Embed
Email

Makalah Perubahan Iklim global

Document Sample

Shared by: Andre Suit
Categories
Tags
Stats
views:
1224
posted:
10/31/2011
language:
Indonesian
pages:
18
DRAFT

MODUL 3.









Perubahan Iklim Global: Pemicu

terjadinya peningkatan GRK









Oleh:

Kurniatun Hairiah









Universitas Brawijaya, Fakultas Pertanian,

Jurusan Tanah

Malang

2007

Tujuan:

1. Memahami kegiatan manusia yang meningkatkan konsentrasi GRK

2. Bisakah kita berkontribusi dalam mengurangi emisi GRK









1. Apa penyebab utama terjadinya peningkatan GRK?

Penyebab terjadinya peningkatan suhu, intensitas curah hujan dan

perubahan faktor-faktor iklim lainnya, memunculkan beberapa pertanyaan baru

antara lain:

• Apa benar antropogenik penyebab utama peningkatan GRK ? Bagaimana

cara kita untuk mengetahuinya?

• Bisakah kita kontribusi untuk mencegah emisi GRK?





Antropogenik adalah istilah yang umum dipakai untuk menyatakan segala

sesuatu yang terjadi di alam karena campur tangan manusia (efek, proses,

obyek dan material), kejadian tersebut sebagai lawan kata dari kejadian alami.

Penyebab terjadinya pemanasan global cukup banyak, pemahaman mendasar

tentang penyebab dan proses terjadinya sangat dibutuhkan untuk pertimbangan

pengambilan keputusan untuk menanganinya. Pada dasarnya ada 2 faktor

penyebab peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) yaitu kejadian alami dan

anthropogenik. Faktor anthropogenik masih dapat dibedakan antara faktor

pembakaran BBF (bahan bakar fossil) dan alih-guna lahan khususnya kegiatan

deforestasi (Tabel 1). Faktor alami juga dibedakan atas faktor internal (interaksi

atmosfer dan lautan) dan faktor eksternal (variasi input radiasi matahari dan

konsentrasi partikel aerosol di atmosfer atas) yang secara historis telah berperan

dalam menentukan suhu bumi.









2

Tabel 2. Pemisahan pengaruh unsur-unsur antropogenik dan alami



GRK antropogenik GRK alami

Internal Eksternal

• Pembakaran BBF (batubara, Interaksi antara • Input energi

minyak, dan gas alam) lautan dan matahari

atmosfer

• Alih-guna lahan •Letusan gunung

api





1. Apa benar antropogenik penyebab utama peningkatan GRK ?

Mendiagnosa penyebab terjadinya pemanasan global ini bagaikan seorang

dokter, upaya ini seperti seorang dokter mencari penyebab pasien demam

dengan suhu badan 40oC. Setelah memeriksa kondisi fisik luarnya, dokter akan

mengambil contoh darah atau air seni dan diperiksa di laboratorium, karena

demam hanyalah gejala belaka. Diagnosis seperti ini juga dilakukan untuk

melihat penyebab naiknya suhu bumi. Antara lain melalui pengamatan di lapisan

atmosfer atas dengan radiosonde dan penginderaan jauh yang hanya mampu

merekonstruksi data selama 40 tahun. Akan tetapi jangka pengamatan itu

terlalu pendek untuk dapat menjelaskan pengaruh manusia.

Selanjutnya diagnose dilakukan dengan pemodelan yang melibatkan lebih

banyak unsur antropogenik yang mungkin mempengaruhi suhu bumi, termasuk

diantaranya konsentrasi GRK yang akan menimbulkan efek rumah kaca yang

memanaskan atmosfer dan partikel aerosol sulfat yang justru akan mendinginkan

atmosfer. Adapun unsur alami yang dipertimbangkan di dalam pemodelan

adalah aerosol dari letusan gunung api, variabilitas matahari, dan kondisi

topografi. Untuk menguji validitas model sirkulasi global (Global Circulation

Model, GCM) para peneliti membandingkan hasil pemodelan dengan hasil

pengamatan jangka panjang. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:

• Adanya kesesuaian hasil pemodelan dengan hasil pengukuran dalam jangka

30-50 tahun









3

• Informasi yang dihasilkan tidak hanya berupa tabulasi data, tetapi juga

dalam bentuk peta sehingga diperoleh gambaran mengenai variabilitas

horisontal dan vertikal baik secara ruang (geografis) maupun waktu.

