anjing, kucing, bangsa canidae dan felidae liar

Morfologi :

 Panjang cacing jantan 7 cm, panjang cacing etina 10 cm

 Bagian anterior tubuh dilengkapi dengan cervical alae(pelebaran kutikula) yang

besar dan bengkok



Siklus Hidup :

 Telur infektif mengandung larva stadium II. Pada kondisi optimal di luar tubuh

host stadium infektif dapat dicapai 3-6 hari.

 Bila telur infektif termakan bersama makanan/minuman, setelah sampai di usus

larva stadium II masuk dinding usus dan tinggal di usus sampai menjadi larva

stadium IV, kemudian menuju mukosa dan lumen usus.

 Larva stadium V dicapai pada minggu keenam kemudian akan menjadi cacing

dewasa dan menghasilkan telur setelah 74 hari infeksi

 Larva tidak mengalami migrasi, hal ini yang membedakan dengan Toxocara

canis.



Genus: Toxocara

Species : Toxocara canis

Habitat : usus halus anjing dan srigala

Morfologi :

 Panjang cacing jantan 10 cm, betina 18 cm

 Mempunyai cervical alae (pelebaran kutikula)besar

 Tubuh bagian anterior membengkok ke ventral

 Cacing jantan mempunyai terminal tail, caudal alae dan spikula









18

Siklus Hidup

Siklus hidup T. Canis kompleks, tergantung umur induk semang, kemungkinan

meliputi prenatal transmission (trans uterin), lactogenic transmission (colostral), direct

transmission dan bisa paratenic host transmission

1. Pada anjing umur beberapa minggu sampai menjelang 3 bulan umumnya terjadi

tracheal migration. Bila telur tertelan oleh anjing, telur akan menetas pada usus.

Kemudian larva stadium II menembus dinding usus melali pembuluh limfe,

akhirnya sampai ke liver, jantung, paru-paru, alveoli, brinkioli, sampai ke trakea,

kemudian tertelan dan sampai pada lambung. Larva stadium III terjadi di paru-

paru, trakea dan esofagus. Sedangkan larva stadium IV terjadi di usus halus,

selanjutnya menjadi larva stadium V dan stadium dewasa dicapai 3-4 minggu

setelah infeksi. Bila telur infektif ditelan oleh anjing jantan dari segala umur

perkembangan akan berlangsung seperti diatas.

2. Tipe siklus hidup lainnya yang sering te rjadi adalah somatic migration. Tipe ini

ditunjukkan ketika telur infektif T.canis tertelan oleh anjing betina dewasa. Disini

larva tidak kembali ke usus untuk menjadi dewasa melainkan tetap tinggal di otot

atau jaringan lain tanpa berkembang lebih lanjut sampai anjing betina bunting.

Bila anjing dewasa tersebut bunting, larva-larva tersebut migrasi ke uterus

kemudian masuk fetus, sehingga terjadi prenatal infection. Pada prenatal infection

setelah larva sampai pada liver fetus terjadi moulting menjadi larva stadium III,

kemudian moulting lagi menjadi larva stadium IV pada minggu pertama setelah

fetus lahir dan larva terdapat pada paru-paru dan lambung fetus. Pada minggu

kedua setelah lahir terjadi moulting menjadi larva stadium V dan cacing dewasa

ditemukan pada minggu ketiga setelah lahir.

3. Pada anjing bunting sebagian larva migrasi ke ambing dan keluar melalui air susu,

sehingga terjadi penularan pada anak anjing melalui air susu (colostral

infection/transmammary infection). Larva yang keluar bersama-sama kolostrum

akan berkembang langsung menjadi cacing dewasa pada usus anak anjing dalam

waktu seminggu setelah lahir.

4. Pada waktu menyusui induk anjing suka menjilat-jilat. Bila kebetulan cacing

belum dewasa keluar bersama tinja anak anjig lalu tejilat dan tertelan induknya

maka cacing tersebut langsung menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu.

5. Telur yang tertelan oleh induk semang paraternis,seperti tikus dan mencit, maka

larva akan tinggal di otot. Bila tikus tersebut termakan oleh anjing maka larva aka

langsung menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu, tanpa migrasi lagi.

6. Dalam induk semang paraternis beberapa larva menyelesaikan migrasi

trakhealnya dan kembali ke usus untuk dikeluarkan bersama tinja. Bila larva ini

tertelan oleh anjing maka menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu tanpa migrasi

lagi. Larva dalam jaringan somatic tahan hidup lebih dari setahundan tidak

dimobilisir sekaligus dalam satu kali kebuntingan.



Spesies : Toxocara cati=Toxocara mystax

Habitat : usus halus kucing dan bangsa kucing liar

Morfologi :

 Cervical alae sangat lebar dan bergaris

 Panjang cacing jantan 3-6 cm dan cacing betina 4-10 cm







19

Siklus Hidup

 Infeksi terjadi karena termakannya telur infektif (mengandung larva stadium II)

 Dua hari pertama larva ditemukan pada dinding lambung, hari ketiga pada paru-

paru dan liver, hari kelima ditrakea, pada hari ke 10 sudahdi lambun kembali.

Sebagian larva tertinggal di paru-paru.

 Larva stadium III terjadi pada dinding lambung, stadium IV pada lumen lambung,

dinding usus dan lumen usus. Selanjutnya menjadi cacing dewasa.

 Larva stadium II juga dapat ditemukan pada otot tikus, cacing tanah, kecoak,

ayam, domba yang memakan telur infektif



Spesies : Toxocara vitulorum

Habitat : usus halus sapi, zebra dan kerbau

Morfologi :

 Pajang cacing jantan sampai25 cm, diameter 5 mm

 Panjang cacing betina 30 cm, diameter 6 mm

 Kutikula tipis dan terlihat transparan

 Terdapat 3 bibir



Siklus Hidup

Mirip denhan Toxocara canis . Terjadi somatic migration pada jaringan. Bisa

terjadi tracheal migration, prenatal migration dan lactogenic infection.



SUPERFAMILI OXYUROIDEA

FAMILI OXYURIDAE

Genus : Oxyuris

Spesies : Oxyuris equi=o.curvula=O.mastigodes

Habitat :usus besar

Induk semang : kuda



Siklus Hidup

 Panjang cacing jantan antara 9-12 mm dan panjang cacing betina 150 mm

 Cacing jantan mempunyai satu spikula yang menyerupai jarum, sedangkan pada

ekornya terdapat dua pasang papil yang besar dan beberapa papil kecil

 Cacing betina muda berwarna putih tampak melengkung dan relatif pendek

ekornya

 Pada cacing betina dewasa berwarna abu-abu sampai kecoklat-coklatan, ekor

sempit dan panjang 3x tubuh



Siklus Hidup

 Caing betina dan jantan muda berhabitat di sekum dan colon crassum, setelah

fertilisasi cacing betina dewasa menuju rektum dan merangkak ke anus dengan

bagian anterior tubuh mengarah ke anus. Telur diletakkan dalam bentuk kluster

didaerah perineal.

 Infeksi terjadi karena menelan telur infektif pada rumput, pakan dan

dikandanynya. Larva infekti terbebas dalam usus halus dan stadium III terbentuk

didalam kripta dari ukosa kolon bagian ventral dan sekum.





20

 Larva stadim IV mempunyai bukal kapsul dan terbenam didalam mukosa.

 Alat-alat sexnya masak pada stadium dewasa yang dicapai antara 4-5 bulan

setelah infeksi.



SUPERFAMILI SUBULUROIDEA

FAMILI: HETERAKIDAE

Genus : Hterakis

Spesies : Heterakis gallinarum=Heterakis papillosa=Heterakis vesicularis=Heterakis

gallinae

Habitat : sekum ayam kalkun, itik, angsa, dan sejumlah burung lainnya

Morfologi :

 Terdapat lateral alae yang besar disamping tubuhnya yang meluas ke posterior

 Esofagus bagian posterior membentuk bukbus

 Ekor cacing jantan dilengkapi alae yang besar, menonjol dan sirkuler, terdapat

precloacal succer dan 12 pasang papillae

 Spikula tidak sama, sebelah kanan langsing, sedangkan yang kiri mempunyai alae

yang lebar



Siklus Hidup :

 Telur berkembang diluar tubuh dan mencapai stadium infektif

 Apabila induk semang menelan telur infektif, telur akan menetas di intestin.

Dalam waktu 4 hari cacing muda berada dekat dengan sekum dan beberapa luka

terjadi di epithel glandula.

 Setelah itu moulting menjadi larva stadium III, kemudian stadium IV sepuluh

hari sesudah infeksi, 15 hari sesudah infeksi menjadi stadium V.

 Cacing tanah mungkin dapat bertindak sebagai vektor larva stadium II ditemukan

didalam tubuh cacing tanah, infeksi terjadi apabila unggas menelan cacing tanah

yang mengandung larva.



Genus : Ascaridia

Spesies : Ascaridia galli=Ascaridia lineata=Ascaridia perspicillum

Habitat : usus halus unggas, ayam belanda, angsa dan berbagai burung liar

Morfologi :

 Terdapat 3 bibir besar dan esofagus tidak mempunyai posterior bulb

 Ekor cacing jantan mempunyai alae kecil



Siklus Hidup

 Telur berkembang di luar tubuh host dan mencapai stadium infektif kurang lebih

10 hari

 Cacing tanah dapat memakan telur cacing kenudian cacing tanah termakan unggas

(transmitter mekanis).

 Telur menetas dalam usus halus hospes, larva tinggal 8 hari dalam mukosa usus

halus, kemudian ke lumen dan mencapai dewasa.









21

ORDO RHABDITIDA

FAMILI STRONGYLOIDIDAE

Genus Strongyloides

 Genus ini merupakan parasit pada hewan ternak

 Bentuk parasitik ada yang mampu parthenogeneti dan telurnya bisa tumbuh di

luar induk semang,langsung menjadi larva yang infektif dari seagian generasi

parasit atau menjadi generasi hidup bebas baik jantan maupun betina

 Esofagus pada free living generation berbentuk rhabditiformes

 Esofagus dari parasitic generation tidak Rhabditiform tetapi berbentuk cylindrical,

tanpa posterior bulb, atau dengan perkataan lain filariformes

 Larva infektif dari generasi parasitic dapat menembus langsung kulit induk

semang dan melalui aliran darah menuju paru-paru dari sana menuju trakea

menuju faring dan usus halus

 Bentuk parasitic cacing dewasa ditandai dengan genital organ pada betina dan

esophagus relative panjang



Spesies : Strongyloides papillosus

Habitat : usus halus domba, kambing, sapi, kelinci dan ruminansia liar

Morfologi :

Telur mempunyai ujung yang tumpul dan berdinding tipis, sudah mengandung

larva yang telah berkembang sewaktu dikeluarkan bersama feses induk semang.



Spesies : Strongyloides westeri

Habitat : usus halus kuda, babi dan zebra



Spesies : Strongyloides stercorales

Habitat : usus halus anjing, manusia, srigala, kucing



Spesies : Strongyloides cati= S.planiceps

Habitat : usus halus kucing



Spesies : Strongyloides ransomi

Habitat : usus halus babi



Spesies : Strongyloides avium

Habitat : usus halus dan sekum ayam, kalkun dan beberapa burung liar



Siklus Hidup genus Strongyloides

 Cacing betina yang parthenogenetic menyelipkan diri pada mukosa usus halus.

Larva stadium I dapat berkembang langsung menjadi larva stadium III yang

infektif (Homogonic cycle) atau mereka berkembang menjadi bentuk free living

jantan dan betina, kemudian menghasilkan larva infektif (Heterogonic cycle).

 Pada siklus heterogonic, larva stadium I cepat sekali berubah dalam waktu 48 jam

menjadi free living jantan dan free liing betina dewasa kelamin. Diikuti dengan

kopulasi maka free living betina memproduksi telur yang akan menetas dalam

beberapa jam dan larva mengalami perkembangan menjadi larva infektif.





22

 Pada homogenic cycle, larva stadium I dengan cepat mengalami perkembangan

menjadi larva infektif. Infeksi pada vertebrata dengan jalan menembus kulit dan

juga bias terjadi secara per oral.

 Siklus hidup ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Siklus hidup yang bebas (free living). Pada siklus hidup ini sesudah larva

keluar dari telur mula-ula larva tidak infektif, yaitu berbentuk

Rhabditiform larva, yang akan berkembang menjadi cacing jantan dan

cacing betina

2. Siklus hidup yang parasitic (parasitic life cycle). Pada siklus ini sebagian

dari larva yang tidak infektif berkembang menjadi larva infektif yang

disebut filarifom larva, dimana filariform ini akan menginfeksi induk

semang baru dan akan terbentuk cacing jantan dan betina. Pada siklus

hidup parasitic, larva akan mengalami lung igrationterutama jika

filariformis larva menginfeksi inangnya dengan jalan menembus kulit.



ORDO STRONGYLIDA

SUPERFAMILI : STRONGYLOIDEA

 Cacing ini mempunyai mulut yang terbuka dan terdapat corona radiate (leaf

crown)

 Gigi atau alat pemotong lain melengkapi buccal cavity yang kecil

 Cacing jantan mempunyai Bursa copulatrix dibagian ujung posterior yang

berfungsi sebagai pembantu kopulasi. Bursa terdiri dari 3 lobus, yaitu : 1 lobus

dorsal dan 2 lobus lateral. Diperkuat dengan adanya jari-jari atau bursal rays. Jari-

jari mengandung serabut otot (muscle fiber). Pada akhir ekor cacing ini terdapat

semacam bentukan dalam bursa disebut genital core, biasanya terdapat 2 spikula

yang sama besar dan dilengkapi sebuah gubernakulun (otot-otot)



FAMILI STRONGYLOIDAE

Genus : Strongylus

Species : S. Equinus

Habitat : sekum dan kolon bangsa kuda dan zebra

Morfologi :

 Cacing ini kaku dan berwarn aabu-abu gelap, kadang tampak garis merah karena

ada darah dalam ususnya

 Buccal capsul bulat lonjong dan terdapat eksternal dan internal leaf crown

 Pada dasar atau basic buccal capsul terdapat gigi dorsal yang besar bercabang di

bagian ujungnya dan 2 gigi kecil subventral

 Dibagian dorsal esofagus banyak kelenjar-kelenjar (esofagus gland)

 Cacing jantan mempunyai 2 spikula sederhana berbentuk silinder



Spesies : Strongylus edentatus

Habitat : usus besar da kolon bangsa kuda

Morfologi :

 Mirip dengan S.equinus secara makroskopis, tetapi kepalanya lebih lebar

dibanding bagian tubuh lainnya







23

 Bukal kapsul lebih lebar dibagian anterior dibanding bagian tengah dan tidak

terdapat gigi



Spesies : Strongylus vulgaris

Habitat : usus besar bangsa kuda

Morfologi :

 Hampir menyerupai S.edentatus dan S.equinus

 Bukal kapsul berbentuk oval dan terdapat dua gigi dorsal dibagian basis/dasar

yang berbentuk kuping (ear shaped dorsal teeth)

 External leaf crowns menyerupai rumbai-rumbai dibagian distal



Siklus Hidup S. equines

 Larva infektif menembus mukosa sekum dan kolon dan masuk sampai subserosa

menyebabkan bentukan seperti nodul.

 Sebelas hari setelah infeksi larva stadium IV, terdapat didalam nodul dan migrasi

ke rongga peritoneum, selanjutnya menuju hati dan moulting menjadi larva

stadium V dan mulai membentuk bukal kapsul.

 Dari hati kembali ke usus besar, didalam lumen kolon larva berkembang menjadi

cacing dewasa dan memproduksi telur.



Siklus hidup S.edentatus

 Larva infektif masuk dinding usus melalui vena porta menuju kehati. Didalam

hati membentuk larva stadium IV. Larva stadum IV dan V dijumpai disini dan

bercampur dengan berbagai ukuran nodul hemoragi.

 Larva bermigrasi diantara lapisan mesokolon ke dindig sekum dan kolon, disini

juga menimbulkan nodul hemoragi.

 Cacing muda migrasi menuju lumen da menjadi dewasa kelamin



Siklus Hidup S.vulgaris

 Larva menyebabkan lesi pada arteri dan beberapa kasus, alrvanya tedapat

dibagiananterior sistem srteri yaitu aorta.

 Larva infektif mengadakan penetrasi kedalam dinding usus, 8 harisetelah infeksi

terbentuk larva stadium IV penetrasi kedalam intima arteriola, sub mukosa dan

migrasi melalui vena menuju a mesenterica cranialis dan membentuk thrombi

yang disebut aneurysma.

 Larva stadium IV migrasi kembali melalui sistem arteri menuju sub mukosa kolon

dan sekum, disini terbentuk larva stadium V. Kemudian larva menuju lumen usus

dan menjadi cacing dewasa.



FAMILI TRICHONEMATIDAE

Genus : Chabertia

Spesies : C. Ovina

Habitat : kolon domba, kambing, sapi dan ruminansia lain

Morfologi :

 Ujung anterior melengkung kebagian ventral

 Bukal kapsulnya besar terbuka antero ventral





24

 Mulut diklilingi 2 baris kutikula kecil-kecil seperti leaf crown

 Bursa kopulatrik sempurna dan mempunyai gubernakulum



Siklus Hidup

 Infeksi terjadi secara peroral, melalui makanan atau minuman yang

terkontaminasi larva infektif. Selaput larva infektif mempunyai ujungekor yang

pajang.

 Larva menyusup kedalam mukosa kolon bagian atas . 6 hari kemudian larva

mempunyai bukal kapsul. Pada hari ke 80 larva sudah bisa dibedakan antara

jantan dan betina, bukal kapsul yang permanen sudah terbentuk, juga kedua alat

sexnya. Kemudian larva berkembang menjadi larva stadium 4 dan kemudian

menjadi cacing dewasa.



Genus : Oesophagostomum

Spesies : O.columbianum

Disebut juga nodular worm

Habitat : kolon

Induk semang : kambing, domba dan bangsa kijang liar

Morfologi :

 Mempunyai cervical alae yang lebar, mempunyai external leaf crown kurang

lebih 20 elemen dan internal leaf crown kurang lebih 40 elemen. Di ujung anterior

terdapat cervical grove yang melebar bagian ventral sampai lateral. Dibelakang

cervical groove terdapat cervical papillae yang merupakan tanda khas dari spesies

ini

 Bursa kopulatrik cacing jantan tumbuh sempurna, mempunyai 2 spikula

 Ekor cacing betina meruncing



Siklus Hidup :

 Telur dikeluarkan bersama feses mencapai stadium infektif 6-7 hari.

 Setelah larva termakan induk semang akan menembus dinding usus bagian

muskularis dan membentuk kista, disini larva mencapai stadium 3, 5 hari

kemudian menjadi larva stadium 4 dan kembali ke lumen usus menuju kolon dan

berkembang menjadi cacing dewasa.



Spesies : O. venulosum

Habitat : kolon domba, kambing, rusa dan unta.

Morfologi :

 Tidak mempunyai lateral cervical alae, bagian posteriornya tidak melengkung.

Cervicalpapillae terletak dibelakang esophagus.

