Embed
Email

Pneumonia

Document Sample
Pneumonia
Description

Pneumonia

Shared by: Yoga Dainis Awuy
Stats
views:
204
posted:
10/28/2011
language:
Indonesian
pages:
11
PNEUMONIA

Definisi

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).

Selain gambaran umum di atas, Pneumonia dapat dikenali berdasarkan pedoman tanda-tanda

klinis lainnya dan pemeriksaan penunjang (Rontgen, Laboratorium) (Wilson, 2006).

Pada usia anak-anak, Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di

negara berkembang termasuk Indonesia. Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia

diperkirakan mencapai 21 % (Unicef, 2006). Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai

250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya. Fakta yang sangat mencengangkan.

Karenanya, kita patut mewaspadai setiap keluhan panas, batuk, sesak pada anak dengan

memeriksakannya secara dini (Setiowulan, 2000).

Etiologi

Sebagian besar penyebab Pneumonia adalah mikroorganisme (virus, bakteri). Dan

sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau sejenisnya)

dan masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung ke dalam saluran pernapasan (aspirasi).

Berbagai penyebab Pneumonia tersebut dikelompokkan berdasarkan golongan umur,

berat ringannya penyakit dan penyulit yang menyertainya (komplikasi). Mikroorganisme

tersering sebagai penyebab Pneumonia adalah virus, terutama Respiratory Syncial Virus

(RSV) yang mencapai 40%. Sedangkan golongan bakteri yang ikut berperan terutama

Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae type b (Hib).

Awalnya, mikroorganisme masuk melalui percikan ludah (droplet), kemudian terjadi

penyebaran mikroorganisme dari saluran napas bagian atas ke jaringan (parenkim) paru dan

sebagian kecil karena penyebaran melalui aliran darah (Setiowulan, 2000).

Sedangkan dari sudut pandang sosial penyebab pneumonia menurut Depkes RI (2004)

antara lain:

a. Status gizi bayi

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang

diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan

sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan

masukan nutrient. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada

data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck. 2000 : 1).

Klasifikasi status gizi pada bayi berdasarkan Kartu Menuju Sehat adalah :

1) Gizi Lebih

2) Gizi Baik

3) Gizi kurang

4) Gizi buruk

b. Riwayat persalinan

Riwayat persalinan yang mempengaruhi terjadinya pneumonia adalah ketuban

pecah dini dan persalinan preterm (Setiowulan.2000).

c. Kondisi sosial ekonomi orang tua

Kemampuan orang tua dalam menyediakan lingkungan tumbuh yang sehat pada

bayi juga sangat mempengaruhi terhadap terjadinya pneumonia. Klasifikasi

kesejahteraan keluarga adalah :

1) Keluarga sejahtera yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang

sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak,

bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi,

selaras. dan seimbang antar anggota, serta antara keluarga dengan masyarakat

dan lingkungannya

2) Keluarga sejahtera I yaitu keluarga yang kondisi ekonominya baru bisa

memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum mampu

memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya.

3) Keluarga pra sejahtera yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan

dasarnya, belum mampu melaksanakan ibadah berdasarkan agamanya masing-

masing, memenuhi kebutuhan makan minimal dua kali sehari, pakaian yang

berbeda untuk di rumah, bekerja, sekolah, dan bepergian, memiliki rumah

yang bagian lantainya bukan dari tanah, dan belum mampu untuk berobat di

sarana kesehatan modern (BKKBN, 2002).

d. Lingkungan tumbuh bayi

Lingkunngan tumbuh bayi yang mempengaruhi terhadap terjadinya

pneumonia adalah kondisi sirkulasi udara dirumah, adanya pencemaran udara di

sekitar rumah dan lingkungan perumahan yang padat (www.infokes.com, 2006).

e. Konsumsi ASI

Jumlah konsumsi ASI bayi akan sangat mempengaruhi imunitas bayi, bayi

yang diberi ASI secara eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik

dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI secara eksklusif.

Klasifikasi Pneumonia

Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi pneumonia sebagai berikut:

a. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam

(chest indrawing).

b. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat

c. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam,

tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis

dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia (Rasmailah, 2004).

Tanda dan Gejala

Tanda-tanda Pneumonia sangat bervariasi, tergantung golongan umur,

mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (imunologis) dan berat ringannya penyakit.

Pada umumnya, diawali dengan panas, batuk, pilek, suara serak, nyeri tenggorokan.

