Embed
Email

DokKebijakanSeni-2010_01

Document Sample

Shared by: Andre Suit
Categories
Tags
Stats
views:
13
posted:
10/31/2011
language:
Indonesian
pages:
197
Bendel Dokumentasi 2010 Tulisan dan Dokumen









Seri Dokumentasi Tulisan 2010





Kebijakan Seni di Indonesia





berisi:





- Cuplikan Dokumen Kongres Nasional Pertama

Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) di Solo, 22 – 28 Januari 1959



- Laporan Hasil Penelitian Pusat Studi Hukum dan Kebudayaan

“Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan”, April 2009



- Tulisan Amanda K. Rath, “Cultural Sublimation: The Museumizing of Indonesia”

untuk Situs web Southeast Asian Studies Student Association (SEASSA) subyek

Studi Eksplorasi Asia Tenggara, Volume 1 No.1 Spring 1997



- Rancangan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia di Internet,

publikasi 2010



- Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Anti Pornografi dan

Pornoaksi, publikasi 2006

PUSAT STUDI HUKUM DAN KEBIJAKAN INDONESIA









Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan

Kesenian dan Kebudayaan

LAPORAN HASIL PENELITIAN





TIM PENELITI PSHK





Imam Nasima, LLM

Gita Putri Damayana, SH

M. Nur Sholikin, SH

Siti Maryam Rodja, SH





April 2009

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





DAFTAR ISI



1.Pendahuluan............................................................................................................ 3

1.1.1.Latar Belakang Kajian..............................................................................5

1.1.2.Metodologi...............................................................................................6

1.1.3.Sumber Data dan Narasumber................................................................9

2.Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan (Gambaran Umum)

................................................................................................................................. 12

2.1.1.Hasil Penelitian......................................................................................14

2.1.2.Hipotesis................................................................................................19

3.Konteks Sosial Politik: Kebijakan Kebudayaan di Indonesia...................................29

3.1.1.Kebijakan Kebudayaan di Indonesia......................................................29

3.1.2.Kebijakan Kebudayaan di Mata Seniman...............................................37

3.1.3.Kesimpulan ...........................................................................................40

4.Isu-Isu Pilihan Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan...............................................42

Seni dan Budaya sebagai Hak Dasar..............................................................43

4.1.1.Pajak/Retribusi Daerah..........................................................................46

4.1.2.Kebijakan Fiskal (Kepabeanan)..............................................................56

4.3.1.Dokumentasi Karya Seni.......................................................................61

4.3.2.Pelestarian Cagar Budaya.....................................................................69

4.3.3.Pendidikan Seni.....................................................................................84

4.3.4.Posisi Seni dalam Kebijakan Pariwisata.................................................87

4.3.5.Hak Kekayaan Intelektual, Seni, dan Budaya........................................93

5.Kesimpulan dan Rekomendasi.............................................................................111

5.1.1.Kesimpulan..........................................................................................111

5.1.2.Rekomendasi ......................................................................................112

LAMPIRAN: DAFTAR PERATURAN TERIDENTIFIKASI.................................................114



Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan dilakukan

oleh PSHK, bekerjasama dengan DKJ, serta didukung oleh HIVOS, dengan

tujuan untuk mendapatkan gambaran umum peraturan-peraturan yang

dibuat oleh pemerintah Indonesia yang menyangkut kegiatan kesenian dan

kebudayaan. Selain untuk mendapatkan gambaran umum kebijakan

pemerintah melalui peraturan-peraturan terkait, diberikan juga ulasan

beberapa isu aktual dalam dunia seni dan budaya di Indonesia, berangkat

dari analisa atas peraturan-peraturan tersebut.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 2

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









1.Pendahuluan





Tsze-lu said, "The ruler of Wei has been waiting for you, in order with you to

administer the government. What will you consider the first thing to be done?"



The Master replied, "What is necessary is to rectify names."



"So! Indeed!" said Tsze-lu. "You are wide of the mark! Why must there be such

rectification?"



"If names be not correct, language is not in accordance with the truth of

things. If language be not in accordance with the truth of things, affairs

cannot be carried on to success.”

"When affairs cannot be carried on to success, proprieties and music do not

flourish. When proprieties and music do not flourish, punishments will not

be properly awarded. When punishments are not properly awarded, the

people do not know how to move hand or foot.”



(Confucius, The Analects, Section 13; Part 3)









Apabila sistem administrasi pemerintahan dapat dianggap sebagai

sumber dari segala aspek kehidupan di dalam masyarakat, maka

berkembangnya seni dan budaya dalam masyarakat tidak akan lepas

pula dari bekerjanya suatu sistem pemerintahan.



Bekerjanya sistem administrasi pemerintahan sendiri, seperti ujar-ujar

Confucius di atas, diawali dengan perbaikan pada penamaan – dengan

kata lain ada sistem yang tertata secara teratur dan dimengerti, serta

konsisten ditegakkan.



Sehubungan dengan kebijakan kebudayaan di Indonesia, peran

pemerintah – melalui pemberlakuan suatu aturan, juga dipandang

sebagai hal yang krusial oleh anggota komunitas dunia seni di

Indonesia.1 Tapi apa peran pemerintah selama ini?



Mungkin mudah untuk menarik kesimpulan bahwa “pemerintah tidak

berbuat apa-apa”, sebagaimana kesimpulan bahwa “pemerintah sudah

berusaha optimal”, namun ukuran yang dipakai untuk mengambil

kesimpulan ini tidaklah jelas. Karenanya, untuk dapat memetakan

peran pemerintah sehubungan dengan pengembangan sektor seni dan



1

Hal ini tidak hanya didukung dari proses perumusan kajian yang akan dijelaskan dalam

latar belakang kajian ini, tetapi juga sangat terlihat dari pendapat-pendapat dari komunitas

seni sendiri yang terlibat sebagai narasumber dalam penelitian ini.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 3

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





budaya di Indonesia, perlu ada penelaahan kebijakan pemerintah lebih

lanjut lagi. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan

menelusuri peraturan-peraturan yang menyangkut kegiatan kesenian

dan kebudayaan di Indonesia.



Sudut pandang di atas, yaitu pandangan yang terfokus pada penelitian

peraturan-peraturan (yang notabene berangkat dari peran

pemerintah), tidak harus diterjemahkan sebagai adanya dukungan

atau pembelaan terhadap suatu sistem pemerintahan yang terpusat

(sentralistis). Bagaimanapun juga, peran yang diambil pemerintah

akan selalu berpengaruh pada hak dan kewajiban warga negara, baik

berupa pengaruh positif, maupun pengaruh negatif. Sehingga,

pemetaan kebijakan melalui penelusuran dan penelaahan peraturan,

tidak selalu berarti menafikan peran masyarakat sendiri.



Dengan adanya pemetaan peraturan yang berhubungan dengan

kegiatan kesenian dan kebudayaan, justru diharapkan terbentuk

gambaran yang jelas mengenai peran pemerintah di Indonesia,

sekaligus ruang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kemajuan

kebudayaan nasional adalah tanggungjawab negara dan semestinya

memberikan ruang yang lapang kepada masyarakat untuk

mengembangkan budayanya masing-masing. Hal tersebut telah diatur

secara jelas di dalam konstitusi.2



Sebagai sebuah norma konstitusi yang abstrak, kewajiban negara

tersebut tentu masih harus diwujudkan oleh pemerintah dalam suatu

kebijakan yang bersifat lebih konkrit. Yang menjadi pertanyaan

kemudian adalah bagaimana norma tersebut diwujudkan. Pertanyaan

inilah yang akan dijawab oleh penelitian ini.



Selanjutnya, sebagaimana sudah dipaparkan sebelumnya, bahwa ada

hubungan yang tak terpisahkan antara peran pemerintah (pengambil

kebijakan) untuk mengatur dan posisi warga negara yang akan terkena

pengaruh dari peraturan yang ditetapkan. Dengan demikian, selain

menelusuri dan menelaah peraturan yang ada, perlu digali pula

pengalaman dari pegiat dan pemerhati seni sendiri, sehubungan

dengan peraturan-peraturan (yang dimaksudkan) mengatur kegiatan-

kegiatan yang akan mereka lakukan.





2

Pasal 32 ayat 1: “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban

dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan

nilai-nilai budayanya.” Selain aturan tersebut, menurut pasal 28C ayat (1) diatur pula

tanggungjawab negara untuk menjamin hak setiap warga negara untuk mengembangkan

diri, termasuk di bidang seni dan budaya: “Setiap orang berhak mengembangkan diri

melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh

manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan

kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan manusia.”

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 4

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Menurut hemat kami, hal ini tak kalah penting, karena implementasi

(pelaksanaan) suatu aturan di lapangan, tidak dapat diukur hanya dari

daftar peraturan perundangan yang ada. Pengalaman pihak yang

berhubungan langsung dengan bidang kehidupan yang diatur itulah

yang justru dapat menjadi gambaran nyata pelaksanaan suatu

peraturan.



Untuk itu, selain menelusuri dan menelaah peraturan-peraturan yang

berkaitan dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan, maka dilakukan

pula serangkaian wawancara dengan pegiat dan pemerhati seni

(narasumber) untuk membandingkan antara data normatif (peraturan),

dengan kenyataan di lapangan. Wawancara dengan narasumber

tersebut juga dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kendala

yang dihadapi atau harapan yang dimiliki oleh pemangku kepentingan

sendiri, sehubungan dengan peraturan-peraturan yang berkaitan

dengan kehidupan mereka.

1.1.1.Latar Belakang Kajian



Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan

berawal dari advokasi yang diberikan oleh PSHK (Pusat Studi Hukum

dan Kebijakan Indonesia) kepada beberapa anggota komunitas seni di

bawah koordinasi DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), sehubungan dengan

diundangkannya Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) yang

baru pada tahun 2008 (UU No. 36/2008).3



Dalam UU No. 36/2008, meskipun elemen pemberian insentif untuk

sektor-sektor tertentu (non-komersial) sudah mulai dimasukkan,

namun baru sebatas ditujukan kepada lembaga-lembaga pendidikan,

penelitian, dan pengembangan.4 Selain itu, insentif berupa

pemotongan penghasilan bruto, baru mencakup sumbangan untuk

bencana alam, sumbangan sosial, sumbangan untuk penelitian,

pengembangan dan pendidikan.5 Sumbangan untuk sektor seni dan

budaya, ternyata tidak masuk ke dalam kategori tersebut.



Perjuangan untuk menambahkan pemberlakuan insentif pada sektor

seni dan budaya belum membuahkan hasil nyata. Alasan pemerintah

untuk menolak memasukkan komponen tersebut, karena proses

perumusan undang-undang yang telah selesai dan tinggal menunggu









3

Pemberitaan di media, antara lain, dapat dilihat di artikel “Wapres Setuju Insentif Pajak

Untuk Kesenian”, www.kompas.com, 12 September 2008.

4

Lihat pasal 4 ayat (3) huruf m UU No. 36/2008.

5

Lihat pasal 6 ayat 1 UU No. 36/2008.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 5

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





penetapan.6 Meskipun begitu, pemerintah menjanjikan akan mengatur

hal tersebut di dalam peraturan pemerintah (PP).



Sebelumnya, beberapa anggota komunitas dunia film, telah

mengajukan uji konstitusional terhadap UU No. 8/1992 tentang

Perfilman.7 Uji konstitusional tersebut diajukan karena adanya

penolakan terhadap sistem sensor melalui Lembaga Sensor Film (LSF)

yang dipandang oleh para pemohon telah melanggar hak-hak

konstitusionalnya (hak untuk mengembangkan diri).



Meskipun permohonan tersebut akhirnya tidak dikabulkan, Mahkamah

Konstitusi berpendapat bahwa aturan mengenai Lembaga Sensor Film

tersebut “sudah tidak sesuai dengan semangat zamannya”.8 Menurut

Mahkamah Konstitusi lebih lanjut lagi: “sangat mendesak untuk

dibentuk undang-undang perfilman yang baru yang lebih sesuai

dengan semangat demokratisasi dan penghormatan terhadap HAM”.9



Lepas dari hasil dari usaha-usaha yang telah diperjuangkan oleh

komunitas seni tersebut di atas, hal yang mulai menarik digarisbawahi

adalah bangkitnya kesadaran dan kepedulian dari komunitas seni

untuk menuntut hak-haknya sebagai warga negara. Dari kesadaran

dan kepedulian ini pula, PSHK atas permintaan DKJ dan didukung oleh

HIVOS mengambil inisiatif untuk melangkah lebih jauh lagi (tidak

terbatas pada pembahasan masalah insentif pajak dan perfilman),

dengan melakukan penelitian yang terfokus pada penulusuran dan

penelaahan peraturan-peraturan perundangan yang menyangkut

kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia.



Di samping kajian kerangka hukum ini, PSHK juga akan melakukan

kajian khusus di bidang perfilman sebagai tindak lanjut dari Putusan

MK No. 29/PUU-V/2007 yang mengamanatkan pembentukan undang-

undang perfilman baru, serta kajian khusus mengenai status hukum

DKJ. Karenanya, meskipun dua topik tersebut sangat menarik untuk

dibahas, namun topik-topik tersebut tidak akan dibicarakan panjang

lebar di sini.

1.1.2.Metodologi



Kajian kerangka hukum mulai kami lakukan dengan cara mendata

semua peraturan perundangan terkait kegiatan kesenian dan

kebudayaan di Indonesia. Sebuah kajian kerangka hukum, idealnya

6

Komentar anggota Komisi XI (bidang keuangan dan perbankan), Drajad Hari Wibowo yang

saat itu menyalahkan komunitas seni sendiri yang tidak pro aktif memperjuangkan usulan

ini sedari awal. “Seniman Minta Insentif Pajak”, www.hukumonline.com, 21 Agustus 2008.

7

Lihat Putusan MK No. 29/PUU-V/2007.

8

Ibid.

9

Ibid.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 6

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





dapat menyajikan gambaran yang utuh tentang peraturan

perundangan dari level paling tinggi sampai level paling rendah. Data

tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam klasifikasi-klasifikasi

tertentu, jika nantinya ada klasifikasi tertentu yang muncul, untuk

melihat strategi kebijakan yang diambil oleh pemerintah.



Meskipun terdengar sederhana, dalam melaksanakan Kajian Kerangka

Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan, kami menghadapi

beberapa tantangan, baik teknis maupun substantif.



Pertama, ada permasalahan definisi yang harus lebih dulu ditetapkan

tentang apa yang dapat dikategorikan sebagai “kegiatan kesenian dan

kebudayaan”. Definisi “kesenian” dan “kebudayaan” itu sendiri dapat

berarti sangat luas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata

“kesenian” berarti “perihal seni; keindahan”, sedangkan kata

“kebudayaan” berarti “hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi)

manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat; keseluruhan

pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk

memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi

pedoman tingkah lakunya”.10



Dari penjabaran definisi-definisi tersebut di atas (terutama definisi

tentang “kebudayaan” yang dapat meliputi segala aspek kehidupan

manusia) yang hampir mustahil untuk ditetapkan, maka kami mencoba

untuk memulai penelusuran peraturan dengan menggunakan kata

kunci “seni” dan “budaya”.



Penggunaan metode ini tentu mengandung kelemahan, karena tidak

semua peraturan yang menyangkut kegiatan kesenian dan

kebudayaan berjudul atau setidaknya memuat kata “seni” dan/atau

“budaya”, seperti misalnya Undang-Undang Perfilman. Untuk

mengantisipasi kelemahan tersebut, kami mencoba untuk menelusuri

sendiri hal-hal yang termasuk ke dalam kegiatan kesenian dan

kebudayaan, seperti misalnya aturan tentang perfilman tersebut.

Selain itu, kami juga mengadakan pertemuan secara rutin dengan

pihak DKJ, selain mengadakan wawancara dengan para pegiat dan

pemerhati seni. Paling tidak, dari pengalaman anggota komunitas seni

di lapangan, kami berharap kelemahan tersebut dapat diminimalisir.



Kendala kedua yang kami hadapi dalam melakukan penelitian adalah

keterbatasan sumber data yang dapat digunakan. Sudah menjadi

rahasia umum, bahwa belum ada lembaga pemerintahan di Indonesia

yang dapat menjalankan sistem administrasi yang baik, termasuk

sehubungan dengan pengumpulan dan penyediaan produk-produk

10

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed. 3, cet. 3, Jakarta:

Balai Pustaka, 2005.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 7

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





peraturan. Sehingga, dalam penelitian ini, kami mengambil inisiatif

untuk menggunakan sumber data kami sendiri yang berisi produk-

produk peraturan di Indonesia.11 Artinya, data peraturan yang berhasil

kami kumpulkan, tidak dapat dikatakan telah ditelusuri dan disaring

dari semua produk peraturan yang ada di Indonesia.



Terakhir, ada kendala subtantif sehubungan dengan pemetaan

kerangka hukum ini, sehubungan dengan konsistensi bentuk peraturan

yang dikaji. Kerangka hukum yang kami telusuri dan telaah, meliputi

peraturan-peraturan yang dibuat dalam sistem-sistem pemerintahan

yang berbeda, dengan bentuk yang berbeda-beda pula.12 Pengesahan

perjanjian kerjasama bilateral, misalnya, dilakukan dengan penetapan

undang-undang (masa demokrasi konstitusional), keputusan Presiden

(masa Orde Baru hingga diundangkannya UU No. 10/2004), serta

peraturan Presiden (pasca diundangkannya UU No. 10/2004).



Menyadari bahwa permasalahan ini juga pasti akan terjadi pada

penelitian-penelitian kerangka hukum lainnya atau dengan kata lain

memang masih ada permasalahan keselarasan peraturan

perundangan di Indonesia, maka kami tetap mendaftar semua bentuk

peraturan tersebut dan menganggapnya setara dengan peraturan

sejenis menurut aturan terbaru. Untuk pengesahan perjanjian

kerjasama bilateral, misalnya, kami anggap bahwa peraturan-

peraturan tersebut ada pada level Peraturan Presiden.



Dalam penelitian ini kami juga mengumpulkan beberapa peraturan

daerah terkait kegiatan kesenian dan kebudayaan. Untuk hal ini, kami

menggunakan situs perdaonline (www.perdaonline.org) yang telah

memuat peraturan-peraturan daerah di beberapa daerah di Indonesia.

Meskipun dari segi kelengkapan tetap dapat dipertanyakan, dengan

adanya beberapa contoh pengaturan oleh pemerintah daerah

menyangkut kegiatan kesenian dan kebudayaan, kami berharap dapat

memperoleh gambaran tentang kondisi di daerah.



11

Sumber data tersebut berada di bawah pengelolaan Dan Lev Law Library dan selama ini

dijadikan pendukung penelitian-penelitian yang dilakukan oleh PSHK. Kumpulan peraturan

tersebut memuat sekitar 6600 data peraturan perundangan dari tahun 1946, meliputi

produk undang-undang hingga instruksi presiden.

12

Peraturan tertua yang teridentifikasi ditetapkan pada tahun 1953 (masa demokrasi

konstitusional). Sesudah masa demokrasi konstitusional yang secara formil berakhir pada

tahun 1959, Indonesia mengalami masa pemerintahan demokrasi terpimpin (Orde

Lama/1959-1966), demokrasi Pancasila (Orde Baru/1966-1998), dan terakhir masa reformasi

(1998-sekarang). Harmonisasi peraturan terbaru ditetapkan pada tahun 2004 (UU No.

10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan), meskipun baru pada tahap

normatif – dalam arti belum jelas status peraturan-peraturan yang terbit sebelum undang-

undang tersebut . Meskipun beberapa data berasal dari pemerintahan demokrasi

konstitusional atau Orde Lama, fokus penelitian ini (berdasar data yang berhasil ditemukan)

terfokus pada masa Orde Baru dan masa reformasi.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 8

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Dengan adanya berbagai kendala di atas, penelitian kajian kerangka

hukum yang mungkin akan ideal dilakukan dengan menggunakan

metode kwantitatif, sehingga dapat memetakan sebuah struktur yang

utuh, dalam penelitian ini hanya dapat dilakukan terbatas pada

sumber data yang kami miliki. Namun demikian, menurut hemat kami

metode ini tetap penting, untuk membangun basis data peraturan

terkait kegiatan kesenian dan kebudayaan.



Untuk mengantisipasi kelemahan-kelemahan analisa yang mungkin

timbul dengan penggunaan metode kwantitatif terbatas ini, selain

karena beberapa informasi memang tidak mungkin ditemukan dalam

peraturan itu sendiri (misalnya mengenai implementasi dan konteks

sosial politik peraturan-peraturan tersebut), kami mencoba untuk

menggunakan juga metode kwalitatif.



Metode kwalitatif kami praktekkan melalui wawancara mendalam

dengan para pegiat dan pemerhati seni untuk menggali dan

mendalami isu-isu tertentu dalam dunia seni sendiri. Selain itu, untuk

memperjelas konteks sosial politik peraturan yang kami analisa, kami

menggunakan disertasi yang pernah ditulis oleh Tod Jones mengenai

kebijakan kebudayaan di Indonesia.



Dari informasi-informasi yang kami dapatkan tersebut, baik dari

penelusuran dari sumber data peraturan, maupun wawancara, baru

kami mencari lebih lanjut peraturan-peraturan pada level yang lebih

konkrit (misalnya Keputusan Menteri) untuk isu-isu tertentu yang

menonjol. Sehingga, data yang kami kumpulkan dan analisa, sebagian

besar meliputi produk perundangan berupa undang-undang atau

peraturan pemerintah.



1.1.3.Sumber Data dan Narasumber



Seperti sudah disebutkan di atas, kami menggunakan sumber data

peraturan perundangan Dan Lev Law Library yang setidaknya berisi

6600 peraturan dari tahun 1946. Untuk peraturan-peraturan daerah

kami juga melakukan penelusuran melalui situs perdaonline. Di

samping itu, kami menggunakan sumber-sumber yang dapat

ditemukan melalui internet berdasarkan pendalaman beberapa isu,

maupun peraturan-peraturan yang kami temukan dari studi literatur

dan informasi dari narasumber atau pihak DKJ.



Pemilihan narasumber kami lakukan secara acak, sesuai dengan topik-

topik (klasifikasi-klasifikasi) peraturan teridentifikasi, serta informasi

dari pihak DKJ. Narasumber yang berhasil kami wawancarai dalam

penelitian ini adalah:





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 9

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





- Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI (1999-2001).

- Biantoro, pemilik dan pengelola Nadi Gallery.

- Dolorosa Sinaga, perupa, pemimpin redaksi majalah budaya batak

“Tapian”.

- Endo Suanda, etnomusikolog, aktif di Lembaga Pendidikan Seni

Nusantara.

- Ismid Hadad, ketua Perhimpunan Filantropi Indonesia.

- John McGlynn, pemerhati budaya Indonesia, aktif di Yayasan Lontar.

- Ratna Sarumpaet, sutradara teater, mantan ketua Dewan Kesenian

Jakarta (2003-2006).

- Seno Gumira Ajidarma, penulis, dosen pada Institut Kesenian

Jakarta.

- Sita Laretna Adishakti, dosen pada Universitas Gajah Mada, aktif di

Badan Pelestarian Purbakala Indonesia.

- Suhadi Hadiwinoto, arsitek, aktif di Badan Pelestarian Purbakala

Indonesia.

- Tita Rubi, perupa.

- Rohana Manggala, mantan Asisten Kesejahteraan Masyarakat

(Askesmas) Pemda DKI Jakarta.



Tanpa adanya bantuan masukan yang sangat berharga dari para

narasumber tersebut, mustahil kami dapat memahami sektor seni dan

budaya di Indonesia, hanya dengan melihat peraturan perundangan

yang ada. Kami juga telah meminta pihak otoritas (Departemen

Kebudayaan dan Pariwisata) untuk diwawancarai sejak awal penelitian

ini. Sayangnya, hingga waktu penelitian ini berakhir, wawancara tidak

terlaksana. Jawaban yang kami dapatkan, Departemen Kebudayaan

dan Pariwisata masih sibuk dengan permasalahan restrukturisasi

lembaga.



Selain masukan dari narasumber. Dalam penelitian kami, kami juga

terbantu dengan adanya penelitian-penelitian yang sebelumnya

dilakukan menyangkut kebijakan kebudayaan di Indonesia. Hasil-hasil

penelitian sebelumnya yang berhasil kami telusuri, berkaitan dengan

hal tersebut adalah:



- Haryati Soebadio, Cultural Policy in Indonesia (based on Annual

Reports of the Department of Education and Culture and material

of Centres and Directorates of the Directorate-General of

Culture), Unesco, 1985.

- Tim Peneliti LIPI, Kebijakan Kebudayaan di masa Orde Baru,

Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan

dan Kebudayaan-LIPI dengan the Ford Foundation, 2001.

- Tod Jones, Indonesian Cultural Policy, 1950-2003: Culture,

Institutions, Government, Thesis, Curtin University of

Technology, 2005.



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 10

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





- Helly Minarti & Alex Supartono, Pemetaan Pelaksanaan Program

Seni di Indonesia: Lima Studi Kasus (dokumen dapat diunduh di

www.inicp.net).



Seperti sudah disinggung sebelumnya, secara khusus kami

menggunakan disertasi Tod Jones sebagai referensi untuk memperjelas

konteks sosial dan politik dibuatnya peraturan-peraturan yang

berkaitan dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia.

Dibandingkan dengan penelitian-penelitian lainnya, kelebihan disertasi

Tod Jones adalah adanya deskripsi yang cukup luas, meliputi sejarah

kebijakan kebudayaan, dinamika sosial politik dari masa ke masa.

Deskripsi semacam ini yang dibutuhkan oleh penelitian seperti kajian

kerangka hukum – yang mencoba untuk memberi gambaran utuh

kebijakan kebudayaan di Indonesia melalui pendekatan normatif.









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 11

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









2. Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan

Kebudayaan (Gambaran Umum)



Dalam Bab 2 ini akan dipaparkan hasil penelitian kajian kerangka

hukum untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan. Paparan ini

merupakan bacaan umum (global) atas hasil penelitian, sehingga

dapat memberikan informasi yang menyeluruh, meskipun tidak rinci

(terfokus pada suatu topik tertentu). Tujuannya adalah memberikan

gambaran umum dari kebijakan kebudayaan yang diambil pemerintah

dari masa ke masa, sekaligus penjelasan topik-topik yang diatur.



Dari hasil penelitian yang dipaparkan, akan dirumuskan beberapa

hipotesis. Karena baru merupakan hipotesis, maka belum dapat

diperlakukan seperti sebuah kesimpulan (baru merupakan data yang

perlu diverifikasi lagi). Hipotesis-hipotesis tersebut akan diverifikasi

lagi di dalam Bab 3 dengan mengaitkan sumber-sumber bacaan

tambahan yang dapat menjelaskan latar belakang dibuatnya kebijakan

tersebut. Sementara untuk pembahasan lebih mendalam, kami telah

menentukan beberapa isu pilihan yang akan dibahas lebih lanjut di

dalam Bab 4.



Untuk memahami data-data hasil penelitian yang akan dipaparkan

dalam Bab 2 ini, perlu ada pemahaman dasar mengenai jenis dan

hierarki peraturan di Indonesia. Menurut aturan terakhir yang

mengatur hal ini (UU No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan), jenis dan hierarki peraturan perundang-

undangan adalah sebagai berikut :13



a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-

Undang;

c. Peraturan Pemerintah;

d. Peraturan Presiden;

e. Peraturan Daerah.



Undang-Undang No. 10/2004 memang hanya mengatur secara lugas

peraturan-peraturan tersebut di atas. Meskipun begitu, beberapa

peraturan peraturan lain diakui, selama didasarkan kepada peraturan

yang lebih tinggi.14







13

Pasal 7 ayat (1) UU No. 10/2004.

14

Pasal 7 ayat (4) UU No. 10/2004 beserta penjelasannya.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 12

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Perlu dipahami juga bahwa rentang waktu yang ditelusuri dalam

penelitian ini meliputi beberapa struktur pemerintahan yang berbeda,

dengan struktur peraturan perundangan yang berbeda pula. Untuk

menghindari kebingungan dalam pembacaan data hasil penelitian,

perlu diperhatikan peta berikut ini:









Skema 2.1. Jenis dan Hierarki Peraturan Yang Teridentifikasi



Dari tabel di atas, hanya peraturan-peraturan dalam kotak-kotak

berwarna abu-abu saja (UUD, UU, PP, Perpres, dan Perda) yang diatur

secara eksplisit (jenis dan hierarkinya) dalam UU No. 10/2004.

Beberapa peraturan lain (Peraturan Menteri, Keputusan Gubernur,

Keputusan Walikota) disebut dalam penjelasan pasal 7 ayat (4) UU No.

10/2004 dengan syarat diperintahkan oleh undang-undang di atasnya,

walau penyebutan ini tidak menjelaskan hierarki peraturan-peraturan

tersebut.



Khusus untuk Keputusan Kepala Daerah (Gubernur atau Walikota)

telah diatur pula oleh UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah, bahwa peraturan seperti ini merupakan peraturan pelaksana

Perda dan tidak boleh bertentangan, antara lain, dengan Perda.15







15

Pasal 146 ayat (2) UU No. 32/2004.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 13

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Peraturan-peraturan berupa Keputusan Presiden, Instruksi Presiden,

dan Instruksi Menteri yang ditemukan dalam penelusuran kami,

berasal dari rezim peraturan sebelum diundangkannya UU No.

10/2004. Setelah adanya undang-undang tersebut, pengesahan

perjanjian kerjasama bilateral yang tadinya diatur dengan Keputusan

Presiden, diatur dengan menggunakan Peraturan Presiden, karena

pengaturannya yang bersifat umum.16



2.1.1.Hasil Penelitian



Dari hasil penelusuran yang kami lakukan selama periode Desember

2008 – Maret 2009, berhasil terkumpul 108 peraturan. Dari sekian

banyak peraturan tersebut, kami membuat pengelompokan

berdasarkan jenis peraturan, klasifikasi peraturan, dan tahun

ditetapkan.



Jenis Peraturan



Untuk jenis peraturan, ada 10 (sepuluh) jenis peraturan yang dapat

kami telusuri, yaitu Undang-Undang (UU), Peraturan Pemerintah (PP),

Peraturan Presiden (Perpres), Keputusan Presiden (Keppres), Instruksi

Presiden (Inpres), Peraturan Menteri (Permen), Instruksi Menteri

(Irmen), Peraturan Daerah (Perda), Keputusan Gubernur (Kepgub), dan

Keputusan Walikota (Kepwali).









Tabel 2.1.1. Jenis Peraturan Yang Teridentifikasi





16

Pengaturan bersifat umum diatur dengan menggunakan Peraturan dan pengaturan yang

bersifat khusus diatur dengan menggunakan Keputusan Presiden. Lihat juga Pasal 56 UU No.

10/2004.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 14

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Klasifikasi Peraturan



Untuk klasifikasi peraturan, setidaknya terdapat 20 (dua puluh) isu

yang berhasil kami petakan dari peraturan-peraturan yang ada. Di

bawah ini daftar dua puluh klasifikasi tersebut, berikut penjelasan

klasifikasi yang kami buat. Dari peraturan yang ada, bisa juga

dipisahkan antara peraturan yang memang secara khusus ditujukan

untuk mengatur kegiatan kesenian dan kebudayaan, maupun

peraturan – yang meskipun tidak ditujukan secara khusus, namun

memiliki dampak pada kegiatan kesenian dan kebudayaan.









Tabel 2.1.2. Klasifikasi Peraturan Yang Teridentifikasi



Klasifikasi peraturan-peraturan yang secara langsung ditujukan untuk

sektor seni dan budaya:



• Adat Budaya

o Budaya daerah atau etnis tertentu di Indonesia yang

diatur secara khusus dalam suatu peraturan. Dalam

penelitian ini ditemukan aturan mengenai pencabutan

pengaturan adat kebudayaan etnis Tionghoa dan Qanun

(peraturan daerah) yang mengatur tentang Kebudayaan

Aceh.

• Penghargaan Seni

o Penghargaan yang diberikan oleh pemerintah dalam

bentuk tanda jasa atau hadiah kepada warga negara

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 15

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





yang dianggap berjasa dalam pengembangan seni dan

atau budaya di Indonesia. Pada prinsipnya hadiah yang

khusus ditujukan untuk kegiatan kesenian sendiri diatur

di masa Orde Lama. Untuk pengaturan sesudahnya

lebih mengatur kegiatan kebudayaan yang sifatnya

lebih umum.

• Birokrasi

o Aturan yang berhubungan dengan struktur lembaga

pemerintahan yang berhubungan dengan kegiatan

kesenian dan kebudayaan di Indonesia, antara lain

keputusan presiden yang mengatur pembentukan

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun

2003.

• Cagar Budaya

o Perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

• Dewan Kesenian

o Aturan yang berhubungan dengan dasar hukum

pembentukan dewan-dewan kesenian di Indonesia.

• Dokumentasi

o Usaha pemerintah untuk membuat dokumentasi atas

karya-karya yang dibuat di Indonesia atau oleh warga

negara Indonesia, meskipun mungkin motif politik

pemerintah sendiri masih dapat diperdebatkan. Kami

memilih klasifikasi dokumentasi sebagai sebuah

klasifikasi yang netral, dengan tidak menutup

kemungkinan adanya perdebatan mengenai motif

politik pemerintah di balik itu. Pada prakteknya aturan

ini tidak berjalan efektif.

• Film

o Semua aturan yang berhubungan dengan film,

termasuk aturan mengenai sensor dan penyelesaian

sengketa di dalamnya.

• Kerjasama Bilateral Kebudayaan

o Peraturan yang berisi pengesahan perjanjian kerjasama

bilateral kebudayaan Republik Indonesia dengan negara

sahabat. Isi perjanjian itu sendiri biasanya dicantumkan

di dalam lampiran pengesahan perjanjian tersebut.

Sayangnya, dalam penelitian kami, sebagian besar

lampiran perjanjian-perjanjian tersebut tidak dapat

ditemukan.

• Pajak/Retribusi Daerah

o Peraturan yang menyangkut pajak/retribusi daerah

adalah peraturan-peraturan daerah mengenai pajak dan

retribusi untuk hiburan. Dalam hal ini, kegiatan-kegiatan

kesenian dapat dikategorikan sebagai obyek pajak.



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 16

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





• Pariwisata

o Peraturan-peraturan yang menyangkut pengembangan

pariwisata.

• Pendidikan Seni

o Pengaturan mengenai pendidikan seni sebagian besar

berupa dasar hukum pembentukan institut-institut seni

di Indonesia (bersifat institusional).

• Penyiaran

o Peraturan-peraturan yang menyangkut penyiaran,

terutama peran dan tugas televesi dan radio negara.

• Perjanjian Internasional

o Meskipun sama-sama berupa kebijakan luar negeri,

perjanjian internasional dibedakan dengan perjanjian

bilateral, karena biasanya tidak hanya menyangkut

perjanjian antara dua negara saja. Selain itu, isi

perjanjian tersebut bersifat lebih spesifik untuk hal-hal

tertentu.

• Perpustakaan

o Pengaturan mengenai perpustakaan dapat dipandang

sebagai bagian dari kebijakan kebudayaan. Hal ini

paling tidak tampak dari usaha pemerintah untuk

membuat sistem dokumentasi nasional yang sedianya

ditempatkan di perpustakaan nasional dan

perpustakaan daerah (lihat penjelasan tentang

Dokumentasi di atas).



Klasifikasi peraturan-peraturan yang memiliki dampak pada kegiatan

kesenian dan kebudayaan:



• Fiskal

o Pada intinya aturan mengenai fiskal (lalu lintas barang

masuk dan keluar dari wilayah Indonesia). Namun

demikian, kami juga memasukkan beberapa peraturan

tentang perpajakan ke dalam klasifikasi ini. Dalam

peraturan-peraturan tersebut ada beberapa

perkecualian untuk kegiatan kesenian.

• Hak atas Kekayaan Intelektual

o Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) tidak ditujukan

secara khusus untuk pengaturan kegiatan kesenian

atau kebudayaan. Dalam prakteknya, peraturan-

peraturan tersebut menjadi relevan untuk kegiatan

kesenian dan kebudayaan, antara lain dengan adanya

pengakuan hak cipta.

• Hak Asasi Manusia





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 17

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





o Relevansi Hak Asasi Manusia dengan kegiatan kesenian

dan kebudayaan, terutama berhubungan dengan

adanya jaminan kebebasan berekspresi.

• Industri

o Industri kecil dipandang sebagai peluang untuk

mengembangkan seni sebagai karya inovatif yang

memiliki nilai ekonomis.

• Otonomi Daerah

o Adanya otonomi daerah, secara tidak langsung sangat

mempengaruhi kebijakan kebudayaan, karena

pengambilan keputusan dan kewenangan yang

didelegasikan ke daerah.

• Pornografi

o Pengaturan pornografi dalam konteks kegiatan kesenian

dan kebudayaan sebenarnya berhubungan dengan isu

kebebasan berekspresi. Namun karena sifatnya yang

lebih khusus – bahkan masih dapat diperdebatkan, kami

sengaja membuat klasifikasi terpisah.



Tahun Ditetapkan



Untuk tahun penetapan peraturan bersangkutan, kami juga menemui

beberapa fakta menarik, yaitu masa-masa di mana pengaturan

menyangkut kegiatan kesenian dan kebudayaan sedang marak-

maraknya. Hal ini dapat dilihat dari periode penetapan yang

ditunjukkan oleh tabel di bawah ini.









Tabel 2.1.3. Periode Penetapan Peraturan Yang Teridentifikasi



Dari gambaran tabel di atas, bisa kita lihat bahwa terdapat dua periode

yang cukup menonjol, yaitu periode 1991-1995 dan sekitar waktu itu



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 18

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





(selanjutnya disebut Periode I) dan periode 1999-2008 dan sekitar

waktu itu (selanjutnya disebut Periode II). Periode-periode tersebut – di

saat jumlah peraturan yang ditetapkan terlihat cukup mencolok,

menunjukkan bahwa ada aktivitas pemerintah yang cukup signifikan

berkaitan dengan pengaturan kegiatan kesenian dan kebudayaan di

Indonesia.



Di samping itu, dari grafik tersebut, juga terlihat adanya

kecenderungan peningkatan jumlah peraturan yang ditetapkan dari

tahun ke tahun.

2.1.2.Hipotesis



Berdasarkan hasil pengelompokan data penelitian sebagaimana telah

dipaparkan di atas, dapat dibuat beberapa hipotesis atau dugaan,

sebelum dapat diperdalam lagi. Pendalaman akan dijelaskan pada Bab

3 laporan ini, setelah memperhitungkan konteks sosial politik yang

melatarbelakangi pengambilan kebijakan tersebut. Hipotesis-hipotesis

yang akan kami sampaikan di bawah ini, murni berdasar pada data-

data yang kami temukan.



Hasil bacaan berdasarkan jenis peraturan yang teridentifikasi



Hipotesis 1: terlihat kecenderungan pengaturan yang terfokus

pada level pengaturan pada tataran abstrak (didominasi oleh

UU, PP, dan Keppres).









Diagram 2.2.1. Jenis Peraturan Yang Teridentifikasi



Dari data jenis peraturan yang teridentifikasi, nampak jelas bahwa

sebagian besar peraturan (produk kebijakan) berupa UU, PP, dan



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 19

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Keppres. Ini menunjukkan adanya indikasi pengaturan hanya pada

tataran abstrak saja, serta tidak disertai pertimbangan implementasi

aturan tersebut.



Pertama-tama, harus diakui, bahwa dengan adanya sumber data

terbatas yang kami pakai (yang hanya berisi aturan di level UU hingga

Inpres), maka hasil penelitian ini didominasi oleh peraturan-peraturan

di level abstrak saja. Meskipun demikian, apabila kita mencoba untuk

melihat lebih lanjut lagi dalam beberapa topik tertentu, maka memang

terdapat beberapa indikasi yang menunjukkan kecenderungan

tersebut.



Yang pertama adalah mengenai pengaturan tentang dokumentasi

karya seni yang diatur dengan UU No. 4/1990 tentang Serah Simpan

Karya Cetak dan Karya Rekam. Pelaksanaan serah simpan tersebut

baru diatur sampai level PP. Pada kenyataannya tidak ada aturan yang

mengatur tugas dan tanggungjawab pelaksana sendiri (perpustakaan

nasional dan perpustakaan daerah) dalam pengelolaan karya yang

diserahsimpankan. Sehingga tidak aneh apabila peraturan tersebut

tidak efektif.17



Pada tahun 2006, di Jakarta justru muncul Perda yang menyerahkan

penanggungjawaban pengelolaan kepada Gubernur (Perda DKI Jakarta

No. 6/2006 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam).

Padahal, sesuai dengan aturan di atasnya, masalah ini sebenarnya

menjadi tugas dan tanggungjawab Kepala Perpustakaan Nasional.18



Contoh ke dua adalah pengaturan mengenai pengesahan kerjasama

bilateral kebudayaan. Pengaturan mengenai hal ini terbukti paling

banyak teridentifikasi dalam penelitian kami (total 18 peraturan).

Meskipun demikian, pada kenyataannya tidak semua kerjasama

kebudayaan dilanjutkan dengan tindakan konkrit. Bahkan, tidak semua

lampiran pengesahan yang memuat isi perjanjian mudah untuk

didapatkan. Dari data penelusuran kami sendiri, salah satu perjanjian

kerjasama bilateral yang disahkan, telah batal karena melewati jangka

waktu, tanpa ada tindak lanjut yang nyata atas kerjasama tersebut.19



Hasil bacaan berdasarkan klasifikasi peraturan yang paling banyak

muncul



17

Pembahasan lebih lanjut mengenai topik dokumentasi tersebut dapat dilihat pada Bab 4.

18

Lihat pasal 15 dan pasal 22 PP No. 70/1991. Kami menduga otonomi daerah dan

perubahan struktur perpustakaan (dulu perpustakaan daerah ada di bawah kendali

perpustakaan nasional) mempengaruhi hal ini. Bagaimanapun juga, kalaupun ternyata itu

terjadi, tidak ada antisipasi pengaturan yang dilakukan oleh pemerintah untuk memastikan

efektivitas peraturan tersebut pada tataran implementasi.

19

Lihat Keppres No. 70/2000 tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Kuba mengenai kerjasama kebudayaan yang berlaku selama 5 (lima)

tahun dengan kemungkinan diperpanjang.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 20

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Hipotesis 2: terlihat kecenderungan pengaturan yang bersifat

formil (tidak tertuju pada pemecahan suatu masalah atau

usaha untuk mewujudkan ide tertentu).









Tabel 2.2.2. Klasifikasi Peraturan Yang Teridentifikasi Lebih Dari 10

(Sepuluh) Peraturan



Hipotesis 2 ini masih berhubungan dengan hipotesis 1 di atas.

Pengaturan yang hanya ada di level abstrak, dengan sendirinya tidak

akan menjangkau permasalahan hingga level implementasi. Hal ini

mungkin saja disebabkan karena pembentukan peraturan itu sendiri

tidak berangkat dari suatu masalah tertentu – sehingga pada akhirnya

juga menjadi tidak penting apakah hal yang diatur di dalam peraturan-

peraturan tersebut terwujud ataupun tidak. Bisa juga, peraturan-

peraturan tersebut telah didasari oleh suatu masalah tertentu yang

ingin dipecahkan, namun tidak disertai dengan pertimbangan atau

tindak lanjut dari ditetapkannya peraturan tersebut.



Yang jadi pertanyaan kemudian, apa sebenarnya yang menjadi

maksud pembuat kebijakan dalam menentukan aturan tersebut?

Apakah kebijakan tersebut diambil memang untuk pengembangan

kegiatan kesenian dan kebudayaan Indonesia? Mengapa tidak ada

tindak lanjut? Untuk menjawab hal ini secara tepat, sebaiknya kita

melihat aturan-aturan tersebut itu sendiri. Hal ini pula yang akan

diperjelas di dalam Bab 4 nanti – yang antara lain juga akan

membahas pengaturan mengenai dokumentasi karya seni.



Bagaimanapun juga, dari bacaan umum yang bisa kita dapatkan dari

beberapa klasifikasi peraturan yang banyak muncul, terlihat beberapa

fakta yang menunjukkan adanya kecenderungan pengaturan yang

bersifat formil (tidak tertuju pada pemecahan suatu masalah atau

usaha mewujudkan suatu ide tertentu).



Kerjasama bilateral, misalnya, banyak dijumpai pada masa-masa awal

pemerintahan suatu rezim tertentu. Pemerintah Orde Baru terlihat

menonjol pada masa awal 70-an. Sedang pada masa reformasi terlihat

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 21

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





giatnya pemerintahan Abdurrahman Wahid mengesahkan kerjasama

bilateral kebudayaan (5 peraturan dalam waktu satu tahun). Dalam hal

ini, motif politik untuk menjalin hubungan luar negeri pemerintah

bersangkutan dengan pemerintah negara lain mungkin berperan besar

dalam pengambilan keputusan, meskipun tak menutup kemungkinan

ada motif pemerintah untuk menghapus hegemoni kebudayaan

tertentu di Indonesia.20

Tahun Jumlah Kerjasama

Ditetapkan Bilateral



1959 1

1968 1

1970 1

1971 1

1972 1

1974 1

1975 1

1980 1

1989 1

2000 5

2002 1

2004 1

2005 1

2007 1

Total 18



Tabel 2.2.3. Pengesahan Perjanjian Kerjasama Bilateral Kebudayaan

dari Tahun ke Tahun



Selain kerjasama bilateral, pajak/retribusi daerah menempati posisi

yang cukup menonjol, terutama pada awal tahun 2000-an. Data yang

kami kumpulkan inipun belum mencakup data seluruh Perda di

Indonesia. Maraknya pengaturan ini hampir pasti disebabkan oleh

pemberlakuan otonomi daerah (UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan

Daerah), sehingga membuat pengambilan keputusan (kebijakan) di

daerah menjadi lebih aktif. Hal ini berlaku, tanpa kecuali, untuk

pengaturan mengenai pajak/retribusi hiburan. Uniknya, pengaturan

mengenai pajak masih cenderung seragam, sehingga belum nampak

ada rasio obyektif yang dipakai sebagai patokan pengaturan tersebut.