 Eksternal leaf crown terdapat 18 elemen dan internal leaf crown 36 elemen



Spesies : O radiatum

Habitat : kolon sapi

Morfologi :

 Mulut berbentuk bulat

 Eksterbal leaf crown tidak ada





25

 Internal leaf crown 38-41 elemen



Spesies : O. Dentatum

Induk semang : babi

Morfologi :

 Cephalic vesikelnya menonjol tetapi cervical alae tidak ada

Spesies lain pada babi : O. longicaudum, O. Brevicaudum dan O.georgianum



FAMILI : STEPHANURIDAE

Genus : Stephanurus

Spesies : S.dentatus

Merupakan kidney worm pada babi

Habitat : jaringan perirenal, pelvis renalis, dinding ureter dan kadang-kadang mencapai

organ dalam torak dan bahkan sampai spinal cord

Morfologi :

 Bursa kopulatrik cacing jantan kecil terdapat 2 spikula.

 Bukal kapsul berbentuk seperti cangkir dengan dinding tebal yang berisi 6 gigi

pada dasarnya, dipinggirnya terdapat leaf crown dengan elemen kecil dan 6

eksternal kutikula yang tebal

 Vulva tertutup anus



Siklus Hidup

 Cacing dewasa saat akan bertelur berada pada suatu kista yang berhubungan

dengan ureter, sehingga telur dukeluarkan dalam urin induk semang.

 Cacing tanah dapat menjadi transmitter. Larva infektif bergerak bergerombol di

dalam tubuh cacing tanah.

 Selubung larva infektif segera mengelupas setelah infeksi terjadi, baik dalam

dinding perut setelah infeksi lewat mulut atau didalam kulit dan otot perut stelah

infeksi lewat kulit.

 Pada infeksi lewat mulut mencapai hati, pada infeksi melalui kulit menuju paru-

paru kemudian menuju hati. Kemudian dari hati menuju rongga peritoneu

kemudian ke perirenal tissue membentuk kista dan menjadi cacing dewasa.

Cacing dewasa menembus ureter dan bertelur.



FAMILI SYNGAMIDAE

Genus : Syngamus

Spesies : S. Trachea

Ccaing ini disebut Gip worm

Habitat : trakea

Induk semang : kalkun, ayam.

Morfologi :

 Cacing ini berwarna merah terang dalam keadaan segar dan selalu dalam keadaan

kopulasi.

 Mulut terbuka luas tanpa leaf crowns

 Bukal kapsulnya berbentuk seperti cangkir/piala dan terdapat 6 atau 10 gigi kecil

didasarnya.





26

 Bursa kopulatrik pendek dengan rays yang kuat.



Siklus Hidup

 Telur biasanya dibatukkan oleh inang dan ditelan serta dikeluarka oleh feses.

 Infeksi terjadi per oral. Larva infektif termakan oleh cacing tanah, snail, flies dan

arthropoda lain kemudian menjadi kista

 Cacing tanah, snail dan flies termakan bangsa burung/unggas yang merupakan

inang definitif.



FAMILI ANCYLOSTOMATIDAE

SUB FAMILI ANCYLOSTOMINE

SUB FAMILI NECATORINAE

Ciri-ciri :

 Tepi ventral bukal kapsul, gigi dan cutting plates tidak ada pada globocephalus

 Bagian dalam bukal terdapat gigi subventral

 Gigi dorsal tidak ada, tetapi gigi sub dorsal (lateral), kadang-kadang terdapat gigi

kecil



Yang termasuk sub famili ini :

 Genus Necator

 Genus Bunostomum

 Genus Globocephalus

 Genus Uncinaria

 Genus Gaigeria



SUB FAMILI ANCYLOSTOMINAE

Genus : Ancylostoma

Spesies : A. Caninum

Habitat : usus halus anjing, srigala, kucing, manusia

Morfologi :

 Cacing ini tampak kaku dan berwarna abu-abu atau keerahan karena usus berisi

darah dari induk semang

 Oral apertura membuka ke arah antero dorsal dan dilengkapi dengan bagian

ventral 3 buah gigi pada tiap sisi

 Bukal kapsul terletak dalam. Pada dasar bukal kapsul terdapat sepasang gigi

dorsal yang berbentuk segitiga dan sepasang gigi ventrolateral

 Tidak terdapat dorsal cone

 Bursa kopulatrik mempunyai 2 spikula



Spesies : A. Tubaeforme

Habitat : usus halus kucing

Morfologi :

 Bukal kapsul mirip A.caninum tetapi gigi pada tepi ventral sedikit lebih besar

 Spikula lebih besar daripada A.caninum









27

Spesies : A.braziliense=A.ceylanicum

Habitat : usus halus anjing, kucing, srigala, manusia

Morfologi :

 Ukuran sedikit lebih kecil dari A.caninum



Siklus Hidup Ancylostoma spp

 Masuk kedalam tubuh induk semang melalui kulit atau peroral, kemudian larva

mencari pembuluh darah dan mengikuti aliran darah melalui jantung menuju

paru-paru menju alveoli lalu laring, faring kemudian dibatukkan dan kembali ke

usus halus.

 Beerapa larva yang dapat melalui kapiler paru mencapai peredaran darah sistemik

menuju bermacam-macam organ yang menyebabkan perdarahan kecil-kecil dan

kemudian mati atau pada hewan bunting dapat mencapai fetus (prenatal

infection). Pada anak anjing, larva diam tidak berkembang sampai lahir dan

berkembang sampai stadium dewasa.



Genus: Necator

Spesies : N.americanus

Cacing ini merupakan hook worm pada manusia kadang-kadang pada anjing dan

babi.



Genus : Bunostomum=Monodontus

Spesies : B.trigonocephalum

Habitat : usus halus (ileum dan jejunum)

Induk semang : domba, kambing, sapi

Morfologi :

 Bukal kapsul elatif besar dan dilengkapi pada tepi vetral sepasang chitine plate

(sepasang lempengan chitin) didekatnya terdapat sepasang lanset kecil (sub

vental)

 Dorsal gutter membawa kelenjar oesophageal dan berakhir pada dorsal cone yang

besar yang mengarah pada buccal cavity

 Pada buccal capsule tidak terdapat gigi dorsal

 Jari-jari (rays) eksterno dorsal kanan muncul lebih tinggi pada tangkai jari dorsal

yang terbagi dalam 2 cabang dan lebih panjang daripada jari-jari eksterno dorsal

kiri

 Spikula gemuk



Siklus Hidup

 Infeksi pada hospes terjadi secara per oral atau melalui penetrasi kulit. Dengan

kedua cara tersebut larva mengadakan lung migration.

 Didalam jaringan paru-paru terjadi moulting menjadi stadium 3.

 Larva stadium 4 mempuntai bukal kapsul mencapai intestin dan tumbuh menjadi

cacing dewasa.









28

Spesies : B. Phlebotomum

Habitat : usus halus (duodenum) sapi, zebra, domba



Genus : Gaigeria

Spesies : G. pachyscelis

Habitat dan hospes : duodenum kambing dan domba

Morologi :

 Mirip dengan Bunostomum sp, tetapi tidak mempunyai gigi dorsal\

 Anterolateral rays pendek dan tumpul terpisah sama sekali dengan lateral rays



Siklus Hidup

Penularan terjadi hanya melalui kulit, selanjutnya larva mencapai paru-paru, larva

stadium 4 mempunyai bukal kapsul dengan dorsal cone dan sepasang lanset subventral

selanjutnya migrasi ke bronki, trakea, faring lalu ditelan mencapai intestin dan

berkembang menjadi cacing dewasa.



FAMILI TRICHOSTRONGYLIDAE

Genus : Trichostrongylus

Morfologi :

 Berukuran kecil, langsing, berwarna coklat kemerahan

 Tidak mempunyai bukal kapsul

 Bursa kopulatrik mempunyai lateral rays yang panjang, sedangkan dorsal rays

tidak begitu nyata, entro lateral rays leih kecil daripada ventral rays

 Spikula kokoh, kaku dan berwarna coklat

 Mempunyai gubernakulum

 Uterusnya bercabang (amphidelp)



Spesies : T. Colubriformis=T.instabilis

Habitat : bagian atas usus halus dan kadang-kadang pada abomasum

Induk semang : domba, kambing, sapi, unta, kelinci, babi dan manusia



Spesies : T.falculatus

Habitat : usus halus

Induk semang : kambing, domba dan rusa



Spesies : T.vitrinus

Habitat : usus halus

Induk semang : kambing, domba, unta, kelinci dan manusia



Spesies : T.capricola

Habitat : usus halus

Induk semang : kambing dan domba



Spesies : T probolurus

Habitat : usus halus

Induk semang : domba, unta, manusia





29

Spesies : T.axei=T.extenuatus

Habitat : abomasum

Induk semang : kambing, domba, sapi, menjangan, babi, kuda, keledai dan manusia



Spesies : T.rugatus

Habitat : usus halus kambing, domba



Spesies : T. longispicularis

Habitat : usus halus kambing, domba, sapi



Siklus Hidup Trichostrongylus spp

 Telur dikeluarkan bersama feses induk semang kemudian berkembang menjadi

larva stadium 1 dan akan menjadi larva infektif, larva-larvanya berada di rumput

pada awal pagi dan awal petang.

 Larva infektif yang termakan hospes mengalamai eksidid kedua secara lengkap

siklus parasitic dimulai



Genus : Cooperia

Habitat : pada usus halus dan kadang-kadang di dalam abomasums dari ruminansia



Spesies : C. curticei

Induk semang : domba dan kambing



Spesies : C.pectinata

Induk semang : sapi dan domba



Spesies : C. Oncophora

Induk semang : sapi, domba, kadang-kadang kuda



Siklus Hidup

Secara umum menyerupai siklus hidup Trichostrongylus. Infeksi terjadi secara per

oral. Larva yang infektif mempunyai bintik pada ekor dan dikelilingi oleh selubung





Genus : Nematodirus

Ciri-ciri

 Spesies dari genus ini termasuk cacing berukuran pajang dan bagian posterior

berbentuk langsing

 Mempunyai kutikula yang rata dan terdapat 14-18 garis-garis longitudinal pada

lapisan kutikulanya

 Bagian anterior tubuh lebih tipis daripada posterior tubuh

 Spikula langsing, panjang dan ujungnya bertemu menjadi satu

 Ekor cacing betina spesifik pendek dan menyempit dengan ujung terdapat

penonjolan seperti jarum









30

Spesies : N. Spathiger

Habitat : usus halus domba, sapi dan ruminansia lain

Siklus Hidup

 Telur berkembang diluar tubuh induk semang, larva menetas hanya bila tercapai

stadium infektif yang mengalami 2x ekdisis.

 Infeksi terjadi secara per oral dan menjadi cacing dewasa di dalam usus halus 3

minggu setelah infeksi.



Spesies : N. Battus

Habitat : usus halus domba



Spesies : N. filicollis

Habitat : usus halus kambing, domba dan rusa





Genus : Haemonchus

Spesies : H.contortus

Spesies ini disebut Stomach worm atau Wire worm dari ruminansia yang paling ganas

Habitat : abomasums kambing, domba, sapid an ruminansia lain

Morfologi :

 Cacing jantan berwarna merah, sedang cacing betina berwarna belang merah

putih dimana warna tersebut dihasilkan oleh selang-seling antara ovari berwarna

putih dan usus berwarna merah karena menghisap darah induk semangnya

 Kutikulanya ada yang transversal dan beberapa longitudinal

 Cervical papil menonjol seperti spina

 Buccal cavity kecil dan terdapat dorsal lancet



Spesies : H. placei

Disebut Haemonchus sapi karena menyerang sapi



Spesies : H.similis

Menyerang sapi dan rusa



Spesies : H.longistipes

Habitat : abomasum



Siklus Hidup

 Siklus hidupnya menyerupai Trichostrongylus, telur akan keluar bersama feses

dan akan menjadi larva infektif di alam

 Infeksi terjadi per oral ketika merumput dan akan menjadi cacing dewasa dalam

waktu 18 hari di lambung



Genus : Mecisticirrus

Spesies : M.digitatus

Habitat : abomasum domba, sapi, zebra, kerbau dan lambung babi

Siklus Hidup





31

 Telur keluar bersama feses, menetas dan berkembang menjadi larva infektif

 Infeksi terjadi pada saat induk semang merumput yang terkontaminasi larva

infektif.

 Cacing ini cukup pathogen pada kerbau, sapi dan kambing dan mempunyai efek

seperti H.contortus



FAMILI DICTYOCAULIDAE

Genus : Dictyocaulus

Spesies : D.filaria

Habitat : bronki kambing, domba dan ruminasia lain

Morfologi :

 Cacing dewasa mempunyai warna putih susu, saluran pencernaan gelap sehingga

terlihat dari luar

 Buccal capsul dilengkapi 4 bibir, tidak terdapat papil di bagian anterior dan

posterior



Siklus Hidup

 Telur akan menetas didalam paru-paru tetapi biasanya dibatukkan dan ditelan

kembali dan larva stadium 1 menetas ketika melalui saluran pencernaan.

Beberapa telur mungkin dapat dikeluarkan melalui sekreta hidung atau bersama

sputum.

 Larva stadium 1 dikeluarkan bersama feses, mudah dikenali karena adanya

bonggol kutikula yang kecil pada ujung anterior, dan terdapat sejumlah granule

makanan berwarna kecoklatan pada sel-sel intestin. Stadium bebas ini tidak

makan , tetapi tetap hidup karena persediaan granula-granula makanan.

 Setelah stadium 2 larva berubah menjadi stadium 3 yang merupakan stadium

infektif, infeksi disebabkan karena tertelannya larva stadium 3 yang merupakan

larva infektif oleh hospes, setelah itu larva penetrasi ke dinding usus kemudian

bermigrasi melalui saluran limfe.

 Pada larva stadium 4, jantan dan betina dapat dibedakan, kemudian larva menuju

paru-paru melalui aliran darah dan tertahan dalam kapiler paru-paru.

Perkembangan menjadi dewasa terjadi dalam bronki.



Spesies : D. Viviparus

Habitat : bronki sapi, rusa, kerbau dan unta



FAMILI METASTRONGYLIDAE

Genus : Metastrongylus

Spesies : M. apri

Habitat : bronki dan bronkioli babi, babi hutan, kambing, rusa dan ruminansia lain

Morfologi :

 Cacing dewasa berwarna putih dan mempunyai bibir kecil mengelilingi bagian

mulutnya.

 Bursa kopulatrik relatif kecil dan spikula berbentuk filiformis









32

Spesies : M.pudendotectus

Habitat : bronki dan bronkioli babi dan beruang



Spesies : M.salmi

Habitat : bronki dan bronkioli babi dan ruminansia



Siklus Hidup

 Telur yang berisi penuh dengan larva stadium 1 akan menetas setelah keluar

bersama dengan feses atau setelah termakan oleh inang perantara yaitu beberapa

jenis cacing tanah.

 Pada cacing tanah larva mengalami perkembangan dalam esofagus,

proventrikulus dan ventrikulus dan usus, selanjutnya larva masuk aliran darah dan

berkumpul dalam jantung, stadium infektif terdapat dalam pembuluh darah cacing

tanah.

 Inang definitif terinfeksi karena memakan cacing tanah yang mengandug larva

infektif.



ORDO SPIRURIDA

SUPER FAMILI SPIRUROIDEA

FAMILI SPIRURIDAE

Genus : Habronema

Spesies : H. Muscae

Habitat dan host : lambung kuda

Morfologi :

 Terdapat 2 bibir lateral masing-masing 3 lobi

 Cacing jantan mempunyai caudal alae, 4 pasang prekloaka papillae dibelakang

kloaka



Spesies : H.microstoma

Habitat : lambung bangsa kuda



Spesies : H.megastoma

Habitat dan host : terdapat dalam nodule pada dinding lambung kadang-kadang bebas

dalam lambung bangsa kuda



Siklus Hidup

 Larva/telur dikeluarkan bersama feses dan dimakan oleh larva lalat yang

berkembang pada feses, cacing mencapai stadium infektif pada larva lalat

 Pada lalat dewasa larva bebas pada haemocoele dan menuju proboscis. Larva

diletakkan pada bibir, lubang hidung dan pada luka dari kuda pada waktu lalat

makan. Yang sering terjadi ialah lalat yang mengandung larva cacing termakan

bersama ransom/air. Larva dibebaskan didalam lambung kemudian tumbuh

menjadi dewasa.



FAMILI THELAZIIDAE

Genus : Thelazia





33

Spesies : T.rhodesii

Ditemukan pada sapi, kambing, domba, kerbau

Morfologi:

 Warna putih susu

 Kutikula terdiri garis-garis transversal prominent



Spesies : T.callipaeda

Habitat : dibawah membrana nictitans anjing dan pernah dilaporkan pada kelinci dan

manusia



Siklus Hidup

 Larva stadium 1 didalam usus lalat yang berasal dari sekresi mata inang definitif

kemudian mengadakan penetrasi pada folikel ovari lalat, selanjutnya berkembang

menjadi larva stadium 2 dan kemudian berkembang menjadi larva stadium 3.

 Larva stadium 3 meninggalkan folikel ovari dan migrasi ke mulut lalat, kemudian

dapat dipindahkan ke sapi.



Spesies : Oxyspirura mansoni\

Habitat : membrana nictitans ayam dan kalkun

Morfologi :

Kutikula halus dan faring bentuknya seperti jam pasir

Siklus Hidup

 Telur melalui ductus lacrimalis akan dikeluarkan keluar bersama feses. Inang

perantara lipas. Unggas terinfeksi karena memakan lipas yang terinfeksi

 Larva terlepas dari inang antara setelah termakan, kemudian merangkak ke atas

yaitu esofagus, faring dan ductus lacrimalis menuju ke mata. Biasanya larva

terlihat 20 menit setelah lipas termakan oleh unggas



Spesies : Oxyspirura parvorum

Ditemukan pada unggas di Australia



Genus : Gongylonema

Spesies : Gongylonema pulchrum

Host : domba, kambing, sapi, babi, zebu, kerbau, kuda, onta, keledai, babi hutan

Habitat : esofagus baik bagian mukosa atau submukosa, cacing terbenam dengan

membentuk pola zik-zak. Pada ruminansia kadang ditemukan juga di rumen,

Siklus Hidup

 Inang perantara adalah kumbang tinja, kecoak (Blatella germanica) dapat juga

terinfeksi oleh cacing ini secara eksperimen

 Host definitive terinfeksi bila memakan inang peratara yang mengadung larva

infektif. Pada kecoak larva infektif dapat keluar secara spontan yang akan jatuh ke

air.



Spesies : Gongylonema ingluvicola dan G.crami

Habitat : tembolok ayam







34

FAMILI : ACUARIIDAE

Genus : Cheilospirura

Spesies : C.hamulosa=Acuaria hamulosa

Habitat : gizzard unggas dan kalkun

Morfologi :

 Dua cordonnya menjulur hampir sepanjang tubuh dan garis luar tidak teratur

 Cacing jantan mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil.

Spikula kiri lebih langsing dan spikula kanan pipih

Siklus Hidup

Telur keluar bersama feses inang definitif dan menetas setelah tertelan inang

perantara (belalang, kumbang, bangsa rayap). Larva infektif berkembang pada inang

perantara dan inang definitif terinfeksi karena memakan sejenis insect tersebut.



