Embed
Email

doc

Document Sample

Shared by: jamilah tranata
Categories
Tags
Stats
views:
0
posted:
10/23/2011
language:
Indonesian
pages:
64
PROPOSAL SKRIPSI



PEMBUATAN CDI SEPEDA MOTOR



MENGGUNAKAN



MIKROKONTROLER IC AT89C51









DISUSUN :

Nama : Haris Afiatno



NIM : 5250402032



Program Studi : Teknik Mesin S1







JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK



UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG



2006

ABSTRAK

Haris Afiatno, 2007. Pembuatan Cdi Sepeda Motor Menggunakan

Mikrokontroler IC AT89S51. Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri

Semarang.



Proses pengapian pada sepeda motor memerlukan waktu yang tepat

sehingga pemilihanan waktu pengapian harus dipilih yang sesuai sedemikian rupa

sehingga pembakaran bahan bakar sepeda motor memberikan daya yang terbesar

dan pembakarannya berlangsung tanpa adanya pukulan atau detonasi. Bila

pengapian yang terjadi adalah terlalu awal maka gas dari sisa pembakaran yang

belum terbakar, terpengaruh oleh pembakaran yang masih berlaku dan

pemampatan yang masih berjalan, akan terbakar sendiri. Bila pengapian terjadi

terlalu lambat beberapa pukulan berkurang, tetapi berarti juga menurunnya daya.

Hal ini merupakan suatu kerugian bagi mesin.

Menurut Wardan Suyanto (1989) sistem penyalaan (pengapian ) adalah

suatu sistem pada motor bakar yang menjamin motor dapat bekerja. Untuk sistem

penyalaan campuran udara dan bahan bakar diperlukan syarat-syarat bunga api

yang kuat, saat pengapian yang tepat dan ketahanan yang cukup. Dengan melihat

kelebihan mikrokontroler AT89S51 yang mudah diisi program dan dihapus maka

dapat digunakan sebagai pengatur sistem pengapian pada sepeda motor.

Pengambilan data dalm metodologi penelitian adalah bertujuan untuk

membandingkan CDI mikrokontroler AT89S51 dengan CDI standart, data yang

diambil adalah pemakaian bahan bakar dan timing yang terjadi.

Pengapian yang tepat adalah sesuai dengan kebutuhan putaran mesin untuk

mengatasi adanya delay ignition dari bahan bakar. Perhitungan dalam program

disederhanakan dengan menghitung rpm dalam rps. Lamanya penyalaan dapat

diatur dengan memperpanjang atau memperbesar angka yang disalin ke register1.

kecpatan yang terukur juga ditampilkan dalam seven segment, yang menunjukan

besarnya Rps.

Kecepatan motor bensin dikategorikan dalam rendah atau stasioner,

sedang dan tinggi. Menurut pengapian yang terjadi pada cdi standart, Pengapian

rendah memiliki timing ignition sebesar 150 sebelum TMA, sedang sebesar 200

sebelum TMA dan kecepatan tinggi berkisar 250 sebelum TMA. Sedangkan

timing mikro dapat diatur sesuai dengan perubahan kecepatan.

Untuk memperoleh pengapian yang baik diperlukan perhitungan delay

waktu yang tepatoleh karena itu delay waktu diukur dalam mikrosekon. Pengapian

yang sesuai dengan mesin stasioner adalah 150 – 200 sebelum TMA.

Perolehan data menunjukan bahwa CDI standart masih lebih baik dari CDI

mikrokontroler, Oleh karena itu diperlukan perhitungan waktu yang lebih cermat

dalam mengatur delay period. Untuk menghambat sinyal dari pulser.









ii

HALAMAN PENGESAHAN



PROPOSAL SKRIPSI



PEMBUATAN CDI SEPEDA MOTOR MENGGUNAKAN



MIKROKONTROLER IC AT89C51





Oleh :



HARIS AFIATNO

NIM. 525 040 2032





Proposal skripsi ini telah disetujui dan disahkan pada :



September 2006









Menyetujui,



Pembimbing I Pembimbing II









Ir. Samsul Kamal, M.Sc, Ph.dDrs. Wirawan Sumbodo, MT.

NIP.131411088NIP. 131876223









iii

DAFTAR ISI







Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

ABSTRAK ....................................................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... iv

KATA PENGANTAR ..................................................................................... v

DAFTAR ISI.................................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... ix

DAFTAR TABEL............................................................................................ xii

DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xiii





BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1

A. Latar Belakang Masalah........................................................... 1



B. Permasalahan ........................................................................... 3



C. Pembatasan Masalah ................................................................ 3



D. Penegasan Istilah...................................................................... 4



E. Tujuan Penelitian ..................................................................... .. 5



F. Manfaat Penelitian ................................................................... 6



G. Sistematika Penulisan ............................................................. 6



BAB II LANDASAN TEORI ......................................................................... 8

A. Prinsip Kerja Motor Bensin ..................................................... 8



B. Mikrokontroler AT89S51 ........................................................ 20



C. Unit Rangkaian CDI................................................................. 28







BAB III METODELOGI PENELITIAN ......................................................... 34







iv

A. Bahan dan Alat Penelitian........................................................ 35



B. Variabel Penelitian ................................................................... 36



C. Diagram Alir Penelitian ........................................................... 38



D. Desain Pelaksanaan.................................................................. 39



BAB IV. PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT ............................. 46

A. Perencanaan.............................................................................. 42



B. Realisasi CDI Mikrokontroler AT89S51 ................................. 43





BAB V. SIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 69

A. Simpulan ................................................................................. 69



B. Saran......................................................................................... 70





DAFTAR PUSTAKA



LAMPIRAN









v

BAB I

PENDAHULUAN







A. LATAR BELAKANG MASALAH



Energi bahan bakar dapat dikonversikan menjadi energi mekanis



dengan menggunakan mesin konversi energi yang juga disebut sebagi motor



termis. Mesin termis pada dasarnya dibagi menjadi dua macam yaitu : Internal



Combustion Engine (ICE) dan External Combustion Engine (ECE). Internal



combustion engine adalah mesin dimana pembakaran bahan bakar terjadi di



dalam suatu tempat yang disebut ruang pembakaran. Reaksi eksotermis bahan



bakar dengan oksidator menghasilkan gas dengan temperatur dan tekanan



yang tinggi, kemudian setelah digunakan gas tersebut dikeluarkan.



Ciri utama dari internal combustion engine yaitu kerja yang digunakan



terbentuk dari aksi secara langsung gas panas yang dikeluarkan sehingga



menyebabkan gerakan komponen mesin dan menghasilkan tenaga, contohnya



seperti : motor bakar torak (motor diesel dan motor bensin), mesin wankel dan



turbin gas siklus tertutup. Berbeda dengan external combustion engine seperti



mesin uap, turbin uap dan turbin gas siklus tertutup, dimana proses



pembakaran digunakan untuk memanasi fluida kerja (secondary working



fluid), fluida kerja ini kemudian digunakan untuk menggerakkan komponen



mesin dihasilkan tenaga mekanis.



Berdasarkan cara penyalaan, maka motor bakar torak ( reciprocating



engine) dibedakan menjadi Compresion Ignition Engine ( CI engine ) atau







1

2







mesin diesel dan Sp ark Ignition Engine (SI engine) atau motor bensin. Pada



CI engine (mesin diesel) penyalaan campuran dan bahan bakar terjadi karena



udara yang terkompresi sehingga temperaturnya melampaui titik nyala bahan



bakar. Sedangkan pada SI engine (mesin bensin) penyalaan campuran



menggunakan percikan api (spark) dari busi.



Untuk proses pengapian harus dipilih waktu yang tepat sedemikian



rupa ssehingga motor memberikan daya yang terbesar dan pembakarannya



berlangsung tanpa adanya pukulan atau detonasi. Bila pengapian yang terjadi



terlalu awal maka gas sisa yang belum terbakar, terpengaruh oleh pembakaran



yang masih berlaku dan pemampatan yang masih berjalan, akan terbakar



sendiri. Bila pengapian terjadi terlalu lambat beberapa pukulan berkurang,



tetapi berarti juga menurunnya daya. Hal ini merupakan suatu kerugian bagi



mesin.



Saat pengapian untuk mencapai pembakaran tanpa pukulan dan daya



motor sebesar mungkin, merupakan hal yang sangat mutlak, bukan hanya saat



pengapian dasarnya tetapi juga jumlah derajat yang lebih awal pada frekuensi



putar yang tinggi maupun penyesuaian pada putaran rendah.



Untuk memperoleh daya yang maksimum dari suatu operasi



hendaknya penyalaan diatur sedemikian rupa sehingga tekanan gas maksimum



terjadi pada saat torak berada disekitar 15 sampai 20 derajat engkol sesudah



TMA. Jadi penyalaan yang baik bergantung pada kecepatan perambatan nyala,



jarak perambatan nyala maksimum, dan kecepatan poros engkol.

