; Ayah
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Ayah

VIEWS: 7 PAGES: 31

  • pg 1
									                               Ayah.....Ibu...

                        Bergabunglah dengan kami

   Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu

 pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku

        akan menunjukan kepadamu jalan yang lurus (Maryam: 43).

Wahai bapakku, janganlah engkau beribadah kepada syaitan. Sesungguhnya

   syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah (Maryam: 44).

Wahai bapakku sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab

  dari tuhan yang maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan

                               (Maryam: 45).

  Ayah....Ibu...!! Apakah engkau mengira bahwa kita diciptakan begitu saja

                   .....sia-sia, padahal Allah mengatakan:

Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu

 secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada

                         kami? (Al-Muminun: 119).

      Allah swt menciptakan kita hanya untuk beribadah kepada Nya:

   Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan suaya mereka

                  beribadah kepada-Ku (Adz-dzariyat: 56).

  Bukan ibadah kepada Allah, tetapi beribadah kepada Allah saja, karena

 banyak orang beribadah kepada Allah, namun disamping itu mereka juga

beribadah kepada selain Allah. Seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin

       dahulu dan sekarang, baik yang mengaku muslim atau tidak.
Banyak ahli tafsir menafsirkan yubaduun/ supaya mereka beribadah kepada-

               Ku dengan supaya mereka mentauhidkan-Ku.

Jadi yang dituntut itu adalah mentauhidkan Allah swt dengan segala macam

   bentuk ibadah, baik itu doa, istianah, sembelihan, persembahan, tasyri

(penyandaran hukum) dan ibadah lainnya. Sedangkan tauhidullah ini tidak

terealisasi kecuali dengan berlepas diri dari setiap Mabud (yang di ibadati),

    Matbu (yang di ikuti) dan Musyarri (pembuat hukum) selain Allah.

Ayah...Ibu....itu tadi adalah inti dienul islam ini yang merupakan makna Laa

   ilaaha illallah yang mana orang tidak menjadi muslim kecuali dengan

  merealisasikan hal itu. Semua Rasul inti dakwahnya adalah sama, yaitu

              beribadah kepada Allah dan menjauhi Thaghut:

 Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (untuk

 menyerukan) sembahlah Allah saja danjauhilah Thaghut itu (An-nahl: 36).

     Laa ilaaha adalah meninggalkan Thaghut dan kufur terhadapnya

                  Illallah adalah beribadah kepada Allah.

Meninggalkan Thaghut atau menjauhi thaghut adalah cara tidak beribadah

                                kepadanya:

Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak beribadah kepadanya

   dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira(Az-zumar: 17).

   Orang yang beribadah kepada Allah namun tidak meniggalkan ibadah

tehadap Thaghut, maka dia tidak merealisasikan Laa ilaaha illallah, sehingga

               dia bukan orang muslim. Allah swt berfirman:
Siapa yang kufur terhadap Tahghut dan beriman kepada Allah maka sungguh

  dia telah berpegang pada Al urwah alwutsqa (tali yang amat kokoh) (Al-

                                baqarah: 256).

        Alurwatul wutsqa adalah laa ilaaha illallah/tauhid atau islam.

                          Rasulullah saw bersabda:

Siapa yang menucapkan laa ilaaha illallah dan kufur terhadap terhadap segala

  sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah darah dan hartannya,

      sedangkan perhitungannya adalah atas Allah taala. (HR. Muslim).

Sesungguhnya kufur terhadap segala yang diibatai selain Allah adalah sudah

tercakup dalam laa ilahaa illallah, akan tetapi Rasulullah saw menguatkannya

 dengan perkataan beliau dan kufur terhadap segala sesuatu yang diibadati

 selain Allah...beliau lakukan itu karena sangat pentingnya Kufur terhadap

 Thaghut yang mana ia adalah separuh Tauhid, dan tauhid tidak sah kecuali

 dengannya. Syaikhul islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah

 berkata sewaktu menjelaskan hadits diatas: Dan (hadits) ini tergolong dalil

paling agung yang menjelaskan makna Laa ilaaha illallah, karena beliau saw

 tidak menjadikan pengucapan laa ilaaha illallah sebagai penjaga harta dan

     darahnya, bahkan tidak pula pengetahuan akan maknanya bersama

  pengucapannya, bahkan tidak pula pengakuan akan (kebenaran) hal itu,

bahkan tidak pula keberadaan dia tidak menyeru kecuali terhadap Allah saja,

 sehingga ia menyertakan terhadapnya sikap kufur terhadap segala sesuatu
  yang diibadahi selain Allah. Bila dia ragu atau bimbang maka harta dan

        darahnya tidak haram.....Addurar as saniyyah juz Jihad 102.

  Thaghut adalah segala sesuatu yang diibadati selain Allah, baik manusia,

 malaikat, batu,pohon dan yang lainnya. Namun manusia, malaikat dan jin

yang diibadati padahal mereka tidak suka dengan peribdatan terhdapnya itu,

  maka tidak disebut Thaghut, dan peribadatan tersebut jatuhnya terhdap

syaitan yang menghiasi peribadatan terhadap mereka itu, sehingga syaitanlah

  yang menjadi thaghut yang diibadati itu, sebagaimana firman Allah swt:

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani adam supaya kamu

  tidak beribadah kepada syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh

                     yang nyata bagi kamu (Yaasin: 60).

         Dan sebagaimana perkataan Ibrahim terhadap bapaknya:

Wahai bapakku, janganlah kamu mengibadati syaitan. Sesungguhnya syaitan

       itu durhaka terhadap tuhan yang maha pemurah(Maryam: 44).

