BAB I
PARASITOLOGI
Parasitologi : adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang parasit.
Parasit : adalah organisme yang hidup di dalam organisme lain dan menjadi beban
organisme yang ditumpanginya. Organisme yang ditumpanginya dikenal
sebagai inang atau hospes,
Hubungan antara inang/hospes dengan parasit diklasifikasikan menjadi beberapa jenis
hubungan, antara lain :
1. Parasitosis : adalah hubungan antara 2 organisme dimana satu organisme merusak
yang lain dan menyebabkan kerusakan-kerusakan serta menimbulkan gejala
klinis.
2. Parasitiasis : adalah hubungan antara 2 organisme dimana organisme yang satu
merusak dan menimbulkan keadaan patologik tetapi tidak menimbulkan gejala
klinis.
3. Komensalisme : adalah hubungan sepadan dimana satu pihak (parasit) mendapat
keuntungan dan pihak lain (inang) tidak dirugikan.
4. Simbiosis : adalah hubungan antara inang dan parasit yang diperlukan oleh
keduanya dan keduanya memperoleh keuntungan.
5. Mutualisme : serupa dengan simbiosis tetapi hubungan antara parasit dan inang
tidak memerlukan keharusan dan inang dapat hidup sempurna tanpa parasit.
Inang/hospes ada 2 macam :
1. Inang definitive : adalah inang tempat hidup tingkatan parasit dewasa, kehidupan
seksual parasit.
2. Inang perantara : adalah inang tempat hidup tingkatan parasit belum dewasa atau
kehidupan aseksual parasit.
Vektor parasit : adalah arthropoda atau invertebrate lainnya yang memindahkan parasit
dari satu inang vertebrata ke vertebrata lainnya.
Ada 2 macam vector :
1. Vektor mekanis : adalah suatu agen pemindah tanpa adanya perubahan
perkembangan parasit.
2. Vektor biologis : adalah suatu agen pemindah dimana dalam agen pemindah
tersebut terjadi perkembangan parasit.
Berdasarkan habitatnya,parasit diklasifikasikan menjadi :
1. Ektoparasit : adalah parasit yang hidup pada bagian luar induk semang
2. Endoparasit : adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inang.
Berdasarkan keeratan ikatan parasit dengan inang/hospesnya serta sifat parasit, maka
dikenal :
1
1. Parasit obligat : adalah parasit yang memerlukan paling sedikit satu inang untuk
menyempurnakan siklus hidupnya.
2. Parasit fakultatif : adalah organisme yang mampu hidup baik sebagai parasit
maupun hidup bebas
3. Parasit permanen : adalah parasit yang ada didalam atau pada satu inang selama
hidupnya.
4. Parasit temporer : adalah parasit yang sebagian siklus hidupnya hidup bebas
5. Parasit periodik : adalah parasit yang menyerang inang untuk waktu yang pendek
atau secara periodik untuk mendapatkan makanan.
6. Hiper parasit : adalah parasit yang hidup pada parasit lain.
HELMINTHOLOGI
Berasal dari bahasa Yunani, dari asal kata Helminthos yang berarti cacing.
Helmint dibagi menjadi 4 filum :
Platyhelminthes
Nematelminthes
Acantocephala
Annelida
FILUM PLATYHELMINTHES
Ciri-ciri :
Pipih dorso ventral dan simetris bilateral
Biasanya merupakan cacing hermaphrodit
Tidak mempunyai rongga badan
Alat ekskresi berupa flame cell
Tidak mempunyai sistem respirasi dan sistem peredaran darah
Siklus hidupnya indirect
Filum ini terbagi menjadi 2 kelas yaitu Cestoda dan Trematoda
Kelas Trematoda
Morfologi umum:
Berbentuk oval atau seperti daun tidak bersegmen
Biasanya mempunyai saluran pencernaan yang buntu
Memiliki sistem reproduksi hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae
Kelas Cestoda (cacing pita)
Morfologi umum :
Bersifat hermaprodit dan merupakan endoparasit.
Badannya terdiri dari kepala yang disebut skoleks, leher disebut neck, tubuh
disebut strobila, strobila terdiri dari segmen yang disebut juga proglotid
Bentuk pipih dan panjang seperti pita
Skoleks biasanya dilengkapi dengan :
Rostelum dan kait-kait (hooks)
Sucker (alat pengisap) dan kait-kait
2
Rostelum biasanya terdapat di bagian anterior skoleks
Sucker terdapat dibagian kaudal skoleks berfungsi sebagai alat pengisap
Rostelum mempunyai kait yang terdiri dari 1-2 baris kait yang digunakan untuk
menempel pada dinding usus
Strobila terdiri dari proglotid yang masing-masing mempunyai alat kelamin jantan
dan betina
Proglotid tumbuh di bagian posterior skoleks, makin ke posterior makin
dewasa/masak, sehingga proglotid yang paling ujung/posterior mengandung
uterus yang didalamnya terdapat telur-telur yang masak
Telur dikeluarkan bersama proglotid dalam feses inang/hospes
Didalam proglotid terdapat pengelompokan telur di dalam kantong-kantong
jaringan.
Proglotid yang terdapat di luar tubuh akan hancur oleh keadaan sekitarnya dan
telur akan keluar.
Telur cacing Cestoda berbentuk kompleks, pada kotoran telur terlihat sebagai
suatu bahan yang kompak disebut embriofor dan didalam embriofor terdapat
embrio yang disebut onkosfer. Didalam onkosfer terdiri dari 6 kait dan telur yang
demikian disebut Hexacanth
Onkosfer tidak dapat terlepas selama belum mencapai saluran cerna inang antara.
Embriofor terdiri atas 2 lapisan yaitu, lapian vitelin dan lapisan kitin.
Ditempat predileksi , onkosfer akan berkembang dan masing-masing genus
mempunyai perkembangan yang berbeda. Ada 6 cara yang dialami oleh telur
selama perkembangannya menjadi larva, antara lain :
1. Cysticercus
2. Coenurus
3. Strobilacercus
4. Hydatid
5. Cysticercoid
6. Plerocercoid
FILUM NEMATHELMINTHES
Morfologi:
Bentuk silindrik memanjang dan meruncing pada kedua ujungnya, kecuali
Tetrameres betina yang menggelembung setelah kopulasi menjadi bulat pipih
Badannya tidak bersegmen, biasanya kutikula dilengkapi dengan gelang-gelang
Saluran pencernaan dimulai dari mulut, esofagus, intestin dan berakhir pada anus
Mempunyai ekor pendek
Terdiri dari cacing jantan dan betina
Siklus hidupnya secara direct dan indirect
Terbagi menjadi 2 kelas yaitu Nematoda dan Nematomorpha
FILUM ACANTHOCEPHALA
Merupakan cacing parasitik yang biasanya dikenal sebagai ”thorny headed worms”
(cacing yang bagian kepalanya berduri)
Ciri-ciri :
3
Tubuhnya silindris dan diapisi dengan kutikula yang tebal
Tidak mempunyai saluran pencernaan dan makanan di absorbsi melalui dinding
tubuh
Bagian anterior tubuh terdapat probosis yang bentuknya silindrik atau oval
Siklus hidupnya secara indirect
4
BAB II
KELAS TREMATODA
FAMILI DICROCOELIIDAE
Genus : Eurytrema
Spesies : E. Pancreaticum
Habitat : Saluran pankreas dan kadang-kadang saluran empedu dan duodenum
Inang definitif : Kambing, domba, sapi, kerbau dan manusia
Morfologi :
Tubuhnya tebal dan berduri\suckernya besar, oral sucker lebih besar dari ventral
sucker
Faring kecil dan esofagus pendek\
Siklus hidup
Siklus hidupnya memerlukan 2 inang perantara siput tanah Bradybaena similaris dan
Cathaica ravida siboldtiana. Sporokista terjadi didalam tubuh siput, serkaria dihasilkan
setelah 5 bulan terinfeksi. Serkaria menempel pada rumput kemudian termakan oleh
belalang. Metaserkaria terjadi di dalam hemocoele dan menjadi infektif setelah 3 minggu
didalam tubuh belalang. Inang definitif terinfeksi karena memakan belalang yang
biasanya bersama-sama rumput dimana belalang tersebut mengandung metaserkaria .
Cacing muda migrasi melalui saluran pankreas.
Genus : Fasciola
Species : F. Hepatica
Habitat : Saluran empedu
Inang definitif : kambing, domba, sapi dan ruminansia lain, babi, kuda, kelinci, anjing,
kucing., kanguru gajah dan manuia. Biasanya pada manusia dan kuda, cacing dewasa
dapat ditemukan pada paru-paru, dibawah kulit dan tempat lain.
Morfologi :
Bentuk seperti daun dengan bagian anterior lebih lebar daripada posterior
Ventral sucker terletak sejajar dengan bahu dn besarnya sama dengan oral sucker
Kutikula berduri
Siklus hidup Fasciola spp :
Telur yang dihasilkan masuk duodenum bersama-sama cairan empedu dan keluar
bersama feses penderita (inang definitif).
Telur menetas dan menghasilkan larva stadium I (mirasidium). Mirasidium akan
berenang mencari siput dan menembus tubuh siput, perkembangan selanjutnya
terjadi didalam tubuh siput. Bila mirasidium tidak dapat masuk kedalam tubuh
siput, mirasidium akan mati setelah beberapa jam. Inang perantara cacing F.
Gigantica di Indonesia adalah Lymnea Javanica (L.rubigenosa), karena di
Indonesia tidak ditemukan siput yang cocok sebagai hospes perantara F.hepatica,
maka trematoda tersebut tidak ditemukan di Indonesia, kecuali pada sapi impor.
5
Mirasidium biasanya mencari siput muda, kemudian dengan menggunakan enzim
proteolitik yang dikeluarkan untuk menembus jaringan tubuh siput, kemudian
mirasidium melepaskan silia dan berkembang menjadi sporokista. Tiap-tiap
sporokista akan membentuk 5-8 redia dan berkembang maksimum.
Redia keluar dari sporokista menjadi redia I, didalam redia terdapat redia anak
yang mempunyai bentuk yang sama dengan redia I.
Redia anak berkembang selanjutnya menjadi serkaria. Bentuk serkaria
menyerupai bentuk cacing dewasa dan serkaria akan keluar dari tubuh siput bila
ada rangsangan sinar.
Kemudian serkaria akan berenang dalam air, bila serkaria tidak segera termakan
oleh inang definitif, maka serkaria akan menempel pada rumput tepi
kolam/sungai. Infeksi akan terjadi apabila inang definitif memakan rumput atau
minum air yang terkontaminasi oleh serkaria/ metaserkaria.
Didalam duodenum, serkaria keluar dari kistanya, menembus dinding usus masuk
rongga peritoneum kemudian menembus kapsula hati. Dapat pula melalui ductus
choleducus lalu menembus kapsula hati ke parenkim hati kemudian kesaluran
empedu untuk berkembang menjadi cacing dewasa.
Masa prepaten (mulai masuknya metaserkaria sampai terdapatnya telur didalam
feses penderita) kurang lebih 2-3 bulan.
Spesies : Fasciola gigantica
Merupakan parasit asli Indonesia, sedangkan F. Hepatica masuk ke Indonesia
kemungkinan bersama-sama sapi perah Frissian Holland yang diimpor dari Belanda
Morfologi:
Berwarna lebih terang (transparan)
Bahu tidak begitu nyata
Habitat, inang definitif dan siklus hidup sama dengan F. Hepatica
FAMILI PARAMPHISTOMATIDAE
Genus : Paramphistomun
Spesies : P. cervi
Habitat cacing dewasa : rumen dan retikulum kambing, domba dan sapi
Morfologi :
Warna merah muda pada waktu masih hidup
Merupakan conical fluke cacing mengerucut yang bentuknya seperti buah pear
Mempunyai sucker yang besar dibagian subterminal posterior
Genus : Cotylophoron
Spesies : C. Cotylophorum
Habitat : rumen, retikulum kambing, domba, sapi, ruminansia lain
Morfologi :
Mirip dengan P.cervi
Genus : Gastrothylax
Spesies : G. Crumenifer
Habitat : rumen domba, sapi zebu, kerbau di India, Srilangka dan China
6
Morfologi : Cacing dewasa berwarna merah muda pada waktu masih hidup
Genus : Gigantocotyle
Spesies : G. Explanatum
Habitat : saluran empedu, kandung empedu dan duodenum sapi dan kerbau
Morfologi : bentuk seperti kerucut dengan salah satu ujung lancip dan ujung lainnya
melebar
Genus :Gastrodiscus
Spesies : G. Aegyptiacus
Habitat : usus halus dan usus besar bangsa kuda, babi di Africa dan India
Morfologi :
Warna merah muda
Bentuk tubuhnya seperti mangkok
Siklus Hidup Famili Paramphistomatidae
Mirasidium yang bebas akan berenang di air dan akan masuk ke dalam siput air.
Perkembangan didalam tubuh siput, mirasidium pada saat penetrasi melepaskan
silia kemudian membentuk sporokista.
Sporokista matur mengandung 8 redia pada tiap sporokista.
Redia dibebaskan 11 hari setelah infeksi dan pada hari ke 21 redia mengandung
15-30 serkaria.
Serkaria akan keluar apabila terkena sinar matahari, serkaria yang keluar
mempunyai ekor pedek dan 2 pasang eye spots.
Serkaria menjadi metaserkaria. Infeksi inang definitif karena memakan
metaserkaria bersama rumput/tanaman air.
FAMILI : PARAGONIMIDAE
Genus : Paragonimus
Spesies : P. Westermanii
Merupakan cacing paru-paru (Lung Fluke)
Habitat : paru-paru kadang-kadang pada otak, spinal cord dan organ-organ lain
Inang definitif : babi, anjing, kucing, kambing, sapi, carnivora liar, bangsa musang dan
juga manusia.
Morfologi :
Cacing dewasa berwarna merah kecoklatan, ukuran dan bentuknya seperti biji
kopi
Kutikulanya berduri
Vittelaria berlimpah-limpah berwarna kecoklatan, uterus berkelok-kelok diisi oleh
telur-telur berwarna coklat.
Siklus Hidup
Cacing dewasa hidup didalam kista pulmonalis pada dinding fibrosa. Didalam
rongga kista terdapat 1 atau 2 caing dewasa bahkan 6 cacing dewasa. Telur
dikeluarkan oleh cacing dewasa didalam kista. Telur kemudian keluar melalui
bronki pada waktu kista pecah.
7
Biasanya telur keluar bersama mukus atau sputum yang mempunyai batuk yang
khas seperti karat besi, tetapi apabila telur-telur tersebut tertelan kembali, dapat
dikeluarkan bersama feses penderita.
Telur yang berada di air berkembang menjadi embrio.
Mirasidium yang menetas berenang di dalam air dan mencari inang perantara I ,
siput air.
Di dalam tubuh siput, mirasidium mengadakan penetrasi secara aktif kemudian
migrasi kedalam jaringan limfatik atau didalam otot dan organ respirasi (bronki)
Mirasidium menjadi sporokista yang masing-masing redia berkembang menjadi
serkaria.
Serkaria dilengkapi dua ekor pendek kemudian mencari inang perantara II jenis
kepiting dan bangsa udang
Pada inang perantara II serkaria mengadakan penetrasi secara aktf. Metaserkaria
kemudian terbentuk dan membentuk kista pada jantung, otot, organ-organ
respirasi dan hati.
Inang definitif terinfeksi karena memakan bangsa crustacea yang mengandung
parasit yang dimakan mentah atau kurang masak.
FAMILI SCHISTOSOMATIDAE
Genus Schistosoma
Spesies : S. Japonicum
Habitat : cacing dewasa didalam vena porta dan vena mesenterica
Inang definitif : manusia, sapi, kuda, domba, kambing, anjing, kucing
Inang perantara : Oncomelania nosophora di Jepang dan China, O. Formosa di pulau
Formosa (Taiwan), O.hupensis di China dan O.hupensis lindoensis di sulawesi
Morfologi :
Cacing jantan mempunyai kurang lebih 10 testis.
Cacing betina berwarna lebih tua
Bentuk telurnya oval/ovoid, mempunyai tonjolan seperti kait/duri pada salah satu
ujungnya . Telur dikeluarkan bersama tinja/feses penderita.
Siklus Hidup
Mirasidium mencari inang perantara yang cocok untuk berkembang menjadi
sporokista I dan II. Sporokista II membentuk banyak serkaria berekor cabang
yang keluar dari tubuh siput dan berenang didalam air.
Infeksi pada inang definitif terjadi karena adanya kontak dengan air yang
terkontaminasi oleh serkaria dan serkaria dapat melakukan penetrasi melalui kulit,
kemudian mencapai pembuluh darah dan mencapai organ yang disukai.
Spesies : S. Bovis
Habitat : vena porta dan vena meseterica
Inang definitif :sapi, kambing, domba dan kadang-kadang kuda
Morfologi:k
Permukaan tubuh cacing jantan terdapat tuberkel kecil pada kutikulanya
Cacing jantan mempunyai testis 3-6 buah terletak longitudinal,sejajar dibagian
belakang ventral sucker
8
Tubuhnya berbentuk memanjang dan terdapat spina dibagian terminalnya
Inang perantaranya siput dari famili Bulinidae
Spesies : S. Spindale
Habitat : vena mesenterica
Inang definitif : sapi, kambing, domba, anjing dan zebu
Inang perantara : siput dari famili planorbidae dan Lymnaeidae : Planorbis spp,
indoplanorbis exustus, lymnea acuminata dan L. Luteola
Morfologi”
Cacing jantan mempunyai testis 3-7 buah
Telur berbentuk memanjang dan mempunyai spina dibagian lateral
Pesies : S. Incognitum sama dengan S.suis
Habitat : vena mesenterica
Inang definitif : babi ,anjing dan bangsa tikus
Inang perantara : L.luteola dan L.rubigenosa
Morfologi :
Telurnya berwarna kuning kecoklatan,berbentuk subovoid dengan salah satu sisi
datar , kecil, dengan dilengkapi spina dibagian lateral.
Spesies : S.mekongi
Habitat : v.mesenterica dan v.porta
Inang definitif : anjing, kadang-kadang manusia
Inang perantara : famili Triculinae, genus tricula (Lytoglyphosis dan genus Robertsiella)
Spesies : S.nasale
Habitat : v. Mukosa nasalis sapi, kambing, domba dan kuda
Inang perantara : L.exuxtus dan L.luteola
Spesies : S. Indicum
Habitat : v. Porto mesenterica sapi, kambing, kuda, rusa
Inang perantara : L.exustus
9
BAB III
CESTODA
FAMILI ANOPLOCEPHALIDAE
Ciri-ciri :
Tidak mempunyai rostellum dan hooks
Proglotid biasanya lebih lebar dari pada panjang
Masing-masing proglotid mempunyai 1 atau 2 pasang alat kelamin
Genital pore terletak ditepi
Testis terdapat dalam jumlah banyak
Pada uterus terdapat kumpulan telur didalam kantong dan telur dikeluarkan satu
persatu atau lebih
Masing-masing telur dikelilingi oleh 3 lapisan, yang yang paling luar adalah
vittelin membran, lapisan tengah albuminous membrane, lapisan dalam chitine
membrane.
Bentuk telur mirip buah pear yang dilengkapi sepasang hooks /kait yang bersilang
satu dengan lainnya dan struktur ini disebut piriform apparatus.
Inang perantara : mites dari famili Oribatidae.
Genus: Moniezia
Spesies : M. Expansa
Habitat : usus halus domba, kambing, sapi dan bangsa ruminansia lain
Morfologi:
Segmen lebih lebar dari panjang dan tiap-tiap segmen mengandung 2 genital
organ
Ovarium dan vittelin gland berbentuk cincin pada kedua sisi, di sebelah medial ke
arah longitudinal terletak excretory canals
Testis tersebar dibagian sentral atau berkumpul dikedua sisi
Ditepi posterior tiap-tiap proglotid terdapat 1 deret interglottidal gland tersusun
seperti cincin-cincin kecil
Telur berentuk segitiga mengandung pyriform apparatus
Spesies : Moniezia benedini
Habitat : usus halus ruminansia terutama pada sapi
Perbedaannya dengan M.expanza terletak pada ”
1. M.benedini lebih esar dari pada M.expanza (lebarnya dapat mencapai 2,6 cm)
2. Interproglottidal glands tersusun pendek da berderet rapat pada bagian tengah
segmen
Siklus Hidup Moniezia:
Telur cacing dikeluarkan bersama feses penderita (host) satu persatu atau
dalam keadaan berkelompok dalam segmen yang terlihat sebagai butiran-
butiran beras.
10
Bila segmen dimakan oleh famili Oribatidae maka dindingnya akan sobek
dan seluruh telur termakan oleh mites tersebut.
Dalam mite oncosphere akan tumbuh membesar dan mencapai jumlah 14
sel. Setelah 8 minggu oncosphere mempunyai 12 kait.
Pada minggu ke 15 akan menjadi sistiserkoid.
FAMILI DAVAINEIDAE
Genus : Davainea
Spesies : D. Proglotina
Habitat : wilayah duodenum dari usus halus
Inang definitif : ayam, burung merpati dan burung lainnya
Morfologi :
Terdiri dari 4-9 proglotid
Pada rostellum terdapat 80-94 kait
Sucker mempunyai berapa kait kecil berderet dan mudah lepas
Genital pore teletak selang-seling secara teratur
Telur terletak satu persatu dalam parenkim segmen yang mature
Siklus Hidup
Segmen yang matur dikeluarkan dalam feses induk semang dan telur yang
menetas termakan oleh siput dari genus Limax, Arion, Cepoa dan Agriolimax.
Setelah telur atau segmen tercerna didalam saluran pencernaan intermediate host,
larva cacing menembus dinding usus masuk rongga perut dan setelah 3 minggu
akan berubah bentuk menyerupai kantong disebut sistiserkoid dan skolek
mengalami invaginasi.
Unggas terinfeksi karena memakan siput yang terinfeksi, setelah sistiserkoid
tercerna didalam saluran pencernaan unggas, skolek segera keluar dari dalam
kista lalu menempel pada dinding saluran usus
Kemudian mulai membentuk leher dan segmen yang memerlukan waktu kurang
lebih 14 hari untuk menjadi dewasa.
Genus : Railiettina
Spesies : R.tetragona
Morfologi :
R.tetragona merupakan cacing pita ayam.
Lehernya tipis dan skolek kecil yang dilengkapi dengan 100 kait kecil terdapat
dalam 1 deret rostellum
Bentuk sucker oval dilengkapi dengan 8-10 deret kait kecil yang mudah terlepas
Setiap kantong telur mengandung 6-11 telur
Kantong telur meluas kebagian lateral sampai saluran pengeluaran
Inang perantara : Musca domestica dan bangsa semut dari genus Tetramorium dan
Pheidole
11
Siklus Hidup
Mirip Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan berbeda.
Larva dalambentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang
perantara yang mengandung sistiserkoid
Spesies : R. Echinobothrida
Habitat : usus halus bangsa unggas
Morfologi :
Bentuk dan ukuran mirip R.tetragona
Rostellum dilengkapi 200 kait pada 2 deret dan sucker dilengkapi dengan 8-10
deret kait
Skolek mempunyai lengan yang kuat dan sucker berbentuk sirkular
Genital pore unilateral, tetapi kadang-kadang selang-seling
Segmen yang gravid sering terrpisah ditengah
Inang perantara : Tetramorium caespitum
Siklus Hidup
Mirip dengan Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan berbeda.
