PNEUMONIA
Definisi
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).
Selain gambaran umum di atas, Pneumonia dapat dikenali berdasarkan pedoman tanda-tanda
klinis lainnya dan pemeriksaan penunjang (Rontgen, Laboratorium) (Wilson, 2006).
Pada usia anak-anak, Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di
negara berkembang termasuk Indonesia. Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia
diperkirakan mencapai 21 % (Unicef, 2006). Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai
250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya. Fakta yang sangat mencengangkan.
Karenanya, kita patut mewaspadai setiap keluhan panas, batuk, sesak pada anak dengan
memeriksakannya secara dini (Setiowulan, 2000).
Etiologi
Sebagian besar penyebab Pneumonia adalah mikroorganisme (virus, bakteri). Dan
sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau sejenisnya)
dan masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung ke dalam saluran pernapasan (aspirasi).
Berbagai penyebab Pneumonia tersebut dikelompokkan berdasarkan golongan umur,
berat ringannya penyakit dan penyulit yang menyertainya (komplikasi). Mikroorganisme
tersering sebagai penyebab Pneumonia adalah virus, terutama Respiratory Syncial Virus
(RSV) yang mencapai 40%. Sedangkan golongan bakteri yang ikut berperan terutama
Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae type b (Hib).
Awalnya, mikroorganisme masuk melalui percikan ludah (droplet), kemudian terjadi
penyebaran mikroorganisme dari saluran napas bagian atas ke jaringan (parenkim) paru dan
sebagian kecil karena penyebaran melalui aliran darah (Setiowulan, 2000).
Sedangkan dari sudut pandang sosial penyebab pneumonia menurut Depkes RI (2004)
antara lain:
a. Status gizi bayi
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang
diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan
sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan
masukan nutrient. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada
data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck. 2000 : 1).
Klasifikasi status gizi pada bayi berdasarkan Kartu Menuju Sehat adalah :
1) Gizi Lebih
2) Gizi Baik
3) Gizi kurang
4) Gizi buruk
b. Riwayat persalinan
Riwayat persalinan yang mempengaruhi terjadinya pneumonia adalah ketuban
pecah dini dan persalinan preterm (Setiowulan.2000).
c. Kondisi sosial ekonomi orang tua
Kemampuan orang tua dalam menyediakan lingkungan tumbuh yang sehat pada
bayi juga sangat mempengaruhi terhadap terjadinya pneumonia. Klasifikasi
kesejahteraan keluarga adalah :
1) Keluarga sejahtera yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang
sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak,
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi,
selaras. dan seimbang antar anggota, serta antara keluarga dengan masyarakat
dan lingkungannya
2) Keluarga sejahtera I yaitu keluarga yang kondisi ekonominya baru bisa
memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum mampu
memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya.
3) Keluarga pra sejahtera yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya, belum mampu melaksanakan ibadah berdasarkan agamanya masing-
masing, memenuhi kebutuhan makan minimal dua kali sehari, pakaian yang
berbeda untuk di rumah, bekerja, sekolah, dan bepergian, memiliki rumah
yang bagian lantainya bukan dari tanah, dan belum mampu untuk berobat di
sarana kesehatan modern (BKKBN, 2002).
d. Lingkungan tumbuh bayi
Lingkunngan tumbuh bayi yang mempengaruhi terhadap terjadinya
pneumonia adalah kondisi sirkulasi udara dirumah, adanya pencemaran udara di
sekitar rumah dan lingkungan perumahan yang padat (www.infokes.com, 2006).
e. Konsumsi ASI
Jumlah konsumsi ASI bayi akan sangat mempengaruhi imunitas bayi, bayi
yang diberi ASI secara eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik
dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI secara eksklusif.
Klasifikasi Pneumonia
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi pneumonia sebagai berikut:
a. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam
(chest indrawing).
b. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat
c. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam,
tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis
dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia (Rasmailah, 2004).
Tanda dan Gejala
Tanda-tanda Pneumonia sangat bervariasi, tergantung golongan umur,
mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (imunologis) dan berat ringannya penyakit.
Pada umumnya, diawali dengan panas, batuk, pilek, suara serak, nyeri tenggorokan.
