Docstoc

contoh laporan skripsi komunikasi

Document Sample
contoh laporan skripsi komunikasi Powered By Docstoc
					PERANAN MEDIA KOMUNIKASI (RADIO SWASTA) DALAM

MENINGKATKAN TINGKAT KEPEDULIAN MASYARAKAT DI

           KOTAMADYA YOGYAKARTA
                                       BAB I

                                 PENDAHULUAN



A.      Latar Belakang Masalah

        Sepintas lalu, hubungan lingkungan hidup dengan komunikasi mungkin tidak

nampak. Namun kalau dipikirkan secara lebih mendalam, lingkungan hidup

sebenarnya merupakan konsep yang sangat relevan bagi komunikasi ditinjau dari

berbagai segi.

        Pertama, dipandang dari segi luas, komunikasi hanya berarti dalam konteks

lingkungan hidup. Pada intinya. komunikasi adalah proses yang menyangkut

hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya Tanpa komunikasi manusia jadi

terpisah dari lingkungan. Namun tanpa lingkungan komunikasi menjadi kegiatan yang

tidak relevan. Dengan kata lain, manusia berkomunikasi karena perlu mengadakan

hubungan dengan lingkungannya, meskipun caranya berbeda tergantung lingkungan yang

dihadapi, umpamanya dengan lingkungan sosial tertentu.

        Kedua, secara langsung atau tidak sebagian besar komunikasi manusia

sebenarnya menyangkut atau bertitik tolak pada informasi tentang lingkungannya. Baik

mengenai benda fisik dan komponen lingkungan itu, prinsipnya yang mengatur hubungan

antara komponen tersebut, proses dan cara kerjanya, ataupun gagasan dan keinginan yang

ada dalam otak manusia mengenai bagaimana seharusnya lingkungan itu. Ini bukanlah hal

baru. Pengetahuan dan konsep yang ada pada seseorang dibentuk pertama kali oleh

lingkungannya, atau berdasar kepada hal-hal yang diamati dari lingkungan. Andaikata ia

kemudian belajar tentang hal-hal mengenai lingkungan yang lain, informasi itu pun

akan selalu mengacu atau dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Itulah
sebabnya maka komunikasi biasanya lebih lancar dan lebih efektif jika menyangkut

atau berkaitan dengan lingkungan yang telah dikenalnya. Dapat dikatakan

komunikasi akan makin berarti bagi seseorang jikalau informasi yang disampaikan

makin terkait dengan lingkungan orang itu.

        Berkaitan erat dengan ini adalah relevansi lingkungan yang ketiga, yaitu dari

segi fungsi komunikasi. Seperti yang dikemukakan banyak pakar, bahwa salah satu

fungsi penting komunikasi bagi manusia dalam masyarakat adalah pengamatan

lingkungan. Di mana ada media, fungsi ini terbantu dengan komunikasi massa yang

diharapkan menyampaikan hasil pengamatan secara teratur dan sistematik. Dimana

tidak ada media, fungsi ini dilakukan melalui komunikasi interpersonal dan sosial.

Orang saling bertanya dan bertukar informasi setiap hari untuk mendapatkan

gambaran mengenai perubahan yang terjadi dan keadaan terakhir (termasuk ancaman,

bahaya maupun keadaan yang menguntungkan) yang berkembang di sekitaraya, agar

mereka dapat menyesuaikan kehidupannya, sebaik mungkin (M. Alwi Dahlan, 1987:

2-3).

        Oleh karena itu informasi yang diperoleh melalui berbagai media massa

memegang peranan sangat penting dalam membentuk sikap mental masyarakat agar

dapat berperan secara aktif dalam pelaksanaan pembangunan umumnya dan terhadap

kesadaran untuk aktif menjaga kelestarian lingkungan khususnya. Namun dalam

pemberian informasi kepada masyarakat ada masalah-masalah yang harus dihadapi;

1.       Pemastian penerimaan informasi.

2.       Informasi lintas batas (transfrontier).

3.       Informasi tepat waktu (timely information).

4.       Informasi lengkap (comprehensive information).
5.       Informasi     yang   dapat    dipahami    (comprehensible   information)

(Koesnadi, 1988: 141-144).

Adanya permasalahan ini menuntut bahwa informasi yang dibutuhkan, diharapkan

akan memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan bagi masyarakat. Kedudukan

masyarakat amat penting karena keefektifannya bertindak selaku pengawas terhadap

setiap adanya permasalahan lingkungan sehingga diharapkan dengan secepatnya

kondisi tersebut diantisipasi dan dikembalikan ke keadaan semula.

Dengan makin berkembangnya teknologi komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk

kepentingan pembangunan dan kelestarian lingkungan, sebenarnya masalah

kecepatan, daya jangkau, ketepatan, volume maupun jenis informasi yang dapat

diberikan kepada masyarakat sudah tidak lagi menjadi permasalahan. Dalam

kenyataannya masyarakat masih banyak yang belum memahami apa yang seharusnya

diketahui mengenai lingkungan sekitarnya terutama terhadap kegiatan-kegiatan yang

memungkinkan timbulnya masalah lingkungan. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran

masyarakat, akhir-akhir ini masalah lingkungan banyak menarik perhatian terutama

dari media massa yang meliput secara langsung atau berdasarkan laporan dari

masyarakat yang terkena dampak masalah lingkungan.

       Dari ketentuan Undang Undang No. 4 Tahun 1982 Pasal 9 tentang

Lingkungan Hidup yang berbunyi;

"Pemerintah berkewajiban menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran
masyarakat akan tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui
penyuluhan, bimbingan, pendidikan, dan penelitian tentang lingkungan hidup".


serta penjelasannya;

"Pendidikan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat
dilaksanakan baik melalui jalur pendidikan formal mulai dari taman kanak-kanak
atau sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi maupun melalui jalur
pendidikan nonformal"


      penyebarluasan informasi lingkungan dapat dilaksanakan melalui penyuluhan,

bimbingan, pendidikan secara formal maupun non formal. Dengan makin

berkembangnya kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam mengelola lingkungan

hidup maka dikeluarkanlah peraturan perundangan lingkungan hidup yang baru yaitu

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang

merupakan penyempurnaan dari Undang Undang No. 4 Tahun 1982. Selanjutnya

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ini

disebut UUPLH.



Dalam Pasal 10 huruf b UUPLH dengan tegas disebutkan bahwa;

“Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban
mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan
hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup”


dalam penjelasannya;

“Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan, bimbingan, serta pendidikan dan
pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia”


      Berbagai bentuk informasi lingkungan wajib diberikan pemerintah kepada

masyarakat untuk peningkatan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat

dalam mengelola lingkungannya. Jika dikaitkan dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1)

UUPLH yang menyebutkan;

“Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan
dalam pengelolaan lingkungan hidup”
maka tanggung jawab terhadap lingkungan bukan hanya terletak kepada pemerintah

saja tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan karena baik secara langsung

maupun tidak langsung masyarakat merasakan dampak negatif dari kerusakan

lingkungan itu. Dengan dasar pemikiran itu penggunaan berbagai media massa sangat

menunjang berbagai bentuk usaha peningkatan peran serta masyarakat dalam

pengelolaan lingkungan hidup.

       Dari dua bentuk media massa yaitu media elektronik dan media cetak, radio

merupakan salah satu media elektronik yang berfungsi sebagai media penyampaian

informasi dan dinilai mampu untuk menjangkau segala lapisan masyarakat. Oleh

karena itu rasio memegang peranan pentin dalam menumbuhkan dan membina sikap

mental masyarakat dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah lingkungan.

Dari ketentuan Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang No. 3 Tahun 1989 tentang

Telekomunikasi yang menyatakan bahwa;

"Penyelenggaraan telekomunikasi untuk keperluan khusus dapat dilakukan oleh
instansi pemerintah tertentu, perseorangan, atau badan hukum selain badan
penyelenggaraan dan badan lain sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat
(2)"


maka secara jelas dinyatakan bahwa di samping pemerintah selaku pembina dan

penyelenggara telekomunikasi pihak swasta dapat juga berperan serta baik

perseorangan maupun badan hukum. Ketentuan ini berimplikasi kepada media

elektronik, televisi maupun radio, sehingga pada saat ini telah berdiri sejumlah

televisi swasta dan radio swasta.

       Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat media komunikasi milik pemerintah,

TVRI dan RRI, dan media komunikasi swasta, yaitu radio siaran swasta FM dan AM

yang dapat digunakan untuk penyampaian informasi mengenai masalah lingkungan
Informasi ini dapat dikemas dalam bentuk acara khusus maupun dengan memasukkan

pesan ke dalam acara tertentu.

       Peranan penting TVRI, RRI, dan radio swasta adalah dalam rangka

menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran lingkungan sehingga peran serta

masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat meningkat.



B.     Perumusan Masalah

1.     Bagaimana peranan radio siaran swasta dapat meningkatkan dan memberikan

       bekal pengetahuan mengenai lingkungan kepada masyarakat dikaitkan dengan

       ketentuan Pasal 10 huruf b UUPLH?

2.     Dari ketentuan yang telah ada yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun

       1970 tentang Radio Siaran Non-Pemerintah, berutama mengenai fungsinya

       sebagai alat pendidikan dan alat penerangan, apakah ketentuan ini sudah dapat

       berjalan seperti yang diharapkan oleh ketentuan Pasal 10 huruf b UUPLH ?

3.     Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap adanya program atau acara yang

       bertujuan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan yang dikelola oleh

       radio siaran swasta?



C.     Tujuan Penelitian

1.     Tujuan Obyektif

a.     Untuk mengetahui peranan salah satu media komunikasi, dalam hal ini radio

siaran swasta, yang digunakan sebagai sarana penerangan dan pendidikan lingkungan

kepada masyarakat melalui jalur nonformal.

b.     Dengan ketentuan yang ada, baik Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun
1970 maupun Pasal 10 huruf b UUPLH dapat diketahui kondisi yang diharapkan

tercipta dalam hubungan komunikasi dan informasi khususnya dalam bidang

lingkungan antara masyarakat dengan radio siaran swasta.

c.       Untuk mengetahui tanggapan yang diberikan oleh masyarakat mengenai

program atau acara radio siaran swasta yang berkaitan dengan lingkungan.



2.       Tujuan Subyektif

Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan jenjang studi strata

satu di Universitas Gadjah Mada.



D.       Tinjauan Pustaka

         Hakikat komunikasi dalam arti luas adalah suatu kegiatan manusia baik secara

pribadi maupun kolektif sebagai masyarakat untuk menyebarluaskan gagasan atau

pikiran, fakta ataupun data agar gagasan, fakta dan data tersebut menjadi milik

bersama.

         Dalam batasan ini komunikasi juga berfungsi sebagai usaha untuk:

1. Memberi         informasi        yang mencakup        pengumpulan,    penyimpanan,

     pengelolaan dan penyebarluasan berita, gambar, fakta dan pesan, pendapat

     serta tanggapan yang diperlukan untuk          mengerti dan menanggapi sesuatu

     keadaan.

2. Memasyarakatkan       yakni   memberi         bekal    pengetahuan    untuk menjadi

     milik   bersama   masyarakat     agar   masing-masing    warganya   dapat   secara

     efektif melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat dalam rangka membina

     kebersamaan hidup dan solidaritas sosial.
3. Mengembangkan motivasi yakni merangsang gairah orang atau masyarakat untuk

  mencapai sasaran dan aspirasi bersama.

4. Memberi pendidikan dalam rangka pengembangan kecerdasan intelektual,

  pembinaan watak dan memperoleh keterampilan pada semua tingkat umur.

5. Mengembangkan kebudayaan yakni menyebarluaskan hasil ciptaan seni budaya

  dengan     maksud   untuk     melestarikan       warisan        budaya   nenek     moyang,

  mengembangkan       kebudayaan       dengan       meluaskan        cakrawala     pandangan

  masyarakat,     mengasah      daya     ciptanya        dan      merangsang       tumbuhnya

  kreativitas.

6. Memberikan     hiburan     dengan            antara     lain      mementaskan        atau

  mengembangkan seni drama, seni tari, seni sastra, seni lukis, seni musik, seni

  lawak, olah raga dan lain-lain untuk dapat dinikmati secara, pribadi atau secara

  bersama-sama.

7. Mengembangkan integrasi ke arah kokohnya persatuan dan kesatuan nasional

  serta mantapnya,     tanggung jawab           disiplin dan jiwa bangsa (Departemen

  Penerangan, 1987: 212-213).

Dalam proses komunikasi ada 3 unsur pokok:

       1. Pemberi atau sumber informasi.

       2. Media informasi.

       3. Penerima atau sasaran informasi.

Karena sasaran penyampaian informasi adalah masyarakat luas, sedangkan media

informasi baik media elektronik maupun media cetak jenisnya beragam dan informasi

yang disampaikan tidak selalu memiliki aspek positif bagi pembangunan nasional,

maka berdasarkan ketentuan Pasal 33 ayat (2) yaag menyatakan bahwa;
"Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara"


dan dalam bagian menimbang sub (b) UU No. 3 Tahun 1989 yang menyatakan ;

"Bahwa telekomunikasi merupakan cabang produksi yang penting bagi negara dan
menguasai hajat hidup orang banyak sehingga perlu dikuasai oleh negara demi
terwujudnya pembangunan nasional"


pemerintah berkedudukan sebagai penyelenggara.

Pedoman bagi pemerintah, dalam hal ini departemen penerangan, dalam

menyelenggarakan telekomunikasi tertuang dalam TAP MPR No. II/MPR/1998

mengenai Penerangan, Komunikasi dan Media Massa sebagai berikut:

a.    Pembangunan penerangan, komunikasi, dan media massa diarahkan pada

      peningkatan     kemampuan penerangan,        komunikasi,      dan media massa

      nasional,    ditujukan    untuk   meningkatkan     peran     serta   aktif positif

      masyarakat     dalam      pembangunan,    meningkatkan       keterbukaan     yang

      bertanggung jawab dan makin meningkatkan kesadaran bermasyarakat,

      berbangsa, dan bernegara yang dilandasi nilai-nilai luhur Pancasila dan

      UUD 45.

b.    Pembangunan      penerangan,      komunikasi,    media     massa harus     mampu

      meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai

      warga negara dan menciptakan iklim yang dapat mendorong terjadinya

      interaksi timbal balik secara terbuka dan bertangung jawab antara sesama

      warga masyarakat         dengan pemerintah      dalam    memperoleh      informasi

      tentang pembangunan dan hasil-hasilnya, serta perkembangan global sehingga

      makin meningkatkan kualitas, peranan, peran serta, dan tanggung jawab
     masyarakat      dalam   pembangunan,      dalam     rangka     menumbuhkan         dan

     mengembangkan sikap dan tekad kemandirian serta ketangguhan bangsa

c.   Pembangunan        penerangan,     komunikasi,      dan     media      massa     terus

     ditingkatkan      kualitas   dan   jangkauannya      agar      mendukung         upaya

     memantapkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,

     mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara, memperkuat moral, mental,

     budaya bangsa serta menggelorakan semangat pengabdian dan perjuangan

     bangsa, dan menggairahkan peran serta               masyarakat dalam rangka

     memantapkan kehidupan demokrasi Pancasila sehingga masyarakat siap

     untuk makin mampu menyerap nilai yang positif dan menangkal pengaruh

     negatif arus informasi. Untuk itu, media massa harus makin meningkatkan

     pengabdian, tanggung jawab dan etik profesi, kemampuan, dan kualitas

     sumber     daya      manusianya,      serta   makin       mampu        meningkatkan

     pendayagunaan sarana dan prasarana komunikasi dengan lebih efektif dan

     eflsien.

d.   Pembangunan sarana dan        prasarana penerangan,          komunikasi dan media

     massa perlu makin ditingkatkan dengan memperhatikan kemajuan ilmu

     pengetahuan dan teknologi komunikasi sehingga mampu menjangkau dan

     menjamin       lancarnya penyebaran     informasi     secara    luas    serta    dapat

     mewujudkan tersedianya wahana komunikasi dan informasi yang andal

     serta tersebar makin merata di seluruh pelosok tanah air sesuai dengan

     tuntutan pembangunan. Pengelolaan dan pengembangaa                      sarana     dan

     prasarana penerangan, komunikasi, dan media massa perlu terus didorong

     dan dimantapkan dalam rangka meningkatkan efisiensi pendayagunaan
     sumber daya nasional.

e.   Dalam   rangka    peningkatan    peranan   media massa      yang   bebas   dan

     bertanggung jawab berdasarkan Pancasila perlu terus diupayakan makin

     berkembangnya interaksi positif antara media massa, pemerintah, dan

     masyarakat sehingga dapat makin diwujudkan peran serta aktif media

     massa dalam      mendukung pembangunan menyebarkan           informasi     yang

     objektif dan   edukatif,    melakukan   kontrol    sosial   yang   konsumptif

     menyalurkan aspirasi rakyat serta memperluas komunikasi dan peran serta

     positif masyarakat. Untuk itu kelangsungan hidup media massa yang bebas

     dan bertanggung jawab dijamin oleh undang-undang.

f.   Upaya penyebarluasan peran media massa, baik cetak maupun elektronik

     seperti radio, televisi, film, video, multi media, surat kabar, majalah, dan

     kantor berita perlu terus ditingkatkan baik dalam jumlah, kualitas maupun

     jangkauannya termasuk media tradisional sehingga makin dapat dicapai

     tujuan penyebaran informasi yang lebih efektif sesuai dengan kebhinekaan

     masyarakat Indonesia di perkotaan dan perdesaan guna mendukung makin

     kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa. Sejalan dengan itu perlu terus

     dikembangkan dan dilindungi kehidupan pers daerah sehingga mampu

     berkembang dan berperan secara mandiri dan bertanggung jawab.

g.   Peningkatan peranan        media massa dalam      pembangunan      perlu terus

     didukung oleh peningkatan jumlah dan        kualitas    tenaga terdidik     dan

     profesional, yang mampu mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan

     ilmu pengetahuan dan teknologi informasi komunikasi sebagai insan

     media massa yang memiliki idealisme, integritas, dan wawasan kebangsaan
     serta pengetahuan, keahlian, dan ketrampilan dalam pengabdian terhadap

     profesi disertai peningkatan kesejahteraannya. Lembaga pendidikan dan

     pelatihan     sumber   daya manusia di   bidang   media massa perlu     terus

     dikembangkan dan ditingkatkan untuk mengabdi kepada kepentingan bangsa

     dan negara.

h.   Pembinaan dan pengembangan film nasional ditingkatkan fungsi dan

     perannya secara terus menerus baik kualitas maupun kuantitasnya yang dititik

     beratkan pada kemampuan bersaing dengan menekankan peningkatan film

     yang berkualitas yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan nilai-

     nilai luhur budaya bangsa, terciptanya iklim yang mendukung peningkatan

     produksi serta perlindungan film nasional.

i.   Peranan penerangan, komunikasi, dan media massa di dalam pergaulan

     internasional perlu terus ditingkatkan dalam rangka mengembangkan citra dan

     pengertian dunia terhadap harkat dan martabat bangsa Indonesia dalam

     kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan

     Pancasila.

j.   Pembangunan aparat dan pelaku penerangan, komunikasi, dan media massa

     terus ditingkatkan dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga terdidik

     yang profesional, mampu mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan ilmu

     pengetahnan dan teknologi, memiliki idealisme, integritas moral, kepribadian,

     dan semangat kebangsaan, disertai dengan pengembangan dan peningkatan

     lembaga pendidikan dan pelatihan, serta perlindungan terhadap kegiatan

     jurnalistik dan perlindungan terhadap masyarakat agar mendapat informasi

     yang benar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
k.       Pembangunan hubungan kemasyarakatan sebagai pengemas dan penyalur

         informasi terus ditingkatkan untuk menumbuhkan iklim komunikasi dua arah,

         memantapkan suasana keterbukaan yang bertanggung jawab, dan makin

         membina citra positif bangsa dan negara baik di dalam maupun di luar negeri.

         Penataan struktur, wewenang, dan pembinaan sumber daya hubungan

         kemasyarakatan terus dikembangkan sesuai dengan jati diri bangsa.

l.       Pembangunan periklanan nasional terus ditingkatkan dan dimanfaatkan secara

         posititf dan kreatif untuk mendinamiskan kegiatan perekonomian masyarakat

         tentang pembangunan, mengimbangi dan menangkal pengaruh negatif pesan

         komunikasi pemasaran, meningkatkan kecintaan masyarakat pada produk

         dalam negeri, dan memantapkan daya saing produk nasional.



