Embed
Email

pajak

Document Sample
pajak
Shared by: Sam gags131
Categories
Tags
Stats
views:
67
posted:
10/25/2011
language:
Indonesian
pages:
24
Pan d u a n Pe l a k s a n aan





Kode Etik

PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK









DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI









Panduan Larangan Pegawai

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







1 Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas.

Setiap Pegawai dilarang berlaku diskriminatif kepada WP,

sesama pegawai ataupun pihak lain yang berkaitan dengan

pelaksanaan tugas. Tidak berlaku diskriminatif berarti tidak

memihak atau tidak membedakan seseorang berdasarkan

hubungan kekerabatan, suku, agama, golongan, jabatan,

jender, status ekonomi, atau kriteria lainnya.





2 Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik.

a. Pegawai mempunyai hak untuk memilih dan

menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum

(Pemilu) dan atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Dalam rangka menjaga independensi dan netralitas

Pegawai, khususnya dalam pelaksanaan tugas pada

saat melayani WP, sesama Pegawai, maupun pihak

lain, Pegawai DJP tidak diperkenankan untuk menjadi

anggota dan atau simpatisan aktif partai politik.

b. Dengan tidak menjadi anggota atau simpatisan aktif

partai politik, Pegawai diharapkan dapat bersikap

netral dan objektif dalam membuat keputusan dalam

pelaksanaan tugas.

c. Pegawai tidak diperkenankan membawa, menggunakan

dan menyebarluaskan atribut-atribut partai politik di

lingkungan kantor.

Contoh:

A adalah pegawai pada KPP XYZ. Pada saat masa Pemilu

berlangsung, A secara aktif ikut serta dalam kampanye salah

satu partai politik serta menyebarluaskan atribut partai politik di

lingkungan kantor. Perbuatan A tersebut telah melanggar Kode

Etik.



19

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI









3 Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung

maupun tidak langsung.

Setiap Pegawai pada hakikatnya memiliki jabatan dan atau

kewenangan tertentu. Pegawai harus menjaga perilakunya

dengan tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan baik

langsung maupun tidak langsung untuk kepentingan pribadi,

WP, sesama Pegawai atau pihak lainnya. Penyalahgunaan

kewenangan dapat terjadi dengan cara antara lain:

a. mempergunakan jabatan untuk memaksakan suatu

keputusan secara sepihak yang menguntungkan pribadi,

misalnya melakukan intervensi proses pemeriksaan atau

keberatan, sehingga keputusan yang dihasilkan menjadi

tidak objektif;

Contoh:

A adalah Kepala Bidang pada Kanwil XYZ. Sehubungan

dengan pemeriksaan WP MN yang dilakukan oleh B,

seorang Fungsional Pemeriksa Pajak pada

KPP STU, A memaksa B untuk memperkecil

nilai ketetapan pajak hasil pemeriksaan

disebabkan WP MN merupakan kerabat

A. Tindakan yang dilakukan A merupakan

intervensi terhadap proses pemeriksaan.

Disisi lain, tindakan B yang memperkecil nilai

ketetapan pajak merupakan tindakan yang

tidak objektif sehingga merugikan keuangan

negara.

b. mempergunakan jabatan untuk

kepentingan pribadi, misalnya dengan

meminta diskon yang melebihi batas kewajaran kepada

WP;



20

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







Contoh:

C adalah Kepala Subbagian Rumah Tangga Kanwil MNO.

Sehubungan dengan tugas yang diembannya, C sering

berhubungan dengan EF seorang rekanan penyedia alat

tulis kantor (ATK). C berencana untuk membuka toko

peralatan kantor. Untuk keperluan tersebut, C meminta EF

untuk menjadi pemasok (supplier) tokonya dan meminta

diskon yang melebihi kewajaran dengan alasan sebagai

Kepala Subbagian Rumah Tangga, C telah banyak

memberikan keuntungan kepada EF melalui pengadaan

ATK.

c. memberdayakan bawahan untuk melakukan urusan

yang menguntungkan pribadi atasan.