3







B. PERMASALAHAN



Sesuai dengan judul dan alasan pemilihan judul diatas maka



permasalahan yang akan diteliti ini adalah : bagaimana merancang dan



membuat suatu perangkat alat yang dapat memberikan sinyal untuk membakar



bahan bakar yang ada di dalam silinder sesuai dengan kebutuhan mesin dari



sensor frekuensi putaran mesin untuk memperoleh performa yang maksimal .







C. PEMBATASAN MASALAH



Yang menjadi batasan masalah adalah pembuatan hardware dan



software dan untuk diujikan pada mesin dinotest. Sehingga terjadi performa



yang maksimum.



1. Hardware yang dirancang untuk dapat mengetahui besarnya putaran



mesin dengan mengubah analog yang berasal dari sensor putaran untuk



dikonversikan menjadi digital sehingga dapat diproses oleh



mikrokontroler AT89S51 dan dapat membakar bahan bakar dengan



memberikan arus pada busi sehingga terjadi percikan bunga api tepat



sesuai dengan kebutuhan mesin.



2. Software dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mengolah sinyal



dari sensor dan memberikan keluaran arus ke CDI sesuai dengan



putaran mesin. Setelah masuk banyaknya sinyal yang ada dihitung dan



diambil tiap satuan waktu untuk dijadikan dasar banyaknya delay



yangdibutuhkan dan software yang digunakan untuk membuat suatu

4







program yang dikenali mikrokontroler AT89S51 serta mudah dipahami



oleh pemakai program tersebut



3. Proses yang diolah oleh sinyal Mikrokontroler AT89S51 adalah sinyal



yang berasal dari pulser (koil pulsa) yang digunakan untuk



memberikan perlambatan dan tampikan dalam sevent segment.







D. PENEGASAN ISTILAH



Penegasan istilah merupakan penjelasan secara rinci dan tegas arti atau



makna suatu kata atau istilah yang terkandung dalam judul skripsi agar tidak



terjadi salah penafsiran oleh pembaca. Penegasan istilah berkenaan dengan judul



skripsi ini dapat diperinci sebagai berikut :



1. CDI (Capasitor discharge ignition ).



Merupakan alat yang digunakan untuk menginduksikan tegangan tinggi



pada kumparan sekunder dengan menginterupsikan arus yang mengalir ke primer



dari ” ignition ” melalui titik-titik kontak pemutus arus. Cdi disini menggunakan



capasitor sebagai penyimpan arus listrik.



2. Sepeda Motor.



Alat transportasi yang menggunakan dua roda dengan menggunakan bahan



bakar minyak (bensin) sebagai energi yang dikonversikan menjadi energi mekanik



berupa gerakan berputar roda.



3. Mikrokontroler



Merupakan kombinasi dari CPU, memori I/O dalam sebuah chip atau



sering juga disebut lingkungan chip mikrokontroler (SCM). CPU merupakan unit

5







pengolah pusat terdidi dari dua bagian yaitu unit pengendali control unit (CU)



serta unit aritmatik dan logika Aritmatik Logik Unit (ALU). Fungsi utama unit



pengendali adalah mengkode dan melaksanakan urutan instruksi sebuah program



yang tersimpan dalam memori. Unit pengendali mengatur urutan operasi seluruh



sistem. Unit ini juga menghasilkan dan mengatur sinyal pengendali yang



diperlukan untuk menyerempakan operasi dari instruksi program. Unit pengontrol



menendalikan aliran informasi pada bus data dan bus alamat. Dilanjutkan dengan



menafsirkan dan mengatur sinyal yang terdapat pada bus pengendali.







E. TUJUAN PENELITIAN



Berdasarkan dari permasalahan yang dikemukakan, maka tujuan



penelitian ini adalah sebagai berikut :



1. Membuat dan merangkai suatu alat yang dapat membakar bahan bakar



dalam ruang bakar sesuai dengan waktu yang dibutuhkan oleh putaran



mesin.



2. Mencari daya yang maksimal pada motor bensin dengan bahan bakar



secara ekonomis.



3. Membuat alat yang dapat meyempurnakan sistem pembakaran pada motor



bensin.







F. MANFAAT PENELITIAN.



Berdasarkan hasil penelitian dan pembuatan alat yang telah dilakukan



diharapkan penelitian ini dapat diambil manfaatnya antara lain :

6







1. Pembuat : menambah ilmu pengetahuan dan lebih medalami ilmu



pengetahuan terutama bidang otomotif dan elektronika digital.



2. Masyarakat : menerapkan teknologi yang mudah diaplikasikan dalam



kehidupan bermasyarakat.



3. Lingkungan : penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan dengan



penghematan bahan bakar.



4. Pendidikan : mengembangkan ilmu pengetahuan yang diterapkan dalam



kegiatan praktek sehingga menambah pengetahuan baru tentang dunia



otomotif modern.







G. SISTEMATIKA PENULISAN.



BAB I Pendahuluan, bertujuan mengantarkan pembaca untuk



memahami gambaran permasalahan yang akan dibahas, dalam bab ini akan



dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat



penelitian dan sistematika skripsi.



BAB II Landasan Teori, landasan teori membahas teori-teori yang



dipergunakan sebagai acuan atau pedoman untuk melakukan penelitian, teori-



teori dalam bab ini yang akan dibahas yaitu mengenai latar belakang masalah,



pengertian motor besin empat langkah, prinsip pengapian, Mikrokontroler



AT89S51, CDI.



BAB III Metodologi Penelitian, Metodologi penelitian menjelaskan



mengenai langkah-langkah penelitian, waktu dan tempat penelitian,

7







pelaksanaan penelitian, variable penelitian, metode pengambilan data, analisis



data dan diagram alir penelitian.



BAB IV Perancangan Dan Pembuatan, Dalam bagian bab ini akan



dibahas mengenai : hardware dan software mikrokontroler AT89S51,



Rangkain CDI, Pulser, Penampil sevent segment serta bagaimana merangkai



alat-alat tersebut.



BAB V Hasil Penelitian Dan Pembahasan, dalam hasil penelitian dan



pembahasan akan dipaparkan hasil dari penelitian, analisi data hasil pengujian



terhadap komsumsi bahan bakar serta performa mesin.



BAB VI Penutup, dalam bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan



dan saran-saran setelah penelitian selesai dilakukan.







DAFTAR PUSTAKA



LAMPIRAN

BAB II

LANDASAN TEORI





A. PRINSIP KERJA MOTOR BENSIN.



Motor bensin juga disebut spark ignition engine (SI engine) karena



penyalaan (ignition) campuran bahan bakar udara dengan loncatan bunga api



(spark) pada elektrode busi. Pada motor bensin pencampuran antara bensin



dan udara umumnya terjadi saat sebelum masuk ke dalam silinder, baik



menggunakan karburator, atau sistem injeksi. Campuran akan terbentuk



dengan perbandingan udara dan bahan bakar yang sesuai sehingga mudah



terbakar, kemudian mengalir ke dalam silinder. Di dalam silinder campuran



ini dikompresi dan dinyalakan oleh loncatan bunga api busi pada saat



menjelang titik mati atas (TMA). Gas panas yang dihasilkan dari proses



pembakaran akan mendorong torak bergerak turun sehingga mesin



menghasilkan daya. Daya yang dihasilkan dari proses pembakaran digunakan



untuk menggerakkan komponen mesin yang lain.







1. Cara Kerja Mesin Empat Langkah (Otto)



a. Langkah hisap



Selama langkah hisap ini katup masuk akan terbuka, sedangkan



katup buang menutup. Piston melakukan ekspansi dengan bergerak dari titik



mati atas (TMA) menuju titik mati bawah (TMB). Campuran udara dan bahan



bakar masuk ke dalam silinder melalui saluran masuk bahan bakar dan udara,







8

9

katup hisap berfungsi untuk mengatur masuknya bahan bakar kedalam



silinder.









Gambar II.1. Langkah Hisap



b. Langkah Kompresi



Saat kompresi posisi kedua katup tertutup. Piston bergerak TMB



menuju TMA, akibat kompresi maka tekanan dan temperatur didalam



silinder naik. Pada motor bensin tekanan dalam silinder tidak boleh melebihi



15 atm agar tidak terjadinya detonasi. Sesaat sebelum mencapai TMA,



bunga api dari busi dipercikan sehingga terjadi pembakaran yang disertai



ledakan. Perbandingan kompresi yang diijinkan pada motor bensin antara 7



– 11.









Gambar II.2 Langkah Kompresi

10

c. Langkah Tenaga



Akibat ledakan yang terjadi maka piston akan terdorong ke bawah.



Energi akibat gerak dorong tersebut kemudian akan dipindahkan ke poros



engkol melalui perantara batang penghubung (conecting rod). Di poros



engkol gerak resiprok (gerak bolak-balik) piston diubah menjadi gerak rotasi



mesin, sebagian energi ini untuk menggerakkan komponen mesin yang lain



dan sebagian lagi disimpan dalam roda gila untuk proses selanjutnya.