• Pengaruh faktor antropogenik dan alam dapat dipisahkan

• Memasukkan aerosol antropogenik ke dalam perhitungan akan

memperbaiki hasil prediksi model





Untuk membuktikan bahwa karbon yang meningkat jumlahnya adalah

antropogenik, para ilmuwan melakukan studi detail tentang inti karbon di

laboratorium dan pengamatan di stasiun-stasiun dalam jangka waktu sangat

panjang. Dari studi ini mereka menemukan bahwa:

a. Karakteristik inti atom karbon yang berasal dari pembakaran BBF

berbeda dengan inti karbon dari emisi alam. Karena fosil telah

terpendam di lapisan dalam sejak puluhan juta tahun yang lalu maka

sifat radioaktif inti karbon nya sudah hilang, sementara karbon alami

yang berasal dari permukaan atau dekat permukaan bumi intinya

memiliki porsi radioaktif yang cukup besar. Meningkatnya konsentrasi

karbon radioaktif ’rendah’ (dari BBF) telah menyebabkan "pengenceran"

kadar radioaktif karbon atmosfer secara keseluruhan.

b. Dari hasil rekaman yang terdapat pada lingkar pohon (tree rings)

ditunjukkan bahwa fraksi karbon -14 radioaktif (14C) makin mengecil

dalam kurun waktu antara tahun 1850 hingga 1950.

c. Ketiga, pengamatan jangka panjang di puncak Gunung Mauna Loa di

Hawaii yang berada di tengah-tengah Samudera Pasifik dan di Kutub

Selatan. Data konsentrasi CO2 di atmosfer dan di dalam contoh es yang

diambil dari dua tempat yang tidak mengalami gangguan berupa

lonjakan, GRK antropogenik tersebut direkonstruksi dalam kurun waktu

1850 hingga 2000 menunjukkan peningkatan konsentrasi CO2 yang

cukup berarti dari 290 hingga 360 ppm seperti terlihat dalam Gambar 1.









4

Gambar 1. Konsentrasi CO2 di atmosfer yang direkonstruksi dari

pengukuran langsung di atmosfer dan di dalam contoh es di kutub

(Sumber: IPCC, 2001)



Akibat pengaruh peningkatan CO2 di atmosfer, maka selama kurun waktu 100

tahun, suhu bumi telah meningkat sebesar 0,5 oC (Gambar 2). Dengan pola

konsumsi energi dan pertumbuhan ekonomi seperti sekarang, maka dalam kurun

waktu 100 tahun mendatang konsentrasi CO2 diduga akan meningkat dua kali

lipat dibanding zaman industri, yaitu sekitar 580 ppm. Dalam kondisi demikian

prediksi jangka panjang berbagai GCM memperkirakan peningkatan suhu bumi

antara 1,7 - 4,5 oC. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

peningkatan suhu global sebesar itu akan disertai oleh naiknya tinggi muka air

laut antara 15 hingga 95 cm (Baca Modul 1). Hal ini terjadi karena

mengembangnya volume air dan mencairnya es di kedua kutub bumi. Tentu

saja variasi perubahan akan terjadi dari satu wilayah ke wilayah lain. Lebih jauh

dikemukakan bahwa peningkatan suhu tertinggi terjadi pada musim dingin di

Benua Arktika. Peningkatan suhu pada malam hari akan lebih besar dibanding

peningkatan suhu siang hari.









5

Gambar 2. Perubahan suhu udara 100 tahun yang lalu dan yang akan datang

akibat peningkatan konsentrasi GRK yang diprediksi oleh berbagai

model sirkulasi global (Sumber: IPCC, 2001).







