BAB 1 igt - rencana perawatan _2_ by Richie_Begini

VIEWS: 542 PAGES: 12

									                                                                              1




                            BAB 1. PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang
        Pada pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan, rencana perawatan dan
perawatan pendahuluan harus ditetapkan terlebih dahulu, karena beberapa
keadaan dapat mempengaruhi keadaan yang lain. Jika pada pasien terdapat
keluhan rasa sakit sebelum pembuatan gigi tiruan, mungkin yang diperlukan
adalah pencabutan gigi geligi sesegera mungkin, jika penambalan tidak dapat
dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kesehatan rongga mulut. Selama
proses pemeriksaan, rencana perawatan sementara telah ditentukan untuk
digunakan pada masing-masing gigi geligi yang tinggal, pemeriksaan rontgen foto
juga diperlukan pada keadaan seperti ini untuk melihat keadaan gigi yang tinggal
seperti karies interdental dan kualitas tulang alveolar.
        Perawatan pendahuluan yang dilakukan sebelum pembuatan gigi tiruan
sebagian lepasan bertujuan untuk melihat keadaan seluruh perubahan-
perubahan/kelainan yang terjadi pada gigi geligi, lingir alveolus yang mendukung
gigi tiruan dan struktur rongga mulut yang lain yang dapat menggagalkan dalam
pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan. Diagnosa dan perawatan pendahuluan
mempunyai arti yang penting terhadap suksesnya pembuatan gigi tiruan untuk
kebutuhan pasien.
        Pada waktu menentukan rencana perawatan, dokter gigi diharapkan dapat
menentukan prognosisnya sebelum melakukan perawatan. Dalam menentukan
prognosis, dokter gigi akan dihadapkan pada pertimbangan berbagai faktor, baik
faktor yang mendukung maupun yang menghambat keberhasilan perawatan. Jika
diperkirakan akan terjadi masalah, perlu dibahas dengan pasien sebelum
perawatan dilanjutkan. Penentuan prognosis ini sangat penting agar pasien dapat
lebih mudah menerima keterbatasan yang tidak dapat dihindari pada saat memakai
gigi tiruan.




                                         1
                                                                             2




1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan tentang perawatan pendahuluan dalam pembuatan gigi tiruan lepasan!
2. Jelaskan tentang prognosis dalam pembuatan gigi tiruan lepasan!


1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan tentang perawatan pendahuluan dalam
  pembuatan gigi tiruan lepasan
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan tentang prognosis perawatan pada
  pembuatan gigi tiruan lepasan
                                                                              3




                            BAB 2. PEMBAHASAN




2.1 Rencana Perawatan
       Setelah semua data terkumpul melalui pemeriksaan klinis obyektif,
anamnesis maupun model diagnostik, maka diagnosis dapat ditegakkan. Diagnosis
biasanya dituliskan pada kolom khusus pada Kartu Status Penderita (dental
record). Di sini dikemukakan semua hal yang abnormal, menguntungkan atau
merugikan proses pembuatan gigi tiruan lepasan. Rencana erawatan kemudian
disusun berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan secara tuntas.
Rencana perawatan harus dirinci selengkap dan sebaik mungkin, sehingga terlihat
jelas tahapan-tahapan perawatan yang akan dilakukan. Tanpa rincian yang baik,
tidak mungkin tercapai efisiensi dan efektivitas perawatan yang diharapkan
(Gunadi, 1991 : 128).
       Rencana perawatan merupakan tahap yang tidak bisa dilepaskan dari
proses diagnostik. Sebelum menentukan langkah perawatan prostodontik,
hendaknya semua aspek ditinjau dan dipertimbangkan. Dokter gigi harus dapat
mengambil keputusan yang positif tentang apa yang paling baik bagi pasien
(Basker, 1996 : 77).
       Rencana perawatan pada tahap pertama gigi-gigi yang dapat dipertahankan
diidentifikasi, pada tahap kedua keperluan untuk retensinya ditentukan. Hanya
pada tahap lanjut rencana protesa definitif dan pembuatan disainnya dibuat.