   Ini dikarenakan setiap peribadatan kepada selain Allah swt hakikatnya

                       adalah ibadah kepada syaitan.

 Ayah.......Ibu.......Sesungguhnya orang yang memalingkan salah satu macam

  ibadah kepada selain Allah swt adalah bukanlah orang muslim karena ia

tidak kufur terhadap Thaghut, meskipun dia mengaku muslim dan mayoritas

amal ibadahnya di tujukan kepada Allah, sebagaimana yang ditinjukan oleh

 ayat-ayat dan hadits dimuka tadi, sehingga syaikhul islam ibnu Taymiyyah

                    berkata dalam kitab An-nubuwwat:
 Siapa yang beribadah kepada selain Allah disamping ia beribadah kepada

                      Allah, maka dia bukan muslim

      Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

  Bila amalan-amalanmu seluruhnya hanya ditujukan kepada Allah, maka

kamu adalah Muwahhid, dan bila diantara amalanmu itu ada penyekutuan

    terhadap mahluk maka kamu adalah musyrik Ad-durar as saniyyah.

Sedangkan yang yang berbuat syirik itu amalannya hapus tidak ada artinya.

                      Sebagaimana Firman-Nya swt:

Bila kamu berbuat syirik maka pasti hapuslah amalanmu dan sungguh kamu

              termasuk orang-orang yang rugi (Az-zumar: 65).

 Ayah....Ibu....!!Orang yang berbuat syirik adalah kafir, sedangkan amalan

             orang kafir itu hapus pula, Allah swt berfirman:

  Beramal lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (Neraka) (Al-

                             Ghasiyyah: 3-4).

  Bukan untuk sementara waktu , wahai ayah....ibu....!! tapi untuk selama-

                                 lamanya.

 Sesungguhnya siapa orangnya yang menyekutukan Allah, maka sungguh

 Allah telah mengharamkan surga atasnya dan tempat kembalinya adalah

   neraka serta tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang dzalim

                       (musyrik) itu (Al-maidah: 72)

     Dan inilah sebagian apa yang Allah persiapkan bagi orang-orang

                              musyrik/kafir:
Maka orang-orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari

  api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih keatas kepala mereka.

Dengan air itu dihancurlulhkan segala yang ada dalam perut mereka dan juga

  kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi, setiap kali

  mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya

mereka dikembalikan kedalamnya (kepada mereka dikatakan) Rasailah adzab

                    yang membakar ini (Al-Hajj: 19-22).

   Ayah.Ibu.!!Selain uraian diatas, ananda ingin mengajak engkau untuk

meninggalkan kemusyrikan dan kekufuran yang masih saja engkau lakukan.

  Hai kaum kami, terimalah (seruan orang yang menyeru kepada Allah dan

 berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa

     kamu dan melepaskan kamu dari Adzab yang pedih (Al-ahqaf: 31).

 Ayah.Ibu.!! janganlah engkau meminta kepada orang yang sudah mati atau

  orang yang Ghaib (tidak hadir ditempat), apalagi meminta kepada batu,

pohon, mata air dan benda-benda lainnya yang dikeramatkan, atau meminta

kepada orang hidup sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah,

 janganlah engkau lakukan itu semua, karena semuanya adalah syirik akbar

        yang mengeluarkan dari islam lagi menghapuskan amalan.

   Janganlah engkau meminta dia atau syafaat kepada orang yang sudah

   meninggal meskipun itu Rasulullah saw, karena Allah swt berfirman:

  Dan janganlah kamu menyeru (menyembah) apa-apa yang tidak memberi

 manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab
  jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau

          begitu termasuk orang-orang yang dzalim (Yunus: 106).

    Ayah.Ibu.!!Kalau mau minta itu semua mintalah kepada Allah swt!!

                         Rasulullah saw bersabda:

 Bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah, dan bila kamu meminta

 tolong, maka minta tolonglah kepada Allah (Hadits hasan shahih riwayat

                                Tirmidzi).

Jangan ayah katakan: Wahai rasulullah saya minta syafaat engkau Karena ini

                            adalah syirik akbar.

  Tapi katakanlah: Yaa Allah jadikanlah saya orang yang engkau izinkan

              rasulullah memberikan syafaat kepada mereka.

 Ayah.Ibu.!! Manfaat dan mudharat, pemenuhan kebutuhan, penyelamatan

dari bencana dan pengabulan doa hanyalah ditangan Allah swt. Dan bila itu

  diyakini dari selain Allah swt, maka itu syirik akbar. Tapi ananda heran

kenapa ayah dan ibu ikut-ikutan membaca shalawat Nariyyah (munfarijah)

yang dibuat-buat oleh kaum quburiyyun, padahal isinya adalah syirik akbar,

yang mana itu bertentangan dengan banyak ayat Allah dan hadits Rasulullah

           saw, diantaranya bertentangan dengan firman Allah:

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharataan kepadamu, maka tidak ada

         yang dapat menghilangkannya kecuali Dia (Yunus: 107).

Ayah....Ibu....!! Mungkin engkau tidak paham isi shalawat yang dibuat-buat

   oleh orang musyrik itu. Ketahuilah sesungguhnya shalawat syirik itu
  menjelaskan tidak ada yang melenyapkan bencana atau kesulitan, yang

   memperkenankan keinginan dan yang memenuhi kebutuhan adalah

rasulullah saw, sungguh ini adalh syirik yang lebih dari syirik orang-orang

   kafir quraisy, dimana mereka yakin bahwa hanya Allah-lah yang bisa

 menolong mereka dari kesulitan, oleh sebab itu saat mereka ditimpa badai

dan angin topan di tengah lautan, mereka hanya memohon kepada Allah swt

                                   saja.

  Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung,mereka

  menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (Luqman: 32)

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu,

 atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain

Allah; jika kamu orang-orang yang benar!. (Tidak), tetapi hanya Dialah yang

kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa

   kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-

    sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah) (Al-Anam: 40-41).

Itulah orang-orang kafir Quraisy, mereka lebih menganggungkan Allah dari

pada pembuat shalawat itu dan dari orang yang mengamalkannya, padahal

                            dia paham isinya.

            Ayah.Ibu.!! tinggalkanlah shalawat syirkiyyah itu:

 Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari tuhan

yang maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan (Maryam: 45).
Ayah.Ibu.!!Kenapa engkau masih saja membuat tumbal??. Ketahuilah ayah!!

Sesungguhnya tumbal itu adalah syirik akbar, karena sembelihan itu adalah

ibadah yang merupakan hak khusus Allah. Bila ayah memotong hewan untuk

   tumbal atau sesajian, maka sengkau telah jatuh kedalam syirik ibadah,

  meskipun saat menyembelihnya engkau membaca bismillah. Bukankah

          engkau saat shalat didalam doa iftitahnya mengucapkan:

 Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku adalah untuk

Allah semata tuhan sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah

saya diperintahkan, sedang aku adalah orang yang pertama berserah diri (Al-

                                  anam: 162).

Shalat, sembelihan, hidup dan mati adalah harus ditujukan kepada Allah swt

  saja. Sedangkan orang yang membuat tumbal berarti telah memalingkan

  sembelihan tersebut terhadap Jin atau syaitan, padahal ini adalah syirik

   Akbar. Oleh sebab karena itu ayah, tinggalkanlah perbuatan syirik ini.

 Sungguh ananda mengkhawatirkan engkau tertimpa adzab dari Allah swt

                   kemudian engkau menjadi wali syaitan.

          Ayah....Ibu....!! Sungguh Rasulullah saw telah bersabda:

     Allah telah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah

                                (HR.Muslim).

 Ya orang yang membuat tumbal itu dan begitu juga sesajian. Al imam annawawi

   asy syafiiyah berkata dalam rangka menjelaskan hadits ini: Bila orang yang

  menyembelihnya itu (asalnya) muslim, maka dengan sebab sembelihannya itu

                               menjadi murtad.
  Allah swt berfirman tentang saji-sajian yang biasa dilakukan oleh orang-orang

                              musyrik terdahulu:

   Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan

    ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan

 persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami."

   Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak

 sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka

 sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan

                           mereka itu(Al-anam: 136).

     AyahIbu!!. Yang ghaib itu hanya ditangan Allah awt, dan Dia tidak

memperkenankan salain-Nya untuk mengetahuinya, kecuali rasul-rasul-Nya

         saja dalam hal-hal yang Allah beritahukan kepada mereka.

Ketahuilah sesungguhnya Kahin (dukun), arraf (paranormal), rammal (tukang

   ramal) sahir (tukang sihir, tenung dan santet serta guna-guna) semuanya

 adalah kafirin (orang-orang kafir), bahkan mereka itu adalah. Barang siapa

        yang datang untuk sekedar bertanya/konsultasi terhadapnya

 (dukun/paranormal dll) dan tidak mempercayai apa yang mereka katakana

serta tanpa mengikuti arahannya, orang itu tidak diterima shalatnya selama 40

                       malam, Rasulullah saw bersabda:

        Siapa yang mendatangi Arraf (paranormal) terus dia bertanya

 kepadanyatentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 malam

                                (HR. Muslim).
Dan bila mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia

telah kafir, tidak bermanfaat segala amal ibadah yang dia lakukan, tidak ada

    harganya pengakuan islam yang dia klaim, Rasululla saw bersabda:

Siapa yang mendatangi Arraf atau Kahin (dukun), lalu dia membenarkannya

terhadap apa yang dia (dukun itu) ucapkan, maka dia telah kafir terhadap apa

                   yang diturunkan kepada Muhammad.

   Janganlah ayah...ibu...terpedaya oleh syaitan, karena jarang dukun itu

mengaku dirinya itu dukun, bahkan yang sering terjadi ditengah masyarakat

 adalah dukun dipanggil Ustadz, kyai,wali, anjengan dan nama lainya. Ada

banyak tanda-tanda dan ciri-ciri bahwa sifulan itu dukun, meski disebut kyai

                       ileh masyarakat, diantaranya:

 - Sebelum si pasien mengutarakan maksudnya, ternyata si dukun itu telah

 mengetahui maksudnya, daerah asalnya dll. Sungguh ini adalah informasi

                      dari syaitan yang membantu dia.

           - Biasanya dia bertanya nama pasien dan nama ibunya.

                - Menyuruh berpuasa untuk beberapa hari.

    - Memberi Azzimat atau sism (huruf arab yang terpotong-potong dan

                     potongan dari ayat-ayat al-quran).

                     - Memberi sesuatu untuk dikubur.

           - Meminta hewan tertentu degan warna           tertentu

  - Menyuruh memotong hewan, kemudian darahnya diolespada sipasien
 - Berkomat-kamit dengan kalimat yang tidak dimengerti, dan terkadang di

               bacakan juga ayat al-quran untuk mengelabui.

                                   - Dll.

  Ayah...Ibu...!!. Bertaubatlah bila engkau pernah datang ke dukun, karena

 Allah maha menerima taubat, walau itu syirik dan kekafiran, bila taubat itu

       taubat yang dilakukan dengan penuh kerelaan dan kejujuran.