Genus : Dispharynx

Spesies : D.spiralis = Acuaria spiralis

Habitat dan hospes : dinding proventrikulus, esofagus kadang-kadang pada usus unggas,

kalkun, burung merpati, burung mutiara dan bangsa burung lain

Morfologi :

 Cordon mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil

 Cacing jantan mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil

 Spikula kiri gemuk dan spikula kanan berbentuk seperti perahu

Siklus Hidup

Telur menetas setelah tertelan inang perantara, isopod. Larva berkembang pada

rongga tubuh isopod kemudian termakan oleh burung dan berkembang menjadi dewasa.



Genus : Echinuria

Spesies : Echinuria uncinata =Acuaria uncinata

Habitat : esofagus, proventrikulus, gizzard dan usus halus

Induk semang : itik, angsa dan bangsa burung liar

Morfologi :

 Cordon tidak berbalik dan beranastomose dan kutikula dilengkapi 4 deret

longitudinal duri

Siklus Hidup

Telur dikeluarkan bersama feses dan tertelan pleh water fleas, kemudian menetas

dan berkembang menjadi larva infektif. Burung terinfeksi karena memakan inang

perantara, kemudian larva berkembang menjadi dewasa.



FAMILI TETRAMERIDAE

Genus : Tetrameres

Spesies : Tetrameres americana

Habitat dan hospes : proventrikulus ayam, kalkun

Morfologi “

 Cacing betina berbentuk agak bulat (subspherical) dan mempunyai 4 lekukan

yang dalam di bagian garis longitudinal, sedangkan bagian anterior dan

posteriornya menonjol sebagai bagian yang lancip







35

Siklus Hidup

 Telur dikeluarkan bersama feses, akan menetas bila tertelan oleh inang antara

yang sesuai berupa serangga Othoptera seperti Melanoplus femurrubrum, M.

Differentialis dan Blatella germanica. Infeksi pada hospes dapat terjadi bila

memakan inang antara yang mengandung larva infektif T.americana.

 Cacing jantan dan betina migrasi menuju kelenjar provetrikulus untuk

berkopulasi, kemudian cacing jantan meninggalkan kelenjar dan mati.



Spesies lainnya yaitu :

T.fissispina

Habitat :proventrikulus bebek, ayam, kalkun dan burung liar

Inang antara : krustasea air



T.crami

Habitat :provetrikulus bebek

Inang antara : amphipods



T.mohtedai

Habitat :proventrikulus ayam

Inang antara : kecoak, belalang dan moth (kupu malam)



SUPERFAMILI FILARIOIDEA

FAMILI FILARIIDAE

Genus : Dirofilaria

Spesies : D. Immitis

Habitat : ventrikel kanan, arteri pulmonalis dan organ lain

Induk semang : anjing, kucing dan srigala

Inang perantara : nyamuk dari genus Culex, aedes, anopheles dan Myzorhynchus

Morfologi :

 Ujung posterior cacing jantan berupa coil spiral dan ekor terdapat lateral alae

 Cacing ini gemuk dan berwarna putih

 Mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah setiap waktu, tatapi tendensi

periodicity

 Mikrofilaria terlihat bermacam-macam pada negara yang berbeda, tetapi

prinsipnya pada sore hari mikrofilaria dijumpai dalam jumlah maksimum dan

minimum ditemukan pada pagi hari

Siklus Hidup

 Cacing betina menghasilkan mikrofilaria, mikrofilaria dapat ditemukan dengan

mudah dalam darah perifer di malam hari, siang hari sulit

 Dalam 24 jam pertama mikrofilaria tinggal dalam lambung nyamuk, 24 jam

berikutnya migrasi keseluruh malphigi. Pada hari ke 9-10 larva memakan sel

saluran malphigi serta masuk ke rongga badan. Selanjutnya migrasi ke daerah

dada dan kepala kemudian masuk labium. Mikrofilaria mencapai stadium infektif

dalam labium.

 Infeksi berlangsung pada waktu nyamuk yang mengandung mikrofilaria

menghisap darah anjing. Selama 3-4 bulan mikrofilaria mengembara dalam darah





36

anjing kemudian menetap dalam ventrikel kanan. Dua bulan berikutnya dicapai

tahap dewasa dan menghasilkan mikrofilaria.

 Parasit ini dipindahkan oleh lalat semak Stomoxys calcitrans tetapi kadang-

kadang oleh nyamuk Culicine





FAMILI SETARIIDAE

Genus : Stephanofilaria

Spesies : S.dedoesi

Habitat dan hospes : kulit sapi

Morfologi :

 Oral apertura dikelilingi oleh protruding cuticular rim yang tepinya melengkung

 Dekat bagian anterior terdapat penebalan sirkuler yang dilengkapi dengan duri-

duri kecil sirkuler

 Spikula unequal

 Cacing betina tidak mempunyai anus

Spesies-spesies lain :

 S.stilesi, penyebab luka-luka yang besar pada kulit samping bawah dari abdomen

sapi

 S.kaeli, penyebab luka-luka pada kaki dari sapi

 S.assamensis, penyebab hump sore dermatitis konis pada sapi

 S.okinawaensis, terdapat pada sapi di Jepang, penyebab luka-luka pada mulut dan

puting susu

 S.zaheeri, terdapat pada kerbau, menyebabkan luka-luka pada telinga

Siklus Hidup

Lalat menghisap mikrofilaria pada luka yang disebabkan oleh Stephanofilaria,

kemudian berkembang menjadi infektif dan berada di probosis lalat. Mikrofilaria infektif

akan menginfeksi induk semang bila lalat menghisap darah induk semang.



SUPER FAMILI TRICHUROIDEA

FAMILI TRICHURIDAE

Genus : Trichuris

Ciri-ciri:

 Cacing ini disebut whip worm (cacing cambuk), karena bagian anterior tubuh

panjang dan ramping, sedang bagian posterior gemuk.

 Bagian posterior cacing jantan melingkar, terdapat satu spikula yang dikelilingi

oleh selubung yang protusible dan dilengkapi dengan duri-duri kutikuler yang

bagus



Spesies : T.ovis

Habitat dan hospes : sekum domba, kambing, sapi

Spesies : T. Globulosa

Habitat dan hospes : sekum rusa, domba, kambing, sapi

Spesies : T. Vulpis

Habitat dan hospes : sekum dan usus halus anjing dan srigala







37

Spesies : T.suis

Habitat dan hospes : sekum babi, babi liar dan babi hutan

Siklus Hidup

Induk semang terinfeksi karena memakan telur yang mengadung larva infektif

kemudia larva menuju sekum, tinggal dalam kelenjar Lieberkuhn, selanjutnya ke lumen

sekum dan akan tumbuh menjadi cacing dewasa



FAMILI CAPILLARIIDAE

Genus : Capillaria

Spesies : Capillaria caudinflata=c.caudinflatum=c.longicollis

Habitat : usus halus uggas, burung merpati

Siklus hidup

Indirect. Telur termakan cacing tanah, burung terinfeksi karena memakan cacing

tanah tersebut. Larva infektif dicapai dalam waktu 14-21 hari dalam cacing tanah



Spesies : Capillaria obsignata dan capillaria columbae

Habitat dan host : usus halus ayam, burung merpati, kalkun dan beberapa burung liar



Spesies : C.anatis, C.retusa, C.collaris, C.anseris, C.mergi

Habitat dan host : sekum unggas, burung, itik



Spesies : C.annulata

Habitat : crop dan esofagus ayam, kalkun dan bangsa burung



Spesies : C.contorta

Habitat : crop, esofagus, mulut dari kalkun, angsa



Spesies : C.entomelas

Habitat : usus halus musang, kuskus. Menyebabkan haemorrhagic enteritis terutama pada

musang



Spesies : C.fellis cati

Habitat : vesica urinaria kucing



Spesies : C.mucronata

Habitat : vesica urinaria musang



Spesies: C. Cutanea

Habitat : cacing ini menyebabkan nodule subcutaneus, oedema, lepuh pada kera.

Menyebabkan cutaneus creeping eruption pada jari dan pergelangan kaki.



Spesies : C.hepatica\

Habitat : liver bangsa tikus



Spesies : C.bovis=C.longipes

Habitat : usus halus sapi, domba dan kambing







38

Spessies : C.aerophila

Habitat : pada trakhea, bronkhi, cavum nasal dan sinus frontalis anjing, srigala da rubah



FILUM ACANTHOCEPHALA

Cacing ini disebut sebagai Thorny headed worm (cacing kepala berduri)

Morfologi :

 Tubuhnys silindris, terbungkus segmen (kulit) yang terdiri lima lapisan dan

permukaannya yang bersifat absorptive cukup luas, mempunyai 20-62 lipatan

 Tidak mempunyai saluran pencernaan, makanan diabsorbsi melalui dinding tubuh

 Bagian anterior terdapat evaginable proboscis (proboscis yang bersifat retractile/

bias ditarik masuk)

 Dekat kantong proboscis terdapat organ yang berupa rongga memanjang disebut

Lemnisci, yang berhubungan dengan proboscis dan kemungkinan mensekresi

cairan proboscis.

 System ekskretori tidak ada atau hanya berupa sepasang nephridia yang

mengalirkan ekskret kedalam saluran genital

 Jenis kelamin sudah terpisah terdiri cacing jantan dan betina

 Telur berisi acathor larva

 Telur dilengkapi anterior circlet (hooks=duri)

 Telur mempunyai 3 atau 4 lapis kulit



Siklus Hidup

 Indirect, inang perantaranya biasanya arthropoda. Untuk acanthocephala yang

parasitic pada hewan darat dan burung, inang perantaranya biasanya larva insect,

kumbang, kecoa atau lipas.Yang parasitic pada vertebrata air, inang perantaranya

crustacean atau molusca.

 Telur akan menetas dan menghasilkan larva acanthor didalam tubuh inang

perantara, kemudian membentuk kista disebut cystacanth didalam haemocoel

arthropoda.

 Cystacanth kemudian berkembang menjadi stadium inektif. Host definitive

tertular apabila menelan arthropoda yang terinfeksi.

 Cystachant mungkin membentuk kista kembali dalam vertebrata yang lain dan

induk semang tertular dengan jalan menelan/memakan vertebrata tersebut. Cacing

dewasa banyak ditemukan terutama pada vertebrata yang hidupnya di air, ikan

dan burung-burung.









39

PROTOZOOLOGI

Adalah ilmu yang mempelajari mengenai protozoa. Protozoa mrupakan hewan bersel satu

, pertama kali ditemukan oleh Antony van Leewenhoek (1632-1723)



Protozoa termasuk eukariotik, dimana inti mempunyai membrane atau selaput yang

memisahkan dari sitoplasmanya. Hal ini berbeda dengan prokariotik (bakteri) dimana

intibakteri tidak terpisah dari sitoplasmanya.



Inti protozoa dibedakan atas 2 tipe utama

1. Inti vesikuler (bulat, kecil). Kebanyakan protozoa mempunyai inti vesikuler dan

semua inti terlihat sama. Setiap inti mepunyai kromosom, atau sekurang-

kurangnya bahan pembentuk kromosom

2. Inti non vesikuler (makronukleus). Inti mikronukleus berbentuk vesikuler yang

bertanggung jawab engendalikan fungsi reproduksi dan inti makronukleus

bertanggung jawab mengendalikan fungsi vegetatif.



Protozoa bergerak menggunakan alat gerak berupa flagella, cilia, pseudopodia (kaki

palsu), membrane undulant (undulating membrane) atau dengan cara menggelinding



Berdasrkan tipe makanan protozoa dibedakan menjadi 4 tipe :

1. Tipe autotropik, tipe ini hidup pada bahan anorganik, megubah bahan tersebut

menjadi protein, karbohidrat dan lemak

2. tipe holofitik (menyerupai tanaman) organisme ini mensistesa karbohidrat

didalam klorofil yang terdapat dalam kromatofora

3. tipe holozoik, organisme ini memiliki tipe, memakan makanan tertentu dengan

cara menelan melalui mulut sementara atau permanen. Makanan dapat pula

dimasukkan ke dalam tubuh melalui dinding sel. Makanan yang diperoleh ditahan

di dalam vakuola makanan

4. Tipe saprozoik, makanan masuk melalui osmose atau difusi menembus dinding

sel. Ekskresi atau pengaturan osmose berlangsung secara difusi melalui dinding

sel atau melalui vakuola kontraktil.



Pembelahan inti vesikuler (mikronukleus) biasanya secara mitosis, sedangkan

makronukleus pembelahannya secara amitosis



Perkembangbiakan atau reproduksi protozoa dapat berlangsung secara seksual dan

aseksual

Reproduksi Aseksual

1. Pembelahan ganda (binary fission), yaitu pembelahan sel yang menghasilkan 2 sel

anak yang identik. Pembelahan cara ini biasanya terjadi pada flagelata, amoeba,

ciliate.

2. Pembelahan banyak (skizogoni), inti membelah berulang-ulang. Sel yang sedang

membelah disebut skizon, meron, dan gamon

3. Endodiogeny, merupakan pembelahan sel yang menghasilkan dua anak yang

terbentuk dalam sel induk, contohnya pada Toxoplasma gondii stadium takizoit

dan bradizoit







40

4. Endopoligeni, yaitu pembelahan yang menghasilkan banyak sel anak dalam sel

induk



Reproduksi seksual dikenal dua cara

1. Konjugasi, umumnya terjadi pada ciliata, dua individu melekat satu sama lain dan

bergabung sepanjang bagian tubuh. Mikronukleus berdegenerasi dan membelah

beberapa kali, setiap hasil pembelahan adalah haploid yang kan menjadi bakal

inti, kemudian berpindah dari konjugan satu ke lainnya dan diikuti dengan

memisahnya konjugan. Didalam tiap konjugan bakal inti beregenerasi

2. Syngami, 2 gamet haploid bergabung membentuk zygot. Bergabungnya 2 gamet

yang sama disebut isogami dan bergabungnya 2 gamet yang tidak sama disebut

anisogami. Pada anisogami gamet yang kecil disebut mikrogamet atau gamet

jantan dan yang besar disebut makrogamet atau gamet betina. Gamet-gamet

tersebut dihasilkan oleh sel yang disebut gamon atau gametosit. Mikrogamet

dihasilkan oleh mikrogametosit dan makrogamet dihasilkan oleh makrogametosit.

Proses terbentuknya gamet disebut gametogoni. Zigot hasil pembuahan

makrogamet oleh mikrogamet ada yang disebut ookinet yaitu zigot yang bergerak

(motil). Zigot ada pula yang disebut dengan ookista yaitu kista dari koksidia.

Zigot ada yang dapat mengadakan pembelahan banyak (ganda) membentuk

sporozoit



Beberapa protozoa membentuk kista atau spora

 Pada stadium ini protozoa tahan terhadap pengaruh lingkungan. Kista adalah

stadium dalam satu siklus hidup protozoa, dimana parasit pada stadium ini

dikelilingi oleh membran yang jelas dan biasanya pada stadium ini merupakan

stadium istirahat.

 Stadium spora (sporokista) dibentuk didalam organisme dengan membentuk

dinding tebal mengelilingi satu atau lebih individu. Individu ini disebut sporozoit.

Proses pembentukan spora ini disebut sporulasi atau sporogoni



Dalam siklus hidupnya protozoa mengalami perkembangan dimana sel-selnya

membutuhkan makanan. Stadium ini disebut stadium vegettif atau tropozoit



Untuk kelangsungan hidupnya kadang potozoa memerlukan apayang disebut vektor.

Vektor adalah organisme pembewa parasit (protozoa) atau agen penyakit dimana

organisme tersebut berperanan menularkan parasit dari induk semang satu ke induk

semang lainnya. Apabila protozoa dalam tubuh vektor mengalami perkembangbiakan,

maka vektornya disebut vektor biologis, tetapi apabila protozoa dalam tubuh vektor tidak

mengalami perkembangan vektornya disebut vektor mekanis



Protozoa dibagi menjadi 6 kelompok utama : Flagellata, apicomplexa, Sarcodina, Ciliata,

Microspora dan Myxozoa









41

BAB I

FLAGELLATA



 Semua anggota subfilum ini memiliki satu atau lebih flagela untuk alat gerak

 Berdasarkan habitatnya dalam tubuh induk semang, parasit ini dibagi menjadi dua

kelompok besar : Hemoflagellata (parasit ini hidup didalam darah) dan

Mucosoflagellata (parasit yang hidup didalam saluran pencernaan)

 Perkembangbiakan terjadi secara aseksual dengan cara pembelahan ganda (binary

fission)

 Anggota protozoa yang penting adalah Trypanosoma, Leishmania, Trichomonas

dan Histomonas



Genus : Trypanosoma

 Habitat parasit dalam tubuh induk semang vertebrata di darah (plasma darah),

cairan jaringan (cairan limfe) dan beerapa jaringan tubuh

 Dalam siklus hidupnya mempunyai bentuk atau stadium amastigote,

promastigote, epimastigote dan trypomastigote.

 Kebanyakan tidak bersifat patogenik dan hidup dalam induk semangnya tanpa

menimbulkan masalah, tetapi beberapa bersifat patogenik dan merupakan parasit

penting pada ternak dan manusia. Penyakit yang ditimbulkan disebut

trypanosomiasis. Penyebaran yang bersifat patogen memerlukan vektor atau

induk semang antara (biasanya insekta penghisap darah)

 Berdasarkan cara penularan oleh vektor typanosoma dibagi dalam 2 kelompok

yaitu stercoraria atau posterior station dan salivaria atau anterior station, Pada

kelompok stercoraria, trypanosoma mengalami perkembangbiakan di usus vektor

dan belntuk infektifnya berada dalam salura pencernaan bagian posterior dan

keluar bersama feses vektor. Penularan tejadi melalui membrana mukosa atau

kulit yang luka dari induk semang yang terinfeksi feses vektor, sebagian besar

kelompok stercoraria bersifat tidak patogen, kecuali Trypanosoma cruzi.

Penularan Trypanosoma kelompok salivaria melalui gigitan vektor karena bentuk

infektif parasit berada di kelenjar saliva vektor, kebanyakan kelompok salivaria

bersifat patogen



Spesies : Trypanosoma brucei

 Penyakit yang ditimbulkan disebut NAGANA

 Hewan yang dapat terseraang antara lain : kuda, sapi, domba, kambing, unta, babi,

anjing

 Habitat atau predileksi T.brucei dalam tubuh induk semang adalah di peredaran

darah (plasma darah), cairan limfe dan cairan serebrospinal

 Daerah penyebaran di daerah tropis Afrika

 Dalam penyebarannya memerlukan vektor lalat tsetse (Glossina sp)

 Struktur parasit polimorfik diantaranya langsing, sedang, gemuk



Siklus Hidup

 Hewan terinfeksi karena tergigit oleh lalat yang diglandula salivanya mengandung

Trypanosoma





42

 Pertama kali masuk tubuh induk semang, protozoa membelah diri secara

pembelahan ganda longitudinal di dalam darah dan getah bening dalam bentuk

trypomastigote. Selanjutnya melewati blood brain barrier masuk cairan

serebrospinal an berkembang biak dan berhabitat diantara sel syaraf.