Sehingga, belum terlihat bagaimana instrumen ini digunakan oleh

pemerintah sebagai sebuah strategi dalam pengembangan kegiatan

kesenian dan kebudayaan. Topik ini akan dikaji lebih dalam lagi dalam

Bab 4 nanti.



20

Wawancara Abdurrahman Wahid (13 Maret 2009).

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 22

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Klasifikasi berikutnya yang juga sering muncul adalah menyangkut

peraturan fiskal (12 peraturan). Pengaturan permasalahan fiskal

sebenarnya tidak ditujukan secara khusus untuk mengatur kegiatan

kesenian dan kebudayaan. Peraturan-peraturan ini lebih merupakan

kebijakan keuangan yang untuk beberapa hal memang akan

berdampak kepada kegiatan kesenian, seperti misalnya bea yang

dikenakan untuk pengadaan pameran di luar negeri. Sehingga,

meskipun bukannya tidak menarik untuk dibahas secara praktis

(pengetahuan mengenai hal ini akan sangat bermanfaat bagi para

seniman), namun secara umum hal ini – sebagaimana peraturan

mengenai pajak/retribusi daerah, hanya baru menunjukkan belum

adanya penggunaan yang optimal dari instrumen ini untuk mendukung

pengembangan kegiatan kesenian dan kebudayaan. Topik ini juga

akan dibahas lagi secara lebih rinci di dalam Bab 4.



Seperti klasifikasi-klasifikasi sebelumnya, peraturan-peraturan yang

menyangkut pendidikan seni juga masih bersifat formil. Hal ini paling

tidak nampak dari adanya peraturan-peraturan yang terfokus pada

pembentukan sekolah seni dan penyesuaian lembaga tersebut dengan

sistem pendidikan nasional yang baru (UU No. 20/2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional). Sebagaimana topik-topik sebelumnya, topik ini

juga akan kami bahas lagi di dalam Bab 4.



Hasil bacaan tahun ditetapkannya peraturan-peraturan tersebut



Hipotesis 3: terlihat kecenderungan tindakan aktif pemerintah

pada periode 1991-1995 dan 1999-2008 yang ditujukan atau

dapat berdampak pada kegiatan kesenian dan kebudayaan di

Indonesia.









Tabel 2.2.3. Jumlah Peraturan dari Tahun ke Tahun



Dari keseluruhan data yang berhasil kami kumpulkan, terlihat adanya

lonjakan tajam jumlah peraturan teridentifikasi pada periode 1991-

1995 (Periode I) dan periode 1999-2008 (Periode II). Peningkatan



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 23

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





jumlah pengaturan tersebut menunjukkan kemungkinan adanya

tindakan aktif pemerintah pada periode tersebut sehubungan dengan

pengembangan kegiatan kesenian dan kebudayaan. Meskipun sama-

sama menunjukkan aktifnya peran pemerintah, sebenarnya terdapat

pula perbedaan yang cukup mendasar, dilihat dari isi peraturan-

peraturan yang teridentifikasi.



Untuk Periode I dan sekitar waktu itu terlihat sekali pengaturan yang

memang ditujukan secara spesifik untuk mengatur masalah seni dan

budaya di Indonesia seperti terlihat pada tabel berikut ini.









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 24

Nama Peraturan Jenis Peraturan Tahun Klasifikasi

Ditetapkan

UU No. 4/1990 Undang-Undang 1990 Dokumenta

Serah

tentang PENELITIAN]

[LAPORAN HASIL Juni, si

2009

Simpan Karya

Cetak dan Karya

Rekam

PP No. 70/1991 Peraturan 1991 Dokumenta

tentang Pemerintah si

Pelaksanaan

Serah Simpan

Karya Cetak dan

Karya Rekam

UU No. 5/1992 Undang-Undang 1992 Cagar

tentang Cagar Budaya

Budaya

UU No. 8/1992 Undang-Undang 1992 Film

tentang Perfilman

Keppres No. Keputusan 1992 Cagar

1/1992 tentang Presiden Budaya

PENGELOLAAN

TAMAN WISATA

CANDI

BOROBUDUR DAN

TAMAN WISATA

CANDI

PRAMBANAN

SERTA

PENGENDALIAN

LINGKUNGAN

KAWASANNYA

Keppres No. Keputusan 1992 Pendidikan

21/1992 tentang Presiden Seni

PENDIRIAN

SEKOLAH TINGGI

SENI INDONESIA

SURAKARTA

Keppres No. Keputusan 1992 Pendidikan

22/1992 tentang Presiden Seni

Pendirian Sekolah

Tinggi Seni

Indonesia

Denpasar

Irmendagri Instruksi Menteri 1993 Dewan

5A/1993 tentang Kesenian

Pembentukan

Dewan Kesenian

PP No. 7/1994 Peraturan 1994 Film

tentang Lembaga Pemerintah

Sensor Film

PP No. 8/1994 Peraturan 1994 Film

tentang Badan Pemerintah

Pertimbangan

Perfilman

Nasional

PP No. 6/1994 Peraturan 1994 Film

tentang Usaha Pemerintah

Perfilman

Keppres No. Keputusan 1995 Pendidikan

59/1995 tentang Presiden Seni

Pendirian Sekolah

Tingi Seni

Indonesia

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 25

Bandung

UU No. 9/1995 Undang-Undang 1995 Industri

tentang Usaha

Kecil

UU No. 10/1995 Undang-Undang 1995 Fiskal

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









Tabel 2.2.4. Peraturan-Peraturan Yang Dibuat Pada Periode I (1991-

1995)



Peraturan yang secara jumlah cukup menonjol dan berkaitan langsung

dengan kegiatan kesenian pada Periode I dan sekitar waktu itu:

pengaturan tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam,

pengaturan tentang film, pendirian sekolah-sekolah seni, dan

pengaturan tentang cagar budaya. Pada periode ini pula pembentukan

dewan-dewan kesenian provinsi di seluruh Indonesia ditetapkan.21



Apabila kita amati lebih lanjut lagi, dari karakter peraturan yang

teridentifikasi pada periode tersebut, ada kebijakan kesenian yang

terpusat (penekanan pada peran aktif pemerintah dalam membentuk

budaya). Ada usaha untuk mengatur dokumentasi, mengatur film

(termasuk pendirian lembaga sensor film), pendirian sekolah-sekolah

seni, hingga pembentukan dewan kesenian di seluruh Indonesia.

Apakah memang begitu adanya? Pada prinsipnya hal ini baru

merupakan hipotesis berdasarkan data yang berhasil kami kumpulkan.

Untuk menjawab pertanyaan ini dengan lebih jernih lagi, perlu dilihat

pula konteks sosial politik yang terjadi waktu itu. Hal ini akan dibahas

lagi di dalam Bab 3.



Sementara itu, berbeda dengan Periode I, peraturan-peraturan pada

Periode II cenderung tidak secara langsung mengatur permasalahan

seni dan budaya. Klasifikasi peraturan tersebut dapat dilihat pada tabel

berikut ini.









21

Irmendagri No. 5A/1993 tentang Pembentukan Dewan Kesenian.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 26

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









Tahun Ditetapkan Klasifikasi Total

1999 Penghargaan Seni 1

Dokumentasi 1

HAM 1

Pendidikan Seni 2

2000 Adat Budaya 1

Fiskal 2

HKI 1

Kerjasama Bilateral 5

Pajak/Retribusi Daerah 1

Pariwisata 1

2001 HKI 2

Otonomi Daerah 1

Pajak/Retribusi Daerah 5

2002 HKI 1

Kerjasama Bilateral 1

Pajak/Retribusi Daerah 4

Penyiaran 1

2003 Birokrasi 1

Pajak/Retribusi Daerah 1

Pendidikan Seni 1

2004 Adat Budaya 1

Penghargaan Seni 1

Kerjasama Bilateral 1

Otonomi Daerah 1

2005 Fiskal 1

Kerjasama Bilateral 1

Pajak/Retribusi Daerah 1

Pariwisata 1

Pendidikan Seni 2

Penyiaran 3

Perjanjian Internasional 2

2006 Dewan Kesenian 1

Dokumentasi 1

Fiskal 1

Otonomi Daerah 1

Pendidikan Seni 1

2007 Fiskal 1

Kerjasama Bilateral 1

Otonomi Daerah 1

Pendidikan Seni 1





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 27

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Perjanjian Internasional 1

Perpustakaan 1

2008 Fiskal 3

Pariwisata 1

Pornografi 1

Total 65





Tabel 2.2.5. Klasifikasi Peraturan-Peraturan Yang Dibuat Pada

Periode II



Permasalahan-permasalahan menonjol yang diatur pada Periode II

berhubungan dengan topik pajak/retribusi daerah (12 peraturan),

kerjasama bilateral (9 peraturan), fiskal (8 peraturan) dan pendidikan

seni (7 peraturan).

Untuk permasalahan kebijakan bilateral kebudayaan dan

pajak/retribusi daerah sudah disinggung sebelumnya. Pada prinsipnya

memang ada kecenderungan politik luar negeri sebuah rezim baru

untuk membuka hubungan kerjasama kebudayaan dengan negara lain,

sedang untuk masalah pajak/retribusi daerah – yang notabene

mengatur pajak/retribusi hiburan, tak lepas dari isu pendelegasian

wewenang ke daerah pasca berlakunya otonomi daerah sejak tahun

1999.



Di samping dua klasifikasi tersebut, klasifikasi-klasifikasi lain yang

menonjol, pada prinsipnya tidak menunjukkan peran pemerintah

dalam membentuk budaya tertentu. Banyaknya peraturan fiskal lebih

berhubungan dengan adanya pembenahan dalam kebijakan keuangan

– yang pada titik tertentu menyangkut kegiatan kesenian dan

kebudayaan, serta peraturan-peraturan menyangkut pendidikan seni

hanya mengatur perubahan institusional sekolah-sekolah seni dengan

diundangkannya UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

yang mengatur bentuk-bentuk baku institusi pendidikan tinggi di

Indonesia.



Hipotesis ke tiga ini setidaknya menguatkan perlunya perhatian

khusus pada dua periode tersebut, dalam mencari penjelas arah

kebijakan kebudayaan di Indonesia. Apa yang sebenarnya terjadi

dalam periode-periode tersebut? Mengapa peraturan-peraturan ini

ditetapkan. Hal ini akan kita bahas dalam Bab 3.









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 28

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









3. Konteks Sosial Politik: Kebijakan Kebudayaan

di Indonesia

Seperti sudah disinggung sebelumnya di dalam Bab 2, hasil penelitian

kami menunjukkan adanya kecenderungan pengaturan pada level

abstrak yang bersifat formil, serta banyaknya peraturan menyangkut

kegiatan kesenian dan kebudayaan yang dibuat pada periode 1990-

1995 (Periode I) dan 2000-2008 (Periode II).



Meskipun demikian, hanya dengan melihat kondisi sosial politik yang

melatari pengambilan kebijakan (penetapan peraturan) pada Periode I

dan Periode II tersebut, tidak akan memberikan gambaran yang jelas

tentang konteks sosial politik yang melatarbelakangi fenomena ini.

Peraturan bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit. Faktor-

faktor yang menyebabkan lahirnya suatu peraturan, timbul dari suatu

proses yang berkelanjutan. Untuk itu, dalam pembahasan mengenai

konteks sosial politik yang melandasi lahirnya peraturan-peraturan

yang menyangkut kegiatan kesenian dan kebudayaan, perlu dilihat

juga bagaimana perkembangan kebijakan kebudayaan di Indonesia

dari waktu ke waktu.



Dalam memahami konteks sosial politik ini, kami sangat terbantu

dengan adanya disertasi yang ditulis oleh Tod Jones mengenai

kebijakan kebudayaan Indonesia dari tahun 1950-2003.22 Dalam

disertasi tersebut, antara lain digambarkan kebijakan kebudayaan di

Indonesia dari masa kolonial (Hindia Belanda) hingga masa akhir

reformasi, berikut dinamika di dalamnya.



Gambaran tersebut tentu dapat lebih memperjelas gambaran umum

yang sebelumnya telah kami paparkan di dalam Bab 2. Untuk

menyesuaikan dengan ruang lingkup penelitian kajian hukum ini,

terutama sehubungan dengan konteks politik, kami akan fokus pada

peran pemerintah dan tujuan (rasio) kebijakan kebudayaan yang

diambil. Di samping itu, informasi yang kami dapatkan dari para

narasumber, dapat digunakan sebagai penjelas konteks sosial yang

ada.

3.1.1.Kebijakan Kebudayaan di Indonesia



Kebijakan kebudayaan di masa kolonial

Kebijakan kebudayaan di masa kolonial yang mempunyai pengaruh

besar terhadap perspektif kebijakan-kebijakan kebudayaan pada

masa-masa sesudahnya, adalah adanya upaya pembudayaan dari

22

Tod Jones (2005), Indonesian Cultural Policy, 1950-2003: Culture, Institutions,

Government, Thesis, Curtin University of Technology.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 29

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





pemerintah kolonial. Masyarakat saat itu diperlakukan sebagai dua

kelompok masyarakat berbeda: (1) masyarakat bangsa Eropa dan (2)

masyarakat pribumi. Kebijakan kebudayaan ditujukan di satu sisi untuk

memfasilitasi perkembangan budaya Eropa di antara masyarakat

bangsa Eropa sebagai alat untuk menumbuhkan kesadaran

kewarganegaraan, sedang di sisi lain ditujukan sebagai alat kontrol

terhadap perkembangan budaya di antara masyarakat pribumi yang

dianggap masih terbelakang.



Kebijakan kebudayaan pemerintah kolonial yang ditujukan untuk

membudayakan masyarakat pribumi, pada kenyataannya

menimbulkan perdebatan-perdebatan yang tak kalah keras. Ide-ide

akan bentuk “orang pribumi yang berbudaya” mendapatkan

tanggapan dari orang-orang pribumi sendiri tentang kesempurnaan

budaya orang pribumi, terutama setelah adanya kesadaran politik

nasionalistis di Indonesia. Pada hakekatnya, perspektif yang dipakai

oleh pemerintah kolonial, maupun kaum nasionalis ketika itu, sama-

sama berangkat dari fungsi budaya sebagai alat pembentuk perilaku

manusia. Seperti ditulis oleh Tod Jones:



“In spite of the differences in methods and goals, the governmental function

of culture – its role as a tool to shape the attributes and behaviours of

individuals and groups – was central to both colonial era cultural institutions

and nasionalist cultural politics.”23



Kebijakan kebudayaan di masa pendudukan Jepang

Kebijakan kebudayaan yang melihat budaya sebagai alat pembentuk

perilaku, juga masih dipakai pada masa pendudukan Jepang. Meskipun

demikian, Jepang memasukkan pesan yang berbeda di dalam

kebudayaan yang ditanamkan. Kebijakan kebudayaan Jepang

bertujuan untuk membawa ide blok negara-negara Asia, termasuk

Indonesia, di bawah kepemimpinan Jepang. Ide ini menggantikan ide

pembudayaan yang berpusat pada budaya Eropa di masa pemerintah

kolonial Hindia Belanda.



“The notion of pan-Asian identity and the formation of a bloc of Asian nations

under Japanese leadership were central to Japanese cultural policy.



[…]



… Japan still justified its privileged position and control of other countries

through presenting itself as an Asian ‘model for modernity … .”24



Selain adanya karakter kebijakan kebudayaan yang masih serupa

dengan masa pemerintahan sebelumnya, pada masa pendudukan

23

Ibid, halaman 73.

24

Ibid, halaman 76-77.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 30

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Jepang mulai berkembang pula pola-pola mobilisasi masa yang

diharapkan dapat mendukung strategi perang Jepang. Sehingga,

kebijakan kebudayaan di satu sisi mempunyai tujuan jangka panjang

yang berfungsi sebagai alat pembudayaan, namun di sisi lain juga

ditujukan kepada kepentingan praktis pemerintah Jepang saat itu.



Kondisi tersebut, tidak diterima begitu saja oleh orang-orang Indonesia

ketika itu, namun juga dimanfaatkan untuk mencapai tujuan mereka

sendiri.25 Kebudayaan nasional Indonesia sendiri saat itu mengalami

perkembangan yang luar biasa, terutama seniman-seniman Persagi

(Persatuan Ahli Gambar Indonesia), asosiasi seniman yang tidak

mendapat tempat di masa kolonial karena perspektif anti-kolonial para

seniman yang tergabung di dalamnya.26 Namun demikian, beberapa

elemen kebijakan kebudayaan Jepang tetap mempengaruhi

kebudayaan Indonesia, yaitu usaha mendorong adanya perubahan

singkat yang diharapkan dapat segera membudayakan masyarakat

Indonesia, serta propaganda perang yang sangat dominan.



“For the duration of the Japanese occupation, culture was implicated in a

much more ambitious attempt at transforming Indonesian society than it was

under the Dutch due to the interventionist streak in Japanese governance,

which was amplified by the pressures of fighting a war.”27



Kebijakan kebudayaan di masa demokrasi konstitusional

Kebijakan kebudayaan di masa demokrasi konstitusional, ditandai

dengan adanya dua kutub berbeda dalam menempatkan peran

pemerintah. Di satu kutub peran pemerintah dipandang sebagai

fasilitator yang membuka ruang seluas-luasnya bagi kebebasan warga

negara mengembangkan budayanya masing-masing (visi liberal),

sedang di kutub yang lain masih tetap diasumsikan adanya satu

budaya nasional yang paripurna.



“Cultural policy during Constitutional Democracy was characterised by two

contradictory models regarding the role of cultural policy. The first model was

a commitment to institutional development that can be characterised as a

broadly liberal model of cultural regulation. […]



The second model was centred on the process of synthesis that it was

assumed would create a national culture.”28



Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, meskipun tetap ada upaya

membudayakan masyarakat, peran pemerintah ketika itu hanya

terbatas sebagai fasilitator. Sehingga, perdebatan mengenai budaya

25

Ibid, halaman 80.

26

Ibid, halaman 82.

27

Ibid, halaman 90.

28

Ibid, halaman 114.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 31

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





nasional bergulir di antara kelompok-kelompok seni sendiri – yang

tumbuh dan berkembang di masa itu. Secara normatif peran

pemerintah diatur dengan tegas di dalam konstitusi yang secara

eksplisit melindungi adanya kebebasan dalam seni, budaya, dan ilmu

pengetahuan.



“Penguasa melindungi kebebasan mengusahakan kebudajaan serta kesenian

dan ilmu pengetahuan. Dengan mendjundjung azas ini maka penguasa

memadjukan sekuat tenaganja perkembangan kebangsaan dalam

29

kebudajaan serta kesenian dan ilmu pengetahuan.”



Kebijakan kebudayaan di masa demokrasi terpimpin

Demokrasi terpimpin ditandai dengan kembalinya UUD 1945. Sistem

parlementer pada periode demokrasi konstitusional digantikan dengan

sistem presidensiil yang memberikan kekuasaan besar kepada

presiden. Dengan berlakunya kembali UUD 1945, maka berlaku pula

perspektif kebudayaan dari tahun 1945 yang menekankan pada proses

pencapaian budaya nasional di bawah kendali pemerintah. Elemen

kebebasan yang disebut secara eksplisit dalam aturan konstitusi

sebelumnya (UUDS) kembali hilang.



“Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.”30



Kombinasi antara peran presiden yang cukup besar dan ide budaya

nasional yang sempurna, membuat Soekarno ketika itu menjadi pusat

dari pembentukan kebudayaan nasional Indonesia. Sebagai seorang

penggalang solidaritas yang handal, Soekarno selalu menekankan

pentingnya persatuan. Dalam situasi seperti itu, organisasi-organisasi

kesenian yang sudah ada dan pada dasarnya memiliki pandangan

budaya berbeda, berlomba-lomba untuk memperjuangkan konsep

budayanya sebagai konsep budaya Indonesia.



“The activities of non-government arts organisations were an important

element of cultural policy during Guided Democracy. Guided Democracy

differed from Constitutional Democracy in that artists’ associations were

being urged to adopt political themes and particular style that demonstrated

political support for Sukarno.”31



Meskipun adanya persaingan antara organisasi-organisasi seni dan

budaya tersebut telah berhasil menumbuhkan kesadaran politik secara

masif melalui mobilisasi, namun mereka belum mampu merumuskan

bagaimana perubahan sosial politik yang lebih terstruktur mesti





29

Pasal 40 UUDS 1950.

30

Pasal 32 UUD 1945 (sebelum amandemen).

31

Tod Jones (2005), halaman 133.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 32

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





terjadi.32 Presiden Soekarno sendiri pada akhirnya terlibat dalam

pertarungan tersebut, serta lebih condong kepada ide-ide kiri.



Dari data peraturan yang kami kumpulkan, gejala ini bisa dilihat dari

ditetapkannya Peraturan Presiden No. 26/1960 tentang Pemberian

Hadiah Seni yang menegaskan keberpihakan pemerintah terhadap

konsep U.S.D.E.K. (UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi

Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia).33



Kebijakan kebudayaan di masa Orde Baru

Kebijakan kebudayaan di masa Orde Baru, setidaknya dapat dibagi ke

dalam dua fase yang berbeda, yaitu pada awal berdirinya Orde Baru

hingga periode 70-an dan pada periode 80-an dan 90-an.



“The element of cultural policy where changes […] occurred was not its

techniques or its governmental function but in cultural policy’s normative

model. In other words, cultural policy was attempting to shape a new type of

cultural subject suitable for the New Order era.”34



Pada awalnya, kebijakan kebudayaan di masa Orde Baru tidak bisa

dilepaskan dengan situasi pada masa pemerintahan sebelumnya.

Berdirinya Orde Baru sendiri merupakan antitesa dari kondisi politik di

masa demokrasi terpimpin. Meskipun tidak secara langsung terhubung

dengan pemerintah – sebagaimana LEKRA dan LKN di masa demokrasi

terpimpin, organisasi-organisasi seni yang anti-komunis mendapatkan

dukungan khusus dari pemerintah.35



Tak hanya menutup ruang bagi berkembangnya pemikiran kiri,

pemerintah Orde Baru juga berusaha untuk melakukan depolitisasi di

segala bidang kehidupan, termasuk ekspresi seni dan budaya, untuk

kepentingan kekuasaannya.36 Sehingga, meskipun dalam beberapa hal

pemerintah Orde Baru memberi ruang bagi berkembangnya seniman-

seniman liberal, tetapi secara prinsip ada penolakan terhadap ide

liberal itu sendiri dengan motif yang berbeda dengan pemerintah

sebelumnya.



“Although some assumptions are shared with Sukarno’s notion of ‘national

identity’, such as an association of individualism, liberalism and materialism

with a Western other, culture under Suharto was used to justify a





32

Ibid.

33

Pasal 3 Perpres No. 26/1960.

34

Tod Jones (2005), halaman 201.

35

Ibid, halaman 159. Hal ini antara lain dapat dilihat dari sejarah pendirian DKJ dan seniman-

seniman yang terlibat di dalamnya, serta beberapa perjanjian kerjasama bilateral setelah itu

dengan negara-negara Eropa Barat.

36

Ibid, halaman 150.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 33

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





conservatism that justified and buttressed the political power of the New

Order regime.”37



Kontradiksi tersebut – di satu sisi dukungan terhadap seniman-seniman

liberal untuk melawan ideologi kiri, namun di sisi lain pandangan

konservatif untuk kepentingan politik rezim yang berkuasa, pada

akhirnya menentukan kebijakan kebudayaan yang diambil pada

periode 80-an dan 90-an.



Berkembangnya perekonomian pada periode tersebut, selain dapat

dijadikan sebagai legitimasi kuat bagi pemerintah untuk terus

berkuasa, juga memberikan ruang bagi berkembangnya kelas

menengah di Indonesia.38 Dalam latar sosial seperti ini, maka

semangat kritis dan tuntutan akan terbukanya ruang yang lebih bagi

kebebasan berekspresi menjadi keniscayaan yang tentu saja

mengancam legitimasi pemerintahan itu sendiri. Hal ini membuat

pemerintah Orde Baru pada periode 80-an dan 90-an berusaha untuk

menyikapi hal ini.



“The regime’s response to a changing society in the late 1980s and 1990s

was to attempt to reinforce the political order and their governmental

discourses. It attempted to strengthen the official ‘cultural process’ in the

face of a broader and more pervasive cultural process unleashed by New

Order economic policies.”39



Reaksi yang kemudian ditunjukkan oleh pemerintah Orde Baru ketika

itu, sebenarnya adalah data-data yang pada Bab 2 tadi telah dipetakan

sebagai Periode I (1991-1995). Yang menarik untuk diamati lebih lanjut

lagi, adalah aturan mengenai perfilman dan aturan mengenai

dokumentasi.



Untuk aturan mengenai perfilman, meskipun ada beberapa peraturan

yang sifatnya institusional, terlihat adanya reaksi defensif pemerintah

“untuk menjaga agar kehidupan dan pertumbuhan perfilman dapat

tetap berjalan seiring dengan pandangan hidup dan kebudayaan

bangsa, serta melindungi masyarakat akan dampak negatif yang

diakibatkan …”.40 Kebijakan kebudayaan sebagai alat kontrol

pemerintah sangat terlihat dalam pertimbangan tersebut.



Sementara itu, aturan mengenai dokumentasi (serah simpan karya

cetak dan karya rekam), selain menunjukkan reaksi defensif

pemerintah yang cukup konservatif ketika itu, juga menyimpan

permasalahan lain.

37

Ibid, halaman 174.

38

Ibid, halaman 168.

39

Ibid, halaman 174.

40

Lihat Penjelasan UU No. 8/1992 tentang Perfilman.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 34

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009







Sekalipun dilandasi dengan ide positif untuk “mewujudkan koleksi

karya-karya tersebut sebagai hasil budaya bangsa, sehingga terwujud

suatu koleksi nasional yang lengkap …”,41 cara untuk mewujudkan hal

tersebut hendak dicapai melalui pembebanan kewajiban (dengan

ancaman pidana) kepada warga negara. Aturan mengenai

tanggungjawab pengelola sendiri sangat minim, dalam arti tidak jelas

bagaimana pengelolaan tersebut mesti dilakukan. Sehingga, selain

menunjukkan adanya upaya dominasi pemerintah atas kehidupan

warga negara, peraturan seperti ini juga menunjukkan bahwa

pemerintah sendiri sebenarnya tidak siap dengan pengelolaan institusi

semacam itu.



Kebijakan kebudayaan di masa reformasi

Reformasi yang diharapkan menjadi momentum untuk mengembalikan

kebebasan warga negara atas dominasi pemerintah, pada

kenyataannya belum menjadi sesuatu yang diwujudkan oleh

pemerintahan-pemerintahan di era reformasi. Seperti ditulis oleh Tod

Jones:



“Unlike the beginnings of Guided Democracy and the New Order, where there

were preferred cultural discourses that were soon linked with policies, the

governments of the Reform era have not provided or adopted strong

alternative cultural discourses.”42



Kebijakan kebudayaan di masa reformasi, ditandai dengan dua hal

penting, yaitu meningkatnya identitas lokal sebagai akibat

desentralisasi dan berkembangnya isu pariwisata yang mendominasi

sektor kebudayaan.



“Firstly,ethnic and regional identity politics became increasingly important in

the context of decentralisation. Secondly, culture’s role was challenged in a

contentious restructure that took the culture portfolio out of education and

joined it with tourism.”



Pendapat tersebut ada benarnya. Mirip dengan data yang kami dapat,

meskipun tidak dominan sebagai upaya perumusan kebijakan budaya,

tidak sedikit peraturan yang menyangkut kegiatan kesenian dan

kebudayaan. Meskipun begitu, banyak peraturan dari masa

sebelumnya tidak mengalami proses peninjauan kembali untuk

disesuaikan dengan konteks politik baru yang lebih terbuka. Padahal,

di sisi lain, aturan konstitusi sendiri telah berubah dengan

memasukkan kembali elemen kebebasan warga negara.43



41

Lihat Penjelasan UU No. 4/1990 tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam.

42

Tod Jones (2005), halaman 230.

43

Bandingkan dengan rumusan di dalam UUDS yang sudah disinggung sebelumnya.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 35

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban

dunia

dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan

mengembangkan

nilai-nilai budayanya.”44



Meskipun mungkin perubahan tersebut terjadi tanpa sadar, sehingga

belum mampu mewujudkan suatu perubahan yang komprehensif

sampai saat ini, ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati lebih

lanjut lagi.



Pertama, memang telah ada perubahan di dalam konstitusi Republik

Indonesia. Selain menyangkut pandangan negara akan kebudayaan itu

sendiri, juga menyangkut pemerintahan daerah dengan pengakuan

otonomi daerah.45 Hanya saja, akibat dari adanya otonomi daerah

pada peraturan-peraturan yang ada, bukan di titik perumusan identitas

lokal, namun pada adanya perubahan pengaturan mengenai pajak

hiburan akibat perubahan jenis pajak/retribusi dan lingkup

kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten.46



Sementara itu, kebijakan kebudayaan yang kemudian diarahkan pada

sektor pariwisata juga terlihat cukup jelas. Selain berpisahnya

Direktorat Kebudayaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

dan akhirnya melebur pada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,47

beberapa peraturan sesudahnya menunjukkan aktivitas kebijakan di

sektor pariwisata, termasuk penetapan UU No. 10/2009 tentang

Kepariwisataan Indonesia.48



Memang benar bahwa tidak nampak ada kebijakan yang ditujukan

secara khusus (meskipun RUU Kebudayaan sendiri saat ini sedang

dalam tahap persiapan), tetapi beberapa peraturan mengenai

pengesahan perjanjian kerjasama bilateral di era pemerintahan

Abdurrahman Wahid (1999-2000) terlihat cukup masif.





44

Pasal 32 ayat (1) UUD 1945.

45

Lihat juga Pasal 18 UUD 1945.

46

Kata ‘pada peraturan-peraturan yang ada’ ditekankan untuk menunjukkan bahwa analisa

dilakukan pada level normatif. Tentu tidak tertutup kemungkinan bahwa pada level-level

lain (misalnya sosial, politik, atau budaya) pembentukan identitas lokal terjadi. Di level

peraturan sendiri hanya terdeteksi Qanun (peraturan daerah) Provinsi NAD No. 12/2004

tentang Kebudayaan Aceh yang menunjukkan gejala adanya pengaturan identitas lokal.

47

Lihat Keppres No. 29/2003 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden No. 101/2001

tentang Keduduk

an, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara

sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden No. 2/2002. Masalah pariwisata akan

dibahas khusus di dalam Bab 4.

48

Peraturan ini belum masuk ke dalam daftar yang sudah kami analisa secara umum di

dalam Bab 2.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 36

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Di masa awal pemerintahan Abdurrahman Wahid, banyak perjanjian

bilateral kebudayaan dibuat dengan negara-negara lain, termasuk

negara-negara yang dulunya merupakan “Blok Timur” yang dianggap

berseberangan oleh pemerintah Orde Baru, seperti Cina, Rusia, dan

Kuba. Selain itu, pemerintahan Abdurrahman Wahid juga mencabut

Inpres No. 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina.49

Hal ini setidaknya menunjukkan adanya upaya untuk mendorong ke

arah kebijakan kebudayaan yang lebih terbuka.50



3.1.2.Kebijakan Kebudayaan di Mata Seniman



Sehubungan dengan paparan perkembangan kebijakan kebudayaan di

Indonesia seperti telah dijelaskan di atas, narasumber yang kami

wawancarai adalah para seniman yang terutama aktif berkesenian di

masa Orde Baru dan masa reformasi. Di mata para seniman tersebut,

kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah dianggap belum

mampu mengembangkan sektor seni dan budaya di Indonesia.51 Di

samping itu, tidak semua peraturan yang menyangkut kegiatan

kesenian dan kebudayaan, mereka ketahui keberadaannya.



Ada beberapa permasalahan menyangkut kebijakan kebudayaan yang

diambil oleh pemerintah, namun hal yang paling mendapatkan

perhatian oleh sebagian besar narasumber adalah mengenai (1)

bagaimana pemerintah menginterpretasikan nilai-nilai seni dan

budaya, serta (2) perhatian pemerintah berupa dukungan nyata

terhadap sektor seni dan budaya.



Dua permasalahan di atas, terlihat sangat jelas apabila kita juga

memahami adanya perubahan kebijakan kebudayaan dari masa Orde

Baru ke masa reformasi. Seperti sudah dijelaskan di atas, masa akhir

pemerintahan Orde Baru adalah masa di mana perhatian pemerintah

kepada sektor seni dan budaya sangat tinggi. Di satu sisi, usaha untuk

membentuk budaya nasional telah melahirkan peraturan-peraturan

yang konservatif, sedangkan di sisi lain, usaha pemerintah tersebut

juga didukung dengan alokasi dana dan penyediaan fasilitas yang

besar bagi dunia seni.



Menanggapi dua hal tersebut, respon yang kemudian muncul di antara

para seniman juga menunjukkan tanggapan yang bertolak belakang.

Di satu sisi berupa reaksi positif terhadap adanya ruang bagi



49

Keppres No. 6/2000 tentang Pencabutan Inpres No. 14/1967.

50

Meskipun Abdurrahman Wahid mengaku lupa tentang kebijakan-kebijakan bilateral

kebudayaan yang dibuatnya, tetapi dirinya membenarkan bahwa pencabutan tersebut

untuk menghindari adanya dominasi budaya Amerika di Indonesia. Wawancara

Abdurrahman Wahid (13 Maret 2009).

51

Hasil wawancara dengan berbagai narasumber.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 37

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





kebebasan berekspresi, namun di sisi lain tampak pula reaksi negatif

terhadap peran pemerintah yang terlihat abai terhadap masalah seni

dan budaya – kecuali melalui kebijakan pariwisata yang itupun

dianggap sebagian besar kalangan hanya menempatkan seni sebagai

ornamen saja.52



Ruang bagi kebebasan berekspresi dianggap lebih terbuka di masa

reformasi ditandai dengan, antara lain, berakhirnya larangan

(mekanisme perijinan) untuk pentas di jaman Orde Baru.53 Hal ini wajar

terjadi, karena kekuasaan rezim yang berkepentingan untuk

melindungi posisi kekuasaannya, juga telah berakhir. Uniknya, hal

tersebut terjadi bukan sebagai bentuk kebijakan pemerintahan baru,

tetapi merupakan inisiatif para seniman sendiri.54 Seperti sudah

disebutkan pula sebelumnya, posisi kebijakan kebudayaan di masa

Orde Baru dianggap begitu penting oleh pemerintah, karena

berhubungan dengan motif politik pemerintah saat itu. Sehingga,

menjadi masuk akal pula, ketika proyek-proyek “kebudayaan nasional”

yang diidamkan tidak dapat berkembang secara alamiah.55



Yang menarik, proses pembentukan kebudayaan itu sendiri bukan

berarti berakhir dengan berakhirnya pemerintahan yang

mengagendakan proyek tersebut. Pada kenyataannya, pembentukan

kebudayaan itu terus berlangsung melalui agenda masing-masing

komunitas seni yang ada di Indonesia. Dari hasil wawancara kami,

setidaknya ada beberapa komunitas seni atau budaya yang aktif

mewujudkan agenda-agendanya, seperti misalnya proyek kesenian

nusantara yang dijalankan oleh LPSN (Lembaga Pendidikan Seni

Nusantara) atau proyek pelestarian cagar budaya BPPI (Badan

Pelestarian Pusaka Indonesia). Baik dengan usaha sendiri, maupun

bekerjasama dengan atau memberikan usulan kepada pemerintah,

komunitas-komunitas tersebut telah memiliki misi dan visi sendiri yang

terlepas dari sebuah “proyek kebudayaan” yang dilakukan pemerintah.



Hal ini tentu merupakan angin segar bagi perkembangan dunia seni

dan budaya di Indonesia. Kebebasan berekspresi telah memberi ruang

perkembangan komunitas-komunitas seni di Indonesia. Masalahnya,

ada beberapa hal yang masih dipandang sebagai hambatan di

kalangan seniman sendiri.





52

Wawancara Seno Gumira Ajidarma (19 Maret 2009).

53

Wawancara Ratna Sarumpaet (20 Maret 2009).

54

Tod Jones (2005), halaman 230.

55

Wawancara Endo Suanda (16 Januari 2009). Narasumber menggambarkan bagaimana

proyek “Taman Mini” di masa Orde Baru berangkat dari ilusi penguasa ketika itu, sehingga

identitas-identitas budaya yang “terpetakan” pada kenyataannya akan berkontradiksi

dengan identitas-identitas budaya yang tumbuh secara alamiah.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 38

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Meskipun hambatan dari pemerintah telah berkurang, beberapa

seniman menyebutkan bahwa adanya hambatan yang timbul dari

sesama warga negara (gangguan berupa konflik horizontal) masih

kerap terjadi.56 Hambatan tersebut terjadi karena dalam sebuah

masyarakat yang bebas, maka pandangan komunitas yang satu akan

dihadapkan kepada pandangan komunitas yang lain. Peran pemerintah

dalam memastikan adanya suatu masyarakat yang bebas, mau tak

mau tetap dibutuhkan, dalam menjamin kebebasan itu sendiri.

Meskipun demikian, salah seorang narasumber kami menandaskan

bahwa adanya pandangan konservatif di dalam masyarakat tak akan

terhindarkan, karena pandangan tersebut merupakan bagian dari

suatu proses yang terjadi sejak di level pendidikan keluarga. 57

Sehingga yang kemudian harus dipastikan oleh pemerintah adalah

perlindungan atas hak untuk hidup aman, terlepas dari pandangan

seperti apa yang diyakini oleh seorang warga negara.



Selain perkembangan yang cukup positif dalam hal kebebasan

berekspresi, beberapa narasumber yang lain menyoroti pandangan

pemerintah mengenai konsep cagar budaya yang sudah kadaluwarsa.

Pemahaman mengenai cagar budaya masih tak jauh berbeda dengan

pemahaman pemerintah kolonial yang melihat cagar budaya hanya

sebagai perlindungan dan pelestarian benda purbakala saja.58 Yang

menarik, narasumber-narasumber tersebut berusaha mewujudkan

sendiri program-programnya melalui komunitas yang dibuatnya, untuk

memperjuangkan pandangannya sendiri terhadap pengertian cagar

budaya. Ini merupakan suatu sinyal positif dari berdayanya

masyarakat sipil di Indonesia.



Kerjasama-kerjasama bilateral kebudayaan juga dapat disebut sebagai

salah satu instrumen yang dapat meluaskan perspektif seni dan

budaya di Indonesia. Meskipun tidak menyebut secara langsung, salah

satu narasumber kami mengisyaratkan bahwa kebijakan-kebijakan

kebudayaan di bawah pemerintahannya ditujukan untuk membuka

ruang bagi perkembangan seni dan budaya yang lebih beragam di

Indonesia.59 Sedang narasumber yang lain sudah melihat peluang

pertukaran budaya, melalui masuk dan keluarnya seniman ke dan dari

Indonesia. Masalahnya, potensi seni dan budaya di Indonesia belum

optimal berkembang, karena adanya hambatan kemampuan sumber

daya manusianya.60 Sampai saat ini, belum ada pengembangan

pengetahuan mengenai pengelolaan aktivitas seni dan budaya.





56

Wawancara Dolorosa Sinaga (15 Januari 2009) dan Ratna Sarumpaet (20 Maret 2009).

57

Wawancara Dolorosa Sinaga (15 Januari 2009).

58

Wawancara Sita Laretna Adisakti dan Suhadi Hadinoto (7 Januari 2009).

59

Wawancara Abdurrahman Wahid (13 Maret 2009).

60

Wawancara John McGlynn (16 Desember 2008).

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 39

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Permasalahan pengelolaan, sebenarnya sudah masuk ke dalam

permasalahan kedua yang disebutkan di atas tadi, yaitu mengenai

minimnya dukungan nyata pemerintah bagi perkembangan seni dan

budaya di Indonesia. Pengelolaan seni dan budaya yang tidak berjalan,

kenyataannya bukan hanya permasalahan komunitas-komunitas seni

saja. Di level administrasi negara sekalipun, masalah tersebut masih

sangat terlihat. Hal ini pula yang menyebabkan alokasi dana

pemerintah yang diperuntukkan bagi sektor seni dan budaya – yang

dikemas dalam kebijakan pariwisata, tak mampu menyentuh

kebutuhan riil para seniman yang hidup dari dunia seni.



Apa kebutuhan riil para seniman? Tentu tak bisa disebutkan “satu”

kebutuhan, karena hal ini harus dipelajari dari kasus-kasus yang

muncul di lapangan. Dari hasil penelusuran kami, serta data yang kami

dapatkan dari narasumber, kebutuhan-kebutuhan riil tersebut, antara

lain menyangkut kebijakan kepabeanan (!). Dua narasumber kami

mengeluhkan penegakan hukum yang tidak berjalan baik di wilayah

pabean, sehingga mempersulit aktivitas mereka dalam mengorganisir

pameran-pameran seni.61 Selain itu, hal lain yang disebut adalah

mengenai pengelolaan taman budaya. Dari sisi teknis manajemen,

pengelolaannya selama ini dianggap gagal.62



Lalu apa yang bisa dilakukan pemerintah ke depannya? Melihat

permasalahan di atas, sebenarnya harus ada upaya untuk menata

kebijakan kebudayaan yang bersumber kepada permasalahan riil di

lapangan. Komunitas-komunitas seni di Indonesia terbukti mampu

berkembang dengan sendirinya, meskipun dengan dukungan yang

minim. Hal ini terjadi, karena “proyek kebudayaan” tidak lagi terpusat

pada satu institusi, tetapi sudah menjadi kerja bersama yang berjalan

beriringan. Pemerintah semestinya mulai mencermati kendala-kendala

teknis pengelolaan tersebut, untuk memfasilitasi perkembangan

komunitas-komunitas seni di Indonesia, ketimbang membentuk

“budaya nasional” atau “seni nasional” yang secara alamiah akan

terbentuk melalui pemaknaan masing-masing warga negara.



3.1.3.Kesimpulan



Konteks sosial politik yang melatarbelakangi maraknya pengaturan

pada Periode I dan Periode II menunjukkan adanya dua nuansa yang

berbeda. Pada Periode I, peraturan-peraturan yang dibuat merupakan

bagian dari “proyek kebudayaan” pemerintah yang saat itu

mendominasi kehidupan sosial masyarakat. Sementara itu, pada

Periode II maraknya pengaturan terjadi karena adanya perubahan

struktur politik.

61

Wawancara Tita Rubi (30 Maret 2009) dan Biantoro (18 Maret 2009).

62

Wawancara John McGlynn (16 Desember 2008).

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 40

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009







Perubahan instrumen-instrumen hukum yang disebabkan oleh adanya

perubahan struktur politik, ternyata tidak dibarengi dengan kesadaran

pemerintah akan sebuah “budaya baru”. Belum ada perubahan atas

instrumen-instrumen hukum sebelumnya yang konservatif, berdasar

pada adanya perubahan paradigma yang cukup lugas di dalam

konstitusi.



Pemerintahan-pemerintahan di masa reformasi justru melihat budaya

bukan lagi sesuatu yang penting untuk diperhatikan, kecuali

sehubungan dengan kebijakan pariwisata di Indonesia. Hanya

pemerintahan Abdurrahman Wahid saja yang cukup peduli dengan

usaha untuk memberi jalan bagi budaya yang terbuka di Indonesia,

meskipun tidak menunjukkan hasil yang konkrit.



Kesadaran akan sebuah “budaya baru” yang terbuka, pada hakekatnya

muncul dan akan berkembang, tidak lagi dari lembaga pemerintah,

melainkan dari masyarakat sendiri. Meski tetap kagok dengan situasi

sosial politik yang jelas berbeda, beberapa komunitas seni dan budaya

dapat membuat dan mengembangkan program mereka masing-

masing. Bagaimanapun juga, harapan kalangan seniman akan adanya

dukungan pemerintah tetap saja tinggi.



Dalam kondisi seperti ini, perlu ada kebijakan kebudayaan yang

diarahkan sebatas pada penyediaan fasilitas, serta mempercayakan

proses pembentukan budaya sepenuhnya kepada sebuah proses

alamiah. Penekanan perlu dilakukan pada peningkatan kemampuan

pengelolaan institusi, serta perhatian serius terhadap masalah-

masalah riil yang dihadapi oleh para seniman sendiri.









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 41

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









4. Isu-Isu Pilihan Kegiatan Kesenian dan

Kebudayaan

Dalam bab-bab sebelumnya telah disinggung secara umum kebijakan

kebudayaan di Indonesia, yaitu bagaimana memahami peraturan-

peraturan yang ada dalam sebuah kerangka besar. Sekalipun

pendekatan seperti itu dapat memudahkan kita melihat hubungan

antara peraturan-peraturan yang ditemukan dengan tujuan-tujuan yang

hendak diwujudkan oleh pemerintah, serta mungkin merumuskan

masalah secara global, namun untuk memikirkan solusinya tidak akan

semudah membalik telapak tangan. Pada kenyataannya, perlu ada

pendekatan berbeda dalam usaha untuk memecahkan masalah-

masalah tersebut.