Gambar II.3Langkah Tenaga



Motor pembakaran dalam (internal combustion engine)



menghasilkan tenaga dengan jalan membakar campuran udara dan bahan



bakar dalam silinder. Pada motor bensin, loncatan bunga api pada busi



diperlukan untuk menyalakan campuran udara dan bahan bakar yang telah



dikompresikan dengan tekanan yang tinggi sehingga menjadi sangat panas,



dan bila bahan bakar disemprotkan ke dalam silinder, akan terbakar secara



serentak.

11

Motor bensin menghasilkan tenaga dari pembakaran di dalam



silinder, dimana dengan pembakaran bahan bakar tersebut menghasilkan



panas yang sekaligus akan mempengaruhi tekanan gas hasil pembakaran



mengembang. Gas tersebut dibatasi oleh dinding silinder, maka walaupun



ingin megembang tidak ada ruangan, akibatnya tekanan dalam silinder naik,



pada kondisi tersebut dibutuhkan bunga api yang dipercikan oleh busi



sehingga terjadi pembakaran. Dari pembakaran tersebut, terjadi tekanan ke



bawah torak, tekanan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan



tenaga yang akhirnya meggerakkan motor. (Wardan Suyanto, 1989 : 20).



Pembakaran diawali dengan loncatan bunga api busi pada akhir



langkah kompresi atau pemampatan. Pada keadaan biasa kita mendapatkan



pembakaran teratur dimana selalu terdapat dua tahapan yaitu bagian yang



tidak terbakar dan bagian lain yang terbakar, keduanya dibatasi oleh



pembakaran (front api). Suhu pembakarannya berkisar antara 2100K sampai



2500 K.







d. Langkah Buang



Pada langkah buang, posisi katup isap tertutup sedangkan katup



buang terbuka. Piston bergerak dari TMB naik keatas menuju TMA



mendorong gas sisa hasil pembakaran keluar melalui saluran buang. Dari



TMA siklus berulang kembali sesuai urutan diatas.

12









Gambar II.4 Langkah Buang



2. Prinsip pengapian.



Menurut Wardan Suyanto (1989) sistem penyalaan (pengapian )



adalah suatu sistem pada motor bakar yang menjamin motor dapat bekerja.



Motor pembakaran dalam dapat menghasilkan tenaga dengan jalan



membakar campuran udara dan bahan bakar di dalam silinder. Untuk



menyalakan campuran udara dan bahan bakar diperlukan syarat-syarat



sebagai berikut :



a. Bunga api yang kuat.



Pembakaran normal bila seluruh campuran bahan bakar dan udara terbakar



oleh nyala api yang berasal dari busi, sesuai dengan waktu yang telah



ditentukan dan perbandingan campuran yang ideal. Untuk membakar



seluruh campuran udara dan Bahan bakar dibutuhkan bunga api yang kuat.

13

b. Saat pengapian yang tepat.



Untuk memperoleh pembakaran campuran bahan bakar dan udara



yang paling baik, harus dilengkapi beberapa peralatan tambahan yang



dapat mengubah-ubah saat pengapian sesuai dengan rpm dan beban motor.



Setelah campuran bahan bakar dibakar oleh bunga api, maka diperlukan



waktu tertentu bagi bunga api untuk merambat di dalam ruang bakar. Oleh



sebab itu akan terjadi sedikit kelambatan antara awal pembakaran dengan



pencapaian tekanan pembakaran maksimum. Dengan demikian, agar



diperoleh output maksimum pada engine dengan tekanan pembakaran



mencapai titik tertinggi (sekitar 10o setelah TMA), periode perlambatan



api harus diperhitungkan pada saat menentukan saat pengapian (ignition



timing) untuk memperoleh output mesin yang semaksimal mungkin, maka



tekanan pembakaran maksimum harus tercapai pada sekitar 10o setelah



TMA. Akan tetapi karena diperlukan waktu untuk perambatan api, maka



campuran udara-bahan bakar harus dibakar sebelum TMA. Saat ini disebut



dengan saat pengapian (ignition timing).









Pengapian terjadi sebelum torak Pengapian terjadi setelah torak



Mencapai TMA ( pengapian awal ) melewati TMA ( pengapian lambat )

14







Gambar II.5 Timing Pengapian.







c. Ketahanan yang cukup



Apabila sistem pengapian tidak bekerja, maka motor akan mati.



Oleh karena itu sistem pengapian harus mempunyai ketahanan yang cukup



untuk menahan getaran dan panas yang dibangkitkan oleh motor.



Demikian juga tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh sistem pengapian



itu sendiri.







3. Kecepatan Mesin.



Mesin memiliki sudut derajat pengapian yang dapat diumpamakan



d dan kecepatan mesin beroperasi adalah N rpm. Maka waktu pembakaran



adalah :



d/360 N min



Jika kecepatan mesin meningkat menjadi 2N, maka diwaktu yang



sama dibutuhkan untuk pembakaran pengapian adalah 2d derajat [Ganesan



V: 1995:287].



Perbandingan antara derjat pengapian dan kecepatan dapat



digambarkan sebagai berikut:





Derajat pengapian

60



40

Beban

20

2000 4000 (rpm mesin)

15









Gambar II.6 Perbandingan Sudut Pengapian







B. Mikrokontroler AT89S51



1. Mikrokontroler AT89S51 memiliki sejumlah keistimewaan yaitu sebagai



berikut:



a. Sebuah CPU 8bit yang termasuk dalam keluarga MCS-51.



b. Osilator internal dan rangkaian pewaktu



c. RAM internal 128 byte (on chip)



d. Empat buah programmable port I/O, masing-masing terdiri dari 8



buah jalur I/O.



e. Dua buah timer/ counter 16 bit.



f. Enam buah jalur interupsi.



g. Sebuah port serial dengan control serial full duplex UART.



Kemampuan melaksanakan operasi perkalian, pembagian, dan



operasi Boolean (bit).



h. Kecepatan pelaksanaan intstruksi persiklus 1 mikro detik pada



frekuensi clock 24 MHz.



Dengan keistimewaan tersebut diatas pembuatan alat menggunakan



AT89S51 menjadi sederhana dan tidak memerlukan IC pendukung yang

16

banyak. Boleh dikatakan mikrokontroler ini mempunyai keistimewaan dari



segi perangkat keras.









2. Pena-Pena mikrokontroler AT89S51



Susunan pena-pena mikrokontroler AT89S51 diperlihatkan pada



gambar dibawah. Penjelasan dari masing-masing pena adalah sebagai



berikut:









Gambar II.7 Susunan pena mikrokontroler AT89S51







a. Pena 1 sampai 8 (port 1) merupakan port parallel 8 bit dua arah yang



dapat digunakan untuk berbagai keperluan (general purpose).

17

b.Pena 9 (reset ) adalah masukan reset (aktif tinggi) yang digunakan untuk



mereset program counter sehingga program dilaksanakan mulai dari



addres 0000H.



c. Pena 10 sampai 17 ( port3 ) adalah parallel port 8 bit dua arah yang



memiliki fungsi pengganti. Fungsi pengganti meliputi TxD (transmit



data), RxD (receiver data), Int 0 ( interrupt 0 ), int1 (interrupt 1), T0



(timer 0), T1 (timer 1), WR (write) dan RD (read). Bila fungsi pengganti



tidak dipakai pena-pena ini dapat digunakan sebagai port parallel serba



guna.



d.Pena 18 (Xtal 2) adalah pena keluaran ke rangkaian osilator internal.



Pena ini dipakai bila menggunakan osilator kristal.



e. Pena 19 (XTAL 1) adalah pena masukan ke rangkaian osilator internal



sebuah isolator kristal atau sumber osilator luar dapat digunakan.



f. Pena 20 (ground) dihubungkan ke Vss atau Ground.



g.Pena 21 sampai 28 adalah port parallel 2 (port 2) selebar 8 bit dua arah.



Port 2 ini mengirim byte alamat bila dilakukan pengaksesan memori



eksternal.



h.Pena 29 adalah pena PSEN (program store enable) yang merupakan



sinyal pengontrol yang membolehkan program memori eksternal masuk



kedalam bus selama proses pemberian/ pengambilan instruksi (fetching).



i. Pena 30 adalah ALE (address latch enable ) yang digunakan untuk



menahan alamat memori eksternal selama pelaksanaan instruksi.

18

j. Pena 31 (EA). External Access Enable harus slalu dihubungkan ke



ground, jika mikrokontroler AT89S51 akan mengeksekusi program dari



memori eksternal lokasi 0000h hingga FFFFh. Selain itu EA harus



dihubungkan ke Vcc agar mikrokontroler mengakses program secara



internal.



k.Pena 32 sampai 39 (port 0) merupakan port parallel 8 bit open drain dua



arah. Bila digunakan untuk mengakses memori luar, port ini akan



memultiplek alamat memori dengan data.



l. Pena 40 (Vcc) dihubungkan ke Vcc ( +5 volt).



3. Organisasi Memori



Memori merupakan piranti yang digunakan mikroprosesor atau



mikrokontroler maupun computer untuk tempat penyimpanan program/



data. Pada mikrokontroler, tempat menyimpan program adalah



ROM/EPROM sedangkan pada PC program disimpan pada disket/hard



disk.