Ayah...Ibu...!!. Saya mengkhawatirkan dirimu...Orang-orang kafir senantiasa

    menebarkan kekafran dan kemusyrikannya dihadapan kita, mereka

                     sebagaimana yang Allah katakan:

 Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebahaimana mereka telah kafir,

          lalu kalian menjadi sama (dengan mereka) (An-nisa: 89).

Dan yang mereka inginkan ini tercapai dengan gemilang, sebagaimana yang

                      disabdakan oleh rasulullah saw:

    Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga kabilah-kabilah dari umatku

   bergabung dengan orang-orang musyrik (Haduts shahih, riwayat Abu

                                  Dawud).

  Realita membktikan kebenaran apa yang rasulullah sabdakan, bukankah

engkau sering mendengar demokrasi?? Ungkapan dari rakyat, oleh rakyat dan

                              untuk rakyat???
  Dalam ajaran Demokrasi, kedaulatan , kekuasaan dan wewenag membuat

hukum serta undang-undang berada di tangan rakyat yang mereka percayakan

  kepada wakil-wakil mereka di parlemen (MPR/DPR) lewat jalur pemilu.

    Dalam ajaran Demokrasi sesungguhnya kebenaran itu ada pada suara

mayoritas. Dalam ajaran Demokrasi sesungguhnya semua agama itu sama lagi

                          diakui dan dibebaskan.

Dalam ajaran Demokrasi hukum yang dipakai adalah hukum buatan manusia

                 atau hukum yang diserahkan oleh mereka.

 Apakah ayah...ibu...!! ikut serta dalam pemilu, baik sebagai pemberi suara,

 panitia, saksi, petugas keamanannya dan tugas lainnya?? Bukankah pemilu

 itu adalah pesta Demokrasi?? Sedangkan Demokrasi itu adalah ajaran dien

(agama) diluar islam, karena dalam islam sesungguhnya wewenang penetapan

                   hukum hanyalah ditangan Allah swt:

           Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah (Yusuf: 40).

 Saat wewenang ini dilimpahkan kepada selain Allah, maka itu adalah syirik

  akbar, sebagaimana dalam ajaran demokrasi: Pemilu adalah pelimpahan

  wewenang ini kepada parlemen (DPR/MPR) dari rakyat. Jika engkau ikut

memberikan suara sedangkan engkau tahu makna demokrasi, berarti engkau

                         jatuh dalam syirik akbar.

Ketahuilah, rancangan apapun,baik yang mirip aturan islam atau tidak, yang

   diajukan fraksi atau partai islam manapun, tidaklah mungkin menjadi

undang-undang yang berlaku kecuali setelah disahkan oleh lembaga hukum
mereka, dan tentunya sebelum itu harus sejalan dengan UUD yang ada, dan

                    ini mereka nyatakan dengan jelas.

        Ketahuilah sesungguhnya dalam ajaran Tauhid dinyatakan:

 Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa

yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.

     Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak

   memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah

                        kepadamu (Al-Maidah: 49).

  Sedangkan dalam Demokrasi orang memutuskan dengan hukum buatan

  manusia, sama saja baik ada yang serupa dengan ajaran islam atau tidak.

   Dalam Demokrasi, penguasa dihati-hatikan dari menyelisihi apa yang

                            diinginkan rakyat.

              Apakah ayah masih mendukung Demokrasi..?

  Kalau masih kurang jelas kekafiran system ini, saya katakana bukankah

dalam Demokrasi yang benar lagi harus diikuti itu adalah suara seluruh atau

       mayoritas rakyat (manusia)?? Padahal Allah swt menyatakan:

  Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu

            termasuk orang-orang yang ragu (Al-baqarah: 147).

                            Dan menyatakan:

 Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini,

   niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah (al-anam: 116).
Hukum yang digulirkan lewat system Demokrasi adalah hasil karya manusia,

  meskipun asal rancangan sebagiannya diambil dari ajaran islam, jadi itu

 bukan apa yang Allah turunkan, tapi apa yang mereka gulirkan, sedangkan

                          Allah swt mengatahkan:

Barang siapa yang tidak memustuskan menurut apa yang diturunkan Allah,

         maka mereka itu adalah orang-orang kafir (Al-maidah: 44).

Dan hukum-hukum yang dihasilkan itu adalah Wahyu syaitan, sebagaimana

          yang tekah Allah jelaskan dalam surat Al-anam ayat 121.

 Ayah.Janganlah engkau dukung demokrasi, jangan setuju dengan hasilnya,

     jangan ikut dalam pemilu, apalagi menjadi panitia pesta syirik ini.

  Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu

 pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku

        akan menunjukan kepadamu jalan yang lurus. (Maryam: 43).



 Ayah Ibu!!... Saya melihat engkau bangga sekali dengan pancasila, sampai-

 sampai engkau senang sekali bila sikecil sudah pandai bernyanyi Garuda

 Pancasila dan dengan bangganya engkau pasang gambar lambang burung

        tersebut, bahkan engkau ikut merayakan hari kesaktiannya.

 Katahuilah sesungguhnya falsafah pancasila yang dibanggakan oleh kaum

musyrikin di negeri ini adalah ajaran kufur lagi syirik yang digali dari bumi

 Indonesia. Mereka akui bahwa itu bukan ajaran samawi, tetapi ajaran bumi

            yang penuh dengan syaitan Jin dan syaitan manusia.
Bukankah agama -agama pancasila mengakui semua agama-agama yang ada,

semuanya direstui dan di ridhai oleh tuhan pancasila, sedangkan Tuhan Yang

Maha Tinggi Allah swt hanya meridhai dan merestui satu saja, yaitu Al Islam.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam (Al-Imran:

                                    19).