Dalam penelitian ini, kami sudah mencoba untuk mengelompokkan

peraturan-peraturan yang kami temukan ke dalam klasifikasi-klasifikasi

tertentu. Menurut hemat kami, solusi yang dibutuhkan untuk perbaikan

kebijakan kebudayaan depannya, bukan lagi satu solusi besar yang

dapat menyelesaikan segala masalah. Yang berlaku justru sebaliknya.



Permasalahan yang dihadapi, seharusnya dilihat lagi sebagai masalah-

masalah terpisah yang memang hanya bisa diselesaikan di dalam ruang

lingkupnya masing-masing saja. Dengan pendekatan atau cara pandang

seperti ini, maka suatu masalah dapat secara nyata dipecahkan.

Kegiatan kesenian dan kebudayaan akan berkembang secara alamiah,

ketika hambatan-hambatan yang menghalanginya dihilangkan.



Dalam laporan penelitian ini, kami akan memberikan paparan dan

beberapa analisis permasalahan berdasarkan klasifikasi data yang kami

kumpulkan dalam penelitian kami sampai saat ini. Klasifikasi-klasifikasi

tersebut adalah sebagai berikut:63



 Pajak/Retribusi Daerah

 Kebijakan Fiskal (Kepabeanan)

 Dokumentasi Karya Seni

 Pelestarian Cagar Budaya

 Pendidikan Seni

 Posisi Seni dalam Kebijakan Pariwisata

 Hak Atas Kekayaan Intelektual







63

Setiap klasifikasi kami bahas secara khusus dan terpisah dengan klasifikasi yang lain.

Sehingga Bab 4 ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan yang terpisah.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 42

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Sebelum melakukan pembahasan tiap klasifikasi tersebut di atas,

dalam bagian ini akan terlebih dahulu dipaparkan mengenai peraturan-

peraturan yang menyangkut jaminan hak-hak asasi manusia yang

menyangkut kegiatan seni dan budaya di Indonesia.



Seni dan Budaya sebagai Hak Dasar



Hak-hak asasi atau hak-hak dasar yang berhubungan dengan kegiatan

seni dan budaya, pada prinsipnya sudah diatur dalam konstitusi.

Setelah UUD 1945 mengalami amandemen, setidaknya ada beberapa

aturan dasar yang dapat berkaitan dengan kegiatan kesenian dan

kebudayaan di Indonesia, yaitu:



a. Pasal 28 C ayat (1) UUD 1945 yang mengatur bahwa “[s]etiap

orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan

kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan

memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni

dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi

kesejahteraan umat manusia.”

b. Pasal 28 I ayat (1) yang menegaskan bahwa kemerdekaan

pikiran dan hati nurani adalah hak asasi manusia yang tidak

dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

c. Pasal 28 I ayat (3) yang mengatur bahwa “[i]dentitas budaya dan

hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan

perkembangan zaman dan peradaban”.

d. Pasal 28 I ayat (4) yang menegaskan bahwa “[p]erlindungan,

pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia

adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.”

e. Pasal 32 ayat (1) yang mengatur bahwa “[n]egara memajukan

kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia

dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara

dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

f. Pasal 32 ayat (2) yang menyatakan bahwa “[n]egara

menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan

budaya nasional.”



Selain ketentuan-ketentuan dalam konstitusi tersebut di atas, setelah

reformasi pada tahun 1998, ditetapkan lagi beberapa peraturan

menyangkut jaminan atas hak asasi manusia. Ketentuan-ketentuan

tersebut dapat ditemukan dalam peraturan-peraturan berikut:



a. UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia:

i. Pasal 6 ayat (2) yang mengatur perlindungan atas identitas

budaya masyarakat hukum adat (sejalan dengan Pasal 28I

ayat (3)).



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 43

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





ii. Pasal 13 yang mengatur tentang hak untuk mengembangkan

diri, termasuk mendapatkan manfaat dari kegiatan seni dan

budaya (sama dengan ketentuan Pasal 28 C ayat (1) UUD

1945).

iii. Pasal 23 ayat (2) yang mengatur tentang kebebasan

berpendapat di muka umum.



b. UU No. 11/2005 tentang Pengesahan ICCPR/KIHSP; ketentuan-

ketentuan dalam KIHSP yang relevan:

i. Pasal 19 ayat (2) yang menjamin bahwa “[t]idak seorangpun

dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk

menyatakan pendapat; hak ini termasuk kebebasan untuk

mencari, menerima, dan memberikan informasi dan

pemikiran apapun, terlepas dari pembatasan-pembatasan

secara lisa, tertulis, atau dalam bentuk cetakan, karya seni,

atau melalui media lain sesuai dengan pilihannya.” Menurut

Pasal 18 ayat (3) pembatasan hanya diperbolehkan apabila

ditujukan untuk menghormati hak atau nama baik orang lain;

atau untuk melindungi keamanan nasional atau ketertiban

umum atau kesehatan atau moral umum.

ii. Pasal 27 yang menjamin perlindungan golongan minoritas

untuk menikmati budaya mereka sendiri, memeluk agama

yang mereka yakini, maupun menggunakan bahasa mereka

sendiri.



c. UU No. 12/2005 tentang Pengesahan CESCR/Ekosob; ketentuan-

ketentuan dalam Ekosob yang relevan:

i. Pasal 15 ayat (1) sub a yang mengatur bahwa negara harus

mengakui hak setiap orang untuk dapat berpartisipasi dalam

kehidupan budaya.



Dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas, berdasarkan peraturan

yang berhasil teridentifikasi dalam tulisan ini, sebenarnya sudah ada

kebijakan yang mulai mendorong ke arah penghormatan yang lebih

baik terhadap hak asasi manusia. Hal ini bisa dilihat dari Keppres No.

6/2000 tentang Pencabutan Inpres No. 14/1967 tentang Agama,

Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Ini merupakan sinyal positif,

karena Inpres No. 14/1967 telah membatasi golongan minoritas untuk

menikmati budaya mereka sendiri – yang notabene bertentangan

dengan Pasal 27 KIHSP tersebut di atas.



Namun demikian, menyangkut jaminan atas hak-hak dasar lain yang

berkaitan dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan, masih banyak

peraturan yang tidak sesuai dengan jaminan atas kebebasan

berekspresi. Contoh paling nyata dalam beberapa waktu belakangan

ini adalah UU No. 44/2008 tentang Pornografi (selain tentu saja



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 44

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





peraturan perfilman yang pernah digugat di MK atau barangkali

peraturan mengenai serah simpan karya cetak dan karya rekam yang

menimbulkan ketidakpastian hukum). Meskipun barangkali masalah

paling esensial dari undang tersebut adalah masalah teknis yuridis

dalam implementasinya, sebagian besar kalangan beranggapan bahwa

undang-undang tersebut merupakan usaha penyeragaman budaya.

Hal ini barangkali lebih disebabkan oleh faktor politik yang

melatarbelakangi penetapan peraturan tersebut.



Contoh lain lagi yang bisa dilihat adalah putusan MK dalam perkara

pengujian sistem sensor film di Indonesia, seperti sudah disinggung di

bagian awal tulisan ini. Di satu sisi MK menyatakan bahwa peraturan

tersebut sudah tidak sesuai dengan zamannya (dalam arti

bertentangan dengan aturan-aturan dasar yang ada saat ini), namun di

sisi lain MK tidak membatalkan ketentuan menyangkut sistem sensor

tersebut.64 Sehingga nampak standar ganda dari pengambil keputusan

(para hakim konstitusi). Di satu sisi mereka telah mengakui bahwa ada

peraturan-peraturan baru yang mendorong ke pemberian jaminan

lebih baik atas hak dan kebebasan warga negara, namun di sisi lain

masih terdapat kesadaran budaya konservatif yang mengkhawatirkan

ketidaksiapan menghadapi perubahan budaya yang terjadi. Perubahan

normatif tidak akan mengubah perspektif budaya masyarakat,

setidaknya tidak dalam waktu singkat.



Pengujian konstitusional (melalui MK) mungkin dapat menjadi solusi

untuk menuntut pemenuhan jaminan atas hak-hak konstitusional. Tapi

harus diketahui pula bahwa MK sebenarnya tak lebih dari “negative

legislator” yang hanya dapat menguji sah tidaknya suatu kebijakan,

tapi tak dapat merumuskan sendiri suatu kebijakan tertentu. Mau tidak

mau, kesadaran pemerintah atas hak-hak dasar warga negaranya,

akan berpengaruh besar terhadap berkembangnya kegiatan kesenian

dan kebudayaan. Paling tidak, sesuai dengan aturan-aturan dasar yang

memang telah ditetapkan, termasuk mengambil tanggung jawab untuk

“memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban

dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara

dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”.



Apabila hal paling esensial ini saja tidak dipahami dengan baik oleh

pengambil kebijakan di Indonesia, maka bentuk-bentuk kebijakan yang

diambil akan lebih didominasi oleh kepentingan politik atau ekonomi,

serta bukan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan budaya

warga negara Indonesia. Permasalahan-permasalahan yang ada pada

level yang lebih konkrit akan dibahas topik demi topik di bawah ini.





64

Putusan MK No. 29/PUU-V/2007.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 45

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





4.1.1.Pajak/Retribusi Daerah



4.1.1. Hasil Penelitian



Dalam penelitian ini berhasil ditemukan 10 (sepuluh) peraturan daerah

(Perda) yang terkait dengan retribusi daerah dan pajak daerah di

bidang seni dan budaya. Perda tersebut terdiri atas:



a. Enam perda yang mengatur tentang retribusi, yaitu:

1. Perda kabupaten Lampung Selatan No. 15/2001 tentang

Retribusi Sewa Tempat Pameran dan Lokasi

Pertunjukan;



2. Perda Kota Medan No. 11/2002 tentang Retribusi Ijin

usaha perfilman;



3. Perda Kabupaten Gowa No. 4/2003 tentang Retribusi

Objek Wisata Sejarah dan Budaya



4. Retribusi Ijin usaha, yang terdiri atas:



a. Perda Kota Surakarta No. 4/2002 Ijin Usaha

Rekreasi dan Hiburan Umum;



b. Perda Kabupaten Kudus No. 14/2002 tentang Ijin

Usaha;



c. Perda Kabupaten Blora No. 4/2005 tentang

Retribusi Ijin Usaha Pariwisata dan Budaya.







b. Empat perda yang mengatur tentang pajak hiburan, yaitu:



1. Perda Kota Ambon No. 4/2001 tentang Pajak Hiburan;



2. Perda Kabupaten Wonosobo No. 15/2001 tentang Pajak

Hiburan ;



3. Perda Kota Semarang No. 9/2001 tentang Pajak

Hiburan;



4. Perda Kota Kupang No. 3/2002 tentang Pajak Hiburan.



Berdasarkan Undang-Undang No. 34/2002 tentang Perubahan atas

Undang-Undang No. 18/1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah, retribusi daerah dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu:



- Retribusi jasa umum;



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 46

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh

pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan

umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Jenis

retribusi jasa umum yaitu (i) retribusi pelayanan kesehatan, (ii)

pelayanan persampahan/kebersihan, (iii) penggantian biaya

cetak KTP dan akta catatan sipil, (iv) pelayanan pemakaman dan

pengabuan mayat, (v) pelayanan parkir di tepi jalan umum, (vi)

pelayanan pasar, (vii) pengujian kendaraan bermotor, (viii)

pemeriksaan alat pemadam kebakaran, (ix) penggantian biaya

cetak peta, dan (x) pengujian kapal perikanan.



- Retribusi jasa usaha;

Retribusi atas jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah

dengan menganut prinsip komersil karena pada dasarnya dapat

pula disediakan oleh sektor swasta. Jenis retribusi ini adalah (i)

retribusi pemakaian kekayaan daerah, (ii) retribusi pasar grosir

dan/atau pertokoan, (iii) retribusi tempat pelelangan, (iv)

retribusi terminal, (v) retribusi tempat khusus parkir, (vi) retribusi

tempat penginapan/ pesanggrahan/villa, (vii) retribusi

penyedotan kakus, (viii) retribusi rumah potong hewan, (ix)

retribusi pelayanan pelabuhan kapal, (x) retribusi tempat

rekreasi dan olah raga, (xi) retribusi penyeberangan di atas air,

(xii) retribusi pengolahan limbah cair, (xiii) retribusi penjualan

produksi usaha daerah.



- Retribusi perijinan tertentu;

Retribusi atas kegiatan tertentu dalam rangka pemberian ijin

kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk

pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan atas

kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam,

barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna

melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian

lingkungan. Jenis retribusi ini adalah (i) retribusi ijin mendirikan

bangunan, (ii) retribusi ijin tempat penjualan minuman

beralkohol, (iii) retribusi ijin gangguan, (iv) retribusi ijin trayek.



Selain jenis-jenis retribusi tersebut di atas, pemerintah daerah

masih diberi peluang untuk menetapkan jenis retribusi baru

dengan ketentuan penetapannya dilakukan melalui perda.



Terkait dengan pajak, undang-undang membedakan pajak daerah ke

dalam dua jenis, yaitu:



– Pajak Provinsi yang meliputi (i) pajak kendaraan bermotor dan

kendaraan di atas air, (ii) bea balik nama kendaraan bermotor

dan kendaraaan di atas air, (iii) pajak bahan bakar kendaraan



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 47

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





bermotor, (iv) pajak pengambilan dan pemafaatan air bawah

tanah dan air permukaan.

– Pajak Kabupaten/Kota yang meliputi (i) pajak hotel, (ii) pajak

restoran, (iii) pajak hiburan, (iv) pajak reklame, (v) pajak

penerangan jalan, (vi) pajak pengambilan bahan galian golongan

C, (vii) pajak parkir.



Besaran pajak untuk pajak propinsi adalah sama atau seragam di

seluruh Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 65/2001.

Sementara itu, besaran pajak untuk kabupaten/kota tidak sama

atau definitif (dapat ditetapkan dengan perda), namun tidak boleh

melebihi dari tarif maksimum yang telah ditentukan oleh undang-

undang.



Perda-Perda Retribusi

Sehubungan dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan, jenis-jenis

retribusi yang berhasil teridentifikasi adalah sebagai berikut:



- Retribusi objek wisata sejarah dan budaya;



Perda retribusi ini diberlakukan di Kabupaten Gowa. Peraturan

Daerah ini bertujuan untuk mengenakan retribusi objek wisata

sejarah dan budaya dengan sasaran adalah memberikan

dukungan bagi pemeliharaan dan perawatan objek wisata

sejarah dan budaya. Yang dimaksud retribusi objek wisata

sejarah dan budaya adalah pembayaran atas penyediaan dan

pelayanan wisata sejarah dan budaya yang disediakan oleh

Pemerintah Daerah. Besar biaya retribusi yang ditetapkan dalam

Perda ini adalah untuk dewasa sebesar dua ribu rupiah dan anak-

anak sebesar seribu rupiah. Besaran retribusi ini ditetapkan

berdasarkan biaya penyediaan jasa yang meliputi biaya

administrasi, transportasi, operasional dari pemeliharaan wisata

sejarah dan budaya.



- Retribusi sewa tempat pameran dan lokasi pertunjukan;



Perda retribusi ini berlaku di Kabupaten Lampung Selatan. Perda

ini bertujuan mewujudkan ketertiban dan terkendalinya

pelaksanaan Pameran dan Pertunjukan di Kabupaten Lampung

Selatan. Retribusi dikenakan pada penyelenggaran yang

menyewa tempat untuk keperluan pameran dan pertunjukan

termasuk terkait dengan seni dan budaya.







- Retribusi ijin usaha pariwisata dan kebudayaan;





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 48

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Perda retribusi ini berlaku di Kabupaten Blora. Perda ini

bertujuan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) guna

keseimbangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

yang mengarah pada tercapainya pendapatan daerah yang

maksimal. Ada dua objek retribusi yang terkait dengan

kebudayaan dalam Perda ini, yaitu:



1. Kategori usaha sarana wisata dan kebudayaan, yaitu

penyediaan sarana kesenian dan kebudayaan.



2. Kategori usaha jasa pariwisata dan kebudayaan lainnya,

yaitu:



a. Pemberian lisensi/rekomendasi organisasi seni dan

identitas seniman (kartu tanda pengenal seniman);



b. Atraksi wisata, seni, dan olahraga;



c. Kegiatan lain yang bersifat temporer/permanen, bazar,

sirkus, pertunjukan keliling, dan kegiatan lain yang

sejenis.







- Retribusi ijin usaha;



Perda retribusi ini berlaku di Kabupaten Kudus. Pembentukan

Perda ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan undang-undang

tentang retribusi dan pajak daerah yang baru. Terkait dengan

seni, pendirian pusat seni dan penyelenggaraan pameran juga

dikenai retribusi dengan besaran 500 rupiah per meter persegi.

Besaran retribusi yang dikenakan bagi pusat seni dan pameran

sama dengan retribusi untuk taman rekreasi, taman satwa, dan

pentas pertunjukan satwa.







- Retribusi ijin usaha rekreasi dan hiburan umum;



Perda ini berlaku di Kota Surakarta yang bertujuan untuk

melakukan pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap

penyelenggaraan usaha rekreasi dan hiburan umum, agar dapat

berjalan tertib dan teratur. Pusat seni dan pameran dimasukkan

dalam jenis usaha rekreasi dan hiburan umum. Sehingga

pembangunannya harus mendapatkan persetujuan prinsip, serta

operasionalnya harus mendapatkan ijin usaha yang diberikan

oleh Walikota melalui Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya. Untuk

mendapatkan persetujuan prinsip dan ijin usaha dikenakan

retribusi.



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 49

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009







- Retribusi ijin usaha perfilman;



Perda ini berlaku di Kota Medan yang bertujuan melalukan

pengaturan tentang pungutan Retribusi Daerah dari sektor usaha

perfilman. Izin usaha perfilman terdiri dari :



a. Jasa teknik film;

b. Gedung bioskop;

c. Pertunjukan film;

d. Penayangan film;

e. Toko rental VCD/rekaman video;

f. Penyewaan VCD/rekaman video;

g. Film keliling.



Walaupun lingkup pengaturan Perda ini adalah retribusi, namun

di dalamnya juga diatur wewenang Kepala Daerah untuk

melakukan pembinaan dan pengawasan usaha perfilman. Perda

ini mendelegasikan pengaturan tentang pengendalian usaha

perfilman dalam bentuk keputusan kepala daerah. Meskipun

demikian, perda ini tidak memberi batasan yang tegas yang

dimaksud dengan pengawasan dan pembinaan. Sehingga, masih

akan dapat dipertanyakan, apa maksud pembinaan dan

pengawasan dalam perda ini dan sejauh mana hal tersebut

dapat dilakukan oleh kepala daerah.



Nama Perda Golongan Besaran Retribusi

Retribusi Retribusi

Perda Retribusi Dewasa Rp. 2000,- /orang

Kabupaten Jasa Umum Anak-anak Rp. 1000,-/orang

Gowa tentang

Retribusi Objek

Wisata Sejarah

dan Budaya



Perda Retribusi Pusat seni dan pameran sebesar Rp.

Kabupaten Perijinan 500,-/meter persegi

Kudus tentang Tertentu

Retribusi ijin

usaha



Perda Kota Retribusi a. Usaha jasa tehnik film :

Medan tentang Perijinan  Perusahaan film asing komersial

Retribusi Ijin Tertentu sebesar Rp.1.000.000 (satu juta

Usaha Pefilman rupiah).

 Perusahan film nasional

komersial sebesar Rp.500.000

(lima ratus ribu rupiah).



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 50

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





 Perusahaan film non komersial

sebesar Rp. 100.000 (seratus

ribu rupiah).

b. Gedung bioskop perlayar Rp. 500.000

(lima ratus ribu rupiah).

c. Usaha pertunjukan film seluloid

adalah sebagai berikut :

KLASEME TARIF ATAU

N PERTUNJUKAN

BIOSKOP FILM FILM

IMPOR NASIONAL

A II Rp. Rp. 8.000

15.000

AI Rp. Rp. 4.000

12.500

B Rp. Rp. 2.000

7.500

C Rp. Rp. 1.000

5.000

d. Penayangan film sebesar Rp.10.000.-

(sepuluh ribu rupiah)

e. Toko rental VCD/rekaman video

sebesar Rp. 150.000.- (seratus lima

puluh ribu rupiah).

f. Penyewaan VCD/rekaman video:

 Film impor sebesar Rp.

1.000.-/judul.

 Film nasional sebesar Rp.

500.-/judul.

g. Pertunjukan film keliling/layar tancap

sebesar Rp. 100.000 (seratus ribu

rupiah).

Perda Retribusi Pertunjukan kesenian dan kebudayaan

Kabupaten Jasa Usaha Rp. 100.000,- per malam

Lampung

Selatan

Retribusi Sewa

tempat pameran

dan lokasi

pertunjukan

Perda Retribusi Ada dalam lampiran Perda

Kabupaten Blora perijinan (data tidak diperoleh)

Retribusi Ijin tertentu

Usaha

pariwisata dan

Kebudayaan

Perda Kota Retribusi Ada dalam lampiran Perda

Surakarta Ijin perijinan (data tidak diperoleh)



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 51

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Usaha Rekreasi tertentu

dan Hiburan

Umum



Tabel 4.1.1. Perda-Perda Yang Mengatur Retribusi Daerah







Perda-Perda Pajak Daerah

Dalam penelitian ini terdapat empat perda pajak hiburan yang

dianalisis. Masing-masing jenis pajak yang dikenakan pada objek pajak

terkait seni dan budaya besarannya antara 20 - 25%. Prosentase ini

berdasarkan jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk

menonton dan atau menikmati hiburan tersebut.





Nama Perda Tujuan Perda Jenis Objek Pajak Besara

Pajak Terkait Kegiatan n

Seni dan Budaya Pajak

Peraturan Peraturan Daerah ini Pertunjukan kesenian; 25%

Daerah Kota bertujuan untuk melakukan antara lain kesenian

Ambon Nomor penyesuaian atas perda tradisional,

4 Tahun 2001 sejenis lama dengan pertunjukan sirkus,

tentang Pajak undang-undang yang baru. pameran seni, kontes

Hiburan Terutama terkait dengan kecantikan.

penamaan pajak. Pertunjukan/Pagelaran 25%

Berdasarkan undang- musik, tari, dan

undang lama, perda ini sejenisnya.

bernama Perda tentang

pemungutan Atas

Pertunjukan dan Keramaian

umum. Sedangkan

berdasarkan undang-

undang baru maka

penamaan perda perlu

diganti dengan perda

tentang Pajak Hiburan.

Peraturan Peraturan Daerah ini Pertunjukkan kesenian 20%

Daerah Kota bertujuan melakukan antara lain kesenian

Kupang penyesuaian atas perda tradisonal, pameran

Nomor 3 sejenis lama dengan seni, pameran busana,

Tahun 2002 undang-undang yang baru. kontes kecantikan.

tentang Pajak Pertunjukan/Pagelaran 25%

Hiburan musik dan tari.



Peraturan Peraturan Daerah ini Pertunjukan kesenian; 20%

Daerah bertujuan melakukan antara lain kesenian

Kabupaten penyesuaian atas perda tradisional,



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 52

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Wonosobo sejenis lama dengan pertunjukan sirkus,

Nomor 15 undang-undang yang baru. pasar malam,

Tahun 2001 pameran, bazaar,

tentang Pajak festival/ kontes.

Hiburan Pertunjukan/Pagelaran 20%

musik, tari, dan

sejenisnya.

Peraturan Peraturan Daerah ini Pertunjukkan kesenian 20%

Daerah Kota bertujuan melakukan antara lain kesenian

Semarang penyesuaian atas perda tradisional, musik, tari,

Nomor 9 sejenis lama dengan pertunjukkan sirkus,

Tahun 2001 undang-undang yang baru. pameran seni,

tentang Pajak pameran busana,

Hiburan kontes kecantikan.







Tabel 4.1.2. Perda-Perda Yang Mengatur Pajak-Pajak Daerah



4.1.2. Analisis



Perda retribusi dan pajak daerah merupakan jenis perda yang paling

sering ditemukan di tiap-tiap daerah. Setelah penerapan otonomi

daerah, tiap-tiap daerah berlomba untuk meningkatkan

pendapatannya dengan pembentukan perda retribusi. Retribusi dan

pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah.

Asumsinya, semakin besar pendapatan daerah maka semakin besar

anggaran untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan

daerah. Namun, kondisi ini sempat menimbulkan kekhawatiran,

terutama dari kalangan pengusaha. Banjir perda retribusi ini

diperkirakan berpotensi menghambat tumbuhnya iklim investasi di

daerah.



Undang-undang tentang pajak daerah dan retribusi daerah

memberikan batasan atas prinsip dan sasaran dalam penentuan tarif

retribusi. Prinsip ini ditetapkan berdasarkan pada golongan retribusi.65



– Retribusi jasa umum berdasarkan kebijakan daerah dengan

mempertimbangkan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan,

kemampuan masyarakat dan aspek keadilan;

– Retribusi jasa usaha berdasarkan pada tujuan untuk memperoleh

keuntungan yang layak;

– Retribusi perijinan tertentu berdasarkan pada tujuan untuk

menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan

pemberian ijin yang bersangkutan.



65

Pasal 21 UU No. 18/1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 53

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Penentuan prinsip dan sasaran ini untuk mencegah terjadinya

kesewenangan daerah dalam menetapkan jenis dan tarif retribusi.



Terkait dengan seni dan budaya, ada beberapa jenis retribusi daerah

dan pajak yang sudah dipaparkan pada bagian sebelumnya. Jenis

retribusi yang diterapkan, dari data Perda yang terkumpul, termasuk

dalam tiga golongan retribusi. Memang dalam penetapan pajak dan

retribusi ini sudah ada undang-undang yang mengaturnya. Artinya,

pemerintah daerah harus memperhatikan aturan undang-undang

ketika akan menerapkan suatu perda pajak daerah dan retribusi.



Dari sisi ekonomis, seni dan budaya bisa menjadi salah satu sumber

pendapatan bagi suatu daerah, apabila seni dan budaya tersebut bisa

dikembangkan untuk penopang bagi pariwisata di daerah tersebut.

Namun, perlu diingat bahwa seni dan budaya juga memerlukan upaya

pelestarian dan pengembangan agar mempunyai nilai kompetitif

sehingga mampu menjadi daya tarik. Kondisi ini perlu diperhatikan

oleh Pemda dalam merumuskan kebijakan retibusi dan pengalokasian

pendapatan daerah yang salah satu sumbernya dari bidang seni dan

budaya. Ada dua kebijakan yang terkait, yaitu:



a. Penerapan retribusi dan pajak yang tidak membebani;

Seni dan budaya adalah unsur bermasyarakat. Potensinya dapat

mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan pariwisata di

daerah. Sehingga pemerintah daerah perlu mempertimbangkan

upaya penerapan pungutan dalam bentuk retribusi maupun

pajak yang bisa membebani dan menghambat perkembangan

seni dan budaya. Bahkan seharusnya kebijakan yang diambil

adalah kebijakan yang mampu mendukung pengembangan seni

dan budaya seperti pembebasan atau pengurangan pungutan

bagi aktifitas seni dan budaya bisa ditempuh oleh pemerintah

daerah.



b. Pengalokasian dana untuk pelestarian seni dan budaya;

Pemerintah daerah perlu memberi perhatian yang serius bagi

upaya pelestarian seni dan budaya. Penerapan retribusi bagi

aktifitas seni dan budaya seharusnya juga diimbangi dengan

tindakan pemerintah melalui program-program yang didukung

dana APBD untuk pengembangan kegiatan seni dan budaya.



Dalam sampel-sampel perda tentang pajak hiburan, pertunjukan

kesenian tradisional juga dikenakan pajak yang besarannya bervariasi

yaitu 20% dan 25%. Selain itu, pameran seni juga dimasukkan dalam

objek pajak. Seharusnya, pemerintah daerah mempertimbangkan

penghapusan atau setidaknya keringanan pajak bagi pertunjukan

kesenian tertentu yang tersisih oleh mekanisme pasar (misalnya seni



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 54

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





tradisional atau seni rakyat). Hal ini perlu dilakukan, selain sebagai

stimulus perkembangan seni-seni tertentu yang tersisih, juga untuk

menumbuhkan minat masyarakat atas seni tersebut, sehingga

nantinya mampu bersaing.



Selain hal di atas, dasar penetapan tarif yang besarannya rata-rata

sama tersebut (undang-undang memberikan batas maksimal 35%),66

juga belum terlihat didasarkan pada kondisi obyektif tertentu pada

daerah terkait. Indikasinya, antara lain, dapat terlihat dari kategorisasi

yang tidak tepat sasaran. Mengapa pameran seni, misalnya,

disetarakan dengan kontes kecantikan? Lalu mengapa ini dibebani

pajak lebih ringan dari pagelaran musik/tari?



Padahal, terkait dengan pungutan pajak, ketentuan di dalam Perda

membuka kemungkinan untuk mengajukan pengurangan, keringanan,

dan pembebasan. Tata cara untuk mendapatkannya diatur oleh kepala

daerah. Untuk membuat ketentuan tersebut dapat efektif dan tepat

sasaran, tentu dibutuhkan data empiris di sektor tersebut, seperti

misalnya pertunjukan seni apa yang sudah dapat berjalan sendiri

mengikuti mekanisme pasar dan pertunjukan seni apa yang masih

butuh dukungan pemerintah. Tanpa adanya data obyektif, maka sulit

untuk menggunakan instrumen pajak dan retribusi ini sebagai alat

pemerintah untuk mengembangkan sektor seni dan budaya.



4.1.3.Kesimpulan



Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan pengenaan retribusi

daerah dan pajak daerah bagi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan

kesenian. Hal ini dilakukan untuk memberi dukungan pada pelestarian

dan pengembangan kesenian tersebut. Selain itu, penerapan pajak dan

retribusi semestinya mempertimbangkan kondisi masing-masing

daerah. Ini perlu untuk menciptakan keadilan dan keseimbangan

antara kewajiban masyarakat dengan tingkat layanan dan pelaksanaan

pembangunan di daerah bersangkutan.



Kesenian dan kebudayaan seharusnya tidak semata dipandang

sebagai objek yang mampu memberi sumbangan pendapatan besar

bagi daerah. Akan tetapi juga perlu dipandang sebagai asset daerah

yang perlu dikembangkan dengan mendapatkan stimulus dan

kontribusi dari pemerintah daerah. Sehingga dengan berkembangnya

seni budaya di daerah akan dapat mendorong pariwisata yang akan

mampu mendongkrak pendapatan daerah.







66

Pasal 3 ayat (1) huruf e UU No. 18/1997.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 55

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





4.1.2.Kebijakan Fiskal (Kepabeanan)



4.2.1. Hasil Penelitian



Ada 12 peraturan yang teridentifikasi berhubungan dengan masalah

fiskal. Beberapa di antaranya sudah diubah (UU Kepabeanan dan UU

Pajak Penghasilan) atau dicabut dengan peraturan yang lebih baru (PP

mengenai pelaksanaan ekspor, impor, dan lalu lintas devisa).



Peraturan-peraturan yang berhubungan dengan masalah fiskal

tersebut, masih dapat dibedakan lagi menjadi dua, yaitu peraturan

yang berhubungan dengan pajak (pajak pertambahan nilai dan pajak

penghasilan), serta peraturan yang berhubungan dengan masalah

kepabeanan (bea masuk dan bea keluar).



Peraturan yang berhubungan dengan kepabeanan yang berhasil

teridentifikasi adalah sebagai berikut:

Nama Peraturan Jenis Peraturan Tahun

Ditetapkan

PP No. 16/1970 tentang Peraturan 1970

Penyempurnaan Pelaksanaan Pemerintah

Ekspor, Impor dan Lalu Lintas

Devisa

PP No. 11/1976 tentang Peraturan 1976

Perubahan PP No. 16/1970 Pemerintah

PP No. 1/1982 tentang Peraturan 1982

Pelaksanaan Ekspor, Impor Pemerintah

dan Lalu Lintas Devisa

UU No. 10/1995 tentang Undang-Undang 1995

Kepabeanan

PP No. 35/2005 tentang Peraturan 2005

Pungutan Ekspor atas Barang Pemerintah

Ekspor Tertentu

UU No. 17/2006 tentang Undang-Undang 2006

Perubahan atas UU No.

10/1995 tentang Kepabeanan

Peraturan Menkeu No. Peraturan Menteri 2007

106/PMK.04/2007 tentang

Pembebasan Bea Masuk Dan/

Atau Cukai atas Impor

Kembali Barang yang telah

Diekspor

PP No. 55/2008 tentang Peraturan 2008

Pengenaan Bea Keluar Pemerintah

Terhadap Barang Ekspor









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 56

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Peraturan Menkeu No. Peraturan Menteri 2008

223/PMK.011/2008 tentang

Penetapan Barang Ekspor

yang Dikenakan Bea Keluar

dengan Tarif Bea Keluar





Tabel 4.2.1. Peraturan-Peraturan Tentang Kepabeanan



Sebelum tahun 1995, aktivitas yang berhubungan dengan ekspor,

impor, dan lalu lintas devisa diatur dengan peraturan pemerintah (PP

No. 16/1970, PP No. 11/1976, dan PP No. 1/1982). Peraturan-peraturan

ini hanya berkutat dengan pengaturan mengenai devisa (alat

pembayaran) ekspor impor saja, namun tidak mengatur dengan jelas

pelaksanaan ekspor impor yang didelegasikan untuk diatur pada level

peraturan menteri. Di masa pasca kemerdekaan, pengaturan yang

rinci mengenai ekspor dan impor pada level undang-undang baru

dapat ditemukan di dalam UU No. 10/1995 tentang Kepabean yang

beberapa ketentuannya diubah lagi dengan UU No. 17/2006.



Dari hasil diskusi dan wawancara dengan narasumber, masalah yang

penting untuk diamati sehubungan dengan praktek kegiatan seni dan

budaya, berhubungan dengan masalah kepabeanan. Masalah ini

timbul akibat tidak adanya praktek yang pasti dalam pemberlakuan

bea masuk dan bea keluar atas barang-barang yang digunakan untuk

pengadaan pameran seni di luar negeri. Di awal penelitian, kami

dihadapkan pada pertanyaan mengenai pemberlakuan peraturan-peraturan

kepabeanan sehubungan dengan barang-barang yang diekspor/diimpor

untuk keperluan pameran. Pertanyaan ini merupakan pengalaman pribadi

dari salah seorang narasumber kami.



UU No. 10/1995 tentang Kepabeanan

Tujuan dari UU No. 10/1995 adalah untuk memantau dan mengawasi

lalu lintas perdagangan internasional sehubungan dengan arus barang

masuk ke dan keluar dari wilayah Indonesia. Selain itu, diatur pula

ketentuan mengenai pungutan bea masuk atas barang yang masuk

tersebut – pengaturan mengenai bea keluar (pungutan untuk barang

ekspor) sendiri baru dapat ditemukan di dalam UU No. 17/2006

tentang Perubahan atas UU No. 10/1995. Sebelumnya, pungutan atas

barang ekspor diatur di dalam PP No. 1/1982 (berupa pajak ekspor).



Dari ketentuan-ketentuan di dalam UU No. 10/1995:

1. Pada intinya UU No. 10/1995 adalah aturan mengenai

kepabeanan (ekspor dan impor) yang pertama kali dibuat pada

level undang-undang setelah Indonesia merdeka.

2. Beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan sehubungan

dengan kegiatan seniman yang berhubungan dengan keluar

masuknya barang dari dan ke wilayah Indonesia (misalnya untuk



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 57

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





pameran di luar negeri atau pameran untuk umum di dalam

negeri dengan barang yang didatangkan dari luar negeri) adalah

sebagai berikut:

a. Adanya kewajiban untuk membayar pajak ekspor dan bea

impor, karena dianggap telah ada ekspor (mengeluarkan

barang dari Daerah Pabean ketika berangkat) dan impor

(memasukkan barang ke dalam Daerah Pabean ketika

kembali).

b. Terdapat ketentuan pengecualian mutlak

(dikecualikan/berupa pembebasan) bea impor yang

menyangkut barang-barang hadiah/hibah yang digunakan

untuk keperluan kebudayaan (pasal 25 huruf e). Meskipun

demikian, ketentuan untuk pembebasan bea akan diatur

lebih lanjut dengan peraturan menteri, karena berdasarkan

rekomendasi departemen terkait (?).

c. Terdapat perkecualian untuk barang-barang yang

digunakan untuk tempat yang terbuka untuk umum,

seperti museum dan kebun binatang (pasal 25 huruf h).

d. Terdapat ketentuan pengecualian relatif (dapat

dikecualikan/berupa pembebasan atau keringanan) bea

impor untuk barang-barang yang telah diekspor, kemudian

diimpor kembali dalam kualitas yang sama (pasal 26 huruf

g). Penjelasan pasal tersebut menyebut secara eksplisit

barang keperluan pameran sebagai contoh dari barang

yang memenuhi kriteria ini.

3. Terdapat beberapa aturan untuk banding atas keputusan

pengenaan bea masuk yang pada kenyataannya tidak efektif –

kemudian diubah di dalam UU No. 17/2006 tentang Perubahan

atas UU No. 10/1995 tentang Kepabean.

4. Aturan-aturan di atas sudah diubah dengan UU No. 17/2006,

meskipun begitu ketentuan mengenai pengecualian sehubungan

dengan pameran seni yang dijelaskan dalam poin ke dua,

penting untuk melihat asal muasal adanya aturan tersebut.



UU No. 17/2006 tentang Perubahan atas UU No. 10/1995 tentang

Kepabeanan

Pada intinya UU No. 17/2006 ditujukan untuk mengubah UU No.

10/1995 dengan alasan belum adanya rumusan yang jelas tentang

tindakan-tindakan penyelundupan, terutama menyangkut masuk

keluarnya barang melalui laut. Selain itu fungsi TPB (Tempat

Penimbunan Berikat) diperluas dengan fungsi pelelangan dan daur

ulang. Sehubungan dengan perdagangan internasional, terdapat

beberapa perubahan untuk menentukan penetapan nilai pabean

sesuai dengan konvensi internasional (GATTT – WTO). Perubahan

terakhir yang tak kalah penting adalah pengaturan baru mengenai

lembaga banding yang sebelumnya tidak berjalan efektif.



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 58

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009







Dari ketentuan di dalam UU No. 17/2006 perlu diperhatikan:

1. Sehubungan dengan barang-barang yang digunakan untuk

keperluan pameran, bea impor untuk barang yang tadinya telah

diekspor diatur sebagai pengecualian mutlak di dalam pasal 25

huruf p (di dalam UU No. 10/1995 masuk kriteria pengecualian

relatif). Beberapa aturan menyangkut pengecualian mutlak yang

berhubungan dengan hal ini (hadiah/hibah kebudayaan dan

barang yang digunakan untuk keperluan tempat yang terbuka

untuk umum tetap masuk ke dalam pengecualian mutlak (pasal

25 huruf d dan huruf e)).

2. Dari peraturan yang ada belum jelas bagaimana mekanisme

pembebasan bea masuk tersebut dilaksanakan.Wewenang untuk

menetapkan tata cara pelaksanaan didelegasikan kepada

Menteri Keuangan (tata cara pelaksanaan kemudian diatur di

dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 106/PMK.04/2007).

3. Keberatan atas penetapan tarif bea masuk diajukan kepada

Direktur Jenderal Bea dan Cukai dalam waktu 60 hari dengan

menyerahkan jaminan sebesar tarif bea masuk yang harus

dibayarkan (Pasal 93). Jaminan tidak diperlukan, apabila barang

terkait belum dikeluarkan dari kawasan pabean. Apabila

keberatan ditolak, maka jaminan akan digunakan untuk

membayar bea masuk yang dibebankan, sedang apabila

keberatan dikabulkan, maka jaminan akan dikembalikan. Apabila

dalam waktu 60 hari tidak ada keputusan, keberatan akan

dianggap dikabulkan dan jaminan akan dikembalikan.

Pengembalian jaminan melebihi waktu 30 hari sejak keberatan

dikabulkan, akan berakibat tambahan bunga (atas jaminan)

sebesar 2% per bulan yang akan diberikan oleh pemerintah

sampai maksimal 24 bulan.

4. Keberatan atas penetapan pejabat bea dan cukai selain tarif,

juga harus diajukan kepada Direktur Jenderal, dengan ketentuan

sebagaimana di atas (Pasal 93A).

5. Keberatan atas sanksi denda juga diajukan terhadap Direktur

Jenderal, dengan ketentuan tersebut di atas (Pasal 94).

6. Keberatan atas keputusan Direktur Jenderal mengenai

keberatan-keberatan tersebut di atas dapat diajukan ke

Pengadilan Pajak dalam waktu 60 hari, dengan syarat pungutan

yang dibebankan telah dilunasi (Pasal 95).



4.2.2. Analisis



Praktek adanya pungutan terhadap barang-barang keperluan pameran

di luar negeri, berupa pungutan pajak ekspor ketika barang tersebut

dibawa ke luar negeri dan berupa bea masuk ketika barang pameran



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 59

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





tersebut dibawa kembali ke dalam negeri, ternyata tidak sesuai

dengan peraturan perundangan yang ada.



Seperti sudah disebutkan di bagian hasil penelitian di atas (baik UU No.

10/1995 ataupun UU No. 17/2006), pada dasarnya terdapat dua pasal

yang dapat dijadikan dasar pengecualian atas barang-barang untuk

keperluan pameran seni.



Untuk keperluan pameran benda seni dari luar negeri di wilayah

Indonesia, pada dasarnya pasti akan dikecualikan, apabila memang

untuk meningkatkan hubungan kebudayaan antar negara. Meskipun

begitu, undang-undang juga mengatur perlunya rekomendasi dari

departemen terkait (untuk konteks saat ini adalah Depbudpar) yang

belum tentu tahu akan aturan ini. Sedangkan untuk pameran seni di

luar negeri dengan barang-barang dari Indonesia, pada dasarnya ada

ketentuan pembebasan bea impor ketika barang tersebut masuk

kembali ke Indonesia. Kriteria ini di dalam UU No. 10/1995 termasuk ke

dalam pengecualian relatif, sedang menurut perubahan di dalam UU

No. 17/2006 dimasukkan ke dalam pengecualian mutlak.



Apa relevansi peraturan-peraturan ini terhadap kegiatan kesenian dan

kebudayaan? Mengapa hal ini juga menjadi begitu penting?



Seperti sudah disinggung di atas, masalah-masalah di lapangan timbul

akibat tidak adanya aturan yang pasti mengenai pemberlakuan bea

masuk dan bea keluar. Dari pengalaman seorang perupa terkemuka di

Indonesia, setidaknya terdapat beberapa hal yang perlu dijadikan

catatan:67



1. Tidak ada kejelasan akan aturan main dalam memasukkan atau

mengeluarkan barang di wilayah pabean Republik Indonesia.

2. Ketidakjelasan juga menyangkut prosedur penyimpanan

(termasuk untuk pengambilan barang) dan tarif yang dikenakan

oleh pihak pabean.

3. Adanya ketidakjelasan tersebut mengakibatkan terjadinya

praktek tindakan sewenang-wenang oleh aparat pabean, baik

berupa pemberlakuan prosedur yang lama dan berbelit-belit,

hingga praktek pemerasan.

4. Seniman sendiri mengharap adanya pemisahan antara barang

komersial dan non-komersial, karena harga benda-benda seni

tentu tidak dapat diukur setara dengan benda-benda komersial

biasa.



Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi komunitas seni. Adanya

pameran di luar negeri, dapat dijadikan sebagai sarana untuk

67

Wawancara Tita Rubi (30 Maret 2009).

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 60

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





mengembangkan potensi kegiatan kesenian dan kebudayaan di

Indonesia. Namun demikian, untuk memanfaatkan potensi ini, perluu

ada perlawanan terhadap kesewenang-wenangan aparat di lapangan.

Setidaknya ada dua alternatif yang mungkin ditempuh, yaitu dengan

memanfaatkan bantuan hukum (baik dengan melalui konsultasi

sebelum kegiatan dilaksanakan, maupun meminta advokasi ketika

telah mendapatkan masalah dengan aparat pabean), serta

menghidupkan perdebatan mengenai masalah ini.



4.2.3. Kesimpulan



Dari paparan di atas, sebenarnya sudah cukup jelas, bahwa aturan

yang tak jelas, serta pengetahuan yang minim dari warga negara,

mengakibatkan peluang terjadinya penyalahgunaan kewenangan oleh

aparat negara menjadi besar. Di sisi lain, sekalipun perubahan

diharapkan terjadi dari lembaga negara (pemerintah), pemerintah

sendiri belum tentu tahu atau mau tahu permasalahan yang terjadi.

Dalam hal ini perlu peran aktif dari warga negara sendiri untuk dapat

memanfaatkan terjadinya perubahan dari bawah ke atas, antara lain

melalui optimalisasi bantuan hukum. Selain itu perlu dimunculkan

perdebatan publik untuk menggalang kekuatan komunitas seni untuk

mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang. Banyak orang

selama ini tak peduli, karena tak banyak orang mengetahui hal

tersebut.





4.3.1.Dokumentasi Karya Seni



4.3.1. Hasil Penelitian



Hasil penelitian menunjukkan 4 peraturan yang berhubungan dengan

dokumentasi karya seni, yaitu UU No. 4/1990 tentang Serah Simpan

Karya Cetak dan Karya Rekam, PP No. 70/1991 tentang Pelaksanaan

Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, PP No. 23/1999 tentang

Pelaksanaan Serah-Simpan dan Pengelolaan Karya Rekam Film Cerita

atau Film Dokumenter, dan Perda DKI Jakarta No. 6/2006 tentang

Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam.