Ada beberapa tingkatan memori, diantaranya adalah register



internal, memori utama dan memori missal ( mass memori ). Register



internal adalah memori dalam ALU. Waktu akses register sangat cepat,



umumnya kurang dari 100 ns. Memori utama adalah memori suatu system



yang ukurannya berkisar antara 4 Kbyte sampai 64 Kbyte. Waktu aksesnya



lebih lambat dari pada register internal antara 200ns sampai 1000ns.



Memori missl dipakai untuk menyimpan berkapasitas tinggi, biasanya



berbentuk disket, pita magnetic, atau kaset.

19

Mikrokontroler AT89S51 memiliki pembagian ruang alamat



(address space) untuk program dan data. Pemisahan memori program dan



memori data membolehkan memori data untuk diakses oleh alamat 8 bit.



Sekalipun demikian, alamat dan memori 16 bit dihasilkan melaui register



DPTR (Data Pointer Register).



Memori program hanya dapat dibaca, tidak dapat ditulis ( karena



disimpan dalam EPROM ). Sinyal yang membolehkan pembacaan dari



memori program eksternal adalah dari PSEN (program store enable ).



Maka data terletak pada ruang alamat terpisah dari memori program. RAM



eksternal 64 Kbyte dapat dialamati dalam ruang memori data eksternal.



CPU menghasilkan sinyal read dan write selama menghubungi data



eksternal. Mikrokontroler AT89S51 memiliki lima buah ruang alamat,



yaitu :



a. Ruang alamat kode ( code address space ) sebanyak 64 Kbyte,



yang seluruhnya merupakan ruang alamat kode eksternal (off-chip).



b. Ruang alamat data internal yang dapat dialamati secara langsung,



yang terdiri atas :



1). RAM (Random Acces Memori ) sebanyak 128 Byte.



2). Hardware register 128 Byte.



c. Ruang alamat data internal yang dialamati secara tidak langsung



sebanyak 128 byte seluruhnya diakses dengan pengalamatan tidak



langsung.

20

d. Ruang alamat data eksternal sebanyak 64 Kbyte (off-chip) yang



dapat ditambah oleh pemakai.



e. Ruang alamat bit dapat diakses dengan pengalamatan langsung.







4. Pewaktu CPU



Mikrokontroler AT89S51 memililki osilator internal (on chip



osilator) yang dapat digunakan sebagai sumber clock bagai CPU. Untuk



menggunakan osilator internal diperlukan sebuah kristal atau resonator



keramik antara pena XTAL 1 dan XTAL 2 dan sebuah kapasitor ke



ground.









Gambar II.8 Rangkaian pewaktu kristal.







Untuk kristal dapat digunakan frekuensi dari 1 sampai 24 MHz.



Sedangkan untuk kapasitor dapat bernilai antara 27 pF sampai 33 pF.



Untuk semua jenis mikrokontroler 51 Atmel memiliki osilator on-



chip, yang dapat digunakan sebagai sumber detak (clock) ke CPU. Untuk

21

menggakannya, hubungkan sebuah resonator kristal atau keramik diantara



kaki-kaki XTAL1 dan XTAL2 pada mikrokontroler dan hubungkan



kapasitornya ke ground.







5. Sistem interupsi. AT89S51



Apabila CPU pada mikrokontroler AT89S51 sedang melaksanakan



suatu program kita dapat menghentikan pelaksanan program tersebut



secara sementara dengan meminta interupsi. Interupsi adalah sebuah



proses yang dilakukan segera setelah adanya oermintaan untuk



menjalankan proses tersebut. Proses apapun yang sedang dikerjakan akan



dihentikan untuk sementara, dan memberikan proses interupsi untuk



dikerjkan terlebih dahulu. Proses yang terhenti tersebut akan dilanjutkan



jika proses interupsi telah selesai dikerjakan. Apabila CPU mendapat



permintaan interupsi. Program counter (PC) akan diisi alamat dari vektor



interupsi. CPU kemudian melaksanakan rutin pelayanan interupsi mulai



dari alamat kepelaksanaan program utama yang ditinggalkan.





Ada Permintaan Interuspi





Proses normal Berhenti sementara Proses normal

dilanjutkan







Proses interupsi



Gambar II.9 Sistem Interupsi

22







Pada Mikrokontroler AT89S51 terdapat beberapa saluran interupsi.



Interupsi pada AT89S51 dibedakan dalam dua jenis yaitu :



a. Interupsi yang tidak dapat dihalangi oleh perangkat lunak (non



Maskable Interupt), misalnya reset.



b. Interupsi yang dapat dihalangi perangkat lunak (maskable interrupt ),



seperti contoh interupsi jenis ini adalah INT0 dan INT1 ( eksternal



serta timer counter 0, timer counter 1 dan interupsi dari port serial



(internal).







6. Perangkat lunak mikrokontroler AT89S51



Mikrokontroler AT89S51 memiliki 256 perangkat intrusksi.



Seluruh instruksi dapat dikelompokan dalam 4 bagian yang meliputi



intruksi 1 byte sampai 4 byte. Apabila frekuensi clock mikrokontroler



AT89S51 yang digunakan adalah 12 MHz, kecepatan pelaksanaan



instruksi akan bervariasi dari 1 hingga 4 mikrodetik. Perangkat instruksi



mikrokontroler dapat dibagi menjadi lima kelompok yaitu :



a. Instruksi transfer data, instruksi ini memindahkan data anatara register-



register, memori-memori, register-memori, antar muka register dan



antar muka-memori.



b. Instruksi aritmatika, ini melaksanakan operasi aritmatika yang meliputi



penjumlahan , pengurangan, penambahan satu (inkremen),



pengurangan satu (dekremen), perkalian dan pembagian.

23

c. Instruksi logika dan manipulasi bit, instruksi ini akan melakukan



operasi logika AND, OR, XOR, perbandingan (compare), pergeseran



dan complement data.



d. Instruksi percabangan, instruksi ini mengubah urutan normal suatu



program.



e. Instruksi stack, I/O dan control, Instruksi ini mengatur penggunaan



stack, membaca atau menulis port I/O, serta pengontrolan-



pengontrolan.



Untuk memasukan program, data ditulis dalam format bahasa assembly



yang mengubah berkas objek menjadi heksa dengan OH serta menjalankan



simulasi program menggunakan Emulator TS Control 8051. sedangkan



untuk memasukan program menggunakan software Prog85. penulisan



menggunakan software ALDS.









Gambar II.10 Halaman muka software ALDS.

24









Gambar II.11 Halaman muka software PROG89S







C. Unit Rangkaian CDI (Capasitor Discharge Ignition)



Rangkaian CDI dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengapian



konvensional tanpa mengurangi komponen yang ada. CDI atau



pengosongan kapasitif yang merupakan penyempurnaan sistem pengapian



magnet konvensional dengan kontak platina. Penyampurnaan terletak pada



penggantian titik kontak dengan unit CDI. Penggantian titik kontak dengan



unit CDI dimaksudkan untuk menghindari motor sulit hidupkan karena



pada titik kontak mudah sekali teroksidasi, aus, dan sensitive terhadap air.



Bila titik kontak platina terjadi hal-hal tersebut maka akan mempengaruhi



kinerja dari sepeda motor. Dengan penggantian titik kontak dengan unit



CDI maka kemungkinan kerusakan dan gangguan akan dapat



diminimalkan, sehingga akan diperoleh sistem pengapian yang lebih baik.



Bila sistem pengapian baik maka motor akan mudah untuk dihidupkan.



1. Prinsip kerja CDI

25









Gambar diatas memperlihatkan sirkuit dasar CDI. Arus yang



dihasilkan oleh koil eksitasi pada magneto CDI mengalir melalui diode



(D1) kedalam kondensor (C) dimana arus tersebut disimpan. Berikutnya,



sinyal “ ignition dari koil pulsa membuat thrysistor (SCR) menjadi



konduktor dank arena itu, muatan listrik yang disimpan didalam kondensor



dikeluarkan melalui thrysistor ke koil ignition. Voltase yang diinduksikan



dikumparan primer dinaikkan didalam kumparan skunder, dan dihasilkan



bunga api melintasi celah busi.



Diode2 (D2) menarik voltase negative yang dihasilkan koil eksitasi



untuk melindungi thrysistor.



Diode (3) adalah untuk memperpanjang lamanya bunga api dari



busi. Tanpa D3 arus akan mengalir seperti terlihat pad gambar dibawah no



(1). Dan kondensor akan diisi lagi dengan arus balik setelah pengeluaran



(discharge). Jadi, tidak ada arus mengalir ke kumparan primer dari koil



ignition . D3 menghindari arus mengalir kedalam kondensor. Berarti, arus



mengalir melaluiD3 dan bergerak seperti pada gambar dibawah no2.

26

sehingga seluruh energi listrik yang disimpan didalam kondensor dapat



dipakai menghasilkan bunga api dengan waktu yang lama.









Gambar 13 . Energi listrik dalam kondensor.







