Docstoc

Skripsi BAB 1 PENDAHULUAN A

Document Sample
Skripsi BAB 1 PENDAHULUAN A Powered By Docstoc
					                                    BAB 1

                            PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

     Kondisi ekonomi yang buruk harus di pandang sebagai pendorong umtuk

membangun kemampuan mengelola sumber daya secara cerdas, agar bangsa

Indonesia dapat keluar dari kondisi buruk ini dan menjadi bangsa yang maju.

Dalam keadaan ekonomi yang buruk, laba hanya dapat dihasilkan melalui

manajemen yang efektif dan efisien atas penggunaan seluruh sumber daya

perusahaan.

     Manajemen yang efektif dan efisien tercermin dalam perencanaan yang

baik, dan perencanaan yang baik sangat membutuhkan informasi yang akurat.

Agar dapat merencanakan dengan baik pemanfaatan sumber daya perusahaan,

maka manajemen perusahaan memerlukan informasi yang mengungkapkan

dengan secara jelas dan cepat fakta yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan.

     Lingkungan bisnis yang kompetitif menuntut perusahaan untuk merespon

dengan cepat dan tepat perubahan yang diperkirakan akan terjadi dalam

lingkungan bisnis. Perubahan cepat yang terjadi dalam lingkungan bisnis

menuntut perubahan rencana strategis yang digunakan untuk menjalankan bisnis,

terutama yang memiliki spectrum jangka panjang.

     Saat ini, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur atau industri dan

perusahaan BUMN lainnya umumnya menggunakan sistem biaya tradisional

dalam menghitung biaya produksinya. Biaya produksi yang hasilkan oleh sistem




                                                                                  30
akuntansi biaya tradisional memberikan informasi biaya yang terdistorsi. Distorsi

timbul karena adanya ketidakaturan dalam pembenanan biaya, sehingga

mengakibatkan kesalahan penentuan biaya, pembuatan keputusan, perencanaan,

dan pengendaliaan (Supriyono, 1999:259). Distorsi tersebut juga mengakibatkan

undercost atau overcost terhadap produk (Hansen & Mowen, 2005), sehingga

metode tradisional gagal membantu manajemen memperbaiki operasi. Pada

metode tradisional, manajer dipaksa untuk menggunakan informasi yang

terdistorsi dan tidak mendorong menggunakan tingkat persediaan, memperbaiki

pelayanan kepada pelanggan, serta membuat produk yang lebih baik.

     Untuk mengatasi hal tersebut, ditawarkan suatu metode alternatif yaitu

alokasi biaya berdasarkan aktivitas yang menyebabkan terjadinya biaya tersebut.

Metode ini dikenal sebagai Activity-Based Costing, yaitu merupakan suatu sistem

kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas dan kemudian ke

produk (Hansen & Mowen, 1992).

     Metode Activity-Based Costing, menganggap bahwa timbulnya biaya

disebabkan oleh adanya aktivitas yang menghasilkan produk. Pendekatan ini

menggunakan cost driver yang berdasar pada aktivitas yang menimbulkan biaya

dan biasanya diterapkan pada perusahaan yang menghasilkan produk yang

beragam namun dapat juga diterapkan pada perusahaan yang memiliki satu jenis

produk dengan memilih aktivitas-aktivitas yang ada.

     PDAM Maros merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur

karena membuat dan menjual air minum. Setelah penulis mensurvei          PDAM

Maros ternyata perusahaan tersebut masih menggunakan sistem akuntansi biaya




                                                                              31
tradisional dalam penentuan biaya produksinya, dimana semua biaya produksi dan

biaya di luar produksi dibebankan ke produk.

     Dengan menerapkan metode Activity-Based Costing, perusahaan dapat

memperoleh informasi yang akurat dan dapat memperbaiki mutu pengambilan

keputusan. Dalam Activity-Based Costing, produk hanya dibebani biaya dari

sumber daya dan aktivitas yang digunakan dan tidak dibebani oleh biaya sumber

daya dan aktivitas yang tidak digunakan. Metode ini menyebabkan biaya per unit

yang lebih stabil dan konsisten dengan tujuan pembebanan biaya ke produk yang

menyebabkan aktivitas.

     Berdasarkan latarbelakang di atas, penulis memilih judul :“Analisis

Penentuan Biaya Produksi Pada PDAM Maros Dengan Menggunakan

Pendekatan Metode Activity-Based Costing (ABC)”.

B. Rumusan Masalah

     Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah pokok yang terdapat

dalama penulisan ini:

   “Berapa besar biaya produksi pada PDAM Maros jika menggunakan metode

Activity-Based Costing?”.

C. Tujuan Penelitian

     Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui biaya produksi pada PDAM Maros jika menggunakan

metode Activity-Based Costing.




                                                                           32
D. Manfaat Penelitian

     Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak,

diantaranya:

     1. Membantu perusahaan dalam menghitung dan menentukan biaya

         produksi dengan menggunakan metode Activity-Based Costing System.

     2. Menyediakan data hasil perhitungan biaya produksi yang dapat

         dijumlah sebagai ……. dengan hasil perhitungan biaya produksi

         berdasarkan metode tradisional.




                                                                         33
                                   BAB II

                       TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Biaya

       Perusahaan sebagai salah satu unit ekonomi yang berorientasi pada

keuntungan, membutuhkan pengelolaan yang professional agar dapat mencapai

tujuan yang telah ditetapkan. Melalui pengelolaan yang profesional akan

tercipta suatu sinergi dari tim yang solid dari setiap elemen yang terlibat dalam

proses pencapaian tujuan perusahaan. Para akuntan, ekonom dan teknisi,

misalnya masing-masing memiliki dan menggunakan konsep, yang meskipun

tidak bertentangan satu sama lain namun tetap tampak adanya perbedaan.

Proses pencapaian tujuan dalam perusahaan dapat terjadi jika pihak manjemen

memiliki kualifikasi pengetahuan yang komprehensif. Karena itu tidak jarang

terjadi perbedaan persepsi, sekalipun bagi yang senatiasa dihadapkan dan

menyadari sepenuhnya betapa penting arti biaya dalam menjalankan tugasnya

sehari-hari.

       “Pengertian biaya (expense) berbeda dengan pengertian harga
       pokok (cost). Biaya dalam arti luas adalah jumlah uang yang
       dinyatakandari sumber (ekonomi) yang dikorbankan yang telah
       terjadi atau yang akan terjadi untuk mendapatkan sesuatu atau
       mencapai tujuan tertentu. Sedangkan harga pokok (cost) adalah
       pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva atau
       pengorbanan sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku
       menjadi produk (Hartanto, 1992: 24)”.
       Dalam arti sempit, biaya (expense) adalah biaya yang dikonsumsikan

atau digunakan untuk merealisasikan pendapatan dalam suatu periode

akuntansi. Sedangakan harga pokok (cost) adalah biaya yang melekat pada




                                                                              34
suatu aktiva yang belum dikonsumsikan atau digunakan dalam upaya

merealisasikan pendapatandalam suatu          periode, dan akan dikonsumsi

dikemudian hari.

       Mulyadi menyatakan bahwa biaya (expense) adalah sumber daya yang

telah atau akan dikorbankan untuk mewujudkan tujuan tertentu”. Sedangkan

cost adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk memperoleh

barang dan jasa yang diharapkan akan membawa manfaat sekarang atau di

masa depan bagi perusahaan”.

B. Penggolongan Biaya
       Karena    aktivitas   yang   penting   dari   manajemen   adalah    suatu

pengendalian jumlah dan banyaknya biaya individual dari aktivitas suatu

perusahaan, teknik pengelompokan menjadi amatlah berharga. Biaya perlu

diklasifikasikan dengan maksud untuk membantu hubungan diantara data biaya

sebagai bahan masukan dalam perencanaan.

     Ray H. Garisson, et. Al, (1993:33) menggolongkan biaya berdasarkan

hal-hal sebagai berikut :

    a. Konsep Biaya dihubungkan dengan tingkat Produksi, yang terdiri dari :

       1. Biaya tetap (Fixed Cost) adalah setiap biaya yang jumlahnya tidak

          berubah-ubah pada setiap produksi dalam pabrik.

       2. Biaya Variable (Variabel Cost) adalah setiap biaya yang cenderung

          bertambah dalam total sebagaimana penambahan tingkat produksi,

          dan   cenderung     berkurang   sebagaimana    pengurangan      tingkat

          produksi.




                                                                              35
b. Komponen Biaya Pengolahan Produk

  Biaya produksi dapat diklasifikasikan menurut komponen dalam proses

  manufaktur. Klasifikasi setiap biaya pabrik dikategorikan seperti (1)

  bahan-bahan mentah (Raw Material), (2) Tenaga Kerja Langsung

  (Direct       Labor),      (3)     Overhead        Pabrik      (Factory

  Overhead).Pengklasifikasian ketiga ketegori ini atas biaya pabrik

  membantu menajer untuk mencatat dan mengendalikan operasi

  departemen.

  1. Biaya Bahan Mentah (Raw Material Cost)

      Semua bahan mentah secara fisik diidentifikasikan sebagai bagian

      dari barang jadi dan yang dapat ditelusuri pada barang jadi tersebut

      dengan cara yang sederhana dan ekonomis.

  2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost) adalah seluruh

      tenaga kerja yang dapat ditelusuri secara fisik pada barang jadi

      dengan cara yang ekonomis.

  3. Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost). Biaya overhead

      pabrik adalah semua biaya selain biaya bahan mentah atau upah

      langsung yang berkaitan dengan proses produksi. Ada dua

      subklasifikasi overhead pabrik, yaitu:

    a. Overhead     Pabrik   Variable   (Factory   Overhead    Variable),

       contohnya energy, perlengkapan, sebagian upah tidak langsung,

       biaya upah tidak langsung dari suatu kategori tertentu adalah




                                                                       36
  biaya variabel atau biaya tetap, bergantung pada perilakunya pada

  perusahaan tertentu.

b. Overhead Pabrik Tetap (Factory Overhead Fixed)

  Dua dari tiga kategori biaya diatas biasanya digabung dalam

  terminologi.

  1. Biaya Umum (Prime Cost), yaitu bahan mentah langsung

       bahan mentah langsung ditambah biaya upahlangsung.

  2. Biaya Konversi (Conversion Cost), yaitu biaya upah langsung

       ditambah biaya overhead pabrik.

c. Biaya Dihubungkan Dengan Laporan Kerja

       Beberapa perusahaan manufaktur mempunyai akuntansi dan

  sistem pelaporan yang diakumulasikan dalam laporan biaya

  historis (Actual Cost) dan biaya standar, untuk masing-masing

  departemen dan masing-masing elemen biaya, meliputi bahan

  mentah, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik.

  1.    Biaya Historis (Historical Cost). Istilah biaya historis

        menunjukkan biaya aktual yang telah dikeluarkan. Sistem

        akuntansi biaya (Akuntansi Financial) diakumulasikan dalam

        laporan biaya historis.

  2.    Biaya Standar (Standar Cost). Biaya ini akan dikeluarkan

        dalam    suatu   pemberian   atas   hal   tertentu.   Biaya   ini

        dibandingkan dengan biaya historis dalam evaluasi kinerja.

d. Konsep Biaya Dasar Lainnya




                                                                      37
          1.   Biaya Penempatan (Replacement Cost)

               Biaya ini untuk membeli kembali, menetapkan kembali, atau

               menyusun kembali suatu aktiva. Biaya penempatan atas

               inventaris adalah harga yang dibayar jika inventaris telah

               ditetapkan pada tanggal daftar neraca. Manajemen seringkali

               menggunakan konsep ini dalam perencanaan. Karena itu konsep

               biaya penempatan harus        langsung digunakan dalam proses

               pengambilan keputusan.

          2.   Biaya Marginal (Marginal cost)

               Biaya ini merupakan biaya tambahan atau biaya ekstra, yang

               dikeluarkan untuk memproduksi atau lebih produk.