                                       3
                                                                             4




Perencanaan tahap 1
  Mengidentifikasi gigi yang masih dapat dipertahankan dan tidak ada harapan.
  Tahap ini dilakukan secara cermat dengan melakukan identifikasi pada
  indikasi-indikasi.
Perencanaan tahap 2
  Menetapkan manfaat dan atau perlunya mempertahankan pada gigi-gigi yang
  dapat dipertahankan. Berdasarkan hasil ini, pilihan perawatan disampaikan dan
                                                                                 5




  didiskusikan dengan pasien. Selanjutnya menyusun rencana sementara dan
  menyampaikan terapi awal yang diperlukan.
Perencanaan tahap 3
  Menetapkan rencana perawatan tetap berdasarkan jumlah gigi penyangga dan
  tipe konstruksi. Hal ini hanya dapat dilakukan setelah reevaluasi intensif
  rencana sementara berdasarkan kondisi yang ada pada akhir perawatan awal.
  Keputusan akhir mengenai detil konstruksi tidak dibuat hingga sesudah uji coba
  akhir pada gigi tiruan percobaan.
     A. Keputusan evaluasi negatif: tanpa overdenture
     B. Keputusan evaluasi positif: rencana perawatan sementara
     C. Keputusan evaluasi kembali negatif sementara: perawatan awal lebih
       lanjut
     D. Keputusan evaluasi kembali negatif tetap: perawatan dengan overdenture
     E. Keputusan evaluasi kembali positif tetap: rencana perawatan tetap


2.2 Perawatan Pendahuluan
       Sebelum dilakukan perawatan prostho dilakukan preparasi mulut terlebih
dahulu. Secara garis besar, Preparasi Mulut ada dua tahapan, yaitu :
   1. Pertama, dalam proses ini biasanya langkah-langkah pendahuluan, seperti
       tindakan bedah, perawatan periodontal, konservatif termasuk endodontic,
       bahkan orthodontik perlu dilaksanakan untuk mempersiapkan mulut
       pasien menerima geligi tiruan yang akan dipakainya. Tahapan pertama ini
       ditujukan ditujukan untuk menciptakan lingkungan mulut yang sehat.
   2. Kedua, mulut pasien perlu disiapkan untuk pemasangan geligi tiruan yang
       akan dibuat. Dalam tahapan ini dilakukan proses pengubahan kontur gigi
       untuk mengurangi hambatan, mencari bidang bimbing, membuat sandaran
       oklusal dan bila perlu menciptakan daerah-daerah untuk retensi mekanis.
       Permukaan jaringan yang akan dipreparasi ditandai pada model
       diagnostik. Model dipakai sebagai peta atau petunjuk untuk melaksanakan
       perubahan-perubahan (Gunadi, 1991 : 128-129).
                                                                                      6




2.2.1 Tindakan Bedah Pra Prostetik
        Persiapan tindakan bedah seperti pencabutan gigi, pembedahan gigi
impaksi, tulang atau jaringan hendaknya dilakukan secepat mungkin. Exostosis
dan tori yang mengganggu desain geligi tiruan, harus dibuang secara bedah, bila
tidak dapat lagi diatasi dengan dengan cara non bedah. Pembuangan ini
tergantung pada ukuran, lokasi dalam kaitan dengan protesa yang akan dibuat
serta kualitas dukungan tulang alveolar. Tori yang terletak pada bagian distal
harus dibuang, khususnya bila residual ridge memberikan dukungan minim. Pada
kasus seperti ini pergerakan fungsional bagian posterior geligi tiruan akan
menyebabkan trauma pada tori (Gunadi, 1991 : 129-130).
        Prosedur bedah ini harus diselesaikan jauh sebelum pembuatan protesa
dilakukan, supaya penyembuhan optimal bisa tercapai. Pembentukan kembali
jaringan bekas ekstraksi biasanya berlangsung cepat untuk periode 4-5 bulan
pertama dan kemudian berlangsung lebih lambat. Setelah jangka waktu 10-12
bulan, residual ridge umumnya dianggap sudah stabil. Makin lama jarak antara
pembedahan dan prosedur pencetakan, penyembuhan luka makin mantap,
sehingga jaringan pendukung protesa jadi semakin stabil pula (Gunadi, 1991 :
129).
        Tindakan bedah pra prostetik ini, antara lain :
        a. Jaringan hiperplastik yang mengganggu desain dan stabilitas, termasuk
           pembesaran tuberositas, mukosa kendur, papillomatoses palatal atau
           epulis fissuratum. Pada kasus pembesaran tuberositas dan mengganggu
           ruang intermaksilar, perlu dibuat foto rontgen dulu untuk melihat lokasi
           sinus dan kemungkinan dilakukannya tindakan bedah.
        b. Frenulum labialis atas dan lingualis bawah yang paling sering
           menimbulkan gangguan pada desain geligi tiruan.
        c. Semua lesi jaringan lunak perlu dieksisi dan dievaluasi secara histologi
           (Gunadi, 1991 : 130).
                                                                             7