Berdasarkan ketentuan Pasal 10 huruf b UUPLH yang berbunyi;

"Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup pemerintah berkewajiban:
mewujudkan, menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran akan hak dan tanggung
jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup."


serta penjelasannya ;

"Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan, bimbingan, serta pendidikan, dan
pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia."


pemerintah bertanggung jawab dalam menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran

lingkungan masyarakat, karena itu sangat penting untuk menumbuhkan pengertian,

penghayatan, dan motivasi untuk ikut      serta dalam   mengembangkan lingkungan

hidup.

         Penanaman pengertian tentang manfaat yang diperoleh dari pengembangan
lingkungan hidup dapat disalurkan melalui berbagai jalur pendidikan sebagai berikut:

a.        Pendidikan formal.

          Melalui SD, SMTP, SMTA, dan Perguruan Tinggi.

b.        Pendidikan nonformal.

          Melalui kursus-kursus dan kegiatan-kegiatan lainnya yang diselenggarakan di

          luar lembaga-lembaga pendidikan formal.

c.        Pendidikan informal.

          Melalui keluarga dan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat (Koesnadi.,

          1988: 195).

Pada pendidikan nonformal perlu diperhatikan penyusunan dari naskah-naskah yang

mudah dibaca dan dipahami, dengan mengingat keadaan setempat, penggunaan

bahasa daerah dalam penyusunan naskah-naskah tersebut perlu memperoleh perhatian

agar langsung mencapai sasaran.

          Mengingat kemajemukan masyarakat kita, yang dipengaruhi oleh berbagai

faktor seperti tingkat pendidikan, adat istiadat, letak geografis dan sebagainya maka

cara-cara menanamkan pengertian tersebut harus berbeda-beda pula (Koesnadi, 1988

: 201).

Tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah dalam pendidikan lingkungan hidup

adalah :

a.        Memperoleh:

          1) Pengenalan lingkungan hidup pada umumnya (tingkat SD dan SMTP).

          2) Pengenalan dan      identifikasi   masalah-masalah   lingkungan   hidup

           (tingkat SMTA).

          3) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah lingkungan hidup (tingkat
         Perguruan Tinggi).

b.     Membudayakan "concern" terhadap lingkungan hidup yaitu memasukkannya

       dalam tata nilai bersama (value-clarification dan value-information).

c.     Menggugah kesadaran untuk mau berbuat, baik secara            pribadi maupun

       secara kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah lingkungan

       hidup, yang berarti pula meningkatkan ketrampilan mengatur diri dan

       kelompok masyarakat dalam suatu lembaga swadaya masyarakat untuk

       melakukan kegiatan-kegiatan di bidang lingkungan hidup (Koesnadi, 1988:

       202).

       Sampai seberapa jauh hubungan komunikasi, baik melalui media elektronik

maupun media cetak, dengan tumbuh dan berkembangnya kesadaran masyarakat

akan lingkungannya dapat kita lihat dari potensi pengaruh komunikasi terhadap

berkembangnya wawasan lingkungan.

       Pertama, kegiatan pembangunan tidak hanya terbatas pada kegiatan sektor

pemerintah saja, meskipun jumlah dana yang dikerahkan bagi pembangunan di sektor

pemerintah mungkin sangat tinggi, tetapi pada umumnya terpusat pada kegiatan-

kegiatan yang besar yang jumlahnya relatif sedikit. Walaupun kebanyakan berukuran

lebih kecil, jumlah kegiatan di sektor swasta jauh lebih banyak dan secara langsung

mungkin melibatkan jumlah orang yang jauh lebih besar, apa lagi kalau termasuk

sektor informal. Sektor swasta ini tidak dapat direncanakan atau dikendalikan

geraknya oleh pemerintah (kecuali perencanaan sektor makro atau sekedar

pengaturan) namun dapat dipengaruhi oleh lintas informasi dan komunikasi dalam

masyarakat.

       Wawasan lingkungan juga perlu dalam komunikasi mengingat bahwa
keseluruhan bagian ekosistem saling berkait dan saling tergantung. Karena itu

pertimbangan lingkungan perlu diperhatikan dalam segala jenis kegiatan yang secara

langsung atau tidak dapat mempengaruhi jalannya pembangunan dan keadaan

lingkungan hidup. Komunikasi massa dan komunikasi sosial dalam segala bentuk

merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan pengaruh seperti itu.

       Alasan lain menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang masih

kurang mengenai sistem lingkungan hidup. Sebagai akibat, perilaku yang mempunyai

danpak negatif terhadap lingkungan, termasuk perilaku yang digambarkan dalam

komunikasi massa, masih saja banyak diperbuat tanpa disadari, bahkan sering dengan

itikad baik. Komunikasi yang berwawasan lingkungan dapat mengurangi perilaku

sedemikian, antara lain dengan memberikan interpretasi yang lebih tepat,

menghindarkan penonjolan perilaku negatif, atau mendorong perilaku pengganti

yang lebih positif.

       Pengaruh atau dampak komunikasi ini dapat terjadi melalui berbagai cara

Secara langsung, komunikasi dapat mendorong gaya hidup dan perilaku yang

merusak atau tidak tepat lingkungan, atau mengukuhkan kebiasaan yang tidak baik.

Secara tidak langsung, nilai-nilai yang tadinya dianggap asing, lama kelamaan dapat

diperlakukan sebagai sesuatu yang biasa karena seringnya disajikan secara

menguntungkan atau karena tidak mendapat reaksi yang keras. Perilaku yang tadinya

dinilai negatif dapat diliput atau disajikan sedemikian rupa oleh media massa

sehingga menjadi perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat, bahkan kemudian

dianggap pantas ditiru.

       Hal ini dapat terjadi karena komunikasi, termasuk komunikasi massa,

mempunyai fungsi pembentukan konsensus dan sosialisasi nilai. Gagasan dan
kebiasaan yang diliputnya serta interpretasi yang dilontarkannya, diamati, dinilai dan

dijadikan rujukan sementara oleh masyarakat. Apabila kemudian tidak mendapat

tanggapan atau ternyata mulai diterapkan, orang mengambil kesimpulan bahwa hal

baru itu memang baik atau dapat diterima bersama Semakin sering dimunculkan,

semakin kuat patokan untuk menerima dan menerapkannya. Proses seperti ini terjadi

baik pada penularan gaya yang relatif sepele tetapi mempunyai implikasi agak serius

sampai ke inovasi dan gagasan yang mempunyai akibat yang jauh.

       Karena lingkungan hidup merupakan hal yang kompleks dan menyangkut

aneka ragam segi, dapat terjadi bahwa sesuatu hal yang sepele jika dipandang dari

sudut lain dapat merupakan hal yang serius apabila jika dipandang dari segi

lingkungan. Hal seperti itu hanya mungkin dicegah jika komunikasi diselenggarakan

dengan pemahaman yang cukup luas mengenai potensi dampak lingkungan dari

setiap pesan (M. Alwi Dahlan, 1987: 2-3).

       Bagian yang tak kurang pentingnya dalam proses menumbuh kembangkan

kepedulian    masyarakat    terhadap    lingkungannya     adalah    sosialisasi   atau

pemasyarakatan penuturan perundang-undangan di bidang lingkungan. Karena untuk

tugas mengundangkan suatu peraturan ada pada pemerintaah maka beban untuk

mensosialisasikanpun ada pada pemerintah. Namun mengingat bahwa pihak-pihak

yang terkait dalam bidang lingkungan sangat luas, maka sudah seharusnya beban

memasyarakatkan peraturan juga ada pada pihak-pihak yang berkepentingan seperti

perusahaan, media massa, lembaga pemerintah dan lain-lain.

       Pada kenyataannya pengetahuan masyarakat terhadap adanya suatu peraturan

perundang-undangan di bidang lingkungan sangat rendah sebab keluarnya suatu

peraturan belum diikuti dengan kemasyarakatkannya. Kalaupun itu ada hanya untuk
kalangan atau golongan tertentu saja, meskipun tujuannya adalah untuk masyarakat

umum.

        Dalam publikasi OECD tentang "Public Participation and Environmental

Matters” disebutkan bahwa usaha untuk mengikut sertakan masyarakat pada tahap

awal dalam proses rencana kebijaksanaan memberikan satu kesempatan untuk

menilai kebutuhan dan keinginan masyarakat, menjelaskan unsur-unsnr yang menjadi

permasalahan dan mengevaluasi secara menyeluruh terhadap kemungkinan-

kemungkinan kebijaksanaan. informasi adalah salah satu syarat untuk mengefektifkan

peran serta masyarakat dan pemerintah bertanggung jawab tidak hanya untuk

memberikan informasi yang ada mengenai permasalahan lingkungan kepada

masyarakat tepat pada waktunya dan bersikap terbuka tetapi juga untuk menjamin

bahwa warga negara mampu memberikan tanggapan atau masukan yang konstruktif

dan tepat waktu kepada pemerintah. Peran serta masyarakat dapat dilihat dalam arti

pentingnya untuk meningkatkan lingkungan sebaik kesadaran politik, untuk

menjelaskan pilihan-pilihan yang harus ditentukan dan untuk menemukan

kesepakatan   sosial    terhadap   keseimbangan   yang   harus   ditemukan   antara

pembangunan ekonomi dan kepentingan lingkungan (Koesnadi, 1989: 16).

        Media massa pada umumnya sangat memegang peranan penting dalam

memasyarakatkan peraturan di bidang lingkungan. Ini dapat kita lihat dari tanggapan

media massa di antaranya meliputi :

        1. Peliputan khusus masalah lingkungan melalui pemberitaan atau rubrik

          lingkungan sebagaimana terdapat dalam surat kabar dan majalah.

        2. Penunjukan wartawan (reporter) yang khusus ditugasi meliput masalah

          lingkungan.
       3. Penyelenggaraan lokakarya dan pertemuan       lainnya yang dilaksanakan

            oleh PWI untuk keperluan peningkatan pemahaman wartawan tentang

            masalah lingkungan.

       Media massa yang meliput masalah lingkungan tidak hanya berupa media

massa cetak., akan tetapi juga media massa elektronik (TV, Radio) sehingga coverage

atau liputannya menjadi sangat luas (Koesnadi, 1992: 20-21).

       Karena luasnya aspek permasalahan lingkungan sehingga memerlukan

pendekatan yang sifatnya menyeluruh tidak hanya oleh pembuat peraturan

perundangan, pihak yang terkait dengan peraturan itu tetapi juga masyarakat luas.

Dengan pendekatan ini diharapkan dapat membentuk masyarakat yang tanggap dan

berwawasan lingkungan guna menunjang pembangunan nasional.



E.     Metodologi Penelitian

1.     Bahan dan alat pengumpulan data.

       Dalam penelitian ini bahan penelitian diperoleh dari sumber data sebagai

       berikut:

       a.       Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara

                langsung dari responden, dengan cara:

                1.     Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan cara

                       melakukan tanya jawab secara langsung yang ditujukan

                       kepada:

                              a.     Radio Siaran Swasta.

                              b.     Masyarakat yang turut menikmati siaran.

                2.     Kuesioner adalah pengumpulan data dengan cara
                       mengajukan daftar pertanyaan secara langsung kepada

                       responden.

       b.      Sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh melalui:

                       1. Dokumen-dokumen          yang        diperoleh       melalui

                           Kantor Wilayah Departemen Penerangan DIY.

                       2. Literatur   dan   peraturan     perundang-undangan     yang

                           berkaitan dengan obyek dan masalah penelitian.



2.     Penentuan Sampel dan Lokasi Penelitian.

       Dengan metode nonprobability sampling yaitu; pemilihan sampel didasarkan

atas pengetahuan bahwa radio siaran swasta tersebut memiliki program atau acara

yang berkaitan dengan lingkungan.



Penelitian dilakukan di:

a.     Radio-radio siaran swasta di Kodya Yogyakarta,

       Dalam penelitian ini sampel radio siaran swasta yang dipilih adalah:

       1. Retjo Buntung (FM)

       2. Unisi (FM)

       3. Arma Sebelas (AM)

b.     Masyarakat pendengar siaran.

       Dalam penelitian ini masyarakat digolongkan kedalam:

       1.      Masyarakat umum yang terdidik

               Karena dalam program atau acara yang berkaitan dengan lingkungan

               yang disiarkan radio swasta membutuhkan tingkat pemahaman
              mengenai apa yang disampaikan.

       2.     Mahasiswa atau pelajar.

              Mengingat bahwa Yogyakarta pendengarnya kebanyakan dikenal dari

              golongan ini.



3.     Metode Analisis

       a.     Metode deskriptif yaitu cara penelitian      yang    bertujuan untuk

              memperoleh data tentang hubungan antara suatu gejala dengan gejala

              lain, dalam hal ini hubungan program atau mata acara yang berkaitan

              dengan lingkungan radio siaran      swasta dengan tingkat kepedulian

              masyarakat terhadap lingkungan hidup.

       b.     Metode kualitafif yaitu cara, penelitian yang dinyatakan responden

              secara tertulis atau lisan dan juga perilaku yang      nyata     yang

              dipelajari sebagai sesuatu yang utuh.

       Kedua metode di atas       digunakan karena maksud penelitian ini untuk

mengetahui secara jelas bagaimana peran serta radio siaran swasta dalam rangka turut

menumbuhkan dan mengembangkan tingkat kepedulian masyarakat dalam mengelola

lingkungan hidup di sekitarnya.
                                     BAB II

        MEDIA KOMUNIKASI MASSA DALAM PEMBANGUNAN




A.     Komunikasi Pembangunan

1.     Pengertian komunikasi

       Kamus umum Bahasa Indonesia menjelaskan pengertian "komunikasi" sama

dengan perhubungan. Ini berarti komunikasi merupakan sarana bagi orang untuk

berhubungan dengan menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada kelompok dan

masyarakat luas.

Para pakar komunikasi sendiri memberikan definisi yang beragam mengenai

komunikasi;

a.     Gerbner menyatakan bahwa komunikasi didefinisikan sebagai interaksi

       sosial melalui pesan,

b.     Theodorson dan Thedorson menyatakan komunikasi adalah penyampaian

       atau penyebaran informasi-inforrnasi yang memuat ide, perilaku atau emosi

       dari seseorang atau kelompok kepada orang atau kelompok lain khususnya

       dengan menggunakan simbol-simbol,

c.     Osgood menyatakan bahwa komunikasi terjadi jika suatu sistem, sumber

       informasi, mempengaruhi yang lain (kelompok atau orang), ada tujuan,

       dengan memanipulasi     simbol-simbol alternatif yang dapat dikirimkan

       melalui saluran yang menghubungkan mereka (Dennis McQuail, 1993: 4).

       Komunikasi adalah suatu proses, yang dalam proses itu beberapa partisipan

bertukar tanda-tanda informasi dalam suatu waktu. Tanda-tanda informasi dapat saja
bersifat :

a.      Verbal meliputi kata-kata, angka, baik yang tertulis maupun yang diucapkan,

b.      Non-verbal meliputi ekspresi formal, gerak anggota tubuh, pakaian warna,

        musik, waktu, ruang, rasa sentuhan dan bau,

c.      Paralinguistik meliputi kualitas suara, kecepatan berbicara, tekanan suara dan

        vokalisasi, yang bukan kata, yang digunakan untuk menunjukkan makna dan

        emosi tertentu.

Pada masa silam komunikasi biasanya dijelaskan dengan memperhatikan secara

khusus seorang pengirim dan seorang penerima akan tetapi riset secara berangsur-

angsur mengubah perspektif ini. Sekarang komunikasi tidak lagi dianggap sebagai

suatu aliran informasi searah dari pengirim kepada penerima tetapi sebagai suatu

proses yang inter aktif dan konvergen (Amri Jahi, 1988: 3).

        Dalam bukunya "Communicating in Groups : Applications and Skills" Gloria

JG menjelaskan bahwa kata "komunikasi" telah digunakan dalam berbagai bentuk

oleh penulis yang berbeda. Kita menggunakan "komunikasi" untuk menunjukkan

kepada proses penciptaan, pengiriman, penerimaan, pengartian tanda atau simbol oleh

manusia Komunikasi adalah persepsi atau pandangan, interpretasi, dan tanggapan dan

orang kepada tanda atau simbol yang dihasilkan oleh orang lain. Pengertian yang

kelihatannya sederhana ini mempunyai 5 implikasi utama:

1.      Komunikasi adalah suatu proses, bukan sesuatu atau pernyataan. Proses ini

        terus berkelanjutan tanpa diketahui awal atau akhir yang jelas. Tanda atau

        simbol dari seseorang berawal dari perasaan atau pemikiran, dan tak

        seorangpun dapat menjelaskan pengaruhnya pada bagian akhir yang lain.

        Pengalaman yang dialami manusia dan tanggapan yang diberikan tidak dapat
     diduplikasi atau diulang secara persis. Pesan dapat diulang dan dipelihara

     serta tidak berubah, seperti memo atau pernyataan. Anda tidak dapat masuk ke

     dalam sungai dengan aliran yang sama dua kali, meskipun tidak terlihat

     namun kondisinya berbeda Sama halnya dengan aliran komunikasi antara

     manusia Komunikasi adalah suatu proses yang sangat kompleks karena

     melibatkan perasaan, pengertian dan pengalaman kebudayaan manusia bukan

     hanya sekedar kata-kata saja. Selama proses, seseorang mengalami persepsi

     atau   perasaan    dan    mengekspresikan      pengalaman     ini   dengan

     menerjemahkannya ke dalam kata-kata dan atau tanda-tanda non verbal.

     Ekspresi dikirimkan sebagai pulsa energi ke udara atau media lain, sehingga

     orang lain dapat merasakan dan memberikan tanggapan terhadap ekspresi itu.

2.   Komunikasi manusia adalah fenomena penerima.

     Jika Anda tidak mempunyai penerima, Anda tidak memiliki komunikasi. Bila

     Anda berbicara sementara tidak seorangpun mendengarkan, komunikasi tidak

     terjadi. Bila Anda ingin menjadi komunikator yang baik dalam kelompok,

     Anda harus memberikan perhatian kepada bagaimana Anda mendengar dan

     mengartikan daripada bagaimana Anda berbicara.

3.   Komunikasi adalah simbolis; hal ini berimplikasi baik pada keuntungan dari

     kemampuan. Ada dua kategori utama signal dari orang: tanda dan simbol.

     Tanda adalah kejadian alam yang secara otomatis berhubungan dengan yang

     diwakilinya. Simbol, bertentangan dengan tanda, adalah suatu bentuk signal

     yang dibuat oleh manusia yang dapat berubah mewakili sesuatu dengan tidak

     memiliki hubungan secara langsung maupun alami. Simbol juga mungkin

     berarti sesuatu yang tidak memiliki bentuk nyata, seperti hubungan antara
       manusia.

4.     Komunikasi antar muka (face to face) merupakan suatu proses transaksional.

       Ada 2 (dua) pengertian utama dari "transaksional" yaitu ;

       a.       Dalam    penerapannya     bahwa    komunikasi      merupakan   proses

                yang berkelanjutan dan multi direksional (berbagai arah).

       b.       Semua unsur dalam sistem komunikasi saling mempengaruhi.

5.     Membuat komunikasi yang produktif adalah tanggung jawab dari tiap anggota

       (masyarakat). Ada kecenderungan untuk saling menyalahkan apabila ada

       suatu pernyataan tidak didengar, disalah artikan, dilupakan dan diabaikan.

       Jadi setiap orang harus      tetap mengawasi bagaimana proses komunikasi

       terjadi dan menyelesaikan permasalahan seperti yang diharapkan. Hal ini

       merupakan suatu penerapan langsung dari definisi komunikasi sebagai

       transaksional, kompleks, dan simbolik.