Larva dalam bentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang
perantara yang mengandung sistiserkoid
Spesies : R. Cesticillus
Habitat : usus halus ayam, burung mutiara, kalkun
Cacing dari spesies ini sering ditemukan pada peternakan ayam
Morfologi :
Panjang cacing 13 cm dan lebar 2mm, namun biasanya tak lebih dari 4 cm
Cacing mudah dibedakan dengan spesies lain karena tidak mempunyai leher dan
skoleknya besar yang dilengkapi dengan rostellum yang lebar dan terdapat 400-
500 kait
Telur berkapsul dan tiap-tiap kapsul mengandung 1 telur.
Inang perantara : M.domestica dan kumbang
Siklus Hidup
Mirip dengan Davainea, hanya inang perantara yang dibutuhkan bereda
Larva dalam bentuk sistiserkoid, unggas terinfeksi karena memakan inang
perantara yang mengandung sistiserkoid
FAMILI DILEPIDIDAE
Genus Dypilidium
Spesies : D.caninum
Habitat : usus halus anjing, kucing, srigala dan kadang-kadang manusia
Inang perantara : pinjal anjing, kucing, manusia dan kutu anjing.
Morfologi :
12
Panjang mencapai 50 cm dan biasanya berwarna merah muda atau ekuning-
kuninagan
Proglotid yang matur dan gravid mempunyai bentuk khas oval seperti biji
mentimun
Rostellum dilengkapi dengan 3-4 baris kait kecil yang bentuknya seperti mawar
(Rose thorn)
Tiap segmen mempunyai 2 pasang organ genital. Testisnnya banyak yang tersebar
diseluruh parenkim dari segmen.
\Ovari dan vitelin gland menggerombol pada dua sisi seperti buah anggur
Pada segmen gravid terletak telur-telur dalam kapsul, tiap kapsul mengandung 20
telur
Siklus Hidup
Segmen masak dikeluakan bersama feses atau mungkin keluar secara spontan.
Kadang-kadang segmen yang masak merayap secara aktif dan meletakkan
telurnya disekitar anus atau perineal.
Inang perantara terinfeksi karena tertelannya telur oleh larva pinjal dan
sistiserkoid berkembang didalam tubuh pinjal sampai pinjal dewasa.
Inang definitif tertular karena termakannya pinjal yang mengandung sistiserkoid,
sedangkan pada manusia biasanya menyerang anak-anak, kemungkinan secara
accidental terjadi karena anak-anak bermain terlalu erat dengan anjing dan kucing
FAMILI TAENIIDAE
Ciri-ciri :
Merupakan cacing pita berukuran besar
Segmen gravid lebih panjang daripada lebarnya
Rostellum dilengkapi dengan 2 deret kait besar dan kecil yang bentuknya khas
Terdapat genital pore yang terletak selang-seling tak teratur
Testis terdapat dalam jumlah banyak
Stadim larva berupa sistiserkus, coenurus dan hydatid cyst.
Genus : Taenia
Species : T. Solium
Parasit ini penting dalam dunia kedokteran hewan karena stadium larva terdapat pada
anjing dan babi
Habitat : usus halus manusia
Morfologi :
Panjang cacing 3-5 m kadang-kadang mencapai 8 m
Rostellum dilengkapi dengan 22-32 kait pada 2 deret, besar dan kecil
Telur bulat dengan dinding kasar
Segmen gravd maing-masing mengandung 40.000 telur yang seing terlepas bersama-
sama dengan feses penderita
Cacing dapat hidup pada manusia selama 25 tahun atau lebih
Siklus Hidup
13
Pada waktu telur termakan oleh babi maka hexacanth embryo keluar dari telur
setelah sampai di usus halus , permulaan mekanismenya adalah oncosphere yang
dibebaskan sebagai akibat dari proses pencernaan. Setelah onkosfer dpnenaskan ,
kemudian bergerak kebebrapa tempat.
Selanjutnya embrio keluar dari membra onkosfer dan mengadakan penetrasi pada
dinding usus, akhirnya onkosfer masuk ke pembuluh darah subnukosal dan
dibawa aliran darah ke liver dan tersebar ke seluruh tubuh.
Pada T.solium predileksi sistiserkus pada otot bergaris, tetapi dapat juga
berkembang pada organ-organ lain seperti paru-paru, liver, ginjal atau otak.
Bentuk sistiserkus ini disebut cysticercus cellulosae.
Manusia dapat terinfeksi karena memakan daging kurang masak yang
mengandung sistiserkus. Disamping babi,hewan lain yang dapat bertindak sebagai
inang perantara adalah domba, kambing, sapi dan bermacam-macam ruminansia
lain , kuda, anjing, beruang dan kera. Tetapi sistiserkus dapat juga dijumpai pada
manusia, karena tertelannya telur bersama makanan yang terkontaminasi karena
kebiasaan tanpa mencuci tangan sebelum makan.
Sistiserkus pada manusia dapat dijumpai pada pelbagai organ tubuh manusia,
tetapi umumnya ditemukan pada jaringan subkutan, mata dan otak. Sehingga
manusia dapat bertindak sebagai inang definitif dan inang perantara
Pada babi sistiserkus berkembang lengkap selama 10 minggu, setelah 2 bulan
cacing gelembung aktif, ditandai dengan sucker dan kait berkebang baik.
Perkembangan optimal sistiserkus yaitu memiliki skolek mirip dengan cacing
dewasa .
Pemeriksaan daging, kista berumur lebih dari 6 minggu sudah dapat terlihat jelas.
Sistiserkus dtemukan pada otot-otot jantung, otot lidah, lengan, bawah paha dan
leher. Lama hidupC. Cellulosae diperkirakan dapat bertahan 1 tahun atau lebih.
Genus Taenia
Species : T. Saginata
Sinonim : Beef tape worm
Indk semang definitive : manusia
Induk semang antara : sapi, kerbau, jerpah dan llama
Habitat : usus halus manusia, sapi merupakan inang antara sebagai tempat hidup cacing
gelembungnya (sistiserkus)
Morfologi :
Panjang cacing 4-8 m
Skoleks tidak dilengkapi dengan rostellum dan kait tetapi dilengkapi 4 buah
hemispherical suckers yang terletak pada tiap sudut skoleks. Tiap cacing terdiri
dari 1000-2000 segmen
Uterus garavid mempunyai cabang antara 15-3 pada tiap sisinya dan cabang-
cabang itu ada pula yang bercabang lagi
Segmen gravid masing-masing mengandung 100.000 telur yang sering terlepas
bersama-sama feses penderita
Cacing dapat hidup pada manusia selama 5-7 tahun
14
Siklus Hidup
Bila manusia penderita yang dalam fesesnya mangandung T.saginata di tempat
terbuka, segmen cacing yang keluar bersama feses akan merayap ke rumput
disekitarnya, sehingga dapat tertelan oleh sapi.
Selanjutnya telur yang matur tertelan oleh sapi sebagai inang antara, maka dalam
duodenum telur menetas menjadi onkosfer, yang selanjutnya mengadakan
penetrasi ke dinding usus, mencapai vena mesenterica atau saluran limfe dan ikut
aliran darah sampai ke jaringan otot bergaris terutama m. Masseter.
M.pterygoideus, myocardium dan diafragma.
Cacing gelembung (cysticercus inermis=c.bovis=bladder worm) yang matang
dicapai dalam waktu 18 minggu pasca infeksi, berbentuk lonjong atau bulat,
berwarna putih susu, ada dalam jaringan ikat intermuskuler, dibungkus oleh
selaput dari jaringan ikat.
Daging sapi yang mengandung c.bovis merupakan sumber infeksi T.saginata
FAMILI DIPHYLLOBOTRIIDAE
Genus : Diphyllobothrium
Spesies: D.latum
Habitat : usus halus manusia, anjing, babi, kucing dan hewan lain pemakan ikan
Morfologi :
Panjang 2->10m
Terdiri dari >3000segmen
Pada waktu fresh berwarna kuning abu-abu dan ditengahnya berwarna gelap
disebabkan danya uterus dan telur
Bentuk skolek memanjang dilengkapi bothria disebelah dorsal dan ventral
Lehernya bisa memanjang dan memendek bila kontraksi.
Telur berwarna coklat muda, mempunyai operkulum didapatkan pada feses induk
semang
Siklus Hidup
Telur berkembang selama beberapa minggusetelah keluar dari tubuh induk
semang. Coracidium siap menetas didalam air. Coracidium mengandung onkosfer
yang mengandung 6 kait yang ditutup oleh embriofor yang bersilia. Corasidium
yang berenang dalam air akan termakan oleh bangsa krustacea/copepod.
Didalam air tubuh larva stadium I yang disebut procercoid tumbuh dalam waktu
2-3 minggu. Jika Copepod termakan oleh ikan air tawar (salmon fish) sebagai
inang perantara II, maka procercoid mengadakan penetrasi melalui inding usus
halus menuju otot atau organ lain dan akan berkembang menjadi plerocercoid.
Plerocercoid ini bentukya memanjang berisi larva dengan kepala menyarupai
cacing dewasa.
Inang definitif terinfeksi karena memakan ikan mentah/kurang masak.
Spesies : D.mansoni
Ditemukan pada usus anjing dan kucing
Telur ditemukan dari proglotid yang masak, akan berkembang jika diletakkan di
air yang bersih dan tidak mengalir. Telur akan menetas dalam waktu 10-28 hari
15
Saat embrio tertelan bangsa Cyclops, secara cepat akan penetrasi pada rongga
tubuh dan berkembang menjadi procercoid pada waktu 3 minggu
Sewaktu stadia tersebut termakan dan masuk kedalam rongga peritoneum tikus,
mencit, kera dan katak bentuknya akan berubah menjadi masak dan bentuknya
menjadi spargana. Apabila hewan-hewan tersebut termakan oleh anjing dan
kucing, stadiumnya akan berkembang menjadi cacing dewasa.
16
BAB IV
NEMATODA
Ciri-ciri:
Pada umumya cacing jantan mempunyai caudal alae atau copulatory bursa
ORDO ASCARIDIA
SUPERFAMILI : ASCARIDOIDEA
Ciri-ciri :
Merupakan nematoda besar
Mulut dikelilingi oleh 3 bibir besar
Tidak mempunyai bukal kapsul
Esofagus biasanya tidak mempunyai posterior bulb
Ekor cacing betina tumpul dan cacing jantan ekornya berbelok-belok
Terdapat 2 spikula pada cacing jantan
Intestin mempunyai sekum
Siklus hidup direct dan indirect
FAMILI ASCARIDIDAE
Genus : Ascaris
Species : A. Suum, A. Lumbricoides varietas suum
Habitat : usus halus
Host definitive :Babi,kadang-kadang ditemukan pada domba, sapi, anjing dan manusia
Morfologi :
Cacing jantan panjang 15-25 cm, etina 41 cm
Kutikula relatif tebal
Cacing jantan dilengkapi spikula panjangnya 2 mm
Siklus Hidup
Cacing betina menghasilkan kurang lebih 200.000 telur perhari
Telur keluar bersama tinja, kemudian berkembang menjadi larva stadium II tanpa
menetas. Larva stadium II ini adalah stadium infektif.
Infeksi terjadi karena babi makan makanan yang mengandung telur infektif atau
telur infektif yang melekat pada puting susu induknya tertelan anak babi,
Setelah telur termakan kemudian menetas didalam usus halus dan larva
menembus dinding usus. Larva kemudian ke liver/ , kemudian ke jantung, paru-
paru, limpa dan ginjal.
Sebagian besar larva moulting menjadi larva stadium III , pada saat ini larva
banyak tinggal didalam liver dan ada yang didalam paru-paru
Larva yang terdapat pada paru-paru akan keluar dari kapiler menuju alveoli
kemudian menuju bronkioli, bronkus dan trakea. Kemudian ke faring dan
tertelan. Larva stadium III akhirnya sampai ke usus.
17
Di usus larva moulting menjadi larva stadium IV, kemudian moulting menjadi
larva stadium V atau cacing muda, setelah itu berubah menjadi cacing dewasa
pada hari ke 50-55 setelah infeksi
Telur ditemukan pada feses pada hari ke 60-62 setelah infeksi.
Genus: Parascaris
Species : P.equorum=Ascaris megalocephala=Ascaris equorum
Habitat : usus halus bangsa kuda, termasuk zebra dan terdapat pada sapi
Morfologi :
Panjang cacing jantan15-28 cm, cacing betina 50 cm
Cacing kaku, kuat dan kepalanya besar. Mempunyai tiga bibir yang dipisahkan
oleh tiga bibir intermediate kecil.
Ekor jantan mempunyai lateral alae yang kecil
Siklus hidup mirip dengan A.suum
Genus :Toxocaris
Species : Toxocaris leonine=Toxocaris limbata
Habitat : usus halus anjing, kucing, bangsa canidae dan felidae liar
Morfologi :
Panjang cacing jantan 7 cm, panjang cacing etina 10 cm
Bagian anterior tubuh dilengkapi dengan cervical alae(pelebaran kutikula) yang
besar dan bengkok
Siklus Hidup :
Telur infektif mengandung larva stadium II. Pada kondisi optimal di luar tubuh
host stadium infektif dapat dicapai 3-6 hari.
Bila telur infektif termakan bersama makanan/minuman, setelah sampai di usus
larva stadium II masuk dinding usus dan tinggal di usus sampai menjadi larva
stadium IV, kemudian menuju mukosa dan lumen usus.
Larva stadium V dicapai pada minggu keenam kemudian akan menjadi cacing
dewasa dan menghasilkan telur setelah 74 hari infeksi
Larva tidak mengalami migrasi, hal ini yang membedakan dengan Toxocara
canis.
Genus: Toxocara
Species : Toxocara canis
Habitat : usus halus anjing dan srigala
Morfologi :
Panjang cacing jantan 10 cm, betina 18 cm
Mempunyai cervical alae (pelebaran kutikula)besar
Tubuh bagian anterior membengkok ke ventral
Cacing jantan mempunyai terminal tail, caudal alae dan spikula
18
Siklus Hidup
Siklus hidup T. Canis kompleks, tergantung umur induk semang, kemungkinan
meliputi prenatal transmission (trans uterin), lactogenic transmission (colostral), direct
transmission dan bisa paratenic host transmission
1. Pada anjing umur beberapa minggu sampai menjelang 3 bulan umumnya terjadi
tracheal migration. Bila telur tertelan oleh anjing, telur akan menetas pada usus.
Kemudian larva stadium II menembus dinding usus melali pembuluh limfe,
akhirnya sampai ke liver, jantung, paru-paru, alveoli, brinkioli, sampai ke trakea,
kemudian tertelan dan sampai pada lambung. Larva stadium III terjadi di paru-
paru, trakea dan esofagus. Sedangkan larva stadium IV terjadi di usus halus,
selanjutnya menjadi larva stadium V dan stadium dewasa dicapai 3-4 minggu
setelah infeksi. Bila telur infektif ditelan oleh anjing jantan dari segala umur
perkembangan akan berlangsung seperti diatas.
2. Tipe siklus hidup lainnya yang sering te rjadi adalah somatic migration. Tipe ini
ditunjukkan ketika telur infektif T.canis tertelan oleh anjing betina dewasa. Disini
larva tidak kembali ke usus untuk menjadi dewasa melainkan tetap tinggal di otot
atau jaringan lain tanpa berkembang lebih lanjut sampai anjing betina bunting.
Bila anjing dewasa tersebut bunting, larva-larva tersebut migrasi ke uterus
kemudian masuk fetus, sehingga terjadi prenatal infection. Pada prenatal infection
setelah larva sampai pada liver fetus terjadi moulting menjadi larva stadium III,
kemudian moulting lagi menjadi larva stadium IV pada minggu pertama setelah
fetus lahir dan larva terdapat pada paru-paru dan lambung fetus. Pada minggu
kedua setelah lahir terjadi moulting menjadi larva stadium V dan cacing dewasa
ditemukan pada minggu ketiga setelah lahir.
3. Pada anjing bunting sebagian larva migrasi ke ambing dan keluar melalui air susu,
sehingga terjadi penularan pada anak anjing melalui air susu (colostral
infection/transmammary infection). Larva yang keluar bersama-sama kolostrum
akan berkembang langsung menjadi cacing dewasa pada usus anak anjing dalam
waktu seminggu setelah lahir.
4. Pada waktu menyusui induk anjing suka menjilat-jilat. Bila kebetulan cacing
belum dewasa keluar bersama tinja anak anjig lalu tejilat dan tertelan induknya
maka cacing tersebut langsung menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu.
5. Telur yang tertelan oleh induk semang paraternis,seperti tikus dan mencit, maka
larva akan tinggal di otot. Bila tikus tersebut termakan oleh anjing maka larva aka
langsung menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu, tanpa migrasi lagi.
6. Dalam induk semang paraternis beberapa larva menyelesaikan migrasi
trakhealnya dan kembali ke usus untuk dikeluarkan bersama tinja. Bila larva ini
tertelan oleh anjing maka menjadi dewasa dalam waktu 3 minggu tanpa migrasi
lagi. Larva dalam jaringan somatic tahan hidup lebih dari setahundan tidak
dimobilisir sekaligus dalam satu kali kebuntingan.
Spesies : Toxocara cati=Toxocara mystax
Habitat : usus halus kucing dan bangsa kucing liar
Morfologi :
Cervical alae sangat lebar dan bergaris
Panjang cacing jantan 3-6 cm dan cacing betina 4-10 cm
19
Siklus Hidup
Infeksi terjadi karena termakannya telur infektif (mengandung larva stadium II)
Dua hari pertama larva ditemukan pada dinding lambung, hari ketiga pada paru-
paru dan liver, hari kelima ditrakea, pada hari ke 10 sudahdi lambun kembali.
Sebagian larva tertinggal di paru-paru.
Larva stadium III terjadi pada dinding lambung, stadium IV pada lumen lambung,
dinding usus dan lumen usus. Selanjutnya menjadi cacing dewasa.
Larva stadium II juga dapat ditemukan pada otot tikus, cacing tanah, kecoak,
ayam, domba yang memakan telur infektif
Spesies : Toxocara vitulorum
Habitat : usus halus sapi, zebra dan kerbau
Morfologi :
Pajang cacing jantan sampai25 cm, diameter 5 mm
Panjang cacing betina 30 cm, diameter 6 mm
Kutikula tipis dan terlihat transparan
Terdapat 3 bibir
Siklus Hidup
Mirip denhan Toxocara canis . Terjadi somatic migration pada jaringan. Bisa
terjadi tracheal migration, prenatal migration dan lactogenic infection.
SUPERFAMILI OXYUROIDEA
FAMILI OXYURIDAE
Genus : Oxyuris
Spesies : Oxyuris equi=o.curvula=O.mastigodes
Habitat :usus besar
Induk semang : kuda
Siklus Hidup
Panjang cacing jantan antara 9-12 mm dan panjang cacing betina 150 mm
Cacing jantan mempunyai satu spikula yang menyerupai jarum, sedangkan pada
ekornya terdapat dua pasang papil yang besar dan beberapa papil kecil
Cacing betina muda berwarna putih tampak melengkung dan relatif pendek
ekornya
Pada cacing betina dewasa berwarna abu-abu sampai kecoklat-coklatan, ekor
sempit dan panjang 3x tubuh
Siklus Hidup
Caing betina dan jantan muda berhabitat di sekum dan colon crassum, setelah
fertilisasi cacing betina dewasa menuju rektum dan merangkak ke anus dengan
bagian anterior tubuh mengarah ke anus. Telur diletakkan dalam bentuk kluster
didaerah perineal.
Infeksi terjadi karena menelan telur infektif pada rumput, pakan dan
dikandanynya. Larva infekti terbebas dalam usus halus dan stadium III terbentuk
didalam kripta dari ukosa kolon bagian ventral dan sekum.
20
Larva stadim IV mempunyai bukal kapsul dan terbenam didalam mukosa.
Alat-alat sexnya masak pada stadium dewasa yang dicapai antara 4-5 bulan
setelah infeksi.
SUPERFAMILI SUBULUROIDEA
FAMILI: HETERAKIDAE
Genus : Hterakis
Spesies : Heterakis gallinarum=Heterakis papillosa=Heterakis vesicularis=Heterakis
gallinae
Habitat : sekum ayam kalkun, itik, angsa, dan sejumlah burung lainnya
Morfologi :
Terdapat lateral alae yang besar disamping tubuhnya yang meluas ke posterior
Esofagus bagian posterior membentuk bukbus
Ekor cacing jantan dilengkapi alae yang besar, menonjol dan sirkuler, terdapat
precloacal succer dan 12 pasang papillae
Spikula tidak sama, sebelah kanan langsing, sedangkan yang kiri mempunyai alae
yang lebar
Siklus Hidup :
Telur berkembang diluar tubuh dan mencapai stadium infektif
Apabila induk semang menelan telur infektif, telur akan menetas di intestin.
Dalam waktu 4 hari cacing muda berada dekat dengan sekum dan beberapa luka
terjadi di epithel glandula.
Setelah itu moulting menjadi larva stadium III, kemudian stadium IV sepuluh
hari sesudah infeksi, 15 hari sesudah infeksi menjadi stadium V.
Cacing tanah mungkin dapat bertindak sebagai vektor larva stadium II ditemukan
didalam tubuh cacing tanah, infeksi terjadi apabila unggas menelan cacing tanah
yang mengandung larva.
Genus : Ascaridia
Spesies : Ascaridia galli=Ascaridia lineata=Ascaridia perspicillum
Habitat : usus halus unggas, ayam belanda, angsa dan berbagai burung liar
Morfologi :
Terdapat 3 bibir besar dan esofagus tidak mempunyai posterior bulb
Ekor cacing jantan mempunyai alae kecil
Siklus Hidup
Telur berkembang di luar tubuh host dan mencapai stadium infektif kurang lebih
10 hari
Cacing tanah dapat memakan telur cacing kenudian cacing tanah termakan unggas
(transmitter mekanis).
Telur menetas dalam usus halus hospes, larva tinggal 8 hari dalam mukosa usus
halus, kemudian ke lumen dan mencapai dewasa.
21
ORDO RHABDITIDA
FAMILI STRONGYLOIDIDAE
Genus Strongyloides
Genus ini merupakan parasit pada hewan ternak
Bentuk parasitik ada yang mampu parthenogeneti dan telurnya bisa tumbuh di
luar induk semang,langsung menjadi larva yang infektif dari seagian generasi
parasit atau menjadi generasi hidup bebas baik jantan maupun betina
Esofagus pada free living generation berbentuk rhabditiformes
Esofagus dari parasitic generation tidak Rhabditiform tetapi berbentuk cylindrical,
tanpa posterior bulb, atau dengan perkataan lain filariformes
Larva infektif dari generasi parasitic dapat menembus langsung kulit induk
semang dan melalui aliran darah menuju paru-paru dari sana menuju trakea
menuju faring dan usus halus
Bentuk parasitic cacing dewasa ditandai dengan genital organ pada betina dan
esophagus relative panjang
Spesies : Strongyloides papillosus
Habitat : usus halus domba, kambing, sapi, kelinci dan ruminansia liar
Morfologi :
Telur mempunyai ujung yang tumpul dan berdinding tipis, sudah mengandung
larva yang telah berkembang sewaktu dikeluarkan bersama feses induk semang.
Spesies : Strongyloides westeri
Habitat : usus halus kuda, babi dan zebra
Spesies : Strongyloides stercorales
Habitat : usus halus anjing, manusia, srigala, kucing
Spesies : Strongyloides cati= S.planiceps
Habitat : usus halus kucing
Spesies : Strongyloides ransomi
Habitat : usus halus babi
Spesies : Strongyloides avium
Habitat : usus halus dan sekum ayam, kalkun dan beberapa burung liar
Siklus Hidup genus Strongyloides
Cacing betina yang parthenogenetic menyelipkan diri pada mukosa usus halus.