UU No. 4/1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam

Tujuan dibentuknya undang-undang ini adalah untuk melestarikan dan

memanfaatkan kebudayaan bangsa. Tujuan tersebut akan dicapai

dengan membuat koleksi karya rekam dan karya cetak yang dihasilkan

di Indonesia, melalui pengaturan kewajiban penyerahan oleh penerbit

dan pengusaha rekaman. Selain karya rekam dan karya cetak yang

dihasilkan di Indonesia, koleksi ini juga dimaksudkan untuk

mengumpulkan karya-karya dari luar negeri yang berhubungan



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 61

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





dengan Indonesia (dibuat oleh warga negara Indonesia atau karya-

karya mengenai Indonesia yang masuk ke Indonesia). Pembuatan

koleksi tersebut juga merupakan salah satu usaha untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa.



Undang-undang tersebut mengatur hal-hal berikut ini:



1. Kewajiban bagi penerbit dan pengusaha rekaman untuk

menyerahkan setiap karya rekam atau karya cetak yang

dihasilkannya kepada Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan

Daerah dalam waktu tiga bulan (pasal 2 dan pasal 3).

2. Kewajiban tersebut juga berlaku bagi warga negara Indonesia

yang menerbitkan atau merekam karyanya di luar negeri (pasal

4).

3. Kewajiban tersebut juga berlaku bagi siapa saja yang

memasukkan karya-karya tentang Indonesia dari luar negeri,

apabila karya-karya yang dimasukkan ke Indonesia lebih dari 10

buah (akan dihitung secara kumulatif dalam waktu dua tahun)

dan untuk diperdagangkan (pasal 6).

4. Karya-karya yang menjadi koleksi tidak digunakan untuk tujuan

komersial (pasal 7).

5. Penerbit dan pengusaha rekaman wajib menyerahkan daftar

produk yang dihasilkannya setiap 6 bulan sekali kepada

Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah di propinsinya.

Ketentuan ini juga berlaku bagi setiap orang yang memasukkan

karya cetak atau karya rekam dari luar negeri (pasal 8).

6. Pengelolaan penyimpanan dilakukan oleh Perpustakaan Nasional

dan Perpustakaan Daerah atau badan yang ditunjuk khusus

untuk itu (pasal 10).

7. Pelanggaran kewajiban-kewajiban tersebut (pasal 2, 3, 4, 6, 7,

dan 8) diancam hukuman pidana (pasal 11). Untuk pelanggaran

kewajiban yang diatur di dalam pasal 2, 3, 4, 6, dan 7 (kewajiban

penyerahan dan penggunaan) diancam hukuman pidana

maksimal 6 (enam) bulan atau denda maksimal 5 (lima) juta

rupiah, sementara untuk pelanggaran kewajiban yang diatur di

dalam pasal 8 (kewajiban menyerahkan daftar produk yang

dihasilkan) berlaku ancaman pidana maksimal 3 (tiga) bulan

atau denda maksimal 2,5 (dua setengah) juta rupiah.



PP No. 70/1991 tentang Pelaksanaan Serah Simpan Karya Cetak dan

Karya Rekam

Tujuan dari PP No. 70/1991 adalah mengatur norma-norma pelaksana

dari ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam UU No. 4/1990 tentang

Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Film. Sebagai norma pelaksana,

maka ketentuan-ketentuan yang diatur bersifat lebih spesifik dan

mengatur masalah-masalah teknis. Di dalam pasal 13 UU No. 4/1990



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 62

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





ditentukan bahwa pengaturan mengenai kewajiban yang diatur di

dalam undang-undang tersebut akan diatur di dalam Peraturan

Pemerintah, yaitu PP No. 70/1991 ini.



Pada intinya PP No. 70/1991 mengulang norma-norma yang sudah

ditetapkan oleh UU. Pengaturan yang bersifat lebih spesifik:



1. Selain karya cetak yang sudah ditentukan di dalam UU (karya

intelektual dan karya artistik dalam bentuk buku, majalah, surat

kabar, peta, brosur dan sejenisnya) PP ini juga merinci definisi

beberapa produk, misalnya buku (fiksi dan non fiksi), serta

memberikan kewenangan kepada Kepala Perpustakaan Nasional

untuk menentukan karya cetak dalam bentuk apa yang wajib

diserahkan (pasal 5).

2. Karya cetak diserahkan secara langsung atau melalui pos

tercatat (pasal 7).

3. Perincian definisi karya rekam yang harus diserahkan, yaitu

dalam bentuk pita atau piringan, seperti film, kaset audio, kaset

video, video disk, piringan hitam, disket dan bentuk lain sesuai

dengan perkembangan teknologi (pasal 10).

4. Karya rekam diserahkan secara langsung atau melalui pos

tercatat (pasal 12).

5. Karya-karya yang diserahkan setidaknya memiliki kualitas sama

dengan karya yang dihasilkan (pasal 6).

6. Daftar judul penerbitan yang harus dilaporkan oleh penerbit

setiap 6 bulan sekali oleh penerbit memuat sekurang-kurangnya

keterangan judul karya cetak, nama

pengarang/penyusun/penerjemah, nomor cetakan, tempat terbit,

nama penerbit, tahun terbit, nomor jilid, jumlah halaman, jenis

edisi (pasal 13).

7. Daftar judul rekaman yang harus dilaporkan oleh pengusaha

rekaman memuat sekurang-kurangnya nama

pencipta/komposer/pengarang/sutradara, judul karya rekam,

tempat perekaman, nama perusahaan rekaman, dan tahun

perekaman (pasal 14).

8. Pengelolaan karya yang diserahkan menjadi tanggungjawab

Kepala Perpustakaan Nasional (pasal 15).

9. Sebagai bukti penyerahan karya, pihak yang menyerahkan akan

menerima tanda terima (pasal 16).

10. Perpustakaan Nasional atau Perpustakaan Daerah membuat

Bibliografi yang berisi daftar karya-karya yang telah diserahkan

(pasal 19).

11. Karya-karya yang karena sifatnya dilarang oleh pemerintah

untuk diedarkan untuk umum, hanya dapat didayagunakan

dengan seizin Kepala Perpustakaan Nasional.





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 63

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





12. Perpustakaan Nasional atau Perpustakaan Daerah berwenang

memantau pelaksanaan serah simpan, memberi peringatan

kepada pihak yang lalai dan mendayagunakan karya cetak dan

karya rekam sesuai dengan ketentuan yang berlaku (pasal 20).



PP No. 70/1991 tentang Serah-Simpan dan Pengelolaan Karya Rekam

Film Cerita atau Film Dokumenter

Peraturan ini untuk mengatur penyimpanan dan pengelolaan karya

rekam film cerita dan film dokumenter yang mempunyai bahan baku

khusus, sehingga perlu ada penanganan khusus.



Pada intinya peraturan ini mengulang aturan yang sudah ditentukan

oleh UU No. 4/1990 dan PP No. 70/1991 tentang serah simpan karya

rekam. Hanya secara spesifik PP ini mengatur serah simpan karya

rekam berupa film cerita atau film dokumenter karena dianggap

memakai bahan khusus, sehingga perlu penanganan khusus. Selain itu

PP No. 23/1999 ini juga merinci ketentuan mengenai serah simpan

dengan lebih rinci dibandingkan PP No. 70/1991. Pengaturan tersebut

adalah:



1. PP ini hanya mewajibkan serah simpan film cerita dan film

dokumenter.

2. Film yang diserahsimpankan dipersyaratkan film yang telah lulus

sensor.

3. Kewajiban untuk menyerahkan daftar judul karya rekam film

cerita dan film dokumenter oleh pengusaha rekaman setiap 6

tahun sekali.

4. Perpustakaan Nasional atau Perpustakaan Daerah dapat

bekerjasama dengan lembaga lain dalam pengelolaan film cerita

dan film dokumenter yang diserahsimpankan.

5. Kepala Perpustakaan Nasional dapat memberi penghargaan

kepada pihak yang membantu pengelolaan film cerita dan film

dokumenter yang diserahsimpankan (kecuali untuk

pengawasan).

6. Karya yang diserahsimpankan dapat ditolak oleh Kepala

Perpustakaan dengan alasan tidak memenuhi persyaratan

kualitas: kualitas rekaman, kualitas bahan baku, keutuhan,

kelengkapan cerita dan tahan lama untuk disimpan.

7. Penolakan dan pengembalian tidak meniadakan kewajiban

menyerahkan karya rekam tersebut.

8. Kepala Perpustakaan berwenang menghentikan pemanfaatan

karya yang diserahsimpankan, apabila pemanfaatan tidak untuk

kepentingan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi, penelitian, penyebaran informasi dan kebudayaan.







PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 64

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





9. Karya-karya yang dilarang oleh pemerintah untuk diedarkan

untuk umum, hanya bisa dimanfaatkan setelah ada izin tertulis

dari Kepala Perpustakaan Nasional.



Perda DKI Jakarta No. 6/2006 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan

Karya Rekam

Tujuan dari peraturan ini adalah pengawasan dan pembinaan terhadap

karya cetak dan karya rekam yang diterbitkan di daerah atau masuk

ke daerah, sehingga menghasilkan kualitas yang berguna bagi

masyarakat daerah.



Pada intinya peraturan tersebut mengatur kewajiban-kewajiban yang

telah ditentukan oleh UU No. 4/1990 tentang Karya Cetak dan Karya

Rekam dan PP No. 70/1991 sebagai peraturan pelaksana undang-

undang tersebut, dengan penekanan pada penggunaan kewenangan di

wilayah Provinsi DKI Jakarta – dengan mengganti logika wilayah negara

RI dengan wilayah Provinsi DKI Jakarta. Uniknya, meskipun ketentuan

pelaksanaan serah simpan sebenarnya juga sudah diatur oleh PP No.

70/1991, Perda tersebut juga mengatur adanya delegasi untuk

mengatur lebih lanjut ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan

serah simpan dan pengelolaannya di dalam Peraturan Gubernur (logika

ini juga disalin dari logika di dalam UU No. 4/1990).



Perbedaan-perbedaan aturan Perda No. 6/2006 ini dengan aturan-

aturan di dalam PP No. 70/1991 jo. UU No. 4/1990 adalah:



1. Tata cara pelaksanaan yang didelegasikan kepada Gubernur

(untuk diatur dengan Peraturan Gubernur).

2. Tata cara pengelolaan yang didelegasikan kepada Gubernur

(padahal menurut PP sudah jelas bahwa pengelolaan dilakukan

oleh Perpustakaan Nasional atau Perpustakaan Daerah).

3. Pembinaan dan pengawasan yang menjadi kewenangan

Gubernur (sementara di dalam PP hal-hal tersebut dianggap

sebagai pengelolaan dan menjadi tugas Perpustakaan Nasional

atau Perpustakaan Daerah).

4. Adanya ketentuan pidana denda yang jauh melebihi norma

pidana di dalam UU No. 4/1990 (di dalam undang-undang diatur

ancaman hukuman denda maksimal 5 juta bagi pihak-pihak yang

melanggar kewajiban serah simpan, sementara di Perda diatur

ancaman hukuman denda maksimal 50 juta).

5. Tidak ada kewajiban bagi penerbit atau pengusaha rekaman

untuk melaporkan karya-karya yang dihasilkannya secara

berkala.



4.3.2. Analisis





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 65

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Pengaturan mengenai serah simpan karya cetak dan karya rekam,

pada dasarnya bisa merupakan suatu ide yang cukup baik dalam

memajukan kebudayaan Indonesia, asal motifnya memang hanya

untuk mengumpulkan karya-karya hasil budaya Indonesia (netral).



Namun demikian, apabila dihubungkan dengan motif politik

pemerintahan Orde Baru ketika itu, tidak menutup kemungkinan

adanya motif penguasa untuk mengawasi hasil karya cetak dan karya

rekam warga negara Indonesia atau karya cetak dan karya rekam

mengenai Indonesia yang masuk ke Indonesia.68 Pengaturan kewajiban

tersebut juga dikenakan bagi warga negara Indonesia di luar negeri,

maupun bagi siapa saja yang memasukkan karya rekam dan karya

cetak mengenai Indonesia ke Indonesia – meskipun memakai limit

minimal 10 buah dan untuk diperdagangkan.



Konsep yang berangkat dari pemikiran untuk mengumpulkan segala

sesuatu “mengenai Indonesia” yang mewajibkan pihak pembuat untuk

menyerahkan karyanya kepada instansi yang berwenang, juga akan

mengalami kendala implementasi. Misalnya: bagaimana memastikan

adanya pemenuhan kewajiban tersebut oleh warga negara Indonesia

di luar negeri? Apakah artinya juga ada kewajiban lapor bagi penerbit

atau produser rekaman di luar negeri? Secara riil peraturan seperti ini

akan sulit ditegakkan, karena ada permasalahan yurisdiksi atau

kewenangan. Walaupun secara konsep peraturan ini dapat dinilai gagal

– karena faktor implementasi yang tak terpikirkan dan muatan politis

yang terkandung di dalamnya, secara prinsipil ide untuk

mengumpulkan karya cetak dan karya rekam dalam suatu koleksi

umum yang dapat diakses dengan mudah dan tanpa biaya oleh siapa

saja adalah ide yang sangat bagus.



Masalahnya, dalam membentuk suatu peraturan, perlu

dipertimbangkan juga metode yang digunakan, sehingga mencapai

tujuan yang hendak diraih tanpa menimbulkan masalah baru.

Pengaturan yang berhubungan dengan penilaian substansi seharusnya

dihilangkan, kecuali memang ada kriteria yang jelas dalam rangka

melindungi nilai tertentu yang dipandang penting, seperti misalnya

pembatasan akses karya-karya dengan substansi yang dinilai tabu

untuk anak-anak.



Dasar alasan pengaturan yang tidak jelas bisa kita lihat juga dalam PP

No. 23/1999 yang bertujuan untuk merinci lagi pelaksanaan serah

simpan film cerita dan film dokumenter seperti diatur di dalam PP No.

70/1991. Yang mengundang pertanyaan dalam penetapan tujuan ini:

68

Lihat pembahasan di dalam Bab 3. Paling tidak, ada dominasi peran pemerintah dalam

menentukan budaya yang “baik” dan “tidak baik” yang sangat mungkin mengandung

muatan politis pihak yang berkuasa ketika itu.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 66

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





apa benar film cerita dan film dokumenter diatur tersendiri karena

mengandung bahan khusus? Karena, penjelasan mengenai pengertian

film cerita dan film dokumenter dalam PP itu sendiri tidak

menyinggung mengenai adanya kekhususan film-film tersebut karena

bahan yang digunakan dalam pembuatannya.



Perlu diperhatikan juga, bahwa strategi penetapan suatu kewajiban

dengan ancaman sanksi belum tentu efektif sebagai sarana untuk

mencapai tujuan – dalam hal ini mengumpulkan karya budaya

Indonesia. Belum lagi, masalah implementasinya yang tidak mudah,

bahkan tidak realistis.69



Yang harus dilakukan oleh pemerintah, seharusnya justru bagaimana

memberi nilai tambah kepada produsen (penerbit atau pengusaha

rekaman) sehingga mereka akan tertarik untuk berpartisipasi dalam

“proyek koleksi” tersebut. Artinya, harus ada juga usaha dari

pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan-

perpustakaan yang ada, sehingga orang akan tertarik untuk datang

dan memanfaatkan koleksi yang ada. Kesempatan untuk bisa terus

“hidup” melalui karya yang dikoleksi oleh perpustakaan dan dapat

dibaca atau ditonton oleh orang Indonesia, tentu dapat menjadi nilai

tambah menarik di mata produsen karya cetak atau karya rekam.



Ke depannya, aturan seperti ini perlu ditinjau kembali, dengan dasar

alasan (motif) yang netral dan dengan mempertimbangkan

implementasi yang masuk akal. Contoh pengaturan yang tetap dapat

mencapai tujuan tersebut dengan cara seperti itu, misalnya melalui

penomoran buku (sistem ISBN) – di mana pengaturan benar-benar

ditujukan pada pengaturan mengenai penerbitan dan bukan

pembuatan sebuah karya. Pengaturan juga ditujukan untuk

memberikan nilai tambah bagi pihak-pihak terkait – dalam hal ini lebih

memudahkan perpustakaan dan toko buku untuk mengidentifikasi

suatu karya, bukan untuk memberlakukan suatu kewajiban. Untuk hal

ini, kebetulan Perpustakaan Nasional juga telah ditunjuk menjadi

lembaga yang berwenang untuk mengelola sistem penomoran ini.



Tiga peraturan tersebut di atas (UU No. 4/1990, PP No. 70/1991,dan PP

No. 23/1999), dibuat pada level nasional dan masih didasari oleh

konsep yang serupa. Sementara itu Perda DKI Jakarta No. 6/2006

69

Dari hasil pertemuan rutin kami dengan anggota DKJ, terbukti bahwa aturan ini tidak

banyak diketahui oleh para sineas. Selama ini kopi film diserahkan melalui Gedung Arsip

Nasional dengan membayar biaya penyimpanan. Praktek ini tentu berbeda dengan konsep

yang telah ditetapkan dalam UU No. 4/1990, tapi kenyataannya praktek ini yang berlaku

sebagai aturan di lapangan. Begitu halnya dengan kewajiban bagi penerbit. Dari pengakuan

salah satu narasumber kami (pustakawan Dan Lev Law Library), kewajiban penyerahan yang

selama ini dia laksanakan adalah pelaksanaan sistem penomoran ISBN (bukan dalam rangka

implementasi peraturan ini).

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 67

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





hanya dibuat untuk lingkup Jakarta. Meskipun mungkin konsep yang

dipakai juga serupa, namun ada beberapa alasan mengapa konsep

yang dipakai belum tentu berhubungan dengan maksud UU No.

4/1990.



Pertama, tujuan peraturan ini adalah pengawasan dan pembinaan

terhadap karya cetak dan karya rekam yang diterbitkan di daerah atau

masuk ke daerah, sehingga menghasilkan kualitas yang berguna bagi

masyarakat daerah. Dalam hal ini telah ada konsep yang serupa

(pemerintah sebagai pembentuk budaya masyarakat), namun telah

menempatkan daerah tersebut (DKI Jakarta) sebagai satu daerah

tersendiri.



Fatalnya, peraturan ini hanya menyalin ketentuan-ketentuan di dalam

UU No. 4/1990, tanpa mengkaji lagi isi peraturan itu sendiri. Sehingga,

dalam pengaturannya, kewajiban serah simpan dikenakan bagi “setiap

pengusaha rekaman yang memasukkan karya rekam dan/atau karya

rekam film cerita atau dokumenter mengenai Indonesia ke dalam

Daerah dengan maksud diperdagangkan […]”.70 Ketentuan yang

tadinya berlaku bagi importir (memasukkan karya dari luar negeri),

akhirnya berlaku juga bagi pihak yang memasukkan karya ke provinsi

DKI Jakarta (baca: termasuk karya yang dimasukkan dari daerah lain di

Indonesia). Lalu bagaimana cara mengawasinya?



Selain itu, hal yang cukup patut mendapat perhatian dalam Perda ini,

adalah adanya pengaturan sanksi pidana yang jelas bertentangan

dengan undang-undang. Tidak hanya bertentangan dengan undang-

undang, adanya pengaturan teknis mengenai pelaksanaan serah

simpan, termasuk pengelolaan karya cetak dan karya rekam yang

diserahkan, di dalam Perda ini, tidak memperhitungkan ketentuan-

ketentuan yang sudah ditetapkan di dalam PP No. 70/1991, misalnya

mengenai kewenangan pelaksanaan dan pengelolaan yang mestinya

ada pada Perpustakaan Daerah (bukan Gubernur).



Secara prinsipil, pendapat kami mengenai Perda tersebut serupa

dengan pendapat kami mengenai UU No. 4/1990. Meskipun barangkali

ada tujuan baik yang hendak dicapai, namun adanya maksud politis

dari penguasa harus dapat sebisa mungkin diminimalisir, yaitu dengan

memakai pendekatan pengaturan dengan penekanan pada adanya

fasilitas dari pemerintah untuk menyimpan karya cetak dan karya

rekam yang dihasilkan, bukan dengan adanya kewajiban , apalagi

pembinaan dan pengawasan pemerintah atas substansi karya-karya

tertentu.





70

Pasal 8 Perda DKI Jakarta No. 6/2006.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 68

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





4.3.3. Kesimpulan



Pengaturan mengenai dokumentasi belum dapat mencapai hasil yang

diidamkan – yaitu adanya koleksi nasional karya rekam dan karya

cetak yang dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Kemungkinan besar hal ini terjadi karena motif awal pengaturan ini

lebih bersifat pertimbangan politis, bukan pertimbangan teknis.

Bahkan pemangku kepentingan sendiri banyak yang tidak mengetahui

adanya peraturan ini. Dari sisi teknis, pengaturan untuk

pendokumentasian, akan lebih dapat terlaksana dengan mengubah

metode pendekatan: dari pembebanan kewajiban menjadi penyediaan

fasilitas bagi pihak-pihak terkait hal tersebut.





4.3.2.Pelestarian Cagar Budaya



4.4.1. Hasil Penelitian





Peraturan perundang-undangan yang terkait benda cagar budaya

dalam penelitian ini ada tiga, yaitu:







1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya (UU

No. 5/1992);



2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya

(PP No. 10/1993);



3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan

dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum (PP No.

19/1995);



4. Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1992 tentang Pengelolaan

Taman Wisata Candi Borobudur dan Taman Wisata Candi

Prambanan serta Pengendalian lingkungan kawasannya (Keppres

No. 1/1992).







Keempat jenis peraturan tersebut menempatkan benda cagar budaya

sebagai obyek vital yang memerlukan pemeliharaan sekaligus

pemanfaatan. UU No. 5/1992 mengakui adanya korelasi antara benda

cagar budaya dengan identitas bangsa dan kepentingan nasional.

Pengakuan tersebut tertuang dalam konsiderans menimbang butir (a)

sebagai berikut:



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 69

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









“Benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang

penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu

pengetahuan dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan

dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan

kepentingan nasional.”







Ada tiga objek penting yang menjadi “pengguna” benda cagar budaya,

yaitu sejarah, ilmu pengetahuan dan budaya. Tiga objek ini diyakini

memiliki peran yang besar dalam memahami perkembangan

masyarakat dalam konteks negara yang terdiri dari wilayah sanguat

luas dan karakter masyarakat yang sangat majemuk.







Selanjutnya, apabila dilihat secara lebih jauh, konsiderans tersebut

dapat ditafsirkan sebagai bentuk political will pemerintah terhadap

keberadaan benda cagar budaya. Dalam level peraturan perundang-

undangan, maka undang-undang ini (UU No. 5/1992) merupakan

bentuk peraturan yang mempunyai kekuatan hukum tinggi setelah

Undang-Undang Dasar. Hal ini menunjukkan juga tingginya tingkat

komitmen pemerintah terhadap pengaturan pengelolaan benda cagar

budaya. Ada dua hal yang ingin dicapai melalui undang-undang ini,

yaitu:







a. Perlindungan dan pelestarian benda cagar budaya dengan cara

mengatur penguasaan, pemilikan, penemuan, pencarian,

perlindungan, pemeliharaan, pengelolaan, pemanfaatan dan

pengawasan;



b. Penyesuaian pengaturan benda cagar budaya dengan

perkembangan kebutuhan untuk melindungi dan memelihara benda

cagar budaya. Sebelum UU No. 5/1992 dibentuk, pengaturan benda

cagar budaya diatur dalam Monumenten Ordonantie Nomor 19

Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238), sebagaimana

telah diubah dengan Monumenten Ordonantie Nomor 21 Tahun

1934 (Staatsblad Nomor 1934 Nomor 515).







UU No. 5/1992 menempatkan pemerintah dengan peran yang sangat

besar dalam pengelolaan dan pengawasan benda cagar budaya dan

situs. Pasal 4 ayat (1) mengatur bahwa semua benda cagar budaya

dikuasai oleh Negara. Penguasaan tunggal oleh negara ini

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 70

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





menempatkan bahwa negara berhak melakukan pengaturan terkait

dengan benda cagar budaya. Namun, undang-undang membatasi

bahwa penguasaan ini harus mendukung upaya pelestariannya.







Walaupun UU No. 5/1992 berjudul tentang benda cagar budaya,

namun didalamnya juga melingkupi pengaturan tentang situs.

Pengertian benda cagar budaya dalam UU No. 5 Tahun 1992 adalah (i)

benda buatan manusia bergerak atau tidak bergerak yang berupa

kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya

yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya

yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun,

serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu

pengetahuan, dan kebudayaan; (ii) benda alam yang mempunyai nilai

penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Sementara

itu, pengertian situs dalam UU No. 5/1992 adalah lokasi yang

mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk

lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya.







UU No. 5/1992 terdiri atas 10 bab dan 32 pasal. Beberapa ketentuan

penting dalam UU ini dapat dibedakan menjadi beberapa kategori,

yaitu:







1. Penguasaan dan pemilikan



Negara memiliki kekuasaan atas semua benda cagar budaya

yang berada dalam wilayah Indonesia. Ketentuan yang terdapat

dalam Pasal 4 ini merupakan prinsip utama dalam penguasaan

benda cagar budaya, artinya negara memiliki wewenang besar

dalam pengaturan atas benda cagar budaya. Pengaturan yang

dimaksud adalah dalam lingkup pelestarian benda cagar budaya

untuk kepentingan umum.







Sementara itu, UU ini juga mengatur bahwa setiap orang dapat

menguasai atau memiliki benda cagar budaya. Orang yang

dimaksud adalah orang perorangan (persoonlijk recht) maupun

badan hukum (rechtpersoon) seperti yayasan dan perkumpulan.

Pemilikan atau penguasaan di sini diartikan sebagai upaya

pengelolaan, pengampuan atau tindakan lain yang sejenis.









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 71

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Pemilikan atau penguasaan secara perorangan harus memenuhi

dua syarat, yaitu:







a. Dimilikiatau dikuasasi secara turun temurun atau

merupakan warisan;



b. Jumlah untuk tiap jenisnya cukup banyak dan sebagian

telah dimiliki oleh negara.



Walaupun secara prinsip penguasaan atau pemilikan secara

perorangan atas benda cagar budaya bisa dilakukan oleh WNI

maupun WNA, namun ada pembedaan atas benda yang dapat

dimilikinya. WNI dapat menguasai benda cagar budaya

berdasarkan persyaratan butir a dan b. Sementara itu, WNA

hanya dapat memiliki benda cagar budaya berdasarkan syarat b.

Kepemilikan benda cagar budaya secara perorangan ini bersifat

tidak mutlak, karena harus memperhatikan fungsi sosial atas

benda tersebut dan peraturan perundang-undangan. Pemilik atau

penguasa perorangan benda cagar budaya wajib menjaga dan

melindungi dengan memperhatikan sejarah dan nilai keasliannya.

Pemerintah memberi teguran kepada pemilik atau penguasa

yang tidak meindungi dan menjaga benda cagar budaya, apabila

teguran diabaikan maka pemerintah mengambil alih kewajiban

untuk melindungi.





Pengalihan benda cagar budaya wajib didaftarkan kepada

negara. Terkait dengan pengalihan, benda cagar budaya yang

dimiliki secara turun temurun atau warisan hanya dapat dialihkan

kepada negara dengan kewajiban pemberian imbalan oleh

negara kepada pemilik benda cagar budaya semula.







2. Pencarian dan penemuan



Upaya pencarian benda cagar budaya harus mendapatkan ijin

dari pemerintah. UU ini juga mengatur tentang kewajiban orang

yang menemukan atau mengetahui penemuan benda cagar

budaya atau yang diduga sebagai benda cagar budaya atau

benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya untuk lapor

kepada pemerintah dalam waktu paling lambat 14 hari. Atas

laporan tersebut, pemerintah harus segara melakukan

penelitian. Selama penelitian dilakukan, benda tersebut berada

di bawah perlindungan sebagai benda cagar budaya.

Selanjutnya, apabila hasil penelitian menunjukkan bahwa benda



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 72

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





yang ditemukan termasuk benda cagar budaya maka penemu

mempunyai hak atas:



a. Imbalan dari pemerintah;



b. Pemilikan sebagian benda, apabila jumlah yang benda

yang ditemukan tiap jenis cukup banyak.







3. Pemindahan, pengalihan, dan perubahan benda cagar budaya



UU No. 5/1992 mewajibkan adanya ijin dari pemerintah untuk

melakukan tindakan tertentu atas benda cagar budaya. Tindakan

yang dimaksud, yaitu:



a. Membawa ke luar negeri;



b. Memindahkan atau membawa dari satu daerah ke

daerah lain;



c. Mengambil atau memindahkan baik sebagian atau

seluruh;



d. Mengubah bentuk dan/atau warna serta memugar;



e. Memisahkan sebagian;



f. Memperdagangkan;



g. Memperjualbelikan;



h. Memperniagakan.



Terkait dengan pemindahan, pemerintah dapat menahan atau

memerintahkan benda yang telah dibawa atau dipindahkan

tanpa ijin ke tempat asal. Orang yang membawa atau

memindahkan benda cagar budaya menanggung biaya

pengembalian benda cagar budaya ke tempat asal.







4. Pengelolaan, pemanfaatan dan pengawasan



Pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap pengelolaan

benda cagar budaya dan situs. UU No. 5/1992 memberi peluang

kepada masyarakat baik secara perorangan maupun kelompok

untuk berpartisipasi dalam pengelolaan benda cagar budaya dan

situs. Pengelolaan di sini adalah tindakan-tindakan untuk

memelihara dan merawat demi kelestarian benda cagar budaya.

Untuk benda cagar budaya bergerak atau tertentu, negara atau

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 73

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





perorangan dapat menyimpan dan merawatnya di museum.

Selain pengelolaan, UU No. 5/1992 juga mengatur tentang

pemanfaatan benda cagar budaya untuk kepentingan agama,

sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan dan

kebudayaan. Pemerintah memiliki kewenangan pengawasan

terhadap benda cagar budaya dan situs.







Sekitar satu tahun setelah UU No. 5/1992 dibentuk, pemerintah

menyusun peraturan pelaksana untuk melaksanakan ketentuan yang

ada. Peraturan pelaksana tersebut adalah PP No. 10/1993. Peraturan

ini mengatur lebih lanjut upaya pelestarian benda cagar budaya,

terutama dalam hal:



1. Penguasaan;



2. Pemilikan;



3. Pendaftaran;



4. Pengalihan;



5. Penemuan;



6. Pencarian;



7. Perlindungan;



8. Pemeliharaan;



9. Pemanfaatan;



10. Pembinaan; dan



11. Pengawasan.



Hal-hal teknis dalam bidang pelestarian benda cagar budaya yang

tidak tercakup dalam UU No. 5/1992 diatur dalam PP ini.





N Pasal Lingkup Pengaturan yang Didelegasikan

o

1. Pasal 5 Penentuan benda cagar budaya

2. Pasal 7 Tata cara pengalihan dan pemberian imbalan

3. Pasal 8 Pendaftaran pemilikan, pengalihan hak dan

pemindahan tempat benda cagar budaya (bentuk



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 74

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





dan besaran imbalan)

4. Pasal 10 Penemuan benda cagar budaya

5. Pasal 12 Syarat-syarat, tata cara perijinan dan ketentuan

tentang pencarian benda cagar budaya atau benda

berharga yang tidak diketahui pemiliknya

6. Pasal 14 Pengambilalihan kewajiban perlindungan benda

cagar budaya oleh pemerintah

7. Pasal 15 Ketentuan dan perijinan pemerintah mengenai

pemindahan, pengubahan, pemugaran, pemisahan,

dan perdagangan benda cagar budaya

8. Pasal 18 Tata cara pengelolaan benda cagar budaya dan situs

9. Pasal 19 Ketentuan tentang pemanfaatan dan cara

pemanfaatan

1 Pasal 22 Pemeliharaan benda cagar budaya yang dirawat dan/

0. atau disimpan di museum

1 Pasal 23 Penggandaan benda cagar budaya

1.

1 Pasal 24 Pengawasan benda cagar budaya dan situs

2.



Upaya pelestarian benda cagar budaya yang telah diatur dalam UU

5/1992 diatur lebih rinci dalam PP ini. Walaupun dalam beberapa

pengaturannya masih mendelegasikan lagi ke dalam bentuk peraturan

yang dibuat oleh menteri.







Peraturan turunan dari UU No. 5/1992 yang lain adalah PP No. 19/1995

yang mengatur tentang pemeliharaan dan perawatan benda cagar

budaya di museum. Pasal 22 UU No. 5/1992 mengatur:







(1)Benda cagar budaya bergerak atau benda cagar budaya

tertentu baik yang dimiliki oleh Negara maupun perorangan

dapat disimpan dan/atau dirawat di meseum.



(2)Pemeliharaan benda cagar budaya yang disimpan dan/atau

dirawat di museum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1

ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.







Pengaturan dalam PP No. 19/1992 bertujuan untuk melakukan upaya

pelestarian benda cagar budaya agar dapat menunjang perkembangan

kebudayaan nasional melalui perawatan dan pemanfaatan di museum

yang berisi ketentuan teknis tentang pemeliharaan dan pemanfaatan

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 75

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





benda cagar budaya di museum. Ketentuan teknis pemeliharaan dan

pemanfaatan yang dimaksud meliputi empat langkah, yaitu:



a. Penyimpanan;

b. Perawatan;

c. Pengamanan; dan

d. Pemanfaatan.



Selain itu, PP No. 19/1995 mengatur juga tentang persyaratan museum

dalam rangka penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan

pemanfaatan benda cagar budaya di museum. Persyaratan tersebut

meliputi standar bangunan museum, sarana dan prasarana, tenaga,

dan sumber dana yang tetap.



Ketentuan tentang pemeliharaan dan pemanfaatan yang terdapat

dalam PP No. 19/1995 juga berlaku terhadap benda bukan cagar

budaya yang ada di museum. Hal ini dilakukan mengingat museum

tidak saja sebagai tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan

pemanfaatan benda cagar budaya guna menunjang upaya

perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa, tetapi juga

benda bukan benda cagar budaya. Maka pengaturannya dapat pula

diperlakukan kepada benda cagar budaya di museum sepanjang jenis

dan unsur bahan yang dikandungnya dapat dipersamakan dengan

benda cagar budaya.



Jenis peraturan ketiga dalam riset ini adalah Keppres No. 1/1992.

Keppres ini bertujuan mengatur pengelolaan dan pengendalian

lingkungan kawasan Candi Borobudor dan Candi Prambanan melalui

langkah-langkah perencanaan dan pembangunan taman serta fasilitas

lainnya di sekeliling candi. Upaya ini diharapkan juga mampu

menunjang pengembangan kawasan pariwisata di kawasan candi.

Keppres No. 1/1992 dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa candi-

candi dalam kawasan Candi Borobudor dan Candi Prambanan

merupakan peninggalan budaya bangsa Indonesia yang harus dijaga

kelestariaannya. Upaya pelestarian tersebut dilakukan dengan

menciptakan suasana lingkungan yang memberi dukungan kepada

nilai keagungan peninggalan budaya tersebut.



Ketentuan yang ada dalam Keppres No. 1/1992 antara lain mengatur

tentang:



a. Peruntukan kawasan candi

Peruntukan kawasan candi ditetapkan bagi:

- pengamanan dan pelestarian nilai-nilai budaya terutama

obyek arkeologi yang ada;

- penanggulangan terhadap kemungkinan usaha yang dapat

merusak kawasan candi;

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 76

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





- peningkatan kelestarian dan pemugaran lingkungan

pemukiman pedesaan di sekitar

- taman wisata dan candi yang mempunyai nilai-nilai tradisional

dan dapat dikembangkan

- menjadi obyek dan daya tarik wisata;

- pengembangan dan pendayagunaan obyek dan daya wisata;

- penciptaan kawasan lindung untuk menjamin kelestarian

candi dan mendukung taman wisata.



b. Kawasan candi

Kawasan candi dibagi dalam tiga zona yaitu:

- Zona 1, lingkungan kepurbakalaan yang diperuntukkan bagi

perlindungan dan pemeliharaan kelestarian lingkungan fisik

candi.

- Zona 2, kawasan di sekeliling zona 1 masing-masing candi

dan diperuntukkan bagi pembangunan taman wisata sebagai

tempat kegiatan kepariwisataan, penelitian, kebudayaan, dan

pelestarian lingkungan candi

- zona 3, kawasan di luar zona 2 masing-masing candi dan

diperuntukkan bagi permukiman terbatas, daerah pertanian,

jalur hijau, atau fasilitas tertentu lainnya yang disediakan

untuk menjamin keserasian dan keseimbangan kawasan di

zona 1 pada umumnya, dan untuk mendukung kelestarian

candi serta fungsi taman wisata pada khususnya.



c. Pengelolaan zona

Penataan ruang, peruntukan dan pengembangan zona 3

dilakukan oleh pemerintah daerah berdasarkan peraturan

perundang-undangan dengan memperhatikan pertimbangan

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Sedangkan pengelolaan

zona 2 dilakukan oleh PT Taman Wisata Candi Borobudor dan

Prambanan dengan memperhatikan peraturan perundang-

undangan yang berlaku, termasuk ketentuan pajak. PT. Taman

Wisata Candi Borobudor dan Prambanan mempunyai wewenang

(i) melakukan pengaturan yang diperlukan dalam rangka

penyelenggaraan kepariwisataan, (ii) menyediakan dan

mengoperasikan segala fasilitas untuk menunjang kegiatan

usaha, (iii) memberikan dan mencabut izin penempatan,

menetapkan persyaratan-persyaratan dan menetapkan serta

melakukan pengutan segala usaha komersial di kawasan, (iv)

menetapkan dan memungut biaya masuk taman wisata

termasuk candi, dan pungutan lainnya atas pemanfaatan fasilitas

yang tersedia di dalam taman wisata dan hasil seluruhnya

merupakan pendapatan Perusahaan Perseroan (PERSERO) PT.

Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan.





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 77

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





4.4.2.1. Analisis



Ada dua hal yang dalam kondisi tertentu bisa menjadi saling

mendukung atau bertolak belakang, yaitu pelestarian dengan

pemanfaatan. Pelestarian merupakan upaya penjagaan atau

perawatan, sementara pemanfaatan lebih menekankan pada unsur

penggunaan benda cagar budaya dan situs. Kedua hal tersebut,

pelestarian dan pemanfaatan harus dapat berjalan beriringan.

Timpang pada salah satu tindakan akan dapat menyebabkan tidak

efektifnya keberadaan benda cagar budaya. Misalnya, pemanfaatan

benda cagar budaya untuk pariwisata atau ilmu pengetahuan secara

berlebihan atau besar-besaran, akan dapat berdampak pada

kerusakan atau berkurangnya nilai sejarah dalam benda cagar budaya.

Sementara, benda cagar budaya harus mampu memberi kontribusi

yang maksimal bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pariwisata.

Oleh karena itu, negara sebagai regulator harus mampu menjalankan

fungsinya secara tepat. Manajemen pelestarian benda cagar budaya

membutuhkan regulasi dari pemerintah.



Peraturan perundang-undangan harus mampu membentuk sistem

yang tepat bagi pelestarian benda cagar budaya dan situs ini.

Beberapa peraturan memang sudah dibentuk, namun masih ada

beberapa catatan penting agar mampu mendukung perbaikan dalam

pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya. Di sisi lain faktor

regulasi harus didukung dengan keseriusan pemerintah untuk

melakukan upaya pelestarian benda cagar budaya. Hingga kini peran

pemerintah masih lemah dalam hal pengelolaan benda cagar budaya.

Lemahnya peranan ini terjadi di tiap tingkatan pemerintahan yaitu

nasional, propinsi maupun kabupaten/kota.71



UU No. 5/1992 diperlukan sebagai upaya untuk memberi perlindungan

dan menjaga kelestarian benda cagar budaya dan situs. Upaya

pengaturan ini berada dalam ruang lingkup penguasaan, pemilikan,

penemuan, pencarian, perlindungan, pemeliharaan, pengelolaan,

pemanfaatan dan pengawasan. Pembentuk undang-undang, DPR dan

Pemerintah, meyakini bahwa benda cagar budaya dan situs sangat

penting keberadaannya.



Ada dua hal penting yang perlu di analisis dalam UU No. 5/1992, yaitu

konsep kepemilikan atau penguasaan dan implementasi peran

penguasaan.



71

Wawancara dengan narasumber Sita Laterna Adisakti (19 Februari 2009). Menurutnya,

undang-undang harus tegas membagi peran antara pemeritah pusat dengan pemerintah

propinsi dan kabupaten/kota. Pembagian peran secara jelas ini dapat menghindari saling

lempar tanggung jawab dalam pengelolaan dan pelestarian benda cagar budaya.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 78

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Pertama, terkait dengan konsep kepemilikan. Negara merupakan

pemegang kuasa atas benda cagar budaya. Posisi ini menjadikan

negara berhak melakukan perbuatan atau langkah-langkah hukum

untuk mengatur segala hal tentang benda cagar budaya dan situs.

Penguasaan mutlak oleh negara ini seharusnya dipahami sebagai

penguasa yang berwenang memanfaatkan dan juga berwenang untuk

melestarikan. Di sinilah peran perlindungan benda cagar budaya dan

situs akan nampak. Pelestarian tanpa pemanfaatan akan memberi

hasil yang nihil. Sementara, pemanfaatan tanpa pelestarian malah

membahayakan keberadaan benda cagar budaya dan situs. Oleh

karena itu, dua hal ini harus bisa dijalankan secara beriringan.



UU No. 5/1992 telah tepat menjadikan negara sebagai penguasa

mutlak atas benda cagar budaya dan situs. Nilai sejarah yang tinggi

dan korelasinya dengan identitas bangsa seharusnya menjadi unsur

pendorong bagi negara untuk menerapkan konsep penguasaan secara

lebih tepat. Kepemilikan secara perorangan tetap diakui sepanjang

berdasarkan syarat-syarat tertentu. Syarat tersebut merupakan upaya

secara tidak langsung negara untuk memberi perlindungan.

Kepemilikan perorangan juga dibatasi oleh prinsip sosial. Artinya

kepemilikan ini tidak bersifat mutlak. Ada batas-batas tertentu yang

harus diakui dan ditaati oleh pemilik perorangan.



Kedua, implementasi peran penguasaan. Pembentuk undang-undang

menginginkan bahwa undang-undang mampu memberi perlindungan

dan pelestarian terhadap benda cagar budaya dan situs. Wewenang

terbesar dalam hal ini telah diberikan kepada negara sebagai

penguasa tertinggi atas benda cagar budaya dan situs. Memang, UU

No. 5/1992 masih membuka peluang bagi keterlibatan masyarakat

dalam melakukan perlindungan dan pelestarian. Namun, posisi

pemerintah dalam UU No. 5/1992 tetap menjadi aktor utama dan

inisiator dalam upaya perlindungan dan pelestarian.



Sayangnya, UU No. 5/1992 tidak memberikan acuan bagi pemerintah

dalam melakukan perlindungan dan pelestariannya secara baik.

Undang-undang ini telah menempatkan pemerintah dalam posisi

sebagai regulator dan operator. Posisi ini rentan pada lemahnya

implementasi undang-undang. Banyak hal yang strategis dalam upaya

perlindungan dan pelestarian benda cagar budaya dalam undang-

undang yang pengaturannya didelegasikan kepada peraturan di bawah

undang-undang. Sebagai contoh, pengaturan tentang pengelolaan.

Pasal 18 ayat (1) mengatur bahwa pengelolaan benda cagar budaya

dan situs menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, pasal 18 ayat

(3) mengatur bahwa tata cara pengelolaan tersebut diatur dalam

peraturan pemerintah. Ini artinya pemerintah berhak mengatur sendiri





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 79

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





tanggungjawabnya dan kewajibannya dalan pengelolaan benda cagar

budaya dan situs.



Dalam hal pelestarian, Undang-undang ini lebih banyak mengatur

hubungan antara warga negara dengan benda cagar budaya.

Hubungan kepada pemerintah lebih banyak pada penciptaan

hubungan yang bersifat administatif. Seperti, pemberian ijin dan

pendaftaran. Undang-undang ini menjadikan pemerintah merupakan

aktor utama dalam perlindungan dan pelestarian benda cagar budaya

maka seharusnya undang-undang ini juga memberi pembebanan

kewajiban (bahkan sanksi) kepada aparat pemerintah apabila lalai

dalam menjalankan wewenangnya.



Kelemahan pengaturan undang-undang ini juga nampak dalam

pengaturan tentang pengawasan. Undang-undang ini menempatkan

pengawasan dalam kendali pemerintah. Selain itu, undang-undang ini

juga menyerahkan pengaturan tentang pengawasan kepada

pemerintah. Sehingga undang-undang telah menempatkan pemerintah

sebagai regulator, operator, sekaligus supervisor. Model pengaturan

seperti ini secara langsung melemahkan implemetasi undang-undang

dalam mencapai tujuannya yaitu, perlindungan dan pelestarian benda

cagar budaya dan situs. Seharusnya peran regulator, operator, dan

supervisor ini dipisah. Pemisahan ini perlu dilakukan untuk

memastikan berjalannya secara baik masing-masing lingkup

pengaturanya tersebut yaitu regulasi, implementasi, dan

pengawasannya.



Sementara itu, terkait secara langsung dengan kebudayaan ataupun

kesenian, undang-undang ini memberi peluang kepada kalangan

seniman atau budayawan untuk memanfaatkan benda cagar budaya

dan situs untuk kegiatan seni dan budaya. Namun, perlu diperhatikan

bahwa pemanfaatan ini memerlukan ijin kepada pemerintah.