2. Kegiatan manusia yang meningkatkan konsentrasi GRK





Ilmuwan yang tergabung dalam Panel Antar Pemerintahan tentang

Perubahan Iklim (IPCC, 2002) menyatakan bahwa pada 50 tahun terakhir

pemanasan global yang terjadi adalah akibat aktivitas manusia, yang

berhubungan erat dengan peningkatan konsentrasi GRK. Aktivitas manusia telah

meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer dari 285 ppmv pada jaman revolusi

industri tahun 1850an, meningkat menjadi 336 ppmv di tahun 2000. Jadi dalam

kurun waktu 150 tahun konsentrasi CO2 di atmosfer telah meningkat sekitar 28

%. Informasi yang berhubungan dengan sumber CO2, lubuk dan kenaikan CO2

di atmosfer bumi disajikan dalam Tabel 1, dimana pada setiap tahun laju

peningkatan konsentrasi CO2 atmosfer bumi sangat cepat, bahkan pada dekade

terakhir telah meningkat dua kali lipat dari dekade sebelumnya.









6

Tabel 1. Sumber, rosot dan peningkatan emisi CO2 (Gt C th-1) di atmosfer

(IPCC, 1995) dan IPCC, 2001)



1980-1989 1990-1999

1. Sumber

• Pembakaran BBF dan produksi semen 5.5 + 0.3 6.3 + 0.4

• Alih-guna lahan tropis 1.6 + 1.0 1.7 + 0.8



Emisi total 7.1 + 1.1 8.0 + 0.6

2. Lubuk

• Atmosfer 3.2 + 0.2 3.2 + 0.1

• Lautan 2.0 + 0.5 1.7 + 0.5

• Pertumbuhan hutan sub tropis 0.5 + 0.5 0.2 + 0.2



Penyerapan total 5.7 + 1.5 5.1 + 0.7

Peningkatan CO2 1.4 + 1.5 2.9 + 0.6

Keterangan: 1 Gt = 1 gigaton = 1 x 109 ton

Satuan Internasional Ton = Mg= Mega gram





Beberapa kegiatan manusia melepaskan CO2 ke atmospher antara lain

melalui penggunaan BBF untuk industri, transportasi, rumah tangga, pertanian

(Gambar 3) sehingga menghambat radiasi matahari. Komposisi antrophogenic-

GRK terdiri dari 72% CO2, 18% CH4, 9% N2O dan 1% gas lainnya

(http://en.wikipedia.org/wiki/Global_warming_potential). Sekitar 40 % dari total

emisi CH4 dan 62% dari total emisi N2O adalah berasal dari kegiatan pertanian,

misalnya dari penggunaan pupuk N berlebihan dan lewat pembakaran.









7

Gambar 3. Hasil penghitungan emisi GRK global per tahun menurut sektor

kegiatan



2.1. Alih-guna hutan dan pembakaran sebagai penyebab emisi CO2

• Aktivitas manusia mengubah aliran antara atmosfer, daratan dan lautan.

Tata guna lahan dan alih-guna lahan adalah faktor utama yang

mempengaruhi sumber dan penyerap C daratan. Menurut IPCC (2000)

jumlah luasan hutan dunia berkurang 20% dalam kurun waktu 140 tahun

sebagai akibat adanya alih- fungsi hutan. Namun demikian, pengelolaan

lahan yang bijak dapat pula memulihkan, mempertahankan bahkan dapat

meningkatkan penyimpanan (cadangan) C dalam biomasa vegetasi dan di

dalam tanah.

• Perluasan lahan pertanian melalui konversi hutan dan ladang

penggembalaan yang terjadi dalam kurun waktu 140 tahun belakangan

ini, menyebabkan pelepasan 121 GT C, atau sekitar 60% dari total emisi

karbon dari daerah tropis (pertama-tama terjadi pada setengah abad yang

lalu), dan 40% emisi berasal dari daerah-daerah yang secara geografis





8

lebih tinggi (pertama-tama terjadi sebelum pertengahan abad 20). Selama

tahun 1980-an telah terjadi emisi karbon >90% ke atmosfer adalah akibat

dari alih- guna hutan yang melibatkan pembakaran di daerah-daerah

tropis.

• Pengurangan laju konversi hutan di daerah tropis dapat mengurangi

kehilangan karbon dari ekosistem daratan. Penghutanan kembali lahan-

lahan yang tadinya adalah hutan (aforestasi) akan memulihkan kembali

penyerapan karbon di atmosfer yang disimpan di dalam biomas vegetasi

dan di dalam tanah, TETAPI butuh waktu ratusan tahun untuk meraih

kembali cadangan karbon yang telah didapat di masa lalu.