Selanjutnya panas makin tinggi, batuk makin hebat, pernapasan cepat (takipnea), tarikan otot
rusuk (retraksi), sesak napas dan penderita menjadi kebiruan (sianosis). Adakalanya disertai
tanda lain seperti nyeri kepala, nyeri perut dan muntah (pada anak di atas 5 tahun).
Pada bayi (usia di bawah 1 tahun) tanda-tanda pnemonia tidak spesifik, tidak selalu
ditemukan demam dan batuk.
Selain tanda-tanda di atas, WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas
per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan
diagnosa Pneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar (Setiowulan, 2000).
Tabel 2.1. Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)
Umur Anak Napas Normal Takipnea (Napas cepat)
0 – 2 Bulan 30-50 per menit sama atau > 60 x per menit
2-12 Bulan 25-40 per menit sama atau > 50 x per menit
Penatalaksanaan
Pengobatan ditujukan kepada pemberantasan mikroorganisme penyebabnya.
Walaupun adakalanya tidak diperlukan antibiotika jika penyebabnya adalah virus, namun
untuk daerah yang belum memiliki fasilitas biakan mikroorganisme akan menjadi masalah
tersendiri mengingat perjalanan penyakit berlangsung cepat, sedangkan di sisi lain ada
kesulitan membedakan penyebab antara virus dan bakteri. Selain itu, masih dimungkinkan
adanya keterlibatan infeksi sekunder oleh bakteri.
Oleh karena itu, antibiotika diberikan jika penderita telah ditetapkan sebagai
Pneumonia. Ini sejalan dengan kebijakan Depkes RI (sejak tahun 1995, melalui program
Quality Assurance ) yang memberlakukan pedoman penatalaksaan Pneumonia bagi
Puskesmas di seluruh Indonesia.
Masalah lain dalam hal perawatan penderita Pneumonia adalah terbatasnya akses
pelayanan karena faktor geografis. Lokasi yang berjauhan dan belum meratanya akses
tranportasi tentu menyulitkan perawatan manakala penderita pneumonia memerlukan
perawatan lanjutan (rujukan) (Setiowulan, 2000).
Perawatan di rumah yang dapat dilakukan pada bayi atau anak yang menderita
pneumonia antara lain :
a. Mengatasi demam
Untuk anak usia 2 bulan sampaii 5 tahun demam diatasi dengan
memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan
demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu
2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian
digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain
bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
b. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu
jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh ,
diberikan tiga kali sehari.
c. Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu
lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang
menyusu tetap diteruskan.
d. Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih
banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan
cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
e. Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan
rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang
berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih
parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi
cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak
memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.
Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan
agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh.
Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari
anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang (Rasmailah,
2004).
Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan radiologist : air bronchogram : streptococcus pneumoniae
2. Pemeriksaan Laboratorium : Leukosit
3. Pemeriksaan Bakteriologis : sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal,
aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis,
bronskoskopi, biopsy
4. Pemeriksaan Khusus : Titer antibody terhadap virus
Pencegahan
Mengingat Pneumonia adalah penyakit beresiko tinggi yang tanda awalnya sangat
mirip dengan Flu, alangkah baiknya para orang tua tetap waspada dengan memperhatikan tips
berikut :
a. Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat
keramaian yang berpotensi penularan.
b. Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA.
c. Membiasakan pemberian ASI.
d. Segera berobat jika mendapati anak kita mengalami panas, batuk, pilek. Terlebih
jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk
(retraksi).
e. Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan. Dan segera
ke RS jika kondisi anak memburuk.
f. Imunisasi Hib (untuk memberikan kekebalan terhadap Haemophilus influenzae,
vaksin Pneumokokal Heptavalen (mencegah IPD= invasive pneumococcal
diseases) dan vaksinasi influenzae pada anak resiko tinggi, terutama usia 6-23
bulan. Sayang vaksin ini belum dapat dinikmati oleh semua anak karena harganya
yang cukup mahal.
g. Menyediakan rumah sehat bagi bayi yang memenuhi persyaratan :
Memiliki luas ventilasi sebesar 12 – 20% dari luas lantai.
Tempat masuknya cahaya yang berupa jendela, pintu atau kaca sebesar
20%.
