Embed
Email

roadmap-perubahan-iklim-sektor-limbah-versi-bahasa__20110217190251__0

Document Sample

Shared by: Andre Suit
Categories
Tags
Stats
views:
34
posted:
10/31/2011
language:
Indonesian
pages:
97
Republik Indonesia









Sektor Limbah









Maret 2010

Tim Penyusun

Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap – ICCSR



Sektor Limbah



Penasehat



Prof. Armida S. Alisjahbana, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas



Kepala Editor



U. Hayati Triastuti, Deputi Menteri Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Bappenas



Koordinator ICCSR



Edi Effendi Tedjakusuma, Direktur Lingkungan Hidup, Bappenas



Editor



Irving Mintzer, Syamsidar Thamrin, Heiner von Luepke, Dieter Brulez



Laporan Sintesis



Koordinator Penyusun untuk Mitigasi:: Hardiv Haris Situmeang



Laporan Sektor Limbah



Penyusun: Asep Sofyan, Enri Damanhuri, Oman Abdurrahman.



Tim Pendukung Teknis



Chandra Panjiwibowo, Indra Ni Tua, Edi Riawan, Hendra Julianto



Tim Administrasi



Altamy Chrysan Arasty, Risnawati, Rinanda Ratna Putri, Siwi Handinah, Wahyu Hidayat, Eko Supriyatno,

Rama Ruchyama, Arlette Naomi, Maika Nurhayati, Rachman









i

ICCSR - SektoR LImbah

uCAPAn TeRimA KAsiH

Dokumen Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR) bertujuan untuk memberikan masukan pada

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2009-2014 berkaitan dengan

perubahan iklim, serta sebagai masukan pada RPJMN berikutnya hingga tahun 2030. Dokumen ini

memberikan arahan detail dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di sektor kehutanan, energi,

industri, pertanian, perhubungan, daerah pesisir, sumber daya air, limbah, dan kesehatan. Sudah merupakan

kebijakan dari Bappenas untuk mengakomodasi peluang dan tantangan di sektor-sektor tersebut melalui

perencanaan pembangunan dan koordinasi antara kementerian dan badan terkait secara efektif. Dokumen

ini bersifat dinamis dan akan selalu diperbaharui berdasarkan kebutuhan dan tantangan yang timbul

dalam menghadapi perubahan ikllim di masa mendatang. Perubahan dan penyempurnaan dari dokumen

ini akan dilakukan melalui konsultasi partisipatif antara para pemangku kepentingan.



Penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Armida S. Alisyahbana selaku Menteri Perencanaan

Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) atas dukungan

yang diberikan. Juga kepada Bapak Paskah Suzetta selaku mantan Menteri Perencanaan Pembangunan

Nasional/ Kepala Bappeanas yang menginisiasi dan member dukungan dalam pembuatan dokumen

ICCSR, serta kepada Deputi Menteri Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Bappenas, yang

telah menginisiasikan dan mengkoordinasikan pembuatan dokumen ICCSR ini.



Kepada seluruh anggota komite pengarah, kelompok kerja, dan para pemangku kepentingan di bawah

ini, yang telah memberikan masukan dan saran yang sangat berharga dalam pembuatan dokumen

ICCSR Sektor Limbah, dedikasi serta kontribusinya sangat dihargai dan diucapkan terima kasih setinggi-

tingginya:



Komite Pengarah



Deputi Kerjasama Internasional, Kementerian Koordinasi Perekonomian; Sekretaris Menteri, Kementerian

Koordinasi Kesejahteraan Rakyat; Sekretaris Jenderal, Kementerian Pekerjaan Umum; Deputi Bidang

Ekonomi, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan, Deputi Bidang

Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah,

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Kepala Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim.



Kelompok Kerja



Kementerian Negara Lingkungan Hidup



Sulistyowati, Haneda Sri Mulyanto, Dadang Hilman, Upik S. Aslia, Agus Gunawan, Yulia Suryanti









iii

ICCSR - SektoR LImbah

Kementerian Pekerjaan Umum



Djoko Murjanto, Mochammad Amron, Susmono, A. Hasanudin, Djoko Mursito, Handy Legowo, Setya

Budi Algamar, Agus S.K, Adelia Untari.S, Leonardo B, Desfitriana, Devina Suzan, Nur. F. K, Agung. T,

Rindy Farrah, Yuke Ratnawulan, Zubaidah. K, Savitri. R



Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas



Sriyanti, Yahya R. Hidayat, Bambang Prihartono, Mesdin Kornelis Simarmata, Arum Atmawikarta,

Montty Girianna, Wahyuningsih Darajati, Basah Hernowo, M. Donny Azdan, Budi Hidayat, Anwar Sunari,

Hanan Nugroho, Jadhie Ardajat, Hadiat, Arif Haryana, Tommy Hermawan, Suwarno, Erik Amundito,

Rizal Primana, Nur H. Rahayu, Pungki Widiaryanto, Maraita, Wijaya Wardhana, Rachmat Mulyanda,

Andiyanto Haryoko, Petrus Sumarsono, Maliki



Universitas dan Profesional



ITB: Saut Lubis, Retno Gumilang; Asia Carbon: Architrandi Priambodo, Susy Simarangkir



Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh staf Deputi Menteri Bidang Sumber Daya Alam dan

Lingkungan Hidup, Bappenas, yang selalu siap membantu dan menfasilitasi baik dalam hal teknis maupun

administrasi dalam proses penyelesaian dokumen ini.



Pembuatan dokumen ICCSR ini didukung oleh Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ)

melalui Study and Expert Fund for Advisory Services in Climate Protection. Atas dukungan tersebut, penghargaan

serta terima kasih yang setinggi-tingginya diberikan.









iv

ICCSR - SektoR LImbah

Kata Pengantar dari menteri Perencanaan

Pembangunan nasional/ Kepala Bappenas



Kita telah melihat bahwa dengan kemampuannya yang dapat

mempengaruhi ekosistem dunia, kehidupan populasi manusia dan

pembangunan, perubahan iklim telah menjadi isu kritis paling utama

yang mendapat perhatian serius dari para pembuat kebijakan di seluruh

dunia. Target utamanya adalah untuk mencegah peningkatan suhu

rata-rata global melebihi 2˚C, atau dengan kata lain menurunkan emisi

tahunan seluruh dunia hingga separuh dari kondisi sekarang pada tahun

2050. Kita percaya bahwa upaya ini tentunya membutuhkan respon

international yang solid – aksi kolektif untuk menghindari konflik

antara inisiatif kebijakan nasional dan internasional. Pada saat ekonomi

dunia sedang dalam tahap pemulihan dan negara-negara berkembang

sedang berupaya keras memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, dampak

perubahan iklim telah ikut serta dalam memperburuk kondisi kehidupan manusia. Untuk itu diperlukan

pengintegrasian perubahan iklim sebagai pilar penting dan fokus utama dalam agenda kebijakan

pembangunan yang berkelanjutan.



Kita menyadari bahwa perubahan iklim telah banyak diteliti dan dibahas di seluruh dunia. Berbagai solusi

telah ditawarkan, program-program telah didanai dan kemitraan telah terjalin. Namun di luar itu semua,

emisi karbon masih terus meningkat baik di negara maju maupun di negara berkembang. Karena lokasi

geografisnya, kerentanan Indonesia terhadap dampak negatif perubahan iklim harus menjadi perhatian

yang serius. Kita akan berhadapan, dan sudah terlihat oleh kita beberapa dampak negatif seperti musim

kemarau yang berkepanjangan, banjir, serta meningkatnya intensitas kejadian cuaca ekstrim. Kekayaan

keanekaragaman hayati kita juga berada dalam resiko.



Beberapa pihak yang memilih untuk bersikap diam dalam perdebatan isu perubahan iklim atau

memperlambat upaya penanggulangannya kini telah termarginalisasi oleh kenyataan saintifik yang tidak

terbantahkan. Puluhan tahun penelitian, analisis dan bukti-bukti nyata yang terjadi telah menunjukkan

pada kita bahwa perubahan iklim bukan hanya menjadi isu lingkungan saja, namun juga isu pembangunan

secara menyeluruh karena dampaknya akan terasa di semua sektor kehidupan manusia baik sebagai bangsa

maupun individu.



Sayangnya, kita tidak dapat mencegah atau menghindar dari beberapa dampak negatif perubahan iklim.

Kita dan khususnya Negara-negara maju telah terlalu lama berkontribusi dalam memanaskan bumi ini.

Kita harus bersiap oleh karena itu, untuk beradaptasi terhadap perubahan yang akan terjadi, dan dengan





v

ICCSR - SektoR LImbah

segenap tenaga berusaha untuk memitigasi agar tidak terjadi perubahan lebih lanjut dari iklim global

bumi. Kita telah meratifikasi Protokol Kyoto di masa awal serta berkontribusi aktif dalam negosiasi

perubahan iklim dunia, dengan menjadi tuan rumah pada pelaksanaan Konvensi Para Pihak ke 13 United

Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), yang telah melahirkan Bali Action Plan pada

tahun 2007. Kini, kita mencurahkan perhatian kita pada tantangan untuk mencapai target yang telah

dicanangkan oleh Presiden yaitu penurunan emisi sebesar 26% hingga tahun 2020. Aksi nyata sangat

penting. Namun sebelum melakukan aksi, kita harus siap dengan analisis yang komprehensif, perencanaan

strategis dan penetapan prioritas.



Untuk itu saya mengantarkan dokumen Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap, atau disebut ICCSR,

dengan tujuan agar perubahan iklim dapat diintegrasikan ke dalam sistem perencanaan pembangunan

nasional.



Dokumen ICCSR menampilkan visi strategis pada beberapa sektor utama yang terkait perubahan iklim,,

yaitu sektor kehutanan, energi, industri, perhubungan, pertanian, daerah pesisir, sumber daya air, limbah,

dan kesehatan. Dokumen Roadmap ini telah diformulasikan melalui analisis yang komprehensif. Kita

telah melakukan penaksiran kerentanan secara mendalam, penetapan opsi prioritas termasuk peningkatan

kapasitas dan respon strategis, dilengkapi dengan analisis keuangan dan dirangkum dalam perencanaan

aksi yang didukung oleh kementerian-kementerian terkait, mitra strategis dan para donor.



Saya meluncurkan dokumen ICCSR ini dan mengundang Saudara untuk ikut mendukung komitmen dan

kemitraan, serta bekerjasama dalam merealisasikan prioritas pembangunan berkelanjutan yang ramah

iklim serta melindungi populasi kita dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.





Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional







Prof. Armida S. Alisjahbana









vi

ICCSR - SektoR LImbah

Kata Pengantar dari Deputi menteri Bidang sumber

Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Bappenas



Sebagai bagian dari solusi dalam menghadapi perubahan iklim global,

Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi

Gas Rumah Kaca secara nasional hingga 26% dari kondisi dasar dalam

kurun waktu 10 tahun dengan menggunakan sumber pendanaan

dalam negeri, serta penurunan emisi hingga 41% jika ada dukungan

international dalam aksi mitigasi. Dua sektor utama yang berkontribusi

terhadap emisi adalah sektor kehutanan dan energi, terutama dari

kegiatan deforestasi dan pembangkit tenaga listrik, hal ini dikarenakan

oleh sebagian pembangkit yang masih menggunakan bahan bakar tidak

terbarukan seperti minyak bumi dan batubara, yang menjadi bagian dari

intensitas energi kita yang tinggi.



Dengan lokasi geografisnya yang unik, di antara negara-negara di dunia

kita termasuk salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak negatif perubahan iklim. Pengukuran

terhadap hal ini diperlukan untuk melindungi masyarakat dari potensi bahaya yang ditimbulkan oleh naiknya

permukaan air laut, banjir, perubahan curah hujan, dan dampak negatif lainnya. Jika upaya adaptasi tidak

segera dilakukan, maka berdasarkan prediksi analisis, Indonesia dapat mengalami kekurangan sumber

air, penurunan hasil pertanian, serta hilangnya atau rusaknya habitat di berbagai ekosistem termasuk di

daerah pesisir pantai.



Aksi nasional dibutuhkan baik untuk memitigasi perubahan iklim global maupun untuk mengidentifikasi

upaya-upaya adaptasi yang diperlukan. Hal ini menjadi tujuan utama dari dokumen Indonesia Climate Change

Sectoral Roadmap, ICCSR. Prioritas tertinggi dari aksi-aksi tersebut akan diintegrasikan ke dalam sistem

perencanaan pembangunan nasional. Untuk itu kita telah berupaya membangun konsensus nasional

dan pemahaman mengenai opsi-opsi dalam merespon perubahan iklim. Indonesia Climate Change Sectoral

Roadmap (ICCSR) merepresentasikan komitmen jangka panjang untuk menurunkan emisi dan melakukan

upaya adaptasi serta menunjukkan kesiapan perencanaan program-program yang inovatif dalam upaya

mitigasi dan adaptasi hingga puluhan tahun mendatang.







Deputi Menteri Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional







U. Hayati Triastuti



vii

ICCSR - SektoR LImbah

DAFTAR isi

Tim Penyusun i



Ucapan Terima Kasih iii



Kata Pengantar dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas iv



Kata Pengantar dari Deputi Menteri Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Bappenas vi



Daftar Isi vii



Daftar Tabel ix



Daftar Gambar xi



Daftar Istilah, Singkatan dan Satuan xii



1 PENDAHULUAN 1



1.1 Latar Belakang dan Tujuan 1



1.2 Metodologi Penulisan Laporan 2



1.2.1 Analisis 2



1.2.2 Proses Partisipasi Pemangku Kepentingan 2



1.2.3 Sistematika Penulisan Laporan 3



2 KONDISI SAAT INI DAN TANTANGAN MASA DEPAN 4



2.1 Kondisi Sumber Sampah 4



2.2 Kondisi Pengangkutan 7



2.3 Kondisi Pemrosesan Sampah 9



2.4 Kondisi Reduksi, Daur Ulang, dan Daur Pakai (3R) 12



2.5 Kebijakan dan Peraturan Perundangan 13



2.6 Tantangan Pengelolaan Sampah ke Depan 14



3 POTENSI MITIGASI DI SEKTOR SAMPAH 17



3.1 Metode Perhitungan 17



3.2 Pemanfaatan CH4 dari Landfill menjadi Energi Listrik 20





viii

ICCSR - SektoR LImbah

4 SKENARIO POTENSI MITIGASI DAN ISU-ISU STRATEGIS



DARI PERUBAHAN IKLIM PADA SEKTOR LIMBAH 22



4.1 Skenario Mitigasi Gas Rumah Kaca dari Sektor Sampah 22



4.2 Skenario Mitigasi Gas Rumah Kaca di Perkotaan 23



4.3 Skenario Mitigasi Gas Rumah Kaca di Pedesaan 30



4.4 Hasil Perhitungan Mitigasi Gas Rumah Kaca dari Sektor Sampah 33



4.5 Perhitungan Abatement Cost 41



5 KEBIJAKAN PENANGANAN SAMPAH DAN PENGINTEGRASIAN



MITIGASI PERUBAHAN IKLIM KE DALAM PERENCANAAN SEKTOR LIMBAH 45



5.1 Penyusunan Alternatif Kebijakan Mitigasi berdasarkan Perbedaan Jumlah Pembiayaan 45



5.2 Isu-isu Strategis Perubahan Iklim Pada Sektor Limbah 53



5.2.1 Kelompok Program Inventarisasi Data dan Perencanaan 54



5.2.2 Kelompok Program Regulasi dan Kebijakan 54



5.2.3 Kelompok Program Implementasi 55



5.2.4 Kelompok Program Capacity Program 56



DAFTAR PUSTAKA 57



LAMPIRAN A 59









ix

ICCSR - SektoR LImbah

DAFTAR TABeL



Tabel 2.1 Kondisi pengelolaan persampahan di Indonesia tahun 2005 9



Tabel 3.1 Faktor Emisi untuk Setiap Kegiatan Pengolahan Sampah 18



Tabel 3.2 Biaya untuk setiap Kegiatan Pengolahan Sampah 19



Tabel 3.3 Asumsi perencanaan landfill, instalasi flaring dan pembangkit listrik 21



Table 4.1 Matriks Perbandingan Skenario Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca



Sektor Sampah di Indonesia untuk wilayah Perkotaan 39



Tabel 4.2 Matriks Perbandingan Skenario Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca



Sektor Sampah di Indonesia untuk wilayah Pedesaan 41



Tabel 5.1 Asumsi yang digunakan dalam Alternatif 1 (BAU) 47



Tabel 5.2 Rekapitulasi asumsi dalam Alternatif 1 (BAU) 48



Tabel 5.3 Asumsi yang digunakan dalam alternatif 2 (Law-Based, Pembiayaan Maksimal) 49



Tabel 5.4 Rekapitulasi Asumsi dalam Alternatif 2 (Law-Based, Pembiayaan Maksimal) 50



Tabel 5.5 Asumsi yang digunakan dalam Alternatif 3 (Pembiayaan Optimis) 51



Tabel 5.6 Rekapitulasi Asumsi dalam Alternatif 3 (Pembiayaan Optimis) 52



Tabel 5.7 Asumsi yang digunakan dalam Alternatif 4 (Pembiayaan Moderat) 53



Tabel 5.8 Rekapitulasi Asumsi dalam Alternatif 4 (Pembiayaan Moderat) 54



Tabel 5.9 Asumsi yang digunakan dalam Alternatif 5 (Pembiayaan Pesimis) 55



Tabel 5.10 Rekapitulasi Asumsi dalam Alternatif 5 (Pembiayaan Pesimis) 56



Table 5.11 Matriks Aksi Mitigasi Alternatif Kebijakan



(berdasarkan Perbedaan Jumlah Pembiayaan) 50









x

ICCSR - SektoR LImbah

DAFTAR GAmBAR



Gambar 2.1 Proyeksi Jumlah Penduduk Perkotaan dan Pedesaan di Indonesia (2005-2030) 4



Gambar 2.2 Proyeksi Timbulan Sampah Perkapita (2005-2030) 5



Gambar 2.3 Proyeksi Timbulan Sampah di Indonesia (2005-2030) 6



Gambar 2.4 Peta Sebaran Proyeksi Timbulan Sampah Domestik Tahun 2010 6



Gambar 2.5 Peta Sebaran Proyeksi Timbulan Sampah Domestik Tahun 2030 7



Gambar 2.6 Kondisi Pengangkutan Sampah di Indonesia tahun 2005 7



Gambar 2.7 Proyeksi Prosentase Pengangkutan Sampah oleh Pemerintah Daerah 8



Gambar 2.8 Prosentase Kegiatan Pemrosesan Sampah di TPS dan TPA di Indonesia tahun 2005 10



Gambar 2.9 Kegiatan Pengelolaan Sampah yang Tidak Terangkut (Dikelola Sendiri) tahun 2005 11



Gambar 4.1 Timbulan Sampah di Perkapita di Perkotaan untuk Skenario



Reduksi Sampah di Sumber 24



Gambar 4.2 Timbulan Sampah di Perkotaan untuk Skenario Reduksi Sampah di Sumber 25



Gambar 4.3 Proyeksi Prosentase Pemrosesan Sampah oleh Pemerintah di Perkotaan



Skenario 3R dan Pengomposan 26



Gambar 4.4 Proyeksi Prosentase Pemrosesan Sampah oleh Masyarakat di Perkotaan



Skenario 3R dan Pengomposan 26



Gambar 4.5 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Pemerintah di Perkotaan Skenario SL + CL 27



Gambar 4.6 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Masyarakat di Perkotaan Skenario SL+CL 28



Gambar 4.7 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Pemerintah di Perkotaan Skenario SL+LFG 29



Gambar 4.8 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Masyarakat di Perkotaan Skenario SL+LFG 29



Gambar 4.9 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Pemerintah di Pedesaan



Skenario dibakar/ditimbun dimana saja 30



Gambar 4.10 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Masyarakat di Pedesaan



Skenario dibakar/ditimbun dimana saja 31



xi

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.11 Timbulan Sampah Perkapita di Pedesaan untuk Skenario Reduksi Sampah di Sumber 32



Gambar 4.12 Timbulan Sampah di Pedesaan untuk Skenario Reduksi Sampah di Sumber 32



Gambar 4.13 Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di perkotaan untuk setiap skenario 34



Gambar 4.14 Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di pedesaan untuk setiap skenario 35



Gambar 4.15 Reduksi emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di perkotaan untuk setiap skenario 36



Gambar 4.16 Reduksi emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di pedesaan untuk setiap skenario 36



Gambar 4.17 Biaya Pengelolaan Sampah di perkotaan untuk setiap skenario 37



Gambar 4.18 Biaya Mitigasi (Biaya Skenario – Biaya BAU) di perkotaan 37



Gambar 4.19 Biaya Pengelolaan Sampah di pedesaan untuk setiap skenario 38



Gambar 4.20 Biaya Mitigasi (Biaya Skenario – Biaya BAU) di pedesaan 38



Gambar 4.21 Perhitungan NPV Reduksi Emisi (ton CO2 eq) Setiap Skenario Perkotaan 41



Gambar 4.22 Perhitungan NPV Reduksi Emisi (ton CO2 eq) Setiap Skenario Pedesaan 42



Gambar 4.23 Perhitungan NPV Biaya Mitigasi (USD) Setiap Skenario Perkotaan 42



Gambar 4.24 Perhitungan NPV Biaya Mitigasi (USD) Setiap Skenario Pedesaan 43



Gambar 4.25 Perhitungan Abatement Cost (USD/ton) Setiap Skenario Perkotaan 43



Gambar 4.26 Perhitungan Abatement Cost (USD/ton) Setiap Skenario Pedesaan 44



Gambar 5.1 Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) tiap Alternatif terhadap Alternatif 1 (BAU) 57



Gambar 5.2 Reduksi Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) dibandingkan terhadap Alternatif 1 (BAU) 57



Gambar 5.3 Biaya Mitigasi Tiap Skenario dibandingkan alternatif 1 (BAU) 58









xii

ICCSR - SektoR LImbah

DAFTAR isTiLAH, sinGKATAn DAn sATuAn



BL Baseline scenario



cap capita



CDM clean development mechanism



CER certified emission reduction



CH4 methane



CL controlled landfill



CO carbon monoxide



CO2 carbon dioxide



CO2 eq carbon dioxide equivalent



DOC degradable organic carbon



DOCF degradable organic carbon dissimilated



EF emission factor



eq equivalent



g gram



Gg gigagram



GHG greenhouse gas



Gt gigatonne



H2 hydrogen



H2O water



ha hectare



IPCC Intergovernmental Panel on Climate Change



k methane generation rate constant



kg kilogram



kt kilotonne



xiii

ICCSR - SektoR LImbah

kWh kilowatt-hour



L litre



L0 methane generation potential



LFG landfill gas



m metre



m3 cubic metre



MCF methane conversion factor



Mt megatonnes



MSW municipal solid waste



Mt megatonne



mV millivolt



MW megawatt



N nitrogen



N2 nitrogen gas



NA not applicable



N/A not available



N2O nitrous oxide



O2 oxygen



OD open dumping



OECD Organisation for Economic Co-operation and Development



ppb part per billion



ppbv part per billion by volume



ppm part per million



SL sanitary landfill



SO2 sulphur dioxide



SOx sulphur oxides





xiv

ICCSR - SektoR LImbah

t tonne



t-km tonne-kilometre



TWh terrawatt-hour



UNFCCC United Nations Framework Convention on Climate Change









xv

ICCSR - SektoR LImbah

xvi

ICCSR - SektoR LImbah

1

PenDAHuLuAn









1

ICCSR - SektoR LImbah

1.1 Latar Belakang dan Tujuan



Sebagai usaha dalam mitigasi perubahan iklim, di tingkat nasional Indonesia telah melakukan langkah-

langkah, diantaranya:



• Pemerintah Indonesia telah meratifikasi United Nations Framework of Climate Change Convention

(UNFCCC) melalui Undang-Undang No 6 Tahun 1994



• Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Protokol Kyoto melalui Undang-Undang No 17 tahun

2004.



• Pada 26 November 2007, Kementerian Lingkungan Hidup menyusun Rencana Aksi Nasional

Perubahan Iklim (RAN-PI) sebagai komitmen dalam mitigasi gas rumah kaca dan perubahan

iklim.



• Sebagai tuan rumah dalam UN Conference of Parties (COP) in Global Warming ke 13 di Bali yang

diselenggarakan pada tanggal 3-14 Desember 2007.



• Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkomitmen untuk melakukan pengurangan gas rumah

kaca dengan target jangka menengah 26% di tahun 2020 (termasuk penggunaan lahan, perubahan

pemanfaatan lahan dan kehutanan) dan jika digabung dengan dukungan internasional, pemerintah

Indonesia yakin bahwa emisi gas rumah kaca dapat dikurangi sebanyak 41% [SBY, 2009]. Pemerintah

telah menyiapkan keputusan presiden untuk mendukung komitmen ini yang disiapkan pada Januari

2010.



• Pada September 2009, Badan Pengembangan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah meluncurkan

Indonesia’s Climate Change Trust Fund [ICCTF, 2009]. Ini merupakan mekanisme pendanaan untuk

menjembatani mekanisme internasional untuk perubahan iklim dengan tingkat nasional yang

efisien, transparan dan bertanggung-jawab.