Selain itu, peran yang bisa dilakukan oleh kalangan seniman atau

budayawan yang muncul dalam undang-undang ini adalah

keterlibatannya dalam upaya perlindungan dan pelestarian benda

cagar budaya dan situs. Peran ini penting dilakukan saat ini, di tengah

ketidakpedulian pemerintah dalam melestarikan benda cagar budaya

dan situs. Kalangan seniman dan budayawan dapat menjadi inisiator

dalam melakukan upaya ini. Tentunya pola kerjasama dengan

berbagai pihak baik pemerintah dan kalangan pemodal bisa dilakukan

dalam kegiatan pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya.

Selain diarahkan kepada pelestarian obyek, upaya keterlibatan ini juga

diarahkan kepada berkembangnya kepedulian pemerintah dalam

melakukan perlindungan dan pelestarian benda cagar budaya dan

situs secara lebih baik.



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 80

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009







Ketentuan dalam UU No. 5/1992 kemudian diatur lebih lanjut dalam

bentuk peraturan pemerintah seperti yang telah didelegasikan

undang-undang tersebut. PP No. 10/1993 merupakan peraturan

turunan yang sifatnya mengatur lebih lanjut secara teknis ketentuan

yang sudah ada dalam UU No. 5/1992. Namun, walaupun karakter

peraturan yang seharusnya diharapkan dari PP ini adalah ketentuan

teknis, ternyata PP ini masih benyak mendelegaskan ketentuan ke

dalam bentuk peraturan yang ada di bawahnya yaitu peraturan yang

dibentuk oleh Menteri baik Peraturan Menteri maupun Keputusan

Menteri. Menteri yang berwenang membuat peraturan tersebut adalah

menteri yang membidangi kebudayaan yang sekarang menjadi

wilayahnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Jumlah peraturan

menteri yang harus dibuat dari PP tersebut setidaknya berjumlah 24

(dua puluh empat) peraturan.



No. Pengaturan yang didelegasikan Pasal yang

mendelega

sikan

1. Penentuan benda cagar budaya Pasal 3 ayat

(4)

2. Penetapan jenis dan jumlah Pasal 4 ayat

(3)

3. Pemilikan benda cagar budaya Pasal 5 ayat

(3)

4. Pendaftaran benda cagar budaya Pasal 7 ayat

(3)

5. Bentuk dan besaran imbalan Pasal 8 ayat

(5)

6. Syarat dan tata cara pengalihan, pemilikan dan Pasal 10

penguasaan benda cagar budaya

7. Tata cara penghapusan benda cagar budaya Pasal 11 (3)

karena musnah atau rusak

8. Penghapusan benda cagar budaya dari daftar Pasal 12 ayat

(5)

9. Penelitian benda temuan Pasal 13 ayat

(6)

10. Pengelolaan penemuan benda cagar budaya Pasal 15 ayat

(4)

11. Perijinan pencarian benda cagar budaya Pasal 18 ayat

(4)

12. Perlindungan benda cagar budaya Pasal 25 ayat

(2)

13. Pemeliharaan benda cagar budaya Pasal 26 ayat

(3)



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 81

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





14. Perijinan, syarat dan tata cara pemugaran Pasal 27 ayat

(3)

15. Syarat dan tata cara peneguran serta pengalihan Pasal 28 ayat

hak pemanfaatan dan pengelolaan (6)

16. Perijinan membawa benda cagar budaya ke luar Pasal 30 ayat

negeri (4)

17. Pemindahan benda cagar budaya Pasal 32 ayat

(2)

18. Penahanan dan pengembalian benda cagar Pasal 33 ayat

budaya (4)

19. Perijinan pemindahan dan pengubahan benda Pasal 34 ayat

cagar budaya (3)

20. Perijinan pemanfaatan Pasal 36 ayat

(8)

21. Perijinan dan tata cara penandaan Pasal 39 ayat

(4)

22. Pembinaan dan pengelolaan benda cagar budaya Pasal 41 ayat

(4)

23. Pengawasan Pasal 43 ayat

(2)

24. Pembangunan yang berdampak atau berkaitan Pasal 44 ayat

dengan benda cagar budaya (4)



Banyaknya aturan yang didelegasikan oleh PP kepada menteri

mengindikasikan bentuk pengaturan PP yang sifatnya terbuka dan

umum. Pendelegasian ini akan berdampak pada implementasi

ketentuan yang ada dalam undang-undang dan peraturan pemerintah.

Pada level teknis, implementasi pelestarian benda cagar budaya degan

segala aspeknya harus menunggu terbitnya peraturan di tingkat

menteri. Tentunya kondisi ini akan memakan waktu.



Selanjutnya, salah satu bentuk pemeliharaan dan pemanfaatan benda

cagar budaya adalah penyimpanan dan perawatan dalam museum.

Langkah ini lah yang diambil oleh pemerintah memalui pembentukan

PP No. 19/1995. Salah satu bagian penting dalam upaya pemeliharaan

dan pemanfaatan benda cagar budaya di museum adalah pembinaan

dan pengawasannya. PP 19/1995 memberikan wewenang atas

pembinaan dan pengawasan kepada pemerintah melalui menteri yang

bertanggungjawab di bidang kebudayaan (saat ini adalah menteri

kebudayaan dan pariwisata). Namun, pengaturan atas pengawasan

dan pembinaan kurang rinci. Memang, pengaturannya kemudian

diserahkan kepada menteri yang bersangkutan. Namun perlu diingat

bahwa model pengaturan yang terbuka ini membawa potensi pada

lemahnya implementasi. Dalam hal ini menteri adalah orang yang

ditunjuk untuk melakukan pembinaan dan pengawasan, namun



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 82

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





bagaimana apabila pengaturannya juga diserahkan kepada menteri

yang ditunjuk. Hal ini penting mengingat peran pembinaan dan

pengawasan yang harus dilakukan terkait dengan pemeliharaan dan

pemanfaatan ini sangat besar peranannya dalam mendukung

pelestarian benda cagar budaya.



PP 19/1995 juga mengatur ruang lingkup pembinaan yang meliputi tiga

hal:



a. Bimbingan teknis pemeliharaan dan pemanfaatan benda cagar

budaya di museum;

b. Bimbingan dan penyuluhan untuk meningkatkan peranserta

masyarakat;

c. Bantuan, yang dapat berupa dana, sarana dan/atau tenaga ahli

perawatan.



Ketiga hal ini merupakan pilihan pembinaan yang dapat dilakukan satu

per satu atau secara bersamaan karena dalam PP disebutkan dengan

istilah “dapat”. Ketiga hal tersebut merupakan layanan minimal yang

“seharusnya” diberikan oleh pemerintah dalam kerangka pembinaan

dan wajib dilakukan secara bersamaan. Rumusan ini penting

mengingat seringkali tindakan yang seharusnya menjadi beban

pemerintah dirumuskan dengan istilah “dapat”.





Sementara itu, bentuk aturan ketiga dalam riset ini adalah Keppres No.

1/1992. Keppres ini mengatur pengelolaan taman wisata candi

Borobudur dan taman wisata candi Prambanan serta pengendalian

lingkungannya. Sekilas apabila memperhatikan judul peraturannya

maka tercermin suatu upaya atau tindakan yang mampu

mengedepankan aspek pelestarian cagar budaya dan situs. Namun,

aturan ini tidak secara detil menjelaskan tentang pengelolaan taman

wisata.







Ketentuan yang ada, lebih banyak menyinggung tentang pembagian

lahan melalui penetapan zona dan pembagian pengurusan masing-

masing zona tersebut. Upaya pelestarian yang sesungguhnya tidak

nampak dalam Keppres ini. Sehingga apabila dihubungkan dengan

latar belakang filosofis pembentukan keputusan ini maka

ketentuannya tidak mempunyai korelasi secara langsung.

4.4.2.2. Kesimpulan



Benda cagar budaya dan situs merupakan salah satu bentuk kekayaan

bangsa. Di dalamnya terdapat nilai sejarah dan budaya yang sangat



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 83

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





besar pengaruhnya dalam memahami perjalanan bangsa ini.

Keberadaannya sangat dibutuhkan baik bagi ilmu pengetahuan,

sejarah dan kebudayaan. Sudah seharusnya, negara berperan dalam

upaya pelestarian. Sebagai institusi formal tertinggi dalam

masyarakat, maka kedudukannya sebagai penguasa mutlak bagi

benda cagar budaya dan situs harus diiringi dengan upaya konkrit bagi

pelestarian baik dari sisi regulasi maupun implementasi pelestarian itu

sendiri. Namun, dari sisi regulasi masih memerlukan pengkajian secara

mendalam. Terutama tentang posisi dan peranan pemerintah yang

diatur dalam UU No. 5/1992.



Pemisahan antara regulator, operator dan supervise atau pengawas

perlu dilakukan untuk menjamin obyektifitas implementasi dari

masing-masing fungsi tersebut. Selanjutnya, terkait dengan

pengembangan seni dan budaya, terdapat peluang bagi pegiat seni

dan budaya untuk memanfaatkan benda cagar budaya untuk

melakukan kegiatan seni dan budaya. Optimalisasi peluang ini perlu

dukungan pengaturan yang lebih lanjut untuk memberikan stimulus

bagi pegiat seni dan budaya untuk memanfaatkannya.





4.3.3.Pendidikan Seni



4.5.1. Hasil Penelitian



Pengaturan pendidikan seni antara lain terdapat dalam beberapa

peraturan berikut:



1. Undang-Undang No. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. Peraturan Pemerintah No. 60/1999 Tentang Sistem Pendidikan

Tinggi.

3. Keputusan Presiden No. 33/2003 Tentang Pendirian Institut Seni

Denpasar.

4. Keputusan Presiden No. 56/1999 Tentang Pendirian Sekolah Tinggi

Seni Indonesia Padang Panjang.

5. Keputusan Presiden No. 59/1995 Tentang Pendirian Sekolah Tinggi

Seni Indonesia Bandung.

6. Keputusan Presiden No. 21/1992 Tentang Pendirian Sekolah Tinggi

Seni Surakarta (diubah oleh Peraturan Presiden No. 77/2006

menjadi Institut Seni Surakarta).

7. Keputusan Presiden No. 39/1984 Tentang Pendirian Institut Seni

Yogyakarta.



Apabila memperhatikan peraturan-peraturan tersebut diatas, hipotesis

dalam Bab 1 laporan riset ini tentang terlihatnya kecenderungan





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 84

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





pengaturan yang bersifat formil (tidak tertuju pada pemecahan suatu

masalah atau usaha untuk mewujudkan ide tertentu) benar adanya.



Kecenderungan yang tercipta dalam pendidikan seni adalah

kecenderungan pengaturan institusional, yaitu penerbitan peraturan-

peraturan yang menjadi dasar hukum dan landas operasional institusi

seni. Dasar peraturan bervariasi, karena adanya UU No.10/2004

Tentang Tata Urutan Perundang-undangan, untuk perubahan status

Sekolah Tinggi Seni Surakarta menjadi Institut Seni Surakarta dasar

hukumnya adalah Peraturan Presiden no.77/2006. Mengapa Peraturan

Presiden (Perpres) yang menjadi landasan berdirinya Institut Seni

Surakarta? Karena dengan dasar hukum Perpres, bisa menjadi dasar

hukum peraturan dibawahnya, seperti Peraturan Menteri, Keputusan

Menteri sampai Peraturan Daerah.



Inisiatif pendirian pendidikan tinggi seni rata-rata berasal dari inisiatif

daerah, yang kemudian dikuatkan oleh Keputusan Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan, yang kemudian diperkuat lagi oleh Keputusan

Presiden (dan Peraturan Presiden). Beberapa lembaga, seperti Institut

Seni Denpasar misalnya adalah dari penggabungan Fakultas Seni Rupa

Program Disain Visual Universitas Udayana dengan Sekolah Tinggi Seni

Denpasar. Atau Institut Seni Surakarta, hasil penggabungan Akademi

Seni Tari Indonesia dengan Akademi Seni Karawitan. Yang menarik

dicermati adalah, pengelolaan pendidikan seni dahulu tercatat

dibawah naungan Direktorat Kebudayaan, namun sejak tahun 1976

berada dibawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.



Sementara dalam UU No. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

(Sisdiknas) materi kesenian diatur dalam pasal-pasal kurikulum

pendidikan dasar dan menengah mengenai materi wajib kurikulum.

Yang patut menjadi perhatian adalah Peraturan Pemerintah (PP)

No.60/1999 Tentang Pendidikan Tinggi. Pertama, pasal 6 tentang

satuan penyelenggaraan pendidikan, yaitu pembagian program

pendidikan pada masing-masing universitas, akademi, sekolah tinggi

dan institut. Kedua, pasal 104 persyaratan akademis pengajar bagi

dosen, terutama untuk persyaratan guru besar, yang harus’ memenuhi

kualifikasi sebagai pengajar’ (pasal 104 ayat (1) dan (2)).



Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, kekurangan

pendidikan seni di Indonesia adalah: pertama, pengaturan soal syarat

pendidikan bagi pengajar institut seni mengakibatkan siswa kehilangan

kesempatan diajar oleh maestro seni; kedua, mayoritas pengajar seni

tidak berkarya sehingga ada kesenjangan antara teori dan praktek

(meski menurut narasumber lain, antara berkreasi dan mengajar

adalah dua hal yang tidak harus dipertentangkan); ketiga, praktek



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 85

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





pengajaran seni di Indonesia hanya menekankan pada apresiais

estetika, tidak berusaha memahami secara holistik dengan sistem

masyarakat penciptanya; keempat, pendidikan kesenian yang

modernis membuatnya sulit mengapresiasi kesenian tradisi.72



4.5.2. Analisis



Adanya aturan baru dalam PP No. 60/1999 Tentang Perguruan tinggi

soal pembagian satuan pendidikan memiliki dampak pada pendidikan

seni. Dalam pasal 6 PP tersebut menyebutkan, sekolah tinggi

menyelenggarakan pendidikan untuk satu disiplin ilmu, sementara

institut bisa menyelenggarakan pendidikan untuk sekolompok disiplin

ilmu yang sejenis. Apabila pasal 6 ini ditarik ke realitas pendidikan seni

Indonesia, berarti Sekolah Tinggi Seni (STSI)Padang Panjang dan

Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, harus menyesuaikan

bentuk lembaga mereka menjadi Institut, mengingat disiplin ilmu di

kedua STSI tersebut lebih dari satu yang diajarkan.



Kemudian mengenai persyaratan pengajar, kendala persyaratan

akademis menjadi kesulitan utama bagi institut pendidikan seni.

Banyak maestro seni Indonesia yang tidak memiliki gelar akademis

(sarjana sekalipun), sehingga bila persyaratan ini diberlakukan secara

konsisten, akan terjadi kehilangan sangat besar bagi dunia pendidikan

seni. Inisiatif dari kalangan seni harus diambil, mengingat PP No.

60/1999 ini adalah peraturan pelaksana dari UU No. 2/1989 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional yang sudah tidak berlaku lagi, sehingga

seharusnya dalam waktu dekat disusun peraturan pelaksana UU No.

20/2003 yang baru.

4.5.3. Kesimpulan



Materi pendidikan seni belum menjadi perhatian utama kebijakan

pendidikan tinggi Indonesia. Yang diatur selama ini, baru pendirian

institusi perguruan tinggi, dimana mayoritas inisiatif pendirian tersebut

berasal dari daerah. Inisiatif daerah ini harus dipelihara mengingat

pendirian institusi seni diluar pulau Jawa hanya di dua lokasi, Bali dan

Sumatra Barat. Selain itu, untuk internal Departemen Pendidikan

Nasional, sebaiknya dirancang inisiatif kurikulum untuk menjawab

permasalahan yang diajukan oleh narasumber riset ini.









72

Sebagian rangkuman wawancara Endo Suanda (16 Januari 2009), Seno Gumira Ajidarma

(18 Maret 2009) dan Ratna Sarumpaet (20 Maret 2009).

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 86

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





4.3.4.Posisi Seni dalam Kebijakan Pariwisata



4.6.1. Hasil Penelitian



Dari hasil penelitian kami, peraturan-peraturan pariwisata yang

menyebutkan soal kesenian adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang No. 11 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan

menggantikan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990.

2. Peraturan Pemerintah No. 67 Tahun 1996 Tentang

Kepariwisataan

3. Peraturan Pemerintah No. 84 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan

Seni dan Budaya

4. Keputusan Presiden No. 11 Tahun 2000 Tentang Badan

Pengembangan Pariwisata dan Kesenian

5. Keputusan Presiden No. 16/2005 Tentang Kebijakan

Pembangunan Kebudayaan dan Kepariwisataan

6. Instruksi Presiden No. 9/1969 Tentang Pedoman Pengembangan

Pariwisata Nasional



Perspektif seni dalam pariwisata sendiri, telah beberapa kali bergeser

dalam pergantian kepemimpinan nasional. Pergeseran kepemimpinan

nasional menandai perubahan konteks politik dimana kesenian (yang

terintegrasi dalam pariwisata) beroperasi. Dari pergeseran ini, bisa

ditelisik lebih jauh lagi mengenai posisi premis diatas mengenai seni:

apakah benar seni hanya menjadi alat bantú pariwisata?



Pengaturan seni dalam konteks pariwisata biasanya disangkutkan

dalam dua materi. Pertama, seni sebagai bagian dari strategi

pariwisata. Contoh, kesenian di Bali yang sering dikedepankan oleh

pemerintah setempat, adalah kesenian tradisional, dengan asumsi turis

mengunjungi Bali untuk melihat kesenian tradisional yang hanya

‘menjual Bali’.73 Kedua, kesenian direduksi sebagai sesuatu yang bisa

diatur dan ditentukan oleh pemerintah. Contoh untuk hal ini, bisa

dilihat dari poin nomor 7 dalam Instruksi Presiden Soal Kebijakan

Pariwisata dan Kebudayaan yang mendorong Menteri Luar Negeri untuk

mendirikan pusat-pusat kebudayaan (baca: kesenian) Indonesia di luar

negeri.



Pengaturan kesenian pada masa Orde Baru, diatur dalam struktur

Direktorat Kebudayaan di bawah Departemen Pendidikan dan

Kebudayaaan. Dimulai pada tahun 1968 dan berakhir pada 1998,

Direktorat Jenderal Kebudayaan, dikepalai berturut-turut Ida Bagus

Mantra, Haryati Soebadio dan Edi Sedyawati. Sejak tahun 1997,

kebijakan kesenian yang semula berpayung dalam aras pendidikan,

kini juga diatur juga dibawah domain kepariwisataan; ditandai dengan

berdirinya Departemen Pariwisata Seni dan Budaya (dahulu Pariwisata,

73

Wawancara dengan narasumber Seno Gumira Ajidarma (18 Maret 2009).

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 87

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Pos dan Telekomunikasi), di mana Departemen Pendidikan tetap

sebagai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.



Dalam era reformasi, pada pemerintahan Presiden Abdurrahman

Wahid (Abdurrahman Wahid), Departemen Pariwisata Seni dan Budaya

diubah statusnya menjadi Kementerian Seni dan Budaya.74 Urusan

pariwisata, meski tetap menyinggung kesenian dalam materi

muatannya, diatur dalam Badan Pengembangan Budaya dan Pariwisata

melalui Keppres No. 11/2000. Salah satu tonggak fundamental dari

Keppres No. 11/2000 ini adalah menyesuaikan dengan pasal 26 UU No.

22/1999 Tentang Otonomi Daerah (waktu itu) tentang Unit Pelaksana

Teknis (UPT) eks Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya yang

dialihkan menjadi perangkat daerah/dinas daerah, baik

kabupaten/kota.



Garis-Garis Besar Haluan Negara atau GBHN (1999-2004) yang disusun

pada masa Abdurrahman Wahid menyatakan dua hal penting. Pertama,

bahwa kesenian dan budaya tradisional akan dijadikan ‘kendaraan’

bagi pariwisata untuk membangun kepariwisataan nasional dan untuk

promosi ke mancanegara.75 Kedua, pembangunan pariwisata akan

diupayakan berlangsung secara holistik, partisipatoris dan

menghormati kebudayaan serta lingkungan.



Meski demikian, pada era Pemerintahan Megawati Sukarnoputri,

melalui Keppres No.29/2003 Badan Pengembangan Budaya dan

Pariwisata warisan Abdurrahman Wahid, dilebur dalam Kementerian

Budaya dan Pariwisata; suatu keputusan yang mengundang kontroversi

di berbagai kalangan.76 Kritik utama soal penggabungan ini adalah

dengan penggabungan Badan Pengembangan Budaya dan Pariwisata,

harapan akan adanya tindakan yang efektif dan konkrit soal seni dan

budaya akan semakin jauh, mengingat Kementerian dengan

penggabungan ini hanya akan dibantu oleh tiga deputi, yaitu Deputi

Pelestarian Pengembangan Kebudayaan, Deputi Sejarah dan

Kepurbakalaan serta Deputi Seni dan Film; suatu pembagian yang juga

mengundang kritik.77



Meski demikian, penyertaan aktivitas kesenian dalam kebijakan

pariwisata tetap menuai kritik dari para narasumber, antara lain Seno

74

Tugas Kementerian adalah mengeluarkan kebijakan pembangunan sehingga mendapat

alokasi bujet yang relatif lebih sedikit dibanding bujet Departemen yang membawahi unit

teknis sampai ke tingkat daerah.

75

Garis-Garis Besar Haluan Negara 1999-2004, halaman 31.

76

“BP Budpar Resmi Bergabung Dengan Kementerian Budpar”, www.kompas.com, 31 Mei

2003.Kritik dari berbagai kalangan bisa dilihat di “Keppres 29/2003 soal BP Budpar

Pemerintah Korbankan Kebudayaan”, www.kompas.com, 3 Juni 2003.

77

Pembagian ini rancu, menurut Nunus Supardi seorang aktivis kepurbakalaan dalam

kolomnya di Kompas 19 April 2004, mengingat sejarah, purbakala, seni dan film adalah

bagian dari kebudayaan.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 88

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Gumira Ajidarma dan Ratna Sarumpaet. Menurut kedua narasumber ini,

meski sektor pariwisata sudah mencakup soal kesenian didalamnya,

kesenian masih merupakan tempelan dalam misi-misi kebudayaan ke

luar negeri. Tidak pernah ada visi untuk mengedepankan bentuk

kesenian tertentu, ditambah metode seleksi misi kebudayaan tersebut

juga patut dipertanyakan.78



Patut disebutkan pula di sini, adanya Keputusan Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan (Kepmendikbud) No. 0267 Tahun 1978 yang menjadi

dasar hukum pendirian taman-taman budaya di berbagai daerah.

Taman-taman budaya ini mencontoh kesuksesan Taman Ismail Marzuki

dan Taman Budaya Bali (biasa disebut Taman Budaya Denpasar), yang

didorong oleh inisiatif Dirjen Kebudayaan Ida Bagus Mantra dari

perjalanannya ke Eropa dan menyaksikan taman-taman budaya di sana

yang dinamis dan berhasil mendatangkan turis. 79 Sejak pertama

didirikan pada tahun 1978, dan taman budaya terakhir yang didirikan

pada masa Orde Baru pada tahun 1994, tercatat lebih dari 24 taman

budaya, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota sudah berdiri.

Sebagi salah satu pionir taman budaya, Taman Budaya Denpasar kini

sudah menjadi salah satu daya tarik kunjungan turis mancanegara ke

Bali, yang dalam kesempatan tertentu berhasil mendatangkan

pemasukan bagi pemerintah lokal.80

4.6.2. Analisis



Pergantian struktur departemen menjadi kementerian negara,

kemudian kembali menjadi departemen lagi, tak syak membawa

perubahan pada visi kepariwisataan. Meski demikian, dua hipotesis

awal laporan penelitian ini yaitu terlihat kecenderungan pengaturan

yang terfokus pada level pengaturan pada tataran abstrak dan terlihat

kecenderungan pengaturan yang bersifat formil (tidak tertuju pada

pemecahan suatu masalah atau usaha untuk mewujudkan ide

tertentu) seperti menemukan pembuktiannya.



Materi paling detil dan paling mendekati teknis operasional, selain

pembentukan BP Budpar melalui Keppres no.11/2000, adalah sejauh

pembentukan Inpres No.16/2005 Tentang Kebijakan Pembangunan

Kebudayaan dan Pariwisata dengan penugasan Presiden pada masing-

masing Menteri . Dalam Inpres tersebut , misalnya Menteri

Kebudayaan dan Pariwisata bertugas untuk menyiapkan informasi

lengkap bidang kepariwisataan, mendorong pengembangan destinasi

wisata unggulan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap

78

Wawancara terpisah Seno Gumira Ajidarma (18 Maret 2009) dan Ratna Sarumpaet (20

Maret 2009)

79

Tod Jones (2005).

80

“Taman Budaya Denpasar Jaring Belasan Ribu Turis Tahun Lalu”, www.kompas.com, 4 Juli

2005.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 89

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





kelestarian peninggalan budaya serta daya tarik wisata. Namun,

bandingkan dengan tugas Menteri Luar Negeri yang mendukung

promosi kerjasama bidang kebudayaan dan pariwisata di luar negeri

sertamembantu berdirinya pusat-pusat kebudayaan di luar negeri dan

bandingkan juga dengan penugasan kepada Gubernur/Kepala

Daerah.81 Fakta bahwa pada tahun 1978 sudah ada Kepmendikbud

0267/1978 Tentang Pendirian Taman Budaya dan hingga kini taman

budaya sudah berdiri dimana-mana sampai tingkat dibawah ibukota

provinsi,82 luput dari perhatian Inpres untuk diberdayakan, atau

setidaknya dievaluasi.



Berkaitan dengan konteks sosial politik, menarik untuk mencermati

inisiatif penerbitan Keppres No. 11/2000 Tentang BP Budpar pada

masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Bila dibandingkan dengan

PP atau Keppres yang terbit sebelum dan sesudahnya (lihat daftar

peraturan di bagian Temuan), Keppres ini jelas konkrit dan

memisahkan kerja teknis operasional kepariwisataan dan kerja

pembuatan kebijakan. Dalam Keppres ini dijelaskan bahwa BP Budpar

berfungsi menetapkan kebijakan teknis kepariwisataan sesuai

kebijakan yang ditetapkan Presiden, pembinaan kegiatan pariwisata

dan kesenian, pemantauan kegiatan lembaga pemerintah, swasta dan

masyarakat di bidang pengembangan pariwisata dan kesenian,

pengelolaan sumberdaya BP Budpar dan pemberdayaan peran serta

lembaga swasta dan masyarakat untuk kesenian.



Salah satu tonggak fundamental dari Keppres No.11/2000 ini adalah

menyesuaikan dengan pasal 26 UU No. 22/1999 Tentang Otonomi

Daerah (waktu itu) tentang Unit Pelaksana Teknis (UPT) eks

Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya, yang dialihkan menjadi

perangkat daerah/dinas daerah, baik kabupaten/kota.



Secara tidak langsung, Abdurrahman Wahid menegaskan posisi

kesenian dalam pariwisata, yaitu sebagai bagian dari kebudayaan;

kegiatan pariwisata harus berangkat dari konteks budaya.

Pembagiannya, menurut Abdurrahman Wahid, Menteri Pariwisata dan

Kesenian, sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaaan bertugas

mengembangkan rintisan kebudayaan baru.83





81

Antara lain tugas Gubernur/Kepala Daerah adalah penataan obyek wisata dan penyiapan

infrastruktur dasar, mengembangkan daya tarik wisata di jalur pergerakan wisatawan

nusantara dan di sekitar perkotaan serta melestarikan tradisi, nilai dan adat istiadat melalui

penyelenggaran event daerah.

82

Lihat situs Kantor Informasi Pariwisata dan Budaya Ketapang:

http://inbudpar.ketapang.go.id/web/news_read.php?sub=berita&vN=374 dan lihat juga

Taman Budaya Jawa Tengah (dahulu Taman Budaya Surakarta).

83

“Presiden:Industri Pariwisata Harus Bergerak dari Budaya”, www.kompas.com, 21 Februari

2000.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 90

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Ketika pada tahun 2003 Presiden Megawati mengeluarkan Keppres

No.29/2003 yang memutuskan BP Budpar dibawah kendali

Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata, polemik bermunculan.

Bagi birokrat, masalahnya adalah bila SDM dialokasikan dibawah

Kantor Kementerian Negara berarti alokasi anggaran dan wewenang

operasional dibatasi, karena tugas Kementerian Negara adalah

mengeluarkan arahan kebijakan, bukan operasional. Artinya,

kebutuhan staf dan anggaran jauh lebih sedikit dibanding departemen

teknis. Selain masalah SDM, argumen lain yang cukup mengemuka

adalah waktu penggabungan yang dekat dengan Pemilu, mengingat

tidak ada jaminan Presiden terpilih kelak akan mempertahankan

restrukturisasi yang baru tersebut.



Kritik dari kalangan akademisi dan budayawan bermunculan, antara

lain dari Profesor Antropologi UGM Teuku Jacob dan Budayawan

Rahman Arge, bahwa penggabungan BP Budpar dan Kementerian

Negara Pariwisata mencerminkan keinginan Pemerintah hanya

mengedepankan pariwisata dan menomor duakan kebudayaan.84

Seharusnya, bila menargetkan pariwisata sebagai penarik devisa, yang

dipisahkan adalah pariwisata dari kebudayaan, bukan meleburkan BP

Budpar dalam Kementerian Negara Pariwisata. Lebih jauh lagi, Jacob

dan Arge mengungkapkan pentingnya kebudayaan diurus oleh satu

departemen tersendiri, karena nilai budaya,kesenian dan sejarah

penting untuk pembangunan karakter bangsa.85



Penggabungan pariwisata dan budaya dalam satu kompartemen

tersendiri, entah departemen atau kementerian negara, memang

mencerminkan sudut pandang tersendiri soal pariwisata. Secara sinis,

seorang perupa menyatakan perspektif dan orientasi kapitalistik dari

Pemerintah yang mewajibkan kebudayaan harus berada dibawah

struktur dan suprastruktur pariwisata sebagai penghasil devisa86.

Paradigma seni dalam pariwisata bergeser, semula sebagai alat

penguat identitas nasional, kini sebagai alat penunjang pariwisata87.



Bila dibandingkan , secara garis besar, paradigma kepariwisataan

masa Orde Baru, berdasarkan hasil temuan riset ini, tidak

mencerminkan satu kebijakan terstruktur mengenai pemanfaatan seni

untuk mendukung pariwisata. Langkah paling konkrit pemerintahan

Suharto mengaitkan pariwisata dengan budaya adalah membentuk

Departemen Pariwisata dan Budaya dalam Kabinet Pembangunan VI,

dengan Joop Ave sebagai Menteri. Tidak tercatat ada kebijakan khusus

terkait kesenian pada masa ini, tapi pariwisata sebagai industri mulai

84

“Keppres 29/2003: Soal BP Budpar Pemerintah Korbankan Kebudayaan”,

www.kompas.com, 2 Juni 2003.

85

Ibid.

86

FX Harsono, “Sampahsenisampahseni Bakar!”, www.kompas.com, 15 Februari 2004.

87

Tod Jones (2005).

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 91

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





menunjukkan geliatnya. Yang tercatat, praktek seperti oknum yang

korup dan mengutip dari tiap penampilan seni lokal, adalah ekses yang

tak terhindarkan dari perilaku aparat pada masa Orde Baru.88



Selanjutnya, kebijakan pariwisata pada masa Abdurrahman Wahid,

yaitu kebudayaan yang sebagai titik berangkatnya pariwisata. Dalam

satu kesempatan diakui Abdurrahman Wahid sebagai cara untuk

membuat sebuah industri berpihak pada kebudayaan, mengingat

praktek yang terjadi selama ini pihak yang menguasai ruang

pariwisata hanya pelaku industri pariwisata saja.89 Pengalihan UPT dari

wewenang Pemerintah Pusat menjadi pemerintah kota/kabupaten,

sayangnya seperti terputus di tengah jalan: inisiatif ini tidak ditanggapi

secara seragam oleh pemerintah kota/kabupaten.



Sementara pada masa pemerintahan Megawati, pergeseran

paradigma yang terjadi adalah merancunya peran insititusi dalam

pengaturan pariwisata, dengan pengeluaran Keppres 20/2003 yang

menempatkan BP Budpar dibawah Kementerian Negara Pariwisata,

ternyata tidak menjadi solutif juga. Kerja kementerian yang tumpang

tindih dengan kerja badan operasional; dua fungsi yang sebenarnya

membutuhkan domain institusi Negara yang berbeda.



Beralih pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),

melalui Instruksi Presiden No,16/2005 Tentang Kebijakan

Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata, terbaca pemerintahan

presiden (SBY) memiliki inisiatif dan mengaitkan kepariwisataan

dengan budaya. Kesan ahistoris tidak bisa disangkal dari Inpres

16/2005 dan inisiatif masing-masing aktor dalam melaksanakan

penugasan Inpres ini belum mampu terpantau dalam laporan riset ini;

meski demikian Inpres yang memberikan tugas pada kabinet sampai

pemerintah daerah untuk mendukung kebijakan pariwisata dan budaya

adalah yang pertama.

4.6.3. Kesimpulan



Kesenian sebagai bagian dari pariwisata oleh setiap rezim

pemerintahan dimaanfatkan, terutama sebagai pemikat turis.

Pemihakan pada jenis kesenian tertentu, seperti seni tradisional tidak

terhindarkan, karena dipandang sebagai aset nasional, contohnya dari

misi-misi kesenian Pemerintah, baik yang menempel pada perjalanan

dinas atau bagian dari promosi wisata. Kesenian kontemporer tidak

pernah diikutsertakan. Berubahnya paradigma kepariwisataan pada

setiap pemerintahan diyakini memberi andil kurangnya visi Pemerintah

dalam mengintegrasikan aspek tertentu kesenian dalam pariwisata.

88

Ibid, hal. 198

89

“Presiden:Industri Pariwisata Harus Bergerak dari Budaya”, www.kompas.com, 21 Februari

2000.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 92

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





4.3.5. Hak Kekayaan Intelektual, Seni, dan Budaya



4.3.5.1. Hasil Penelitian

Hasil penelitian kami menemukan beberapa aturan Hak Kekayaan

Intelektual yang terkait dengan kegiatan seni dan budaya adalah

sebagai berikut:



1. Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

2. Undang-undang No.14 Tahun 2001 tentang Paten

3. Undang-Undang No.15 Tahun 2001 tentang Merek

4. Undang-undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri

5. Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1995 tentang Komisi

Banding Paten

6. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1995 tentang Komisi

Banding Merek





”everyone has the right freely to participate in the culture

life of the community, to enjoy the arts and to share the

scientific, advancement and its benefits: Everyone has the

right to the protection of the moral and material interest

resulting from any scientific, literary of artistic production

of which he is the actor” 90



Menurut Black’s Law Dictionary, yang dimaksud dengan kekayaan

intelektual/intellectual property adalah:



“ A category of intangible rights protecting commercially

valuable product of the human intellect”91



Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan hak yang timbul dari hasil

olah pikir otak yang menghasilkan suatu produk atau proses yang

berguna untuk manusia. Pada dasarnya HKI merupakan hak untuk

menikmati secara ekonomis dan moral atas hasil dari kreatifitas

intelektual. Dengan demikian objek-objek dari HKI adalah karya-karya

yang timbul atau lahir karena intelektual manusia.92



Jika dilihat dari definisi Hak Kekayaan Intelektual, tedapat

persinggungan antara HKI dengan budaya (kebudayaan) dan dengan

seni (kesenian). Kebudayaan merupakan hasil kegiatan dan penciptaan



90

Pasal 27 ayat (1) Universal Declaration of Human Rights

91

Black’s law Dictionary, Eighth edition, (Thomson Business, 2004), hal 824.

92

Buku Panduan Hak kekayaan Intelektual, (Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual,

2007)

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 93

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





batin (akal budi) manusia. Buah akal budi tersebut dapat berupa

kepercayaan, seni, dan adat istiadat. Seni merupakan kesanggupan

akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi. 93 Dari definisi

budaya dan seni tersebut terlihat jelas persinggungan yang melekat

antara HKI dengan budaya, khususnya seni. Semuanya bertumpu pada

hasil dari intelektual manusia atau hasil dari akal budi manusia.



Hasil dari kesanggupan akal untuk menciptakan dan menghasilkan

suatu ciptaan merupakan karya intelektual yang didalamnya melekat

hak kekayaan intelektual. HKI melindungi pemiliknya dengan hak

eksklusif secara moral maupun secara ekonomi atas objek tersebut.



Adapun cabang-cabang dari HKI beserta dasar hukumnya, antara lain:



1. Hak Cipta (copyright);

2. Hak Paten;

3. Merek,;

4. Desain Industri;

5. Rahasia Dagang;

6. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu; dan

7. Varietas Tanaman.



Dari berbagai jenis HKI, terdapat 4 (empat) hak yang sangat melekat

dengan produk-produk seni dan budaya. Keempat hak tersebut adalah:

(1) Hak Cipta; (2) Hak Merek; (3) Hak Paten; dan (4) Hak Desain

Industri.



Di tataran praktek, kalangan awam bahkan para seniman sendiri

seringkali menggunakan terminologi yang kurang tepat mengenai jenis

HKI dan objek yang akan dilindungi haknya. Kata paten seringkali

digunakan dalam kalimat-kalimat yang dimaksudkan untuk

perlindungan objek hak cipta, seperti lagu, buku, patung, dan karya

seni lainnya. Padahal, karya seni merupakan objek hak cipta, bukan

objek hak paten.



Agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam meggunakan terminologi HKI

yang tepat, berikut perbedaan jenis-jenis HKI yang terkait dengan seni

dan budaya disertai dengan objek ciptaannya:









93

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan Ketiga, (Balai Pustaka, 1990)

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 94

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Jenis HKI Objek Contoh Objek HKI Jangka waktu

yang yang terkait Perlindungan

Terkait dengan seni dan

dengan budaya

Seni dan

Budaya



Hak Cipta Hasil setiap karya Pencipta - Sastra, folklor Seumur hidup

yang menunjukkan - Lagu atau pencipta + 50

keasliannya dalam musik, dengan tahun setelah

lapangan ilmu atau tanpa

meninggalnya

teks

pengetahuan, seni, atau pencipta

- Drama atau

sastra drama musikal,

tari, koreografi,

pewayangan,

dan pantomim

- seni rupa

(lukis, patung,

gambar, seni

ukir, kaligrafi,

pahat, kolase

dan seni

terapan

(arsitektur,

peta, batik,

fotografi,

sinematografi,

terjemahan,

tafsir, saduran,

bunga rampai,

dan karya lain

dari

pengalihwujud

an. .





Paten Hasil Invensi di bidang Invensi yang - 20 tahun

teknologi (produk atau merupakan - 10 tahun

proses) pengembangan dari untuk paten

sederhana

teknologi tradisional.



Misalnya:

Tidak dapat

Pengembangan diperpanjang

teknologi tenun ikat

dengan invensi alat

yang memiliki unsur

kebaruan (novelty)



Merek Tanda yang berupa Nama group musik, 10 tahun dapat

gambar, nama, kata, theatre, merek-merek diperpanjang

huruf-huruf, angka-angka, produk industri setiap kali dgn



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 95

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Jenis HKI Objek Contoh Objek HKI Jangka waktu

yang yang terkait Perlindungan

Terkait dengan seni dan

dengan budaya

Seni dan

Budaya



susunan warna, atau kreatif, dll wkt yang sama

kombinasi dari unsur-unsur

tersebut yang memiliki

daya pembeda dan

digunakan dalam kegiatan

perdagangan barang atau

jasa.







Desain Suatu kreasi tentang Desain arsitektur, 10 tahun sejak

Industri bentuk konfigurasi, atau busana, kerajinan penerimaan

komposisi garis atau tangan, dll

warna, atau garis dan

warna, atau gabungan dari

padanya yang berbentuk

tiga dimensi atau dua

dimensi yang

memberikan kesan

estetis dan dapat

diwujudkan dalam pola

tiga dimensi atau dua

dimensi serta dapat

dipakai untuk

menghasilkan suatu

produk, barang

komoditas industri,

atau kerajinan tangan.







Tabel 4.7.1. Jenis-Jenis HKI Terkait Seni dan Budaya



Jika dilihat dari objek hak cipta dan objek hak desain industri, terdapat

hubungan yang saling tumpang tindih antara keduanya. Masalah ini

membingungkan para ahli HkI dan perancang undang-undang di

seluruh dunia. Biasanya sebuah desain merupakan karya seni yang

dapat dilindungi hak cipta. Dari perspektif pencipta, perlindungan hak

cipta lebih menguntungkan dibandingkan dengan desain industri. Hal

ini dikarenakan tidak perlunya pendaftaran, serta perlindungan hak

berlangsung lebih lama.



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 96

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Hak kekayaan intelektual berfungsi untuk memberikan perlindungan

hak-hak alami (hak moral dan ekonomi) setiap pencipta. Setiap

pencipta yang telah berupaya melahirkan suatu cintaan harus

diberikan hak untuk memiliki dan mengontrol ciptaannya. Sangatlah

tidak adil jika setiap orang dapat sewenang-wenang memanfaatkan

ciptaan orang lain tanpa izin dari pemiliknya. Terlebih jika orang

tersebut memanfaatkannya untuk kebutuhan komersil, sementara si

pencipta tidak mendapatkan keuntungan apapun dari hasil ciptaannya

tersebut.



Di sisi lain, HKI juga merupakan bentuk kompensasi dan motivasi bagi

setiap orang untuk mencipta. Dengan adanya keuntungan ekonomi

yang diperoleh, maka manusia tertarik untuk menciptakan karya-karya

baru dalam rangka pengembangan kreatifitas dan pengetahuan.



Untuk memperoleh HKI, para pencipta atau inventor dapat

mengajukan permohonan pendaftaran hak kepada Ditjen HKI

Departemen Hukum dan HAM. Akan tetapi perlu diketahui bahwa

lahirnya hak paten, merek, dan desain industri adalah pada tanggal

diterimanya permohonan hak oleh Ditjen HKI. Hal ini tidak berlaku bagi

hak cipta.



Hak Cipta lahir secara otomatis pada saat karya tersebut diciptakan.

Pada prinsipnya Hak Cipta diperoleh bukan karena pendaftaran, tetapi

dalam hal terjadi sengketa di pengadilan mengenai ciptaan yang

terdaftar dan yang tidak terdaftar, apabila pihak-pihak yang

berkepentingan dapat membuktikan kebenarannya, HKIm dapat

menentukan Pencipta yang sebenarnya berdasarkan pembuktian

tersebut.



Jejak-jejak Aturan Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia



Undang-undang yang mengatur Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bukan

merupakan aturan baru di Indonesia. Sejak tahun 1844 Pemerintah

Kolonial Belanda telah memperkenalkan undang-undang pertama

mengenai perlindungan HKI. Dilanjutkan dengan pembuatan Undang-

Undang Merek pada tahun 1844, Undang-Undang Paten tahun 1910,

dan Undang-Undang Hak Cipta (Auteurswet) pada tahun 1912.



Sebagai Negara jajahan, Indonesia yang kala itu bernama Netherlands

East-Indies telah menjadi anggota Paris Convention for the Protection

of Industrial Property pada 1888. Pada tahun 1893-1936 menjadi



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 97

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





anggota Madrid Convention, dan pada tanggal 1 April 1913, kerajaan

Belanda mengikatkan diri pada Berne Convention for the Protection of

Literary and Artistic Works 1886.94 Konvensi Berne ini diumumkan

dalam Staatblad 1914 nomor 797.



Pada saat Jepang menjajah Indonesia, peraturan HKI pada masa

penjajahan Belanda tetap berlaku, bahkan setelah Indonesia

memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Pemberlakuan peraturan peninggalan Belanda di Indonesia didasari

dengan ketentuan pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar

1945 yang menegaskan bahwa:



” Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung

berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-

Undang Dasar ini”



Berbeda dengan Undang-undang Hak Cipta dan Undang-undang Merek

yang masih tetap diberlakukan, Undang-Undang Paten tidak demikian

adanya. Undang-Undang Paten dianggap bertentangan dengan

kedaulatan Indonesia sebagai negara yang baru merdeka. Salah

satunya adalah prosedur pemeriksaan atas permohonan Paten harus

dilakukan di Octrooiraad yang berada di Belanda. Dengan demikian

pada saat Indonesia merdeka, Indonesia tidak memiliki aturan di

bidang paten.95



Undang-Undang No. 21 Tahun 1961 tentang Merek merupakan

Undang-Undang di bidang HKI pertama yang mengganti Undang-

Undang peninggalan Belanda. Undang-Undang ini dibentuk untuk

melindungi masyarakat dari barang-barang tiruan atau bajakan. Pada

tanggal 10 Mei 1979 Indonesia meratifikasi Paris Convention for the

Protection of Industrial Property berdasarkan Keputusan Presiden No

24 Tahun 1979. Ratifikasi ini tidak penuh, melainkan ada beberapa

pasal reservasi, yaitu pasal 1-12 dan pasal 28 ayat (1).





94

Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works merupakan konvensi

yang dibentuk dengan tujuan untuk melindungi hak kekayaan intelektual secara

Internasional. Pembentukan konvensi ini dipelopori oleh negara-negara Eropa ketika revolusi

industri mencapai masa kejayaannya dan perdagangan intermasional mulai berkembang

(Lihat: Darco Djaic, Indonesia Intelectual Property Laws, European Intellectual Property

Review: 2000. hal. 454.