2.2.2 Perwatan Konservatif
      Untuk perawatan jangka panjang, perawatan endodontik biasanya harus
diperkuat dengan pasak tuang atau dikembalikan fungsinya dengan mahkota
tiruan atau modifikasi untuk perawatan overdenture. Perawatan konservatif atau
restoratif dengan demikian tidak terbatas hanya kepada perawatan karies saja,
tetapi juga harus :
1. Memberi kekuatan yang cukup serta cukup tebal untuk preparasi sandaran
   oklusal.
2. Mengurangi ruang interproksimal yang berlebihan
3. Memberikan ruang oklusal yang cukup luas
4. Membentuk daerah gerong untuk retensi, bila daerah ini memang tak ada
5. Mendukung terpenuhinya faktor estetik
6. Memberikan kontur gigi yang sesuai
(Gunadi, 1991 : 130-131).
       Pada kasus-kasus lain, perawatan endodontik diperlukan karena gigi akan
diperpendek sampai hampir setinggi gusi atau karena bagian dari saluran akar
akan memerlukan suatu pasak atau sekrup atau karena gigi nonvital dan tidak
terdapat pengisian saluran akar atau pengisian tidak sempurna. Guttaperca point
digunakan dengan suatu sealer saluran akar yang menambah kepastian penutupan
lengkap dari saluran, akan tetapi hal-hal berikut harus diperhatikan:
       a. Saat saluran diekskavasi untuk membentuk suatu ruang, maka
          guttaperca tidak boleh seluruhnya diangkat.
       b. Perhatian khusus harus dilakukan saat preparasi ruang untuk pasak
          didekat apeks untuk memastikan bahwa tidak terjadi pendorongan
          guttaperca ke apeks.
       Aturannya perawatan endodontik dilakukan baik sebelum atau bersamaan
dengan perawatan periodontal yang diperlukan (Damayanti, 2009 : 18).


2.2.3 Perawatan Ortodontik
      Gigi yang sudah lama dicabut biasanya meninggalkan ruangan kosong yang
makijn lama makin sempit karena terjadi migrasi gigi tetangga. Hal ini
                                                                                   8




menyebabkan gigi menjadi malposisi sehingga kurang menguntungkan bila akan
dipakai sebagai gigi penahan protesa. Memaksakan gigi miring menahan beban
juga akan menyebabkan kerusakan jaringan periodontal. Jalan keluar bagi kasus
seperti ini sebaiknya dengan melakukan sedikit pergeseran gigi, sehingga gigi
akan kembali keposisi yang diharapkan (Gunadi, 1991 : 131).
        Pemanfaatan tindakan ortodontik semacam ini akan menunjang keberhasilan
perawatan prostodontik, disamping meningkatkan kesehatan jaringan periodontal
gigi-gigi di sekitar protesa.


2.2.4. Perawatan Periodontik
         Motivasi para pengidap penyakit periodontal berat terhadap kesehatan
mulutnya biasanya rendah dan calon pemakai geligi tiruan yang menyedihkan
(poor candidate). Bila tanda-tanda ini sudah terlihat pada tahap diagnostik,
sebaiknya perawatan prostodontik ditunda lebih dahulu, sampai pasien sadar akan
kesehatan dan kebersihan mulutnya. Dengan sendirinya tidak semua pasien dapat
mencapai tingkat kontrol plak yang ideal. Prosedur perawatan prosthodontik
dengan pasti dapat dimulai, bila tingkat ini sudah optimal. Pasien yang belum
mencapainya, dianjurkan untuk kembali menjalani perawatan profilaksis (Gunadi,
1991 : 131).
         Pembersihan karang gigi, perbaikan tepi restorasi yang berlebihan atau
rusak amat bermanfaat untuk mengontrol plak. Sebagai tambahan bagi proses
fisioterapi mulut, seperti scalling, root planning, kuretase dan pengasahan selektif,
dapat pula dilakukan tindakan bedah periodontal untuk meningkatkan kesehatan
jaringan lunak mulut sebagai pendukung geligi tiruan. Prosedur ini meliputi
gingivektomi, bedah mukogingival, grafting, bahkan bedah tulang (Gunadi, 1991 :
132).
         Gigi yang sudah goyang perlu juga mendapat perhatian, karena dapat
menimbulkan masalah. Disharmoni oklusal, peradangan jaringan periodontium
atau kombinasi keduanya mungkin merupakan penyebabnya. Kontrol dari faktor-
faktor lokal atau adanya kontak prematur biasanya dapat membantu mengatasi
                                                                                9




masalah ini. Bila dianggap perlu, splinting gigi goyang ini dapat dipertimbangkan
(Gunadi, 1991 : 132).