 Sewaktu terhisap oleh vektor (lalat Glossina sp) T. Brucei berada pada bagian

posterior usus vektor, berkembangbiak sebagai bentuk trypomastigote,

selanjutnya ke esofagus dan faring dan akhirnya ke glandula salivaria

 Didalam glandula salivaria berbentuk epimastigote kemudian menjadi bentuk

metasiklik trypomastigote dan bentuk inilah yang merupakan stadium infektif

bagi induk semang



Spesies : Trypanosoma evanzi

 Parasit menyerang unta, kuda, keledai, sapi, kambing, babi, anjing, kerbau air,

gajah, tapir, rusa dan hewan liar lain

 Penyakit yang disebabkan disebut berbagai nama tergantung daerah penyebara di

Indonesia disebut SURRA, di Aljazair disebut EL DEBAB, di Sudan disebut

MBORI dan di Venezuela disebut DERRENGADERA, di Amerika Selatan

disebut MAL DE CADERAS

 Perkembangbiakan dengan cara pembelahan ganda longitudinal

Siklus Hidup

 Ditularkan secara mekanis oleh lalat penghisap darah antara lain : Tabanus,

Stomoxys, Haematopota dan Lyperosia.

 Didalam tubuh insekta (vektor) parasit tidak mengalami perkembangan, setelah

menghisap darah penderita T.evanzi tetap berada pada probosis vektor dan

langsung ditularkan ke induk semang lain. Vektor semacam ini disebut vektor

mekanis/

 Didalam tubuh induk ssemag T. evansi berbentuk trypomastigote dengan habitat

di plasma darah dan limfe.



Spesies : Trypanosoma equiperdum

 Secara morfologis hampir sama dengan T.brucei

 Dalam siklus hidupnya tidak memerlukan vektor

 Penyebaran parasit terjadi pada saat hewan melakukan perkawinan alami,

kopulasi.

 Parasit lebih sering menyerang kuda, keledai dapat bertindak sebagai carier.

 Penyakit yang ditimbulkan disebut DOURINE



Genus : Leishmania

 Parasit dalam genus ini tidak mempunyai undulating membrane.

 Dalam siklus hidupnya mengalami 2 perkembangan 2 bentuk (stadium):

amastigot dan promastigot. Dalam tubuh vertebrata dapat berbentuk amastigot

biasanya ditemukan dalam sel-sel endothel dan makrofag, sedangkan dalam

invertebrata berbentuk amastigot dan promastigot



Siklus Hidup







43

 Induk semang tergigit vektor. Pada mamalia (vertebrata) parasit ditemukan dalam

makrofag, leukosit tertentu, limfa, hati, sumsum tulang, limfoglandula, mukosa

intestinaldan sel-sel tertentu, perkembangbiakan dalam sel-sel tersebut dengan

cara pembelahan ganda (binary fission)

 Apabila lalat pasir yaitu Plebotomus sp sebagai vektor menggigit penderita

misalnya manusia dan anjing maka parasit bersama aliran darah atau yang berada

di kulit akan ikut terisap lalat masuk dan berkembang di dalam usus lalat.

 Didalam usus lalat parasit berubah bentuk memanjang dan flagelanya

berkembang membentuk flagela bebas, stadium parasit menjadi promastigot.

Bentuk ini berkembang biak dengan cepat dengan cara pembelahan ganda dan

selanjutnya bermigrasi ke usus bagian depan akhirnya mencapai probosis.

 Bila lalat ini menggigit induk semang baru, parasit akan keluar dari probosis lalat

dan masuk ke induk semang, bersama aliran darah induk semang tersebut menuju

organ-organ limfatik

Spesies-spesies yang penting antara lain :

1. Leishmania donovani, merupakan penyebab penyakit KALA AZAR atau

DUMDUM FEVER atau Visceral Leishmaniasis pada manusia. Anjing,

srigala danrubah dapat bertindak sebagai karier

2. Leishmania tropica, merupakan penyabab penyakit cutaneus

leishmaniasis. Dapat menyerang manusia, anjing, rodensia. Organisme ini

dapat diteukan didalam sel makrofag, sel-sel endothel dari pembuluh

kapiler dan dalam limfoglandula

3. Leishmania braziliense, penyebab mucocutaneus leishmaniasis.

Ditemukan dalam sel endothel dan sel mononuclear pada hidung, mulut an

faring. Terutama menyerang manusia, anjing, kucing, tikus.



Genus : Trichomonas

 Protozoa pada umumnya berada di dalam saluran pencernaan, beberapa

ditemukan di saluran reproduksi

 Parasit berbentuk seperti buah peer (pyriform)

 Terdapat organel yang disebut blepharoplast atau disebut pula badan parabasal

(parabasal body)

 Dari blepharoplast timbul flagella anterior dan posterior. Flagela posterior

mengitari tubuh membentuk undulating membran dan flagela ini kadang

memanjang sampai keluar dari tubuh bagian posterior membentuk flagela bebas

 Pengelompokan ke dalam genus tergantung dari julah flagela anterior diantaranya

Tritrichomonas, trichomonas, tetratrichomonas dan pentotrichomonas



Genus : Trichomonas gallinae

 Sering menyebabkan trichomoniasis pada unggas terutama merpati, kalkun dan

anak ayam

 Habitat dalam tubuh induk semang yaitu pada saluran pencernaan bagian atas

(depan) termasuk pula hati

 Parasit berbentuk seprti buah peer

 Mempunyai 4 flagella anterior dan 1 flagella posterior yang membentuk

undulating membran





44

Spesies : Trichomonas foetus

 Menyerang saluran reproduksi sapi, babi, kuda

 Menyebabkan bovine trichomoniasis

 T.foetus tersebar di seluruh dunia dan sewaktu waktu dapat menyebabkan

kerugian ekonomi yang besar terutama pada sapi perah

 Penularan parasit ini melalui perkawinan atau inseminasi buatan

 Organisme berbentuk seperti buah peer. Mempunyai 3 flagela anterior dan satu

flagela posterior yang memanjang kebelakang membentuk undulating membrane

 Perkembangbiakan secara pembelahan ganda, tidak terjadi perkembangan secara

seksual maupun pembentukan kista



Genus Histomonas

 Parasit berbentuk pleomorfik tegantung dari organ sebagai organ lokasi parasit

dan stadiumnya.

 Perkembangbiakan parasit secara aseksual yaitu dengan mengadakan pembelahan

ganda

 Stadium-stadium dari histomonas adalah :

1. Stadium invasif, terutama pada luka baru, berbentuk amuboid,

ekstraseluler

2. Stadium vegetatif, biasanya pada luka lama, ukuran lebih besar, kurang

aktif, sitoplasma basofilik, transparan, berkelompok

3. Stadium resisten, kompak, terbungkus membran padat, tunggal atau

berkelompok di luar sel hati atau sekum

4. Stadium berflagela, terdapat di lumen sekum, tunggal atau berkelompo,

amuboid, jumlah flagela bisa sampai empat, sitoplasma berisi butiran

makanan (bakteri, eritrosit dll)

 Induk semang parasit adalah bangsa unggas, terutama kalkun dan ayam. Pada

kalkun parasit ini menyebabkan parasit black head atau enterohepatitis.

 Habitatnya pada sekum dan hati

 Sebagai vektor adalah cacing Heterakis gallinarum



Siklus Hidup

 Dimulainya dengan tertelannya Histomonas bentuk flagela (tropozoit) yang

berada pada lumen sekum kalkun oleh cacing Heterakis betina.

 Dari dalam usus cacing, Histomonas mengadakan penetrasi ke ovarium dan

mengadakan perbanyakan diri di dalam ovarium cacing. Dari ovarium protozoa

keluar dari tubuh cacing brsama ovum cacing yang keluar bersama feses induk

semang

 Induk semang baru (kalkun) tertular karena memakan telur cacing yang berisi

Histomonas in. Didalam usus kalkun Histomonas keluar bersamaan dengan

pecahnya telur cacing menuju ke lumen sekum dan menembus dinding sekum dan

berkembangbiak di sekum sebagian ada yang ikut aliran darah menyebar ke hati









45

BAB II

SARCODINA, CILIATA DAN APICOMPLEXA SALURAN PENCERNAAN



Genus: Entamoeba

Spesies : E. Histolytica

 Induk semangnya adalah manusia dan primata lain

 Menyebabkan desentri pada manusia, anjing dan kucing

 Habitat pada usus halus dan besar, khususnya pada kolon dan rektum

 Kista dewasa berinti 4, mempunyai badan kromatin yang panjang seperti cambuk

 Gerakan cepat, pseudopodia membentuk jari tangan

 Tidak semua spesies ini patogen, strain yang patogen bentuk tropozoitnya

mempunyai kemampuan menembus jaringan



Spesies : E.coli

 Merupakan spesies yang tidak patogen.

 Induk semang manusia dan hewan lain

 Habitat pada sekum dan kolon

 Gerakan lamban. Pseudopodia tidak membentuk jari tangan.

 Kista dewasa berinti 8, badan kromatin berujung agak bulat



Siklus Hidup

 Induk semang tertular parasit karena menelan bentuk kista dewasa, kista dalam

lumen usus mengalami ekskistsi, setiap inti mengadakan pembelahan ganda

sehingga jumlah inti menjadi 8, pembelahan inti diikuti sitoplasma. Bentuk ini

disebut stadium metakista. Metakista berkembang menjadi lebih besar yang

disebut stadium tropozoit. Bentuk tropozoit selanjutnya tetap tinggal di lumen

usus atau menembus mukosa usus. Kemampuan menembus (berinvasi) jaringan

ini yang membedakan strain yang patogen dan yang tidak patogen.

 Tropozoit bergerak mencari makan, tumbuh dan memperbanyak diri secara

pembelahan ganda

 Stadium tropozoit selanjutnya berkembang menjadi stadium prekista, bentuk

tubuhnya membulat dan ukurannya mengecil. Bentuk prekista berinti satu.

 Dari prekista organisme membulat membentuk kista. Mula-mula kista berinti satu

selanjutnya inti megadakan pembelahan ganda dari satu inti menjadi dua

membelah lagi menjadi empat kemudian delapan atau lebih tergantung

spesiesnya. Kista akan keluar bersama feses penderita

 Beberapa tropozoit dari strain yang patogen selain menembus mukosa usus,

bersama aliran darah mampu mencapai organ lain, seperti hati, paru-paru, otak

dan organ lain. Di organ tersebut mengadakan invasi, menginfeksi sel-sel organ

serta membentuk abses



Genus : Balantidium

 Anggota dari genus Balantidium bantuk vegetatifnya (tropozoitnya) mempunyai

bentuk oval sampai elips.









46

 Seluruh permukaan tubuh tertutup silia yang tersusun seperti deretan

longitudinal, dimana silia merupakan alat gerak (lokomosi)

 Mempunyai 2 inti, yaitu : makronukleus yang berbentuk halter dan mikronukleus

yang berbentuk bulat, bertanggung jawab dalam proses reproduksi

 Reproduksi (perkembangbiakan) dengan cara pembelahan ganda atau dengan

konjugasi

 Stadium vegetatif mempunyai peristom(mulut) terletak di ujung anterior

 Biasanya merupakan parasit pada usus besar manusia, babi dan kera, serta

bersifat pathogen

 Selain mempunyai tropozoit, parasit juga mampu membentuk kista



Spesies : Balantidium coli

 Mempunyai 2 stadium perkembangan , yaitu tropozoit dan kista. Pada stadium

tropozoit (vegetatif) makronukleus berbentuk halter, sitoplasma berisi beberapa

vakuola makanan da 2 vakuola kontraktil. Stadium kista berbentuk ovoid sampai

sperikal, di dalam kista masih telihat makronukleus, mikronukleus dan vakuola

kontraktil. Silia tidak terlihat, tertutup dindig kista, dinding kista terdiri dari 2

membran

 Parasit mnyerang babi dan golongan primata tinggi termasuk manuasia

 Habitat parasit dalam induk semang di lumen kolon, induk semang tertular parasit

karena menelan bentuk kista yang mencemari makanan dan minuman.



Famili Eimeriidae

 Organisme dari parasit ini sebagian besar adalah parasit intraseluler dari sel

epithel usus, beberapa pada sel lain seperti epithel saluran empedu dan ginjal

 Parasit bersifat single host (hospes tunggal) artinya satu spesies dari parasit ini

dalam satu siklus hidupnya hanya memerlukan satu induk semang

 Perkembangan aseksual (secara skizogoni) dan seksual (gametogoni) yang

ditandai dengan terbentuknya makrogamet dan mikrogamet serta bergabungnya

kedua gamet tersebut menjadi zigot (ookista), terjadi di dalam sel epithel usus.

Proses sporulasi (sporogoni) yang ditandai dengan terbentuknya spora (sporokista

dan sporozoit) di dalam ookista terjadi di luar induk semang.

 Famili Eimeriidae beranggotakan beberapa genus. Pengelompokan ke dala genus

ini terutama berdasarkan pembentukan spora dalam stadium ookista, jumlah

sporokista dengan masing-masing sporokista berisi satu atau lebih sporozoit.

Genus-genus yang penting antara lain :

1. Eimeria, ookista yang berspora mempunyai 4 sporokista dan tiap-tiap

sporokista mengandung 2 sporozoit

2. Isospora, stadium ookista bersporanya mempunyai 2 sporokista, masing-

masing sporokista berisi 4 sporozoit

3. Tyzeria, ookistanya tidak mempunyai sporokista tetapi terdapat 8

sporozoit

 Berikut ini adalah ciri-ciri morfologis dari stadium ookista:

1. Ookista mengandung satu zigot. Ookista keluar dari sel epithel usus induk

semang dan dipasasekan keluar bersama feses induk semang dalam keadaan

belum berspora





47

2. Pada umumnya berbentuk bulat, subsperikal, ovoid atau elipsoid dengan

ukuran yang beragam sesuai dengan spesiesnya

3. Dinding kista terdiri dari 2 lapis yang berbatas jelas. Pada beberapa spesies

dinding luar berwarna kekuningan atau kehijauaan dan beberapa ada yang

mempunyai jalur-jalur atau titik-titik. Lapisan luar dari dinding ookista terdiri

dari protein dan lapisan dalamnya tersususn oleh lemak

4. beberapa spesies mempunyai mikrofil. Mikrofil tertutup pleh tutup mikrofil,

mempunyai bentukan garis lengkung pada dinding kista ke arah luar yang

disebut polar cup

5. Dalam ookista kadang terdapat organela bahan residu (residual body) dan juga

polar granule tergantung jenis spesiesnya

6. Pada ookista yang berspora terbentuk sporozoit yang terbungkus dalam

sporokista. Sporokista pada umumnyaberbentuk oval memanjang yang

mempunyai satu atau lebih titik ujung sporokista yang disebut badan stieda

(stieda body). Tiap sporokista mengandung sporozoit, jumlahnya tergantung

dari genus parasit

7. Sporozoit bentuknya bengkok seperti koma atau pisang. Sporozit mempunyai

vakuola yang bulat dan granular cytoplasma yang berbeda dengan inti. Inti

terletak di tengah (sentral)



Siklus Hidup

 Siklus hidup dimulai dr tertelannya ookista infektif (ookista berspora) oleh induk

semang yang sesuai. Di dalam usus induk semang dinding ookista pecah oleh

tekanan dinding usus atau tembolok ayam dan oleh enzim tripsin yang dibebaskan

ke dalam usus.

 Pecahnya dinding ookista menyebabkn tebebasnya sporokista dan membebaskan

sporozoit. Sporozoit selanjutnya menembus sel epithel usus pada vili-vili usus. Di

dalam epithel usus parasit mengadakan perkembangan secara aseksual (skizogoni)

dan seksual (gametogoni)

 Perkembangan skizogoni.

o Sporozoit yang masuk ke dalam epithel usus bentuknya berubah menjadi

bulat. Bentukan ini disebut tropozoit. Di dalam epithel usus kebanyakan

terletak di atas inti sel, beberapa di bawah inti sel

o Dalam beberapa jam sporozoit akan membelah secara skizogoni membentuk

skizon (meron). Skizon pada tahap ini disebut skizon generasi pertama.

Pembelahan inti tropozoit pada fase skizogoni terjadi secara mitosis, mula-

mula sitoplasma tidak ikut membelah baru setelah dihasilkan banyak anak inti

dikelilingi oleh zone yang jelas yaitu sitoplasma. Sel-sel anak dari hasil

pembelahan secara skizogoni disebut merozoit. Merozoit dalam skizon

generasi pertama disebut merozoit generasi pertama.

o Dalam sel epithel usus induk semang, skizon dikelilingi oleh dinding yang

berbatas jelas dengan organela sel dan sel yang terinfeksi membesar dan

mengalami distorsi serta menonjol ke lumen usus. Skizon yang sudah dewasa

dindingnya akan pecah bersamaan pecahnya sel epithel usus induk semang.

o Pecahnya skizon akan membebaskan merozoit, merozoit yang terbebas akan

menginfeksi sel epithel baru dan terjadilah siklus aseksual yang sama,





48

membentuk skizon generasi kedua yang nantinya menghasilkan merozoit

generasi kedua. Skizon generasi kedua ini dapat meluas ke sel jaringan lain.

Pada spesies tertentu skizon generasi lebih besar ukurannya dari generasi

pertama. Beberapa merozoit dari generasi kedua akan berkembang menjadi

bentuk gametosit

 Perkembangan Gametogoni (perkembangan seksual)

o Diperkirakan merozoit yang berkembang menjadi gametosit berasal dari

skizon yang berbeda yaitu tipe skizon A dan B. Skizon tipe A, mempunyai

ukuran yang lebih kecil, mengandung sedikit merozoit yang nantinya akan

berkembang menjadi mikrogamet (gamet jantan). Skizon tipe B merupakan

skizon yang berukuran besar yang nantinya akan menghasilkan merozoit yang

akan berkembang menjadi makrogametosit yaitu sel yang menghasilkan

makrogamet (gamet betina). Jumlah mikrogamet umumnya lebih banyak

daripada makrogamet

o Makrogamet ukurannya lebih besa dan sama besarnya dengan ukuran ookista

yang nantinya akan dihasilkan.

o Fertilisasi makrogamet oleh mikrogamet menghasilkan zigot yang disebut

ookista, dalam perkembangannya zigot dikelilingi oleh dinding. Jika

pembentukan dinding ookista sudah cukup, ookista akan keluar dari sel

jaringan dan dipasasekan keluar tubuh induk semang bersama feses. Di luar

tubuh induk semang (di alam bebas) ookista mengalami perkembangan secara

sporulasi.