Larva stadium I dapat berkembang langsung menjadi larva stadium III yang
infektif (Homogonic cycle) atau mereka berkembang menjadi bentuk free living
jantan dan betina, kemudian menghasilkan larva infektif (Heterogonic cycle).
Pada siklus heterogonic, larva stadium I cepat sekali berubah dalam waktu 48 jam
menjadi free living jantan dan free liing betina dewasa kelamin. Diikuti dengan
kopulasi maka free living betina memproduksi telur yang akan menetas dalam
beberapa jam dan larva mengalami perkembangan menjadi larva infektif.
22
Pada homogenic cycle, larva stadium I dengan cepat mengalami perkembangan
menjadi larva infektif. Infeksi pada vertebrata dengan jalan menembus kulit dan
juga bias terjadi secara per oral.
Siklus hidup ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Siklus hidup yang bebas (free living). Pada siklus hidup ini sesudah larva
keluar dari telur mula-ula larva tidak infektif, yaitu berbentuk
Rhabditiform larva, yang akan berkembang menjadi cacing jantan dan
cacing betina
2. Siklus hidup yang parasitic (parasitic life cycle). Pada siklus ini sebagian
dari larva yang tidak infektif berkembang menjadi larva infektif yang
disebut filarifom larva, dimana filariform ini akan menginfeksi induk
semang baru dan akan terbentuk cacing jantan dan betina. Pada siklus
hidup parasitic, larva akan mengalami lung igrationterutama jika
filariformis larva menginfeksi inangnya dengan jalan menembus kulit.
ORDO STRONGYLIDA
SUPERFAMILI : STRONGYLOIDEA
Cacing ini mempunyai mulut yang terbuka dan terdapat corona radiate (leaf
crown)
Gigi atau alat pemotong lain melengkapi buccal cavity yang kecil
Cacing jantan mempunyai Bursa copulatrix dibagian ujung posterior yang
berfungsi sebagai pembantu kopulasi. Bursa terdiri dari 3 lobus, yaitu : 1 lobus
dorsal dan 2 lobus lateral. Diperkuat dengan adanya jari-jari atau bursal rays. Jari-
jari mengandung serabut otot (muscle fiber). Pada akhir ekor cacing ini terdapat
semacam bentukan dalam bursa disebut genital core, biasanya terdapat 2 spikula
yang sama besar dan dilengkapi sebuah gubernakulun (otot-otot)
FAMILI STRONGYLOIDAE
Genus : Strongylus
Species : S. Equinus
Habitat : sekum dan kolon bangsa kuda dan zebra
Morfologi :
Cacing ini kaku dan berwarn aabu-abu gelap, kadang tampak garis merah karena
ada darah dalam ususnya
Buccal capsul bulat lonjong dan terdapat eksternal dan internal leaf crown
Pada dasar atau basic buccal capsul terdapat gigi dorsal yang besar bercabang di
bagian ujungnya dan 2 gigi kecil subventral
Dibagian dorsal esofagus banyak kelenjar-kelenjar (esofagus gland)
Cacing jantan mempunyai 2 spikula sederhana berbentuk silinder
Spesies : Strongylus edentatus
Habitat : usus besar da kolon bangsa kuda
Morfologi :
Mirip dengan S.equinus secara makroskopis, tetapi kepalanya lebih lebar
dibanding bagian tubuh lainnya
23
Bukal kapsul lebih lebar dibagian anterior dibanding bagian tengah dan tidak
terdapat gigi
Spesies : Strongylus vulgaris
Habitat : usus besar bangsa kuda
Morfologi :
Hampir menyerupai S.edentatus dan S.equinus
Bukal kapsul berbentuk oval dan terdapat dua gigi dorsal dibagian basis/dasar
yang berbentuk kuping (ear shaped dorsal teeth)
External leaf crowns menyerupai rumbai-rumbai dibagian distal
Siklus Hidup S. equines
Larva infektif menembus mukosa sekum dan kolon dan masuk sampai subserosa
menyebabkan bentukan seperti nodul.
Sebelas hari setelah infeksi larva stadium IV, terdapat didalam nodul dan migrasi
ke rongga peritoneum, selanjutnya menuju hati dan moulting menjadi larva
stadium V dan mulai membentuk bukal kapsul.
Dari hati kembali ke usus besar, didalam lumen kolon larva berkembang menjadi
cacing dewasa dan memproduksi telur.
Siklus hidup S.edentatus
Larva infektif masuk dinding usus melalui vena porta menuju kehati. Didalam
hati membentuk larva stadium IV. Larva stadum IV dan V dijumpai disini dan
bercampur dengan berbagai ukuran nodul hemoragi.
Larva bermigrasi diantara lapisan mesokolon ke dindig sekum dan kolon, disini
juga menimbulkan nodul hemoragi.
Cacing muda migrasi menuju lumen da menjadi dewasa kelamin
Siklus Hidup S.vulgaris
Larva menyebabkan lesi pada arteri dan beberapa kasus, alrvanya tedapat
dibagiananterior sistem srteri yaitu aorta.
Larva infektif mengadakan penetrasi kedalam dinding usus, 8 harisetelah infeksi
terbentuk larva stadium IV penetrasi kedalam intima arteriola, sub mukosa dan
migrasi melalui vena menuju a mesenterica cranialis dan membentuk thrombi
yang disebut aneurysma.
Larva stadium IV migrasi kembali melalui sistem arteri menuju sub mukosa kolon
dan sekum, disini terbentuk larva stadium V. Kemudian larva menuju lumen usus
dan menjadi cacing dewasa.
FAMILI TRICHONEMATIDAE
Genus : Chabertia
Spesies : C. Ovina
Habitat : kolon domba, kambing, sapi dan ruminansia lain
Morfologi :
Ujung anterior melengkung kebagian ventral
Bukal kapsulnya besar terbuka antero ventral
24
Mulut diklilingi 2 baris kutikula kecil-kecil seperti leaf crown
Bursa kopulatrik sempurna dan mempunyai gubernakulum
Siklus Hidup
Infeksi terjadi secara peroral, melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi larva infektif. Selaput larva infektif mempunyai ujungekor yang
pajang.
Larva menyusup kedalam mukosa kolon bagian atas . 6 hari kemudian larva
mempunyai bukal kapsul. Pada hari ke 80 larva sudah bisa dibedakan antara
jantan dan betina, bukal kapsul yang permanen sudah terbentuk, juga kedua alat
sexnya. Kemudian larva berkembang menjadi larva stadium 4 dan kemudian
menjadi cacing dewasa.
Genus : Oesophagostomum
Spesies : O.columbianum
Disebut juga nodular worm
Habitat : kolon
Induk semang : kambing, domba dan bangsa kijang liar
Morfologi :
Mempunyai cervical alae yang lebar, mempunyai external leaf crown kurang
lebih 20 elemen dan internal leaf crown kurang lebih 40 elemen. Di ujung anterior
terdapat cervical grove yang melebar bagian ventral sampai lateral. Dibelakang
cervical groove terdapat cervical papillae yang merupakan tanda khas dari spesies
ini
Bursa kopulatrik cacing jantan tumbuh sempurna, mempunyai 2 spikula
Ekor cacing betina meruncing
Siklus Hidup :
Telur dikeluarkan bersama feses mencapai stadium infektif 6-7 hari.
Setelah larva termakan induk semang akan menembus dinding usus bagian
muskularis dan membentuk kista, disini larva mencapai stadium 3, 5 hari
kemudian menjadi larva stadium 4 dan kembali ke lumen usus menuju kolon dan
berkembang menjadi cacing dewasa.
Spesies : O. venulosum
Habitat : kolon domba, kambing, rusa dan unta.
Morfologi :
Tidak mempunyai lateral cervical alae, bagian posteriornya tidak melengkung.
Cervicalpapillae terletak dibelakang esophagus.
Eksternal leaf crown terdapat 18 elemen dan internal leaf crown 36 elemen
Spesies : O radiatum
Habitat : kolon sapi
Morfologi :
Mulut berbentuk bulat
Eksterbal leaf crown tidak ada
25
Internal leaf crown 38-41 elemen
Spesies : O. Dentatum
Induk semang : babi
Morfologi :
Cephalic vesikelnya menonjol tetapi cervical alae tidak ada
Spesies lain pada babi : O. longicaudum, O. Brevicaudum dan O.georgianum
FAMILI : STEPHANURIDAE
Genus : Stephanurus
Spesies : S.dentatus
Merupakan kidney worm pada babi
Habitat : jaringan perirenal, pelvis renalis, dinding ureter dan kadang-kadang mencapai
organ dalam torak dan bahkan sampai spinal cord
Morfologi :
Bursa kopulatrik cacing jantan kecil terdapat 2 spikula.
Bukal kapsul berbentuk seperti cangkir dengan dinding tebal yang berisi 6 gigi
pada dasarnya, dipinggirnya terdapat leaf crown dengan elemen kecil dan 6
eksternal kutikula yang tebal
Vulva tertutup anus
Siklus Hidup
Cacing dewasa saat akan bertelur berada pada suatu kista yang berhubungan
dengan ureter, sehingga telur dukeluarkan dalam urin induk semang.
Cacing tanah dapat menjadi transmitter. Larva infektif bergerak bergerombol di
dalam tubuh cacing tanah.
Selubung larva infektif segera mengelupas setelah infeksi terjadi, baik dalam
dinding perut setelah infeksi lewat mulut atau didalam kulit dan otot perut stelah
infeksi lewat kulit.
Pada infeksi lewat mulut mencapai hati, pada infeksi melalui kulit menuju paru-
paru kemudian menuju hati. Kemudian dari hati menuju rongga peritoneu
kemudian ke perirenal tissue membentuk kista dan menjadi cacing dewasa.
Cacing dewasa menembus ureter dan bertelur.
FAMILI SYNGAMIDAE
Genus : Syngamus
Spesies : S. Trachea
Ccaing ini disebut Gip worm
Habitat : trakea
Induk semang : kalkun, ayam.
Morfologi :
Cacing ini berwarna merah terang dalam keadaan segar dan selalu dalam keadaan
kopulasi.
Mulut terbuka luas tanpa leaf crowns
Bukal kapsulnya berbentuk seperti cangkir/piala dan terdapat 6 atau 10 gigi kecil
didasarnya.
26
Bursa kopulatrik pendek dengan rays yang kuat.
Siklus Hidup
Telur biasanya dibatukkan oleh inang dan ditelan serta dikeluarka oleh feses.
Infeksi terjadi per oral. Larva infektif termakan oleh cacing tanah, snail, flies dan
arthropoda lain kemudian menjadi kista
Cacing tanah, snail dan flies termakan bangsa burung/unggas yang merupakan
inang definitif.
FAMILI ANCYLOSTOMATIDAE
SUB FAMILI ANCYLOSTOMINE
SUB FAMILI NECATORINAE
Ciri-ciri :
Tepi ventral bukal kapsul, gigi dan cutting plates tidak ada pada globocephalus
Bagian dalam bukal terdapat gigi subventral
Gigi dorsal tidak ada, tetapi gigi sub dorsal (lateral), kadang-kadang terdapat gigi
kecil
Yang termasuk sub famili ini :
Genus Necator
Genus Bunostomum
Genus Globocephalus
Genus Uncinaria
Genus Gaigeria
SUB FAMILI ANCYLOSTOMINAE
Genus : Ancylostoma
Spesies : A. Caninum
Habitat : usus halus anjing, srigala, kucing, manusia
Morfologi :
Cacing ini tampak kaku dan berwarna abu-abu atau keerahan karena usus berisi
darah dari induk semang
Oral apertura membuka ke arah antero dorsal dan dilengkapi dengan bagian
ventral 3 buah gigi pada tiap sisi
Bukal kapsul terletak dalam. Pada dasar bukal kapsul terdapat sepasang gigi
dorsal yang berbentuk segitiga dan sepasang gigi ventrolateral
Tidak terdapat dorsal cone
Bursa kopulatrik mempunyai 2 spikula
Spesies : A. Tubaeforme
Habitat : usus halus kucing
Morfologi :
Bukal kapsul mirip A.caninum tetapi gigi pada tepi ventral sedikit lebih besar
Spikula lebih besar daripada A.caninum
27
Spesies : A.braziliense=A.ceylanicum
Habitat : usus halus anjing, kucing, srigala, manusia
Morfologi :
Ukuran sedikit lebih kecil dari A.caninum
Siklus Hidup Ancylostoma spp
Masuk kedalam tubuh induk semang melalui kulit atau peroral, kemudian larva
mencari pembuluh darah dan mengikuti aliran darah melalui jantung menuju
paru-paru menju alveoli lalu laring, faring kemudian dibatukkan dan kembali ke
usus halus.
Beerapa larva yang dapat melalui kapiler paru mencapai peredaran darah sistemik
menuju bermacam-macam organ yang menyebabkan perdarahan kecil-kecil dan
kemudian mati atau pada hewan bunting dapat mencapai fetus (prenatal
infection). Pada anak anjing, larva diam tidak berkembang sampai lahir dan
berkembang sampai stadium dewasa.
Genus: Necator
Spesies : N.americanus
Cacing ini merupakan hook worm pada manusia kadang-kadang pada anjing dan
babi.
Genus : Bunostomum=Monodontus
Spesies : B.trigonocephalum
Habitat : usus halus (ileum dan jejunum)
Induk semang : domba, kambing, sapi
Morfologi :
Bukal kapsul elatif besar dan dilengkapi pada tepi vetral sepasang chitine plate
(sepasang lempengan chitin) didekatnya terdapat sepasang lanset kecil (sub
vental)
Dorsal gutter membawa kelenjar oesophageal dan berakhir pada dorsal cone yang
besar yang mengarah pada buccal cavity
Pada buccal capsule tidak terdapat gigi dorsal
Jari-jari (rays) eksterno dorsal kanan muncul lebih tinggi pada tangkai jari dorsal
yang terbagi dalam 2 cabang dan lebih panjang daripada jari-jari eksterno dorsal
kiri
Spikula gemuk
Siklus Hidup
Infeksi pada hospes terjadi secara per oral atau melalui penetrasi kulit. Dengan
kedua cara tersebut larva mengadakan lung migration.
Didalam jaringan paru-paru terjadi moulting menjadi stadium 3.
Larva stadium 4 mempuntai bukal kapsul mencapai intestin dan tumbuh menjadi
cacing dewasa.
28
Spesies : B. Phlebotomum
Habitat : usus halus (duodenum) sapi, zebra, domba
Genus : Gaigeria
Spesies : G. pachyscelis
Habitat dan hospes : duodenum kambing dan domba
Morologi :
Mirip dengan Bunostomum sp, tetapi tidak mempunyai gigi dorsal\
Anterolateral rays pendek dan tumpul terpisah sama sekali dengan lateral rays
Siklus Hidup
Penularan terjadi hanya melalui kulit, selanjutnya larva mencapai paru-paru, larva
stadium 4 mempunyai bukal kapsul dengan dorsal cone dan sepasang lanset subventral
selanjutnya migrasi ke bronki, trakea, faring lalu ditelan mencapai intestin dan
berkembang menjadi cacing dewasa.
FAMILI TRICHOSTRONGYLIDAE
Genus : Trichostrongylus
Morfologi :
Berukuran kecil, langsing, berwarna coklat kemerahan
Tidak mempunyai bukal kapsul
Bursa kopulatrik mempunyai lateral rays yang panjang, sedangkan dorsal rays
tidak begitu nyata, entro lateral rays leih kecil daripada ventral rays
Spikula kokoh, kaku dan berwarna coklat
Mempunyai gubernakulum
Uterusnya bercabang (amphidelp)
Spesies : T. Colubriformis=T.instabilis
Habitat : bagian atas usus halus dan kadang-kadang pada abomasum
Induk semang : domba, kambing, sapi, unta, kelinci, babi dan manusia
Spesies : T.falculatus
Habitat : usus halus
Induk semang : kambing, domba dan rusa
Spesies : T.vitrinus
Habitat : usus halus
Induk semang : kambing, domba, unta, kelinci dan manusia
Spesies : T.capricola
Habitat : usus halus
Induk semang : kambing dan domba
Spesies : T probolurus
Habitat : usus halus
Induk semang : domba, unta, manusia
29
Spesies : T.axei=T.extenuatus
Habitat : abomasum
Induk semang : kambing, domba, sapi, menjangan, babi, kuda, keledai dan manusia
Spesies : T.rugatus
Habitat : usus halus kambing, domba
Spesies : T. longispicularis
Habitat : usus halus kambing, domba, sapi
Siklus Hidup Trichostrongylus spp
Telur dikeluarkan bersama feses induk semang kemudian berkembang menjadi
larva stadium 1 dan akan menjadi larva infektif, larva-larvanya berada di rumput
pada awal pagi dan awal petang.
Larva infektif yang termakan hospes mengalamai eksidid kedua secara lengkap
siklus parasitic dimulai
Genus : Cooperia
Habitat : pada usus halus dan kadang-kadang di dalam abomasums dari ruminansia
Spesies : C. curticei
Induk semang : domba dan kambing
Spesies : C.pectinata
Induk semang : sapi dan domba
Spesies : C. Oncophora
Induk semang : sapi, domba, kadang-kadang kuda
Siklus Hidup
Secara umum menyerupai siklus hidup Trichostrongylus. Infeksi terjadi secara per
oral. Larva yang infektif mempunyai bintik pada ekor dan dikelilingi oleh selubung
Genus : Nematodirus
Ciri-ciri
Spesies dari genus ini termasuk cacing berukuran pajang dan bagian posterior
berbentuk langsing
Mempunyai kutikula yang rata dan terdapat 14-18 garis-garis longitudinal pada
lapisan kutikulanya
Bagian anterior tubuh lebih tipis daripada posterior tubuh
Spikula langsing, panjang dan ujungnya bertemu menjadi satu
Ekor cacing betina spesifik pendek dan menyempit dengan ujung terdapat
penonjolan seperti jarum
30
Spesies : N. Spathiger
Habitat : usus halus domba, sapi dan ruminansia lain
Siklus Hidup
Telur berkembang diluar tubuh induk semang, larva menetas hanya bila tercapai
stadium infektif yang mengalami 2x ekdisis.
Infeksi terjadi secara per oral dan menjadi cacing dewasa di dalam usus halus 3
minggu setelah infeksi.
Spesies : N. Battus
Habitat : usus halus domba
Spesies : N. filicollis
Habitat : usus halus kambing, domba dan rusa
Genus : Haemonchus
Spesies : H.contortus
Spesies ini disebut Stomach worm atau Wire worm dari ruminansia yang paling ganas
Habitat : abomasums kambing, domba, sapid an ruminansia lain
Morfologi :
Cacing jantan berwarna merah, sedang cacing betina berwarna belang merah
putih dimana warna tersebut dihasilkan oleh selang-seling antara ovari berwarna
putih dan usus berwarna merah karena menghisap darah induk semangnya
Kutikulanya ada yang transversal dan beberapa longitudinal
Cervical papil menonjol seperti spina
Buccal cavity kecil dan terdapat dorsal lancet
Spesies : H. placei
Disebut Haemonchus sapi karena menyerang sapi
Spesies : H.similis
Menyerang sapi dan rusa
Spesies : H.longistipes
Habitat : abomasum
Siklus Hidup
Siklus hidupnya menyerupai Trichostrongylus, telur akan keluar bersama feses
dan akan menjadi larva infektif di alam
Infeksi terjadi per oral ketika merumput dan akan menjadi cacing dewasa dalam
waktu 18 hari di lambung
Genus : Mecisticirrus
Spesies : M.digitatus
Habitat : abomasum domba, sapi, zebra, kerbau dan lambung babi
Siklus Hidup
31
Telur keluar bersama feses, menetas dan berkembang menjadi larva infektif
Infeksi terjadi pada saat induk semang merumput yang terkontaminasi larva
infektif.
Cacing ini cukup pathogen pada kerbau, sapi dan kambing dan mempunyai efek
seperti H.contortus
FAMILI DICTYOCAULIDAE
Genus : Dictyocaulus
Spesies : D.filaria
Habitat : bronki kambing, domba dan ruminasia lain
Morfologi :
Cacing dewasa mempunyai warna putih susu, saluran pencernaan gelap sehingga
terlihat dari luar
Buccal capsul dilengkapi 4 bibir, tidak terdapat papil di bagian anterior dan
posterior
Siklus Hidup
Telur akan menetas didalam paru-paru tetapi biasanya dibatukkan dan ditelan
kembali dan larva stadium 1 menetas ketika melalui saluran pencernaan.
Beberapa telur mungkin dapat dikeluarkan melalui sekreta hidung atau bersama
sputum.
Larva stadium 1 dikeluarkan bersama feses, mudah dikenali karena adanya
bonggol kutikula yang kecil pada ujung anterior, dan terdapat sejumlah granule
makanan berwarna kecoklatan pada sel-sel intestin. Stadium bebas ini tidak
makan , tetapi tetap hidup karena persediaan granula-granula makanan.
Setelah stadium 2 larva berubah menjadi stadium 3 yang merupakan stadium
infektif, infeksi disebabkan karena tertelannya larva stadium 3 yang merupakan
larva infektif oleh hospes, setelah itu larva penetrasi ke dinding usus kemudian
bermigrasi melalui saluran limfe.
Pada larva stadium 4, jantan dan betina dapat dibedakan, kemudian larva menuju
paru-paru melalui aliran darah dan tertahan dalam kapiler paru-paru.
Perkembangan menjadi dewasa terjadi dalam bronki.
Spesies : D. Viviparus
Habitat : bronki sapi, rusa, kerbau dan unta
FAMILI METASTRONGYLIDAE
Genus : Metastrongylus
Spesies : M. apri
Habitat : bronki dan bronkioli babi, babi hutan, kambing, rusa dan ruminansia lain
Morfologi :
Cacing dewasa berwarna putih dan mempunyai bibir kecil mengelilingi bagian
mulutnya.
Bursa kopulatrik relatif kecil dan spikula berbentuk filiformis
32
Spesies : M.pudendotectus
Habitat : bronki dan bronkioli babi dan beruang
Spesies : M.salmi
Habitat : bronki dan bronkioli babi dan ruminansia
Siklus Hidup
Telur yang berisi penuh dengan larva stadium 1 akan menetas setelah keluar
bersama dengan feses atau setelah termakan oleh inang perantara yaitu beberapa
jenis cacing tanah.
Pada cacing tanah larva mengalami perkembangan dalam esofagus,
proventrikulus dan ventrikulus dan usus, selanjutnya larva masuk aliran darah dan
berkumpul dalam jantung, stadium infektif terdapat dalam pembuluh darah cacing
tanah.
Inang definitif terinfeksi karena memakan cacing tanah yang mengandug larva
infektif.
ORDO SPIRURIDA
SUPER FAMILI SPIRUROIDEA
FAMILI SPIRURIDAE
Genus : Habronema
Spesies : H. Muscae
Habitat dan host : lambung kuda
Morfologi :
Terdapat 2 bibir lateral masing-masing 3 lobi
Cacing jantan mempunyai caudal alae, 4 pasang prekloaka papillae dibelakang
kloaka
Spesies : H.microstoma
Habitat : lambung bangsa kuda
Spesies : H.megastoma
Habitat dan host : terdapat dalam nodule pada dinding lambung kadang-kadang bebas
dalam lambung bangsa kuda
Siklus Hidup
Larva/telur dikeluarkan bersama feses dan dimakan oleh larva lalat yang
berkembang pada feses, cacing mencapai stadium infektif pada larva lalat
Pada lalat dewasa larva bebas pada haemocoele dan menuju proboscis. Larva
diletakkan pada bibir, lubang hidung dan pada luka dari kuda pada waktu lalat
makan. Yang sering terjadi ialah lalat yang mengandung larva cacing termakan
bersama ransom/air. Larva dibebaskan didalam lambung kemudian tumbuh
menjadi dewasa.