  Kita heran, bukankah orang nasrani memiliki tuhan, orang-orang Budha

  memiliki banyak tuhan, orang-orang hindu juga memiliki banyak tuhan,

kaum muslimin, tuhan mereka adalah Allah swt, dan agama serta kepercayaan

  lainnya memiliki banyak tuhan. Apakah satu tuhan yang diibadahi para

 pemeluk agama-agama dan kepercayaan di Indoneisa ini atau banyak tuhan

yang berbeda-beda? Jawabannya adalah banyak tuhan, tapi kenapa dalam sila

      1 dikatakan ketuhanan yang maha esa, bagaimana hubungannya?

Mudah sekali jawabannya, semua agama diakui oleh pahama Pancasila, serta

tuhan-tuhan yang banyak itu dilindungi dan diserukan oleh tuhan yang maha

         esa (dalam ajaran pancasila tentunya) yaitu burung garuda.

Maka apakah ayah masih bangga dengan pancasila ini? Saya percaya engkau

                    tak akan bangga dengan kekafiran.

Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa Pancasila memberikan kebebasan kepada

  orang untuk memeluk dan menganut agama dankeyakinan sesuai dengan

yang menjadi kepercayaannya masing-masing. Dalam agama pacasila bila ada

  orang muslim keluar dari islam, maka tetap dilindungi dan diakui. Orang

meminta-minta ke kuburan tetap dilindungi, dan pokoknya segala bentuk dan
  pintu kemurtadan terbuka lebar dalam naungan burung garuda. Padahal

dalam ajaran islam, sesungguhnya orang murtad itu harus dibunuh, rasulullah

                              saw bersabda:

  Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah (HR.Bukhari-Muslim).

 Kalau seandainya ada muwahid membunuh orang murtad, tentulah hukum

                         pancasila menindaknya.

  Maka apakah ayah masih mendukung pancasila dan menyuruh si kakak

                    unutuk menjadi patriot pancasila..?

 Selain itu ketahuilah wahai ayah dan ibu!. Sesungguhnya agama pancasila

mengajarkan pemeluknya untuk mencintai orang lain meskipun dia itu kafir

    atau thaghut, karena semuanya adalah saudara sabangsa, tidak boleh

               memusuhinya. Padahal Allah swt menyatakan:

Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari

 akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah

dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau

         saudara-saudara atau keluarga mereka (Al-mujadalah: 22).

                             Allah berfirman:

 Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu (AN-

                                nisa: 101).

 Memusuhi orang-orang kafir dan orang musyrik adalah ajaran semua rasul,

                           allah swt berfirman:
 Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan

 orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum

mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dari daripada apa yang

kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara

  kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai

           kamu beriman kepada Allah saja(Al-Mumtahanah: 4).

Para ulama ahli tafsir berkata bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang

       bersama Ibrahim adalah para rasul dan umatnya yang beriman.

Memusuhi orang kafir adalah ajaran tauhid, sedangkan mencintai orang kafir

  adalah ajaran syirk pancasila. Mencintai muwahid mujahid adalah ajaran

    tauhid, sedangkan memusuhi muwahid mujahid adalah ajaran syirk

   pancasila. Tidak mungkin dua ajaran yang saling berlawanan itu berada

    dalam satu waktu pada seseorang. Bila ajaran pancasila ada pada diri

seseorang maka tauhid pasti lenyap, dan tak mungkin ada orang muslim yang

            berpancasila. Orang muslim pasti menolak pancasila.

                         Rasulullah saw bersabda:

   Ikatan iman terkuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.

             Apakah ayahibu!! Masih mendukung pancasila..?

 Kalau ingin tambah mengetahui kekafirannya, maka saya tambahkan lagi.

    Ketahuilah sesungguhnya pancasila mengajarkan bahwa kepentingan

nasional harus di dahulukan atas semua kepentingan, termasuk agama. Oleh

 sebab itu semua hukum yang berkaitan dengan agama tidak dipakai karena
 menggangu kesatuan nasional. Hukum pidana islam, jihad terhadap orang

  kufur, jizyah atas ahli kitab,dan yang lainnya ditiadakan karena merusak

 hubungan nasional. Nasionalisme adalah segala-galanya, padahal Allah swt

                                menyatakan:

 Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum

  keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu

  khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih

 kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka

   tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya(At-taubah: 24).

     Jadi, nasionalisme adalah kekafiran lain yang didoktrinkan kepada

 pemeluknya. Sebenarnya masih banyak kekafiran-kekafiran yang menjadi

   inti ajaran pancasila ini.Dan dikarenakan pancasila adalah ajaran kufur

  pemerintah republik indonesia ini, yang mereka anut dan junjung tinggi,

  sedangkan pemerintah kafir itu adalah sifatnya sebagaimana yang Allah

                                 firmankan:

"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi

        kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka) (An-nisa: 89).

                            Makna realita disini

      : Mereka (pemerintah RI) ingin supaya kamu menjadi pancasilais

  sebagaimana mereka telah menjadi pancasilais, lalau kamu menjadi sama

                               dengan mereka.
  Oleh sebab itu, semua jenjang pendidikan negeri dan swasta yang ingin

 diakui oleh pemerintah harus ada materi PPKN yang wajib bahkan syarat

 kelulusan. Bila semua materi lulus, namu PPKN tidak lulus, maka si anak

tidak mungkin lulus. Sedangkan yang di doktrinkan dalam materi itu adalah

   kekafiran pancasila, dan si anak tidak bisa lari dari ulangan dan ujian,

    sedangkan dalam ujian itu tidak akan terlepas dari pengakuan, atau

sanjungan atau pujian terhadap pancasila dan ajarannya. Padahal itu semua

   adalah kekafiran. Bukankah engkau dahulu mengalami hal yang sama

 sehingga mati rasa kepekaan aka kekafiran ini, dan sekarang engkau mau

                       mengulanginya pada anak mu.

