Buletin Sastra Kecubung

					                                       Edisi I September 2011




 ecubung
                                   Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa




K Kecubung: Biar aku mabuk biji-biji aksara



                                             (Timur Budi Raja)
          Membangun Puisi Dari Masyarakat Yang Mencemaskan
                                                 (Irfa Ronaboyd)
                                                     Mati Lampu
                                           (Firman G. Akhmadi)
                 Era Teknologi Informasi dan Posisi Kebudayaan

                                                       Puisi dari :
                                                     Pipit Viandani,
                                                     Ardiansyah DZ,
                                                   Ristiana Ekawati,
                                                Ilham Hidayatullah,
                                              Asmail husana Haslah
                                                     Ghinan Salman

                                                    Cerpen dari :
                                                       Anik Rohitah
                                                         Sukarman
Salam Redaksi
     Salam Pers Mahasiswa!                                         baru tentunya.
     Setelah melewati proses yang cukup pelik, diskusi                  Hal yang menjadi pertanyaan besar adalah: mengapa
panjang, akhirnya gagasan tentang buletin sastra ini terbit        harus muncul buletin sastra di Universitas Trunojoyo
mengabarkan semangat untuk melakukan sesuatu                       Madura? Alasan yang cukup mendasar yang bisa kami
perubahan dan keinginan berbagi kepada khalayak lewat              ajukan sebagai jawaban adalah begitu banyak para penulis
media belajar kami – Buletin Sastra Kecubung. Media ini            kreatif muda di Universitas Trunojoyo Madura yang tidak
merupakan ajang penampung karya sastra bagi kami dan               memiliki ruang untuk menampung karya-karya mereka.
mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, yang difasilitasi               Maka, kami disini ingin mengajak dan memberi ruang
oleh UKM LPM Spirit Mahasiswa.                                     serta kebebasan berekspresi kepada teman-teman yang
     Buletin Sastra Kecubung ini tidak diedarkan dengan            gemar menulis. Sehingga para penulis muda ini, tentunya
versi cetak. Hal ini dikarenakan terbatasnya pendanaan             dapat memberikan nafas baru terhadap dunia kesusastraan
yang ada. Sehingga kami hanya edarkan pada versi PDF.              dan ikut meramaikan serta mewarnai hingar bingar di dunia
Karena seiring perkembangan di dunia Pers Kampus di                kesusastraan Indonesia. Kemudian mampu membuat suatu
berbagai tempat di indonesia sudah merambah dalam                  perubahan terhadap bangsa melalui kreatifitas dan
tataran sastra, untuk itu kami tidak ingin kalah dan               semangat mereka dalam bentuk tulisan yang membangun.
berjuang semampu kita. Sekalipun masih belum                            Buletin Sastra Kecubung ini terbit atas dasar
menerbitkan versi cetaknya.                                        keprihatinan terhadap keadaan bangsa yang semakin
     Media ini juga merupakan tugas bagi kami calon                tenggelam dan larut dalam keterpurukan yang mendalam.
anggota LPM SM yang masih menjalani proses pra diklat.             Di samping itu, kesadaran akan dibutuhkannya wadah yang
Barangkali kami memang belum faham benar tentang                   bisa menampung karya kami. Kami sepakat bahwa generasi
kesusastraan itu seperti apa, dan kami harapkan untuk bisa         muda para penulis kreatif ini mampu membawa dan
memakluminya. Tapi setidaknya, kami ingin berbagi                  membangun bangsa ini lewat tulisan dan tangan-tangan
tentang apa yang sudah kami dapatkan dan pelajari                  kreatif mereka.
bersama melalui tulisan, melalui buku-buku bermutu serta                Semoga “Buletin Sastra Kecubung” ini mampu
pelajaran-pelajaran membaca alam, situasi, keadaan dan             memberikan motivasi kepada para pembaca dan menaruh
lingkup kehidupan yang berada saat ini.                            harapan besar serta jawaban atas keraguan terhadap
     Kami sadar bahwa kami belum mampu memberikan                  bangsa. Demikianlah Buletin Sastra Kecubung edisi
apa-apa terhadap dunia kesusastraan. Dunia yang                    Pertama.
menawarkan nilai-nilai kesadaran sebagai manusia dan                    Selamat membaca.
keindahan. Barangkali ini hanya persoalan waktu saja.
Kami akan terus memperkaya diri agar mampu                             Salam Pers mahasiswa!
m e m b e r i ka n s u g u h a n ya n g m e n a r i k d e n ga n
menumbuhkembangkan ilmu dan wawasan-wawasan                            (Pimred)


  Susunan Redaksi:
  Pimpinan Umum: Irfa Ronaboyd,
  Pimred: Ghinan Salman
  Redaktur Senior: Citra D. Vresti T.
  Redaktur: Ardiansyah DZ., Ristiana Ekawati, Ilham Hidayatullah, Pipit Viandani.Sukarman, Anik Rohitah,
  Febriyanti Mandasari,
  Editor: Kang Rori
  Ilustrator: Ketoles
  Layouter: Firman G. Akhmadi.

Redaksi Buletin Sastra Kecubung Menerima Tulisan dari Pembaca Silahkan Kirimkan ke Kantor Redaksi atau
melalui e-mail: spiritmahasiswa.lpm@gmail.com. dengan subject: sastra kecubung.




|01                                                                                                      Kecubung
                                                                                                                Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                            SAJAK
                                                  Rintihan Hati
                                                  Senja akhiri ceritamu
                                                  Aku tak sanggup lagi mendengarnya
                                                  Sandiwara yang bersemayam di balik awan kelam
                                                  Runtuhkan segala tunas harapan jiwaku
                                                  Hari ini batu, gunung di tanganku hancur remuk
                                                  tak berbentuk
                                                  Yang ada hanya bekas cerita terkubur dalam tanah
Bendera di tubuhku
                                                  tempat aku meneteskan air mata
Dari selembar,                                    Hari ini, selembar surat cintaku
Tiga kata                                         Hilang lenyap belum sempat terbaca
Dan sampai berkata lembar,                        Hanya cahaya suram mengelilingi langkah-langkah
Di samping rembulan,
                                                  malam
Aku jantan yang di paksakan
                                                  Beritakan tentang kabar ketidak pastian
                                                  Menggugurkan impian dan kenyataan dari
Dahan tanggal                                     harapan yang pernah aku lukiskan