FAMILI THELAZIIDAE
Genus : Thelazia
33
Spesies : T.rhodesii
Ditemukan pada sapi, kambing, domba, kerbau
Morfologi:
Warna putih susu
Kutikula terdiri garis-garis transversal prominent
Spesies : T.callipaeda
Habitat : dibawah membrana nictitans anjing dan pernah dilaporkan pada kelinci dan
manusia
Siklus Hidup
Larva stadium 1 didalam usus lalat yang berasal dari sekresi mata inang definitif
kemudian mengadakan penetrasi pada folikel ovari lalat, selanjutnya berkembang
menjadi larva stadium 2 dan kemudian berkembang menjadi larva stadium 3.
Larva stadium 3 meninggalkan folikel ovari dan migrasi ke mulut lalat, kemudian
dapat dipindahkan ke sapi.
Spesies : Oxyspirura mansoni\
Habitat : membrana nictitans ayam dan kalkun
Morfologi :
Kutikula halus dan faring bentuknya seperti jam pasir
Siklus Hidup
Telur melalui ductus lacrimalis akan dikeluarkan keluar bersama feses. Inang
perantara lipas. Unggas terinfeksi karena memakan lipas yang terinfeksi
Larva terlepas dari inang antara setelah termakan, kemudian merangkak ke atas
yaitu esofagus, faring dan ductus lacrimalis menuju ke mata. Biasanya larva
terlihat 20 menit setelah lipas termakan oleh unggas
Spesies : Oxyspirura parvorum
Ditemukan pada unggas di Australia
Genus : Gongylonema
Spesies : Gongylonema pulchrum
Host : domba, kambing, sapi, babi, zebu, kerbau, kuda, onta, keledai, babi hutan
Habitat : esofagus baik bagian mukosa atau submukosa, cacing terbenam dengan
membentuk pola zik-zak. Pada ruminansia kadang ditemukan juga di rumen,
Siklus Hidup
Inang perantara adalah kumbang tinja, kecoak (Blatella germanica) dapat juga
terinfeksi oleh cacing ini secara eksperimen
Host definitive terinfeksi bila memakan inang peratara yang mengadung larva
infektif. Pada kecoak larva infektif dapat keluar secara spontan yang akan jatuh ke
air.
Spesies : Gongylonema ingluvicola dan G.crami
Habitat : tembolok ayam
34
FAMILI : ACUARIIDAE
Genus : Cheilospirura
Spesies : C.hamulosa=Acuaria hamulosa
Habitat : gizzard unggas dan kalkun
Morfologi :
Dua cordonnya menjulur hampir sepanjang tubuh dan garis luar tidak teratur
Cacing jantan mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil.
Spikula kiri lebih langsing dan spikula kanan pipih
Siklus Hidup
Telur keluar bersama feses inang definitif dan menetas setelah tertelan inang
perantara (belalang, kumbang, bangsa rayap). Larva infektif berkembang pada inang
perantara dan inang definitif terinfeksi karena memakan sejenis insect tersebut.
Genus : Dispharynx
Spesies : D.spiralis = Acuaria spiralis
Habitat dan hospes : dinding proventrikulus, esofagus kadang-kadang pada usus unggas,
kalkun, burung merpati, burung mutiara dan bangsa burung lain
Morfologi :
Cordon mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil
Cacing jantan mempunyai 4 pasang pre kloaka dan 6 pasang post kloaka papil
Spikula kiri gemuk dan spikula kanan berbentuk seperti perahu
Siklus Hidup
Telur menetas setelah tertelan inang perantara, isopod. Larva berkembang pada
rongga tubuh isopod kemudian termakan oleh burung dan berkembang menjadi dewasa.
Genus : Echinuria
Spesies : Echinuria uncinata =Acuaria uncinata
Habitat : esofagus, proventrikulus, gizzard dan usus halus
Induk semang : itik, angsa dan bangsa burung liar
Morfologi :
Cordon tidak berbalik dan beranastomose dan kutikula dilengkapi 4 deret
longitudinal duri
Siklus Hidup
Telur dikeluarkan bersama feses dan tertelan pleh water fleas, kemudian menetas
dan berkembang menjadi larva infektif. Burung terinfeksi karena memakan inang
perantara, kemudian larva berkembang menjadi dewasa.
FAMILI TETRAMERIDAE
Genus : Tetrameres
Spesies : Tetrameres americana
Habitat dan hospes : proventrikulus ayam, kalkun
Morfologi “
Cacing betina berbentuk agak bulat (subspherical) dan mempunyai 4 lekukan
yang dalam di bagian garis longitudinal, sedangkan bagian anterior dan
posteriornya menonjol sebagai bagian yang lancip
35
Siklus Hidup
Telur dikeluarkan bersama feses, akan menetas bila tertelan oleh inang antara
yang sesuai berupa serangga Othoptera seperti Melanoplus femurrubrum, M.
Differentialis dan Blatella germanica. Infeksi pada hospes dapat terjadi bila
memakan inang antara yang mengandung larva infektif T.americana.
Cacing jantan dan betina migrasi menuju kelenjar provetrikulus untuk
berkopulasi, kemudian cacing jantan meninggalkan kelenjar dan mati.
Spesies lainnya yaitu :
T.fissispina
Habitat :proventrikulus bebek, ayam, kalkun dan burung liar
Inang antara : krustasea air
T.crami
Habitat :provetrikulus bebek
Inang antara : amphipods
T.mohtedai
Habitat :proventrikulus ayam
Inang antara : kecoak, belalang dan moth (kupu malam)
SUPERFAMILI FILARIOIDEA
FAMILI FILARIIDAE
Genus : Dirofilaria
Spesies : D. Immitis
Habitat : ventrikel kanan, arteri pulmonalis dan organ lain
Induk semang : anjing, kucing dan srigala
Inang perantara : nyamuk dari genus Culex, aedes, anopheles dan Myzorhynchus
Morfologi :
Ujung posterior cacing jantan berupa coil spiral dan ekor terdapat lateral alae
Cacing ini gemuk dan berwarna putih
Mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah setiap waktu, tatapi tendensi
periodicity
Mikrofilaria terlihat bermacam-macam pada negara yang berbeda, tetapi
prinsipnya pada sore hari mikrofilaria dijumpai dalam jumlah maksimum dan
minimum ditemukan pada pagi hari
Siklus Hidup
Cacing betina menghasilkan mikrofilaria, mikrofilaria dapat ditemukan dengan
mudah dalam darah perifer di malam hari, siang hari sulit
Dalam 24 jam pertama mikrofilaria tinggal dalam lambung nyamuk, 24 jam
berikutnya migrasi keseluruh malphigi. Pada hari ke 9-10 larva memakan sel
saluran malphigi serta masuk ke rongga badan. Selanjutnya migrasi ke daerah
dada dan kepala kemudian masuk labium. Mikrofilaria mencapai stadium infektif
dalam labium.
Infeksi berlangsung pada waktu nyamuk yang mengandung mikrofilaria
menghisap darah anjing. Selama 3-4 bulan mikrofilaria mengembara dalam darah
36
anjing kemudian menetap dalam ventrikel kanan. Dua bulan berikutnya dicapai
tahap dewasa dan menghasilkan mikrofilaria.
Parasit ini dipindahkan oleh lalat semak Stomoxys calcitrans tetapi kadang-
kadang oleh nyamuk Culicine
FAMILI SETARIIDAE
Genus : Stephanofilaria
Spesies : S.dedoesi
Habitat dan hospes : kulit sapi
Morfologi :
Oral apertura dikelilingi oleh protruding cuticular rim yang tepinya melengkung
Dekat bagian anterior terdapat penebalan sirkuler yang dilengkapi dengan duri-
duri kecil sirkuler
Spikula unequal
Cacing betina tidak mempunyai anus
Spesies-spesies lain :
S.stilesi, penyebab luka-luka yang besar pada kulit samping bawah dari abdomen
sapi
S.kaeli, penyebab luka-luka pada kaki dari sapi
S.assamensis, penyebab hump sore dermatitis konis pada sapi
S.okinawaensis, terdapat pada sapi di Jepang, penyebab luka-luka pada mulut dan
puting susu
S.zaheeri, terdapat pada kerbau, menyebabkan luka-luka pada telinga
Siklus Hidup
Lalat menghisap mikrofilaria pada luka yang disebabkan oleh Stephanofilaria,
kemudian berkembang menjadi infektif dan berada di probosis lalat. Mikrofilaria infektif
akan menginfeksi induk semang bila lalat menghisap darah induk semang.
SUPER FAMILI TRICHUROIDEA
FAMILI TRICHURIDAE
Genus : Trichuris
Ciri-ciri:
Cacing ini disebut whip worm (cacing cambuk), karena bagian anterior tubuh
panjang dan ramping, sedang bagian posterior gemuk.
Bagian posterior cacing jantan melingkar, terdapat satu spikula yang dikelilingi
oleh selubung yang protusible dan dilengkapi dengan duri-duri kutikuler yang
bagus
Spesies : T.ovis
Habitat dan hospes : sekum domba, kambing, sapi
Spesies : T. Globulosa
Habitat dan hospes : sekum rusa, domba, kambing, sapi
Spesies : T. Vulpis
Habitat dan hospes : sekum dan usus halus anjing dan srigala
37
Spesies : T.suis
Habitat dan hospes : sekum babi, babi liar dan babi hutan
Siklus Hidup
Induk semang terinfeksi karena memakan telur yang mengadung larva infektif
kemudia larva menuju sekum, tinggal dalam kelenjar Lieberkuhn, selanjutnya ke lumen
sekum dan akan tumbuh menjadi cacing dewasa
FAMILI CAPILLARIIDAE
Genus : Capillaria
Spesies : Capillaria caudinflata=c.caudinflatum=c.longicollis
Habitat : usus halus uggas, burung merpati
Siklus hidup
Indirect. Telur termakan cacing tanah, burung terinfeksi karena memakan cacing
tanah tersebut. Larva infektif dicapai dalam waktu 14-21 hari dalam cacing tanah
Spesies : Capillaria obsignata dan capillaria columbae
Habitat dan host : usus halus ayam, burung merpati, kalkun dan beberapa burung liar
Spesies : C.anatis, C.retusa, C.collaris, C.anseris, C.mergi
Habitat dan host : sekum unggas, burung, itik
Spesies : C.annulata
Habitat : crop dan esofagus ayam, kalkun dan bangsa burung
Spesies : C.contorta
Habitat : crop, esofagus, mulut dari kalkun, angsa
Spesies : C.entomelas
Habitat : usus halus musang, kuskus. Menyebabkan haemorrhagic enteritis terutama pada
musang
Spesies : C.fellis cati
Habitat : vesica urinaria kucing
Spesies : C.mucronata
Habitat : vesica urinaria musang
Spesies: C. Cutanea
Habitat : cacing ini menyebabkan nodule subcutaneus, oedema, lepuh pada kera.
Menyebabkan cutaneus creeping eruption pada jari dan pergelangan kaki.
Spesies : C.hepatica\
Habitat : liver bangsa tikus
Spesies : C.bovis=C.longipes
Habitat : usus halus sapi, domba dan kambing
38
Spessies : C.aerophila
Habitat : pada trakhea, bronkhi, cavum nasal dan sinus frontalis anjing, srigala da rubah
FILUM ACANTHOCEPHALA
Cacing ini disebut sebagai Thorny headed worm (cacing kepala berduri)
Morfologi :
Tubuhnys silindris, terbungkus segmen (kulit) yang terdiri lima lapisan dan
permukaannya yang bersifat absorptive cukup luas, mempunyai 20-62 lipatan
Tidak mempunyai saluran pencernaan, makanan diabsorbsi melalui dinding tubuh
Bagian anterior terdapat evaginable proboscis (proboscis yang bersifat retractile/
bias ditarik masuk)
Dekat kantong proboscis terdapat organ yang berupa rongga memanjang disebut
Lemnisci, yang berhubungan dengan proboscis dan kemungkinan mensekresi
cairan proboscis.
System ekskretori tidak ada atau hanya berupa sepasang nephridia yang
mengalirkan ekskret kedalam saluran genital
Jenis kelamin sudah terpisah terdiri cacing jantan dan betina
Telur berisi acathor larva
Telur dilengkapi anterior circlet (hooks=duri)
Telur mempunyai 3 atau 4 lapis kulit
Siklus Hidup
Indirect, inang perantaranya biasanya arthropoda. Untuk acanthocephala yang
parasitic pada hewan darat dan burung, inang perantaranya biasanya larva insect,
kumbang, kecoa atau lipas.Yang parasitic pada vertebrata air, inang perantaranya
crustacean atau molusca.
Telur akan menetas dan menghasilkan larva acanthor didalam tubuh inang
perantara, kemudian membentuk kista disebut cystacanth didalam haemocoel
arthropoda.
Cystacanth kemudian berkembang menjadi stadium inektif. Host definitive
tertular apabila menelan arthropoda yang terinfeksi.
Cystachant mungkin membentuk kista kembali dalam vertebrata yang lain dan
induk semang tertular dengan jalan menelan/memakan vertebrata tersebut. Cacing
dewasa banyak ditemukan terutama pada vertebrata yang hidupnya di air, ikan
dan burung-burung.
39
PROTOZOOLOGI
Adalah ilmu yang mempelajari mengenai protozoa. Protozoa mrupakan hewan bersel satu
, pertama kali ditemukan oleh Antony van Leewenhoek (1632-1723)
Protozoa termasuk eukariotik, dimana inti mempunyai membrane atau selaput yang
memisahkan dari sitoplasmanya. Hal ini berbeda dengan prokariotik (bakteri) dimana
intibakteri tidak terpisah dari sitoplasmanya.
Inti protozoa dibedakan atas 2 tipe utama
1. Inti vesikuler (bulat, kecil). Kebanyakan protozoa mempunyai inti vesikuler dan
semua inti terlihat sama. Setiap inti mepunyai kromosom, atau sekurang-
kurangnya bahan pembentuk kromosom
2. Inti non vesikuler (makronukleus). Inti mikronukleus berbentuk vesikuler yang
bertanggung jawab engendalikan fungsi reproduksi dan inti makronukleus
bertanggung jawab mengendalikan fungsi vegetatif.
Protozoa bergerak menggunakan alat gerak berupa flagella, cilia, pseudopodia (kaki
palsu), membrane undulant (undulating membrane) atau dengan cara menggelinding
Berdasrkan tipe makanan protozoa dibedakan menjadi 4 tipe :
1. Tipe autotropik, tipe ini hidup pada bahan anorganik, megubah bahan tersebut
menjadi protein, karbohidrat dan lemak
2. tipe holofitik (menyerupai tanaman) organisme ini mensistesa karbohidrat
didalam klorofil yang terdapat dalam kromatofora
3. tipe holozoik, organisme ini memiliki tipe, memakan makanan tertentu dengan
cara menelan melalui mulut sementara atau permanen. Makanan dapat pula
dimasukkan ke dalam tubuh melalui dinding sel. Makanan yang diperoleh ditahan
di dalam vakuola makanan
4. Tipe saprozoik, makanan masuk melalui osmose atau difusi menembus dinding
sel. Ekskresi atau pengaturan osmose berlangsung secara difusi melalui dinding
sel atau melalui vakuola kontraktil.
Pembelahan inti vesikuler (mikronukleus) biasanya secara mitosis, sedangkan
makronukleus pembelahannya secara amitosis
Perkembangbiakan atau reproduksi protozoa dapat berlangsung secara seksual dan
aseksual
Reproduksi Aseksual
1. Pembelahan ganda (binary fission), yaitu pembelahan sel yang menghasilkan 2 sel
anak yang identik. Pembelahan cara ini biasanya terjadi pada flagelata, amoeba,
ciliate.
2. Pembelahan banyak (skizogoni), inti membelah berulang-ulang. Sel yang sedang
membelah disebut skizon, meron, dan gamon
3. Endodiogeny, merupakan pembelahan sel yang menghasilkan dua anak yang
terbentuk dalam sel induk, contohnya pada Toxoplasma gondii stadium takizoit
dan bradizoit
40
4. Endopoligeni, yaitu pembelahan yang menghasilkan banyak sel anak dalam sel
induk
Reproduksi seksual dikenal dua cara
1. Konjugasi, umumnya terjadi pada ciliata, dua individu melekat satu sama lain dan
bergabung sepanjang bagian tubuh. Mikronukleus berdegenerasi dan membelah
beberapa kali, setiap hasil pembelahan adalah haploid yang kan menjadi bakal
inti, kemudian berpindah dari konjugan satu ke lainnya dan diikuti dengan
memisahnya konjugan. Didalam tiap konjugan bakal inti beregenerasi
2. Syngami, 2 gamet haploid bergabung membentuk zygot. Bergabungnya 2 gamet
yang sama disebut isogami dan bergabungnya 2 gamet yang tidak sama disebut
anisogami. Pada anisogami gamet yang kecil disebut mikrogamet atau gamet
jantan dan yang besar disebut makrogamet atau gamet betina. Gamet-gamet
tersebut dihasilkan oleh sel yang disebut gamon atau gametosit. Mikrogamet
dihasilkan oleh mikrogametosit dan makrogamet dihasilkan oleh makrogametosit.
Proses terbentuknya gamet disebut gametogoni. Zigot hasil pembuahan
makrogamet oleh mikrogamet ada yang disebut ookinet yaitu zigot yang bergerak
(motil). Zigot ada pula yang disebut dengan ookista yaitu kista dari koksidia.
Zigot ada yang dapat mengadakan pembelahan banyak (ganda) membentuk
sporozoit
Beberapa protozoa membentuk kista atau spora
Pada stadium ini protozoa tahan terhadap pengaruh lingkungan. Kista adalah
stadium dalam satu siklus hidup protozoa, dimana parasit pada stadium ini
dikelilingi oleh membran yang jelas dan biasanya pada stadium ini merupakan
stadium istirahat.
Stadium spora (sporokista) dibentuk didalam organisme dengan membentuk
dinding tebal mengelilingi satu atau lebih individu. Individu ini disebut sporozoit.
Proses pembentukan spora ini disebut sporulasi atau sporogoni
Dalam siklus hidupnya protozoa mengalami perkembangan dimana sel-selnya
membutuhkan makanan. Stadium ini disebut stadium vegettif atau tropozoit
Untuk kelangsungan hidupnya kadang potozoa memerlukan apayang disebut vektor.
Vektor adalah organisme pembewa parasit (protozoa) atau agen penyakit dimana
organisme tersebut berperanan menularkan parasit dari induk semang satu ke induk
semang lainnya. Apabila protozoa dalam tubuh vektor mengalami perkembangbiakan,
maka vektornya disebut vektor biologis, tetapi apabila protozoa dalam tubuh vektor tidak
mengalami perkembangan vektornya disebut vektor mekanis
Protozoa dibagi menjadi 6 kelompok utama : Flagellata, apicomplexa, Sarcodina, Ciliata,
Microspora dan Myxozoa
41
BAB I
FLAGELLATA
Semua anggota subfilum ini memiliki satu atau lebih flagela untuk alat gerak
Berdasarkan habitatnya dalam tubuh induk semang, parasit ini dibagi menjadi dua
kelompok besar : Hemoflagellata (parasit ini hidup didalam darah) dan
Mucosoflagellata (parasit yang hidup didalam saluran pencernaan)
Perkembangbiakan terjadi secara aseksual dengan cara pembelahan ganda (binary
fission)
Anggota protozoa yang penting adalah Trypanosoma, Leishmania, Trichomonas
dan Histomonas
Genus : Trypanosoma
Habitat parasit dalam tubuh induk semang vertebrata di darah (plasma darah),
cairan jaringan (cairan limfe) dan beerapa jaringan tubuh
Dalam siklus hidupnya mempunyai bentuk atau stadium amastigote,
promastigote, epimastigote dan trypomastigote.
Kebanyakan tidak bersifat patogenik dan hidup dalam induk semangnya tanpa
menimbulkan masalah, tetapi beberapa bersifat patogenik dan merupakan parasit
penting pada ternak dan manusia. Penyakit yang ditimbulkan disebut
trypanosomiasis. Penyebaran yang bersifat patogen memerlukan vektor atau
induk semang antara (biasanya insekta penghisap darah)
Berdasarkan cara penularan oleh vektor typanosoma dibagi dalam 2 kelompok
yaitu stercoraria atau posterior station dan salivaria atau anterior station, Pada
kelompok stercoraria, trypanosoma mengalami perkembangbiakan di usus vektor
dan belntuk infektifnya berada dalam salura pencernaan bagian posterior dan
keluar bersama feses vektor. Penularan tejadi melalui membrana mukosa atau
kulit yang luka dari induk semang yang terinfeksi feses vektor, sebagian besar
kelompok stercoraria bersifat tidak patogen, kecuali Trypanosoma cruzi.
Penularan Trypanosoma kelompok salivaria melalui gigitan vektor karena bentuk
infektif parasit berada di kelenjar saliva vektor, kebanyakan kelompok salivaria
bersifat patogen
Spesies : Trypanosoma brucei
Penyakit yang ditimbulkan disebut NAGANA
Hewan yang dapat terseraang antara lain : kuda, sapi, domba, kambing, unta, babi,
anjing
Habitat atau predileksi T.brucei dalam tubuh induk semang adalah di peredaran
darah (plasma darah), cairan limfe dan cairan serebrospinal
Daerah penyebaran di daerah tropis Afrika
Dalam penyebarannya memerlukan vektor lalat tsetse (Glossina sp)
Struktur parasit polimorfik diantaranya langsing, sedang, gemuk
Siklus Hidup
Hewan terinfeksi karena tergigit oleh lalat yang diglandula salivanya mengandung
Trypanosoma
42
Pertama kali masuk tubuh induk semang, protozoa membelah diri secara
pembelahan ganda longitudinal di dalam darah dan getah bening dalam bentuk
trypomastigote. Selanjutnya melewati blood brain barrier masuk cairan
serebrospinal an berkembang biak dan berhabitat diantara sel syaraf.
Sewaktu terhisap oleh vektor (lalat Glossina sp) T. Brucei berada pada bagian
posterior usus vektor, berkembangbiak sebagai bentuk trypomastigote,
selanjutnya ke esofagus dan faring dan akhirnya ke glandula salivaria
Didalam glandula salivaria berbentuk epimastigote kemudian menjadi bentuk
metasiklik trypomastigote dan bentuk inilah yang merupakan stadium infektif
bagi induk semang
Spesies : Trypanosoma evanzi
Parasit menyerang unta, kuda, keledai, sapi, kambing, babi, anjing, kerbau air,
gajah, tapir, rusa dan hewan liar lain
Penyakit yang disebabkan disebut berbagai nama tergantung daerah penyebara di
Indonesia disebut SURRA, di Aljazair disebut EL DEBAB, di Sudan disebut
MBORI dan di Venezuela disebut DERRENGADERA, di Amerika Selatan
disebut MAL DE CADERAS
Perkembangbiakan dengan cara pembelahan ganda longitudinal
Siklus Hidup
Ditularkan secara mekanis oleh lalat penghisap darah antara lain : Tabanus,
Stomoxys, Haematopota dan Lyperosia.