 Bila engkau berkilah bahwa sianak benci akan kekafiran itu dan ia hanya

  mengucapkan dilisan saja atau dituangkan dalam tulisan saja tanpa ada

    perubahan keyakinan hati, maka saya katakana: kekafiran itu tidak

 disyaratkan diiringi dengan hati , karena orang-orang kafir tidak meguasai

hati, dan justeru yang mereka inginkan adalah persetujuan akhir. Allah swt

                                 berfirman;

 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga

kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah

  itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti

kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak

      lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu (Al-baqarah: 120).

                              Dalam ayat lain:
  Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang

   ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -kalau begitu- termasuk golongan

                  orang-orang yang zalim (Al-baqarah: 145).

   Orang-orang yang dzalim di sini adalah orang-orang kafir, sebagaimana

                              firman Allah swt:

  Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim (Al-baqarah: 254).

Para ulama menjelaskan dan diantaranya syaikh Sulaiman ibnu abdillah Alu

 Asy Syaikh rahimahullah dalam ad dalaa-il bahwa orang-orang yahudi dan

  nasrani juga orang-orang musyrik tidak akan rela sehigga kaum muslimin

menikuti ajakan mereka....dan yang mereka inginkan itu bukanlah perubahan

 keyakinan hati, karena mereka tidak bisa menguasainya, namun mengikuti

                          mereka secara dahhir saja.

  Bila engkau berkilah bahwa anak saya melakukan karena main-main lagi

 tidak serius. Jawabnya: Sama saja, dia itu masuk dalam ayat-ayat tadi, baik

 serius atau main-main, Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah berkata: Para ulana

telah berijma bahwa orang yang mengucapkan kekufuran seraya main-main,

     maka sesungguhnya ia kafir, maka apa gerangan dengan orang yang

     menampakkan kekafiran karena takut dan ingin dunia (ad dalaa-il).

Takut dimarahin guru dan orang tua, serta ingin lulus, dapat ijazah serta dapat

                              melamar kerja!!!!.

                        Syaikh Sulaiman berkata juga:
  Sesungguhnya orang bila menampakkan terhadap kaum musyrikin sikap

 setuju atas saran mereka karena takut dari mereka, lemah lembut terhadap

   mereka dan berbasa-basi untuk menghindari kejahatan mereka, maka

 sesungguhnya dia itu kafir seperti mereka walau tidak suka terhadap ajaran

 mereka, membenci mereka serta cinta pada islam dan kaum muslimin (Ad

                                   dlaa-il).

     Ini dikarenakan Allah berfirman setelah ayat tentang kemurtaddan:

   Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai

 kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi

              petunjuk kepada kaum yang kafir (An-nahl: 107).

    Ayah...Ibu...!!. Sekarang negkau mengetahui bahwa di didik dengan

pendidikan kekafiran, dan minimal dia bisa lulus dengan syarat melakukan

 kekafiran meskipun dihati dia benci (dan ini jarang). Sedangkan umumnya

disertai hati disaat di didik dan ujian, sedang engkau tahu benar akan hal ini,

lalu engkau membiayainya dan tidak mengeluarkannya, bukankah ini bentuk

                    restu dan ridha terhadap kekafiran..?

          Sadarlah dan bangunlah engkau dari tidurmu selama ini.

Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab

                dari tuhan yang maha pemurah (Maryam: 45).

Ketahuilah sungguhnya kebejatan anakmu adalah buah hasil pendidikan dari

                             sekolah-sekolah itu.
 Sungguh Firaun kejam karena membunuh semua anak laki-laki, tapi anak-

anak itu mati diatas fitrah tauhid, akan tetapi firaun-firaun sekarang dinegeri

  ini mematikan fitrah Tauhid anak-anak itu sehinggan mati rasa layaknya

mayit, dan memang Allah swt mengumpamakan orang kafir itu dengan mayit:

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami

  berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat

  berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang

keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari

 padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik

               apa yang telah mereka kerjakan (Al-anam: 122).

   Dan bila firaun-firaun itu tak mampu membunuh fitrahnya, maka baru

  mereka berupaya membunuh jiwanya dikala dewasa, disaat mereka telah

                         menjadi Muwahid mujahid.

 Ayah...Ibu...!!Sesungguhnya engkau tidak disebut muslim bila tidak kufur

 terhadap thaghut, yaitu meninggalkan ibadah terhadap thaghut. Sedangkan

  diantara thaghut terbesar dinegeri ini adalah dustur (UUD) dan qawaanin

                   (undang-undang). Allah swt berfirman:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah

   beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang

   diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut,

   padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan
 bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya

                               (An-nisaa: 60).

  Thaghut disini adalah undang-undang buatan (UUD dan UU), orang yang

 membuatnya serta orang yang memutuskan hukum dengannya. Sedangkan

beribadah kepada UUD atau UU adalah dengan cara mengikutinya, berhakim

 kepadanya, menerima/pasrah pada aturan-aturannya serta ridha dengannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Thaghut adalah sesuatu yang dilampaui

batasnya oleh seorang hamba, baik itu yang diibadati, atau diikuti atau yang

 ditaati. Maka thaghut setiap kaum adalah yang dirujuk hukum oleh mereka

selain Allah dan Rasul-Nya, atau mereka ibadati selain Allah atau mereka ikut

tanpa ada bashirah (pedoman) dari Allah. Jadi setiap apa yang dirujuk hukum

 kepadanya selain ajaran Allah adalah thaghut adalah thaghut, baik berupa

  manusia (hakim, jaksa dll) atau berupa undang-undang (UUD 45 dan UU

                         lainnya serta hukum adat).

 Ibnu katsir rahimahullah berkata, menjelaskan ayat 60 surat An-nisaa tadi:

Sesungguhnya ayat ini mencela setiap orang yang berpaling dari al-kitab dan

  assunnah serta justeru mereka berhakim kepada selain keduanya (yaitu)

  berupa (hukum) batil,dan dia lah yang dimaksud dengan thaghut di sini

 Ayah...Ibu...!!. Saya ingatkan, bukankah dahulu saat mau menjabat posisi di

  pemerintahan ini atau saat dilantik menjadi pegawai negeri sipil, engkau

  pernah bersumpah atau memberikan sumpah atau menendatangani berita

 acara sumpah untuk setia pada Undang-undang dasar dan loyal pada negara
kafir republik indonesia (NKRI)..?. Sungguh itu adalah ucapan dan perbuatan

kekafiran. Oleh sebab itu engkau harus keluara dari pekerjaan itu, dan kalau

                     tidak, berarti engkau masih kafir.

Bila saja orang yang mengatakan akan mengkuti sebagian urusan kekafiran,

               telah Allah vonis murtad, dalam firman-Nya:

   Sesungguhnya orang yang kembali kebelakang (murtad/kembali pada

kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan

mereka mudah (untuk berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka

                             (Muhammad: 25).

                 Penyebab mereka divonis murtad adalah:

 Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu berkata kepada orang-

 orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah: Kami akan mematuhi

  kamu dalam beberapa urusan, sedang Allah mengetahui rahasia mereka

                             (Muhammad: 26).

      Lalu Allah menjelaskan keadaan mereka saat mereka meninggal:

 Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa

  mereka seraya memukul muka dan punggung mereka? (Muhammad: 27).

                    Kenapa mereka diadzab seperti itu:

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang

 menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang

 menimbulkan) keridhaan-Nya: Sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-

                      amal mereka (Muhammad: 28).
Sedangkan ayah...Ibu...telah mengikuti UUD/UU yang mana dia itu (UUD itu)

menimbulkan murka Allah, bakan mengikrarkan sumpah untuk setia kepada

                                Thaghut itu.

 Kalau engkau berkilah: Saat saya sumpah itu hanya berbohong saja dan di

 hati tidak ada niat merealisasikan isinya. Maka jawabannya: Dalih ini tidak

 ada gunanya, karena Allah memvonis kafir juga orang-orang yang berjanji

 utnuk melakukan hal yang merupakan kekafiran, padahal dia itu dusta saat

 mengucapkan janjinya dan tidak ada niat untuk merealisasikan isinya. Dia

                               swt berfirman:

   Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata

       kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab:

 "Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu;

     dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk

 (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu

 kamu." Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar

                          pendusta (Al-hasyr: 11).

   Orang munafik didunia dihukumi muslim, tapi tatkala menampakkan

pambatal keislaman maka dia itu dihukumi kafir murtad, saudara orang-orang

  kafir, sedangkan kekafiran mereka disini adalah janji mereka membantu

   yahudi bila diperangii Rasulullah saw, padahal janji mereka itu dusta.
Jadi bila saat sumpah itu ayah lakukan secara dusta, tetap saja engkau seperti

  apa yang tertera pada ayat tadi. Oleh sebab itu keluarlah dari pekerjaan itu

    bila memang syaratnya adalah sumpah itu yang merupakan kekafiran.



  Ayah...!! Menjadi pelindung dan tameng kekafiran merupakan bentuk kekafiran

  juga. Saya lihat dan dengar, ayah dan ibu ingin bila si kakak menjadi Polisi atau

                      tentara, agar bisa berbakti untuk negara.

      Ketahuilah, sesungguhnya negara ini negara kafir (pancasila, demokrasi,

 nasionalisme, dan undang-undang buatan), sedangkan tentara dan polisi itu adalah

   pelindung sistem thaghut tersebut dan yang mengamankan setiap orang yang

berupaya merongrong thaghut-thaghut itu. Merekalah yang mengangkat senjata bila

  ada para muwahidin yang berjihad dalam rangka menumbangkan sistem thaghut

 yang ada . Mereka saat berperang bukanlah dalam rangka menegakkan Laa ilaaha

illallah, namun dalam rangka menegakkan dan mengokohkan sistem thaghut. Oleh

 karenanya mereka adalah hamba-hamba thagutdan wali-wali syaitan, sebagaimana

                                  firman-Nya swt:

  Orang-orang yang beriman berperang dijalan Allah, dan orang-orang yang kafir

 berperang dijalan Thaghut, sebab itu perangilah wali-wali (kawan-kawan) syaitan

                                   (An-nisaa: 76).

  Oleh sebab itu, tentara dan polisi adalah orang-orang kafir lagi wali-wali syaitan

                            yang berdiri dijalan thaghut.

Apakah ayah dan ibu rela bila anaknya menjadi kafir lagi sebagai wali-wali syaitan..?