Senja yang tak dibaca di balik mata
Jelata kota,                                      SEMANGATKU
Adalah akar yang tak bercerita tentang teriknya
Angin, matahari, dan debu-debu                    Disini ku menginjakkan kaki
Sampai mengering,
                                                  Di kehidupan yang tak tentu arah
Sebagai belati menikam nyawa
                                                  Dan saat ini ku coba melangkah memacu
Tetapi rerantingnya,                              keberanianku menatap masa depan
Manusia itu nenek moyangmu                        Takkan ku biarkan waktu memperbudakku
                                                  dengan kesenangan yang meracuni dan
Hujan pun turun;
Kompas yang tak menyimpan rahasia                 membuatku gugur tertindih dosa
Jalan-jalan ramai,                                dosa yang belum tentu sanggup ku tebus
Bahkan cibiran kota menjadi guru                  bahkan kelak, sekarang, atau hari ini perubahan
Yang lebih mulia, hingga saatnya tak terhitung
Sebagai darah yang congkak,                       yang terbaik
Mengering dan tanggal                             yang biasa ku lakukan demi cita-cita
                                                  sudah telalu lama aku terlena akan kepalsuan
Bangkalan, 2011                                   dunia
                                                  dan saatnya aku bangkit,
  Ardiansyah DZ, mahasiswa baru di jurusan
  Ilmu Komunikasi, Fisib.                         menegakkan kepala menatap kearah matahari
                                                  pintu-pintu telah menantiku
                                                  …
                                                  Ristiana Ekawati, penulis adalah mahasiswa baru
                                                  di jurusan Sastra Inggris, Fisib.
Kecubung
      Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                   |02
SAJAK
Persepsi terbuka

Pandangan sesuatu yang mutlak
Mengenai apa yang dilihat dan dirasakan
Buta dan tuli, dua kata yang menjadi sosok kelemahan
Gagasan yang menjadi tolak ukur sebuah hidup
Jika mata melihat, hati merasakan, dan otak berpikir
Alam adalah pembelajaran di antara mereka yang bersahabat erat
dengan kesejukan
Namun tak banyak yang sadar
Memandang banyak manusia yang tak lebih baik dari alam
Yang tak berilmu dan memuakkan
Hanya senyum satu yang pantas sebagai simbol dari itu semua

Pipit Viandani, penulis adalah mahasiswa baru di jurusan Sastra
Inggris.



Sajak kotor

Setiap kerak malam datang
Aku tertimbun sampah
Dengan tahi-tahi menjijikkan                          Berkabung
Dan antek-antek rujak cingur
Yang diurap dengan buah segar                         Pagi ini tak seperti biasa; sendu
Tanpa mengetahui,                                     Awan kelabu berarak
Air kesegaran yang suci.                              Lagu sendu melambai
                                                      Gelombang manusia berjubah hitam berjalan, namun
Andai kau tahu kawan,                                 aneh
Tahi itu merasuk di hatiku
Dan sampah itu,                                       Di tengah berkabung seperti ini, gerombolan itu masih
Merasuk kekedalaman otak                              saja nenteng parsel berisi buah
Dan kau tahu?                                         Karangan bunga musnah
Antek-antek rujak cingur                              Harum bunga kematian mereka abaikan
yang berbuah busuk itu                                Diatas keranda sang mayat terdiam dalam takdirnya
Sudah menjalar
Bak air keruh yang berjalan                                       Mati…!
                                                                  Mati…!
Dimana letak pemandian suci itu                                   Mati…!
Aku ingin kesana
Membersihkan sedikit tubuhku                          Bangkalan, September 2010
Yang telah terlalu kotor ini.
                                                       Asmail husana Haslah
 Ilham Hidayatullah, Mahasiswa Baru
 Jurusan Sastra Inggris.


 |03                                                                                    Kecubung
                                                                                               Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                     Ulasan Puisi

                                            Bangunan-Bangunan Emosi Pada Sajak Remaja
                                                        Citra D. Vresti Trisna
           Mengapresiasi karya sasta remaja masa                     begitu penting dalam upaya membangun daya
transisi ternyata tidak sekedar melakukan apresiasi                  kreativitas remaja dalam memulai aktivitas menulis.
murni berdasarkan teori kritik sastra semata. Ada hal-               Disamping itu, proses berempati menjadi bagian yang
hal yang lebih penting untuk diperhatikan ketika                     sangat penting dalam menikmati karya remaja. Kita
memahami karya mereka, diantaranya: kesabaran                        harus ingat, tidak ada orang yang bisa serta merta
dan proses empati. Hal ini sesuai dengan puisi yang                  langsung menjadi penyair besar. Mereka pasti
akan dibahas dalam edisi perdana buletin Sastra                      memulai dari menulis puisi dengan kadar dan kualitas
Kecubung ini, dimana buletin ini adalah wahana                       yang ala kadarnya sebelum menghasilkan karya
pembelajaran menulis paling dasar dari calon kader                   hebat.
baru LPM Spirit Mahasiswa. Karena puisi bagi remaja                       Sekarang, mari kita telaah puisi-puisi dari
adalah karya perdana yang dibuat karena dorongan                     beberapa kawan calon kader LPM SM, diantaranya
alamiah psikologis dan kematangan jasmani mereka.                    adalah karya Ristiana Ekawati,           Ardiansyah
Soal tema apa yang akan mereka ambil, itu relatif;                   DZ dan Pipit Viandani. Puisi pertama adalah milik
cinta, alam, kemiskinan dan tentang orang terdekat                   Ristiana, “semangatku”, yang menggambarkan
mereka.                                                              suasana keresahan hatinya akan masa depan dan
    Karya sastra remaja lahir, umumnya bukan karena                  keinginan untuk dapat bangkit dari segala perintang
kesadaran mereka akan kaidah-kaidah yang sifatnya                    keduniawian. Hal ini nampak dari kalimat: / Disini ku
teknis dan teoritis, tapi lebih pada dorongan emosi                  menginjakkan kaki / Di kehidupan yang tak tentu arah
dan tanggapan spontan dari realitas yang cenderung                   / Dan saat ini ku coba melangkah memacu
disampaikan dengan tergesa-gesa. Sehingga remaja                     keberanianku menatap masa depan ... / dan saatnya
terkadang belum memperhatikan pembangunan                            aku bangkit, / menegakkan kepala menatap kearah
suasana dan diksi pada puisi-puisinya. Dorongan                      matahari / pintu-pintu telah menantiku /. Idiom yang
emosi yang meletup-letup menjadi satu-satunya                        dipakai Ristiana Ekawati masih dalam tataran
senjata dalam menyusun konstruksi di sajak-sajak                     standard, dalam arti masih memakai apa yang dipakai
mereka. Bahasa yang dipakai juga tidak lepas dari                    pada umumnya. Pemaparan yang dipakai untuk
bahasa sehari-hari. Hanya yang membedakan bahasa                     menjelaskan pesan yang ia sampaikan sangat realis
yang mereka pakai – agar tulisannya disebut puisi –                  dan ekspresif. Hal ini juga mendukung dengan pesan
cenderung memperumit bahasanya dengan segala                         semangat dan rasa percaya diri, yang kemudian
cara dan diksi yang dipakai untuk mengesankan                        dikemas dengan bahasa yang gamblang.
pencitraan alam.                                                          Sedangkan dalam puisi “Rintihan Hati”, masih
    Persoalan lahirnya sebuah sajak pada seseorang –                 karya Ristiana Ekawati, sudah mulai merambah dalam
terutama remaja – tidak bisa lepas dari persoalan                    ranah metafor. Seperti dalam kalimat: / Sandiwara
motif. Meminjam istilah Timur, penyair sekarang                      yang bersemayam di balik awan kelam / Runtuhkan
dalam menulis sajak sudah dalam tataran niat. Jadi                   segala tunas harapan jiwaku / Hari ini batu, gunung di
ketika sebuah tulisan itu diniatkan sebagai sajak,                   tanganku hancur remuk tak berbentuk /. Pada puisi ini
maka jadilah ia sajak. Soal tulisan itu sudah                        menceritakan tentang kekecewaan mendalam
memenuhi kaidah yang sudah ditentukan, itu                           penulis terhadap kekasihnya. Proses pembangunan
belakangan, niat tetap yang utama. Namun, bagi saya,                 suasana puitik sudah mulai terjadi karena dorongan
pendapat Timur merupakan pembatasan-                                 emosi akibat cinta kerap membuat seseorang menjadi
pembatasan dalam berkarya. Tidak ada benar dan                       melankolik dan sentimentil pada apapun. Di samping
salah dalam karya sastra. Untuk itu proses memahami                  itu, pada proses menangkap realitas dan