Dengan kata lain bila magnit yang ditetapkan pada rotor melewati



koil pulser maka arus akan mengalir ke koil pengapian untuk kemudian



bunga api dihasilkan oleh busi. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa



timing dari pengapian ditentukan oleh penetapan posisi dari koil pulsa. Ini



berarti bahwa sistem CDI tidak memerlukan penyetelan timing dari



pengapian. Sistem CDI mempunyai banyak keunggulan yang membuatnya



masih digunakan sampai sekarang ini. Sifat-sifat dari sistem CDI yaitu



sebagai berikut :



a. Mogoknya motor karena titik-titik kontak dapat dihindarkan.



b. Tidak terjadi loncatan bunga api yang melintasi celah titik-titik kontak



seperti pada platina, dan karenanya voltase skeunder stabil sehingga



start dan performa yang sangat baik pada kecepatan rendah terjamin.

27

c. Saat putaran tinggi bunga api yang dihasilkan oleh busi lebih stabil



sehingga mesin akan bekerja secara optimal.



d. Pemeliharaan mudah karena tidak ada persoalan aus pada titik-titik



kontak dan pada “ breaker arm hell”.



e. Tidak memerlukan adanya penyetelan ignition karena tidak memakai



titik-titik kontak dan cam.



f. Busi tidak mudah kotor karena voltase sekunder yang lebih tinggi.



g. Sirkuit yang ada didalam sistem CDI dibungkus dalam cetakan plastik,



sehingga lebih tahan air dan kejutan.







Selain keunggulan diatas sistem CDI juga mempunyai perbedaan



dengan sistem konvensional dalam hal pemajuan waktu pengapian.



Pemajuan waktu pengapian pada sistem pengapian magnet konvensional



mengandalkan gaya sentrifugal yang terjadi pada bobot governor disaat



mesin berputar. Gaya sentrifugal yang bekerja pada bobot governor



tersebut akan membuatnya terlempar keluar dan menyebabkan cam



governor bergerak untuk memajukan waktu pengapian. Sedangkan pada



sistem pengapian CDI, pemajuan waktu pengapian dilakukan dengan jalan



mengubah waktu yang dibutuhkan untuk membangun voltase yang



dihasilkan koil pulsa.



Seperti pada gambar di bawah, voltase koil pulsa bertambah bila



kecepatan rotor naik. Pada saat yang sama voltase naik lebih cepat. Ini



berarti bahwa voltase mencapai “ gate trigger level “ dari thyristor lebih

28

cepat dengan perbedaan sudut engkol. Pada gambar dibawah ini



menunjukan posisi (a) adalah keadaan saat mesin pada posisi stasioner



(800-900 rpm), (b) saat mesin pada kecepatan sedang (±4000rpm) dan



posisi (c) adalah saat mesin pada kecepatan tinggi (±7000) rpm).









Gambar II.14 Prinsip Spark Advance pada sistem pengapian CDI









2. Pulser



Prinsip CDI adalah membebaskan arus listrik dalam voltase yang



sangat tinggi untuk menyalakan Bahan bakar melalui elektroda busi



dicapai dengan menyimpan energi listrik dalam suatu kapasitor yang



digunakan. Pengapian diatur waktunya untuk membangkitkan arus listrik



digunakan sebuah thyristor untuk membebaskan arus listrik pada



kondensator melalui koil pengapian.

29

Sebagai sensor gerakan digunakan sebuah pulser untuk mengatur



waktu pengapian. Pulser banyak jenisnya diantaranya menggunakan sinar



infra merah dari transistor optic dan pulsa generator.

BAB III



METODOLOGI PENELITIAN





Dalam suatu penelitian, diperlukan suatu langkah-langkah yang benar



sesuai dengan tujuan penelitian, agar penelitian dapat dipertanggung jawabkan.



Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian



eksperimen jenis komparasi, yaitu suatu penelitian dimana peneliti sengaja



membangkitkan sesuatu kejadian atau keadaan, kemudian diteliti bagaimana



perbedaan dan akibatnya ( Suharsimi Arikunto, 1996: 4)



Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistematik dalam



waktu yang lama dengan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku. Untuk



menerapkan metode ilmiah dalam praktek penelitian maka diperlukan suatu



desain penelitian yang sesuai dengan kondisi, seimbang dengan dalam dangkalnya



penelitian yang akan dikerjakan.



Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental,



maka perlu sekali diketahui desain-desain yang sering digunakan dalam penelitian



tersebut, desain penelitian yang sering digunakan adalah desain percobaan, desain



percobaan tidak lain dari semua proses yang diperlukan dalam merencanakan dan



melaksanakan penelitian.



Desain percobaan sangat diperlukan dalam melaksanakan penelitian



eksperimental. Guna dari desain percobaan adalah untuk memperoleh suatu



keterangan yang maksimum mengenai cara membuat percobaan dan bagaimana



proses perencanaan serta pelaksanaan percobaan akan dilakukan. Proses



perencanaan dan pelaksanaan percobaan perlu kita pikirkan dengan sungguh-





30

31



sungguh, peneliti harus lebih dahulu memikirkan langkah-langkah serta jenjang



dari percobaaan yang akan dilakukan.







A. Alat dan Bahan



Pada percobaan ini desain yang akan digunakan adalah desain One-shot



case study yaitu penelitian hanya mengadakan satu kali penelitian yang



langsung diambil data atau hasilnya (Suharsimi Arikunto 1998:83-84). Untuk



menghindari adanya keraguan validitas rancangan penelitian maka perlu



dilakukan beberapa pengontrolan terhadap jalannya eksperimen selama



penelitian dilakukan, yang meliputi :



1. Alat Penelitian



Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :



a. Tool set, digunakan sebagai alat bantu untuk bongkar pasang bagian-



bagian yang diperlukan.



b. Tachometer, digunakan untuk mengukur putaran mesin dalam rpm sesuai



yang dibutuhkan.



c. Stop Watch, digunakan untuk mengetahui banyaknya waktu yang



diperlukan untuk menghabiskan bahan bakar sesuai dengan ketentuan.



d. Gelas ukur, digunakan untuk mengetahui konsumsi bahan bakar dalam



ukuran millimeter perdetik.



e. Higrometer, digunakan untuk mengukur kelembapan udara.



f. Osiloskop, digunakan untuk mengukur tegangan dan waktu pada



komponen elektronik.

32



g. Selang bahan bakar untuk menyalurkan bahan bakar dari gelas ukur ke



karburasi.



h. Timing light, untuk mengetahui besarnya derajat pengapian.



i. Seperangkat computer, untuk pembuatan program dalam IC



j. Lembar observasi, digunakan untuk mencatat hasil penelitian atau data



yang diperoleh.



2. Bahan penelitian



Bahan dalam penelitian ini adalah :



a. Mesin Honda Supra X 110cc.



b. Bensin premium.



c. CDI standar Honda Supra X



d. CDI dengan menggunakan Mikrokontroler.



e. Minyak pelumas.







B. Variabel Penelitian



Dalam penelitian ini ada dua macam variable utama yang diteliti, variabel-



variabel tersebut adalah :



1. Variabel bebas



Variabel bebas adalah kondisi yang mempengaruhi munculnya suatu



gejala. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa variabel bebas merupakan



variabel yang sengaja dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat.



Sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini adalah CDI menggunakan



mikrokontroler AT89S51 dan CDI Standar Honda Supra X.

33



2. Variabel Terikat



Variabel terikat adalah himpunan sejumlah gejala yang memiliki pula



sejumlah adspek atau unsur didalamnya, yang berfungsi menerima atau



menyesuaikan diri dengan kondisi lain, yang disebut variabel bebas. Dengan



kata lain ada atau tidaknya variabel terikat tergantung ada atau tidaknya



variabel bebas. Penelitian ini variabel terikatnya adalah daya dan konsumsi



bakan bakar sehingga diketahui performa masing-masing CDI.



3. Variabel Kontrol



Variabel control adalah himpunan sejumlah gejala yang memiliki



berbagai aspek atau unsur didalamnya, yang berfungsi untuk mengendalikan



agar variabel terikat yang muncul bukan karena variabel lain, tetapi benar-



benar karena variabel bebas tertentu. Pengendalian variabel ini dimaksudkan



agar tidak merubah atau menghilangkan variabel yang akan diungkap



pengaruhnya. Dengan kata lain control yang dilakukan terhadap variabel ini,



akan menghasilkan variabel terikat murni.



Penelitian ini variabel kontrolnya adalah :



a. Keadaan mesin tanpa beban.



b. Keadaan udara baik kelembapan maupun suhu dijaga agar tetap



sama atau tidak berubah dari semua pengambilan data.



c. Celah busi 0,8 mm



d. Tekanan kompresi 9-13 kg/cm2



e. Celah katup masuk 0,020 mm



f. Celah katup buang 0,030 mm

34



g. Suhu kerja mesin 800 C



h. Putaran mesin 1500, 2000, 25000, 3000, 3500, 4000,4500.



i. Bahan bakar premium diambil dari salah satu SPBU.