       Pelaksanaan komunikasi bermedia dilaksanakan dengan menggunakan saluran

atau sarana untuk meneruskan suatu pesan kepada komunikan yang jauh tempatnya

serta dengan lebih dari satu komunikan. Komunikasi ini sering disebut tak langsung

dan sebagai konsekuensinya arus balik tidak terjadi pada saat komunikasi

dilangsungkan     Komunikator     tidak   dapat   langsung    mengetahui    tanggapan

komunikannya pada saat berkomunikasi. Oleh sebab itu dalam melancarkan

komunikasi bentuk ini komunikator harus matang dalam perencanaan dan persiapan

agar komunikasi itu tercapai.
2.     Komunikasi Pembangunan

       Dalam pembangunan, komunikasi ialah proses yang memungkinkan

komponen-komponen suatu sistem sosial atau sistem itu sendiri memperoleh dan

bertukar informasi yang dibutuhkan pihak lain. Sistem sosial itu memerlukan

berbagai macam informasi untuk menyesuaikan diri dan menjaga keseimbangan

dengan lingkungannya yang mungkin berubah setiap saat.

       Penyesuaian diri sistem sosial tersebut dengan lingkungannya yang telah

berubah itu yang biasanya berupa perubahan-perubahan bisa disebut sebagai

pembangunan. Dalam hubungan ini perubahan-perubahan itu boleh saja menyangkut

aspek-aspek sosial, ekonomi dan teknologi pada sistem tersebut Seringkali ke tiga

macam perubahan itu terkait satu sama lain (Amri Jahi, 1988: xiii).

       Komunikasi merupakan dasar yang menentukan bagi pengetahuan dan

kemajuan manusia Komunikasi memelihara dan menggerakkan kehidupan dan

menjadi alat untuk menggambarkan kehidupan masyarakat dan peradaban.

Komunikasi juga mengubah naluri menjadi inspirasi melalui berbagai proses dan

sistem untuk bertanya, memberitahu dan mengawasi serta dapat menciptakan suatu

tempat menyimpan bersama, memperkuat perasaan kebersamaan dengan tukar

menukar berita dan mengubah pemikiran menjadi tindakan yang menggambarkan

setiap emosi dan kebutuhan hidup yang paling sederhana sampai ke hal-hal yang

ilmiah sifatnya.

       Perkembangan dunia menjadikan komunikasi semakin kompleks dan rumit

dengan adanya usaha untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, penindasan dan

ketakutan yang akhirnya mempersatukan manusia.

       Komunikasi diabdikan pada usaha mengadakan persuasi dengan tujuan agar
dalam masyarakat dapat tumbuh dan berkembang sikap mental dan tekad, semangat,

ketaatan serta disiplin tinggi yang dapat membina kesadaran masyarakat untuk

berpartisipasi aktif dalam pembangunan demi tercapainya sukses dari tahap ke tahap

mempunyai tempat yang penting dalam pembangunan nasional.

       Persuasi di sini diartikan sebagai usaha ke arah pembangunan dan perubahan

sikap, suatu usaha yang lebih berorientasi kepada masyarakat. Dengan demikian

maka kegiatan komunikasi dan infonnasi berorientasi sukses.

       Dalam pelaksanaan pembangunan peranan komunikasi tidak dapat diabaikan.

Bahkan komunikasi merupakan faktor yang sangat menentukan pelaksanaan

pembangunan. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konsep "komunikasi

pembangunan".

       Konsep komunikasi pembangunan dapat dilihat dalam arti yang luas dan

terbatas. Dalam arti luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi

komunikasi di antara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan. Dalam

arti sempit, komunikasi pembangunan merupakan segala upaya dan cara serta teknik

penyampaian gagasan dan keterampilan-keterampilan pembangunan yang berasal dari

pihak yang memprakarsai pembangunan yang ditujukan pada masyarakat. Kegiatan

tersebut bertujuan agar masyarakat yang dituju dapat memahami, menerima dan

berpartisipasi dalam melaksanakan gagasan yang disampaikan.

       Dalam komunikasi pembangunan yang diutamakan adalah kegiatan mendidik

dan memotivasi masyarakat bukannya memberi laporan yang tidak realistik dari

fakta-fakta atau sekedar penonjolan diri. Tujuan komunikasi pembangunan adalah

untuk menuangkan gagasan, sikap mental dan mengajarkan keterampilan yang

dibutuhkan oleh suatu negara berkembang. Secara pragmatis dapatlah dirumuskan
bahwa komunikasi yang dilakukan untuk melaksanakan rencana pembangunan suatu

negara.

          Komunikasi dalam hal tersebut digunakan sebagai penunjang pembangunan.

Secara luas komunikasi penunjang pembangunan dapat didefinisikan sebagai suatu

penggunaan yang berencana sumber-sumber daya informasi dan komunikasi oleh

suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Sumber daya komunikasi tersebut

mencakup tenaga, biaya, fasilitas dan peralatan, bahan-bahan dan media komunikasi.

Suatu kemampuan komunikasi penunjang pembangunan di lingkungan suatu badan

akan      meningkatkan   kreativitas   programnya   dengan   membantu   mengubah

pengetahuan, sikap dan perilaku sifatnya dan khalayak sasaran program yang

ditujukan menurut arah yang diinginkan.



B.        Informasi Dalam Komunikasi

1.        Pengertian Informasi

          Informasi adalah unsur pokok dalam komunikasi. Informasi bukan hanya

perihal fakta dan kebenaran bahkan lebih luas lagi, yaitu tentang ruang lingkup,

proses dan penggunaan informasi itu sendiri.

          Kamus komunikasi menerangkan bahwa informasi adalah keterangan yang

membuat orang menjadi tahu atau mengerti, keterangan-keterangan yang dipakai

untuk mengambil kesimpulan, penerangan atau kegiatan dengan tujuan membuat

orang atau khalayak menjadi mengerti tentang berbagai persoalan.

Informasi juga dapat diartikan sebagai suatu hal yang memberikan pengetahuan.

Pengertian memberikan pengetahuan adalah bahwa kandungan informasi itu

menunjukkan banyaknya pengetahuan tambahan yang diperoleh dari sebuah pesan
atau informasi, sehingga tingginya kandungan informasi dalam suatu pesan

menunjukkan besarnya pengetahuan tambahan (Otto Soemarwoto, 1989: I).

Informasi sebagai salah satu unsur penting dalam komunikasi harus dinamis dengan

dialirkan pada orang lain. Informasi itu harus bergerak, mudah dimengerti, utuh dan

bulat Informasi itu menginginkan suatu respon dari penerimanya. Agar efektif maka

harus diperhatikan dan dirinci suatu sistem informasi.

2.     Penggunaan Informasi

       Perkembangan teknologi informasi pada abad ke 20 membawa manusia

menuju ke jaman yang setiap aktivitas dan kehidupannya sangat bergantung kepada

informasi. Ketergantungan itu ada sebab informasi menyajikan fakta, membangkitkan

perasaan bahkan membentuk dan menentukan arah yang kesemuanya apabila

disebarluaskan akan dapat bermanfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan umat

manusia.

       Semakin maju teknologi informasi maka semakin mudah, cepat dan murah

untuk memperoleh informasi yang diharapkan dan hal itu lebih sering disajikan

dalam berbagai bentuk yang sangat menarik. Perubahan dan perkembangan informasi

telah mengantarkan masyarakat ke arah era baru yaitu masyarakat informasi.

Informasi telah menjadi kebutuhan pokok manusia yang tak pernah habis bahkan

terus berkembang dengan jangkauan yang tak terbatas. Sebagai sumber daya,

informasi tak pernah kering, sehingga orang yang pekerjaannya menghimpun dan

mengolah informasi akan selalu menghadapi permasalahan bagaimana cara yang

sebaik-baiknya memilih, meyimpan, menemukan kembali serta mengembangkan dan

menyebarluaskan informasi tersebut kepada masyarakat.

       Sebagai negara berkembang kita di Indonesia harus mampu memanfaatkan era
masyarakat informasi untuk mempercepat proses pembangunan yang menjembatani

era tradisional agararis yang statis menuju ke masyarakat informasi atau "information

society", maka kesenjangan sosial sebagai akibat dari keberhasilan pembangunan

akan dapat diperkecil balikan dihapuskan sama sekali. Dengan kata lain bahwa

informasi bukan hanya sekedar informasi tetapi merupakan informasi yang dapat

digunakan untuk tugas-tugas pembangunan.

       Dalam bukunya yang berjudul "Sistem Informasi Untuk Penganbilan

Keputusan" Sondang P Siagian mencoba menjelaskan penggunaan informasi antara

lain sebagai berikut bahwa tidak ada kegiatan yang dilakukan di dalam dan oleh

masyarakat yang tidak memerlukan informasi. Sebaliknya semua kegiatan informasi

baik yang berguna bagi orang yang melaksanakan kegiatan tersebut maupun bagi

orang lain di luar orang yang bersangkutan.

       Karena pendapat di atas itu benar maka informasi digunakan untuk semua

macam dan bentuk kegiatan di dalam masyarakat. Lima bidang kegiatan yang

memerlukan informasi adalah :

1.     Informasi untuk kegiatan politik

       Sistem partai politik yaug dianut suatu negara, jelas menginginkan anggota

       sebanyak mungkin. Berbagai teknik dan propaganda digunakan untuk

       mempertahankan angka statistik partai kalau boleh malah angka itu semakin

       meningkat jumlahnya. Kehidupan partai dapat dikembangkan apabila elite

       politik dalam masyarakat sadar akan pentingnya informasi dan mampu

       memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.

2.     Informasi untuk kegiatan-kegiatan pemerintah

       Pemerintah memerlukan bermacam-macam informasi di dalam tugasnya,
     tidak perduli negara itu masih terbelakang, sedang berkembang atau industri

     yang sudah mapan.

3.   Informasi untuk kegiatan-kegiatan sosial

     Diperlukan informasi yang jelas atas apa saja yang sedang dilaksanakan dan

     diupayakan ditengah-tengah masyarakat. Kegiatan sosial yang dimaksud

     misalnya kegiatan KB, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

4.   Informasi untuk kegiatan-kegiatan dunia usaha

     Salah satu aspek kehidupan yang mutlak ditingkatkan mutunya adalah

     ekonomi.

     Peningkatan mutu kehidupan ekonomi pada dasarnya merupakan kewajiban

     lembaga-lembaga perekonomian. Merekalah yang melaksanakan peningkatan.

     Semua bidang di dalamnya memerlukan informasi untuk menganalisis segala

     sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan bidang usaha itu, lalu beberapa

     keputusan diambil.

5.   Informasi untuk militer

     Pada saat negara timbul sebagai satu bentuk organisasi maka setiap bidang

     dalam pemerintahan membutuhkan informasi termasuk bidang perencanaan

     maupun keamanan Aparat keamanan diperlukan tidak hanya sebagai tenaga

     perang melainkan untuk menghadapi segala bentuk gangguan (Sondang P

     Siagian, 1988:50-67).



C.   Pendayagunaan Media Penerangan

1.   Kedudukan dan Peranan Penerangan

     Persepsi   dan   antisipasi   bangsa   Indonesia   terhadap   permasalahan
pembangunan nasional dewasa ini cukup tinggi. Oleh karena itu masukan-masukan

yang telah diterima benar-benar merupakan butir-butir pemikiran yang dapat

dikembangkan di dalam usaha meningkatkan sumbangan dan darma bakti penerangan

terhadap pembangunan nasional. Arti penting dari penerangan antara lain untuk terus

menerus membangkitkan kemauan membangun segenap kekuatan bangsa. Melalui

penerangan yang sehat, rakyat bukan saja harus mengetahui tujuan dan arah

pembangunan yang akan kita laksanakan melainkan juga harus mengetahui

tantangan-tantangan apa yang dihadapi dan cara-cara bagaimana untuk mengatasi

tantangan itu agar pembangunan itu berhasil dengan baik.

       Di alam pembangunan penerangan harus mampu menjelaskan segala

pemikiran dasar bangsa kita, segala rencana, langkah dan segala permasalahan yang

dihadapi bangsa Dengan menyampaikan segala permasalahan pembangunan dan

menampung aspirasi konstruktif dan positif yang terdapat dalam masyarakat,

penerangan akan mampu mempersiapkan kondisi mental masyarakat yang penuh

dengan pengertian dan kesadaran untuk berpartisipasi aktif dan kreatif di dalam

pembangunan nasional dan sekaligus ikut memantapkan stabilitas nasional.

       Sejak Pelita I sampai VI telah dilaksanakan berbagai kegiatan Penerangan

Pembangunan dan Pembangunan Penerangan melalui program pengembangan

operasi penerangan, program pengembangan siaran radio, televisi dan film, program

pembinaan dan pengembangan pers serta program pendukung lainnya.

Landasan pelaksanaan penerangan untuk Pembangunan Lima Tahun ke-VII adalah

sebagai berikut:

       1. Landasan Idiil adalah Pancasila.

       2. Landasan Konstitusional adalah UUD 1945.
       3. Landasan Operasional adalah GBHN seperti yang ditetapkan oleh Majelis

            Permusyawaratan Rakyat melalui TAP MPR No. II/MPR/1998. Mengingat

            bahwa pedoman penerangan untuk tahun 1998 - 2003 masih belum ada

            maka

            pedoman yang digunakan adalah pedoman penerangan periode sebelumnya.

       4. Falsafah dan Etika :



a.     Falsafah Penerangan.

       Falsafah penerangan bersumber pada nilai-nilai yang tercantum dalam

Pancasila dan UUD         1945. Oleh karena itu falsafah dasar penerangan adalah

menjunjung tinggi kebebasan            bagi         setiap warga negara untuk menyatakan

pendapat        sesuai          peraturan          perundang-undangan        dan       secara

bertanggung jawab bagi kepentingan bersama. Dengan demikian penerangan

tidak akan menganut falsafah liberal maupun totaliter. Berdasarkan falsafah

tersebut     bagi   bangsa       Indonesia     informasi      merupakan     produk    budaya

sekaligus    komoditi    jasa     kreatif    dan    bukan     merupakan   komoditi    dagang

semata.

b.     Etika Penerangan

       Dalam mengaktualisasikan falsafah penerangan diperlukan adanya etika

penerangan sebagai mekanisme pengendalian dari dalam yang didasarkan atas

kesadaran. Etika penerangan tersebut meliputi hal-hal :

             1) Penerangan harus menyampaikan               kebenaran, oleh sebab    itu harus

               terbuka dan jujur. Pengembangan keterbukaan penerangan mencakup

               keterbukaan antar pemerintah, media massa, dan               masyarakat yang
               masing-masing harus menjaga tetap terpeliharanya keterbukaan sesuai

               fungsi yang melekat pada setiap unsur tersebut;

           2) Penerangan harus dipandang sebagai perwujudan komunikasi sosial

               yang informatif, edukatif dan   konstruktif Oleh sebab itu penerangan

               harus disampaikan dengan cara persuasif;

           3) Penerangan harus dipandang sebagai salah satu bentuk pengabdian

               sosial dalam rangka ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan

               memajukan negara,

       Penerangan yang paling primer adalah penerangan yang dilakukan dengan

menggunakan bahasa dan lambang-lambang. Sesuai dengan perkembangan kemajuan

teknologi masa kini digunakan pelbagai macam sarana atau media yang disesuaikan

dengan kondisi sasaran khalayak.

       Untuk menyampaikan penerangan digunakan komunikasi antara lain sebagai

berikut:

a.     Radio

       Radio bagi Indonesia merupakan media yang paling cepat dapat

       menyampaikan pesanan penerangan mengingat daya jangkaunya yang tidak

       mengenal batas geografis.

b.     Televisi

       Televisi semakin mampu menjangkau wilayah yang sangat luas dan

       merupakan salah satu media yang sangat ampuh dalam menyampaikan

       informasi karena sifat audio visualnya Namun demikian televisi harus

       senantiasa meningkatkan mutu acara siarannya sesuai dengan kemajuan

       kehidupan masyarakat
c.     Film

       Film merupakan salah    satu media yang sangat ampuh karena sifat audio

       visualnya. Mengingat masih kurangnya produk-produk film penerangan maka

       film penerangan perlu ditingkatkan.

d.     Pers

       Pers merupakan media cetak yang efektif dalam menyampaikan berita dan

       pesan pembangunan karena selain cepat juga berita dan pesannya dapat dibaca

       ulang.



2.     Sasaran Khalayak Penerangan

a.     Sasaran Dalam Negeri

       Masyarakat dengan jumlah besar dan majemuk serta bersifat bhinneka tunggal

ika mempunyai tingkat pengetahuan dan keinginan serta daya serap yang berbeda

memerlukan penyajian yang berbeda pula.

       Agar penerangan mencapai hasil baik perlu dilakukan pengkajian terhadap

aspek kehidupan dan latar belakang sosialnya. Pengelompokan di dalam masyarakat,

penggolongan dan karakteristik tiap lapisan masyarakat perlu diketahui insan

penerangan.

       Berdasarkan uraian di atas sasaran untuk penerangan dapat dikelompokkan

sebagai berikut:

1.     Masyarakat Pedesaan

       Masyarakat pedesaan yang sampai sekarang berjumlah kira-kira 80 persen

dari penduduk Indonesia pada umumnya lebih banyak merupakan masyarakat

tradisional dengan aneka ragam dan latar belakang sosial budaya yang berbeda serta
tingkat pendidikan dan kehidupan sosial ekonomi yang relatif rendah.

Karena keadaan masyarakat perdesaan yang beraneka ragam berdasarkan kelompok

sosial budayanya dalam menentukan strategi kebijaksanaan komunikasi dan

pelaksanaannya perlu diperhatikan faktor-faktor yang menentukan;

a.     Faktor yang bersifat menghambat antara lain:

               1) Pendidikan yang masih rendah yang mengakibatkan daya serap

                 yang

                 terbatas.

               2) Perbedaan sosial budaya antara komunikan dan komunikator.

               3) Tingkat pendapatan relatif rendah dan belum merata.

               4) Sarana dan prasarana fisik yang kurang sempunia

b.     Faktor yang bersifat menunjang antara lain;

               1) Penggunaan waktu yang tidak terikat oleh pekerjaan rutin yang

               ketat

               2) Gotong-royong sebagai kebiasaan.

               3) Menghargai karisma komunikator.

               4) Sifat sederhana, jujur dan terbuka

Sasaran khalayak perdesaan pada          umumnya menghendaki dan menghargai

komunikator yang memiliki ciri-ciri antara lain;

       a.      Berwibawa dan dapat dipercaya

       b.      Mengenal perasaan, mengerti harapan khalayak

       c.      Tidak mempunyai prasangka, bersifat terbuka dan jujur

       d.      Menyandang fungsi pemuka masyarakat

       e.      Berfungsi sebagai pamong desa
       f.      Mempunyai kedudukan sosial yang dihormati.



2.     Masyarakat Perkotaan

       Masyarakat perkotaan merupakan sebagian kecil dari jumlah penduduk di

Indonesia yaitu kira-kira 20 persen. Pada umumnya masyarakat perkotaan terdiri dari

berbagai suku yang terikat oleh kepentingan ekonomi ataupun kepentingan politik.

Kota merupakan pusat konsentrasi kehidupan elit ekonomi dan politik serta menjadi

pusat-pusat pendidikan. Oleh karena itu dalam masyarakat perkotaan tersebut ada

beberapa faktor yang perlu diperhatikan di dalam kegiatan penerangan yaitu;

a.     Faktor yang bersifat menghambat antara lain;

       Bagi masyarakat perkotaan di Indonesia masih terdapat kelompok besar yang

       belum mencapai taraf kehidupan yang selayaknya. Hal ini disebabkan oleh

       adanya urbanisasi yang tidak terkendalikan. Terhadap masyarakat perkotaan

       semacam itu diperlukan usaha penerangan yang bersifat khusus.

       1) Sifat individualitas yang makin menonjol.

       2) Kesibukan yang makin menyita sebagian besar waktu.

       3) Kecenderungan renggangnya hubungan kekerabatan.

       4) Makin banyaknya pengaruh yang datang dari bangsa asing.

b.     Faktor yang menunjang antara lain :

       1) Rasional dalam menggunakan waktu.

       2) Memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi

       3) Memiliki kemampuan ekonomi yang cukup.

       4) Memiliki daya      serap yang tinggi    di dalam    menanggapi masukan

            informasi.
       5) Lebih menyukai media massa dari pada media tatap muka



3.     Kebijaksanaan Penerangan

       Penerangan di Indonesia diabdikan untuk mendukung pembangunan nasional.