Kecubung
      Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                                     |4
Ulasan Puisi

    membekukannya ke dalam puisi sudah cukup             peran dalam pusisi-puisi Ardiansyah, sehingga baris
tepat. Namun dramatisasi dan metafor untuk               demi baris kalimatnya yang ajaib menjungkir balikkan
membekukan realitas masih perlu kembali dipelajari.      teori sastra apapun.
    Dalam persoalan puisi, bagi saya, realitas adalah        Ambiguitas bahasa dan kata yang akrobatik pada
segala-galanya, di samping kemampuan penyair             puisi Andriansyah tercermin dari potongan berikut ini:
dalam mengolah realitas agar menjadi menarik.            / Senja yang tak dibaca di balik mata / Adalah akar
Sebuah puisi harus bisa menghadirkan sesuatu yang        yang tak bercerita tentang teriknya / Pada penggalan
berbeda – mungkin spirit – yang bisa menjadikan          kalimat diatas merupakan keajaiban kata nampak
pembacanya menghela napas panjang setelah                jelas. Logika yang dipakai untuk menggambarkan
membaca. Namun penulis juga memiliki tanggung            realitas dalam puisi mereka juga masih terasa sulit
jawab kepada para pembacanya tentang realitas yang       untuk dipahami benar maknanya. Jadi makna yang
dihadirkannya. Seorang penyair harus memanusiakan        terkandung didalamnya bergantung dari interpretasi
pembacanya, dalam arti penulis harus bisa                pembaca masing-masing. Karena setiap orang berhak
memberikan pemahaman bila realitas yang                  memaknai apapun yang mereka baca. Ada perbedaan
dibawanya itu berangkat dari sesuatu yang real –         mendasar antara puisi Ristiana            Ekawati –
sekalipun tidak ada aturan yang mengharuskan             Semangatku – dengan puisi Ardiansyah. Umumnya
penulis harus selalu menghadirkan yang real.             setiap orang akan saling bersepakat mengenai
    Menulis puisi atau sajak juga merupakan sebuah       maksud dari puisinya dibandingkan dengan membaca
jalan untuk mentransformasikan sesuatu; pesan, ide       puisi Ardiansyah. Puisi yang dibawakan Ardiansyah
dan gagasannya kepada pembacanya. Multatuli              cenderung membawa pertanyaan yang tidak selesai.
pernah menulis kritik dalam bukunya – Max Havelar –      Sedangkan Pipit Viandani dengan sajaknya “Persepsi
yang menyindir para penyair hanya melakukan              terbuka” membawakan nuansa yang berbeda dalam
pembodohan kepada pembacanya mengenai                    sajak-sajaknya. Puisi pamplet yang membawakan
kecenderungan mengada-ada dalam menulis. Jadi            pesan akan kesadaran yang salah dari manusia.
demi mengejar keseimbangan bunyi pada sajak dan          Banyak kritik bertebaran di sana; seperti pendewaan
cerpennya, penyair rela membodohi pembacanya             gagasan dan ide dan sebuah kesadaran untuk belajar
dengan realitas yang tidak pernah ada, alias dikarang-   dari alam – salah satu buku terbaik dan terpercaya
karang.                                                  dalam kehidupan. Segala pandangan dan kritiknya
    Seperti dalam sajak Ardiansyah DZ dalam              tentang pembelajaran yang baik, disampaikan
sajaknya “Dahan Tanggal” memiliki tendensi seperti       dengan bangunan yang cukup menarik. Seperti pada
yang pernah disampaikan Multatuli. Namun, ada hal        kalimat: / Gagasan yang menjadi tolak ukur sebuah
yang menarik dari puisi-puisi Ardiansyah DZ, yakni       hidup / Jika mata melihat, hati merasakan, dan otak
kemampuannya dalam menyusun serangkaian                  berpikir / Alam adalah pembelajaran di antara
bangunan puitik dari bahasanya yang akrobatik.           mereka yang bersahabat erat dengan kesejukan /.
Penggunaan metafor yang gelap justru membawa             Pesan yang disampaikan begitu terang, sekalipun ada
puisi Ardiansyah terjebak diranah absurditas yang        beberapa hal yang terburu-buru, yang sebenarnya
mendayu-dayu. Namun, bukan kekayaan khasanah             masih butuh untuk diendapkan lebih lanjut.
sastra bila dalam puisi-puisi para penyair               Membaca puisi Pipit Viandani membuatku teringat
terseragamkan. Karakter yang kuat juga melekat           akan Almarhum Rendra, penyair besar yang kerap
dalam puisi-puisinya. Artinya, Ardiansyah tidak hanya    menghadirkan puisi pamplet. Dan yang perlu
sekedar membeo untuk menjadi sama dengan karya           disayangkan dari Pipit, dalam karyanya, masih dirasa
lainnya. Disamping itu, setiap orang bebas untuk         kurang dalam mengolah realitas yang berhasil
memilih bahasannya sendiri. Lagi pula setiap orang       direkamnya, untuk di tuangkan dalam puisi-puisinya.
bebas untuk memilih metodenya sendiri dalam
menangkap realitasnya. Imajinasi mutlak mengambil


 |05                                                                                        Kecubung
                                                                                                   Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                    Essai