Contoh:

C adalah seorang Kepala Seksi Ekstensifikasi pada KPP

JKL yang sedang melanjutkan kuliah. Dengan alasan

banyaknya pekerjaan, C memerintahkan D, pelaksana

pada Seksi Ekstensifikasi, untuk mengerjakan tugas-tugas

kuliah C.





4 Menyalahgunakan fasilitas kantor.

Pegawai dilarang menggunakan fasilitas kantor untuk

kepentingan pribadi, pegawai lain atau pihak lainnya, antara

lain:

a. menggunakan telepon dan sambungan internet kantor

untuk kepentingan pribadi;

Contoh:

A adalah Kepala Seksi Penagihan pada KPP DEF yang





21

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







mempunyai usaha sampingan sebagai pemasok alat

kesehatan. Untuk kelancaran usaha sampingan tersebut,

A menggunakan telepon kantor untuk melakukan promosi

dan atau menghubungi pelanggan. A juga memanfaatkan

sambungan internet kantor untuk melakukan promosi atas

produk yang dijualnya.



b. menggunakan mesin fotokopi untuk kepentingan

pribadi.

Contoh:

B adalah pelaksana pada KPDJP yang sedang melanjutkan

kuliah Strata 1. Untuk menghemat pengeluaran pribadi, B

menggandakan materi atau buku referensi kuliah dengan

menggunakan mesin fotokopi kantor.









5 Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun, baik

langsung maupun tidak langsung, dari wajib pajak, sesama

pegawai, atau pihak lain, yang menyebabkan pegawai

yang menerima, patut diduga memiliki kewajiban yang

berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya.



22

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







Pada prinsipnya, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh Pegawai

merupakan tanggung jawab Pegawai yang bersangkutan yang

atas pelaksanaannya telah diberikan imbalan oleh negara.

Dalam berinteraksi dengan WP, sesama Pegawai, maupun

pihak lain, Pegawai tidak diperbolehkan mengambil manfaat

untuk kepentingan pribadi maupun kantor dengan nama dan

dalam bentuk apapun, baik secara langsung maupun tidak

langsung, yang menyebabkan pegawai tersebut patut diduga

memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau

pekerjaannya.

Dugaan mengenai timbulnya

kewajiban pegawai terhadap

pihak-pihak yang telah

memberikan imbalan tersebut,

diukur berdasarkan persepsi

antara lain rekan sekerja, atasan,

bawahan, pemberi imbalan serta

masyarakat.



Pemberian kepada Pegawai dimungkinkan terjadi dalam

interaksi sebagai berikut:



a. Interaksi Pegawai dengan WP

• Pengertian WP tidak hanya terbatas pada WP yang

menjadi kewenangan dari masing-masing unit

kerja, melainkan seluruh WP yang diadministrasikan

oleh DJP. Termasuk di dalam pengertian interaksi

dengan WP adalah interaksi dengan Penanggung

Pajak, konsultan pajak, pegawai WP, serta pihak-

pihak lain yang menurut ketentuan dapat menjadi

wakil atau kuasa WP.

• Pegawai dilarang meminta atau memberi isyarat





23

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







yang mengesankan bahwa yang bersangkutan

meminta atau mengharapkan sesuatu dari WP.

Contoh:

1) A adalah Fungsional Pemeriksa Pajak pada

KPP PQR yang telah menyelesaikan proses

restitusi PPN WP JK. Pada saat mengembalikan

dokumen WP, A dilarang meminta atau

memberikan isyarat yang mengesankan A

meminta sejumlah imbalan tertentu kepada

WP.