Dari titik tolak inilah pokok kebijaksanaan penerangan ditentukan. Dalam hal ini

GBHN Tahun 1993 yang menentukan haluan pembangunan nasional juga

menentukan haluan penerangan. Kebijaksanaan pembangunan penerangan yang

dituangkan dalam GBHN Tahun 1993 antara lain sebagai berikut:

a.     Pembangunan penerangan, komunikasi dan media massa diarahkan untuk

       makin meningkatkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan

       UUD 45 dalam semua segi kehidupan bangsa sehingga makin meningkatkan

       kesadaran rakyat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

       dalam rangka mewujudkan Wawasan Nusantara, memperkuat persatuan dan

       kesatuan bangsa,     memperkukuh Ketahanan Nasional dan memelihara

       stabilitas nasional yang   mantap dan dinamis sejalan dengan dinamika

       pembangunan dan kemajuan teknologi.

b.     Pembangunan penerangan, komunikasi dan         media massa harus mampu

       menciptakan iklim   yang dapat mendorong terjadinya interaksi timbal

       balik secara terbuka dan bertanggung jawab antar warga masyarakat dan

       antar sesama warga masyarakat dengan pemerintah dalam memperoleh

       informasi pembangunan dan hasil-hasilnya.



       Dalam    pedoman    penerangan   tahun   1993-1998    ditetapkan   berbagai

kebijaksanaan baik itu sistem, strategi, ruang lingkup operasional dan sebagainya.
Kesemuanya itu dilaksanakan dalam rangka pendayagunaan media penerangan untuk

menunjang suksesnya pembangunan.



A.     Sistem Penerangan Terpadu

       Sistem penerangan yang ada adalah "sistem penerangan terpadu" yang berarti

meningkatkan gerak langkah operasi penerangan yang dilakukan dengan kerjasama

yang lebih terarah antar aparat penerangan. Operasi penerangan terpadu meliputi

kerjasama yang erat antar unsur-unsur;

       1) Di lingkunganDepartemen Penerangan

       2) Departemen Penerangan dengan unsur penerangan pemerintah

       3) Penerangan pemerintah dengan unsur penerimaan masyarakat

Untuk lebih menjamin terwujudnya keterpaduan kegiatan penerangan perlu adanya

pokok operasi penerangan yang mencakup:

       a.     Latar belakang permasalahan

       b.     Tujuan penerangan

       c.     Materi penerangan

       d.     Pemilihan dan penggunaan media penerangan

Dengan adanya penerangan terpadu seperti diuraikan di atas akan dapat dihilangkan

setidak-tidaknya memperkecil pemborosan-pemborosan yang disebabkan karena

kesimpang siuran komunikasi. Untuk itu perlu dimantapkan sistem penerangan

terpadu yang meningkatkan terciptanya koordinasi dan sinkronisasi di segala

tingkatan.
B.     Strategi Penerangan

       Strategi penerangan suatu pola dasar pemikiran untuk mencapai tujuan yang

telah ditentukan. Konsepsi strategi penerangan diarahkan untuk mendukung

tercapainya tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 45. Hal

tersebut akan dicapai secara bertahap melalui pembangunan lima tahun yang

berkesinambungan. Setiap tahap pembangunan memerlukan partisipasi masyarakat

secara tepat dan bergairah.

       Penerangan adalah tanggung jawab antara pemerintah dan masyarakat agar

setiap warga negara memperoleh penerangan yang benar mengenai berbagai aspek

kehidupan berbangsa dan bernegara.

       Secara fungsional dan operasional di dalam masyarakat juga terdapat

lembaga-lembaga penerangan atau komunikasi sosial. Dengan demikian fungsi

penerangan dilakukan oleh seluruh sistem penerangan dan secara fungsional sebagai

penanggung jawab nasionalnya adalah Departemen Penerangan dengan didukung

oleh departemen-departemen dan lembaga-lembaga serta lembaga komunikasi

masyarakat sebagai subsistem integral.



C.     Ruang Lingkup Operasi Penerangan

       Ruang lingkup operasi penerangan mencakup seluruh masyarakat Indonesia

dengan berbagai masalah nasional yang dihadapi. Penerangan mengandung sifat

komunikatif sehingga perlu dikembangkan proses komunikasi secara timbal balik.

Karena penerangan merupakan lembaga pemerintah yang membina kehidupan

bernegara dan berbangsa maka titik awal operasi penerangan ialah kebijaksanaan

yang ditetapkan oleh pemerintah.
       Sasaran operasionalnya diarahkan untuk menanamkan pengertian seluruh

masyarakat sebagai pemberi dukungan dan berperan serta aktif terhadap

kebijaksanaan pemerintah. Sasaran khalayak adalah seluruh masyarakat Indonesia

dan masyarakat internasional karena bangsa Indonesia merupakan anggota dalam

pergaulan antar bangsa.

       Materi   operasional    berdasarkan   Pedoman      Penerangan   1993-1998

dilaksanakan sesuai sasaran khalayak yang dibuat dalam bentuk paket:

         1. Pangan

         2. Sandang

         3. Papan

         4. Pendidikan

         5. Kesehatan

         6. Lapangan pekerjaan

         7. Kependudukan dan keluarga berencana

         8. Transmigrasi

         9. Koperasi

         10.Peranan wanita dan pemuda

         11.Penggunaan hasil industri dalam negeri

         12.Pariwisata

         13.Lingkungan hidup

         14.Hemat energi

         15.Kesadaran hukum dan disiplin nasional

         16.Pertahanan dan keamanan

         17.Pemasyarakatan P4
          18.Ekspor non migas

          19.Pajak

          20.Wawasan nusantara, ketahanan nasional dan bela negara

          21.Hasil-hasil KTT nonblok

          22.CitraIndonesia ke luar negeri

          23.Pemasyarakatan pengawasan

          24.Paket penerangan khusus

Departemen Penerangan sebagai salah satu komponen dalam pembangunan nasional

ikut dalam mendukung dan mensukseskan usaha bangsa Indonesia di dalam mencapai

cita-cita perjuangan yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila

Sebagai bagian integral yang tak terpisahkan dari perjuangan bangsa. Departemen

Penerangan didirikan beberapa hari setelah Proklamasi Kemerdekaan yang memiliki

tugas dan fungsi sangat penting.

       Secara fungsional Departemen Penerangan adalah penyelenggara sebagian

tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang penerangan. Jadi komunikasi

dan informasi pada masyarakat menjadi tugas fugsional Departemen Penerangan.

Untuk itulah maka pembinaan segala macam media komunikasi massa dan

pengelolaan berbagai media massa menjadi tanggung jawab Departemen Penerangan.

Secara umum Departemen Penerangan memberi motivasi dan persuasi kepada

masyarakat dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional agar masyarakat

menjadi paham dan tersentuh hatinya untuk turut aktif dalam mensukseskan

pembangunan secara motivatif dan persuatif Departemen Penerangan memberi

informasi mengapa masyarakat dalam menghadapi berbagai situasi dalam

pembangunan.
        Selanjutnya menjadi tugas instansi-instansi sektoral dalam memberi informasi

bagaimana sesuatu hal yang persis harus dilaksanakan. Kemudian Departemen

Penerangan memberi bantuan sepenuhnya dengan perangkat keras maupun lunak

yang dimilikinya agar informasi tersebut dapat diterima oleh masyarakat sebaik-

baiknya Selanjutnya masyarakat memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar

dalam turut menjaga kelancaran jalannya komunikasi di negeri kita Dengan media,

keahlian dan pengalaman yang banyak terdapat dalam masyarakat. Masyarakat juga

diharapkan turut memberi umpan balik yang akan sangat penting artinya bagi usaha

mencapai efektivitas yang tinggi dan untuk menjaga agar semua kegiatan komunikasi

dan informasi yang kita lakukan dapat mencapai sasaran dengan tepat



D.      Media Massa Dalam Pembangunan.

1.      Pengertian Media Massa

        Leksikon komunikasi memberikan pengertian media massa sebagai "sarana

penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya

radio, televisi, dan surat kabar".

        Kata media massa berasal dari medium dan massa, kata "medium" berasal

dari bahasa latin yang menunjukkan adanya berbagai sarana atau saluran yang

diterapkan untuk mengkomunikasikan ide, gambaran, perasaan dan yang pada

pokoknya semua sarana aktivitas mental manusia, kata "massa" yang berasal dari

daerah Anglosaxon berarti instrumen atau alat yang pada hakikatnya terarah kepada

semua saja yang mempunyai sifat massif. Tugasnya adalah sesuai dengan sirkulasi

dari berbagai pesan atau berita, menyajikan suatu tipe baru dari komunikasi yang

sesuai dengan kebutuhan fundamental dari masyarakat dewasa ini.
       Media massa merupakan suatu penemuan teknologi yang luar biasa, yang

memungkinkan orang untuk mengadakan komunikasi bukan saja dengan komunikan

yang mungkin tidak pernah akan dilihat akan tetapi juga dengan generasi yang akan

datang. Dengan demikian maka media massa dapat mengatasi hambatan berupa

pembatasan yang diadakan oleh waktu, tempat dan kondisi geografis. Penggunaan

media massa karenanya memungkinkan komunikasi dengan jumlah orang yang lebih

banyak.

       Setiap jenis media massa mempunyai sifat-sifat khasnya oleh karena itu

penggunaannya juga harus diperhitungkan sesuai dengan kemampuan serta sifat-sifat

khasnya.

       Ditinjau dari perkembangan teknologi di bidang penyampaian informasi

melalui media massa, media massa dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :

   a. Media massa modern

              Yang dimaksud media massa modern adalah media massa yang

       menggunakan teknologi modern yaitu media massa cetak dan media massa

       elektronik. Media massa cetak         adalah    media massa yang          dalam

       menyampaikan informasinya terlebih dulu harus dicetak menggunakan alat

       cetak. Media massa ini misalnya surat kabar, majalah, tabloid dll.

              Media    massa    elektronik   adalah   media    massa    yang     dalam

       menyampaikan informasinya menggunakan jasa listrik.Tanpa adanya listrik

       media massa ini tidak akan dapat berfungsi misalnya radio dan televisi.

   b. Media massa tradisional

           Media yang digunakan sebagai sarana penyampaian informasi pada jaman

   dulu, lebih banyak menggunakan media massa tradisional misalnya wayang,
     lawak, lenong, seni tradisional dll.

2.      Fungsi Media Massa

        Media massa secara mandiri maupun hanya sebagai penunjang memiliki

fungsi sebagai berikut;

a.      Sebagai pemberi informasi

        Dapat dilakukan sendiri oleh media Tanpa media sangatlah mustahil

        informasi dapat disampaikan secara tepat tanpa terikat waktu.

b.      Sebagai pengambilan keputusan

        Dalam hal ini media massa berperan sebagai penunjang karena fungsi ini

        menuntut adanya kelompok-kelompok diskusi yang akan membuat keputusan

        di samping itu diharapkan adanya perubahan sikap kepercayaan norma-norma

        sosial. Oleh sebab itu dalam hal ini mekanisme komunikasi antar pribadi

        sangat berperan. Mass media berperan dalam menghantarkan informasi

        sebagai bahan diskusi, memperjelas masalah-masalah dan menyampaikan

        pesan-pesan para pemuka masyarakat.

c.      Sebagai pendidik

        Sebagian dapat dilaksanakan sendiri oleh media massa sedangkan bagian lain

        dikombinasikan dengan komunikasi antar pribadi (Eduard D, 1978:47).

        Menurut Chalkley media massa berfungsi untuk:

        1. Memberitakan tentang fakta kehidupan ekonomi masyarakat,

        2. Menginterpretasikan fakta tersebut agar dipahami oleh masyarakat itu,

        3. Mempromosikan hal tersebut agar menyadari betapa serius masalah

        pembangunan yang dihadapi dan memikirkan lebih lanjut masalah itu serta

        mengantarkan masyarakat pada solusi-solusi yang mungkin ditempuh.
Menurut Crawford peranan media massa dalam pembangunan tidaklah independen

sifatnya melainkan terbatas sebagai pemicu pembangunan bila faktor-faktor lain

terdapat secara memadai. Hal ini menunjukkan komunikasi saja bukanlah suatu

kondisi yang memadai bagi pembangunan akan tetapi kurangnya atau kegagalan

komunikasi dapat saja menghambat pembangunan. Jadi komunikasi sendirian saja

tidak akan menghasilkan pembangunan secara optimal (Depdikbud, 1997: 4)

Selain memiliki fungsi-fungsi tersebut media massa juga dapat melakukan hal-hal

lain yang dapat berperan dalam melayani tugas-tugas pembangunan antara lain :

1.     Media massa dapat memperluas cakrawala pemikiran

       Banyak orang yang hidup dalam masyarakat tradisional menganggap seolah-

       olah media massa memiliki kekuatan gaib pada waktu pertama kali mengenal

       media massa. Seorang tokoh Afrika mengatakan bahwa media memiliki

       kekuatan gaib, karena media mampu membawa seseorang ke puncak bukit

       yang tinggi tanpa melintasi cakrawala. Media memiliki kekuatan gaib karena

       kemampuannya membuat orang melihat dan mengetahui tempat-tempat yang

       belum pernah dikunjunginya serta mengenai orang-orang yang belum pernah

       ditemuinya. Dengan demikian media mampu memperdekat jarak yang jauh

       serta memperjelas hal-hal yang kabur dan menjembatani peralihan antara

       masyarakat tradisional ke arah masyarakat modern.

2.     Media massa dapat memusatkan perhati an

       Dalam masyarakat modern, gambaran kita tentang lingkungan yang jauh, kita

       peroleh dari media. Masyarakat tradisional yang bergerak ke arah modernisasi

       juga mulai menggantungkan pengetahuannya pada media massa. Akibatnya

       pemikiran-pemikiran tentang apa yang penting, berbahaya, menarik dan
     sebagainya umumnya berasal dari media massa. Surat kabar, radio dan TV

     yang berperan sebagai pengawas di berbagai tempat harus memutuskan apa

     yang tepat untuk disiarkan.

3.   Media massa mampu menumbuhkan aspirasi.

     Media massa mampu menumbuhkan aspirasi sebagaimana dinyatakan oleh

     Daniel Lerner ketika radio Kairo menjangkau desa-desa terpencil melalui

     aspirasi pribadi yang ditumbuhkan hampir seluruh ide dapat diwujudkan

     karena didukung masyarakat.

     Suatu kebijaksanaan baru akan menuntut persesuaian antara apa yang

     diinginkan masyarakat dengan apa yang mereka peroleh. Tanpa aspirasi yang

     meningkat tanpa merangsang masyarakat bekerja untuk hidup yang lebih baik

     akan bekerja sulit sekali mewujudkan pembangunan.

4.   Media massa mampu menciptakan suasana membangun

     Kita dapat menyimpulkan bahwa melalui peranan media menyebar di luar

     kelas sebagai alat pendidikan. Di tempat dimana sekolah dan guru langka

     jumlahnya, media telah membuktikan kemampuannya memikul sebagian

     besar tugas pendidikan terutama di bidang pendidikan orang-orang dewasa

     serta pemberantasan buta huruf. Media massa merupakan alat    komunikasi

     yang     dapat berfungsi untuk memotivasi perlunya partisipasi masyarakat

     dalam pembangunan. Karenanya dengan penyampaian informasi, gagasan,

     inovasi dan pendapat, media massa berusaha memberi motivasi kepada

     komunikan sehingga terjadi perubahan diri. Untuk itu media massa hendaknya

     memperhatikan hal-hal sebagai berikut;

a.   Pesan    atau ajakan yang disampaikan harus dapat menimbulkan perasaan
     tertentu pada masyarakat;

b.   Pesan atau ajakan itu hendaknya berisi lambang-lambang atau tanda-tanda

     komunikasi sesuai dengan daya tangkap, daya serap dan daya nilai sebagian

     besar masyarakat terutama golongan masyarakat yang dituju;

c.   Pesan atau ajakan itu membangkitkan kebutuhan dan keinginan tertentu pada

     sasaran dan kemudian menyarankan upaya untuk pemenuhan harapan

     masyarakat;

d.   Pesan itu membangkitkan harapan komunikan.

     Dengan    demikian pesan     yang     disampaikan    kepada komunikan dapat

     memberikan motivasi untuk berpartisipasi atau untuk mengubah diri.

     Dalam kaitannya secara khusus dengan lingkungan, berdasarkan makalah

     Koesnadi Hardjasoemantri yang berjudul “Peranan Hukum Lingkungan

     Dalam Tatanan Masa Depan Indonesia", media massa merupakan salah satu

     pendukung     lingkungan    dalam     meningkatkan   kesadaran   lingkungan

     masyarakat. Peranan media massa sendiri adalah sebagai sarana sosialisasi

     peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan lingkungan hidup

     dengan tujuan agar masyarakat memahami hak dan kewajibannya Bentuk

     sosialisasinya adalah dengan mengadakan rubrik berkala untuk media cetak,

     misalnya setiap bulan, tentang peraturan lingkungan hidup, maupun media

     elektronikanya, termasuk radio, melalui acara berkala, misalnya setiap bulan,

     tentang peraturan lingkungan hidup.



3.   Media Massa Dalam Pembangunan

     Peranan media massa dalam pembangunan nasional adalah sebagai agen
pembaharu (agent of social change) atau membantu memperkenalkan perubahan

sosial. Dalam hal ini media massa dapat dimanfaatkan untuk merangsang proses

pengambilan keputusan, memperkenalkan usaha modernisasi dan membantu

mempercepat proses peralihan masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat yang

modern serta menyampaikan pada masyarakat program-program pembangunan

nasional.

       Proses terjadinya perubahan dapat berjalan lambat atau cepat seperti yang

ditujukkan oleh sejarah. Kontak antar budaya yang berbeda menimbulkan perubahan-

perubahan pada kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan secara berangsur-angsur.

Perubahan dapat pula terjadi dengan cepat manakala bangsa penakluk memaksakan

pola budaya mereka pada bangsa yang dikalahkan.

      Jenis perubahan yang diinginkan oleh sebagian besar bangsa-bangsa adalah

perubahan yang lebih cepat daripada perubahan sejarah, lebih lunak dari proses yang

dilakukan secara paksaan. Pembangunan diharapkan terlaksana secara sukarela dan

setiap individu dapat mengambil bagian di dalamnya dan informasi tentang

pembangunan diterima secara merata. Sikap paksaan dalam pembangunan diganti

oleh sikap membujuk dan memberikan kesempatan partisipasi pada setiap anggota

masyarakat di samping itu arus informasi ditingkatkan. Ada 3 dimensi efek

komunikasi massa yaitu :

      1. Kognitif meliputi kesadaran belajar dan tambahan pengetahuan

      2. Afektif berhubungan dengan emosi, perasaan dan atitud (sikap)

      3. Konotatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu

      menurut cara tertentu.
Meskipun dimensi-dimensi efek di dalam berhubungan satu sama lain ketiganya juga

mendapatkan satu sama lain mereka terjadi dalam berbagai sekuen dan perubahan

dalam satu dimensi tidak perlu diikuti oleh perubahan dalam dimensi lainnya sebagai

bentuk meningkatnya pengetahuan tentang suatu isu tidak selalu diikuti oleh

perubahan (Amri Jahi, 1988: 17)

       Pada dasarnya mekanisme suatu perubahan sifatnya sederhana. Pertama,

penduduk harus disadarkan akan arti penting suatu perubahan yang tak mungkin

terwujud dengan mengandalkan kebiasaan-kebiasaan dan sikap sekarang. Kedua,

perubahan itu harus ditunjang oleh sikap-sikap yang dekat sekali dengan usaha

pemenuhan kebutuhan. Setiap bangsa yang ingin meningkatkan proses pembangunan

harus menyadarkan seluruh masyarakatnya akan arti penting pembangunan dan

memberi kesempatan pada mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka di alam

pembangunan. Selain itu memberikan fasilitas pada proses pengambilan keputusan

serta membantu masyarakat mengenal kebiasaan-kebiasaan baru secara lancar

sehingga mereka cepat merasakan hasilnya.