                                            MATI LAMPU
                                              Oleh Irfa Ronaboyd

          Malam menjadi gelap lebih awal. Bintang        dinding tersebut bisa melakukan perubahan sosial?
dan bulan nampak lebih terang. Listrik menjadi           Bagaimana bisa dari tempat itu mengajarkan kita
padam di sekitar kampus dari sore sampai kembali         cara mengubah realitas-realitas sosial?
pagi. Penyebabnya sepele, layang-layang tersangkut                  Janganlah heran jika pendidikan kita
penangkal petir pada tiang listrik. Musim dan angin      berada dalam situasi stagnan. Pendidikan kita masih
yang mendukung menarik minat masyarakat                  menganut paradigma dogmatisme. Inilah penyebab
bermain layang-layang. Semua menyalahkan layang-         terhentinya proses berpikir dalam dunia pendidikan.
layang dan orang yang bermain. “Jaman sekarang kok       Hal tersebut yang dapat menghambat pemikiran
masih ada yang bermain layang-layang” celetuk            agar tetap percaya pada realitas. Teori-teori hanya
orang dengan raut kesal.                                 sebatas fiksasi realitas dan bukan lagi sebuah
          Benar, bila layang-layang adalah usang.        perkembangan yang bisa berubah. Penelitian-
Ketika putus tali, dia bergerak sesuai angin bertiup.    penelitian yang dihasilkan cenderung bersifat final.
Kita tahu bila angin selalu berubah dan bergerak. Uni    Dogmatisme menyebabkan ketidak mampuan
Soviet menjadi pelajaran bagaimana perubahan dan         melihat struktur sosial, termasuk dirinya. Pendidik
gerak angin tidak dapat ditebak. Layang-layang           meneruskan metode-metode baku yang kemudian
berubah kehendak. Dulu diminati dan sekarang             makin diendapkan. Realitas dipandang sebagai objek
dicaci. Layang-layang mempunyai sejarah yang             untuk dimanupulasi, dikuasai dan ditundukkan.
panjang. Dia menjadi alat petarungan udara di kala       Menurut Jean-Francois Lyotard saat ini sedang
manusia bermimpi terbang. Kemeriahan mengejar            memasuki fase di mana logika tunggal yang diyakini
layang-layang yang putus memiliki keasyikan              kaum modernis telah digantikan dengan pluralitas
tersendiri. Tanpa takut nyangkut di tiang listrik atau   logika. Bagi yang tertutup matanya oleh paradigma
tertabrak kendaraan.                                     mereka sendiri tidak menyadari akan hal ini.
          Sekarang, layang-layang seolah tak             Dampaknya adalah mereka membangun dunia
bersahabat dengan modernitas atau justru                 hanya dalam satu dimensi, apa yang ada
modernitas yang tak bersahabat dengan layang-            dihadapannya hanyalah hitam dan putih. Maka
layang. Dia memiliki kejayaan masa lampau yang           matilah mereka!
coba dipertahankan dengan derasnya arus                             Kita tidak akan menemukan kebebasan
modernitas. Apanya yang salah? Modern menjadi            dalam menentukan pilihan. Kita hanya akan
musuh dari arkais1. Modernitas memang membawa            mendapatkan para pendidik yang membentuk pola
perubahan terhadap kehidupan, namun adakalanya           pikir peserta didik sesuai dengan pola pikir mereka.
modernitas menjadi alat bagi kapitalis yang rakus.       Biarkan kita memilih, mengikuti atau bahkan
Mengeruk keuntungan tanpa memedulikan                    menciptakan mahzab sendiri. Biarkan kita
lingkungan dan budaya. Mereka menumbangkan               menemukan sintesis apa yang disampaikan pendidik
keindahan alami dan menciptakan keindahan                tanpa memaksakan pola pikirnya.
buatan. Mereka mengisap kekayaan alam dan                Jikalau lampu tidak padam gara-gara layang-layang,
memberikan kerusakan di atas permukaan tanah.            kita tidak bisa menikmati malam dengan kelembutan
          Di mana yang salah? Pendidikan kita.           angin, bintang dan bulan di alam terbuka. Mungkin
Pendidikan adalah jantung bagi perubahan sosial.         kita akan sibuk dengan televisi atau komputer di
Pergeseran persepsi bahwa pendidikan hanya               depan kita.
dimaknai sebagai sekolah-sekolah yang telah kita
                                                         1
tempuh. Bagaimana bisa sekolah yang hanya dibatasi           Arkais: kuno; usang; jarang dipakai.



Kecubung
      Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                        |06
                     MEMBANGUN PUISI DARI MASYARAKAT YANG MENCEMASKAN
                                   -catatan kecil perjalanan-
                                   Oleh : R. Timur Budi Raja

      Sebuah karya kreatif (seni) dapat disajikan       dunia, yaitu imajinasi dan realitas. Kemanusiaan,
kepada publik pada saat karya tersebut telah matang     harapan, cinta, kecemasan, keyakinan, kesunyian,
karena perjalanan proses penciptaannya. Setiap          kemurungan, malam dan blablabla, adalah tema-
karya sastra (baca: Puisi) yang lahir memiliki nilai    tema yang selalu didekati penyair. Sebagian berhasil
kesejarahan. Pergulatan batin yang dihadapi oleh        menjadi karya yang utuh dan besar. Sebagian lagi tak
seorang penyair adalah teror yang mendewasakan,         berhasil diterima masyarakat pembaca, rumit
pencaharian atas banyak hal yang dibutuhkan demi        dipersepsi dan bisa jadi gagal diinterpretasi. Akar
kematangan kreatifitas (kekaryaan) yang memakan         persoalannya disebabkan oleh kegagalan pertama
waktu tak sedikit, memberi penanda dan harga            yang dialami penyair dalam usahanya membangun
terhadap proses kreatif dan karyanya. Seorang           logika bahasa beserta estetikanya dan menghadirkan
penyair tidak secara tiba-tiba menulis puisi. Banyak    realitas tertentu yang berkelindan bersama
fase dan pertanyaan yang harus dilalui dan              gagasannya. Logika yang timpang-tindih, peletakan
dijawabnya sendiri, sebelum ia berhadapan dengan        kata yang sengkarut dan pemberian rasa pirasa yang
pena dan kertas.                                        tidak proporsional membuat bangunan teks puitik
      Mengapa saya menulis? Bagaimana saya              menjadi bias dan glambyar.
menulis?,…                                                    Keutuhan bangunan teks puitik hanya akan
      Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bekal       terjadi bila perpaduan antara pengalaman, plot,
paling sederhana yang akan menuntun seorang             imajinasi, fantasi, realitas yang ditemui dan
penulis (penyair) dalam perjalanan proses kreatifnya.   kesederhanaan rasa bahasa yang digunakan sudah
      “Mau menulis apa bila tak pandai membaca?”        dalam proporsi yang tepat (dalam hal ini: Kata),
demikian kata orang. Ungkapan ini menjadi benar-        sebagai wujud dari kematangan capaian berbahasa
benar tepat, karena dua aktifitas tersebut begitu       penyairnya.
sinergis dan tak dapat dipisahkan dalam dunia                 Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi
penulisan. Membaca buku, membaca literatur,             seorang penyair dalam membangun puisi-puisinya
membaca karya-karya sastra terjemahan, membaca          dengan sempurna. Antara lain adalah; kematangan
peristiwa, membaca realitas dan jaman; selain           usia, pola pikir yang tidak sederhana, proses
menambah perbendaharaan kata dan memberi                perjalanan hidup yang kompleks, pergulatan batin
pengetahuan tentang kebahasaan, juga dapat              yang panjang, latar belakang eksplorasi terhadap
memberi banyak pengetahuan yang                         teknik menulis, pengalaman membaca realitas dan
menggelisahkan bagi penyair. Yakni, persoalan dan       buku.
gagasan. Puisi menjadi sebentuk respon atas                   SASTRA : SEBUAH CATATAN TENTANG BAHASA
kepekaan intuitif penyair. Aktivitas membaca                    Karena penyair memilih puisi sebagai bahasa
menjadi begitu penting, karena seorang penyair          dan puisi adalah bahasa vital, segar dan
harus mengusai bahasa, untuk dapat memberi              menakjubkan; James Reves dalam bukunya,
makna pada bangunan teks puisinya                       Understanding Poetry, halaman 18 yang diterbitkan
      Realitas itu kaya, unik, sedih berbahaya dan      Cox and Wyman Ltd di London tahun 1975, berucap :
mengerikan. Tapi bahasa, sungguh begitu miskin          “Poetry is languange. That is inescapable…Poetry,
untuk mewakili kelengkapan milik realitas. Penyair      then, is vital, fresh and surprising languange. Stole
adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk          language will be in effective…”
menyiasatinya. Menjembatani pertemuan dua                     Seperti pula A. Teeuw, dalam sebuah bukunya ;