C. Diagram alir Penelitian



Tahap eksperimen dalam penelitian ini dapat digambarkan dengan



bagan aliran proses eksperimen sebagai berikut :



MESIN SEPEDA MOTOR BENSIN



HONDA SUPRA X MENGGUNAKAN HONDA SUPRA X

CDI STANDART MENGGUNAKAN CDI

MIKROKONTROLER AT89S51







Putaran mesin Putaran mesin

1500 1500

2500 2500

2000 2000

3000 3000

3500 3500

4000 4000

4500 4500





ANALISIS DATA ANALISIS DATA





PERHITUNGAN KONSUMSI DAYA DAN

KONSUMSI BAHAN BAKAR







PERBANDINGAN DATA CDI







KESIMPULAN





Gambar III.1. Diagram Penelitian

35



D. Desain Penelitian



Adapun urutan langkah eksperimennya sebagai berikut :



1. Menyiapkan sampel yang akan digunakan, yaitu mesin Honda supra X 110



dengan kondisi sesuai dengan variabel kontrol yang digunakan.



2. Menyiapkan dua buah CDI ( CDI standart Honda Supra X dengan CDI



menggunakan mikrokontroler AT89S51 ).



3. Menyiapkan tachometer untuk mengukur putaran mesin.



4. Menyiapkan gelas ukur dan mengisi bensin premium sebanyak 50ml.



5. Mengukur tekanan kompresi mesin dalam silinder sesuai standart yaitu 9-13



Kg/ cm 2.



6. Mengukur suhu ruangan dan kelembapan udara.



7. Menghidupkan mesin selama beberapa saat dengan CDI Standart Honda



Supra X. untuk mendapatkan suhu kerja mesin yang optimal, kemudian



dilakukan pengukuran Rpm dengan Tachometer pada Putaran mesin 1500,



2000, 2500, 3000, 3500, 4000, 4500,. untuk mengambil data pada CDI



mikrokontroler AT89S51.



8. Matikan mesin dan ganti dengan CDI mikrokontroler AT89S51



9. Hidupkan mesin kembali beberapa menit untuk mencapai suhu optimal



dalam mesin, kemudian lakukan pengukuran dengan Tachometer pada



Putaran mesin 1500, 2000, 2500, 3000, 3500, 4000, 4500, untuk mengambil



data pada CDI mikrokontroler AT89S51. Catat hasil penelitian dalam tabel



hasil pengukuran sebagai berikut:

36



Tabel III.1 Hasil Pengukuran.



a. Tabel Hasil Pengukuran Cdi standart Honda supra





Rpm Konsumsi Bahan Timing Daya

Bakar Ignition

1500

2000

2500

3000

3500

4000

4500









b. Tabel Hasil Pengukuran Cdi mikrokontroler AT89S51





Rpm Konsumsi Bahan Timing Daya

Bakar Ignition

1500

2000

2500

3000

3500

4000

4500

37



Untuk memperjelas hasil pengujian semua data dibentuk dalam grafik



Rpm Vs Konsumsi dan Rpm Vs Timing Ignition.





Konsumsi BB









Rpm



Grafik Konsumsi BB Vs Rpm







Timing Inition Gambar. III.2. Contoh grafik Rpm Vs Konsumsi BB









Rpm







Grafik Timing Ignition Vs Rpm



Gambar. III.3 Contoh grafik Rpm Vs Timing Ignition

BAB IV



PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT





Dalam bagian bab ini akan dibahas mengenai : software dan hardware



mikrokontroler AT89S51. Perancangan hardware mengenai rangkaian CDI,



Pulser, Penampil sevent segment. Perancangan software dibuat dengan



pemrograman IC Mikrokontroler AT89S51 dalam bahasa assembly.







A. PERENCANAAN.



Perencanaan alat adalah pemilihan dan rancangan komponen baik



untuk software dan hardware yang diperlukan untuk menghasilkan sinyal



pulsa dari sensor, yang dapat digunakan sebagai pulsa untuk



membebaskan arus listrik dalam kapasitor dan memberikan tampilan



dalam sevent segment.



Sesuai dengan tujuan penelitian ini untuk merancang CDI



Mikrokontroler AT89S51 dengan memanfaatkan sinyal pulsa, maka model



penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data adalah model



penelitian eksperimen. Model penelitian eksperimen adalah penelitian



yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian



serta adanya control (M. Nazir, 1983 : 74). Jadi eksperimen dibawah



kondisi buatan ( artificial Condition), dimana kondisi tersebut



dibuat dan diatur oleh peneliti. Dalam kasus ini yang diatur sedemikian



rupa adalah kondisi timing pengapian melalui program yang terdapat



dalam mikrokontroler AT89S51.





38

39









B. REALISASI CDI MIKROKONTROLER AT89S51



Pembuatan cdi Mikrokontroler AT89S51 dibagi menjadi dua bagian



yaitu hardware dan software.



1. Pembuatan Hardware



Rangkaian CDI ini terdiri dari 4 bagian penting yang saling mendukung



satu dengan yang lain. Dibawah ini merupakan blok rancangan awal dari



rangkaian CDI.

Rangkaian CDI

SENSOR Mikrokontroler

AT89S51

Display sevent

segmen





Gambar IV.1 Blok rangkaian CDI



a. Sensor



Sebagai ujung pendeteksi putaran mesin adalah berupa sensor,



sensor yang digunakan berupa sebuah koil eksitasi atau yang biasa



disebut pulser yang terdapat banyak dipasaran. Pulser yang digunakan



masih standar dari sepeda motor sehingga tidak banyak perubahan



pada pembuatan rangkaian dan perubahan.









Lilitan



Magnet

40







Gambar IV.2 koil pulser



Signal generator (Pulser) adalah sejenis generator AC yang



berfungsi untuk menghidupkan power transistor di dalam CDI



untuk memutuskan arus primer koil pengapian yang tepat. Signal



generator terdiri dari magnet permanen yang memberi magnet



pada pick up koil. Pick up koil berfungsi untuk membangkitkan



arus bolak-balik (AC) dan signal rotor menginduksi tegangan AC



didalam pick up koil sesuai dengan saat pengapian.



b. Mikrokontroler



Rangkaian Mikrokontroler AT89S51 yang dibuat merupakan



sistem minimum yang komplek yang terdiri dari sebuah kristal



keramik 11,0592 MHz, dua buah keramik 30pf. Sebuah resistor 10



KΩ. Delapan buah resistor 330Ω, sebuah elco 10μf.









Gambar IV.3 Rangkaian sistem minimum Mikrokontroler AT89S51

41



Tegangan yang dibutuhkan Mikrokontroler AT89S51 sebesar 9volt



sedangkan pada sepeda motor menggunakan energi listrik yang



bersumber dari aki sehingga perlu diturunkan terlebih dahulu.



Untuk menurunkan tegangan aki dari 12 volt menjadi 9 volt



dibutuhkan IC 7805.







IC 7805 +

Accu



_



Gambar IV.5 Rangkaian pengkonversi 12V menjadi 9 volt.







c. Rangkaian CDI









Gambar IV.6 Rangkaian CDI







Rangkaian CDI yang dibuat merupakan dasar dari sebuah



sirkuit CDI dan telah digabungkan dengan dengan koil pulser.

42



Rangkaian ini terdiri dari : kondensator 400 volt sebagai



penyimpan arus dari koil eksitasi, 4 dioda seri 4007 dan SCR.



Untuk elco dipakai tegangan 16 volt.



d. Display sevent segment.



Sevent segmen merupakan penampil yang terdiri dari tujuh buah



Led sebagai pembentuk karakter dan satu led untuk nyala titik



(point). Jika diberikan bias maju ( forward bias). Yaitu tegangan



anoda lebih positif dari katoda. Pada sevent segment common



anoda untuk menyalakan setiap led supaya membentuk satu



karakter, pada katoda di groundkan sedangkan pada anoda jadi satu



dan diberi tegangan skunder.









Gambar IV.7 Rangkaian Seven Segment







2. Pembuatan software.



a). Alur Program

43



Sebelum software dibuat, pemrograman CDI Mikrokontroler AT89S51



dibuat dalam alur kerja program utama sebagai berikut:



1). Pada saat kunci kontak pada posisi ON, arus baterai / aki



mengaktifkan Mikrokontroler AT89S51,dan siap menjalankan



perintah / program.



2). Rangkaian CDI Mikrokontroler AT89S51 aktif ditandai dengan



nyala lampu led dan rangkaian sevent segment menyala .



3). Periksa apakah ada sinyal yang masuk pada Mikrokontroler



AT89S51, jika ada sinyal = 1, maka aktifkan SCR untuk meberikan



arus ke kumparan primer dan terbentuk bunga api pada busi.



4). Jalankan program interupsi timer/counter untuk menghitung rpm



dan hasil ditampilkan pada display seven segment.



5). Bandingkan data rpm dengan mode pemajuan timing ignition.