• Upaya mengkonservasi ekosistem dan praktek-praktek pengelolaan lahan

dapat memperbaiki, mempertahankan bahkan meningkatkan cadangan

karbon. Pengelolaan hutan dan lahan rawa atau lahan gambut untuk area

konservasi dan rekreasi sangat membantu dalam mengurangi karbon di

atmosfer.

• Pada lahan-lahan pertanian (tanaman semusim), kehilangan karbon tanah

terjadi karena adanya pengolahan tanah. Kegiatan pengelolaan seperti

pengairan dan pemupukan dapat meningkatkan cadangan karbon dalam

biomasa tanaman dan tanah. Namun demikian pemupukan N pada lahan-

lahan pertanian merupakan kegiatan manusia terbesar saat ini yang

menyebabkan emisi GRK berupa gas N2O.

• Emisi GRK global dari gas CH4 (methana) dan N2O (gas tertawa) yang

berasal dari kegiatan pertanian (diekspresikan setara dengan CO2)

melebihi emisi CO2 yang dihasilkan dari alih guna lahan hutan (Gambar 4).

• Multi guna lahan, yang dapat meningkatkan cadangan karbon dan

sekaligus menghasilkan energi, akan mengurangi emisi GRK dengan

penggunaan sumber daya alam seminimal mungkin. Produksi biomasa

yang merupakan cadangan karbon, tetapi mempunyai peluang sebagai

pengganti bahan bakar lain yang kalau dipakai justru akan meningkatkan

emisi GRK. Energi biomasa dapat diproduksi secara terus menerus dengan





9

menanam dan memanen, akan mengurangi penggunaan bahan bakar

fossil. Pengembangan tekhnologi untuk produksi energi biomasa yang

efisien sangat penting untuk menekan biaya usaha dan menjamin lahan

untuk tidak dialih-gunakan ke usaha lainnya.









10

(A)



CH4 Setara C









-1

120 1









Emisi setara C, Gt th

-1

Emisi CH 4, Mt th

100 0.8

80

0.6

60

0.4

40

20 0.2

0 0









g









g

n









a







n









a

ah









ah

ve









ve

ka









ka

aw









aw

w









w

a









a

n









n

R









R

sa









sa

rn









rn

ra









ra

te









te

di









di

ka









ka

Pe









Pe

Pa









Pa

ba









ba

m









m

Pe









Pe

(B)

N Setara C

4 1

-1

Emisi N2O, Mt N th









-1

0.8









Setara C, Gt th

3

0.6

2

0.4

1 0.2

0 0

n, sah









ah

a









g sub na

is









su pi s

m erta s









s

ka nian









ka nian

eg









te eg

lh an









lh an

an







pi









pi

op









ta bas



a

tro

ro









tro

Pe n v









Pe n v

ba

k









k

ta sav









ta sav

rp b tr

na









ta rna

m erta









Tn b t

ra









ra

n









n









b

hu ter









u

su









n,

p









p

pd n s

ta

T n n,









T n n,







n

h









h

t,









t,

ba









ba

T n hu









T n hu

Tn









ta









rp

Tn hu









Tn hu

hu

g

h









h

Pe









Pe









pd

h









h

h









h

Tn









Tn

h









h









Gambar 4. Emisi gas methana (CH4) dan gas tertawa (N2O) dari berbagai praktek

pertanian (IPCC, 2000).







2.1.1. Kebakaran hutan di Indonesia



Kebakaran hutan dan lahan seakan-akan sudah menjadi "tradisi"

tahunan di Indonesia, terutama setiap kali musim kemarau datang. Pada

kebakaran berskala besar di tahun 1997-1998, diestimasi sekitar 10 juta ha

lahan yang rusak terbakar, sehingga Indonesia rugi terhitung US $ 3 milyar.