Terletak jauh dari sumber-sumber pencemaran, misalnya pabrik, tempat
pembakaran dan tempat penampungan sampah sementara maupun akhir
(Menkes, 1999).
Diagnosis pneumonia dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan pemeriksaan
fisik secara umum. Setelah itu ada pula pemeriksaan penunjuang seperti rontgen paru dan
pemeriksaan darah. Penanganan pneumonia pun dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Umumnya pengobatan dengan pemberian antibiotik. “Penderita pneumonia dapat sembuh
bila diberikan antibiotik yg sesuai dengan jenis kumannya, hanya saja perlu dosis tinggi dan
waktu yg lama,” papar Atilla.
Namun, bakteri Streptococcus pneumoniae mulai resisten atau kebal terhadap
beberapa jenis antibiotik. Bahkan kawasan Asia dinyatakan sebagai hot zone, yakni daerah
dengan tingkat resistensi tinggi untuk bakteri pneumokok. Oleh sebab itu apabila pneumonia
yang dialami cukup parah, penanganannya juga dilakukan dengan cara opname. Dengan
perawatan khusus di rumah sakit, pasien bisa mendapatkan istirahat dan pengobatan yang
lebih intensif, atau bahkan terapi oksigen sebagai penunjang. Selain itu penderita pneumonia
juga membutuhkan banyak cairan untuk mencegahnya dari dehidrasi. Cairan ini bisa
diperoleh dengan cara banyak minum air putih maupun melalui infus.
Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus, meski
beberapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga bisa diobati dirumah.
Biasanya dokter yang menangani pneumonia akan memilihkan obat sesuai pertimbangan
masing-masing, setelah suhu pasien kembali normal, dokter akan menginstruksikan
pengobatan lanjutan untuk mencegah kekambuhan. Soalnya, serangan berikutnya bisa lebih
berat dibanding yang pertama. Selain antibiotika, pasien juga akan mendapat pengobatan
tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen
dalam darah.
Pada beberapa kasus, Atilla menerangkan bahwa pneumonia yang sudah mengalami
komplikasi tersebut bisa meninggalkan berbagai efek samping. “Anak dapat mengalami
berbagai efek samping seperti gangguan kecerdasan, gangguan perkembangan motorik,
gangguan pendengaran dan keterlambatan bicara,” paparnya. Walaupun demikian, Bambang
tetap meyakinkan bahwa anak dengan pneumonia juga bisa sembuh total dan hidup dengan
normal.
Penataksanaan
1. Antibiotik
2. Terapi supportif umum
a. Terapi oksigen
b. Humidifikasi dengan nebulizer
c. Fisioterapi dada
d. Pengaturan cairan
e. Pemberian kortokosteroid pada fase sepsis berat
f. Obat inotropik
g. Ventilasi mekanis
h. Drainase empiema
i. Bila terdapat gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori cukup
Masalah Yang lazim muncul pada klien
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d inflamasi dan obstruksi jalan nafas
2. Defisit Volume cairan b/d intake oral tidak adekuat, takipneu, demam
3. Intoleransi aktivitas b/d isolasi respiratory
4. Defisit pengetahuan b/d perawatan anak pulang
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
keperawatan Hasil
1 Bersihan jalan nafas tidak NOC : NIC :
efektif b/d inflamasi dan
Respiratory status : Airway suction
obstruksi jalan nafas Ventilation Pastikan kebutuhan oral / tracheal
Respiratory status : suctioning
Definisi : Airway patency Auskultasi suara nafas sebelum
dan sesudah suctioning.