Selanjutnya panas makin tinggi, batuk makin hebat, pernapasan cepat (takipnea), tarikan otot

rusuk (retraksi), sesak napas dan penderita menjadi kebiruan (sianosis). Adakalanya disertai

tanda lain seperti nyeri kepala, nyeri perut dan muntah (pada anak di atas 5 tahun).

Pada bayi (usia di bawah 1 tahun) tanda-tanda pnemonia tidak spesifik, tidak selalu

ditemukan demam dan batuk.

Selain tanda-tanda di atas, WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas

per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan

diagnosa Pneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar (Setiowulan, 2000).

Tabel 2.1. Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)

Umur Anak Napas Normal Takipnea (Napas cepat)

0 – 2 Bulan 30-50 per menit sama atau > 60 x per menit

2-12 Bulan 25-40 per menit sama atau > 50 x per menit

Penatalaksanaan

Pengobatan ditujukan kepada pemberantasan mikroorganisme penyebabnya.

Walaupun adakalanya tidak diperlukan antibiotika jika penyebabnya adalah virus, namun

untuk daerah yang belum memiliki fasilitas biakan mikroorganisme akan menjadi masalah

tersendiri mengingat perjalanan penyakit berlangsung cepat, sedangkan di sisi lain ada

kesulitan membedakan penyebab antara virus dan bakteri. Selain itu, masih dimungkinkan

adanya keterlibatan infeksi sekunder oleh bakteri.

Oleh karena itu, antibiotika diberikan jika penderita telah ditetapkan sebagai

Pneumonia. Ini sejalan dengan kebijakan Depkes RI (sejak tahun 1995, melalui program

Quality Assurance ) yang memberlakukan pedoman penatalaksaan Pneumonia bagi

Puskesmas di seluruh Indonesia.

Masalah lain dalam hal perawatan penderita Pneumonia adalah terbatasnya akses

pelayanan karena faktor geografis. Lokasi yang berjauhan dan belum meratanya akses

tranportasi tentu menyulitkan perawatan manakala penderita pneumonia memerlukan

perawatan lanjutan (rujukan) (Setiowulan, 2000).

Perawatan di rumah yang dapat dilakukan pada bayi atau anak yang menderita

pneumonia antara lain :

a. Mengatasi demam

Untuk anak usia 2 bulan sampaii 5 tahun demam diatasi dengan

memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan

demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu

2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian

digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain

bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).

b. Mengatasi batuk

Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu

jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh ,

diberikan tiga kali sehari.

c. Pemberian makanan

Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu

lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang

menyusu tetap diteruskan.

d. Pemberian minuman

Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih

banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan

cairan akan menambah parah sakit yang diderita.

e. Lain-lain

Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan

rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang

berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih

parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi

cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak

memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.

Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan

agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh.

Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari

anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang (Rasmailah,

2004).

Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan radiologist : air bronchogram : streptococcus pneumoniae

2. Pemeriksaan Laboratorium : Leukosit

3. Pemeriksaan Bakteriologis : sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal,

aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis,

bronskoskopi, biopsy

4. Pemeriksaan Khusus : Titer antibody terhadap virus

Pencegahan

Mengingat Pneumonia adalah penyakit beresiko tinggi yang tanda awalnya sangat

mirip dengan Flu, alangkah baiknya para orang tua tetap waspada dengan memperhatikan tips

berikut :

a. Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat

keramaian yang berpotensi penularan.

b. Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA.

c. Membiasakan pemberian ASI.

d. Segera berobat jika mendapati anak kita mengalami panas, batuk, pilek. Terlebih

jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk

(retraksi).

e. Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan. Dan segera

ke RS jika kondisi anak memburuk.

f. Imunisasi Hib (untuk memberikan kekebalan terhadap Haemophilus influenzae,

vaksin Pneumokokal Heptavalen (mencegah IPD= invasive pneumococcal

diseases) dan vaksinasi influenzae pada anak resiko tinggi, terutama usia 6-23

bulan. Sayang vaksin ini belum dapat dinikmati oleh semua anak karena harganya

yang cukup mahal.

g. Menyediakan rumah sehat bagi bayi yang memenuhi persyaratan :

 Memiliki luas ventilasi sebesar 12 – 20% dari luas lantai.

 Tempat masuknya cahaya yang berupa jendela, pintu atau kaca sebesar

20%.

 Terletak jauh dari sumber-sumber pencemaran, misalnya pabrik, tempat

pembakaran dan tempat penampungan sampah sementara maupun akhir

(Menkes, 1999).