 Perkembangan Sporogoni (sporulasi)

o Sporulasi adalah proses terbentuknya spora dalam ookista. Ookista yang

berspora merupakan ookista yang infektif.

o Protoplasma dari zigot dalam ookista akan memendek dari dinding ookista

menjadi bentuk sporont.

o Sporont membagi dalam beberapa sporoblast. Tahap awal sporoblast

berbentuk agak bulat kemudian memanjang menjadi bentuk oval (elips) dan

selanjutnya berkembang menjadi sporokista.

o Protoplasma dalam masing-masing sporokista menjadi 2 untuk Eimeria dan 4

untuk Isospora menjadi sporozoit. Protoplasma dari pembelahan ini beberapa

tersisa dan tetaptinggal dalam sporokista yang disebut dengan sporocystic

residual body



Berikut ini adalah beberapa spesies Eimeria dan Isospora yang penting pada hewan

ternak :

1. Eimeria ninakholyakimovae

 Menyerang ternak kambing dan domba. Habitat di usus posterior, sekum

dan kolon

 Waktu sporulasi 1-2 hari

2. Eimeria arloingi

 Sering menyerang usus halus kambing

 Waktu sporulasi ookista antara 48-72 jam

3. Isospora suis







49

 Menyerang babi. Habitatnya dalam usus halus

 Waktu sporulasi 4 hari

4. Eimeria bovis

 Menyerang anak sapi

 Waktu sporulasi 48-72 jam pada temperatur kamar

5. Eimeria zuernii

 Sering menyerang usus halus dan usus besar sapi, zebra dan kerbau air

 Waktu sporulasi 3 hari

6. Isospora bigemina

Parasit ini menyerang kucing, anjing juga dapat terserang

Stadium perkembangan terjadi di usus halus

Waktu sporulasi 4 hari

7. Isospora felis

 Menyerang kucing, harimau dan bangsa kucing lainnya

 Stadium perkembangan terjadi pada usus halus dan kadang-kadang pada usus

besar

 Waktu sporulasi 4 hari

8. Eimeria tenella\\

 Merupakan koksidia yang paling sering dan patogen pada ayam

 Stadium perkembangan terjadi di sekum

 Waktu sporulasi 18 jam

9. Eimeria necatrix

 Menyerang ayam

 Pertumbuhan aseksual (skizogoni) terjadi didalam usus halus, sedangkan

gametogoni di dalam sekum

 Waktu sporulasi 2 hari









BAB III





50

APICOMPLEXA

SARCOCYSTIDAE DAN PLASMODIIDAE



Genus : Toxoplasma

 Spesies Toxoplasma gondii merupakan satu-satunya spesies dari genus ini,

pertama kali ditemukan pada binatang mengerat di Afrika, parasit ini ditemukan

sebagai penyebab kongenital pada anak yang baru dilahirkan

 Protozoa ini termasuk parasit intraseluler obligat. Habitat di semua tipe sel induk

semang dan dapat menyerang semua bangsa mamalia termasuk pula manusia dan

semua bangsa burung. Kucing dan bangsa feline merupakan induk semang utama

sedangkan induk semang lain merupakan induk semang antara.

 Toksoplasma dimasukkan dalam golongan koksidia karena di dalam siklus

hidupnya mengalami perkemangan secara skizogoni, gametogoni dan sporogoni

layaknya koksidia yang lain dan perkembangan tersebut terjadi di usus cacing

(induk semang utama)

 Dalam satu siklus hidupnya ada lima stadium perkembangan, yaitu : skizon,

gamon, takizoit, bradizoit dan ookista. Stadium takizoit/tropozoit berbentuk

pisang atau bulan sabit. Stadium ini merupakan stadium multiplikasi,

perkembangannya sangat cepat dan biasanya diteukan pada stadium penyakit

yang akut.

 Perkembangbiakan secara endodiogeni. Habitat di semua tipe sel jaringan. Di

dalam sel induk semang parasit berada dalam vakuola parasitoforosa dan

membentuk akumulasi yang disebut dengan group atau kelompok atau Rosset.

Satu grup berisi antara 8-16 takizoit dan setelah mencapai jumlah tersebut

kelompok akan pecah bersamaan dengan pecahnya sel induk semang. Takizoit

yang terbebas akan menginfeksi sel baru

 Stadium bradizoit atau sistozoit. Secara morfologis hampir sama dengan takizoit.

Berada dalam semua tipe sel. Merupakan stadium istirahat, karena

perkembangbiakan stadium ini sangat lamban dan biasanya ditemukan pada

keadaan penyakit yang sudah kronis. Perkembangbiakan secara endodiogeni. Di

dalam sel induk semang berakumulasi dalam vakuola parasitoforosa dan

kumpulan bradizoit ini dalam jumlah yang banyak. Kumpulan bradizoit tersebut

dikelilingi dengan masa yang memisahkan parasit dengan organela sel-sel induk

semang dan membentuk suatu kista yang selanjutnya disebut dengan kista

jaringan. Dalam satu kista jaringan berisi beberapa ratus sampai beberapa ribu

bradizoit. Masa pembungkus kumpulan bradizoit tersebut disebut dinding kista.

Dinding ini halus tanpa sekat dan tidak tertembus antibodi yang dibentuk induk

semang. Stadium kista lebih tahan terhadap faktor lingkungan dibanding dengan

bentuk takizoit

 Bentuk stadium ookista. Dietmukan pada feses kucing penderita. Berbentuk

spiral. Waktu sporulasi 2-5 hari tergantung faktor lingkungan. Ookista berspora

mempunyai 2 sporokista, masing-masing sporokista berisi 4 sporozoit







Siklus Hidup





51

 Induk semang terinfeksi karena menelan ookista berspora atau memakan daging

yang berisi kista jaringan (berisi bradizoit) maupu takizoit.

 Siklus hidup parasit dalam tubuh induk semang terjadi di enteroepithelial

(intraintestinal) dan ekstraintestinal

 Perkembangan intraintestinal

Perkembangan ini hanya terjadi pada induk semang utama, yaitu kucing dan

sebangsanya. Takizoit dan bradizoit dalam jaringan (kista jaringan) atau ookista

infektif (berspora) yang tertelan oleh kucing akan masuk usus. Oleh adanya enzim

proteolotik dalam usus dan lambung kucing dinding kista dan ookista akan hancur

dan membebaskan sporozoit dari ookista serta bradizoit dari kista. Zoit yang

terbebas (bradizoit, sporozoit) akan menembus lamina propria usus halus kucing

dan berubah bentuk menjadi tropozoit/takizoit. Inti tropozoit berkembangbiak

secara skizogoni yang menghasilkan skizon. Skizon yang pecah akan

membebaskan merozoit, merozoit akan menginfeksi sel-sel baru. Ada 5 tipe

merozoit yang menginfeksi sel usus (A-E). Tipe D dan E memproduksi gamet,

pada umumya ditemukan pada villi usus terutama ileum. Gamet jantan

(mikrogamet) akan membuahi gamet betina (makrogamet). Pembuahan

meghasilkan zigot dan selanjutnya disebut ookista. Ookista dilepas ke lumen usus

dan keluar bersama feses kucing. Di luar tubuh kucing pada kondisi yang

optimal, ookista bersporulasi menjadi ookista infektif. Dalam lingkungan yang

sesuai ookista ini dapat bertahan sampai 1 tahun

 Perkembangan ini terjadi baik pada kucing maupun hewan lain, termasuk

manusia. Sporozoit yang dilepas dari ookista dan bradizoit yang dilepas dari kista

jaringan yang tertelan menembus dinding usus dan membelah secara endodiogeni

dalam lamina propria sebagai takizoit. Takizoit membelah secara cepat. Takizoit

ikut bersama aliran peredaran darah dan cairan limfe dan menginfeksi semua

organ. Organ yang pertama kali terinfeksi yaitu limfonodus mesenterika diikuti

organ-organ lain seperti hati, paru-paru, lien, otak dan jaringan lainnya.

Bersamaan dengan perkembangan kekebalan (imunitas) induk semang, bentuk

takizoit berubah menjadi bentuk bradizoit yang berkelompok membentuk kista

jaringan.



FAMILI PLASMODIIDAE

Genus : Plasmodium

 Menyebabkan malaria termasuk pada manusia, pada ayam menyebabkan

penyakit malaria juga.

 Skizogoni terjadi pada sel darah merah bangsa burung sedang gametogoni serta

sporogoni terjadi di dalam saluran pencernaan invertebrata penghisap darah

(Nyamuk Aedes)

 Bentuk gametosit bundar, mempunyai pigmen granul yang relatif besar

 Bentuk skizon bundar atau tidak beraturan dan menghasilkan 8-3 merozoit. Siklus

skizogoni 36 jam

 Stadium eksoeritrosit terjadi pada sel endothel dan sel RES pada lien, otak dan

liver



Siklus Hidup





52

 Sporozoit yang infektif tidak langsung masuk ke dalam eritrosit, tetapi

berkembang di luar eritrosit (bentuk eksoeritrositik) yaitu di dalam sel endothel

berkembang secara skizogoni membentuk skizon. Skizon yang pecah akan

membebaskan merozoit, bersamaan pecahnya sel induk semang.

 Merozoit yang berasal dari bentuk pre eritrosit skizon generasi pertama disebut

metakriptozoit, kemudian merozoit yang berasal dari metakriptozoit masuk ke

dalam eritrosit dan sel lain dan selanjutnya menjadi bentuk skizon eksoeritrositik .

 Siklus eritrositik terjadi 7-10 hari setelah infeksi oleh merozoit dari

metakriptozoit, tetapi waktu tersebut berbeda apabila infeksi oleh merozoit dari

skizon eksoeritrosit dari sel endothel maupun sel hematopoetik. Di dalam eritrosit

bentuk merozoit berubah menjadi bentuk tropozoit, yang mempunyai bentuk

bundar berisi vakuola yang besar mendesak sitoplasma daripada parasit.nti

terletak pada salah satu ujungnya dan disebut signetring, terlihat dengan

pewarnaan Romanowsky.

 Bentuk tropozoit mengalami proses skizogoni menghasilkan merozoit. Selama

proses skizogoni parasit berada di dalam sitoplasma sel induk semang oleh proses

invaginasi. Hemoglobin dicerna dan residual hematin pigmen akan terkumpul di

dalam granula daripada vakuola makanan.

 Setelah generasi aseksual, maka merozoit mengalami perkembangan seksual

dengan pembentukan mikrogametosit dan makrogametosit, kedua gamet

mengadakan fertilisasi menjadi bentuk zigot. Perkembangan gametosit terjadi bila

darah termakan oleh nyamuk. Perkembangan di dalam tubuh nyamuk berlangsung

cepat, dalam waktu 10-15 menit, inti dari mikrogamet sudah membelah dan

mengalami proses eksflagellasi, bentuknya panjang dan tebal, kemudian

membuahi makrogamet. Hasil pembuahan mikrogamet oleh makrogamet berupa

zigot.

 Zigot yang terbentuk disebut ookinet. Ookinet selanjutnya mengaakan penetrasi

ke mukosa midgut (saluran pencernaan bagian tengah) kemudian tinggal di

permukaan stomach, dalam bentuk ookinet dengan diameter 50-60 mikron. Inti

ookinet akan membelah dan menghasilkan sejumlah besar sporozoit, yang

mempunyai panjang 15 mikron dan inti terletak di tengah. Pendewasaan dari

ookinet tergantung dari spesies parasit, temperatur dan spesies nyamuk, pada

umumnya ke glandula salivaria (di dalam sel atau pada ductus glandula salivaria)

bentuk ini infektif pada induk semang yang baru.



Genus : Haemoproteus

Haemoproteus menyerang burung dan reptilia. Genuss ini menyerupai

Plasmodium. Berbeda dengan Plasmodium, skizogoni dari genus Haemoproteus tidak

terjadi di sel-sel darah perifer, tetapi pada sel endotel dari organ dalam. Di darah perifer

hanya bentuk gametosit. Gametosit terjadi pada eritrosit, terbentuk seperti halter dan

tampak mengelilingi inti sel induk semang. Adanya granula berpeigmen. Skizogoni

terjadi pada sel endothel dari pembuluh darah khususnya paru-paru.

Perkembangan seksual dan sporogoni juga terjadi pada insekta penghisap darah.

Prasit ditularkan melalui lalat Hippobosca, Pseudolyncia canariensis.









53

Spesies anggota dari genus ini diantaranya adalah H. Colimbae, H. Lophotyx, H.

Meleagridis, H.nettianis, H. Sacharovi. Spesies yang terpenting adalah H.columbae, yang

menyerang burung peliharaan dan merpati, distribusinya diseluruh dunia.



Siklus Hidup

Dimulai dengan tergigitnya induk semang (burung) oleh vektor yang terinfeksi.

Sporozoit dalam tubuh vektor lalat (lalat Hippobosca) yang terinfeksi maka sporozoit

masuk ke dalam aliran darah dan bersama aliran darah masuk sel-sel endothel, terutama

paru-paru (juga organ lain). Di dalam sel endothel berkembang menjadi bentuk skizont.

Dalam beberapa menit sudah terbentuk sitoplasma dan satu nukleus. Pertumbuhan

selanjutnya nukleus tumbuh menjadi 15 atau lebih yang berbentuk kecil dan mempunyai

masa yang tidak berpigmen yang disebut sitomer dengan satu nukleus. Tiap-tiap satu

sitomer secara kontinyu berkembang menghasilkan merozoit. Merozoit yang terbebas

karena pecahnya sel induk semnag akan menginfeksi sel baru dan berkembang terus

secara skizogoni atau sebagian merozoit masuk ke dalam eritrosit. Di dalam eritrosit

merozoit berkembang menjadi berbentuk gametosit (makrogametosit dan

mikrogametosit). Gametosit yang muda tampak pertama kali dalam darah 30 hari setelah

infeksi. Gametosit terhisap oleh vektor yang menggigit induk semang dan gametosit ini

mengalami pendewasaan di dalam usus vektor. Zigot hasil pembuahan makrogamet oleh

mikrogamet dewasa, masuk ke dalam sel endothel usus vektor membentuk ookista

(ookinet). Dalam ookista terbentuk sporozoit dan ookista dewasa akan pecah

membebaskan sporozoit. Sporozoit masuk ke haemocoel dan akhirnya mencapai ke

glandula salivaria.



Genus Leucocytozoon

Sama seperti Haemoproteus, skizogoni tidak terjadi di darah perifer, tetapi hanya

bentuk gametositnya saja yang terlihat di perifer, perbedaannya bentuk gametosit selain

terlihat di eritrosit juga terlihat di leukosit, gametosit bulat atau memanjang dan tidak

begranula. Genus ini meyerang unggas terutama burung, kalkun, angsa dan bebek.

Bentuk merozoit dan skizon berada di sel parenkim dari hepar, jantug, ginjal dan organ

lain. Penularan melalui lalat Simulium atau Culicoides, Leucocytozoon penyebab

penyakit Malaria like disease (Leucocytozoonosis) yang berakibat fatal pada burung.

Spesies dari anggota ini antara lain : L.simondi, Lcaulleryi, L.sabrozesi dan

L.smithi.









54

BAB IV

APICOMPLEXA (BABESIIDAE DAN THEILERIIDAE) DAN ANAPLASMA



Protozoa dari kelompok ini berbentuk seperti buah peer (piriform), cincin atau

amoeboid, tidak mempunyai konoid tetapi mempunyai cincin polar atau roptri.

Merupakan heteroseknosa dan dalam vertebrata habitatnya di eritrosit dan sel lain.

Skizogoni terjadi di vertebrata sedangkan sporogoni di invertebrata dalam hal ini caplak

(sebagai vektor biologis)



FAMILY : BABASIDAE

Organisme dari famili Babasidae berbentuk bulat pyriform (seperti buah peer)

atau amoeboid. Terdapat dalam sel darah merah induk semang. Perkembangbiakan terjadi

di dalam sel darah merah (eritrosit) secara pembelahan ganda atau secara skizogoni.

Penularan parasit melalui vektor caplak Ixodidae atau Argasidae.



Morfologi

Anggota famili Babasidae merupakan satu kelas (sporozoa) dengan parasit darah

yang lain.Mempunyai ukuran yang lebih kecil dari famili Plasmodiidae. Bentuknya

bervariasi tergantung spesiesnya, bentuk-bentuk tersebut antara lain: tidak beraturan

(amuboid), bulat lonjong, oval, seperti buah peer atau kadang seperti batang. Tidak

membentuk spora dan tidak berflagela. Dengan pewarnaan Giemsa, inti terlihat berwarna

biru dan sitoplasma berwarna merah.



Siklus Hidup

Induk semang tertular karena tergigit vektor (caplak) yang terinfeksi. Caplak yang

terinfeksi parasit, didalam kelenjar ludahnya mengandung sporozoit. Pada saat capak

menghisap darah induk semang, sporozoit dalam ludah ikut masuk dalam aliran darah

induk semang dan selanjutnya masuk ke dalam eritrosit. Dalam eritrosit, parasit semula

berentuk cincin dan berkembang menjadi bentuk amuboid yang disebut tropozoit.

Tropozoit berkembang biak dengan jalan bertunas meghasilkan 2 sel anak yang

berbentuk tidak beraturan dan menyerupai buah peer, di mana pertama-tama salah satu

ujungnya berhubungan, tapi akhirnya saling melepaskan diri dan berpisah. Tiap indivisu

yang berpisah disebut merozoit. Parasit memecah eritrosit, merozoit yang terbebas

meembus sel darah merah yang baru. Hal ini merupakan awal dari siklus aseksual dari

skizogoni.

Fase gametogoni terjadi di dalam tubuh caplak. Apabila caplak menghisap darah

induk semang terinfeksi, eritrosit yang berisi parasit akan ikut menghisap darah induk

semang terinfeksi, eritrosit yang berisi parasit akan ikut terhisap dan masuk dalam usus

caplak. Dari sini dimulai awal dari fase gametogoni. Setelah terlepas dari eritrosit (karena

proses pencernaan), merozoit (bentuk buah peer) menembus sel-sel epithel usus caplak.

Di dalam sel epithel usus caplak parasit berkembang menjadi stadium gametosit dan

menghasilkan makrogamet serta mikrogamet. Dua gamet mngadakan pembuahan

menghasilkan zigot yang berbentuk seperti bola. Zigot berkembang dan berubah menjadi

ookinet. Ookinet mengadakan migrasi melalui dinding usus kemudian masuk ke dalam

uterus dan akhirnya masuk ke dalam sel telur caplak. Dari sini dimulai fase sporogoni

yang akan menghasilkan sporoblas yang disebut sporokinet. Sementara caplak muda







55

mengalami perkembangan dalam telur, sporoblas bertumbuh terus dengan inti membelah

berkali-kali membentuk vermukula yang berinti banyak, keadaan ini menghasilkan

sporozoit. Sporozoit selanjutnya bermigrasi ke kelenjar ludah. Bila caplak telah menetas

dan menghisap darah untuk yang pertama kalinya maka sebagian besar sporozoit akan

masuk ke dalam aliran darah dari induk semang.



Genus : Babesia



Organisme ini mengalami perbanyakan diri di dalam eritrosit, pembelahan secara

aseksual menghasilkan 2, 4 atau lebih sel anak yang tidak berpigmen. Vektornya adalah

caplak Ixodidae.

Babesia yang menyerang sapi antara lain B. bigemina, B.bovis, B. divergens, B.

Argentina, B.mayor. Pada kambing dan domba terdapat 4 spesies babesia, 1 spesies

ukurannya besar sedang 3 lainnya kecil yaitu B.motasi, B.ovis, B.foliata dan B.taylori.

Pada kuda hanya ada 2 spesies yaitu B.caballi dan B.equi. Pada babi ada 2 spesies B.

Trautmani dan B.perrocacitai. Pada anjing dan kucing antara lain B. Canis, B.gibsoni,

B.vigoli da B.felis



FAMILY : THEILERIDAE

Genus : Theileria



Anggota dari famili Theileridae merupakan parasit darah pada mamalia. Parasit

ini ditularkan oleh caplak keras dari famili Ixodidae. Bentuk parasit bundar (bulat),

ovoid, seperti tongkat atau tidak beraturan. Habitat (predileksi) dalam induk semang yaitu

pada eritrosit, leukosit dan histiosit. Hewan yang biasa diserang yaitu sapi, kambing dan

domba.