Didalam tubuh insekta (vektor) parasit tidak mengalami perkembangan, setelah
menghisap darah penderita T.evanzi tetap berada pada probosis vektor dan
langsung ditularkan ke induk semang lain. Vektor semacam ini disebut vektor
mekanis/
Didalam tubuh induk ssemag T. evansi berbentuk trypomastigote dengan habitat
di plasma darah dan limfe.
Spesies : Trypanosoma equiperdum
Secara morfologis hampir sama dengan T.brucei
Dalam siklus hidupnya tidak memerlukan vektor
Penyebaran parasit terjadi pada saat hewan melakukan perkawinan alami,
kopulasi.
Parasit lebih sering menyerang kuda, keledai dapat bertindak sebagai carier.
Penyakit yang ditimbulkan disebut DOURINE
Genus : Leishmania
Parasit dalam genus ini tidak mempunyai undulating membrane.
Dalam siklus hidupnya mengalami 2 perkembangan 2 bentuk (stadium):
amastigot dan promastigot. Dalam tubuh vertebrata dapat berbentuk amastigot
biasanya ditemukan dalam sel-sel endothel dan makrofag, sedangkan dalam
invertebrata berbentuk amastigot dan promastigot
Siklus Hidup
43
Induk semang tergigit vektor. Pada mamalia (vertebrata) parasit ditemukan dalam
makrofag, leukosit tertentu, limfa, hati, sumsum tulang, limfoglandula, mukosa
intestinaldan sel-sel tertentu, perkembangbiakan dalam sel-sel tersebut dengan
cara pembelahan ganda (binary fission)
Apabila lalat pasir yaitu Plebotomus sp sebagai vektor menggigit penderita
misalnya manusia dan anjing maka parasit bersama aliran darah atau yang berada
di kulit akan ikut terisap lalat masuk dan berkembang di dalam usus lalat.
Didalam usus lalat parasit berubah bentuk memanjang dan flagelanya
berkembang membentuk flagela bebas, stadium parasit menjadi promastigot.
Bentuk ini berkembang biak dengan cepat dengan cara pembelahan ganda dan
selanjutnya bermigrasi ke usus bagian depan akhirnya mencapai probosis.
Bila lalat ini menggigit induk semang baru, parasit akan keluar dari probosis lalat
dan masuk ke induk semang, bersama aliran darah induk semang tersebut menuju
organ-organ limfatik
Spesies-spesies yang penting antara lain :
1. Leishmania donovani, merupakan penyebab penyakit KALA AZAR atau
DUMDUM FEVER atau Visceral Leishmaniasis pada manusia. Anjing,
srigala danrubah dapat bertindak sebagai karier
2. Leishmania tropica, merupakan penyabab penyakit cutaneus
leishmaniasis. Dapat menyerang manusia, anjing, rodensia. Organisme ini
dapat diteukan didalam sel makrofag, sel-sel endothel dari pembuluh
kapiler dan dalam limfoglandula
3. Leishmania braziliense, penyebab mucocutaneus leishmaniasis.
Ditemukan dalam sel endothel dan sel mononuclear pada hidung, mulut an
faring. Terutama menyerang manusia, anjing, kucing, tikus.
Genus : Trichomonas
Protozoa pada umumnya berada di dalam saluran pencernaan, beberapa
ditemukan di saluran reproduksi
Parasit berbentuk seperti buah peer (pyriform)
Terdapat organel yang disebut blepharoplast atau disebut pula badan parabasal
(parabasal body)
Dari blepharoplast timbul flagella anterior dan posterior. Flagela posterior
mengitari tubuh membentuk undulating membran dan flagela ini kadang
memanjang sampai keluar dari tubuh bagian posterior membentuk flagela bebas
Pengelompokan ke dalam genus tergantung dari julah flagela anterior diantaranya
Tritrichomonas, trichomonas, tetratrichomonas dan pentotrichomonas
Genus : Trichomonas gallinae
Sering menyebabkan trichomoniasis pada unggas terutama merpati, kalkun dan
anak ayam
Habitat dalam tubuh induk semang yaitu pada saluran pencernaan bagian atas
(depan) termasuk pula hati
Parasit berbentuk seprti buah peer
Mempunyai 4 flagella anterior dan 1 flagella posterior yang membentuk
undulating membran
44
Spesies : Trichomonas foetus
Menyerang saluran reproduksi sapi, babi, kuda
Menyebabkan bovine trichomoniasis
T.foetus tersebar di seluruh dunia dan sewaktu waktu dapat menyebabkan
kerugian ekonomi yang besar terutama pada sapi perah
Penularan parasit ini melalui perkawinan atau inseminasi buatan
Organisme berbentuk seperti buah peer. Mempunyai 3 flagela anterior dan satu
flagela posterior yang memanjang kebelakang membentuk undulating membrane
Perkembangbiakan secara pembelahan ganda, tidak terjadi perkembangan secara
seksual maupun pembentukan kista
Genus Histomonas
Parasit berbentuk pleomorfik tegantung dari organ sebagai organ lokasi parasit
dan stadiumnya.
Perkembangbiakan parasit secara aseksual yaitu dengan mengadakan pembelahan
ganda
Stadium-stadium dari histomonas adalah :
1. Stadium invasif, terutama pada luka baru, berbentuk amuboid,
ekstraseluler
2. Stadium vegetatif, biasanya pada luka lama, ukuran lebih besar, kurang
aktif, sitoplasma basofilik, transparan, berkelompok
3. Stadium resisten, kompak, terbungkus membran padat, tunggal atau
berkelompok di luar sel hati atau sekum
4. Stadium berflagela, terdapat di lumen sekum, tunggal atau berkelompo,
amuboid, jumlah flagela bisa sampai empat, sitoplasma berisi butiran
makanan (bakteri, eritrosit dll)
Induk semang parasit adalah bangsa unggas, terutama kalkun dan ayam. Pada
kalkun parasit ini menyebabkan parasit black head atau enterohepatitis.
Habitatnya pada sekum dan hati
Sebagai vektor adalah cacing Heterakis gallinarum
Siklus Hidup
Dimulainya dengan tertelannya Histomonas bentuk flagela (tropozoit) yang
berada pada lumen sekum kalkun oleh cacing Heterakis betina.
Dari dalam usus cacing, Histomonas mengadakan penetrasi ke ovarium dan
mengadakan perbanyakan diri di dalam ovarium cacing. Dari ovarium protozoa
keluar dari tubuh cacing brsama ovum cacing yang keluar bersama feses induk
semang
Induk semang baru (kalkun) tertular karena memakan telur cacing yang berisi
Histomonas in. Didalam usus kalkun Histomonas keluar bersamaan dengan
pecahnya telur cacing menuju ke lumen sekum dan menembus dinding sekum dan
berkembangbiak di sekum sebagian ada yang ikut aliran darah menyebar ke hati
45
BAB II
SARCODINA, CILIATA DAN APICOMPLEXA SALURAN PENCERNAAN
Genus: Entamoeba
Spesies : E. Histolytica
Induk semangnya adalah manusia dan primata lain
Menyebabkan desentri pada manusia, anjing dan kucing
Habitat pada usus halus dan besar, khususnya pada kolon dan rektum
Kista dewasa berinti 4, mempunyai badan kromatin yang panjang seperti cambuk
Gerakan cepat, pseudopodia membentuk jari tangan
Tidak semua spesies ini patogen, strain yang patogen bentuk tropozoitnya
mempunyai kemampuan menembus jaringan
Spesies : E.coli
Merupakan spesies yang tidak patogen.
Induk semang manusia dan hewan lain
Habitat pada sekum dan kolon
Gerakan lamban. Pseudopodia tidak membentuk jari tangan.
Kista dewasa berinti 8, badan kromatin berujung agak bulat
Siklus Hidup
Induk semang tertular parasit karena menelan bentuk kista dewasa, kista dalam
lumen usus mengalami ekskistsi, setiap inti mengadakan pembelahan ganda
sehingga jumlah inti menjadi 8, pembelahan inti diikuti sitoplasma. Bentuk ini
disebut stadium metakista. Metakista berkembang menjadi lebih besar yang
disebut stadium tropozoit. Bentuk tropozoit selanjutnya tetap tinggal di lumen
usus atau menembus mukosa usus. Kemampuan menembus (berinvasi) jaringan
ini yang membedakan strain yang patogen dan yang tidak patogen.
Tropozoit bergerak mencari makan, tumbuh dan memperbanyak diri secara
pembelahan ganda
Stadium tropozoit selanjutnya berkembang menjadi stadium prekista, bentuk
tubuhnya membulat dan ukurannya mengecil. Bentuk prekista berinti satu.
Dari prekista organisme membulat membentuk kista. Mula-mula kista berinti satu
selanjutnya inti megadakan pembelahan ganda dari satu inti menjadi dua
membelah lagi menjadi empat kemudian delapan atau lebih tergantung
spesiesnya. Kista akan keluar bersama feses penderita
Beberapa tropozoit dari strain yang patogen selain menembus mukosa usus,
bersama aliran darah mampu mencapai organ lain, seperti hati, paru-paru, otak
dan organ lain. Di organ tersebut mengadakan invasi, menginfeksi sel-sel organ
serta membentuk abses
Genus : Balantidium
Anggota dari genus Balantidium bantuk vegetatifnya (tropozoitnya) mempunyai
bentuk oval sampai elips.
46
Seluruh permukaan tubuh tertutup silia yang tersusun seperti deretan
longitudinal, dimana silia merupakan alat gerak (lokomosi)
Mempunyai 2 inti, yaitu : makronukleus yang berbentuk halter dan mikronukleus
yang berbentuk bulat, bertanggung jawab dalam proses reproduksi
Reproduksi (perkembangbiakan) dengan cara pembelahan ganda atau dengan
konjugasi
Stadium vegetatif mempunyai peristom(mulut) terletak di ujung anterior
Biasanya merupakan parasit pada usus besar manusia, babi dan kera, serta
bersifat pathogen
Selain mempunyai tropozoit, parasit juga mampu membentuk kista
Spesies : Balantidium coli
Mempunyai 2 stadium perkembangan , yaitu tropozoit dan kista. Pada stadium
tropozoit (vegetatif) makronukleus berbentuk halter, sitoplasma berisi beberapa
vakuola makanan da 2 vakuola kontraktil. Stadium kista berbentuk ovoid sampai
sperikal, di dalam kista masih telihat makronukleus, mikronukleus dan vakuola
kontraktil. Silia tidak terlihat, tertutup dindig kista, dinding kista terdiri dari 2
membran
Parasit mnyerang babi dan golongan primata tinggi termasuk manuasia
Habitat parasit dalam induk semang di lumen kolon, induk semang tertular parasit
karena menelan bentuk kista yang mencemari makanan dan minuman.
Famili Eimeriidae
Organisme dari parasit ini sebagian besar adalah parasit intraseluler dari sel
epithel usus, beberapa pada sel lain seperti epithel saluran empedu dan ginjal
Parasit bersifat single host (hospes tunggal) artinya satu spesies dari parasit ini
dalam satu siklus hidupnya hanya memerlukan satu induk semang
Perkembangan aseksual (secara skizogoni) dan seksual (gametogoni) yang
ditandai dengan terbentuknya makrogamet dan mikrogamet serta bergabungnya
kedua gamet tersebut menjadi zigot (ookista), terjadi di dalam sel epithel usus.
Proses sporulasi (sporogoni) yang ditandai dengan terbentuknya spora (sporokista
dan sporozoit) di dalam ookista terjadi di luar induk semang.
Famili Eimeriidae beranggotakan beberapa genus. Pengelompokan ke dala genus
ini terutama berdasarkan pembentukan spora dalam stadium ookista, jumlah
sporokista dengan masing-masing sporokista berisi satu atau lebih sporozoit.
Genus-genus yang penting antara lain :
1. Eimeria, ookista yang berspora mempunyai 4 sporokista dan tiap-tiap
sporokista mengandung 2 sporozoit
2. Isospora, stadium ookista bersporanya mempunyai 2 sporokista, masing-
masing sporokista berisi 4 sporozoit
3. Tyzeria, ookistanya tidak mempunyai sporokista tetapi terdapat 8
sporozoit
Berikut ini adalah ciri-ciri morfologis dari stadium ookista:
1. Ookista mengandung satu zigot. Ookista keluar dari sel epithel usus induk
semang dan dipasasekan keluar bersama feses induk semang dalam keadaan
belum berspora
47
2. Pada umumnya berbentuk bulat, subsperikal, ovoid atau elipsoid dengan
ukuran yang beragam sesuai dengan spesiesnya
3. Dinding kista terdiri dari 2 lapis yang berbatas jelas. Pada beberapa spesies
dinding luar berwarna kekuningan atau kehijauaan dan beberapa ada yang
mempunyai jalur-jalur atau titik-titik. Lapisan luar dari dinding ookista terdiri
dari protein dan lapisan dalamnya tersususn oleh lemak
4. beberapa spesies mempunyai mikrofil. Mikrofil tertutup pleh tutup mikrofil,
mempunyai bentukan garis lengkung pada dinding kista ke arah luar yang
disebut polar cup
5. Dalam ookista kadang terdapat organela bahan residu (residual body) dan juga
polar granule tergantung jenis spesiesnya
6. Pada ookista yang berspora terbentuk sporozoit yang terbungkus dalam
sporokista. Sporokista pada umumnyaberbentuk oval memanjang yang
mempunyai satu atau lebih titik ujung sporokista yang disebut badan stieda
(stieda body). Tiap sporokista mengandung sporozoit, jumlahnya tergantung
dari genus parasit
7. Sporozoit bentuknya bengkok seperti koma atau pisang. Sporozit mempunyai
vakuola yang bulat dan granular cytoplasma yang berbeda dengan inti. Inti
terletak di tengah (sentral)
Siklus Hidup
Siklus hidup dimulai dr tertelannya ookista infektif (ookista berspora) oleh induk
semang yang sesuai. Di dalam usus induk semang dinding ookista pecah oleh
tekanan dinding usus atau tembolok ayam dan oleh enzim tripsin yang dibebaskan
ke dalam usus.
Pecahnya dinding ookista menyebabkn tebebasnya sporokista dan membebaskan
sporozoit. Sporozoit selanjutnya menembus sel epithel usus pada vili-vili usus. Di
dalam epithel usus parasit mengadakan perkembangan secara aseksual (skizogoni)
dan seksual (gametogoni)
Perkembangan skizogoni.
o Sporozoit yang masuk ke dalam epithel usus bentuknya berubah menjadi
bulat. Bentukan ini disebut tropozoit. Di dalam epithel usus kebanyakan
terletak di atas inti sel, beberapa di bawah inti sel
o Dalam beberapa jam sporozoit akan membelah secara skizogoni membentuk
skizon (meron). Skizon pada tahap ini disebut skizon generasi pertama.
Pembelahan inti tropozoit pada fase skizogoni terjadi secara mitosis, mula-
mula sitoplasma tidak ikut membelah baru setelah dihasilkan banyak anak inti
dikelilingi oleh zone yang jelas yaitu sitoplasma. Sel-sel anak dari hasil
pembelahan secara skizogoni disebut merozoit. Merozoit dalam skizon
generasi pertama disebut merozoit generasi pertama.
o Dalam sel epithel usus induk semang, skizon dikelilingi oleh dinding yang
berbatas jelas dengan organela sel dan sel yang terinfeksi membesar dan
mengalami distorsi serta menonjol ke lumen usus. Skizon yang sudah dewasa
dindingnya akan pecah bersamaan pecahnya sel epithel usus induk semang.
o Pecahnya skizon akan membebaskan merozoit, merozoit yang terbebas akan
menginfeksi sel epithel baru dan terjadilah siklus aseksual yang sama,
48
membentuk skizon generasi kedua yang nantinya menghasilkan merozoit
generasi kedua. Skizon generasi kedua ini dapat meluas ke sel jaringan lain.
Pada spesies tertentu skizon generasi lebih besar ukurannya dari generasi
pertama. Beberapa merozoit dari generasi kedua akan berkembang menjadi
bentuk gametosit
Perkembangan Gametogoni (perkembangan seksual)
o Diperkirakan merozoit yang berkembang menjadi gametosit berasal dari
skizon yang berbeda yaitu tipe skizon A dan B. Skizon tipe A, mempunyai
ukuran yang lebih kecil, mengandung sedikit merozoit yang nantinya akan
berkembang menjadi mikrogamet (gamet jantan). Skizon tipe B merupakan
skizon yang berukuran besar yang nantinya akan menghasilkan merozoit yang
akan berkembang menjadi makrogametosit yaitu sel yang menghasilkan
makrogamet (gamet betina). Jumlah mikrogamet umumnya lebih banyak
daripada makrogamet
o Makrogamet ukurannya lebih besa dan sama besarnya dengan ukuran ookista
yang nantinya akan dihasilkan.
o Fertilisasi makrogamet oleh mikrogamet menghasilkan zigot yang disebut
ookista, dalam perkembangannya zigot dikelilingi oleh dinding. Jika
pembentukan dinding ookista sudah cukup, ookista akan keluar dari sel
jaringan dan dipasasekan keluar tubuh induk semang bersama feses. Di luar
tubuh induk semang (di alam bebas) ookista mengalami perkembangan secara
sporulasi.
Perkembangan Sporogoni (sporulasi)
o Sporulasi adalah proses terbentuknya spora dalam ookista. Ookista yang
berspora merupakan ookista yang infektif.
o Protoplasma dari zigot dalam ookista akan memendek dari dinding ookista
menjadi bentuk sporont.
o Sporont membagi dalam beberapa sporoblast. Tahap awal sporoblast
berbentuk agak bulat kemudian memanjang menjadi bentuk oval (elips) dan
selanjutnya berkembang menjadi sporokista.
o Protoplasma dalam masing-masing sporokista menjadi 2 untuk Eimeria dan 4
untuk Isospora menjadi sporozoit. Protoplasma dari pembelahan ini beberapa
tersisa dan tetaptinggal dalam sporokista yang disebut dengan sporocystic
residual body
Berikut ini adalah beberapa spesies Eimeria dan Isospora yang penting pada hewan
ternak :
1. Eimeria ninakholyakimovae
Menyerang ternak kambing dan domba. Habitat di usus posterior, sekum
dan kolon
Waktu sporulasi 1-2 hari
2. Eimeria arloingi
Sering menyerang usus halus kambing
Waktu sporulasi ookista antara 48-72 jam
3. Isospora suis
49
Menyerang babi. Habitatnya dalam usus halus
Waktu sporulasi 4 hari
4. Eimeria bovis
Menyerang anak sapi
Waktu sporulasi 48-72 jam pada temperatur kamar
5. Eimeria zuernii
Sering menyerang usus halus dan usus besar sapi, zebra dan kerbau air
Waktu sporulasi 3 hari
6. Isospora bigemina
Parasit ini menyerang kucing, anjing juga dapat terserang
Stadium perkembangan terjadi di usus halus
Waktu sporulasi 4 hari
7. Isospora felis
Menyerang kucing, harimau dan bangsa kucing lainnya
Stadium perkembangan terjadi pada usus halus dan kadang-kadang pada usus
besar
Waktu sporulasi 4 hari
8. Eimeria tenella\\
Merupakan koksidia yang paling sering dan patogen pada ayam
Stadium perkembangan terjadi di sekum
Waktu sporulasi 18 jam
9. Eimeria necatrix
Menyerang ayam
Pertumbuhan aseksual (skizogoni) terjadi didalam usus halus, sedangkan
gametogoni di dalam sekum
Waktu sporulasi 2 hari
BAB III
50
APICOMPLEXA
SARCOCYSTIDAE DAN PLASMODIIDAE
Genus : Toxoplasma
Spesies Toxoplasma gondii merupakan satu-satunya spesies dari genus ini,
pertama kali ditemukan pada binatang mengerat di Afrika, parasit ini ditemukan
sebagai penyebab kongenital pada anak yang baru dilahirkan
Protozoa ini termasuk parasit intraseluler obligat. Habitat di semua tipe sel induk
semang dan dapat menyerang semua bangsa mamalia termasuk pula manusia dan
semua bangsa burung. Kucing dan bangsa feline merupakan induk semang utama
sedangkan induk semang lain merupakan induk semang antara.
Toksoplasma dimasukkan dalam golongan koksidia karena di dalam siklus
hidupnya mengalami perkemangan secara skizogoni, gametogoni dan sporogoni
layaknya koksidia yang lain dan perkembangan tersebut terjadi di usus cacing
(induk semang utama)
Dalam satu siklus hidupnya ada lima stadium perkembangan, yaitu : skizon,
gamon, takizoit, bradizoit dan ookista. Stadium takizoit/tropozoit berbentuk
pisang atau bulan sabit. Stadium ini merupakan stadium multiplikasi,
perkembangannya sangat cepat dan biasanya diteukan pada stadium penyakit
yang akut.
Perkembangbiakan secara endodiogeni. Habitat di semua tipe sel jaringan. Di
dalam sel induk semang parasit berada dalam vakuola parasitoforosa dan
membentuk akumulasi yang disebut dengan group atau kelompok atau Rosset.
Satu grup berisi antara 8-16 takizoit dan setelah mencapai jumlah tersebut
kelompok akan pecah bersamaan dengan pecahnya sel induk semang. Takizoit
yang terbebas akan menginfeksi sel baru
Stadium bradizoit atau sistozoit. Secara morfologis hampir sama dengan takizoit.
Berada dalam semua tipe sel. Merupakan stadium istirahat, karena
perkembangbiakan stadium ini sangat lamban dan biasanya ditemukan pada
keadaan penyakit yang sudah kronis. Perkembangbiakan secara endodiogeni. Di
dalam sel induk semang berakumulasi dalam vakuola parasitoforosa dan
kumpulan bradizoit ini dalam jumlah yang banyak. Kumpulan bradizoit tersebut
dikelilingi dengan masa yang memisahkan parasit dengan organela sel-sel induk
semang dan membentuk suatu kista yang selanjutnya disebut dengan kista
jaringan. Dalam satu kista jaringan berisi beberapa ratus sampai beberapa ribu
bradizoit. Masa pembungkus kumpulan bradizoit tersebut disebut dinding kista.
Dinding ini halus tanpa sekat dan tidak tertembus antibodi yang dibentuk induk
semang. Stadium kista lebih tahan terhadap faktor lingkungan dibanding dengan
bentuk takizoit
Bentuk stadium ookista. Dietmukan pada feses kucing penderita. Berbentuk
spiral. Waktu sporulasi 2-5 hari tergantung faktor lingkungan. Ookista berspora
mempunyai 2 sporokista, masing-masing sporokista berisi 4 sporozoit
Siklus Hidup
51
Induk semang terinfeksi karena menelan ookista berspora atau memakan daging
yang berisi kista jaringan (berisi bradizoit) maupu takizoit.