Ketidakmampuan untuk
Informasikan pada klien dan
membersihkan sekresi Kriteria Hasil : keluarga tentang suctioning
atau obstruksi dari saluran Minta klien nafas dalam sebelum
pernafasan untuk Mendemonstrasikan suction dilakukan.
mempertahankan batuk efektif dan suara Berikan O2 dengan menggunakan
kebersihan jalan nafas. nafas yang bersih, nasal untuk memfasilitasi suksion
tidak ada sianosis dan nasotrakeal
dyspneu (mampu Gunakan alat yang steril sitiap
bernafas dengan melakukan tindakan
Batasan Karakteristik : mudah, tidak ada Anjurkan pasien untuk istirahat dan
pursed lips) napas dalam setelah kateter
Menunjukkan jalan dikeluarkan dari nasotrakeal
- Dispneu, Penurunan
nafas yang paten (klien Monitor status oksigen pasien
suara nafas
tidak merasa tercekik, Ajarkan keluarga bagaimana cara
- Orthopneu
irama nafas, frekuensi melakukan suksion
- Cyanosis
pernafasan dalam Hentikan suksion dan berikan
- Kelainan suara
rentang normal, tidak
nafas (rales, ada suara nafas oksigen apabila pasien menunjukkan
wheezing) abnormal) bradikardi, peningkatan saturasi O2,
- Kesulitan berbicara Mampu dll.
- Batuk, tidak efekotif mengidentifikasikan
atau tidak ada dan mencegah factor
- Mata melebar yang dapat
- Produksi sputum menghambat jalan
- Gelisah nafas Airway Management
- Perubahan frekuensi Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
dan irama nafas lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Faktor-faktor yang Identifikasi pasien perlunya
berhubungan: pemasangan alat jalan nafas buatan
Pasang mayo bila perlu
- Lingkungan : Lakukan fisioterapi dada jika perlu
merokok, menghirup Keluarkan sekret dengan batuk atau
asap rokok, perokok suction
pasif-POK, infeksi Auskultasi suara nafas, catat adanya
- Fisiologis : disfungsi suara tambahan
neuromuskular, Lakukan suction pada mayo
hiperplasia dinding Kolaborasi pemberian bronkodilator
bronkus, alergi jalan bila perlu
nafas, asma. Berikan pelembab udara Kassa basah
- Obstruksi jalan NaCl Lembab
nafas : spasme jalan Atur intake untuk cairan
nafas, sekresi mengoptimalkan keseimbangan.
tertahan, banyaknya Monitor respirasi dan status O2
mukus, adanya jalan
nafas buatan,
sekresi bronkus,
adanya eksudat di
alveolus, adanya
benda asing di jalan
nafas.
2 Defisit Volume cairan NOC:
b/d intake oral tidak Fluid management
adekuat, takipneu, Fluid balance Timbang popok/pembalut jika
demam Hydration diperlukan
Nutritional Status : Pertahankan catatan intake dan output
Definisi : Penurunan Food and Fluid Intake yang akurat
cairan intravaskuler, Kriteria Hasil : Monitor status hidrasi ( kelembaban
interstisial, dan/atau membran mukosa, nadi adekuat,
Mempertahankan tekanan darah ortostatik ), jika
intrasellular. Ini mengarah urine output sesuai diperlukan
ke dehidrasi, kehilangan dengan usia dan BB, Monitor vital sign
cairan dengan BJ urine normal, HT Monitor masukan makanan / cairan
pengeluaran sodium normal dan hitung intake kalori harian
Tekanan darah, nadi, Lakukan terapi IV
suhu tubuh dalam Monitor status nutrisi
batas normal
Berikan cairan
Tidak ada tanda tanda
Batasan Karakteristik : dehidrasi, Elastisitas Berikan cairan IV pada suhu ruangan
turgor kulit baik, Dorong masukan oral
- Kelemahan membran mukosa Berikan penggantian nesogatrik sesuai
- Haus lembab, tidak ada rasa output
- Penurunan turgor haus yang berlebihan Dorong keluarga untuk membantu
kulit/lidah pasien makan
- Membran mukosa/kulit Tawarkan snack ( jus buah, buah
kering segar )
- Peningkatan denyut Kolaborasi dokter jika tanda cairan
nadi, penurunan berlebih muncul meburuk
tekanan darah,
Atur kemungkinan tranfusi
penurunan
Persiapan untuk tranfusi
volume/tekanan nadi
- Pengisian vena
menurun
- Perubahan status
mental
- Konsentrasi urine
meningkat
- Temperatur tubuh
meningkat
- Hematokrit meninggi
- Kehilangan berat
badan seketika
(kecuali pada third
spacing)
Faktor-faktor yang
berhubungan:
- Kehilangan volume
cairan secara aktif
- Kegagalan mekanisme
pengaturan
3 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
b/d isolasi respiratory Activity Therapy
Energy Kolaborasikan dengan Tenaga
conservation Rehabilitasi Medik
Intoleransi aktivitas Self Care : ADLs dalammerencanakan progran terapi
b/d fatigue Kriteria Hasil : yang tepat.