6). Program diulang dari 3 sampai dengan 5 dan program selesai.







b). Pengukur Waktu



Untuk mengukur kecepatan putar mesin diperlukan suatu waktu



yang mengukur tepat dalam waktu sekian detik atau frekuensi putar



tersebut. Dalam kasus ini kita membutuhkan sebuah timer dan counter.



Counter digunakan sebagai penghitung jumlah putaran, dan timer



digunakan sebagai basis waktu. Dalam mikrokontroler AT89S51



menggunakan register TL1 dan TH1 sebagi counter. sedangkan register



yang digunakan sebagai timer adalah TL0 dan TH0. Untuk mendapatkan

44



konfigurasi seperti ini maka harus mengatur register TMOD (timer Mode)



sebagai berikut:









GATE C/T M1 M0 GATE C/T M1 M0

7 6 5 4 3 2 1 0

TIMER1 TIMER0





Gambar IV.8 Susunan Bit dalam register TMOD







• Nibble atas, yaitu bagian yang mengatur timer/counter 1, diatur agar



berfungsi sebagai counter. Dengan demikian bit2 dalam nibble tersebut



(bit 6 dalam byte) di-set.



• Karena counter kapasitas counter cukup besar, counter diatur dalam



ukuran 16 bit. Maka dipilih mode1. dengan demikian bit pembentuk mode



pada nibble dibentuk angka 1. bit pembentuk mode adalah bit0 dan bit1



dalam bit tersebut. Dengan demikian bit0 dan bit1 disusun sebagai 01b.



• Dari dua poin diatas didapat bilangan untuk nibble atas sebagai 101b atau



0101b.



• Nibble bawah diatur agar menjadi timer. Dan karena diinginkan waktu



yang akurat maka dipilih mode 1. Maka didapat perhitungan untuk nibble



bawah sebagai 0001b.



TF1 TR1 TF0 TR0 IE1 IT1 IE0 IT0

7 6 5 4 3 2 1 0

TIMER1 TIMER0

45







Gambar IV.9 Susunan Bit dalam register TCON







• Hasil akhir didapatkan angka untuk register TMOD sebagai 01010001b.



Selain register TMOD, masih ada register TCON yang perlu disetting.



Register TCON. Untuk membuat counter berjalan, maka flag TR (TR0



maupun TR1) harus diset..



Setelah nilai TMOD didapat, selanjutnya pangaturan register IE (interrupt



Enable). Interupsi yang akan di enable yang ada adalah interupsi timer 0.



dengan demikian flag ET0 dan flag EA harus diset. Bilangan yang harus



diisikan adalah 10000011b.







c). Konfigurasi interupsi timer 1



Untuk mendapatkan format yang bisa dipahami oleh mikro, maka dalam



mode auto reload timer 1 pengisian TH1 dalam timer 1 diisi dengan 256-



100=156. Dengan demikian setiap terjadi limpahan 100 dari counter TL1.



Karena jumlah digit yang tersedia hanya empat maka angka terbesar yang



dapat ditampilkan adalah [9999], maka disimpan dalam empat variabel,



Variable tingkat 0 disimpan dalam SATUAN dan variabel tingkat 2



disimpan dalam puluhuan dan seterusnya.







d). Prosedur isi buffer

46



Prosedur isi buffer merupakan langkah untuk memindahkan nilai suatu



variabel untuk ditampilkan dalam seven segment. Jumlah digit seven



segment ada empat yang digunakan untuk menampilkan rpm. Sedangkan



variable yang akan ditampilkan sebesar 16 bit, atau sama dengan 4x4 bit,



atau sama dengan 4nibble. Dengan demikian jumlah digit seven segment



sama dengan jumlah digit nibble yang akan ditampilkan.



Dengan mengambil sebagian perintah (MOV) digunakan untuk



mengisi Ram internal berlabel (SIMPAN) sebagai pembanding kecepatan



yang terjadi. Isi dari Ram tersebut berupa angka yang digunakan sebagai



pembanding.



MOV R2,SATUAN

MOV R3,PULUHAN

MOV R4,RATUSAN

MOV R5,RIBUAN

Perbandingan tersebut yang akan digunakan pada interupsi



berikutnya yaitu interupsi external 0.







e). Prosedur Interupt external 0.



Interupsi external 0 digunakan untuk menyalakan busi tepat dengan



keadaan yang dibutuhkan mesin. Prosedur interupsi ext0 diaktifkan dengan



memberi logika 1 pada bendera TCON.1 dengan perintah setb EX0. dan



memulai dijalankan dengan mengeset 1 bendera IE. Hal ini dilakukan pada



inisialisasi program . Setelah dilakukan pengaktifa bendera IE maka



interupsi akan dijalankan setiap ada sinyal yang masuk pada kaki Port.3.2.

47



Setelah adanya sinyal 1 dari pulser. Maka langkah berikutnya



membandingkan dengan bagian mode. Kecepatan atau rotasi mesin yang



telah diukur kemudian dicocokan dengan variabel mode yang sesuai pada



bagian bawah diberi perintah ekskusi SETB SCR untuk penyalaan busi







3. Pembuatan PCB.



Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat layout pada PCB adalah



sebagai berikut :



• Menyiapkan PCB secukupnya dan disesuaikan dengan gambar



yang akan dibuat.



• Menggambar jalur PCB sesuai dengan gambar rencana



menggunakan pena tebal snowman permanent dengan ukuran M



atau cetak sablon.



• Melubangi PCB sebagai tempat berdirinya komponen-komponen



elektronika.



• Meneliti jalur pada PCB apakah telah sesuai dengan gambar



rencana yang telah disusun.



• Melarutkan rangkaian-rangkaian tadi kedalam larutan Ferri Clorit



(FECL2) dengan menggunakan loyang plastic.



• Rendam dan goyang-goyangkan selama 30 menit untuk



mendapatkan jalur yang baik dan menghilangkan tembaga pada



PCB.

48



• Membersihkan PCB dengan air agar terbentuk gambar PCB yang



baik dan bagus.



• Mengeringkan rangkaian elektronika supaya bersih dari tembaga



dan dikeringkan.

BAB V



HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN





A. HASIL PENELITIAN





Setelah dilakukan pembuatan CDI dari gambar perancangan, maka



perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui tingkat kualitas alat tersebut.



Pengujian alat dibagi menjadi dua yaitu pengujian software atau program



dan pengujian cdi atau hardware. Pengujian software dilakukan melalui



program yang dapat menampilkan simulasi mikrokontroler, sedangkan



pengujian hardware dilakukan dengan pemasangan secara langsung pada



kendaraan sepada motor Honda SupraX. Pengujian ini ditujukan sebagai



pembanding sebelum menggunakan dan sesudah menggunakan



mikrokontroler AT89C51.



Kabel-kabel CDI dihubungkan sesuai dengan keterangan,



kemudian mikrokontroler dihubungkan dengan tegangan catu 12 volt,



sebagai pembanding kecepatan digunakan tachometer manual yang



mengukur arus dari keluaran atau sinyal CDI menuju kekoil. Untuk



mempermudah penunjukan waktu pengapian, maka pada magnet yang



terletak di sebelah kiri mesin, diberi tanda berupa angka dan huruf. Setelah



persiapan selesai maka mikrokontroler siap digunakan dan siap dilakukan



pengambilan data. Pembuatan grafik prestasi hasil penelitian dalam



berbagai variabel dibuat diperoleh secara langsung dari pengujian



menggunakan dynamometer. Yang menampilkan torsi, daya dan kecepatan





49

50



putaran mesin. Untuk watu pengapian diukur secara langsung



menggunakan timing light.



1. Pengujian Software.



Software yang dimaksud adalah serangkaian program yang mengisi IC



Mikrokontroler AT89S51. dalam program tersebut waktu pengapian



atau delay ignition dibagi menjadi beberapa 6 bagian atau 6 mode.



Mode diperoleh dari besarnya kecepatan mesin yang terukur. Adapun



besarnya kecepatan yang menjadi patokan diukur dalam satuan rotasi



perdetik dan sesuai dengan tabel sebagai berikut:



Tabel V.1 Mode Pengapian



Kecepatan Mesin

Mode Delay Ignition

RPM RPS

Mode0 < 1500 < 25 111μs



Mode1 1500 – 2000 25 – 33 84μs



Mode2 2000 – 2500 33 – 41 67μs



Mode3 2500 – 3000 41 – 50 56μs

Mode4 3000 – 3500 50 – 58 47μs

Mode5 3500 – 4000 58 – 66 42μs

Mode6 4000 < 66 < 37μs







Mikrokontroler ON setelah memperoleh catu daya dan akan langsung



mengaktifkan program penghitungan kecepatan, dan perintah interupsi



timer akan datang jika telah menghitung tepat dalam waktu satu detik.



Namun setiap ada sinyal datang dari pulser , maka diangap sebagai

51



perintah interupsi untuk menyulut SCR dan menyampingkan



penghitungan waktu terlebih dahulu.







2. Pengujian Hardware.



Dari hasil percobaan ini didapat data konsumsi bahan bakar disertai



dengan timing ignition yang terjadi. Adapun perolehan Timing didapat



dengan melihat tanda yang terdapat pada fly whell atau magnet yang



dihubungkan dengan poros engkol.