Kejadian tersebut melepaskan gas rumah kaca (GRK) sebanyak 0.81-2.57 GT

(gigaton) karbon ke atmosfer yang setara dengan 13-40% total emisi karbon

dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil per tahunnya. Berarti kejadian





11

tersebut menambah kontribusi terhadap pemanasan global

(http://www.wwf.or.id/index.php?fuseaction=whatwedo.forest_fire&language=i).





Penyebab utama dari kebakaran hutan dan lahan adalah ulah manusia yang

menggunakan api sebagai ’alat’ untuk mengkonversi hutan dan lahan untuk

hutan tanaman industri/HTI, perkebunan, pertanian, dan sebagainya. Ada

pula, penggunaan api sebagai ’senjata’ untuk balas dendam dalam konflik

hak penguasaan lahan yang sering terjadi di mana-mana. Selain itu,

kebakaran diperparah akibat meningkatnya pemanasan global yang telah

terjadi - kemarau ekstrim, yang seringkali dikaitkan dengan pengaruh iklim El

Niño, memberikan kondisi ideal untuk terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Jadi kebakaran tersebut sifatnya sebagai ’kecelakaan’.





2.1.2. Membakar lahan gambut sama artinya dengan membuat

polusi asap (dikutip dari Burning Issues Mei, 2003, Berpikir untuk

manajemen kebakaran yang lebih efektif

(http://www.asiaforests.org/doc/resources/fire/BI_7_indo.pdf )





Setiap tahun jutaan orang di Asia Tenggara menderita akibat polusi asap

yang menyesakkan. Polusi asap menjadi penyebab dari sepertiga dari

kerugian ekonomi total akibat kebakaran hutan pada tahun 1997/98 yang

mencapai 800 juta US$. Secara politis, polusi asap lintas-batas yang

merugikan negara-negara tetangga telah menjadi isu yang sangat

kontroversial. Data-data dan penelitian yang baru menunjukkan bahwa 60%

dari polusi asap di Indonesia, termasuk emisi karbon, berasal dari kebakaran

di lahan-lahan gambut yang menutupi hanya 10-14% dari daratan Indonesia.

Oleh karena itu, mencegah terbakarnya lahan gambut tersebut akan sangat

mengurangi polusi asap. Pencegahan kebakaran menjadi semakin penting

karena pemadaman kebakaran di lahan gambut sangat problematis. Cara

terbaik untuk mencegah kebakaran di lahan gambut adalah dengan cara

mengkonservasi lahan tersebut dalam keadaan alaminya (selalu basah)

karena (setelah terbakar) gambut tidak dapat direhabilitasi dan kondisi

alaminya yang ‘tahan api’ tidak dapat diciptakan kembali.





12

Box 1. Lahan gambut – Apakah itu?

Lahan gambut (kadang-kadang disebut rawa gambut) terbentuk dimana

tanaman-tanaman yang tergenang oleh air terurai secara lambat. Gambut yang

terbentuk terdiri dari berbagai bahan organik tanaman yang membusuk dan

terdekomposisi pada berbagai tingkatan. Ciriciri khas dari suatu lahan gambut adalah

kandungan bahan organiknya yang tinggi (lebih dari 65%). Gambut yang terbentuk

dapat mencapai kedalaman lebih dari 15 m. Dalam kondisi alami yang tidak

terganggu, lahan-lahan gambut mempunyai fungsi-fungsi ekologi yang penting;

mengatur air didalam dan di permukaan tanah. Dengan sifat-sifatnyayang seperti

spon, gambut dapat menyerap air yang berlebihan, yang kemudian secara kontinyu

dilepas perlahan-lahan. Hal ini menyebabkan air akan tetap mengalir secara

konsisten dan karena itu menghindari terjadinya banjir dan juga kekeringan. Lahan-

lahan gambut merupakan areal ‘penyimpan’ karbon yang sangat penting. Hutan pada

lahan gambut mempunyai peranan penting dalam penyimpanan karbon (30%

kapasitas penyimpanan karbon global dalam tanah) dan memberikan manfaat

keanekaragaman hayati, pengatur tata air, dan pendukung kehidupan masyarakat.

Indonesia memiliki 20 juta ha lahan gambut yang terutama terletak di Sumatera

(Riau memiliki 4 juta ha) dan Kalimantan.