Diagnosis pneumonia dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan pemeriksaan

fisik secara umum. Setelah itu ada pula pemeriksaan penunjuang seperti rontgen paru dan

pemeriksaan darah. Penanganan pneumonia pun dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Umumnya pengobatan dengan pemberian antibiotik. “Penderita pneumonia dapat sembuh

bila diberikan antibiotik yg sesuai dengan jenis kumannya, hanya saja perlu dosis tinggi dan

waktu yg lama,” papar Atilla.

Namun, bakteri Streptococcus pneumoniae mulai resisten atau kebal terhadap

beberapa jenis antibiotik. Bahkan kawasan Asia dinyatakan sebagai hot zone, yakni daerah

dengan tingkat resistensi tinggi untuk bakteri pneumokok. Oleh sebab itu apabila pneumonia

yang dialami cukup parah, penanganannya juga dilakukan dengan cara opname. Dengan

perawatan khusus di rumah sakit, pasien bisa mendapatkan istirahat dan pengobatan yang

lebih intensif, atau bahkan terapi oksigen sebagai penunjang. Selain itu penderita pneumonia

juga membutuhkan banyak cairan untuk mencegahnya dari dehidrasi. Cairan ini bisa

diperoleh dengan cara banyak minum air putih maupun melalui infus.

Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus, meski

beberapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga bisa diobati dirumah.

Biasanya dokter yang menangani pneumonia akan memilihkan obat sesuai pertimbangan

masing-masing, setelah suhu pasien kembali normal, dokter akan menginstruksikan

pengobatan lanjutan untuk mencegah kekambuhan. Soalnya, serangan berikutnya bisa lebih

berat dibanding yang pertama. Selain antibiotika, pasien juga akan mendapat pengobatan

tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen

dalam darah.

Pada beberapa kasus, Atilla menerangkan bahwa pneumonia yang sudah mengalami

komplikasi tersebut bisa meninggalkan berbagai efek samping. “Anak dapat mengalami

berbagai efek samping seperti gangguan kecerdasan, gangguan perkembangan motorik,

gangguan pendengaran dan keterlambatan bicara,” paparnya. Walaupun demikian, Bambang

tetap meyakinkan bahwa anak dengan pneumonia juga bisa sembuh total dan hidup dengan

normal.

Penataksanaan

1. Antibiotik

2. Terapi supportif umum

a. Terapi oksigen

b. Humidifikasi dengan nebulizer

c. Fisioterapi dada

d. Pengaturan cairan

e. Pemberian kortokosteroid pada fase sepsis berat

f. Obat inotropik

g. Ventilasi mekanis

h. Drainase empiema

i. Bila terdapat gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori cukup

Masalah Yang lazim muncul pada klien

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d inflamasi dan obstruksi jalan nafas

2. Defisit Volume cairan b/d intake oral tidak adekuat, takipneu, demam

3. Intoleransi aktivitas b/d isolasi respiratory

4. Defisit pengetahuan b/d perawatan anak pulang









No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi

keperawatan Hasil







1 Bersihan jalan nafas tidak NOC : NIC :

efektif b/d inflamasi dan

 Respiratory status : Airway suction

obstruksi jalan nafas Ventilation  Pastikan kebutuhan oral / tracheal

 Respiratory status : suctioning

Definisi : Airway patency  Auskultasi suara nafas sebelum

dan sesudah suctioning.

Ketidakmampuan untuk

 Informasikan pada klien dan

membersihkan sekresi Kriteria Hasil : keluarga tentang suctioning

atau obstruksi dari saluran  Minta klien nafas dalam sebelum

pernafasan untuk  Mendemonstrasikan suction dilakukan.

mempertahankan batuk efektif dan suara  Berikan O2 dengan menggunakan

kebersihan jalan nafas. nafas yang bersih, nasal untuk memfasilitasi suksion

tidak ada sianosis dan nasotrakeal

dyspneu (mampu  Gunakan alat yang steril sitiap

bernafas dengan melakukan tindakan

Batasan Karakteristik : mudah, tidak ada  Anjurkan pasien untuk istirahat dan

pursed lips) napas dalam setelah kateter

 Menunjukkan jalan dikeluarkan dari nasotrakeal

- Dispneu, Penurunan

nafas yang paten (klien  Monitor status oksigen pasien

suara nafas

tidak merasa tercekik,  Ajarkan keluarga bagaimana cara

- Orthopneu

irama nafas, frekuensi melakukan suksion

- Cyanosis

pernafasan dalam  Hentikan suksion dan berikan

- Kelainan suara

rentang normal, tidak

nafas (rales, ada suara nafas oksigen apabila pasien menunjukkan

wheezing) abnormal) bradikardi, peningkatan saturasi O2,

- Kesulitan berbicara  Mampu dll.