Sektor limbah merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang penting. Limbah padat dan cair

merupakan sumber signifikan CH4 yang penambahannya di atmosfer berkontribusi terhadap perubahan

iklim. Sehingga aksi nasional dalam mitigasi perubahan iklim di sektor limbah sangat penting. Di Indonesia,

sampah dapat dianalisis di lebih dari 400 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Penanganan sampah di

tingkat pusat merupakan kewenangan dan tanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum yaitu dalam

bidang teknis, dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup yaitu dalam aspek lingkungan hidup.



Dengan mempertimbangkan latar belakang tersebut, penyusunan Roadmap Perubahan Iklim Sektor

Limbah ditujukan untuk memberikan arahan penanganan mitigasi perubahan iklim di sektor limbah

padat/sampah, integrasinya ke dalam kebijakan dan program-program pembangunan sektor limbah

sehingga mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. Selain itu, roadmap perubahan iklim

sektor limbah ini bertujuan juga untuk memberikan kontribusi terhadap upaya global dalam pengurangan

dampak negatif perubahan iklim. Penyusunan roadmap ini menekankan pada program-program yang



2

ICCSR - SektoR LImbah

mungkin dilakukan baik dalam jangka pendek maupun panjang. Pada saat ini sektor yang siap untuk

melakukan reduksi CH4 dari sektor limbah adalah dari sektor persampahan sehingga penanganan mitigasi

di sektor limbah roadmap ini dibatasi hanya untuk sektor persampahan. Saat ini sektor sampah sebagian

besar dikelola oleh Pemerintah Kota/Kabupaten, khususnya untuk lingkungan perkotaan.







1.2 Metodologi Penulisan Laporan



1.2.1 Analisis



Analisis dalam penyusunan roadmap perubahan iklim sektor sampah dilakukan dengan cara-cara sebagai

berikut:



a) Pengumpulan dan kajian dokumen-dokumen terkait sektor sampah dari Departemen Pekerjaan

Umum dan juga dari Bappenas seperti Synthesis Report for Indonesia’s Technology Needs Assessment on

Climate Change Mitigation, Bappenas-GTZ, Maret 2009.



b) Melakukan kajian literatur dan kajian dasar ilmiah mengenai dampak perubahan iklim terhadap

sektor sampah, salah satunya dilakukan dengan mengkaji dokumen-dokumen Guideline IPCC

2006.



c) Melakukan perhitungan timbulan sampah dan emisi GRK untuk sektor sampah.



d) Menyusun skenario emisi GRK sebagai dasar penyusunan program-program mitigasi sampah.



e) Menyusun program-program mitigasi sektor sampah.





1.2.2 Proses Partisipasi Pemangku Kepentingan



Partisipasi pemangku kepentingan diikutsertakan dalam proses penyusunan Roadmap ini melalui beberapa

cara di antaranya:



• Konsultasi dan diskusi yang dilakukan dengan pejabat, peneliti dan pakar di instansi terkait khususnya

Bappenas, Departemen Pekerjaan Umum, dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup.



• Penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD), Pra-FGD serta rapat-rapat koordinasi di lingkungan

Departemen Pekerjaan Umum dan instansi terkait yang telah dilaksanakan baik di Bappenas maupun

di Departemen Pekerjaan Umum. Dalam FGD ini juga dibahas mengenai isu lintas sektoral.









3

ICCSR - SektoR LImbah

1.2.3 Sistematika Penulisan Laporan



Laporan ini terbagi menjadi 5 bab dengan sistematika sebagai berikut:



• Bab 1 menjelaskan latar belakang dan tujuan penulisan laporan



• Bab 2 menjelaskan kondisi pengelolaan sampah di Indonesia



• Bab 3 menjelaskan metode perhitungan gas rumah kaca dari landfill dan potensinya di Indonesia.

Bab ini juga menjelaskan berbagai asumsi yang dipakai dalam perhitungan.



• Bab 4 menjelaskan berbagai skenario mitigasi gas rumah kaca dari landfill. Tujuan yang ingin dicapai

adalah untuk membandingkan jenis skenario yang paling efektif dan efisien dalam mitigasi gas

rumah kaca, yaitu dengan membandingkan abatement costnya.



• Bab 5 menjelaskan berbagai alternatif kebijakan berdasarkan asumsi pembiayaan. Alternatif di Bab

5 merupakan gabungan dari berbagai skenario di Bab 4 yang dirangkai secara terpadu dan bertahap.

Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk membandingkan berbagai alternatif pengelolaan sampah

yang dibagi berdasarkan jumlah pembiayaannya. Untuk mengetahui alternatif kebijakan yang paling

efektif dan efisien ditinjau dari pengurangan gas rumah kaca dibandingkan abatement costnya. Bab

5 juga menjelaskan program jangka menengah dan panjang yang merupakan hasil FGD dengan

sektor terkait khususnya Departemen Pekerjaan Umum terkait pengurangan gas rumah kaca.









4

ICCSR - SektoR LImbah

2

KOnDisi sAAT ini DAn

TAnTAnGAn mAsA

DePAn









5

ICCSR - SektoR LImbah

Untuk merencanakan kegiatan mitigasi gas rumah kaca dari sektor sampah perlu ditentukan kondisi

baseline sebagai basis perhitungan. Kondisi baseline untuk perhitungan sektor sampah adalah tahun 2005,

yaitu periode sebelum diterapkannya UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Selain itu,

tahun 2005 dipilih karena data-data penelitian pada tahun 2005 relatif lebih lengkap dibandingkan dengan

tahun yang lain. Untuk perhitungan sampah domestik jumlah penduduk diproyeksikan sebagaimana

terlihat pada Gambar 2.1.



Kondisi baseline pengelolaan sampah di Indonesia tahun 2005 dapat dibedakan menjadi (1) kondisi

sumber sampah, (2) kondisi pengangkutan sampah, (3) kondisi pemrosesan sampah, (4) kondisi reduksi,

daur ulang dan daur pakai (3R), dan (5) kebijakan dan peraturan perundangan.









Gambar 2.1 Proyeksi Jumlah Penduduk Perkotaan dan Pedesaan di Indonesia (2005-2030)









2.1 Kondisi Sumber Sampah



Indonesia pada tahun 2005 memiliki tingkat produksi sampah perkapita 0,6 kg/orang/hari untuk wilayah

perkotaan dan 0,3 kg/orang/hari untuk wilayah pedesaan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi,

produksi sampah perkapita akan terus naik sehingga di tahun 2030 mencapai 1,2 kg/kapita/hari untuk

perkotaan dan 0,55 kg/orang/hari untuk pedesaan sebagaimana dijelaskan dalam Gambar 2.2. Dengan

jumlah penduduk sebagaimana dijelaskan dalam Gambar 2.1, dihasilkan proyeksi timbulan sampah

(lihat Gambar 2.3). Sebagai contoh, pada tahun 2005 dengan jumlah penduduk 218,8 juta (BPS, 2006)

menghasilkan sampah domestik sekitar 33,5 Megaton.









6

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 2.2 Proyeksi Timbulan Sampah Perkapita (2005-2030)





Di negara-negara Asia, data komposisi sampah tidak mudah didapatkan pada skala nasional. Sampah

organik merupakan komponen utama dalam persampahan. Proporsi sampah organik adalah antara 34-

70%, lebih tinggi 20-30% dari kebanyakan negara di Eropa. Saat ini, semakin banyak sampah plastik

dan kertas yang dihasilkan di setiap negara di Asia, yang menunjukkan perubahan gaya hidup. Seiring

peningkatan transisi ekonomi, komposisi sampah di Indonesia semakin mendekati negara-negara industri,

yaitu dengan peningkatan prosentase kertas dan plastik dan penurunan komponen sampah organik.









Gambar 2.3 Proyeksi Timbulan Sampah di Indonesia (2005-2030)





7

ICCSR - SektoR LImbah

Sebaran sampah hasil proyeksi disampaikan dalam Gambar 2.4 dan Gambar 2.5. Gambar 2.4 menunjukkan

sebaran timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2010. Sedangkan Gambar 2.5 menunjukkan sebaran

timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2030.









Gambar 2.4 Peta Sebaran Proyeksi Timbulan Sampah Domestik Tahun 2010



Pada tahun 2030, sebagaimana terlihat pada Gambar 2.5, volume sampah domestik yang tinggi bukan

hanya terjadi di Pulau Jawa tetapi juga di Pulau Sumatera.









Gambar 2.5 Peta Sebaran Proyeksi Timbulan Sampah Domestik Tahun 2030





8

ICCSR - SektoR LImbah

2.2 Kondisi Pengangkutan



Di Indonesia sekitar 50% sampah di perkotaan dan 20% sampah di pedesaan diangkut secara kolektif

oleh dinas kebersihan, atau lembaga lain yang ditunjuk pemerintah kota/kabupaten (lihat Gambar 2.6).

Sampah yang tidak terangkut oleh pemerintah dikelola sendiri oleh masyarakat secara swadaya.









Gambar 2.6 Kondisi Pengangkutan Sampah di Indonesia tahun 2005





Sesuai dengan rencana kerja pemerintah, pengangkutan sampah diproyeksikan akan terus meningkat

dari tahun ke tahun (lihat Gambar 2.7). Secara umum, pekerjaan Dinas Kebersihan adalah mengangkut

sampah dari TPS menuju TPA, sementara komunitas perkotaan mengatur pengumpulan sampah dari

rumah-rumah ke TPS secara mandiri. Sistem pengumpulan sampah seperti ini masih banyak kelemahan

yaitu banyak sampah yang tidak dikumpulkan tetapi dibuang begitu saja di saluran drainase ataupun

sungai.



Selain itu, masih ada masalah teknis yang terkait dengan peralatan dan perlengkapan dalam pengelolaan

sampah. Secara umum kota/kabupaten di Indonesia mengalami kekurangan kendaraan untuk keperluan

pengumpulan dan pengangkutan sampah. Kendaraan yang usianya sudah tua juga memperlambat

transportasi sampah, sehingga tidak semua sampah dapat diangkut.



Aspek lain yang tak kalah penting adalah mengenai sumber pembiayaan penanganan limbah padat domestik.

Sebagian besar kota di Indonesia menggunakan sumber pembiayaan dari anggaran pembangunan

pemerintah dan dalam beberapa kasus adalah berasal dari pinjaman luar negeri. Sumber keuangan lainnya

berasal dari retribusi sampah yang dibebankan pada penghasil sampah. Namun sejak krisis ekonomi,

pendapatan melalui retribusi menurun seiring dengan berkurangnya kemampuan ekonomi masyarakat.

Saat ini masih ditemui kendala untuk menaikkan retribusi, karena masih terbatasnya kemampuan ekonomi

masyarakat.









9

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 2.7 Proyeksi Prosentase Pengangkutan Sampah oleh Pemerintah Daerah









2.3 Kondisi Pemrosesan Sampah



Sampah yang diangkut secara kolektif oleh pemerintah daerah tidak seluruhnya diproses di TPA (Tempat

Pemrosesan Akhir) namun mengalami berbagai proses lain sebagaimana dijelaskan dalam Gambar 2.8.

Secara lengkap kondisi pengelolaan persampahan di Indonesia ditunjukkan melalui Tabel 2.1. Berdasarkan

data penelitian di Bandung Raya dan informasi sekunder lainnya dari beberapa tempat di Indonesia, di

tahun 2005 (lihat Tabel 2.1), diperoleh data bahwa1 (a) sampah anorganik yang di-recovery sebanyak 3%, (b)

sampah organik dikompos sebanyak 1%, (c) sampah dibakar di TPS dan TPA 0,5%; diurug dengan open

dumping 45%; dan diurug dengan sanitary landfill yang dilengkapi penangkap biogas 0,5%.







Sementara sebagian lagi sampah dikelola oleh masyarakat sendiri dengan komposisi sampah anorganik

yang di-recovery sebesar 3%, sampah organik yang dikompos sebanyak 1%, sampah dibakar sebanyak 5%,

dibuang ke saluran sungai 1% serta ditimbun dimana saja 40%. Sampah di pedesaan hanya sekitar 20%

yang diangkut oleh petugas swadaya masyarakat secara kolektif dan 80% sisanya dikelola sendiri oleh

masyarakat. Untuk sampah di pedesaan yang dikelola masyarakat sendiri tersebut, 40% dikelola dengan

cara pengomposan sampah organik.





1

Satuan % yang digunakan dalam naskah ini adalah terhadap berat basah sampah. Biasanya data yang disajikan oleh pengelola sampah di

Indonesia adalah berdasarkan % terhadap volume basah yang akan mempunyai densitas berbeda.



10

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 2.1 Kondisi pengelolaan persampahan di Indonesia tahun 2005





Tahun 2005 Satuan Perkotaan Pedesaan

Timbulan sampah perkapita kg/orang/hari 0,6 0,3

Kenaikan timbulan sampah per tahun % 2,5 1

Sampah diangkut secara kolektif (Dinas) % 50 20

Kenaikan sampah diangkut kolektif per-tahun % 2 - 2,5 1





Sampah dikelola kolektif 2005:

• Anorganik direcovery % 3 0,5

• Organik dikomposkan % 1 5,5

• Dibakar di TPS dan TPA % 0,5 10

• Diurug di open dumping % 45 4

• Diurug dengan sanitary landfill + penangkap biogas % 0,5 0

Total % 50 20





Sampah dikelola sendiri 2005:

• Anorganik direcovery % 3 5

• Organik dikomposkan % 1 40

• Dibakar % 5 20

• Dibuang ke saluran sungai % 1 5

• Timbun dimana saja % 40 10

Total % 50 80







Sumber: Damanhuri, 2008





Gambar 2.8 menunjukkan bahwa dari 50% sampah yang diangkut di perkotaan, 45% diproses di landfill

open dumping, dan sisanya direcovery, dikomposkan, dibakar, dan diproses di sanitary landfill. Selain itu, dari

20% sampah yang diangkut di pedesaan sebagian diurug di open dumping, dikomposkan, dan sebagainya

(lihat Gambar 2.8).









11

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 2.8 Prosentase Kegiatan Pemrosesan Sampah di TPS dan TPA di Indonesia tahun 2005





Sampah yang tidak terangkut akan dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Gambar 2.9 menunjukkan

kegiatan pengelolaan sampah yang dilakukan sendiri oleh masyarakat baik di perkotaan maupun di

pedesaan.









Gambar 2.9 Kegiatan Pengelolaan Sampah yang Tidak Terangkut (Dikelola Sendiri) tahun 2005





Sistem manajemen persampahan di Indonesia sebagian besar bergantung pada keberadaan landfill karena

pemrosesan sampah akhir di Indonesia terbanyak menggunakan penimbunan/landfill. TPA (Tempat

Pemrosesan Akhir) dengan sistem landfill menjadi salah satu isu yang sangat penting dalam pengelolaan

limbah padat karena pada saat ini baru sebagian kecil landfill di Indonesia yang dikelola dengan baik.





12

ICCSR - SektoR LImbah

Sebagian besar sampah ditransportasikan ke TPA yang diolah melalui open dumping, dan diestimasikan

bahwa hanya 10% yang diolah melalui sistem yang lebih baik seperti controlled landfill. Hanya terdapat

sedikit perlindungan ataupun pengawasan terhadap air tanah sehingga lindi (leachate) dari sampah dapat

mencemari air tanah atau sungai. Selain itu, pondasi TPA biasanya berbatu, berkerikil ataupun area rawa

yang sangat sensitif terhadap polusi air (Damanhuri, 2008). Masalah lainnya adalah masyarakat banyak

menolak jika lahan atau lingkungannya dipilih untuk dijadikan TPA.



Alasan utama penggunaan open dumping terus diberlakukan di Indonesia adalah karena terbatasnya anggaran

operasional. Dengan anggaran operasional yang terbatas, sangat sulit untuk menutup area dengan lapisan

tanah dan mengkompaksi sampah lapisan demi lapisan. Pengoperasian open dumping menimbulkan banyak

masalah seperti terbentuknya asap, bau dan munculnya lalat. Di banyak kasus, ditemukan sampah yang

berasal dari industri dan sampah patogen dari rumah sakit di TPA yang sama, walaupun sejak 1995

pemerintah Indonesia telah mengatur kriteria landfill untuk sampah B3. Karena adanya pencampuran

sampah dari berbagai kriteria sampah yang berbeda, maka bahaya yang ditimbulkan oleh landfill menjadi

semakin besar.



Selain itu, masalah utama dalam pengelolaan sampah menggunakan landfill adalah ketika landfill telah

penuh. Secara pengelolaan juga banyak kelemahan, seperti perhatian hanya diberikan ketika TPA mulai

penuh atau terdapat gangguan pada operasional. Selain itu, pengelolaan masih belum dilakukan secara

terintegrasi.







2.4 Kondisi Reduksi, Daur Ulang, dan Daur Pakai (3R)



Pada umumnya Solid Waste Management (SWM) di Indonesia sangat bergantung pada keberadaan Tempat

Pemrosesan Akhir (TPA). Pengolahan level menengah sudah dibangun sebagai bentuk usaha untuk

mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA. Sampai saat ini, sangat sedikit tempat pemrosesan level

menengah yang dikelola secara profesional di Indonesia. Pusat pengolahan komunitas (3R) juga dibentuk

sebagai solusi untuk mengurangi jumlah sampah. Kondisi reduksi, daur ulang dan daur pakai pada tahun

2005 dapat dilihat pada Tabel 2.1, Gambar 2.8 dan Gambar 2.9.



Melalui metode 3R (reduce, reuse, dan recycle) beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan,

Semarang dan Yogyakarta mulai mengembangkan pengolahan level menengah dengan mengompos dan

mendaur ulang sampah anorganik untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA. Masalah

yang dihadapi adalah mahalnya harga pupuk kompos yang dihasilkan yaitu sekitar Rp 300 – Rp. 400/kg,

dibandingkan dengan pupuk anorganik yang lebih murah. Sampah anorganik di Indonesia juga didaur

ulang dan dilakukan oleh pemulung. Dari segi ekonomi sektor ini memberikan keuntungan ekonomi yang

signifikan.



Komposisi sampah merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pengomposan dan daur ulang.

Terdapat dua komposisi utama sampah, yaitu sampah basah atau sampah organik (sampah makanan,



13

ICCSR - SektoR LImbah

dsb.) yang dapat dilakukan pengomposan, dan sampah kering atau sampah anorganik (plastik, kertas,

gelas, dsb.) yang dapat di daur ulang. Perlu diperhatikan bahwa beberapa komponen dari barang bekas

di Indonesia, seperti koran, buku bekas, majalah, baju bekas, komponen elektronik bekas, biasanya tidak

dianggap sampah yang harus dibuang ke tempat sampah; dan biasanya dikumpulkan oleh sektor informal

seperti tukang loak dan pemulung dijual ke penampungan barang bekas.



Aspek penting lainnya dalam pengelolaan sampah yaitu daur ulang dan peranan sektor informal. Di

Indonesia, terdapat dua aliran daur ulang. Aliran pertama, kolektor sebagai sektor informal mengumpulkan

bahan-bahan yang dapat didaur ulang di sumber. Aliran kedua, material ini dipisahkan dan didaur ulang

oleh kota/kabupaten setelah pengumpulan sampah. Kegiatan daur ulang ini melibatkan ibu rumah tangga,

dinas kebersihan, dan pemulung.



Di negara berkembang tingkat daur ulang komponen sampah anorganik adalah cukup tinggi sehingga

menimbulkan dampak positif berupa manfaat ekonomi pada masyarakat. Meskipun metode yang

digunakan untuk pemilahan/sortasi dan pemisahan sampah di negara-negara berkembang ini dianggap

tidak sesuai untuk sistem manajemen sampah seperti yang didefinisikan oleh negara-negara maju, metode

yang ada tersebut tidak hanya memberikan arus pendapatan ekonomi kepada ratusan ribu orang yang

terlibat dalam sektor informal ini, tetapi juga memberikan kontribusi positif berupa lebih banyaknya

sampah yang dapat didaur ulang.







2.5 Kebijakan dan Peraturan Perundangan



Pengelolaan sampah dilakukan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, mencegah polusi lingkungan

dan melindungi sumber daya air bersih sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Pengelolaan

Lingkungan Hidup Nomor 32/2009. Pengelolaan sampah diatur secara khusus dalam Undang-Undang

No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. Sebelum UU No.18/2008 dikeluarkan, PP No.16/2005 telah

menempatkan masalah perlindungan sumber air akibat pencemaran dari TPA sebagai salah satu fokus

yang diatur. PP 16/2005 ini merupakan peraturan di bawah Undang-Undang Sumber Daya Air (UU

No.7/2004).



UU No.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah menggariskan bahwa pengelolaan sampah hendaknya

berlandaskan hierarki pendekatan (a) pengurangan dan (b) penanganan sampah. Pengurangan (minimasi)

sampah dilandaskan atas prinsip (a) pembatasan (reduce), guna-ulang (reuse) dan daur-ulang (recycle) sebagai

prioritas pengelolaan sampah, yang dikenal sebagai pendekatan 3R. Makna dari pendekatan ini adalah

mengedepankan pengelolaan sampah di hulu yang dimulai dari upaya bagaimana agar sampah sesedikit

mungkin dihasilkan (reduce) dari kegiatan sehari-hari, seperti perubahan pola kerja lingkungan industri

penghasil dan pengguna pengemas untuk hasil produksinya, agar menghasilkan dan menggunakan

pengemas yang ramah lingkungan dengan volume sesedikit mungkin dan kelak setelah tidak digunakan,

sampahnya akan mudah didaur-ulang dan ditangani lebih lanjut. Mereka juga digariskan agar tetap





14

ICCSR - SektoR LImbah

tidak lepas tangan terhadap pengemas tersebut, yaitu dalam bentuk extended producers responsibility (EPR).

Sampah yang dihasilkan kemudian lebih diarahkan agar dikelola di sumber, melibatkan seluruh pemangku

kepentingan (stakeholders), melalui upaya guna-ulang dan daur-ulang. Sampah atau residu yang masih

tersisa selanjutnya ditangani secara baik dan profesional melalui pewadahan, pengumpulan, pemindahan,

pengangkutan dan pengolahan. Residu dari kegiatan ini kemudian wajib disingkirkan ke lingkungan secara

aman, agar tidak mengganggu kesehatan dan lingkungan. Oleh karenanya, UU-18/2008 menggariskan

bahwa dalam 5 tahun sejak UU tersebut dikeluarkan, open dumping yang selama ini merupakan cara yang

paling banyak dijumpai di Indonesia untuk menyingkirkan sampah, harus sudah digantikan dengan cara

landfill yang lebih baik, seperti controlled dan sanitary landfill. Selanjutnya UU tersebut menggariskan tentang

penguatan kapabilitas institusi, perbaikan hubungan antar stakeholder sebagai rekan dalam pengelolaan dan

peningkatan sumber investasi.



Keinginan pemerintah untuk mengedepankan pendekatan 3R telah secara nyata dikemukakan dalam

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 21/PRT/M/2006 yang memfokuskan upaya 3R sebagai strategi

nasional yang menggariskan bahwa sampai tahun 2014 pengurangan sampah hendaknya mencapai 20%2.

Target strategi nasional pada sektor pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:



1. Mendukung pencapaian tingkat pelayanan pengolahan sampah 60% pada tahun 2010.



2. Mendukung pengurangan jumlah sampah melalui 3R sampai 20% pada tahun 2014.



3. Meningkatkan kualitas landfill:



- Controlled Landfill (CLF) untuk kota kecil dan menengah.



- Sanitary Landfill (SLF) untuk kota besar dan kota metropolitan.



- Penghentian Open Dumping.



4. Mendukung pelaksanaan di tingkat institusi dan kerjasama regional.



Saat ini, implementasi pengelolaan persampahan di tingkat daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan

pemerintah daerah, berkaitan dengan organisasi pengelola sampah, biaya retribusi dan pengangkutan

sampah dari sumber menuju TPA. Kendala terbesar terletak pada kurangnya kekuatan hukum yang

menyebabkan lemahnya implementasi peraturan tersebut.









2

Walau tidak tercantum, satuan yang digunakan dapat dipastikan adalah % volume basah. Penggunaan satuan ini, membutuhkan kehati-

hatian interpretasi, misalnya dalam klaim keberhasilan upaya daur ulang. Contoh: 1 truk botol plastik kosong mempunyai volume yang

sama dengan 1 truk sampah basah, namun mempunyai berat yang berbeda.



15

ICCSR - SektoR LImbah

2.6 Tantangan Pengelolaan Sampah ke Depan



Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan jumlah volume sampah.

Gambar 2.1 menunjukkan hasil perhitungan timbulan sampah perkotaan dan pedesaan di Indonesia yang

merupakan hasil proyeksi dari tahun 2005 hingga 2030. Jumlah volume sampah yang terus meningkat

ini akan menjadi masalah lingkungan yang serius jika tidak ditangani dengan baik. Sehingga pengelolaan

sampah perkotaan yang baik merupakan keharusan.