       Memang harus kita akui bahwa di jaman Orde Baru ini peranan media massa

sangat besar namun masih mempunyai kelemahan-kelemahan dalam menunjang

pelaksanaan pembangunan bangsa dan negara yaitu;

       Prasarana dan sarana media massa yang digunakan akan menjadi tidak berarti

jika khalayak yang dituju tidak dapat menerima pesan-pesan pembangunan yang

disampaikan oleh karena terbatasnya daya jangkau media dan keterbatasan

kepemilikan media massa.

       1.     Beragamnya bahasa yang digunakan sebagai pengantar di suatu

              wilayah. Hal ini menjadi kendala dalam usaha menjangkau lebih
               banyak lagi masyarakat yang dapat menerima informasi yang

               bermanfaat dalam usaha pembangunan.

      2.       Masyarakat yang menerima informasi sangat beragam tingkat

               pendidikan dan atitudnya sehingga. pesan-pesan pembangunan yang

               harus disampaikan oleh media massa dibentuk sedemikian rupa

               sehingga menjadi mudah untuk dipahami supaya dapat menimbulkan

               perubahan atitud dan perilaku,

Dengan     demikian secara prinsip kita dapat menyimpulkan         peranan     media

komunikasi massa dalam pembangunan yaitu; Media massa merangsang proses

pengambilan keputusan.

      1. Media massa dapat memperkenalkan usaha-usaha modernisasi             dengan

           tujuan mengubah kebiasaan, sikap, pola pikir yang jelek menjadi baik.

      2. Media massa sebagai alat penyampaian pada masyarakat program-program

           pembangunan nasional (Eduard D, 1978).
                                     BAB III

      PERANAN MEDIA KOMUNIKASI (RADIO SWASTA) DALAM

      MENINGKATKAN KEPEDULIAN MASYARAKAT TERHADAP

             LINGKUNGAN DI KOTAMADYA YOGYAKARTA



A.     Radio Siaran Swasta

1.     Pengertian Radio Siaran Swasta

       Radio siaran swasta atau radio siaran swasta niaga sering pula disebut sebagai

radio siaran non-pemerintah. Hakikatnya, kedua istilah tersebut mempunyai arti sama

yaitu radio siaran yang berbadan hukum, dimiliki dikelola atau diselenggarakan oleh

pihak swasta (non-pemerintah) serta berkedudukan di wilayah Negara Republik

Indonesia.

       Pengertian radio siaran sendiri menurut Pasal 1 huruf (a) Peraturan

Pemerintah No. 55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran Non Pemerintah adalah :

"Pancaran radio yang langsung ditujukan kepada umum dalam bentuk suara dan
mempergunakan gelombang radio sebagai media"


Persatuan Siaran Swasta Niaga Indonesia (PRSSNI) mendefinisikan radio siaran

sebagai :

"Transmisi suara telefoni radio untuk penerangan langsung oleh umum" (PRSSNI,
1980 : 110)


       Peraturan pemerintah di atas menghendaki agar radio siaran swasta berbadan

hukum yaitu berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Dari bentuk Perseroan Terbatas ini,

dapat disimpulkan bahwa tujuan radio siaran swasta adalah mengejar keuntungan. Di

lain pihak, Peraturan Pemerintah tersebut juga mengharuskan radio siaran swasta
berfungsi sosial, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) yaitu bahwa radio

siaran swasta harus dapat juga berfungsi sebagai alat pendidik, alat penerangan, dan

sebagai alat hiburan bagi masyarakat. Karena itu di samping mengudarakan siaran-

siaran yang bersifat komersial, pola siaran radio siaran swasta harus juga meliputi

juga bidang pendidikan, penerangan, dari hiburan.

       Paling tidak, salah satu dari tiga bidang tersebut harus masuk dalam pola

siaran RSS. Hal ini diatur dalam Pasal 4 PP No. 55 Tahun 1970.



2.     Perjalanan Radio Siaran Swasta

       Perjalanan radio siaran swasta di Indonesia telah cukup panjang, bahkan lebih

pan jang dari sejarah Radio Republik Indonesia (RRI). Radio yang dikelola pihak

swasta di Indonesia mulai dikenal sejak jaman penjajahan Belanda di tahun 30-an

(MAVRO=Mataramche Vereeniging Voor Radio Oomroep, SRV = Solosche Radio

Vereeniging, VORO = Vereeniging Voor Oosterse Radio Oomroep dll). Pada jaman

ini dikenal pihak swasta asing dan swasta nasional. Pihak swasta asing umumnya

mempergunakan radionya untuk kepentingan dagang. Sementara pihak pemuka

Indonesia   mempergunakan      radionya     sebagai   senjata    terselubung   untuk

memperjuangkan pergerakan nasional.

       Radio siaran swasta memasuki babak baru pada masa pergerakan mahasiswa

(Angkatan 66). Pada masa ini, radio menjadi alat perjuangan bawah tanah satu-

satunya setelah media massa dilarang melaporkan segala berita kegiatan aksi

mahasiswa di awal Orde Baru itu. Meskipun untuk itu para mahasiswa tersebut

melakukan siaran secara berpindah-pindah.

       Setelah melewati masa-masa heroik, muncullah berbagai radio siaran yang
cenderung berlindung dibalik nama "amatir". Ini untuk menghindari agar tidak dicap

sebagai pemberontak oleh Pemerintah Orde Lama. Karena dimotori oleh para

amatiris murni, banyak radio siaran yang mengadakan dua kegiatan. Pada siang hari

melakukan siaran atau pada malam hari mengadakan hubungan QSO (ngebreak).

Pengertian amatir semakin menjadi kabur setelah memasuki jaman Orde Baru yang

membuka peluang lebar-lebar bagi berdirinya radio siaran di Indonesia. Hal ini

mendorong diadakannya pertemuan bagi para tokoh radio amatir. Pada pertemuan di

Jakarta bulan Desember 1966, disepakati berdirinya Persatuan Amatir Radio Djakarta

(PARD), Saat itu pemakaian gelombang radio belum tertib sehingga keluar PP No.

21/26 tentang Radio Amatir, yang pada Pasal 1-nya memberi batasan bahwa :

"Radio Amatir adalah mereka yang mempunyai hobi dalam bidang radio elektronika
pada umumnya dan komunikasi dua arah pada khususnya, yang
mempergunakan radio amatirisme sebagai wadah"


       Maka pada bulan Juli 1968 berdirilah Organisasi Radio Amatir Indonesia

(ORARI) yang menjadi wadah bagi radio amatiris murni nasional.

Batasan yang jelas mengenai radio siaran muncul setelah pemerintah mengeluarkan

PP No. 55 Tahun 1970 yang menjadi landasan hukum bagi penyelenggaraan radio

siaran oleh swasta. Dengan keluarnya PP ini siaran radio menjadi semakin tertib dan

profesional. Mereka mulai memasuki dunia bisnis (komersial) dengan menerima

iklan-iklan. Selanjutnya, persaingan mulai merambah radio siaran swasta. Ada

kalanya persaingan itu menjadi tidak sehat. Hal ini yang pada akhirnya mendorong

berdirinya Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Niaga Indonesia (PRSSNI) pada

17 Desember 1974 di Jakarta
3.     Pengaturan Siaran Radio Swasta

       Radio merupakan sarana komunikasi yang penting dan strategis mengingat

bebagai keunggulan yang dimiliki radio, seperti sifat auditif dan akrab. Oleh karena

itu pengaturan yang jelas mengenai radio siaran swasta mutlak diperlukan.

Sampai saat ini beberapa hal mendasar yang diatur mengenai radio siaran

swasta adalah sebagai berikut :

a.     Syarat-syarat Mendirikan Radio Siaran Swasta

Berdasarkan       ketentuan   PP   No. 55 Tahun 1970, syarat-syarat untuk mendirikan

RSS adalah :

1. Berbentuk badan hukum PT. (Perseroan Terbatas) untuk komersial.

2.   Penanggung jawab harus Warga Negara Indonesia dan berpartisipasi aktif dalam

     organisasi serta mentaati peraturan tentang radio siaran.

3.   Radio siaran harus berfungsi sosial sebagai alat pendidik, alat penerangan, dan

     alat hiburan serta bukan untuk kegiatan politik.

4.   Angggaran       Dasar    Badan   Hukum       harus   mendapat   pengesahan    dari

     Departemen        Kehakiman        setelah     mendapat     pertimbangan      dari

     Departemen Penerangan.

5.   Pengurus dari anggota radio siaran swasta tersebut tidak terlibat G 30 S/PKI atau

     organisasi      terlarang     lainnya    secara      langsung    maupun      tidak

     langsung.

6.   Membela, mendukung, menegakkan dan melestarikan Pancasila dan UUD 1945.

7.   Pengurus tidak berstatus pejabat pemerintah yang berdinas aktif

8.   Penyelenggaraan bukan anggota pengurus sesuatu organisasi politik atau

     organisasi massa.
9.   Modal harus modal nasional.

10. Alamat radio siaran harus tetap.

11. Mempunyai dan memasang papan nama dengan identitas untuk kantor,

     studio, dan instansi lainnya.

12. Harus membayar pajak

13. Penangggung jawab disebutkan dalam akte pendirian P.T. atau karyawan yang

     diangkat dengan Akte Notaris.

14. Penanggung jawab Badan Pembina Siaran menjadi salah satu eselon

     pimpinan.



b.      Program Siaran

        Berdasarkan ketentuan PP No. 55 Tahun 1970 Pasal 4 ayat (1) dan peraturan

pelaksanaan lainnya maka pola siaran radio siaran swasta harus mencerminkan unsur

:

1. Penerangan

2. Pendidikan

3. Hiburan

Dalam prakteknya masih ada unsur ke-4 yaitu; iklan atau lain-lain.



c.      Frekuensi Siaran.

        Berdasarkan SK Menteri Perhubungan No. SK/25/T/1971 Pasal 5 dan 6 yang

kemudian diubah dan ditambah melalui SK Menteri Perhubungan No. KM.262/PT

307/Phb - 82 disebutkan bahwa gelombang yang dipergunakan dalam penyiaran

terbagi atas :
1. Gelombang Menengah, dengan lebar frekuensi 535 - 1605 KHz.

2. Gelombang Modulasi Frekuensi, antara 100 - 108 MHz.



       Selain syarat-syarat tersebut di atas, masih terdapat syarat-syarat yang harus

dipenuhi radio siaran swasta untuk menyelenggarakan siaran radio. Syarat-syarat itu

meliputi persyaratan bidang teknik, bidang sarana fisik, dan bidang administrasi.

Semua persyaratan itu harus dipenuhi sesuai dengan apa yang telah ditentukan.

       Radio siaran swasta juga harus mematuhi kode etik siaran dalam

mengudarakan program siarannya. Dalam hal ini, Departemen Penerangan dengan

dibantu PRSSNI berhak melakukan pengawasan. Jika ada radio siaran swasta yang

melanggar ketentuan, Departemen Penerangan yang bertugas juga sebagai Badan

Pembina Radio Siaran Swasta dapat memberi sanksi.

       Sanksi di sini dapat berupa teguran atau peringatan tertulis sampai 3 kali,

sanksi pencabutan rekomendasi atau pencabutan ijin siaran jika teguran tidak

diindahkan dan sanksi hukum berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang

berlaku. Dalam prakteknya seringkali sebelum mengeluarkan teguran tertulis,

Departemen Penerangan memberi teguran secara lisan. Hal ini dilakukan sehubungan

dengan tugasnya sebagai pembina memberikan bimbingan, pengarahan, pengawasan

dan perlindungan terhadap pertumbuhan radio siaran swasta di Indonesia.



B.     Radio Siaran Swasta di Yogyakarta

1.     Keberadaan Radio Siaran Swasta di Yogyakarta

       Yogyakarta, yang terdiri dari satu Kotamadya dan empat Kabupaten yaitu

Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Gunung
Kidul, merupakan wilayah yang luas. Untuk mengantarkan dan menyebarkan pesan-

pesan pembangunan kepada masyarakat di tempat yang tersebar luas, seperti di

daerah perdesaan secara serentak dan dengan kecepatan tinggi serta biaya murah

maka media yang mempunyai kemampuan besar di samping televisi adalah radio.

       Pihak swasta juga diberikan kesempatan untuk mendukung usaha itu, selain

RRI yang dikelola oleh pemerintah. Walaupun pada mulanya radio siaran swasta itu

berdiri hanya untuk sekedar hobi dan alat ekspresi diri, serta bertujuan menggalang

persatuan dalam perjuangan. Namun dalam perjalanan selanjutnya, radio siaran

swasta ini terbukti sangat efektif untuk penyebar luasan informasi kepada masyarakat.

Hingga saat ini untuk wilayah Yogyakarta telah berdiri sejumlah RSS yaitu :

a.     Wilayah Kotamadya Yogyakarta;

              1. Radio Arma Sebelas (AM 186/12 KHZ)

              2. Radio Mataram Buana Suara (AM 864/12 KHZ)

              3. Radio PTDI Kota Perak (AM 954/12 FOE)

              4. Radio Suara Istana (AM 1152/12 KHZ)

              5. Radio Esti Mada Cita (FM 98.10/MHz)

              6. Radio Geronimo (FM 105.8/300 MHz)

              7. Radio Retjo Buntung (FM 100.5/300 MHz)

              8. Radio Prima Unisi (FM 104.75/300 MHz)

              9. Radio Yasa Sindi Kalyana (FM 104.40/MHz)

b.     Wilayah Kabupaten Baatul;

              1. Radio Rasia Lima (AM 702/12 KHZ)

              2. Radio Persatuan (FM 93.90/300 MHz)
c.         Wilayah Kabupaten Sleman;

1.         Radio PTDI Medari (Mi 1044/12 KHZ)

2.         Radio Biwara Kirana Mataram (FM 99.85/300 MHz)

3.         Radio Rakosa (FM 106.5/300 MHz)



d.         Wilayah Kabupaten Kulonprogo ;

                  1. Radio Suara Indrakila(AM 720/12 KHZ)

                  2. Radio Andalan Muda (AM 900/12 KHZ)



e.         Wilayah Kabupaten Gunungkidul;

           Radio Gema Cecya Dhaksinarga (FM 104.05/300 MHz)



2.         Segmentasi

           Segmentasi atau sering disebut segmentasi pasar adalah suatu kegiatan

membagi-bagi pasar (pendengar) yang bersifat heterogen dari suatu produk (iklan,

liputan dll) ke dalam satu segmen pasar yang bersifat homogen (Basu Swastha, 1996:

65). Hal ini berkaitan erat dengan kelangsungan hidup RSS dari sisi ekonomis sebab

masukan dana yang terbesar adalah dari iklan produk dan sejenisnya. Di sisi lain RSS

sangat membutuhkan pendengar sebagai target iklan sehingga untuk menarik

perhatian dan minat segmen pendengar tertentu maka komposisi acara yang disajikan

disesuaikan dengan selera segmen itu.

           Pembagian segmen yang paling sering digunakan adalah faktor demografi

seperti:

a.         Distribusi penduduk secara regional, misalnya; Jawa, Sumatra, Bali dll.
b.     Kepadatan penduduk, misalnya; Kota, Desa, Tepian kotadll.

c.     Usia, misalnya ; Balita, 15-25 tahun dll.

d.     Jenis Kelamin, misalnya ; Pria dan Wanita

e.     Siklus kehidupan keluarga, misalnya; Baru menikah, sudah punya anak dll.

f.     Suku, misalnya; Jawa, Batak, Melayu dll.

g.     Kebangsaan, misalnya; Arab, Amerika, Jerman, Indonesia dll.

h.     Pendidikan, misalnya; SD, SLTP, SLTA, Sarjana dll.

i.     Pekerjaan, misalnya; Petani, Mahasiswa, Pedagang dll.



3.     Komposisi Acara Siaran

       Acara siaran masing-masing radio swasta tergantung kepada profil pendengar

atau segmentasi dan ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai format atau

bentuk siaran baik oleh undang-undang maupun peraturan pelaksanaannya. Sebagai

akibat dari segmen radio siaran swasta yang berbeda-beda maka materi-materi yang

disajikan pun berbeda antara radio siaran swasta yang satu dengan yang lain.

       Berikut ini adalah sampel penelitian yang dipilih berdasarkan pengetahuan

penulis memiliki program atau acara yang berkaitan dengan lingkungan disertai

beberapa tinjauan seperti latar belakang berdirinya, gelombang frekuensi, segmentasi,

dan komposisi acara-acara. beberapa radio swasta yang mendukung tujuan dan

maksud penelitian.
C.     Radio Retjo Buntung (FM)

1.     Latar Belakang

       Nuansa yang muncul pada saat awal berdirinya Radio Retjo Buntung tidak

terlepas dari kondisi masyarakatnya waktu itu. Hobi yang berkembang di kalangan

pemudanya pun juga terpengaruh oleh mode yang sedang mendunia saat itu. Tercatat

ada 2 hobi yang berkembang sangat menonjol pada dekade 60-an khususnya di

bidang elektronika. Ada kelompok yang suka berkomunikasi radio dan ada juga yang

suka bereksperimen. Dalam bidang siaran radio. Kedua-duanya berkembang dengan

baik dan akhirnya mempunyai wadah sendiri. Yang pertama memiliki ORARI dan

yang terakhir memiliki nama PRSSNI.

       Kesempatanlah yang mendorong sekelompok pemuda di Jalan Jagalan 42

Yogyakarta pada tanggal 6 Maret 1967 untuk mendirikan sebuah pemancar radio dan

dengan menggunakan perangkat pemancar yang diusahakan oleh saudara Purnomo,

saat itulah pertamakali Radio Retjo Buntung mengudara di kota Yogyakarta.

       Tanggal 9 Maret 1967 siaran diboyong ke lokasi yang dianggap lebih

representatif dari menggunakan nama Retjo Buntung. Inilah tanggal bersejarah yang

akhirnya ditetapkan sebagai berdirinya Radio Retjo Buntung Yogyakarta.

       Adapun kru saat itu adalah : Aris Yudanto, Purnomo, Herdaru P.R, Arif

Yudarmanto, dan Suliarjo. Gelombang siaran yang dipakai pada saat itupun berubah-

ubah sesuai evaluasi teknisnya yakni dari gelombang 50 M ke 120 M, pindah lagi ke

107,3 M. Kode pengenal yang diberikan oleh Pemerintah c.q Tim Pengawas Radio

Amatir Jateng-DIY dan Dewan Telekomunikasi kepada Radio Retjo Buntung adalah

PKJ PPD 12 studio II. Dari 58 stasiun yang mengudara saat itu yang mengajukan ijin

siaran sebanyak 17 buah dan setelah selesai diseleksi tinggal 12 studio.
       Berbicara format siaran tentu masih sangat sederhana. Multi segmen adalah

ciri pokoknya. dimaksudkan untuk melayani semua lapisan masyarakat Meski

demikian kelebihan Retjo Buntung saat itu sudah sangat kentara dengan warna

budaya daerah Jawanya. Bulan Desember 1967 siaran sudah mempergunakan call

box dan dibentuk pengurus pertamanya:

       1. Penanggung jawab : S. A Djureimi

       2. Kepala Studio     : Aris Yudanto

       3. Kabag Siaran      : Herdaru Puniawannan

       4. Kabag Adm         : Darussalam

       5. Bendahara         : Suyachman

       6. Teknik            : Sudi dan Isutiyar



       Tanggal 20 Februari 1968 dibentuk Yayasan Suara Mataram sebagai

pengelola Radio Retjo Buntung dituang dalam akta Nomor 24 oleh notaris sementara

R.M Soerjanto Partaningrat, SH sebagai jawabaa anjuran Pemerintah bahwa radio

siaran swasta saat itu harus berbadan hukum. Tercatat pula nama Habib Bari sebagai

senior yang secara suka rela ikut memberikan training kepada para penyiar Retjo

Buntung agar lebih berkarakter profesional. Akte pendirian PT. Radio Retjo Buntung

juga dibuat oleh notaris Soerjanto Partaningrat dengan Nomor 2 tanggal 3 Mei 1971

kemudian dikukuhkan dengan Surat Penetapan dari Departemen Kehakiman RI lewat

SK Nomor Y.A 5/372/16 tanggal 12 September 1977.

       Untuk menghidupi siaran, waktu itu tidak ada sama sekali subsidi dari

pemerintah hanya dari iklan-iklan lokal dan dana intern. Investasi awal perusahaan

direalisasi pada. tahun 1974 dengan mewujudkan bangunan studio berlantai 3 di Jalan
Jagalan 36 (dh.42) berikut perangkat: keras maupun lunaknya.