 |07                                                                                       Kecubung
                                                                                                 Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
      Membaca Dan Menilai Sastra, halaman 72,                 2000, halaman 14 Essay; Politik Imajinasi dalam
yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka tahun 1991,            cerpen-cerpen Seno Gumira Aji Dharma ).
menulis; “Bahwa untuk dapat memberi makna karya                     LOGIKA DARI MASYARAKAT KECEMASAN.
sastra, bahasa merupakan prioritas utama yang                            Bila ada semacam pandangan atau
harus dikuasai ”. Jadi sesungguhnya betapa                    persepsi bahwa kerja penyair adalah menulis puisi,
pentingnya bahasa dalam membangun karya sastra.               maka berarti sudah pasti selamanya puisi akan
      Dalam menyampaikan gagasan ke dalam                     menjadi milik penyair yang tak bisa dinikmati oleh
karyanya antara satu penyair dengan penyair yang              masyarakat luas. Terlepas dari apakah puisi tersebut
lain menggunakan gaya bahasa (stilistika) yang                bicara tentang manusia dan lingkungannya. Tak bisa
berbeda. Masing-masing gaya bahasa penyair                    dinikmati berarti tak bisa dirasakan. Lebih dari itu,
dipengaruhi oleh pribadi penyair itu sendiri.                 artinya, puisi yang demikian tak sampai ke kepala
Selayaknya Graham Hough, tahun 1969, dalam                    pembaca.
bukunya Style and Stilistics, halaman 18 yang                       Puisi, bagaimanapun, selalu dituntut untuk
diterbitkan oleh Humanities di New York berucap:              utuh. Logika dalam puisi sangat penting sekali
“…Style is seem as largely dictated by the nature of          dipikirkan ketika seorang penyair menciptakan sajak.
the outhour him self. It is the ekpression of                 Ada pembaca ideal, atau pembaca yang kita pikirkan.
personality.”                                                 Pembaca selalu menuntut penyair agar karyanya
      Dalam bukunya Tergantung Pada Kata (1983),              yang imajinatif itu relevan dengan realitas
A. Teeuw banyak mempersoalkan kata-kata dalam                 kehidupan. Masuk akal, atau paling tidak dapat di
puisi. Sebab kata-kata memiliki peranan penting               pertanggung jawabkan logikanya. Minimal secara
dalam membentuk “roh puisi”. Dan sebagai yang                 psikologis. Penyair bukan sekedar penulis tapi juga
membentuk roh puisi, kata-kata janganlah dianggap             pembangun. Puisi menjadi gagal, ketika puisi
sebagai benda mati. Tapi, adalah substansi yang               melupakan logikanya. Sebab ia hanya menjadi
mesti diberi kesadaran (di kembalikan kepada                  ganjalan di kepala pembaca, yang sebenarnya tidak
ke b e ra d a a n nya ) s e b a b j i ka t i d a k , m a ka   esensial.
pengeksploitasian dan penjajahan manusia                            Proses perjalanan panjang kepenyairan
terhadap alam materi kata (sebagai kajian yang                seseorang wajar dilalui. Puisinya akan membuktikan
dianggap benda mati yang akhir-akhir ini banyak               sejauh mana tataran kepenyairannya itu sampai.
dicemaskan itu), akan terus berlanjut dan terus               Apakah karyanya berbobot atau tidak, perlu dibaca
bergulir tanpa bisa ditahan “(baca “Gerd Binnig”:             atau sebaliknya, justru dilempar pembaca ke
evolusi, manusia dan realitas baru, Jhon de Santo,            selokan. Selain buku-buku bacaan, realitas adalah
Basis, November 1993).                                        literatur penyair menangkap dan memotret
      Dan ternyata dalam puisi, bukan saja kata-kata          persoalan-persoalan yang ada. Realitas empiris
dan makna yang dipersoalkan, tapi lebih daripada              adalah bahan utama menuju kontemplasi, yang
itu. Ada keistimewaan tersendiri ketika kita                  menjadi inner atau kekuatan penyair melahirkan
berhadapan dengan pertautan interaktif antar                  gagasannya.
berbagai unsur pembangun teks. Seperti bahasa,                      -selebihnya, selamat menjadi salah satu
fantasi, plot, realitas, pengalaman, narasi, gaya             bagian dari Masyarakat Kecemasan!
performansi dan sebagainya. Keistimewaannya
adalah bagaimana caranya agar imajinasi dapat                 Yogyakarta,Tanggal6-7 November 2010.
secara intens mengalir hingga mampu membangun
sebuah realitas tertentu (narasi).
      (baca: Tommy F. Awuy, majalah Horison Maret




 Kecubung
        Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa                                                                     |08
Cerpen