Pengelolaan Persampahan Domestik (Municipal Solid Waste/MSW) di Indonesia masih menghadapi banyak

masalah seperti:



• Mayoritas kota tidak memiliki perencanaan (master plan) yang konsisten dalam penanganan sampah

karena Pengelolaan Persampahan masih belum diformalkan;



• Pengelolaan Persampahan belum diberikan prioritas yang cukup dalam peraturan pemerintah

daerah sehingga menjadikan anggaran dana untuk pengelolaan sampah sangat terbatas;



• Fasilitas untuk pengumpulan, transportasi, dan penyimpanan sampah juga terbatas;



• Sebagian besar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) merupakan open dumping yang menyebabkan

polusi air, udara, dan bau tidak sedap.



Untuk menyelesaikan masalah diatas pemerintah kota/kabupaten sebagai penyelenggara pengelolaan

sampah di level kota/kabupaten perlu meningkatkan program revitalisasi pengelolaan sampah yang

meliputi penyempurnaan institusi pengelola sampah, peraturan perundangan yang terkait, isu-isu teknis

pengelolaan sampah, infrastruktur pendukung, alternatif pembiayaan dan investasi, serta peningkatan

kesadaran, budaya, dan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sampah yang baik.



Selain itu, pengelolaan sampah ke depan sekurangnya harus menerapkan dua kebijakan utama. Kebijakan

pertama adalah pengurangan (reduce) sampah di sumber sebanyak mungkin, digunakan kembali (reuse)

dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA. Kebijakan kedua yaitu pengelolaan sampah

harus dilakukan dengan mengintegrasikan partisipasi masyarakat. Dua kebijakan ini digunakan sebagai

prinsip dasar pengelolaan sampah sebagaimana yang dideskripsikan di dalam undang-undang pengelolaan

sampah. Sementara itu, partisipasi aktif masyarakat dalam program 3R sampah padat dimulai dari tingkat

perumahan dengan mengubah kebiasaan masyarakat menjadi lebih bersih dan sehat. Partisipasi industri

juga akan dilakukan dengan melaksanakan EPR (Extended Producer Responsibility) yaitu prinsip untuk

produsen dan importir sampah B3.



Pengelolaan sampah ke depan harus mulai memperhitungkan konversi sampah menjadi sumber energi.

Selain itu, pengelolaan sampah harus terintegrasi dengan kegiatan mitigasi perubahan iklim sehingga

terjadi co-benefit yang menguntungkan. Perhatian yang lebih besar baik dari sisi program maupun

anggaran merupakan tantangan bagi setiap kota/kabupaten dalam rangka menciptakan pembangunan

daerah yang lebih berwawasan lingkungan.



16

ICCSR - SektoR LImbah

3

POTensi miTiGAsi Di

seKTOR sAmPAH









17

ICCSR - SektoR LImbah

3.1 Metode Perhitungan



Emisi gas rumah kaca dari sektor persampahan pada umumnya berupa metana (CH4) yang dihasilkan dari

TPA dan CO2 yang dihasilkan dari kegiatan pembakaran terbuka. Emisi dari pembakaran terbuka lebih

sulit untuk dikontrol dibandingkan emisi dari TPA. Selain itu, pembakaran dan daur ulang kertas dan

plastik menghasilkan gas N2O yang jika dikonversikan menjadi CO2 ekuivalen (Eq.) adalah 310 kalinya.



Berdasarkan uraian di Bab 2 bahwa di Indonesia sampah dikelola dengan dikompos, dibakar, dibuang

ke sungai, diurug, dibuang ke landfill, dan sebagainya. Potensi gas rumah kaca yang dihasilkan berbeda

tergantung dari proses yang terjadi tersebut. Untuk pembakaran terbuka dan dekomposisi natural, proporsi

sampah yang dapat terurai secara biologi di Indonesia adalah lebih tinggi. Dalam proses pembakaran terjadi

reaksi aerob yang menghasilkan CO2, namun tidak ada gas rumah kaca yang dilepaskan ke udara. Emisi

CH4 dari landfill merupakan hasil dekomposisi anaerobik dari materi organik dalam sampah. Sampah

dalam landfill terdekomposisi perlahan, dan waktu dekomposisi dapat berlangsung dalam beberapa

dekade. Pada dasarnya gas yang terbentuk terdiri atas gas metana dan gas karbondioksida.



Sebelum melakukan mitigasi dari sektor sampah, perlu dilakukan perhitungan emisi CH4 yang dihasilkan

dari sampah tersebut. Pada dasarnya perhitungan emisi dari landfill menggunakan IPCC First Order

Decay (FOD) model (IPCC, 2006) dengan persamaan dasar untuk mengestimasi emisi CH4 adalah sebagai

berikut:





CH4 tahun ke-t (Gg/thn) = ∑x [A ● k ● MSW(t) (x) ● MSW(F) (x) ● Lo (x)) ●e-k(t-x)]





Dimana

CH4 = CH4 yang dihasilkan dalam tahun ke-t, Gg/tahun

t = tahun perhitungan inventory

x = tahun ketika data dimasukkan

A = (1-e-k)/k ; faktor normalisasi untuk mengoreksi hasil perhitungan

MSWT(x) = jumlah total sampah yang dihasilkan dalam tahun x (Gg/tahun)

MSWF(x) = fraksi jumlah sampah yang diproses di landfill dalam tahun x

Lo(x) = potensi CH4 yang dihasilkan (Gg CH4/Gg sampah)





Laju pembentukan CH4 dari landfill sangat spesifik untuk kawasan tertentu karena pembentukannya

tergantung kepada jenis sampah yang dibuang, elemen kelembaban, umur sampah dan kondisi iklim lokal.

Sehingga untuk laporan ini digunakan data-data penelitian lokal sebagaimana terdapat pada Tabel 3.1.









18

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 3.1 Faktor Emisi untuk Setiap Kegiatan Pengolahan Sampah





Kegiatan Faktor Emisi Keterangan



1. Transportasi Sampah

(Sumber: Alisan Smith et al, 2001:

Rata-rata perjalanan ke TPA = 50 km

Waste management options and 0,71 kg CO2/km

per 2,5 ton sampah

climate change, AEA Techno-

Environment)



2. Degradasi Sampah di Landfill. 75 kg CH4/ton sampah Pada Sanitary Landfill yang baik,

Dihitung berdasarkan kondisi sampah

maksimum 90% emisi dapat

di Indonesia: kadar air, kadar karbon-

105 kg CO2/ton sampah tertangkap.

organik, dsb.

Kertas dan 0,05 kg N2O/ ton

organik sampah

2.237 kg CO2/ N2O = 310 CO2 dan CH4 = 23 CO2,

3. Pembakaran Sampah ton sampah nantinya disebut sebagai CO2 eq.

Plastik

0,05 kg N2O/ ton

sampah



4. Pengomposan 210 kg CO2/ton sampah



Kertas dan 0,05 kg N2O/ ton

organik sampah

2.237 kg CO2/ N2O = 310 CO2 dan CH4 = 23 CO2,

5. Daur Ulang

ton sampah nantinya disebut sebagai CO2 eq.

Plastik

0,05 N2O/ton

sampah



S a m p a h

ditimbun dimana

750 kg CO2/ ton

6. Pengelolaan Sampah lainnya saja dan dibuang

sampah

langsung ke

sungai







Sumber: Damanhuri, 2008





Untuk menghitung biaya mitigasi dibuat satuan harga pengoperasian dan pemeliharaan unit pengelolaan

sampah seperti ditunjukkan pada Tabel 3.2. Reduksi emisi adalah selisih antara emisi GRK yang dihasilkan

BAU (Business as usual) dengan emisi GRK skenario tertentu. Emisi GRK dibuat dalam satuan CO2

equivalen (CO2 eq). Rumus perhitungan untuk mendapatkan reduksi emisi dalam CO2 eq adalah sebagai

berikut:





Rumus Perhitungan Reduksi Emisi GRK (dalam CO2 eq):

Reduksi Emisi GRK (dalam CO2 eq) = Emisi GRK BAU – Emisi GRK Skenario









19

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 3.2 Biaya untuk setiap Kegiatan Pengolahan Sampah





Biaya Operasi dan Pemeliharaan

Kegiatan

per Ton Sampah

(perkiraan dalam

(Rp)

USD Dollar)

1. Pengangkutan 50.000 – 60.000 5–6

2. Sanitary Landfill 60.000 – 100.000 6 – 10

3. Open Dumping 10.000 – 20.000 1–2

4. Controlled Landfill 30.000 – 50.000 3–5

5. Pengomposan 15.000 – 20.000 1,5 – 2





Sumber: Damanhuri, 2008





Mitigasi emisi gas rumah kaca dapat dilakukan setelah proses identifikasi potensi emisi dan sumbernya

selesai dilaksanakan. Pada umumnya mitigasi emisi gas rumah kaca dapat dilakukan di tempat di mana

sampah terakumulasi (dikumpulkan) dalam volume yang tinggi dan di bawah kondisi anaerob. Untuk

sampah, landfill adalah sumber pelepas gas rumah kaca yang paling signifikan. Selain itu, emisi GRK juga

dihasilkan mulai dari pengangkutan/transportasi sampah menuju TPA, pembakaran plastik dan kertas

serta pengomposan.



Pada tahun 2015, mengacu pada target MDG, 80% sampah di daerah perkotaan dan 50% di daerah

pedesaan harus ditrasportasikan ke TPA. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan pengelolaan direncanakan

dengan asumsi realistis yang dapat diterapkan di masa yang akan datang.



Biaya mitigasi dihitung berdasarkan biaya investasi dan biaya operasional/pemeliharaan. Interest rate

digunakan 12%/tahun. Biaya ACERS (Abatement Cost the Emissions Reduction Scenario) dihitung

berdasarkan (Situmeang, 2009):







ACERS =









ACERS = Abatement Cost the Emissions Reduction Scenario

NPV = Net Present Value









20

ICCSR - SektoR LImbah

4.2 Pemanfaatan CH4 dari Landfill menjadi Energi Listrik



Di Indonesia proyek pemanfaatan CH4 dari lahan landfill untuk menghasilkan energi listrik belum pernah

dilaksanakan, walaupun beberapa penelitian lapangan dalam rangka CDM sudah ada yang dilakukan.

Padahal di negara maju, landfill telah menjadi sumber energi listrik yang menjanjikan. Secara umum

hambatan utama untuk pelaksanaan proyek tersebut adalah permasalahan biaya investasi karena investasi

di sektor ini masih dianggap belum menguntungkan. Harga jual listrik dari landfill diatur dalam kebijakan

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Nomor : 31 Tahun 2009, tentang Harga Pembelian

Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero) dari Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi

Terbarukan Skaia Kecil dan Menengah atau Kelebihan Tenaga Listrik.



Dalam Peraturan Menteri tersebut, PT PLN (Persero) wajib membeli tenaga listrik dari pembangkit

tenaga listrik yang rnenggunakan energi terbarukan skala kecil dan menengah dengan kapasitas sampai

dengan 10 MW atau kelebihan tenaga listrik (excess power) dari badan usaha rnilik negara, badan usaha

milik daerah, badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat guna memperkuat sistem penyediaan

tenaga listrik setempat. Harga pembelian tenaga listrik tersebut ditetapkan sebagai berikut:



a. Rp 656/kWh x F, jika terinterkoneksi pada Tegangan Menengah;



b. Rp 1.004/kWh x F, jika terinterkoneksi pada Tegangan Rendah.



F adalah faktor insentif sesuai dengan lokasi pembelian tenaga listrik oleh PT PLN (Persero) dengan

besaran sebagai berikut:



a. Wilayah Jawa dan Bali, F = 1 ;



b. Wilayah Sumatera dan Sulawesi, F = 1,2 ;



c. Wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, F = 1,3 ;



d. Wilayah Maluku dan Papua, F = 1,5.



Laporan ini menyatakan bahwa sanitary landfill didukung oleh fasilitas flaring. Selain itu, CH4 digunakan

sebagai generator listrik yang dapat dijual kepada PT PLN. Untuk perhitungan skala nasional dibuat

beberapa asumsi. Asumsi sebagian besar berdasarkan studi kelayakan pemanfaatan CH4 untuk energi

listrik di Makassar, Indonesia (Bank Dunia, 2007).









21

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 3.3 Asumsi perencanaan landfill, instalasi flaring dan pembangkit listrik





Parameter Asumsi



Landfill:

Kapasitas 1 unit Landfill 300 Gg/tahun

Biaya investasi 1 unit Sanitary Landfill 4.000.000 USD

Biaya investasi 1 unit Controlled Landfill 3.000.000 USD

Biaya investasi 1 unit Open Dumping 2.000.000 USD





Flaring dan Pembangkit Listrik:

Effisiensi dari CH4 50%

Efficiency dari Electricity 99%

Generated Electricity (per Unit Sanitary Landfill) 1 MWh

Biaya investasi Fasilitas Flaring dan Electricity 6.000.000 USD









22

ICCSR - SektoR LImbah

4

sKenARiO POTensi

miTiGAsi DAn

isu-isu sTRATeGis

DARi PeRuBAHAn

iKLim PADA seKTOR

LimBAH

23

ICCSR - SektoR LImbah

4.1 Skenario Mitigasi Gas Rumah Kaca dari Sektor Sampah



Skenario potensi mitigasi dari sektor sampah dibuat berdasarkan mandat UU No. 18 tahun 2008 tentang

Pengelolaan Sampah. Sesuai dengan isi UU No. 18/2008 tersebut, usaha-usaha untuk mengurangi emisi

gas rumah kaca dari sektor sampah adalah me-recovery LFG (landfill gas) baik dari lahan open dumping

yang telah dikonversi menjadi sanitary landfill, maupun dari pembuatan sanitary landfill yang baru. Usaha

menutup open dumping dan membangun sanitary landfill dengan LFG teknologi recovery sejalan dengan isi

UU No.18/2008, yaitu seluruh lahan open dumping harus ditutup pada tahun 2015. Usaha lainnya untuk

mengurangi emisi gas rumah kaca adalah usaha untuk mereduksi sampah baik di sumber sampah (rumah

tangga), TPS (Tempat Penampungan Sementara), maupun TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dengan

teknik 3R (reduce, reuse, recycle). Pemrosesan akhir sampah di perkotaan (urban) dan pedesaan (rural) di

Indonesia adalah berbeda, di perkotaan menitikberatkan pada teknologi landfill (open dumping, controlled

landfill, sanitary landfill), sedangkan di pedesaan teknologi pengomposan. Sedangkan untuk 3R dapat

diterapkan baik di perkotaan maupun pedesaan.



Berdasarkan mandat UU No. 18/2008 tersebut, skenario mitigasi gas rumah kaca yang dikembangkan

dalam laporan ini adalah sebagai berikut:



Perkotaan:



1) Skenario Open Dumping



Skenario ini merupakan gambaran yang paling dekat dengan kondisi saat ini, yaitu penggunaan

open dumping sebagai teknologi pemrosesan akhir sampah di perkotaan.



2) Skenario Reduksi Sampah di Sumber



Skenario ini menerapkan usaha reduksi sampah di sumber seperti melakukan kampanye dan

capacity building dalam pengurangan jumlah plastik, kertas, dan kemasan.



3) Skenario 3R dan Pengomposan



Skenario ini menerapkan 3R (reduce, reuse, recycle) di TPS dan TPA. Selain itu dilakukan pula

pengomposan.



4) Skenario konversi ke Sanitary Landfill tanpa instalasi LFG



Skenario ini mengkonversi open dumping ke sanitary landfill dan controlled landfill tanpa melakukan

pemanfaatan gas CH4 dari landfill untuk energi listrik.



5) Skenario konversi ke Sanitary Landfill dan instalasi LFG



Skenario ini mengkonversi open dumping ke sanitary landfill dan dilakukan pemanfaatan gas CH4

dari landfill untuk energi listrik.







24

ICCSR - SektoR LImbah

Pedesaan:



1) Skenario dibakar dan ditimbun dimana saja



Skenario ini merupakan gambaran umum kondisi pengelolaan sampah di pedesaan yaitu dibakar

dan ditimbun dimana saja.



2) Skenario Reduksi Sampah di Sumber



Skenario ini menerapkan upaya pengurangan jumlah sampah dari sumbernya.



3) Skenario 3R dan Pengomposan



Skenario ini merupakan gabungan antara teknologi pengomposan dan 3R.







4.2 Skenario Mitigasi Gas Rumah Kaca di Perkotaan



Asumsi yang digunakan dalam mitigasi gas rumah kaca di perkotaan untuk masing-masing skenario adalah

sebagai berikut.



1) Skenario Open Dumping/Business as Usual (BAU)



Skenario Open Dumping merupakan kondisi BAU yang diproyeksikan sesuai dengan pertumbuhan

penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Skenario open dumping (BAU) ini telah dijelaskan pada

Bab 2 tentang kondisi saat ini. Asumsi yang digunakan untuk skenario open dumping (BAU) adalah

sebagai berikut:



• Transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan 50%.Tingkat

pelayanan meningkat 1-2% per tahun dari tahun 2005 sampai 2020 sehingga mencapai 80%

pada tahun 2020 dan pada tahun 2030 menjadi 90%.



• Pembakaran sampah pada daerah perkotaan yang diangkut secara kolektif meningkat

dari 0,5% pada 2005 menjadi 0,8% pada 2020 dan menjadi 0,9% pada 2030. Sedangkan

pembakaran sampah yang dikelola sendiri menurun dari 24% pada 2005 menjadi 4,8% pada

2030.



• Prosentase timbulan sampah yang dilakukan dikelola sendiri oleh masyarakat untuk sampah

yang dibuang kemana saja adalah sebesar 25% pada tahun 2005 dan menurun menjadi 5%

pada 2030. Sedangkan untuk sampah yang dibuang ke sungai pada tahun 2005 sebesar 1%

dan menurun menjadi 0,2% pada tahun 2030.



• Jumlah Timbulan sampah yang diurug di Open Dumping pada daerah perkotaan sekitar

49,5% pada 2005, meningkat hingga 89,10 % pada 2030.







25

ICCSR - SektoR LImbah

2) Skenario Reduksi sampah di sumber



• Asumsi transportasi atau pengangkutan sampah sama dengan skenario open dumping

(BAU) yaitu transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan

50%.Tingkat pelayanan meningkat 1-2% per tahun dari tahun 2005 sampai 2020 sehingga

mencapai 80% pada tahun 2020 dan pada tahun 2030 menjadi 90%.



• Timbulan sampah untuk perkotaan meningkat dari 0,6 kg/orang/hari pada 2005 menjadi

1,1 kg/orang/hari pada tahun 2030. Peningkatan timbulan sampah dengan dilakukannya

reduksi di sumber sampah dapat diminimasi (meminimasi jumlah sampah yang dihasilkan),

sehingga mampu mengurangi timbulan sampah sekitar 20%. Reduksi ju mlah sampah berarti

juga reduksi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sampah.









Gambar 4.1 Timbulan Sampah di Perkapita di Perkotaan untuk Skenario Reduksi Sampah di Sumber









26

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.2 Timbulan Sampah di Perkotaan untuk Skenario Reduksi Sampah di Sumber





3) Skenario 3R dan pengomposan



• Asumsi transportasi atau pengangkutan sampah sama dengan skenario open dumping

(BAU) yaitu transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan

50%.Tingkat pelayanan meningkat 1-2% per tahun dari tahun 2005 sampai 2020 sehingga

mencapai 80% pada tahun 2020 dan pada tahun 2030 menjadi 90%.



• Prosentase timbulan sampah yang diangkut secara kolektif untuk sampah yang dikompos

adalah sebesar 2,5% pada tahun 2005 dan meningkat menjadi 4,5% pada 2030. Sedangkan

sampah yang dikompos yang dikelola sendiri sebesar 5% pada tahun 2005 dan menurun

menjadi 1% pada 2030.



• Sampah plastik yang didaur ulang dan diangkut secara kolektif meningkat dari 2,5% pada

2005 menjadi 4% pada 2020 dan meningkat menjadi 4,5% pada 2030. Sedangkan sampah

plastik yang didaur ulang dengan dikelola sendiri sebesar 5% pada tahun 2005 dan menurun

menjadi 1% pada 2030. Penurunan ini sebenarnya terkait pengangkutan sampah yang

mengalami peningkatan.



• Sampah kertas yang didaur ulang dan diangkut secara kolektif meningkat dari 2.5% pada

2005 dan meningkat menjadi 4,5% pada 2030. Sedangkan sampah kertas yang didaur ulang

dan dikelola sendiri menurun dari 5% pada 2005 menjadi 1% pada 2030.









27

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.3 Proyeksi Prosentase Pemrosesan Sampah oleh Pemerintah

di Perkotaan Skenario 3R dan Pengomposan









Gambar 4.4 Proyeksi Prosentase Pemrosesan Sampah oleh Masyarakat

di Perkotaan Skenario 3R dan Pengomposan







28

ICCSR - SektoR LImbah

4) Konversi ke Sanitary Landfill tanpa instalasi LFG (Landfill Gas)



• Asumsi transportasi atau pengangkutan sampah sama dengan skenario open dumping (BAU)

yaitu transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan 50%.Tingkat

pelayanan meningkat 1-2% per tahun dari tahun 2005 sampai 2020 sehingga mencapai 80%

pada tahun 2020 dan pada tahun 2030 menjadi 90%.



• Dilakukan konversi dari Open Dumping menjadi Sanitary Landfill dengan persen timbulan

sampah yang dibawa ke Sanitary Landfill sebesar 0,5% pada 2005 meningkat menjadi 2,4%

pada 2010 pada dan meningkat lagi menjadi 56% pada 2020 dan 63% pada 2030.



• Selain itu, timbulan sampah diproses pula di Controlled Landfill mencapai 4% pada 2005

meningkat menjadi 23,4% pada 2020 dan 26,1% pada 2030.









Gambar 4.5 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Pemerintah di Perkotaan Skenario SL + CL









29

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.6 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Masyarakat di Perkotaan Skenario SL+CL





5) Konversi ke Sanitary Landfill dan instalasi LFG (Landfill Gas) Penghasil Listrik



• Asumsi transportasi atau pengangkutan sampah sama dengan skenario open dumping (BAU)

yaitu transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan 50%.Tingkat

pelayanan meningkat 1-2% per tahun dari tahun 2005 sampai 2020 sehingga mencapai 80%

pada tahun 2020 dan pada tahun 2030 menjadi 90%.



• Dilakukan konversi dari Open Dumping menjadi Sanitary Landfill dengan persen timbulan

sampah yang dibawa ke Sanitary Landfill sebesar 4,5% pada 2005 meningkat menjadi 79,2%

pada 2020 dan 89,10% pada 2030.



• Selain itu, sanitary landfill dilengkapi dengan LFG sehingga dilakukan pula perhitungan revenue

dari setiap kWh listrik yang dihasilkan.









30

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.7 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Pemerintah di Perkotaan Skenario SL+LFG









Gambar 4.8 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Masyarakat di Perkotaan Skenario SL+LFG









31

ICCSR - SektoR LImbah

4.3 Skenario Mitigasi Gas Rumah Kaca di Pedesaan



1) Skenario Dibakar dan ditimbun dimana saja



• Pembakaran sampah pada daerah pedesaan yang diangkut secara kolektif meningkat dari

12% pada 2005 menjadi 19,5% pada 2030. Sedangkan pembakaran sampah yang dikelola

sendiri menurun dari 40% pada 2005 menjadi 33,75% pada 2030.



• Prosentase timbulan sampah yang dilakukan dikelola sendiri oleh masyarakat untuk sampah

yang dibuang kemana saja adalah sebesar 28% pada tahun 2005 dan menurun menjadi

23,63% pada 2030. Sedangkan untuk sampah yang dibuang ke sungai pada tahun 2005

sebesar 12% dan menurun menjadi 10,13% pada tahun 2030.



Jumlah Timbulan sampah yang diurug di Open Dumping pada daerah pedesaan sekitar 8% pada 2005,

meningkat hingga 13% pada 2030.









Gambar 4.9 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Pemerintah di Pedesaan

Skenario dibakar/ditimbun dimana saja









32

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.10 Proyeksi Pemrosesan Sampah oleh Masyarakat di Pedesaan

Skenario dibakar/ditimbun dimana saja







2) Skenario Reduksi sampah di sumber



• Asumsi pengangkutan sama dengan skenario dibakar dan ditimbun dimana saja yaitu,

pembakaran sampah pada daerah pedesaan yang diangkut secara kolektif meningkat dari 12%

pada 2005 menjadi 19,5% pada 2030. Sedangkan pembakaran sampah yang dikelola sendiri

menurun dari 40% pada 2005 menjadi 33,75% pada 2030.



• Timbulan sampah untuk pedesaan meningkat dari 0,3 kg/orang/hari pada 2005 menjadi 0,5

kg/orang/hari pada tahun 2030.



• Peningkatan hingga 0,5 kg/orang/hari merupakan hasil usaha reduksi (termasuk capacity

building) yang sebelumnya mencapai 0,55 kg/orang/hari untuk Business-As-Usual.