Pondasi utama dari lahan gambut yang baik adalah air. Bila terjadi

pembukaan hutan gambut maka hal ini akan mempengaruhi unit hidrologinya.

Dengan sifat gambut yang seperti spons (menyerap air), maka pada saat pohon

ditebang dan lahannya dibuka, akan terjadi subsidensi sehingga tanah gambut yang

sifatnya hidropobik tidak akan dapat lagi menyerap air dan kemudian mengering.

Dalam proses ini, terjadilah pelepasan karbon dan sekaligus mengakibatkan lahan

gambut rentan terhadap kebakaran yang pada gilirannya dapat menyumbangkan

pelepasan emisi karbon lebih lanjut.

Gambut mengandung C sangat banyak mudah terbakar bila kondisi kering,

sekali api menyala maka nyala api terus merambat ke lapisan bawah, dan terus

berasap. Pelepasan asap bisa terus berlangsung hingga bahan organik gambut habis

(bulan, waktu bahkan abad). Kebakaran gambut mengancam sosial, ekonomi

maupun ekologi.



Pentingnya lahan gambut



Lahan gambut punya peranan ganda. Selain memiliki tekstur tanah organik yang

mampu menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar, di permukaan tanah juga

mampu menyimpan karbon dalam bentuk biomasa vegetasi hutan. Indonesia

memiliki 20 juta ha lahan gambut yang terletak di Sumatera dan Kalimantan. Luas

lahan gambut ini merupakan yang terluas di kawasan tropika dunia. Lebih dari 50

persen lahan gambut tropika di Asia berada di Indonesia. Sedangkan Malaysia hanya

mempunyai 2,5 juta ha lahan gambut yang saat ini sudah dimanfaatkan untuk lahan

pertanian dan tanaman kelapa sawit. Dengan demikian Indonesia sebenarnya punya

peran yang cukup besar dalam mengendalikan pelepasan karbon ke atmosfer,

menyimpannya dalam lahan gambut. Namun sayangnya, akahir-akhir ini telah

terjadi konversi besar-besaran lahan gambut menjadi lahan pertanian, perkebunan

kelapa sawit, hutan tanaman industri dan pemukiman dan sebagainya, yang

membuat Indonesia ’jatuh’ di mata Internasional....apa yang bisa kita lakukan?







13

Pada tahun 2007 Indonesia didaulat sebagai salah satu negara penghasil emisi

GRK terbesar di dunia, terutama berasal dari kegiatan alih guna lahan hutan dan

pengeringan lahan gambut menjadi lahan pertanian (Tabel 2). Negara emitor

GRK terbesar adalah USA dan China, jumlah GRK yang diemisikan dua kali lipat

lebih besar dari emisi asal Indonesia. Bedanya, emisi GRK dari kedua negara

industri tersebut berasal dari penggunaan bahan bakar fossil dan industri.

Agus dan Van Noordwijk (2007) melaporkan bahwa pembakaran hutan

alami pada lahan gambut menyebabkan pelepasan CO2 sebanyak 734 ton ha-1

yang berasal dari C yang tersimpan di vegetasi sebasar 200 ton ha-1. Tetapi

jumlah tersebut mungkin masih lebih rendah dari jumlah CO2 yang diemisikan

sebenarnya, karena selama pembakaran hutan lapisan atas gambut juga

terbakar dan melepaskan CO2. Seandainya gambut yang terbakar setebal 10

cm, maka akan terjadi penambahan emisi CO2 sebesar 220 ton ha-1 karena tanah

gambut mengandung C sekitar 6 ton ha-1 cm-1.

Tabel 2. Emisi GRK (Mt CO2e) dari berbagai sumber emisi dari tujuh negara

emitor utama (sumber data PEACE, 2007 dalam Murdyarso dan

Adiningsih, 2007)



Emisi USA China Indonesia Brazil Rusia India

Energi 5,752 3,720 275 303 1,527 1,051



Pertanian 442 1,171 141 598 118 442

Kehutanan & -403 -47 2,563 1,372 54 -40

pengeringan gambut

Limbah 213 174 35 43 46 124

Total 6,005 5,017 3,014 2,316 1,745 1,177

Catatan:

1. Emisi GRK rata-rata 1.5 – 4.5 GT ha-1th-1; GT = giga ton =1015 g = 109 ton; Mt=Mega

ton =106 ton; Satuan CO2/C = 3.67

2. Data hasil pengukuran emisi GRK dari sumber lainnya masih terus dibutuhkan

3. Nilai negatif pada bagian kehutanan dan pengeringan gambut di USA dan di China

adalah dikarenakan keberhasilan kedua negara tersebut dalam penghutanan kembali



Setelah pembakaran hutan, biasanya lahan dialih-fungsikan menjadi

perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri (HTI) atau tanaman semusim.