Siklus hidup parasit dalam tubuh induk semang terjadi di enteroepithelial
(intraintestinal) dan ekstraintestinal
Perkembangan intraintestinal
Perkembangan ini hanya terjadi pada induk semang utama, yaitu kucing dan
sebangsanya. Takizoit dan bradizoit dalam jaringan (kista jaringan) atau ookista
infektif (berspora) yang tertelan oleh kucing akan masuk usus. Oleh adanya enzim
proteolotik dalam usus dan lambung kucing dinding kista dan ookista akan hancur
dan membebaskan sporozoit dari ookista serta bradizoit dari kista. Zoit yang
terbebas (bradizoit, sporozoit) akan menembus lamina propria usus halus kucing
dan berubah bentuk menjadi tropozoit/takizoit. Inti tropozoit berkembangbiak
secara skizogoni yang menghasilkan skizon. Skizon yang pecah akan
membebaskan merozoit, merozoit akan menginfeksi sel-sel baru. Ada 5 tipe
merozoit yang menginfeksi sel usus (A-E). Tipe D dan E memproduksi gamet,
pada umumya ditemukan pada villi usus terutama ileum. Gamet jantan
(mikrogamet) akan membuahi gamet betina (makrogamet). Pembuahan
meghasilkan zigot dan selanjutnya disebut ookista. Ookista dilepas ke lumen usus
dan keluar bersama feses kucing. Di luar tubuh kucing pada kondisi yang
optimal, ookista bersporulasi menjadi ookista infektif. Dalam lingkungan yang
sesuai ookista ini dapat bertahan sampai 1 tahun
Perkembangan ini terjadi baik pada kucing maupun hewan lain, termasuk
manusia. Sporozoit yang dilepas dari ookista dan bradizoit yang dilepas dari kista
jaringan yang tertelan menembus dinding usus dan membelah secara endodiogeni
dalam lamina propria sebagai takizoit. Takizoit membelah secara cepat. Takizoit
ikut bersama aliran peredaran darah dan cairan limfe dan menginfeksi semua
organ. Organ yang pertama kali terinfeksi yaitu limfonodus mesenterika diikuti
organ-organ lain seperti hati, paru-paru, lien, otak dan jaringan lainnya.
Bersamaan dengan perkembangan kekebalan (imunitas) induk semang, bentuk
takizoit berubah menjadi bentuk bradizoit yang berkelompok membentuk kista
jaringan.
FAMILI PLASMODIIDAE
Genus : Plasmodium
Menyebabkan malaria termasuk pada manusia, pada ayam menyebabkan
penyakit malaria juga.
Skizogoni terjadi pada sel darah merah bangsa burung sedang gametogoni serta
sporogoni terjadi di dalam saluran pencernaan invertebrata penghisap darah
(Nyamuk Aedes)
Bentuk gametosit bundar, mempunyai pigmen granul yang relatif besar
Bentuk skizon bundar atau tidak beraturan dan menghasilkan 8-3 merozoit. Siklus
skizogoni 36 jam
Stadium eksoeritrosit terjadi pada sel endothel dan sel RES pada lien, otak dan
liver
Siklus Hidup
52
Sporozoit yang infektif tidak langsung masuk ke dalam eritrosit, tetapi
berkembang di luar eritrosit (bentuk eksoeritrositik) yaitu di dalam sel endothel
berkembang secara skizogoni membentuk skizon. Skizon yang pecah akan
membebaskan merozoit, bersamaan pecahnya sel induk semang.
Merozoit yang berasal dari bentuk pre eritrosit skizon generasi pertama disebut
metakriptozoit, kemudian merozoit yang berasal dari metakriptozoit masuk ke
dalam eritrosit dan sel lain dan selanjutnya menjadi bentuk skizon eksoeritrositik .
Siklus eritrositik terjadi 7-10 hari setelah infeksi oleh merozoit dari
metakriptozoit, tetapi waktu tersebut berbeda apabila infeksi oleh merozoit dari
skizon eksoeritrosit dari sel endothel maupun sel hematopoetik. Di dalam eritrosit
bentuk merozoit berubah menjadi bentuk tropozoit, yang mempunyai bentuk
bundar berisi vakuola yang besar mendesak sitoplasma daripada parasit.nti
terletak pada salah satu ujungnya dan disebut signetring, terlihat dengan
pewarnaan Romanowsky.
Bentuk tropozoit mengalami proses skizogoni menghasilkan merozoit. Selama
proses skizogoni parasit berada di dalam sitoplasma sel induk semang oleh proses
invaginasi. Hemoglobin dicerna dan residual hematin pigmen akan terkumpul di
dalam granula daripada vakuola makanan.
Setelah generasi aseksual, maka merozoit mengalami perkembangan seksual
dengan pembentukan mikrogametosit dan makrogametosit, kedua gamet
mengadakan fertilisasi menjadi bentuk zigot. Perkembangan gametosit terjadi bila
darah termakan oleh nyamuk. Perkembangan di dalam tubuh nyamuk berlangsung
cepat, dalam waktu 10-15 menit, inti dari mikrogamet sudah membelah dan
mengalami proses eksflagellasi, bentuknya panjang dan tebal, kemudian
membuahi makrogamet. Hasil pembuahan mikrogamet oleh makrogamet berupa
zigot.
Zigot yang terbentuk disebut ookinet. Ookinet selanjutnya mengaakan penetrasi
ke mukosa midgut (saluran pencernaan bagian tengah) kemudian tinggal di
permukaan stomach, dalam bentuk ookinet dengan diameter 50-60 mikron. Inti
ookinet akan membelah dan menghasilkan sejumlah besar sporozoit, yang
mempunyai panjang 15 mikron dan inti terletak di tengah. Pendewasaan dari
ookinet tergantung dari spesies parasit, temperatur dan spesies nyamuk, pada
umumnya ke glandula salivaria (di dalam sel atau pada ductus glandula salivaria)
bentuk ini infektif pada induk semang yang baru.
Genus : Haemoproteus
Haemoproteus menyerang burung dan reptilia. Genuss ini menyerupai
Plasmodium. Berbeda dengan Plasmodium, skizogoni dari genus Haemoproteus tidak
terjadi di sel-sel darah perifer, tetapi pada sel endotel dari organ dalam. Di darah perifer
hanya bentuk gametosit. Gametosit terjadi pada eritrosit, terbentuk seperti halter dan
tampak mengelilingi inti sel induk semang. Adanya granula berpeigmen. Skizogoni
terjadi pada sel endothel dari pembuluh darah khususnya paru-paru.
Perkembangan seksual dan sporogoni juga terjadi pada insekta penghisap darah.
Prasit ditularkan melalui lalat Hippobosca, Pseudolyncia canariensis.
53
Spesies anggota dari genus ini diantaranya adalah H. Colimbae, H. Lophotyx, H.
Meleagridis, H.nettianis, H. Sacharovi. Spesies yang terpenting adalah H.columbae, yang
menyerang burung peliharaan dan merpati, distribusinya diseluruh dunia.
Siklus Hidup
Dimulai dengan tergigitnya induk semang (burung) oleh vektor yang terinfeksi.
Sporozoit dalam tubuh vektor lalat (lalat Hippobosca) yang terinfeksi maka sporozoit
masuk ke dalam aliran darah dan bersama aliran darah masuk sel-sel endothel, terutama
paru-paru (juga organ lain). Di dalam sel endothel berkembang menjadi bentuk skizont.
Dalam beberapa menit sudah terbentuk sitoplasma dan satu nukleus. Pertumbuhan
selanjutnya nukleus tumbuh menjadi 15 atau lebih yang berbentuk kecil dan mempunyai
masa yang tidak berpigmen yang disebut sitomer dengan satu nukleus. Tiap-tiap satu
sitomer secara kontinyu berkembang menghasilkan merozoit. Merozoit yang terbebas
karena pecahnya sel induk semnag akan menginfeksi sel baru dan berkembang terus
secara skizogoni atau sebagian merozoit masuk ke dalam eritrosit. Di dalam eritrosit
merozoit berkembang menjadi berbentuk gametosit (makrogametosit dan
mikrogametosit). Gametosit yang muda tampak pertama kali dalam darah 30 hari setelah
infeksi. Gametosit terhisap oleh vektor yang menggigit induk semang dan gametosit ini
mengalami pendewasaan di dalam usus vektor. Zigot hasil pembuahan makrogamet oleh
mikrogamet dewasa, masuk ke dalam sel endothel usus vektor membentuk ookista
(ookinet). Dalam ookista terbentuk sporozoit dan ookista dewasa akan pecah
membebaskan sporozoit. Sporozoit masuk ke haemocoel dan akhirnya mencapai ke
glandula salivaria.
Genus Leucocytozoon
Sama seperti Haemoproteus, skizogoni tidak terjadi di darah perifer, tetapi hanya
bentuk gametositnya saja yang terlihat di perifer, perbedaannya bentuk gametosit selain
terlihat di eritrosit juga terlihat di leukosit, gametosit bulat atau memanjang dan tidak
begranula. Genus ini meyerang unggas terutama burung, kalkun, angsa dan bebek.
Bentuk merozoit dan skizon berada di sel parenkim dari hepar, jantug, ginjal dan organ
lain. Penularan melalui lalat Simulium atau Culicoides, Leucocytozoon penyebab
penyakit Malaria like disease (Leucocytozoonosis) yang berakibat fatal pada burung.
Spesies dari anggota ini antara lain : L.simondi, Lcaulleryi, L.sabrozesi dan
L.smithi.
54
BAB IV
APICOMPLEXA (BABESIIDAE DAN THEILERIIDAE) DAN ANAPLASMA
Protozoa dari kelompok ini berbentuk seperti buah peer (piriform), cincin atau
amoeboid, tidak mempunyai konoid tetapi mempunyai cincin polar atau roptri.
Merupakan heteroseknosa dan dalam vertebrata habitatnya di eritrosit dan sel lain.
Skizogoni terjadi di vertebrata sedangkan sporogoni di invertebrata dalam hal ini caplak
(sebagai vektor biologis)
FAMILY : BABASIDAE
Organisme dari famili Babasidae berbentuk bulat pyriform (seperti buah peer)
atau amoeboid. Terdapat dalam sel darah merah induk semang. Perkembangbiakan terjadi
di dalam sel darah merah (eritrosit) secara pembelahan ganda atau secara skizogoni.
Penularan parasit melalui vektor caplak Ixodidae atau Argasidae.
Morfologi
Anggota famili Babasidae merupakan satu kelas (sporozoa) dengan parasit darah
yang lain.Mempunyai ukuran yang lebih kecil dari famili Plasmodiidae. Bentuknya
bervariasi tergantung spesiesnya, bentuk-bentuk tersebut antara lain: tidak beraturan
(amuboid), bulat lonjong, oval, seperti buah peer atau kadang seperti batang. Tidak
membentuk spora dan tidak berflagela. Dengan pewarnaan Giemsa, inti terlihat berwarna
biru dan sitoplasma berwarna merah.
Siklus Hidup
Induk semang tertular karena tergigit vektor (caplak) yang terinfeksi. Caplak yang
terinfeksi parasit, didalam kelenjar ludahnya mengandung sporozoit. Pada saat capak
menghisap darah induk semang, sporozoit dalam ludah ikut masuk dalam aliran darah
induk semang dan selanjutnya masuk ke dalam eritrosit. Dalam eritrosit, parasit semula
berentuk cincin dan berkembang menjadi bentuk amuboid yang disebut tropozoit.
Tropozoit berkembang biak dengan jalan bertunas meghasilkan 2 sel anak yang
berbentuk tidak beraturan dan menyerupai buah peer, di mana pertama-tama salah satu
ujungnya berhubungan, tapi akhirnya saling melepaskan diri dan berpisah. Tiap indivisu
yang berpisah disebut merozoit. Parasit memecah eritrosit, merozoit yang terbebas
meembus sel darah merah yang baru. Hal ini merupakan awal dari siklus aseksual dari
skizogoni.
Fase gametogoni terjadi di dalam tubuh caplak. Apabila caplak menghisap darah
induk semang terinfeksi, eritrosit yang berisi parasit akan ikut menghisap darah induk
semang terinfeksi, eritrosit yang berisi parasit akan ikut terhisap dan masuk dalam usus
caplak. Dari sini dimulai awal dari fase gametogoni. Setelah terlepas dari eritrosit (karena
proses pencernaan), merozoit (bentuk buah peer) menembus sel-sel epithel usus caplak.
Di dalam sel epithel usus caplak parasit berkembang menjadi stadium gametosit dan
menghasilkan makrogamet serta mikrogamet. Dua gamet mngadakan pembuahan
menghasilkan zigot yang berbentuk seperti bola. Zigot berkembang dan berubah menjadi
ookinet. Ookinet mengadakan migrasi melalui dinding usus kemudian masuk ke dalam
uterus dan akhirnya masuk ke dalam sel telur caplak. Dari sini dimulai fase sporogoni
yang akan menghasilkan sporoblas yang disebut sporokinet. Sementara caplak muda
55
mengalami perkembangan dalam telur, sporoblas bertumbuh terus dengan inti membelah
berkali-kali membentuk vermukula yang berinti banyak, keadaan ini menghasilkan
sporozoit. Sporozoit selanjutnya bermigrasi ke kelenjar ludah. Bila caplak telah menetas
dan menghisap darah untuk yang pertama kalinya maka sebagian besar sporozoit akan
masuk ke dalam aliran darah dari induk semang.
Genus : Babesia
Organisme ini mengalami perbanyakan diri di dalam eritrosit, pembelahan secara
aseksual menghasilkan 2, 4 atau lebih sel anak yang tidak berpigmen. Vektornya adalah
caplak Ixodidae.
Babesia yang menyerang sapi antara lain B. bigemina, B.bovis, B. divergens, B.
Argentina, B.mayor. Pada kambing dan domba terdapat 4 spesies babesia, 1 spesies
ukurannya besar sedang 3 lainnya kecil yaitu B.motasi, B.ovis, B.foliata dan B.taylori.
Pada kuda hanya ada 2 spesies yaitu B.caballi dan B.equi. Pada babi ada 2 spesies B.
Trautmani dan B.perrocacitai. Pada anjing dan kucing antara lain B. Canis, B.gibsoni,
B.vigoli da B.felis
FAMILY : THEILERIDAE
Genus : Theileria
Anggota dari famili Theileridae merupakan parasit darah pada mamalia. Parasit
ini ditularkan oleh caplak keras dari famili Ixodidae. Bentuk parasit bundar (bulat),
ovoid, seperti tongkat atau tidak beraturan. Habitat (predileksi) dalam induk semang yaitu
pada eritrosit, leukosit dan histiosit. Hewan yang biasa diserang yaitu sapi, kambing dan
domba.
Siklus Hidup
Induk semang tertular karena digigit caplak yang di dalam kelenjarnya terdapat
porozoit theileria. Bersama aliran darah, sporozoit menuju ke jaringan (organ) limfoid
khususnya kelenjar limfa dan lien, berkembang secara skizogoni membentuk skizon yang
sering disebut dengan badan biru Koch (Koch blue bodies). Badan tersebut dapat terlihat
dalam limfosit dalam sirkulasi darah 3 hari setelah infeksi. Ada 2 tipe skizon,
makroskizon dan mikroskizon. Makroskizon hanya terjadi di sel-sel limfoid. Tiap
makroskizon dapat menghasilkan sekitar 90 makromerozoit. Beberapa dari merozoit
menginfeksi sel-sel limfoid yang baru, terutama yang terdapat dalam jaringan dan
membentuk mikroskizon lagi. Sebagian merozoit yang lain masuk dalam limfosit dan
berdiferensiasi menjadi tropozoit (atau disebut juga piroplasma). Di dalam eritrosit
tropozoit tidak mengalami perbanyakan. Apabila ada caplak yang menghisap darah
induk semang terinfeksi, di dalam saluran usus caplak, tropozoit terbebas (karena eritrosit
tercerna) dan berkembang secara gametogoni. Menghasilkan ookinet sama seperti
Haemosporina. Untuk sementara waktu ookinet berkembang dalam sel-sel usus caplak,
selanjutnya bermigrasi dan mengadakan penetrasi ke kelenjar ludah caplak di mana
proses sporogoni terjadi. Sporogoni menghasilkan sporozoit yang siap menginfeksi induk
semang baru bersama gigitan caplak.
Spesies dari Theileria yaitu T.parva, T.annulata dan T.mutans.
56
Genus : Anaplasma
Ada 3 spesies penting yaitu A. marginale, A.centrale dan A.ovis.
Parasit berbentuk bulat, mempunyai sitoplasma tapi tampak adanya hal yang
melingkarinya. Dengan pewarnaan Giemsa terlihat seperti titik warna merah sampai
merah gelap. Habitat parasit dalam eritrosit (a.centrale di sentral eritrosit, A.marginale
dan A.ovis di tepi eritrosit). Ternak yang terserang antara lain sapi, kambing, domba dan
rusa. Perkembangbiakan parasit dalam sel darah merah terjadi secara pembelahan ganda
atau kadang-kadang multiple fission.
Daerah penyebaran meliputi semua daerah tropis dan subtropis. Penularan parasit
melalui caplak Ixididae (Boophilus sp, Dermacentor sp, Hyaloma sp, Riphicephalus ap,
Ixodes sp). Dapat pula ditularkan secara mekanik yaitu oleh lalat Tabanus, Stomoxys dan
lalat penghisap darah lain, dan hal ini biasanya terjadi pada saat kastrasi, pemotongan
tanduk (dehorning), vaksinasi atau pengambilan darah.
,
57
ENTOMOLOGI
Adalah ilmu yang mempelajari tentang filum Arthropoda (Arthros berarti persendian,
podos berarti kaki)
Morfologi
o Kaki arthropoda biramous (protopodite)
o Arthropoda mempunyai penutup luar dari chitin yang membentuk eksoskeleton
yang menutupi seluruh tubuhnya.
o Penutup yang dihasilkan oleh sel chitogenous masuk ke dalam mulut di saluran
pencernaan disebut stomodaeum, kemudian ke belakang saluran pencernaan
(proctodaeum)
o Eksoskeleton berbentuk lempengan-lempengan chitin yang disebut dengan
sclerites. Segmen tipis bagian dorsal disebut tergum, sclerite ventral disebut
sternum, sclerite lateral antara sternum dan tergum disebut pleura. Ekdisis adalah
pelepasan eksoskeleton yang dipengaruhi oleh hormon ekdison.
o Arthropoda mempunyai banyak segmen pada bagian antrior membentuk kepala,
bagian tengah membentuk thorax, pada bagian posterior membentuk abdomen.
Pada kepala terdapat antenna dan alat makan, pada thorax terdapat alat jalan dan
pada abdomen terdapat alat untuk berenang.
o Terdapat haemocoele yaitu rongga berisi darah yang merendam organ-organ
didalamnya.
o Terdapat organ respirasi
1. Gills, pada arthropoda akuatik stadium larva, nimfa dan dewasa.
2. Trachea, untuk mengambil udara yang masuk dari stigmata
3. Lung book dan gills book (insang buku) pada laba-laba dan kepiting
4. kutikula, pada tungau
o Saluran cerna (stomodaeum, proctodaeum, mesenteron)
o Alat ekskresi. Pada crustacea terdapat sepasang nefridia. Pada insecta terdapat
tubulus malphigi yang bermuara pada anterior proctodaeum
o Jenis kelamin terpisah
Filum Arthropoda memiliki 5 kelas
Kelas I: Crustacea, yang terbagi atas sub kelas Entomostraca (crustacea kecil) dan sub
kelas Malacostraca (rajungan, udang dan kepiting)
Kelas II : Myriapoda (kelabang dan lipan)
Kelas III : Insecta (lalat dan nyamuk)
Kelas IV : Arachnida (caplak, tungau)
Kelas V : Pentastomida (lintah)
58
INSECTA
Anatomi :
1. Kepala
o Terdiri dari sejumlah lempengan sklerit pada bagian depan tubuh
o Letak mata diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pertama, mata majemuk yang
terletak ditengah-tengah (holoptik) dan yang terpisah jauh (dichoptic). Yang
kedua adalah mata sederhana (ocelli) yang terletak pada sudut.
2. Antenna
o Diantara/didepan mata majemuk
o Kadang terdapat bulu aristae
3. Mulut, terdiri atas beberapa bagian, antara lain”
o Labrum (bibir atas) atau maksilla
o Labium (bibir bawah) atau mandibulla
o Di bawah labrum terdapat membran yaitu epipharing sebagai alat pengecap
o Di atas labium terdapat membran yaitu hipopharing sebagai saluran kelenjar ludah
o Gabungan maksilla dan labium terdapat palpi sebagai alat pengecap.
4. Thorax
o Terdapat 3 segmen pada thorax yaitu, prothorax, mesothorax, dan metathorax.
o Pada tiap segmen terdapat sepasang kaki
o Pada mesothorax dan metathorax terdapat sepasang sayap
5. Kaki
o Terdiri atas tulang trochanter, femur, tibia, tarsus.
o Tarsus mempunyai 5 persendian, pada segmen terakhir terdapat kuku, dimana
diantara kuku terdapat bantalan duri atau bulu.
6. Sayap
Ditunjang oleh vena yang merupakan trachea (saluran nafas insecta).
7. Abdomen
8. Sistem respirasi
Trachea yang berhuungan dengan udara luar melalui stigmata atau spirakel pada tiap
segmen
9. Saluran pencernaan terdiri atas
o Stomodaeum (rongga mulut, kelenjar saliva, epipharing dan hipopharing, pharing,
proventrikulus, tembolok)
o Mesenteron (usus tengah, ujung posteriornya terdapat cincin saluran malphigi
untuk alat ekskresi)
o Proctodaeum (usus belakang dan rectum)
10. saluran vascularisasi
Terdapat jantung di dorsal tubuhnya
11. Sistem syaraf
Terdapat rantai ganglia ventral dan disini menyebar syaraf ganglia thorax dan
abdomen berfusi.
12. Sistem reproduksi
o Pada jantan terdapat 2 buah testis, masing-masing dengan vas deferens, vesicula
seminalis dan penis
o Pada betina terdapat 2 buah ovarium menuju ovipositor
59
o Sebagian insekta ovariparus dan sebagian pupiparus (megeluarkan larva dan
segera menjadi pupa. Larva dipelihara di oviduk. Uterus menghasilkan air susu
dimana larva menyusu.
Metamorfosis dibagi menjadi dua :
5. Lengkap. Bentuk yang menetas dari telur disebut larva, larva
kemudian tumbuh menjadi bentuk diam (pupa), selanjutnya di dalam
pupa terbentuk imago (dewasa).
6. Sederhana. Bentuk yang menetas dari telur meyerupai bentuk dewasa
disebut nimfa yang selanjutnya berganti kulit menjadi imago.
Macam-macam larva
1. Larva polipod (contohnya ulat dan kupu-kupu)
o Mempunyai kepala yang jelas
o Thorax terdapat 3 segmen, masing-masing terdapat kaki
o Abdomen 10 segmen terdapat 5 pasang kaki kait berotot (proleg)
2. Larva oligopod (contonya kumbang)
o Kepala jelas
o Thorax terdapat 3 pasang kaki
o Tidak terdapat kaki pada abdomen
3. Larva apodus (contohnya lalat rumah dan semua diptera)
o Tidak terdapat kaki pada thorax dan abdomen
o Kepala rudimenter
o Sering disebut maggot
Macam-macam pupa
1. Pupa exarate (contohnya kumbang)
o Pupa aktif
o Sayap dan kaki insekta dewasa dapat dilihat dari luar
2. Pupa obtactat (contohnya kupu-kupu)
Kaki dan sayap terikat pada tubuh dan mengalami moulting tetapi biasanya dapat
dilihat dari luar
3. Pupa coarctate (contohnyaa famili Cyclorrapha)
Pupa terbungkus kulit larva terakhir yang disebut puparium
Kulitnya mengeras, insekta didalamnya tidak dapat terlihat
Kelas Insecta terbagi menjadi Sub kelas Apterygota (tidak bersayap) dan sub kelas
Pterygota (bersayap)
Sub kelas Pterygota dibagi menjadi 2 klasifikasi:
1. Exopterygota
o Sayap berkembang di luar
o Metamorfosis sederhana
o Jarang pada tingkat pupa
o Contohnya kutu buku, kutu busuk dan rayap
60
2. Endopterygota
o Sayap berkembang di dalam
o Metamorfosis lengkap
o Mengalami tingkat pupa
o Contohnya insecta ordo Diptera
Ordo :
1. Coleoptera (contohnya kumbang)
2. Hymenoptera (contohnya tawon)
3. Lepidoptera (contohnya kupu-kupu)
4. Neuroptera (contohnya lace wings)
5. Siphonaptera (contohnya pinjal)
6. Diptera (contohnya lalat)
Ordo : Diptera
I. Sub Ordo : Nematocera
1. Famili : Culicidae
Genus : Culex, Anopheles, Aedes, Mansonia, Armigeres
2. Famili : Ceratopogonidae
Genus : Culicoides
3. Famili : Psychodidae
Genus : Phlebotomus
4. Famili : Simuliidae
Genus : Simulium
II. Sub Ordo : Brachycera
1. Famili : Tabanidae
Genus : Tabanus, Haematopota, Chrysops
III. Sub Ordo : Cyclorrapha
1. Famili : Muscidae
Genus : Musca, Stomoxys, Haematobia
2. Famili : Glossinidae
Genus : Glossina
3. Famili : Calliphoridae
Genus : Lucillia, Phormia, Chrysomia, Sarchopaga
4. Famili : Oestridae
Genus : Oestrus, Hypoderma, Cephalopsis, Pharyngobolus
5. Famili : Cuterebridae
Genus : Dermatobia, Cuterebra
6. Famili : Hypoboscidae
Genus : Hippobosca, Malophagus
Sub Ordo Nematocera
1. Famili Culicidae
o Antenna terdiri atas 14-15 segmen, berbulu pada yang jantan
o Probosis panjang
o Sayapnya terdapat sisik
61
o Siklus hidup : telur ditetaskan di atas air dan di atas tanaman yang mengapung
setelah telur menetas kemudian menjadi larva. Larvanya telah memiliki kepala,
thorax dan abdomen yang jelas. Pada kepala terdapat mata, antenna dan beberapa
rambut. Bagian mulut merupakan alat pengunyah. Thorax tidak bersegmen dan
memiliki bulu-bulu. Terdapat stigmata yang berhubungan dengan trachea. Larva
mengalami pergantian kulit sampai dengan 4 kali, kemudian berubah menjadi
pupa. Pupa tidak aktif seperti pada saat menjadi larva. Pada bagian apeks dorsal
pupa bertaut dengan bagian lateral stigmata mencuatlah sepasang lubang atau
terowongan pernafasan, pupa bernafas melalui lubang tersebut. Perkembangan
selanjutnya adalah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk dewasa betina perlu
menghisap darah untuk pematangan telur. Nyamuk betina dewasa tertarik oleh
radiasi panas kulit induk semang.
2. Famili Ceratopogonidae
o Mempunyai ukuran kecil
o Pada nyamuk jantan disebut juga dengan nyamuk penggigit, disebut juga dengan
lalat pasir bersama dengan Simuliidae
o Probosis pendek digunakan untuk menghisap darah
o Mandibula sebagai penggunting
o Sayapnya tidak bersisik tetapi berbulu
o Siklus hidup : telur diletakkan berkelompok pada pasir yang basah, lumpur,
kolam, aliran sungai atau kotoran ternak. Telur kemudian berkembang menjadi
larva. Larva menyerupai cacing, berwarna putih, thoraxnya terdiri atas 3 segmen,
abdomen 11 segmen, segmen terakhir terdapat spina sebagai alat pergerakan,
larva bernafas melalui kulit. Selanjutnya larva berubah menjadi pupa. Pada pupa
terdapat terompet respirasi, keseluruhan pupa ditutupi oleh spina. Perkembangan
selanjutnya menjadi dewasa, dimana setelah menjadi dewasa banyak berperan
dalam penyebaran berbagai penyakit.
3. Famili Simuliidae
o Disebut juga dengan lalat hitam (black flies) atau disebut juga dengan nyamuk
kerbau.
o Probosis pendek
o Antenna pendek
o Sayap tidak bersisik dan tidak berbulu
o Tubuh ditutupi dengan bulu berwarna perak
o Siklus hidup: telur diletakkan pada batu atau tanaman yang dekat dengan
permukaan air . Telur berkembang menjadi larva. Larva bersifat carnivora.
Bagian anterior larva terdapat mulut yang dilengkapi organ yang menyerupai
sikat. Pada bagian ventral larva terdapat proleg yang mempunyai kait sebagai alat
pergerakan. Larva mengalami pergantian kulit sampai dengan 6 kali. Larva
selanjutnya berubah menjadi pupa obtacte. Pupa memiliki saluran pernafasan
dorsal dan ventral. Pupa selanjutnya menjadi lalat dewasa.
o Lalat dewasa berpotensi mengakibatkan penyakit akut pada sapi yag ditandai
dengan ptechiae hemoragica, karena terdapat toxin Simulium. Penyakit tersebut
mengakibatkan kematian ternak. Lalat dapat juga menyerang rongga hidung
62
sampai dengan paru-paru. Pada lalat betina lalat dapat juga menyerang puting
susu. Pada unggas dapat menimbulkan anemia.
o Lalat aktif pada pagi dan sore hari, pada siang hari lalat beristirahat di bawah
pohon.
4. Famili Psycodidae
o Disebut juga denga lalat pasir atau juga disebut dengan nyamuk burung hantu
o Ukurannya kecil
o Tubuh dan sayapnya berbulu
o Memiliki kaki panjang
o Antenna panjang dan tebal tertutup bulu
o Siklus hidup : telur dapat ditemukan pada tempat yang lembab. Telur kemudian
berkembang menjadi larva. Larva menyerupai ulat, dimana larva memakan
kotoran hewan lain atau daun-daun kering. Larva berubah menjadi pupa
kemudian menjadi bentuk dewasa.
o Lalat ini merupakan penerbang yang lemah
o Aktif pada malam hari. Pada siang hari bersembunyi.
Sub Ordo : Brachycera
Famili Tabanidae
o Disebut dengan lalat kuda atau breeze fly
o Memiliki ukuran yang besar
o Mata pada lalat jantan berdekatan (holoptik) sedangkan pada yang betina
berjauhan (dichoptik)
o Sayap kuat dan gesit
o Pada genus Chrysop sayap mempunyai pita gelap, mata berwarna metalik. Genus
Haematopota pada sayapnya terdapat bercak-bercak halus. Genus Tabanus
memiliki sayap yang terang dan tembus, serta terdapat garis longitudinal coklat di
abdomen.
o Siklus hidup : telur diletakkan di bawah daun di dekat air. Telur menetas menjadi
larva yang jatuh ke air atau lumpur. Larva bersifat carnivora, yang memakan
crustacea kecil, bahkan memakan sesama larva. Larva mengalami pergantian kulit
beberapa kali, selanjutnya menjadi pupa, lalu menjadi dewasa.
o Lalat jantan menghisap madu sedangkan lalat betina menghisap darah.
Sub Ordo : Cyclorrapha
1. Famili Muscidae
1.1Genus Musca
Spesies Musca domestica
o Lalat rumah biasa
o Thorax abu-abu kekuningan sampai dengan abu-abu gelap. Mempunyai 4 garis
longitudinal yang lebarnya sama
o Abdomen warna dasarnya kekuningan dan garis hitam di median. Pada yang
betina garis hitam di kedua sisinya difus.
63
o Mulut sebagai alat penyerap cairan makanan. Sebelum menghisap lalat
mengeluarkan saliva dan cairan tembolok pada makanan tersebut (vomit drop)
sehingga dapat menularkan penyakit.
o Siklus hidup: telur diletakkan pada kotoran hewan atau manusia atau bahan-bahan
organik yang membusuk. Telur berkembang menjadi larva. Larva memiliki
stigmata, mengalami 3 kali pergantian kulit. Larva selanjutnya berubah menjadi
pupa kemudian menjadi lalat dewasa.
o Musca domestica bukan merupakan lalat penghisap darah tetapi mengikuti lalat
penghisap darah untuk memakan darah yang busuk dan cairan jaringan.
1.2 Genus Stomoxys
Spesies: Stomoxys calcitrans
o Dikenal sebagai lalat kandang
o Thorax berwarna abu-abu mempunyai 4 garis longitudinal yang gelap
o Pada abdomen terdapat 3 bintik hitam pada segmen kedua dan ketiga
o Siklus hidup: Stomoxys meletakkan telurnya pada kotoran kuda tetapi lalat lebih
suka menaruh pada tanaman membusuk terutama bila terkontaminasi urin. Telur
berkembang menjadi larva. Pada larva stigmata terpisah jauh. Larva berkembang
menjadi pupa kemudian menjadi lalat dewasa.
o Lalat jantan dan betina adalah lalat penghisap darah.
1.3 Genus Haematobia
o Merupakan lalat muscidae penghisap darah paling kecil
o Mukanya perak abu-abu.
o Thorax perak abu-abu. Pada bagian median dan lateral terdapat 2 garis gelap yang
jelas.
o Arista berbulu hanya pada bidang dorsalnya
o Haematobia exigua disebut juga lalat kerbau. Lalat ini mampu memindahkan
T.evansi penyebab penyakit Surra
o Haematobia irritan disebut juga lalat tanduk karena terdapat pada pangkal tanduk
atau punggung, bahu dan perut sapi.
o Lalat ini merupakan lalat penghisap darah dan menyebabkan iritasi karena
sobekan yang terus menerus pada kulit
o Siklus hidup: telur diletakkan pada kotoran sapi atau kerbau. Telur kemudian
berkembang menjadi larva. Larva membenamkan diri kedalam kotoran dan
makan di dalamnya. Larva berkembang menjadi pupa, kemudian menjadi dewasa.
2. Famili Oestridae
o Lalat dewasa berambut
o Bagian mulut rudimenter dan tidak makan
o Larva bersifat parasitik, biasanya mempunyai kait di mulutnya, tetapi larva tidak
memiliki kepala. Larva memakan cairan tubuh dari inang atau eksudat
disekitarnya, mengalami 2 kali moulting selanjutnya menjadi pupa kemudian
menjadi dewasa.
2.1 Genus Oestrus
64
Spesies : Oestrus ovis (sheep nasal fly)
o Warna abu-abu dengan bintik-bintik hitam kecil yang terutama menonjol di
bagian thorax dan tertutup rambut coklat muda
o Larva terjadi pada rongga hidung, kadang-kadang larva diletakkan pada mata,
nostril dan pada bibir manusia.
2.2 Genus Hypoderma
Spesies: Hypoderma bovis dan Hypoderma lineate
o Kedua lalat ini berambut dan mempunyai mulut yang tidak berfungsi
o Rambut-rambut pada bagian kepala dan bagian anterior thorax berwarna putih
kekuningan pada H. Lineata dan kehijauan pada H.bovis
o Bagian perutnya tertutup rambut kuning muda di bagian anterior kemudian bagian
posterior memiliki rambut kuning oranye
3. Famili Caliphoridae
o Larvanya merupakan pemakan daging atau parasit pada arthropoda lain. Larva
biasanya berbulu kasar dan ditandai dengan adanya sebaris bulu kasar pada
hypopleuron
o Famili ini dibagi menjadi 2 sub famili yaitu Calliphorinae dan Sarcophaginae.
o Calliphorinae disebut juga dengan blow fly, berwarna biru metalik atau hijau.
Sarcophaginae meliputi lalat daging yang mempunyai garis abu-abu longitudinal
pada thorax dengan hiasan papan catur pada abdomen.
Sub Famili Calliphorinae
3.1 Genus Lucillia
o Nama lainnya adalah Phoenicia atau lalat hijau botol atau lalat botol tembaga
o Spesies: L.cuprina, L.sericata
o Lalat ini berwarna metalik cerah atau hijau metalik
o Warna mata coklat kemerahan
3.2 Genus Calliphora
o Spesies: C. Erythrocephala
o Disebut lalat botol biru karena tubuhnya biru metalik
o Tubuh besar bila terbang, dengungannya keras
o Mata merah, genae merah, bulu hitam
3.3 Genus Phormia
o Spesies: P.regina
o Phormia meletakkan telurnya pada wool domba
o Thorax berwarna hitam dengan cahaya hijau kebiruan metalik
o Abdomen hijau atau biru
3.4 Genus Chrysomia
o Myasis pada domba sering disebabkan oleh serangan gabungan dari beberapa
spesies seperti Lucillia, Calliphora, Phormia dan Chrysomia
o Muka berwarna kuning oranye
65
o Lalat berwarna hijau kebiruan dengan 4 garis pada prescutum
o Siklus hidup: lalat meletakkan telurnya pada karkas, luka dan bahan makanan
yang membusuk. Telur berkembang menjadi larva. Larva memiliki 2 kait mulut
pada bagian anteriornya. Pada bagian posterior terdapat lempeng stigmata. Larva
mengalami ekdisis 2 kali. Terdapat 2 macam larva, pertama adalah larva berbulu
dimana larva dilengkapi dengan penonjolan seperti duri atau spina. Yang
termasuk larva berbulu adalah C.rufifacies dan C.albiceps. Yang kedua adalah
jenis larva halus, karena tidak memiliki spina. Yang termasuk larva halus adalah
C. microphogon. Sebelum menjadi pupa, larva berjalan jauh masuk ke dalam
tanah sehingga menjadi pupa di bawah tanah. Setelah menjadi pupa,
perkembangan selanjutnya menjadi lalat dewasa.
Sub Famili Sarcophaginae
o Dikenal sebagai lalat daging (flesh fly)
o Warna abu-abu terang/gelap
o Thorax terdapat 3 garis gelap longitudinal
o Dorsal abdomen terdapat bercak gelap/kotak catur hitam abu-abu
o Maeletakkan larvanya pada luka/lecet-lecet atau pada daging busuk
Ordo Phthiraptera
1. Sub Ordo Mallophaga
Super Famili Ischnocera
Super Famili Amblycera
2. Sub Ordo Anoplura
2.1 Famili Pediculidae
2.2 Famili Haematopinidae
2.3 Famili Linognatidae
3. Sub Ordo Ryncoptirina
Ordo Phtiraptera (Lice)
o Tidak mempunyai sayap
o Tubuh pipih dorsoventral
o Antena pendek terdiri dari 3-5 segmen
o Tidak didapatkan mata, kecuali pada Pediculus humanus dan Phtirus pubis
o Segmentasi thorax tidak begitu jelas
o Pada bagian abdomen terdapat penebalan dari lapisan chitin yang disebut dengan
paratergal plate
o Siklus hidupnya termasuk simple metamorfosis
o Telurnya berbentuk oval dan mempunyai operculum yang dapat melekat pada
bagian bulu/rambut
66
Perbedaan Anoplura, Mallophaga dan Rynchopthirina
Anoplura Mallophaga Rynchopthirina
Mulut menghisap menggigit peralihan
menggigit dan
menghisap
Host terutama burung gajah
mamalia
Sex jantan dan sulit dibedakan dapat dibedakan
betina mudah
dibedakan
Sub Ordo Mallophaga (biting lice)
o Spesies ini memakan runtuhan epitel kulit inangnya/ pada bulu inangnya
o Mulut digunakan untuk mengunyah makanan dan juga untuk menghisap cairan
tubuh inang
o Terjadi fusi antara mesothorax dengan metathoraxnya, prothoraxnya sangat jelas
dapat dipisahkan
o Spirakel terdapat pada ventral mesothorax
o Pada tarsusnya terdapat 2 kuku terutama pada yang menyerang burung, sedang
yang menyerang mamalia terdapat 1 kuku
Super Famili Ischnocera
Perbedaan antara Ischnocera dan Amblycera
Ischnocera Amblycera
Antena filiformis, terdiri dari 3-5 Antenna kecil, tersembunyi dan
segmen sukar didapat
Tidak didapatkan palpus Terdapat palpus maksilaris
maksilaris
Segmen abdomen ke-1 dan 2 Dari 11 segmen abdomen, hanya
berfusi,, juga segmen 9 dan 10 9 segmen yang tampak
Contoh Ischnocera pada unggas
a. Lipeurus heterographus
o Menyerang bagian kepala unggas sehingga disebut kutu kepala unggas
o Habitatnya pada kulit dan bulu di daerah kepala dan leher
o Telur diletakkan satu-satu pada bulu
b. Lipeurus caponis
o Disebut kutu sayap unggas
c. Goniocotes gigas
d. Goniocotes gallinae
e. Columbicola columbae
f. Anaticola anseris
g. Chelopistes anseris
67
Contoh Ischnocera pada mamalia
a. Damalinia bovis, menyerang sapi
b. Damalinia equi, menyerang kuda
c. Damalinia ovis, menyerang domba
d. Damalinia caprae, menyerang kambing
e. Bovicola painei, menyerang kambing
f. Trichodectes canis, menyerang anjing
g. Felicola subrostratus, menyerang kucing
Super Famili Amblycera
o Antenna tidak tampak jelas
o Palpus maksillarisnya ada tetapi mungkin membingungkan atau sukar
dibedakan dengan antenna
o Antenna terdiri dari 4 segmen, segmen ke-3 tampak seperti batang keras.
Antena juga digunakan untuk membedakan jantan dan betina. Antena
jantan bulat panjang dengan pembesaran pada segmen pertama
Amblycera pada unggas
1. Menopon gallinae
o Menyerang ayam, bebek dan burung dara
o Telurnya diletakkan bergerombol pada bulu induk semang
o Berwarna kuning pucat
2. Menopon phaestomum
o Menyerang burung merak
3. Menacanthus stramineus
o Menyerang unggas, kalkun, burung merak
o Berwarna kuning
o Kutu ini berbahaya pada anak ayam
o Merupakan kutu badan, menyukai kulit yang tidak berbulu seperti daerah
sekitar anus
4. Trinoton anserium
o Menyerang bebek dan angsa
Contoh Amblycera pada mamalia
1. Gyropus ovalis, terutama menyerang marmut dan rodent
2. Gliricola porcelli, terutama menyerang marmut dan rodent
3. Trimenopus hispidum, terutama menyerang marmut dan rodent
4. Heterodoxus spineger, menyerang anjing
5. Heterodoxus longitorsus
6. Heterodoxus macropus, menyerang wallabies dan kanguru
Sub Ordo Anoplura
o Bentuk mulutnya disesuaikan dengan fungsinya untuk menghisap cairan tubuh
dan menghisap darah inang
o Terdapat 2 antenna yang terdiri dari 5 segmen
o Tidak terdapat perbedaan yang nyata jenis kelamin jantan dan betina
68
o Thorax kecil terdiri dari 3 segmen dan menyatu menjadi satu, sedang abdomennya
besar terdiri dari 7-9 segmen. Pada segmen abdomen tampak penebalan chitin
disisi kanan kirinya yang berwarna coklat tua sampai hitam disebut paratergal
plate
o Mata sangat kecil sampai tidak ada. Pada Pediculus humanus dan Phtirus pubis
terdapat mata yang jelas
o Pada pasangan kaki pertama lebih kecil dari yang lain, terdapat kuku yang lemah,
pada pasangan kaki ke-3 merupakan kaki terbesar dan 2 tarsusnya sulit dibedakan.
Tiap tarsus mempunyai 1 kuku
o Pada golongan Haematopinidae terdapat spiracle pada sisi dorsal dari mesothorax
dan 6 pasang spirakel pada abdominal
o Dalam Sub Ordo Anoplura terdapat 3 famili penting yaitu : Haematopinidae,
Linognatidae dan Pediculidae. Perbedaan diantara ketiganya adalah
Pediculidae Haematopinidae Linognatidae
Mata Ada Tidak ada Tidak ada
Paratergal plate Ada Ada Tidak ada
o Yang termasuk Famili Pediculidae adalah:
1. Pediculus humanus pada manusia. Berdasarkan lokasinya dapat dibedakan
Pediculus humanus capitis pada kepala dan Pediculus humanus corporis pada
badan
2. Phtirus pubis, pada rambut sekitar pubis manusia
o Morfologi Famili Haematopinidae:
1. Tanda umum, tidak mempunyai mata dan tidak didapatkan sisa mata
2. Dibelakang antenna didapatkan penonjolan yang khas untuk mendiagnosa famili
ini
3. Terdapat deretan spina/duri pada setiap segmen dari abdomen dan tampak jelas
adanya paratergal plate
4. Kuku hanya didapatkan pada kaki pertama
5. Contoh:
a. Haematopinus asini, menyerang kuda dan merupakan kutu penghisap
b. Haematopinus suis pada babi
c. Haematopinus eurysternus pada sapi
d. Haematopinus quadripertusus pada sapi di Queensland
o Morfologi Famili Linognatidae:
1. Tidak didapatkan adanya mata
2. Bagian abdomennya membranous dengan banyak rambut pada segmennya
3. Kuku hanya terdapat pada kaki yang terkecil/pasangan kaki pertama
4. Merupakan parasit ungulata dan kambing
5. Contoh :
a. Linognatus ovillus, menyerang domba, disebut kutu badan atau kutu biru
b. Linognatus vitulli pada sapi
c. Linognatus africanus pada domba
d. Linognatus pedalis pada domba
69
e. Linognatus stenopsis pada kambing
f. Linognatus sitosus pada anjing dan srigala
g. Solenoptes capillatus pada sapi di USA, Eropa dan Australia
Sub Ordo Rhyncopthirina
o Hanya terdapat 1 famili yaitu Haematomyzidae, terdiri dari 2 spesies yaitu
Haematomyzus elephantis pada gajah dan Haematomyzus hopkinsi pada babi
o Kepala memanjang ke depan membentuk rostrum/probosis di bagian ujung
terdapat mandibula
o Dianggap sebagai bentuk peralihan Anoplura dan Mallophaga
Ordo Siphonaptera/pinjal (fleas)
o Tidak mempunyai sayap, bentuknya sangat pipih, mempunyai kulit dengan
lapisan chitin yang tebal berwarna coklat tua. Terdapat simple eyes yang terdiri
dari satu lensa, tidak mempunyai compound eyes
o Mulutnya untuk menyobek dan menghisap. Kakinya sangat kuat sehingga dapat
melompat jauh. Abdomen terdiri dari 10 segmen. Pada segmen ke-9 pada jantan
ataupun betina didapatkan dorsal plate yang mempunyai rambut-rambut sensoris
(alat peraba) yang disebut dengan sensillum/pygidium
o Pada pinjal jantan penisnya aedeagus, berbentuk lingkaran yang terdiri dari bahan
chitin. Pada yang etina terdapat spermateca yang bentuknya spesifik. Pada
beberapa spesies seperti pada anjing (Ctenocephalides canis) dan pada kucing
(Ctenocephalides felis) terdapat spina/duri yang banyak didapatkan pada daerah
kepala dan thorax yang dikenal sebagai comb/ctenidia
o Pada gena/cheek/pipi, terdapat genal comb dan pada posterior segmen thorax
pertama terdapat pronotal comb. Antenna yang pendek tersembunyi di lekukan
daerah kepala. Siklus hidupnya termasuk complete metamorfosis/holometabolous
o Siklus hidup: telur diletakkan pada debu atau tempat kotor. Telur berwarna putih
mutiara. Telur berkembang menjadi larva. Pada larva terdapat 3 segmen thorax,
10 segmen abdominal yang terakhir tedapat 2 kait yang disebut dengan anal struts
untuk bergantung atau lokomosi. Warna larva kekuningan. Larva takut pada sinar.