2) B adalah AR pada KPP XYZ. Atas permohonan

WP CD yang menjadi tanggung jawabnya, B

ditugaskan untuk memberikan penyuluhan

kepada pegawai WP CD di salah satu cabang di

luar kota. Atas kegiatan tersebut, WP CD merasa

puas dengan pelayanan B dan memberikan

ucapan terima kasih berupa imbalan dan

kepadanya diberikan bukti pemotongan PPh

Pasal 21. Dalam kasus ini, B tidak diperkenankan

untuk menerima imbalan dari WP tersebut.

Adapun biaya perjalanan maupun fasilitas

lainnya juga tidak boleh diterima dari WP

karena B telah mendapatkan SPPD sehubungan

dengan penugasan sosialisasi tersebut.

• Pada prinsipnya Pegawai dilarang menggunakan

fasilitas yang dimiliki WP. Namun demikian dalam

kondisi tertentu misalnya kunjungan ke lokasi

WP, Pegawai dimungkinkan untuk menggunakan

fasilitas milik WP antara lain berupa sarana

transportasi dan atau akomodasi, apabila hal

tersebut merupakan satu-satunya fasilitas yang





24

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







tersedia. Untuk keperluan tersebut Pegawai harus

melapor kepada kepala kantor untuk memperoleh

ijin secara tertulis.

Contoh:

Tim Pemeriksa Pajak pada KPP GHI ditugaskan untuk

melakukan pemeriksaan di lokasi pertambangan

milik WP yang berada di daerah terpencil. Untuk

menuju ke lokasi, tidak tersedia sarana transportasi

umum, atau tersedia namun membutuhkan biaya

yang sangat besar, dan tidak tercukupi dengan uang

SPPD. Disamping itu juga tidak tersedia penginapan

yang dapat disewa. Dalam kasus demikian, Tim

Pemeriksa Pajak diperbolehkan menggunakan

fasilitas transportasi dan akomodasi (penginapan

dan makanan) yang disediakan oleh WP.

• Pegawai dilarang menerima jamuan dari WP yang

sifatnya berlebihan. Sebagai bentuk sopan santun

dalam suatu kunjungan, jamuan berupa minuman

atau makanan yang disediakan di tempat WP

yang diyakini tidak akan menimbulkan konflik

kepentingan, boleh diterima.

Contoh:

D adalah Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi

(Waskon) pada KPP XYZ. Bersama dengan E seorang

AR, D melakukan kunjungan (advisory visit) ke tempat

usaha WP. WP menyediakan air minum dan makanan

ringan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.

Jamuan seperti ini diperbolehkan diterima oleh

Pegawai tersebut. Namun demikian apabila WP

mengajak untuk makan siang di sebuah hotel atau

restoran, maka Pegawai tidak diperkenankan untuk



25

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







menerima tawaran tersebut.

• Pegawai diperbolehkan menerima pemberian

berupa cindera mata dari WP yang secara lazim

akan diberikan WP secara cuma-cuma kepada

pihak manapun sebagai barang promosi, seperti

agenda dan kalender.

• Dalam situasi tertentu, WP menyerahkan sesuatu

kepada Pegawai selain yang diperbolehkan

tersebut di atas. Dalam hal demikian pemberian

tersebut wajib diberitahukan kepada atasan

untuk selanjutnya dikembalikan kepada WP secara

kedinasan.

Contoh:

G adalah Kepala Seksi Pemeriksaan pada KPP KLM.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, G menerima voucher

belanja yang dimasukkan dalam kartu lebaran

dari WP yang dikirimkan melalui jasa kurir. Dalam

kondisi seperti ini, G harus melaporkan pemberian

voucher tersebut kepada kepala kantor dan

mengembalikannya secara kedinasan kepada WP.

• Imbalan dari WP karena keahlian perpajakan yang

dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja seperti

menjadi konsultan pajak tidak diperbolehkan

untuk diterima. Karena sesuai ketentuan, Pegawai

dilarang menjadi konsultan pajak.