Cara pengelolaan paska pembakaran (terutama berhubungan dengan





14

pengeringan dan pengolahan tanah) sangat mempengaruhi besarnya emisi CO2

berikutnya. Pembuatan saluran drainase sedalam 80 cm pada kebun sawit,

diestimasi akan mengemisikan CO2 sebanyak 73 ton ha-1 th-1. Jadi berarti dalam

satu siklus tanam sawit (25 tahun) akan mengemisikan CO2 sebanyak 1820 ton

ha-1. Suatu jumlah pelepasan yang sangat besar, yang mungkin terlewatkan

dalam penghitungan neraca C di skala global saat ini.







2.2. Kegiatan peternakan





Usaha peternakan yang intensif menghasilkan bahan sumber protein yang

sangat penting bagi manusia yaitu daging dan susu. Kotoran dan urin ternak

bermanfaat untuk mempertahankan kesuburan tanah melalui pelepasan hara

(mineralisasi), perbaikan struktur tanah dan mempertahankan keragaman

organisma tanah. Di lain sisi, peternakan juga melepaskan gas rumah kaca yang

menyebabkan pemanasan global.

Gas rumah kaca yang juga masuk peringkat atas adalah CH4, dan N2O.

Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti

yang banyak terjadi di peternakan sapi. Menurut IPCC (1992) konsentrasi CH4

meningkat 20 kali dibanding dengan 100 tahun yang lalu atau bahkan 300 kali

bagi N2O. Menurut estimasi terbaru, diketahui bahwa jumlah emisi CH4 and N2O

adalah 535 Mt dan 17.7 Mt (Kroeze et al., 1999; 1 MT = Tg = 1012 g).

Dilaporkan pula bahwa sekitar 103 Mt CH4 adalah berasal dari peternakan. Emisi

N2O sekitar 8.0 Mt adalah anthropogenic. Industri ternak menyumbang emisi

sekitar 18% dari total GRK setara dengan CO2, kontribusi yang lebih besar bila

dibandingkan dengan emisi asal transportasi.

Pengaruh kegiatan pertanian melalui penggunaan pupuk dan produk

kotoran ternak terhadap emisi N2O kurang lebih seimbang. Namun sayangnya

data-data hasil pengukuran tersebut masih banyak mengandung kelemahan









15

karena masih lemahnya pengetahuan kita akan faktor-faktor sumber emisi yang

spesifik.







2.3. Industri dan transportasi





Kegiatan manusia lainnya yang menimbulkan pemanasan global adalah

pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam untuk industri, pembangkit

tenaga listrik, pendingin atau penghangat ruangan, dan transportasi. Sekitar

sepertiga dari total emisi GRK USA adalah berasal dari industri dan transportasi.

Jalan keluarnya antara lain dengan memperbaiki sistem insulasi dan ventilasi

gedung-gedung; menggunakan lampu hemat energi, memilih sarana transportasi

hemat energi, pemanfaatan energi surya selama musim panas dan sebagainya. u





menghasilkan dan sederhana ‘mendinginkan’ kaca yang

Kiat praktis carbon dioxide (CO2), yakni gas rumahbumi : menghambat radiasi

panas ke angkasa ruang. Pohon-pohon dan berbagai tanaman menyerap CO2 cari udara

1. proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan. Pembukaan lahan dengan

selama Matikan listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik

dalam keadaan ikut meningkatkan jumlah CO2 karena menurunkan stop

menebangi pohon-pohonstandby. Cabut charger telephone genggam daripenyerapan

kontak. Walaupun listrik tak mengemisikan karbon, tetapi pembangkit

CO2, dan dekomposisi dari tumbuhan yang telah mati juga meningkatkan jumlah CO2.

listrik PLN menggunakan bahan bakar fosil penyumbang besar emisi

GRK).