33

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.11 Timbulan Sampah Perkapita di Pedesaan untuk Skenario Reduksi Sampah di Sumber









Gambar 4.12 Timbulan Sampah di Pedesaan untuk Skenario Reduksi Sampah di Sumber









34

ICCSR - SektoR LImbah

3) 3R dan pengomposan



• Asumsi pengangkutan sama dengan skenario dibakar dan ditimbun dimana saja yaitu,

pembakaran sampah pada daerah pedesaan yang diangkut secara kolektif meningkat dari

12% pada 2005 menjadi 19,5% pada 2030. Sedangkan pembakaran sampah yang dikelola

sendiri menurun dari 40% pada 2005 menjadi 33,75% pada 2030.



• Prosentase timbulan sampah yang diangkut secara kolektif untuk sampah yang dikompos

adalah sebesar 5,5% pada tahun 2005 dan meningkat menjadi 19,3% pada 2030. Sedangkan

sampah yang dikompos yang dikelola sendiri sebesar 28% pada tahun 2005 dan menurun

menjadi 10,5% pada 2030.



• Sampah plastik yang didaur ulang dengan cara diangkut secara kolektif meningkat dari 1%

pada 2005 menjadi 3,5% pada 2030. Sedangkan sampah plastik yang didaur ulang dengan

dikelola sendiri sebesar 4% pada tahun 2005 dan menurun menjadi 1,5% pada 2030.



• Sampah kertas yang didaur ulang dan diangkut secara kolektif meningkat dari 1% pada 2005

dan meningkat menjadi 3,5% pada 2030. Sedangkan sampah kertas yang didaur ulang dan

dikelola sendiri menurun dari 4% pada 2005 menjadi 1,8% pada 2030.









4.4 Hasil Perhitungan Mitigasi Gas Rumah Kaca dari Sektor Sampah



Gambar 3.14 menunjukkan hasil perhitungan emisi gas rumah kaca dari sektor sampah. Emisi terbesar

dihasilkan dari BAU (open dumping), disusul oleh skenario lainnya. Skenario reduksi di sumber tidak bisa

menurunkan GRK yang cukup signifikan karena kegiatan kampanye dan capacity building dalam rangka

mengurangi volume sampah disumber terbatas. Dengan kemajuan ekonomi masyarakat terpacu untuk

terus meningkatkan jumlah sampahnya tanpa dapat dihindari. Skenario reduksi di sumber dapat berhasil

jika didukung oleh kebijakan dan peraturan perundangan yang mengandung sanksi.



Skenario SL + CL (konversi dari open dumping ke Sanitary Landfill dan Controlled Landfill), memiliki emisi

GRK yang lebih tinggi dari 3R(reduce, reuse, recycle) dan pengomposan karena pemrosesan akhir sampah

dengan SL dan CL akan meningkatkan proses anaerobik yang menghasilkan CH4 walaupun tidak setinggi

open dumping. Sedangkan pengomposan memroses sampah dengan proses aerobik yang tidak menghasilkan

CH4. Namun kegiatan 3R, dengan mengolah dan mendaur ulang plastik misalnya, tetap menghasilkan

GRK berupa gas CO2 dari proses pembakaran daur ulang. Skenario SL + LFG memiliki emisi GRK yang

paling kecil karena adanya proses flaring (pembakaran) CH4 menjadi CO2 dan H2O dan juga konversi gas

CH4 menjadi energi listrik.









35

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.13 Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di perkotaan untuk setiap skenario





Gambar 4.14 menunjukkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pemrosesan sampah di pedesaan.

Emisi tertinggi adalah BAU (buang/timbun dimana saja). Emisi dari skenario reduksi di sumber dan

juga 3R + pengomposan menghasilkan gas rumah kaca yang lebih sedikit dibandingkan BAU. Untuk

pedesaan, kegiatan pengomposan merupakan kegiatan yang sangat direkomendasikan dengan alasan

sebagai berikut: (1) komposisi sampah di pedesaan didominasi oleh sampah organik yang sangat cocok

untuk pengomposan, (2) kegiatan pengomposan di pedesaan akan berkembang pesat karena lahan

masih tersedia luas, (3) pasar tersedia, karena pengguna utama dari kompos adalah sektor pertanian dan

perkebunan, (4) pengomposan dapat meningkatkan kualitas tanah, (5) teknologi pembuatan kompos

relatif sederhana sehingga mudah dilakukan oleh warga desa. Kendala terbesar adalah masalah persepsi

petani yang sudah terbiasa menggunakan pupuk kimia dibandingkan pupuk organik hasil pengomposan.

Sehingga diperlukan penyuluhan dan pelatihan untuk menyadarkan petani bahwa penggunaan pupuk

kimia dalam jangka waktu panjang dapat menurunkan kualitas tanah. Masalah lainnya adalah bahwa

pembuatan pupuk organik memerlukan waktu yang relatif lama. Masalah ini dapat diselesaikan dengan

mengembangkan bakteri khusus untuk mempercepat proses pembuatan pupuk organik. Pengembangan

bioteknologi terkait pengomposan harus dikembangkan sejalan dengan upaya memasyarakatkan

penggunaan pupuk organik.









36

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.14 Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di pedesaan untuk setiap skenario







Gambar 4.15 dan 4.16 menunjukkan reduksi emisi GRK dari setiap skenario. Reduksi emisi dihitung

dengan rumus sebagai berikut:







Reduksi Emisi Skenario = Emisi BAU – Emisi Skenario





Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4.15, reduksi emisi di perkotaan yang terbesar adalah skenario SL

+ LFG. Gambar 4.16 menunjukkan reduksi emisi GRK dari setiap skenario di pedesaan.









37

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.15 Reduksi emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di perkotaan untuk setiap skenario









Gambar 4.16 Reduksi emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) di pedesaan untuk setiap skenario







Gambar 4.17 menunjukkan biaya pengelolaan sampah. Gambar 4.18 menunjukkan biaya mitigasi, yaitu

biaya pengelolaan sampah skenario tertentu dikurangi dengan biaya BAU.



38

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.17 Biaya Pengelolaan Sampah di perkotaan untuk setiap skenario









Gambar 4.18 Biaya Mitigasi (Biaya Skenario – Biaya BAU) di perkotaan









39

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.19 Biaya Pengelolaan Sampah di pedesaan untuk setiap skenario









Gambar 4.20 Biaya Mitigasi (Biaya Skenario – Biaya BAU) di pedesaan









40

ICCSR - SektoR LImbah

Table 4.1 Matriks Perbandingan Skenario Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Sampah di Indonesia untuk wilayah Perkotaan





Reduksi

Akumulasi Total Biaya Abatement Emisi

Skenario Periode Reduksi Emisi Mitigasi (milyar Cost (USD/ dibandingkan Kebijakan yang Diperlukan

(Mt CO2) USD) t CO2) terhadap BAU









ICCSR - SektoR LImbah

(%)

(1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang

Reduksi Sumber 2010 – 2020 17,73 0,13 7,61 5,12%

lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan

GRK yang sistematis.

(2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang

persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh

2010 – 2030 45,14 0,13 2,9 11,30% pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan

lingkungan.







3R + (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang

2010 – 2020 143,56 0,16 1,14 37,32% lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan

Pengomposan

GRK yang sistematis.

(2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang

persampahan berwawasan lingkungan yang didukung oleh

pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan

lingkungan.

(3)Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk

2010 – 2030 211,17 0,33 1,57 35,58% prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan persampahan.

(4)Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin,

digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum

diangkut ke TPA.

(5)Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia.



SL + CL 2010 – 2020 28,94 0,96 33,34 7,07%

(1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang

lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan

GRK yang sistematis. (2)Menerapkan kebijakan pembangunan

infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang

didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan

2010 – 2030 35,77 1,57 43,84 4,74% berwawasan lingkungan. (5)Pengelolaan persampahan di TPAS dari

open dumping menjadi controlled landfill di kota kecil dan menengah;

sanitary landfill di kota besar dan metropolitan.









41

42

Reduksi

Akumulasi Total Biaya Abatement Emisi

Skenario Periode Reduksi Emisi Mitigasi (milyar Cost (USD/ dibandingkan Kebijakan yang Diperlukan

(Mt CO2) USD) t CO2) terhadap BAU

(%)

SL + LFG 2010 – 2020 159,18 1,49 9,35 42,28%

(1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang

lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana pengurangan

GRK yang sistematis. (2)Menerapkan kebijakan pembangunan

infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan yang

didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan

2010 – 2030 243,67 2,27 9,33 43,46% berwawasan lingkungan. (5)Pengelolaan persampahan di TPAS dari

open dumping menjadi controlled landfill di kota kecil dan menengah;

sanitary landfill di kota besar dan metropolitan. (6)Peningkatan metoda

pengelolaan gas sampah (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan

dan pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system.









ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 4.2 Matriks Perbandingan Skenario Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Sampah di Indonesia untuk wilayah Pedesaan







Abatement Reduksi Emisi

Akumulasi Total Biaya

Cost dbibandingkan

Skenario Periode Reduksi Emisi Mitigasi (milyar Kebijakan yang Diperlukan

(USD/t terhadap BAU









ICCSR - SektoR LImbah

(Mt CO2) USD)

CO2) (%)





Reduksi Sumber 2010 – 2020 27,81 0,04 1,56 15,15% (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah

yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana

pengurangan GRK yang sistematis. (2)Menerapkan kebijakan

pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan

2010 – 2030 43,66 0,05 1,17 20,02%

lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian

teknologi terapan berwawasan lingkungan.



3R +

2010 – 2020 50,40 0,81 16,10 24,76%

Pengomposan (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah

yang lebih lengkap dan sempurna dengan disertai rencana

pengurangan GRK yang sistematis. (2)Menerapkan kebijakan

pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan

lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian

teknologi terapan berwawasan lingkungan. (3)Mengembangkan

penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce,

2010 – 2030 64,14 1,23 19,23 22,41%

reuse, recycle) dalam pengelolaan persampahan. (4)Pengurangan

sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan

kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut

ke TPA. (7)Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di

Indonesia.









43

4.5 Perhitungan Abatement Cost



Biaya mitigasi dihitung berdasarkan biaya investasi dan biaya operasional/pemeliharaan. Interest rate

digunakan 12%/tahun. Biaya ACERS (Abatement Cost the Emissions Reduction Scenario) dihitung

berdasarkan (Situmeang, 2009):







ACERS =









ACERS = Abatement Cost the Emissions Reduction Scenario

NPV = Net Present Value





Untuk menghitung akumulasi biaya abatement cost maka dihitung NPV baik untuk emisi maupun untuk

biaya mitigasi.









Gambar 4.21 Perhitungan NPV Reduksi Emisi (ton CO2 eq) Setiap Skenario Perkotaan









44

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.22 Perhitungan NPV Reduksi Emisi (ton CO2 eq) Setiap Skenario Pedesaan









Gambar 4.23 Perhitungan NPV Biaya Mitigasi (USD) Setiap Skenario Perkotaan









45

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.24 Perhitungan NPV Biaya Mitigasi (USD) Setiap Skenario Pedesaan







Gambar 4.25 menunjukkan abatement cost untuk skenario di perkotaan dan Gambar 4.8 menunjukkan

abatement cost untuk skenario di pedesaan.









Gambar 4.25 Perhitungan Abatement Cost (USD/ton) Setiap Skenario Perkotaan





46

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 4.26 Perhitungan Abatement Cost (USD/ton) Setiap Skenario Pedesaan









47

ICCSR - SektoR LImbah

48

ICCSR - SektoR LImbah

5

KeBiJAKAn

PenAnGAnAn sAmPAH

DAn PenGinTeGRAsiAn

miTiGAsi PeRuBAHAn

iKLim Ke DALAm

PeRenCAnAAn seKTOR

LimBAH

49

ICCSR - SektoR LImbah

5.1 Penyusunan Alternatif Kebijakan Mitigasi berdasarkan Perbedaan Jumlah Pembiayaan



Dalam Bab 4 telah disampaikan efisiensi dari setiap aksi mitigasi gas rumah kaca dari sektor sampah.

Namun demikian, dalam pengelolaan sampah setiap aksi tersebut tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri,

misalnya 3R saja atau landfill saja. Pengelolaan sampah merupakan kegiatan yang terpadu yaitu terdiri dari

berbagai aksi mitigasi dan dalam pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan

teknis dan pendanaan yang ada. Oleh karena itu, di bab 5 ini akan disampaikan beberapa alternatif

kebijakan penanganan sampah untuk mengetahui komposisi kebijakan mana yang paling efisien dari sisi

abatement cost.



Berdasarkan kebutuhan operasional sektor terkait (Departemen Pekerjaan Umum) dan tahapan

pembangunan yang selama ini dilakukan oleh Indonesia, asumsi yang digunakan dalam penyusunan

alternatif kebijakan ini adalah adanya perbedaan jumlah pembiayaan. Dikembangkan alternatif dengan

jumlah pembiayaan maksimal, optimis, moderat, pesimis, dan minimal dimana pembiayaan tertinggi

adalah maksimal dan pembiayaan terendah adalah minimal. Untuk alternatif 1 digunakan asumsi BAU

(Business As Usual) yaitu kondisi yang saat ini dilakukan oleh Indonesia dan diproyeksikan tidak banyak

perubahan kebijakan, diantaranya kebijakan open dumping masih menjadi teknologi pemrosesan akhir

sampah yang terbanyak sampai tahun 2030. Selain alternatif 1, dibuat 4 alternatif kebijakan lainnya

berdasarkan besarnya pembiayaan sebagai berikut:



1) Alternatif 1 adalah kondisi saat ini di Indonesia (pembiayaan minimal), sehingga bisa disebut

sebagai kondisi BAU (Business As Usual).



2) Alternatif 2 adalah alternatif kebijakan yang paling ideal yaitu mencapai target UU 18/2008, dimana

di tahun 2015 seluruh open dumping telah dikonversi menjadi sanitary/controlled landfill. Alternatif ini

merupakan alternatif pembiayaan maksimal, alternatif ini disebut juga dengan alternatif based-

law.



3) Alternatif 3 adalah alternatif kebijakan yang targetnya lebih rendah dari alternatif 2, sehingga

pembiayaannya pun lebih rendah dari pembiayaan alternatif 2 (pembiayaan maksimal), alternatif

ini disebut juga dengan alternatif optimis.



4) Alternatif 4 adalah alternatif kebijakan yang targetnya lebih rendah dari alternatif 3, sehingga

pembiayaannya pun lebih rendah dari pembiayaan alternatif 3 (pembiayaan optimis), alternatif ini

disebut dengan alternatif moderat.



5) Alternatif 5 adalah alternatif kebijakan yang targetnya lebih rendah dari alternatif 4, sehingga

pembiayaannya pun lebih rendah dari pembiayaan alternatif 4 (pembiayaan moderat), alternatif ini

disebut dengan alternatif pesimis.



Alternatif 1 (BAU) tidak menerapkan kebijakan reduksi di sumber, tetapi Alternatif 2 sampai 5 menerapkan

kebijakan reduksi di sumber sampah (skala rumah tangga) secara bertahap dengan prosentase reduksi





50

ICCSR - SektoR LImbah

yang beragam yang tergantung dari pembiayaan. Alternatif 2 dengan pembiayaan maksimal (terbesar)

memiliki prosentase reduksi sampah di sumber terbesar, disusul oleh Alternatif 3 (optimis) dan Alternatif

4 (moderat). Alternatif 5 (pesimis) memiliki prosentase reduksi sampah di sumber yang terkecil.



Secara rinci alternatif kebijakan yang dibuat adalah sebagai berikut:



1) Alternatif 1 (atau kondisi BAU), merupakan alternatif kebijakan yang mencerminkan timbulan

sampah saat ini dan proyeksi akan datang dengan tanpa melibatkan tindakan reduksi. Asumsi yang

digunakan adalah, sejalan dengan meningkatnya kemampuan penganggaran PEMDA, maka akan

meningkat pula kemampuan pengelolaan sampah. Namun cara pandang pengelola sampah tidak

berubah, yaitu tetap menggunakan prinsip kumpul-angkut-buang, yang penting kota terlihat tampak

bersih. Sampah yang berhasil dikumpulkan seluruhnya akan dibawa ke TPA dengan operasi utama

pengurugan dalam open dumping.



2) Alternatif 2 (untuk memenuhi UU 18/2008 atau based-law, dan pembiayaan maksimal), adalah

skenario yang mencerminkan timbulan sampah saat ini dan proyeksi di masa yang akan datang

dengan mengedepankan hierarhi pengelolaan sampah melalui (a) pengurangan sampah dengan

prinsip 3R, dan (b) penanganan sampah dari mulai pewadahan sampai final disposal secara baik,

termasuk penggunaan sanitary landfill untuk pengolahan sampah perkotaan. Alternatif kebijakan

ini berusaha menjalankan ketentuan yang diatur dalam UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan

Sampah. Salah satu amanat UU No.18/2004 adalah konversi Sanitary Landfill menjadi Open Dumping

tercapai 100% pada tahun 2014.



3) Alternatif 3 (asumsi pembiayaan optimis), merupakan alternatif kebijakan yang didasarkan hasil

FGD dengan Departemen Pekerjaan Umum tanggal 18 November 2009, yaitu melibatkan tindakan

reduksi berupa konversi rata-rata 30 Open Dumping per tahun secara bertahap menjadi Sanitary

Landfill dan Controlled Landfill.



4) Alternatif 4 (asumsi pembiayaan moderat) adalah alternatif kebijakan yang didasarkan hasil FGD

dengan Departemen Pekerjaan Umum tanggal 18 November 2009 dengan target konversi Open

Dumping menjadi Sanitary Landfill yang lebih rendah dibandingkan skenario optimis dan ditambah

dengan pemrosesan sampah menggunakan Controlled Landfill.



5) Alternatif 5 (asumsi pembiayaan minimal atau pesimis) adalah alternatif kebijakan yang didasarkan

hasil FGD dengan Departemen Pekerjaan Umum tanggal 18 November 2009 dengan target konversi

Open Dumping menjadi Sanitary Landfill yang lebih rendah dibandingkan alternatif pembiayaan

moderat dan ditambah dengan pemrosesan sampah menggunakan Controlled Landfill dengan target

lebih rendah dibandingkan alternatif pembiayaan moderat.



Secara rinci asumsi yang digunakan, tahapan program, dan target-target tiap alternatif dijelaskan dalam

Tabel 5.1 sampai dengan Tabel 5.10 berikut ini.







51

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 5.1 Asumsi yang digunakan dalam Alternatif 1 (BAU)





Komponen Pengelolaan Sampah Asumsi yang Digunakan



• Transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan 50%.



• Pada tahun 2020 tingkat pelayanan meningkat 2% per tahun sehingga mencapai

1 ) Tr a n s p o r t a s i / p e n g a n g k u t a n

80%

sampah

• Sedangkan dari 2020 tingkat pelayanan meningkat 1% sehingga pada tahun 2030

menjadi 90%.



• 3R bersifat anjuran, tidak disertai kebijakan publik yang memadai dari Pemerintah

Pusat/Daerah, seperti target 3R yang ingin dicapai dsb.



• Timbulan sampah untuk perkotaan meningkat dari 0,6 kg/orang/hari pada 2005

2)Reduksi sampah

menjadi 1,2 kg/orang/hari pada tahun 2030.



• Timbulan sampah untuk pedesaan meningkat dari 0,3 kg/orang/hari pada 2005

menjadi 0,55 kg/orang/hari pada tahun 2030.



• Jumlah Timbulan sampah yang diurug di Open Dumping sekitar 45% pada 2005,

meningkat hingga 76,5% pada 2030.

3)Pemrosesan akhir

• Dilakukan konversi dari Open Dumping menjadi Sanitary Landfill dari 0,5% pada

tahun 2005, diasumsikan hanya meningkat menjadi 3,2% pada 2020 dan 3,6% pada

2030.



4)Kegiatan Pengelolaan Sampah • Praktek penanganan sampah secara informal seperti pembakaran dsb tetap

Lain berlangsung dengan penurunan prosentase yang tidak signifikan.









Tabel 5.2 Rekapitulasi asumsi dalam Alternatif 1 (BAU)





2005 2010 2020 2030

Urban Rural Urban Rural Urban Rural Urban Rural

Unit: % (prosentase)

Timbulan sampah yang

50 20 60 22.5 80 27.5 90 32.5

diangkut ke landfill

Sampah dikelola kolektif:

Daur ulang plastik 1.5 0.25 1.8 0.45 2.4 0.83 3.6 0.98

Daur ulang kertas 1.5 0.25 1.8 0.45 2.4 0.83 3.6 0.98

Organik dikomposkan 1 5.5 1.2 6.3 2.4 8 2.7 9.8

Dibakar di TPS dan

0.5 10 0.6 9.68 0 8.25 0 7.8

TPA

Diurug di open

45 4 53.4 5.63 69.6 9.63 76.5 13

dumping

Diurug dengan sanitary

0.5 - 1.2 - 3.2 - 3.6 -

landfill + biogas captured









52

ICCSR - SektoR LImbah

2005 2010 2020 2030

Urban Rural Urban Rural Urban Rural Urban Rural

Sampah dikelola sendiri:

Daur ulang plastik 1.5 2.4 1.2 2.33 0.6 2.18 0.3 2.03

Daur ulang kertas 1.5 4 1.2 3.88 0.6 3.63 0.3 3.38

Organik dikomposkan 1 40 0.8 38.8 0.4 36.3 0.2 33.8

Dibakar 5 20 4 19.38 2 18.13 1 16.88

Dibuang ke saluran

1 4 0.8 3.88 0.4 3.63 0.2 3.38

sungai

Timbun dimana saja 40 9.6 32 9.3 16 8.7 8 8.1









Tabel 5.3 Asumsi yang digunakan dalam alternatif 2 (Law-Based, Pembiayaan Maksimal)





Komponen Pengelolaan Sampah Asumsi yang Digunakan



• Transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan



50%.

1)Transportasi/pengangkutan sampah

• Tingkat pelayanan meningkat 2% per tahun sehingga pada tahun 2020



mencapai 80% dan pada 2030 menjadi 90%.





• Terjadi reduksi sampah.





• Timbulan sampah untuk perkotaan meningkat dari 0,6 kg/orang/hari

2)Reduksi sampah pada 2005 menjadi 1 kg/orang/hari pada tahun 2030.





• Timbulan sampah untuk pedesaan meningkat dari 0,3 kg/orang/hari pada



2005 menjadi 0,45 kg/orang/hari pada tahun 2030.





• Jumlah Timbulan sampah yang diurug di Open Dumping sekitar 45%



pada 2005, menurun hingga menjadi 0% pada 2030.





3)Pemrosesan akhir • Dilakukan konversi dari Open Dumping menjadi Sanitary Landfill dengan



persen timbulan sampah yang dibawa ke Sanitary Landfill sebesar 0,5%



pada 2005 menjadi 56% pada 2020 dan 63% pada 2030. Sanitary landfill



diasumsikan dapat menangkap emisi sebesar 90%.









53

ICCSR - SektoR LImbah

Komponen Pengelolaan Sampah Asumsi yang Digunakan



• Prosentase timbulan sampah yang dikompos di urban meningkat dari 1 %



pada 2005 menjadi 6.4% pada 2020 dan 7.2% pada 2030.





• Plastik didaur ulang meningkat dari 1.5% pada 2005 menjadi 4,80% pada



2020 dan 5,40% pada 2030.

4)Kegiatan Pengelolaan Sampah Lain

• Kertas didaur ulang meningkat dari 2,4% pada 2005, pada 2020 mencapai



3,7% dan pada 2030 mencapai 4,6%.





• Pembakaran sampah menurun dari 0.5% pada 2005 menjadi 0% pada



2020 dan 0% pada 2030.









Tabel 5.4 Rekapitulasi Asumsi dalam Alternatif 2 (Law-Based, Pembiayaan Maksimal)



2005 2010 2020 2030

Urban Rural Urban Rural Urban Rural Urban Rural

Unit: % (prosentase)

Timbulan sampah

yang diangkut ke 50 20 60 30 80 50 90 70

landfill

Sampah dikelola kolektif:

Daur ulang plastik 1.5 0.25 1.8 1.2 4.8 2.5 5.4 4.2

Daur ulang kertas 1.5 0.25 1.8 1.2 4.8 2.5 5.4 4.2

O r g a n i k

1 5.5 2.4 9 6.4 20 7.2 35

dikomposkan

Dibakar di TPS dan

0.5 10 0.6 12 0 12 0 9.1

TPA

Diurug di open

45 4 48 6.6 0 13 0 17.5

dumping

Diurug dengan

sanitary landfill + 0.5 - 2.4 - 56 - 63 -

biogas captured

Diurug dengan

controlled landfill + 0 - 3 - 8 - 9 -

biogas captured

Sampah dikelola sendiri:

Daur ulang plastik 1.5 2.4 1.6 2.8 1.2 3 0.7 2.4

Daur ulang kertas 1.5 4 1.6 4.9 1.2 4 0.8 2.4

O r g a n i k

1 40 1.6 42 2 36.5 1.2 23.7

dikomposkan

Dibakar 5 20 3.2 10.5 0.6 2.5 0.3 0

Dibuang ke saluran

1 4 0.8 2.8 0.2 1 0 0.3

sungai

Timbun dimana saja 40 9.6 31.2 7 14.8 3 7 1.2







*) Reduksi emisi CO2 eq menyatakan selisih antara emisi yang dikeluarkan oleh skenario BAU (lihat Tabel 5) dengan

Alternatif 2 (Pembiayaan Maksimal)



54

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 5.5 Asumsi yang digunakan dalam Alternatif 3 (Pembiayaan Optimis)





Komponen Pengelolaan Sampah Asumsi yang Digunakan



• Transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan 50%.