- Batuk, tidak efekotif mengidentifikasikan

atau tidak ada dan mencegah factor

- Mata melebar yang dapat

- Produksi sputum menghambat jalan

- Gelisah nafas Airway Management

- Perubahan frekuensi  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin

dan irama nafas lift atau jaw thrust bila perlu

 Posisikan pasien untuk

memaksimalkan ventilasi

Faktor-faktor yang  Identifikasi pasien perlunya

berhubungan: pemasangan alat jalan nafas buatan

 Pasang mayo bila perlu

- Lingkungan :  Lakukan fisioterapi dada jika perlu

merokok, menghirup  Keluarkan sekret dengan batuk atau

asap rokok, perokok suction

pasif-POK, infeksi  Auskultasi suara nafas, catat adanya

- Fisiologis : disfungsi suara tambahan

neuromuskular,  Lakukan suction pada mayo

hiperplasia dinding  Kolaborasi pemberian bronkodilator

bronkus, alergi jalan bila perlu

nafas, asma.  Berikan pelembab udara Kassa basah

- Obstruksi jalan NaCl Lembab

nafas : spasme jalan  Atur intake untuk cairan

nafas, sekresi mengoptimalkan keseimbangan.

tertahan, banyaknya  Monitor respirasi dan status O2

mukus, adanya jalan

nafas buatan,

sekresi bronkus,

adanya eksudat di

alveolus, adanya

benda asing di jalan

nafas.





2 Defisit Volume cairan NOC:

b/d intake oral tidak Fluid management

adekuat, takipneu,  Fluid balance  Timbang popok/pembalut jika

demam  Hydration diperlukan

 Nutritional Status :  Pertahankan catatan intake dan output

Definisi : Penurunan Food and Fluid Intake yang akurat

cairan intravaskuler, Kriteria Hasil :  Monitor status hidrasi ( kelembaban

interstisial, dan/atau membran mukosa, nadi adekuat,

 Mempertahankan tekanan darah ortostatik ), jika

intrasellular. Ini mengarah urine output sesuai diperlukan

ke dehidrasi, kehilangan dengan usia dan BB,  Monitor vital sign

cairan dengan BJ urine normal, HT  Monitor masukan makanan / cairan

pengeluaran sodium normal dan hitung intake kalori harian

 Tekanan darah, nadi,  Lakukan terapi IV

suhu tubuh dalam  Monitor status nutrisi

batas normal

 Berikan cairan

 Tidak ada tanda tanda

Batasan Karakteristik : dehidrasi, Elastisitas  Berikan cairan IV pada suhu ruangan

turgor kulit baik,  Dorong masukan oral

- Kelemahan membran mukosa  Berikan penggantian nesogatrik sesuai

- Haus lembab, tidak ada rasa output

- Penurunan turgor haus yang berlebihan  Dorong keluarga untuk membantu

kulit/lidah pasien makan

- Membran mukosa/kulit  Tawarkan snack ( jus buah, buah

kering segar )

- Peningkatan denyut  Kolaborasi dokter jika tanda cairan

nadi, penurunan berlebih muncul meburuk

tekanan darah,

 Atur kemungkinan tranfusi

penurunan

 Persiapan untuk tranfusi

volume/tekanan nadi

- Pengisian vena

menurun

- Perubahan status

mental

- Konsentrasi urine

meningkat

- Temperatur tubuh

meningkat

- Hematokrit meninggi

- Kehilangan berat

badan seketika

(kecuali pada third

spacing)

Faktor-faktor yang

berhubungan:



- Kehilangan volume

cairan secara aktif

- Kegagalan mekanisme

pengaturan







3 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :

b/d isolasi respiratory Activity Therapy

 Energy  Kolaborasikan dengan Tenaga

conservation Rehabilitasi Medik

Intoleransi aktivitas  Self Care : ADLs dalammerencanakan progran terapi

b/d fatigue Kriteria Hasil : yang tepat.