Larva memiliki mulut tipe pengunyah, memakan darah kering, tinja/bahan
organik lain tetapi butuh sedikit darah segar. Larva dapat ditemukan pada celah-
celah lantai serta dibawah karpet. Perkembangan setelah larva adalah menjadi
kepompong (coccon), selanjutnya pupa keluar, kemudian menjadi dewasa
o Ordo Siphonaptera terdapat 3 famili
1. Ceratophyllidae (pada rodensia)
Spesies: -Ceratophyllus fasciatus (pinjal tikus)
- Ceratophyllus gallinae (pinjal ayam)
2. Pulicidae
Spesies: - Pulex irritans (pinjal manusia)
- Xenopsylla cheopis (pinjal tikus)
- Ctenocephalides felis (pinjal kucing)
- Ctenocephalides canis (pinjal anjing)
- Leptopsylla musculi (pinjal tikus)
- Ceratophyllus gallinae (pinjal ayam)
70
- Echidnophaga gallinae (stick-fast unggas)
- Spilopsyllus cuniculi (pinjal kelinci)
- Tunga penetrans (pinjal manusia)
3. Leptopsyllidae
Spesies: Leptopsylla segni (pinjal rodensia)
KELAS ARACHNIDA
Sub Kelas Acari/Acarina
I. Ordo Opilioacariformes
II. Ordo Parasitiformes
1. Sub Ordo Tetrastigmata
2. Sub Ordo Mesostigmata
3. Sub Ordo Metastigmata
Super Famili Ixodidae
1. Famili Ixodidae
a. Genus: Ixodes Spesies: Ixodes ricinus
b. Genus: Hyalomma Spesies: H.exosuatum
c. Genus: Haemaphysalis Spesies: H.bancrofti
d. Genus: Dermacentor Spesies: D.andersoni
e. Genus: Amblyomma Spesies:A. Variegatum
f. Genus: Ripicephalus Spesies: R.sanguineus
g. Genus: Boophilus Spesies: B.annulatus
2. Famili : Argasidae
Genus : Argas Spesies: A.persicus; Otobius megnini; Ornithodoros moubata
3. Famili: Dermanyssidae
Genus: Dermanyssus (tungau merah ayam) Spesies: D.gallinae; Ornithossus
bacoti
III. Ordo: Acariformes
1. Sub Ordo: Prostigmata
Super Famili : - Trombidioidea
- Demodicidae
2. Sub Ordo: Astigmata
3. Sub Ordo: Cryptostigmata
Siklus Hidup : Telur-larva-nimfa-dewasa
1. Berinang satu: larva sampai dewasa pada satu inang (Boophilus microplus)
2. Berinang dua: Larva-nimfa pada satu inang, nimfa jatuh-dewasa pada inang yang
lain (Ripicephalus evertsi, Ripicephalus bursa, Hyalomma excavatum)
3. Berinang tiga: Larva pada inang I, jatuh menjadi nimfa mencari inang II, jatuh
menjadi dewasa mencari inang III (Ripicephalus sanguineus, Haemaphyssalis
bancrofti)
4. Berinang banyak: misalnya Ornithodorus moubata
KELAS ARACHNIDA
o Contohnya adalah kalajengking, caplak dan tungau
71
o Berbeda dengan insecta dalam struktur dan fungsinya. Antenna, sayap dan
mata majemuk tidak ada, seperti juga halnya pembagian kepala, dada dan
abdomen.
o Mata Arachnida kecil dan terutama makan cairan jaringan hewan yang
dihisapnya dengan menggunakan faring penghisap
o Arachnida bersifat carnivora dan banyak diantaranya mempunyai kelenjar
racun dan kuku beracun sehingga mampu melumpuhkan mangsanya
sebelum dihisap cairan jaringannya
o Pasangan pertama dan kedua dari segmen tambahannya bermodifikasi
untuk membantu saat makan, pasangan pertama disebut chelicera dan
pasangan kedua pedipalpus, kedua alat bantu ini tajam dan kelenjar racun
berkaitan dengan alat ini. Kelenjar racun dari kalajengking berkaitan
berada pada ujung dari segmen tubuhnya
o Persendian basal dari pedipalpus pada Arachnida dan juga kaki untuk jalan
dibelakangnya dapat mengandung gigi-gigi yang menolongnya dalam
merobek mangsanya. Persendian basal ini disebut gnathobases
o Thorax dan abdomen bersatu. Nama prosoma diberikan pada segmen
pertama. Nama ophistosoma diberikan pada sisa segmen yang lainnya.
Prosoma mengandung chelicera, pedipalpus dan 4 pasang kaki
(podosoma)untuk jalan. Ophistosoma berhubungan dengan abdomen.
Podosoma dan ophistosoma kadang-kadang keduanya disebut dengan
Idiosoma. Pembagian ini tidak sesuai dengan keadaan tubuh tungau dan
caplak karena tubuh spesies ini sudah kehilangan tanda-tanda segmentasi
dari luar.
o Sebagian besar menunjukkan pembagian ke dalam dua bagian yaitu,
gantosoma anterior yang mengandung chelicera, pedipalpus dan hipostom
yang hanya berkembang pada spesies ini saja. Gnatosoma caplak dan
tungau disebut capitulum. Bagian posterior yang tunggal yang mewakili
fusi podosoma dan ophistosoma sehigga disebut idiosoma.
o Mulut caplak dan tungau simodifikasi untuk menghisap darah dan cairan
tubuh serta untuk memegang inang.
o Arachnida bernafas dengan menggunakan insang buku dan trachea.
Beberapa spesies tidak mempunyai organ pernafasan khusus tetapi
menyerap oksigen dari kutikula
o Kelas Arachnida meliputi:
1. Scorpionidea
2. Pedipalpea
3. Araneidea
4. Palpigradea
5. Cheliferae
6. Podogonea
7. Phalanginea
8. Acarina
72
ACARINA
o Spesies yang dijumpai dari kelas ini dikenal ada yang berkulit keras dan lunak
dan ada yang bertubuh kecil bahkan sangat kecil yang lazim disebut tungau
o Bagian mulutnya terdapat sepasang chelicera, sepasang pedipalpus dan
diantaranya terdapat struktur yang menyerupai gigi yang disebut hypostom.
Bagian kepala secara keseluruhan disebut dengan gnathosoma dilengkapi dengan
bentukan yang disebut dengan capitulum. Segmentasi dibagian tubuh tidak
dijumpai.
o Siklus hidup: Telur menjadi larva yang dilengkapi denga 3 pasang kaki. Larva
mengalami moulting kemudian menjadi nimfa yang dilengkapi dengan 4 pasang
kaki tetapi belum dilengkapi dengan organ reproduksi, setelah itu menjadi dewasa
yang dilengkapi dengan 4 pasang kaki dan organ reproduksi.
Ordo Parasitiformes
Sub Ordo Mesostigmata
o Nama Sub Ordo berkenaan dengan pada kenyataan bahwa sepasang stigma
tunggal ada di lateral dan ada disebelah luar coxae kaki. Seperti pada caplak,
stigma ini mungkin berasal dari plat peritoneal
o Tidak ada alat penghisap genital
o Dari sekian banyak spesies dari Ordo Mesostigmata, hanya ada satu kelompk dari
sub ordo ini yang disebut Gamasida atau tungau Gamasid. Sebagian dari tungau
Gamasid tidak parasitic dan hidup didalam tanah, kebanyaka pada kayu yang
busuk/litter , yang lain berparasit pada kumbang, insek lain, burung, kelelawar,
dan mamalia lain.
Famili: Dermanyssidae
Genus:Dermanyssus
Spesies: Dermanyssus gallinae
o Menyerang ayam, merpati, dan burung liar mungkin juga manusia.
o Tungau ini disebut juga tungau merah ayam, tetapi seperti tungau yang lainnya
hanya berwarna merah bila menghisap darah, bila tidak warnanya keputihan agak
abu-abu hitam
o Siklus hidup: telur diletakkan biasa setelah menghisap darah dalam dinding
kandang ayam. Tlur kemudian berubah menjadi larva, selanjutnya berubah
menjadi nimfa. Protonimfa yang akan menghisap darah inang kemudian berganti
kulit. Deutonimfa lalu menghisap darah inang, kemudian menjadi dewasa.
Genus: Ornithossus
o Spesies ini sering disebut tungau tikus daerah tropis dan sebagai parasit pada tikus
dan manusia di seluruh dunia
o Chelicera tanpa gigi dan ada taji pada segmen distal dari pedipalpus
o Siklus hidup: Telur diletakkan pada persembunyian tikus. Telur menetas setelah
1x menghisap darah inang. Larva mempunyai 6 buah kaki dan tidak makan,
kemudian berganti kulit, kemudian berubah mnejadi protonimfa, setelah
protonimfa menghisap darah kemudian akan mengalami pergantian kulit lalu
menjadi dewasa.
73
Sub Ordo Mesostigmata
o Terdiri dari caplak keras dan caplak lunak
o Terbagi menjadi 2 famili yaitu Argasidae termasuk didalamnya caplak ayam dan
Ixodidae atau caplak sebenarnya
Famili Argasidae
o Kulitnya tidak ditutupi oleh lapisan yang keras
o Bagian capitulum dan mulutnya terletak pada permukaan bawah anterior
o Tidak dijumpai adanya mata, jika ada terdapat pada bagian lateral supracoxal
o Terdapat sepasang spirakel
o Tidak dijumpai adanya perbedaan jenis kelamin
Genus: Argas
Spesies: Argas persicus
o Dikenal sebagai fowl tick
o Dewasa yang siap bertelur berwarna kebiruan
o Siklus hidup: Telur diletakkan pada sangkar burung, kandang ayam. Telur
berkembang menjadi larva. Larva mempunyai 6 kaki, menuju ke inang di bagian
sayap, dapat hidup selama 3 bulan tanpa makan. Larva jatuh ketanah kemudian
berganti kulit. Stadium selanjutnya adalah nimfa yang mempunyai 2 stadium.
Nimfa akan makan selama 2 jam. Kemudian menjadi dewasa, dimana pada saat
ini caplak akan makan selama 1 bulan. Betina akan melatakkan telurnya setiap
selesai makan
Genus: Otobius
Spesies: Otobius megnini
o Disebut dengan spinose ear tick
o Bentuk larva dan nimfa sering dijumpai dalam daun telinga
o Warna dan bentuk nimfa keabu-abuan
o Bentuk dewasa tidak bersifat parasit
o Bentuk telurnya mirip biola
o Siklus hidup: telur diletakkan dibawah tempat makanan, di bawah batu atau pada
sela-sela dinding. Telur berkembang menjadi larva dimana larva dapat hidup
tanpa makan selama 2-4 bulan. Berjalan menuju kedua telinga, larva menghisap
cairan limfe, warnanya putih kekuningan/pink. Larva berganti kulit menjadi nimfa
yang tetap makan di dalam saluran telinga, larva kemudian menjatuhkan diri dari
inang kemudian bersembunyi di celah-celah dinding lalu menjadi dewasa.
Genus: Ornithodorus
Spesies: Ornithodorus moubata
o Hidupnya pada gubuk pasir di bawah pohon
o Tidak memiliki mata
o Merupakan multiple host tick sehingga memudahkan penyebaran penyakit
o Siklus hidup: caplak betina bertelur pada pasir kemudian menetas dan berganti
kulit menjadi nimfa. Kemudian berkembang menjadi dewasa
74
Famili Ixodidae
o Scutum didapatkan pada seluruh permukaan tubuh bagian dorsal dari yang jantan
o Pada bentuk larva dan dewasa betina, skutum didapatkan sedikit saja
o Pada tepi posterior tubuh terdapat lekukan-lekukan yang disebut feston. Feston
berjumlah 11 buah
Genus: Ixodes
Spesies: Ixodes ricinus
o Di bagian anterior terdapat lekukan yang disebut anal groove, palpusnya panjang,
tidak mempunyai mata, tidak terdapat feston
o Inangnya yang dewasa adalah anjing dan mamalia. Pada larva dan nimfa dijumpai
pada burung, reptilia dan mamalia
o Siklus hidup: Telur menjadi larva dimana larva dapat bertahan tanpa makan
selama 19 bulan, setelah itu berkembang menjadi ninfa kemudian dewasa
Genus : Hyalomma
Spesies: Hyalomma marginatum
o Terdapat mata, feston kadang-kadang dijumpai
o Palpus dan hipostom panjang
o Inangnya pada yang dewasa terdapat pada sapi, mamalia dan burung. Larva pada
burung dan rodensia
o Caplak ini termasuk two host tick
o Predileksinya pada perineum, perianal dan organ genetalia
Genus: Haemaphyssalis
Spesies: H. Parmata, H. bancrofti
o Caplak yang berbentuk kecil
o Tidak mempunyai mata
o Bentuk palpus pendek dan tidak dijumpai feston
o Inangnya pada anjing dan mamalia yang mengalami domestikasi
o Termasuk 3 host tick
Genus: Dermacentor
Spesies: D. Variabilis, D.reticulatus
o Tubuhnya biasanya berwarna-warni, karena itu disebut ornate tick
o Dijumpai mata dan festoon
o Bentuk hipostom dan palpusnya pendek
o Inangnya adalah rodensia dan mamalia kecil
Genus: Amblyomma
Spesies: A. variegatum
o Ornate tick
o Dijumpai mata dan festoon
o Palpus dan hipostom panjang
o 3 host tick
o Bertubuh bulat besar dan agak lebar
75
Genus: Aponomma
o Ornate tick
o Ukuran tubuhnya hampir sama denga caplak Amblyomma tetapi tidak
mempunyai mata
o Dijumpai feston
o Palpus dan hipostom panjang
o Inang: reptil
Genus: Ripicephalus
Spesies: R.sanguineus
o Brown dog tick
o Ektoparasit pada sapi, kambing, domba dan anjing
o Bentuk umum caplak dari famili Ixodidae umumnya memiliki tanda-tanda
sebagai berikut:
1. Cephalothorax (bagian kepala dan thorax bersatu)
2. Capitulum bagian kepala terdapat pada bagian anterior tubuhnya
3. Scutum: sejenis pelindung keras, yang tedapat pada again dorsal
tubuh caplak , terbuat dari bahan chitin. Caplak betina dewasa
memiliki scutum yang lebih kecil dari caplak jantan dan terdapat di
sepertiga bagian anterior tubuhnya
4. Festoon: merupakan bentuk persegi/bujur sangkar sepanjang tepi
caudal dari tubuh caplak
Anatomi tubuh caplak
o Bagian kepala: terdapat mata di sebelah lateral. Pada jantan mata diatas dari coxa
I, pada betina di bagian atas dari lebarnya scutum
o Terdapat mulut yang dilengkapi dengan palpus dan hipostom, juga terdapat
sejenis gigi (chelicera)
o Bagian kaki: pada bentuk larva, mempunyai 3 pasang kuku. Pada bentuk nimfa
mempunyai 4 pasang kaki.
o Ujung segmen yang bulat panjang disebut petiole dan mengandung kait, pulvilli
o Siklus hidup: berdasarkan siklus hidupnya dibedakan menjadi 3 yaitu:
1. Berinang satu: larva-dewasa pada satu inang
2. Berinang dua: larva-dewasa pada 2 inang
3. Berinang tiga: larva pada inang I, nimfa pada inang II, dewasa pada inang III
o Ripicephalus sp pada umumya 3 host tick. R.evertsi dan R.bursa 2 host tick
o Siklus hidup: Telur menjadi larva. Larva bersembunyi dan menunggu untuk
mendapatkan inangnya. Jika mendapatkan makanan yang cukup maka akan
berganti kulit. Larva berubah menjadi nimfa. Nimfa mencari inang dan akan
menghisap darah. Bentuk larva dan nimfa banyak terdapat pada daun telinga,
lipatan kaki depan, belakang, pangkal ekor bagian bawah dan sela-sela jari inang.
Nimfa berganti kulit, kemudian mejadi dewasa. Pada saat dewasa baru dapat
dibedakan jenis kelaminnya. Betina mencari inang kemudian merayap pada
tempat terlindung dari tubuh hewan dan menghisap darah sehingga tubuh caplak
membesar dan siap untuk bertelur.
76
Genus: Boophilus
Spesies: B.microplus (B.australis); B.calcaratus; B.kohlsi; B.decoloratus disebut blue tick
karena mempunyai bagian seperti batu berwarna biru dan kaki kuning; B.annulatus
menyerang ternak di Amerika Utara
o Mempunyai 4 pasang kaki pada yang dewasa, sedangkan larva mempunyai 3
pasang kaki
o Tubuh bagian dorsal dilindungi lapisan chitin/scutum. Pada yang jantan scutum
meliputi permukaan dorsal tubuhnya, sedangkan pada yang betina scutum pada
larva dan nimfa separuh tubuhnya
o Memiliki sepasang mata
o Mulut pada bagian anterior yang dilengkapi hipostom dan palpus. Hipostom
sebagai alat penusuk dan palpus sebagai alat peraba
o Spirakel sebagai alat pernafasan
o Kaki memiliki 6 ruas, pada ujung kaki terdapat kuku (sebagai alat pengait)
o Keistimewaan pada coxal I yaitu membelah menjadi dua dan berbentuk seperti
taji yang disebut dengan internal spur dan external spur
o Pada jantan memiliki prosesus caudatus
o Mempunyai genital orifisium
o Mempunyai anus
o Pada jantan mempunyai anal plate dan ventral plate disekitar anus
o Mempunyai cervical groove (saluran) pada bagian scutum
o Sebelum menghisap darah, caplak berwarna coklat kekuningan kalau sudah
menghisap darah berwarna kebiruan
o Di Indonesia disebut caplak sapi
o Caplak ini termasuk 1 host tick
Ordo Acariformes
o Dalam istilah sehari-hari disebut tungau
o Tidak dijumpai adanya segmentasi
o Mempunyai 3 pasang kaki pada larva dan 4 pasang kaki pada nimfa dan dewasa
o Tidak terdapat mata
o Tidak terdapat rahang bawah (hipostom)
o Hampir semua ovipar
o Metamorfosis lengkap
o Dapat menimbulkan iritasi pada inang dan menghisap darah
Ordo Acariformes terdiri dari 3 subordo yaitu: Prostigmata, astigmata dan
Cryptostigmata
Sub Ordo Prostigmata
Famili Trombiculidae
Genus Trombicula
Spesies Trombicula autumnalis
o Yang bersifat parasitik adalah bentuk larvanya (chigger) bentuk nimfa dan dewasa
hidup di alam
o Bentuk yang dewasa ditutupi oleh bulu panjang dan warnanya merah kekuningan
77
o Larvanya menghisap darah inangnya melalui alat yang disebut stylostome
o Sering dijumpai pada bagian kepala dan leher inang. Bentuk larva sering
menyebabkan gatal hebat pada inang. Bentuk dewasa sering dijumpai pada tanah
berkapur dan rumput-rumputan
Famili Demodicidae
Genus Demodex
Spesies demodex canis; D.bovis; D.ovis; D.caprae
o Hidup pada folikel rambut dan kelenjar sebasea
o Bentuknya panjang seperti wortel
o Batas thorax dan abdomen masih nyata, juga masih dijumpai 4 pasang kaki
pendek dan tumpul. Abdomen bergaris-garis transversal pada bidang dorsal dan
ventralnya
o Bagian mulut terdiri dari sepasang palpi dan chelicera serta hipostom
o Dapat dibedakan jenis kelaminnya
o Seluruh siklus hidupnya berlangsung pada tubuh inangnya, terdiri dari telur, larva,
deutonimfa, dewasa, di dalam kelenjar folikel rambut atau kelenjar keringat.
o Tungau jantan terdapat pada permukaan kulit, dimana yang betina meletakkan
telur di dalam folikel rambut. Larva dan nimfa terbawa oleh aliran cairan kelenjar
ke muara folikel. Di tempat ini yang dewasa mulai kawin
o Infeksi terjadi karena kontak langsung antara penderita dan hewan sehat
o Inangnya: anjing, kucing, sapi, babi dan manusia
Sub Ordo Astigmata
o Spesies yang termasuk dalam sub ordo ini menimbulkan gangguan pada kulit
o Inang: mamalia dan burung
o Terdapat dua famili penting yaitu
Sarcoptidae Psoroptidae
Inang Mamalia dan burung mamalia
Sifat Menembus kulit inang dan Pada permukaan kulit dan
menetap di bawah jaringan menghisap makanan dengan
kulit menusukkan mulut ke dalam
kulit
Bentuk globusa oval
Dorsal Didapatkan banyak spina Tidak dijumpai
Kaki Pendek, pedikelnya tidak Panjang, pada pedikelnya
bersegmen terdapat sucker
Genital Tidak ada ada
Sucker Tidak berlobus Mempunyai lobus
Famili Psoroptidae
Terdapat tiga genus pada famili ini, diantaranya:
1. Genus Psoroptes
o Pada yang jantan terdapat copulatory sucker, betina mempunyai
copulatory tuberkel
78
o Mempunyai lapisan kutikula yang bergaris halus yang meliputi seluruh
bagian tubuhnya
o Inang: hewan berbulu banyak (kambing dan domba)
o Spesies: Psoroptes ovis
o Siklus hidup: telur-larva-nimfa kecil menjadi betina dewasa, nimfa besar
menjadi jantan dewasa
2. Genus Chorioptes
Spesies: C.equi; C.bovis; C.ovis; C.texanus; C.caprae; C.cuniculi
o Tungau mirip Psoroptes, namun keduanya dapat dibedakan dari leg
suckernya
o Predileksi terutama pada kaki. C.cuniculi pada telinga kelinci
o Disebut sebagai tungau kaki
3. Genus Otodectes
Spesies: Otodectes cynotis
Inang: anjing, kucing, anjing hutan dan kucing liar
Predileksi: di dalam telinga
Famili Sarcoptidae
Genus: Sarcoptes
Spesies: - Sarcoptes scabiei var ovis
- Sarcoptes scabiei var equi
- Sarcoptes sacbiei var suis
- Sarcoptes scabiei var bovis
- Sarcoptes sacbiei var canis
- Sarcoptes scabiei var humanis
o Tubuh bulat seperti lingkaran
o Banyak dijumpai kutikula pada permukaan luar tubuhnya dan ditemukan
tonjolan dan bulu yang keras (bristle)
o Tidak mempunyai mata dan trachea
o Pada bagian mulut ditemukan padipalp dan alat penjepit kecil
o Capitulum pendek dan kecil
o Kakinya pendek dan dilengkapi sucker yang panjang tetapi tidak melekat pada
pedikel serta sucker ini dapat membedakan tungau jantan dan betina, tungau
jantan pada pasangan kaki I,II dan III, betina pada pasangan kaki I dan II
o Anus di bagian terminal
o Siklus Hidup: Telur diletakkan dalam kelompok, dua-dua atau empat-empat
pada lubang. Tungau betina mati, telur berkembang menjadi larva yang
dilengkapi 3 pasang kaki. Larva berubah menjadi nimfa. Nimfa membuat
terowongan kemudian berganti kulit. Nimfa kemudian berunah menjadi
dewasa yang dilengkapi dengan 4 pasang kaki
79
Genus: Notoedres
Spesies: Notoedres cati
o Pada bagian dorsal ditemukan spina kecil dan tajam
o Pedikelnya panjang
o Pada yang jantan sucker tidak didapatkan pada kaki ke-3. Pada betina sucker tidak
ddapatkan pada kaki ke-4
Famili Knemidocoptidae
Genus:Knemidocoptes
Spesies: K.mutans; K.gallinae; K.pilae
Inang: unggas
o Tidak dijumpai spinal sucker pada bagian dorsal
o Pada bagian dorso posterior dijumpai dua rambut panjang
o Pada jantan pedikel pendek
o Tidak dijumpai sucker kaki pada yang jantan. Pada betina mengalami rudimenter.
80