Contoh:

1) D adalah AR pada KPP DEF yang karena

keahliannya melakukan kegiatan tax review, tax

planning, dan sekaligus mengisi SPT Tahunan

PPh Badan terhadap WP yang terdaftar pada





26

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







KPP GHI dengan menerima imbalan. Dalam

kasus ini D telah melanggar Kode Etik, baik

karena kegiatan yang dilakukannya maupun

karena menerima imbalan dari WP.

2) E adalah Pegawai Tugas Belajar. Selama

masa pendidikan, E memanfaatkan waktu

luangnya untuk bekerja sebagai “konsultan

pajak” dan menerima imbalan dari WP atas

kegiatannya tersebut. Dalam kasus ini E telah

melanggar Kode Etik, baik karena kegiatan

yang dilakukannya maupun karena menerima

imbalan dari WP.



b. Interaksi dengan sesama Pegawai

• Pegawai diperbolehkan menerima pemberian

berupa imbalan atau honorarium dari DJP

sehubungan dengan penugasan yang diberikan

oleh DJP, misalnya honorarium pengajar diklat,

uang transport advisory visit dalam kota (SIK), atau

honor rapat tertentu.

• Pegawai dilarang meminta atau memberi isyarat

yang mengesankan bahwa yang bersangkutan

meminta atau mengharapkan sesuatu dari

sesama Pegawai yang patut diduga menyebabkan

Pegawai tersebut mempunyai kewajiban terkait

dengan pelaksanaan tugas terhadap Pegawai yang

memberi sesuatu. Disisi lain Pegawai juga dilarang

untuk memberikan sesuatu kepada sesama Pegawai

yang patut diduga menyebabkan Pegawai yang

menerima sesuatu mempunyai kewajiban terkait

dengan pelaksanaan tugas terhadap Pegawai yang





27

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







memberikan sesuatu.

Namun demikian kode etik hanya mengatur

mengenai pemberian kepada sesama pegawai

yang terkait dengan pekerjaan atau jabatan.

Sedangkan hal-hal yang bersifat sosial, dan tidak

terkait dengan pelaksanaan pekerjaan atau tugas,

tidak melanggar Kode Etik.



Contoh:

1) A adalah pelaksana Bagian Kepegawaian

KPDJP yang menangani masalah mutasi.

Sehubungan dengan akan dilakukannya

mutasi pegawai, A menghubungi B yang

bertugas di KPP XYZ dan menawarkan bantuan

agar B dapat dimutasikan ke tempat yang

diinginkannya dengan meminta sejumlah

imbalan. B menyanggupi permintaan A. Dalam

hal ini, baik A maupun B melanggar kode etik.

2) C adalah pegawai KPDJP yang ditugaskan

untuk melakukan kunjungan ke KPP DEF. Dalam

hal ini, baik atas permintaannya maupun atas

penawaran dari pegawai di KPP DEF, C tidak

diperkenankan menerima pemberian yang

menyebabkan C patut diduga mempunyai

kewajiban dalam pelaksanaan tugasnya, baik

sebelum, pada saat ataupun setelah kunjungan

dilakukan.

3) D adalah pegawai KPDJP yang menikahkan

anaknya dan mengundang E yang merupakan

Pegawai pada Kanwil JKL. Atas pemberian kado

pernikahan oleh E yang patut diduga tidak

terkait dengan pelaksanaan tugas D, maka D



28

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







boleh menerimanya.

4) F adalah pegawai KPDJP yang akan melakukan

kunjungan tugas ke KPP GHI yang berlokasi di

luar kota, dimana salah seorang temannya,

G adalah pegawai pada Seksi Pelayanan

KPP GHI tersebut. Atas dasar pertemanan, G

memberikan oleh-oleh kepada F setelah tugas

diselesaikan. Atas pemberian oleh-oleh yang

patut diduga tidak terkait dengan pelaksanaan

tugas F, maka F boleh menerimanya.



c. Interaksi Pegawai dengan Pihak Lain

Yang dimaksud dengan pihak lain adalah pihak-pihak di

luar WP dan sesama Pegawai, yang dapat berinteraksi

dengan Pegawai dalam melaksanakan tugasnya,

misalnya: rekanan, peserta tender atau lelang, PNS di

luar DJP, dan instansi atau badan-badan pemerintahan

lainnya.