95

Fabiola M Suwanto, Indonesia’s New Patent Law: A Move in The Right Direction, Santa

Carla Computer and High technology Law Journal, 1993.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 98

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Dalam rangka mempercepat perningkatan kecerdasan bangsa, pada

12 April 1982, UU Hak Cipta peninggalan Belanda diganti dengan UU

No 6 Tahun 1982. Undang-undang ini bertujuan untuk mendorong dan

melindungi ciptaan, serta mengembangkan penyebarluasan hasil

kebudayaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Untuk

mengatasi kevakuman di bidang paten, pada tahun 1953 Pemerintah

mengatasinya dengan cara memperbolehkan para pemilik paten untuk

mendaftarkan paten mereka di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan

hingga RUU Paten berhasil disusun pada tahun 1955, akan tetapi RUU

ini tidak ada kelanjutannya.96



Setelah itu pemerintah menbentuk Tim Keppres 34 pada tahun 1986

yang memiliki tugas utama untuk penyusunan kebijakan nasional di

bidang HKI, termasuk perancangan dan sosialisasinya baik ke tingkat

internal pemerintah, penegak hukum, maupun kepada masyarakat.

Salah satu hasilnya adalah dibuatnya Undang-Undang No 6 Tahun

1989 tentang Paten, namun UU ini mulai berlaku pada 1 Agustus 1991.



Lahirnya Undang-Undang Paten 1989 ini mengakhiri perdebatan

panjang tentang signifikansi system paten dan manfaatnya bagi

Indonesia. Kalangan yang menyetujui dilahirkannya Undang-Undang

Paten merasa penting untuk memiliki aturan di bidang paten

dikarenakan kondisi Indonesia pada saat itu sedang melaksanakan

program pembangunan nasional khususnya sektor industri dan

teknologi, hal ini bertujuan untuk menarik investasi asing dan

masuknya teknologi dari luar negeri. Disamping itu tentu adanya

kebutuhan nasional untuk menciptakan sistem perlindungan HKI yang

efektif.



Trobosan Pemerintah Indonesia dalam membuat UU Hak Cipta, Merek,

dan Paten berturut-turut di era 80-an di satu sisi merupakan kesadaran

pemerintah mengenai pentingnya perlindungan HKI seiring dengan

pembangunan ekonomi. Akan tetapi hal yang tidak dapat dipungkiri

bahwa pada saat itu, ada faktor permintaan dari negara-negara maju

kepada negara berkembang termasuk Indonesia untuk memiliki

perangkat aturan tentang HKI. Disamping untuk melindungi kekayaan

intelektual dalam negeri, aturan ini juga untuk menjamin kekayaan

intelektual milik negara-negara maju yang masuk ke Indonesia.

Permintaan ini juga disertai ancaman berupa pencabutan beberapa

fasilitas dagang seperti Generalized System of Preferences (GSP) jika

96

Tim Lindsey, et al, Hak Kekayaan Intelektual: Suatu Pengantar, Alumni: 2003. hal 204.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 99

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





pemerintah tidak membuat UU di bidang HKI yang lebih modern dan

komperhensif.97



Seiring dengan perjalanan modernisasi di Indonesia, pada tanggal 19

September 1987, dengan lahirnya Undang-Undang No 7 tahun 1987,

Pemerintah melakukan perubahan terhadap UU No 6 Tahun 1982

tentang Hak Cipta. Hal ini dikarenakan semakin tingginya tingkat

pelanggaran Hak Cipta yang dapat membahayakan kehidupan sosial

dan menghancurkan kreatifitas masyarakat.



Satu tahun setelah melakukan perubahan terhadap Undang-undang

Hak Cipta, pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No 32 tahun

1988 yang memutuskan pembentukan Direktorat Jenderal Hak Cipta,

Paten, Merek (DJ HCPM) yang awalnya bernama Direktorat Paten dan

Hak Cipta yang merupakan eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal

Hukum dan Perundang-undangan Departemen KeHKIman (kini

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia). Pada tahun 1992,

pemerintah mengganti UU Merek 1961 dengan UU No. 19 Tahun 1992

yang diberlalukan pada 1 April 1993.



15 April 1994 Pemerintah menandatangani Final Act Embodying the

Result of Uruguay round of Multilateral Trade Negotiations, yang

mencangkup Agreement on Trade Related Aspect of Intelectual

Property Rights (persetujuan TRIPs). Dengan adanya persetujuan ini,

pemerintah menyempurnakan aturan-aturan dibidang HKI, termasuk

Undang-Undang Hak Cipta 1987 jo UU 6 Tahun 1982 yang diatur

kembali dalam UU No. 19 Tahun 2002, Undang-Undang Merek 1992

yang diatur kembali dalam UU, serta Undang-Undang Paten 1989 yang

diatur kembali dalam Undang-Undang No.15 tahun 2001.



Jenis HKI Periode Periode Periode



Pemerintahan Kemerdekaan Pasca Agreement

Kolonial Belanda on Trade Related

Aspect of

Intelectual

Property Rights

(TRIPs)



Hak Cipta Undang Hak Cipta - Masih UU No. 19 Tahun

(Auteurswet) pada menggunakan 2002 tentang Hak

tahun 1912 peraturan pada



97

Michael Blackeney, The Impact of TRIPs Agreement In The Asia Pacific Region, European

Intellectual Property Review: 1996.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 100

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Jenis HKI Periode Periode Periode



Pemerintahan Kemerdekaan Pasca Agreement

Kolonial Belanda on Trade Related

Aspect of

Intelectual

Property Rights

(TRIPs)



masa kolonial Cipta

(Auteurswet

1912)

- Lahir UU No 6

Tahun 1982

tentang Hak Cipta

- Perubahan UU 6

tahun 1982

dengan UU 7

Tahun 1987





Merek Undang-Undang - Masih Undang-Undang

Merek pada tahun menggunakan No. 15 Tahun

1844 peraturan pada 2001tentang Merek

masa kolonial (UU

Merek 1844)

- Undang-Undang

No 21 Tahun 1961

tentang Merek

- Undang-Undang

No 19 Tahun 1992

tentang Merek

(mencabut UU No

21 Tahun 1961)

Paten Undang-Undang - Tidak ada Undang-Undang

Paten tahun 1910 Undang-Undang No.15 tahun

Paten (aturan 2001tenang Paten

kolonial tentang

paten tidak

diberlakukan)

- Undang-Undang

No 6 Tahun 1989

tentang Paten

Desain Industri - - Undang-Undang

No. 31 Tahun 2000

tentang Desain

Industri



Ratifikasi Konvensi Internasional



- - Paris Convention - 1979 - Indonesia

for the Protection Indonesia menyetujui

of Industrial meratifikasi Paris Agreement on

Property pada Convention for the Trade Related



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 101

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Jenis HKI Periode Periode Periode



Pemerintahan Kemerdekaan Pasca Agreement

Kolonial Belanda on Trade Related

Aspect of

Intelectual

Property Rights

(TRIPs)



1888. Protection of Aspect of

- Pada tahun 1893- Industrial Property Intelectual

1936 menjadi berdasarkan Property Rights

anggota Madrid Keputusan (persetujuan

Convention Presiden No 24 TRIPs) pada

- Mengikatkan diri Tahun 1979 1994

dengan Berne -Pasca UU Hak - Berne

Convention for Cipta 1987, Convention for

the Protection of Indonesia the Protection of

Literary and menandatangani Literary and

Artistic Works Perjanjian bilateral Artistic Works

1886. tentang diratifikasi

Diumumkan Perlindungan dengan Keppres

dalam Staatblad Hukum secara No. 18 Tahun

1914 nomor 797. timbal balik 1997

dengan - Pengesahan

masyarakat Eropa WIPO Copyrights

(1988), Amerika Treaty dengan

Serikat (1989), Keppres No. 19

Australia (1993), tahun 1997

Inggris (1994), - Pengesahan

WIPO

Performance and

Phonogram

Treaty (WPPT)

dengan Keppres

No. 74 Tahun

2004

Tabel 4.7.2. Peta Perubahan Undang-Undang Hak Cipta, Merek, dan

Paten di Indonesia



4.7.2. Analisis

Manfaat dan Kelemahan Undang-Undang Hak Kekayaan Intelektual

Terhadap Seni dan Budaya



Setelah meratifikasi perjanjian TRIPs, Indonesia telah mencoba untuk

menyempurnakan substansi aturan HKI dengan ketentuan TRIPs. Meski

ada manfaat yang dicapai, namun seiring dengan berjalannya waktu,

mulai dirasakan adanya kekurangan-kekurangan dalam aturan

tersebut yang kiranya perlu adanya penyempurnaan, antara lain:







PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 102

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Jenis HKI Manfaat Bagi Seni dan Budaya Kelemahan



Peraturan



Hak Cipta - Memberikan perlindungan - Tidak mengatur

dan penghargaan terhadap secara jelas

pencipta (hak moral dan mengenai

hak ekonomi) collecting society

- Dengan adanya yang akan

penghargaan atas suatu memungut royalty99

karya cipta, maka dapat - Kurang tegasnya

merangsang pihak lain penjelasan

untuk berkarya dan mengenai

melahirkan ciptaan-ciptaan performing right,

baru mechanical right,

- Lahirnya Hak Cipta bukan dan painted right

akibat dari pendaftaran hak, (copy), serta sejauh

melainkan secara otomatis mana dan siapa

pada saat objek tersebut saja yang berhak

diciptakan atas hak-hak

- Pencipta mendapatkan hak tersebut

ekonomi dan hak moral atas - Belum sesuai

ciptaannya dengan

- Masa perlindungan hak perkembangan

cipta selama hidup pencipta teknologi seperti

ditambah 50 tahun setelah internet, Ring Back

pencipta meninggal dunia Tone, dll

- Adanya hak terkait - Negara merupakan

(neighbouring right). 98 pemegang hak

- Negara juga pemegang hak cipta atas folklore

cipta untuk kepentingan untuk mencegah

pencipta atas ciptaan yang monopoli dan

tidak diketahui penciptanya komersialisasi

dan ciptaan tersebut belum pihak asing yang

diterbitkan dapat merusak nilai

- Ada Penggunaan Wajar kebudayaan

Indonesia. UUHC

98

Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif bagi Pelaku

untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukannya; bagi Produser Rekaman Suara

untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan

bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau menyiarkan karya

siarannya. Jangka waktu perlindungan hak terkait bagi pelaku adalah 50 tahun sejak

pertama kali dipertunjukkan atau dimasukkan dalam media audio atau audiovisual, bagi

produser rekaman suara 50 tahun sejak karya selesai direkam, dan 20 tahun bagi lembaga

penyiaran (Pasal 1 jo pasal 50 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta)

99

Kasus-kasus terjadi antara Yayasan Karya Cipta Indonesia dengan label maupun pencipta

lagu merupakan akibat dari tidak jelasnya aturan Hak Cipta dalam mengatur collecting

society yang bertugas untuk memungut royalty atas kuasa pencipta. Disamping

ketidakjalasan siapa pihak yang dapat menjalankan fungsi tersebut, UUHC juga tidak

mengatur secara jelas lingkup hak apa saja yang dapat dipungut royalty (performing right,

mechanical right, serta painted right) dan siapa yang memiliki kewenangan untuk

memungutnya.

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 103

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Jenis HKI Manfaat Bagi Seni dan Budaya Kelemahan



Peraturan



(Fair-Dealing) untuk belum mengatur

kepentingan masyarakat pencegahan atas

luas tanpa harus izin dari monopoli dan

pencipta, seperti untuk komersialisasi yang

kebutuhan non komersil, dilakukan oleh

pendidikan, dan kebutuhan orang/badan

orang difabel Indonesia sendiri

- Ada penetapan sementara - Ketentuan bahwa

oleh pengadilan niaga untuk ciptaan harus asli

menghindari kerugian yang dan berwujud dapat

lebih besar menghambat

perlindungan atas

karya-karya

tradisional (folklore)

yang tidak

berwujud dan

cenderung

merupakan

pengulangan

secara turun-

temurun dalam

waktu yang lama.

Paten - Memberikan perlindungan - UU paten sangat

dan penghargaan terhadap individualistik. UU

inventor ini tidak

- Dengan adanya memperhatikan

penghargaan (moral dan collective property,

ekonomi) atas suatu khususnya atas

temuan, maka dapat perkembangan dari

merangsang pihak lain teknologi-teknologi

untuk berkarya dan tradisional

melahirkan penemuan-

penemuan baru di bidang

teknologi





Merek - Merangsang pertumbuhan Tidak berdampak negatrif

dan kompetisi sehat di terhadap perkembangan

bidang industri kreatif seni dan budaya, karena









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 104

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Jenis HKI Manfaat Bagi Seni dan Budaya Kelemahan



Peraturan



- Ada pengaturan mengenai didalamnya telah memuat

indikasi geografis untuk ketantuan penolakan

melindungi karakteristik permohonan merek yang

barang atau jasa yang khas bertentangan dengan

dari daerah maupun asal

peraturan

tertentu

- Nama group musik, perundang-undangan yang

kelompok teater, tari, dan berlaku, moralitas agama,

kelompok seni lainnya yang kesusilaan, atau ketertiban

memasuki ranah industri umum dengan keterangan

hiburan dapat melabel yang baik dalam

kelompoknya dengan merek penjelasan pasal tersebut.

yang dikategorikan sebagai

merek jasa

- Fungsi pendaftara merek:

(1) Sebagai alat bukti bagi

pemilik yang berhak atas

merek yang didaftarkan, (2)

sebagai dasar penolakan

dari permohonan merek

oleh orang lain terhadap

barang/jasa sejenis, (3)

mencegah orang lain

memakai dan mengedarkan

merek sejenis;

- Industri kreatif yang

menghasilkan produk-

produk kreatif berupa

benda, masuk dalam

kategori merek barang

- Jangka waktu perlindungan

merek adalah 10 tahun dan

dapat diperpanjang setiap

kali dalam jangka waktu

yang sama oleh pemilik

- Permohonan Merek dapat

ditolak jika bertentangan

dengan peraturan

perundang-undangan yang

berlaku, moralitas agama,

kesusilaan, atau ketertiban

umum (Pasal 5 huruf a)100



100

Termasuk dalam pengertian bertentangan dengan moralitas agama, kesusilaan, atau

ketertiban umum adalah apabila penggunaan tanda tersebut dapat menyinggung perasaan,

kesopanan, ketenteraman, atau keagamaan dari khalayak umum atau dari golongan

masyarakat tertentu (Penjelasan Pasal 5 huruf a). Hal ini untuk menghindari adanya

pendaftaran merek yang menyinggung kelompok-kelompok tertentu dari masyarakat

sebagaimana yang terjadi pada perusahaan bir di New York Amerika Serikat, yang

menggunakan merek dagangnya dengan lukisan kepala suku Indian serta pola-pola

PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 105

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009



Jenis HKI Manfaat Bagi Seni dan Budaya Kelemahan



Peraturan



Desain Industri - Hak Desain Industri - Hak Desain Industri

diberikan untuk Desain tidak dapat

Industri yang baru diberikan apabila

- Hak eksklusif Desain Desain Industri

Industri dikecualikan untuk tersebut

kepentingan penelitian dan bertentangan

pendidikan sepanjang tidak dengan peraturan

merugikan kepentingan perundang-undang

yang wajar dari pemegang an yang berlaku,

hak Desain Industri ketertiban umum,

agama, atau

kesusilaan (Pasal

4). Penjelasan UU

Desain industri

tidak menjabarkan

lebih lanjut apa

yang dimaksud

dengan hal-hal

tersebut,

khususnya

ketertiban umum

dan kesusilaan,

sebagaimana

penjelasan dalam

UU Merek.

- Tidak ada

pengaturan tegas

untuk melindungi

eksploitasi dan

komersialisasi atas

desain-desain

tradisional





Tabel 4.7.2. Manfaat dan Kelemahan Peraturan-Peraturan HKI

terhadap Seni dan Budaya



Hak Kekayaan Intelektual vs Pengetahuan Tradisional (indigenous

knowledge)



Jangan pernah dilupakan bahwa rezim pengaturan hak kekayaan

intelektual berasal dari adanya kebutuhan negara maju dalam rangka

menjamin hak individu atau pihak tertentu atas kerya intelektual

mereka di negara berkembang. Khususnya dalam rangka perluasan

investasi mereka di Negara ketiga. Dengan demikian karakteristik dari



tradisonal suku Indian (Lihat: Tim Lindsey, op cit, hal 270)







PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 106

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





HKI terlihat jelas penuh dengan nuansa menjunjung kepentingan

individual.



Sebagai negara berkembang, Indonesia mengalami kondisi dilematis

untuk mengambil kebijakan di bidang HKI. Di satu sisi Indonesia

mengalami tekanan Internasional jika tidak segera menyesuaikan

aturan HKI dengan perjanjian TRIPs dan World Trade Organizaton

(WTO). Di sisi lain Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang

komunal, yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan

pengakuan terhadap kepemilikan bersama (collective property).



Dengan kondisi tersebut, kiranya pemerintah harus pandai mensiasati

ketentuan yang akan diadopsi dalam bentuk peraturan di tingkat

nasional agar tidak menciderai kebutuhan dan nilai-nilai luhur yang

telah hidup di masyarakat. Indonesia merupakan negara yang kaya

akan budaya dan keseniannya. Di tahun 2000-an Indonesia telah

membuat produk-produk aturan terbaru di bidang HKI yang tentunya

dapat mempengaruhi eksistensi dari pengetahuan tradisional

(indigenous knowledge).



Undang-Undang Hak Cipta misalnya, didalamnya memang sudah

mengatur tentang kewenangan Negara sebagai pemegang hak cipta

atas folklore untuk mencegah monopoli dan komersialisasi pihak asing

yang dapat merusak nilai kebudayaan Indonesia. Akan tetapi, UUHC

belum mengatur pencegahan atas monopoli dan komersialisasi yang

dilakukan oleh orang/badan Indonesia sendiri.



Selain itu aturan UUHC mensyaratkan, untuk mendapatkan

perlindungan hak cipta, suatu ciptaan harus bersifat asli dalam bentuk

yang berwujud (fixation). Padahal kebanyakan karya seni tradisional

tidak didokumentasikan (tidak berwujud), melainkan hanya diceritakan

secara turun temurun sehingga menjadi pengetahuan bersama.



Pemerintah harus mampu mengakomodir ciptaan-ciptaan tradisional

untuk mendapatkan hak cipta. Misalnya dengan cara mengecualikan

objek ciptaan yang bersifat asli dan berwujud bagi ciptaan-ciptaan

tradisional. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tradisional dapat

menerima hak moral dan ekonomi terhadap karya cipta mereka.



Di bidang paten, pengembangan teknologi tradisional yang dapat

dipatenkan justru dapat menghambat perkembangan masyarakat

tradisional itu sendiri. Hal ini dikarenakan teknologi tersebut dimiliki



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 107

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





oleh pihak tertentu yang memiliki hak eksklusif atas objek paten

tersebut. Dengan adanya hak eksklusif, maka pengguna (user) dari

teknologi tersebut harus membayar royalti jika ingin

menggunakannya. Dengan demikian nilai-nilai kepemilikan bersama

menjadi hilang karena adanya kepemilikan individu terhadap objek

paten yang merupakan pengembangan dari teknologi tradisonal

tersebut.



Dalam pemeriksaan subtantif terhadap objek yang dimohonkan

perlindungan paten. Pemerintah harus jeli meneliti sumber dari

pengembangan teknologi tersebut. Jika teknologi tersebut berasal dari

teknologi masyarakat tradisional, hendaknya perlu ada pengaturan

khusus yang dapat menguntungkan kedua belah pihak (penemu

maupun masyarakat tradisional). Peran pemerintah menjadi penting

untuk melindungi keduanya. Di satu sisi penemu harus dilindungi agar

dapat menikamati hak ekonomi atas pengabdiannya mengambangkan

teknologi. Namun disisi lain masyarakat perlu diperhatikan agar dapat

menggunakan teknologi tersebut dengan mudah dan murah, tanpa

harus membayar royalti yang mahal nilainya.



Dengan demikian, semangat untuk menciptakan dan mengembangkan

teknologi tetap terpacu karena negara menamin pemenuhan hak

ekonominya sebagai penghargaan atas penemuannya. Disisi lain

masyarakat, khususnya masyarakat tradisional dapat meningkatkan

produktifitasnya dengan teknologi baru tersebut.



Hal lain yang perlu diperhatikan dalam UU Paten adalah belum adanya

langkah pencegahan dan perlindungan terhadap ”pencurian”

pengetahuan tradisional yang kita miliki. Hal ini sangat penting agar

tidak terulang lagi kasus ”pencurian” pengetahuan tradisional kita oleh

negara lain. Langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah

dengan cara mendokumentasikan segala macam pengetahuan

tradisional yang terwujud dalam kearifan lokal seluruh daerah di

Indonesia. Dengan adanya pendokumentasian yang baik, maka akan

meminimalisir ”pencurian” pengetahuan dan teknologi tradisional yang

kita miliki.



4.7.3. Kesimpulan

Budaya merupakan buah dari akal budi manusia yang salah satunya

tercipta dalam perwujudan seni. Sedangkan Hak Kekayaan Intelektual

merupakan hak yang melindungi hasil olah pikir otak yang



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 108

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia.

Disinilah terlihat persinggungan antara Hak Kekayaan Intelektual, seni

dan budaya. Dari 7 (tujuh) jenis HKI, 4 (empat) diantaranya merupakan

Hak Kekayaan Intelektual yang terkait dengan seni dan budaya, yaitu:

(1) Undang-Undang Hak Cipta; (2) Undang-Undang Merek; (3) Undang-

Undang Paten; dan (4) Undang-Undang Desain Industri.



Pengaturan Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia sudah ada sejak

zaman kolonial Belanda, dimana pada masa itu Indonesia sebagai

negara jajahan, otomatis diikutsertakan dalam perjanjian-perjanjian

Internasional tentang Hak Kekayaan Intelektual yang disepakati oleh

Kerajaan Belanda. Pada masa itu hanya ada aturan tentang Hak Cipta,

Merek, dan Paten. Setelah Indonesia merdeka, aturan tersebut tetap

berlaku, kecuali aturan Paten yang dianggap tidak sesuai dengan

kondisi masyarakat Indonesia yang mengutamakan kebersamaan.

Pada tahun 80 hingga 90-an, Indonesia berupaya membuat aturan

sendiri tentang HKI, hingga sekitar tahun 2000 Indonesia mengganti

secara keseluruhan pengaturan HKI dengan aturan baru yang telah

disesuaikan dengan perjanjian TRIPs pada 1994.



Perlu dipahami bahwa filosofi dari aturan HKI merupakan upaya

negara-negara maju pada masa revolusi industri untuk memperluas

daerah investasinya. Agar hasil-hasil temuan mereka tidak menjadi

public property maka dibuatlah aturan untuk menjamin hak individu

atas kekayaan intelektual yang dimilikinya. Dari hak tersebut melekat

hak moral dan ekonomi yang merupakan hak eksklusif bagi pemilik

hak tersebut. Pada saat Amerika masih menjadi negara berkembang,

mereka menolak menandatangani konvensi Internasional yang

mengatur soal HKI. Mereka menyadari bahwa ada kepentingan besar

bagi negara maju untuk melindungi karya ciptanya, maupun temuan-

temuannya di bidang teknologi.



Sebagai negara berkembang yang memiliki potensi budaya dan seni

yang luar biasa. Kiranya harus berhati-hati dalam mengatur ketentuan

HKI. Di masa orde baru pada saat Indonesia mengutamakan

pembangunan nasional, disinilah Indonesia banyak turut serta

menandatangani perjanjian-perjanjian Internasional tentang HKI.

Dengan demilkian otomatis hal tersebut harus diikuti dengan

pengaturan di tingkat nasional.









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 109

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Berbagai kelemahan dari aturan HKI (cipta, paten, merek, maupun

desain industri) dari segi teknis pelaksanaan termasuk penegakan

hukumnya, menjadi catatan penting yang harus diubah dalam rezim

peraturan HKI yang akan datang. Hal yang tidak kalah penting dan

sangat mendasar karena menyangkut identitas bangsa adalah

pengaturan HKI mendatang perlu mengatur substansi yang

berperspektif pada perlindungan dan pengembangan pengetahuan

tradisional (indigenous knowledge).



Saat ini revisi undang-undang yang mengatur tentang HKI sudah

digodok oleh Ditjen HKI Departemen Hukum dan HAM dan rencananya

akan dibahas bersama DPR. Momentum ini merupakan peluang untuk

memperbaiki aturan HKI di masa mendatang. Para stakeholder (pegiat

seni dan budaya) sebaiknya mengambil peran dan turut berpartisipasi

untuk memberikan masukan yang positif untuk melindungi hak

kekayaan intelektual, tanpa menciderai hak-hak masyarakat

tradisional.









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 110

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









5. Kesimpulan dan Rekomendasi



“[…] the task of regulating conduct is not just that of the state. Instead, the agencies

of the state are one set of instruments of government amongst others, leading

Foucault to write that ‘maybe, after all, the state is no more than a composite reality

and a mythicised abstraction, whose importance is a lot more limited than many of us

think. Maybe what is really important for our modernity [is the] governmentalisation

of the state […].”



(Pendapat Foucault sebagaimana dituliskan kembali oleh Tod Jones dalam

disertasinya)





5.1.1.Kesimpulan





Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari kajian kerangka hukum

kegiatan kesenian dan kebudayaan. Kesimpulan ini kami dapatkan,

tidak hanya dari substansi kajian saja, namun juga pelajaran yang kami

dapatkan dari proses penelitian itu sendiri. Pemikiran bahwa ada satu

peta besar peraturan perundang-undangan yang efektif berjalan dan

dapat dijadikan sebagai rujukan bersama, masih merupakan mitos di

Indonesia. Pada kenyataannya, peraturan-peraturan yang ada – bukan

hanya tidak diketahui oleh para pemangku kepentingannya (seniman)

sendiri saja, namun juga belum tentu diberlakukan secara efektif oleh

aparat negara. Sehingga, dalam dunia yang tak beraturan, kekuasaan

yang ada menjadi tak terbatas – pemangku kepentingan hanya

berpegang pada informasi yang diberikat oleh aparat yang berkuasa.

Situasi ini tentu menempatkan seniman dalam posisi rentan.



Kebijakan kebudayaan sendiri telah banyak mengalami perubahan

cukup besar dari masa Orde Baru ke masa reformasi. Pada intinya

telah terbuka ruang bagi kebebasan berekspresi. Meskipun hal ini

mengundang masalah baru juga, dengan adanya potensi konflik

horizontal, pada intinya masalah ini akan selesai dengan proses

alamiah. Masing-masing komunitas akan dapat bertahan, ketika

program-program yang dibuatnya dijalankan dengan konsisten dan

profesional. Dalam hal ini peran pemerintah cukup memastikan adanya

situasi yang aman dan kondusif bagi berjalannya proses alamiah

tersebut, dengan memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi

perkembangan komunitas-komunitas yang ada.



Sehubungan dengan dukungan pemerintah secara khusus bagi sektor

seni dan budaya, perlu ada fokus pada kebijakan yang memberikan

dukungan fasilitas terhadap ruang tempat berkembangnya komunitas-



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 111

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





komunitas seni dan budaya, maupun seniman-seniman secara

terpisah. Bentuk kebudayaan yang sempurna, tak perlu lagi dijadikan

proyek pemerintah, karena hakekat kebudayaan itu sendiri akan

mendapatkan pemaknaan dari proses yang terjadi di dunia nyata.



Dalam laporan penelitian ini, kami juga sudah memaparkan beberapa

permasalahan spesifik yang harus diselesaikan secara khusus pula.

Dukungan fasilitas dan dana yang diberikan harus diarahkan sesuai

dengan dinamika dunia nyata, bukan dengan menggunakan asumsi

penguasa semata. Dengan kata lain, arah kebijakan harus disesuaikan

dengan dinamika dan permasalahan yang dihadapi para seniman

sendiri (kebijakan responsif). Telah terbukti bahwa dalam kondisi yang

terbuka, para seniman telah mencari jalannya sendiri untuk

berkembang.



Pelajaran berharga juga kami dapatkan dari refleksi atas hasil

penelitian kami (peraturan dengan jumlah yang sangat banyak, namun

tidak fokus pada usaha untuk mewujudkan suatu capaian konkrit),

berikut bacaan kami atas disertasi Tod Jones. Selain memberikan

gambaran sejarah kebijakan kebudayaan di Indonesia – yang juga akan

memperjelas peran pemerintah pada Periode I dan Periode II, terdapat

sebuah cara pandang baru yang ditawarkan oleh Tod Jones untuk

melihat dan menilai kebijakan kebudayaan di Indonesia berdasarkan

teori pemerintahan Foucault.



Cara pandang tersebut intinya tidak hanya menekankan pada peran

pemerintah dalam proses pembuatan kebijakan, tetapi juga melihat

peran masyarakat dalam pembentukan kebijakan tersebut. Dalam Bab

2 hipotesis-hipotesis kami menunjukkan banyaknya peraturan-

peraturan pada level abstrak dan bersifat formil – yang kemungkinan

besar tidak berlaku efektif. Masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan

melihat permasalahan yang nyata dihadapi oleh para seniman di

lapangan, serta perdebatan mengenai isu-isu tersebut secara spesifik.

5.1.2.Rekomendasi



1. Perubahan paradigma bernegara (dari pemerintahan yang

konservatif dan otoriter) menuju masyarakat yang demokratis dan

bebas, belum diikuti dengan proses penyelarasan instrumen hukum.

Norma konstitusi yang telah berubah tidak diikuti dengan

penyesuaian produk peraturan yang ada. Untuk ke depannya, demi

supremasi hukum, pemerintah harus melakukan penyesuaian dan

penyelarasan peraturan perundang-undangan. Sebagai bentuk

langkah konkrit, usaha tersebut bisa dimulai, misalnya, dengan

meninjau kembali mekanisme serah simpan (dokumentasi) yang

sudah dibahas dalam laporan ini.





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 112

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





2. Aturan yang tak jelas, serta pengetahuan yang minim dari warga

negara, mengakibatkan peluang terjadinya penyalahgunaan

kewenangan oleh aparat negara menjadi besar. Sehingga, perlu ada

penyediaan bantuan hukum bagi para seniman (dapat dibentuk

berdasar inisiatif dan pembiayaan para seniman sendiri) untuk

menghadapi kesewenang-wenangan aparat pemerintah. Bantuan

hukum ini bisa juga difasilitasi, misalnya, oleh Dewan Kesenian atau

dengan melibatkan YLBHI.



3. Pemerintah daerah harus meninjau lagi pengenaan retribusi daerah

dan pajak daerah bagi kegiatan-kegiatan yang terkait dengan

kesenian, karena besaran pajak yang saat ini ditentukan tidak

memiliki landasan-landasan obyektif yang nyata.



4. Dari paparan di atas, sebenarnya sudah cukup jelas, bahwa aturan

yang tak jelas, serta pengetahuan yang minim dari warga negara,

mengakibatkan peluang terjadinya penyalahgunaan kewenangan

oleh aparat negara menjadi besar.



5. Untuk dokumentasi karya seni (sehubungan dengan peraturan

menyangkut serah simpat karya rekam dan karya cetak),

pemerintah harus berpegang pada dasar berpikir bagaimana cara

memberi nilai tambah kepada seniman itu sendiri. Apabila hal ini

tidak dilakukan, maka kondisinya akan terus seperti saat ini, yaitu

aturan yang berlaku tak ada artinya sama sekali.



6. Untuk permasalahan cagar budaya, perlu ada pemisahan antara

regulator, operator dan pengawasan, sehingga fungsi perlindungan

dan pelestarian dapat berjalan dengan baik. Selain itu, pemerintah

perlu mendengar pendapat para seniman atau budayawan sendiri

mengenai apa-apa yang harus dilindungi.



7. Sehubungan dengan pendidikan seni, perlu ada usaha serius untuk

membuat kurikulum pendidikan yang obyektif dan berkualitas.

Dalam pembuatannya, pemerintah harus memperhatikan program-

program komunitas yang telah aktif dalam masalah ini.



8. Kesenian sebagai bagian dari pariwisata oleh setiap rezim

pemerintahan dimaanfatkan, terutama sebagai pemikat turis. Hal

ini telah menjauhkan proyek kebudayaan pemerintah dari seniman

dan kehidupan nyata sehari-hari. Padahal, semestinya kebijakan

kebudayaan dapat menjadi alat untuk mendekatkan penguasa

dengan warga negara. Untuk itu, perlu ditinjau ulang paradigma

yang digunakan dalam kebijakan pariwisata saat ini.









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 113

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009









LAMPIRAN: DAFTAR PERATURAN TERIDENTIFIKASI



Nama Peraturan Jenis Peraturan Tahun Klasifikasi

Ditetapk

an

PP No. 38/1953 tentang Peraturan 1953 Otonomi Daerah

Penyerahan Resmi sebagian Pemerintah

dari pada Tugas dan Urusan

Pemerintah Pusat dalam

Lapangan Pendidikan,

Pengajaran dan Kebudayaan

kepada Daerah Otonom

Kotapraja Jakarta Raya

UU No. 3/1959 tentang Undang-Undang 1959 Kerjasama

Kerjasama Ilmiah, Bilateral

Pendidikan dan Kebudayaan

antara RI dan Republik Ceko

PP No. 38/1959 tentang Peraturan 1959 Penghargaan

Pemberian Anugerah Satya Pemerintah Seni

Lencana Kebudayaan

Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden 1960 Penghargaan

26/1960 tentang Pemberian Seni

Hadiah Seni

SK Gubernur DKI Jakarta Keputusan Gubernur 1968 Dewan Kesenian

tentang Pembentukan DKJ

Keppres No. 285/1968 Keputusan Presiden 1968 Kerjasama

tentang Pengesahan Bilateral

Persetujuan Kebudayaan

antara Pemerintah RI dan

Pemerintah Kerajaan

Nederlands

Inpres No. 9/1969 tentang Instruksi Presiden 1969 Pariwisata

Pedoman Pembinaan

Pengembangan Pariwisata

Nasional

PP No. 16/1970 tentang Peraturan 1970 Fiskal

Penyempurnaan Pelaksanaan Pemerintah

Ekspor, Impor dan Lalu

Lintas Devisa

Keppres No. 29/1970 tentang Keputusan Presiden 1970 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

mengenai Kebudayaan dan

Kerjasama Tehnik antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik

Perancis









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 114

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Keppres No. 46/1971 tentang Keputusan Presiden 1971 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

Kebudayaan antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Iran

Keppres No. 61/1972 tentang Keputusan Presiden 1972 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

Kebudayaan antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Kerajaan Belgia

Keppres No. 2/1972 tentang Keputusan Presiden 1972 Perjanjian

Pengesahan "STATUES OF Internasional

THE WORLD TOURISM

ORGANIZATION" (ANGGARAN

DASAR ORGANISASI

KEPARIWISATAAN SEDUNIA)

Keppres No. 39/1974 tentang Keputusan Presiden 1974 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

Kebudayaan antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Turki

Keppres No. 47/1975 tentang Keputusan Presiden 1975 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

Kerjasama antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Austria

di Bidang Kebudayaan,

Pendidikan dan Ilmu

Pengetahuan dalam Riset di

Wina

PP No. 11/1976 tentang Peraturan 1976 Fiskal

Perubahan PP No. 16/1970 Pemerintah

Keppres No. 23/1976 tentang Keputusan Presiden 1976 Penghargaan

Pemberian Penghargaan Seni

Hadiah Seni

Keppres No. 5/1980 tentang Keputusan Presiden 1980 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

Kerjasama antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Rakyat

Bangladesh di Bidang

Pendidikan dan Kebudayaan

UU No. 10/1980 tentang Undang-Undang 1980 Penghargaan

Tanda Kehormatan Bintang Seni

Budaya Parama Dharma



PP No. 30/1981 tentang Peraturan 1981 Birokrasi

Pengangkatan Tenaga Pemerintah

Kesenian dalam Lingkungan

Departemen Penerangan

menjadi Pegawai Negeri Sipil

PP No. 1/1982 tentang Peraturan 1982 Fiskal

Pelaksanaan Ekspor, Impor Pemerintah



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 115

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





dan Lalu Lintas Devisa





UU No. 5/1984 tentang Undang-Undang 1984 Industri

Perindustrian

PP No. 12/1986 tentang Peraturan 1986 Penghargaan

Pelaksanaan UU No. 10/1980 Pemerintah Seni

tentang Tanda Kehormatan

Bintang Budaya Parama

Dharma

Inpres No. 7/1987 tentang Instruksi Presiden 1987 Pariwisata

Penyederhanaan Perizinan

dan Restribusi di Bidang

Usaha Pariwisata

Keppres No. 47/1989 tentang Keputusan Presiden 1989 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

antara Pemerintah Republik

Indonesia dan Pemerintah

Republik Federal Jerman

mengenai Kerjasama

Kebudayaan

UU No. 4/1990 tentang Serah Undang-Undang 1990 Dokumentasi

Simpan Karya Cetak dan

Karya Rekam

PP No. 70/1991 tentang Peraturan 1991 Dokumentasi

Pelaksanaan Serah Simpan Pemerintah

Karya Cetak dan Karya

Rekam

UU No. 5/1992 tentang Cagar Undang-Undang 1992 Cagar Budaya

Budaya

Keppres No. 1/1992 tentang Keputusan Presiden 1992 Cagar Budaya

PENGELOLAAN TAMAN

WISATA CANDI BOROBUDUR

DAN TAMAN WISATA CANDI

PRAMBANAN SERTA

PENGENDALIAN LINGKUNGAN

KAWASANNYA



UU No. 8/1992 tentang Undang-Undang 1992 Film

Perfilman

Keppres No. 21/1992 tentang Keputusan Presiden 1992 Pendidikan Seni

PENDIRIAN SEKOLAH TINGGI

SENI INDONESIA SURAKARTA



Keppres No. 22/1992 tentang Keputusan Presiden 1992 Pendidikan Seni

Pendirian Sekolah Tinggi

Seni Indonesia Denpasar



Irmendagri 5A/1993 tentang Instruksi Menteri 1993 Dewan Kesenian

Pembentukan Dewan

Kesenian

PP No. 7/1994 tentang Peraturan 1994 Film

Lembaga Sensor Film Pemerintah









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 116

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





PP No. 8/1994 tentang Badan Peraturan 1994 Film

Pertimbangan Perfilman Pemerintah

Nasional

PP No. 6/1994 tentang Usaha Peraturan 1994 Film

Perfilman Pemerintah

PP No. 19/1995 tentang Peraturan 1995 Cagar Budaya

Pemeliharaan dan Pemerintah

Pemanfaatan Benda Cagar

Budaya di Museum

UU No. 10/1995 tentang Undang-Undang 1995 Fiskal

Kepabean

PP No. 31/1995 tentang Peraturan 1995 HKI

Komisi Banding Paten Pemerintah

PP No. 32/1995 tentang Peraturan 1995 HKI

Komisi Banding Merek Pemerintah

UU No. 9/1995 tentang Usaha Undang-Undang 1995 Industri

Kecil

Keppres No. 59/1995 tentang Keputusan Presiden 1995 Pendidikan Seni

Pendirian Sekolah Tingi Seni

Indonesia Bandung

PP No. 67/1996 tentang Peraturan 1996 Pariwisata

Penyelenggaraan Pemerintah

Kepariwisataan

UU No. 18/1997 tentang Undang-Undang 1997 Pajak/Retribusi

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Daerah

UU No. 24/1997 tentang Undang-Undang 1997 Penyiaran

Penyiaran

PP No. 23/1999 tentang Peraturan 1999 Dokumentasi

Pelaksanaan Serah-Simpan Pemerintah

dan Pengelolaan Karya

Rekam Film Cerita atau Film

Dokumenter

UU No. 39/1999 tentang Hak Undang-Undang 1999 HAM

Asasi Manusia

PP No. 60/1999 tentang Peraturan 1999 Pendidikan Seni

Pendidikan Tinggi Pemerintah

Keppres No. 56/1999 tentang Keputusan Presiden 1999 Pendidikan Seni

Pendirian Sekolah Tinggi

Seni Indonesia Padang

Panjang

Keppres No. 84/1999 tentang Keputusan Presiden 1999 Penghargaan

Pemanfaatan Seni dan Seni

Budaya

Keppres No. 6/2000 tentang Keputusan Presiden 2000 Adat Budaya

Pencabutan Inpres No.

14/1967 tentang Agama

Kebudayaan Adat Cina

UU No. 17/2000 tentang Undang-Undang 2000 Fiskal

Pajak Penghasilan





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 117

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





UU No. 18/2000 tentang Undang-Undang 2000 Fiskal

Pajak Pertambahan Nilai

Barang dan Jasa dan Pajak

Penjualan atas Barang

Mewah

UU No. 30/2000 tentang Undang-Undang 2000 HKI

Desain Industri (data ini

ditemukan

setelah analisa

data secara

keseluruhan

dilakukan)

Keppres No. 32/2000 tentang Keputusan Presiden 2000 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

antara Pemerintah RI dan

Pemerintah Federasi Rusia

mengenai Kerjasama

Kebudayaan

Keppres No. 70/2000 tentang Keputusan Presiden 2000 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

antara Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Kuba

mengenai Kerjasama

Kebudayaan

Keppres No. 71/2000 tentang Keputusan Presiden 2000 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

antara Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik

Suriname mengenai

Kerjasama Kebudayaan

Keppres No. 72/2000 tentang Keputusan Presiden 2000 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

antara Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Italia

mengenai Kerjasama

Kebudayaan

Keppres No. 140/2000 Keputusan Presiden 2000 Kerjasama

tentang Pengesahan Bilateral

Persetujuan antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Kerajaan

Jordania mengenai

Kerjasama Kebudayaan dan

Ilmu Pengetahuan

UU No. 34/2000 tentang Undang-Undang 2000 Pajak/Retribusi

Perubahan atas UU No. Daerah

18/1997 tentang Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah

Keppres No. 11/2000 tentang Keputusan Presiden 2000 Pariwisata

Badan Pengembangan

Pariwisata dan Kesenian



UU No. 14/2001 tentang Undang-Undang 2001 HKI



PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 118

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Paten

UU No. 15/2001 tentang Undang-Undang 2001 HKI

Merek

UU No. 21/2001 tentang Undang-Undang 2001 Otonomi Daerah

Otonomi Khusus Papua

Perda Kota Ambon No. Peraturan Daerah 2001 Pajak/Retribusi

4/2001 tentang Pajak Daerah

Hiburan

Perda Kota Semarang No. Peraturan Daerah 2001 Pajak/Retribusi

9/2001 tentang Pajak Daerah

Hiburan

Perda Kabupaten Lampung Peraturan Daerah 2001 Pajak/Retribusi

Selatan No. 15/2001 tentang Daerah

Retribusi Tempat Pameran,

Lokasi dan Pertunjukan

Perda Kabupaten Wonosobo Peraturan Daerah 2001 Pajak/Retribusi

No. 15/2001 tentang Pajak Daerah

Hiburan

Perda Kabupaten Lampung Peraturan Daerah 2001 Pajak/Retribusi

Selatan No. 21/2001 tentang Daerah

Retribusi Ijin Pemutaran Film

Keliling

UU No. 19/2002 tentang Hak Undang-Undang 2002 HKI

Cipta

Keppres No. 43/2002 tentang Keputusan Presiden 2002 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

Antara Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Kolo



Perda Kabupaten Kudus No. Peraturan Daerah 2002 Pajak/Retribusi

14/2002 tentang Retribusi Daerah

Izin Usaha Tempat Rekreasi

dan Hiburan Umum

Perda Kota Kupang No. Peraturan Daerah 2002 Pajak/Retribusi

3/2002 tentang Pajak Daerah

Hiburan

Perda Kota Medan No. Peraturan Daerah 2002 Pajak/Retribusi

11/2002 tentang Retribusi Daerah

Izin Usaha Perfilman

Perda Kota Surakarta No. Peraturan Daerah 2002 Pajak/Retribusi

4/2002 tentang Usaha Daerah

Rekreasi dan Hiburan Umum



UU No. 32/2002 tentang Undang-Undang 2002 Penyiaran

Penyiaran









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 119

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Keppres No. 29/2003 tentang Keputusan Presiden 2003 Birokrasi

Perubahan atas Keputusan

Presiden No. 101/2001

tentang Kedudukan, Tugas,

Fungsi, Kewenangan,

Susunan Organisasi, dan

Tata Kerja Menteri Negara

sebagaimana telah diubah

dengan Keputusan Presiden

No. 2/2002

Perda Kabupaten Gowa No. Peraturan Daerah 2003 Pajak/Retribusi

4/2003 tentang Retribusi Ijin Daerah

Pemutaran Film Keliling



UU No. 20/2003 tentang Undang-Undang 2003 Pendidikan Seni

Sistem Pendidikan Nasional

Qanun Provinsi NAD No. Peraturan Daerah 2004 Adat Budaya

12/2004 tentang Kebudayaan

Aceh

Keppres No. 53/2004 tentang Keputusan Presiden 2004 Kerjasama

Pengesahan Persetujuan Bilateral

antara Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik

Polandia tentang Kerjasama

Pendidikan dan Kebudayaan

UU No. 32/2004 tentang Undang-Undang 2004 Otonomi Daerah

Pemerintahan Daerah

Peraturan Menbudpar No. Peraturan Menteri 2004 Penghargaan

39/KP.102/MKP/2004 tentang Seni

Pemberian Anugerah

Kebudayaan

PP No. 35/2005 tentang Peraturan 2005 Fiskal

Pungutan Ekspor atas Pemerintah

Barang Ekspor Tertentu

Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden 2005 Kerjasama

4/2005 tentang Pengesahan Bilateral

Persetujuan antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Bolivar

Venezuela mengenai

Kerjasama Kebudayaan, Ilmu

Pengetahuan dan Pendidikan

Perda Kabupaten Blora No. Peraturan Daerah 2005 Pajak/Retribusi

4/2005 tentang Retribusi Izin Daerah

Usaha Pariwisata dan

Kebudayaan

Inpres No. 16/2005 tentang Instruksi Presiden 2005 Pariwisata

Kebijakan Pembangunan

Kebudayaan dan Pariwisata



PP No. 19/2005 tentang Peraturan 2005 Pendidikan Seni

Standar Nasional Pendidikan Pemerintah





PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 120

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





PP No. 20/2005 tentang Alih Peraturan 2005 Pendidikan Seni

Teknologi Kekayaan Pemerintah

Intelektual serta Hasil

Kegiatan Penelitian dan

Pengembangan oleh

Perguruan Tinggi dan

Lembaga Penelitian dan

Pengembangan

PP No. 11/2005 tentang Peraturan 2005 Penyiaran

Penyelenggaraan Penyiaran Pemerintah

Lembaga Penyiaran Publik



PP No. 12/2005 tentang Peraturan 2005 Penyiaran

Lembaga Penyiaran Publik Pemerintah

RRI

PP No. 13/2005 tentang Peraturan 2005 Penyiaran

Lembaga Penyiaran Publik Pemerintah

TVRI

UU No. 11/2005 tentang Undang-Undang 2005 Perjanjian

Pengesahan ICCPR Internasional

UU No. 12/2005 tentang Undang-Undang 2005 Perjanjian

Pengesahan ICESCR Internasional

Keputusan Walikota 188.45- Keputusan Walikota 2006 Dewan Kesenian

324/2006 tentang

Pengukuhan Pengurus

Dewan Kesenian Kota

Balikpapan

Perda DKI Jakarta No. 6/2006 Peraturan Daerah 2006 Dokumentasi

tentang Serah Simpan Karya

Cetak dan Karya Rekam



UU No. 17/2006 tentang Undang-Undang 2006 Fiskal

Perubahan atas UU No.