                                           SANG PENCARI KEADILAN
                                                     pemberitaan beberapa pekan lalu yang sangat
                                                     menyentuh hati. Khususnya bagi rakyat kecil
                                                     seperti aku.
                                                          Seorang kakek mengenakan pakian yang cukup
                                                     rapi, rambut dan jenggot mulai memutih.
                                                          Pelan-pelan aku mendekati kakek tua itu. Aku
                                                     menyelinap tepat dibelakang kakek itu.
                                                          ”Tidak aku tidak boleh menegurnya” fikirku
                                                     dalam hati dan ada baiknya aku disini saja.
                                                     Menunggu sampai kakek itu selesai dengan
                                                     meditasinya.
  Repro: Internet
                                                          Aku menunggu kakek tua itu cukup lama. Tanpa
                                                     tersa satu jam sudah. Tapi kakek itu kok betah-
                                                     betah saja di sana.
                                                          Kudengar suara yang lirih dari mulut kakek itu
    Hari sudah hampir malam, para pengguna jalan     seperti suara peradaban yang semu.
mulai kelihatan sepi.                                      “Kek… kakek, mau kemana?” sapaku dengan
    Aku duduk-duduk santai diberanda rumah           suara lirih.
dengan secangkir kopi dimeja. Satu batang rokok           Kakek tua itu terus berjalan tanpa
dan satu bendel Koran. Sesekali kuhela nafas         menghiraukan ada sesorang yang menegurnya.
panjang sebagai rasa syukurku masih dapat                 “kek, tolong berhenti.”
menikmati keindahan sore ini.                             Kakek-kakek itu terus berjalan dan semakin
    Tiba-tiba ada sebuah pemandangan yang            menjauh dariku.
mengajak mataku untuk berdiri, menari, dan                “Kek, kakek, tolong berhenti.” Aku kembali
berlari. Di ujung jalan sana kulihat ada seorang     mencoba memanggil kakek-kakek itu.
kakek tua melintas di pinggiran menuju arahku.            Akhirnya dia berhenti, langsung saja aku
Selang beberapa waktu, kakek tua itu memalingkan     menghampiri kakek-kakek itu. “Ada apa, Nak?”.
muka dan tubuhnya menghadap pada sesuatu                  “Ada apa, Nak?” Kakek-kakek itu mengulang
yang entah apa. Mataku tak dapat melihat dengan      pertanyaannya.
jelas.                                                    Mungkin karena aku masih terdiam, aku
    “Tapi, tidak. Sepertinya dia bukan orang         terpaku pada sebuah tulisan yang menempel
kampung sini, dan apa yang dikenakan kakek tua       didadanya itu, pelan aku mengejahnya huruf demi
itu?” gumamku dalam hati.                            huruf.
    Mataku tertuju pada sebuah kertas yang ia             Yupz.. aku dapat membacanya dengan
kenakan sebagai kalung dan pada gambar garuda di     sempurna
dadanya – mengandung nilai-nilai pancasila.                “ AKSI JALAN KAKI MALANG-JAKARTA”
    Tulisan apa itu, yang menghiasi dada kakek tua        Ada apa, Nak? Wajah kakek-kakek itu
diujunng jalan sana?                                 s e p e r t i n y a s u d a h m u l a i m e n u n j u k ka n
     “kakek tua itu…. ”                              kejemuannya kepadaku
    Sepertinya aku pernah tau dengan pakaian dan          Kakek benar 'adi kunjoro'? spontan
wajah itu?                                           pertanyaanku terlontar begitu saja. “Iya, betul,
      Tiba-tiba otakku berorientasi pada sebuah      nak. Sepertinya kakek tidak perlu menjelaskan



 |09                                                                                        KecubungBuletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
    tentang diri kakek dan apa mau kakek.”                 ditabrak oknum Polri.
“Kakek sudah tidak tahu lagi akan kemana mencari               Ia bercerita tentang peristiwa kelam yang
keadilan.” Lanjut kakek tua itu.                           dialami buah hatinya. Kakek juga menceritakan
“Kenapa kakek melakukan itu, apa kakek tidak               kisah duka itu terjadi. Peristiwa itu pun sudah
kawatir dengan kesehatan kakek sendiri?” aku               cukup lama, tepatnya 17 tahun lalu. Putra
memotong.                                                  pertamanya yang berumur 7 tahun ditabrak oknum
    “Kakek akan jauh lebih takut ketika keadilan           polri dan mati seketika, tanpa kepastian hukum.
tidak lagi ditegakkan di negri ini. Negeri ini sudah           ***
buta dan tuli. Tak ada bedanya dengan patung
gorilla yang kakek ajak bicara.”                               Kami masuk dalam suasana yang lirih. Tanpa
    Aku hanya mampu terdiam iba dengan nasib               terasa alam sudah gelap, sepi dan tanpa suara,
yang sedang ia alami. Ingin kujambah negeri ini,           kecuali gemuruh perdebatan batin antaara aku dan
ingin kurobohkan istana Negara yang megah                  kakek itu.
disana.                                                        Dan begitulah ahir dari pada perjumpaan
    “Janganlah, kau anak muda turut larut dengan           antara aku dengan pejalan renta itu. Ia melanjutkan
kegilaan di negeri ini. Jangan pula ada inisiatif untuk    perkelenaannya dengan penuh kekecewaan yang
menyumbangkan bangkai dibumi pertiwi ini.”                 dalam lantaran memendam perih yang terus
Imbuhnya.                                                  membeku dan mengendap.
    Kakek-kakek itu menceritakan kepadaku bila ia
melakukan aksi jalan kaki dari MALANG-JAKARTA,             Sukarman, Mahasiswa baru di Jurusan Hukum.
hanya untuk bertemu dengan Presiden RI dan
meminta keadilan atas kasus anaknya yang tewas


 Sambungan Hal 12 (Ulasan Cerpen)
 menghantarkan sebuah permasalahan yang pelik.            hati kedua orang tua. Suasana diakhiri dengan
 Hingga kedua orang tuanya jatuh sakit.                   keadaan yang haru biru. Kedua belah pihak sama-
            Suatu realitas yang ditampilkan memang        sama mencurahkan kasih sayang yang dalam melalui
 masih banyak terjadi di tengah masyarakat kita.          sebuah dialog yang jujur. Karena keterbukaan adalah
 Dimana harga masa depan seorang wanita sering            factor mutlak dalam menyelesaikan masalah
 diamini hanya untuk urusan beranak, dapur, dan           komunikasi- antara tokoh utama dan orang tuanya.
 tempat tidur. Mungkin dikarenakan bentuk                            Mungkin kesederhanaan ini dipilih 2
 masyarakat kita yang menganut faham patriarki.           penulis tadi karena kesadarannya sebagai penulis
 Dimana dominasi pria mengalahkan eksistensi              baru yang baru juga dalam hal berkesusastraan.
 keberadaan wanita dalam rumah tangga.                    Pengalaman literasi kata dan penggunaan kalimat
            Cerita diakhiri oleh proses komunikasi        yang masih minim setidaknya mengurangi
 antara mereka, gadis dengan orang tuanya. Disinilah      kedasyatan cerita pendek ini. Akan tetapi, setidaknya
 masa kritis dalam cerita, dimana kedua belah pihak       penulis sudah mau dan memberanikan diri
 saling jujur mencurahkan keinginannya. Tokoh utama       menuangkan idenya dalam sebuah tulisan. Karena
 ya n g ta k in gin c ep at - cep at n ika h u nt u k     dari tulisanlah suatu peradaban dimulai dan dijalani.
 pendidikannya yang lebih tinggi, orang tua yang ingin    Hal ini patut di beri penghargaan yang setinggi-
 putrid kecintaannya hidup dengan enak. Dengan            tingginya.
 besarnya keinginan tokoh utama, akhirnya luluhlah



Kecubung
       Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                         |10
Cerpen