          3.   Biaya Difrensial (Differential Cost)

               Biaya difrensial adalah biaya antara alterenatif yang satu dengan

               yang lain. Biaya ini disebut juga bertambah (Incremental Cost)

               dan biaya yang berkurang (Decremental Cost). Biaya diferensial

               dapat bersifat tetap atau variable.

          4.   Biaya Sunk ( Sunk Cost)

               Biaya Sunk adalah biaya yang telah dikeluarkan dan tidak dapat

               diubah oleh keputusan sekarang maupun yang akan mendatang.

               Oleh karena tidak dapat diubah, maka biaya ini tidak dapat

               dipakai dalam analisis tindakan untuk waktu mendatang.




C. Pengertian Activity-Based Costing




                                                                             38
       Activity Based Costing merupakan metode yang menerapkan konsep-

konsep akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk

yang lebih akurat. Namun dari perspektif manajerial, sistem ABC menawarkan

lebih dari sekedar informasi biaya produk yang akurat akan tetapi juga

menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya

serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke objek biaya selain produk,

misalnya pelanggan dan saluran distribusi. Pengertian Activity Based Costing

menurut Amin Widjaja (1992:27), “Bahwa ABC sistem tidak hanya memberikan

kalkulasi biaya produk yang lebih akurat, tetapi juga memberikan kalkulasi apa

yang menimbulkan biaya dan bagaimana mengelolanya, sehingga ABC juga

dikenal sebagai sistem manajemen yang pertama.”

       Sedangakan menurut Mulyadi (1993:34) memberikan pengertian ABC

sebagai berikut :

       “ABC merupakan metode penentuan HPP (Product Costing) yang
       ditujukan untuk menyajikan informasi harga pokok secara cermat
       bagi kepentingan manajemen, dengan menguku secara cermat
       konsumsi sumber daya alam setiap aktivitas yang digunakan
       untuk menghasilkan produk.”

Pengertian ABC yang lain juga dikemukakan oleh Hansen and Mowen (1999:321)

“Suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas

kemudian ke produk.”

       Definisi lain dikemukakan oleh Garrison dan Norren (2000: 292), “Metode

costing yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk

keputusan strategik dan keputusan lainnya yang mungkin akan mempengaruhi

kapasitas dan juga biaya tetap.”




                                                                           39
       Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ABC

adalah suatu metode yang mengukur biaya dan kinerja dari suatu proses yang

berhubungan dengan aktivitas dan objek-objek biaya.

D. Konsep-Konsep Dasar Activity Based Costing

       Activity Based Costing adalah suatu sistem akuntansi yang terfokus pada

aktivitas-aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk/jasa. Activity Based

Costing menyediakan informasi perihal aktivitas-aktivitas dan sumber daya yang

dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah

setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost driver) yakni,

bertindak sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi.

Aktivitas-aktivitas ini menjadi titik perhimpunan biaya.Dalam sistemActivity

Based Costing, biaya ditelusuri ke aktivitas dan kemudian ke produk.Activity

Based Costingmengasumsikan bahwa aktivitas-aktivitaslah yang mengkonsumsi

sumber daya dan bukannya produk

                               Gambar 2.1
                    Konsep Dasar Activity Based Costing




Sumber: Hansen, Don .R. dan Maryanne, M. Mowen, (2005)




                                                                              40
    1. Perbandingan Biaya Produk Tradisional dan ABC

         Metode Activity Based Costing memandang bahwa biaya overhead

    dapat dilacak secara memadai pada berbagai produk secara individual. Biaya

    yang ditimbulkan oleh cost driver berdasarkan unit adalah biaya yang dalam

    metode tradisional disebut sebagai biaya variabel. Metode Activity Based

    Costing memperbaiki keakuratan perhitungan harga pokok produk dengan

    mengakui bahwa banyak dari biaya overhead tetap bervariasi dalam proporsi

    untuk berubah selain berdasarkan volume produksi. Dengan memahami apa

    yang menyebabkan biaya-biaya tersebut meningkat dan menurun, biaya

    tersebut dapat ditelusuri ke masing-masing produk. Hubungan sebab akibat

    ini memungkinkan manajer untuk memperbaiki ketepatan kalkulasi biaya

    produk yang dapat secara signifikan memperbaiki pengambilan keputusan

    (Hansen dan Mowen, 1999:157-158)

         Tabel 2.2 di bawah ini menggambarkan perbedaan antara penentuan

    harga pokok produk tradisional dan sistem Activity Based Costing:

                                  Tabel 2.2
                Perbedaan Penetapan Harga Pokok Produk
             Tradisional Dengan Metode Activity Based Costing
                     Metode Penentuan Harga        Metode Activity Based
   Keterangan
                    Pokok Produk Tradisional              Costing
 Tujuan           Inventory level                 Produk Costing
                                                  Tahap desain, produksi,
 Lingkup          Tahap produksi
                                                  Tahap pengembangan
                  Biaya bahan baku, tenaga kerja
 Fokus                                            Biaya Overhead
                  langsung
 Periode          Periode Akuntansi               Daur hidup produk
 Teknologi yang                                   Komputer
                  Metode Manual
 digunakan                                        telekomunikasi
Sumber: Mulyadi, 1993




                                                                            41
2. Struktur Sistem ABC

        Desain Activity Based Costing difokuskan pada kegiatan, yaitu apa

yang dilakukan oleh tenaga kerja dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan

pelanggan. Kegiatan adalah segala sesuatu yang mengkonsumsi sumber daya

perusahaan. Dengan memusatkan perhatian pada kegiatan dan bukannya

departemen atau fungsi, maka sistem ABC akan dapat menjadi media untuk

memahami, memanajemeni, dan memperbaiki suatu usaha. Ada dua asumsi

penting yang mendasari Metode Activity Based Costing, yaitu:

   1.   Aktivitas-aktivitas yang menyebabkan timbulnya biaya Metode

        Activity Based Costing bahwa sumber daya pembantu atau sumber

        daya     tidak   langsung   menyediakan    kemampuannya      untuk

        melaksanakan kegiatan bukan hanya sekedar penyebab timbulnya

        biaya.

   2.   Produk atau pelanggan jasa produk menyebabkan timbulnya

        permintaan atas dasar aktivitas untuk membuat produk atau jasa yang

        diperlukan berbagai kegiatan yang menimbulkan sumber daya untuk

        melaksanakan aktivitas tersebut.

        Asumsi tersebut diatas merupakan konsep dasar dari sistem Activity

Based Costing. Selanjutnya, karena adanya aktivitas akan menimbulkan biaya,

maka untuk dapat menjalankan usahanya secara efisien, perusahaan harus

dapat mengelola aktivitasnya. Dalam hubungannya dengan biaya produk,

maka biaya yang dikonsumsi untuk menghasilkan produk adalah biaya-biaya




                                                                        42
   untuk aktivitas merancang, merekayasa, memproduksi, menjual dan

   memberikan pelayanan produk (Cokins dkk, 1996:12)

   E. Pembebanan Biaya Overhead pada Activity-Based Costing

       Pada Activity Based Costing meskipun pembebanan biaya-biaya overhad

pabrik dan produk juga menggunakan dua tahap seperti pada akuntansi biaya

tradisional, tetapi pusat biaya yang dipakai untuk pengumpulan biaya-biaya pada

tahap pertama dan dasar pembebanan dari pusat biaya kepada produk pada tahap

kedua sangat berbeda dengan akuntansi biaya tradisional (Cooper, 1991:269-270).

       Activity Based Costing menggunakan lebih banyak cost driver bila

dibandingkan dengan sistem pembebanan biaya pada akuntansi biaya tradisional.

       Sebelum sampai pada prosedur pembebanan dua tahap dalam Activity

Based Costing perlu dipahami hal-hal sebagai berikut:

       1. Cost Driver adalah suatu kejadian yang menimbulkan biaya. Cost

          Driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biaya-

          biaya overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat

          aktivitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktivitas-aktivitas

          selanjutnya.

       2. Rasio Konsumsi adalah proporsi masing-masing aktivitas yang

          dikonsumsi oleh setiap produk, dihitung dengan cara membagi jumlah

          aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah

          keseluruhan aktivitas tersebut dari semua jenis produk.

       3. Homogeneous Cost Pool merupakan kumpulan biaya dari overhead

          yang variasi biayanya dapat dikaitkan dengan satu pemicu biaya




                                                                             43
     saja.Atau untuk dapat disebut suatu kelompok biaya yang homogen,

     aktivitas-aktivitas overhead secara logis harus berhubungan dan

     mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk.

a. Prosedur Pembebanan Biaya Overhead dengan Sistem Activity Based

  Costing

  Menurut Mulyadi (1993:94),         prosedur pembebanan biaya overhead

dengan sisitem Activity Based Costingmelalui dua tahap kegiatan:

  1. Tahap Pertama

     Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang

     sejenis atau homogen, terdiri dari 4 langkah :

     a. Mengidentifikasi dan menggolongkan biaya ke dalam berbagai

        aktifitas.

     b. Mengklasifikasikan aktifitas biaya kedalam berbagai aktifitas. Pada

        langkah ini biaya digolongkan kedalam aktivitas yang terdiri dari 4

        kategori yaitu: Unit level activity costing, Batch related activity

        costing, product sustaining activity costing, facility sustaining

        activity costing. Level tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

        1. Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities). Aktivitas ini

            dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit

            bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai

            contoh, menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan, karena

            tenaga tersebut cenderung dikonsumsi secara proporsional dengan

            jumlah unit yang diproduksi.




                                                                             44
     2. Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities). Aktivitas

        dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan berapa unit

        yang ada pada batch tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti

        membuat order produksi dan pengaturan pengiriman konsumen

        adalah aktivitas berlevel batch.

     3. Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities). Aktivitas

        berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya

        dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau unit yang

        diproduksi atau dijual. Sebagai contoh merancang produk atau

        mengiklankan produk.

     4. Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities). Aktivitas

        berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasi

        perusahaan namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak

        berhubungan dengan volume. Aktivitas ini dimanfaatkan secara

        bersama oleh berbagai jenis produk yang berbeda. Kategori ini

        termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor, penyediaan jaringan

        komputer dan sebagainya.

  c. Mengidentifikasi Cost Driver

     Dimaksudkan untuk memudahkan dalam penentuan tarif/unit cost

     driver

  d. Menentukan tarif/unit Cost Driver

     Adalah biaya per unit cost driver yang dihitung untuk suatu aktivitas.

Tarif/unit cost driver dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:




                                                                        45
                                                                                   �������������������� ���� ������������������������������������
                                Tarif per unit Cost Driver =                            ���������������� ������������������������




       2. Tahap Kedua

             Penelusuran dan pembebanan biaya aktivitas ke masing-masing produk

             yang menggunakan cost driver. Pembebanan biaya overhead dari setiap

             aktivitas dihitung dengan rumus sebagai berikut:

              ������������ ���������������� ���������������������������������������� = ��������������������/���������������� × ���������������������������������������� ���������������� ����������������������������




F. Manfaat Penentuan Harga Pokok Produk Berdasarkan Aktivitas

       Jika syarat-syarat penerapan sistem Activity Based Costing sudah

terpenuhi,     maka           menurut            Supriyono              (2002:698)                  sebaiknya             perusahaan

menerapkan sistem Activity Based Costing dan segera mendesain ulang sistem

akuntansi biayanya karena akan bermanfaat sebagai berikut:

1)   Memperbaiki mutu pengambilan keputusan. Dengan informasi biaya produk

     yang lebih teliti, kemungkinan manajer melakukan pengambilan keputusan

     yang salah dapat dikurangi. Informasi biaya produk yang lebih teliti sangat

     penting artinya bagi manajemen jika perusahaan menghadapi persaingan

     yang tajam.