Ketentuan mengenai hal-hal yang diperbolehkan dan

yang tidak diperbolehkan untuk diterima dalam interaksi

antara Pegawai dengan WP, sebagaimana diatur pada

angka 5 huruf a, juga berlaku dalam interaksi antara

Pegawai dengan pihak lain. Namun demikian, perlu

diatur hal-hal tertentu sebagai berikut:

• imbalan dari pihak lain karena keahlian Pegawai

diluar bidang perpajakan seperti menjadi

presenter, penyanyi, pemain bola, atau pengajar,

diperbolehkan untuk diterima;

• imbalan dari pihak lain karena keahlian perpajakan

yang dilakukan diluar jam kerja seperti menjadi

pengajar brevet, pembicara dalam seminar, penulis



29

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







buku perpajakan, atau penulis artikel di media

massa, diperbolehkan untuk diterima;

• imbalan dari pihak lain seperti mengikuti rapat

di instansi lain sesuai penugasan, diperbolehkan

untuk diterima;

• imbalan resmi yang berasal dari bagi hasil PEMDA

(penerimaan PPh Pasal 21, PPh Orang Pribadi, dan

PBB), diperbolehkan untuk diterima, sepanjang

kegiatan yang dibiayai dari pos tersebut nyata-nyata

dilaksanakan dan dapat dipertanggungjawabkan.





6 Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan.

Pada dasarnya data dan atau informasi perpajakan mencakup

dua hal, yaitu:

a. data dan atau informasi yang terbuka bagi publik seperti

aturan atau perundang-undangan perpajakan yang

berlaku, dan

b. data dan atau informasi yang bersifat internal DJP.

Data dan atau informasi yang terbuka bagi publik dapat

disampaikan atau disebarluaskan kepada masyarakat.

Sedangkan data dan atau informasi yang bersifat internal DJP,

apabila akan disampaikan kepada pihak lain harus mengacu

pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

• Pegawai dilarang memberikan atau meminjamkan

atau memberitahukan data milik DJP seperti informasi

perpajakan WP, data kepegawaian, atau data penerimaan

yang belum dipublikasikan secara resmi, kepada pihak

lain yang tidak berhak, karena dapat disalahgunakan

untuk melakukan tindak pidana di bidang perpajakan

atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau



30

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







pihak lain yang bertentangan dengan prinsip-prinsip

good governance.

Contoh:

1) A adalah Penata Usaha Administrasi Berkas dan

Konfirmasi pada Seksi Pelayanan KPP IJK. Salah satu

WP terdaftar pada KPP IJK yakni WP BC, bermaksud

untuk menyusun laporan keuangan fiktif dan

meminta bantuan A untuk meminjamkan SPT milik

WP EF yang sejenis dengan WP BC. SPT milik WP

EF tersebut akan digunakan untuk menentukan

besarnya peredaran usaha dan marjin laba dari WP

BC. Perbuatan A yang meminjamkan data SPT WP EF

kepada WP BC tersebut melanggar Kode Etik.

2) B adalah pelaksana Subbagian Umum pada KPP

KLM. B memberikan data pegawai KPP KLM kepada

PQ seorang agen asuransi jiwa yang merupakan

teman SMP-nya. Perbuatan B yang memberitahukan

identitas pegawai kepada agen asuransi telah

melanggar Kode Etik.

• Pegawai dilarang memberikan atau meminjamkan atau

menginformasikan konsep peraturan, penegasan, dan

atau jawaban surat pertanyaan yang belum disetujui,

kepada pihak lain yang tidak berhak.