Siklus Hidup

Induk semang tertular karena digigit caplak yang di dalam kelenjarnya terdapat

porozoit theileria. Bersama aliran darah, sporozoit menuju ke jaringan (organ) limfoid

khususnya kelenjar limfa dan lien, berkembang secara skizogoni membentuk skizon yang

sering disebut dengan badan biru Koch (Koch blue bodies). Badan tersebut dapat terlihat

dalam limfosit dalam sirkulasi darah 3 hari setelah infeksi. Ada 2 tipe skizon,

makroskizon dan mikroskizon. Makroskizon hanya terjadi di sel-sel limfoid. Tiap

makroskizon dapat menghasilkan sekitar 90 makromerozoit. Beberapa dari merozoit

menginfeksi sel-sel limfoid yang baru, terutama yang terdapat dalam jaringan dan

membentuk mikroskizon lagi. Sebagian merozoit yang lain masuk dalam limfosit dan

berdiferensiasi menjadi tropozoit (atau disebut juga piroplasma). Di dalam eritrosit

tropozoit tidak mengalami perbanyakan. Apabila ada caplak yang menghisap darah

induk semang terinfeksi, di dalam saluran usus caplak, tropozoit terbebas (karena eritrosit

tercerna) dan berkembang secara gametogoni. Menghasilkan ookinet sama seperti

Haemosporina. Untuk sementara waktu ookinet berkembang dalam sel-sel usus caplak,

selanjutnya bermigrasi dan mengadakan penetrasi ke kelenjar ludah caplak di mana

proses sporogoni terjadi. Sporogoni menghasilkan sporozoit yang siap menginfeksi induk

semang baru bersama gigitan caplak.

Spesies dari Theileria yaitu T.parva, T.annulata dan T.mutans.







56

Genus : Anaplasma

Ada 3 spesies penting yaitu A. marginale, A.centrale dan A.ovis.

Parasit berbentuk bulat, mempunyai sitoplasma tapi tampak adanya hal yang

melingkarinya. Dengan pewarnaan Giemsa terlihat seperti titik warna merah sampai

merah gelap. Habitat parasit dalam eritrosit (a.centrale di sentral eritrosit, A.marginale

dan A.ovis di tepi eritrosit). Ternak yang terserang antara lain sapi, kambing, domba dan

rusa. Perkembangbiakan parasit dalam sel darah merah terjadi secara pembelahan ganda

atau kadang-kadang multiple fission.

Daerah penyebaran meliputi semua daerah tropis dan subtropis. Penularan parasit

melalui caplak Ixididae (Boophilus sp, Dermacentor sp, Hyaloma sp, Riphicephalus ap,

Ixodes sp). Dapat pula ditularkan secara mekanik yaitu oleh lalat Tabanus, Stomoxys dan

lalat penghisap darah lain, dan hal ini biasanya terjadi pada saat kastrasi, pemotongan

tanduk (dehorning), vaksinasi atau pengambilan darah.









,









57

ENTOMOLOGI



Adalah ilmu yang mempelajari tentang filum Arthropoda (Arthros berarti persendian,

podos berarti kaki)



Morfologi

o Kaki arthropoda biramous (protopodite)

o Arthropoda mempunyai penutup luar dari chitin yang membentuk eksoskeleton

yang menutupi seluruh tubuhnya.

o Penutup yang dihasilkan oleh sel chitogenous masuk ke dalam mulut di saluran

pencernaan disebut stomodaeum, kemudian ke belakang saluran pencernaan

(proctodaeum)

o Eksoskeleton berbentuk lempengan-lempengan chitin yang disebut dengan

sclerites. Segmen tipis bagian dorsal disebut tergum, sclerite ventral disebut

sternum, sclerite lateral antara sternum dan tergum disebut pleura. Ekdisis adalah

pelepasan eksoskeleton yang dipengaruhi oleh hormon ekdison.

o Arthropoda mempunyai banyak segmen pada bagian antrior membentuk kepala,

bagian tengah membentuk thorax, pada bagian posterior membentuk abdomen.

Pada kepala terdapat antenna dan alat makan, pada thorax terdapat alat jalan dan

pada abdomen terdapat alat untuk berenang.

o Terdapat haemocoele yaitu rongga berisi darah yang merendam organ-organ

didalamnya.

o Terdapat organ respirasi

1. Gills, pada arthropoda akuatik stadium larva, nimfa dan dewasa.

2. Trachea, untuk mengambil udara yang masuk dari stigmata

3. Lung book dan gills book (insang buku) pada laba-laba dan kepiting

4. kutikula, pada tungau

o Saluran cerna (stomodaeum, proctodaeum, mesenteron)

o Alat ekskresi. Pada crustacea terdapat sepasang nefridia. Pada insecta terdapat

tubulus malphigi yang bermuara pada anterior proctodaeum

o Jenis kelamin terpisah



Filum Arthropoda memiliki 5 kelas

Kelas I: Crustacea, yang terbagi atas sub kelas Entomostraca (crustacea kecil) dan sub

kelas Malacostraca (rajungan, udang dan kepiting)

Kelas II : Myriapoda (kelabang dan lipan)

Kelas III : Insecta (lalat dan nyamuk)

Kelas IV : Arachnida (caplak, tungau)

Kelas V : Pentastomida (lintah)









58

INSECTA



Anatomi :

1. Kepala

o Terdiri dari sejumlah lempengan sklerit pada bagian depan tubuh

o Letak mata diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pertama, mata majemuk yang

terletak ditengah-tengah (holoptik) dan yang terpisah jauh (dichoptic). Yang

kedua adalah mata sederhana (ocelli) yang terletak pada sudut.

2. Antenna

o Diantara/didepan mata majemuk

o Kadang terdapat bulu aristae

3. Mulut, terdiri atas beberapa bagian, antara lain”

o Labrum (bibir atas) atau maksilla

o Labium (bibir bawah) atau mandibulla

o Di bawah labrum terdapat membran yaitu epipharing sebagai alat pengecap

o Di atas labium terdapat membran yaitu hipopharing sebagai saluran kelenjar ludah

o Gabungan maksilla dan labium terdapat palpi sebagai alat pengecap.

4. Thorax

o Terdapat 3 segmen pada thorax yaitu, prothorax, mesothorax, dan metathorax.

o Pada tiap segmen terdapat sepasang kaki

o Pada mesothorax dan metathorax terdapat sepasang sayap

5. Kaki

o Terdiri atas tulang trochanter, femur, tibia, tarsus.

o Tarsus mempunyai 5 persendian, pada segmen terakhir terdapat kuku, dimana

diantara kuku terdapat bantalan duri atau bulu.

6. Sayap

Ditunjang oleh vena yang merupakan trachea (saluran nafas insecta).

7. Abdomen

8. Sistem respirasi

Trachea yang berhuungan dengan udara luar melalui stigmata atau spirakel pada tiap

segmen

9. Saluran pencernaan terdiri atas

o Stomodaeum (rongga mulut, kelenjar saliva, epipharing dan hipopharing, pharing,

proventrikulus, tembolok)

o Mesenteron (usus tengah, ujung posteriornya terdapat cincin saluran malphigi

untuk alat ekskresi)

o Proctodaeum (usus belakang dan rectum)

10. saluran vascularisasi

Terdapat jantung di dorsal tubuhnya

11. Sistem syaraf

Terdapat rantai ganglia ventral dan disini menyebar syaraf ganglia thorax dan

abdomen berfusi.

12. Sistem reproduksi

o Pada jantan terdapat 2 buah testis, masing-masing dengan vas deferens, vesicula

seminalis dan penis

o Pada betina terdapat 2 buah ovarium menuju ovipositor







59

o Sebagian insekta ovariparus dan sebagian pupiparus (megeluarkan larva dan

segera menjadi pupa. Larva dipelihara di oviduk. Uterus menghasilkan air susu

dimana larva menyusu.



Metamorfosis dibagi menjadi dua :

5. Lengkap. Bentuk yang menetas dari telur disebut larva, larva

kemudian tumbuh menjadi bentuk diam (pupa), selanjutnya di dalam

pupa terbentuk imago (dewasa).

6. Sederhana. Bentuk yang menetas dari telur meyerupai bentuk dewasa

disebut nimfa yang selanjutnya berganti kulit menjadi imago.



Macam-macam larva

1. Larva polipod (contohnya ulat dan kupu-kupu)

o Mempunyai kepala yang jelas

o Thorax terdapat 3 segmen, masing-masing terdapat kaki

o Abdomen 10 segmen terdapat 5 pasang kaki kait berotot (proleg)

2. Larva oligopod (contonya kumbang)

o Kepala jelas

o Thorax terdapat 3 pasang kaki

o Tidak terdapat kaki pada abdomen

3. Larva apodus (contohnya lalat rumah dan semua diptera)

o Tidak terdapat kaki pada thorax dan abdomen

o Kepala rudimenter

o Sering disebut maggot



Macam-macam pupa

1. Pupa exarate (contohnya kumbang)

o Pupa aktif

o Sayap dan kaki insekta dewasa dapat dilihat dari luar

2. Pupa obtactat (contohnya kupu-kupu)

Kaki dan sayap terikat pada tubuh dan mengalami moulting tetapi biasanya dapat

dilihat dari luar

3. Pupa coarctate (contohnyaa famili Cyclorrapha)

Pupa terbungkus kulit larva terakhir yang disebut puparium

Kulitnya mengeras, insekta didalamnya tidak dapat terlihat



Kelas Insecta terbagi menjadi Sub kelas Apterygota (tidak bersayap) dan sub kelas

Pterygota (bersayap)



Sub kelas Pterygota dibagi menjadi 2 klasifikasi:

1. Exopterygota

o Sayap berkembang di luar

o Metamorfosis sederhana

o Jarang pada tingkat pupa

o Contohnya kutu buku, kutu busuk dan rayap









60

2. Endopterygota

o Sayap berkembang di dalam

o Metamorfosis lengkap

o Mengalami tingkat pupa

o Contohnya insecta ordo Diptera



Ordo :

1. Coleoptera (contohnya kumbang)

2. Hymenoptera (contohnya tawon)

3. Lepidoptera (contohnya kupu-kupu)

4. Neuroptera (contohnya lace wings)

5. Siphonaptera (contohnya pinjal)

6. Diptera (contohnya lalat)



Ordo : Diptera

I. Sub Ordo : Nematocera

1. Famili : Culicidae

Genus : Culex, Anopheles, Aedes, Mansonia, Armigeres

2. Famili : Ceratopogonidae

Genus : Culicoides

3. Famili : Psychodidae

Genus : Phlebotomus

4. Famili : Simuliidae

Genus : Simulium

II. Sub Ordo : Brachycera

1. Famili : Tabanidae

Genus : Tabanus, Haematopota, Chrysops

III. Sub Ordo : Cyclorrapha

1. Famili : Muscidae

Genus : Musca, Stomoxys, Haematobia

2. Famili : Glossinidae

Genus : Glossina

3. Famili : Calliphoridae

Genus : Lucillia, Phormia, Chrysomia, Sarchopaga

4. Famili : Oestridae

Genus : Oestrus, Hypoderma, Cephalopsis, Pharyngobolus

5. Famili : Cuterebridae

Genus : Dermatobia, Cuterebra

6. Famili : Hypoboscidae

Genus : Hippobosca, Malophagus



Sub Ordo Nematocera

1. Famili Culicidae

o Antenna terdiri atas 14-15 segmen, berbulu pada yang jantan

o Probosis panjang

o Sayapnya terdapat sisik







61

o Siklus hidup : telur ditetaskan di atas air dan di atas tanaman yang mengapung

setelah telur menetas kemudian menjadi larva. Larvanya telah memiliki kepala,

thorax dan abdomen yang jelas. Pada kepala terdapat mata, antenna dan beberapa

rambut. Bagian mulut merupakan alat pengunyah. Thorax tidak bersegmen dan

memiliki bulu-bulu. Terdapat stigmata yang berhubungan dengan trachea. Larva

mengalami pergantian kulit sampai dengan 4 kali, kemudian berubah menjadi

pupa. Pupa tidak aktif seperti pada saat menjadi larva. Pada bagian apeks dorsal

pupa bertaut dengan bagian lateral stigmata mencuatlah sepasang lubang atau

terowongan pernafasan, pupa bernafas melalui lubang tersebut. Perkembangan

selanjutnya adalah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk dewasa betina perlu

menghisap darah untuk pematangan telur. Nyamuk betina dewasa tertarik oleh

radiasi panas kulit induk semang.



2. Famili Ceratopogonidae

o Mempunyai ukuran kecil

o Pada nyamuk jantan disebut juga dengan nyamuk penggigit, disebut juga dengan

lalat pasir bersama dengan Simuliidae

o Probosis pendek digunakan untuk menghisap darah

o Mandibula sebagai penggunting

o Sayapnya tidak bersisik tetapi berbulu

o Siklus hidup : telur diletakkan berkelompok pada pasir yang basah, lumpur,

kolam, aliran sungai atau kotoran ternak. Telur kemudian berkembang menjadi

larva. Larva menyerupai cacing, berwarna putih, thoraxnya terdiri atas 3 segmen,

abdomen 11 segmen, segmen terakhir terdapat spina sebagai alat pergerakan,

larva bernafas melalui kulit. Selanjutnya larva berubah menjadi pupa. Pada pupa

terdapat terompet respirasi, keseluruhan pupa ditutupi oleh spina. Perkembangan

selanjutnya menjadi dewasa, dimana setelah menjadi dewasa banyak berperan

dalam penyebaran berbagai penyakit.



3. Famili Simuliidae

o Disebut juga dengan lalat hitam (black flies) atau disebut juga dengan nyamuk

kerbau.

o Probosis pendek

o Antenna pendek

o Sayap tidak bersisik dan tidak berbulu

o Tubuh ditutupi dengan bulu berwarna perak

o Siklus hidup: telur diletakkan pada batu atau tanaman yang dekat dengan

permukaan air . Telur berkembang menjadi larva. Larva bersifat carnivora.

Bagian anterior larva terdapat mulut yang dilengkapi organ yang menyerupai

sikat. Pada bagian ventral larva terdapat proleg yang mempunyai kait sebagai alat

pergerakan. Larva mengalami pergantian kulit sampai dengan 6 kali. Larva

selanjutnya berubah menjadi pupa obtacte. Pupa memiliki saluran pernafasan

dorsal dan ventral. Pupa selanjutnya menjadi lalat dewasa.

o Lalat dewasa berpotensi mengakibatkan penyakit akut pada sapi yag ditandai

dengan ptechiae hemoragica, karena terdapat toxin Simulium. Penyakit tersebut

mengakibatkan kematian ternak. Lalat dapat juga menyerang rongga hidung







62

sampai dengan paru-paru. Pada lalat betina lalat dapat juga menyerang puting

susu. Pada unggas dapat menimbulkan anemia.

o Lalat aktif pada pagi dan sore hari, pada siang hari lalat beristirahat di bawah

pohon.



4. Famili Psycodidae

o Disebut juga denga lalat pasir atau juga disebut dengan nyamuk burung hantu

o Ukurannya kecil

o Tubuh dan sayapnya berbulu

o Memiliki kaki panjang

o Antenna panjang dan tebal tertutup bulu

o Siklus hidup : telur dapat ditemukan pada tempat yang lembab. Telur kemudian

berkembang menjadi larva. Larva menyerupai ulat, dimana larva memakan

kotoran hewan lain atau daun-daun kering. Larva berubah menjadi pupa

kemudian menjadi bentuk dewasa.

o Lalat ini merupakan penerbang yang lemah

o Aktif pada malam hari. Pada siang hari bersembunyi.



Sub Ordo : Brachycera

Famili Tabanidae

o Disebut dengan lalat kuda atau breeze fly

o Memiliki ukuran yang besar

o Mata pada lalat jantan berdekatan (holoptik) sedangkan pada yang betina

berjauhan (dichoptik)

o Sayap kuat dan gesit

o Pada genus Chrysop sayap mempunyai pita gelap, mata berwarna metalik. Genus

Haematopota pada sayapnya terdapat bercak-bercak halus. Genus Tabanus

memiliki sayap yang terang dan tembus, serta terdapat garis longitudinal coklat di

abdomen.

o Siklus hidup : telur diletakkan di bawah daun di dekat air. Telur menetas menjadi

larva yang jatuh ke air atau lumpur. Larva bersifat carnivora, yang memakan

crustacea kecil, bahkan memakan sesama larva. Larva mengalami pergantian kulit

beberapa kali, selanjutnya menjadi pupa, lalu menjadi dewasa.

o Lalat jantan menghisap madu sedangkan lalat betina menghisap darah.



Sub Ordo : Cyclorrapha

1. Famili Muscidae

1.1Genus Musca

Spesies Musca domestica

o Lalat rumah biasa

o Thorax abu-abu kekuningan sampai dengan abu-abu gelap. Mempunyai 4 garis

longitudinal yang lebarnya sama

o Abdomen warna dasarnya kekuningan dan garis hitam di median. Pada yang

betina garis hitam di kedua sisinya difus.









63

o Mulut sebagai alat penyerap cairan makanan. Sebelum menghisap lalat

mengeluarkan saliva dan cairan tembolok pada makanan tersebut (vomit drop)

sehingga dapat menularkan penyakit.

o Siklus hidup: telur diletakkan pada kotoran hewan atau manusia atau bahan-bahan

organik yang membusuk. Telur berkembang menjadi larva. Larva memiliki

stigmata, mengalami 3 kali pergantian kulit. Larva selanjutnya berubah menjadi

pupa kemudian menjadi lalat dewasa.

o Musca domestica bukan merupakan lalat penghisap darah tetapi mengikuti lalat

penghisap darah untuk memakan darah yang busuk dan cairan jaringan.



1.2 Genus Stomoxys

Spesies: Stomoxys calcitrans

o Dikenal sebagai lalat kandang

o Thorax berwarna abu-abu mempunyai 4 garis longitudinal yang gelap

o Pada abdomen terdapat 3 bintik hitam pada segmen kedua dan ketiga

o Siklus hidup: Stomoxys meletakkan telurnya pada kotoran kuda tetapi lalat lebih

suka menaruh pada tanaman membusuk terutama bila terkontaminasi urin. Telur

berkembang menjadi larva. Pada larva stigmata terpisah jauh. Larva berkembang

menjadi pupa kemudian menjadi lalat dewasa.

o Lalat jantan dan betina adalah lalat penghisap darah.



1.3 Genus Haematobia

o Merupakan lalat muscidae penghisap darah paling kecil

o Mukanya perak abu-abu.

o Thorax perak abu-abu. Pada bagian median dan lateral terdapat 2 garis gelap yang

jelas.

o Arista berbulu hanya pada bidang dorsalnya

o Haematobia exigua disebut juga lalat kerbau. Lalat ini mampu memindahkan

T.evansi penyebab penyakit Surra

o Haematobia irritan disebut juga lalat tanduk karena terdapat pada pangkal tanduk

atau punggung, bahu dan perut sapi.

o Lalat ini merupakan lalat penghisap darah dan menyebabkan iritasi karena

sobekan yang terus menerus pada kulit

o Siklus hidup: telur diletakkan pada kotoran sapi atau kerbau. Telur kemudian

berkembang menjadi larva. Larva membenamkan diri kedalam kotoran dan

makan di dalamnya. Larva berkembang menjadi pupa, kemudian menjadi dewasa.



