Malam Nisyfu Sya'ban by MasadFuadi

VIEWS: 60 PAGES: 9

Keutamaan Malam nisyfu sya'ban

More Info
									  Keutamaan-Keutamaan Bulan Sya'ban Terutama
                          Malam Nishfu Sya'ban


A. Kemuliaan Bulan Sya’ban
         Bulan Sya’ban termasuk bulan yang mulia bagi umat Islam karena di bulan Sya’ban
   Allah memberikan keutamaan-keutamaan untuk beribadah dan beramal shalih serta banyak
   peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bu...lan tersebut. Firman Allah dalam QS. Ad
   Dukhan : 3 :                                             :3       Sesungguhnya Kami
   menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang
   memberi peringatan      d Dukhan : 3             Menafsiri                 malam yang diberkahi
   pada ayat tersebut pengarang Tafsir l Jalalain mengatakan :
                                                                                           :428
     ang dimaksud dengan                       (pada suatu malam yang diberkahi) adalah
   Lailatul Qadar atau malam Nishfu Sya’ban pada malam itu l Qur’an diturunkan dari
   Ummul Kitab di langit ke tujuh ke langit dunia          Tafsir l Jalalain : 428
   Sementara l lusi dalam Tafsir l lusi Ruhul Ma’ani mengatakan : {



                                                       :
                                                       ‫ح‬         ‫ع‬            ‫ش‬            ‫ح‬
     011 : ‫ج 13 ص‬               ‫آل‬               ‫هلل‬             … aitu Lailatul Qadar sebagaimana
   diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Qatadah, Ibnu Jubair, Mujahid, Ibnu Zaid, dan Al Hasan. Ini
   adalah pendapat yang diikuti oleh kebanyakan mufassir dan para dhawahir (tekstualis).
   Sedangkan Ikrimah dan sejumlah Ulama mengatakan : Itu adalah malam Nishfusy Sya’ban
   dan dinamakan juga Lailatur Rahmah, Al Lailah Al Mubarakah, Lailatush Shakki, dan
   Lailatul Bara’ah   Ruhul Ma’ani Lil Imam Syhihabuddin Mahmud bin ‘ bdullah l
   Husaini l lusi juz 13 hal 110 B Sebagian Peristiwa Penting Di Bulan Sya’ban
   1). Pelaporan amal manusia dalam setahun kepada Allah (Laporan Amal Tahunan)
   Dalam hadits disebutkan bahwa ketika sahabat Usamah bin Zaid t bertanya tentang puasa di
bulan Sya’ban maka Nabi bersabda :                               :                    ‫هلل‬
                                       :


                                       ) Usamah bin Zaid telah menceritakan kepadaku, ia
berkata : Saya bertanya : Ya Rasulullah saya tidak pernah melihat anda berpuasa pada suatu
bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana mana anda berpuasa pada bulan Sya’ban ?
maka beliau bersabda : Bulan Sya’ban adalah bulan yang dilupakan kebanyakan manusia
karena bulan yang terletak diantara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Padahal di bulan
Sya’ban amal semua umat manusia dalam setahun dilaporkan kepada Allah Rabbul
’ lamin maka ku senang berharap ketika amalku itu dilaporkan di waktu aku sedang
berpuasa [Hadits Hasan diriwayatkan oleh n Nasa'i 2357 dalam Sunan n Nasa'i
Malik dalam Al Muwaththa' riwayat Muhammad bin Al Hasan (372), Ahmad (21801 Ibnu
 bi Syaibah 9765      l Baihaqi dalam Syu'abul Iman 3820        n Nasa'i dalam Sunan n
Nasa'i l Kubra 2666              Diriwayatkan pula dalam hadits yang lain isyah ‫هلل‬
    mengatakan :           ‫هلل‬                   :                    ‫هلل‬       ‫هلل‬
                                                                     ‫هلل‬       ‫هلل‬


                       Dari ‘ isyah        ‫هلل‬       ia telah berkata : Adalah Rasulullah r
jika berpuasa sampai kami mengatakan tidak pernah berbuka, dan jika sedang tidak
berpuasa sampai kami mengatakan tidak pernah berpuasa. Aku tidak melihat Rasulullah r,
menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali puasa di bulan Ramadhan dan aku
tidak melihat di suatu bulan yang paling banyak digunakan oleh Rasulullah r untuk berpuasa
kecuali di bulan Sya’ban [HR      l Bukhari 1868 Muslim 1156                bu Dawud 2434
Ahmad (24801), Ibnu Hibban (3648), Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra (8245), An
Nasa'i dalam Sunan An Nasa'i Al Kubra(2660)]           2 Bulan Sya’ban adalah Bulan
Perpindahan Qiblat         Perpindahan qiblat shalat dari menghadap Baitul Maqdis ke
Masjidul Haram Ka’bah adalah hal yang sangat dinanti-nanti oleh Rasulullah r agar segera
turun ayat tentang perpindahan qiblat tersebut, maka setelah 6 bulan Nabi r berada di
Madinah yakni hari Selasa Nifshu Sya’ban pertengahan bulan Sya’ban turunlah Surat l-
Baqarah : 144 :
                                                                  : ١٤٤        Sungguh Kami         llah sering
melihat wajahmu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke
qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke Masjidul Haram, di mana saja kamu
berada palingkanlah wajahmu ke arahnya                      QS    l Baqarah : 144          l Jami’ Li hkam l
Qur’an Lil Qurthubi juz 2 hal 150                          3 Bulan Sya’ban adalah Bulan Shalawat Nabi
          Di antara keistimewaan bulan Sya’ban adalah bulan diturunkannya ayat Shalawat
Nabi yaitu firman Allah :                                                                                   ‫هلل‬
                        : ٥٦ Sesungguhnya llah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi (Muhammad). Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian untuk Nabi
dan ucapkanlah salam peng hormatan untuk dia                      QS         l hzab : 56 Tukhfatul Ikhwan
Lil Imam Ahmad bin Hijazi l Fisyni hal 74 C Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
Di bulan Sya’ban terdapat suatu malam yang agung yang berkah dan mulia yakni malam
Nishfu Sya’ban malam separo bulan Sya’ban Di malam itu llah membuka pintu rahmat
dan maghfirah untuk semua mahkluk serta mengabulkan untuk orang-orang yang berdoa.
          Banyak hadist-hadist Nabi r yang menerangkan tentang kemuliaan malam Nishfu
Sya’ban antara lain :                    Hadits Aisyah ra, yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi :

          ‫هلل‬          :                                                             ‫هلل‬      ‫هلل‬


                                                             :
                                                     ‫هلل‬         ‫هلل‬                                       :
                                     :
                                                                                                           :
                               ‫هلل‬                                                             :
    ‫هلل‬                                                                ‫هلل‬
                                                                                                       :
                   :                                                             :


                           :
                                                                            :
                   :            :
                                    :                                      ) isyah ‫هلل‬
    berkata : Rasulullah r masuk mendatangiku lalu beliau meletakkan kedua pakaiannya,
tidak lama kemudian beliau berdiri dan memakainya kembali. (Melihat hal itu) perasaanku
terbakar oleh rasa cemburu yang sangat, aku menyangka bahwa beliau mendatangi salah
satu dari sahabat-sahabatku (istri-istri beliau) yang lain. Lalu akupun keluar menguntit
beliau dari belakang Ternyata aku menjumpai beliau berada di pekuburan Baqi’ Baqi’ al
Gharqad) sedang memohonkan ampunan bagi kaum mukminin mukminat dan para
syuhada’    ku berkata : Demi Ayah dan Ibuku, engkau memenuhi hajat kepada Tuhanmu,
sedangkan aku mengikuti hajat duniawi       kupun kemudian pulang dan masuk ke kamarku
dengan nafas terengah-engah Lalu Rasulullah r menyusulku dan beliau berkata : Wahai
Aisyah, ada apa dengan nafasmu ?        isyah berkata : Demi yah dan Ibuku engkau
mendatangiku lalu engkau letakkan kedua pakaianmu, lalu tidak lama kemudian engkau
berdiri dan memakainya kembali. (Melihat hal itu) perasaanku terbakar oleh rasa cemburu
yang sangat, aku menyangka bahwa engkau mendatangi salah satu dari sahabat-sahabatku
(istri-istrimu yang lain sampai aku melihatmu sedang berada di Baqi’ sedang melakukan
apa yang engkau lakukan Beliau bersabda : Wahai isyah apakah engkau takut jika llah
dan Rasulnya berbuat zhalim kepadamu ? Telah datang kepadaku Jibril as dan berkata :
Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban di mana llah memerdekakan banyak orang dari
siksa neraka, sebanyak bulu-bulu kambing milik Bani Kalb. Di malam ini Allah tidak
memandang kepada orang musyrik, orang yang bermusuhan, orang yang memutus tali
persaudaraan, orang yang suka mencaci maki, orang yang durhaka kepada kedua orang
tuanya dan orang yang biasa minum khamer Kemudian beliau meletakkan kedua
pakaiannya dan berkata kepadaku : Wahai isyah, apakah engkau mengizinkanku untuk
qiyamullail pada malam ini ?        ku menjawab ; a demi yah dan Ibuku Kemudian
beliau shalat dan bersujud melewati malam yang panjang, sampai aku menyangka bahwa
beliau telah wafat. Lalu aku bangun mencari beliau dan aku letakkan tanganku di perut
telapak kakinya, ternyata bergerak-gerak. Akupun senang. Aku mendengar dalam sujudnya
beliau berkata :       a llah aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu dan aku
berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, maha
Agung Wajah-Mu, aku tidak membatasi pujian kepada-Mu, sebagaimana Engkau memuji
kepada-Mu sendiri         Ketika pagi tiba aku menyebut-nyebut doa itu di hadapan beliau. Lalu
beliau bersabda: Wahai isyah engkau telah mempelajarinya?              ku menjawab :    a
Beliau bersabda : Pelajarilah dan ajarkanlah kepada orang lain Karena Jibril telah
mengajarkan kepadaku dan memerintahkanku untuk mengulang-ulangnya dalam sujud
[HR. Al Baihaqi dan hadits ini juga diriwayatkan dari jalur periwayatan yang lain, demikian
keterangan dalam kitab Syu’abul Iman karya l Baihaqi 3837                   Juga hadits yang
diriwayatkan Sayyiduna Ali , menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

      t    :        ‫هلل‬                      ‫:هلل‬
                                                          ‫هلل‬          :
                                                                                       ( Dari
Ali bin Abi Thalib t telah berkata : Rasulullah r telah bersabda : Ketika datang malam
Nishfu Sya’ban maka shalatlah pada malamnya dan puasalah pada siang harinya,
sesungguhnya llah Ta’ala pada malam itu turun maksudnya llah menurunkan rahmat-
Nya ke langit dunia pada saat terbenam matahari sampai fajar dan berfirman : Barang
siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku kabulkan permohonannya, dan barang siapa
minta ampun maka akan Aku ampuni dosanya, dan barang siapa yang meminta rezeki maka
akan ku berikan rizki kepadanya [H R Ibnu Majah 1388                       Hadist Mu’adz bin
Jabbal , Nabi bersabda :                    t               ‫هلل‬             :           ‫هلل‬
                                                                                :
                              ) Dari Mu’adz bin Jabal t dari Nabi r telah bersabda :   llah
melihat maksudnya memberi rahmat kepada semua mahkluknya di malam Nishfu Sya’ban
untuk memberi ampunan kepada semua mahkluknya, kecuali bagi orang yang musyrik dan
orang yang bermusuhan [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Hibban 5665                th
Thabrani dalam Al Mu'jam Al Kabir (215), Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (3833 &
6628 D Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban dan Tradisi Bulan Sya’ban                      Dari
hadits-hadits tersebut di atas dan banyak hadits-hadits lainnya menunjukkan bahwa malam
Nishfu Sya’ban adalah malam yang mulia Penting sekali bagi umat Islam untuk
menghidupkan malam Nishfu Sya’ban tersebut dengan memperbanyak beramal shalih
seperti : shalat sunat membaca l Qur’an bersedekah bertaubat dan berdo’a
Dalam sebuah atsar yang bersumber dari Abdullah bin Umar, ia berkata :                    t        :
                             :
                                         ‫ج‬    : 4 ‫ ٧١٣ ص‬Dari Ibn Umar ia berkata :                da
lima malam yang do’a tidak ditolak di dalamnya yaitu : 1 malam Jum’at 2 malam
pertama di bulan Rajab 3 malam Nishfu Sya’ban malam pertengahan bulan Sya’ban                     4
dan 5 malam dua hari Raya malam Idul Fitri dan malam Idul dlha           [Mushannaf bdir
Razzaq (7927), juz 4, hal. 317]       Berkaitan dengan keutamaan bulan Sya’ban ini al-Imam
Ibn Rajab al-Hanbali, murid terkemuka Syaikh Ibn Qayyim al-Jauziyah, berkata dalam kitab
Lathaif al-Ma’arif sebagai berikut:                         ‫ج‬                                 :
‫هلل‬


                                                    ‫هلل‬      :
                                                                                                  ).
         ‫ظف ح‬         ‫ج‬      ‫ح‬               ‫فئ ط‬         ‫٦٣٢/ص ف ع‬          l-Imam Ahmad
dan al-Nasa’i meriwayatkan dari hadits Usamah bin Zaid yang berkata: Rasulullah r
terkadang berpuasa selama beberapa hari berturut-turut sehingga kami berkata, beliau tidak
sarapan pagi. Beliau juga sarapan pagi selama beberapa hari sehingga hampir saja beliau
tidak berpuasa kecuali dua hari dari Jum’at apabila dua hari itu menjadi bagian puasanya
Kalau tidak, beliau berpuasa pada dua hari itu. Nabi r tidak berpuasa pada bulan-bulan yang
ada seperti puasa beliau pada bulan Sya’ban     ku berkata kepada Nabi r Wahai
Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan sebelumnya seperti
puasa Anda pada bulan Sya’ban? Nabi menjawab Bulan Sya’ban itu bulan yang
dilupakan manusia antara bulan Rajab dan Ramadhan Bulan Sya’ban itu bulan di mana
amal manusia diangkat kepada Allah Tuhan semesta alam. Aku ingin, amalku diangkat
ketika aku sedang berpuasa        l-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif hal
236).    Dalam menghadapi bulan istimewa, di mana amal manusia dilaporkan kepada
Allah, umat Islam di tanah air melakukan tradisi ruwahan (bhs. Jawa artinya memperbanyak
sedekah, tapi menurut satu pendapat berasal dari kata arwah dari bhs. Arab yang artinya
roh-roh karena pada bulan Sya’ban biasanya dilakukan ziarah kubur untuk mendoakan para
arwah orang-orang yang telah wafat), sehingga bulan ini disebut dengan bulan Ruwah. Para
ulama juga menganjurkan agar kita memperbanyak sedekah pada momen-momen yang
dianggap penting yang sedang dihadapi. Dalam hal ini al-Imam al-Hafizh al-Nawawi
berkata:                 :                                               .                           ‫ع ج‬
  ٣٣٢/٦              ‫ح‬        Para ulama kami berkata Disunnahkan memperbanyak sedekah
ketika menghadapi urusan-urusan yang penting            al-Imam al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-
Muhadzdzab, juz 6, hal. 233).           Bahkan, berkaitan dengan anjuran peningkatan amal
kebaikan pada bulan Sya’ban al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali berkata:

                                           ‫ع‬          ‫ع‬
                                                                                                 :


