Embed
Email

CUBITLAH DAKU-KAU KUCAKAR

Document Sample
CUBITLAH DAKU-KAU KUCAKAR
Description

TENTANG RANGKAAN BALAS DENDAM

Shared by: JUM'AN BASALIM
Categories
Stats
views:
14
posted:
10/23/2011
language:
Indonesian
pages:
2
CUBITLAH DAKU - KAU KUCAKAR

GIGITLAH DAKU - KAU KUTELAN

Oleh: Jum'an



Almarhum Gus Dur pernah mengatakan bahwa beliau sangat menghormati

Megawati karena ia adalah Putri Bung Karno. Bung Karno adalah keturunan

Raden Patah sedangkan Gus Dur adalah keturunan Raden Kusen adik kandung

(seibu lain ayah) dari Raden Patah. Kata almarhum: "Dari segi keturunan saya

dari pihak yang muda, jadi saya menghormati keturunan Bung Karno". Padahal

baik Raden Patah (Sultan Demak pertama) dan Rade Kusen (Adipati Terung dari

Majapahit) keduanya hidup sekitar tahun 1500-an. Bila benar, alangkah berkesan

dan mulianya! Tetapi yang lebih banyak terlihat dalam sejarah adalah sebaliknya

yaitu lingkaran balas dendam yang tak pernah putus. Dari tahun-ketahun dari

generasi kegenerasi dari abad keabad mausia terbelenggu oleh rantai balas

dendam. Kalau kamu mecubit akan saya cakar. Seharusnya sudah; selesai.

Tetapi kamu malah mengigit. Maka kutelan kau sebagai pembalasan. Begitu

seterusnya sampai tidak ketahuan lagi siapa yang memulai.



Menurut Kevin Carlsmith, seorang social psychologist, alasan balas dendam

adalah untuk mencapai pelampiasan emosi (catharsis). Tetapi penelitian lebih

lanjut membukitkan balas dendam ternyata kontra produktif untuk mencapai

tujuan pelampiasan emosi. Seorang pembalas dendam pikirannya akan melekat

terus pada sasarannya sehingga luka hatinya tetap menganga dan akan semakin

makin parah bila balas dendamnya tidak atau belum terlaksana. Menurut Simon

Critchley filosofer Inggris lahiran 1960, roda kekerasan dibalas kekerasan akan

menggelinding terus tanpa henti dan tak terelakkan akan membawa kerusakan.

Peribahasa China mengatakan, sebelum berangkat membalas dendam galilah

dua liang lahat. Pembalas dendam umumnya menyebut tindakannya sebagai

membela diri, melindungi hak atau menegakkan keadilan. Hanya Tuhanlah yang

mengatahui segala rahasia yang tersembunyi yang mampu menghakimi dengan

benar dan adil.



Serangan 11 Sept. 2001 misalnya, dibenarkan oleh Usamah Bin Ladin segagai

pembalasan yang setimpal atas penggunaan tanah airnya (Saudi Arabia - dimana

dua tempat suci Islam berada) sebagai pangkalan untuk menyerbu Iraq pada

Perang Teluk Pertama tahun 1990-91. Serangan 11 September justru dijadikan

sebagai justifikasi oleh Amerika untuk menyerbu Afganistan dan kemudian Iraq.

Dan pembalasan demi pembalasan silih berganti sampai sekarang. Pembalasan

dendam nyata-nyata merupakan pangkal kehancuran. Mengikut peribahasa

China diatas Amerika (dan juga Bin Ladin) sewajarnya masing-masing menggali

dua liang lahat sebelum berangkat membalas dendam. Kata Simon Critchley

dalam tulisannya The Cycle of Revenge, kuburan Bin Ladin didasar laut sudah

terisi tetapi masih ada satu liang lahat yang menganga. Melihat apa yang terjadi

sampai saat ini nampaknya itu adalah kuburan untuk Amerika. Bin Ladin hanya

menghabiskan 500 ribu dolar untuk serangan 11 Septembernya semantara

Amerika paling sedikit telah menghabiskan 500 milyar dolar untuk pembalasan

dendamnya. Lihat angka tepatnya disini! Belum lagi nyawa tentara yang

hilang. Sehingga satu dolar yang dikeluarkan Bin Ladin terpaksa ditebus dengan

sejuta dolar oleh Amerika. Kerawanan keuangan Amerika saat ini setidaknya

sebagian adalah dampak dari tonjokan Bin Ladin. Pemerintah Federal, Negara

Bagian, Pemerintah Kota bahkan individu semua sarat dengan hutang. Amerika

hampir bangkrut dibuatnya.



Kehancuran dan kerusakan akan jauh berkurang seandainya belenggu rantai

balas dendam dapat diputuskan. Tetapi itu mustahil karena sifat manusia selalu

cenderung untuk merugi dan jahat. Bayangkan bila kita mengikuti petunjuk

agama kita. Surat Asy Syuro ayat 40 mengatakan: “Balasan perbuatan jahat

adalah kejahatn yang seimbang dengannya, barang siapa yang memaafkan dan

berlaku damai, pahalanya ada ditangan Allah. Sesungguhnya Allah tidak

menyukai orang-orang yang zalim." Dan bayangkan seandainya pihak sono juga

mengikuti petunjuk agama mereka. Dalam Kitab Perjanjian Baru disebutkan

bahwa memaafkan itu tidak cukup tujuh kali tetapi tujuh puluh kali tujuh kali....

Bila ditampar pipi kiri, berikan pipi kanan! Tentu jalannya sejarah menjadi lain.

Wallohu a'lam. (Link/ referensi dapat dilihat di : jumanb.multiply.com)



Related docs
Other docs by JUM'AN BASALIM
PESAN SUFI: JANGAN TIDUR LAGI
Views: 9  |  Downloads: 0
KETAKUTAN MATI PARA DOKTER
Views: 4  |  Downloads: 0
SUKMA NABATI
Views: 13  |  Downloads: 0
DUNIA MEMBURUK ATAU MEMBAIK?
Views: 9  |  Downloads: 0
ANAK SOLEH YANG TEWAS OVERDOSIS
Views: 7  |  Downloads: 0
KETURUNAN JENGIS KHAN DISEKITAR KITA
Views: 24  |  Downloads: 0
NIAT BAIK MUDAH BERUBAH
Views: 15  |  Downloads: 0
PERBUDAKAN DI MAURITANIA
Views: 13  |  Downloads: 0
BEDA PANGKAL BENCI
Views: 4  |  Downloads: 0
SELALU BERTEMU JALAN BUNTU
Views: 11  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!