2. Famili Oestridae

o Lalat dewasa berambut

o Bagian mulut rudimenter dan tidak makan

o Larva bersifat parasitik, biasanya mempunyai kait di mulutnya, tetapi larva tidak

memiliki kepala. Larva memakan cairan tubuh dari inang atau eksudat

disekitarnya, mengalami 2 kali moulting selanjutnya menjadi pupa kemudian

menjadi dewasa.



2.1 Genus Oestrus







64

Spesies : Oestrus ovis (sheep nasal fly)

o Warna abu-abu dengan bintik-bintik hitam kecil yang terutama menonjol di

bagian thorax dan tertutup rambut coklat muda

o Larva terjadi pada rongga hidung, kadang-kadang larva diletakkan pada mata,

nostril dan pada bibir manusia.



2.2 Genus Hypoderma

Spesies: Hypoderma bovis dan Hypoderma lineate

o Kedua lalat ini berambut dan mempunyai mulut yang tidak berfungsi

o Rambut-rambut pada bagian kepala dan bagian anterior thorax berwarna putih

kekuningan pada H. Lineata dan kehijauan pada H.bovis

o Bagian perutnya tertutup rambut kuning muda di bagian anterior kemudian bagian

posterior memiliki rambut kuning oranye



3. Famili Caliphoridae

o Larvanya merupakan pemakan daging atau parasit pada arthropoda lain. Larva

biasanya berbulu kasar dan ditandai dengan adanya sebaris bulu kasar pada

hypopleuron

o Famili ini dibagi menjadi 2 sub famili yaitu Calliphorinae dan Sarcophaginae.

o Calliphorinae disebut juga dengan blow fly, berwarna biru metalik atau hijau.

Sarcophaginae meliputi lalat daging yang mempunyai garis abu-abu longitudinal

pada thorax dengan hiasan papan catur pada abdomen.



Sub Famili Calliphorinae

3.1 Genus Lucillia

o Nama lainnya adalah Phoenicia atau lalat hijau botol atau lalat botol tembaga

o Spesies: L.cuprina, L.sericata

o Lalat ini berwarna metalik cerah atau hijau metalik

o Warna mata coklat kemerahan



3.2 Genus Calliphora

o Spesies: C. Erythrocephala

o Disebut lalat botol biru karena tubuhnya biru metalik

o Tubuh besar bila terbang, dengungannya keras

o Mata merah, genae merah, bulu hitam



3.3 Genus Phormia

o Spesies: P.regina

o Phormia meletakkan telurnya pada wool domba

o Thorax berwarna hitam dengan cahaya hijau kebiruan metalik

o Abdomen hijau atau biru



3.4 Genus Chrysomia

o Myasis pada domba sering disebabkan oleh serangan gabungan dari beberapa

spesies seperti Lucillia, Calliphora, Phormia dan Chrysomia

o Muka berwarna kuning oranye







65

o Lalat berwarna hijau kebiruan dengan 4 garis pada prescutum

o Siklus hidup: lalat meletakkan telurnya pada karkas, luka dan bahan makanan

yang membusuk. Telur berkembang menjadi larva. Larva memiliki 2 kait mulut

pada bagian anteriornya. Pada bagian posterior terdapat lempeng stigmata. Larva

mengalami ekdisis 2 kali. Terdapat 2 macam larva, pertama adalah larva berbulu

dimana larva dilengkapi dengan penonjolan seperti duri atau spina. Yang

termasuk larva berbulu adalah C.rufifacies dan C.albiceps. Yang kedua adalah

jenis larva halus, karena tidak memiliki spina. Yang termasuk larva halus adalah

C. microphogon. Sebelum menjadi pupa, larva berjalan jauh masuk ke dalam

tanah sehingga menjadi pupa di bawah tanah. Setelah menjadi pupa,

perkembangan selanjutnya menjadi lalat dewasa.



Sub Famili Sarcophaginae

o Dikenal sebagai lalat daging (flesh fly)

o Warna abu-abu terang/gelap

o Thorax terdapat 3 garis gelap longitudinal

o Dorsal abdomen terdapat bercak gelap/kotak catur hitam abu-abu

o Maeletakkan larvanya pada luka/lecet-lecet atau pada daging busuk



Ordo Phthiraptera

1. Sub Ordo Mallophaga

Super Famili Ischnocera

Super Famili Amblycera



2. Sub Ordo Anoplura

2.1 Famili Pediculidae

2.2 Famili Haematopinidae

2.3 Famili Linognatidae



3. Sub Ordo Ryncoptirina



Ordo Phtiraptera (Lice)

o Tidak mempunyai sayap

o Tubuh pipih dorsoventral

o Antena pendek terdiri dari 3-5 segmen

o Tidak didapatkan mata, kecuali pada Pediculus humanus dan Phtirus pubis

o Segmentasi thorax tidak begitu jelas

o Pada bagian abdomen terdapat penebalan dari lapisan chitin yang disebut dengan

paratergal plate

o Siklus hidupnya termasuk simple metamorfosis

o Telurnya berbentuk oval dan mempunyai operculum yang dapat melekat pada

bagian bulu/rambut









66

Perbedaan Anoplura, Mallophaga dan Rynchopthirina



Anoplura Mallophaga Rynchopthirina

Mulut menghisap menggigit peralihan

menggigit dan

menghisap

Host terutama burung gajah

mamalia

Sex jantan dan sulit dibedakan dapat dibedakan

betina mudah

dibedakan





Sub Ordo Mallophaga (biting lice)

o Spesies ini memakan runtuhan epitel kulit inangnya/ pada bulu inangnya

o Mulut digunakan untuk mengunyah makanan dan juga untuk menghisap cairan

tubuh inang

o Terjadi fusi antara mesothorax dengan metathoraxnya, prothoraxnya sangat jelas

dapat dipisahkan

o Spirakel terdapat pada ventral mesothorax

o Pada tarsusnya terdapat 2 kuku terutama pada yang menyerang burung, sedang

yang menyerang mamalia terdapat 1 kuku



Super Famili Ischnocera

Perbedaan antara Ischnocera dan Amblycera



Ischnocera Amblycera

Antena filiformis, terdiri dari 3-5 Antenna kecil, tersembunyi dan

segmen sukar didapat

Tidak didapatkan palpus Terdapat palpus maksilaris

maksilaris

Segmen abdomen ke-1 dan 2 Dari 11 segmen abdomen, hanya

berfusi,, juga segmen 9 dan 10 9 segmen yang tampak



Contoh Ischnocera pada unggas

a. Lipeurus heterographus

o Menyerang bagian kepala unggas sehingga disebut kutu kepala unggas

o Habitatnya pada kulit dan bulu di daerah kepala dan leher

o Telur diletakkan satu-satu pada bulu

b. Lipeurus caponis

o Disebut kutu sayap unggas

c. Goniocotes gigas

d. Goniocotes gallinae

e. Columbicola columbae

f. Anaticola anseris

g. Chelopistes anseris





67

Contoh Ischnocera pada mamalia

a. Damalinia bovis, menyerang sapi

b. Damalinia equi, menyerang kuda

c. Damalinia ovis, menyerang domba

d. Damalinia caprae, menyerang kambing

e. Bovicola painei, menyerang kambing

f. Trichodectes canis, menyerang anjing

g. Felicola subrostratus, menyerang kucing



Super Famili Amblycera

o Antenna tidak tampak jelas

o Palpus maksillarisnya ada tetapi mungkin membingungkan atau sukar

dibedakan dengan antenna

o Antenna terdiri dari 4 segmen, segmen ke-3 tampak seperti batang keras.

Antena juga digunakan untuk membedakan jantan dan betina. Antena

jantan bulat panjang dengan pembesaran pada segmen pertama



Amblycera pada unggas

1. Menopon gallinae

o Menyerang ayam, bebek dan burung dara

o Telurnya diletakkan bergerombol pada bulu induk semang

o Berwarna kuning pucat

2. Menopon phaestomum

o Menyerang burung merak

3. Menacanthus stramineus

o Menyerang unggas, kalkun, burung merak

o Berwarna kuning

o Kutu ini berbahaya pada anak ayam

o Merupakan kutu badan, menyukai kulit yang tidak berbulu seperti daerah

sekitar anus

4. Trinoton anserium

o Menyerang bebek dan angsa



Contoh Amblycera pada mamalia

1. Gyropus ovalis, terutama menyerang marmut dan rodent

2. Gliricola porcelli, terutama menyerang marmut dan rodent

3. Trimenopus hispidum, terutama menyerang marmut dan rodent

4. Heterodoxus spineger, menyerang anjing

5. Heterodoxus longitorsus

6. Heterodoxus macropus, menyerang wallabies dan kanguru



Sub Ordo Anoplura

o Bentuk mulutnya disesuaikan dengan fungsinya untuk menghisap cairan tubuh

dan menghisap darah inang

o Terdapat 2 antenna yang terdiri dari 5 segmen

o Tidak terdapat perbedaan yang nyata jenis kelamin jantan dan betina







68

o Thorax kecil terdiri dari 3 segmen dan menyatu menjadi satu, sedang abdomennya

besar terdiri dari 7-9 segmen. Pada segmen abdomen tampak penebalan chitin

disisi kanan kirinya yang berwarna coklat tua sampai hitam disebut paratergal

plate

o Mata sangat kecil sampai tidak ada. Pada Pediculus humanus dan Phtirus pubis

terdapat mata yang jelas

o Pada pasangan kaki pertama lebih kecil dari yang lain, terdapat kuku yang lemah,

pada pasangan kaki ke-3 merupakan kaki terbesar dan 2 tarsusnya sulit dibedakan.

Tiap tarsus mempunyai 1 kuku

o Pada golongan Haematopinidae terdapat spiracle pada sisi dorsal dari mesothorax

dan 6 pasang spirakel pada abdominal

o Dalam Sub Ordo Anoplura terdapat 3 famili penting yaitu : Haematopinidae,

Linognatidae dan Pediculidae. Perbedaan diantara ketiganya adalah

Pediculidae Haematopinidae Linognatidae

Mata Ada Tidak ada Tidak ada

Paratergal plate Ada Ada Tidak ada



o Yang termasuk Famili Pediculidae adalah:

1. Pediculus humanus pada manusia. Berdasarkan lokasinya dapat dibedakan

Pediculus humanus capitis pada kepala dan Pediculus humanus corporis pada

badan

2. Phtirus pubis, pada rambut sekitar pubis manusia



o Morfologi Famili Haematopinidae:

1. Tanda umum, tidak mempunyai mata dan tidak didapatkan sisa mata

2. Dibelakang antenna didapatkan penonjolan yang khas untuk mendiagnosa famili

ini

3. Terdapat deretan spina/duri pada setiap segmen dari abdomen dan tampak jelas

adanya paratergal plate

4. Kuku hanya didapatkan pada kaki pertama

5. Contoh:

a. Haematopinus asini, menyerang kuda dan merupakan kutu penghisap

b. Haematopinus suis pada babi

c. Haematopinus eurysternus pada sapi

d. Haematopinus quadripertusus pada sapi di Queensland



o Morfologi Famili Linognatidae:

1. Tidak didapatkan adanya mata

2. Bagian abdomennya membranous dengan banyak rambut pada segmennya

3. Kuku hanya terdapat pada kaki yang terkecil/pasangan kaki pertama

4. Merupakan parasit ungulata dan kambing

5. Contoh :

a. Linognatus ovillus, menyerang domba, disebut kutu badan atau kutu biru

b. Linognatus vitulli pada sapi

c. Linognatus africanus pada domba

d. Linognatus pedalis pada domba





69

e. Linognatus stenopsis pada kambing

f. Linognatus sitosus pada anjing dan srigala

g. Solenoptes capillatus pada sapi di USA, Eropa dan Australia



Sub Ordo Rhyncopthirina

o Hanya terdapat 1 famili yaitu Haematomyzidae, terdiri dari 2 spesies yaitu

Haematomyzus elephantis pada gajah dan Haematomyzus hopkinsi pada babi

o Kepala memanjang ke depan membentuk rostrum/probosis di bagian ujung

terdapat mandibula

o Dianggap sebagai bentuk peralihan Anoplura dan Mallophaga



Ordo Siphonaptera/pinjal (fleas)

o Tidak mempunyai sayap, bentuknya sangat pipih, mempunyai kulit dengan

lapisan chitin yang tebal berwarna coklat tua. Terdapat simple eyes yang terdiri

dari satu lensa, tidak mempunyai compound eyes

o Mulutnya untuk menyobek dan menghisap. Kakinya sangat kuat sehingga dapat

melompat jauh. Abdomen terdiri dari 10 segmen. Pada segmen ke-9 pada jantan

ataupun betina didapatkan dorsal plate yang mempunyai rambut-rambut sensoris

(alat peraba) yang disebut dengan sensillum/pygidium

o Pada pinjal jantan penisnya aedeagus, berbentuk lingkaran yang terdiri dari bahan

chitin. Pada yang etina terdapat spermateca yang bentuknya spesifik. Pada

beberapa spesies seperti pada anjing (Ctenocephalides canis) dan pada kucing

(Ctenocephalides felis) terdapat spina/duri yang banyak didapatkan pada daerah

kepala dan thorax yang dikenal sebagai comb/ctenidia

o Pada gena/cheek/pipi, terdapat genal comb dan pada posterior segmen thorax

pertama terdapat pronotal comb. Antenna yang pendek tersembunyi di lekukan

daerah kepala. Siklus hidupnya termasuk complete metamorfosis/holometabolous

o Siklus hidup: telur diletakkan pada debu atau tempat kotor. Telur berwarna putih

mutiara. Telur berkembang menjadi larva. Pada larva terdapat 3 segmen thorax,

10 segmen abdominal yang terakhir tedapat 2 kait yang disebut dengan anal struts

untuk bergantung atau lokomosi. Warna larva kekuningan. Larva takut pada sinar.

Larva memiliki mulut tipe pengunyah, memakan darah kering, tinja/bahan

organik lain tetapi butuh sedikit darah segar. Larva dapat ditemukan pada celah-

celah lantai serta dibawah karpet. Perkembangan setelah larva adalah menjadi

kepompong (coccon), selanjutnya pupa keluar, kemudian menjadi dewasa

o Ordo Siphonaptera terdapat 3 famili

1. Ceratophyllidae (pada rodensia)

Spesies: -Ceratophyllus fasciatus (pinjal tikus)

- Ceratophyllus gallinae (pinjal ayam)

2. Pulicidae

Spesies: - Pulex irritans (pinjal manusia)

- Xenopsylla cheopis (pinjal tikus)

- Ctenocephalides felis (pinjal kucing)

- Ctenocephalides canis (pinjal anjing)

- Leptopsylla musculi (pinjal tikus)

- Ceratophyllus gallinae (pinjal ayam)







70

- Echidnophaga gallinae (stick-fast unggas)

- Spilopsyllus cuniculi (pinjal kelinci)

- Tunga penetrans (pinjal manusia)

3. Leptopsyllidae

Spesies: Leptopsylla segni (pinjal rodensia)



KELAS ARACHNIDA

Sub Kelas Acari/Acarina



I. Ordo Opilioacariformes

II. Ordo Parasitiformes

1. Sub Ordo Tetrastigmata

2. Sub Ordo Mesostigmata

3. Sub Ordo Metastigmata

Super Famili Ixodidae

1. Famili Ixodidae

a. Genus: Ixodes Spesies: Ixodes ricinus

b. Genus: Hyalomma Spesies: H.exosuatum

c. Genus: Haemaphysalis Spesies: H.bancrofti

d. Genus: Dermacentor Spesies: D.andersoni

e. Genus: Amblyomma Spesies:A. Variegatum

f. Genus: Ripicephalus Spesies: R.sanguineus

g. Genus: Boophilus Spesies: B.annulatus

2. Famili : Argasidae

Genus : Argas Spesies: A.persicus; Otobius megnini; Ornithodoros moubata

3. Famili: Dermanyssidae

Genus: Dermanyssus (tungau merah ayam) Spesies: D.gallinae; Ornithossus

bacoti

III. Ordo: Acariformes

1. Sub Ordo: Prostigmata

Super Famili : - Trombidioidea

- Demodicidae

2. Sub Ordo: Astigmata

3. Sub Ordo: Cryptostigmata



Siklus Hidup : Telur-larva-nimfa-dewasa

1. Berinang satu: larva sampai dewasa pada satu inang (Boophilus microplus)

2. Berinang dua: Larva-nimfa pada satu inang, nimfa jatuh-dewasa pada inang yang

lain (Ripicephalus evertsi, Ripicephalus bursa, Hyalomma excavatum)

3. Berinang tiga: Larva pada inang I, jatuh menjadi nimfa mencari inang II, jatuh

menjadi dewasa mencari inang III (Ripicephalus sanguineus, Haemaphyssalis

bancrofti)

4. Berinang banyak: misalnya Ornithodorus moubata



KELAS ARACHNIDA

o Contohnya adalah kalajengking, caplak dan tungau







71

o Berbeda dengan insecta dalam struktur dan fungsinya. Antenna, sayap dan

mata majemuk tidak ada, seperti juga halnya pembagian kepala, dada dan

abdomen.

o Mata Arachnida kecil dan terutama makan cairan jaringan hewan yang

dihisapnya dengan menggunakan faring penghisap

o Arachnida bersifat carnivora dan banyak diantaranya mempunyai kelenjar

racun dan kuku beracun sehingga mampu melumpuhkan mangsanya

sebelum dihisap cairan jaringannya

o Pasangan pertama dan kedua dari segmen tambahannya bermodifikasi

untuk membantu saat makan, pasangan pertama disebut chelicera dan

pasangan kedua pedipalpus, kedua alat bantu ini tajam dan kelenjar racun

berkaitan dengan alat ini. Kelenjar racun dari kalajengking berkaitan

berada pada ujung dari segmen tubuhnya

o Persendian basal dari pedipalpus pada Arachnida dan juga kaki untuk jalan

dibelakangnya dapat mengandung gigi-gigi yang menolongnya dalam

merobek mangsanya. Persendian basal ini disebut gnathobases

o Thorax dan abdomen bersatu. Nama prosoma diberikan pada segmen

pertama. Nama ophistosoma diberikan pada sisa segmen yang lainnya.

Prosoma mengandung chelicera, pedipalpus dan 4 pasang kaki

(podosoma)untuk jalan. Ophistosoma berhubungan dengan abdomen.

Podosoma dan ophistosoma kadang-kadang keduanya disebut dengan

Idiosoma. Pembagian ini tidak sesuai dengan keadaan tubuh tungau dan

caplak karena tubuh spesies ini sudah kehilangan tanda-tanda segmentasi

dari luar.

o Sebagian besar menunjukkan pembagian ke dalam dua bagian yaitu,

gantosoma anterior yang mengandung chelicera, pedipalpus dan hipostom

yang hanya berkembang pada spesies ini saja. Gnatosoma caplak dan

tungau disebut capitulum. Bagian posterior yang tunggal yang mewakili

fusi podosoma dan ophistosoma sehigga disebut idiosoma.

o Mulut caplak dan tungau simodifikasi untuk menghisap darah dan cairan

tubuh serta untuk memegang inang.

o Arachnida bernafas dengan menggunakan insang buku dan trachea.