      DEAR
      Senin,28 september 2009
      Aku kembali sedih……
          Setelah keinginan orang tuaku tidak bisa
      kukabulkan, saat ini mereka mengalami           kehendak orang tuaku. Ingin rasanya ku teriak.
      kecelakaan. Ingin rasanya ku kembali saat       Namun, aku tak berdaya saat ini! keinginanku
      orang tuaku menginginkan untuk aku
      menerima pinangan anak juragan tanah di            terlalu besar, tapi aku tak kuasa untuk
      desaku. Entah kenapa saat itu aku buta, aku     nenyakiti hati orang tuaku. Maafkan aku yah…
      marah, aku rasa mereka tak peduli akan          buk… ”
      keinginanku, aku perangi orang tuaku karna
      alasan cita-citaku, bagiku emansipasi wanita    Minggu,4 oktober 2009
      sangat terpenting sat ini, namun semua sirna        “Nak, tolong katakan pada ayah apa yang
      karna keegoisanku mempertahankan                sebanarnya kamu rasakan selama ayah
      keinginanku. Hal ini membuat orang orang        memintamu melakukan sesuatu?”
      yang menyayangiku terkapar kesakitan.               “Aku bahagia yah. Selama ini ayah
          “Maafkan aku ayah… ibu… ” ucapku.           memintaku untuk melakukan sesuatu adalah
          ”Kita tak pernah menganggapmu salah,        demi kebahagiaannkku. Tapi aku benar-benar
      nak” jawab ibu.                                 tak bisa melakukan permintaan ayah kali ini.
          ”Terus kenapa ayah dan ibu slalu            Aku benar-benar tak sanggup. Maafkan yah?
      memaksaku untuk menuruti keinginan ayah         Aku ingin sekolah! Aku ingin menjadi orang
      dan ibu?”desakku.                               yang menggapai cita-citaku sendiri. Aku ingin
          ”Aku hanya ingin kamu bahagia nak” tukas    yang jauh lebih berguna saat ini…. “
      ayah menjwab pertanyaanku.                          “Hmm.” ayah meggumam, “Apa itu bisa
          ”Kau tetap keras kepala” ibu menyaut.       membuatmu bahagia?”
                                                          “Insyaallah, Yah..!”
      Jum'at,02 oktober 2009                              “Ya sudah. Pergilah. Ayah hanya ingin
      Aku binggung banget hari ini…….                 kamu bahagia, jika itu benar-benar bisa
          Aku bahagia, namun aku binggung. Aku        membuat mu bahagia. ayah dan ibumu hanya
      bahagia karna pengajuan beasiswaku di           bisa mendoakanmu.”
      terima. Tanpa sepengetahuan orang tuaku,            “Terima kasih, ayah” ujarku sembari
      aku sering mengikuti lomba-lomba dan sering     langsung menghambur dalam dekapan ayah.
      pula menjuarainya. Aku bangga atas semua
      itu. Namun, disisi lain aku binggung. Aku       Anik Rohitah, mahasiswa baru di jurusan Ilmu
      pusing, aku takut orang tuaku kembali           Komunikasi, Fisib.
      kecewa. Aku takut terjadi apa-apa dengan
      mereka jika aku tetap memaksa keinginanku.
          “Ya Allah apa yang harus aku lakukan saat
      ini? Semua keinginanku berbenturan dengan




|11                                                                                Kecubung
                                                                                          Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                              Ulasan Cerpen
                                             Ulasan Cerpen “Sang Pencari Kebenaran” dan “Dear Diary”
                                                           Oleh: Defy Firman Al-Hakim

           Berbicara cerpen, sama halnya                                       dan sebendel Koran sore itu.
membicarakan panggung monolog. Dimana penulis                                             Adi kuncoro adalah kakek yang anak
yang sedang perform, dan pembaca sebagai                                       semata wayangnya ditabrak mati oleh oknum polisi.
penontonnya. Ada suatu proses komunikasi yang                                  Namun, pelaku tidak mendapatkan ganjaran
terjadi di dalamnya. Pembaca akan menilai bagus                                keadilan yang layak di meja hukum. Rasa skeptis
tidaknya suatu cerpen melalui persepsinya masing-                              membuatnya tak percaya lagi dengan adanya
masing. Yah, tentu saja menurut latar belakang dan                             keadilan hukum bagi kaum kecil. Akhirnya bentuk
pengalaman masing-masing. Inilah yang disebut                                  terakhir yang dilakukan hanyalah melakukan hal gila:
proses encoding dan decoding proses penghantaran                               berjalan kaki dari Malang (Jawa Timur) sampai
pesan dan penerimaan pesan.                                                    Istana Negara (Jakarta).
           Tapi ingat, semua perbedaan persepsi                                           Sukarman ingin me-review kembali
yang menjadi tantangan penulis harus tetap                                     ingatan kita tentang hal itu. Setidaknya inilah salah
melayani kekayaan khazanah kesusastraan bahasa                                 satu fungsi dari cerpen-untuk mengangkat sebuah
Indonesia. Jadi, kita bisa menulis dengan ide seliar                           realitas yang terjadi di dunia nyata. Dia menyadur
mungkin, tapi tak seenaknya sendiri mengubah                                   pemberitaan dan menumpahkannya dengan
kebakuan di dalamnya. Inilah yang mungkin                                      beberapa percakapan dan adegan yang sangat
membedakan cerpen serta karya sastra yang lain –                               sederhana.
karya kamaran – atau biasa kita sebut curhatan                                            Cerita ini akan sangat mudah dipahami
pribadi.                                                                       oleh pembaca dari kalangan apapun. Sebab, penulis
           Menulis adalah kegiatan yang tak boleh                              menceritakannya melalui hal yang sangat sederhana
terlepas dari aktivitas membaca. Baik membaca                                  pula. Penulis ingin mengingatkan bahwa keadilan
langsung ataupun secara tidak langsung. Tidak                                  dan kebenaran harus di cari keberadaannya.
langsung melalui buku, dan secara tidak dengan                                 Meskipun sulit dan berat.
membaca realitas. Dari sana kita akan mendapatkan                              Dear Dairy
sesuatu yang memberi angin segar kita dalam                                               Cerita yang ditulis oleh Anik Rokhita,
menuangkan ide dalam cerpen-cerpen yang kita                                   dimana kali ini mengangkat isu kesetaraan gender
buat.                                                                          dan feminisme. Dimana hak wanita dalam hal
Sang Pencari Kebenaran                                                         memperoleh suatu hal yang lebih baik melalui
           Dalam cerpen ini, Sukarman nampaknya                                pendidikan wajib untuk diperjuangkan. Karena tak
ingin mengingatkan kita perihal tema pemberitaan                               hanya lelaki yang boleh mengerti tentang dunia.
beberapa waktu yang lalu perihal Kakek Adi Kunjoro                                        Cerita berawal dari kegalauan gadis
yang sedang meminta haknya sebagai seprang                                     sebagai tokoh aku utama perihal pilihan yang harus
warga Negara Indonesia. Keadilan menjadi sesuatu                               dia emban dari keinginan kedua orang tuanya. Dia
yang istimewa kini.                                                            dituntut untuk mau menikah dengan seorang pria
           Cerita diawali suatu keheranan pada hal                             pilihan mereka. Jelas gadis ini meronta. Sebab, di
yang berbau asing. Melalui pengelihatannya, tokoh                              matanya, pendidikan yang harus ditempuh
utama menangkap keanehan pada sesosok lelaki                                   belumlah selesai. Dia harus melanjutkan kejenjang
renta, yang ternyata itu adalah Adi Kujoro. Lelaki                             yang lebih tinggi.
yang sempat diblow up oleh beberapa media                                                 Dilema terjadi, karena semula ini, gadis ini
nasional. Baik media cetak ataupun elektronik                                  memperoleh kasih sayang yang besar dari kedua
sempat menyoroti kisah haru kakek berumur 80                                   orang tuanya tersebut. Keangkuhan dan besar
tahunan ini dan jelas saja mengejutkan ketenangan                              keinginan gadis untuk memperoleh haknya dalam
yang baru saja dibangun tokoh utama-dengan rokok                               memperoleh pendidikan lebih tinggi