Contoh:

A adalah pelaksana pada Direktorat ABC KPDJP

yang ditugaskan untuk menyusun konsep jawaban

atas pertanyaan WP PQ. Atas desakan WP PQ, A

memberitahukan konsep jawaban atas pertanyaan WP PQ

yang belum mendapat persetujuan. Atas kasus tersebut, A

telah melanggar Kode Etik.





31

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







• Pegawai dilarang memberitahukan kebijakan internal

DJP yang menurut ketentuan yang berlaku atau

pertimbangan atasan yang berwenang hanya dapat

diketahui oleh pihak-pihak tertentu misalnya rencana

mutasi pegawai, pemeriksaan, penyidikan, atau

penagihan aktif.

Contoh:

1) A adalah pelaksana Bidang Pemeriksaan,

Penyidikan dan Penagihan Pajak (P4) pada Kanwil

STU. A memperoleh data daftar WP yang akan

dilakukan pemeriksaan kriteria seleksi dari KPDJP. A

memberitahukan kepada WP TU, yang merupakan

saudaranya, bahwa WP TU termasuk dalam daftar

WP yang akan diperiksa. Tindakan yang dilakukan A

melanggar Kode Etik.

2) B adalah pelaksana Bagian Kepegawaian KPDJP

yang ditugaskan menyusun rencana mutasi AR untuk

mengisi formasi KPP modern. B memberitahukan

daftar pegawai yang akan dimutasikan kepada D

pegawai di KPP ABC. Tindakan yang dilakukan B

melanggar Kode Etik.





7 Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat

mengakibatkan gangguan, kerusakan dan atau perubahan

data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal

Pajak.

Sistem informasi milik DJP terdiri dari sumber daya informasi

yang berupa seluruh informasi, aplikasi, dan infrastruktur.

a. Gangguan sistem informasi adalah suatu kondisi dimana

sumber daya informasi tidak dapat tersedia sebagaimana





32

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







mestinya.

b. Kerusakan sistem informasi adalah suatu kondisi dimana

sumber daya informasi tidak dapat digunakan seperti

sedia kala.

c. Perubahan data meliputi penambahan, penggantian

atau penghilangan data tanpa otorisasi. Perubahan data

tanpa otorisasi, baik manual maupun elektronik, dapat

mengakibatkan berkas data atau basis data tidak lagi

mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.



Contoh-contoh perbuatan yang dapat mengakibatkan

gangguan pada sistem informasi milik DJP adalah:

1) Beberapa Pegawai pada KPP XYZ meng-install aplikasi

permainan (game) dengan menggunakan Local Area

Network (LAN) milik kantor yang mengakibatkan

berkurangnya “bandwith” jaringan. Hal tersebut berakibat

pada terganggunya lalu lintas informasi pada jaringan

internal kantor. Kondisi ini dapat mengakibatkan antara

lain pelayanan penerimaan SPT secara elektronik di Tempat

Pelayanan Terpadu terganggu.

2) Beberapa Pegawai pada Kanwil ABC meng-install aplikasi

untuk melakukan file sharing. Apabila file yang di-share

memiliki kapasitas yang besar (gambar, lagu-lagu, atau

film), maka aktivitas tersebut akan mengganggu kualitas

jaringan. Kondisi ini dapat mengakibatkan lambatnya

proses transfer data.

3) A adalah pegawai pada KPP DEF. A menggunakan

aplikasi malware (malicious software/software perusak)

dengan sengaja yang dapat membahayakan sistem

informasi, misalnya untuk penggunaan hacking, cracking,

spyware, key logger, trojan dan lain-lain. Penggunaan



33

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







aplikasi tersebut dapat menyebabkan komputer di kantor

terganggu.

4) G adalah pegawai pada Kanwil MNO. G mengakses situs

(website) untuk mengunduh (download) file dengan

menggunakan komputer yang terhubung dengan jaringan

kantor. File yang diunduh merupakan malware berupa

worm yaitu software perusak yang mampu menyebar

secara otomatis. Hal tersebut dapat mengakibatkan

kerusakan pada file lain baik yang ada dalam komputer

tersebut maupun komputer lain dalam jaringan internal.