10/1995 tentang Kepabean

UU No. 11/2006 tentang Undang-Undang 2006 Otonomi Daerah

Pemerintahan Aceh

Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden 2006 Pendidikan Seni

77/2006 tentang Perubahan

Sekolah Tinggi Seni

Indonesia Surakarta menjadi

Institut Seni Indonesia

Surakarta

Peraturan Menkeu No. Peraturan Menteri 2007 Fiskal

106/PMK.04/2007 tentang

Pembebasan Bea Masuk Dan/

Atau Cukai atas Impor

Kembali Barang yang telah

Diekspor









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 121

[LAPORAN HASIL PENELITIAN] Juni, 2009





Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden 2007 Kerjasama

92/2007 tentang Pengesahan Bilateral

Persetujuan antara

Pemerintah RI dan

Pemerintah Republik Korea

mengenai Kerjasama di

Bidang Kebudayaan

UU No. 29/2007 tentang Undang-Undang 2007 Otonomi Daerah

Pemerintahan Provinsi

Daerah Khusus Ibukota

Jakarta Sebagai Ibukota

Negara Kesatuan Republik

Indonesia

Permen No. 45/2007 tentang Peraturan Menteri 2007 Pendidikan Seni

Organisasi dan Tata Kerja ISI

Surakarta

Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden 2007 Perjanjian

78/2007 tentang Konvensi Internasional

untuk Perlindungan Warisan

Budaya TakBenda

(Convention for the

Safeguarding of the

Intangible Cultural Heritage)

UU No. 43/2007 tentang Undang-Undang 2007 Perpustakaan

Perpustakaan

PP No. 55/2008 tentang Peraturan 2008 Fiskal

Pengenaan Bea Keluar Pemerintah

Terhadap Barang Ekspor

Peraturan Menkeu No. Peraturan Menteri 2008 Fiskal

223/PMK.011/2008 tentang

Penetapan Barang Ekspor

yang Dikenakan Bea Keluar

dengan Tarif Bea Keluar

UU No. 36/2008 tentang Undang-Undang 2008 Fiskal

Pajak Penghasilan

Permen No. 34/2008 tentang Peraturan Menteri 2008 Pariwisata

Pengamanan Objek Vital

Nasional di Bidang

Kebudayaan dan Pariwisata

UU No. 44/2008 tentang Undang-Undang 2008 Pornografi

Pornografi









PSHK | Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 122

Cultural Sublimation: The Museumizing of Indonesia http://www2.hawaii.edu/~seassa/explorations/v1n1/art2/v1n1-art2.html









SEASSA Home > Explorations Index >Volume 1, Number 1: Spring 1997 > Cultural Sublimation To print this article

select here then

print







Cultural Sublimation

The Museumizing of Indonesia



Amanda Rath

Amanda Rath is currently a M.A. candidate in the Asian Studies program at the University of Hawai'i at Manoa





Introduction



Mouse goes everywhere, through rich men's houses she creeps, and she visits even the poorest. At night, with her bright little eyes she

watches the doing of secret things and no treasure chamber is safe that she cannot enter and see what is hidden there. In the olden days

she wove a story child from all she saw and to each of these she gave a gown of a different color-white, red, blue or black. The stories

became her children and lived in her house and served her because she had no children of her own.



The above is an old Eikoi folk tale demonstrating a very sophisticated theory of aesthetics and creative sublimation. I apply this tale to explain

Indonesian systems of nation building and methods of enforcing a national hegemony. Indonesia has created its national "story" based upon the

many cultures contained within its national boundaries. It chooses from the rich as well as the poor, combining the many found treasures to weave

its tale. Not all local "stories" will be deemed ap propriate to this national unity, which uses culture as its base. Those elements which fail to be

assimilated or appropriated face enforced conscription or obscurity. Such political control makes the autonomous cultivation of local forms rare. 1

Many peoples of Indonesia have attempted to redefine themselves and their traditions in order to culturally survive, even if this means cooperating

with the growing power of Indonesia's New Order government. 2 Yet, other regional cultures have experienced further marginalization.



Control over cultural expression in Indonesia is heavily influenced by the Republic's motto "Unity in Diversity". 3 In order for "Unity in Diversity"

to work, each local culture must add to and enhance this greater national culture and identity. 4 The process of selecting the elements to be

included in this identity often results in the redefinition and recontextualization 5 of material culture adat. Adat, in the simplest terms, encompasses all the pre-Islamic custom and ritual of a culture. This traditional

component has recently been dissected by the world religions. Indonesian Islam and Christianity have separated those eleme nts of adat deemed religious and those that are

traditional custom. The adat elements are preserved; the religious elements are recontextualized.



85 Patrick Guiness, "Local Society and Culture" in Indonesia's New Order , ed., Hal Hill (Honolulu: University of Hawaii Press, 1994), 282.



86 Shinji Yamoshita "Manipulating Ethnic Traditions: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi" Indonesia 58 (October 1994): 80.



87 Ministry of Culture, Apa dan Siapa itu Indonesia (Jakarta: 1975), 43.



88 The catalog does not go into detail over various obstacles experienced in the building of the park. One can assume that some of the obstacles were the student protests instigated

against the state's controversial appropriation and use of this land. The land disputes became a deeper debate of class issues as the land used for the park was to be zoned for

landowners to farm.









19 of 20 4/25/2009 11:51 PM

Cultural Sublimation: The Museumizing of Indonesia http://www2.hawaii.edu/~seassa/explorations/v1n1/art2/v1n1-art2.html





89 Ministry of Culture, Apa dan Siapa itu Indonesia, 43. The catalog suggests that every province is represented in the park. This is not quite true. In response to being excluded

from the park, Andanao has created its own "mini-zation" of itself, d isplaying its traditional cultural wealth.



90 Ministry of Culture, Apa dan Siapa itu Indonesia, 43-50. In the 1970's the state implemented the Cultural Tourism Policy. The policy focused on the economic value of tourism

in Indonesia. Policies of tourism, as a topic of research, cannot be ad equately discussed in this paper. For further reading on tourism's impact on indigenous culture see Kathleen

Adams, "Making-up the Toraja? The Appropriation of Tourism, Anthropology, and Museums for Politics in Upland Sulawesi, Indonesia" Ethnology 34 (Spring 1995): 143-53; and

Miriam Kahn, "Heterotopic Dissonance in the Museum Representation of Pacific Island Cultures" American Anthropologist 97 (1995): 324-338.



91 Crew and Simms, "Locating Authenticity," 174.



92 Patrick Guiness. "Local Society and Culture," 300-302.



93 Patrick Guiness. "Local Society and Culture," 281. Through personal communication with several Balinese dancers in the city of Ubud in 1996 I received the consensus that

dances had indeed changed due, in large part, to an attempt to preserve the ritual f rom the effects of tourism. In the 1970's, a welcoming dance, initially reserved for temple ritual,

was performed for the tourist. A dissonance occurred and a new non-religious welcoming dance was created and performed by specially trained dancers. Iro nically, the pure

ritual form has been usurped in the ritual by this new form of dance.



94 Secularization occurs when the original function of a ritual object is removed. For example, Statues of the Catholic Virgin and Christ were not created for a museum. The "art"

was created for a specific, spiritual location. Inside the church, the statue s retained their supernatural meaning and function. As soon as these objects are removed from their

intended location, their meaning is altered. The object is now serving a secular purpose as a non-spiritual object within a secular context of museum or gallery.



95 Williams, "Base and Superstructure," 39.



96 Theron Nunez, "Tourist Studies in Anthropological Perspective," in Hosts and Guests (Penn: University of Pennsylvania Press, 1977), 207-216.



97 Max Stanton, "The Polynesian Cultural Center," in Hosts and Guests (Pennsylvania: University Pennsylvania Press, 1977), 196.



98 Max Stanton, "The Polynesian Cultural Center," 196.



99 S.T. Alisjahbana, Indonesia in the Modern World (New Delhi: Office for Asian Affairs, Congress for Cultural Freedom, 1961).









20 of 20 4/25/2009 11:51 PM

T

e

l

e PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

k

NOMOR: ...../PER/M/KOMINFO/2/ 2010 TAHUN 2010

o

m TENTANG

u KONTEN MULTIMEDIA

n

i DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

k MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

a

s Menimbang : a. bahwa konten memiliki peranan, pengaruh, dan dampak yang

i signifikan dalam penyelenggaraan jasa multimedia, baik terhadap

penyelenggara jasa multimedia itu sendiri maupun terhadap

a masyarakat pada umumnya dan pada khususnya anggota masyarakat

d yang merasa dirugikan oleh pembuatan, pengumuman, dan/atau

a penyebarluasannya;

l b. bahwa untuk membina industri penyelenggara jasa multimedia agar

a senantiasa mampu menghadapi berbagai tantangan dan persoalan

h yang terjadi baik di tingkat dalam negeri maupun Internasional,

Pemerintah perlu memberikan pedoman kepada penyelenggara jasa

s multimedia mengenai pengelolaan konten multimedia;

e c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf

t a dan b perlu membentuk Peraturan Menteri Komunikasi dan

i Informatika tentang Konten Multimedia;

a Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman (Lembaran

p Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 32, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3473);

p 2. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi

e (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154,

m Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881);

a 3. Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (Lembaran

n Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 166, Tambahan

c Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3887);

a 4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (Lembaran

r Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan

a Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4252);

n 5. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan

, Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2008 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

p Nomor 4843);

e 6. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi

n (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 181,

g Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4928);

i 7. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang

r Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik

i Indonesia Tahun 2000 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara

m Republik Indonesia Nomor 3980);

a 8. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif

n atas Jenis Penerimaan Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen

, Komunikasi dan Informatika (Lembaran Negara Republik Indonesia



d

a

n

Tahun 2009 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4974);

9. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM.20 Tahun 2001

sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri

Komunikasi dan Informatika Nomor: 30/PER/M.KOMINFO/10/2008

tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi;

10. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM.21 Tahun 2000

sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri

Komunikasi dan Informatika Nomor: 31/PER/M.KOMINFO/10/2008

tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TENTANG

KONTEN MULTIMEDIA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

1. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap

informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara dari bunyi melalui

sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektro-magnetik lainnya.

2. Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau

sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum

frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara

serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.

3. Teknologi Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan,

memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan informasi.

4. Konten adalah substansi atau muatan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik

yang mencakup seluruh suara, tulisan, gambar baik diam maupun bergerak atau bentuk

audio visual lainnya, sajian-sajian dalam bentuk program, atau gabungan sebagiannya

dan/ atau keseluruhannya.

5. Multimedia adalah Sistem Elektronik yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan

fungsi Telekomunikasi, Penyiaran, dan Teknologi Informasi.

6. Konten Multimedia adalah Konten yang dimuat, didistribusikan, ditransmisikan, dibuat

dapat diakses dan/atau disimpan melalui atau dalam Perangkat Multimedia.

7. Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi

mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan,

mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik.

8. Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak

terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange

(EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf,

tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau

dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

9. Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan,

diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau

sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau

Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta,

rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi

yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu

memahaminya.

10. Kontrak Elektronik adalah perjanjian para pihak yang dibuat melalui Sistem Elektronik.

11. Penyelenggara Jasa Multimedia, yang selanjutnya akan disebut Penyelenggara, adalah

penyelenggara jasa Telekomunikasi yang menawarkan layanan berbasis Teknologi

Informasi, meliputi jasa akses Internet, penyelenggara jasa interkoneksi Internet,

penyelenggara jasa Internet teleponi untuk keperluan publik, penyelenggara jasa sistem

komunikasi data, atau penyelenggara jasa Multimedia lain yang ditetapkan berdasarkan

peraturan perundang-undangan.

12. Pengguna Jasa Multimedia, yang selanjutnya akan disebut Pengguna, adalah orang yang

memuat, mengubah, mengakses, menyimpan, mendistribusikan, mentransmisikan,

dan/atau membuat dapat diaksesnya Konten.

13. Akses adalah kegiatan melakukan interaksi dengan Sistem Elektronik yang berdiri sendiri

atau dalam jaringan.

14. Kode Akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau kombinasi di antaranya,

yang merupakan kunci untuk dapat mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik

lainnya.

15. Perangkat Multimedia adalah perangkat keras, perangkat lunak yang terintegrasi

sehingga memungkinkan suatu Sistem Elektronik menjalankan fungsi Telekomunikasi,

Penyiaran, dan Teknologi Informasi.

16. Penyaringan adalah tindakan untuk menemukan dan menutup akses (blocking) dimuat,

ditransmisikan, diumumkan, dan disimpannya suatu Konten yang dilarang di dalam sistem

penyelenggaraan jasa Multimedia yang diselenggarakan oleh Penyelenggara.

17. Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau

kewajiban berdasarkan peraturan perundang-undangan tentang adanya Konten yang

dilarang.

18. Pengaduan adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan

tentang adanya Konten yang dilarang yang menyangkut pihak tersebut secara pribadi.

19. Menteri adalah Menteri yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam bidang

komunikasi dan informatika.

20. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang memiliki tugas dan tanggung jawab

dalam bidang Konten Multimedia.

21. Tim Konten Multimedia adalah Tim yang dibentuk oleh Menteri.

Pasal 2

(1) Maksud dari pembentukan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika ini adalah untuk

melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat

penyalahgunaan Informasi Elektronik, Dokumen Elektronik dan Transaksi Elektronik yang

mengganggu ketertiban umum.

(2) Tujuan dari pembentukan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika ini adalah untuk

memberikan pedoman kepada Penyelenggara untuk bertindak secara patut, teliti, dan

hati-hati dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya yang terkait dengan Konten

Multimedia.

BAB II

KONTEN YANG DILARANG

Pasal 3

Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya

Konten yang menurut peraturan perundang-undangan merupakan:

a. Konten pornografi;

b. Konten lain yang menurut hukum tergolong sebagai Konten yang melanggar kesusilaan.

Pasal 4

Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya

Konten yang menawarkan perjudian.

Pasal 5

Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya

Konten yang mengandung muatan mengenai tindakan yang merendahkan keadaan dan kemampuan

fisik, intelektual, pelayanan, kecakapan, dan aspek fisik maupun non fisik lain dari suatu pihak.

Pasal 6

Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya

Konten yang mengandung:

a. muatan berupa berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam

Transaksi Elektronik, yaitu Konten mengenai suatu peristiwa atau hal yang tidak benar atau tidak

berdasarkan fakta yang dinyatakan sedemikian rupa sehingga menurut penalaran yang wajar Konten

tersebut adalah benar atau autentik, yang secara materil dapat mendorong konsumen untuk melakukan

atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat mengakibatkan kerugian pada konsumen;

b. muatan yang bertujuan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau

kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) meliputi

Konten mengenai penghinaan dan/atau menyatakan informasi yang tidak benar atau tidak sesuai

dengan fakta mengenai suatu suku, agama, ras, atau golongan;

c. muatan mengenai pemerasan dan/atau pengancaman meliputi Konten yang ditransmisikan

dan/atau diumumkan melalui Perangkat Multimedia yang bertujuan untuk melakukan kegiatan

pemerasan dan/atau pengancaman; dan/atau

d. muatan berupa ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi meliputi

Konten yang ditransmisikan dan/atau diumumkan melalui Perangkat Multimedia yang bertujuan untuk

melakukan ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.

Pasal 7

Penyelenggara dilarang mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya

Konten yang mengandung:

a. muatan privasi, antara lain Konten mengenai isi akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan

terakhir ataupun wasiat seseorang, riwayat dan kondisi anggota keluarga, riwayat, kondisi dan

perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang, kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan

rekening bank seseorang, hasil-hasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas, intelektualitas, dan

rekomendasi kemampuan seseorang, dan/atau catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang

berkaitan dengan kegiatan satuan pendidikan formal dan satuan pendidikan nonformal; dan/atau

b. muatan hak kekayaan intelektual tanpa izin dari pemegang hak kekayaan intelektual yang

bersangkutan.

BAB III

PERAN PENYELENGGARA

Pasal 8

Penyelenggara wajib memantau seluruh Konten dalam layanannya yang dimuat, ditransmisikan,

diumumkan, dan/atau disimpan oleh Pengguna yang dilakukan dengan cara:

a. membuat aturan penggunaan layanan;

b. melakukan pemeriksaan mengenai kepatuhan Pengguna terhadap aturan penggunaan layanan

Penyelenggara;

c. melakukan Penyaringan;

d. menyediakan layanan Pelaporan dan/atau Pengaduan;

e. menganalisa Konten Multimedia yang dilaporkan dan/atau diadukan oleh Pengguna; dan

f. menindaklanjuti hasil analisis atas Laporan dan/atau Pengaduan dari suatu Konten Multimedia.

Pasal 9

(1) Aturan penggunaan layanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a sekurang-kurangnya

memuat ketentuan mengenai:

1. larangan bagi Pengguna untuk memuat Konten yang menurut Peraturan Menteri ini merupakan

Konten yang dilarang;

2. keharusan bagi Pengguna untuk memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai

identitas dan kontaknya saat mendaftar;

3. keharusan bagi Pengguna untuk tunduk pada hukum negara Republik Indonesia;

4. keharusan bagi Pengguna untuk menyetujui bahwa jika Pengguna melanggar kewajibannya,

maka Penyelenggara dapat menutup akses (blocking) Akses dan/atau menghapus Konten

Multimedia yang dimaksud;

5. keharusan bagi Pengguna untuk menyetujui ketentuan privasi yang paling sedikit mengenai:

1. kesediaan Pengguna untuk mengizinkan Penyelenggara menyimpan data pribadi dan data

penggunaan layanan; dan/atau

2. kesediaan Pengguna untuk mengizinkan Penyelenggara mengungkapkan data pribadi dan data

penggunaan layanan kepada aparat penegak hukum dan/atau Menteri apabila ada dugaan mengenai

perbuatan melawan hukum terkait pemuatan suatu Konten.

(2) Penyelenggara dilarang membuat aturan penggunaan layanan yang menyatakan bahwa

Penyelenggara tidak bertanggungjawab atas penyelenggaraan jasanya yang digunakan untuk memuat,

mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya, dan/atau menyimpan Konten

Multimedia.

(3) Penyelenggara wajib melakukan pemeriksaan secara rutin mengenai kepatuhan Pengguna terhadap

aturan penggunaan layanan Penyelenggara.

Pasal 10

(1) Penyaringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf c dilakukan dengan mengoperasikan

Sistem Elektronik yang memiliki fungsi sebagai sarana Penyaringan menurut upaya terbaik

Penyelenggara sesuai dengan kapasitas Teknologi Informasi, kapasitas finansial, dan otoritas yang

dimilikinya.

(2) Penyelenggara wajib memastikan bahwa Sistem Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

andal dan aman serta bertanggung jawab sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Pasal 11

(1) Penyediaan layanan pelaporan dan/atau Pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf d

dilakukan dengan menggunakan sarana yang mudah diaplikasikan oleh Pengguna dalam memberikan

atau menerima Laporan dan/atau Pengaduan mengenai keberadaan Konten yang dilarang.

(2) Sarana pelaporan dan/atau Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:

a. surat elektronik;

b. sarana telekomunikasi;

c. surat melalui pos; dan

d. sarana komunikasi lainnya yang umum.

(3) Penyelenggara wajib memastikan bahwa sarana pelaporan dan/atau Pengaduan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) andal dan aman serta bertanggung jawab sebagaimana diatur dalam peraturan

perundang-undangan.

Pasal 12

(1) Penyelenggara wajib menindaklanjuti Laporan dan/atau Pengaduan dengan cara melakukan analisis

Konten paling lambat 3 (tiga) hari setelah Laporan dan/atau Pengaduan diterima.

(2) Pada saat proses analisa Laporan dan/atau Pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat

(1), Penyelenggara wajib menandai Konten tersebut, sehingga Pengguna mengetahui bahwa Konten

tersebut diduga merupakan Konten yang dilarang.

(3) Hasil analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan dalam 3 (tiga) predikat sebagai

berikut:

1. Konten yang dilarang;

2. Konten yang tidak dilarang; atau

3. Konten yang belum jelas dan akan diteruskan ke Tim Konten Multimedia.

Pasal 13

Penindaklanjutan hasil analisis atas Laporan dan/atau Pengaduan dari suatu Konten sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 8 dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3×24 (tiga kali dua puluh empat)

jam sejak Laporan dan/atau Pengaduan tersebut diterima.

Pasal 14

(1) Penyelenggara wajib meminta Pengguna untuk menghapus dari Sistem Elektronik Penyelenggara

Konten yang telah diputuskan oleh Penyelenggara atau Tim Konten Multimedia sebagai Konten yang

dilarang.

(2) Apabila permintaan Penyelenggara untuk menghapus Konten tidak dilaksanakan oleh Pengguna

dalam jangka waktu paling lama 3×24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak permintaan diajukan, maka

Penyelenggara wajib menutup akses (blocking) Konten tersebut dari layanannya.

(3) Penyelenggara dapat menghapus Konten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila ada putusan

pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Pasal 15

Penyelenggara wajib menyimpan dan mengamankan data komunikasi dan aktifitas elektronik

pelanggan atau Pengguna paling singkat 3 (tiga) bulan.

Pasal 16

Penyelenggara wajib memuat salinan elektronik dari Peraturan Menteri ini sebagai kesatuan yang tidak

terpisahkan dari layanannya dan memastikan setiap Pengguna mengakses, membaca, mengetahui

dan/atau dapat mengaksesnya.

Pasal 17

Penyelenggara wajib memberikan informasi dan bukti kepada aparat penegak hukum dalam rangka

penyelidikan atau penyidikan terkait keberadaan Konten dalam Sistem Elektroniknya.

Pasal 18

(1) Penyelenggara wajib menyampaikan Laporan pemantauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8

kepada Direktur Jenderal setiap tahun.

(2) Setelah menerima Laporan dari Penyelenggara, Direktur Jenderal melakukan verifikasi atas

kebenarannya.

(3) Setelah verifikasi selesai dilakukan, Direktur Jenderal mengeluarkan surat yang menginformasikan

tingkat kepatuhan Penyelenggara dan surat tersebut disampaikan kepada Penyelenggara yang

bersangkutan dan diumumkan kepada masyarakat.

Pasal 19

(1) Penyelenggara harus menyelenggarakan jasa Multimedia secara andal dan aman serta

bertanggungjawab terhadap beroperasinya jasa Multimedia sebagaimana mestinya.

(2) Penyelenggara bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan jasa Multimedia yang dilakukan.

(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya

keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian pihak Pengguna .

BAB IV

PERAN PEMERINTAH DAN MASYARAKAT

Pasal 20

(1) Direktur Jenderal berwenang melakukan pemantauan dan penilaian untuk mendorong

Penyelenggara mematuhi Peraturan Menteri ini.

(2) Direktur Jenderal dapat menjadikan penilaiannya atas kepatuhan Penyelenggara dalam

melaksanakan Peraturan Menteri ini sebagai salah satu indikator prestasi Penyelenggara dalam

melaksanakan ijin penyelenggaraan jasa Multimedia.

Pasal 21

(1) Masyarakat, dan/atau Penyelenggara dapat mengajukan Laporan dan/atau Pengaduan kepada Tim

Konten Multimedia mengenai keberadaan suatu Konten yang diduga merupakan Konten yang dilarang.

(2) Laporan dan/atau Pengaduan harus disampaikan dengan menyertakan identitas yang benar yang

dapat dibuktikan oleh pelapor dan/atau pengadu.

(3) Laporan dan/atau Pengaduan dapat disampaikan melalui:

a. surat elektronik;

b. sarana telekomunikasi;

c. surat melalui pos; dan

d. sarana komunikasi yang umum digunakan lainnya.

(4) Penyelenggara hanya dapat mengajukan Laporan dan/atau Pengaduan apabila Penyelenggara dapat

menunjukkan bukti dan alasan yang kuat bahwa Penyelenggara telah melakukan analisis pendahuluan

terhadap Konten yang dimaksud dan berdasarkan hasil analisis tersebut Penyelenggara tidak

memperoleh keyakinan yang kuat mengenai dilarang atau tidaknya Konten tersebut.

Pasal 22

(1) Tim Konten Multimedia ditetapkan dengan Keputusan Menteri dengan jumlah anggota paling

banyak 30 (tiga puluh) orang dan masa kerja 1 (satu) tahun.

(2) Tim Konten Multimedia dipimpin oleh seorang Ketua yang dijabat oleh Direktur Jenderal.

(3) Pengajuan anggota Tim Konten Multimedia dilakukan oleh Direktur Jenderal dengan

mempertimbangkan faktor kompetensi, integritas, dan independensi.

(4) Komposisi Tim Konten Multimedia terdiri atas 50% (lima puluh persen) dari unsur Pemerintah dan

50% (lima puluh persen) dari unsur masyarakat yang berkualifikasi sebagai ahli atau profesional.

(5) Tim Konten Multimedia dibantu oleh sekretariat yang susunannya akan ditetapkan lebih lanjut

dalam Keputusan Direktur Jenderal.

(6) Menteri menetapkan Tim Konten Multimedia paling lambat 1 (satu) tahun sejak dikeluarkannya

Peraturan Menteri ini.

Pasal 23

(1) Pelaksanaan pemeriksaan terhadap satu atau serangkaian Konten yang berdasarkan Laporan

dan/atau Pengaduan dari masyarakat, penegak hukum, dan/atau Penyelenggara diduga merupakan

Konten yang dilarang, dilakukan oleh 5 (lima) orang anggota Tim Konten Multimedia, yang untuk

selanjutnya disebut Kelompok Kerja, yang keanggotaannya terdiri dari:

a. 2 (dua) orang dari lingkungan Departemen Komunikasi dan Informatika; dan/atau

b. 3 (tiga) orang dari selain lingkungan Departemen Komunikasi dan Informatika yang keilmuannya

terkait dengan Konten yang akan diperiksa.

(2) Susunan anggota dan ketua Kelompok Kerja ditetapkan oleh Ketua Tim Konten Multimedia.

Pasal 24

Pemeriksaan terhadap Laporan dan/atau Pengaduan mengenai Konten yang diduga merupakan Konten

yang dilarang dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

a. analisis pendahuluan;

b. pemeriksaan substantif;

c. pengajuan hasil penilaian.

Pasal 25

(1) Analisis pendahuluan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dilakukan dengan prosedur sebagai

berikut:

a. pendistribusian Konten yang akan diperiksa kepada seluruh anggota Kelompok Kerja;

b. masing-masing anggota Kelompok Kerja memberikan pendapatnya secara tertulis berdasarkan hasil

analisis dari segi kepakaran, pengalaman, dan kebijaksanaannya;

c. berbagai pendapat tersebut dimusyawarahkan oleh seluruh anggota Kelompok Kerja;

d. perumusan hasil analisis pendahuluan; dan

e. penyusunan rencana pemeriksaan substantif.

(2) Pemeriksaan substantif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dilakukan dengan prosedur sebagai

berikut:

a. Kelompok Kerja meminta konfirmasi kepada pihak yang membuat Konten yang dimaksud melalui

surat elektronik, sarana telekomunikasi, surat melalui pos, dan sarana komunikasi yang umum

digunakan lainnya berdasarkan rumusan hasil analisis pendahuluan;

b. Pihak yang dimintai konfirmasi wajib memberikan jawaban paling lambat 3 (tiga) hari setelah

tanggal penerimaan permintaan konfirmasi;

c. Kelompok Kerja melakukan analisis terhadap jawaban yang diberikan oleh pihak yang dimintai

konfirmasi; dan

d. Kelompok Kerja merumuskan hasil analisis pemeriksaan substantif.

(3) Pengajuan hasil penilaian pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dilakukan dengan

prosedur sebagai berikut:

a. pelaporan Kelompok Kerja kepada Tim Konten Multimedia mengenai pelaksanaan pemeriksaan

dengan menyampaikan usulan hasil pemeriksaan dan alasannya; dan

b. penyampaian hasil pemeriksaan dari Tim Konten Multimedia kepada Menteri.

Pasal 26

Hasil pemeriksaan Kelompok Kerja diklasifikasikan menjadi 2 (dua) predikat sebagai berikut.

a. Konten yang dilarang; dan

b. Konten yang tidak dilarang

Pasal 27

Ketua Tim Konten Multimedia setelah menerima usulan hasil pemeriksaan dari Kelompok Kerja

melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. melakukan pembahasan atas usulan, apabila dianggap perlu;

b. menetapkan hasil pemeriksaan; dan

c. memberitahukan hasil pemeriksaan kepada pelapor dan/atau pengadu.

Pasal 28

Apabila Ketua Tim Konten Multimedia telah menyatakan bahwa Konten yang ada pada Sistem

Elektronik Penyelenggara adalah Konten yang dilarang, maka Penyelenggara wajib:

a. meminta Pengguna untuk menghentikan kegiatan pembuatan, pemuatan, pentransmisian,

pengumuman, dan/atau penyimpanan Konten yang dimaksud;

b. meminta Pengguna untuk menghapus Konten yang dimaksud;

c. menghambat Akses pada Konten yang dimaksud; dan/atau

d. melakukan tindakan lain yang patut, teliti, dan hati-hati untuk memastikan Konten yang dimaksud

tidak lagi ada dan/atau tidak lagi dapat diakses pada Sistem Elektroniknya.

Pasal 29

(1) Penyelenggara wajib menutup akses (blocking) Konten yang telah dinyatakan oleh Tim Konten

Multimedia sebagai Konten yang dilarang dari Sistem Elektroniknya dalam waktu paling lambat 3

(tiga) hari setelah tanggal penerimaan pemberitahuan.

(2) Penyelenggara yang melakukan kesengajaan atau kelalaian dalam memenuhi ketentuan penutupan

akses (blocking) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikenakan sanksi administratif.

BAB V

SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal 30

(1) Menteri dapat mengenakan sanksi administratif kepada Penyelenggara yang melanggar Pasal 8;

Pasal 9 ayat (3); Pasal 10 ayat (2); Pasal 11 ayat (3); Pasal 12 ayat (2); Pasal 13; Pasal 15; Pasal 16;

Pasal 17; Pasal 18 ayat (1); ayat (2); Pasal 19 ayat (1); Pasal 29, atau Pasal 30.

(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa teguran tertulis, denda

administratif, pembatasan kegiatan usaha, dan/atau pencabutan izin sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

(3) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menghapuskan

pertanggungjawaban pidana.

BAB VI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 32

Peraturan Menteri ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal penetapan.

Ditetapkan di Jakarta

Pada tanggal ??-??-????





MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

REPUBLIK INDONESIA,

TIFATUL SEMBIRING

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA









RANCANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR ……TAHUN …..



TENTANG



ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI





DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAFIA ESA







PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,





Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara

hukum yang berlandaskan Pancasila yang lebih

mengutamakan kepentingan umum daripada

kepentingan pribadi;

b. bahwa untuk mewujudkan tatanan masyarakat

Indonesia yang serasi dan harmonis dalam

keanekaragaman suku, agama, ras, dan golongan/

kelompok, diperlukan adanya sikap dan perilaku

masyarakat yang dilandasi moral, etika, akhlak mulia,

dan kepribadian luhur yang beriman dan bertaqwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa;

c. bahwa meningkatnya pembuatan, penyebarluasan,

dan penggunaan pornografi dan perbuatan serta

penyelenggaraan pornoaksi dalam masyarakat saat ini

sangat memprihatinkan dan dapat mengancam

kelestarian tatanan kehidupan masyarakat yang

dilandasi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa;

d. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada

sampai saat ini belum secara tegas mengatur definisi

dan pernberian sanksi serta halhal lain yang berkaitan

dengan pornografi dan pornoaksi sebagai pedoman

dalam upaya penegakan hukum untuk tujuan

melestarikan tatanan kehidupan masyarakat;









1

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana

dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d

perlu membentuk Undang-Undang tentang Anti

Pornografi dan Pornoaksi;

Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 F, dan Pasal 29 Undang-

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.





Dengan Persetujuan Bersama



DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA



dan



PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA



MEMUTUSKAN:



Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANTI PORNOGRAFI DAN

PORNOAKSI.









BAB I

KETENTUAN UMUM





Bagian Pertama

Pengertian

Pasal 1

Dalam Undang Undang ini yang dimaksudkan dengan :

1. Pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang

dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi

seksual, kecabulan, dan/atau erotika.

2. Pornoaksi adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan,

dan/atau erotika di'muka umum.

3. Media massa cetak adalah alat atau sarana penyampaian informasi

dan pesanpesan secara visual kepada masyarakat luas berupa

barang-barang cetakan massal antara lain buku, suratkabar, majalah,

dan tabloid.

4. Media massa elektronik adalah alat atau sarana penyampaian

informasi dan pesanpesan secara audio dan/atau visual kepada

masyarakat luas antara lain berupa radio, televisi, film, dan yang

dipersamakan dengan film.





5. Alat komunikasi medio adalah sarana penyampaian informasi dan

pesan-pesan secara audio dan/atau visual kepada satu orang

dan/atau sejumlah orang tertentu antara lain berupa telepon, Short

Message Service, Multimedia Messaging Service, surat, pamflet, leaflet,

booklet, selebaran, poster, dan media elektronik baru yang berbasis

komputer seperti internet dan intranet.





2

6. Barang pornografi adalah semua benda yang materinya mengandung

sifat pornografi antara lain dalam bentuk buku, suratkabar, majalah,

tabloid dan media cetak sejenisnya, film, dan/atau yang dipersamakan

dengan film, video, Video Compact Disc, Digital Video Disc, Compact

Disc, Personal Computer-Compact Disc Read Only Memory, dan kaset.

7. Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang diperoleh

antara lain melalui telepon, televisi kabel, internet, dan komunikasi

elekronik lainnya, dengan cara memesan atau berlangganan barang-

barang pornografi yang dapat diperoleh secara langsung dengan cara

menyewa, meminjam, atau membeli.

8. Membuat adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan memproduksi

materi media massa cetak, media massa elektronik, media komunikasi

lainnya, dan barangbarang pornografi.

9. Menyebarluaskan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan

mengedarkan materi media massa cetak, media massa elektronik,

media-media komunikasi lainnya, dan mengedarkan barang-barang

yang mengandung sifat pornografi dengan cara memperdagangkan,

memperlihatkan, memperdengarkan, mempertontonkan,

mempertunjukan, menyiarkan, menempelkan, dan/atau menuliskan.

10. Menggunakan adalah kegiatan memakai materi media massa cetak,

media massa elektronik, alat komunikasi medio, dan barang dan/atau

jasa pornografi.

11. Pengguna adalah setiap orang yang dengan sengaja menonton/

menyaksikanpornografi dan/atau pornoaksi.

12. Setiap orang adalah orang perseorangan, perusahaan, atau distributor

sebagai kumpulan orang baik berupa badan hukum maupun bukan

badan hukum.

13. Pemerintah adalah Menteri atau pejabat lain yang ditunjuk oleh

Presiden.

14. Mengeksploitasi adalah kegiatan memanfaatkan perbuatan pornoaksi

untuk tujuanmendapatkan keuntungan materi atau non materi bagi diri

sendiri dan/atau oranglain.

15. Hubungan seks adalah kegiatan hubungan perkelaminan balk yang

dilakukan oleh pasangan suami-isteri maupun pasangan lainnya yang

bersifat heteroseksual, homoseks atau Iesbian.

16. Anak-anak adalah seseorang yang belum berusia 2 (dua belas) tahun

17. Dewasa adalah seseorang yang telah berusia 12 (dua betas) tahun

keatas.









18. Jasa pornoaksi adalah segala jenis layanan pornoaksi yang dapat

diperoleh secaralangsung atau melalul perantara, baik perseorangan

maupun perusahaan.

19. Perusahaan adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang

terorganisasi, balkberupa badan hukum maupun bukan badan hukum.

20. Orang lain adalah orang selain suami atau istri yang sah berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.



Bagian Kedua

Asas dan Tujuan





3

Pasal 2

Pelarangan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan

pornografi serta perbuatan dan penyelenggaraan pornoaksi berasaskan

keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan

memperhatikan nilai-nilai budaya, susila, dan moral, keadilan, perundungan

hukum, dan kepastian hukum.



Pasal 3

Anti pornografi dan pornoaksi bertujuan ;

a. Menegakkan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia

yang beriman dan bertakwa dalam rangka membentuk masyarakat

yang berkepribadian luhur kepadaTuhan Yang Maha Esa. ,

b. Memberikan perlind`ungan, pembinaan, dan pendidikan moral dan

akhlak masyarakat

BAB II

LARANGAN



Bagian Pertama

Pornografi

Pasal 4

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu

yang sensual darf orang dewasa.

Pasal 5

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau

yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh

orang dewasa.

Pasal 6

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau

yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh .atau.bagian-

bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis. .

Pasal 7

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau

yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tank aktivitas orang yang

berciuman bibir.

Pasal 8

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar,

foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas

orang yang melakukan masturbasi atau onani.

Pasal 9

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,

puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya

tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan







4

aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan

berlawanan jenis.

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,

puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya

tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan

aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan

sejenis.

(3) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,

puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya

tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan

aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan orang yang

telah meninggal dunia.

(4) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,

puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya

tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan

aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan hewan.

Pasal 10

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara,

film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik

orang berhubungan seks dalam acara pesta seks.

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam

pertunjukan seks.









Pasal 11

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas anak-anak

yang melakukan masturbasi, onani danlatau hubungan seks.

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang

melakukan hubungan seks atau aktivitas yang mengarah pada

hubungan seks dengan anak-anak.

Pasal 12

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual

dari orang dewasa melalui media massa cetak, media massa elektronik

dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 13

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan







5

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh melalui media

massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 14

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh

orang yang menari erotis atau bergoyang erotis melalui media massa

cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 15

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang berciuman bibir melalui

media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi

medio.

Pasal 16

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang melakukan masturbasi

atau onani melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau

alat komunikasi medio.









6

Pasal 17

(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah

pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis melalui

media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi

medio.

(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah

pada hubungan seks dengan pasangan sejenis melalui media massa

cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(3) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah

pada hubungan seks dengan cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi,

perkosaan, dan cara-cara kekerasan lainnya melalui media massa

cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. .

(4) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah

pada hubungan seks dengan orang yang telah meninggal dunia

melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat

komunikasi medio.

(5) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah

pada hubungan seks dengan hewan melalui media massa cetak,

media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 18

(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam acara pesta seks melalui media massa cetak, media massa

elektronik dan/atau alat komunikasi medio.





(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam pertunjukan seks melalui media massa cetak, media massa

elektronik dan/atau alat komunikasi medio.





7

Pasal 19

(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,

puisi,.gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas

anak-anak dalam melakukan masturbasi atau onani melalui media

massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-

anak dalam berhubungan seks melalui media massa cetak, media

massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(3) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam berhubungan seks dengan anak-anak melalui media massa

cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(4) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan,

mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang

dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah

pada hubungan seks dengan anak-anak dengan cara sadis, kejam,

pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara kekerasan lainnya

melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat

komunikasi medio.

Pasal 20

Setiap orang dilarang menjadikan diri sendiri dan/atau orang lain sebagai

model atau obyek pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau

yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tank bagian tubuh tertentu

yang sensual dari orang dewasa, ketelanjangan tubuh dan/atau daya tank

tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang

erotis, aktivitas orang yang berciuman bibir, aktivitas orang yang melakukan

masturbasi atau onani, orang yang berhubungan seks atau melakukan

aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan

berlawanan jenis, pasangan sejenis, orang yang telah meninggal dunia

dan/atau dengan hewan.









Pasal 21

Setiap orang dilarang menyuruh atau memaksa. anak-anak menjadi model

atau obyek pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak untuk melakukan

masturbasi, onani, dan/atau hubungan seks.

Pasal 22

Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan

karya seni yang mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media

massa elektronik, atau alat komunikasi medio, dan yang berada di tempat-





8

tempat umum yang bukan dimaksudkan sebagai tempat pertunjukan karya

seni.

Pasal 23

Setiap orang dilarang membeli barang pornografi dan/atau jasa pornografi

tanpa alasan yang dibenarkan berdasarkan Undang-Undang ini.

Pasal 24

(1) Setiap orang dilarang menyediakan dana bagi orang lain untuk

melakukan kegiatan dan/atau pameran pornografi sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23.

(2) Setiap orang dilarang menyediakan tempat bagi orang lain untuk

melakukan kegiatan pornografi dan/atau pameran pornografi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23.

(3) Setiap orang dilarang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan

bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornografi dan/atau

pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai

dengan Pasal 23.

Bagian Kedua

Pornoaksi





Pasal 25

(1) Setiap orang dewasa dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu

yang sensual.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk mempertontonkan

bagian tubuh tertentu yang sensual.

Pasal 26

(1) Setiap orang dewasa dilarang dengan sengaja telanjang di muka

umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk telanjang di muka

umum.

Pasal 27

(1) Setiap orang dilarang berciuman bibir di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang rnenyuruh orang lain berciuman bibir di muka

umum.

Pasal 28

(1) Setiap orang dilarang menari erotis atau bergoyang erotis di muka

umum.

(2) Setiap orang dilarang Fmenyuruh orang lain untuk menari erotis atau

bergoyang erotis di muka umum.

Pasal 29

(1) Setiap orang dilarang melakukan masturbasi, onani atau gerakan tubuh

yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani di muka umum

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk melakukan masturbasi,

onani, ataugerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau

onani di muka umum.

(3) Setiap orang dilarang menyuruh anak-anak untuk melakukan masturbasi,

onani,atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani.

Pasal 30





9

(1) Setiap orang dilarang melakukan hubungan seks atau gerakan tubuh

yang menyerupai kegiatan hubungan seks di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk melakukan hubungan

seks atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks di

muka umum.

(3) Setiap orang dilarang melakukan hubungan seks dengan anak -anak.

(4) Setiap orang dilarang menyuruh anak-anak untuk melakukan kegiatan

hubungan seks atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan

hubungan seks.

Pasal 31

(1) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pertunjukan seks.

(2) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pertunjukan seks

dengan melibatkan anak-anak.

(3) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pesta seks.

(4) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pesta seks dengan

melibatkan anak-anak.

Pasal 32

(1) Setiap orang dilarang menonton acara pertunjukan seks.

(2) Setiap orang dilarang menonton acara pertunjukan seks dengan

melibatkan anakanak.

(3) Setiap orang dilarang menonton acara pesta seks.

(4) Setiap orang dilarang menonton acara pesta seks dengan melibatkan

anak-anak.

Pasal 33

(1) Setiap orang dilarang menyediakan dana bagi orang lain untuk

melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara

pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal

32.

(2) Setiap orang dilarang menyediakan tempat bagi orang lain untuk

melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara

pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasai

32.

(3) Setiap orang dilarang rnenyediakan peralatan dan/atau perlengkapan

bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan

seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25

sampai dengan Pasal 32.





BAB III

PENGECUALIAN DAN PERIZINAN

Bagian Pertama

Pengecualian

Pasal 34

(1) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23

dikecualikan untuk tujuan pendidikan dan/atau pengembangan ilmu

pengetahuan dalam batas yang diperlukan.

(2) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi pornografi

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada lembaga riset





10

atau lembaga pendidikan yang bidang keilmuannya bertujuan untuk

pengembangan pengetahuan.

Pasal 35

(1) Penggunaan barang pornografi dapat dilakukan untuk keperluan

pengobatan gangguan kesehatan.

(2) Penggunaan barang pornografi untuk keperluan gangguan kesehatan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah mendapatkan

rekomendasi dari dokter, rumah sakit dan/atau lembaga kesehatan

yang mendapatkan ijin dari Pemerintah.