                                                                                  Bersambung Halaman 10 (Ulasan Cerpen)
Kecubung
       Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                                               |12
 Catatan Kebudayaan

                        Era Teknologi Informasi dan Posisi Kebudayaan
                                      Oleh: Firman Ghazali Akhmadi

.         Setiap waktu manusia selalu membahas             sadar maupun tidak. Seiring dengan perkembangan
kebudayaan, sejauhmana peran mereka dalam                  Teknologi Informasi, batas-batas embarkasih antar
menjaga kebudayaan yang ada dan memperbaiki                wilayah semakin sempit. Kemudahan komunikasi
kebudayaan yang dianggap salah atau cacat. Namun,          dan trasformasi Informasi menjadi pertanda
dibalik semua itu ada sekelumit narasi tentang             hilangnya batas-batas daerah. Dan akhirnya
tantangan kebudayaan di era teknologi informasi.           Globalisasi lahir sebagai anak dari kemajuan
Sebuah telaah sederhana sebagai wujud keperdulian          teknologi informasi. Dalam wujudnya keseharianya,
atas kebudayaan.                                           Teknologi Informasi membantu manusia menghapus
                                                           jarak dan meminimalisir biaya dalam berkomunikasi
Teknologi Informasi dan Kebudayaan.                        dengan manusia lain di seluruh bumi.
           Interaksi manusia dengan manusia yang                     Kemudahana inilah yang akhirnya lambat
lain merupakan salah satu bagian penting dalam             laun akan membentuk susunan kebudayaan yang
kehidupan manusia, dimana dalam setiap interaksi           hadira dalam suatu masyarakat. Pembaharuan dan
tersebut manusia bertukar informasi baik dalam             asimilasi budaya secara sadar atau tidak, terus
kegiatan ekonomi maupun kegiatan sosial. Dari              merubah tatanan kehidupan bermasyarakat.
pertukaran informasi tersebut nantinya akan                          Teknologi informasi dengan segala
membentuk pengetahuan, yang dapat digunakan                bentuknya telah merubah kaum-kaum muda berada
dalam setiap kehidupan mereka.                             dalam kehidupan yang semu. Dalam prakteknya
           A wa l nya p e r t u ka ra n i n fo r m a s i    teknologi informasi mendorong munculnya
dilakukan melalui bahasa guna saling                          generasi anti-sosial, yang tidak memperdulikan
memahami informasi yang disampaikan orang                      lingkungan, dan interaksi sosial wujudiyah.
lain, akan tetapi bahasa tidak bertahan lama                     Menurut mereka interaksi sosial cukup dengan
karena setelah diucapkan, informasi                               memanfaatkan teknologi tanpa harus
tersebut mudah terlupa. Melalui beragam                             melakukan interaksi wujudiyah, karena
pengetahuan yang dimiliki, manusia                                   dianggap sudah ketinggalan jaman.
mengembangkan teknologi guna                                                   Sikap-sikap seperti inilah yang
memudahkan membantu manusia                                             menjadi batu sandungan dalam
dalam membuat, mengubah,                                                 mengelola dan melestarikan
menyimpan, mengomunikasikan                                               kebudayaan dimasa yang akan
dan/atau menyebarkan informasi                                              datang. Pola interaksi sosial sebagai
yang dikenal dengan teknologi                                                 bagian terpenting munculnya
Informasi.                                                                     kebudayaan, akan menjadi
          K e m a j u a n                                                        barang langka dan mendorong
Teknologi Informasi tersebut                                                     terbentuknya kebudayan
turut serta mempengaruhi                                                         baru, tanpa berakar pada
kebudayan yang ada di                                                            kebudayaan lama - yang telah
masyarkat. Hal ini terjadi                                                      menjadi representatif sejarah
karena adanya transformasi                                                     manusia.
informasi antar manusia dalam                                                  Menurut Edward Burnett Tylor,
masyarkat baik dilakukan secara                                             kebudayaan merupakan



 |13                                                                                            Kecubung
                                                                                                       Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                    Catatan Kebudayaan

keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya                   Dari setiap tindakan yang akan kita lakukan
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,      dalam bermasyarakat, kebudayaan hadir dalam
moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-         bentuk-bentuk yang baru sebagai konsekuensi dari
kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai       interaksi sosial yang terjadi. Sebagai manusia kita
anggota masyarakat. Dan pada akhirnya, teknologi    memiliki pilihan, terlepas dari pilihan manusia-
informasi merong-rong setiap sendi kebudayaan.      manusia lain. Kebudayaan terus akan berkembang
                                                    sebagai wujud dari perubahan tatanan sosial
Kita dan Masa Depan Kebudayaan.                     masyarakat. Lalu apa yang harus kita lakukan?.
          Transformasi teknologi informasi dimasa   Sebagai pemegang estafet kebudayaan dari masa
akan datang akan menjadi tantangan terbesar dalam   silam ke masa akan datang, tentu memiliki
menjaga keberlangsungan kebudayaan. Akar            kesempatan untuk melakukan perubahan maupun
kebudayaan dimasa depan, harus merupakan            keengganan.
cerminan dari kebudayaan dimasa lalu, yang                      Dan pada akhirnya kita-lah yang akan
terbentuk dari setiap perubahan tatanan             menjadi penentu akan kondisi kebudayaan dimasa
masyarakat.                                         akan datang,




  Do'a tentang mimpi dan harapan

            :teruntuk ibu
  Rasanya ingin sesekali aku terjaga di butanya pagi
  Sebelum fajar menjelang
  Saat itulah kudengar suara rintihan adzan berkumandang

  Kukenali suara itu
  Suara dari geremang malam
  Yang disusup tahun-tahun panjang dan gigil

  Suara itu seakan member isyarat kepadaku
  Agar bias membuka jendela mata dan,
  Ikut mengumandangkan ayat-ayat yang dia tulis setebal kitab itu

  Tapi aku belum tau
  Betapa aku sangat mencintai-Nya
  Aku ingin bercerita pada-Nya tentang mimpi itu dan,
  Harapan yang ingin kugapai bersama gemercik air
  Yang ku teteskan sampai ke ujung jari kakiku

  Bangkalan, 2011
  Ghinan Salman




Kecubung
     Buletin Sastra LPM Spirit Mahasiswa
                                                                                                      |14
Baiklah,
biar aku ikuti jalanmu untuk sementara waktu: bertuhan
pada teori kaku — menempatkan manusia dalam deret
angka dan hipotesis tanpa harga.

Tapi aku pasti kembali di jalanku: segala keagungan kata
yang teduh; bersahaja — menempatkan kemanusiaan di
ruang-ruang yang semestinya.

Masyarakat GOA

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: buletin, sastra
Stats:
views:63
posted:10/25/2011
language:Indonesian
pages:16