Beberapa spesies tidak mempunyai organ pernafasan khusus tetapi

menyerap oksigen dari kutikula

o Kelas Arachnida meliputi:

1. Scorpionidea

2. Pedipalpea

3. Araneidea

4. Palpigradea

5. Cheliferae

6. Podogonea

7. Phalanginea

8. Acarina









72

ACARINA

o Spesies yang dijumpai dari kelas ini dikenal ada yang berkulit keras dan lunak

dan ada yang bertubuh kecil bahkan sangat kecil yang lazim disebut tungau

o Bagian mulutnya terdapat sepasang chelicera, sepasang pedipalpus dan

diantaranya terdapat struktur yang menyerupai gigi yang disebut hypostom.

Bagian kepala secara keseluruhan disebut dengan gnathosoma dilengkapi dengan

bentukan yang disebut dengan capitulum. Segmentasi dibagian tubuh tidak

dijumpai.

o Siklus hidup: Telur menjadi larva yang dilengkapi denga 3 pasang kaki. Larva

mengalami moulting kemudian menjadi nimfa yang dilengkapi dengan 4 pasang

kaki tetapi belum dilengkapi dengan organ reproduksi, setelah itu menjadi dewasa

yang dilengkapi dengan 4 pasang kaki dan organ reproduksi.



Ordo Parasitiformes

Sub Ordo Mesostigmata

o Nama Sub Ordo berkenaan dengan pada kenyataan bahwa sepasang stigma

tunggal ada di lateral dan ada disebelah luar coxae kaki. Seperti pada caplak,

stigma ini mungkin berasal dari plat peritoneal

o Tidak ada alat penghisap genital

o Dari sekian banyak spesies dari Ordo Mesostigmata, hanya ada satu kelompk dari

sub ordo ini yang disebut Gamasida atau tungau Gamasid. Sebagian dari tungau

Gamasid tidak parasitic dan hidup didalam tanah, kebanyaka pada kayu yang

busuk/litter , yang lain berparasit pada kumbang, insek lain, burung, kelelawar,

dan mamalia lain.



Famili: Dermanyssidae

Genus:Dermanyssus

Spesies: Dermanyssus gallinae

o Menyerang ayam, merpati, dan burung liar mungkin juga manusia.

o Tungau ini disebut juga tungau merah ayam, tetapi seperti tungau yang lainnya

hanya berwarna merah bila menghisap darah, bila tidak warnanya keputihan agak

abu-abu hitam

o Siklus hidup: telur diletakkan biasa setelah menghisap darah dalam dinding

kandang ayam. Tlur kemudian berubah menjadi larva, selanjutnya berubah

menjadi nimfa. Protonimfa yang akan menghisap darah inang kemudian berganti

kulit. Deutonimfa lalu menghisap darah inang, kemudian menjadi dewasa.



Genus: Ornithossus

o Spesies ini sering disebut tungau tikus daerah tropis dan sebagai parasit pada tikus

dan manusia di seluruh dunia

o Chelicera tanpa gigi dan ada taji pada segmen distal dari pedipalpus

o Siklus hidup: Telur diletakkan pada persembunyian tikus. Telur menetas setelah

1x menghisap darah inang. Larva mempunyai 6 buah kaki dan tidak makan,

kemudian berganti kulit, kemudian berubah mnejadi protonimfa, setelah

protonimfa menghisap darah kemudian akan mengalami pergantian kulit lalu

menjadi dewasa.







73

Sub Ordo Mesostigmata

o Terdiri dari caplak keras dan caplak lunak

o Terbagi menjadi 2 famili yaitu Argasidae termasuk didalamnya caplak ayam dan

Ixodidae atau caplak sebenarnya



Famili Argasidae

o Kulitnya tidak ditutupi oleh lapisan yang keras

o Bagian capitulum dan mulutnya terletak pada permukaan bawah anterior

o Tidak dijumpai adanya mata, jika ada terdapat pada bagian lateral supracoxal

o Terdapat sepasang spirakel

o Tidak dijumpai adanya perbedaan jenis kelamin



Genus: Argas

Spesies: Argas persicus

o Dikenal sebagai fowl tick

o Dewasa yang siap bertelur berwarna kebiruan

o Siklus hidup: Telur diletakkan pada sangkar burung, kandang ayam. Telur

berkembang menjadi larva. Larva mempunyai 6 kaki, menuju ke inang di bagian

sayap, dapat hidup selama 3 bulan tanpa makan. Larva jatuh ketanah kemudian

berganti kulit. Stadium selanjutnya adalah nimfa yang mempunyai 2 stadium.

Nimfa akan makan selama 2 jam. Kemudian menjadi dewasa, dimana pada saat

ini caplak akan makan selama 1 bulan. Betina akan melatakkan telurnya setiap

selesai makan



Genus: Otobius

Spesies: Otobius megnini

o Disebut dengan spinose ear tick

o Bentuk larva dan nimfa sering dijumpai dalam daun telinga

o Warna dan bentuk nimfa keabu-abuan

o Bentuk dewasa tidak bersifat parasit

o Bentuk telurnya mirip biola

o Siklus hidup: telur diletakkan dibawah tempat makanan, di bawah batu atau pada

sela-sela dinding. Telur berkembang menjadi larva dimana larva dapat hidup

tanpa makan selama 2-4 bulan. Berjalan menuju kedua telinga, larva menghisap

cairan limfe, warnanya putih kekuningan/pink. Larva berganti kulit menjadi nimfa

yang tetap makan di dalam saluran telinga, larva kemudian menjatuhkan diri dari

inang kemudian bersembunyi di celah-celah dinding lalu menjadi dewasa.



Genus: Ornithodorus

Spesies: Ornithodorus moubata

o Hidupnya pada gubuk pasir di bawah pohon

o Tidak memiliki mata

o Merupakan multiple host tick sehingga memudahkan penyebaran penyakit

o Siklus hidup: caplak betina bertelur pada pasir kemudian menetas dan berganti

kulit menjadi nimfa. Kemudian berkembang menjadi dewasa









74

Famili Ixodidae

o Scutum didapatkan pada seluruh permukaan tubuh bagian dorsal dari yang jantan

o Pada bentuk larva dan dewasa betina, skutum didapatkan sedikit saja

o Pada tepi posterior tubuh terdapat lekukan-lekukan yang disebut feston. Feston

berjumlah 11 buah



Genus: Ixodes

Spesies: Ixodes ricinus

o Di bagian anterior terdapat lekukan yang disebut anal groove, palpusnya panjang,

tidak mempunyai mata, tidak terdapat feston

o Inangnya yang dewasa adalah anjing dan mamalia. Pada larva dan nimfa dijumpai

pada burung, reptilia dan mamalia

o Siklus hidup: Telur menjadi larva dimana larva dapat bertahan tanpa makan

selama 19 bulan, setelah itu berkembang menjadi ninfa kemudian dewasa



Genus : Hyalomma

Spesies: Hyalomma marginatum

o Terdapat mata, feston kadang-kadang dijumpai

o Palpus dan hipostom panjang

o Inangnya pada yang dewasa terdapat pada sapi, mamalia dan burung. Larva pada

burung dan rodensia

o Caplak ini termasuk two host tick

o Predileksinya pada perineum, perianal dan organ genetalia



Genus: Haemaphyssalis

Spesies: H. Parmata, H. bancrofti

o Caplak yang berbentuk kecil

o Tidak mempunyai mata

o Bentuk palpus pendek dan tidak dijumpai feston

o Inangnya pada anjing dan mamalia yang mengalami domestikasi

o Termasuk 3 host tick



Genus: Dermacentor

Spesies: D. Variabilis, D.reticulatus

o Tubuhnya biasanya berwarna-warni, karena itu disebut ornate tick

o Dijumpai mata dan festoon

o Bentuk hipostom dan palpusnya pendek

o Inangnya adalah rodensia dan mamalia kecil



Genus: Amblyomma

Spesies: A. variegatum

o Ornate tick

o Dijumpai mata dan festoon

o Palpus dan hipostom panjang

o 3 host tick

o Bertubuh bulat besar dan agak lebar







75

Genus: Aponomma

o Ornate tick

o Ukuran tubuhnya hampir sama denga caplak Amblyomma tetapi tidak

mempunyai mata

o Dijumpai feston

o Palpus dan hipostom panjang

o Inang: reptil



Genus: Ripicephalus

Spesies: R.sanguineus

o Brown dog tick

o Ektoparasit pada sapi, kambing, domba dan anjing

o Bentuk umum caplak dari famili Ixodidae umumnya memiliki tanda-tanda

sebagai berikut:

1. Cephalothorax (bagian kepala dan thorax bersatu)

2. Capitulum bagian kepala terdapat pada bagian anterior tubuhnya

3. Scutum: sejenis pelindung keras, yang tedapat pada again dorsal

tubuh caplak , terbuat dari bahan chitin. Caplak betina dewasa

memiliki scutum yang lebih kecil dari caplak jantan dan terdapat di

sepertiga bagian anterior tubuhnya

4. Festoon: merupakan bentuk persegi/bujur sangkar sepanjang tepi

caudal dari tubuh caplak



Anatomi tubuh caplak

o Bagian kepala: terdapat mata di sebelah lateral. Pada jantan mata diatas dari coxa

I, pada betina di bagian atas dari lebarnya scutum

o Terdapat mulut yang dilengkapi dengan palpus dan hipostom, juga terdapat

sejenis gigi (chelicera)

o Bagian kaki: pada bentuk larva, mempunyai 3 pasang kuku. Pada bentuk nimfa

mempunyai 4 pasang kaki.

o Ujung segmen yang bulat panjang disebut petiole dan mengandung kait, pulvilli

o Siklus hidup: berdasarkan siklus hidupnya dibedakan menjadi 3 yaitu:

1. Berinang satu: larva-dewasa pada satu inang

2. Berinang dua: larva-dewasa pada 2 inang

3. Berinang tiga: larva pada inang I, nimfa pada inang II, dewasa pada inang III

o Ripicephalus sp pada umumya 3 host tick. R.evertsi dan R.bursa 2 host tick

o Siklus hidup: Telur menjadi larva. Larva bersembunyi dan menunggu untuk

mendapatkan inangnya. Jika mendapatkan makanan yang cukup maka akan

berganti kulit. Larva berubah menjadi nimfa. Nimfa mencari inang dan akan

menghisap darah. Bentuk larva dan nimfa banyak terdapat pada daun telinga,

lipatan kaki depan, belakang, pangkal ekor bagian bawah dan sela-sela jari inang.

Nimfa berganti kulit, kemudian mejadi dewasa. Pada saat dewasa baru dapat

dibedakan jenis kelaminnya. Betina mencari inang kemudian merayap pada

tempat terlindung dari tubuh hewan dan menghisap darah sehingga tubuh caplak

membesar dan siap untuk bertelur.









76

Genus: Boophilus

Spesies: B.microplus (B.australis); B.calcaratus; B.kohlsi; B.decoloratus disebut blue tick

karena mempunyai bagian seperti batu berwarna biru dan kaki kuning; B.annulatus

menyerang ternak di Amerika Utara

o Mempunyai 4 pasang kaki pada yang dewasa, sedangkan larva mempunyai 3

pasang kaki

o Tubuh bagian dorsal dilindungi lapisan chitin/scutum. Pada yang jantan scutum

meliputi permukaan dorsal tubuhnya, sedangkan pada yang betina scutum pada

larva dan nimfa separuh tubuhnya

o Memiliki sepasang mata

o Mulut pada bagian anterior yang dilengkapi hipostom dan palpus. Hipostom

sebagai alat penusuk dan palpus sebagai alat peraba

o Spirakel sebagai alat pernafasan

o Kaki memiliki 6 ruas, pada ujung kaki terdapat kuku (sebagai alat pengait)

o Keistimewaan pada coxal I yaitu membelah menjadi dua dan berbentuk seperti

taji yang disebut dengan internal spur dan external spur

o Pada jantan memiliki prosesus caudatus

o Mempunyai genital orifisium

o Mempunyai anus

o Pada jantan mempunyai anal plate dan ventral plate disekitar anus

o Mempunyai cervical groove (saluran) pada bagian scutum

o Sebelum menghisap darah, caplak berwarna coklat kekuningan kalau sudah

menghisap darah berwarna kebiruan

o Di Indonesia disebut caplak sapi

o Caplak ini termasuk 1 host tick



Ordo Acariformes

o Dalam istilah sehari-hari disebut tungau

o Tidak dijumpai adanya segmentasi

o Mempunyai 3 pasang kaki pada larva dan 4 pasang kaki pada nimfa dan dewasa

o Tidak terdapat mata

o Tidak terdapat rahang bawah (hipostom)

o Hampir semua ovipar

o Metamorfosis lengkap

o Dapat menimbulkan iritasi pada inang dan menghisap darah



Ordo Acariformes terdiri dari 3 subordo yaitu: Prostigmata, astigmata dan

Cryptostigmata



Sub Ordo Prostigmata

Famili Trombiculidae

Genus Trombicula

Spesies Trombicula autumnalis

o Yang bersifat parasitik adalah bentuk larvanya (chigger) bentuk nimfa dan dewasa

hidup di alam

o Bentuk yang dewasa ditutupi oleh bulu panjang dan warnanya merah kekuningan







77

o Larvanya menghisap darah inangnya melalui alat yang disebut stylostome

o Sering dijumpai pada bagian kepala dan leher inang. Bentuk larva sering

menyebabkan gatal hebat pada inang. Bentuk dewasa sering dijumpai pada tanah

berkapur dan rumput-rumputan



Famili Demodicidae

Genus Demodex

Spesies demodex canis; D.bovis; D.ovis; D.caprae

o Hidup pada folikel rambut dan kelenjar sebasea

o Bentuknya panjang seperti wortel

o Batas thorax dan abdomen masih nyata, juga masih dijumpai 4 pasang kaki

pendek dan tumpul. Abdomen bergaris-garis transversal pada bidang dorsal dan

ventralnya

o Bagian mulut terdiri dari sepasang palpi dan chelicera serta hipostom

o Dapat dibedakan jenis kelaminnya

o Seluruh siklus hidupnya berlangsung pada tubuh inangnya, terdiri dari telur, larva,

deutonimfa, dewasa, di dalam kelenjar folikel rambut atau kelenjar keringat.

o Tungau jantan terdapat pada permukaan kulit, dimana yang betina meletakkan

telur di dalam folikel rambut. Larva dan nimfa terbawa oleh aliran cairan kelenjar

ke muara folikel. Di tempat ini yang dewasa mulai kawin

o Infeksi terjadi karena kontak langsung antara penderita dan hewan sehat

o Inangnya: anjing, kucing, sapi, babi dan manusia





Sub Ordo Astigmata

o Spesies yang termasuk dalam sub ordo ini menimbulkan gangguan pada kulit

o Inang: mamalia dan burung

o Terdapat dua famili penting yaitu

Sarcoptidae Psoroptidae

Inang Mamalia dan burung mamalia

Sifat Menembus kulit inang dan Pada permukaan kulit dan

menetap di bawah jaringan menghisap makanan dengan

kulit menusukkan mulut ke dalam

kulit

Bentuk globusa oval

Dorsal Didapatkan banyak spina Tidak dijumpai

Kaki Pendek, pedikelnya tidak Panjang, pada pedikelnya

bersegmen terdapat sucker

Genital Tidak ada ada

Sucker Tidak berlobus Mempunyai lobus



Famili Psoroptidae

Terdapat tiga genus pada famili ini, diantaranya:

1. Genus Psoroptes

o Pada yang jantan terdapat copulatory sucker, betina mempunyai

copulatory tuberkel





78

o Mempunyai lapisan kutikula yang bergaris halus yang meliputi seluruh

bagian tubuhnya

o Inang: hewan berbulu banyak (kambing dan domba)

o Spesies: Psoroptes ovis

o Siklus hidup: telur-larva-nimfa kecil menjadi betina dewasa, nimfa besar

menjadi jantan dewasa



2. Genus Chorioptes

Spesies: C.equi; C.bovis; C.ovis; C.texanus; C.caprae; C.cuniculi

o Tungau mirip Psoroptes, namun keduanya dapat dibedakan dari leg

suckernya

o Predileksi terutama pada kaki. C.cuniculi pada telinga kelinci

o Disebut sebagai tungau kaki



3. Genus Otodectes

Spesies: Otodectes cynotis

Inang: anjing, kucing, anjing hutan dan kucing liar

Predileksi: di dalam telinga



Famili Sarcoptidae

Genus: Sarcoptes

Spesies: - Sarcoptes scabiei var ovis

- Sarcoptes scabiei var equi

- Sarcoptes sacbiei var suis

- Sarcoptes scabiei var bovis

- Sarcoptes sacbiei var canis

- Sarcoptes scabiei var humanis



o Tubuh bulat seperti lingkaran

o Banyak dijumpai kutikula pada permukaan luar tubuhnya dan ditemukan

tonjolan dan bulu yang keras (bristle)

o Tidak mempunyai mata dan trachea

o Pada bagian mulut ditemukan padipalp dan alat penjepit kecil

o Capitulum pendek dan kecil

o Kakinya pendek dan dilengkapi sucker yang panjang tetapi tidak melekat pada

pedikel serta sucker ini dapat membedakan tungau jantan dan betina, tungau

jantan pada pasangan kaki I,II dan III, betina pada pasangan kaki I dan II

o Anus di bagian terminal

o Siklus Hidup: Telur diletakkan dalam kelompok, dua-dua atau empat-empat

pada lubang. Tungau betina mati, telur berkembang menjadi larva yang

dilengkapi 3 pasang kaki. Larva berubah menjadi nimfa. Nimfa membuat

terowongan kemudian berganti kulit. Nimfa kemudian berunah menjadi

dewasa yang dilengkapi dengan 4 pasang kaki









79

Genus: Notoedres

Spesies: Notoedres cati

o Pada bagian dorsal ditemukan spina kecil dan tajam

o Pedikelnya panjang

o Pada yang jantan sucker tidak didapatkan pada kaki ke-3. Pada betina sucker tidak

ddapatkan pada kaki ke-4



Famili Knemidocoptidae

Genus:Knemidocoptes

Spesies: K.mutans; K.gallinae; K.pilae

Inang: unggas

o Tidak dijumpai spinal sucker pada bagian dorsal

o Pada bagian dorso posterior dijumpai dua rambut panjang

o Pada jantan pedikel pendek

o Tidak dijumpai sucker kaki pada yang jantan. Pada betina mengalami rudimenter.









80



Related docs
Other docs by dwi nur mijaya...
Peraturan-KPU-No.-18-Tahun-2008
Views: 188  |  Downloads: 4
2009 - Professional Javascript Frameworks _Wrox_
Views: 733  |  Downloads: 10
PFSO
Views: 461  |  Downloads: 0
6. LINGKUNGAN
Views: 479  |  Downloads: 0
RPP Tema 7 Bahasa Indonesia
Views: 102  |  Downloads: 1
RPP Tema 10 Pengetahuan Alam
Views: 132  |  Downloads: 1
Windows Optimize
Views: 626  |  Downloads: 20
RPP Tema 10 Bahasa Indonesia
Views: 159  |  Downloads: 1
smkn2-sby--siswasmkne-44-1-kumpulan-y
Views: 42  |  Downloads: 0
submit
Views: 20  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!