Magnet diberi tanda strip yang jarak intervalnya adalah 5mm atau



0,5 cm. sedangkan keliling dari magnet tersebut adalah 35,5 cm. maka



360 / 35.5 sama dengan 10,1. jadi satu strip mewakili 50. adapun data



yang diperoleh adalah sebagai berikut:







Tabel V.1 Hasil Penelitian Menggunakan CDI Standart



RPM Konsumsi BB/cc Timing Ignition



1500 32,57 s 3



2000 22,86 s 3



2500 20,84 s 4



3000 17,58 s 5



3500 12,90 s 5



4000 11,32 s 5



4500 10,96 s 5

52









Tabel V.2 Hasil Penelitian Menggunakan CDI Mikrokontroler



RPM Konsumsi BB/cc Timing Ignition



1500 42.19 s 3



2000 35,78 s 3,5



2500 33,33 s 3



3000 34,56 s 4



3500 28,01 s 11



4000 19,56 s 5



4500 10,98 s *K





*Catatan: K mewakili garis yang telah melewti titik TMA





B. Pembahasan



Sesuai dengan tujuan penelitian maka pembahasan hasil penelitian dapat



peneliti sajikan sebagai berikut:



Kecepatan motor bensin dapat dikategorikan dalam kecepatan rendah



atau Stasioner, kecepatan sedang, dan kecepatan tinggi. Semakin tinggi



kecepatan maka konsumsi bahan bakar akan semakin meningkat. Disertai

53



dengan daya dan torsi ikut meningkat. Dan timing ignition akan semakin



bertambah seiring dengan kecepatan sampai level tertentu



Untuk kecepatan stasioner, timing ignition CDI standar jatuh pada angka



tiga. Maka 3 x 5 = 150. jadi pembakaran terjadi 15 derajat sebelum pengapian.



Waktu kecepatan sedang timing terjadi pada angka empat. Maka 4 x 5 = 200 ,



yang berarti bahwa pengapian CDI Standart mengalami pemajuan sebesar 50



dari waktu stasioner. Kecepatan sedang terjadi antara 2000 – 2500 rpm,



langkah ini menunjukan adanya langkah transisi. Begitu pula pada keadaan



kecepatan tinggi terjadi waktu pemajuan timing sebesar 50, yang berarti terjadi



25 0 sebelum waktu TMA.



Melihat dari waktu pengapian setelah melewati kecepatan sedang adalah



tetap. Maka dapat dikatakan bahwa pulsa teratas telah mencapai puncak, atau



bisa dikatakan bahwa CDI standart mengandung pembatas arus atau Limiter.



Pembatasan arus ini untuk mencegah putaran yang terus bertambah an



penghematan bahan bakar.



Dari segi konsumsi bahan bakar, CDI standart masih jauh lebih irit



dibandingkan dengan CDI mikrokontroler. Hal ini disebabkan karena CDI



Mikrokontroler mengelami pengapian dibusi yang terkadang menghilang. (



tidak menyala secara kontinu) sehingga bahan bakar yang sudah tercampur



tidak jadi terbakar dan akhirnya terbuang. Pengapian CDI mikrokontroler juga



terkadang mengalami perubahan titik pengapian sehingga sering terjadi



knocking. Hal ini disebabkan sensor yang ada kurang tepat bila masih



menggunakan pulser. Namun disisi lain bunga api yang terjadi lebih besar.

54



Pada sistem CDI, induktansi Primer dan sekundernya rendah dan arus



yang besar mengalir pada belitan primer. Karena itu jumalah belitan primer



dibuat sangat kecil (10 lilitan ). Walaupun dengan Ns/Np yang masih tinggi



(166). Akan diperoleh jumlah lilitan pada sekunder yang masih kecil sekitar



10% jumlah lilitan sistem konvernsional. Dengan demikian induktansi



maupun kapasitansi rangkaian sekunder juga kecil sehingga rise time nya



kecil.



Pada CDI mikrokontroler, Kapasitor yang digunakan adalah 105, yang



berarti 1000.000pF atau sebesar 1μF.



Grafik V.1 Grafik Konsumsi Bahan Bakar Vs Rpm CDI standart





Grafik Konsumsi Bahan Bakar



35

32,57

Konsumsi Bahan Bakar









30

25

22,86

20 20,84

17,8

15

12,9

10 11,32 10,96



5

0

1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500

RPM









Grafik V.2 Grafik Konsumsi Bahan Bakar Vs Rpm CDI Mikrokontroler

55



Grafik Konsumsi Bahan Bakar



45

42,19



Konsumsi Bahan Bakar

40

35 35,78

33,33 34,56

30

28,01

25

20 19,56

15

10 10,98

5

0

1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500

RPM









Grafik V.3 Grafik Timing Ignition Vs Rpm CDI Mikrokontroler



Grafik Timing Ignition



12



10



8



6



4



2



0

1500 2000 2500 3000 3500 4000









Grafik V.4 Grafik Timing Ignition Vs Rpm CDI Standart

56







Grafik Timing Ignition



6



5



4

Ttiming







3



2



1



0

1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500

RPM

BAB VI



SIMPULAN DAN SARAN



A. SIMPULAN



Dari hasil penelitian “Pembuatan Cdi Sepeda Motor Menggunakan



Mikrokontroler IC AT89S51”, peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai



berikut :



1. Pemakaian sensor CDI yang menggunakan Pulser kurang tepat dalam



pemakaian untuk digital. Karena arus yang keluar berubah – ubah



bentuk voltase nya bila dilihat dari osiloskop. Hal ini menyebabkan



kurang sempurnanya arus yang dapat dideteksi oleh mikrokontroler.



2. Konsumsi Bahan bakar CDI standart masih lebih baik dari pada



konsumsi bahan bakar CDI mikrokontroler. Karena CDI



mikrokontroler sering mengalami Hang yang menyebabkan ada



tidaknya pengapian yang terjadi.



3. CDI mikrokontroler terkadang mati karena disebabkan oleh adanya



induksi balik dari kumparan sekunder, sehingga ground atau



pertanahan yang digunakan kurang sempurna.



4. Waktu pengambilan data pada mikrokontroler adalah satu detik,



sehingga banyak terjadi kelambatan.



5. CDI mikrokontroler menggunakan IC AT89S51 dapat digunakan



sebagai pengatur waktu pengapian dengan perhitungan delay period



yang sangat tepat.









57

58



B. SARAN



1. Untuk memperoleh pengapian yang baik diperlukan bunga api yang



besar dan waktu yang tepat. Untuk CDI mikrokontroler dibutuhkan



perhitungan yang lebih akurat.



2. Perhitungan program mengambil data tiap satu detik sehingga perlu



diadakan perubahan yaitu pengambilan data tiap kali ada sinyal datang.



3. Sensor yang digunakan pada CDI perlu dibedakan untuk keperluan



analog dan keperluan digital sehingga pulser perlu diganti dengan



rangkaian yang lebih baik.



4. CDI mikrokontroler kurang kuat menahan getaran, untuk mengatasi



nya dibutuhkan pengemasan rangkaian CDI yang lebih komplek dalam



menangani getaran maupun goncangan.

59



DAFTAR PUSTAKA







Pakpahan Abigain. 1998. Motor Otomotif I. Bandung : Angksa.



Arend, BPM & Berenschot. H. 1980. Motor Bensin. Jakarta : Erlangga.



Arikunto Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.



Jakarta : PT Rieneka Cipta.



Sudjana. 1991. Desain Dan Analisis Eksperimen. Bandung : Tarsito



1992. Service Auto Mobil. Bandung : Pustaka Setia.



Wardan Suyanto. 1989. Teori Motor Bensin. Jakarta : Depdikbud



Wiranto Aris Munandar. 1988. Penggerak Mula Motor Bakar. Bandung : ITB



Pers.



Eko Putra Agfianto. 2002. Belajar Mikrokontroler AT89C51/52/55. Yogyakarta.



Gava Media.



Setiawan Sulhan. 2006. Mudah dan Menyenangkan Belajar Mikrokontroler.



Yogyakarta : C.V. Andi Offset.



Boentarto, Drs. 2005. Menghemat Bensin Sepeda Motor. Semarang : Effhar &



Dahara Prize.



Suganda Hadi & Kageyama Katsumi. 1993. Pedoman Perawatan Sepeda Motor.



Jakarta : Pradnya Paramita.


Related docs
Other docs by jamilah tranat...
sholihul-atmega16
Views: 0  |  Downloads: 0
z115-117
Views: 0  |  Downloads: 0
Das7
Views: 0  |  Downloads: 0
ga_mikro
Views: 0  |  Downloads: 0
am04_ch8-3nov04
Views: 0  |  Downloads: 0
MAKALAH_TA_DIAN
Views: 0  |  Downloads: 0
ELCB_ GFCI_ RCCB_ DCDF Tester 31 V1
Views: 0  |  Downloads: 0
3-wei-su-final
Views: 0  |  Downloads: 0
LSTC_appendixF_l
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!