       Prestasi dari sebuah kerja keras tim akhirnya berbuah juga dengan diraihnya

puncak ranking popularitas Radio Siaran Swasta Nasional di Yogyakarta sejak tahun

1978,1979, 1980, 1984, 1987, 1990-1991 oleh S. R. L Tidak lengkap pula apabila tak

disebutkan prestasi yang prestisius di tahun 1988 dengan diperolehnya penghargaan

dari Bussiness Initiative Direction (BID) berupa international Golden Circle for

Quality yang diterima langsung oleh Aris Yudanto, S.H sebagai Direktur PT. Radio

Retjo Buntung di kota Madrid, Spanyol pada tanggal 15 Juli 1988.

       Kelebihan layanan yang menjadi ciri era kompetisi dekade 80-an telah

menjadi salah satu pertimbangan manajemen PT. Radio Retjo Buntung untuk

memilih FM sebagai lahan siarannya.

       Tanggal 1 Januari 1992 resmi siaran di frekuensi 100.55 Mhz, meninggalkan

frekuensi lamanya AM 1062 Khz dengan tetap memilih “Keluarga” sebagai segmen

utamanya dengan ciri kedaerahan dan mengangkat slogan sebagai radio yang

melestarikan budaya bangsa.
2.   Segmentasi (Profil Pendengar) Terbagi atas :

     U                 15 – 19 tahun                15 %

     S                 20 – 29 tahun                25 %

     I                 30 – 40 tahun                40 %

     A                 40 tahun ke atas             20 %

     Pendidikan        SD                           5%

                       SLTP                         20 %

                       SLTA                         25 %

                       PT                           50 %

     Profesi           Pelajar/Mahasiswa            35 %

                       Karyawan dan Profesional     30 %

                       Ibu Rumah Tangga             25 %

                       Lain-lain                    10 %

     Sosial Ekonomi    Golongan Atas                20 %

                       Golongan Menengah            60 %

                       Golongan Bawah               20 %

     Jenis Kelamin     Pria                         45 %

                       Wanita                       55 %

     Sumber : Data Primer 1997/1998
3. Komposisi Acara

a.    Lamanya Waktu Siaran

      Waktu                          : 04.00 – 24.00 WIB

      Jam Siaran Perhari             : 20 Jam = 1200 menit

      Jam Siaran Perminggu           : 8400 menit



b.    Klasifikasi Siaran Perminggu

      I.      Penerangan             : 27 %

      II.     Pendidikan             :8%

      III.    Hiburan                : 46 %

      IV.     Lain-lain              : 19 %



c.    Rincian Materi

      I–      Siaran Penerangan               : 27 %

              Jumlah menit perminggu          : 2260 menit
Program Acara      Jam Siar      Hari          Waktu      Jumlah
Berita Sekilas     05.00-05.10   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
WartaBerita        06.00-06.15   Senin-Minggu 15 menit    105 menit
Warta Berita       07.00-07.15   Senin-Minggu 15 menit    105 menit
Varia Nusantara    09.00-09.15   Senin-Minggu 15 menit    105 menit
Berita Olah Raga   11.00-11.10   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
Sari Berita        12.00-12.10   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
Warta Berita       13.00-13.10   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
Fokus Berita       14.00-14.10   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
Berita Olah Raga   15.00-15.10   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
Warta Berita       19.00-19.15   Senin-Minggu 15 menit    105 menit
Berita Ekonomi     20.00-20.10   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
Berita Daerah      20.30-20.40   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
Aneka Berita       22.00-22.15   Senin-Minggu 15 menit    105 menit
Berita Asean       23.00-23.10   Senin-Minggu 10 menit    70 menit
Biwara RB          08.00-08.15   Senin-Sabtu   15 menit   90 menit
Bursa Harga        15.00-16.00   Jum'at        45 menit   45 menit
Liputan SCTV       18.00-19.00   Senin-Minggu 45 menit    315 menit
Sekilas Warta      11.00-12.00   Senin-Minggu 45 menit    315 menit
Sekilas Warta      17.30-18.00   Senin-Minggu 30 menit    210 menit
Selingan                         Senin-Minggu 20 menit    140 menit

Total Waktu                                               2260 menit
II-    Siaran Pendidikan           :8%

       Jumlah menit perminggu      : 630 menit

       Program Acara            Hari              Waktu         JiimUh
       Tanya Dokter             Senin & Selasa 15.00-16.00      40 menit
       Obrolan mBah Guno        Selasa            22.00-22.15   15 menit
       Kirana Wanodya           Senin-Minggu      12.00-13.00   30 menit
       Lentera Rohani           Senin-Minggu      05.00-05.35   25 menit
       Mimbar Agama Islam       Kamis             21.00-21.15   15 menit
       Mimbar Agama Katolik Minggu                08.00-08.15   15 menit
       Mimbar Agama Kristen Minggu                21.00-21.15   15 menit
       BinaSiswa.               Jum'at            21.15-22.00   30 menit
       Kita dan Problema        Rabu              15.00-16.00   45 menit
       Apresiasi Wayang         Kamis             21.15-22.00   30 menit
       Total Waktu                                              630 menit




III-   Siaran Hiburan              : 46 %

       Jumlah menit perminggu      : 3860 menit

       Program Acara            Hari              Waktu         JiimUh
       Siapa Pemiarsa           Senin & Selasa 15.00-16.00      40 menit
       Gita Pagi                Selasa            22.00-22.15   15 menit
       Gelar Gita               Senin-Minggu      12.00-13.00   30 menit
       Yogyakarta Top Hits      Senin-Minggu      05.00-05.35   25 menit
       Info Indonesia 9         Kamis             21.00-21.15   15 menit
       Infotainment             Minggu            08.00-08.15   15 menit
       Puspa Ragam              Minggu            21.00-21.15   15 menit
       Pembacaan Buku           Jum'at            21.15-22.00   30 menit
       Top Goja                 Rabu              15.00-16.00   45 menit
       Tembang Nostalgia        Kamis             21.15-22.00   30 menit
      Info RB Top Ten      Rabu     21.00-21.15   15 menit


      Album RB             Rabu     21.15-22.00   30 menit


      Melati               Rabu     22.00-24.00   80 menit


      Info Top Goja        Selasa   21.00-21.15   15 menit


      Indonesia 9          Selasa   21.15-22.00   30 menit


      Campur Sari          Selasa   22.15-24.00   60 menit


      Lesehan              Senin    22.00-24.00   80 menit


      RB Top Ten           Senin    21.15-22.00   30 menit


      Sandiwara Bahasa Jawa Kamis   15.00-16.00   30 menit


                           Minggu   21.15-22.00   30 menit


      Nuansa Gita          Kamis    22.00-24.00   80 menit


      Malancong            Jumat    22.00-24.00   60 menit


      Aksi radio           Sabtu    21.00-22.00   45 menit


      Kencan               Sabtu    22.00-24.00   80 menit


      Total Waktu                                 3860menit




4. Susunan Acara
a.   Harian :

     05.05 Lentera Rohani

     05.35 Sapa Pemirsa

     08.15 Gita Pagi

     10.00 Pengumuman

     10.15 Gelar Gita

     11.00 Sekilas Warta

     13.15 Puspa Ragam

     16.00 Sekilas Warta

     16.15 Aneka Citra Kuiz

     17.00 Pengumuman

     17.15 Pos Rileks

     17.30 Sekilas Warta

     18.00 Liputan6 SCTV

     19.15 Radio Go-go



b.   Mingguan :

     Senin 08.00 Biwara RB

            15.00 Tanya Dokter

            21.00 Infotainment

            21.15 RB Top Ten

            22.00 Lesehan

     Selasa 08.00 Biwara RB

            15.00 Tanya Dokter
      21.00 Info Top Goja

      21.15 Indonesia 9

      22.00 Obrolan Mbah Guno

      22.15 Campur Sari

Rabu 05.00 Biwara RB

      15.00 Kita & Problema.

      21.00 Info RB Top Ten

      21.15 Album RB

      22.00 Melati

Kamis 08.00 Biwara RB

      15.00 Sandiwara Bahasa Jawa

      21.00 Mimbar Agama Islam

      21.15 Apresiasi Wayang (minggu I: Wayang Kulit)

      22.00 Nuansa Gita

Jumat 08.00 Biwara RB

      14.00 Yogyakarta Top Hits

      15.00 Bursa Harga

      21.00 Info Indonesia 9

      21.15 Bina siswa

      22.00 Malancong

Sabtu 08.00 Biwara RB

      15.00 Pembacaan Buku

      21.00 Aksi Radio

      22.00 Kencan
     Minggu 08.00 Mimbar Agama Katolik

            13.15 Top Goja

            15.00 Pembacaan Buku

            21.00 Mimbar Agama Kristen

            21.15 Sandiwara Bahasa Jawa

            22.00 Tembang Nostalgia



5.   Program Acara Lingkungan.

a.   Nama acara    :    1.       Biwara RB

                        2.       Iklan layanan masyarakat.

b.   Bentuk sajian :    1.       Liputan reporter.

                        2.       Rekaman. kaset

                        3.       Adlips

c.   Bahan sajian :     Deutche Welle Jerman
D.    Radio Unisi (FM)

I.    Latar Belakang

      Awal keberadaan radio siaran swasta di tahun 1966 bersamaan dengan aksi-

aksi mahasiswa menentang orde lama. Radio siaran tersebutlah merupakan pusat

komando terhadap gerakan aksi di saat itu. Di Yogyakarta muncul radio ARMA

SEBELAS (radio yang dipelopori para laskar 66, nama itu diambil dari tokoh

angkatan 66 yang gugur dalam aksi Aries Margono) dan juga radio YASIKA AK2

dipelopori pasukan RPKAD dan para remaja masjid Karangkajen.

      Setelah munculnya radio para mahasiswa dari laskar angkatan 66 inilah, radio

siaran swasta merebak didirikan oleh para anak-aaak muda, instansi, lembaga,

sekolah, perguruan tinggi, dan kelompok-kelompok masyarakat.

      Tahun 1969 mahasiswa Universitas Islam Indonesia juga mulai mencoba

membuat radio siaran dengan nama CAMPUS BROADCASTING STATION atau

disingkat GBS. Studio siarannya bertempat di salah satu ruangan kampus UII Jalan

Cik Ditiro. Pada awal siaran CBS lebih banyak memainkan musik-musik sedangkan

frekuensi siarannya 119 Meter Band SW. Pemancar yang digunakan berkekuatan 75

Watt output. (807x1 untuk Final Transmitter sedangkan Modulasi 6L6x2). Antena

dipasang dengan menggunakan dua bambu di sudut halaman.

      Tahun 1970 menyadari semakin banyaknya siaran radio swasta yang didirikan

di berbagai kota besar maka pemerintah merasa perlu pengaturan dan pembinaan.

Karena itu Pemerintah mengeluarkan PP Nomor 55 Tahun 1970 mengatur

mengharuskan radio siaran memiliki badan hukum (PT). Penggunaan frekuensi di

masing-masing daerah juga dibatasi sesuai dengan luas daerah dan kepadatan

penduduk. Pihak pelaksana pendataan, penanganan dan penertiban frekuensinya
adalah Departemen Penerangan, Telkom, dan Koordinator Laksusda. Dengan

dilakukannya penertiban maka. Campus Broadcasting Station tahun 1973 menutup

siarannya Campus Broadcasting Station (CBS) pada saat itu menyiapkaa permohonan

ijin resmi siaran yaitu dengan pendirian PT dan melengkapi peralatan sesuai

peraturan.

       Tahun 1974 upaya aktivis CBS untuk mendapatkan akte pendirian Perseroan

Terbatas berhasil. Di hadapan Notaris RM Soerjanto Partaningrat SH. Berdirilah

secara resmi PT. Radio Prima Unisi Yogya. Dua orang komisaris tercatat GBPH

Prabuningrat (atas nama Rektor UII dan pengurus harian Badan Wakaf UII) serta

Drs.Budi Sudjijono (atas nama Aktivis radio CBS).

       Tahun 1975 PT. Radio Prima Unisi Yogya secara resmi mendapatkan ijin ini

tak lain berkat perjuangan Bapak Soendoro almarhum (mantan Sekretaris Pengurus

Harian Badan Wakaf UII dan mantan Wartawan, Dosen Fisipol UGM). Bersama

Unisi ijin juga diberikan kepada Radio Suara Mahasiswa Gadjah Mada dengan

demikian tercatat di Yogyakarta secara remi terdapat 18 radio siaran swasta,

Frekuensi Amplitudo Modulasi (AM) ditetapkan 642 KHz dengan Call sign:

PM5BMC.

       Hari Kebangkitan Unisi ditetapkan pada tanggal 20 Mei 1975 karena Unisi

hingga saat itu sulit dilacak hari kelahirannya (CBS) Karena itulah Bapak Soendoro

yang ditetapkan sebagai Direktur Unisi menetapkan tanggal tersebut sebagai hari

kebangkitan. Mulai saat itu radio siaran Unisi mengudara, Pemancar baru (810x1

Final Transmitter., 811x2 Final Modulasi) dimulai pengoperasiannya dengari antena

vertikal 37 Meter. Namun terjadi kerusakan teknis sehingga pemancar tersebut tidak

mampu bekerja secara. maksimal. Untuk mengatasinya dilakukan dengan
penyempurnaan pemancar sebelumnya. Dengan mengganti Tabung Final Transmiter

807x1 menjadi 807x2 dan modulasinya dengan menggunakan 811x4 Dengan

perubahan, transmiter mampu mengeluarkan kekuatan 100 watt output.

Tujuan penyelenggaraan siaran radio Unisi ditetapkan :

1. Sebagai media pengembangan pendidikan dan pengetahuan.

2. Sebagai media pengembangan kebudayaan

3. Sebagai media pengembangan keagamaan (Islam).

Tenaga penyelenggara siaran di awal siaran Unisi keseluruhan diambilkan dari

paramahasiswa UII Format siaran diarahkan pada semua segmen pendengar. Karena

penyelenggara siaran kesemuanya mahasiswa yang memiliki pengetahuan minim

dalam bidang keradioan banyak program yang ditetapkan tidak mampu terselenggara

dengan baik. Menyadari keadaan ini maka pimpinan Unisi mencoba menjalin

kerjasama dengan para penyelenggara siaran RRI Nusantara II Yogyakarta. Dua

orang karyawan RRI (siaran dan teknik) diperbantukan di Unisi.

       Tahun 1977 penempatan tenaga bantu RRI ke Unisi dirasa tidak mampu

mengubah kinerja kerja para staf dan penyelenggara siaran yang rata-rata mahasiswa.

Karena itulah diambil laingkah untuk melakukan perombakan arah sasaran pendengar

Unisi. Multi segmen yang menjadi awal sasaran pendengar Unisi dicoba disempitkan

ke arah pendengar muda meskipun tidak secara total. Perubahan segmen ini

nampaknya mendapat respon masyarakat kususnya pelajar dan mahasiswa. Ini bisa

dipahami karena staf penyelenggara siaran begitu mengenal akan selera

pendengarnya.

       Tahun 1980 dilakukan perubahan frekuensi yang semula menempati 642 KHz

menjadi 645 KHz di tahun itu berubah menjadi 648 KHz. Penyiar Unisi menyebutnya
menjadi AM 648 unluk sebutan akrab Unisi di udara. Perpindahan frekuensi ini

menyebabkan siaran mampu diterima lebih jauh dari biasanya. Pemantapan dalam

pemililian segmen lebih ditingkatkan, keberanian merancang program dengaa pasti

lewat Racikan Acara menjadikan Unisi berani menyebut motto: 'Terdepan dengan

rancangan mapan". Sedangkan untuk menyapa para pendengarnya Unisi menyebut

”Mitra Muda”

       Pemancar juga diperbaharui dengan modal iklan yang dikumpulkan berhasil

membangun pemancar berkekuatan 250 Watt (813x2 final transmitter dan 811x4

modulasi) karena pemancar baru inilah daya jangkau Unisi mampu menembus

beberapa kota di luar Yogyakarta.

       Tahun 1982 Unisi mendapat peringatan dini dari pemerintah karena sesuai

dengan PP Nomor 55 Tahun 1970 penyelenggaraan siaran radio tidak boleh berada

pada tempat-tempat sekolah, kantor, tempat ibadah atau rumah tangga. Karena itulah

Unisi memindahkan aktivitas siarannya ke Jalan Pasar Kembang 41. Di gedung bekas

toko buku milik UII inilah Unisi kemudian memulai babakan baru.

       Tanggung jawab dan aktivitas kerja para awak siarannya dituntut lebih. Dana

yang dimiliki dari ikan untuk perpindahan ini terserap cukup besar. Di samping, harus

merehabilitasi bangunan juga harus menyiapkan tower dan perangkat siair yang baru.

Tower baru vertikal berketinggian 70 Meter membawa siaran Unisi lebih baik.

Perpindahan ke Jalan Pasar Kembang selain menguras habis tenaga dan biaya juga

membuat perubahan sikap. Profesionalisme nampak lebih terlihat di tempat baru ini

serta melakukan penajaman segmen kembali. Motto siaran ditetapkan menjadi "Citra

Pesona Wira Muda" dan sebutan terhadap pendengar menjadi "Wira Muda".

       Tahun 1988 teknologi FM mulai diperkenalkan beberapa radio di berbagai
kota. Kualitas suara yang sempurna mendorong Unisi untuk ikut tarnpil di kancah

frekuensi ini. Karena itulah mulai tahun itu Unisi mencoba melakukan riset. Tidak

saja riset dari teknologinya namun juga riset terhadap pendengar. Kesimpulan dari

riset bisa diputuskan Unisi mampu baik teknologi dan pendengarnya untuk

menggunakan dan pindah di jalur FM

       Tanggal 21 Maret 1989 pemancar FM hasil rakitan sendiri mulai di uji coba

dan mendapat respon positif masyarakat. Tanggal 3 April 1989 mendapat ijin coba

resmi dari Deparpostel. Tepat pada 10 Agustus 1989 Unisi menggunakan dan

memindahkan siarannya di 104,75 MHz, 3 bulan sebelumnya melakukan siaran

ganda dengan AM 648 KHz Perpindahan ke FM membawa langkah baru bagi Unisi.

Program siaran khususnya talk show dan warta ditingkatkan. Karena itulah armada

siar ditambah untuk bidang Reportase, jumlah untuk divisi ini seimbang dengan

jumlah divisi penyiar.

       Untuk memantapkan siaran, moto siarannya diubah menjadi "Dimensi Baru

Musik dan Warta". Tahun 1990 Unisi melakukan perubahan segmen pendengarnya,

mencoba memperkecil kelompok pendengar remaja dan memperluas kelompok

pendengar dewasa (Lepasan mahasiswa). Dengan demikian pendengar sasaran Unisi

menjadi kelompok pendengar mahasiswa dan lepasan mahasiswa. Kelompok sasaran

ini disebut Unisi kelompok pendengar "Intelektual Muda". Perubahan segmentasi ini

memiliki alasan:

     1. Yogyakarta sebagai kota Pelajar dan Mahasiswa memiliki jumlah kelompok

        pendengar sasaran cukup besar.

     2. Belum adanya media lain di Yogyakarta menggarap kelompok pendengar

        ini.
     3. Kelompok pendengar sasaran merupakan kelompok potensial untuk

        pemasaran

        iklan.