1)Transportasi/ pengangkutan



sampah • Tingkat pelayanan meningkat 2 % per tahun sehingga pada tahun 2020 mencapai



80% dan pada 2030 menjadi 90,1%.



• Terjadi reduksi sampah.





• Timbulan sampah untuk perkotaan meningkat dari 0,6 kg/orang/hari pada 2005

2)Reduksi sampah menjadi 1,05 kg/orang/hari pada tahun 2030.





• Timbulan sampah untuk pedesaan meningkat dari 0,3 kg/orang/hari pada 2005



menjadi 0,48 kg/orang/hari pada tahun 2030.





• Jumlah Timbulan sampah yang diurug di Open Dumping sekitar 45% pada 2005,



menurun menjadi 0% pada tahun 2030.





• Dilakukan konversi dari Open Dumping menjadi Sanitary Landfill dengan persen



timbulan sampah yang dibawa ke Sanitary Landfill sebesar 0,5% pada 2005 menjadi



3)Pemrosesan akhir 44% pada 2020 dan 49.5% pada 2030. Selain itu, dilakukan pula konversi Open



Dumping menjadi Controlled landfill dari 0% pada tahun 2005 menjadi 20% pada



2020 dan 22.5% pada tahun 2030. Sanitary landfill dan Controlled landfill yang



digunakan, diasumsikan dapat menangkap emisi sebesar 75 %. Skenario optimis ini



melibatkan hasil FGD pada tanggal 18 November 2009 dengan Departemen PU,



yaitu konversi 30 Open Dumping per tahun menjadi Sanitary Landfill.





• Prosentase timbulan sampah yang dikompos meningkat dari 1% pada 2005 menjadi



6.4% pada 2020 dan 7.2% pada 2030.





• Plastik didaur ulang meningkat dari 1.5% pada 2005 menjadi 4.8% pada 2020 dan

4)Kegiatan Pengelolaan Sampah 5.4% pada 2030.

Lain

• Kertas didaur ulang meningkat dari 1.5% pada 2005, pada 2020 mencapai 4.8% dan



pada 2030 mencapai 5,4%.





• Pembakaran sampah menurun dari 0.5% pada 2005 menjadi 0% pada 2030.









55

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 5.6 Rekapitulasi Asumsi dalam Alternatif 3 (Pembiayaan Optimis)





2005 2010 2020 2030

Urban Rural Urban Rural Urban Rural Urban Rural

Unit: % (prosentase)

Timbulan sampah yang

50 20 60 30 80 50 70 45

diangkut ke landfill

Sampah yang diangkut kolektif:

Daur ulang plastik 1.5 0.25 1.8 1.2 4.8 2.5 5.4 4.2

Daur ulang kertas 1.5 0.25 1.8 1.2 4.8 2.5 5.4 4.2

Organik dikomposkan 1 5.5 2.4 9 6.4 20 7.2 31.5

Dibakar di TPS dan

0.5 10 0.6 12 0 12 0 9.1

TPA

Diurug di open

45 4 48 6.6 0 13 0 21

dumping

Diurug dengan sanitary

0.5 - 1.8 - 44 - 49.5 -

landfill + biogas captured

Diurug dengan

controlled landfill + 0 - 3 - 20 - 22.5 -

biogas captured

Sampah dikelola sendiri:

Daur ulang plastik 1.5 2.4 1.6 2.8 1.2 3 0.7 2.4

Daur ulang kertas 1.5 4 1.6 4.9 1.2 4 0.7 2.4

Organi dikomposkan 1 40 1.6 42 1.2 36.5 0.9 23.7

Dibakar 5 20 3.2 10.5 1.4 2.5 0.7 0

Dibuang ke saluran

1 4 0.8 2.8 0.2 1 0 0.3

sungai

Timbun dimana saja 40 9.6 31.2 7 14.8 3 7 1.2









*) Reduksi emisi CO2 eq menyatakan selisih antara emisi yang dikeluarkan oleh skenario BAU (lihat Tabel

5.5) dengan alternatif 3 (pembiayaan Optimis)









56

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 5.7 Asumsi yang digunakan dalam Alternatif 4 (Pembiayaan Moderat)





Komponen Pengelolaan Sampah Asumsi yang Digunakan



• Transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat

pelayanan 50%.

1)Transportasi/pengangkutan sampah

• Tingkat pelayanan meningkat 2 % per tahun sehingga pada tahun

2020 mencapai 80% dan pada 2030 menjadi 90%.



• Terjadi reduksi sampah.



• Timbulan sampah untuk perkotaan meningkat dari 0,6 kg/orang/hari

2)Reduksi sampah pada 2005 menjadi 1,1 kg/orang/hari pada tahun 2030.



• Timbulan sampah untuk pedesaan meningkat dari 0,3 kg/orang/hari

pada 2005 menjadi 0,5 kg/orang/hari pada tahun 2030.



• Jumlah Timbulan sampah yang diurug di Open Dumping sekitar 45%

pada 2005, menurun menjadi 18% pada tahun 2020 dan 0% pada

2030.



• Dilakukan konversi dari Open Dumping menjadi Sanitary Landfill

dengan persen timbulan sampah yang dibawa ke Sanitary Landfill

3)Pemrosesan akhir sebesar 0,5% pada 2005 menjadi 19,39% pada 2020 dan 28,8%

pada 2030. Selain itu, timbulan sampah diproses pula di Controlled

Landfill mencapai 30.4% pada 2020 dan 45.9% pada 2030. Sanitary

landfill dan Controlled landfill yang digunakan, diasumsikan dapat

menangkap emisi sebesar 50%. Alternatif 4 (Pembiayaan Moderat)

ini mengakomodasi hasil FGD pada tanggal 18 November 2009

dengan Departemen PU.



• Prosentase timbulan sampah yang dikompos meningkat dari 1% pada

2005 menjadi 5.6% pada 2020 dan 7% pada 2030.



• Plastik didaur ulang meningkat dari 1.5% pada 2005 menjadi 3.2%

pada 2020 dan 4.5% pada 2030.

4)Kegiatan Pengelolaan Sampah Lain

• Kertas didaur ulang meningkat dari 1.5% pada 2005, pada 2020

mencapai 3.2% dan pada 2030 mencapai 4.5%.



• Pembakaran sampah menurun dari 0.5% pada 2005 menjadi 0% pada

2030.









57

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 5.8 Rekapitulasi Asumsi dalam Alternatif 4 (Pembiayaan Moderat)





2005 2010 2020 2030

Urban Rural Urban Rural Urban Rural Urban Rural

Unit: % (prosentase)

Timbulan sampah yang

50 20 60 25 80 35 90 45

diangkut ke landfill

Sampah yang dikelola kolektif:

Daur ulang plastik 1.5 0.25 1.8 0.5 3.2 1.75 4.5 2.7

Daur ulang kertas 1.5 0.25 1.8 0.5 3.2 1.75 4.5 2.7

Organik dikomposkan 1 5.5 2.4 7.5 5.6 12.3 6.3 18

Dibakar di TPS dan TPA 0.5 10 0.6 10 0 8.4 0 5.85

Diurug di open dumping 45 4 40.5 6.5 18 10.85 0 15.75

Diurug dengan sanitary

0.5 - 5.28 - 19.39 - 28.8 -

landfill + biogas captured

Diurug dengan controlled

0 - 7.8 - 30.4 - 45.9 -

landfill + biogas captured

Sampah dikelola sendiri:

Daur ulang plastik 1.5 2.4 1.6 3 1.2 3.9 0.7 3.85

Daur ulang kertas 1.5 4 1.6 3.75 1.2 3.9 0.7 4.4

Organik dikomposkan 1 40 1.6 41.3 1.2 42.3 0.8 38.5

Dibakar 5 20 3.2 16.5 1.4 9.75 0.7 5.5

Dibuang ke saluran sungai 1 4 0.8 3 0.2 1.3 0 0.55

Timbun dimana saja 40 9.6 31.2 7.5 14.8 3.9 7.1 2.2









*) Reduksi emisi CO2 eq menyatakan selisih antara emisi yang dikeluarkan oleh aternatif BAU (lihat Tabel 5) dengan Alternatif

4 (Pembiayaan Moderat)









58

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 5.9 Asumsi yang digunakan dalam Alternatif 5 (Pembiayaan Pesimis)





Komponen Pengelolaan Sampah Asumsi yang Digunakan



• Transportasi/pengangkutan sampah pada 2005 memiliki tingkat pelayanan

50%.

1)Transportasi/pengangkutan sampah

• Tingkat pelayanan meningkat 2 % per tahun sehingga pada tahun 2020

mencapai 80% dan pada 2030 menjadi 90%.



• Terjadi reduksi sampah.



• Timbulan sampah untuk perkotaan meningkat dari 0,6 kg/orang/hari

2)Reduksi sampah pada 2005 menjadi 1,15 kg/orang/hari pada tahun 2030.



• Timbulan sampah untuk pedesaan meningkat dari 0,3 kg/orang/hari pada

2005 menjadi 0,53 kg/orang/hari pada tahun 2030.



• Jumlah Timbulan sampah yang diurug di Open Dumping sekitar 45%

pada 2005, menurun menjadi 36.8 % pada tahun 2020 dan 32.4 % pada

2030.



• Dilakukan konversi dari Open Dumping menjadi Sanitary Landfill dengan

persen timbulan sampah yang dibawa ke Sanitary Landfill sebesar 0% pada

3)Pemrosesan akhir

2005 menjadi 16.8 % pada 2020 dan 23.4% pada 2030. Selain itu, timbulan

sampah diproses pula di Controlled Landfill mencapai 12.8% pada 2020

dan 18.9 % pada 2030. Sanitary landfill dan Controlled landfill yang

digunakan, diasumsikan dapat menangkap emisi sebesar 40%. Alternatif

5 (Pembiayaan Pesimis) ini mengakomodasi hasil FGD pada tanggal 18

November 2009 dengan Departemen PU.



• Prosentase timbulan sampah yang dikompos meningkat dari 1% pada

2005 menjadi 5.6% pada 2020 dan 6.3% pada 2030.



• Plastik didaur ulang meningkat dari 1.5% pada 2005 menjadi 4% pada

2020 dan 4.5% pada 2030.

4)Kegiatan Pengelolaan Sampah Lain

• Kertas didaur ulang meningkat dari 1.5% pada 2005, pada 2020 mencapai

4% dan pada 2030 mencapai 4.5%.



• Pembakaran sampah menurun dari 0.5% pada 2005 menjadi 0% pada

2030.









59

ICCSR - SektoR LImbah

Tabel 5.10 Rekapitulasi Asumsi dalam Alternatif 5 (Pembiayaan Pesimis)





2005 2010 2020 2030

Urban Rural Urban Rural Urban Rural Urban Rural

Unit: % (prosentase)

Waste transported

50 20 60 22.5 80 27.5 90 32.5

collectively

Sampah dikelola kolektif:

Daur ulang plastik 1.5 0.25 1.8 0.45 4 1.1 4.5 1.63

Daur ulang kertas 1.5 0.25 1.8 0.45 4 1.1 4.5 1.63

Organik dikomposkan 1 5.5 2.4 6.3 5.6 9.35 6.3 11.05

Dibakar di TPS dan

0.5 10 0.6 9.45 0 7.43 0 6.83

TPA

Diurug di open

45 4 43.2 5.85 36.8 8.53 32.4 11.38

dumping

Diurug dengan sanitary

0 - 6.6 - 16.8 - 23.4 -

landfill + biogas captured

Diurug dengan

controlled landfill + 0.5 - 3.6 - 12.8 - 18.9 -

biogas captured

Sampah dikelola sendiri:

Daur ulang plastik 1.5 2.4 1.6 3.1 1 4.35 0.5 4.05

Daur ulang kertas 1.5 4 1.6 3.88 0.8 4.35 0.7 4.05

Organik dikomposkan 1 40 1.6 41.1 1.6 43.5 0.8 43.9

Dibakar 5 20 3.2 18.6 1.6 14.5 0.8 12.15

Dibuang ke saluran

1 4 0.8 3.1 0.2 1.45 0 0.68

sungai

Timbun dimana saja 40 9.6 31.2 7.75 14.8 4.35 7.2 2.7









*) Reduksi emisi CO2 eq menyatakan selisih antara emisi yang dikeluarkan oleh alternatif BAU (lihat Tabel 5) dengan alternative

5 (pembiayaan Pesimis)





Hasil perhitungan dari tiap skenario di atas kemudian disajikan dalam Gambar 5.1, 5.2, dan 5.3 untuk

melihat trend emisi CO2, reduksi emisi, dan biaya mitigasi terhadap Business As Usual (BAU).









60

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 5.1 Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) tiap Alternatif terhadap Alternatif 1 (BAU)









Gambar 5.2 Reduksi Emisi GRK (dalam Gg CO2 eq) dibandingkan terhadap Alternatif 1 (BAU)









61

ICCSR - SektoR LImbah

Gambar 5.3 Biaya Mitigasi Tiap Skenario dibandingkan alternatif 1 (BAU)









62

ICCSR - SektoR LImbah

Table 5.11 Matriks Aksi Mitigasi Alternatif Kebijakan (berdasarkan Perbedaan Jumlah Pembiayaan)







Reduksi

Akumulasi

Total Biaya Abatement Emisi

Reduksi

Alternatif Periode Mitigasi Cost (USD/ dibandingkan Kebijakan yang Diperlukan









ICCSR - SektoR LImbah

Emisi (Mt

(juta USD) t CO2) denagn BAU

CO2)

(%)

Law-

2010 – 2020 113,67 3.721 107,20 19,04%

Based (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan

sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis.

(2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan

lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan

lingkungan.

(3)Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse,

recycle) dalam pengelolaan persampahan.

2010 – 2030 412,06 5.130 49,27 26,74% (3)Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse,

recycle) dalam pengelolaan persampahan.

(4)Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali

(reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA.

5)Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan

dan pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system.

(6)Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia.





(1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan

sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis.

(2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan

Optimis 2010 – 2020 91,54 4.117,56 166,98 15,34% lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan

lingkungan.

(3)Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse,

recycle) dalam pengelolaan persampahan.

(4)Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali

(reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA.

5)Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan

2010 – 2030 339,39 5.554,50 72,12 22,03% dan pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system.

(6)Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia.









63

64

Reduksi

Akumulasi

Total Biaya Abatement Emisi

Reduksi

Alternatif Periode Mitigasi Cost (USD/ dibandingkan Kebijakan yang Diperlukan

Emisi (Mt

(juta USD) t CO2) denagn BAU

CO2)

(%)



Moderat 2010 – 2020 50,90 3.169,98 190,12 8,53% (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan

sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis.

(2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan

lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan

lingkungan.

(3)Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse,

recycle) dalam pengelolaan persampahan.

2010 – 2030 236,20 4.407,16 74,08 15,33%

(4)Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali

(reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA.

5)Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan

dan pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system.

(6)Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia.





Pesimis 2010 – 2020 28,30 2.770,80 333,63 4,74% (1)Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan

sempurna dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis.

(2)Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan

lingkungan yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan

lingkungan.

(3)Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse,

recycle) dalam pengelolaan persampahan.

2010 – 2030 159,62 4.057,06 101,16 10,36% (4)Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali

(reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA.

(5)Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan

dan pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system.

(6)Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia.









ICCSR - SektoR LImbah

5.2 Isu-isu Strategis Perubahan Iklim Pada Sektor Limbah



Isu peraturan sebagai payung hukum untuk seluruh aktivitas terkait pengelolaan sampah di Indonesia

memfokuskan pada peraturan pengelolaan sampah yang baru, yaitu UU No.18/2008, sehingga pengelolaan

sampah di seluruh Indonesia harus mengikuti peraturan tersebut. Mengacu pada peraturan tersebut,

aktivitas pengelolaan sampah berdasar pada pelayanan publik oleh pemerintah daerah yang menetapkan

prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) dan mendukung EPR (Extended Producer Responsibility).



Strategi penting lainnya yang tercantum dalam peraturan baru tersebut adalah regulasi untuk pemerintah

daerah agar menutup TPA dengan sistem open dumping dan menggantinya dengan controlled landfill untuk

kota kecil dan menengah serta sanitary landfill untuk kota besar dan metropolitan pada tahun 2015. Selain

itu, pemerintah daerah harus memonitor dan mengontrol penutupan TPA sampai 20 tahun.



Strategi pendanaan pada umumnya berkaitan dengan fakta bahwa alokasi dana pemerintah daerah untuk

pengelolaan sampah masih rendah (< 3 %). Di masa yang akan datang, diharapkan pengelolaan sampah

di Indonesia berdasarkan inisiatif pendanaan mandiri, seperti perusahaan sanitasi lokal atau Badan

Layanan Umum (BLU). Selain itu, isu pendanaan ini berkaitan juga dengan porsi alokasi dana tahunan

pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta dengan jumlah retribusi yang didapatkan dari masyarakat

untuk pengelolaan sampah.



Dari berbagai strategi yang telah disebutkan di atas, strategi paling penting adalah aspek sosial yaitu

partisipasi masyarakat. Tanpa partisipasi masyarakat, semua rencana aktivitas pengelolaan sampah ini

tidak akan terlaksana. Pendekatan signifikan terhadap masyarakat harus dilakukan untuk mendukung

program pemerintah terkait pengelolaan sampah ini.



Dalam hal mitigasi sampah di Indonesia dapat dilakukan upaya-upaya mitigasi dengan berbagai alternatif

strategi, seperti di bawah ini:



- Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari sektor sampah yang lebih lengkap dan sempurna

dengan disertai rencana pengurangan GRK yang sistematis.



- Menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan berwawasan lingkungan

yang didukung oleh pengembangan dan penelitian teknologi terapan berwawasan lingkungan.



- Mengembangkan penerapan kebijakan lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse, recycle)

dalam pengelolaan persampahan.



- Mengembangkan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan (dengan menjaga keseimbangan

3 pilar pembangunan, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan) dengan mengurangi emisi GRK (Gas

Rumah Kaca) dan meningkatkan penyerapan karbon



- Menyelenggarakan pembangunan infrastruktur bidang persampahan yang lebih memperhatikan

aspek peningkatan kapasitas (capacity building) SDM dan institusi termasuk kompetensi dan





65

ICCSR - SektoR LImbah

kemandirian pemda dalam pembangunan infrastruktur yang berwawasan lingkungan serta

mendorong peran sektor swasta dan masyarakat.



- Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan antisipatif terhadap

perubahan iklim.



- Mengembangkan penerapan EPR (Extended Producer Responsibility) untuk produsen dan

importir limbah B3.



- Mengembangkan teknologi peningkatan kualitas landfill:



o Controlled Landfill (CLF) untuk kota kecil dan menengah,



o Sanitary Landfill (SLF) untuk kota besar dan kota metropolitan



o Penghentian Open Dumping



Strategi-strategi kebijakan di atas dijabarkan dalam program-program prioritas terkait mitigasi perubahan

iklim yang terbagi dalam empat kelompok utama strategi yaitu:



- kelompok program inventarisasi data dan perencanaan



- kelompok program regulasi dan kebijakan



- kelompok program implementasi



- kelompok program capacity program (penguatan institusi pemda, swasta, dan masyarakat)







5.2.1 Kelompok Program Inventarisasi Data dan Perencanaan



Kelompok program inventarisasi data dan perencanaan ini hanya dilaksanakan pada lima tahun awal

perencanaan (2010-2014) yaitu berupa kajian inventarisasi dan pengurangan GRK (Gas Rumah Kaca)

dari sektor sampah.







5.2.2 Kelompok Program Regulasi dan Kebijakan



Regulasi dan kebijakan mitigasi sampah terbagi dalam empat periode program. Untuk periode tahun

2010-2014, strategi yang akan diterapkan untuk setiap pulau adalah sebagai berikut:



• Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan hidup untuk pengelolaan dan standardisasi persampahan

(stepwise approach).



• Penerbitan produk pengaturan pengembangan persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota

yang sesuai NSPK.





66

ICCSR - SektoR LImbah

• Penyelesaian peraturan di bidang persampahan



• Penyiapan NSPM bidang persampahan.



• Pengaturan, pembinaan, pengawasan, pengembangan sumber pembiayaan dan pola investasi dalam

pengelolaan persampahan



• Penyediaan pedoman pengawasan persampahan.



• Pembuatan NSPK bidang persampahan



• Penyediaan Bantek, Bimtek dan pendampingan (SSK) pengelolaan persampahan



Periode lima tahun berikutnya (2015-2019) mencanangkan dua program unggulan yaitu:



• Pengawasan dan pengembangan sumber pembiayaan dan pola investasi dalam pengelolaan

persampahan



• Pengawasan produk pengaturan pengembangan persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota

yang sesuai NSPK.



Program utama dalam regulasi dan kebijakan pada periode tahun 2020-2024 dan 2025-2030 adalah

pengawasan dan evaluasi produk pengaturan pengembangan persampahan oleh pemerintah kabupaten/

kota yang sesuai NSPK. Program lainnya pada periode 2020-2024 adalah perancangan peraturan

perundang-undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah-swasta (public private partnership) dalam

pengelolaan persampahan. Sementara untuk periode akhir perancangan roadmap, dilakukan evaluasi

implementasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah-swasta (public

private partnership) dalam pengelolaan persampahan.







5.2.3 Kelompok Program Implementasi



Kelompok Program Implementasi memiliki program-program utama yang sama bagi 7 pulau utama di

Indonesia hanya dengan proporsi pembagian kabupaten/kota yang berbeda dapat dilihat lebih jelas pada

Lampiran B (matriks rekomendasi program implementasi mitigasi sektor sampah). Di bawah ini adalah

program-program implementasi mitigasi sektor limbah secara umum:



• Pelaksanaan KPS pengembangan persampahan di kabupaten/kota.



• Pengelolaan persampahan di TPAS dari open dumping menjadi controlled landfill di kota kecil dan

menengah; sanitary landfill di kota besar dan metropolitan.



• Pengurangan sampah (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali (reuse) dan

didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA.



• Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan dan



67

ICCSR - SektoR LImbah

pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system.



• Pengadaan replikasi bantek pengembangan persampahan di kabupaten/kota.



• Penyediaan infrastruktur persampahan di kab/kota di setiap pulau di Indonesia



• Penyediaan fasilitas TPA CDM di kota metropolitan



• Penyediaan fasilitas pengelolaan persampahan



• Pengangkutan sampah di kota/kab di tiap pulau diIndonesia



• Pengangkutan sampah di tiap pulau di Indonesia



• Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Indonesia.









5.2.4 Kelompok Program Capacity Program



Pemberdayaan masyarakat menjadi aspek penting dalam mitigasi sektor limbah di Indonesia, maka perlu

direncanakan program-program yang berkaitan terutama dengan program kemitraan antara masyarakat

dan pemerintah daerah serta pengelola persampahan, seperti dijabarkan di bawah ini:



• Penguatan kemitraan pemerintah dan masyarakat.



• Penguatan institusi pemerintah daerah dalam pengelolaan persampahan.



• Pengadaan kegiatan monitoring dan evaluasi kinerja pengembangan pengelolaan persampahan



• Pengadaan fasilitas bagi kegiatan pengembangan sumber pembiayaan dan pola investasi bidang

persampahan melalui kerjasama pemerintah dunia usaha dan masyarakat









68

ICCSR - SektoR LImbah

DAFTAR PusTAKA



1. Interg IPCC, Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I

to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, S. Solomon,

D. Qin, M.Manning, Z. Chen, M.Marquis, K, 2007



2. IPCC, Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of WorkingGroup I to the

Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, S. Solomon, D.

Qin, M.Manning, Z. Chen, M.Marquis, K, 2007



3. Damanhuri, Enri. 2008. A Future Prospect Of Municipal Solid Waste Management in Indonesia. The 5th

Asian-Pacific Landfill Symposium in Sapporo, Japan.



4. Damanhuri Enri. 2005. Some Principal Issues On Municipal Solid Waste Management In Indonesia. Expert

Meeting on Waste Management in Asia-Pacific Islands, Japan.



5. AEA Technology (1998) Options to reduce nitrous oxide emissions. Report to DG XI of the

European Commission.



6. United Nations Framework Convention on Climate Change (1995) – the Kyoto Protocol.



http://www.unfccc.int/resource/process/components/response/respkp.html



7. OECD 1999, ‘OECD Environmental Data 1999’, Chapter 7, Waste.



8. APME (Association of Plastics Manufacturers in Europe) (1999) Information system on plastic

consumption and waste management in Western Europe. European overview – 1997 data. Report

by Taylor Nelson Sofres Consulting.