2)   Memungkinkan manajemen melakukan perbaikan terus menerus terhadap

     kegiatan untuk mengurangi biaya overhead. Sistem Activity Based Costing

     mengidentifikasi biaya overhed dengan kegiatan yang menimbulkan biaya

     tersebut. Pembebanan overhead harus mencerminkan jumlah permintaan




                                                                                                                                 46
      overhead (yang dikonsumsi) oleh setiap produk. Sistem Activity Based

      Costing mengakui bahwa tidak semua overhed bervariasi dengan jumlah

      unit yang diproduksi. Denganmenggunakan biaya berdasarkan unit dan non

      unit overhead dapat lebih akurat ditelusuri ke masing-masing produk.

3)    Memberikan kemudahan dalam menentukan biaya relevan. Karena sistem

      Activity Based Costing menyediakan informasi biaya yang relevan yang

      dihubungkan dengan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk, maka

      manajemen akan menghasilkan kemudahan dalam memperoleh informasi

      yang relevan dengan pengambilan keputusan yang menyangkut berbagai

      kegiatan bisnis mereka.

G. Cost Driver

       Landasan penting untuk menghitung biaya berdasarkan aktivitas adalah

dengan mengidentifikasi pemicu biaya atau cost driver untuk setiap aktivitas.

Pemahaman yang tidak tepat atas pemicu akan mengakibatkan ketidaktepatan

pada pengklasifikasian biaya, sehingga menimbulkan dampak bagi manajemen

dalam mengambil keputusan.

       Jika perusahaan memiliki beberapa jenis produk maka biaya overhead

yang terjadi ditimbulkan secara bersamaan oleh seluruh produk. Hal ini

menyebabkan jumlah overhead yang ditimbulkan oleh masing-masing jenis

produk harus diidentifikasi melalui cost driver.

     a) Pengertian Cost Driver




                                                                             47
     Cost driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi

  biaya-biaya overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama

  tingkat aktifitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktifitas.

     Ada dua jenis cost driver, yaitu:

  1. Cost Driver berdasarkan unit

     Cost Driver berdasarkan unit membebankan biaya overhead pada

     produk melalui penggunaan tarif overhead tunggal oleh seluruh

     departemen.

  2. Cost Driver berdasarkan non unit

     Cost Driver berdasarkan non unit merupakan faktor-faktor penyebab

     selain unit yang menjelaskn konsumsi overhead. Contoh cost

     driverberdasarkan unit pada perusahaan jasa adalah luas lantai, jumlah

     pasien, jumlah kamar yang tersedia.

b) Penentuan Cost Driver yang tepat aktivitas yang ada dalam perusahaan

  sangat komplek dan banyak jumlahnya. Oleh karena itu perlu pertimbangn

  yang matang dalam menentukan penimbul biayanya atau cost driver.

  1. Penentuan jumlah cost driver yang dibutuhkan

     Menurut Cooper dan Kaplan (1991: 375), penentuan banyaknya cost

     driver yang dibutuhkan berdasarkan pada keakuratan laporan product

     cost yang diinginkan dan kompleksitas komposisi output perusahaan.

     Semakin banyak cost driver yang digunakan, laporan biaya produksi

     semakin akurat. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat keakuratan

     yang diinginkan, semakin banyak cost driver yang dibutuhkan.




                                                                        48
       2. Pemilihan cost driver yang tepat. Dalam pemilihan cost driver yang

          tepat, ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan: (Cooper dan Kaplan,

          1991: 383):

          a) Kemudahan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam

               pemilihan cost driver (cost of measurement). Cost driver yang

               membutuhkan biaya pengukuran lebih rendah akan dipilih.

          b) Korelasi antara konsumsi aktivitas yang diterangkan oleh cost

               driver terpilih dengan konsumsi aktivitas sesungguhnya (degree of

               correlation). Cost driver yang memiliki korelasi tinggi akan dipilih.

          c) Perilaku yang disebabkan oleh cost driver terpilih (behavior effect).

               cost driver yang menyebabkan perilaku yang diinginkan yang akan

               dipilih.

H. Keunggulan Metode ABC

       Amin (1994:23) mengemukakan tentang keunggulan Activity Based

Costing adalah sebagai berikut:

    1. Suatu pengkajian Activity Based Costing dapat meyakinkan manajemen

       bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih

       kompetitif. Sebagai hasilnya mereka dapat berusaha untuk meningkatkan

       mutu sambil secara simultan memfokus pada mengurangi biaya. Analisis

       biaya   dapat      menyoroti   bagaimana   benar-benar    mahalnya    proses

       manufakturing, yang pada akhirnya dapat memicu aktivitas untuk

       mereorganisasi proses, memperbaiki mutu dan mengurangi biaya

    2. Activity Based Costing dapat membantu dalam pengambilan keputusan




                                                                                 49
     3. Manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran

       kompetitif yang lebih wajar

     4. Dengan analisis biaya yang diperbaiki, manajemen dapat melakukan

       analisis yang lebih akurat mengenai volume, yangdilakukan untuk mencari

       break even atas produk yang bervolume rendah.

     5. Melalui analisis data biaya dan pola konsumsi sumber daya, manajemen

       dapat mulai merekayasa kembali proses manufacturing untuk mencapai

       pola keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi.

I.   Kelemahan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional

       Hal-hal yang tidak diberitahukan oleh sistem akuntansi biaya tradisional

kepada manajemen banyak sekali.Akuntansi biaya tradisional memberi sedikit ide

kepada manajemen pada saat harus mengurangi pengeluaran pada waktu yang

mendesak.Sistem tersebut hanya memberikan laporan manajemen dengan

menunjukkan dimana biaya dikeluarkan dan tidak ada indikasi apa-apa yang

menimbulkan biaya. Sistem biaya tradisional memang memeperhatikan biaya total

perusahaan, akan tetapi mereka mengabaikan “below the line expenses”, seperti

penjualan, distribusi, riset, dan pengembangan serta biaya administrasi. Biaya-

biaya ini tidak dibebankan kepasar, pelanggan, saluran distribusi, atau bahkan

produk yang berbeda.Banyak manajer yang percaya bahwa biaya-biaya ini adalah

tetap. Oleh sebab itu, biaya-biaya “below the line” ini diperlakukan secara sama

denganmendistribusikannya kepada pelanggan. Padahal, sekarang ini beberapa

pelanggan jauh lebih mahal untuk dilayani dibandingkan dengan yang laindan

sebenarnya beberapa biaya tersebut adalah biaya variabel. (Amin, 1992:22).Lebih




                                                                             50
jauh lagi dijelaskan oleh Supriyono (2002:74-77) bahwa dengan berkembangnya

dunia teknologi, sistem biaya tradisional mulai dirasakan tidak mampu

menghasilkan produk yang akurat lagi. Hal ini disebabkan karena lingkungan

global menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab sistem

akuntansi biaya tradisional, antara lain:

    1. Sistem akuntansi biaya tradisional terlalu menekankan pada tujuan

       penentuan harga pokok produk yang dijual. Akibatnya, sistem ini hanya

       menyediakan informasi yang relatif sangat sedikit untuk mencapai

       keunggulan dalam persaingan global.

    2. Sistem akuntansi biaya tradisional untuk biaya overhead terlalu

       memusatkan pada distribusi dan alokasi biaya overhead daripada berusaha

       keras untuk mengurangi pemborosan dengan menghilangkan aktivitas

       yang tidak bernilai tambah.

    3. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak mencerminkan sebab akibat biaya

       karena seringkali beranggapan bahwa biaya ditimbulkan oleh faktor

       tunggal misalnya volume produk atau jam kerja langsung.

    4. Sistem akuntansi biaya tradisional menghasilkan informasi biaya yang

       terdistorsi   sehingga    mengakibatkan   pembuatan   keputusan    yang

       menimbulkan konflik dengan keunggulan perusahaan.

    5. Sistem akuntansi biaya tradisional menggolongkan biaya langsung dan

       tidak langsung serta biaya tetap dan variabel hanya mendasarkan faktor

       penyebab tunggal misalnya volume produk, padahal dalam lingkungan




                                                                            51
  teknologi maju cara penggolongan tersebut menjadi kabur karena biaya

  dipengaruhi oleh berbagai macam aktivitas

6. Sistem akuntansi biaya tradisional menggolongkan suatu perusahaan ke

  dalam pusat-pusat pertanggung jawaban           yang kaku dan terlalu

  menekankan kinerja jangka pendek.

7. Sistem akuntansi biaya tradisional memusatkan perhatian kepada

  perhitungan selisih biaya pusat-pusat pertanggngjawaban tertantu dengan

  menggunakan standar.

8. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak banyak memerlukan alatalat dan

  teknik-teknik yang canggih dalam sistem informasi dibandingkan pada

  lingkungan teknologi maju.

9. Sistem akuntansi biaya tradisional kurang menekankan pentingnya daur

  hidup produk. Hal ini dibuktikan dengan perlakuan akuntansi biaya

  tradisional terhadap biaya aktivitas-aktivitas perekayasaan, penelitian dan

  pengembangan. Biaya-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periode

  sehingga menyebabkan terjadinya distorsi harga pokok daur hidup produk.




                                                                          52
                                    BAB III

                        METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

    Dalam melakukan penelitian guna memperoleh data yang diperlukan untuk

mendukung penulisan skripsi ini, maka penulis memilih pempat penelitian pada

Perusahaan PDAM Maros yang bertempat pada Jl. Asoka 29 Maros, adapun

waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Juni sampai Agustus 2011.

B. Tipe Penelitian dan Desain Penelitian

    Pada penelitian skripsi ini penulis menggunakan metode deskrptif komparatif

mengadakan perbandingan antara metode yang digunakan perusahaan dalam

menghitung biaya, dalam hal ini menggunakan metode akuntansi biaya tradisional

dengan system ABC (Activity-Based Costing).

    Adapun tahap-tahapnya yaitu :

    Penerapan Activity-Based Costing dalam perhitungan biaya produksi.

    Menurut Horngren, dkk (1996:146) penerapan system ABC (Activity-Based

Costing) dilakukan dengan enam langkah yaitu sebgai berikut:

       a.   Mengidentifikasi aktivitas dengan memilihnya sebgai objek biaya.

       b.   Mengidentifikasi biaya langsung (Direct Cost) dari aktifitas seperti

            biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung.

       c.   Mengidentifikasi Biaya Tidak Langsung (Biaya Overhead) yang

            Berhubungan dengan Aktivitas.

       d.   Menentukan tarif/unit Cost Driver




                                                                               53
    Adalah biaya per unit cost driver yang di hitung untuk suatu aktivitas.

Tarif/unit cost driver dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut:

                                                                          �������������������� ���� ������������������������������������
                       Tarif per unit Cost Driver =                            ���������������� ������������������������

       e. Penelusuran dan pembebanan biaya aktivitas ke masing-masing

           produk yang menggunakan cost driver. Pembebanan biaya overhead

           dari setiap aktivitas dihitung dengan rumus sebagai berikut:



                                                             ��������������������
                    ������������ ���������������� ���������������������������������������� =              × ���������������������������������������� ���������������� ����������������������������
                                                              ����������������




       f. Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang

           sejenis atau homogen, terdiri dari 4 langkah : yaitu: Unit level activity

           costing, Batch related activity costing, product sustaining activity

           costing,facility sustaining activity costing. Level tersebut dapat

           dijelaskan sebagai berikut:

           1. Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities) Aktivitas ini

              dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit

              bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai contoh,

              menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan, karena tenaga

              tersebut cenderung dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah

              unit yang diproduksi.

           2. Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities) Aktivitas

              dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan berapa unit




                                                                                                                         54
            yang ada pada batch tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti membuat

            order produksi dan pengaturan pengiriman konsumen adalah

            aktivitas berlevel batch.

         3. Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities) Aktivitas

            berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya

            dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau unit yang

            diproduksi atau dijual. Sebagai contoh merancang produk atau

            mengiklankan produk.