Pasal 36

(1) Pelarangan pornoaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26,

Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, atau Pasal 32, dikecualikan

untuk:

a. cara berbusana dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan

menurut adat-istiadat dan/atau budaya kesukuan, sepanjang

berkaitan dengan pelaksanaanritus keagamaan atau kepercayaan;

b. kegiatan seni;

c. kegiatan olahraga; atau

d. tujuan pendidikan dalam bidang kesehatan.

(2) Kegiatan seni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya

dapat dilaksanakan di tempat khusus pertunjukan seni.

(3) Kegiatan olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c hanya

dapat dilaksanakan di tempat khusus olahraga.





Bagian Kedua

Perizinan

Pasal 37

(1) Tempat khusus pertunjukan seni sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36

ayat (2) harus mendapatkan izin dari Pemerintah.

(2) Tempat khusus olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat

(3) harus mendapatkan izin dari Pemerintah.

Pasal 38

1. Pemerintah dapat memberikan izin kepada setiap orang untuk

memproduksi, mengimpor dan menyebarluaskan barang pornografi

dalam media cetak dan/atau media elektronik untuk keperluan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 35.

2. Setiap orang yang melakukan penyebarluasan barang pornografi dalam

media cetak dan/atau media elektronik sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) harus dilakukan dengan memenuhi syarat:

a. penjualan barang dan/atau jasa pornografi hanya dilakukan ,oleh

badan-badan usaha yang memiliki izin khusus;

b. penjualan barang dan/atau jasa pornografi secara langsung hanya

dilakukan di tempat-tempat tertentu dengan tanda khusus;

c. penjualan barang pornografi dilakukan dalam bungkus rapat dengan

kemasan bertanda khusus dan segel tertutup;

d. barang pornografi yang dijual ditempatkan pada etalase tersendiri

yang Ietaknya jauh dari jangkauan anak-anak dan remaja berusia

dibawah 18 (delapan betas) tahun;





11

Pasal 39

(1) Izin dan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 dan Pasal

38 selanjutnya diatur dengän Peraturan Pemerintah.

(2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat

mengatur pemberian izin dan syarat-syarat secara umum dan

pengaturan selanjutnya secara khusus diserahkan kepada daerah seuai

dengan kondisi, adat istiadat dan budaya daerah masing-masing.

BAB IV

BADAN ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI NASIONAL

Bagian Pertama

Nama dan Kedudukan

Pasal 40

(1) Untuk mencegah dan menanggulangi masalah pornografi dan

pornoaksi dalam masyarakat dibentuk Badan Anti Pornografi dan

Pornoaksi Nasional, yang selanjutnya disingkat menjadi BAPPN.

(2) BAPPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah lembaga non-

struktural yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab

langsung kepada Presiden.





Pasal 41

BAPPN berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.



Bagian Kedua

Fungsi dan Tugas



Pasal 42

BAPPN mempunyai fungsi:

a. pengkoordinasian instansi pemerintah dan badan lain terkait dalam

penyiapan dan penyusunan kebijakan pencegahan dan

penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;

b. pengkoordinasian instansi pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan

pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau

pornoaksi;

c. pengkoordinasian instansi pemerintah dalam mengatur pembuatan,

penyebarluasan, dan penggunaan barang pornografi dan jasa

pornografi untuk tujuan pendidikan dan pengembangan ilmu

pengetahuan;

d. pengoperasian satuan tugas yang terdiri dari unsur pemerintah terkait

sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya masing-masing;

e. pembangunan dan pengembangan sistem komunikasi, informasi dan

edukasi dalam

rangka pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi

dan/atau pornoaksi.

f. pemutusan jaringan pembuatan, dan penyebarluasan barang

pornografi, jasa

pornografi, dan jasa pornoaksi;

g. pelaksanaan kerjasama nasional, regional, dan internasional dalam rangka

pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;





12

Pasal 43

(1) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

a, BAPPN mempunyai tugas :

a. Meminta informasi tentang upaya pencegahan dan

penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi kepada instansi

dan/atau badan terkait;

b. melakukan pengkajian dan penelitian terhadap peraturan

perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah pornografi

dan/atau pornoaksi;

(2) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

b, BAPPN mempunyai tugas :

a. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi

dan/atau badan terkait;

b. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan dan

penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi.

(3) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf c,

BAPPN mempunyai tugas memantau dan melakukan penilaian terhadap sikap

dan prilaku masyarakat terhadap pornografi dan/atau pornoaksi.

(4) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf d,

BAPPN mempunyai tugas melakukan pengawasan, penelitian atau

penelaahan terhadap instansi dan badan yang menjalankan tugas dan

wewenangnya yang berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan

ponografi dan pornoaksi.

(5) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf e,

BAPPN mempunyai tugas memberi komunikasi, informasi, edukasi, dan

advokasi kepada masyarakat dalam upaya mencegah dan menanggulangi

masalah pornografi dan/atau pornoaksi.

(6) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

f, BAPPN mempunyai tugas :

a. mendorong berkembangnya partisifasi masyarakat dalam upaya

pencegahan dan penanggulangan pornografi dan/atau

pornoaksi;

b. menerima laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak

pidana pornografi dan/atau pornoaksi.

(7) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

g, BAPPN mempunyai tugas :

a. meneruskan laporan masyarakat yang berkaitan dengan

tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi;

b. menjadi saksi ahli pada proses pemeriksaan

tersangka/terdakwa dalam penyidikan dan pemeriksaan di

sidang pengadilan;

c. mengkoordinasikan pertemuan dengan instansi dan badan lain terkait baik

dalam tingkat nasional maupun tingkat internasional yang tugas dan

wewenangnya mencegah dan menanggulangi pornografi dan/atau

pornoaksi.

Pasal 36

(1) Pelarangan pornoaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26, Pasal

27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, atau Pasal 32, dikecualikan untuk:

a. cara berbusana dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan

menurut adat-







13

istiadat dan/atau budaya kesukuan, sepanjang berkaitan dengan

pelaksanaan

ritus keagamaan atau kepercayaan;

b. kegiatan seni;

c. kegiatan olahraga; atau

d. tujuan pendidikan dalam bidang kesehatan.

(2) Kegiatan seni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya

dapat dilaksanakan di tempat khusus pertunjukan seni.

(3) Kegiatan olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c hanya

dapat dilaksanakan di tempat khusus olahraga.

Bagian Kedua

Perizinan



Pasal 37

(1) Tempat khusus pertunjukan seni sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36

ayat (2) harus mendapatkan izin dari Pemerintah.

(2) Tempat khusus olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat

(3) harus mendapatkan izin dari Pemerintah.

Pasal 38

1. Pemerintah dapat memberikan izin kepada setiap orang untuk

memproduksi, mengimpor dan menyebarluaskan barang pornografi

dalam media cetak dan/atau media elektronik untuk keperluan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 35.

2. Setiap orang yang melakukan penyebarluasan barang pornografi dalam

media cetak dan/atau media elektronik sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) harus dilakukan dengan memenuhi syarat:

a. penjualan barang dan/atau jasa pornografi hanya dilakukan ,oleh

badan-badan usaha yang memiliki izin khusus;

b. penjualan barang dan/atau jasa pornografi secara langsung hanya

dilakukan di tempat-tempat tertentu dengan tanda khusus;

c. penjualan barang pornografi dilakukan dalam bungkus rapat dengan

kemasan bertanda khusus dan segel tertutup;

d. barang pornografi yang dijual ditempatkan pada etalase tersendiri

yang Ietaknya jauh dari jangkauan anak-anak dan remaja berusia

dibawah 18 (delapan betas) tahun;

Pasal 39

(1) Izin dan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 dan

Pasal 38 selanjutnya diatur dengän Peraturan Pemerintah.

(2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat

mengatur pemberian izin dan syarat-syarat secara umum dan

pengaturan selanjutnya secara khusus diserahkan kepada daerah

seuai dengan kondisi, adat istiadat dan budaya daerah masing-

masing.

BAB IV

BADAN ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI NASIONAL

Bagian Pertama

Nama dan Kedudukan







14

Pasal 40

(1) Untuk mencegah dan menanggulangi masalah pornografi dan

pornoaksi dalam masyarakat dibentuk Badan Anti Pornografi dan

Pornoaksi Nasional, yang selanjutnya disingkat menjadi BAPPN.

(2) BAPPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah lembaga non-

struktural yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab

langsung kepada Presiden.

Pasal 41

BAPPN berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.



Bagian Kedua

Fungsi dan Tugas





Pasal 42

BAPPN mempunyai fungsi:

a. pengkoordinasian instansi pemerintah dan badan lain terkait dalam

penyiapan dan

b. penyusunan kebijakan pencegahan dan penanggulangan masalah

pornografi dan/atau pornoaksi;

c. pengkoordinasian instansi pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan

pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau

pornoaksi;

d. pengkoordinasian instansi pemerintah dalam mengatur pembuatan,

penyebarluasan, dan penggunaan barang pornografi dan jasa

pornografi untuk tujuan pendidikan dan pengembangan ilmu

pengetahuan;

e. pengoperasian satuan tugas yang terdiri dari unsur pemerintah terkait

sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya masing-masing;

f. pembangunan dan pengembangan sistem komunikasi, informasi dan

edukasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan masalah

pornografi dan/atau pornoaksi.

g. pemutusan jaringan pembuatan, dan penyebarluasan barang

pornografi, jasa pornografi, dan jasa pornoaksi;

h. pelaksanaan kerjasama nasional, regional, dan internasional dalam rangka

pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;

Pasal 43

(1) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

a, BAPPN mempunyai tugas :

a. Meminta informasi tentang upaya pencegahan dan

penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi kepada instansi

dan/atau badan terkait;

b. melakukan pengkajian dan penelitian terhadap peraturan

perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah pornografi

dan/atau pornoaksi;

(2) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

b, BAPPN mempunyai tugas :

a. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi

dan/atau badan terkait;





15

b. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan dan

penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi.

(3) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

c, BAPPN mempunyai tugas memantau dan melakukan penilaian

terhadap sikap dan perilaku masyarakat terhadap pornografi dan/atau

pornoaksi.

(4) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

d, BAPPN mempunyai tugas melakukan pengawasan, penelitian atau

penelaahan terhadap instansi dan badan yang menjalankan tugas dan

wewenangnya yang berkaitan dengan pencegahan dan

penanggulangan ponografi dan pornoaksi.





(5) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

e, BAPPN mempunyai tugas memberi komunikasi, informasi, edukasi, dan

advokasi kepada masyarakat dalam upaya mencegah dan

menanggulangi masalah pornografi dan/atau pornoaksi.

(6) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

f, BAPPN mempunyai tugas :

a. mendorong berkembangnya partisifasi masyarakat dalam upaya

pencegahan dan penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi;

b. menerima laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak pidana

pornografi dan/atau pornoaksi.

(7) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf

g, BAPPN mempunyai tugas :

a. meneruskan laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak

pidana pornografi dan/atau pornoaksi;

b. menjadi saksi ahli pada proses pemeriksaan tersangka/terdakwa

dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan;

c. mengkoordinasikan pertemuan dengan instansi dan badan lain terkait

baik dalam tingkat nasional maupun tingkat internasional yang tugas

dan wewenangnya mencegah dan menanggulangi pornografi

dan/atau pornoaksi.

Bagian Ketiga

Susunan Organisasi dan Keanggotaan

Pasal 44

(1) BAPPN terdiri atas seorang Ketua merangkap Anggota, seorang Wakil

Ketua merangkap Anggota, serta sekurang-kurangnya 11 (sebelas)

orang Anggota yang terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat.

(2) Masa jabatan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BAPPN adalah 3 (tiga)

tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan

berikutnya.

(3) Ketua dan Wakil Ketua BAPPN dipilih dari dan oleh Anggota.

Pasal 45

(1) Sebelum memangku jabatannya, Anggota BAPPN mengucapkan

sumpah/janji menurut agama dan kepercayaannya masing-masing di

hadapan Presiden Republik Indonesia.









16

(2) Lafal sumpah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai

berikut :

"Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya, untuk

memangku jabatan saya ini langsung atau tidak langsung, dengan

menggunakan nama atau cara apapun juga, tidak memberikan atau

menjanjikan barang sesuatu kepada siapapun juga."

"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak

melakukan sesuatu dalam jabatan ini, tidak sekali-kali akan menerima

langsung 'atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau

pemberian."

"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan

mempertahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai pandangan

hidup bangsa,

dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia ,

Tahun 1945 dan segala undang-undang yang berlaku bagi Negara

Republik Indonesia."

"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan

jabatan saya ini dengan jujur, seksama, dan tidak membeda-bedakan

orang dalam melaksanakan kewajiban saya."

Pasal 46





Persyaratan keanggotaan BAPPN adalah :

a. warga negara Indonesia;

b. sehat jasmani dan rohani;

c. berkelakuan baik;

d. memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pornografi dan

pornoaksi; dan

e. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.

Pasal 47

Keanggotaan BAPPN berhenti atau diberhentikan karena :

a. meninggal dunia;

b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri;

c. bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia;

d. sakit secara terus menerus;

e. melanggar sumpah/janji;

f. berakhir masa jabatan sebagai anggota; atau

g. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap, karena melakukan tindak pidana

kejahatan.





Pasal 48

(1) BAPPN dibantu oleh Sekretariat.

(2) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh

seorang Sekretaris yang diangkat dan diberhentikan oleh BAPPN.







17

(3) Fungsi, tugas, dan tata kerja sekretariat sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) diatur dalam keputusan BAPPN.

Pasal 49

Pembiayaan untuk pelpksanaan tugas BAPPN dibebankan kepada

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan sumber lain yang tidak

bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 50

Ketentuan lebih lanjut mengenai BAPPN diatur dengan Peraturan Presiden.

BAB V

PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 51

(1) Setiap warga masyarakat berhak untuk berperan serta dalam

pencegahan dan penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi

berupa :

a. hak untuk mendapatkan komunikasi, informasi, edukasi, dan

advokasi;

b. menyampaikan keberatan kepada BAPPN terhadap pengedaran

barang dan/atau penyediaan jasa pornografi dan/atau pornoaksi;

c. melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan terhadap seseorang,

sekelompok orang, dan/atau badan yang diduga melakukan tindak

pidana pornografi dan/atau pornoaksi;

d. gugatan perwakilan sebagaimana dimaksud pada huruf b dilakukan

oleh dan/atau melalui lembaga swadaya masyarakat yang peduli

pada masalah pornografi dan/atau pornoaksi.

(2) Setiap warga masyarakat berkewajiban untuk :

a. melakukan pembinaan moral, mental spiritual, dan akhlak

masyarakat dalam rangka membentuk masyarakat yang

berkepribadian luhur, berakhlaq mulia, beriman, dan bertaqwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa;

b. membantu kegiatan advokasi, rehabilitasi, dan edukasi dalam

penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi.

(3) Setiap warga masyarakat berkewajiban untuk melaporkan kepada

pejabat yang berwenang apabila melihat dan/atau mengetahui

adanya tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi.









BAB VI

PERAN PEMERINTAH

Pasal 52

Pemerintah berwenang melakukan kerjasama bilateral, regional, dan

multilateral dengan negara lain dalam upaya menanggulangi dan

memberantas masalah pornografi dan/atau pornoaksi sesuai dengan

kepentingan bangsa dan negara.



Pasal 53







18

Pemerintah wajib memberikan jaminan hukum dan keamanan kepada

pelapor terjadinya tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi:

Pasal 54

(1) Penyidik wajib menindaklanjuti laporan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 43 ayat (7) huruf a.

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak

menindaklanjuti laporan terjadinya pornoaksi dikenakan sanksi

administratif, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

BAB VII

PENYIDIKAN, PENUNTUTAN DAN PEMERIKSAAN

Pasal 55

Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan terhadap tindak pidana

pornografi dan/atau pornoaksi dilaksanakan berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

BAB VIII

PEMUSNAHAN

Pasal 56

(1) Pemusnahan barang pornografi dilakukan terhadap hasil penyitaan

dan perampasan barang yang tidak berijin berdasarkan putusan

pengadilan.

(2) Pemusnahan barang pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilakukan oleh penuntut umum bekerja sama dengan BAPPN.

(3) Pemusnahan barang pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilakukan oleh penuntut umum bekerjasama dengan BAPPN dengan

membuat berita acara yang sekurang-kurangnya memuat :

a. nama media apabila barang disebarluaskan melalui media massa

cetak dan/atau media massa elektronik;

b. nama dan jenis serta jumlah barang yang dimusnahkan;

c. hari, tanggal, bulan dan tahun pemusnahan;

d. keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai barang yang

dimusnahkan; dan

e. tanda tangan dan identitas Iengkap para pelaksana dan pejabat

yang melaksanakan dan menyaksikan pemusnahan.

BAB IX

KETENTUAN SANKSI

Bagian Pertama

Sanksi Administratif

Pasal 57

(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 38 ayat (2) diancam dengan sanksi administratif berupa

pencabutan ijin usaha;

(2) Setiap orang yang telah dicabut ijin usahanya sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) tidak dapat mengajukan kembali ijin usaha sejenis.







Bagian Kedua

Ketentuan Pidana





19

Pasal 58

Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian

tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 4 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)

tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,-

(lima ratus juta rupiah).

Pasal 59

Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik

ketelanjangan tubuh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan atau

paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.

150.000.000,-(seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.

750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 60

Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau

bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun dan/atau

pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling

banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).



Pasal 61

Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman

suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,

gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas

orang yang berciuman bibir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun atau paling

lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,-

(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta

rupiah).

Pasal 62

Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau

yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang

melakukan masturbasi atau onani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan

atau paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.

150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.

750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 63



(1) Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau

yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam

berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada

hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis sebagaimana





20

dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun

dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta

rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

(2) Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau

yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam

berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada

hubungan seks dengan pasangan sejenis sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 9 Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua)

tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda

paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak

Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

(3) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam

berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada

hubungan seks dengan orang yang telah meninggal dunia

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (3) dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10

(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda .paling sedikit Rp. 200.000.000,-

(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar

rupiah).

(4) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam

berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada

hubungan seks dengan hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9

Ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 . (dua) tahun

atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling

sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.

1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

Pasal 64

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik orang berhubungan

seks dalam acara pasta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10

Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun

atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling

sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.

1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam

pertunjukan seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Ayat (2)

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau

paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.

1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

Pasal 65

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas anak-anak

yang melakukan masturbasi, onani dan/atau hubungan seks





21

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Ayat (1) dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10

(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,-

(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar

rupiah).

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film

atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang

melakukan hubungan seks atau aktivitas yang mengarah pada

hubungan seks dengan anak-anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal

11 Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun

atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling

sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.

1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

Pasal 66

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual

dari orang dewasa melalui media massa cetak, media massa elektronik

danlatau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam)

bulan atau paling lama 12 (dua betas) tahun dan/atau pidana denda

paling sedikit Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.

2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).

Pasal 67

Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh melalui media

massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua

belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 300.000.000,- (tiga

ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).

Pasal 68

Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh

orang yang menari erotis atau bergoyang erotis melalui media massa

cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua

betas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 300.000.000,- (tiga

ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).

Pasal 69

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang berciuman bibir melalui

media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi

medio sêbagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dipidana dengan pidana







22

penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun

dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta

rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

Pasal 70

Setiap orang yang menyiarkan, memper.dengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang melakukan masturbasi

atau onani melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau

alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau

paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.

300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,-

(dua milyar rupiah).









23

Pasal 71

(1) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks

atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan

pasangan berlawanan jenis melalui media massa cetak, media massa

elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat

3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana

denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah)

dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau

menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat

disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan

yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks atau

melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan

pasangan sejenis melalui media massa cetak, media massa elektronik

dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17

ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun

dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling

sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling

banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks

atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan

cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara

kekerasan lainnya melalui media massa cetak, media massa elektronik

dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17

ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun

dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling

sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling

banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(4) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks

atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan

orang yang telah meninggal dunia melalui media massa cetak, media

massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun

dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima

puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima

ratus juta rupiah).









24

(5) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks

atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan

hewan melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau

alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (5)

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling

lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp

2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 72

(1) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau

menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat

disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan

yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam acara pesta seks melalui

media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi

medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama

15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp

2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam pertunjukan seks

melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat

komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2)

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan

paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp

2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 73

(1) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak dalam melakukan

masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa

elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 19 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat

4 (empat) tahun dan pOing lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana

denda paling sedikit Rp 400.000.000 (empat ratus juta rupiah) dan paling

banyak Rp 3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

(2) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak dalam berhubungan

seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat

komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2)

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan

paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

Rp 400.000.000 (empat r4us juta rupiah) dan paling banyak Rp







25

3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

(3) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks

dengan anak-anak melalui media massa cetak, media massa elektronik

dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19

ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun

dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana denda paling

sedikit Rp 400.000.000 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp

3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

(4) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan

atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks

atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan

anak-anak dengan cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan,

dan cara-cara kekerasan lainnya melalui media massa cetak, media

massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 19 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun

dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 400.000.000 (empat ratus juta

rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

Pasal 74

Setiap orang yang menjadikan diri sendiri dan/atau orang lain sebagai

model atau obyek pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau

yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto,

dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu

yang sensual dari orang dewasa, ketelanjangan tubuh dan/atau daya tarik

tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang

erotis, aktivitas orang yang berciuman bibir, aktivitas orang yang melakukan

masturbasi atau onani, orang yang berhubungan seks atau melakukan

aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan

berlawanan jenis, pasangan sejenis, orang yang telah meninggal dunia

dan/atau dengan hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan betas) bulan dan paling

lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,-

(seratus limb puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,-(tujuh

ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 75

Setiap orang yang menyuruh atau memaksa anak-anak menjadi model

atau obyek pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang

dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau

lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak untuk melakukan

masturbasi, onani, dan/atau hubungan seks sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 21 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun

dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana denda paling'

sedikit Rp 400.000.000 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp

3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

Pasal 76

Setiap orang yang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan karya

seni yang mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media massa

elektronik, atau alat komunikasi medio, dan yang berada di tempat-tempat

umum yang bukan dimaksudkan sebagai tempat pertunjukan karya seni





26

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dipidana dengan pidana paling

singkat 18 (delapan betas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau

pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah)

dan paling banyak Rp. 750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 77

Setiap orang yang membeli barang pornografi danlatau jasa pornografi

tanpa alasan yang dibenarkan berdasarkan Undang-Undang ini

sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 23 dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun danlatau

pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan

paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)

Pasal 78

(1) Setiap orang yang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan

kegiatan dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 24 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)

tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda

paling sedikit Rp. 350.000.000,- (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan

paling banyak Rp. 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyediakan tempat bagi orang lain untuk

melakukan kegiatan pornografi danlatau pameran pornografi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima

belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 350.000.000,-(tiga

ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.500.000.000,- (dua

milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyediakan peralatan danlatau perlengkapan bagi

orang lain untuk melakukan kegiatan pornografi dan/atau pameran

pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15

(lima betas) tahun danlatau pidana denda paling sedikit Rp. 350.000.000,-

(tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.500.000.000,-

(dua milyar lima ratus juta rupiah).









27

Pasal 79

(1) Setiap orang dewasa yang mempertontonkan bagian tubuh tertentu

yang sensual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10

(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,-

(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar

rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk mempertontonkan bagian

tubuh tertentu yang sensual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan

paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.

1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

Pasal 80

(1) Setiap orang dewasa yang dengan sengaja telanjang di muka umum

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1), dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan dan paling

lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.

300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,-

(dua milyar rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk telanjang di muka umum

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2), dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan dan paling

lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.

300.000.000,- (tiga ratus juta 'rupiah) dan paling banyak Rp.

2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).

Pasal 81

(1) Setiap orang yang berciuman bibir di muka umum sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 27 ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau

pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan

paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain berciuman bibir di muka umum

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat 2 (dua), dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)

tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000 (seratus juta

rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 82

(1) Setiap orang yang menari erotis atau bergoyang erotis di muka umum

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan dan paling lama

7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000

(seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000 (tujuh

ratus lima puluh juta rupiah).









28

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk menari erotis atau

bergoyang erotis di muka umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28

ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan

belas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda

paling sedikit Rp. 150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling

banyak Rp. 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 83

(1) Setiap orang yang melakukan masturbasi, onani atau gerakan tubuh

yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani di muka umum

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1), dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10

(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000

(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar

rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk melakukan masturbasi,

onani, atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau

onani di muka umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2),

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan

paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000

(satu milyar rupiah).

(3) Setiap orang yang menyuruh anak-anak untuk melakukan masturbasi,

onani, atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau

onani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3), dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10

(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000

(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar

rupiah).

Pasal 84

(1) Setiap orang yang melakukan hubungan seks atau gerakan tubuh yang

menyerupai kegiatan hubungan seks di muka umum sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua

belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga

ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk melakukan hubungan seks

atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks di muka

umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2), dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan dan

paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000

(dua milyar rupiah).

(3) Setiap orang yang melakukan hubungan seks dengan anak -anak

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3), dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan dan paling

lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000

(dua milyar rupiah).

(4) Setiap orang yang menyuruh anak-anak untuk melakukan kegiatan

hubungan seks atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan

hubungan seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (4),

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam)

bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda





29

paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak

Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah).

Pasal 85

(1) Setiap orang yang menyelenggarakan acara pertunjukan seks

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) dipidana dengan

pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima

betas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga

ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua

milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyelenggarakan acara pertunjukan seks dengan

melibatkan anak-anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2)

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling

lama 15 (lima betas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp

2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyelenggarakan acara pesta seks sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima betas) tahun

dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima

puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima

ratus juta rupiah).

(4) Setiap orang yang menyelenggarakan acara pesta seks dengan

melibatkan anakanak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (4)

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling

lama 15 (lima betas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp

2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 86

(1) Setiap orang yang menonton acara pertunjukan seks sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 18 (delapan betas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun

dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000 (seratus lima puluh

juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta

rupiah).





(2) Setiap orang yang menonton acara pertunjukan seks dengan

melibatkan anak-anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2),

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan

paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp

1.000.000.000 (satu milyar rupiah).









30

(3) Setiap orang yang menonton acara pesta seks sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 32 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling

singkat 18 (delapan betas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun

dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000 (seratus lima puluh

juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh

juta rupiah).

(4) Setiap orang yang menonton acara pesta seks dengan melibatkan

anak-anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (4), dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama

10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000

(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar

rupiah).

Pasal 87

(1) Setiap orang yang menyediakan dana bagi orang lain untuk

melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara

pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1), dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama

15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp

2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyediakan tempat bagi orang lain untuk

melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara

pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2), dipidana

dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama

15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.

2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan

bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan

seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat

(3), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan

paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit

Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp

2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 88

(1) Setiap orang yang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan

kegiatan pornoaksi, acara pertpnjukan seks dan/atau pesta seks sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 32, dipidana dengan pidana

penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun

dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah)

dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyediakan tempat bagi orang lain untuk

melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks dan/atau pesta

seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 32,

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan

paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp

200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000

(tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan

bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan

seks dan/atau pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25

sampai dengan Pasal 32, dipidäna dengan pidana penjara paling

singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana







31

denda paling sedikit Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dan paling

banyak Rp 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 89

Setiap orang yang dengan sengaja menghalang-halangi dan/atau

mempersulit penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang

pengadilan terhadap tersangka, terdakwa atau para saksi dalam tindak

pidana pornografi atau pornoaksi, dipidana dengan pidana penjara paling

singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana

denda paling sedikit Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) dan paling

banyak Rp 150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 90

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pemufakatan jahat dalam

tindak pidana pornografi atau pornoaksi, dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau

pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah)

dan paling banyak Rp.750.000.000,-(tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

BABX

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 91

Pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini semua peraturan

perundang-undangan yang mengatur atau berkaitan dengan tindak

pidana pornografi dan/atau pornoaksi dinyatakan tetap berlaku sepanjang

tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.

Pasal 92

BAPPN dibentuk dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun sejak Undang-

Undang ini mulai berlaku.

B A B XI

KETENTUAN PENUTUP

P a s a l 93

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan

Undang-Undang ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara

Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta pada tanggal,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,









DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO





Diundangkan di Jakarta, ................

pada tanggal, .................................

MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,





PROF. DR YUSRIL IZHA MAHENDRA, SH

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.........................NOMOR ..........







32

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA









RANCANGAN

PENJELASAN

ATAS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR TAHUN

TENTANG

ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI





I. UMUM





Negara Indonesia adalah negara yang menganut faham Pancasila.

Keyakinan dan kepercayaan ini secara tegas dinyatakan dalam

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

pada Alinea III dan IV. Sebagai penganut faham hidup berketuhanan,

bangsa Indonesia meyakini bahwa Tuhan melarang sikap dan tindakan a-

sosial, a-susila, dan a-moral dalam kehidupan seks, seperti pelecehan,

perselingkuhan, kekerasan seks, penyimpangan seks, dan penyebarluasan

gagasangagasan tentang seks, karena dapat merusak tatanan kehidupan

masyarakat. Bagi masyarakat Indonesia yang beragama dan menjunjung

tinggi nilai-nilai budaya ketimuran, tindakan menyampaikan gagasan-

gagasan dan melakukan perbuatanperbuatan mengekploitasi seksual,

kecabulan dan/atau erotika diranah publik dan di depan umum yang sama

sekali tidak mengandung misi atau tujuan pendidikan dan sekaligus

pemuliaan manusia merupakan sikap dan tindakan a-sosial, a-susila, dan a-

moral yang dapat mengancam kelestarian tatanan kehidupan masyarakat.

Tindakan semacam itu juga dianggap menunjukkan sikap menentang

kekuasaan Tuhan.





Pada era kehidupan modern di tengah globalisasi informasi seperti

sekarang ini ancaman terhadap kelestarian tatanan masyarakat Indonesia

menjadi semakin serius. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi

telah mempermudah pembuatan,penyebarluasan, dan penggunaan

pornografi. Demikian juga, kehidupan modern telah menyebabkan

pergeseran nilai-nilai yang ditujukan dengan meningkatnya sikap

permisif masyarakat terhadap perbuatan-perbuatan pornoaksi.

Kecenderungan ini telah menimbulkan keresahan dan kekuatiran

masyarakat beragama akan hancurnya sendisendi moral dan etika

yang sangat diperlukan dalam pemeliharaan dan pelestarian

tatanan kehidupan masyarakat. Keresahan dan kekuatiran

masyarakat terhadap kecenderungan peningkatan pornografi dan

pornoaksi serta upaya mengatasi masalah itu tercermin dan secara

formal dinyatakan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan







33

Rakyat Republik Indonesia Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika

Kehidupan Bangsa.





Sebagai penganut keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa,

masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama memiliki hak untuk

melindungi diri dan sekaligus memiliki kewajiban berperanserta dalam

mencegah dan menanggulangi masalah yang disebabkan oleh sikap

dan tindakan-tindakan a-sosial, a-susila, dan a-moral seseorang atau

sekelompok orang yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi

dibanding kepentingan umum. Dalam hal ini penyelenggara negara

memiliki hak dan sekaligus kewajiban untuk melarang pembuatan,

penyebarluasan, dan penggunaan pornografi serta perbuatan

pornoaksi untuk memenuhi hak seseorang atau sekelompok orang

yang dilakukan dengan tidak menghormati hak masyarakat umum

yang lebih luas. Oleh karenanya agar pemenuhan hak seseorang dan

sekelompok orang itu tidak melanggar pemenuhan hak masyarakat

umum untuk memiliki kehidupan yang tertib, aman, dan tentram

maka hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan, penyebarluasan,

dan penggunaan pornografi serta perbuatan pornoaksi harus diatur

dengan Undang-Undang.





Pengaturan pornografi dan pornoaksi dalam Undang-Undang ini

pada dasarnya melarang semua bentuk aktivitas pembuatan,

penyebarluasan, dan penggunaan pornografi serta perbuatan

pornoaksi sebagaimana diajarkan dalam faham Ketuhanan Yang

Maha Esa. Meskipun- demikian, pengaturan tersebut disesuaikan

dengan norma dan nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. Selain

dapat memperjelas definisi hukum mengenai pornografi dan

pornoaksi, pengaturan di dalam Undang-Undang ini paling tidak juga

diharapkan dapat meningkatkan kepastian hukum, membuat jera

para pelaku tindak pelanggaran, mengantisipasi dampak negatif

perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, dan membantu

upaya mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai





luhur budaya bangsa. Secara khusus, pengaturan dalam Undang-

Undang ini juga diharapkan dapat mencegah peningkatan tindak

kekerasan dalam bentuk pornografi dan pornoaksi, yang seringkali

menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai korban dimana

peraturan perundang-undangan yang ada saat ini belum mampu

secara maksimal menjerat para pelakunya.





Undang-Undang ini mengakui dan menghargai peran penting karya-

karya seni dan para seniman pembuatnya dalam perkembangan dan

kemajuan masyarakat ke arah yang lebih balk. Oleh karenanya,

Undang-Undang ini melarang semua bentuk pornografi dan pornoaksi

yang diatas-namakan sebagai karya seni karena dilandasi keyakinan

bahwa, baik dari bentuk, isi, maupun maknanya bagi kehidupan

masyarakat, pornografi dan pornoaksi sangat berbeda dari karya-

karya seni. Dari bentuknya, karya seni tidak sama dengan karya-karya

yang termasuk pornografi dan pornoaksi karena memiliki keunikan,

yang tidak mungkin diproduksi dan direproduksi dengan kualitas yang

sama atau paling tidak hampir sama. Dari isinya, karya seni lebih

banyak mengandung nilai-nilai pendidikan yang mengandung





34

makna yang sangat mendalam pada dirinya sendiri (bersifat intrinsik),

yakni yang secara langsung atau tidak langsung dapat memuliakan

kehidupan manusia, baik yang menikmati maupun yang

menciptakan karya seni itu sendiri. Sebaliknya, karya-karya pornografi

dan pornoaksi dilihat dari bentuknya tidak memiliki keunikan, karena

dapat diproduksi dan direproduksi berulang kali, sebanyak mungkin

atau bahkan secara massal. Selain itu, dari isi dan maknanya, nilai-

nilai yang terkandung dalam karya-karya pornografi dan pornoaksi

hanya berfungsi sebagai alat atau sarana untuk mencapai sesuatu

yang lain di luar penciptanya (bersifat ekstrinsik), tidak mengandung

unsur pendidikan yang bertujuan memuliakan kehidupan manusia

yang menikmatinya maupun yang menciptakannya.





Demikian juga, Undang-Undang ini mengakui clan menghargai olahraga

dan manfaatnya bagi kesehatan dan tujuan-tujuan lain yang mengarah

pada kehidupan masyarakat yang balk. Meskipun demikian, Undang-

Undang ini melarang kegiatan olahraga yang dilaksanakanrdi tempat-

tempat umum dengan mengenakan pakaian atau kostum olahraga yang

minim yang memperlihatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang sensual

karena hal itu merupakan suatu pelanggaran terhadap norma-norma

kesopanan dan kesusilaan masyarakat. Namun, sikap ini tidak

dikenakan terhadap cara berpakaian menurut adat-istiadat dan budaya

masyarakat lokal maupun nasional,karena Undang-Undang ini

menganggap bahwa hal itu merupakan bagian dari identitas budaya lokal

dan nasional yang harus tetap dihormati dan dilestarikan.





Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan

pornoaksi, Undang-Undang ini menuntut agar pemerintah lebih banyak

berperan. Meskipun demkian, peran pemerintah dalam hal ini tidak

dimaksudkan untuk mengambil alih peran masyarakat, termasuk lembaga-

lembaga keagamaan. Bagi masyarakat umumnya dan lembaga-lembaga

keagamaan khususnya, Undang-Undang ini diharapkan dapat membantu

upaya menegakkan kesepakatan bersama dalam mencegah dan

menanggulangi masalah pornografi dan pornoaksi dalam rangka

memelihara tatanan kehidupan masyarakat yang dilandasi keyakinan

kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karenanya, untuk meningkatkan

efektivitas dan efisiensi, dalam pelaksananya upaya pencegahan dan

penanggulangan masalah pornografi dan pornoaksi meskipun dipimpin

oleh pemerintah tetap diupayakan selalu melibatkan unsur-unsur

masyarakat, termasuk lembaga-lembaga keagamaan.

II. PASAL DEMI PASAL



Pasal 1

Seksual adalah hal-hal atau perbuatan yang berkenaan dengan

perkara seks, dan persetubuhan atau hubungan seks.



Kecabulan adalah hal-hal atau perbuatan yang mengandung sifat-

sifat cabul, yakni sifat-sifat keji dan kotor, tidak senonoh atau

melanggar kesopanan dan/atau kesusilaan.

Erotika adalah hal-hal atau perbuatan yang sifatnya berkenaan

dengan nafsu seksual atau kebirahian dan/atau dengan sensasi seks

yang melanggar kesopanan dan/atau kesusilaan.



Pasal 2

Cukup jelas





35

Pasal 3

Cukup jelas



Pasal 4

Yang dimaksud dengan bagian tubuh tertentu yang sensual antara

lain adalah alat kelamin, paha, pinggul, pantat, pusar, dan payudara

perempuan, baik terlihat sebagian maupun seluruhnya.



Pasal 5

Cukup jelas



Pasal 6

Cukup jelas



Pasal 7

Cukup jelas



Pasal 8

Cukup jelas



Pasal 9

Cukup jelas



Pasal 10

Ayat (1)

Yang dimaksud pesta seks adalah kegiatan merayakan suatu

peristiwa yang dilaksanakan pada waktu tertentu di tempat

tertentu dengan cara melakukan kegiatan sekual secara

beramai-ramai yang melibatkan sejumlah orang untuk tujuan

bersenang-senang.



Ayat (2)

Yang dimaksud pertunjukan seks adalah tontonan yang

diselenggarakan sebagai suatu usaha bisnis dengan cara

mengekploitasi seksulitas, kecabulan, atau erotika yang

melibatkan seseorang atau sejumlah orang sebagai model

atau pemeran dan seseorang atau sejumlah penonton yang

dengan sengaja membayar sejumlah biaya untuk dapat

menonton pertunjukan tersebut.

Pasal 11

Cukup jelas



Pasal 12

Cukup jelas



Pasal 13

Cukup jelas



Pasal 14

Cukup jelas



Pasal 15

Cukup jelas



Pasal 16

Cukup jelas





36

Pasal 17

Cukup jelas



Pasal 18

Cukup jelas



Pasal 19

Cukup jelas



Pasai 20

Cukup jelas



Pasal 21

Cukup jelas



Pasal 22

Karya seni adalah hasil ciptaan manusia yang memiliki nilai estetika

yang tinggi, mengandung misi atau tujuan pendidikan dan sekaligus

pemuliaan manusia, dan mengutamakan nilai-nilai intrinsik yakni

yang bertujuan pada dirinya sendiri. Sebuah karya yang

mengutamakan nilai-nilai ekstrinsik yakni yang bertujuan lain di Iuar

dirinya sendiri, tidak mengandung misi atau tujuan pendidikan dan

sekaligus pemuliaan manusia, seperti tujuan bisnis, promosi,

meningkatkan penjualan, atau membangkitkan nafsu birahi, semata-

mata tidak dikategorikan sebagai karya seni.



Pasal 23

Yang dimaksud dengan alasan yang dibenarkan berdasarkan

Undang-Undang ini adalah alasan pengecualian pornografi untuk

tujuan pendidikan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan.



Pasal 24

Cukup jelas



Pasal 25

Cukup jelas



Pasal 26

Cukup jelas



Pasal 27

Cukup jelas



Pasal 28

Yang dimaksud menari erotis adalah melakukan gerakan-gerakan

tubuh secara berirama dan mengikuti prinsip-prinsip seni tari

sedemikian rupa sehingga gerakan-gerakan tersebut dapat

dikategorikan sebagai suatu karya seni koreografi. Sedangkan yang

dirnaksud bergoyang erotis adalah melakukan gerakan-gerakan

tubuh secara berirama, tidak mengikuti prinsip-prinsip seni tari,dan

lebih menonjolkan sifat seksual sedemikian rupa sehingga gerakan-

gerakan tersebut dapat diduga bertujuan merangsang nafsu birahi.



Pasal 29

Cukup jelas







37

Pasal 30

Cukup jelas



Pasal 31

Cukup jelas



Pasal 32

Cukup jelas



Pasal 33

Cukup jelas



Pasal 34

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan "dalam batas yang diperlukan" adalah

sesuai dengan tingkat pendidikan dan bidang studi pihak yang

menjadi sasaran pendidikan dan/atau pengembangan ilmu

pengetahuan.





Ayat (2)

Cukup jelas



Pasal 35

Ayat (1)

Yang dimaksudkan dengan gangguan kesehatan dalam pasal ini

adalah gangguan fungsi seksual dan alat reproduksi, yang

pengobatannya memerlukan alat bantu barang pornografi.



Ayat (2)

Cukup jelas



Pasal 36

Cukup jelas



Pasal 37

Cukup jelas



Pasal 38

Cukup jelas



Pasal 39

Cukup jelas



Pasal 40

Cukup jelas



Pasal 41

Cukup jelas



Pasal 42

Cukup jelas



Pasal 43

Cukup jelas









38

Pasal 44

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan unsur pemerintah adalah instansi dan badan

lain terkait yang tugas dan wewenangnya mencegah dan

menanggulangi pornograii danlatau pornoaksi yang antara lain

terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Kementerian atau

Departemen. Yang dimaksud dengan masyarakat adalah lembaga

swadaya masyarakat yang memiliki Kepedulian terhadap masalah

pornografi.



Ayat (2)

Cukup jelas



Ayat (3)

Cukup jelas



Pasal 45

Cukup jelas



Pasal 46

Persyaratan ini lebih ditekankan bagi unsur masyarakat yang antara

lain terdiri dari Pakar komunikasi, Pakar teknologi informasi, Pakar

hukum pidana, Pakar seni, Pakar Budaya, dan Tokoh agama.



Pasal 47

Cukup jelas



Pasal 48

Ayat (2)

Cukup jelas



Ayat (2)

Sekretaris BAPPN berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil.



Ayat (3)

Cukup jelas -



Pasal 49

Cukup jelas



Pasal 50

Cukup jelas



Pasal 51



Ayat (1)

Huruf a

Yang dimaksud dengan kegiatan advokasi adalah kegiatan

pemberian bantuan hukum dalam penanggulangan masalah

pornografi dan/atau pornoaksi.

Yang dimaksud dengan kegiatan edukasi adalah kegiatan

pemberian bimbingan, konsultasi, penerangan, dan penyuluhan

dalam pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi

dan/atau pornoaksi.



Huruf b

Cukup jelas





39

Huruf c

Cukup jelas



Huruf d

Cukup jelas



Ayat (2)

Huruf a

Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini meliputi upaya

meningkatkan moral dan akhlak bangsa melalui pendidikan

keagamaan, moral, etika dan budi pekerti pada lembaga-lembaga

pendidikan dari tingkat Sekolah Taman Kanak-kanak sampai dengan

tingkat Perguruan Tinggi, baik untuk tujuan mencegah maupun

menanggulangi masalah pornografi dan/atau pornoaksi.



Huruf b

Cukup jelas



Ayat (3)

Cukup jelas



Pasal 52

Cukup jelas



Pasal 53

Cukup jelas



Pasal 54

Cukup jelas



Pasal 55

Cukup jelas



Pasal 56

Cukup jelas



Pasal 57

Cukup jelas



Pasal 58

Cukup jelas



Pasal 59

Cukup jelas



Pasal 60

Cukup jelas



Pasal 61

Cukup jelas



Pasal 62

Cukup jelas



Pasal 63

Cukup jelas





40

Pasal 64

Cukup jelas



Pasal 65

Cukup jelas



Pasal 66

Cukup jelas



Pasal 67

Cukup jelas



Pasal 68

Cukup jelas



Pasal 69

Cukup jelas



Pasal 70

Cukup jelas



Pasal 71

Cukup jelas



Pasal 72

Cukup jelas



Pasal 73

Cukup jelas



Pasal 74

Cukup jelas



Pasal 75

Cukup jelas



Pasal 76

Cukup jelas



Pasal 77

Cukup jelas



Pasal 78

Cukup jelas



Pasal 79

Cukup jelas



Pasal 80

Cukup jelas



Pasal 81

Cukup jelas



Pasal 82

Cukup jelas





41

Pasal 83

Cukup jelas



Pasal 84

Cukup jelas



Pasal 85

Cukup jelas



Pasal 86

Cukup jelas



Pasal 87

Cukup jelas



Pasal 88

Cukup jelas



Pasal 89

Cukup jelas



Pasal 90

Cukup jelas



Pasal 91

Cukup jelas



Pasal 92

Cukup jelas



Pasal 93

Cukup jelas



TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR ......................









42


Shared by: Andre Suit
Other docs by Andre Suit
4_Job Description Field Coordinator A SUWITO
Views: 16  |  Downloads: 0
brochure climate change
Views: 31  |  Downloads: 0
2010_084_Buleleng
Views: 4  |  Downloads: 0
2010_024_Depok
Views: 3  |  Downloads: 0
Brosur konferensi
Views: 10  |  Downloads: 0
Pengelolaan Sampah RT berbasis Masyarakat-Jogja
Views: 269  |  Downloads: 12
indonesia-c4c-offlinepack-final
Views: 109  |  Downloads: 1
Tanya jawab Ttg Perubahan Iklim
Views: 17  |  Downloads: 0
en-climate-change
Views: 3  |  Downloads: 0
greenfactsclimat00ontauoft
Views: 2  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!