 Bantu klien untuk mengidentifikasi

 Berpartisipasi aktivitas yang mampu dilakukan

Definisi : Ketidakcukupan dalam aktivitas

energu secara fisiologis  Bantu untuk memilih aktivitas

fisik tanpa disertai konsisten yangsesuai dengan

maupun psikologis untuk peningkatan

meneruskan atau kemampuan fisik, psikologi dan social

tekanan darah,  Bantu untuk mengidentifikasi dan

menyelesaikan aktifitas nadi dan RR

yang diminta atau aktifitas mendapatkan sumber yang diperlukan

 Mampu melakukan untuk aktivitas yang diinginkan

sehari hari. aktivitas sehari  Bantu untuk mendpatkan alat bantuan

hari (ADLs) secara aktivitas seperti kursi roda, krek

mandiri  Bantu untu mengidentifikasi aktivitas

Batasan karakteristik : yang disukai

a. melaporkan secara  Bantu klien untuk membuat jadwal

verbal adanya latihan diwaktu luang

kelelahan atau  Bantu pasien/keluarga untuk

kelemahan. mengidentifikasi kekurangan dalam

b. Respon abnormal beraktivitas

dari tekanan darah  Sediakan penguatan positif bagi yang

atau nadi terhadap aktif beraktivitas

aktifitas  Bantu pasien untuk mengembangkan

c. Perubahan EKG motivasi diri dan penguatan

yang menunjukkan  Monitor respon fisik, emoi, social

aritmia atau iskemia dan spiritual

d. Adanya dyspneu

atau

ketidaknyamanan

saat beraktivitas. Energy Management

 Observasi adanya pembatasan klien

dalam melakukan aktivitas

Faktor factor yang  Dorong anal untuk mengungkapkan

berhubungan : perasaan terhadap keterbatasan

 Kaji adanya factor yang menyebabkan

kelelahan

 Tirah Baring atau  Monitor nutrisi dan sumber energi

imobilisasi tangadekuat

 Kelemahan  Monitor pasien akan adanya kelelahan

menyeluruh fisik dan emosi secara berlebihan

 Ketidakseimbangan  Monitor respon kardivaskuler terhadap

antara suplei aktivitas

oksigen dengan  Monitor pola tidur dan lamanya

kebutuhan tidur/istirahat pasien

 Gaya hidup yang

dipertahankan.





4 Defisit pengetahuan NOC : NIC :

b/d tidak familiar Teaching : disease Process

 Kowlwdge : disease

dengan sumber process  Berikan penilaian tentang tingkat

 Kowledge : health pengetahuan pasien tentang proses

informasi Behavior penyakit yang spesifik

Kriteria Hasil :  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan

bagaimana hal ini berhubungan

 Pasien dan keluarga dengan anatomi dan fisiologi, dengan

menyatakan cara yang tepat.

pemahaman tentang  Gambarkan tanda dan gejala yang

penyakit, kondisi, biasa muncul pada penyakit, dengan

prognosis dan program cara yang tepat

pengobatan  Gambarkan proses penyakit, dengan

 Pasien dan keluarga cara yang tepat

mampu melaksanakan  Identifikasi kemungkinan penyebab,

prosedur yang dengna cara yang tepat

dijelaskan secara  Sediakan informasi pada pasien

benar tentang kondisi, dengan cara yang

 Pasien dan keluarga tepat

mampu menjelaskan  Hindari harapan yang kosong

kembali apa yang  Sediakan bagi keluarga atau SO

dijelaskan perawat/tim informasi tentang kemajuan pasien

kesehatan lainnya dengan cara yang tepat

 Diskusikan perubahan gaya hidup

yang mungkin diperlukan untuk

mencegah komplikasi di masa yang

akan datang dan atau proses

pengontrolan penyakit

 Diskusikan pilihan terapi atau

penanganan

 Dukung pasien untuk mengeksplorasi

atau mendapatkan second opinion

dengan cara yang tepat atau

diindikasikan

 Eksplorasi kemungkinan sumber atau

dukungan, dengan cara yang tepat

 Rujuk pasien pada grup atau agensi di

komunitas lokal, dengan cara yang

tepat

 Instruksikan pasien mengenai tanda

dan gejala untuk melaporkan pada

pemberi perawatan kesehatan, dengan

cara yang tepat


Related docs
Other docs by Yoga Dainis Aw...
Penyakit AIDS
Views: 40  |  Downloads: 0
Kanker Kulit
Views: 61  |  Downloads: 1
add
Views: 40  |  Downloads: 0
Vakum Ekstraksi
Views: 666  |  Downloads: 37
Mioma Uteri
Views: 286  |  Downloads: 1
Distosia Bahu
Views: 354  |  Downloads: 2
KETUBAN PECAH SEBELUM WAKTUNYA
Views: 180  |  Downloads: 0
Presentasi muka
Views: 209  |  Downloads: 0
Evolusi dan Kinerja Komputer
Views: 51  |  Downloads: 0
Kanker Thyroid
Views: 172  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!