Bantu klien untuk mengidentifikasi
Berpartisipasi aktivitas yang mampu dilakukan
Definisi : Ketidakcukupan dalam aktivitas
energu secara fisiologis Bantu untuk memilih aktivitas
fisik tanpa disertai konsisten yangsesuai dengan
maupun psikologis untuk peningkatan
meneruskan atau kemampuan fisik, psikologi dan social
tekanan darah, Bantu untuk mengidentifikasi dan
menyelesaikan aktifitas nadi dan RR
yang diminta atau aktifitas mendapatkan sumber yang diperlukan
Mampu melakukan untuk aktivitas yang diinginkan
sehari hari. aktivitas sehari Bantu untuk mendpatkan alat bantuan
hari (ADLs) secara aktivitas seperti kursi roda, krek
mandiri Bantu untu mengidentifikasi aktivitas
Batasan karakteristik : yang disukai
a. melaporkan secara Bantu klien untuk membuat jadwal
verbal adanya latihan diwaktu luang
kelelahan atau Bantu pasien/keluarga untuk
kelemahan. mengidentifikasi kekurangan dalam
b. Respon abnormal beraktivitas
dari tekanan darah Sediakan penguatan positif bagi yang
atau nadi terhadap aktif beraktivitas
aktifitas Bantu pasien untuk mengembangkan
c. Perubahan EKG motivasi diri dan penguatan
yang menunjukkan Monitor respon fisik, emoi, social
aritmia atau iskemia dan spiritual
d. Adanya dyspneu
atau
ketidaknyamanan
saat beraktivitas. Energy Management
Observasi adanya pembatasan klien
dalam melakukan aktivitas
Faktor factor yang Dorong anal untuk mengungkapkan
berhubungan : perasaan terhadap keterbatasan
Kaji adanya factor yang menyebabkan
kelelahan
Tirah Baring atau Monitor nutrisi dan sumber energi
imobilisasi tangadekuat
Kelemahan Monitor pasien akan adanya kelelahan
menyeluruh fisik dan emosi secara berlebihan
Ketidakseimbangan Monitor respon kardivaskuler terhadap
antara suplei aktivitas
oksigen dengan Monitor pola tidur dan lamanya
kebutuhan tidur/istirahat pasien
Gaya hidup yang
dipertahankan.
4 Defisit pengetahuan NOC : NIC :
b/d tidak familiar Teaching : disease Process
Kowlwdge : disease
dengan sumber process Berikan penilaian tentang tingkat
Kowledge : health pengetahuan pasien tentang proses
informasi Behavior penyakit yang spesifik
Kriteria Hasil : Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
bagaimana hal ini berhubungan
Pasien dan keluarga dengan anatomi dan fisiologi, dengan
menyatakan cara yang tepat.
pemahaman tentang Gambarkan tanda dan gejala yang
penyakit, kondisi, biasa muncul pada penyakit, dengan
prognosis dan program cara yang tepat
pengobatan Gambarkan proses penyakit, dengan
Pasien dan keluarga cara yang tepat
mampu melaksanakan Identifikasi kemungkinan penyebab,
prosedur yang dengna cara yang tepat
dijelaskan secara Sediakan informasi pada pasien
benar tentang kondisi, dengan cara yang
Pasien dan keluarga tepat
mampu menjelaskan Hindari harapan yang kosong
kembali apa yang Sediakan bagi keluarga atau SO
dijelaskan perawat/tim informasi tentang kemajuan pasien
kesehatan lainnya dengan cara yang tepat
Diskusikan perubahan gaya hidup
yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa yang
akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
Dukung pasien untuk mengeksplorasi
atau mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
Eksplorasi kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara yang tepat
Rujuk pasien pada grup atau agensi di
komunitas lokal, dengan cara yang
tepat
Instruksikan pasien mengenai tanda
dan gejala untuk melaporkan pada
pemberi perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat