Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian
iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan
tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan
dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan
kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan
amal perbuatan secara nyata.
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila
memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang
keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan,
maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur
keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah
memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang
artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad)
dan kepada Kitab (Al Qur‟an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan
sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-
rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa
: 136)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami
kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh
karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.
Iman Kepada Malaikat
Salah satu makhluk Allah swt. yang diciptakan di alam ini adalah malaikat. Dia bersifat gaib
bagi manusia, karena tidak dapat dilihat ataupun disentuh dengan panca indra manusia.
Sebagai muslim kita diwajibkan beriman kepada malaikat. Iman kepada malaikat tersebut
termasuk rukun iman yang kedua. Apa yang dimaksud iman kepada malaikat? Iman kepada
malaikat berarti meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa Allah telah
menciptakan malaikat yang diutus untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dari Allah.
Dasar yang menjelaskan adanya makhluk malaikat tercantum dalam ayat berikut ini yang
artinya:
“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-
utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap masing-masing (ada
yang) dua, tiga dan empat.” (Q.S. Fatir: 1)
Hal tersebut juga dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim tentang iman dan rukunnya. Dari
Abdullah bin Umar, ketika diminta untuk menjelaskan iman, Rasulullah bersabda, “iman itu
engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari
akhir serta beriman kepada ketentuan (takdir) yang baik maupun yang buruk.”
Dalam hadits tersebut, percaya kepada malaikat merupakan unsur kedua keimanan dalam Islam.
Percaya kepada malaikat sangatlah penting karena akan dapat memurnikan dan membebaskan
konsep tauhid dari bayangan syirik.
Dari ayat dan hadits di atas dapat diketahui bahwa beriman kepada malaikat merupakan perintah
Allah dan menjadi salah satu syarat keimanan seseorang. Kita beriman kepada malaikat karena
Al Qur‟an dan Nabi memerintahkannya, sebagaimana kita beriman kepada Allah dan Nabi-Nya.
“Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya” ketegori Muslim. Termasuk
Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Firman Allah Ta‟ala :
“Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan
barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
„Alqamah menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan:
“Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha
dan pasrah .”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
“Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela
keturunan dan meratapi orang mati.”
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu‟ dari Ibnu Mas‟ud Radhiyallahu „anhu:
“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan
menyeru dengan seruan jahiliyah.”
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam
bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan
hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-
Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.”
Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta‟ala apabila
mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha
maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan
dari Allah.”
Kandungan tulisan ini:
Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala
takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam
pengertian iman.
Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan
menyeru dengan seruan jahiliyah .
Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.
Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da‟wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.
Sumber Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya : http://assunnah.or.id
Sifat-sifat Allah SWT yang wajib diyakini adalah sebagai berikut :
1. Wujud artinya ada, mustahil Allah bersifat adam artinya tidak ada. Wujud Allah dapat
dibuktikan dengan adanya alam semesta yang indah beserta segala kelengkapannya yang
berjalan menurut aturan. Alam mengikuti suatu kekuatan yang mengatur sehingga tidak pernah
menyimpang dari garis yang telah ditentukan. Dia
lah Allah yang menciptakan dan menjadi penguasa alam semesta.
Sebagaimana Firman Nya :
”(Yang memiliki sifat-sifat) yang demikian itu ialah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain
Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dia adalah Pemerlihara segala
sesuatu.” (QS. Al-An’am : 102.)
Keyakinan terhadap adanya Tuhan yang Maha Esa tidak saja diajarkan agama,
tetapi ilmu pengetahuan pun mengakui keberadaanNya. Seorang Filosof
Xenophanes (580-470 SM) mengatakan bahwa : ”Tuhan yang Esa itu tidak dijadikan,
tidak bergerak, berubah-ubah dan Dia Penguasa seluruh Alam.”
2. Qidam artinya dahulu (tidak ada permulaan), mustahil Allah bersifat hudus
artinya baru. Allah terjadi dengan sendirinya, tidak bermulaan dan tidak berkesudahan.
Sedangkan makhlukNya adalah baru karena semua makhluk diciptakan dan
mempunyai sebab kejadiannya. Tidak dapat diterima oleh akal bahwa sesuatu akan
terjadi tanpa sebab.
Perhatikan Firman Allah SWT :
”Dialah Yang awal dan Yang akhir, Yang dzahir dan Yang bathin dan Dia Maha
mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid : 3)
3. Baqa artinya kekal, mustahil Allah bersifat Fana artinya lenyap. Setiap benda
yang ada akan mengalami fana artinya lenyap. Hal ini merupakan sifat makhluk yang
tidak layak disejajarkan dengan keagungan Tuhan.
Perhatikan Firman Allah SWT yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur’an:
”Semua yang ada dibumi ini akan binasa, dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang
mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman : 26-27)
4. Mukhalafatu lilhawaadisi artinya berbeda dengan makhluk-Nya, mustahil
Allah bersifat mun a salatu lilhawa disi artinya sama dengan makhlukNya. Bagi Allah,
sifat dan perbuatannya tidak ada yang menjamin karena Allah Khalikul alam sehingga
tidak akan ada yang membatasinya. Jika terjadi persamaan dengan makhluk hanyalah
dalam hal namanya, sedangkan hakikatnya tidak akan terjadi karena keterbatasan
makhluk. Sesuai Firman Nya :
”.......Tidak ada suatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia Maha Mendengar lagi
Maha Melihat......” (QS. Asy Syura : 11.)
5. Qiyamuhu binafsihi artinya berdiri sendiri, mustahil Allah bersifat Qiyamuhu
bigairihi artinya butuh kepada yang lain. Allah wajib disembah dan dimintai
pertolongan. Dia tidak berhajad kepada yang lain. Ia dapat menyelesaikan segala
sesuatu yang terdapat dialam semesta ini dengan kekuasaanNya.
Perhatikan Firman Nya :}
”Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri.”
(QS. Ali Imron : 2)
6. Wahdaniyah artinya Esa atau Satu, mustahil Allah bersifat ta’adud artinya
berbilang atau bersekutu. Kekuasaan Allah mutlak dalam segala – galanya, baik dalam
dzat, sifat, maupun perbuatanNya. Keesaan Allah tidak terdiri atas perpaduan
beberapa unsur, sempurna dan tidak ada cacat atau kekurangan. Dia tidak mungkin
dapat dijangkau oleh pancaindra manusia dan tidak dapat diukur dengan alat apapun
juga.
Sebagaimana Firma Nya :
”Katakanlah, Dialah Allah yang Maha Esa, Allah adalah tempat meminta. Dia tidak
beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan
Dia.” (QS. Al-Ikhlas : 1 – 4.)
7. Qudrat artinya kuasa, mustahil Allah bersifat ’ajzu artinya lemah. Allah berbuat
apa saja menurut kehendak Nya terhadap makhluk dan memberikan ketentuan batas
waktu dan kekuatannya. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat menghalangiNya.
Kekuasaan Nya meliputi alam gaib dan alam nyata serta mampu mengendalikan
semua benda yang paling kecil sampai kepada benda yang paling besar. Tentu saja
Dia tidak akan bersifat lemah seperti makhlukNya
Sesuai Firman Nya :
”......... Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. AL-Baqarah : 20)
8. Iradat artinya berkehendak, mustahil Allah bersifat karahah artinya terpaksa.
Allah menciptakan alam ini dengan kemauan dan pilihanNya, bukan kebetulan atau
terpaksa. Segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak dan persetujuan dariNya.
Dia berkehendak menghidupkan, mematikan dan mengubah kehendak makhlukNya
sehingga apa yang telah direncanakan dapat digagalkan dan yang tidak direncanakan
dapat terjadi. Bagi Allah tidak ada keterpaksaan karena hal itu menunjukkan sifat yang
lemah dan tidak sempurna.
Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini :
”Sesungguhnya keadaan Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya Jadilah maka terjadilah ia.” (QS. Yasin : 82)
9. Ilmu artinya mengetahui, mustahil Allah bersifat Jahlun artinya bodoh.
Pengetahuan Allah tidak ada batasnya meliputi segala sesuatu, baik yang lahir maupun
yang tersembunyi, dibalik bumi ataupun langit. Apabila ilmu Allah dibandingkan dengan
pengetahuan manusia, maka ilmu manusia bagaikan setetes air ditengah lautan. Dia
tidak pernah lupa sedikitpun terhadap ciptaanNya, berapapun banyaknya, pada saat
tertentu makhluk yang lahir dan yang mati. Begitu luasnya pengetahuan Allah sehingga
tidak ada yang luput dari catatanNya.
Sesuai
Firman Nya :
”Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu.....” (QS. Al-Isra : 25)
10. Hayat artinya hidup, mustahil Allah bersifat maut artinya mati.
”Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan
memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqon
: 58)
11. Sama artinya mendengar, mustahil Allah bersifat summun artinya tuli. Allah
mendengar segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dari suara yang sangat
lemah sampai suara petir, suara hati seorang yang sedang merenung sampai seorang
yang berteriak. Namun, janganlah disamakan Allah dengan manusia hingga
dibayangkan Ia mendengar dengan telinga. Allah Maha Suci dari sifat lemah. Sekalipun
manusia dapat mendengar suara yang jauh dengan menggunakan peralatan yang
canggih, hal itu hanya terbatas padaa sesuatu yang tertentu.
Simak Firman Allah SWT di dalam kitab suci Al-Qur’an :
”.......Engkaulah yang maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah :
127)
12. Basar artinya melihat, mustahil Allah bersifat umyun artinya buta. Basar
merupakan sifat yang qadim pada dzat Allah dengan tidak menggunakan alat indra,
tetapi dengan cara yang layak bagiNya hingga terbuka bagiNya segala yang ada.
Firman Allah SWT :
”Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujurat : 18)
13. Kalam artinya berfirman, mustahil Allah bersifat bukmun artinya bisu. Allah
berbicara dengan hambaNya, sedangkan caranya hanya Allah sendiri yang
mengetahuiNya. Pembicaraan Allah disebut kalamullah. Kalam Allah disampaikan
kepada para Rasul, baik secara langsung maupun lewat perantaraan Malaikat Jibril.
Wujud Kalamullah itu dapat berupa kitab suci seperti Al-Qur’an dan dapat pula berupa
lembaran (suhuf).
Sebagaimana Firman Nya :
”....... Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa : 164)
Saudaraku, sidang pembaca yang terhormat. Seperti dikatakan diatas, sifat
Allah itu tidak terhingga tetapi secara tafsili (terperinci) yang wajib diyakini ada 20 sifat
utama (sifat 20) dan apabila diringkas menjadi sifat 13. Tentu saja demikian pula ada
20 atau 13 sifat lawannya, yaitu sifat mustahil bagi Dzat yang Maha Suci itu. Sifat Allah
Kalam yang artinya berfirman adalah urutan ke-13 dari sifat-sifat Allah yang wajib kita
yakini. Apabila ditambahkan sifat maknawiyah sebanyak 7 (tujuh) sifat menjadi 20 sifat,
yaitu : Qadiran artinya Maha Kuasa, Muridan artinya Maha Berkehendak, ’aliman
artinya Maha Mengetahui, Hayan artinya Maha Hidup, Sami’an artinya Maha
Mendengar, Basiran artinya Maha Melihat dan Mutakalliman artinya Maha Berfirman.
Selain keduapuluh sifat kesempurnaan Allah SWT yang sudah kita ketahui dan
bicarakan tersebut diatas, didalam Al-Qur’an diungkapkan bahwa Allah juga
mempunyai nama-nama yang baik dan agung yaitu asmaul husna. Asmaul Husna
artinya nama-nama yang baik dan agung dan hanya Allah SWT sendiri yang
memilikiNya. Sedangkan bagi hamba-hambaNya apabila berkeinginan mengambil
nama Allah tersebut harus ditambah dengan abdun (abdu) artinya hamba. Misalnya :
Abdullah (hamba Allah), Abdul Qodir (hamba yang Maha Kuasa), Abdul Rahman
(hamba yang Maha Pemurah) dan lain sebagainya. Sebagai seorang hamba
yang beriman, hendaklah kita selalu menyebutNya, didalam setiap do’a kita ketika kita
bermohon kepadaNya yaitu dengan menyebut Asmaul Husna itu.
Sebagaimana Friman Allah SWT:
”Hanya milik Allah Asmaul Husna maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut
Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran
dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap
apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)
Asmaul Husna yang dimiliki Allah SWT ada 99 (sembilah puluh sembilan). Sesuai
dengan Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi sebagai berikut :
Memang ada sementara Ulama yang menyebutkan bahwa selain nama Allah
yang 99 banyaknya yang tersebut dalam Hadist Turmudzi diatas terdapat pula nama-
nama Allah yang lain di dalam Al-Qur’an. Bahkan kalau kita mau menela’ahnya tentu
akan lebih banyak lagi. Tetapi baiklah kita membatasi diri saja didalam kita berdo’a
sesuai Hadist yang tersebut diatas. Asmaul Husna yang 99 banyaknya itu adalah
merupakan penjabaran dari sifat 20 (sifat dua puluh). Sebenarnya nama-nama Allah
terbagi menjadi 3 (tiga) bagian :
1. Nama Dzat, yakni Dzat yang menciptakan langit dan bumi seisinya. Dan
Dialah Tuhan Seru Sekalian Alam, Yang Maha Suci dari sifat kekurangan dan yang
menyekutukanNya.
2. Nama Sifat, seperti As Sami’ yaitu Maha Mendengar. Al-Bashir yaitu
Yang Maha Melihat.
3. Nama Kerja (perbuatan) seperti : Al-Jami’u yaitu Yang Mengumpulkan.
Al-Haadii yaitu Yang Memberi Petunjuk.
Firman Allah SWT :
”Katakanlah : Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja
kamu seru Dia mempunyai Al - Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik). (QS. Al-
Isro : 110)
Dan Sabda Nabi Muhammad SAW :
”Bahwasanya bagi Allah itu ada 99 nama yaitu (sebanyak) seratus kurang satu.
Barangsiapa yang menghafalnya niscaya akan dimasukkannya kedalam Syurga.” (HR.
Bukhari)
Didalam kitab suci Al-Qur’an, misalnya surat Al-Hasyar ayat 22-24 disebutkan nama-
nama Allah yang terbaik itu antara lain :
Ar-Rahman artinya Maha Pemurah, Ar-Rahim artinya Maha Penyayang, Al-Malik
artinya Maha Raja, Al-Quddus artinya Maha Suci, As-Salam artinya Maha Sejahtra,
Al-Mukminun artinya Maha Mengkaruniakan Keamanan, Al-Muhaimin artinya Maha
Memelihara, Al-Aziz artinya Maha Perkasa, Al-Hakim artinya Maha Bijaksana, Al-
jabbar artinya Maha Kuasa, Al-Mutakabbir artinya Maha Memiliki Segala Keagungan,
Al-Khaliq artinya Maha Penicpta, Al-Bariu artinya Maha Mengadakan dan Al-
Musauwiru artinya Maha Pembentuk Rupa. Selain ini ada nama-nama Allah yang
terbaik yang lain seperti Al-’adlu, Al-Gafaru, AL-Hakimu, AL-Maliku dan AL-Hasibu.
Baiklah Saudaraku, sidang pembaca tercinta kita teruskan pembahasan Asmaul
Husna ini.
Al- Adlu artinya Maha Adil
Pengeritan adil menurut ajaran Islam adalah bermakna menentukan suatu hukum
berlandaskan kebenaran. Keadilan Allah adalah keadilan yang sebenarnya dan berlaku
bagi seluruh hambaNya. Sesuai firman Allah SWT yang termaktub didalam kitab suci
Al-Qur’an surat Al-Fussilat ayat 46 yang artinya : ”Barangsiapa yang mengerjakan amal
saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan berangsiapa berbuat jahat maka
(dosanya) atas dirinya sendiri dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya
hambaNya.” (QS. Al-Fussilat : 46). Dari pengertian ayat tersebut, Allah SWT dalam
menentukan hukuman dan pahala sesuai dengan keadilannya. Oleh karena itu agar
tidak terjadi kezaliman dalam kehidupan, Allah memerintahkan manusia agar berbuat
adil terhadap sesamanya.
Perhatikan Firman Nya:
”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi
kaum kerabat (apa yang diperlukan) dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu
dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl : 90).
Al- Gaffaru artinya Maha Pengampun.
Manusia dalam hidupnya tidak akan dapat melepaskan diri dari perbuatan baik dan
tidak baik. Menurut Islam, perbuatan baik adalah suatu perbuatan yang sesuai dengan
ketentuan agama. Jika menyimpang dari ketentuan agama Islam, itu termasuk
perbuatan yang tidak baik dan berdosa. Dosa itu ada yang kecil dan aada yang besar.
Siapa saja yang berdosa selama berusaha untuk bertobat dan tidak akan mengulangi
perbuatan tidak baiknya itu akan diampuni Allah karena Allah Maha Pengampun.
Sebagaimana Firman Nya :
”Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya Yang Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun.” (QS. Sad : 66)
Al-Hakimu artinya Maha Bijaksana.
Suara makhluk yang diciptakan Allah tidak ada yang sia-sia sebab satu dengan yang
lain selalu terkait dan saling membutuhkan. Semuanya itu berdasarkan kebijaksanaan
Allah. Demikian pula Allah dalam menentukan suatu perintah kepada manusia, jika
dalam keadaan yang sulit Allah memberikan keringanan, tetapi apabila keadaan sudah
biasa maka keringanan itu kembali seperti biasa lagi.
Perhatikan Firman Nya :
”Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan
Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf : 84)
Al-Maliku artinya Maha Merajai.
Allah merajai seluruh alam semesta artinya kekuasaan Allah tidak ada batasnya.
Dengan kekuasaanNya itu Allah mengatur dan memimpin makhluk yang dilandasi sifat
kesempurnaan dan tidak ada satu pun yang terlepas dari kekuasaan Allah.
Perhatikan Firman Allah SWT tersebut ini :
”Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan selain Dia. Tuhan
(yang mempunyai) Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mukminun : 116).
Al-Hasibu artinya Maha Menghitung.
Penciptaan alam semesta beserta isinya berdasarkan perhitungan Allah yang teliti dan
tepat. Segala sesuatu tercipta sesuai dengan kadarnya masing-masing. Demikian pula
terhadap amal perbuatan manusia selama hidup di dunia. Baik atau buruknya amal
perbuatan seseorang akan mendapatkan balasan seadil-adilnya di akhirat kelak.
Sebagaiaman FirmanNya :
”Apabila kamu dihormati dengan sesuatu penghormatan maka balaslah penghormatan
itu dengan yang lebih baik atau balaslah penghormatan itu dengan yang serupa.
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa : 86)
Jadi Saudaraku, dari semua materi yang sudah kita bahas maka beriman
kepada Allah dengan sifat dan asmanya itu harus dihayati dan diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari. Demikian pula apabila kita berdo’a hendaklah terlebih dahulu
dengan menyebut sebagian asma-Nya. Setelah kita mempelajari pengertian iman
kepada Allah serta sifat dan asma-Nya, kita diharapkan dapat lebih mengenal diri kita
sebagai makhluk yang diciptakan Allah dan mengenal Allah sebagai khalik. Itulah
sebabnya manusia harus selalu beriman kepada Allah.
Berikut ini diuraikan fungsi beriman kepada Allah SWT :
1. Dengan mengetahui sifat Allah, terbayang betapa kebesaran, kekuasaan
dan keagungan-Nya tidak ada satu makhluk pun yang dapat menyamainya.
2. Dapat menyelamatkan seseorang dari segala sesuatu yang menimpa
dirinya sebab orang beriman akan ditolong oleh Allah SWT.
Sesuai Firman-Nya :
”Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman
dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Al-
Mukmin : 51)
3. Dengan merenungkan kejadian alam beserta isinya, luasnya jagat raya
dengan jutaan bintang dan galaksi yang jarak antara masing-masing sekian ribu tahun
cahaya, pergantian siang dan malam, pertiupan angin, perarakan awan dan masih
banyak keadaan lainnya, akan menanamkan rsa khidmat dan sujud terhadap Sang
Maha Pencipta.
4. Dengan iman kepada Allah, menjalankan rukun Islam dan perintah –
perintah lainnya (perintah agama) serta beramal kebaikan, maka akan mendatangkan
kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.
Perhatikan Firman Allah SWT :
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu
adalah disisi Allah ialah Syorga ’Adnin yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap kepada-Nya. Yang
demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-
Bayyinah : 7-8)
5. Jika mendatangkan keuntungan tanpa dibekali iman, maka seseorang
akan berada dalam kerugian.
Perhatikan Firman Allah
SWT dalam Surat Al-Asr berikut ini :
”Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasehati
dengan kebenaran dan nasihat-menasehati dengan kesabaran.” (QS. Al-Asr : 1-3)
Saudaraku sesama muslim, bahwa Keesaan Allah itu mutlak dalam segala-
galanya, baik dalam Dzat, sifat maupun perbuatan dan dengan kita beriman
kepada Allah SWT, dengan kita menjalankan rukun Islam dan perintah -perintah
agama (islam) lainnya serta tidak segan-segan berbuat kebaikan (beramal shaleh)
yakinlah kesemuanya itu akan mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan.
Sekali lagi, iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati
bahwa Allah itu benar – benar ada dengan segala sifat keagungan dan
kesempurnaan-Nya, kemudian pengakuan ini diikrarkan dengan lisan dan
dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Jadi kita baru dapat dikatakan
sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila kita memenuhi ketiga
kategori (unsur) keimanan dikatakan tersebut diatas karena ketiga unsur keimanan
tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Beriman kepada Allah SWT adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi kita
sebagai manusia dan Allah SWT memang memerintahkan agar umat manusia
beriman kepada-Nya.
Sesuai Firman Nya:
”Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang
diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-
Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya
orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa : 136)
Ayat diatas memberikan penjelasan bahwa bila kita ingkar kepada Allah,
maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan
merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu beriman kepada Allah
sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Dan iman yang
sempurna ditegaskan oleh Rasulullah SAW sesuai hadist Nabi SAW sebagai
berikut :
Bersabda Rasulullah SAW :
”Iman itu adalah : Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
rasul-rasul, hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang
buruk.” (HR. Muslim).
Sampai disini saja saya sudahi dakwah saya (lewat tulisan) semoga bermanfaat.
Terima kasih atas segala perhatian serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan.
Wa’afwa minkum Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
∙∙∙
* Bahan-bahan (materi) dikutip dan diambil dari buku Pendidikan Agama Islam
Oleh: Drs. Ahmad Syafi’i Mufid,MA. Dkk. dan buku : Khasiat Dan Fadhilah
Asmaul Husna oleh : Abdul Muhaimin As’ad *
Iman Kepada Allah (Tauhid dan Tanzih)
1. Dalil-Dalil Tentang Iman Kepada Allah
Firman Allah SWT:
Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad SAW),
kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya.
Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya
dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat. QS. an-Nisaa' (4): 136.
Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan
Maha Penyayang. QS. al-Baqarah (2): 163.
Allah itu tunggal, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup tidak berkehendak kepada selain-Nya,
tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan di
bumi. Bukankah tidak ada orang yang memberikan syafaat di hadapan-Nya jika tidak dengan
seizin-Nya? Ia mengetahui apa yang di hadapan manusia dan apa yang di belakang mereka,
sedang mereka tidak mengetahui sedikit jua pun tentang ilmu-Nya, kecuali apa yang
dikehendaki-Nya. Pengetahuannya meliputi langit dan bumi. Memelihara kedua makhluk itu
tidak berat bagi-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS. al-Baqarah (2): 255.
Dialah Allah, Tuhan Yang Tunggal, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui perkara
yang tersembunyi (gaib) dan yang terang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah
Allah, tidak tidak ada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, yang sejahtera yang memelihara,
yang Maha Kuasa. Yang Maha Mulia, Yang Jabbar,lagi yang Maha besar, maha Suci Allah dari
segala sesuatu yang mereka perserikatkan dengannya. Dialah Allah yang menjadikan, yang
menciptakan, yang memberi rupa, yang mempunyai nama-nama yang indah dan baik. Semua isi
langit mengaku kesucian-Nya. Dialah Allah Yang Maha keras tuntutan-Nya, lagi Maha
Bijaksana. QS. al-Hasyr (59): 22-24
Dalam Surat Al-Ikhlash, yang mempunyai arti:
"Katakanlah olehmu (hai Muhammad): Allah itu Maha Esa. Dialah tempat bergantung segala
makhluk dan tempat memohon segala hajat. Dialah Allah, yang tiada beranak dan tidak
diperanakkan dan tidak seorang pun atau sesuatu yang sebanding dengan Dia." QS. al-Ikhlash
(112): 1-4.
Sabda RasululIah SAW:
Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak memeluk Islam): Saya telah
beriman akan Allah; kemudian berlaku luruslah kamu. (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).
Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari kiamat, ialah: orang yang
mengucapkan kalimat La ilaha illallah. (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).
Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk surga. Dan
barangsiapa mati tengah memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka. (HR.
Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12.
2. Pengertian Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah ialah:
1. Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah;
2. Membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam
makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluk-Nya;
3. Membenarkan dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari
segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segala yang baharu (makhluk).
Demikianlah pengertian iman akan Allah, yang masing-masing diuraikan dalam pasal-pasal yang
akan datang.
Makrifat
Perlu dijelaskan lebih dahulu, bahwa membenarkan dalam pengertian iman seperti yang tersebut
di atas, ialah suatu pengakuan yang didasarkan kepada makrifat. Karena itu perlulah kiranya
diketahui dahulu akan arti dan kedudukan makrifat itu.
Makrifat ialah: "Mengenal Allah Tuhan seru sekalian alam" untuk mengenal Allah, ialah dengan
memperhatikan segala makhluk-Nya dan memperhatikan segala jenis kejadian dalam alam ini.
Sesungguhnya segala yang diciptakan Allah, semuanya menunjukkan akan "adanya Allah".
memakrifati Allah, maka Dia telah menganugerahkan akal dan pikiran. Akal dan pikiran itu
adalah alat yang penting untuk memakrifati Allah, Zat yang Maha Suci, Zat yang tiada bersekutu
dan tiada yang serupa. Dengan memakrifati-Nya tumbuhlah keimanan dan keislaman. Makrifat
itulah menumbuhkan cinta, takut dan harap. Menumbuhkan khudu' dan khusyuk didalam jiwa
manusia. Karena itulah makrifat dijadikan sebagai pangkal kewajiban seperti yang ditetapkan
oleh para ahli ilmu Agama. Semuanya menetapkan: "Awwaluddini, ma'rifatullah permulaan
agama, ialah mengenal Allah". Dari kesimpulan inilah pengarang az-Zubad merangkumkan
syairnya yang berbunyi:
Permulaan kewajiban manusia, ialah mengenal akan Allah dengan keyakinan yang teguh.
Dalam pada itu, harus pula diketahui, bahwa makrifat yang diwajibkan itu, ialah mengenali sifat-
sifat-Nya dan nama-nama-Nya yang dikenal dengan al-Asmaul Husna (nama-nama yang indah
lagi baik). Adapun mengetahui hakikat Zat-Nya, tidak dibenarkan, sebab akal pikiran tidak
mampu mengetahui Zat Tuhan. Abul Baqa al-'Ukbary dalam Kulliyiat-nya menulis: "ada dua
martabat Islam: (l) di bawah iman, yaitu mengaku (mengikrarkan) dengan lisan, walaupun hati
tidak mengakuinya; dan (2) di atas iman, yaitu mengaku dengan lidah mempercayai dengan hati,
dan mengerjakan dengan anggota".
Sebagian besar ulama Hanafiyah dan ahli hadits menetapkan bahwa iman dan Islam hanya satu.
Akan tetapi Abul Hasan al-Asy'ari mengatakan: Iman dan Islam itu berlainan".
Abu Manshur al-Maturidi berpendapat, bahwa: "Islam itu mengetahui dengan yakin akan adanya
Allah, dengan tidak meng-kaifiyat-kan-Nya dengan sesuatu kaifiyat, dengan tidak
menyerupakan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Tempatnya yang tersebut ini, ialah
dalam hati. Iman ialah mempercayai (mengetahui) akan ketuhanan-Nya dan tempatnya ialah di
dalam dada (hati). Makrifat ialah mengetahui Allah dan akan segala sifat-Nya. Tempatnya ialah
di dalam lubuk hati (fuad). Tauhid ialah mengetahui (meyakini) Allah dengan keesaan-Nya.
Tempatnya ialah di dalam lubuk hati dan itulah yang dinamakan rahasia (sir).
Inilah empat ikatan, yakni: lslam, iman, makrifat, dan tauhid yang bukan satu dan bukan pula
berlainan. Apabila keempat-empatnya bersatu, maka tegaklah Agama.
3. Cara Mengakui Ada-Nya Allah
Mengakui ada-Nya Allah, ialah: "Mengakui bahwa alam ini mempunyai Tuhan yang wajib
wujud (ada-Nya), yang qadim azali, yang baqi (kekal), yang tidak serupa dengan segala yang
baharu. Dialah yang menjadikan alam semesta dan tidaklah sekali-kali alam ini terjadi dengan
sendirinya tanpa diciptakan oleh yang wajib wujud-Nya itu".
Demikianlah ringkasan cara mengetahui akan ada-Nya Allah, Sang Maha Pencipta dan Maha
Pengendali alam yang sangat luas dan beraneka ragam ini.
4. Cara Menetapkan Ada-Nya Allah
Agama Islam menetapkan ada-Nya Tuhan (Wujudullah) dengan alasan yang jitu dan tepat, yang
tidak dapat dibantah dan disanggah; karena alasan yang dikemukakan oleh Agama Islam (al-
Qur'an) adalah nyata, logis (manthiqy) dan ilmiah.
Dalailul Wujud atau Dalailut Tauhid ini dibahas dalam kitab-kitab ilmu kalam, karenanya
baiklah kita tinjau lebih dahulu keadaan perkembangan ilmu kalam itu.
4.1. Aliran Kitab Tauhid
Untuk menjelaskan dalil-dalil yang diperlukan dalam menetapkan dasar-dasar aqidah, para
ulama tauhid (ulama kalam), dari abad ke abad terus-menerus menyusun berbagai rupa kitab
tauhid dan kitab kalam.
Dalam garis besarnya kitab-kitab tersebut terbagi atas tiga aliran:
(1) Aliran Salafi atau Ahlun Nash. Di antara pemukanya ialah Imam Ahmad Ibn Hanbal.
(2) Aliran Ahlul I'tizal (Mu'tazilah) yang dipelopori oleh Washil ibn 'Atha'.
(3) Aliran Asy'ari, yang dipelopori oleh Abul Hasan al-Asy'ari. jejaknya berturut-turut diikuti
oleh Abu Bakar al-Baqillani, al-Juani, al-Ghazali, Ibnul Kathib, al-Baidawi dan ulama-ulama
lain seperti ath- Thusi, at-Taftazani dan al-Ijzi.
Di samping itu ada pula aliran Maturidi, yang dipelopori oleh Abu Manshur al-Maturidi.
Cuma yang disayangkan ialah kebanyakan kitab-kitab yang disusun belakangan, tidak
berdasarkan Salafi dan tidak pula berdasarkan nadhar yang benar. Setengahnya ada yang
mendasarkan kepercayaan kepada dalil-dalil yang dapat dibantah oleh para filosof dan tidak
dapat dipertahankan.2
1. Dari 1 sampai 10, baik dilewati, jika ingin langsung mempelajari dalil-dalil ada-Nya Allah
atau dalailul wujud atau dalailut tauhid.
2. Lihat. 'Abdurrahman al-Jazairi Taudihul 'Aqa'id.
4.2. Pengertian Ilmu Tauhid
Ada beberapa ta'rif ilmu tauhid yang diberikan oleh para ulama. Di bawah ini disebutkan
beberapa diantaranya yang dipandang tepat dengan yang dimaksud.
Pertama: Ilmu tauhid, ialah "ilmu yang membahas dan melengkapkan segala hujjah, terhadap
keimanan, berdasarkan dalil-dalil akal serta menolak dan menangkis segala paham ahli bid'ah
yang keliru, yang menyimpang dari jalan yang lurus".
Kedua: Ilmu tauhid, ialah ilmu yang di dalamnya dibahas:
[1] Tentang wujud Allah, sifat-sifat-Nya yang wajib di-itsbat-kan bagi-Nya, sifat-sifat yang
harus (mumkin) bagi-Nya dan sifat-sifat yang wajib ditolak daripada-Nya.
[2] Tentang kerasulan rasul-rasul untuk membuktikan dan menetapkan kerasulannya; tentang
sifat-sifat yang wajib baginya; sifat-sifat yang mumkin dan tentang sifat-sifat yang mustahil
baginya.
Ta'rif pertama, memasukkan segala soal keimanan, baik mengenai ketuhanan, kerasulan, maupun
mengenai soal-soal gaib yang lain, seperti soal malaikat dan akhirat. Tegasnya, melengkapi
Ilahiyat, (soal-soal ketuhanan), nubuwwat (kenabian, kitab, malaikat) dan Sam'iyat (soal-soal
keakhiratan, alam gaib). Ta'rif yang kedua mengkhususkan ilmu tauhid dengan soal yang
mengenai ketuhanan dan kerasulan saja.
Dengan berpegang pada ta'rif yang pertama, maka sebahagian ulama tauhid membahas soal-soal
malaikat, soal-soal kitab, soal-soal kadar, soal-soal akhirat, dan lain-lain yang berhubungan
dengan soal beriman di bagian akhir dari kitab-kitab mereka.
Ulama yang berpegang pada ta'rif yang kedua, hanya membahas soal-soal yang mengenai
ketuhanan dan kerasulan saja. Risalah Tauhid Muhammad Abduh yang sangat terkenal dalam
dunia ilmu pengetahuan adalah salah satu dari kitab yang berpegang pada takrif kedua.3
3. Risalah Tauhid.
4.3. Perkembangan Ilmu Tauhid Dalam Sejarah Dan Cara Al-Qur'an Membicarakannya
Ilmu yang membahas dasar-dasar iman kepada Allah dan Rasul, telah sangat tua umumnya. Di
setiap umat sejak zaman purba, ada ulamanya yang membahas ilmu ini. Cuma, mereka dahulu
tidak mendasarkan penerangan-penerangan yang mereka ajarkan, kepada alasan-alasan akal;
bahkan mereka kurang sekali mendasarkan kepercayaan kepada hukum dan karakter alam.
Al-Qur'an yang didatangkan untuk menyempurnakan segala yang masih kurang, segala yang
belum sempurna, memakai cara dan sistem berpadanan dengan perkembangan akal dan
kemajuan ilmu. Al-Qur'an menerangkan iman dengan mengemukakan dalil serta membantah
kepercayaan yang salah dengan memberikan alasan-alasan yang membuktikan kesalahannya. Al-
Qur'an menghadapkan pembicaraannya kepada akal serta membangkitkan dari tidurnya dan
membangunkan pikiran dengan meminta pula supaya ahli-ahli akal itu memperhatikan keadaan
alam. Maka al-Qur'an-lah akal bersaudara kembar dengan iman.
Memang diakui oleh ulama-ulama Islam, bahwa diantara "ketetapan agama", ada yang tidak
dapat diitikadkan (diterima kebenarannya) kalau bukan karena akal menetapkannya, seperti:
mengetahui (meyakini) ada-Nya Allah, qudrat-Nya, ilmu-Nya dan seperti membenarkan
kerasulan seseorang rasul. Demikian juga mereka bermufakat menetapkan, bahwa mungkin
agama mendatangkan sesuatu yang belum dapat dipahami akal. Akan tetapi, mungkin agama
mendatangkan yang mustahil pada akal.
Al-Qur'an mensifatkan Tuhan dengan berbagai sifat yang terdapat namanya pada manusia,
seperti: qudrat, ikhtiyar, sama', dan bashar. karena al-Qur'an menghargai akal dan membenarkan
hukum akal, maka terbukalah pintu nadhar (penyelidikan) yang lebar bagi ahli-ahli akal (ahli-
ahli nadhar) itu dalam menetapkan apa yang dimaksud oleh al-Qur'an dengan sifat-sifat itu. Pintu
nadhar ini membawa kepada berwujud berbagai rupa paham diantara para ahli akal atau nadhar.
Perselisihan yang terjadi karena berlainan nadhar ini, dibenarkan al-Qur'an asal saja tidak sampai
kepada meniadakan sifat-sifat Tuhan, seperti yang diperbuat oleh golongan Mu'aththilah dan
tidak sampai kepada menserupakan sifat-sifat Tuhan dengan sifat-sifat makhluk, sebagai yang
dilakukan oleh golongan Musyabbihah.
Para ulama salah mensifatkan tuhan dengan sifat-sifat yang tuhan sifatkan diri-Nya dengan tidak
meniadakan-Nya, tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tidak menakwilkannya. Para
mutakalimin khalaf mensifatkan Tuhan dengan cara menakwilkan beberapa sifat yang menurut
pendapat mereka perlu ditakwilkan. Golongan mutakalimin khalaf membantah ta'thil
(meniadakan sifat Tuhan) dan membantah tamsil (menyerupakan sifat Tuhan dengan sifat
rnakhluk).
Ringkasnya, para salaf beritikad sepanjang yang dikehendaki oleh lafadh. tetapi dengan
mensucikan Allah dari serupa dengan makhluk. 4
4. Perhatikan uraian Dr. Muhammad al-Bahy dalam al-Janibul llahi.
4.4. Kedudukan Nadhar Dalam Islam
Dalam kitab Hawasyil Isyarat disebutkan, bahwa nadhar itu ialah menggunakan akal di sekitar
masalah yang dapat dijangkau oleh akal (ma'qulat).
Para filosof bermufakat, bahwa nadhar itu hukum yang digunakan dalam mengetahui dalil.
Alasan yang menegaskan bahwa nadhar ini sah dan menghasilkan keyakinan, ialah bahwa dalam
alam ini terdapat kebenaran dan kebatalan. Manusia juga terbagi atas dua macam: Ahli hak dan
ahli batal. Tidak dapat diketahui mana yang hak dan mana yang batal. kalau bukan dengan
nadhar. Dengan demikian maka fungsi nadhar (penelitian) ialah untuk menjelaskan hal-hal yang
gaib agar dapat dicerna oleh akal disamping menentukan mana yang benar diantara dua pendapat
yang berbeda. Melalui nadhar, manusia bisa sampai pada pengetahuan yang meyakinkan. Untuk
mengetahui mana yang hak dan mana yang batal. mana yang kufur dan mana yang iman,
demikian pula untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya lebih jelas haruslah melalui nadhar. Karena
itu, bertaklid buta. Tidak mau lagi melakukan nadhar adalah keliru sesat dan menyesatkan.
Dalam al-Qur'an cukup banyak dijumpai ayat-ayat yang memerintahkan untuk melakukan
nadhar. Diantara-nya ialah:
Katakanlah ya Muhammad: "Lihatlah apa yang di langit dan di bumi; dan tidak berguna tanda-
tanda dan peringatan-peringatan kepada kaum yang tidak beriman". (QS. Yunus (l0): 10l).
Mengapakah mereka tidak melihat kepada alam (malakut) langit dan bumi dan kepada apa yang
Allah jadikan?. (QS. al-A'raf (7): 185).
Maka ambil ibaratlah wahai ahli akal. (QS. al-Hasyr (59): 2).
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim bumi malakut (langit) dan bumi. (QS. al-
An'am (6): 75).
Ayat-ayat tersebut diatas adalah nash yang tegas yang mendorong untuk melakukan nadhar
terhadap segala maujud, dan menjadi nash yang tegas pula yang mewajibkan kita memakai qiyas
'aqli atau qiyas manthiqi dan sya'i. Ayat yang terakhir menerangkan, bahwa Allah telah nadhar
kepada Ibrahim as.
4.5. Kedudukan Akal Dalam Pandangan Islam
Dalam kitab Hawasyil-Isyarat diterangkan bahwa akal itu, ialah tenaga jiwa untuk memahami
mujarradat (sesuatu yang tidak dapat diraba atau dirasa dengan pancaindera). Kekuatan jiwa
yang mempersiapkan untuk memikir (berusaha), dinamai dzihin. Gerakan jiwa untuk memikir
sesuatu agar diperoleh apa yang dimaksudkan, dinamai fikir.
Tersebut dalam suatu kitab falsafah: "Akal itu suatu kekuatan untuk mengetahui makna
mujarradat, makna yang diperoleh dari menyelidiki dan rupa-rupa benda". memperhatikan rupa-
rupa benda". Al-Mawardi dalam A'lamun-Nubuwwah menulis: "Akal itu suatu tenaga yang
memberi faedah bagi kita mengetahui segala yang menjadi kepastiannya". Ada pula yang
mengatakan: "Akal itu kekuatan yang membedakan yang hak dengan yang batal".
Al-Mawardi membagi akal kepada: gharizi dan kasbi. Gharizi adalah pokok akal, sedang kasbi
adalah cabang yang tumbuh daripadanya: itulah akal yang dengannya berpaut dan bergantung
taklif dan beribadat. Adapun akal kasbi (akal muktasab), ialah akal yang digunakan untuk
berijtihad dan menjalankan nadhar. Akal ini tidak dapat terlepas dari akal gharizi, sedang akal
gharizi mungkin terlepas dari akal ini.
4.6. Martabat Akal Dalam Memahami Hakikat
Para hukama berpendapat bahwa manusia memahami hakikat dengan jalan: [1] dengan
pancaindera, dalam hal ini manusia sama dengan hewan; dan [2] dengan akal (rasio).
Mengetahui sesuatu dengan akal hanya tertentu bagi manusia. Dengan akallah manusia berbeda
dari binatang.
Orang yang telah biasa memperhatikan soal-soal yang ma'qulat (yang diperoleh melalui akal)
nyata kepadanya kemuliaan dan keutamaan yang diketahuinya itu. Baginya terang pula bahwa
yang diketahui melalui indera pemandangan akal sama dengan sesuatu yang masib kabur,
dibanding sesuatu yang telah dapat dipastikan baiknya melalui akal. Inilah sebabnya Al-Qur'an
dalam seruannya kepada mengakui ada-Nya Allah dari keesaan-Nya, membangkitkan akal dari
tidurnya. Seruan yang begini, tidak dilakukan oleh umat-umat yang dahulu. sebagai yang sudah
dibayangkan sebelum ini.
4.7. Bukti Kelebihan Dan Keutamaan Akal Atas Pancaindera
Para hukama telah membuktikan, bahwa akal lebih mulia dari pancaindera. Apa yang diperoleh
akal lebih kuat dari yang didapati pancaindera.
Alasannya:
[1] Pancaindera hanya dapat merasa, melihat dan membaui.
[2] Akal dapat menjelaskan tentang adanya Zat Tuhan. sifat-sifat-Nya dan berbagai soal yang
hanya bisa diperoleh melalui akal, dan berbagai macam pengetahuan hasil nadhar.
[3] Akal dapat sampai pada hakikat, sedang pancaindera hanya memperoleh yang lahir saja,
yaitu yang terasa saja.
[4] Akal tidak berkesudahan, sedang pancaindera adalah berkesudaban (hiss).
4.8. Akal Pokok Pengetahuan
Al-Mawardi berpendapat, bahwa dalil itu, ialah sesuatu yang menyampaikan kepada meyakini
mad-lul-nya. Dalil-dalil diyakini dengan jalan akal dan mad-lul-nya diyakini dengan jalan dalil.
Tegasnya, akal itu menyampaikan kepada dalil; dia sendiri bukan dalil. Karena akal itu pokok
segala yang diyakini, baik dalil maupun madlul. Mengingat hal ini dapatlah dikatakan, akal
adalah pokok pengetahuan (al-'aqlu ummul 'ulum). Ilmu yang diperoleh daripadanya ialah
pembeda kebenaran dari kebatalan; yang shahih yang fasid; yang mumkin dari yang mustahil.
Ilmu-ilmu yang diperoleh melalui akal, ada dua macam: Idthirari dan Iktisabi.
1. Ilmu Idthirari, ialah ilmu yang diperoleh dengan mudah, tidak perlu melakukan nadhar yang
mendalam. Ilmu ini terbagi dua: [1] yang terang dirasakan; dan [2] berita-berita mutawatir.
Ilmu yang dirasakan atau yang diperoleh dengan hiss, datang sesudah akal, dan ilmu khabar
mendahului akal.
Ilmu Idthirari ini, tidak memerlukan nadhar dan istidal; karena mudah diketahui. Khawwash dan
'awwam dapat mengetahuinya, ilmu yang diperoleh dengan jalan ini, tidak ada yang
mengingkarinya.
2. Ilmu Iktisabi, ialah ilmu yang diperoleh dengan jalan nadhar dan istidal. Dia tidak mudah
diperoleh. Ilmu inilah yang memerlukan dalil atau dimintakan dalilnya.
Ilmu Iktisabi ini terbagi dua juga:
- yang ditetapkan oleh akal (berdasarkan ketetapan-ketetapan akal).
- yang ditetapkan oleh hukum-hukum pendengaran (yang diterima dari syara').
Hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan akal terbagi dua pertama, yang diketahui karena
mengambil dalil dengan tidak berhajat kepada dalil akal (nadhar); kedua, yang diketahui karena
mengambil dalil dengan dalil-dalil akal.
Yang diketahui dengan tidak perlu kepada dalil akal (nadhar) ialah yang tidak boleh ada
lawannya, seperti keesaan Allah. Dengan sendirinya akal dengan mudah mengetahui keesaan
Tuhan itu. Yang diketahui dengan memerlukan dalil akal, ialah: yang boleh ada lawannya,
seperti seseorang nabi mendakwakan kenabiannya. Ringkasnya mengetahui atau meyakini
keesaan Allah tidak memerlukan akan akal; sebab dengan mudah akal dapat mengetahuinya.
Adapun meyakini kerasulan seseorang rasul, memerlukan dalil akal.
Ketetapan-ketetapan yang berdasarkan hukum pendengaran, diterima dari Shahibisy Syari'ah,
sedang akal disyaratkan dalam melazimi ketetapan-ketetapan itu, walaupun pendengaran tidak
disyaratkan dalam soal-soal yang ditetapkan akal semata-mata.
Hukum-hukum yang ditetapkan oleh pendengaran ada dua macam: yakni: Ta'abbud dan Indzar.
Ta'abbud mencakup larangan dan suruhan. Indzar, mencakup wa'ad dan wa'id.
4.9. Jalan Mengetahui ada-Nya Allah
Abu Haiyan mengatakan: Mengetahui ada-Nya Allah adalah daruri, jika ditinjau dari sudut akal,
dan nadari dari sudut hiss pancaindera.
Ilmu adakala dituntut melalui akal, dalam soal-soal yang dapat dipikirkan (ma'qulat), adakala
dituntut dengan hiss (pancaindera) dalam soal-soal yang dirasakan. Seseorang manusia bisa
memikir, bahwa mengetahui ada-Nya Allah adalah suatu iktisab (hal yang diperoleh dengan
jalan istidlal): karena hiss itu mencari-cari dan membolak-balikkan masalah dengan pertolongan
akal. Dia dapat pula memikiri, bahwa mengetahui ada-Nya Allah, daruri; karena akal yang
sejahtera menggerakkan manusia kepada mengakui ada-Nya Allah dan menyalahkan akal
mengingkari-Nya.
Al-Farabi dalam al-Fushush (fash yang empat belas, menulis: "Anda dapat memperhatikan alam
makhluk, kalau anda lihat tanda-tanda pembuatan. Tetapi juga anda dapat meninjau alam mahad
(alam yang terlepas dari kebendaan), lalu anda yakini, bahwa tidak boleh tidak ada-Nya Zat. Dan
dapat pula anda mengetahui betapa seharusnya sifat-sifat yang ada pada Zat itu. Kalau anda
memandang alam maddah, berarti anda naik dan kalau anda memperhatikan alam mahad, berarti
anda turun".
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.Abatasa.com dari browser ponsel anda!
Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta‟ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb:
Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus
mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta‟ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang
hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah
lengkap kalau tidak mengimani Asma‟ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama
yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur. Dan kita mengimani
keesaan Allah dalam hal itu semua, artinya bahwa Allah tiada sesuatupun yang menjadi sekutu
bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma‟ dan sifat-Nya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta‟ala: “(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua
yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-
Nya. Adakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”.
(QS : Maryam ayat 65)
Dan firman Allah “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha
mendengar lagi Maha melihat”. (QS: Asy-Syura :11)
Iman Kepada Malaikat
Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan
meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta‟ala. Dan para malaikat itu,
sebagaimana firman-Nya: Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang
dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka
mengerjakan perintah-perintah-Nya. (QS: Al-anbiya : 26-27)
Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta‟ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan
mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah: …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka
tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu
bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (QS: Al-Anbiya:19-20).
Iman Kepada Kitab Allah
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta‟ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya
kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang
mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran
dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Allah berfirman : Sungguh, kami telah mengutus
rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama
mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… (QS: Al-Hadid :
25)
Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :
1. Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam
QS Al-Maidah :44.
2. Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah kepada Daud alaihi sallam.
3. Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah
: …Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai
pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi
orang-orang yang bertaqwa. (QS : Al-Maidah : 46)
4. Shuhuf (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, „Alaihimas-
shalatu Wassalam.
5. Al-Quran, kitab yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad, penutup para nabi. Firman
Allah. Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi
umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq
dan yang batil… (QS : Al Baqarah: 185).
Iman Kepada Rasul-Rasul
Kita mengimani bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, firman Allah
(Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi
peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul
itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS : AN-Nisa: 165).
Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi
Muhammad, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah :
Sesungguhnya Kami telahmewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada
Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya… (QS: An-Nisa: 163).
Iman Kepada Hari Kiamat
Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari
tersebut.
Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupannya semua mahkluk yang sesudah mati
oleh Allah. Firman Allah: Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan
siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali
lagi, maka tiba-tiba mereka bangkitmenunggu (putusannya masing-masing). (QS : Az-Zumar :
68)
Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang
mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya
dengan tangan kiri. firman Allah :Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan
kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali
kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan
kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan
masuk neraka yang menyala. (QS: Al-Insyiqaq:13-14).
Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk
Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah
ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah
kebijakan-Nya.
Iman kepada qadar ada empat tingkatan:
1. „Ilmu:
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi,
dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah
sebelumnya tidakmenjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.
2. Kitabah:
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari
kiamat. firman Allah:Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di
langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).
Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS: Al-Hajj: 70)
3. Masyi‟ah:
ialah mengimani bawa Allah SWT. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di
bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah
itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4. Khal:
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta‟ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman-Nya; Alah
menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah
kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.(QS: Az-Zumar: 62-63).
Keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah sendiri dan apa yang terjadi dari
mahkluk. Maka segala apa yang dilakuakan oleh mahkluk berupa ucapan, perbuatan atau
tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah.
(Sumber : Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Yayasan Al-Sofwa Jakarta 1995)
Pengertian iman secara bahasa menurut Syaikh Ibnu „Utsaimin adalah pengakuan yang
melahirkan sikap menerima dan tunduk. Kata beliau makna ini cocok dengan makna iman dalam
istilah syari‟at. Dan beliau mengkritik orang yang memaknai iman secara bahasa hanya sekedar
pembenaran hati (tashdiq) saja tanpa ada unsur menerima dan tunduk. Kata ‟iman‟ adalah fi‟il
lazim (kata kerja yang tidak butuh objek), sedangkan tashdiq adalah fi‟il muta‟addi (butuh objek)
(Lihat Syarh Arba‟in, hal. 34)
Adapun secara istilah, dalam mendefinisikan iman manusia terbagi menjadi beragam pendapat
[dikutip dari Al Minhah Al Ilahiyah, hal. 131-132 dengan sedikit perubahan redaksional] :
Pertama
Imam Malik, Asy Syafi‟i, Ahmad, Al Auza‟i, Ishaq bin Rahawaih, dan segenap ulama ahli hadits
serta ahlul Madinah (ulama Madinah) –semoga Allah merahmati mereka- demikian juga para
pengikut madzhab Zhahiriyah dan sebagian ulama mutakallimin berpendapat bahwa definisi
iman itu adalah : pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota
badan. Para ulama salaf –semoga Allah merahmati mereka- menjadikan amal termasuk unsur
keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga
bertambah dan berkurang (lihat Kitab Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al „Aali, hal. 9).
Kedua
Banyak di antara ulama madzhab Hanafi yang mengikuti definisi sebagaimana yang disebutkan
oleh Ath Thahawi rahimahullah yang mengatakan bahwa iman itu pengakuan dengan lisan dan
pembenaran dengan hati.
Ketiga
Ada pula yang mengatakan bahwa pengakuan dengan lisan adalah rukun tambahan saja dan
bukan rukun asli. Inilah pendapat Abu Manshur Al Maturidi rahimahullah, dan Abu Hanifah pun
diriwayatkan memiliki sebuah pendapat seperti ini.
Keempat
Sekte Al Karramiyah mengatakan bahwa iman itu hanya pengakuan dengan lisan saja! Maka dari
definisi mereka ini orang-orang munafiq itu dinilai sebagai orang-orang beriman yang sempurna
keimanannya, akan tetapi menurut mereka orang-orang munafiq itu berhak mendapatkan
ancaman yang dijanjikan oleh Allah untuk mereka! Pendapat mereka ini sangat jelas
kekeliruannya.
Kelima
Jahm bin Shafwan dan Abul Hasan Ash Shalihi –salah satu dedengkot sekte Qadariyah-
berpendapat bahwa iman itu cukup dengan pengetahuan yang ada di dalam hati! [Dan inilah
yang diyakini oleh kaum Jabariyah, lihat. Syarh „Aqidah Wasithiyah, hal. 163]. Pendapat ini jauh
lebih jelas kerusakannya daripada pendapat sebelumnya! Sebab kalau pendapat ini dibenarkan
maka konsekuensinya Fir‟aun beserta kaumnya menjadi termasuk golongan orang-orang yang
beriman, karena mereka telah mengetahui kebenaran Musa dan Harun „alaihimash sholatu was
salam dan mereka tidak mau beriman kepada keduanya. Karena itulah Musa mengatakan kepada
Fir‟aun, ”Sungguh kamu telah mengetahui dengan jelas bahwa tidaklah menurunkan itu semua
melainkan Rabb pemilik langit dan bumi.” (QS. Al Israa‟ [17] : 102). Allah ta‟ala berfirman
(yang artinya), ”Mereka telah menentangnya, padahal diri mereka pun meyakininya, hal itu
dikarenakan sikap zalim dan perasaan sombong. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang melakukan kerusakan itu.” (QS. An Naml [27] : 14). Bahkan iblis pun dalam
pengertian Jahm ini juga termasuk kaum beriman yang sempurna imannya! Karena ia tidaklah
bodoh tentang Rabbnya, bahkan dia adalah sosok yang sangat mengenal Allah (yang artinya),
”Iblis berkata,‟Rabbku, tundalah kematianku hingga hari mereka dibangkitkan nanti.‟.” (QS. Al
Hijr [15] : 36). Dan hakekat kekufuran dalam pandangan Jahm ini adalah ketidaktahuan tentang
Allah ta‟ala, padahal tidak ada yang lebih bodoh tentang Rabbnya daripada dia!….
Imam Asy Syafi‟i rahimahullah berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa
bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab
kemaksiatan.” Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa
berkurang. Ia bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan
amal.” (Perkataan dua orang imam ini bisa dilihat di Al Wajiz fii „Aqidati Salafish shalih, hal.
101-102) Bahkan Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih
dari seribu orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih
bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.” (Lihat Fathul
Baari, I/60)
Penjelasan definisi iman
„Iman itu berupa pembenaran hati‟ artinya hati menerima semua ajaran yang dibawa oleh Rasul
shallallahu „alahi wa sallam. „Pengakuan dengan lisan‟ artinya mengucapkan dua kalimat
syahadat „asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah‟. Sedangkan
„perbuatan dengan anggota badan‟ artinya amal hati yang berupa keyakinan-keyakinan dan
beramal dengan anggota badan yang lainnya dengan melakukan ibadah-ibadah sesuai dengan
kemampuannya (Lihat Kitab At Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al „Aali, hal. 9)
Dan salah satu pokok penting dari aqidah Ahlus sunnah wal jama‟ah ialah keyakinan bahwa
iman itu bertambah dan berkurang (Lihat Fathu Rabbbil Bariyah, hal. 102). Hal ini telah
ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al Kitab maupun As Sunnah. Salah satu dalil dari Al Kitab yaitu
firman Allah ta‟ala (yang artinya), “Agar bertambah keimanan mereka di atas keimanan mereka
yang sudah ada.” (QS. Al Fath [48] : 4).
Dalil dari As Sunnah di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam tentang sosok
kaum perempuan, ”Tidaklah aku melihat suatu kaum yang kurang akal dan agamanya dan lebih
cepat membuat hilang akal pada diri seorang lelaki yang kuat daripada kalian ini (kaum
perempuan).” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Maka ayat di atas menunjukkan penetapan bahwa iman itu bisa bertambah, sedangkan di dalam
hadits tersebut terdapat penetapan tentang berkurangnya agama. Sehingga masing-masing dalil
ini menunjukkan adanya pertambahan iman. Dan secara otomatis hal itu juga mengandung
penetapan bisa berkurangnya iman, begitu pula sebaliknya. Sebab pertambahan dan pengurangan
adalah dua hal yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Tidak masuk akal keberadaan salah satunya
tanpa diiringi oleh yang lainnya.
Dengan demikian dalam pandangan ahlus sunnah definisi iman memiliki 5 karakter : keyakinan,
ucapan, amal, bisa bertambah, dan bisa berkurang. Atau bisa diringkas menjadi 3 : keyakinan,
ucapan, dan amal. Karena amal bagian dari iman, secara otomatis iman bisa bertambah dan
berkurang. Atau bisa diringkas lebih sedikit lagi menjadi 2 : ucapan dan amal, sebab keyakinan
sudah termasuk dalam amal yaitu amal hati. Wallahu a‟lam.
Penyimpangan dalam mendefinisikan iman
Keyakinan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang adalah aqidah yang sudah paten, tidak
bisa diutak-atik atau ditawar-tawar lagi. Meskipun demikian, ada juga orang-orang yang
menyimpang dari pemahaman yang lurus ini. Syaikh Ibnu „Utsaimin rahimahullah menjelaskan
bahwa orang-orang yang menyimpang tersebut terbagi menjadi dua kelompok yaitu : Murji‟ah
dan Wai‟diyah.
Murji’ah tulen mengatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan di dalam hati, dan
pengakuan hati itu menurut mereka tidak bertingkat-tingkat. Sehingga menurut mereka orang
yang gemar bermaksiat (fasik) dengan orang yang salih dan taat sama saja dalam hal iman.
Menurut orang-orang Murji‟ah amal bukanlah bagian dari iman. Sehingga cukuplah iman itu
dengan modal pengakuan hati dan ucapan lisan saja. Konsekuensi pendapat mereka adalah
pelaku dosa besar termasuk orang yang imannya sempurna. Meskipun dia melakukan
kemaksiatan apapun dan meninggalkan ketaatan apapun. Madzhab mereka ini merupakan
kebalikan dari madzhab Khawarij. (lihat Syarh Lum‟atul I‟tiqad, hal. 161-163, Syarh „Aqidah
Wasithiyah, hal. 162).
Wa’idiyah yaitu kaum Mu’tazilah [Mereka adalah para pengikut Washil bin „Atha‟ yang
beri‟tizal (menyempal) dari majelis pengajian Hasan Al Bashri. Dia menyatakan bahwa orang
yang melakukan dosa besar itu di dunia dihukumi sebagai orang yang berada di antara dua posisi
(manzilah baina manzilatain), tidak kafir tapi juga tidak beriman. Akan tetapi menurutnya di
akherat mereka akhirnya juga akan kekal di dalam Neraka, lihat Syarh Lum‟atul I‟tiqad, hal.
161-163] dan Khawarij mengatakan bahwa pelaku dosa besar telah keluar dari lingkaran iman.
Mereka mengatakan bahwa iman itu kalau ada maka ada seluruhnya dan kalau hilang maka
hilang seluruhnya. Mereka menolak keyakinan bahwa iman itu bertingkat-tingkat. Orang-orang
Mu‟tazilah dan Khawarij berpendapat bahwa iman itu adalah : pembenaran dengan hati,
pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan, akan tetapi iman tidak bertambah dan
tidak berkurang (lihat Thariqul wushul ila idhahi Tsalatsati Ushul, hal. 169). Sehingga orang
Mu‟tazilah menganggap semua amal adalah syarat sah iman (lihat catatan kaki Al Minhah Al
Ilahiyah, hal. 133). Dengan kata lain, menurut mereka pelaku dosa besar keluar dari Islam dan
kekal di neraka (lihat Syarh „Aqidah Wasithiyah, hal. 163).
Kedua kelompok ini sudah jelas terbukti kekeliruannya baik dengan dalil wahyu maupun dalil
akal. Adapun wahyu, maka dalil-dalil yang menunjukkan bertambah dan berkurangnya iman
sudah disebutkan… (Lebih lengkap lihat Fathu Rabbil Bariyah, hal. 103-104).