         4. Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities) Aktivitas

            berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasi

            perusahaan    namun     banyak   sedikitnya   aktivitas   ini   tidak

            berhubungan dengan volume. Aktivitas ini dimanfaatkan secara

            bersama oleh berbagai jenis produk yang berbeda. Kategori ini

            termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor, penyediaan jaringan

            komputer dan sebagainya.

     g. Menghitung rata-rata indirect cost yang actual

     h. Menghitung Biaya Produksi dengan Menambahkan Biaya Langsung

        dengan Biaya Tidak Langsung

     i. Perbandingan Perhitungan Biaya Produksi Antara Activity-Based

        Costing dengan Akuntansi Tradisional

C. Populasi dan Sampel

D. Teknik Pengumpulan Data




                                                                              55
    Untuk       melengkapi       pembahasan     ini   penulis   menggunakan   metode

pengumpulan data, yaitu:

       Penelitian lapangan (filed research), dengan mengadakanpeneltian

lapangan ke objek penelitian PDAM Maros dengan menggunakan 2 tekik sebagai

berikut:

       a. Teknik       observsi     langsung,    yaitu   pengumpulan   data   melalui

             pengamatan langsung penulsi terhadap objek penelitian untuk

             menemukan hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan ini.

       b. Teknik komunikasi langsung, yaitu pengumpulan data dengan

             megadakan wawancara dengan orang-orang yang berhubungan lansung

             dengan data yang diperlukan penulis.



E. Definisi Operasional Variabel

F. Teknik Pengolahan Data

     1. Jenis Data

    Adapun teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

           a. Data kuantitatif

              Yaitu data yang berupa anga-angka, seperti semua biaya-biaya yang

              terdapat dalam perusahaan yaitu biaya produksi.

           b. Data Kualitatif

              Yaitu jenis data yang berbentuk informasi, baik yang berbentuk lisan

              maupun tulisan yang berperan sebagai pendukung bagi data yang




                                                                                  56
            dibutuhkan yang diperoleh dari pendapat pihak perusahaan maupun

            pihak yang mengetahui system ABC (Activity-Based Costing) serta

            berbagai macam literatur.

    1. Sumber Data

    Sedangkan sumber data dalam penelitian ini yaitu data sekunder, merupakan

data yang diperoleh berupa biaya-biaya produksi, formulir, struktur organisasi dan

dokumen lain yang berhubungan dengan masalah yang dibahas serta literature-

literatur yang dijadikan acuan oleh penulis.




                                                                               57
                                   BAB IV

                    GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN



A. Sejarah Singkat

     Pengelolaan usaha air minum di Kabupaten Maros, di mulai pada tahun

1987 berdasarkan instruksi Gubernur Kepala Daerah tingkat I Sulawesi Selatan

No. 539/3039/Serakda, tanggal 12 Oktober 1987 dan nama Badan Usaha

Pengelola Air Minum (BPAM) yang berada di bawah koordinasi Direktur Jendral

Karya Cipta Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia.

     Pada periode 1988 sampai 1989 dengan bantuan dana anggaran

pembangunan dan belanja Negara (APBN) dari pemerintah Perancis, mulailah

dilakukan pemasangan jaringan transmisi dan distribusi dalam wilayah Kabupaten

Maros. Selanjutnya pada tahun 1990 PDAM Kabupaten Maros yang berbeda di

bawah koordinasi Dirgen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Republik

Indonesia, mulai beroperasi (Trial Operation) dengan pelanggan yang masih

terbatas, hanya melayani dalam wilayah Kab. Maros.

     Dalam perkembangan selanjutnya sesuai dengan tuntuan keadaan dan

dikaitkan dengan Undang-Undangan No. 5 tahun 1994 tentang Pokok-pokok

pemerintahan di daerah untuk menjamin rfisiensi dan efektifitas Pengelolaan air

minum, maka berdasarkan surat keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik

Indonesia No. 72/KPTS/1993 tanggal 17 Februari 1993 Usaha pengelolaan Air di

Kabupaten Daerah Tkatkan K.II di Sulawesi zselatan yaitu: Tana Toraja, Mamuju,

Takalar, Selayar, dan Pinrang.




                                                                            58
     Hal ini dilakukan berdasarkan pada perauran Daerah No.7/Tahun 1993

tentag tujuan pendirian perusahaan ialah turut melaksanakn pembangunan Ekonmi

Daerah dan Nasional dalam rangka meningkatkan kesejatraan dan memenuhi

kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat sekaligus sebagai upaya peningkatan

Pendapatan Daerah serta memperluas lapangan kerja khususnya di Kabupaten

Maros.

B. Struktur Organisasi

     Dalam suatu perusahaan, adanya suatu organisasi yang tersusun rapid an

masing-masing bagian brjalan sesuai dengan fugsinya, merupakan salah satu

kunci keberhasilan suatu perusahaan, utnuk meraih sukses dalam usahanya.

Dengan demikian didalam suatu perusahaan diperlukan adanya struktur organisasi

yang baik untuk mengatur tugas dan tanggungjawab dari setiap bagian yang ada

pada suatu perusahaan.

     Demikain pula halnya pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)

Kabupaten Maros, telah memiliki struktur organisasi, yang dalam kegiatannya

menerapakan struktur organisasi lini dan staf. Pimpinan perushaan dalam

menjalankan tugasnya dibantu oleh sejumlah pejabat lini dan staf. Sebelum

diuraikan Struktur Organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten

Maros, terlebih dahulu akan dikemukakan mengenai pengertian organisasi.

     Suatu organisasi dibentuk atas tujuan tertentu menurut kepentinggannya,

oleh karena suatu organisasi yang baik harus jelas perbedaan setaiap fungsinya,

guna mencapai tujuan perusahaan. Berbagai kegiatan dari kebutuhan perusahaan

dapat dikerjakan apabila dilakukan oleh orang-orang yang secara teratur bekerja.




                                                                             59
Dalam suatu pembagian fungsi dan tanggungjwab antara satu departemen dengan

departemen lain. Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan mengenai struktur

organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Maros. Gambar

struktur organisasi dan selanjutnya akan dijelaskan mengenai uraian tgas dan

fungsi tiap-tiap bagian didlamnya sebagai berikut:

1. Kedudukan.

    a. Perusahaan Daerah adalah pelaksana pemerintah daerah di bidang

       pengelohan air minum pengelola air minum.

    b. Perusahaan daerah diselenggarakan atas azas ekonomi perusahaan dalam

       kesatuan system pembinaan ekonomi Indonesia berdasarkan Pancasila

       yang menjamin kelangsungan demokrasi yang berfungsi sebagai alat utnuk

       meningkatkan kesejatraan masyarakat.

    c. Perusahaan daerah dipimpin oleh seorang direktur utama dan bertanggung

       jawab kepada kepala daerah melalui Badan Pengawas.

2. Tujuan pokok

   Perusahaan Daerah mempunyai tugas melaksanakan sebagian urusan rumah

   tangga daerah dalam bidang pengelolaan air bersih.

3. Fungsi

   Untuk melaksanakn tugas sebagaimana tersebut dalam pasal 13, Perusahaan

   Daerah Air Minum (PDAM) mempunyai fungsi:

    a. Melaksanakan pelayanan umum/jasa kepada masyarakat konsumen dalam

       penyediaan air bersih.




                                                                          60
   b. Menyelenggarakan pemanfaatan umum yang dapat dirasakan oleh

          masyarakat.

   c. Memupuk pendapatan untuk biaya kelangsungan hidup perusahaan dan

          pembangunan daerah.

4. Susunan Organisasi

   Susunan organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terdiri atas :

   a. Unsur Pimpinan adalah Direksi yang terdiri dari:

         i.   Direktur Utama

     ii.      Direktur Bidang Administrsi dan Keuangan

    iii.      Direktur Bidang Teknik

   b. Unsur-unsur Staf Direktur BIdang terdiri:

         i.   Bagian Hubungan Langganan

     ii.      Bagian Keuangan

    iii.      Bagian Produksi dan Laboratorium

    iv.       Distribusi

     v.       Bagian Peralatan Teknik

    vi.       Bagian PErencanaan Teknik

   c. Unsur Pelakasana adalah:

    i.        Unit pelayanan

C. Deskripsi Jabatan

     Deskripsi jabatan berisi pembagian tugas-tugas dan wewenan fungsi-fungsi

dalam organisasi, dimana fungsi tersebut mempertanggungjawabkan tugas-

tugasnya kepada manajemen puncak.




                                                                          61
Adapun fungsi wewenang dan tanggung jawab masing-masing sebgai berikut:

1.   Direksi

     Direksi mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab:

     a. Memimpin perusahaan daerah sehri-hari berdasarkan kebijaksanaan

        umum yang digariskan oleh Kepala Daerah atau Badan Pengawas dengan

        mengikuti peraturan, tata tertib serta tata kerja yang sudah ditetapkan,

        memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

     b. Mengurus dan mengawasi kekayaan perusahaan daerah.

     c. Dengan persetujuan atau pemberian kuasa dari Buati/Badan Pengawas,

        direksi dapat melakukan hal-hal sebgai berikut :

         1. Mengadakan perjanjian-perjanjian atas nama Perusahaan Daerah

               untuk jangka waktu lebih dari 1 tahun.

         2. Mengadakan peminjaman

         3. Memperoleh        pemindahtanganan     atau    membebani   benda   tak

               bergerak.

         4. Mengadakan investasi baru.

         5. Mewakili Perusahaan Daerah di dalam maupun di luar pengadilan.

         6. Mengadakan tindakan-tindakan lain yang dianggap perlu.

     d. Mengusulkan tarif air minum kepada Kepala Daerah Badan Pengawas.

     e. Menyusun dan mengajukan rencana anggaran Perusahaan Daerah

        selambat-lambatnya 3 (tiga) sebelum tahun buku mulai berlaku untuk

        dimintakan persetujuan dari Bupati melalui Badan Pengawas.




                                                                               62
     f. Menyusun tambahan atau perubahan anggaran yang terjadi dalam tahun

        yang bersangkutan dan melaksanakannya setelah menpat persetujuan

        terlebih dahulu dari Bupati melalui Badan Pengawas.

     g. Setiap akhir tahun buku Direksi berkewajiban menyampaikan laporan

        keuangan kepada Bupati kepada Badan Pengawas selambat-lambatnya

        (tiga) bulan setelah tahun buku berakhir.

     h. Mengangkat dan memberhentikan pegawai perusahaan sesuai dengan

        peraturan kepegawaian perushaaan yang berlaku.

     i. Melaksanakan tugas-tugas yang lain yang diberikan oleh Bupati atau

        Badan Pengawas.

       Dalam melakasanakan tugasnya Direksi bertanggung jawab kepada Bupati

melalui Badan Pengawas.

2.   Direktur Utama

     Direktur Utama mempunyai, wewenang dan tanggung jawab:

     a. Merencanakan perusahaan daerah untuk jangka panjang mengawasi dan

        mengkoordinir kegiatan dalam bidang umum termasuk keuangan dan

        administarasi utnuk mencapai tujuan.

     b. Merumskan strategi Perusahan Daerah dan menjalankan kebijaksanaan

        operasi Perusahaan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan

        yang berlaku.

     c. Membina hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintahan, swasta

        maupun degan sesama Perusahaan Daera Air Minum (PDAM).




                                                                          63
     d. Memimpin perencanaan dan pelaksanaan kerja masing-masing satuan

        organisasi yang dibawahainya dalam rangka mencapai tujuan Perusahaan

        Daerah.

     e. Bertindak sebagai otorisator dalam anggaran Perushaan Daerah,

        menandatangani surat perintah, mengeluarkan uang, giro dan cheque.

     f. Menandatangani perjanjian dengan pihak ketiga.

     g. Menandatangani keputusan Direksi dan naskah dinas lain yang dianggap

        perlu Perusahaan Daerah.

     h. Menerima laporan dari bawsahan atau stafnya dan mengevaluasi laporan

        tersebut untuk bahan pengambilan keputusan.

     i. Melaksanakan tanggung jawab administrasi fungsional perusahaan daerah

        kepada Bupati.

     j. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Bupati.

     Direktur Utama dalam menjalankan tugasnya bertangung jawab kepada

     Bupati dan Badan Pengawas.

     Direktur Utama dibantu oleh:

     a. Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan.

     b. Direktur Bidang Teknik.

3.   Direktur Bidang Administrasi, Keuangan dan Umum

     Direktur Bidang Adminisrasi dan Keuangan mempunyai tugas:

     a. Memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan dibidang

        hubungan langganan, administrasi umum dan keuangan.




                                                                             64
     b. Merencanakan dan mengedalikan kegiatan pengadaan dan pengelolaan

        serta perlengakapan.

     c. Merencanakan dan mengendalikan, pendapatan dan belanja serta

        mengatur penggunaan kekayaan perusahaan.

     d. Mengawasi menyusun anggaran belanja/menetapkan besarnya modal

        kerja perusahaan, merumusakan dan menetapkan kebijaksanaan mengenai

        keuangan yang lebih efisien dan efektif.

     e. Membuat penilaian dan persetujuan semua pembelian untuk keperluan

        organisasi melalui atau tanpa melalui tender.

     f. Mengatur cara pelayanan sebaik-sebaiknya bagi masyarakat calon

        pelanggan maupun para pelanggan.

     g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direktur Utama.

       Dalam melaksanakan tugas Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan

bertanggung jawab kepada Direktur Utama.

       Dalam melaksanakan tugasnya Direktur Bidang Administrasi dan

Keuangan dibantu oleh:

1.   Bagian Hubungan Langganan

     Bagian Hubungan langganan mempunyai tugas:

     a. Mengkoordinir dan mengawasi kegiatan seksi pelayanan Langganan,

        seksi pemakaian Air dan Seksi Pemasaran, penerapan dan pengaduan.

     b. Menyelenggarakan pemasaran, penyuluhan dan pelayanan kepada calon

        pelanggan dan calon pelanggan.




                                                                            65
     c. Menyelenggarakan administrasi pemakaian air dan dan pengelolaan data

          pelanggan serta pelayanan pengaduan pelanggan.

     d. Mengkoordinir, mengawasi serta melaksanakn pelayanan pengaduan

          pelanggan.

     e. Melaksanakan dan menerapkan sanksi kepada pelanggan yang melanggar

          peraturan yang telah ditetapkan sesuai peraturan perusahaan.

     f. Mengawasi kelancaran dan kebenaran pencatatan meter dan sewaktu-

          waktu mengadakan peninjauan kepalapangan utnuk mendapatkan

          informasi dari pelanggan.

     g. Mengadakan koordinasi dengan bagia-bagian lain yang berkaitan dengan

          bidang tugasnya.

     h. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direksi.

          Bagian Hubungan Langganan dipimpin oleh seorang kapela bagian yang

dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan tanggungjwab kepada Direkutr

Bidang Administrasi dan Keuangan. Kabag Hubungan Langganan dibantu oleh:

1.   Seksi Pelayanan Langganan.

2.   Seksi Pemakaian Air.

3.   Seksi Pemasaran, penerangan dan pengaduan.

          Tipa-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal ini dipimpin oleh seorang

kepala seksi yang dalam melaksanakn tugasnya berada dibawah dan tanggung

jawab kepada Kepala Bagian Hubungan Langganan.

a.   Seksi Pelayanan Langganan mempunyai tugas:

     1.    Mencatat setiap permohonan sambungan baru dan calon pelanggan.




                                                                             66
     2. Mengerjakan administrasi pemasangan/ penyambungan baru, pemutusan

          dan penyambungan kembali saluran air minum langganan.

     3. Mencatat dan melaporkan data setiap perubahan wilayah, status, nama,

          alamat dan perubahan tarif lainnya.

     4. Melayani, mencatat setiap pelayanan pada terminal air, hidran umum dan

          pelayanan lainnya.

     5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Hubungan

          Langganan.

b.   Seksi Pemakaian Air Mempunyai tugas:

     1.    Melaksanakan pengendalian dan pengawasan pencatatan angka meter

           langganan.

     2. Menyusun jadwal dan rencana pencatatn meter perwilayah menurut jumlah

          petugas.

     3. Melaporkan semua keadaan meter yang tidak normal, keluhan konsumen

          dan kebocoran yang ditemukan serta pelanggaran lainnya.

     4. Mengadakan penelitian dan pengecekan secara langsung di lapangan dan

          memastikan kebenaran pembacaan meter serta sebab terjadinya penurunan

          dan kenaikan pemakaian air pelanggan.

     5. Mengerjakan laporan pemakaian air minum setia bulan.

     6. Mengerjakan      laporan    pemakaian     air   dalam   dalam   hal   terjadi

          ketidakwajaran pemakaian air langganan dan meneruskannya kepada

          pengelola rekening.




                                                                                  67
     7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagin Hubungan

       Langganan.

c.   Seksi Pemasaran, Peneranagan dan Pengaduan mempunyai tugas:

     1. Melakasanakan usahan pemasaran (peningkatan) jumlah pelanggan air

       minum serta meningkatkan kesadaran langganan dalam memenuhi

       kewajibannya membayar air minum.

     2. Melayani pengaduan dari langganan baik masalah administrasi maupun

       teknik.

     3. Mengundang atau memberitahukan kepada pelanggan yang diketahui

       melakukan pelanggaran dan memproses sesuai dengan ketentuan yang

       berlaku.

     4. Mengadakan pemeriksaan ke persil langganan untuk kepentingan

       perusahaan daerah.

     5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Hubungan

       Langganan.

d.   Bagian Umum

     Bagian umum mempunyai tugas:

     1. Merenacanakan, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan tugas dan

       seksi perbekalan dan perawatan, seksi gufang, seksi kepegawaian.

     2. Menyelangaran    kegiatan-kegiataan   dibidang    administrasi    umum,

       kerumahtanggan serta perlangkapan kantor.




                                                                             68
3. Mengkoordinir, memeriksa, merawat, memperbaiki dan memelihara serta

  mengatur dan mengawasi penggunaan kendaraan dinas sesuai dengan

  kebijkasanaan yang telah ditetapkan.

4. Melakasanakan pengadaan/pembeliaan barang /material dan jasa yang

  diperlukan perusahaan.

5. Mengadakan usaha pemeliharaan dan pengawasan peralatan dan

   bangunan kantor.

6. Mengendalikan semua barang dan peralatan yang menjadi milik

  perusahaan daerah sesuia dengan kebutuhannya.

7. Menyimpan dan mendistribusikan tiap jenis barang kepada semua unit

  kerja sesuai dengan keperluannya setelah mendapat pengesahan.

8. Meneliti, mempelajari dan melaksanakan petunjuk perundang-undnagan

  yang ada sesuai dengan kondisi perusahaan berdasarkan peraturan yang

  berlaku.

9. Mengadakan    inventarisasi   barang/peralatan     yang     menjadi   milik

  perusahaan sesuai ketentuan yang berlaku untuk bahan pertanggung

  jawaban perusahaan daerah.

10. Mengkoordinir/mengurus       pelaksanakan       asuransi    barang-barang

   inventarisasi perusahaan.

11. Mengadakan koordinasi dengan bagian-bagian lain yang yang berkaitan

   dengan bagiannya tugasnya.

12. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direksi.




                                                                           69
     Bagian umum didampingi oleh seorang kepala bagian yang dalam

melaksanakan tugasnya dibantu oleh beberapa seksi dan bertanggung jawab

kepada Direkutr Bidang Administrasi dan Keuangan.

    Kepala Bagian Umum dibantu oleh:

    a. Seksi Perbeakalan dajn Perawatan.

    b. Seksi gudang

    c. Seksi Kepegawaian.

     Tiap-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal ini dipimpin oleh seorang kepala

siksi yang didalam melaksanakn tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab

keapada Kepala Bgian Umum.

    a.   Seksi Perbekalan dan Perawatan mempunyai tugas:

         1.   Merencanakan pengadaan barang dan jasa yang diperlukan dengan

              memperhatikan jumlah, harga, mutu, jenis dan ketepatan waktu.

         2.   Menampung dan melayani penerimaan barang dari unit-unit kerja

              operasional sesuai dana yang tersedia.

         3.   Mempersiapkan dan mengikuti pelaksanaan proses pembelian dan

              jasa berdasarkan ketentuan yang berlaku.

         4.   Melaksanakn    pembelian    barang       yang   lebih   menguntungkan

              perusahaan sesuai dengan tata cara dan peraturan yang berlaku.

         5.   Mengkoordinir dan mengawasi perawatan/penggunaan dari seluruh

              bangunan, ruangan halaman, taman-taman dan perlengkapan kantor

              serta kendaraan dinas.




                                                                                 70
  6.   Menyelengarakan investasi dan mengurus barang-arang inventaris

       milik perusahaan dareah.

  7.   Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala             Bagian

       Umum.

b. Seksi gudang mempunyai tugas:

  1.   Meneliti menyimpan dan memelihara barang persediaan dan

       mengeluarkannya dari gudang sesuai dengan bukti yang sah.

  2.   Menghimpun semua bukti penerimaan barang persediaan yang

       meliputi pipa besar, pipa kecil dan meter.

  3.   Membukukan setiap peneriman dan pengeluaran barang dalm kartu

       kimia perusahaan daerah.

  4.   Menghimpun semua bon pengeluaran/pemakaian barang persediaan.

  5.   Membuat laporan bulanan secara periodik sesuai dengan kebutuhan.

  6.   Melakukan stock opname barang persediaan di gudang setiap tiga

       kali bulan sekali.

  7.   Melaksanakan tugas lain diberikan oleh Kepala Bagian Umum.

c. Seksi Kepegawaaian mempunyai tugas:

   1. Mengurus       adminsitrasi   kepegawaian     yang   meliputi     usul

       kepankgatan, kenaikan pankgat, mutasi, promsi, peberhentian,

       pension dan konduite.

   2. Mempersiapakn dan menyusun syarat-syarat dan kwalifkasi calon

       pegawai yang dibutuhkan.




                                                                          71
           3. Menyusun rencana pendidikan dan latihan pengembangan karier

              pegawai.

           4. Menegakkan taat tertib dan dispilin pegawai.

           5. Mengusulkan       pemberian   hukuman   terhadap   pegawai     yang

              melanggar disiplin kepegawaian dan pemberian pengahargaaan

              kepada pegawai yang berprestasi/berjasa terhadap perusahaan.

           6. Meyusun/memeriksa daftar gaji dan tunjangan asuransi pegawai baik

              perorangan maupun atas nama perusahaan.

           7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Umum.

4.   Bagian Keuangan

     Bagian keuangan mempunyai tugas;

      a.   Merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi tugas dari Perencanaan

           Keuangan, Seksi Pembukuan, Seksi Kas, Seksi penagihan dan rekening.

      b.   Merencanakan, mengendalikan pendapatan dan pembelanjaan serta

           kekayaan perusahaan.

      c.   Merencanakan, mengusahakan dan mengawasi kelancaran penagihan,

           piutang langganan.

      d.   Menyelenggarakan penyusunan anggaran, meneliti dan mengevaluasi

           penerimaan dan pengeluaran anggaran perusahaan.

      e.   Menyusun rencana Cash Flow dan Cash Budget.

      f.   Mempersiapakan dan merencanakan program penyesuian sesuai dengan

           prinsip yang berlaku dan pelaksanaan penyusunan laporan keuangan.




                                                                               72
     g.   Mengendalikan pelaksanaan akuntansi perusahaan sesuai dengan

          prinsip yang berlaku dan pekaksanaan penyusunuan laporan keuangan.

     h.   Melakukan pemeriksaan kas dan pembukuan perusahaan setiap bulan

          sekali atau sewaktu-waktu diperlukan dan mencocokkan kebenaran

          saldo buku bank perusahaan dengan rekening Koran bank.

     i.   Mengadakan koordinasi dengan bagian lain sesuai dengan bidang

          tugasnya.

     j.   Melaksanakan tugas-tugas lailain yang diberikan oleh Direktur Bidang

          Administrasi dan Keuangan.

     Bagian keuangan dipimpin oleh seorang Kepala Bagian Keuangan yang

dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada

Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan. Dalam melaksanakan tugas Kepala

Bagian Keuangan dibantu oleh:

     a. Seksi Perenacanaan Keuangan.

     b. Seksi Pembukuan dan Pelaporan.

     c. Seksi Kas.

     d. Seksi Penagihan dan Rekening.

     Tiap-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal ini dipimpin oleh seorang Kepala

Saksi yang dalam melasanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab

kepada Kepala Bagian Keuangan.

     a. Seksi Perencanaan Keuangan mempunyai tugas.

          1.   Membantu Kepala Bagian Keuangan dalam bidang tugasnya.




                                                                               73
   2.    Menyusun rencana anggaran perusahaan berdasarkan daftar usulan

         anggaran dari masing-masing bagian secara sistematis setiap tahun.

   3.    Mencatat realisasi anggaran menurut mata anggaran yang terjadi

         setiap saat.

   4.    Membuat laporan secara periodik seperti bulanan/triwulan/tahunan

         mengenai realisasi anggaran dan perubahan anggaran.

   5.    Secara berkala mengadakan perkirann dan analisis terhadap

         penerimaan dan pengeluaran kas.

   6.    Mempersiapakan dan mengusulkan kemungkinan perubahan

         anggaran.

   7.    Mengadakan koordinasi dengan seksisesi lain yang berkaitan

         dengan tugasnya.

   8.    Seksi perencanaan keuangan dikepalai oleh seorang kepala seksi

         yang dalam melaksnakan tugasnya berada              dibawah dan

         bertanggung jawab kepada kepala bagian keuangan.

   9.    Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian

         keuangan.

b. Seksi Pembukuan mempunyai tugas:

   1. Melaksanakan pekerjaan akuntansi perusahaan sesuai prinsip yang

        berlaku meliputi pencatatan pada buku harian, buku besar, buku

        bank, buku piutang, buku hutang, dan buku lain yang berkaitan

        dengan akuntansi daerah.

   2. Menyiapkan nerca perhitungan rugi/laba perusahaan daerah.




                                                                         74
   3. Menyusun laporan dan laporan tahunan perusahaan.

   4. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian

      keuangan.

c. Seksi Kas mempunyai tugas:

   1. Mengerjakan Buku Kas Harian yang berdasarkan bukti-bukti

      penerimaan dan pengeluaran yang sah.

   2. Membuka dan menutup kas register setiap hari untuk pengamanan

      penerimaan dan pengeluaran perusahaan daerah.

   3. Menyusun      bukti-bukti   penerimaan    dan   pengeluaran   sebgai

      pendukung kas harian.

   4. Menerima hasil setoran tagiahan rekening air/non air dan

      penerimaan.

   5. Melakukan pembayaran baik jasa maupun barang kepada pihak

      ketiga serta pembayaran kebutuhan lainnya sesuai dengan bukti-

      bukti pengeluaran sah.

   6. Melaksanakan penyetoran seluruh hasil penerimaan setiap hari ke

      bank dan menyimpan setiap bukti setoran bank.

   7. Membuat laporan posisi kas setiap hari.

   8. Melaksanakan bukti cek dan giro yang belum/sudah ditandatangani

      oleh direktur utama dan menyimpan surat-surat berharga lainnya.

   9. Melayani pemeriksaan dengan sebaik-baiknya, baik yang dilakukan

      pihak intern maupun ekstern.




                                                                        75
   10. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian

      keuangan.

d. Seksi Penagihan Rekening mempunyai tugas:

   1. Membantu kepala bagian keuangan dalam bidang tugasnya.

   2. Menerima rekening air dan non air dari kepala nagian keuangan

      untuk dipersiapakan penagihannya.

   3. Menyerahkan      dan      membagikan     rekening    air      kepada

      penanggungjwab wilayah serta pelaksanaanya.

   4. Memberikan bimbingan dan pengarahan secara berkala kepada

      penagih dan para petugas loket mengenai tata cara penagihan efektif

      kepada langganan.

   5. Melakukan peninjauan langsung kelapangan apabila diperlukan, jika

      terjadi hambatan dalam pelakasanaan penagihan, serta mengambil

      langkah-langkah penagihan.

   6. Melaksanakan administarasi penagihan secara baik dan teratur

      sehingga memudahkan untuk mengetahui aktifitas penagihan.

   7. Menampung permasalahan dan saran dari penagih dan petugas loket

      sehubungan     dengan     pelaksanaan    tugas   dilapangan     dan

      mengusahakan jalan keluar untuk pemecahannya.

   8. Mengadakan koordinasi dengan seksi-seksi lain yang berkaitan

      dengan bidang tugasnya.

   9. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian

      keuangan.




                                                                        76
5.   Direktur Bidang Teknik

     a. Mengkoodirnasikan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan dibidang

        produksi, distribusi, perlatan dan perencanaan.

     b. Mengkoordinasi dan mengendalikan air baku serta sumber lainnya,

        instansi produksi dan system distribusi.

     c. Mengkoodirnasi kegiatan-kegiatan pengujian peralatan teknik dan bahan-

        bahan kimia.

     d. Mengadakan kerja sama dengan Direktur Bidang Administrasi dan

        Keuangan dalam mengatur, mengawasi penyediaan fasilitas dan material

        yang dibutuhkan untuk melancarkan kegiatan dalam bidang operasional.

     e. Merumuskan dan menetapkan kebijaksanaan mengenai peningkatan hasil

        produksi.

     f. Memelihara hubungan baik antra isntasni serta pihak lain yang mewakili

        Perusahaan Daerah keluar dengan sepengetahuan Direkutur Utama.

     g. Mengatur car pelayanan yang sebaik-baiknya bak masyarakat calon

        pelanggan maupun para pelanggan.

       Dalam melaksanakan tugas Direktur Bidang Teknik bertanggung jawab

kepada Direktur Utama. Dalam melakasanakan tugasnya Direktur Bidang Teknik

dibantu oleh:

A. Bagian Produksi dan Laboratorium.

     1. Merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan tugas dan

       seksi instansi dan seksi laboratorium.




                                                                           77
     2. Mengendalikan kwalitas dan kualitas produksi air minum termasuk

          penyusunan rencana kebutuhan material kebutuhan material produksi.

     3. Mengkoodinir dan melakukan kegiatan-kegiatan pengujian peralatan

          produksi dan bahan kimia yang dipergunakan.

     4. Mengendalikan pemeliharaan instansi dan perlatan produksi.

     5. Mengendalikan kegiatan pengujian perlatan produksi dan bahan kimia

          yang dipergunakan.

     6. Mengadakan penyediaan bahan kimia, ketenagaan dan mengontrol kualitas

          labotatorium.

     7. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Direksi.

      Bagian produksi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang Teknik. Dalam

melaksanakan tugas kepala bagian keuangan dibantu oleh:

     a.    Seksi Perencanaan Keuangan

     b.    Seksi Pembukuan dan Pelaporan

      Tiap-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal inidipimpin oleh seorang Kepala

Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab

kepada Kepala Bagian Produksi.

a.   Seksi Instalasi

     Seksi instalasi mempunyai tugas:

     1.    Mengendalikan mesin/listrik dalam proses produski air brsih.

     2.    Membuat laporan tentang debit air baku, air brsih dan kondisi mesin

           instalasi.

     3.    Mengurus dan merawat barang inventaris/perlengkapan kantor instalasi.




                                                                               78
     4. Melakukan pemantauan dan pemeliharaan saluran transmisi air baku dari

          bendungan/intake instalasi produksi.

     5. Melakukan pemantauan dan pemeliharaan perlatan unit-unit produksi

          untuk kelancaran proses produksi.

     6. Menerima, mencatat, menyampaikan serta menyimpan surat-surat masuk

          serta keluar.

     7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian produksi dan

          laboratorium.

b.   Seksi Laboratorium

     Seksi laboratorium mempunyai tugas:

     1. Melaksanakan penelitian laboratorium secara terus menerus (periodic)

          terhadap kualitas air.

     2. Menentukan dan mengawasi dosis penggunaan bahan kimia untuk masing-

          masing jenis berdasarkan tingkat kualitas air.

     3.    Melaksanakan pengendalian kuliatas air bersih yang ada pada jaringan

          distribusi.

     4. Mengadakan penelitian laboratorium kualitas air bersih dan instalasi serta

          membantu penelitian laboratorium lualitas air bagi masyarakat.

     5. Mengendalikan dan menyusun rencana kebutuhan/penggunaan bahan baku

          utnuk pengelolahan air bersih.

     6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala bagian produksi dan

          laboratorium.

B. Bagian Distribusi




                                                                               79
     Bagian distribusi mempunyai tugas:

     1. Mengkoordinir dan megawasi pelaksanaan tugas dari seksi pemeliharaan

        dari pelayanan gangguan seksi pemasangan instalsi langganan.

     2. Menyelenggarakan dan mengawasi pengaturan supply air pemasangan

       jaringan pipa distribusi alat bantunya terus menerus.

     3. Mengadakan pemeriksaan dan menaggulangi gangguan yang terjadi

        terhadap pelayanan langganan.

     4. Mengendalikan     dan memeriksa pemasangan pipa instalasi dan alat

        bantunya serta meter air baik yang dilakasnakn oleh Perusahaan Daerah

        Air Minum (PDAM) sendiri maupun oleh instalatur.

     5. Melaksanakan pemeliharaan pipa distribusi dalam rangka pembagian air

        minum secafra merata dan terus menerus serta ngatasi gangguana

        kelancaran air minum termasuk menyusun rencana material untuk

        distribusi.

     6. Melaksanakan system administrasi teknik baik untuk pemakainan material

        maupun pelaporannya, begitu pula operasaionalnya pelaksanaanya

        terhadapa semua kegiatan lapangan.

     7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh direktur bidang teknik.

      Bagian Distribusi dipimpin oleh seorang Kepala Bagian yang dalam

melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur

Bidang teknik. Bagian Distribusi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh:

a.   Seksi Pemeliharaan dan Pelayanan Gangguan

b.   Seksi Pemasangan Instalasi Langganan.




                                                                              80
      Tiap-tiap seksi tersebut pada ayat (3) pasal ini dipimpin oleh seorang kepala

seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab

kepala Bagian Teknik.

a.   Seksi Pemeliharaan dan Pelayanan Gangguan.

     Seksi Pemeliharaan dan Pelayanan Gangguan mempunyai tugas:

     1. Memeliahara jaringan pipa dan peralatannya serta perlengkapan

        distribusinya.

     2. Mengatur system operasi pemeliharaan/control terhadap jaringan pipa

        distribusi secara rutin.

     3. Melakasanakan penaggulangan kebocoran/kerusakan.

     4. Melaksanakan pemeliharaan, perbaikan dan pengawasan terhadap

        gangguan kelancaran aliran air.

     5. Melakukan pengecekan kelapangan tempat terjadinya gangguan distribusi

        dan melaksanakan perbaikan jaringan pipa yang mengalami gangguan.

     6. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian distribusi.

b.   Seksi Pemasangan Instalasi Langganan.

     Seksi pemasangan instalasi langganan mempunyai tugas:

     1. Membantu kepala bagia distribusi dalam bidang tugasnya.

     2. Melaksanakan pengawasan, penelitian dan pemeriksaan terhadap kondisi

        pipa instalasi/pipa dinas dan meter air.

     3. Mengatur dan mengawasi pelaksanaan pemasangan, penggantian dan

        pencabutan meter air serta menginventarisir data-data yang diperlukan




                                                                                81
       berupa angka meter, diameter, nomor meter, merk dan sebagainya

       dikaitkan dengan kartu meter.

   4. Mengadakan pengawasan dan pemeriksaan terhadap kondisi meter air

       yang berubah, diganti dan dirusak oleh pelanggan.

   5. Melaksanakan dan mengawasi kegiatan pemasangan instalasi langgan

       baru baik yang dilaksanakan oleh Perusahan Daera Air Minum (PDAM)

       sendiri maupun oleh instalutur.

   6. Menginventarisir     data    langgan    yang     telah   direalsikan   dan

       mgnkoordiansikan denga bagian yang terkait.

   7. Melaksanakan tugas lain yang yang diberikan oleh kepala bagian

       distribusi.

C. Bagian Peralatan Teknik

   Bagian Peralatan teknik mempunyai tugas:

   1. Merencanakan, mengkoordnir dan megawasi pelaksanaan tugas dan seksi

       bengkel dan pengendalian peralatan serta seksi perawatan dan

       pemeliharaan.

   2. Meyusun rencana kebutuhan penggunaan perawatan peralatan teknik yang

       meliputi segala perlatan teknik produksi dan ditribusi air minum.

   3. Menyelenggarakan dan mengawasi kegiatan perbaikan serta pemeriksaan

       dan pengujian dari peralatan teknik yang digunakan.

   4. Melakansakan administrasi penerimaan pengeluaran barang-barang

       perlengkapan dan alat-alat kerja serta mesinmesin lainnya sesuai degan

       kebutuhan.




                                                                              82
    5. Merencanakan        dan   melaksanakan    kegiatan-kegiatan   pemeliharaan

        /perbaikan untuk semua peratalatan teknik baik yang bergerak maupun

        tidak bergerak.

    6. Megadakan koordniasi dengan bagia-bagian yang berkaitan dengan

        nidang tugasnya.

    7. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh direktur bidang teknik.

     Bagian peralatan teknik dipimpin oleh seorang kepala bagian yang dalam

melaksanakn tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada direktur

bidang teknik. Dalam melaksnaakan tugasnya kepala Bagian Peralatan Teknik

dibantu oleh:

a. Seksi Bengkel dan Pengendalian Perawatan mempunyai tugas:

   1. Membantu kepala bagian peralatan teknik dalam bidang tugasnya.

   2. Mempersiapakan dan mengamankan perlatan kerja mesin-mesin dan suku

       cadangnya untuk pemeliharaan/perbaikan sesuai kebutuhan dangan

       memperhatikan kuantitas dan kualitas.

   3. Mempersiapkan dan memliahra mengamankan perltan dan mesin-meisn

       pengujian.

   4. Mempersiapkan dan mengajukan kebutuhan barang-barang perlengkapan

       peralatan teknik dengan sebaik-baiknya.

   5. Melaksanakan admisntarsi pemerimaan pengeluaran barang perlengkapan

       dan alat-alat sesuai dengan kebutuhan yang berlaku.




                                                                                83
   6. Melaksanakan kegiatan perakitan, pengujian terhadap meter air yang

       pernah terpasang ataupun yang akan dipasang untuk mendapatkan

       ketelitian yang diharapakan.

   7. Mengadakan koordinasi degan seksi-seksi lain yang berkaitan dengan

       bidang tugasnya.

   8. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Distribusi.

b. Seksi Perawatan dan Pemeliharaan

   Seksi perawatan dan pemeliharaan mempunyai tugas:

   1. Menginventarisir seluruh peralatan teknik yang ada di perusahaan.

   2. Merencanakan penjadwalan kegiatan dan           melaksnakan perawatan

       pemeliharaan elektrik dan mekanik.

   3. Membuat dan melaksanakan kartu peralatan pemeliharaan untuk peralatan

       yang dioperasiakan.

   4. Mengawasi, memonitor kegiatan secara rutin terhadap system kerja dari

       mesin-meisn dan alat-alat teknik lainnya.

D. Proses Produksi

       Produksi adalah suatu proses atau kegiatan menghasilkan suatu produk di

mana kegiatan tersebut adalah kegiatan mengolah atau mendayagunakan bahan

baku menjadi barang jadi yang dapat dimanfaatkan untuk selanjutnya

distribusikan kepada konsumen sesuai kebutuhan melalui transmisi dan distribusi

air menurut pembagian wilayah yang ada.

       Proses pengolahan transmisi dan dsitrubusi air pada PDAM Maros sebagai

berikut:




                                                                              84
   1. Bahan Baku

       a. Biaya Bahan Kimia

   2. Proses Pembuatan

       Sumber air baku PDAM Kab. Maros ada 2 lokasi pengambilan air baku

    yaitu, sungai bantimurung.

       Insatalasi pengolahan I Bantimurung kapasitas air 80 liter/dtk diambil dari

    dari sungai bantimurung dengan sistim pompanisasi, pompa yang digunakan

    yaitu pompa jenis Summer Sible (intake pump). Pompa tersebut menyuplai air

    baku ke media pengolahan.

       Sebelum air bahan baku diolah dilakukan deteksi dengan bahan kimia

    (tawas) dengan memakai pompa doshing (pompa doshing) dan diaduk

    melalui pengaduk (flash mixing) cepat di dalam pipa, dilanjutkan ke bak

    flokulator, guna pembentukan flok yang diinginkan kemedia air masuk ke bak

    sedimentasi terus masuk ke media filterisasi (filter) dan terakhir masuk ke bak

    reservoir kemudian di pompa ke pipa distribusi untuk dialirkan ke konsumen

    (pelanggan) PDAM Kab. Maros.

E. Perhitungan Biaya Produksi pada PDAM Maros

     Selama ini PDAM dalam menghitung biaya produksi masih menggunakan

sistem akuntansi tradisional dengan menggunakan volume produksi sebagai dasar

alokasi. Unsur-unsur yang membentuk biaya produksi terdiri dari biaya langsung

dan biaya tidak langsung .

1. Biaya Langsung

   1. Biaya Listrik Aktual




                                                                                85
   2. Biaya Bahan Bakar Aktual

   3. Biaya Penyusutan Aktual

   4. Biaya Tenaga Kerja Aktual

   5. Biaya Pemeliharan Aktual

   6. Biaya Bahan Kimia Aktual

   7. Biaya Lain-lain Aktual

      Jumlah biaya langsung yang terdapat pada PDAM Kab. Maros dapat dilihat

pada tabel 4.1 berikut ini.

                        Daftar Biaya Langsung yang Aktual

                                 PDAM Kab. Maros

                                       Tahun 2010

                    1   Biaya listrik           Rp. 1.221.421.160


                    2   Biaya Bahan Bakar       Rp. 174.333.984


                    3   Biaya Penyusutan        Rp. 1.545.025.738


                    4   Biaya Pegawai           Rp. 1.545.025.738


                    5   Biaya Pemeliharaan      Rp. 206.303.780


                    6   Biaya Bahan Kimia       Rp. 539.932.250


                    7   Biaya Lain-lain         Rp. 104.706.690


                              Jumlah            Rp. 5.026.518.218


Sumber: PDAM Kab. Maros, data telah diolah




                                                                         86
2. Biaya Tidak Langsung (Biaya Overhead)

      Jumlah biaya tida langsung yang terdapat pada PDAM Kab. Maros dapat

kita lihat 4.2 di bawah ini.



                                        Tabel 4.2

                        Daftar Overhead Pabrik yang Aktual

                                 PDAM Kab. Maros

                                       Tahun 2010



                1    Biaya Pegawai                   Rp2.264.606.653


                2    Biaya Bunga                     Rp1.721.732.957


                3    Biaya Penyusutan Aktiva Tetap    Rp132.362.446


                4    Biaya Penyisihan Piutang         Rp200.135.800


                5    Baiya Lain-lain                 Rp1.560.910.510


                               Jumlah                Rp5.879.748.365


                    Sumber: PDAM Kab. Maros, data telah diolah




                                                                       87
F. Perhitungan Harga Pokok Produksi Perusahaan




                                                 88
                            PDAM KAB. MAROS
                          HPP (Harga Pokok Produksi)
                                 Tahun 2010
Biaya Usaha (B. Langsung)
                     1 Biaya listrik                         Rp1.221.421.160
                     2 Biaya Bahan Bakar                      Rp174.333.984
                     3 Biaya Penyusutan                      Rp1.545.025.738
                     4 Biaya Pegawai                         Rp1.234.794.616
                     5 Biaya Pemeliharaan                     Rp206.303.780
                     6 Biaya Bahan Kimia                      Rp539.932.250
                     7 Biaya Lain-lain                        Rp104.706.690
                                    Jumlah                   Rp5.026.518.218

Biaya Umum dan Admnistrasi (B. Tdk Langsung)
                 1      Biaya Pegawai                          Rp2.264.606.653
                 2      Biaya Bunga                            Rp1.721.732.957
                 3      Biaya Penyusutan Aktiva Tetap           Rp132.362.446
                 4      Biaya Penyisihan Piutang                Rp200.135.800
                 5      Baiya Lain-lain                        Rp1.560.910.510
                                   Jumlah                      Rp5.879.748.365
Jumlah Biaya                                                  Rp10.906.266.583
Harga Pokok Air
                 Jumlah                             =
       Jumlah Produksi- Kebocoran
       Rp10.906.266.583                    =         Rp 2.965/M3
          Rp3.678.646



                                     BAB V

                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Penerapan Activity-Based Costing System dalam Biaya Produksi.

     PDAM Kab. Maros dalam proses produksinya telah mengklasifikasikan

biaya menjadi 3 bagian. Namun sampai saat ini produk yang di produksi hanya air

bersih untuk masyarakat Maros dan sekitarnya.

1. Biaya Bahan Baku (Material Cost)




                                                                                 89
     Bahan baku merupakan unsur penting yang digunakan dalam proses produksi

     yang diubah menjadi produk jadi dengan tambahan biaya overhead dan

     tenaga kerja. Biaya bahan yang terdapat pada PDAM Kab. Maros terdiri dari :

     Bahan baku kimia (Tawas dan Kaporit dan lain-lainnya)

2.   Biaya Tenaga Kerja (Labour Cost)

     Biaya tenaga kerja terdiri dari 2 jenis biaya yaitu:

     a. Biaya tenaga kerja langsung (direct labour) yaitu semua biaya tenaga kerja

        yang secara langsung berkaitan dengan produksi barang jadi, yang dapat

        dengan mudah ditelusuri ke produknya.

     b. Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labour) yaitu semua biaya

        tenaga kerja yang terlibat dalam memproduksi suatu produk yang bukan

        merupakan tenaga kerja langsung.

3.   Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost)

         Biaya overhead pabrik yaitu semua biaya yang dikeluarkan dalam proses

produksi suatu produk selain biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja

langsung.

B. Mengidentifikasi Aktifitas

       Berikut ini beberapa aktivitas yang berhubungan dengan proses produksi

yang dilakukan oleh PDAM Kab. Maros adalah sebagai berikut :

                  Aktivitas                         Cost Driver
            Penanganan Bahan           Jam mesin, Volume, & jumlah pegawai
            Pengolahan                 Jam mesin & Jumlah pegawai
            Transmisi dan Distribusi   Volume & Jumlah Pegawai
            Pemeliharaan               Jumlah Pemeliharaan
            Pengembangan Produk        Jumlamlah pengembangan Produk

C. Mengidentifikasi Biaya Langsung




                                                                               90
      PDAM Kab. Maros memiliki biaya langsung yang dianggarkan sebagai

berikut :

    1. Biaya Bahan dianggarakan

    2. Biaya Tenaga Kerja dianggarkan

    3. Biaya Pemeliharan dianggarkan

    4. Biaya Bahan Kimia dianggarkan

    5. Biaya Lain-lain dianggarkan

        Berikut ini jumlah biaya langsung dianggarakan yang terdapat pada

PDAM Kab. Maros dapat dilihat pada table 5.1 berikut ini.