                Masih ada satu lagi yang ingin ananda sampaikan.....
  Ananda bersyukur ayah dan ibu telah memahami tauhid ini, tapi ananda sangat

kecewa saat ayah menyampaikan bahwa melakukan kekafiran dengan alasan siasat

 (taqiqiyyah) karena takut dari orang-orang kafir, lalu ayah berdalih dengan firman

                    Allah yang ditafsirkan secara serampangan:

    Janganlah orang-orang muminin mengambil orang-orang kafir menjadi wali

 denganmeninggalkan orang-orang mumin. Barang siapa berbuat demikian niscaya

   lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari

                  sesuatu yang ditakuti dari mereka (Al-Imran: 28).

   Ketahuilah ayah...sesungguhnya Allah swt melarang orang-orang mumin dari

  Tawalli (berloyalitas) terhadap orang-orang kafir, dan Dia memvonis pelakunya

                        sebagai orang kafir pada firmannya:

  Dan siapa yang tawalli kepada mereka diantara kalian, maka sesungguhnya dia

                    termasuk dolongan mereka (Al-maidah: 51).

   Tawalli adalah membela orang-orang kafir dan mendukung mereka atas kaum

muwahidin dengan lisan atau dengan senjata, atau mengikuti/setuju akan kekafiran

     dan kemusyrikan mereka serta mambantu mereka terhdapa kekafirannya.

  Dan Allah kabarkan bahwa mayoritas orang yang jatuh dalam tawalli ini adalah

 karena faktor takut, namun Allah tidak mengudzur mereka karena alasan takut itu,

 Dia tetap memvonis mereka kafir. Allah swt berfirman langsung setelah ayat tadi:

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang

munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami

    takut akan mendapat bencana." Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan

kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena

  itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri
mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: "Inikah orang-orang yang

bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar

 beserta kamu?" Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-

                      orang yang merugi. (Al-maidah: 52-53).

  Allah memvonis bahwa dihati mereka itu ada penyakit, lalu Dia kuatkan bahwa

kekafiran mereka itu membuat amalannya rusak binasa, dan Dia tidak menjadikan

    rasa takut yang bukan ikrah (pemaksaan) itu sebagai udzur (alasan) dalam

                             penampakkan Tawalliy.

 Adapun taqiyyah (siasat) adalah bersikap hati-hati dari bahaya orang-orang kafir

  dengan cara menyembunyikan sikap permusuhan terhadap mereka dengan cara

   lembut terhadap mereka dalam kondisi takut dari mereka dengan syarat tidak

 membantu mereka atas kekafirannya atau tawali terhadap mereka atau melakukan

                               pembatal keislaman.

  Dan hukum Taqiyyah adalah boleh berdasrkan Firman allah swt dalam surat al-

imran ayat 28 bila takut dari orang-orangkafir. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata

                    saat menjelaskan surat Al-imran ayat 28 ini:

 Dan sudah diketahui bahwa tuqah (taqiyyah) itu bukan muwalah (loyalitas), akan

 tetapi tatkala Allah melarang mereka dari muwalatul kuffar (loyal terhadap orang-

 orang kafir), maka itu menuntut untuk memusuhi mereka, baraah dari mereka dan

  terang-terangan dihadapan mereka dengan sikap permusuhan itu dalam setiap

kondisi, kecuali bila mereka takut dari kejahatan mereka, maka Allah membolehkan

 Taqiyyah bagi mereka, sedangkan taqiyyah itu bukan loyalitas (Badaaul fatwaa-id

                                       2/19).
Jadi Taqiyyah (siasat) itu adalah menyembunyikan permusuhan dihati saja dan tidak

  menampakkan sikap permusuhan itu diluar, dan ini boleh bila takut dari orang-

   orang kafir dengan syarat tidak ikut dalam kekafiran mereka atau melakukan

  pembatal keislaman. Karena kalau ikut dalam kekafiran mereka, maka ini bukan

                         Taqiyyah (siasat), tetapi tawalli.

        Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Alu Syaikh rahimahullah berkata:

  Para ulama berijma bahwa orang yang mengucapkan kekafiran sambil bercanda

     maka sesungguhnya dia itu kafir, bagaimana gerangan dengan orang yang

       menampakkan kekafiran karena takut dan ingin dunia (Ad-dalaa-il).

                                 Beliau berkata:

Sesungguhnya orang yang menampakkan terhadap kaum musyrikin sikap setuju atas

   ajaran mereka karena takut dari mereka, bersikap lembut terhadap mereka dan

mudah (basa-basi) untuk menghindari kejahatan mereka, maka sesungguhnya dia itu

 kafir seperti mereka, meskipun tidak menyukai ajaran mereka, membenci mereka

              dan mencintai islam dan kaum muslimin (ad dalaa-il).

Ketahuilah kekafiran itu hanya Allah swt bolehkan saat dipaksa (ikrah), sedangkan

                              takut itu bukan ikrah.

         Ini kiranya yang ananda ingin sampaikan kepada ayah dan ibu.....

         Ananda lakukan karena rasa kaihan terhadap engkau berdua......

  Ya Allah, saya telah menyampaikan apa yang menjadi tanggung jawab hamba.....

    Ya Allah bukakan hati orang tua hamba untuk menerima dan menjalankan

                                 kebenaran ini....

          Ya Allah kuatkan hamba dan ikhwan sekalian diatas tauhid ini.
  Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada

imam, (yaitu): Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kamipun beriman ya Tuhan

  kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuslah dari kami kesalahan-

kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbakti.

 Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan

perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami dihari kiamat.

         Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji (Al-imran: 193-194).




                                   22/07/04

                     Atas nama para anak yang bertauhid

                                      Ttd

                                   Abu Sulfa

								
To top