     4. Sumber daya pelaksana siaran Unisi untuk menggarap kelompok pendengar

        ini cukup tersedia

     Dengan alasan strategis itu maka Unisi secara berani mengubah segmentasi

pendengar dan bertahan hingga saat ini.
2.   Segmentasi (Profil Pendengar) Terbagi atas :

     U                 15 – 19 tahun                13,4%

     S                 20 – 29 tahun                50,5%

     I                 30 – 39 tahun                27,7%

     A                 40 tahun ke atas             8,4%



     Pendidikan        Tamat DIII/Sarjana           59,7%

                       Tamat sarjana                16,9%

                       Tamat SLTA                   12,8%

                       Tamat SLTP                   5,2%

                       Tamat Pasca Sarjana          3,3%

                       Tamat SD                     2,1%

     Pekerjaan         Pegawai                      39,5%

                       Mahasiswa/Pelajar            24,1%

                       Ibu Rumah Tangga             13,6%

                       Lain-lain                    3,3%

     Sosial Ekonomi    A(600.000-1.400.000)         15,7%

                       B(400.000-600.000)           36,4%

                       C(200.000-400.000)           36,8%

                       D(150.000-200.000)           8,8%

                       E(0-150.000)                 2,3%

     Jenis Kelamin     Pria                         48 %

                       Wanita                       52%
      Sumber : Data Primer 1997/1998



3.     Komposisi Acara

       a. Lamanya Waktu Siaran

           Waktu                         : 05.00 – 24.00 WIB

           Jam Siaran Perhari            : 19 Jam = 1140 menit

           Jam Siaran Perminggu          : 7980 menit

       b. Klasifikasi Siaran Perminggu

           I. Berita Penerangan          : 20 %

           II. Pendidikan                :7%

           III. Hiburan                  : 53 %

           IV. Lain-lain                 : 20 %

       c. Rincian Materi

           I – Siaran Penerangan                  : 20 %

               Jumlah menit perminggu             : 1596 menit

     Program Acara         Jam Siar          Hari                Waktu   Jumlah
     Berita Sekilas        05.00-05.10       Senin-Minggu 10 menit       70 menit
     WartaBerita           06.00-06.15       Senin-Minggu 15 menit       105 menit
     Warta Berita          07.00-07.15       Senin-Minggu 15 menit       105 menit
     Varia Nusantara       09.00-09.15       Senin-Minggu 15 menit       105 menit
     Berita Olah Raga      11.00-11.10       Senin-Minggu 10 menit       70 menit
     Sari Berita           12.00-12.10       Senin-Minggu 10 menit       70 menit
     Warta Berita          13.00-13.10       Senin-Minggu 10 menit       70 menit
     Fokus Berita          14.00-14.10       Senin-Minggu 10 menit       70 menit
     Berita Olah Raga      15.00-15.10       Senin-Minggu 10 menit       70 menit
     Warta Berita          19.00-19.15       Senin-Minggu 15 menit       105 menit
       Berita Ekonomi    20.00-20.10        Senin-Minggu 10 menit          70 menit
       Berita Daerah     20.30-20.40        Senin-Minggu 10 menit          70 menit
       Aneka Berita      22.00-22.15        Senin-Minggu 15 menit          105 menit
       Berita Asean      23.00-23.10        Senin-Minggu 10 menit          70 menit
       Stock Report      06.15-07.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit
       Stock Report      07.15-08.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit
       Stock Report      09.10-10.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit
       Stock Report      10.10-11.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit
       Stock Report      11.10-12.00        Jumat             7 menit      7 menit
       Stock Report      13.10-14.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit
       Stock Report      14.10-15.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit
       Stock Report      15.10-16.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit
       Stock Report      16.15-17.00        Senin-Jumat       10 menit     50 menit
       Stock Report      16.00-17.00        Sabtu             6 menit      6 menit
       Stock Report      18.00-19.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit
       Stock Report      19.15-20.00        Senin-Sabtu       7 menit      42 menit

       Total Waktu                                                        1596 menit



II -     Siaran Pendidikan             :7%

         Jumlah menit perminggu        : 558 menit 36 detik



        Program Acara           Hari                 Waktu               Jumlah
        Focus-Special Guest     Senin                21.30-22.00         30 menit
        Trend Bisnis            Selasa               21.30-22.00         30 menit
        Urban Forum (I & III)   Rabu                 21.30-22.00         30 menit
        Campus (II&IV)          Rabu                 21.30-22.00
        Dialog Agama            Kamis                21.30-22.00         30 menit
        Perspektif              Jum'at               21.30-22.00         30 menit
        Renungan                Senin-Minggu         05.10-05.20         140 menit
                                                     17.50-18.00
        Jendela                 Senin-Sabtu          05.50-06.00         180 menit
                                                     10.00-10.10
                                                     20.50-21.00
        Etiket Bisnis         Senin-Rabu,            12.40-12.46   36 menit
                              Jum'at.                18.00-18.06
        Solusi                Selasa, Kamis          12.40-12.46   36 menit
                              Sabtu                  18.00-18.06
        Solat Jum'at          Jum'at                 12.10-12.16   1 6 menit
                                                                   36 detik
        Total Waktu           558 rnenit 36 detik




III-    Siaran Hiburan                : 53%

        Jumlah menit perminggu        : 4229 menit 24 detik

        Program Acara         Hari                   Waktu         Jumlah
        Jazz Corner           Senin                  22.15-23.00   45 menit
        Music Story           Sabtu                  22.15-23.00   45 menit
        Classic Touch         Kamis                  22.15-23,00   45 menit
        Hot Hit Track         Minggu                 16.00-16.45   45 menit
        Indonesia Selection   Minggu                 08.15-09.00   45 menit
        Oldies Hit's          Minggu                 12.15-13.00   45 menit
        Remember Beatles      Minggu                 06.15-08.15   60 menit


       Program Acara          Hari                  Waktu             Jumlah
       Yogyakarta Top Hit     Jumat                 14.15-15.00       45 menit
       Beat on Sunday         Minggu                09.15-10.00       45 menit
       Memory Song            Minggu                22.15-23.00       45 menit
       Slow Rock              Jum'at                22.15-23.00       45 menit
       Spot Music             Selasa&Kamis          17.00-17.30       60 menit
       Musik Harian           Senin-Minggu          3659 menit        24 detik
       Total Waktu            4229 menit 24 detik
5.   Program Acara Lingkungan.

     a.    Nama acara : 1.       Dialog Perkotaan (Urban Forum).

                         2.      Unisi Stock Report

                         3.      Iklan Layanan Masyarakat.



     b.    Bentuk sajian :       1.     Talk show/diskusi.

                                 2.     Liputan reporter.

                                 3.     Adlips

     c.    Bahan sajian :        1.     BBC London

                                 2.     Deutche Welle Jerman

                                 3.     WWF

                                 4.     Lapangan
E.     Radio Arma Sebelas (AM)

1.     Latar Belakang

       Berdirinya radio ini mengingat saat itu dibutuhkan sekali media massa yang

paling praktis untuk mensukseskan perjuangan Angkatan 66 dalam menegakkan

keadilan dan kebenaran. serta menghancurkan kekuatan PKI dan Orde Lama

khususnya di Yogyakarta. Sebab Yogyakarta pada saat itu merupakan daerah basis

PKI dan Orde Lama sehingga untuk mewujudkan tujuan Angkatan 66 memerlukan

perjuangan atau usaha yang berat dan sering bersifat rahasia. Alasan lain karena

tempat tinggal para aktivis atau anggota KAMI dan KAPPI tersebar sehingga untuk

mengadakan komunikasi cukup sulit.

       Pada bulan April 1966 di salah satu rapat staf laskar Ampera Aris Margono

Yogyakarta tercetuslah ide untuk mencari bentuk media komunikasi massa (yang

dipilihbradio) dan yang diserahi tanggungjawab adalah pejabat staf I Intel

Burhanuddin ZR dengan pertimbangan bahwa ide ini sifatnya rahasia dan staf I Intel

Burhanuddin ZR adalah orang yang sangat mengenal kota Yogyakarta

       Dimulai secara rahasia dengan dibantu oleh beberapa orang di kampung

Suronatan, proyek ini di awal bulan Mei suidah mengumpulkan peralatan yang masih

sederhana berupa sebuah pemancar kecil 100 watt dengan gelombang 90M SW, pick-

up, radio dan peralatan lainnya. Dengan dimodifikasi sedemikiaa rupa sehingga

tercipta alat siaran sederhana dan mengudara dalam radius yang singkat. Narna

panggilannya saat itu adalah Radio X - 15 Radio Perjuangan yang berasal dari suatu

tulisan yang ada peralatan siaran dan mengingat radio ini sifatnya rahasia sangat

cocok dengan huruf X karena merupakan bilangan yang tidak jelas (rahasia.) serta

radio ini memang digunakan pada saat itu untuk perjuangan.
       Siarannya berisikan motto atau slogan perjuangan Angkatan 66 khususnya

KAMI dan KAPPI diselingi dengan memutar lagu-lagu dari piringan hitam yang

diperoleh dari pemberian simpatisan dan hasil peminjaman. Karena terbatasnya

materi siaran maka pada jam-jam tertentu merelay musik-musik dari Radio Australia

dengan disertai selingan yang membangkitkan semangat perjuangan masyarakat.

       Saat itu tempat yang digunakan untuk siaran adalah gudang pembuatan batik

di lantai dua milik pengusaha batik Haji Kusnan, tempat ini hanya digunakan selama

2 bulan kemudian pindah ke lingkungaa rumah penduduk. Suronatan yaitu di tempat

Bapak Haji Daim. Seiring dengan berhasilnya PKI diatasi dan membaiknya kondisi

kota Yogyakarta maka siaran-siarannya dan tempat siarannya pun semakin berani

untuk ditampilkan dengan tujuan untuk semakin dikenal masyarakat. Pada akhir Juli,

tempat siarannya menggunakan sebagian ruang tamu rumah Bapak Haji Daim dan

dengan membentangkan antena sebebasnya.

       Pada tanggal 11 September 1966 terjadi perubahan nama yang digunakan oleh

radio ini, atas usulan kru dan sebagian penggemarnya, menjadi Radio Arma Sebelas

yang diambil dari nama depan laskar Aris Munandar dan Margono yang menjadi

pahlawan Ampera dan sebelas organisasi mahasiswa yang ikut aktif dalam KAMI

Yogyakarta yaitu: PMKRI, MAPANCAS, GMKI, HMI, PMII, IMM, SEMI,

GERMAII, GEMPAR 45, GMSOS dan PELMASI

       Dengan perubahan situasi maka misi radio ini pun mulai berubah, yang

dulunya untuk perjuangan setelah itu untuk hiburan dan sudah mengarah ke

profesional dengaa menambah beberapa peralatan siaran dan perbaikan materi

disesuaikan dengan. dana yang masuk.

       Di akhir 1967 karena sesuatu hal yang bersifat intern terjadi maka tempat
siaran berpindah ke alamat yang sekarang namun tidak lama siarannya terhenti atau

non aktif.

       Pada. tahun 1972 Radio Arma Sebelas bangkit kembali walaupun dengan

hanya berbekal ijin siaran namun dengan bertahap akhirnya Radio Arma Sebelas

mengudara kembali dengan pengelolaan profesional penuh serta mengubah frekuensi

siarannya ke AM 188 MHz. Tentu saja dengan slogan atau motto yang berbeda yaitu:

“Teman Barcanda Dalam Suka Pelipur di Kala Duka” dan “Enak Didengar dan

Perlu” serta “Suara Jantung Kota” sebagai nama panggilannya.

       Adanya. "boom" iklan sekitar tahun 1984 membawa keuntungan bagi radio

Arma Sebelas sehingga dapat menyempurnakan berbagai hal baik dari segi siarannya

maupun dari segi peralatan siaran sehingga menghasilkan kualitas siaran yang

sempurna hingga sekarang ini.



2.     Segmentasi (Profil Pendengar)

       Terbagi atas :



              Jenis Kelamin     Pria                           45%
                                Wanita                         55 %
                                6 - 10 tahun                   5%
                                11 - 15 tahun                  5%
                    U
                                16 - 19 tahun                  13,4 %
                    S
                                20 - 29 tahun                  50,5 %
                        I       30 -39 tahun                   27,7 %

                    A           40 -49 tahun                   8,4 %
                                50 tahun ke atas               15%
                             A (600.000 -1.400. 000)        10%
                             B (400.000 -600.000)           15 %
           Sosial Ekonomi
                             C (200.000 -400.000)           20 %
                             D (150.000 -200.000)           30%
                             E (0-150.000)                  25%
                             Karyawan Kantor/PNS/ABRl 40 %
                             Mahasiswa/Pelajar              15 %
              Pekerjaan
                             Wiraswasta                     10 %
                             Pekerja Terlatih               10 %
                             Pekerja Setengah Terlatih      10 %
                             Penganggur                     5%
                             Sarjana                        10%
                             Akademi                        15%
             Pendidikan
                             SLTA                           40%
                             SLTP                           20%
                             SD                             10%
                             Tidak Tamat SD                 5%
             Sumber : Data Primer 1997/1998



3.   Komposisi Acara

a.   Lamanya waktu siaran

     Waktu                          : 04.00 – 01.00 WIB

     Jam Siaran Perhari             : 21 Jam = 1260 menit

     Jam Siaran Perminggu           : 7980 menit

b.   Klasifikasi Siaran Perminggu

     I.      Penerangan             : 19,76%

     II.     Pendidikan             : 7,11%
       III.     Hiburan                 : 49,8%

       IV.      Iklan dan lain-lain     : 23,33%

c.     Rincian Materi

       I–       Siaran Penerangan             : 19,76 %

                Jumlah menit perminggu        : 1750 menit

     Program Acara        Jam Siar          Hari             Waktu   Jumlah
     Berita Sekilas       05.00-05.10       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     WartaBerita          06.00-06.15       Senin-Minggu 15 menit    105 menit
     Warta Berita         07.00-07.15       Senin-Minggu 15 menit    105 menit
     Varia Nusantara      09.00-09.15       Senin-Minggu 15 menit    105 menit
     Berita Olah Raga     11.00-11.10       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Sari Berita          12.00-12.10       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Warta Berita         13.00-13.10       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Fokus Berita         14.00-14.10       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Berita Olah Raga     15.00-15.10       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Warta Berita         19.00-19.15       Senin-Minggu 15 menit    105 menit
     Berita Ekonomi       20.00-20.10       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Berita Daerah        20.30-20.40       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Aneka Berita         22.00-22.15       Senin-Minggu 15 menit    105 menit
     Berita Asean         23.00-23.10       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Selingan             06.15-06.30       Senin-Minggu 15 menit    105 menit
     Selingan             07.15-07.30       Senin-Minggu 15 menit    105 menit
     Selingan             09.10-09.15       Senin-Minggu 5 menit     35 menit
     Selingan             12.05-12.15       Senin-Minggu 10 menit    70 menit
     Selingan             13.15-13.30       Senin-Minggu 15 menit    105 menit
     Selingan             19.15-19.30       Senin-Minggu 15 menit    105 menit

     Selingan             23.05-23.10       Senin-Minggu 5 menit     35 menit

     Total Waktu                                                     1750 menit
II-    Siaran Pendidikan        : 7,11 %

       Jumlah Menit Perminggu   : 630 menit

III-   Siaran Hiburan           : 49,80%

       Jumlah Menit perminggu   : 4410 menit
                                      BAB IV


                                ANALISIS DATA




A.     Deskripsi Responden

       Penelitian ini dilakukan di wilayah Kotamadya Yogyakarta dengan sampel 45

orang responden. Dengan kriteria para responden adalah pendengar siaran radio.

Berikut ini adalah data yang berkaitan dengan identitas responden dan kemudian

diikuti dengan data yang berkaitan dengan peranan radio siaran swasta.

1.     Menurut Jenis Kelamin.

       Tabel IV.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin.

                    Jenis Kelamin    Jumlah       Persentase
                    Pria             29           64
                    Wanit a          16           36
                                     45           100
                            Sumber : Date Primer, 1998.

       Berdasarkan data tabel dapat diketahui bahwa besarnya responden yang pria

       adalah 64 % sedangkan responden wanitanya sebesar 36%.



2.     Menurut Usia

       Tabel IV.2 Distribusi Responden Menurut Usia

                      Usia           Jumlah       Persentase
                      <20tahun       6            13
                      21-29tahun     37           83
                      30-40 tahun    1            2
                      >40tahun       1            2
                                     45           100
                            Sumber : Data Primer, 1998.
       Berdasarkan data tabel IV.2 diketahui bahwa besarnya responden yang

berusia 20 tahun ke bawah adalah 13 %, untuk responden berusia 21 - 29 tahun

sebesar 83 %, untuk responden berusia 30 - 40 tahun sebesar 2 %, untuk responden

berusia 40 tahun ke atas sebesar 2 %.



3.     Menurut Pekerjaan

       Tabel IV.3 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan

                  Pekerjaan            Jumlah       Persentase
                  Pelajar/Mahasiswa    27           60
                  Pegawai/Karyawan     9            20
                  Ibu Rumah Tangga     1            2
                  Wiraswasta           3            7
                  Lain-lain            5            11
                                       45           100
                            Sumber : Data Primer, 1998.

       Berdasarkan data pada tabel dapat diketahui besarnya responden yang

       mempunyai pekerjaan pelajar/mahasiswa adalah 60 %, untuk pekerjaan

       pegawai/karyawan sebesar 20 %, untuk ibu rumah tangga sebesar 2 %, untuk

       wiraswasta sebesar 7 %, untuk yang tidak termasuk golongan sebelumnya

       atau lain-lain sebesar 11 %.

4.     Menurut Pendidikan

       Tabel IV.4 Distribusi Responden Menurut Pendidikan

                     Pendidikan     J umlah      Persentase
                     SD             2            4
                     SLTP           4            9
                     SLTA           24           54
                     Sarjana        14           31
                     Lain-lain      1            2
                                    45           100
                            Sumber : Data Primer, 1998.
       Berdasarkan data pada tabel IV.4 diketahui besarnya responden yang

berpendidikan SD adalah 4 %, untuk SLTP sebesar 9 %, untuk SLTA sebesar 54 %,

untuk Sarjana sebesar 31 % dan untuk lain-lain sebesar 2 %.




B.     Peranan    Radio       Siaran   Swasta   Dalam    Memberikan     Informasi

       Lingkungan.

       1.     Data Hasil Jawaban Responden.

              Tabel    IV.5     Distribusi   Responden    Menurut   Lama    Waktu

              Mendengarkan Radio Perhari.

                   Lama Waktu         Jumlah        Persentase
                   < 1 jam            9             20
                   1 -3 Jam           22            49
                   3-5 jam            3             7
                   > 5 jam            11            24
                                      45            100
                              Sumber : Data Primer, 1998.

              Berdasarkan data tabel IV.5 dapat diketahui bahwa persentase terbesar

              berada pada responden yang mendengarkan radio selama 1 - 3 jam

              sehari yaitu sebesar 49 % diikuti oleh lama waktu lebih dari 5 jam

              sebesar 24 % kemudian oleh lama waktu kurang dari 1 jam sebesar 20

              % dan terakhir sebesar 7 % untuk lama waktu 3 - 5 jam.
Tabel IV.6 Distribusi Responden Menurut Pemilihan Gelombang

Siaran Radio

        Siaran      Jumlah       Persentase
        AM          -            -
        FM          45           100
                    45           100
               Sumber : Data Primer, 1998.

Berdasarkan tabel IV.6 di atas keseluruhan responden (100 %) lebih

sering memilih gelombang siaran radio FM.

Berdasarkan data tabel IV. 7 di bawah sebagian besar responden yaitu

87% pernah mendengar adanya program atau siaran yang berhubungan

dengan lingkungan dan 13 % responden yang tidak pernah mendengar.



Tabel IV.7 Distribusi Responden Menurut Pengetahuaa Tentang

Adanya Siaran Lingkungan

       Jawaban      Jumlah        Persentase
       Ya           39            87
       Tidak        6             13
                    45            100
               Sumber : Data Primer, 1998.

Tabel IV.8 Distribusi Responden Menurut Kekerapan Mendengar

Program/Iklan Lingkungan

    Jawaban             Jumlah       Persentase
    Sering              20           45
    Kadang-kadang       19           42
    Tidak Pernah        6            13
                        45           100
               Sumber: Data Primer, 1998.

Berdasarkan data tabel IV.8 45% responden sering mendengar

program atau iklan lingkungan melalui radio sedang sisanya 42 %
responden kadang-kadang mendengarkaa dan 13 % tidakpemah

mendengarkan.



Tabel IV.9 Distribusi Responden Menurut Waktu Terakhir Kali

Mendengar

   Waktu                Jumlah      Persentase
   Minggu Lalu          13          29
   2 Minggu Lalu        8           18
   3 Minggu Lalu        3           7
   Lebih dari 1 Bulan   15          33
   Tidak Pernah         6           13
                        45          100
             Sumber: Data Primer, 1998.