                                  Tabel 5.1
                      Biaya Langsung PDAM Kab. Maros
                                 Tahun 2010




D. Mengidentifikasi    Biaya Tidak      Langsung     (Biaya Overhead)    yang

    Berhubungan dengan Aktivitas.

        Biaya overhead yang terdapat pada PDAM Kab. Dapat dilihat pada table

5.2 berikut ini :

                                      Tabel 5.2
                    Daftar Biaya Overhead Pabrik yang Dianggarkan
                                  PDAM Kab. Maros
                                     Tahun 2010




                                                                               91
 No                      Jenis Biaya                      Biaya                Cost Driver
   1   Biaya Bahan Bakar di operasi sumber              174.333.984  Aktivitas Penanganan Bahan
   2   Rupa-rupa by operasi sumber                        1.588.500  Aktivitas Penanganan Bahan
   3   Biaya Listrik di operasi sumber                1.221.421.160  Aktivitas Penanganan Bahan
   4   Biaya Sewa Reservoar di pengelohan                89.512.500      aktivitas pengolahan
   5   Rupa-rupa by operasi pengelohan                    1.263.500      aktivitas pengolahan
   6   Biaya bahan dan pelrengkapan di distribusi         2.368.500      Aktivitas Trans & Dist
   7   Rupa-rupa by operasi transdist                       315.200      Aktivitas Trans & Dist
   8   Biaya Pemeliharaan Sumber                        154.296.090     Aktivitas Pemeliharaan
   9   Biaya Pemeliharaan Pengolahan                     11.152.500     Aktivitas Pemeliharaan
  10   Biaya Pemeliharaan Transdist                      50.513.680     Aktivitas Pemeliharaan
  11   Biaya Penyusutan TransDist                       806.416.692     Aktivitas Pemeliharaan
  12   Biaya Penyusutan Sumber                          273.922.509     Aktivitas Pemeliharaan
  13   Biaya Penyusutan Pengelohan                      464.686.537     Aktivitas Pemeliharaan
  14   Biaya Penelitian Dan Pengembagan Produk            9.500.000 Aktivitas Pengembagan Produk
                   Total Biaya Overhead               3.128.807.517

E. Mengengedentifikasi Cost Driver

        Cost driver merupakan suatu tolak ukur dari frekuensi dan intensitas dari

permintaan yang ditempatkan pada aktivitas oleh objek biaya (cost object).

        Cost driver dari tiap aktivitas yang terdapat pada PDAM Kab. Maros dapat

kita lihat pada table 5.4 berikut ini.

                                          Tabel 5.4
                         Daftar Aktivitas Cost Driver Tiap Aktivitas
                                           PDAM
                                         Tahun 2011

                                          Jam Mesin Volume Jumlah Pegawai
                      Aktivitas
                                            (jam)     (M3)     (orang)
              Penanganan Bahan              8.760   2.110.518    26
              Pengolahan                    8.760                12
              Transmisi dan Distribusi         -    1.987.276    12
              Pemeliharaan
                      Jumlah                 17.520      4.097.794        50

F. Menentukan Tarif per unit Cost Driver




                                                                                       92
       Setelah mengidentifikasi cist driver kemudian menentukan tariff per unit

cost driver. Karena setiap aktivitasnya memiliki cost driver dengan cara membagi

jumlah biaya dengan cost driver. Menurut Hansen and Mowen (1999;134) terif

per unit cost driver dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut:

                                         Tabel 5.4

                  Daftar Aktivitas dan cost driver tiap Aktivitas

                                  PDAM Kab. Maros

                                     Tahun 2010




       No            Aktivitas                          Cost Driver
        1     Penanganan Bahan             Jam mesin, Volume & jumlah pegawai
        2     Pengolahan                   Jam mesin & Jumlah pegawai
        3     Transmisi dan Distribusi     Volume & Jumlah Pegawai
        4     Pemeliharaan                 Jumlah Pemeliharaan
        5     Pengembangan Produk          Jumlah pengembangan Produk

G. Mengalokasikan Biaya Overhead ke Aktivitas

       Setelah mentukan cost driver selanjutnya biaya overhead dialokasikan ke

aktivitas agar di dapatkan biaya setiap aktivitas. Tabel 5.5 melihat alokasi biaya

overhead ke aktivitas .

                                         Tabel 5.5

                          Alokasi Biaya Overhead ke Aktivitas

                                  PDAM Kab. Maros

                                     Tahun 2010




                                                                                93
                               Aktivitas             Biaya (Rp)
                   Aktivitas Penanganan Bahan        701.325.157
                   aktivitas pengolahan              655.770.070
                   Aktivitas Trans & Dist               1.224.281
                   Aktivitas Pemeliharaan          1.760.988.008
                   Aktivitas Pengembagan Produk         9.500.000
                                 Total             3.128.807.517

H. Mengelompokkan aktivitas ke pusat biaya yang homogen.

       Agar dapat masuk ke dalam suatu kelompok biaya yang homogen

aktivitas-aktivitas overhead harus berhubungan secara logis dan mempunyai rasio

konsumsi yang sama untuk semua produk. Rasio konsumsi dihitung dengan cara

membagi jumlah suatu aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan

jumlah seluruh aktivitas.

                                       Tabel 5.5

                            Pengelompokkan Aktivitas ke pusat
                                     Biaya yang Homogen
                  Kelompok Biaya                  AKTIVITAS       Biaya (Rp)
          I. Unit Level Activities         Pengolahan             655.770.070
                                           Trans & Dist              1.224.281
                        Total                                     656.994.351
          II. Batch Level Activities       Penanganan Bahan       701.325.157
          III. Product Level Activities Pengembangan Produk          9.500.000
          IV. Facility Level Activities Pemeliharaan            1.760.988.008




I. Menentukan Tarif Biaya Overhead

         Menentukan tarif biaya overhead untuk masing- masing cost pool dengan

membagi aktivitas homogen sama pemicu biaya cost driver untuk semua produk.

Berikut ini tabel 5.6 menunjukkan perhitungan tarif biaya overhead.

                                       Tabel 5.6




                                                                                 94
                                  Tarif Biaya Overhead
         Kelompok Biaya             B. Overhead Pabrik       Cost Driver Tarif (Rp)
  I. Unit Level Activities                      656.994.351 8760 Jam         74.999
  II. Batch Level Activities                    701.325.157    48 Kali   14.610.941
  III. Product Level Activities                   9.500.000    1 Jenis    9.500.000
  IV. Facility Level Activities               1.760.988.008 2.110.518 M3         834

J. Mengelokasikan biaya overhead ke pabrik ke harga pokok produk

  berdasarkan ABC.

                                         Tabel 5.7



                           Alokasi Biaya Overhead Pabrik
                                       Ke Produk
                                 Data               Produk
                      8670 jam x Rp. 74.999        650.244.409
                      48 kali x 14.610.941         701.325.157
                      1 jenis x Rp. 9.500.000        9.500.000
                      2.110.518 M3 x Rp. 834 1.760.988.008
                      Total Biaya Overhead       3.128.807.517
                      Unit Produksi                  2.110.518
                      Biaya Overhead Per Unit            1.482



                      Harga Pokok Produksi Per M3
                           Menurut Sistem ABC
       Produk By Bahan     By T.K.L         BOP          HPP
          I  539.932.250 1.234.794.616 3.128.807.517 4.903.534.383

                          Biaya Produksi Per M3
       Produk
                  By Bahan     By T.K.L         BOP              HPP Per M3
          I         256           585           1.482              2.323




                                                                                       95
BAB VI




         96
                                       PENUTUP


5.1      Kesimpulan


        Pada bab ini akan dijelaskan tentang kesimpulan dari penelitian yang

telah dilakukan penulis, dengan tujuan untuk menentukan analisis biaya

produksi pada PDAM Kab. Maros dengan menggunakan metode yang berbasis

aktivitas (Activity Based- Costing).


        Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh

penulis di PDAM Kab. Maros, maka dapat diambil kesimpulan sbb:


1.    PDAM Kab. Maros, selama ini mengalami penyimpangan biaya produksi

      pada sistem akuntansi biaya tradisional dengan Activity Based- Costing. Hal

      ini disebabkan karena sistem Activity Based- Costing menggunakan banyak

      pemicu biaya (cost driver) dalam pembebanan biaya tidak langsung

      sedangkan pada sistem akuntansi tradisional hanya didasarkan pada volume

      produksi saja sehingga menyebabkan terjadinya distorsi biaya produksi. Hal

      ini disebabkan karena hanya menggunakan satu dasar alokasi biaya yaitu

      berdasarkan volume produksi.

2.    Hasil perhitungan biaya produksi PDAM Kab. Maros menunjukkan selisih

      antara perhitungan biaya produksi dengan sistem Activity Based- Costing

      dan sistem akuntansi tradisonal adalah sebagai berikut:

        Hasil perhitungan biaya tradisonal :




                                                                               97
3.     Dalam pelaporan biaya produksi terjadi distorsi dimana biaya produksi

       untuk air dilaporkan dengan pembebanan biaya lebih besar dari yang

       sebenarnya (vercosted) sedangkan untuk

4.     Selama ini PDAM Kab. Maros dalam menghitung biaya produski masih

       menggunakan sistem akuntansi tradisional dengan menggunakan volume

       produksi sebagai dasar alokasi. Unsur-unsur yang membentuk biaya

       produksi terdiri dari biaya tidak langsung. Akibatnya informasi biaya

       produksi yang hasilkan mengalami distorsi. Penerapan Activity-Based

       Costing untuk menghitung biaya produksi pada PDAM Kab. Maros dapat

       memberikan informasi yang lebih akurat sehingga Activity-Based Costing

       ini dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa mereka harus mengabil

       sejumlah langkah untuk menjadi yang lebih kompetetif.

5.2. Saran

        Dari kesimpulan di atas, terdapat bebrapa saran yang diberikan penulis

kepada pihak perusahaan, yaitu:


1. Ada baiknya perusahaan mempertimbangkan penerapan sistem Activity-

     Based Costing dalam menghitung biaya produksi mengingat persaingan pasar

     bebas sangat menuntut agar perusahaan bisa beroperasi secara efisien dan

     efektif. Informasi yang lebih akurat yang hasilkan site mini, akan membantu

     manajemen untuk mengidentifikasi dan menganalisis kegiatan-kegiatan dan

     sumber daya yang dikonsumsi.

2. Produksi adalah suatu proses atau kegiatan menghailkan suaut produk di

     mana kegiatan tersebut adalah kegiatan mengolah atau mendayahganukan




                                                                              98
   bahan baku menjadi barang jadi yang dapat dimanfaatkan untuk selanjutnya

   didistribukan kepada konsumen sesuai kebutuhan melalui distributor menurut

   pembagian wilayah yang ada hal ini dapat berdampak pada perkembangan

   usaha dari perushaan dalam menghadapi persaingan baik di dalam maupun di

   luar negeri.

3. Untuk menerapkan Activity-Based Costing dalam perhitungan biaya produksi

   maka, sebaiknya perusahaan terlebih dahulu memperhatikan biaya-biaya yang

   akan di keluarkan, disamping itu perusahaan juga perlu memperhatikan

   manfaat yang akan diperoleh. Perusahaan juga harus memperhatikan manfaat

   jangka panjang yang akan diperoleh dengan penerapan sistem ini. Oleh

   karena itu dengan menganalissis biaya maka manajemen dapat melakukan

   analisis yang akurat mengenai volume yang diperlukan untuk mencapai

   impas (break even).




                                                                           99
100

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:594
posted:10/21/2011
language:Indonesian
pages:71
Description: Skirpsi dari kampus Politeknik Negeri Ujung Pandang Jurusan Akuntansi