Selain itu worm juga dapat mengganggu kualitas jaringan

internal.

5) F adalah pegawai pada KPDJP. F memanfaatkan jaringan

komputer kantor untuk menjalankan aplikasi chatting

misalnya miRC, Yahoo Messenger!, skype, dan sejenisnya.

Penggunaan aplikasi tersebut dapat menyebabkan

terganggunya kualitas lalu lintas jaringan.

6) Pegawai C pada KPP XYZ mendaftarkan dirinya dan

atau pegawai lain pada suatu mailing list (milis) dengan

menggunakan e-mail address kantor (pajak.go.id). Hal

tersebut dapat menjadi target spam karena mail spam

merupakan surat sampah yang akan mengurangi kapasitas

mail server yang sekaligus dapat menyebarkan virus ke

mail server pajak.go.id. Akses ke milis atau email address

pribadi dengan menggunakan jaringan internet kantor

juga dapat menjadi target spam yang akan mengurangi

kapasitas mail server yang sekaligus dapat menyebarkan

virus ke mail server pajak.go.id.



Contoh-contoh perbuatan yang dapat mengakibatkan

kerusakan pada sistem informasi milik DJP adalah:





34

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







1) A adalah pegawai pada KPP GHI. Dengan pengetahuan

teknologi informasi yang terbatas, A mencoba teknik untuk

“menyerang” server DJP. Hal ini dapat menyebabkan server

DJP mengalami gangguan atau bahkan mengakibatkan

crash (rusak).

2) B adalah pegawai pada KPP KLM. Atas permintaan pihak

lain yang tidak berhak, B mengubah tabel dari salah satu

basis data pada server DJP tanpa otorisasi. Karena basis

data yang diubah berhubungan dengan struktur data

secara keseluruhan, maka perbuatan tersebut dapat

mengakibatkan inkonsistensi struktur basis data DJP.





Contoh-contoh perbuatan yang dapat mengakibatkan

perubahan data (penambahan, penggantian atau penghilangan

data) tanpa otorisasi baik manual maupun elektronik pada

sistem informasi DJP adalah:

1) C adalah pelaksana Seksi Penagihan pada KPP XYZ.

Atas permintaan WP, C telah menghilangkan lembar

fisik surat ketetapan pajak (kohir). Perbuatan C tersebut

mengakibatkan terganggunya proses penagihan terhadap

WP terkait.

2) D adalah pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi

(PDI) pada KPP DEF. Dengan kemauan sendiri, D mengubah

data elektronik dalam basis data aplikasi milik DJP tanpa

adanya otorisasi dan atau tidak sesuai dengan prosedur

yang telah ditetapkan. Hal ini dapat mempengaruhi

integritas basis data milik DJP.









35

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







8 Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan

dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta

martabat Direktorat Jenderal Pajak.

a. Pegawai dilarang mengkonsumsi, mengedarkan dan

atau memproduksi minuman beralkohol yang dapat

merusak citra dan martabat DJP.

Contoh:

A adalah pelaksana pada KPP ABC. Pada suatu saat, A

diketahui mengkonsumsi minuman beralkohol sampai

mabuk dan menimbulkan keonaran di lingkungan tempat

tinggalnya. Hal tersebut dapat merusak citra dan martabat

DJP.

Namun demikian, apabila konsumsi minuman beralkohol

tersebut misalnya dilakukan dalam rangka upacara

keagamaan serta menghormati adat istiadat dan budaya

tertentu, maka hal tersebut dapat ditoleransi sepanjang

tidak mengakibatkan rusaknya citra dan martabat DJP.

b. Pegawai dilarang mengkonsumsi, mengedarkan dan

atau memproduksi obat-obatan terlarang (narkoba).

c. Pegawai dilarang menyimpan, menyebarkan, membaca

tulisan, menonton gambar atau film yang mengandung

unsur pornografi dan pornoaksi di lingkungan kantor.

d. Pegawai dilarang berjudi.

e. Pegawai dilarang melakukan perselingkuhan, perzinahan

atau hal-hal lain yang merusak citra dan martabat DJP.