9. BPS (2004); Statistik Perumahan dan Permukiman, Modul SUSENAS 2004.



10. BPPT; Kajima & Tohoku Corp. (2006); Jelekong Landfill Gas Collection and Energy Recovery

CDM Project



11. BPPT (2008) ; Studi Neraca Gas Rumah Kaca di Indonesia, Laporan Akhir



12. Ditjen Cipta Karya -DPU (2007); Sasaran Pembangunan Nasional 2009 dan Strategi Pencapaian

Millenium Development Goals (MDGs) 2015



13. Hansen, J. & Sato, M., 2001. Trends of measure climate forcing agents. Proc. Natl. Acad. Sci. USA

98(26), pp. 14778-14783.



14. Mikaloff Fletcher, S., Tans, P., Bruhwiler, L., Miller, J. & Heimann, M., 2004b. CH4 sources estimated





69

ICCSR - SektoR LImbah

from atmospheric observations of CH4 and its 13C/12C isotopic ratios: 2. Inverse modeling of

CH4 fluxes from geograpgical regions. Global Biogeochem. Cycles 18, GB4005, doi:10.1029/

2004GB002224.



15. NOAA, 2005. Radiative climate forcing by long-lived greenhouse gases: the NOAA annual

greenhouse gas index (aggi). NOAA Earth System Research Laboratory, R/GMD, 325 Broadway,

Boulder, USA. http://www.cmdl.noaa.gov/aggi/



16. World Bank, Feasibility Study of Makassar Gas Project, (November 16, 2007)









70

ICCSR - SektoR LImbah

LAmPiRAn









71

ICCSR - SektoR LImbah

LAMPIRAN A









72

REKOMENDASI STRATEGI MITIGASI PERUBAHAN IKLIM SEKTOR LIMBAH

1. Pulau Sumatera



Kajian Dasar Saintifik Rekomendasi untuk Alternatif Strategi Prioritas Program Pulau Sumatera

Mitigasi

Inventarisasi GRK Status Emisi 2010 – 2014 2015 – 2019 2020 – 2024 2024 – 2029

Kelompok program regulasi dan kebijakan

- Pengawasan dan evaluasi produk

Kelompok program inventarisasi data dan perencanaan pengaturan pengembangan persampahan

- Kajian inventarisasi dan pengurangan GRK dari sektor oleh pemerintah kabupaten/kota yang

limbah padat. Kelompok program regulasi dan sesuai NSPK.

kebijakan - Evaluasi implementasi peraturan

- Melaksanakan kajian inventarisasi

Kelompok program regulasi dan kebijakan Kelompok program regulasi dan - Perancangan peraturan perundang- perundang-undangan yang terkait dengan

GRK dari sektor limbah padat yang

kebijakan undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah-swasta (public

lebih lengkap dan sempurna dengan

- Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan hidup untuk - Pengawasan dan pengembangan kemitraan pemerintah-swasta (public private partnership) dalam pengelolaan

disertai rencana pengurangan GRK

pengelolaan dan standardisasi persampahan (stepwise sumber pembiayaan dan pola private partnership) dalam pengelolaan persampahan.

yang sistematis.

approach). investasi dalam pengelolaan persampahan

- Menerapkan kebijakan

- Penerbitan produk pengaturan pengembangan persampahan - Pengawasan dan evaluasi produk Kelompok program implementasi

pembangunan infrastruktur

persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota yang sesuai - Pengawasan produk pengaturan pengaturan pengembangan persampahan

bidang persampahan berwawasan

NSPK. pengembangan persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota yang - Peningkatan pengelolaan persampahan di

lingkungan yang didukung oleh

- Penyelesaian peraturan di bidang persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota sesuai NSPK. TPAS dari open dumping menjadi controlled

pengembangan dan penelitian

- Penyiapan NSPM bidang persampahan. yang sesuai NSPK. landfill di kota kecil dan menengah; sanitary

teknologi terapan berwawasan

- Pengaturan, pembinaan, pengawasan, pengembangan Kelompok program implementasi landfill di kota besar dan metropolitan

lingkungan.

sumber pembiayaan dan pola investasi dalam pengelolaan Kelompok program implementasi sebesar 50%

- Mengembangkan penerapan

persampahan - Peningkatan pengelolaan - Peningkatan pengelolaan persampahan - Pengurangan limbah padat domestik

kebijakan lingkungan hidup untuk

- Penyediaan pedoman pengawasan persampahan. persampahan di TPAS dari open di TPAS dari open dumping menjadi (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin,

prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam

- Pembuatan NSPK bidang persampahan dumping menjadi controlled landfill controlled landfill di kota kecil dan digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang

pengelolaan persampahan.

- Penyediaan Bantek, Bimtek dan pendampingan (SSK) di kota kecil dan menengah; menengah; sanitary landfill di kota besar (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA

- Mengembangkan pembangunan

pengelolaan persampahan sanitary landfill di kota besar dan dan metropolitan sebesar 30% sebanyak 50%.

infrastruktur yang berkelanjutan

- Emisi GRK dari sektor metropolitan sebesar 20% - Pengurangan limbah padat domestik - Peningkatan metoda pengelolaan gas

- Potensi timbulan sampah (dengan menjaga keseimbangan 3

limbah padat perkotaan Kelompok program implementasi - Pengurangan limbah padat (reduce) dari sumbernya sebanyak sampah (landfill gas – LFG) melalui

domestik yang dihasilkan pilar pembangunan, yaitu ekonomi,

berupa metana (CH4) domestik (reduce) dari sumbernya mungkin, digunakan kembali (reuse) pengumpulan dan pembakaran atau melalui

Pulau Sumatera pada tahun sosial, dan lingkungan) dengan

yang dihasilkan dari - Pelaksanaan KPS pengembangan persampahan di sebanyak mungkin, digunakan dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum penerapan energy recovery system sebanyak

2010 (8.893 Gg/tahun), 2015 mengurangi emisi GRK (Gas

TPA dan CO2 yang kabupaten/kota. kembali (reuse) dan didaur ulang diangkut ke TPA sebanyak 40%. 50%.

(10.930 Gg/tahun), 2020 Rumah Kaca) dan meningkatkan

dihasilkan dari kegiatan - Pengelolaan persampahan di TPAS dari open dumping (recycle) (3R) sebelum diangkut - Peningkatan metoda pengelolaan gas - Pemeliharaan infrastruktur dan

(13.138 Gg/tahun), 2025 penyerapan karbon

pembakaran terbuka. menjadi controlled landfill di kota kecil dan menengah; sanitary ke TPA sebanyak 30%. sampah (landfill gas – LFG) melalui peningkatan pelayanan persampahan di 86

(16.388 Gg/tahun), dan 2030 - Menyelenggarakan pembangunan

- Tingkat timbulan landfill di kota besar dan metropolitan sebesar 10%. - Peningkatan metoda pengelolaan pengumpulan dan pembakaran atau kab/kota

(19.091 Gg/tahun). infrastruktur bidang persampahan

sampah domestik - Pengurangan limbah padat domestik (reduce) dari gas sampah (landfill gas – LFG) melalui penerapan energy recovery system - Pembangunan fasilitas TPA CDM di 3

- Berdasarkan Skenario Business yang lebih memperhatikan aspek

sebesar 0,6 kg/orang/ sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali (reuse) melalui pengumpulan dan sebanyak 30%. kota besar

As Usual (BAU), potensi peningkatan kapasitas (capacity

hari untuk perkotaan dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA pembakaran atau melalui - Pemeliharaan infrastruktur - Pengadaan fasilitas pengelolaan

emisi CO2 ekuivalen di Pulau building) SDM dan institusi termasuk

dan 0,3 kg/orang/hari sebesar 20%. penerapan energy recovery system dan peningkatan pelayanan persampahan sebanyak 548 unit

Sumatera pada tahun 2010 kompetensi dan kemandirian pemda

untuk pedesaan. - Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah (landfill gas sebanyak 20%. persampahan di 41 kab/kota di - Pengembangan pelayanan pengangkutan

(9,3 juta ton), 2015 (11,4 juta dalam pembangunan infrastruktur

- Secara keseluruhan, – LFG) melalui pengumpulan dan pembakaran atau melalui - Pembangunan proyek Pulau Sumatera. Sampah di 86 kota/kab.

ton), 2020 (13,7 juta ton), yang berwawasan lingkungan serta

hanya 21% dari total penerapan energy recovery system sebanyak 5%. percontohan (3R, CDM, - Pembangunan fasilitas TPA CDM - Peningkatan metoda pengelolaan gas

2025 (17,1 juta ton) dan 2030 mendorong peran sektor swasta

limbah padat tersebut - Pengadaan replikasi bantek pengembangan persampahan biogas) di 3 Kota besar sampah (landfill gas – LFG) melalui

(19,9 juta ton) dan masyarakat.

yang ditrasportasikan ke di kabupaten/kota. - Penyediaan infrastruktur - Pengadaan fasilitas pengelolaan pengumpulan dan pembakaran atau melalui

- Mengembangkan teknologi

TPA (Dep PU, 2009). - Penyediaan infrastruktur persampahan di 41 kab/kota di persampahan di 86 kab/kota. persampahan sebanyak 498 unit penerapan energy recovery system sebanyak

pengelolaan sampah yang ramah

Pulau Sumatera. - Pembangunan fasilitas - Pengembangan pelayanan 70%.

lingkungan dan antisipatif terhadap

- Penyediaan fasilitasTPA CDM di 6 kota metropolitan pengelolaan persampahan pengangkutan sampah di 41 - Evaluasi, pemeliharaan, dan

perubahan iklim.

- Penyediaan fasilitas pengelolaan persampahan sebanyak sebanyak 453 unit kab/kota di Pulau Sumatera. pengembangan m,proyek percontohan (3R,

- Mengembangkan teknologi

411 unit - Pembangunan fasilitas TPA - Pengangkutan sampah di Pulau CDM, biogas)

peningkatan kualitas landfill:

- Pengangkutan sampah di 41 kota/kab di Pulau Sumatera. CDM di 2 Kota Metropolitan Sumatera sebesar 60%. - Pengangkutan sampah di Pulau Sumatera

(1) Controlled Landfill (CLF)

- Pengangkutan sampah di Pulau Sumatera sebesar 30%. - Pengangkutan sampah di 86 - Evaluasi, pemeliharaan, dan sebesar 75%.

untuk kota kecil dan

- Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Pulau kota/kab pengembanganproyek percontohan

menengah,

Sumatera. - Pengangkutan sampah di Pulau (3R, CDM, biogas) Kelompok program capacity building

(2) Sanitary Landfill (SLF)

Sumatera sebesar 45%. (penguatan institusi pemda, swasta, dan

untuk kota besar dan kota

Kelompok program capacity building (penguatan institusi - Pemeliharaan TPST 3R di Kelompok program capacity building masyarakat)

metropolitan

pemda, swasta, dan masyarakat) semua kab/kota di Pulau (penguatan institusi pemda, swasta, dan - Peningkatan kesadaran seluruh

(3) Penghentian Open

Sumatera. masyarakat) stakeholders terhadap pentingnya

Dumping.

- Penguatan kemitraan pemerintah dan masyarakat. - Pembentukan iklim yang kondusif peningkatan pelayanan persampahan.

- Mengembangkan penerapan EPR

- Penguatan institusi pemerintah daerah dalam pengelolaan bagi dunia usaha (swasta) untuk turut - Pengembangan iklim yang kondusif

(Extended Producer Responsibility)

persampahan. berperanserta secara aktif dalam bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

untuk produsen dan importir

- Pengadaan kegiatan monev kinerja pengembangan memberikan pelayanan persampahan, berperanserta secara aktif dalam

limbah B3

pengelolaan persampahan baik dalam handling-transportation memberikan pelayanan persampahan,

- Pengadaan fasilitas bagi kegiatan pengembangan sumber maupun dalam pengelolaan TPA. baik dalam handling-transportation maupun

pembiayaan dan pola investasi bidang persampahan melalui dalam pengelolaan TPA.

kerjasama pemerintah dunia usaha dan masyarakat - Peningkatan peranserta seluruh

stakeholder dalam upaya mencapai sasaran

pembangunan persampahan.









ICCSR - SektoR LImbah

2.Pulau Jawa, Pulau Madura, Pulau Bali

Kajian Dasar Saintifik Rekomendasi untuk Alternatif Strategi Prioritas Program Pulau Jawa, Madura, dan Bali

Inventarisasi GRK Status Emisi Mitigasi 2010 – 2014 2015 – 2019 2020 – 2024 2024 – 2029

Kelompok program inventarisasi data dan

perencanaan

� Kajian inventarisasi dan pengurangan GRK

dari sektor limbah padat.

Kelompok program regulasi dan kebijakan

Kelompok program regulasi dan kebijakan � Pengawasan dan evaluasi produk

pengaturan pengembangan

� Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan persampahan oleh pemerintah

hidup untuk pengelolaan dan standardisasi kabupaten/kota yang sesuai NSPK.









ICCSR - SektoR LImbah

persampahan (stepwise approach). � Evaluasi implementasi peraturan

Kelompok program regulasi dan kebijakan

� Penerbitan produk pengaturan perundang-undangan yang terkait

� Perancangan peraturan perundang-

� Melaksanakan kajian inventarisasi pengembangan persampahan oleh pemerintah dengan kemitraan pemerintah-swasta

undangan yang terkait dengan kemitraan

GRK dari sektor limbah padat yang kabupaten/kota yang sesuai NSPK. (public private partnership) dalam

pemerintah-swasta (public private partnership)

lebih lengkap dan sempurna dengan � Penyelesaian peraturan di bidang pengelolaan persampahan.

dalam pengelolaan persampahan

disertai rencana pengurangan GRK persampahan

� Pengawasan dan evaluasi produk

yang sistematis. � Penyiapan NSPM bidang persampahan. Kelompok program regulasi dan kebijakan Kelompok program implementasi

pengaturan pengembangan persampahan

� Menerapkan kebijakan pembangunan � Pengaturan, pembinaan, pengawasan, � Pengawasan dan pengembangan sumber

oleh pemerintah kabupaten/kota yang

infrastruktur bidang persampahan pengembangan sumber pembiayaan dan pola pembiayaan dan pola investasi dalam � Peningkatan pengelolaan persampahan

sesuai NSPK.

berwawasan lingkungan yang didukung investasi dalam pengelolaan persampahan pengelolaan persampahan di TPAS dari open dumping menjadi

oleh pengembangan dan penelitian � Penyediaan pedoman pengawasan � Pengawasan produk pengaturan controlled landfill di kota kecil dan

Kelompok program implementasi

teknologi terapan berwawasan persampahan. pengembangan persampahan oleh menengah; sanitary landfill di kota besar

lingkungan. � Pembuatan NSPK bidang persampahan pemerintah kabupaten/kota yang sesuai dan metropolitan sebesar 50%

� Peningkatan pengelolaan persampahan di

� Mengembangkan penerapan kebijakan � Penyediaan Bantek, Bimtek dan NSPK. � Pengurangan limbah padat domestik

TPAS dari open dumping menjadi controlled

lingkungan hidup untuk prinsip 3R pendampingan (SSK) pengelolaan (reduce) dari sumbernya sebanyak

landfill di kota kecil dan menengah; sanitary

(reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan persampahan Kelompok program implementasi mungkin, digunakan kembali (reuse)

landfill di kota besar dan metropolitan

persampahan. � Peningkatan pengelolaan persampahan dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum

sebesar 30%

� Mengembangkan pembangunan Kelompok program implementasi di TPAS dari open dumping menjadi controlled diangkut ke TPA sebanyak 50%.

� Pengurangan limbah padat domestik

infrastruktur yang berkelanjutan landfill di kota kecil dan menengah; sanitary � Peningkatan metoda pengelolaan gas

(reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin,

(dengan menjaga keseimbangan 3 pilar � Pelaksanaan KPS pengembangan landfill di kota besar dan metropolitan sampah (landfill gas – LFG) melalui

digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang

pembangunan, yaitu ekonomi, sosial, persampahan di kabupaten/kota. sebesar 20% pengumpulan dan pembakaran atau

� Emisi GRK dari sektor limbah padat � Potensi timbulan sampah domestik (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA

dan lingkungan) dengan mengurangi � Pengelolaan persampahan di TPAS dari open � Pengurangan limbah padat domestik melalui penerapan energy recovery system

perkotaan berupa metana (CH4) yang yang dihasilkan Pulau Jawa, Madura, sebanyak 40%.

emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dan dumping menjadi controlled landfill di kota kecil (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, sebanyak 50%.

dihasilkan dari TPA dan CO2 yang Bali pada tahun 2010 (24.754 Gg/ � Peningkatan metoda pengelolaan gas

meningkatkan penyerapan karbon dan menengah; sanitary landfill di kota besar digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang � Pemeliharaan infrastruktur dan

dihasilkan dari kegiatan pembakaran tahun), 2015 (29.569 Gg/tahun), sampah (landfill gas – LFG) melalui

� Menyelenggarakan pembangunan dan metropolitan sebesar 10%. (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA peningkatan pelayanan persampahan di

terbuka. 2020 (34.588 Gg/tahun), 2025 pengumpulan dan pembakaran atau melalui

infrastruktur bidang persampahan � Pengurangan limbah padat domestik (reduce) sebanyak 30%. 65 kab/kota

� Tingkat timbulan sampah domestik (41.940 Gg/tahun) dan 2030 (47.455 penerapan energy recovery system sebanyak

yang lebih memperhatikan aspek dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan � Peningkatan metoda pengelolaan gas � Pembangunan fasilitas TPA CDM di 4

sebesar 0,6 kg/orang/hari untuk Gg/tahun). 30%.

peningkatan kapasitas (capacity kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sampah (landfill gas – LFG) melalui kota besar

perkotaan dan 0,3 kg/orang/hari untuk � Berdasarkan Skenario Business As � Pemeliharaan infrastruktur dan

building) SDM dan institusi termasuk sebelum diangkut ke TPA sebesar 20%. pengumpulan dan pembakaran atau melalui � Pengadaan fasilitas pengelolaan

pedesaan. Usual (BAU), potensi emisi CO2 di peningkatan pelayanan persampahan

kompetensi dan kemandirian pemda � Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah penerapan energy recovery system sebanyak persampahan sebanyak 548 unit

� Secara keseluruhan, hanya 21% dari Pulau Jawa, Madura, Bali pada tahun di 42 kab/kota di Pulau Jawa, Madura,

dalam pembangunan infrastruktur (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan dan 20%. � Pengembangan pelayanan

total limbah padat tersebut yang 2010 (25,8 juta ton), 2015 (30,8 juta Bali.

yang berwawasan lingkungan serta pembakaran atau melalui penerapan energy � Pembangunan proyek percontohan (3R, pengangkutan Sampah di 65 kota/kab.

ditrasportasikan ke TPA (Dep PU, ton), 2020 (36,1 juta ton), 2025 (43,7 � Pembangunan fasilitas TPA CDM di

mendorong peran sektor swasta dan recovery system sebanyak 5%. CDM, biogas) � Peningkatan metoda pengelolaan gas

2009). juta ton).dan 2030 (49,5 juta ton). 15 Kota besar

masyarakat. � Pengadaan replikasi bantek pengembangan � Penyediaan infrastruktur persampahan di sampah (landfill gas – LFG) melalui

� Pengadaan fasilitas pengelolaan

� Mengembangkan teknologi persampahan di kabupaten/kota. 65 kab/kota. pengumpulan dan pembakaran atau

persampahan sebanyak 498 unit

pengelolaan sampah yang ramah � Penyediaan infrastruktur persampahan di 42 � Pembangunan fasilitas pengelolaan melalui penerapan energy recovery system

� Pengembangan pelayanan

lingkungan dan antisipatif terhadap kab/kota di Pulau Jawa, Bali, dan Madura persampahan sebanyak 453 unit sebanyak 70%.

pengangkutan sampah di 42 kab/kota

perubahan iklim. � Penyediaan fasilitasTPA CDM di 12 kota � Pembangunan fasilitas TPA CDM di 5 � Evaluasi, pemeliharaan, dan

di Jawa, Bali, dan Madura

� Mengembangkan teknologi metropolitan Kota Metropolitan pengembangan m,proyek percontohan

� Pengangkutan sampah di Pulau Jawa,

peningkatan kualitas landfill: � Penyediaan fasilitas pengelolaan � Pengangkutan sampah di 65 kota/kab (3R, CDM, biogas)

Madura, Bali sebesar 60%.

(4) Controlled Landfill (CLF) persampahan sebanyak 411 unit � Pengangkutan sampah di Pulau Jawa, � Pengangkutan sampah di Pulau Jawa,

� Evaluasi, pemeliharaan, dan

untuk kota kecil dan � Pengangkutan sampah di 42 kota/kab di Madura, Bali sebesar 45%. Bali, dan Madura

pengembanganproyek percontohan

menengah, Pulau Jawa, Bali, dan Madura � Pemeliharaan TPST 3R di semua kab/kota � sebesar 75%.

(3R, CDM, biogas)

(5) Sanitary Landfill (SLF) � Pengangkutan sampah di Pulau Jawa, Bali, di Pulau Jawa, Bali, dan Madura

untuk kota besar dan kota dan Madura Kelompok program capacity building

Kelompok program capacity building

metropolitan � sebesar 30%. (penguatan institusi pemda, swasta, dan

(penguatan institusi pemda, swasta, dan

(6) Penghentian Open � Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab masyarakat)

masyarakat)

Dumping. di Pulau Jawa, Madura, Bali. � Peningkatan kesadaran seluruh

� Pembentukan iklim yang kondusif

� Mengembangkan penerapan EPR stakeholders terhadap pentingnya

bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

(Extended Producer Responsibility) Kelompok program capacity building (penguatan peningkatan pelayanan persampahan.

berperanserta secara aktif dalam

untuk produsen dan importir limbah institusi pemda, swasta, dan masyarakat) � Pengembangan iklim yang kondusif

memberikan pelayanan persampahan,

B3 bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

baik dalam handling-transportation maupun

� Penguatan kemitraan pemerintah dan berperanserta secara aktif dalam

dalam pengelolaan TPA.

masyarakat. memberikan pelayanan persampahan,

� Penguatan institusi pemerintah daerah dalam baik dalam handling-transportation

pengelolaan persampahan. maupun dalam pengelolaan TPA.

� Pengadaan kegiatan monev kinerja � Peningkatan peranserta seluruh

pengembangan pengelolaan persampahan stakeholder dalam upaya mencapai

� Pengadaan fasilitas bagi kegiatan sasaran pembangunan persampahan.

pengembangan sumber pembiayaan dan

pola investasi bidang persampahan melalui

kerjasama pemerintah dunia usaha dan

masyarakat









73

3.Pulau Kalimantan









74

Kajian Dasar Saintifik Prioritas Program Pulau Kalimantan

Rekomendasi untuk Alternatif Strategi Mitigasi

Inventarisasi GRK Status Emisi 2010 – 2014 2015 – 2019 2020 – 2024 2024 – 2029

Kelompok program inventarisasi data dan

perencanaan

� Kajian inventarisasi dan pengurangan GRK

dari sektor limbah padat.



Kelompok program regulasi dan kebijakan Kelompok program regulasi dan kebijakan

� Pengawasan dan evaluasi produk

� Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan pengaturan pengembangan

Kelompok program regulasi dan

hidup untuk pengelolaan dan standardisasi persampahan oleh pemerintah

kebijakan Kelompok program regulasi dan

persampahan (stepwise approach). kabupaten/kota yang sesuai NSPK.

� Pengawasan dan kebijakan

� Penerbitan produk pengaturan � Evaluasi implementasi peraturan

pengembangan sumber � Perancangan peraturan perundang-

pengembangan persampahan oleh pemerintah perundang-undangan yang terkait

pembiayaan dan pola undangan yang terkait dengan

kabupaten/kota yang sesuai NSPK. dengan kemitraan pemerintah-swasta

investasi dalam pengelolaan kemitraan pemerintah-swasta (public

� Penyelesaian peraturan di bidang (public private partnership) dalam

persampahan private partnership) dalam pengelolaan

persampahan pengelolaan persampahan.

� Pengawasan produk persampahan

� Penyiapan NSPM bidang persampahan.

pengaturan pengembangan � Pengawasan dan evaluasi produk

� Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari � Pengaturan, pembinaan, pengawasan, Kelompok program implementasi

persampahan oleh pemerintah pengaturan pengembangan

sektor limbah padat yang lebih lengkap dan pengembangan sumber pembiayaan dan pola

kabupaten/kota yang sesuai persampahan oleh pemerintah

sempurna dengan disertai rencana pengurangan investasi dalam pengelolaan persampahan � Peningkatan pengelolaan persampahan

NSPK. kabupaten/kota yang sesuai NSPK.