2.2.5 Pengubahan Kontur Gigi
     Modifikasi atau pengubahan bentuk kontur gigi sebetulnya suatu cara yang
sederhana, tetapi sering tidak diperhatikan dalam persiapan mulut. Kekhawatiran
melukai dentin pada saat pengasahan permukaan gigi, sehingga karies jadi mudah
berkembang    mungkin     menjadi   salah   satu      penyebab   keengganan   ini.
Bagian atau permukaan gigi yang akan diasah sebaliknya ditentukan dulu pada
model diagnostik dan biasanya meliputi :
   1. Persiapan bidang bimbing (guiding plane)
   2. Pengurangan hambatan (interference) pada bagian proksimal gigi atau
       permukaan gigi yang malposisi
   3. Penempatan cengkram pada permukaan gigi dimana tidak dijumpai gerong
       yang diharapkan (undesirable undercut).
   4. Preparasi untuk sandaran oklusal cengkeram (occlusal rest)
   5. Pengubahan bidang oklusal
       (Gunadi, 1991 : 132).


       Pembuatan mahkota tuang kadang-kadang juga dilakukan sebagai
persiapan pembuatan geligi tiruan lepasan, walaupun harus direncanakan dengan
hati-hati. Disamping punya keuntungan dan nilai lebih, pemasangan mahkota
selubung bukanlah perawatan yang praktis. Mahkota selubung biasanya dibuat
perbaikan kontur mahkota, harmonisasi oklusi untuk peningkatan bidang oklusal.
Penyesuaian permukaan proksimal gigi dengan arah pemasangan protesa,
pembuatan gerong atau tempat untuk sandaran oklusal, merupakan pertimbangan
pula. Mahkota buatan ini bisa pula dibuat untuk splinting gigi-gi pendukung atau
perbaikan posisi mahkota gigi (Gunadi, 1991 : 133).
       Setelah semua tindakan preparasi mulut ini selesai dilaksanakan, pasien
siap untuk menjalani pencetakan kedua dan memulai proses pembuatan protesa.
                                                                             10




2.3 Prognosis
       Pada waktu menentukan rencana perawatan, dokter gigi diharapkan dapat
menentukan prognosisnya sebelum melakukan perawatan untuk menentukan
keberhasilan dari perawatan yang akan dilakukan. Prognosis dapat ditentukan dari
temuan-temuan riwayat penyakit dan pemeriksaan, sehingga dokter gigi dapat
menilai keberhasilan perawatan. Jika diperkirakan akan terjadi masalah, perlu
dibahas dengan pasien sebelum perawatan dilanjutkan. Dengan demikian pasien
akan lebih mudah menerima keterbatasan yang tidak dapat dihindari pada
pemakaian gigi tiruan (Basker, 1996 : 79).
                                                                                11




                               BAB 3. PENUTUP




1.1 Kesimpulan
       Pada pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan, rencana perawatan dan
perawatan pendahuluan harus ditetapkan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk
mendapatkan kesehatan rongga mulut. Sebelum dilakukan perawatan prostho
dilakukan preparasi mulut terlebih dahulu, antara lain yaitu : bedah pre prostetik,
perawatan konservatif, ortodonti,      dan periodontik yang bertujuan untuk
menciptakan lingkungan mulut yang sehat serta pengubahan kontur gigi yang
bertujuan untuk mengurangi hambatan, mencari bidang bimbing, membuat
sandaran oklusal, dan menciptakan daerah-daerah untuk retensi mekanis. Selain
itu dokter gigi diharapkan dapat menentukan prognosisnya sebelum melakukan
perawatan. Dalam menentukan prognosis, dokter gigi akan dihadapkan pada
pertimbangan berbagai faktor, baik faktor yang mendukung maupun yang
menghambat keberhasilan perawatan. Penentuan prognosis ini sangat penting agar
pasien dapat lebih mudah menerima keterbatasan yang tidak dapat dihindari pada
saat memakai gigi tiruan.




                                      11
                                                                      12




                              DAFTAR BACAAN




Basker, Davenport, & Tomlin. 1996. Perawatan Prostodontik bagi Pasien Tak
      Bergigi. Jakarta : EGC.


Damayanti, L. 2009. Overdenture untuk Menunjang Perawatan Prostetik.
      Bandung : FKG UNPAD.


Gunadi, dkk. 1991. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan Jilid 1.
      Jakarta : Hipocrates.




                                    12

								
To top