2. Ganti bola lampu listrik (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya

agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).

3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga

5%).

4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala.

Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).

5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).

6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.

7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.

8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik dari pada

menggunakan mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.

9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).

10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).

11. Say NO to plastic. Hampir semua sampah plastik menghasilkan gas

berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu

mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.

12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka

turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.









16

Ucapan terimakasih

Penyusunan bahan ajaran ini dapat terlaksana berkat bantuan dana dari DIKTI

melalui anggaran DIPPA (Dana Bantuan Tambahan, DBT) Fakultas Pertanian,

Unibraw tahun 2007.



BAHAN BACAAN



Buku

Watson RT, Noble IR, Bollin B, Ravindranath NH, Verado DJ and Dokken DJ. 2000. Land

Use, Land-Use Change and Forestry. A Special Report of the IPCC. Cambridge

University Press, Cambridge, UK. 377pp.

Tomich T P, Van Noordwijk M, Budidarsono S, Gillison A, kusumanto T, Murdiyarso D,

Stolle F and Fagi A M 1995 Alternatives to slash-and-burn in Indonesia.

Summary Report and Synthesis of Phase II. ASB-Indonesia Report Nummer 8.

Bogor, Indonesia.

Murdiyarso D, Van Noordwijk M, Wasrin UR, Tomich TP, and AN Gillison. 2002.

Environmental benefits and sustainable land-use options in the Jambi transect,

Sumatra, Indonesia. Journal of Vegetation Science 13: 429-438.



Bahan Ajaran



Hairiah K, S.M. Sitompul, Van Noordwijk M and Palm C, 2001. Carbon stocks of tropical

land use systems as part of the global C balance: effects of forest conversion and

options for ‘clean development' activities, ICRAF Sea, Bogor.

Hairiah K, S.M. Sitompul, Van Noordwijk M and Palm C, 2001. Methods for sampling

carbon stocks of above and below ground, ICRAF Sea, Bogor.

Hairiah K dan D Murdyarso, 2004. Alih guna lahan dan neraca karbon terestrial.

Widianto, K Hairiah, D Suhardjito dan M A Sardjono, 2003. Fungsi dan Peran

Agroforestri. ICRAF Sea, Bogor.



Bacaan lain:

Santoso H dan Forner C, 2007. Climate change projections for Indonesia. TroFCCA



Web site

http://www.icraf.cgiar.org/sea

http://www.wetlands.org

http://lwf.ncdc.noaa.gov/oa/climate/globalwarming.html

http://www.ghgonline.org/evidence.htm

http://www.ipcc.ch

http://www.columbia.edu/cu/cup



Ilustrasi diperoleh dari beberapa sumber dari internet antara lain:

http://learningfundamentals.com.au/wp-content/uploads/combating-global-warming-

map.jpg

http://www.eere.energy.gov/state_energy_program/update/images/06-07_greenhouse_effect.jpg







17

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://biggani.com/files_of_biggani/Shamim/

Global_Warming/global-warming-2.gif&imgrefurl=http://biggani.com

http://i.treehugger.com/images/2007/5/24/palm%20plants.jpg









18


Shared by: Andre Suit
Other docs by Andre Suit
4_Job Description Field Coordinator A SUWITO
Views: 16  |  Downloads: 0
brochure climate change
Views: 31  |  Downloads: 0
2010_084_Buleleng
Views: 4  |  Downloads: 0
2010_024_Depok
Views: 3  |  Downloads: 0
Brosur konferensi
Views: 10  |  Downloads: 0
Pengelolaan Sampah RT berbasis Masyarakat-Jogja
Views: 269  |  Downloads: 12
indonesia-c4c-offlinepack-final
Views: 109  |  Downloads: 1
Tanya jawab Ttg Perubahan Iklim
Views: 17  |  Downloads: 0
en-climate-change
Views: 3  |  Downloads: 0
greenfactsclimat00ontauoft
Views: 2  |  Downloads: 0
Related docs
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!