GRK yang sistematis. � Penyediaan pedoman pengawasan di TPAS dari open dumping menjadi

� Menerapkan kebijakan pembangunan persampahan. controlled landfill di kota kecil dan

Kelompok program Kelompok program implementasi

infrastruktur bidang persampahan berwawasan � Pembuatan NSPK bidang persampahan menengah; sanitary landfill di kota besar

implementasi

lingkungan yang didukung oleh pengembangan � Penyediaan Bantek, Bimtek dan dan metropolitan sebesar 50%

� Peningkatan pengelolaan � Peningkatan pengelolaan persampahan

dan penelitian teknologi terapan berwawasan pendampingan (SSK) pengelolaan � Pengurangan limbah padat domestik

persampahan di TPAS dari di TPAS dari open dumping menjadi

lingkungan. persampahan (reduce) dari sumbernya sebanyak

open dumping menjadi controlled controlled landfill di kota kecil dan

� Mengembangkan penerapan kebijakan mungkin, digunakan kembali (reuse)

landfill di kota kecil dan menengah; sanitary landfill di kota besar

lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse, Kelompok program implementasi dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum

menengah; sanitary landfill di dan metropolitan sebesar 30%

recycle) dalam pengelolaan persampahan. diangkut ke TPA sebanyak 50%.

� Emisi GRK dari sektor kota besar dan metropolitan � Pengurangan limbah padat domestik

� Mengembangkan pembangunan infrastruktur � Pelaksanaan KPS pengembangan � Peningkatan metoda pengelolaan gas

limbah padat perkotaan � Potensi timbulan sampah sebesar 20% (reduce) dari sumbernya sebanyak

yang berkelanjutan (dengan menjaga persampahan di kabupaten/kota. sampah (landfill gas – LFG) melalui

berupa metana (CH4) yang domestik yang dihasilkan Pulau � Pengurangan limbah padat mungkin, digunakan kembali (reuse)

keseimbangan 3 pilar pembangunan, yaitu � Pengelolaan persampahan di TPAS dari open pengumpulan dan pembakaran atau

dihasilkan dari TPA dan CO2 Kalimantan pada tahun 2010 domestik (reduce) dari dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum

ekonomi, sosial, dan lingkungan) dengan dumping menjadi controlled landfill di kota kecil melalui penerapan energy recovery system

yang dihasilkan dari kegiatan (2.381 Gg/tahun), 2015 (2.975 sumbernya sebanyak mungkin, diangkut ke TPA sebanyak 40%.

mengurangi emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dan dan menengah; sanitary landfill di kota besar sebanyak 50%.

pembakaran terbuka. Gg/tahun), 2020 (3.631 Gg/ digunakan kembali (reuse) dan � Peningkatan metoda pengelolaan gas

meningkatkan penyerapan karbon dan metropolitan sebesar 10%. � Pemeliharaan infrastruktur dan

� Tingkat timbulan sampah tahun), 2025 (4.583 Gg/tahun) didaur ulang (recycle) (3R) sampah (landfill gas – LFG) melalui

� Menyelenggarakan pembangunan infrastruktur � Pengurangan limbah padat domestik peningkatan pelayanan persampahan di

domestik sebesar 0,6 kg/ dan 2030 (5.394 Gg/tahun). sebelum diangkut ke TPA pengumpulan dan pembakaran atau

bidang persampahan yang lebih memperhatikan (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, 15 kab/kota

orang/hari untuk perkotaan � Berdasarkan Skenario Business sebanyak 30%. melalui penerapan energy recovery system

aspek peningkatan kapasitas (capacity building) digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang � Pengadaan fasilitas pengelolaan

dan 0,3 kg/orang/hari untuk As Usual (BAU), potensi emisi � Peningkatan metoda sebanyak 30%.

SDM dan institusi termasuk kompetensi dan (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA persampahan sebanyak 548 unit

pedesaan. CO2 di Pulau Kalimantan pada pengelolaan gas sampah � Pemeliharaan infrastruktur

kemandirian pemda dalam pembangunan sebesar 20%. � Pengembangan pelayanan

� Secara keseluruhan, hanya tahun 2010 (2,5 juta ton), 2015 (landfill gas – LFG) melalui dan peningkatan pelayanan

infrastruktur yang berwawasan lingkungan � Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah pengangkutan Sampah di 15 kota/kab.

21% dari total limbah (3,1 juta ton), 2020 (3,8 juta pengumpulan dan pembakaran persampahan di 41 kab/kota di

serta mendorong peran sektor swasta dan (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan � Peningkatan metoda pengelolaan gas

padat tersebut yang ton), 2025 (4,8 juta ton) dan atau melalui penerapan energy Pulau Kalimantan.

masyarakat. dan pembakaran atau melalui penerapan sampah (landfill gas – LFG) melalui

ditrasportasikan ke TPA 2030 (5,6 juta ton). recovery system sebanyak 20%. � Pembangunan fasilitas

� Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah energy recovery system sebanyak 5%. pengumpulan dan pembakaran atau

(Dep PU, 2009). � Pembangunan proyek � Pengadaan fasilitas pengelolaan

yang ramah lingkungan dan antisipatif terhadap � Pengadaan replikasi bantek pengembangan melalui penerapan energy recovery system

percontohan (3R, CDM, persampahan sebanyak 498 unit

perubahan iklim. persampahan di kabupaten/kota. sebanyak 70%.

biogas) � Pengembangan pelayanan

� Mengembangkan teknologi peningkatan kualitas � Penyediaan infrastruktur persampahan di 41 � Evaluasi, pemeliharaan, dan

� Penyediaan infrastruktur pengangkutan sampah di 41

landfill: kab/kota di Pulau Kalimantan. pengembangan m,proyek percontohan

persampahan di 15 kab/ kab/kota di Pulau Kalimantan.

(7) Controlled Landfill (CLF) untuk kota � Penyediaan fasilitas pengelolaan (3R, CDM, biogas)

kota. � Pengangkutan sampah di Pulau

kecil dan menengah, persampahan sebanyak 411 unit � Pengangkutan sampah di Pulau

� Pembangunan fasilitas Kalimantan sebesar 60%.

(8) Sanitary Landfill (SLF) untuk kota � Pengangkutan sampah di 41 kota/kab di Kalimantan sebesar 75%.

pengelolaan persampahan � Evaluasi, pemeliharaan, dan

besar dan kota metropolitan Pulau Kalimantan.

sebanyak 453 unit pengembanganproyek percontohan

(9) Penghentian Open Dumping. � Pengangkutan sampah di Pulau Kalimantan Kelompok program capacity building

� Pengangkutan sampah di 15 (3R, CDM, biogas)

� Mengembangkan penerapan EPR (Extended sebesar 30%. (penguatan institusi pemda, swasta, dan

kota/kab

Producer Responsibility) untuk produsen dan � Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab masyarakat)

� Pengangkutan sampah di Kelompok program capacity building

importir limbah B3 di Pulau Kalimantan. � Peningkatan kesadaran seluruh

Pulau Kalimantan sebesar (penguatan institusi pemda, swasta, dan

stakeholders terhadap pentingnya

45%. masyarakat)

Kelompok program capacity building peningkatan pelayanan persampahan.

� Pemeliharaan TPST 3R di � Pembentukan iklim yang kondusif

(penguatan institusi pemda, swasta, dan � Pengembangan iklim yang kondusif

semua kab/kota di Pulau bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

masyarakat) bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

Kalimantan. berperanserta secara aktif dalam

berperanserta secara aktif dalam

memberikan pelayanan persampahan,

� Penguatan kemitraan pemerintah dan memberikan pelayanan persampahan,

baik dalam handling-transportation

masyarakat. baik dalam handling-transportation

maupun dalam pengelolaan TPA.

� Penguatan institusi pemerintah daerah dalam maupun dalam pengelolaan TPA.

pengelolaan persampahan. � Peningkatan peranserta seluruh

� Pengadaan kegiatan monev kinerja stakeholder dalam upaya mencapai

pengembangan pengelolaan persampahan sasaran pembangunan persampahan.

� Pengadaan fasilitas bagi kegiatan

pengembangan sumber pembiayaan dan

pola investasi bidang persampahan melalui

kerjasama pemerintah dunia usaha dan

masyarakat









ICCSR - SektoR LImbah

4.Pulau Sulawesi

Kajian Dasar Saintifik Prioritas Program Pulau Sulawesi

Rekomendasi untuk Alternatif Strategi Mitigasi

Inventarisasi GRK Status Emisi 2010 – 2014 2015 – 2019 2020 – 2024 2024 – 2029

Kelompok program inventarisasi data dan

perencanaan

� Kajian inventarisasi dan pengurangan GRK

dari sektor limbah padat.



Kelompok program regulasi dan kebijakan

Kelompok program regulasi dan Kelompok program regulasi dan kebijakan

kebijakan � Pengawasan dan evaluasi produk

� Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan

� Perancangan peraturan pengaturan pengembangan









ICCSR - SektoR LImbah

hidup untuk pengelolaan dan standardisasi

perundang-undangan yang terkait persampahan oleh pemerintah

persampahan (stepwise approach).

dengan kemitraan pemerintah- kabupaten/kota yang sesuai NSPK.

� Penerbitan produk pengaturan

swasta (public private partnership) � Evaluasi implementasi peraturan

pengembangan persampahan oleh

dalam pengelolaan persampahan perundang-undangan yang terkait

pemerintah kabupaten/kota yang sesuai

� Pengawasan dan evaluasi produk dengan kemitraan pemerintah-swasta

NSPK. Kelompok program regulasi dan

pengaturan pengembangan (public private partnership) dalam

� Penyelesaian peraturan di bidang kebijakan

persampahan oleh pemerintah pengelolaan persampahan.

persampahan � Pengawasan dan pengembangan

kabupaten/kota yang sesuai

� Penyiapan NSPM bidang persampahan. sumber pembiayaan dan pola

� Melaksanakan kajian inventarisasi GRK dari NSPK. Kelompok program implementasi

� Pengaturan, pembinaan, pengawasan, investasi dalam pengelolaan

sektor limbah padat yang lebih lengkap dan

pengembangan sumber pembiayaan dan pola persampahan

sempurna dengan disertai rencana pengurangan Kelompok program implementasi � Peningkatan pengelolaan persampahan

investasi dalam pengelolaan persampahan � Pengawasan produk pengaturan

GRK yang sistematis. di TPAS dari open dumping menjadi

� Penyediaan pedoman pengawasan pengembangan persampahan oleh

� Menerapkan kebijakan pembangunan � Peningkatan pengelolaan controlled landfill di kota kecil dan

persampahan. pemerintah kabupaten/kota yang

infrastruktur bidang persampahan berwawasan persampahan di TPAS dari open menengah; sanitary landfill di kota besar

� Pembuatan NSPK bidang persampahan sesuai NSPK.

lingkungan yang didukung oleh pengembangan dumping menjadi controlled landfill dan metropolitan sebesar 50%

� Penyediaan Bantek, Bimtek dan

dan penelitian teknologi terapan berwawasan di kota kecil dan menengah; � Pengurangan limbah padat domestik

pendampingan (SSK) pengelolaan Kelompok program implementasi

lingkungan. sanitary landfill di kota besar dan (reduce) dari sumbernya sebanyak

persampahan � Peningkatan pengelolaan

� Mengembangkan penerapan kebijakan metropolitan sebesar 30% mungkin, digunakan kembali (reuse)

persampahan di TPAS dari open

lingkungan hidup untuk prinsip 3R (reduce, reuse, � Pengurangan limbah padat dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum

Kelompok program implementasi dumping menjadi controlled landfill di

recycle) dalam pengelolaan persampahan. domestik (reduce) dari sumbernya diangkut ke TPA sebanyak 50%.

kota kecil dan menengah; sanitary

� Potensi timbulan sampah � Mengembangkan pembangunan infrastruktur sebanyak mungkin, digunakan � Peningkatan metoda pengelolaan gas

� Pelaksanaan KPS pengembangan landfill di kota besar dan metropolitan

domestik yang dihasilkan yang berkelanjutan (dengan menjaga kembali (reuse) dan didaur ulang sampah (landfill gas – LFG) melalui

� Emisi GRK dari sektor limbah persampahan di kabupaten/kota. sebesar 20%

Pulau Sulawesi pada tahun keseimbangan 3 pilar pembangunan, yaitu (recycle) (3R) sebelum diangkut pengumpulan dan pembakaran atau

padat perkotaan berupa metana � Pengelolaan persampahan di TPAS dari open � Pengurangan limbah padat

2010 (3.007 Gg/tahun), ekonomi, sosial, dan lingkungan) dengan ke TPA sebanyak 40%. melalui penerapan energy recovery system

(CH4) yang dihasilkan dari TPA dumping menjadi controlled landfill di kota kecil domestik (reduce) dari sumbernya

2015 (3.641 Gg/tahun), mengurangi emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dan � Peningkatan metoda pengelolaan sebanyak 50%.

dan CO2 yang dihasilkan dari dan menengah; sanitary landfill di kota besar sebanyak mungkin, digunakan

2020 (4.316 Gg/tahun), 2025 meningkatkan penyerapan karbon gas sampah (landfill gas � Pemeliharaan infrastruktur dan

kegiatan pembakaran terbuka. dan metropolitan sebesar 10%. kembali (reuse) dan didaur ulang

(5.302 Gg/tahun) dan 2030 � Menyelenggarakan pembangunan infrastruktur – LFG) melalui pengumpulan peningkatan pelayanan persampahan di

� Tingkat timbulan sampah � Pengurangan limbah padat domestik (recycle) (3R) sebelum diangkut ke

(6.073 Gg/tahun). bidang persampahan yang lebih memperhatikan dan pembakaran atau melalui 31 kab/kota

domestik sebesar 0,6 kg/orang/ (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, TPA sebanyak 30%.

� Berdasarkan Skenario Business aspek peningkatan kapasitas (capacity building) penerapan energy recovery system � Pengadaan fasilitas pengelolaan

hari untuk perkotaan dan 0,3 digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang � Peningkatan metoda pengelolaan

As Usual (BAU), potensi SDM dan institusi termasuk kompetensi dan sebanyak 30%. persampahan sebanyak 548 unit

kg/orang/hari untuk pedesaan. (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA gas sampah (landfill gas

emisi CO2 di Pulau Sulawesi kemandirian pemda dalam pembangunan � Pemeliharaan infrastruktur � Pengembangan pelayanan

� Secara keseluruhan, hanya 21% sebesar 20%. – LFG) melalui pengumpulan dan

pada tahun 2010 (3,1 juta infrastruktur yang berwawasan lingkungan dan peningkatan pelayanan pengangkutan Sampah di 31 kota/kab.

dari total limbah padat tersebut � Peningkatan metoda pengelolaan gas pembakaran atau melalui penerapan

ton), 2015 (3,8 juta ton), 2020 serta mendorong peran sektor swasta dan persampahan di 39 kab/kota � Peningkatan metoda pengelolaan gas

yang ditrasportasikan ke TPA sampah (landfill gas – LFG) melalui energy recovery system sebanyak 20%.

(4,5 juta ton), 2025 (5,5 juta masyarakat. di Pulau Sulawesi. sampah (landfill gas – LFG) melalui

(Dep PU, 2009). pengumpulan dan pembakaran atau melalui � Pembangunan proyek percontohan

ton) dan 2030 (6,3 juta ton). � Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah � Pengadaan fasilitas pengumpulan dan pembakaran atau

penerapan energy recovery system sebanyak 5%. (3R, CDM, biogas)

yang ramah lingkungan dan antisipatif terhadap pengelolaan persampahan melalui penerapan energy recovery system

� Pengadaan replikasi bantek pengembangan � Penyediaan infrastruktur

perubahan iklim. sebanyak 498 unit sebanyak 70%.

persampahan di kabupaten/kota. persampahan di 31 kab/kota.

� Mengembangkan teknologi peningkatan kualitas � Pengembangan pelayanan � Evaluasi, pemeliharaan, dan

� Penyediaan infrastruktur persampahan di � Pembangunan fasilitas

landfill: pengangkutan sampah di 39 pengembangan m,proyek percontohan

39 kab/kota di Pulau Sulawesi. pengelolaan persampahan

(10) Controlled Landfill (CLF) untuk kota kab/kota di Pulau Sulawesi. (3R, CDM, biogas)

� Penyediaan fasilitas pengelolaan sebanyak 453 unit

kecil dan menengah, � Pengangkutan sampah di � Pengangkutan sampah di Pulau

persampahan sebanyak 411 unit � Pengangkutan sampah di 31

(11) Sanitary Landfill (SLF) untuk kota Pulau Sulawesi sebesar 60%. Sulawesi sebesar 75%.

� Pengangkutan sampah di 39 kota/kab di kota/kab

besar dan kota metropolitan � Evaluasi, pemeliharaan,

Pulau Sumatera. � Pengangkutan sampah di Pulau

(12) Penghentian Open Dumping. dan pengembanganproyek Kelompok program capacity building

� Pengangkutan sampah di Pulau Sulawesi Sulawesi sebesar 45%.

� Mengembangkan penerapan EPR (Extended percontohan (3R, CDM, (penguatan institusi pemda, swasta, dan

sebesar 30%. � Pemeliharaan TPST 3R di semua

Producer Responsibility) untuk produsen dan biogas) masyarakat)

� Pembangunan TPST 3R di semua kota/ kab/kota di Pulau Sulawesi.

importir limbah B3 � Peningkatan kesadaran seluruh

kab di Pulau Sumatera.

Kelompok program capacity building stakeholders terhadap pentingnya

(penguatan institusi pemda, swasta, peningkatan pelayanan persampahan.

Kelompok program capacity building

dan masyarakat) � Pengembangan iklim yang kondusif

(penguatan institusi pemda, swasta, dan

� Pembentukan iklim yang bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

masyarakat)

kondusif bagi dunia usaha berperanserta secara aktif dalam

(swasta) untuk turut memberikan pelayanan persampahan,

� Penguatan kemitraan pemerintah dan

berperanserta secara aktif baik dalam handling-transportation

masyarakat.

dalam memberikan pelayanan maupun dalam pengelolaan TPA.

� Penguatan institusi pemerintah daerah

persampahan, baik dalam � Peningkatan peranserta seluruh

dalam pengelolaan persampahan.

handling-transportation maupun stakeholder dalam upaya mencapai

� Pengadaan kegiatan monev kinerja

dalam pengelolaan TPA. sasaran pembangunan persampahan.

pengembangan pengelolaan persampahan

� Pengadaan fasilitas bagi kegiatan

pengembangan sumber pembiayaan dan

pola investasi bidang persampahan melalui

kerjasama pemerintah dunia usaha dan

masyarakat









75

5.Kepulauan Nusa Tenggara









76

Kajian Dasar Saintifik Rekomendasi untuk Alternatif Strategi Prioritas Program Kepulauan Nusatenggara

Inventarisasi GRK Status Emisi Mitigasi 2010 – 2014 2015 – 2019 2020 – 2024 2024 – 2029

Kelompok program inventarisasi data dan

perencanaan Kelompok program regulasi dan

� Kajian inventarisasi dan pengurangan GRK kebijakan

dari sektor limbah padat. � Pengawasan dan evaluasi produk

pengaturan pengembangan

Kelompok program regulasi dan kebijakan persampahan oleh pemerintah

kabupaten/kota yang sesuai

� Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan NSPK.

hidup untuk pengelolaan dan standardisasi � Evaluasi implementasi peraturan

persampahan (stepwise approach). perundang-undangan yang

Kelompok program regulasi dan

� Penerbitan produk pengaturan terkait dengan kemitraan

kebijakan

pengembangan persampahan oleh pemerintah-swasta (public private

� Perancangan peraturan perundang-

pemerintah kabupaten/kota yang sesuai partnership) dalam pengelolaan

undangan yang terkait dengan

NSPK. persampahan.

� Melaksanakan kajian inventarisasi GRK kemitraan pemerintah-swasta (public

� Penyelesaian peraturan di bidang

dari sektor limbah padat yang lebih private partnership) dalam pengelolaan

persampahan Kelompok program regulasi dan Kelompok program implementasi

lengkap dan sempurna dengan disertai persampahan

� Penyiapan NSPM bidang persampahan. kebijakan

rencana pengurangan GRK yang � Pengawasan dan evaluasi produk

� Pengaturan, pembinaan, pengawasan, � Pengawasan dan pengembangan � Peningkatan pengelolaan

sistematis. pengaturan pengembangan

pengembangan sumber pembiayaan dan pola sumber pembiayaan dan pola investasi persampahan di TPAS dari open

� Menerapkan kebijakan pembangunan persampahan oleh pemerintah

investasi dalam pengelolaan persampahan dalam pengelolaan persampahan dumping menjadi controlled landfill

infrastruktur bidang persampahan kabupaten/kota yang sesuai NSPK.

� Penyediaan pedoman pengawasan � Pengawasan produk pengaturan di kota kecil dan menengah;

berwawasan lingkungan yang didukung

persampahan. pengembangan persampahan oleh sanitary landfill di kota besar dan

oleh pengembangan dan penelitian Kelompok program implementasi

� Pembuatan NSPK bidang persampahan pemerintah kabupaten/kota yang sesuai metropolitan sebesar 50%

teknologi terapan berwawasan

� Penyediaan Bantek, Bimtek dan NSPK. � Pengurangan limbah padat

lingkungan. � Peningkatan pengelolaan persampahan

pendampingan (SSK) pengelolaan domestik (reduce) dari sumbernya

� Mengembangkan penerapan kebijakan di TPAS dari open dumping menjadi

persampahan Kelompok program implementasi sebanyak mungkin, digunakan

lingkungan hidup untuk prinsip 3R controlled landfill di kota kecil dan

� Peningkatan pengelolaan persampahan kembali (reuse) dan didaur ulang

(reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan menengah; sanitary landfill di kota besar

Kelompok program implementasi di TPAS dari open dumping menjadi (recycle) (3R) sebelum diangkut ke

persampahan. dan metropolitan sebesar 30%

� Emisi GRK dari sektor controlled landfill di kota kecil dan TPA sebanyak 50%.

� Potensi timbulan sampah � Mengembangkan pembangunan � Pengurangan limbah padat domestik

limbah padat perkotaan � Pelaksanaan KPS pengembangan menengah; sanitary landfill di kota besar � Peningkatan metoda pengelolaan

domestik yang dihasilkan infrastruktur yang berkelanjutan (reduce) dari sumbernya sebanyak

berupa metana (CH4) yang persampahan di kabupaten/kota. dan metropolitan sebesar 20% gas sampah (landfill gas

Pulau Nusa Tenggara pada (dengan menjaga keseimbangan 3 pilar mungkin, digunakan kembali (reuse)

dihasilkan dari TPA dan CO2 � Pengelolaan persampahan di TPAS dari open � Pengurangan limbah padat domestik – LFG) melalui pengumpulan dan

tahun 2010 (1.620 Gg/tahun), pembangunan, yaitu ekonomi, sosial, dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum

yang dihasilkan dari kegiatan dumping menjadi controlled landfill di kota kecil (reduce) dari sumbernya sebanyak pembakaran atau melalui penerapan

2015 (1,974 Gg/tahun), 2020 dan lingkungan) dengan mengurangi diangkut ke TPA sebanyak 40%.

pembakaran terbuka. dan menengah; sanitary landfill di kota besar mungkin, digunakan kembali (reuse) energy recovery system sebanyak 50%.

(2.351 Gg/tahun), 2025 (2.903 emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dan � Peningkatan metoda pengelolaan gas

� Tingkat timbulan sampah dan metropolitan sebesar 10%. dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum � Pemeliharaan infrastruktur

Gg/tahun) dan 2030 (3.341 meningkatkan penyerapan karbon sampah (landfill gas – LFG) melalui

domestik sebesar 0,6 kg/ � Pengurangan limbah padat domestik diangkut ke TPA sebanyak 30%. dan peningkatan pelayanan

Gg/tahun). � Menyelenggarakan pembangunan pengumpulan dan pembakaran atau

orang/hari untuk perkotaan (reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin, � Peningkatan metoda pengelolaan gas persampahan di semua kab/kota

� Berdasarkan Skenario Business infrastruktur bidang persampahan yang melalui penerapan energy recovery system

dan 0,3 kg/orang/hari untuk digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang sampah (landfill gas – LFG) melalui � Pengadaan fasilitas pengelolaan

As Usual (BAU), potensi emisi lebih memperhatikan aspek peningkatan sebanyak 30%.

pedesaan. (recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA pengumpulan dan pembakaran atau persampahan sebanyak 548 unit

CO2 di Pulau Nusa Tenggara kapasitas (capacity building) SDM dan � Pemeliharaan infrastruktur

� Secara keseluruhan, hanya sebesar 20%. melalui penerapan energy recovery system � Pengembangan pelayanan

pada tahun 2010 (1,7 juta ton), institusi termasuk kompetensi dan dan peningkatan pelayanan

21% dari total limbah � Peningkatan metoda pengelolaan gas sebanyak 20%. pengangkutan Sampah di semua

2015 (2,1 juta ton), 2020 (2,5 kemandirian pemda dalam pembangunan persampahan di semua kab/kota di

padat tersebut yang sampah (landfill gas – LFG) melalui � Pembangunan proyek percontohan kota/kab.

juta ton), 2025 (3,0 juta ton) infrastruktur yang berwawasan Pulau Nusa Tenggara.

ditrasportasikan ke TPA pengumpulan dan pembakaran atau melalui (3R, CDM, biogas) � Peningkatan metoda pengelolaan

dan 2030 (3,5 juta ton). lingkungan serta mendorong peran � Pengadaan fasilitas pengelolaan

(Dep PU, 2009). penerapan energy recovery system sebanyak 5%. � Penyediaan infrastruktur gas sampah (landfill gas

sektor swasta dan masyarakat. persampahan sebanyak 498 unit

� Pengadaan replikasi bantek pengembangan persampahan di semua kab/kota. – LFG) melalui pengumpulan dan

� Mengembangkan teknologi pengelolaan � Pengembangan pelayanan

persampahan di kabupaten/kota. � Pembangunan fasilitas pengelolaan pembakaran atau melalui penerapan

sampah yang ramah lingkungan dan pengangkutan sampah di semua

� Penyediaan infrastruktur persampahan di persampahan sebanyak 453 unit energy recovery system sebanyak 70%.

antisipatif terhadap perubahan iklim. kab/kota di Pulau Nusa Tenggara.

semua kab/kota di Pulau Nusa Tenggara. � Pengangkutan sampah di semua � Evaluasi, pemeliharaan, dan

� Mengembangkan teknologi peningkatan � Pengangkutan sampah di Pulau

� Penyediaan fasilitas pengelolaan kota/kab pengembangan m,proyek

kualitas landfill: Nusa Tenggara sebesar 60%.

persampahan sebanyak 411 unit � Pengangkutan sampah di Pulau Nusa percontohan (3R, CDM, biogas)

(13) Controlled Landfill (CLF) untuk � Evaluasi, pemeliharaan, dan

� Pengangkutan sampah di semua kota/kab Tenggara sebesar 45%. � Pengangkutan sampah di Pulau

kota kecil dan menengah, pengembanganproyek percontohan

di Pulau Nusa Tenggara. � Pemeliharaan TPST 3R di semua Nusa Tenggara sebesar 75%.