36

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI









| Uji Etika |









Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai DJP ini disusun sebagai

penjabaran atau penjelasan dari butir-butir kewajiban dan larangan

yang tercantum dalam Kode Etik. Dengan demikian diharapkan

Pegawai dapat memahami makna yang terkandung dalam butir-

butir Kode Etik secara lebih baik.

Selain menggunakan Panduan Pelaksanaan Kode Etik ini, perilaku

etik yang dipilih oleh Pegawai seharusnya merupakan hasil

pertimbangan yang matang dan proses berpikir logis dalam

menentukan sikap yang layak dan dapat dipertanggungjawabkan.

Namun demikian, apabila masih terdapat permasalahan yang tidak

dapat diselesaikan hanya dengan berpedoman pada Panduan

Pelaksanaan Kode Etik ini, maka Pegawai dapat menggunakan “uji

etika” sebagaimana dikenalkan oleh Stan Shrosbree (TAMF Lead

Advisor to DGT: 2005) untuk menentukan sikap yang layak untuk

diambil dan dapat dipertanggungjawabkan, melalui pertanyaan-

pertanyaan sebagai berikut:





37

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI









1. Apakah sikap yang akan kita ambil bertentangan dengan

hukum dan aturan yang berlaku?

• Apabila sikap atau tindakan yang kita ambil bertentangan

dengan hukum dan aturan yang berlaku, maka sikap

atau tindakan tersebut bukanlah perilaku etis.

• Apabila sikap atau tindakan yang kita ambil tidak

bertentangan dengan hukum dan aturan yang berlaku,

maka sikap atau tindakan tersebut harus diuji lagi

dengan pertanyaan kedua.



2. Apakah kita percaya diri apabila sikap yang akan kita

ambil diteliti dengan cermat oleh pihak lain?

• Apabila kita tidak percaya diri, maka sikap atau tindakan

tersebut bukanlah perilaku etis.

• Apabila kita percaya diri, maka sikap atau tindakan

tersebut harus diuji lagi dengan pertanyaan ketiga.



3. Apakah sikap yang akan kita ambil ketika menghadapi

situasi tertentu juga akan dilakukan oleh pihak lain

apabila pihak lain tersebut menghadapi situasi yang

sama?

• Apabila pihak lain tidak akan mengambil keputusan

yang sama dengan keputusan yang kita ambil, maka

sikap atau tindakan tersebut bukanlah perilaku etis.

• Apabila pihak lain juga mengambil keputusan yang sama

dengan keputusan yang kita ambil, maka sikap atau

tindakan tersebut harus diuji lagi dengan pertanyaan

keempat.



4. Apakah kita bersikap tidak memihak dalam mengambil

suatu keputusan?





38

PANDUAN PELAKSANAAN KODE ETIK PEGAWAI







• Apabila kita mengambil keputusan tanpa pertimbangan

yang logis dan hanya didasarkan pada perasaan

keberpihakan semata, maka sikap atau tindakan tersebut

bukanlah perilaku etis.

• Apabila kita bersikap tidak memihak, maka sikap atau

tindakan tersebut harus diuji lagi dengan pertanyaan

kelima.



5. Apakah sikap yang akan kita ambil dapat diterima dengan

baik sesuai persepsi masyarakat pada umumnya?

• Apabila sikap yang kita ambil tidak dapat diterima oleh

masyarakat, maka sikap atau tindakan tersebut bukanlah

perilaku etis.

• Apabila sikap kita dapat diterima oleh masyarakat, maka

sikap atau tindakan tersebut termasuk dalam perilaku

etis.









39


Related docs
Other docs by Sam gags131
pajak
Views: 67  |  Downloads: 13
pajak
Views: 42  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!