Berdasarkan data tabel IV.9 33 % responden waktu terakhir kali

mendengar program atau siaran lingkungan lebih dari 1 bulan, 29 %

mendengarkannya    seminggu     yang   lalu,     18   %   responden

mendengarkannya 2 minggu yang lalu, 7% mendengarkannya 3

minggu yang lalu dan sisanya 13 % tidak pernah mendengarkan.



Tabel IV. 10 Distribusi Responden Menurut Pemahaman Maksud dan

Tujuan Informasi Lingkungan

    Jawaban           Jumlah        Persentase
    Ya                37            83
    Tidak             2             4
    Tidak Menjawab    6             13
                      45            100
            Sumber : Data Primer, 1998.
Berdasarkan data tabel IV. 10 sebagian besar responden yaitu 83 %

mengerti maksud dan tujuan informasi lingkungan dari program atau

iklan lingkungan yang diterima, 4 % tidak mengerti dan 13 % tidak

menjawab.



Tabel IV.11 Distribusi Reponden Menurut Informasi Lingkungan

Merupakan Hal Baru

    Jawaban             Jumlah        Persentase
    Ya                  12            27
    Tidak               27            60
    Tidak Menjawab      6             13
                        45            100
              Sumber : Data Primer, 1998.

Berdasarkan data, tabel IV.11 sebagian besar yaitu 60 % dari

responden menyatakan bahwa informasi yang ada pada program atau

siaran lingkungan itu bukan merupakan pengetahuan yang baru, 27 %

di antaranya menyatakan informasi yang ada merupakan pengetahuan

baru dan sisanya tidak menjawab.



Tabel IV.12     Distribusi   Responden      Menurut Asal   Perolehan

Informasi Lingkungan

Jawaban                      Jumlah         Persentase
Media Massa Radio            8              18
Media Massa Selain Radio     24             53
TidakMenjawab                13             29
                             45             100
              Sumber : Data Primer, 1998.
Berdasarkan data tabel IV.12 53% reponden menyatakan bahwa informasi

lingkungan yang ada sebelumnya pernah diketahui melalui media massa selain radio

(TV, surat kabar, majalah, film dll), 8 % responden menyatakan informasi itu

diketahui juga melalui radio dan 29 % tidak menjawab.



2.     Analisis Data

       Dari data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa radio siaran swasta

memberikan kontribusi yang baik dalam menyebarluaskan informasi lingkungan

karena 87 % responden pernah mendengarkan program atau iklan lingkungan dan 45

% di antaranya tergolong sering mendengarkan, 42 % kadang-kadang mendengarkan

sedangkan sisanya 13 % tidak pernah mendengar. Dari 87 % responden yang

mendengarkan informasi lingkungan itu 29 % di antaranya masih mengikuti karena

terakhir kali mendengarkan program atau iklan lingkungan ini dalam minggu

sebelumnya sedangkan sisanya 18 % terakhir kali mendengar 2 minggu yang lalu, 7

% mendengarkannya 3 minggu yang lalu dan 33 % lebih dari satu bulan lalu (4

minggu lebih).

       Ditinjau dari segi materi/bahan yang disajikan bagi masyarakat pendengar

dapat diasumsikan masih kurang aktual karena informasi lingkungan yang diterima

oleh 87 % responden, 60 % responden menyatakan. bahwa informasi itu bukan

merupakan hal yang baru dan 27 % menyatakan informasi itu sesuatu yang baru.

Sebesar 53 % responden menyatakan bahwa informasi lingkungan itu pertamakali

diperoleh/diketahui melalui media selain radio (Majalah, TV, surat kabar dll), 18 %

menjawab dari radio dan 29 % tidak menjawab. Yang terpenting dari semuanya itu

adalah 83 % responden ternyata memahami maksud dan tujuan dari informasi
lingkungan melalui program atau iklan radio siaran swasta itu, 4 % yang tidak

mengerti dan sisanya sebesar 13 % tidak menjawab.

       Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa keseluruhan responden

lebih sering atau senang memilih radio siaran swasta dengan gelombang FM namun

hal Ini tidak menutup kemungkinan para responden juga pernah mendengarkan radio

siaran swasta AM karena dari pertanyaan khusus tentang program/acara dan iklan

yang berisikan informasi lingkungan yang dikelola oleh radio siaran swasta Arma

Sebelas (AM) ternyata hanya 27 % responden yang sama sekali tidak pernah

mendengarkan siaran itu, 73 % sisanya pernah mendengar minimal salah satu siaran

yang di dalamnya terdapat informasi lingkungan. Untuk radio siaran swasta Unisi

(FM) 23 % responden tidak pernah mendengar sama sekali dan 77 % responden

pemah mendengar, untuk radio siaran swasta Retjo Buntung 27 % tidak pernah

mendengar sama sekali dan 73 % sisanya pernah mendengar. Hampir separuh (49 %)

responden mempergunakan 1 - 3 jam sehari untuk mendengarkan radio sisanya 24 %

lebih dari 5 jam sehari, 20 % responden kurang dari 1 jam sehari, 7 % untuk waktu 3

- 5 jam sehari. Jika dikaitkan dengan pekerjaan responden yang sebagian besar

berstatus sebagai pelajar/mahasiswa (60 %) terlihat bahwa kesempatan atau waktunya

terbatas uutuk mendengarkan radio hal ini terbukti dari besarnya persentase waktu 1-

3 jam. Oleh karena itu untuk memberikan informasi lingkungan hendaknya

mempertimbangkan hal ini khususnya program acara yang tujuan pendengarnya

adalah dari golongan pelajar/mahasiswa.
C.   Hubungan Responden Dengan Lingkungannya

     1.    Data Hasil Jawaban Responden

           Berdasarkan data tabel IV.13 sebagian besar responden yaitu 91 %

           menyatakan pernah mengalami gangguan lingkungan dan 9 % dari

           reponden tidak pernah mengalaminya.



           Tabel IV.13 Distribusi   Responden     Menurut    Pernah Mengalami

           Gangguan Lingkungan

                  Jawaban       J umlah      Persentase
                  Ya            41           91
                  Tidak         4            9
                                45           100
                        Sumber : Data Primer, 1998.

           Berdasarkan data tabel IV.14 67 % dari reponden kadang-kadang

           mengalami gangguan. lingkungan (polusi air, polusi udara, kebisingan,

           banjir, kesehatan lingkungan dll),       24 % responden sering

           mengalaminya dan 9 % tidak pernah meagalaminya.



           Tabel IV.14 Distribusi Reponden Menurut Kekerapan Gangguan

           Lingkungan

                Jawaban           J u m l a h Persentase
                Sering            11           24
                Kadang-kadang     30           67
                Tidak Pernah      4            9
                                  45           100
                        Sumber : Data Primer, 1998.
Tabel IV. 15 Distribusi Responden Menurut Usaha Pencegahan

Dan Penanggulangan

        Jawaban    Jumlah       Persentase
        Ya         29           64
        Tidak      16           36
                   45           100
             Sumber : Data Primer, 1998.

Berdasarkan tabel IV.15 64 % reponden menyatakan selama ini ada

usaha untuk mencegah atau menanggulangi gangguan lingkungan

yang dialami baik secara perorangan maupun secara kelompok,

keluarga atau masyarakat dan 36 % responden menyatakan tidak ada

usaha pencegahan.



Tabel IV. 16 Distribusi Reponden Menurut Perlunya Informasi

Tentang Lingkungan

        Jawaban   Jumlah       Persentase
        Ya        40           89
        Tidak     5            11
                  45           100
             Sumber: Data Primer, 1998.

Berdasarkan data tabel IV.16 sebagian besar responden yaitu 89 %

menyatakan   setuju   bahwa   memberikan     informasi   lingkungan

merupakan salah satu cara untuk mencegah dan menanggulangi

gangguan lingkungan dan 11 % responden menyatakan tidak perlu.
             Tabel IV.17 Distribusi Responden Menurut Pernah Menerima.

             Informasi Lingkungan

                      Jawaban  J umlah      Persentase
                      Ya       42           93
                      Tidak    3            7
                               45           100
                          Sumber : Data Primer, 1998.

             Berdasarkan data tabel IV.17 93 % responden pernah menerima

             informasi yang berkaitan dengan lingkungan sedangkan sisanya 7%

             reponden, tidak pernah menerima.



             Tabel    IV.18   Distribusi   Responden   Menurut      Asal   Informasi

             Lingkungan

             Jawaban                     J umlah       Persentase
             Media Massa Radio           6             13
             Media Massa Selain Radio    35            78
             TidakMenjawab               4             9
                                         45            100
                          Sumber: Data Primer, 1998.

             Berdasarkan data tabel IV.18 diketahui 78 % responden yang pernah

             menerima informasi lingkungan menyatakan bahwa informasi itu

             diperoleh melalui media massa selain radio (TV, surat kabar, majalah,

             film dll) sedangkan 13 % responden menyatakan informasi itu

             diperoleh melalui radio dan sisanya 9 % tidak menjawab.



2.    Analisis Data

      Dalam hal ini analisis yang dapat diambil bahwa sebagian besar responden

yaitu 91 % pernah mengalami gangguaa yang ditimbulkan oleh lingkungan
sekitamya, 67 % diantaranya kadang-kadang mengalaminya dan 24 % responden

sering mengalaminya sedangkan sisanya 9 % responden tidak pernah mengalami

gangguan lingkungan. Jika dilihat dari usaha/tindakan responden mencegah atau

menanggulangi gangguan lingkungan 64 % menyatakan ada, baik secara perorangan

maupun secara kelompok (keluarga dan/atau masyarakat), 36 % menyatakan tidak

ada.

       Responden sebagian besar menganggap bahwa usaha pemberian informasi

lingkungan kepada masyarakat secara luas merupakan salah satu cara untuk

meningkatkan dan mengembangkan tingkat penanggulangan dan pencegahan

terhadap gangguan lingkungan yang kerap dihadapi yaitu 89 % responden, hanya 11

% responden yang menyatakan tidak perlu. Dari keseluruhan responden hanya 7 %

saja yang tidak pernah menerima informasi lingkungan sedangkan sisanya 93 %

pernah menerima informasi lingkungan dan 78 % responden menerimanya melalui

media selain radio, 13 % respoadea menerimanya melalui radio dan 9 % tidak

menjawab.

       Satu hal yang patut diperhatikan bahwa ternyata penyebaran informasi

lingkungan sangat bermanfaat dan memiliki dampak yang besar guna meningkatkan

dan mengembangkan tingkat kemampuan masyarakat dalam mencegah dan

menanggulangi ancaman atau gangguan lingkungan khususnya di lingkungan

sekitarnya. Tentu saja diharapkan bahwa masukan informasi-informasi menjadi

alat/sarana yang tepat guna sehingga dapat membantu memecahkan masalah atau

gangguan lingkungan yang kerap dihadapi masyarakat. dan informasinya pun adalah

informasi yang aktual serta benar-benar mengena kepada permasalahan yang tengah

dihadapi.
D.     Penilaian Responden Mengenai Siaran Lingkungan.

       Secara umum responden sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh radio

siaran swasta dalam meningkatkan dan mengembangkan kepedulian masyarakat

terhadap lingkungannya yakni dengan jalan memberikan masukan-masukan berupa

informasi dan dengan berbagai bentuk program maupun iklan. Hal ini dapat

dibuktikan dengan tanggapan serta saran atau usul yang sifatnya, membangun yang

diberikan oleh responden khususnya. berkaitan dengan waktu siar yang perlu

disesuaikan agar segala lapisan masyarakat pendengar dapat menerimanya, materi

yang lebih aktual dan informasi yang tepat pada permasalahan yang sering dialami

oleh pendengar, bentuk sajian yang lebih variatif dan bahasa yang dapat dimengerti

oleh seluruh lapisan masyarakat.
                                     BAB V


                        KES1MPULAN DAN SARAN


A.   Kesimpulan

     1.    Peranan      yang    diberikan     oleh    radio    siaran     swasta

           khususnya     untuk meningkatkan dan memberikan pengetahuan atau

           informasi mengenai lingkungan serta proses mensosialisasikan

           UUPLH pada masyarakat masih minim sekali. Hal ini dapat dilihat

           dari aspek prosentase siaran, sudah ditentukan oleh aturan yang ada

           (Departemen Penerangan), yang diberikan untuk jenis siaran

           pendidikan                                                       dan

           penerangan yaitu sebesar 7 % dari jumlah jam siaran dan itu pun

           bukan hanya untuk pendidikan dan penerangan lingkungan tetapi

           masih berbagi dengan bidang - bidang lainnya, Alasan lain adalah

           karena untuk kelangsungan hidup radio itu sendiri sehingga program

           atau acaranya lebih bersifat komersial atau hiburan, dan diharapkan

           dapat menarik minat masyarakat atau segmen tertentu dengan maksud

           agar pendengarnya dapat menjadi sasaran (obyek) periklanan produk

           tertentu.

     2.    Berdasarkan Pasal 10 huruf b UUPLH beserta penjelasannya secara

           jelas dapat disimpulkan    bahwa   salah   satu kegiatan   pemerintah

           dalam        melaksanakan kewajibannya untuk menumbuhkan dan

           mengembangkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat

           terhadap pengelolaan lingkungan adalah melalui pendidikan baik
     formal maupun informal dan jika diperhatikan lebih jauh Peraturan

     Pemerintah No. 55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran Non-Pemerintah

     dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) bahwa radio siaran harus berfungsi

     sosial yaitu sebagai alat pendidikan dan penerangan di samping untuk

     hiburan. Dalam prakteknya radio siaran swasta yang ada dan akan

     berdiri harus memenuhi ketiga fungsi tersebut dan hal itu dapat

     terlihat. dalam pola siaran yang wajib dilaporkan setiap tahunnya

     kepada Departemen Penerangan selaku Pembina Radio Siaran Non

     Pemerintah. Jadi jelas bahwa Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun

     1970 Sudah memenuhi tuntutan dari Pasal 10 huruf b UUPLH jika

     dilihat dari fungsi radio swasta yaitu pendidikan dan penerangan tentu

     saja sifatnya informal dan salah satu bidang pendidikan dan

     penerangan itu adalah bidang lingkungan.

3.   Tanggapan masyarakat terhadap program atau acara            yang ada

     hubungannya dengan lingkungan baik berupa selingan (adlips), acara

     khusus dan iklan layanan masyarakat yang dikelola dan disiarkan oleh

     radio siaran swasta sangat baik. Namun ada beberapa kendala yang

     dialami oleh masyarakat sebagai pendengar program atau acara

     lingkungan ini khususnya mengenai waktu siar yang masih kurang

     tepat bagi pendengar tertentu, cara penyajian yang kurang variatif,

     materi kurang aktual, bahasa yang dipergunakan kadang sulit

     dipahami.
B.   Saran-saran

     1.     Agar pihak radio siaran swasta lebih memaksimalkan baik waktu yang

            ada maupun      porsi    yang     telah ditentukan       untuk    usaha

            meningkatkan dan mengembangkan kepedulian masyarakat khususnya

            terhadap lingkungan serta dapat menjadi sarana sosialisasi UUPLH

            kepada masyarakat, misalnya melalui acara berkala, setiap bulan,

            sehingga   masyarakat    memahami      hak    dan kewajibannya. Tentu

            saja dengan memperhatikan keunggulan radio secara umum dan radio

            swasta secara khusus karena mempunyai peranan atau pengaruh yang

            besar dalam memberikan informasi atau pendidikan/penerangan yang

            sifatnya informal dan hingga saat ini radio hampir merata dimiliki oleh

            kalangan masyarakat serta keunggulan daya jangkau siaran yang luas.

     2.     Untuk program atau acara yang ada kaitannya dengan lingkungan

            diharapkan :

            a.     Memilih waktu-waktu yang memungkinkan setiap lapisan

                   masyarakat pendengar untuk menerima berbagai bentuk

                   informasi    lingkungan     yang      bertujuan     meningkatkan

                   pengetahuan lingkungan tanpa mengesampingkan manfaat

                   informasi bagi kesejahteraan masyarakat.

            b.     Memiliki materi yang aktual atau permasalahan-permasalahan

                   yang cukup sering dihadapi oleh masyarakat luas dengan

                   menyertakan cara pencegahan dan solusi yang tepat.

            c.     Menggunakan istilah       atau bahasa pengantar yang mudah

                   dipahami atau dimengerti       oleh    masyarakat     pendengar,
           mengingat      bahwa     masyarakat pendengar radio sangat

           heterogen, sehingga maksud dan tujuan diberikannya informasi

           lingkungan itu dapat tercapai.

     d.    Mengemas informasi lingkungan ke dalam bentuk-bentuk yang

           lebih variatif, meskipun saat ini sudah cukup baik tetapi untuk

           bentuk-bentuk tertentu seperti iklan layanan masyarakat perlu

           untuk diperbaharui dan dikemas dalam bentuk lain. Dengan

           tujuan agar masyarakat pendengar tidak merasa bosan dan

           menjadi daya tarik tersendiri bagi pendengar.

3.   Mengadakan kerjasama lebih baik dengan lembaga-lembaga atau

     badan-badan dalam negeri (domestik) maupun luar negeri yang

     memang bergerak secara khusus dalam bidang lingkungan, untuk

     memperoleh bahan-bahan atau materi yang digunakan dalam program

     atau iklan lingkungan terutama lembaga atau badan seperti WALHI,

     PPLH, BBC, Deutche Welle, WWF dan lain-lain.
                                  DAFTAR PUSTAKA



Dahlan, M Alwi, Periklanan Berwawasan Lingkungan Hidup, Makalah Simposium

                  dan Lokakarya, Yogyakarta, 1987.

Depari, Eduard dkk, Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan, Suatu.

                  Kumpulan      Karangan,       Gadjah    Mada      University   Press,

                  Yogyakarta, 1978.

Jahi, Amri, Komunikasi Massa dan Pembangunan di Negara-negara Dunia Ketiga :

                  Suatu Pengantar, PT. Gramedia, Jakarta, 1988

Galanis, Gloria.J dkk, Communicating in Groups : Application and Skills, Brown and

                  Benchmark, 2nd edition, 1993.

Hardjasoemantri. Koesnadi, Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada University

                  Press, Yogyakarta, Edisi ketiga, cet.V, 1988.

--------------------, Menjelang Sepuluh Tahun Undang-Undang Lingkungan Hidup,

                  Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, cet. kedua, 1992.

-------------------,   Environmental Legislation in Indonesia, Gadjah Mada University

                  Press, Yogyakarta, 2nd edition, 3rd printing, 1989.

-------------------, Makalah Simposium Kepedulian UI Terhadap Tatanan Masa Depan

                  Indonesia, Peranan Hukum Lingkungan Dalam Tatanan Masa Depan

                  Indonesia, Jakarta, 30 Maret - 1 April 1998.

McQuail, Dennis dkk, Communication Models for The Study of Mass

                  Communication, Longman, London and Newyork, 2nd edition, 1993.

PRSSNI, Pengurus Daerah DKI JAYA 1980-1983, Buku Petunjuk Radio Siaran

                  Swasta Niaga, Jakarta, 1983
Siagian, Sondang P, Sistem Informasi Untuk Pengambilan Keputusan, Gunung

              Agung, Jakarta, cetakan kedua, 1976.

Soemarwoto, Otto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djembatan,

              Jakarta, 1973.

Sumardjono, Maria S W, Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Yogyakarta, 1989.

              Swastha DH, Basu, Azas-azas Marketing, Liberty, Yogyakarta, Edisi

              3, cetakan kedua, 1996

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai

              Pustaka, Jakarta, 1988

Departemen Penerangan RI, Pemerataan Informasi Meningkatkan Peran Serta

              Masyarakat Dalam Pembangunan, 1987.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DIY, Peranan Media Massa Lokal Bagi

              Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah, 1997

RI, Undang-Undang Dasar 1945

RI, Ketetapan MPR No.II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara

RI, Undaag Undang No.3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi.

RI, Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran non Pemerintah.

RI, Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 39/KEP/MENPEN/1971 tentang

              Kebijaksanaan Penyelenggaraan Acara Serta Isi Siaran Bagi Radio

              Siaran Non Pemerintah

RI, Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 24/KEP/MENPEN/1978 tentang

              Perubahan Atas Pasal-pasal Dalam Surat Keputusan Menteri

              Penerangan No. 39/KEP/MENPEN/1971.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1362
posted:10/28/2011
language:Indonesian
pages:108