                                           ‫ظف ح‬         ‫ج‬        ‫ح‬              ‫فئ ط‬     ‫ف ع‬
 ٨٥٢/‫ص‬             Oleh karena Sya’ban itu merupakan pengantar bagi bulan Ramadhan maka
pada bulan Sya’ban disyari’atkan melaksanakan hal-hal yang disyari’atkan pada bulan
Ramadhan seperti berpuasa dan membaca al-Qur’an sebagai persiapan menghadapi
Ramadhan dan agar jiwa menjadi terlatih untuk taat kepada Allah. Kami telah
meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari nas yang berkata Ketika bulan Sya’ban
tiba, kaum Muslimin biasanya menekuni mushhaf dengan membaca al-Qur’an Mereka juga
mengeluarkan zakat harta benda mereka agar membantu orang yang lemah dan miskin
dalam menjalani puasa Ramadhan             Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif hal. 258).
Pada bulan Sya’ban di kalangan masyarakat kita ada pula tradisi ziarah kubur yang di
sebagian daerah dikenal dengan tradisi nyekar (bhs. Jawa artinya ziarah kubur). Rasulullah r
juga berziarah ke makam para sahabat di Baqi’ pada malam Nishfu Sya’ban                  l-Hafizh Ibn
Rajab al-Hanbali, murid terbaik Syaikh Ibn Qayyim al-Jauziyah, berkata dalam kitab
Lathaif al-Ma’arif berikut ini:

                                                                                                      :
           r                                                         :                     ‫هلل‬
                                  ‫هلل‬                        :                                       ‫هلل‬


               ‫ج‬         ‫ح‬        ‫فئ ط‬         ‫١٦٢/ص ف ع‬                     Mengenai keutamaan
malam Nishfu Sya’ban ada sejumlah hadits-hadits lain yang diperselisihkan oleh para
ulama. Mayoritas ulama menilainya dha’if Sebagian hadits-hadits itu dishahihkan oleh Ibn
Hibban dan diriwayatkan dalam Shahih-nya. Hadits terbaik di antara hadits-hadits tersebut
adalah hadits ‘ isyah yang berkata      ku kehilangan Nabi r lalu aku keluar mencarinya
ternyata beliau ada di makam Baqi’ sedang mengangkat kepalanya ke langit Beliau
berkata     pakah kamu khawatir llah dan Rasul-Nya berbuat sewenang-wenang
kepadamu?       ku menjawab Wahai Rasulullah aku mengira engkau mendatangi sebagian
isteri-isterimu Lalu Nabi bersabda Sesungguhnya llah I turun pada malam nishfu
Sya’ban ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya melebihi jumlah
bulu-bulu kambing suku Kalb Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, al-Tirmidzi
dan Ibn Majah        l-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif hal 261   Tradisi
lain yang juga berlangsung di tengah-tengah masyarakat pada malam nishfu Sya’ban adalah
shalat sunnat secara berjamaah dan dilanjutkan dengan doa bersama. Tradisi ini berkembang
sejak generasi salaf kalangan tabi’in Dalam hal ini al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali
berkata:               :                                  :
                 :                                ‫ف‬
                                                           ‫ج‬




                                                          ‫جح ظف ح‬
 ٤٦٢/‫ف ص‬                                           l-Syafi’i berkata Kami mendapat
informasi bahwa doa dikabulkan pada lima malam yaitu malam Jum’at malam hari raya
malam 1 Rajab dan malam nishfu Sya’ban         l-Syafi’i berkata   ku menganjurkan semua
yang diceritakan pada kelima malam ini Sementara tidak ditemukan pernyataan dari Imam
 hmad mengenai malam Nishfu Sya’ban Tetapi kesunnatan ibadah shalat dan
semacamnya) pada malam itu dapat dianalogikan terhadap dua riwayat dari Imam Ahmad
mengenai ibadah pada malam hari raya. Dalam satu riwayat, Ahmad tidak menganjurkan
ibadah (shalat) berjamaah pada malam hari raya karena tidak pernah dikutip dari Nabi r dan
para sahabat. Dalam riwayat lain, Ahmad menganjurkan shalat sunnat berjamaah pada
malam hari raya karena Abdurrahman bin Yazid bin al-Aswad –ulama generasi tabi’in-
telah melakukannya Demikian pula shalat sunnat berjamaah pada malam nishfu Sya’ban
tidak ada riwayat dari Nabi r dan para sahabat Tetapi ada riwayat dari sekelompok tabi’in
dari tokoh-tokoh fuqaha penduduk Syam yang melakukan shalat sunnat secara berjamaah
(Ibn Rajab, Lathaif al-Ma’arif hal 264    WaLlahu ’lam Bish Shawab

								
To top