(14) Sanitary Landfill (SLF) (3R, CDM, biogas)

� Pengangkutan sampah di Pulau Nusa kab/kota di Pulau Nusa Tenggara.

untuk kota besar dan kota

Tenggara sebesar 30%. Kelompok program capacity building

metropolitan Kelompok program capacity building

� Pembangunan TPST 3R di semua kota/ (penguatan institusi pemda, swasta,

(15) Penghentian Open Dumping. (penguatan institusi pemda, swasta, dan

kab di Pulau Nusa Tenggara. dan masyarakat)

� Mengembangkan penerapan EPR masyarakat)

� Peningkatan kesadaran seluruh

(Extended Producer Responsibility) � Pembentukan iklim yang kondusif

Kelompok program capacity building stakeholders terhadap pentingnya

untuk produsen dan importir limbah B3 bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

(penguatan institusi pemda, swasta, dan peningkatan pelayanan

berperanserta secara aktif dalam

masyarakat) persampahan.

memberikan pelayanan persampahan,

� Pengembangan iklim yang

baik dalam handling-transportation

� Penguatan kemitraan pemerintah dan kondusif bagi dunia usaha

maupun dalam pengelolaan TPA.

masyarakat. (swasta) untuk turut berperanserta

� Penguatan institusi pemerintah daerah secara aktif dalam memberikan

dalam pengelolaan persampahan. pelayanan persampahan, baik

� Pengadaan kegiatan monev kinerja dalam handling-transportation

pengembangan pengelolaan persampahan maupun dalam pengelolaan TPA.

� Pengadaan fasilitas bagi kegiatan � Peningkatan peranserta seluruh

pengembangan sumber pembiayaan dan stakeholder dalam upaya

pola investasi bidang persampahan melalui mencapai sasaran pembangunan

kerjasama pemerintah dunia usaha dan persampahan.

masyarakat









ICCSR - SektoR LImbah

6.Kepulauan Maluku

Kajian Dasar Saintifik Prioritas Program Kepulauan Maluku

Rekomendasi untuk Alternatif Strategi Mitigasi

Inventarisasi GRK Status Emisi 2010 – 2014 2015 – 2019 2020 – 2024 2024 – 2029

Kelompok program inventarisasi data dan

perencanaan

� Kajian inventarisasi dan pengurangan GRK

Kelompok program regulasi dan kebijakan

dari sektor limbah padat.

� Pengawasan dan evaluasi produk

pengaturan pengembangan persampahan

Kelompok program regulasi dan kebijakan Kelompok program regulasi dan

oleh pemerintah kabupaten/kota yang

kebijakan

sesuai NSPK.

� Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan � Perancangan peraturan perundang-

� Evaluasi implementasi peraturan

hidup untuk pengelolaan dan standardisasi Kelompok program regulasi dan undangan yang terkait dengan









ICCSR - SektoR LImbah

perundang-undangan yang terkait

persampahan (stepwise approach). kebijakan kemitraan pemerintah-swasta (public

dengan kemitraan pemerintah-swasta

� Penerbitan produk pengaturan pengembangan � Pengawasan dan pengembangan private partnership) dalam pengelolaan

(public private partnership) dalam

persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota sumber pembiayaan dan pola persampahan

pengelolaan persampahan.

� Melaksanakan kajian inventarisasi GRK yang sesuai NSPK. investasi dalam pengelolaan � Pengawasan dan evaluasi produk

dari sektor limbah padat yang lebih lengkap � Penyelesaian peraturan di bidang persampahan persampahan pengaturan pengembangan

Kelompok program implementasi

dan sempurna dengan disertai rencana � Penyiapan NSPM bidang persampahan. � Pengawasan produk pengaturan persampahan oleh pemerintah

pengurangan GRK yang sistematis. � Pengaturan, pembinaan, pengawasan, pengembangan persampahan kabupaten/kota yang sesuai NSPK.

� Peningkatan pengelolaan persampahan di

� Menerapkan kebijakan pembangunan pengembangan sumber pembiayaan dan pola oleh pemerintah kabupaten/

TPAS dari open dumping menjadi controlled

infrastruktur bidang persampahan investasi dalam pengelolaan persampahan kota yang sesuai NSPK. Kelompok program implementasi

landfill di kota kecil dan menengah; sanitary

berwawasan lingkungan yang didukung � Penyediaan pedoman pengawasan

landfill di kota besar dan metropolitan

oleh pengembangan dan penelitian persampahan. Kelompok program implementasi � Peningkatan pengelolaan

sebesar 50%

teknologi terapan berwawasan lingkungan. � Pembuatan NSPK bidang persampahan � Peningkatan pengelolaan persampahan di TPAS dari open

� Pengurangan limbah padat domestik

� Mengembangkan penerapan kebijakan � Penyediaan Bantek, Bimtek dan pendampingan persampahan di TPAS dari open dumping menjadi controlled landfill

(reduce) dari sumbernya sebanyak mungkin,

lingkungan hidup untuk prinsip 3R (SSK) pengelolaan persampahan dumping menjadi controlled landfill di kota kecil dan menengah;

digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang

(reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan di kota kecil dan menengah; sanitary landfill di kota besar dan

(recycle) (3R) sebelum diangkut ke TPA

� Emisi GRK dari sektor persampahan. Kelompok program implementasi sanitary landfill di kota besar dan metropolitan sebesar 30%

sebanyak 50%.

limbah padat perkotaan � Potensi timbulan sampah � Mengembangkan pembangunan metropolitan sebesar 20% � Pengurangan limbah padat domestik

� Peningkatan metoda pengelolaan gas

berupa metana (CH4) domestik yang dihasilkan infrastruktur yang berkelanjutan � Pelaksanaan KPS pengembangan persampahan � Pengurangan limbah padat (reduce) dari sumbernya sebanyak

sampah (landfill gas – LFG) melalui

yang dihasilkan dari TPA Pulau Maluku pada tahun (dengan menjaga keseimbangan 3 pilar di kabupaten/kota. domestik (reduce) dari mungkin, digunakan kembali (reuse)

pengumpulan dan pembakaran atau melalui

dan CO2 yang dihasilkan 2010 (413 Gg/tahun), 2015 pembangunan, yaitu ekonomi, sosial, � Pengelolaan persampahan di TPAS dari open sumbernya sebanyak mungkin, dan didaur ulang (recycle) (3R)

penerapan energy recovery system sebanyak

dari kegiatan pembakaran (510 Gg/tahun), 2020 (616 dan lingkungan) dengan mengurangi dumping menjadi controlled landfill di kota kecil digunakan kembali (reuse) dan sebelum diangkut ke TPA sebanyak

50%.

terbuka. Gg/tahun), 2025 (773 Gg/ emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dan dan menengah; sanitary landfill di kota besar dan didaur ulang (recycle) (3R) 40%.

� Pemeliharaan infrastruktur dan

� Tingkat timbulan sampah tahun) dan 2030 (903 Gg/ meningkatkan penyerapan karbon metropolitan sebesar 10%. sebelum diangkut ke TPA � Peningkatan metoda pengelolaan gas

peningkatan pelayanan persampahan di 7

domestik sebesar 0,6 tahun). � Menyelenggarakan pembangunan � Pengurangan limbah padat domestik (reduce) sebanyak 30%. sampah (landfill gas – LFG) melalui

kab/kota

kg/orang/hari untuk � Berdasarkan Skenario Business infrastruktur bidang persampahan yang dari sumbernya sebanyak mungkin, digunakan � Peningkatan metoda pengumpulan dan pembakaran atau

� Pengadaan fasilitas pengelolaan

perkotaan dan 0,3 As Usual (BAU), potensi lebih memperhatikan aspek peningkatan kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) pengelolaan gas sampah melalui penerapan energy recovery system

persampahan sebanyak 548 unit

kg/orang/hari untuk emisi CO2 di Pulau Maluku kapasitas (capacity building) SDM dan sebelum diangkut ke TPA sebesar 20%. (landfill gas – LFG) melalui sebanyak 30%.

� Pengembangan pelayanan pengangkutan

pedesaan. pada tahun 2010 (0,43 juta), institusi termasuk kompetensi dan � Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah pengumpulan dan pembakaran � Pemeliharaan infrastruktur

Sampah di 7 kota/kab.

� Secara keseluruhan, hanya 2015 (0,53 juta ton), 2020 kemandirian pemda dalam pembangunan (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan atau melalui penerapan energy dan peningkatan pelayanan

� Peningkatan metoda pengelolaan gas

21% dari total limbah (0,64 juta ton), 2025 (0,81 infrastruktur yang berwawasan lingkungan dan pembakaran atau melalui penerapan energy recovery system sebanyak 20%. persampahan di 11 kab/kota di

sampah (landfill gas – LFG) melalui

padat tersebut yang juta ton) dan 2030 (0,94 juta serta mendorong peran sektor swasta dan recovery system sebanyak 5%. � Pembangunan proyek Pulau Maluku.

pengumpulan dan pembakaran atau melalui

ditrasportasikan ke TPA ton). masyarakat. � Pengadaan replikasi bantek pengembangan percontohan (3R, CDM, � Pengadaan fasilitas pengelolaan

penerapan energy recovery system sebanyak

(Dep PU, 2009). � Mengembangkan teknologi pengelolaan persampahan di kabupaten/kota. biogas) persampahan sebanyak 498 unit

70%.

sampah yang ramah lingkungan dan � Penyediaan infrastruktur persampahan di 11 � Penyediaan infrastruktur � Pengembangan pelayanan

� Evaluasi, pemeliharaan, dan

antisipatif terhadap perubahan iklim. kab/kota di Pulau Maluku. persampahan di 7 kab/kota. pengangkutan sampah di 11

pengembangan m,proyek percontohan

� Mengembangkan teknologi peningkatan � Penyediaan fasilitas pengelolaan persampahan � Pembangunan fasilitas kab/kota di Pulau Maluku.

(3R, CDM, biogas)

kualitas landfill: sebanyak 411 unit pengelolaan persampahan � Pengangkutan sampah di Pulau

� Pengangkutan sampah di Pulau Maluku

(16) Controlled Landfill (CLF) untuk � Pengangkutan sampah di 11 kota/kab di Pulau sebanyak 453 unit Maluku sebesar 60%.

sebesar 75%.

kota kecil dan menengah, Maluku. � Pengangkutan sampah di 7 � Evaluasi, pemeliharaan,

(17) Sanitary Landfill (SLF) untuk � Pengangkutan sampah di Pulau Maluku kota/kab dan pengembanganproyek

Kelompok program capacity building

kota besar dan kota metropolitan sebesar 30%. � Pengangkutan sampah di percontohan (3R, CDM, biogas)

(penguatan institusi pemda, swasta, dan

(18) Penghentian Open Dumping. � Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Pulau Maluku sebesar 45%.

masyarakat)

� Mengembangkan penerapan EPR Pulau Maluku. � Pemeliharaan TPST 3R di Kelompok program capacity building

� Peningkatan kesadaran seluruh

(Extended Producer Responsibility) untuk semua kab/kota di Pulau (penguatan institusi pemda, swasta,

stakeholders terhadap pentingnya

produsen dan importir limbah B3 Kelompok program capacity building (penguatan Maluku. dan masyarakat)

peningkatan pelayanan persampahan.

institusi pemda, swasta, dan masyarakat) � Pembentukan iklim yang kondusif

� Pengembangan iklim yang kondusif

bagi dunia usaha (swasta) untuk

bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

� Penguatan kemitraan pemerintah dan turut berperanserta secara aktif

berperanserta secara aktif dalam

masyarakat. dalam memberikan pelayanan

memberikan pelayanan persampahan,

� Penguatan institusi pemerintah daerah dalam persampahan, baik dalam handling-

baik dalam handling-transportation maupun

pengelolaan persampahan. transportation maupun dalam

dalam pengelolaan TPA.

� Pengadaan kegiatan monev kinerja pengelolaan TPA.

� Peningkatan peranserta seluruh

pengembangan pengelolaan persampahan

stakeholder dalam upaya mencapai sasaran

� Pengadaan fasilitas bagi kegiatan pengembangan

pembangunan persampahan.

sumber pembiayaan dan pola investasi bidang

persampahan melalui kerjasama pemerintah

dunia usaha dan masyarakat









77

7.Pulau Papua









78

Kajian Dasar Saintifik Rekomendasi untuk Alternatif Strategi Prioritas Program Pulau Papua

Inventarisasi GRK Status Emisi Mitigasi 2010 – 2014 2015 – 2019 2020 – 2024 2024 – 2029

Kelompok program inventarisasi data dan Kelompok program regulasi dan

perencanaan kebijakan

� Kajian inventarisasi dan pengurangan GRK dari � Pengawasan dan evaluasi produk

sektor limbah padat. pengaturan pengembangan

persampahan oleh pemerintah

Kelompok program regulasi dan kebijakan kabupaten/kota yang sesuai NSPK.

Kelompok program regulasi dan

� Evaluasi implementasi peraturan

kebijakan

� Melaksanakan kajian inventarisasi � Penguatan pendekatan kebijakan lingkungan hidup Kelompok program regulasi dan perundang-undangan yang terkait

� Perancangan peraturan perundang-

GRK dari sektor limbah padat yang untuk pengelolaan dan standardisasi persampahan kebijakan dengan kemitraan pemerintah-swasta

undangan yang terkait dengan

lebih lengkap dan sempurna dengan (stepwise approach). � Pengawasan dan pengembangan (public private partnership) dalam

kemitraan pemerintah-swasta (public

disertai rencana pengurangan GRK � Penerbitan produk pengaturan pengembangan sumber pembiayaan dan pola pengelolaan persampahan.

private partnership) dalam pengelolaan

yang sistematis. persampahan oleh pemerintah kabupaten/kota investasi dalam pengelolaan

persampahan

� Menerapkan kebijakan pembangunan yang sesuai NSPK. persampahan Kelompok program implementasi

� Pengawasan dan evaluasi produk

infrastruktur bidang persampahan � Penyelesaian peraturan di bidang persampahan � Pengawasan produk pengaturan

pengaturan pengembangan

berwawasan lingkungan yang � Penyiapan NSPM bidang persampahan. pengembangan persampahan � Peningkatan pengelolaan persampahan

persampahan oleh pemerintah

didukung oleh pengembangan � Pengaturan, pembinaan, pengawasan, oleh pemerintah kabupaten/kota di TPAS dari open dumping menjadi

kabupaten/kota yang sesuai NSPK.

dan penelitian teknologi terapan pengembangan sumber pembiayaan dan pola yang sesuai NSPK. controlled landfill di kota kecil dan

berwawasan lingkungan. investasi dalam pengelolaan persampahan menengah; sanitary landfill di kota besar

Kelompok program implementasi

� Mengembangkan penerapan kebijakan � Penyediaan pedoman pengawasan persampahan. Kelompok program implementasi dan metropolitan sebesar 50%

lingkungan hidup untuk prinsip 3R � Pembuatan NSPK bidang persampahan � Peningkatan pengelolaan � Pengurangan limbah padat domestik

� Peningkatan pengelolaan persampahan

(reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan � Penyediaan Bantek, Bimtek dan pendampingan persampahan di TPAS dari open (reduce) dari sumbernya sebanyak

di TPAS dari open dumping menjadi

persampahan. (SSK) pengelolaan persampahan dumping menjadi controlled landfill mungkin, digunakan kembali (reuse)

controlled landfill di kota kecil dan

� Mengembangkan pembangunan di kota kecil dan menengah; dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum

menengah; sanitary landfill di kota besar

� Potensi timbulan sampah infrastruktur yang berkelanjutan Kelompok program implementasi sanitary landfill di kota besar dan diangkut ke TPA sebanyak 50%.

dan metropolitan sebesar 30%

domestik yang dihasilkan (dengan menjaga keseimbangan 3 pilar metropolitan sebesar 20% � Peningkatan metoda pengelolaan gas

� Emisi GRK dari sektor � Pengurangan limbah padat domestik

Pulau Papua pada tahun pembangunan, yaitu ekonomi, sosial, � Pelaksanaan KPS pengembangan persampahan di � Pengurangan limbah padat sampah (landfill gas – LFG) melalui

limbah padat perkotaan (reduce) dari sumbernya sebanyak

2010 (502 Gg/tahun), dan lingkungan) dengan mengurangi kabupaten/kota. domestik (reduce) dari pengumpulan dan pembakaran atau

berupa metana (CH4) yang mungkin, digunakan kembali (reuse)

2015 (632 Gg/tahun), emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dan � Pengelolaan persampahan di TPAS dari open dumping sumbernya sebanyak mungkin, melalui penerapan energy recovery system

dihasilkan dari TPA dan CO2 dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum

2020 (775 Gg/tahun), meningkatkan penyerapan karbon menjadi controlled landfill di kota kecil dan menengah; digunakan kembali (reuse) dan sebanyak 50%.

yang dihasilkan dari kegiatan diangkut ke TPA sebanyak 40%.

2025 (981 Gg/tahun), � Menyelenggarakan pembangunan sanitary landfill di kota besar dan metropolitan didaur ulang (recycle) (3R) � Pemeliharaan infrastruktur dan

pembakaran terbuka. � Peningkatan metoda pengelolaan gas

dan 2030 (1.158 Gg/ infrastruktur bidang persampahan sebesar 10%. sebelum diangkut ke TPA peningkatan pelayanan persampahan di

� Tingkat timbulan sampah sampah (landfill gas – LFG) melalui

tahun). yang lebih memperhatikan aspek � Pengurangan limbah padat domestik (reduce) dari sebanyak 30%. 17 kab/kota

domestik sebesar 0,6 kg/ pengumpulan dan pembakaran atau

� Berdasarkan Skenario peningkatan kapasitas (capacity sumbernya sebanyak mungkin, digunakan kembali � Peningkatan metoda � Pembangunan fasilitas TPA CDM di

orang/hari untuk perkotaan melalui penerapan energy recovery system

Business As Usual (BAU), building) SDM dan institusi termasuk (reuse) dan didaur ulang (recycle) (3R) sebelum pengelolaan gas sampah (landfill 3 kota besar

dan 0,3 kg/orang/hari untuk sebanyak 30%.

potensi emisi CO2 di kompetensi dan kemandirian pemda diangkut ke TPA sebesar 20%. gas – LFG) melalui pengumpulan � Pengadaan fasilitas pengelolaan

pedesaan. � Pemeliharaan infrastruktur

Pulau Papua pada tahun dalam pembangunan infrastruktur � Peningkatan metoda pengelolaan gas sampah dan pembakaran atau melalui persampahan sebanyak 548 unit

� Secara keseluruhan, hanya dan peningkatan pelayanan

2010 (0,52 juta ton), 2015 yang berwawasan lingkungan serta (landfill gas – LFG) melalui pengumpulan dan penerapan energy recovery system � Pengembangan pelayanan

21% dari total limbah padat persampahan di 13 kab/kota di

(0,66 juta ton), 2020 (0,81 mendorong peran sektor swasta dan pembakaran atau melalui penerapan energy recovery sebanyak 20%. pengangkutan Sampah di 17 kota/kab.

tersebut yang ditrasportasikan Pulau Papua.

juta ton), 2025 (1,02 juta masyarakat. system sebanyak 5%. � Pembangunan proyek � Peningkatan metoda pengelolaan gas

ke TPA (Dep PU, 2009). � Pengadaan fasilitas pengelolaan

ton), dan 2030 (1,21 juta � Mengembangkan teknologi � Pengadaan replikasi bantek pengembangan percontohan (3R, CDM, sampah (landfill gas – LFG) melalui

persampahan sebanyak 498 unit

ton). pengelolaan sampah yang ramah persampahan di kabupaten/kota. biogas) pengumpulan dan pembakaran atau

� Pengembangan pelayanan

lingkungan dan antisipatif terhadap � Penyediaan infrastruktur persampahan di 13 � Penyediaan infrastruktur melalui penerapan energy recovery system

pengangkutan sampah di 13

perubahan iklim. kab/kota di Pulau Papua. persampahan di 17 kab/kota. sebanyak 70%.

kab/kota di Pulau Papua.

� Mengembangkan teknologi � Penyediaan fasilitas pengelolaan persampahan � Pembangunan fasilitas � Evaluasi, pemeliharaan, dan

� Pengangkutan sampah di Pulau

peningkatan kualitas landfill: sebanyak 411 unit pengelolaan persampahan pengembangan m,proyek percontohan

Papua sebesar 60%.

(19) Controlled Landfill (CLF) � Pengangkutan sampah di 13 kota/kab di Pulau sebanyak 453 unit (3R, CDM, biogas)

� Evaluasi, pemeliharaan, dan

untuk kota kecil dan Papua. � Pengangkutan sampah di 17 � Pengangkutan sampah di Pulau Papua

pengembanganproyek percontohan

menengah, � Pengangkutan sampah di Pulau Papua sebesar kota/kab sebesar 75%.

(3R, CDM, biogas)

(20) Sanitary Landfill (SLF) 30%. � Pengangkutan sampah di

untuk kota besar dan kota � Pembangunan TPST 3R di semua kota/kab di Pulau Papua sebesar 45%. Kelompok program capacity building

Kelompok program capacity building

metropolitan Pulau Papua. � Pemeliharaan TPST 3R di (penguatan institusi pemda, swasta, dan

(penguatan institusi pemda, swasta, dan

(21) Penghentian Open semua kab/kota di Pulau masyarakat)

masyarakat)

Dumping. Kelompok program capacity building (penguatan Papua. � Peningkatan kesadaran seluruh

� Pembentukan iklim yang kondusif

� Mengembangkan penerapan EPR institusi pemda, swasta, dan masyarakat) stakeholders terhadap pentingnya

bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

(Extended Producer Responsibility) peningkatan pelayanan persampahan.

berperanserta secara aktif dalam

untuk produsen dan importir limbah � Penguatan kemitraan pemerintah dan masyarakat. � Pengembangan iklim yang kondusif

memberikan pelayanan persampahan,

B3 � Penguatan institusi pemerintah daerah dalam bagi dunia usaha (swasta) untuk turut

baik dalam handling-transportation

pengelolaan persampahan. berperanserta secara aktif dalam

maupun dalam pengelolaan TPA.

� Pengadaan kegiatan monev kinerja pengembangan memberikan pelayanan persampahan,

pengelolaan persampahan baik dalam handling-transportation

� Pengadaan fasilitas bagi kegiatan pengembangan maupun dalam pengelolaan TPA.

sumber pembiayaan dan pola investasi bidang � Peningkatan peranserta seluruh

persampahan melalui kerjasama pemerintah dunia stakeholder dalam upaya mencapai

usaha dan masyarakat sasaran pembangunan persampahan.









ICCSR - SektoR LImbah


Shared by: Andre Suit
Other docs by Andre Suit
4_Job Description Field Coordinator A SUWITO
Views: 16  |  Downloads: 0
brochure climate change
Views: 31  |  Downloads: 0
2010_084_Buleleng
Views: 4  |  Downloads: 0
2010_024_Depok
Views: 3  |  Downloads: 0
Brosur konferensi
Views: 10  |  Downloads: 0
Pengelolaan Sampah RT berbasis Masyarakat-Jogja
Views: 269  |  Downloads: 12
indonesia-c4c-offlinepack-final
Views: 109  |  Downloads: 1
Tanya jawab Ttg Perubahan Iklim
Views: 17  |  Downloads: 0
en-climate-change
Views: 3  |  Downloads: 0
greenfactsclimat00ontauoft
Views: 2  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!